Levitasi di Monas

Levitasi di Monas

Levitasi di Monas

Hampir tiga tahun saya melakukan levitasi di berbagai kota dan tempat. Tapi belum pernah saya melakukan levitasi di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Padahal Jakarta adalah tempat kelahiran saya. Ya, setelah hampir 5 tahun bertugas di luar Jakarta, hanya sesekali saja saya kembali ke Jakarta. Oleh karenanya, saat liburan Nyepi 2014 kali ini, saya menyempatkan diri untuk pulang liburan ke Jakarta, dengan satu misi khusus, melakukan levitasi di Monas (hahaha … niat banget kan).

Pagi hari, Minggu, saya bersiap menuju monas untuk levitasi. Tapi alangkah kagetnya saya melihat monas telah berubah. Car Free Day. Itu sebabnya. Sekitar lima tahun lalu, hari Minggu di monas tidak terlalu ramai. Meski ada CFD sekalipun, keramaian belum seperti kemarin. Luar biasa padatnya. Ya, Jakarta memang telah berubah.

Di tengah keramaian itu, sulit bagi kita untuk melakukan levitasi. Hampir setiap saat orang mondar mandir. Belum lagi ada yang naik sepeda, motor dandy, delman, atau ondel-ondel lewat. Saya mencoba mencari spot untuk melakukan levitasi. Beruntung ada sudut taman, dengan gundukan rumput yang lumayan sepi.

Selain melakukan levitasi standar (foto atas), di sana saya juga mencoba melakukan levitasi horizontal. Ini adalah pose levitasi yang cukup sulit dan menantang. Hal ini karena kalau kita terlambat mengantisipasi pendaratan, akibatnya fatal. Tapi, for the love of Monas, saya mencobanya. Hasilnya lumayan juga. Silakan dinikmati pada foto di bawah ini.

Horizontal Levitation at National Monument / photo taken by andriani

Horizontal Levitation at National Monument / photo taken by andriani with samsung nx300

Saya juga mencoba levitasi dengan ondel-ondel, dan tentu dengan latar belakang ikon menara kembar Bank Indonesia.

Demikian share saya tentang levitasi di area Monas. Terima kasih sudah mampir, dan salam levitasi.

Shocked by ondel-ondel

Shocked by ondel-ondel

Beyond Central Banking

Beyond Central Banking

 

Mencicipi Menu Tabrakan Jepang dan Padang

Warung Suntiang, Menu Padang disajikan dengan Conveyor Belt / photo junanto

Warung Suntiang, Menu Padang disajikan dengan Conveyor Belt / photo junanto

Penasaran dengan berbagai liputan media tentang Restoran Suntiang di Pondok Indah Mall 2, beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri mampir ke sana. Konsep “tabrakan” antara dua karakter makanan, menjadi daya tarik tersendiri yang membangkitkan rasa ingin tahu saya. Ya, resto Suntiang memadukan dua karakter makanan yang nyaris “impossible” untuk digabung. Makanan Padang dan Makanan Jepang.

Makanan Padang punya karakter yang “kuat” pada bumbu. Semua masakan Padang kaya rasa, bumbu, dan aroma. Selain itu, makanan padang menggunakan hampir seluruh bagian dari tubuh binatang ternak seperti sapi, kambing, atau ayam. Mulai dari otak, kikil, jeroan, kulit (untuk kerupuk jangek), hingga daging, semua diolah dan dimasak dalam kuali masakan Padang.

Di sisi lain, makanan Jepang sangat konservatif dengan bumbu, bahkan nyaris tak pernah pakai banyak bumbu. Makanan Jepang juga menggunakan bahan dasar yang segar, seperti ikan segar. Dari binatang ternak, mereka hanya mengolah daging terbaik.

Soal penampilan di meja juga demikian. Keduanya memiliki filosofi yang berbeda. Makanan Jepang sangat detail dalam penampilan. Semua diatur rapi, disajikan dalam keteraturan (cosmos). Sementara makanan Padang disajikan secara “chaos”, disebar di meja, kuah ditebar tanpa aturan di atas nasi. Yang penting, nikmat.

Lalu, apa jadinya bila keduanya digabung. Jawabannya ada dalam menu-menu di restoran Suntiang itu. Eksperimen mereka memadukan dua jenis makanan yang memiliki filosofi berbeda, menjadi keunikan tersendiri yang membuat kita penasaran. Di secawan sushi rendang misalnya, kesederhanaan sushi roll ditabrakkan dengan kemlekohan rendang yang bersantan dan berbumbu. Hasilnya luar biasa, kelembutan nasi sushi berpadu dengan kekayaan rasa rendang, yang disajikan rapi a la makanan Jepang.

Balado Edamame. Perpaduan camilan yang ciamik / photo by junanto

Balado Edamame. Perpaduan camilan yang ciamik / photo by junanto

Saya mencoba juga balado edamame. Hah? edamame yang di setiap restoran Jepang dijadikan camilan “plain”, sekedar direbus dan disajikan di meja, kini ditampilkan dengan bumbu balado yang pedas. Rasanya sangat unik, keterpaduan balado dan kacang edamame menjadikan keduanya camilan yang kaya rasa.

Penyajian di Suntiang juga menarik. Tidak seperti warung padang yang berbagai menunya ditumpuk di meja, di sana penyajian dilakukan pula menggunakan conveyor belt. Persis seperti di warung sushi. Kita dapat dengan leluasa memilih aneka sushi yang disajikan, mulai dari sushi ayam pop, otak roll, gyouza dua rasa, otak tempura, hingga ramen gulai yang menarik.

Rendang Sushi Roll. Satu signature dish yang wajib coba / photo junanto

Rendang Sushi Roll. Satu signature dish yang wajib coba / photo junanto

Secara umum, restoran ini lebih berkarakter sebagai warung padang, karena bumbu Makanan Padang lebih “strong” dari makanan Jepang. Untuk lidah Indonesia yang gemar makanan Padang tapi juga makanan Jepang, ini bisa jadi penghibur dan menambah kenikmatan.

Sebagai sebuah eksperimen untuk memadukan dua karakter makanan, warung ini patut diacungi jempol. “Tambo ciek Uda!” … Haik haik, ittadakimasu ! ….

 

Sersan Mayorku

Pak Boedi Santosa, pemilik PT Rutan, meminjamkan kita mobil klasik Chevrolet 1948. Konon kabarnya, mobil ini pernah digunakan oleh Presiden Soekarno. Menariknya, Chevy 48 ini masih berfungsi dengan baik. Ia dikemudikan dari Gresik ke wilayah kota tua Surabaya dengan lancar.

Bahkan beberapa tahun lalu, Chevy ini menyelesaikan trayek Jakarta-Palembang secara penuh. Luar biasa.

Jadi, saya bersama arek-arek Suroboyo berpose dengan Old Chevy 48 ini. Tema ceritanya: Sersan Mayorku. Tentu saja sambil kita memutar lagu, Sersan Mayorku …. masih ingat kan? begini liriknya, “Kalau Ibuku, Pilih Menantu. Pilihlah dia, Sersan Mayorku. Dia idaman, hasratnya hatiku. Juru Terbang, Angkatan Udara Negaraku…” Salam Perjuangan.

Sersan Mayor memeriksa mesin Chevy

Sersan Mayor memeriksa mesin Chevy

 

Ciamik tenan kowe, Nung

Ciamik tenan kowe, Nung

Bersama Arek-Arek Soerabaia

Bersama Arek-Arek Soerabaia

On the road

On the road

Sersan Mayor Rawuh !

Sersan Mayor Rawuh !

 

 

 

 

Lulusan MIT, Tapi Pilih “Jualan” Sepatu

Bersama Pak Ali Tanuwidjaja (paling kanan), di showroom sepatu yang terletak di pabriknya.

Bersama Pak Ali Tanuwidjaja (paling kanan), di showroom sepatu yang terletak di pabriknya.

Banyak pihak yang khawatir kalau Indonesia tidak akan mampu bersaing saat diberlakukannya Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA) 2015. Tapi bagi Pak Ali Tanuwidjaja, Indonesia bukan hanya mampu, melainkan sanggup menjadi pemimpin pasar, khususnya di bidang alas kaki. Pak Ali tentu tidak main-main dengan ucapannya. Ia adalah pemilik PT Karyamitra Budisentosa, produsen sepatu kelas dunia, yang 97 persen produknya diekspor ke luar negeri.

Saya bertemu dengan Pak Ali di pabriknya yang terletak di wilayah Pasuruan, Jawa Timur. Di sana, saya diajak melihat proses pembuatan sepatu di pabriknya yang seluas 5 hektar. PT. Karyamitra khusus memproduksi sepatu perempuan. Bukan hanya sembarang sepatu perempuan, melainkan sepatu perempuan brand kelas dunia.

Pak Ali memproduksi sepatu perempuan  seperti Prada, Aigner, Rotteli, Geox, dan berbagai merek lainnya. Jadi, sepatu branded itu, yang dijual di butik-butik terkenal Eropa, diproduksi di Pasuruan. Wah mengagumkan.

Pasar ekspornya mencakup Singapura, Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swiss, AS, Inggris, Jepang, Rusia, Belgia, Hong Kong dan Taiwan. Dalam setahun ia memproduksi sepatu sebanyak 2,5 juta pasang. Untuk pasar lokal, sejak 1996, Karyamitra mengeluarkan sejumlah merek, yaitu Rotelli, Gosh dan Bellagio.

Tapi ada satu hal yang menarik dari Pak Ali. Latar belakang pendidikan dan pekerjaannya sangat tidak sejalan. Ali Tanuwidjaja adalah lulusan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), salah satu universitas top di Amerika Serikat, Jurusan Aerospace Engineering.  Ia pernah bekerja di Boeing dan memiliki keahlian khusus di bidang helikopter. Katanya, dulu Pak Habibie pernah memanggilnya dan memintanya meneruskan cita-cita membuat pesawat di Indonesia.

Jalan hidup dan suratan nasib kadang tidak berjalan lurus. Pulang ke Indonesia, pada tahun 1991, Pak Ali justru memulai usaha membuat sepatu. Ia memulai usaha dari nol. Awalnya tidak tahu sama sekali seluk beluk membuat sepatu. Ia hanya punya satu cita-cita, bagaimana bisa memberikan nilai tambah terhadap bahan yang banyak tersedia di tanah air, dan bagaimana bisa menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

Pak Ali kemudian memanggil pembuat-pembuat sepatu home industry dan belajar dari mereka. Dari situlah ia yakin bisa menjalankan bisnis sepatu. Dalam industri sepatu, Ali meyakini bahwa pemahaman akan hal detail sangatlah penting. Kalau orang memilih baju, beda 5 milimeter saja tidak jadi masalah. Tapi kalau sepatu, itu jadi masalah. Untuk itulah ia menjaga betul hal-hal detail dalam proses produksi sepatu. Mulai dari fittingnya, kecocokan bentuk kaki, harga, hingga selera pasar.

Kemampuan untuk memahami hal detail inilah yang menarik hati merek-merek sepatu internasional untuk membuat sepatunya di PT Karyamitra.  Pak Ali kemudian mampu menembus pasar Eropa. Kita tentu mengetahui kalau kiblat mode sepatu perempuan adalah Eropa. Oleh karenanya, saat pak Ali mampu menembus pasar Eropa, order langsung datang bertubi-tubi.

Sejumlah strategi sudah dipikirkan Pak Ali dan timnya untuk menembus pasar global. Salah satu uang dilakukan adalah upaya mereka untuk memenuhi standar internasional ISO 9001 (Quality Management System). Perusahaannya juga harus mengikuti setiap peraturan yang diberlakukan di negara tujuan, seperti berbagai sertifikat uji standar internasional.

Apa yang membuat produksi sepatu dari Indonesia unggul? Menurut Pak Ali, kulit sapi Indonesia, sebagai bahan baku pembuat sepatu, adalah yang terbaik di dunia. Hal ini diakui oleh AS, China, dan Eropa. Oleh karenanya, para pengusaha sepatu dari Tiongkok selalu berupaya membeli pasokan kulit lokal dari Indonesia. Nah, hal inilah yang membuat pasokan kulit untuk pasar domestik berkurang. Beberapa pengusaha penyamakan kulit mengolah kulitnya sebentar, sehingga bisa mengekspor kulit tersebut ke luar negeri.

Karena itulah, menurutnya, Karyamitra berusaha mempertahankan hubungan baik dengan para pemasok bahan baku. Saat ini pasokan bahan baku kulit Karyamitra ada yang dari pemasok lokal, yakni PT Rajawali Tanjungsari (Jawa Timur), PT Sayung Adhimukti (Jawa Tengah), PT Budi Makmur (Yogyakarta), dan perusahaan dari Cianjur. Sementara sisanya masih ada yang diimpor untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Kendala lain bagi industri sepatu di tanah air adalah kurangnya industri pendukung, seperti pembuat hak sepatu, sol sepatu, dan sebagainya. Karyamitra masih menghadapi kesulitan memperoleh SDM yang mengerti perkulitan. Untuk memperkuat riset dan pengembangan di perusahaannya, Pak Ali merekrut lulusan Akademi Teknik Kulit Yogyakarta. Namun jumlah mahasiswa akademi tersebut dalam 10 tahun terakhir ini semakin menurun prestasinya. Pak Ali pun merancang program beasiswa bagi mahasiswa ATK berprestasi yang dijamin dapat bekerja di perusahaannya.

Kini, PT Karyamitra telah memiliki karyawan lebih dari 5 ribu orang. Sebagian besar karyawannya adalah kaum perempuan. Nah, selain memperluas kesempatan kerja, juga mengangkat peranan ekonomi kaum perempuan. Saat saya tanya, apakah ia tidak menyesal keluar dari industri pesawat di luar negeri, yang tentunya menjanjikan uang dan kenyamanan hidup, Pak Ali berkata, ia tak pernah menyesal.

Katanya, “Hidup ini bagi saya yang terpenting adalah memberi manfaat bagi orang banyak. Di Pasuruan ini, saya bisa memberi pekerjaan pada ribuan orang. Kalau bekerja di luar negeri, manfaatnya hanya buat saya saja. Jadi saya memilih yang pertama”.

Bagi saya, pak Ali ini juga adalah seorang nasionalis. Upayanya memilih jalur sepatu khusus untuk ekspor, menunjukkan semangat nasionalismenya untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia global melalui produk-produknya.

Semoga semakin banyak pengusaha yang memiliki idealisme dan semangat seperti Pak Ali Tanuwidjaja dan PT Karyamitranya. Pada gilirannya nanti, produk-produk Indonesia akan mampu menembus pasar global.

Salam

Solusi Kemiskinan dari Laut a la Pak Nadjikh

Pengolahan ikan di PT Kelola Mina Laut / photo iwan

Pengolahan ikan di PT Kelola Mina Laut / photo iwan

Pekan lalu saya bertemu dengan Pak Mohammad Nadjikh, di kantornya yang berlokasi di Kawasan Industri Gresik, Jawa Timur. Pak Nadjikh adalah pemilik sekaligus CEO dari PT Kelola Mina Laut (KML), yang merupakan perusahaan Indonesia terbesar dalam pengolahan hasil laut dan perikanan secara terpadu. Usahanya meliputi unit pengolahan ikan, udang, rajungan, teri nasi, seafood olahan, surimi, hingga bakso ikan.  Dalam setahun, Group KML mampu menghasilkan produk olahan hasil laut 20 ribu ton yang diekspor ke seluruh dunia, dan mempekerjakan lebih dari 14 ribu karyawan.

Saat banyak partai politik hanya menjanjikan kemakmuran bagi petani dan nelayan, Pak Nadjikh dalam diamnya telah memberi bukti nyata. Secara perlahan tapi pasti, ia telah mengangkat kehidupan lebih dari 500 ribu nelayan pesisir pantura dan pulau Madura. Bukan hanya para nelayan, tapi juga keluarga dan anak-anak nelayan ikut meningkat kesejahteraannya melalui konsep bisnis yang dirancang oleh Pak Nadjikh.

Group KML memang memiliki visi bisnis yang basisnya ngopeni (mengayomi) rakyat kecil. Hal ini tidak terlepas dari masa lalu Pak Nadjikh yang merasakan sulitnya kehidupan nelayan. Terlahir dari keluarga pedagang ikan, Pak Nadjikh tahu betul kesulitan hidup petani dan nelayan. Oleh karenanya ia punya tekad untuk maju, menuntut ilmu, dan memberdayakan kaum nelayan. Lulus dari IPB jurusan Teknik Industri pada tahun 1984, ia bertekad memanfaatkan ilmunya di “jalan yang benar”. Pak Nadjikh lalu memulai usaha pengolahan dan penjualan teri nasi (chirimen) pada tahun 1994.

Memulai dari nol, jerih payahnya memberi hasil yang tidak main-main. Hanya dalam kurun 15 tahun, omset usaha Pak Nadjikh telah mencapai lima triliun rupiah. Siapa yang menyangka kalau usaha awal menjual teri nasi  dari perairan Madura, Pak  Nadjikh kini telah berhasil menjadi eksportir teri nasi terbesar di Indonesia. Bahkan melalui brand “Prima Star”, KML Group telah menjadi pemasok teri nasi terbesar di pasar Jepang.

Usaha Pak Nadjikh juga terus berkembang merambah pasar Amerika Serikat, Uni Eropa, dengan produk unggulan fillet ikan kakap merah, udang, rajungan kaleng. Dan kini KML Group telah mengekspor ke lebih dari 30 negara, termasuk Rusia, Kanada, Australia, Taiwan, Korea, Tiongkok, New Zealand, dan negara-negara Timur Tengah.

Namun hal yang mengagumkan saya bukan saja soal omset dan pasar Group KML, melainkan bagaimana Pak Nadjikh menempatkan usahanya berbasis pada pemberdayaan nelayan tradisional dan pesisir.

Di pesisir Madura, banyak terdapat kampung nelayan yang seluruh nelayan masih menggunakan kapal-kapal tradisional untuk mencari ikan. Kehidupan di sana juga memprihatinkan secara sosial. Tapi justru dari sanalah, rantai usaha pak Nadjikh bermula dan dibangun.

Di perkampungan nelayan itu, ia membangun unit-unit pabrik kecil (miniplant), yang membeli hasil laut dari nelayan. Di miniplant tersebut, hasil tangkapan nelayan dikumpulkan dan diproses. Titik awal pengendalian mutu juga dilakukan di miniplant tersebut. Hasilnya mencengangkan, karena justru miniplant itu menjadi motor perubahan di kampung-kampung nelayan pesisir Madura. Saat ini, Group KML telah membangun sekitar 30 miniplant di berbagai lokasi.

Pengolahan Udang di KML Gresik / photo by iwan

Pengolahan Udang di KML Gresik / photo by iwan

Menariknya lagi, hampir 90 persen pekerja di miniplant tersebut adalah perempuan. Pada umumnya perempuan yang bekerja di sana adalah ibu-ibu rumah tangga atau remaja putri yang tinggal di daerah sekitar kampung nelayan. Bisa dibayangkan, para pria melaut, kaum perempuannya mengolah hasil tangkapan di miniplant. Nah dampaknya luar biasa, meluaslah lapangan pekerjaan di desa, sehingga meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan keluarga. Dengan meningkatkan pendapatan, tingkat pendidikan anak-anak desa juga meningkat.

Dari miniplant di kampung-kampung nelayan tersebut, produk olahan disortir, dikirim ke pusat pengolahan agroindustri, lalu diekspor ke mancanegara. Siapa menyangka, rajungan dari pesisir Madura, bisa menempati rak-rak super market besar, seperti Wall Mart di AS, atau super market kelas atas di Rusia, Kanada, dan Jepang.

Pak Nadjikh juga merancang skim pembiayaan bagi para nelayan dengan sistem dana talangan melalui perbankan. Kita tahu bahwa perbankan menganggap sektor pertanian dan perikanan sebagai sektor yang memiliki bio-risk, atau risiko yang tinggi karena berbagai ketidakpastian akibat alam. Akibatnya, tak banyak perbankan yang mau terjun ke sektor ini. Nah, Pak Nadjikh merancang skim bersama perbankan sehingga nelayan-nelayan bisa memperoleh kredit, bahkan tanpa agunan, karena dijamin perusahaannya.

Konsep bisnis Pak Nadjikh untuk memberantas kemiskinan di kalangan nelayan secara singkat dibagi dalam empat besaran, yaitu: Diferesiansi Bisnis (ekspor teri nasi ke Jepang), Diferensiasi Produk Samping (Ekspor Daging Rajungan, Kulit, kepala Ikan pun diolah), Desentralisasi Proses Industri (Membangun Miniplant di daerah-daerah nelayan), dan Dekonsentrasi Usaha Penunjang (Melalui toko, warung, penjual baso keliling).

Indonesia adalah sebuah potensi besar dari sisi kekayaan laut. Lautan kita adalah “amazon of the seas”, memiliki aneka ragam kekayaan biota laut. Oleh karenanya agroindustry hasil laut adalah salah satu industri strategis. Agroindustri hasil laut menggunakan sumber daya lokal yang menjadi keunggulan komparatif Indonesia. Sumber daya itu juga mempunyai keterkaitan yang kuat (backward dan forward linkage) dengan budidaya perikanan dan aktivitas ekonomi lainnya.

Sumber daya kelautan adalah sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga keberlangsungannya dapat dipertahankan. Industri seperti ini prospeknya besar untuk dijadikan penggerak roda perekonomian daerah ke depan, sehingga dapat berperan penting dalam menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Bersama Pak Nadjikh (tengah) di depan frozen mart, usai mengunjungi pemrosesan hasil laut di pabriknya.

Bersama Pak Nadjikh (tengah) di depan frozen mart, usai mengunjungi pemrosesan hasil laut di pabriknya.

Langkah Pak Nadjikh adalah satu contoh membanggakan dari wirausahawan negeri ini yang sukses membantu kehidupan masyarakat. Sebagaimana pepatah, economy is for the people, not the people for the economy. Ini artinya, berbagai indikator makroekonomi yang bagus, akan percuma apabila tidak meningkatkan taraf hidup rakyat.

Untuk ukuran pengusaha sukses dan kaya raya, Pak Nadjikh adalah pribadi yang sederhana, bahkan sangat sangat sederhana. Jiwanya rendah hati dan tidak menampakkan kemewahan secara berlebihan untuk ukuran orang kaya. Kerendahan hati ini juga menjadi konci suksesnya dalam membangun usaha.

Sebagai penutup, saya menanyakan soal dunia politik. Umumnya pengusaha yang sudah sukses dan kaya, pasti tergoda untuk terjun ke dunia politik. Di sini jawabannya menarik, ia ingin memberi perhatian penuh pada perusahaan dan mengangkat taraf hidup masyarakat nelayan. Tidak tertarik dunia politik yang penuh racun, tipu daya, dan kejijikan. Ia tidak mau. Atau mungkin belum mau. Semoga bisa tetap konsisten dan terus demikian.

Salam.

Touch Screen a la Warung Mojorejo

touch screen technology in warung mojorejo

touch screen technology in warung mojorejo

Dalam perjalanan darat dari Surabaya ke Pasuruan, saya mampir makan siang di Warung Mojorejo. Ini adalah Warung legendaris di sepanjang jalan raya Surabaya – Pandaan. Warung ini kerap digunakan sebagai tempat para pengendara beristirahat, baik untuk makan maupun sholat atau ke kamar kecil. Sajian makanannya versi rumahan, mulai dari daging, telur, ikan, aneka sayur, bothok dan pepesan, hingga berbagai minuman.

Penyajiannya pun sama seperti warung-warung tegal (Warteg). Kita jangan duduk dan menunggu pelayan menawarkan makanan, tapi harus memesan makanan melalui tekhnologi touch screen, atau menunjuk ke kaca untuk memesan aneka makanan yang tersedia. Nah ini menariknya, saya tinggal tekan “screen” kacanya, pilih aneka ragam menu yang tampak di kaca itu, sebutkan dengan suara kita, dan tak lama kemudian, makanan tersaji di hadapan kita. Canggih bukan :)

Mungkin dari sinilah tekhnologi “touch screen” ditemukan. Bukan hanya touch screen, tapi juga voice activated.  Saya memilih makan mangut lele, perkedel, dan sayur pare. Makanan lezat, penyajian canggih. Mari, selamat makan.

mangut lele versi warung mojorejo

mangut lele versi warung mojorejo

Ayam Si Mbah Pedes yang Cerewet

Ayam Pedesan si Mbah / photo junanto

Ayam Pedesan si Mbah / photo junanto

Di era customer oriented saat ini, para pelaku usaha berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin pada pelanggan. Mulai dari penerimaan, hingga pelayanan prioritas, diciptakan agar pelanggan puas dan terus datang. Tapi tidak demikian dengan mbah Siti Aisyah, pemilik Warung Langgeng di daerah Krembangan, Surabaya.

Warung Langgeng menjual menu khusus, Ayam Krengsengan dan Sambel Pedas, yang terkenal kelezatannya lebih dari 60 tahun. Ya, warung itu berdiri sejak tahun 1952 dan memiliki banyak cerita.

Tapi bukan itu yang menarik dari warung Si Mbah. Hal yang menjadi ciri khas dari Warung Langgeng adalah bagaimana si Mbah melayani pelanggannya. Bukannya menyambut ramah dan menawarkan “hospitality”, tapi si Mbah malah rajin mencereweti, bahkan bisa dikatakan galak, pada pelanggan yang datang.

Kalau ada pelanggan yang banyak bertanya atau banyak maunya, si mbah akan marah. Saya mendengar dari Pak Yunus, seorang rekan di kantor, tentang keunikan Si Mbah. Katanya saat ada satu ibu bertanya tentang menu, dan meminta untuk tidak memakai ini dan itu, si mbah langsung membentak, “Wis meneng ae, arep mangan nang kene opo ora?” (udah diam aja, mau makan di sini atau nggak?). Atau malah si mbah pernah mengusir seorang pelanggan karena terlalu banyak meminta atau bertanya.

Beberapa pelanggan ada yang sempat “misuh-misuh” atau ngegerundel, ada yang diam tapi tak sedikit pula yang langsung keluar. “Wah, kita kan mau beli makan, masa dibentak-bentak. Mending keluar aja”, demikian kata pak Yunus menirukan komentar satu pelanggan. Waaah, ngeri juga yaaa.

Tapi cerewetnya si Mbah malah memberi keunikan tersendiri bagi Warung Langgeng. Suatu siang, saya untuk pertama kalinya mampir mencoba makanan di sana. Konon kata orang, si Mbah ini relatif baik kalau sama pria. Apalagi yang masih muda hehe.

Saat masuk warung, si mbah langsung menatap kami. Mau apa? tanyanya. Ya karena kita sudah tau ceritanya, kita bilang dengan sopan saja. Ayam mbah, dua porsi. Datanglah dua porsi ayam krengsengan beserta sambal pedasnya yang luar biasa. Saya makan dengan tenang dan tidak banyak bicara atau bertanya. Takut si mbah marah hehe….

Eh tapi bener juga, rasa krengsengan ayam dan sambalnya dahsyat. Perpaduannya pas dan nikmat. Lalapan disajikan dalam nampan besar dan all you can eat. Enaknya.

Karena pedas, wajah saya berkeringat basah. Untuk menyeka, saya ambil sapu tangan dan mengelap wajah berkeringat. Tiba-tiba si mbah, saat melihat saya menyeka wajah dan bagian mata, langsung  membentak, “Woi, kowe mangan ojo nangis. Mangano ae!” (Hei, kamu makan jangan nangis, nikmatin aja). Saya kaget, tapi langsung tertawa, karena merasa, “kena juga gw sama si mbah” hehehe….

Tapi setelah itu, si mbah malah ramah dan banyak ngobrol. Dari situ saya baru tahu kalau si mbah usianya sudah 95 tahun. Haa? 95 tahun? Ya, dan di usia itu, si Mbah masih kuat melayani pelanggan, mulai dari menuang sayur hingga membungkus nasi. Ia bercerita banyak tentang pengalamannya selama lebih dari 60 tahun berjualan. Intinya, ia memang cerewet dan tidak suka kalau pelanggan banyak bertanya. Tapi karena kebiasaan itu juga, dan karena rasa makanannya yang khas, pelanggan justru bolak balik datang ke sana.

Ada yang kangen dengan cerewetnya si mbah, ada yang kangen dimarahin, ada yang ingin nostalgia masa muda, berbagai alasan untuk kembali dan kembali ke warung si mbah. Walaupun ada risiko kena marah.

Ya, mungkin si mbah ini cerewet. Tapi kita semua tidak merasa sakit hati. Seperti diomelin oleh nenek sendiri saja. Didengar tapi tidak dimasukkin hati, yang penting ayam tersaji hehehe…. Di ujung jamuan saya minta foto bareng sama si mbah. Dan dia sambil mencerocos kalau hari itu belum berdandan (genit juga ya si mbah), akhirnya tetap bersedia di foto. Ini dia hasilnya.

Bersama si Mbah Ayam Krembangan

Oh ya satu lagi, itungan si mbah juga kurang begitu bagus. Jadi kalau kita minta ia menghitung harga, umumnya tidak bisa seragam. Suka-suka si mbah saja, kadang rasanya murah, tapi kadang kayak kemahalan hehehe… Tapi secara keseluruhan, kunjungan ke Warung Langgeng dan bertemu si Mbah adalah pengalaman yang luar biasa.

Pesta Durian di Kediri

 

King of Fruit

King of Fruit

DUKUNG DURIAN KEDIRI. Erupsi Gunung Kelud membawa dampak pada panen beberapa hasil bumi di Kediri, termasuk Durian. Kediri adalah salah satu penghasil durian di tanah air. Tapi ternyata, bencana belum berdampak signifikan pada durian. Beberapa desa di Kediri justru mengalami masa panen durian. Dalam satu hari, kata seorang petani durian, mereka bisa panen hingga 500 buah. Namun masalah muncul di pemasaran. Bencana menyebabkan kedatangan wisatawan ke Kediri turun drastis. Akibatnya mereka kesulitan menjual durian.

Nah, pekan lalu kami, bersama rekan-rekan dari Universitas Airlangga dan Media Massa di Jatim, dalam kunjungan ke Kediri dan Malang, melewati banyak kios-kios di pinggir jalan yang menjajakan durian hasil panen kebun. Beberapa kawan wartawan langsung semangat melihat duren yang berjejer di pinggir jalan. Bahkan di pohon-pohon masih nampak duren menggantung. “Wah, kalau kita melewatkan kenikmatan itu, artinya kita kufur nikmat nih”, celetuk salah satu wartawan.

Eh betul juga ya. Lagian, kita kan harus mendukung buah-buahan produk lokal. Masa makannya durian bangkok, rasanya kurang nasionalis kan. Akhirnya, kami memutuskan untuk mampir di salah satu kios durian. Kebetulan kita semua pecinta durian. Tanpa banyak bertanya pada Ibu penjual durian, kita langsung meminta durian-durian itu dikupas. Ya, kita telah membulatkan tekad untuk mendukung petani durian. Kita beli durian lokal, dan kita pesta makan durian.

Kebersamaan dan kenikmatan durian tanah air menjadikan semuanya lebih nikmat. Salam durian.

Dukung Durian Kediri

Dukung Durian Kediri

After the party

After the party

 

Levitation in Ngantang Village

Last saturday, I passed through Ngantang Village, a small village in Malang, East Java, Indonesia. It is a very beautiful village with a nice view and weather. I took a levitation picture around paddy field and crossing the small village street. Here are the pictures. Thank you very much for stoping by.

Levitation around paddy field / picture taken with samsung nx300

Levitation around paddy field / picture taken with samsung nx300

floating across the village street / picture taken with samsung nx300

floating across the village street / picture taken with samsung nx300

 

Levitation at Semoet Station

I always love train since I was a little boy. Any kind of train. Therefore, when Ipung, my friend, asked me to join him for a sunday morning walk around Old Surabaya Train Station a.k.a Semoet Station, I didn’t think twice to say Yes. Beside listening to Ipung’s explanation about history of the station, I also took my time to do some levitation shots.

I love train, I love to levitate. So, these are my train levitation photos. Please enjoy, and thank you for stopping by.

Catch The Train Levitation. Look at the man's expression ! .. taken with Samsung NX300

Catch The Train Levitation. Look at the man’s expression ! .. taken with Samsung NX300

Catch the Train Part II / photo taken by Andriani with Samsung NX300

Catch the Train Part II / photo taken by Andriani with Samsung NX300

 

Railway Levitation

Railway Levitation

Along the rail road

Along the rail road

Seinhuiss, Signal House Levitation

Seinhuiss, Signal House Levitation