Persaudaraan Kopi di Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

“Once Brew, We Bro”. Sekali Seduh, Kita Bersaudara. Begitu ungkapan dari Setiawan Subekti yang juga akrab dipanggil Pak Iwan, saat kami memasuki Sanggar Genjah Arum miliknya di Desa Kemiren, Banyuwangi. Pak Iwan menyambut kami dengan hangat dan mengajak masuk ke satu rumah yang dirancang seperti kedai kopi, lengkap dengan meja bar. Ia lalu menyajikan secangkir kopi racikannya.

Hmmmm, aroma kopinya harum dan membius kita semua yang hadir malam itu. “Silakan cicipi, dan ceritakan pada saya rasanya”, begitu kata pak Iwan. Dan, saat sesapan kopi masuk memenuhi langit-langit mulut, kenikmatan itu menyeruak. Meninggalkan jejak rasa, after taste, yang tak tepermanai. Bagi saya, kopi di Sanggar Genjah Arum ini adalah kopi terenak yang pernah saya cicipi dalam perjalanan hidup mencari kesempurnaan kopi.

Beberapa kawan tampak ragu mencicipi kopi yang disajikan tanpa gula tersebut. Sebagian karena pernah kena penyakit asam lambung sehingga khawatir kalau minum kopi akan kambuh. “Kopi tidak menyebabkan sakit lambung atau maag, seperti mitos yang selama ini berkembang”, demikian kata Pak Iwan menenangkan. Reaksi orang terhadap kopi tentu berbeda-beda. Namun kalau  diproses dan disajikan dengan benar, kopi menjadi minuman yang baik dan menyehatkan.

Setiawan Subekti adalah seorang pejuang. Ia bukan hanya pecinta kopi, tapi lebih seperti “Ambassador” atau Duta Kopi. Hidupnya dipersembahkan pada Kopi Banyuwangi dan Pelestarian Budaya Banyuwangi. Saat bercerita tentang kopi, matanya berbinar-binar.  Saat bicara budaya Banyuwangi, gairahnya menyebar. Ia seorang yang penuh semangat dan energi.

Para pecinta kopi, atau barista nasional maupun internasional, pasti mengenal Setiawan Subekti. Sebagai tester kopi internasional, ia sering diundang ke mancanegara, baik untuk membagi ilmunya, maupun menjadi juri pada berbagai kompetisi. Di dinding sanggarnya, kita melihat foto berbagai orang ternama yang pernah berkunjung ke sana, termasuk foto kunjungan Putri Kopi Dunia.

Tamu yang datang ke Sanggar Genjah Arum juga beragam, seperti Dahlan Iskan, Marie Pangestu, Konsul Jendral AS di Surabaya, pimpinan dan pejabat BUMN, hingga artis dan seniman. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, bahkan menjadikan Sanggar Genjah Arum sebagai satu destinasi bagi tamu-tamunya. Beliau sendiri secara rutin “nongkrong” untuk ngopi di sini.

Pak Iwan juga giat memperkenalkan kopi Banyuwangi atau Kopai Osing, ke berbagai negara. Nama Osing diambil dari subkultur terbesar yang hidup di Banyuwangi. Orang Osing adalah sebutan bagi masyarakat asli Banyuwangi.

Jenis kopai Osing ini unik dan memiliki cita rasa tersendiri. Kopi, yang ditanam di pegunungan Ijen dan Raung sekitar Banyuwangi dan Bondowoso, sudah diekspor ke mancanegara. Kalau kita pergi ke Eropa dan minta disajikan Java Coffee, maka hampir dipastikan bahwa kopi itu berasal dari daerah sekitar Banyuwangi, Jawa Timur. Keunikan rasanya, menjadikan Kopi Banyuwangi digemari di dunia.

keharuman biji kopi banyuwangi

keharuman biji kopi banyuwangi

Kopi memang bisa menjadi komoditas unggulan dan kekuatan ekonomi Indonesia. Kita memiliki kopi yang tidak kalah bersaing dengan kopi dari negara lain, bahkan lebih baik. Dilihat variannya, di seluruh nusantara terdapat aneka varian kopi yang lezat. Namun Pak Iwan masih menyayangkan pengembangan industri kopi nasional yang masih belum optimal. Biji kopi Indonesia itu bagus, namun kadang proses pembuatan, dari penanaman hingga menjadi biji kopi, belum dilakukan dengan benar. Mereka masih menggunakan proses tradisional, mencampur biji kopi kualitas bagus dan rendah, tidak memasak dengan standar yang baik, sehingga hasilnya tidak optimal. Banyak produk olahan kopi akhirnya memiliki kualitas yang rendah dan tidak memenuhi standar internasional sehingga harganya murah.

Oleh karena itu, Pak Iwan secara aktif turun ke perkebunan kopi, melakukan pembinaan bagi para petani kopi agar dapat memproses kopi dengan baik.  Hasilnya, kini banyak petani kopi yang mulai memproses kopi dengan benar, menghasilkan kopi berkualitas, dan dapat mengekspor ke luar negeri.

Di daerah Bondowoso misalnya, ada kelompok petani kopi Arabica binaan Bank Indonesia Jember, mampu mengekspor sebanyak 350 ton per bulan ke luar negeri. Mereka juga mendapatkan masukan konsultasi dari Pak Iwan agar dapat memproses kopi dengan baik. Meski sudah bisa mengekspor sebesar 350 ton, dan meningkatkan taraf hidup petani kopi di sana, angka itu masih rendah dari potensinya sebesar 6000 ton. Bayangkan bila seluruh wilayah penghasil kopi tersebut dapat memproses kopi dan mengekspor kopi dalam kapasitas optimal. Selain kopi Indonesia makin terkenal, kehidupan para petani akan meningkat.

Data Kemenperin menunjukkan bahwa ekspor kopi olahan Indonesia mencapai 244 juta dolar AS pada tahun 2012, dan meningkat menjadi 322 juta dolar AS pada tahun 2013. Ini menunjukkan bahwa permintaan dunia pada kopi sangatlah besar.  Potensi ini yang perlu menjadi perhatian kita semua.

Menikmati kopi di Sanggar Genjah Arum juga menikmati keindahan rumah-rumah tradisional suku Osing. Pak Iwan memang sengaja menjadikan tempatnya sebagai konservasi rumah Osing. Ada sembilan rumah khas orang Using berbahan kayu bendo dan tanjang. Setiap rumah memiliki fungsi berbeda. Ada yang dibuat sebagai gudang penyimpan kopi, tempat istirahat, tempat makan, dan tempat pertunjukan. Kami juga dipersilakan melihat dapur tradisional Osing, yang untuk memasaknya masih menggunakan tungku tanah liat dan kayu bakar.

Di Sanggar itu, kita juga bisa melihat beberapa perempuan asli Banyuwangi membawakan musik “gedhokan”, atau seni musik yang dihasilkan dari pukulan lesung. Juga  ditampilkan pula tarian Gandrung Banyuwangi, yang merupakan tarian asli Banyuwangi. Para penari, pemain musik, berasal dari warga sekitar. Beberapa di antaranya bahkan pernah diajak Iwan ke Amerika Serikat untuk sebuah pertunjukan seni.

Menyesap kopi Banyuwangi, menikmati udara dingin pegunungan, melayang dalam alunan seni tradisional, adalah perpaduan sempurna bagi indahnya kehidupan. Pak Iwan telah membuktikan, bahwa “surga” ada di ujung timur Pulau Jawa.

Salam Kopi.

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

kopi terlezat, kopai osing

kopi terlezat, kopai osing

 

Realisme Kepala Ikan di Tabula Rasa

Emak dan Hand di Tabula Rasa

Emak dan Hans di Tabula Rasa

“Kurang kacau, cirik kambing. Talalu kacau, bapantingan”, itulah pedoman dalam memasak rendang.  Artinya, bila kita kurang lama mengaduk rendang di wajan, kuah rendang akan bergumpal-gumpal seperti tahi kambing. Sebaliknya, bila terlalu cepat mengaduk, kuah rendang akan mendidih “meledak-ledak”, sehingga bisa melukai tangan sampai melepuh. Bagi orang Minang, mengaduk rendang adalah sebuah perjalanan ”spiritual”, karena tak bisa dilakukan sembarangan. Memasak rendang harus menggunakan hati dan perasaan. Tanpa itu, rendang yang disajikan akan hampa tanpa rasa. Bahkan bisa seburuk tahi kambing.

Itulah inti pesan dari Emak (Dewi Irawan) kepada Hans (Jimmy Kobogau) dalam film yang berlatar belakang kuliner, Tabula Rasa. Hans, seorang pemuda dari Serui Papua, yang pergi ke Jakarta untuk menjadi pemain sepak bola, tertimpa nasib buruk. Kakinya patah dan ia ditelantarkan oleh klubnya. Jadilah Hans terdampar di Warung Padang “Takana Juo” milik Emak. Dari semula hanya diminta membantu cuci piring, menemani belanja,  Hans perlahan diajari ilmu memasak oleh Emak.

Dapur Emak lalu jadi pusat pergumulan intrik dan politik. Parmanto (Yayu Unru), sang juru masak, merasa egonya tertusuk saat melihat Hans semakin dekat dengan Emak, bahkan bisa tinggal bersama mereka. Singkatnya ia merasa terancam akan kehadiran Hans di warung mereka. Parmanto lalu ngambek, dan ujungnya pindah ke restoran besar yang menjadi pesaing Takana Juo. Hans lalu perlahan mengambil alih peranan Parmanto, menjadi juru masak di warung Emak.

Masalah tidak selesai hanya sampai di sana. Warung Takana Juo semakin hari semakin sepi pengunjung. Selain kalah bersaing dengan Restoran Padang yang baru buka, Takana Juo seolah tak memiliki daya tarik khas. Dalam kebingungan, jawaban muncul dari Hans. Itulah, Gulai Kepala Ikan. Masalahnya, Emak tidak mau memasak gulai kepala ikan setiap hari. Gulai kepala ikan bagi emak adalah sebuah ziarah, yang hanya dibuat pada saat tertentu, di samping ada kisah pedih di belakangnya.

Perjalanan film ini kemudian mengajak penonton pada sebuah alur yang mengarus pada upaya terwujudnya Gulai Kepala Ikan. Pada akhirnya, saat Emak mau membuat kepala ikan, adegan terindah film ini ditampilkan. Emak membuat kepala ikan dengan bumbu-bumbu terbaik pilihannya. Sebagaimana orang Minang yang tahu betul makanan yang baik. Bumbu adalah kuncinya.

Kepala ikan kakap yang dibumbui secara visual dicemplungkan ke dalam kuah santan, yang dimasak di atas kuali dan tungku dengan kayu bakar.  Semua diproses secara alami. Emak tidak mau menggunakan santan kalengan. Ia memeras kelapa sendiri. Tidak ada juga bumbu rendang atau gulai instan yang kini banyak dijual di supermarket. Semua bumbu digerus di atas ulekan. Otentik.

Emak memulai hari sejak jam empat atau lima pagi. Dalam sepi dan sunyi, ia ke pasar membeli bahan terbaik. Ia mempersiapkan segala bumbu masak, memilih kelapa terbaik, dan mencari kepala ikan yang masih segar.  Dalam khazanah persantanan makanan Minang, kelapa terbaik itu tidak muda tapi juga tidak tua. Harus “sedang”.  Kelapa juga harus “diperas” sekali saja untuk dijadikan santan. Tak boleh lebih dari sekali. Kelebihan jumlah perasan akan menyebabkan rasa santannya berubah.

Dalam Tabula Rasa, Hans dengan takzim melihat dan belajar keseluruhan proses pembuatan makanan, terutama kepala ikan ini. Ide cerita dan plot film ini sungguh indah, mengambil tema kuliner. Mungkin baru ini film Indonesia yang berani mengambil  latar belakang kuliner. Produser Sheila Timothy, saya perhatikan di berbagai media sosialnya kerap mengunggah referensi dan riset yang dilakukannya. Film ini memang bukan sekedar film yang dibuat sekenanya, namun menggunakan referensi riset yang dalam. Berbagai buku tentang kuliner, film-film referensi luar negeri yang bertema kuliner, hingga riset ke Serui dan Sumatera Barat. Dapur Emak juga dibuat dengan memperhatikan detil dapur tradisional Minang.

Secara umum, film ini layak ditonton. Saya memang agak berharap ada lebih banyak visualisasi adegan yang menonjolkan rasa makanan, aroma bumbu, pedasnya rendang, maupun proses membuat makanan. Karena untuk sebuah film kuliner, adegan-adegan yang mampu mendegut ludah menjadi hal-hal yang ditunggu penonton. Tapi terlepas dari itu, sisi emosional antara Emak dan Hans, sangat menyentuh. Keragaman nusantara juga tercermin di dapur Emak. Masakan Minang dengan juru masak Orang Papua, sudah memberi keunikan tersendiri. Saat emak mengucapkan “Alhamdulillah”, lalu diikuti oleh Hans dengan kata “Puji Tuhan”, adegan berlangsung secara ringan dan menyentuh. Ada keragaman dalam kedamaian di sana.

Produser Sheila Timothy dan sutradara Adriyanto Dewo, memasak film bagai Emak memasak Gulai Kepala Ikan Kakap. Seperti Shakespeare dengan Othello-nya, Hegel dengan Dialektika-nya, Nietzche dengan Uebermensch-nya, atau bahkan Di Vinci dengan Monalisa-nya. Dilakukan dengan takzim dan penuh permenungan. Sebuah karya memang harus dilakukan bukan sekedar memenuhi pasar atau nilai uang, namun lebih seperti sebuah bangunan idealisme dan edukasi untuk mencerahkan.

Tapi, apakah film-film yang sarat makna, lincah dengan dialog cerdas, bisa dinikmati pasar film Indonesia? Seharusnya bisa, dan sangat bisa. Kitalah yang harus memulai, dengan mendukung film Indonesia yang bagus. Ayo, terus ramaikan bioskop dan saksikan film Indonesia. Tabula Rasa adalah salah satunya. Film bagus, yang menurut saya, sayang kalau dilewatkan.

Aroma Sastra dan Literasi di Paris

Toko buku Shakespeare & Co. Sanctuary for book lover in Paris

Toko buku Shakespeare & Co. Sanctuary for book lover in Paris

Mbak Lona Hutapea, penulis buku Paris C’est Ma Vie dan Voila La France, yang juga pernah tinggal di Paris, merekomendasikan saya untuk merasakan aroma sastra di kafe-kafe kota Paris. Nah, saat berkesempatan mampir di Paris beberapa waktu lalu, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke tempat yang direkomendasikan mbak Lona tersebut.

Dari banyaknya kawasan, ada satu daerah yang wajib dikunjungi para pecinta literatur. Nama daerahnya Latin Quarter, yang menurut sejarah adalah tempat mangkal dan kongkow para sastrawan dan seniman Eropa selama beratus tahun. Dahulu, para filsuf. seniman, artis, dan sastrawan, berkumpul di kafe-kafe daerah itu dan melakukan aneka diskursus intelektual. Ada pemikiran yang melawan arus, bahkan ada yang revolusioner. Tak heran, pergerakan filsafat dan sastra marak dan kerap bangkit di Paris. Nama-nama filsuf besar seperti Sartre, Simone de Beauvior, Oscar Wilde, Voltaire, Victor Hugo, adalah deretan nama yang pernah nongkrong di berbagai kafe kota Paris.

Saya selalu meyakini bahwa perjalanan panjang diskursus intelektual di satu area adalah energi yang terus melekat selama bertahun-tahun. Karena itulah, saat memasuki kafe atau sudut-sudut tua kota Paris, aura dan nuansa sastra intelektual terasa begitu kental dan menyesap.

Saya kemudian berhenti di satu toko buku legendaris yang menjadi salah satu ikon literasi Paris. Bagi saya, inilah sanctuary for book and literature lover in Paris. Surga bagi pecinta buku dan literasi di Paris. Nama tokonya Shakespeare and Co. Sayapun pergi ke sana, dan hanyut tenggelam di toko buku itu. Meski terlihat kecil dan tua, toko buku yang didirikan sejak tahun 1922 ini sarat dengan kisah. Para sastrawan dan penulis dunia, seperti Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald, dulu sering kongkow dan menelurkan karya2 dari toko kecil ini. Koleksi literaturnya juga luar biasa.

Sebenarnya, toko asli Shakespeare and Co didirikan oleh Sylvia Beach, seorang ekspatriat Amerika, pada tahun 1919di Rue Dupuytren. Pada tahun 1921, toko buku ini pindah ke tempat yang lebih besar, dan buka hingga tahun 1940, sebelum Perang Dunia ke-II. Setelah itu toko buku ini ditutup. Barulah pada tahun 1951, David Whitman membuka kembali toko buku ini. Saat ini, toko buku dikelola oleh putri dari David Whitman, yaitu Sylvia Whitman.

Memasuki toko buku kecil, yang terletak di bawah bayang-bayang Gereja Notre Dame Paris tersebut, kita seolah diajak berjalan dalam mesin waktu. Suasana Bohemian langsung terasa. Rak-rak buku model kayu, klasik, dipenuhi oleh koleksi aneka buku second hand -berbahasa Inggris, yang ekstensif. Toko ini juga memiliki beberapa kamar kecil, yang dulu jadi tempat bermalam para sastrawan dan seniman. Kadang bayarannya bukan uang, melainkan kewajiban mereka membaca satu buku dalam sehari, dan mendiskusikan isinya bersama-sama. Sungguh sangat kaya literasi.

Bagi para pecinta literasi, perjalanan ke Paris wajib mampir ke Shakespeare and Company. Dari toko kecil ini kita bisa belajar, bahwa bangsa besar adalah bangsa yang kaya membaca, menulis, dan budaya. Perancis dibangun juga oleh literasinya yang kaya. Tak banyak toko buku dan penerbit di Indonesia yang bisa berumur ratusan tahun. Tapi kita bisa memulai dan merawat yang sudah ada. Untuk Indonesia yang lebih baik dan kaya literasi.

Usai memilih buku, kita bisa duduk2 membaca di kafe2 bersejarah yang tersebar di seputaran situ. Ada satu kafe yang konon merupakan kafe tertua di sana, letaknya tak jauh dari Shakespeare. Namanya Le Procope. Silakan bungkus buku yang baru anda beli, bawa ke La Procope, kemudian pesanlah secangkir kopi. Nikmati aroma sastra dan literasi di Paris yang indah.

Surga Pecinta Macaron di Paris

Laduree, Surga Macaroon di Paris / photo junanto

Laduree, Surga Macaroon di Paris / photo junanto

Mengunjungi kota Paris serasa belum lengkap kalau belum mencicipi pattiserie-nya. Selain terkenal sebagai City of Love dan City of Light, Paris juga menjadi kiblat bagi dunia kuliner. Saat berkunjung ke Paris, saya selalu menyempatkan waktu untuk mencicipi kue di berbagai kafe yang tersebar di setiap sudut kota. Dijamin rasanya jauh lebih enak dari kue serupa yang dibuat di luar Perancis.

Ada satu kue juga yang wajib dicicipi kalau ke Paris, yaitu kue Macaron. Bagi para pecinta kue macaron, rasanya belum sempurna kalau belum mencicipi kue ini langsung di tempat kelahirannya. Bersama keluarga, dan juga sepupu bersama suami dan anak2nya yang datang dari Jerman, saya menyempatkan diri untuk mencicipi aneka kue macaron di toko kue yang terkenal di Paris, Laduree.

Adalah Louis Ernest Laduree yg pada tahun 1862 mendirikan toko kue di kota Paris. Awalnya, kue macaron belum berbentuk seperti sekarang, melainkan dua keping yang terpisah dan dibawa oleh ratu Catherine de Medicci dari Italia di abad ke-16. Saat itu biskuit macaron menjadi kesukaan orang Perancis.

Nah barulah pada tahun 1930, bersama cucunya, Pierre Desfontaines, Laduree menciptakan utk pertama kalinya “double decker macaron”, yaitu dua keping macaron yang dilekatkan dengan cream ganache sbg “filling”-nya. Macaron itulah yg kemudian terkenal hingga sekarang. Laduree kemudian berkembang dan membuka cabang di berbagai negara, menebarkan budaya macaron, yang juga banyak ditiru orang.

Laduree mungkin sudah banyak membuka cabang, di berbagai kota dan negara. Namun, toko di Champ-Elysees Paris adalah sebuah legenda karena konon di sinilah macaron diciptakan. Di kios inilah, saya mampir sebentar untuk mencicipi “authentic” macaron. Saat saya tiba di depan Laduree, antrian panjang sudah terlihat. Orang-orang rela mengantri berjam-jam hanya demi mencicipi kue, pastry, atau macaron yang dibuat di toko ini. Panjangnya antrian itu menunjukkan bahwa toko itu bukan sekedar menjual macaron. Di balik macaron Laduree, ada sejarah, kisah, dan perjalanan panjang, yang tentunya menyisakan sesap kelembutan dan rasa manis tak terlupakan.

Bersama Avandra, keponakan yang tinggal di Jerman, di depan toko Laduree

Bersama Avandra, keponakan yang tinggal di Jerman, di depan toko Laduree Champ-Elysees

Setelah mengantri beberapa waktu, saya tiba di jejeran kue dan macaron. Sungguh bagai surga macaron. Saya melihat jejeran kue dan macaron, dengan aneka rasa dan warna. Begitu indah. Aroma harum dan wangi dari aneka kue itu, meruap dalam semesta toko yang bentuknya tidak terlalu besar. Meski kita dalam antrian, semua orang bagai terbius oleh keindahan kue-kue. Kita menghirup aroma wangi kue, dan mabuk di dalamnya.

Satu set macaron, isi sembilan dihargai sekitar 21 Euro, atau sekitar Rp.350 ribu. Harga yang pantas untuk sebuah sejarah panjang. Apalagi ini macaron yang diciptakan pertama kali di dunia. Nah, lagi2 Perancis memberi renungan, bahwa kue itu bukan perkara remeh temeh loh. Asal dikelola serius, apa saja bisa jadi kekuatan ekonomi nasional, termasuk sekeping macaron.

Mencari Kebahagiaan di Amsterdam

 

Anatomi Babi asli di pintu masuk Body Worlds Amsterdam / junanto

Anatomi Babi asli di pintu masuk Body Worlds Amsterdam / junanto

Di Amsterdam, kebahagiaan atau happiness adalah kata kunci yang dipegang hampir setiap warganya. Sebagai kota, yang masuk dalam jajaran kota paling bahagia sedunia, upaya meraih kebahagiaan adalah proyek hidup yang terus menerus diperbaiki.

Apa yang membuat orang Amsterdam, atau Belanda pada umumnya, bahagia? Salah satunya adalah statistik. Belanda mempelajari cara untuk menjadi bahagia. Dari statistik dan anatomi tubuh, dibuatlah semacam proyek kebahagiaan. Ini yang menarik, karena terbukti bahwa bahagia bisa diraih dengan latihan dan penelitian.

Memang terdengar terlalu tekhnis, tapi di Belanda, segalanya menjadi tekhnis dan detail. Saat mampir ke Amsterdam, saya mengunjungi satu Proyek Kebahagiaan Belanda yang dikemas dalam bentuk sebuah museum. Namanya Body Worlds: The Happiness Project. Letaknya di Damrak, dan menjadi salah satu ikon wisata kota Amsterdam.

Adalah seorang Jerman bernama Gunther von Hagens yang mengawali ide ini. Setelah melakukan pameran proyeknya ini, di berbagai kota, ia membangun pameran tetap di Amsterdam.

Apa yang menarik dan unik dari Proyek Kebahagiaan ini? Body Worlds menampilkan satu tema penting untuk kita renungkan, yaitu mengenai tubuh manusia dan pengaruh dari berbagai faktor, mulai dari fisik tubuh hingga emosi, pada kesehatan dan kebahagiaan manusia.

Premisnya sederhana. Apabila tubuh diberi input kesengsaraan dan kesulitan secara terus menerus, manusia akan cenderung tidak bahagia. Demikian pula sebaliknya. Di sini, von Hagens mengambil riset pada berbagai manusia dan menampilkannya utuh di museum ini. Ada lebih dari 200 jasad manusia asli, bukan display boneka, yang ditampilkan di museum body worlds. Berbagai jasad manusia itu, dibedah, dikuliti, dan diawetkan, sehingga kita bisa melihat kompleksitas tubuh manusia, termasuk kekuatan dan kerentanan tubuh.

Dari mana berbagai jasad itu berasal? Museum ini memberikan informasi bahwa jasad-jasad tersebut berasal dari para donatur, yang merelakan tubuhnya digunakan untuk ilmu pengetahuan setelah mereka meninggal.

Jasad-jasad manusia yang diawetkan dengan cara khusus oleh von Hagens tersebut bercerita bahwa kebahagiaan bisa diteliti. Tubuh yang bahagia, umumnya muncul dari kebiasaan fisik dan emosi yang bahagia. Kebiasaan merokok dan stress misalnya, bisa memicu ketidakbahagiaan. Di museum ini, ditampilan organ manusia yang terkena kanker paru-paru akibat merokok, dan otak yang rusak karena stroke. Kita diajak merasakan dampak dari kebiasaan negatif yang ditumpuk sekian lama.

Museum ini menyampaikan pesan bahwa gerak fisik bisa menimbulkan kebahagiaan. Orang yang rajin berolahraga biasanya lebih bahagia dari yang malas bergerak. Di sini, kita diajak untuk senantiasa melatih fisik, gaya hidup sehat. Namun di lain sisi, fisik juga harus diimbangi oleh jiwa dan emosi yang stabil. Kita harus juga mampu melatih emosi kita, agar tidak terjebak stress, tegang, yang berujung pada ketidakbahagiaan.

Memasuki museum Body Worlds ini menurut saya sesuatu banget, dan menjadi satu pengalaman yang “must try” kalau ke Amsterdam. Dengan tiket seharga 20 euro per orang (bisa lebih murah kalau beli online), kita diajak menyelami kembali makna kehidupan ini. Hidup pada ujungnya, bukanlah mencari materi. Tapi pada ujungnya, yang dicari oleh manusia ini, dengan berbagai aktivitasnya, adalah kebahagiaan atau eudomonia menurut Yunani Kuno.

Amsterdam membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi, tanpa kebahagiaan, adalah sia-sia. Pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita, keamanan, kesehatan, dan fungsi institusi yang baik, adalah prasyarat dasar kebahagiaan. Tanpa ekonomi yang baik, pendapatan per kapita yang memadai, sulit meraih kebahagiaan. Namun itu bukan tujuan, setelah semua yang bersifat materi diraih, kebahagiaan bukan sebuah perkara sederhana. Ia membutuhkan kebiasaan, pelatihan emosi, agar dapat pasrah, dan ringan, dalam menghadapi kehidupan dan segala tantangannya. Di sini baru berlaku, uang tidak selamanya membawa kebahagiaan.

Bahagia, di Belanda, adalah soal tekhnis. Bisa dipelajari. Untuk tahu lebih dalam dan detil, silakan mampir ke Body Worlds Amsterdam, bila sedang berkunjung ke sana. Salam Bahagia.

Bersepeda di Amsterdam

Cycling in Amsterdam

Cycling in Amsterdam

Tidak ada cara yang paling mudah untuk menyusuri kota Amsterdam, selain menggunakan sepeda. Ya, sepeda di Amsterdam adalah bagian dari nafas kota itu sendiri. Jumlah sepeda saja lebih banyak dari jumlah penduduknya. Di mana-mana kita melihat orang bepergian naik sepeda. Bahkan pejabat pemerintah, termasuk Menteri di Pemerintahan Belanda, kalau bepergian kerap menggunakan sepeda.

Oleh karena itu, saat mengunjungi Amsterdam bersama keluarga beberapa waktu lalu, saya memilih untuk menyewa sepeda agar lebih mengenal sudut-sudut kota. Menyewa sepeda di Amsterdam sangat mudah dan jauh lebih efisien ketimbang kita naik bis atau trem yang harus berganti-ganti kalau ingin ke satu tempat. Dengan sepeda, kita bisa berpindah-pindah ke tempat yang kita suka. Cukup dengan membawa peta.

Ada beberapa penyewaan sepeda yang terdapat di Amsterdam. Saya memilih menggunakan MacBike yang salah satu kiosnya ada di dekat Amsterdam Central Station. Cukup dengan sekitar 12 Euro per orang, kita sudah bisa menyewa sepeda seharian. Kita menyewa empat sepeda dan bersama-sama memulai perjalanan.

Satu kelebihan bersepeda di Amsterdam adalah infrastruktur untuk bersepedanya yang nyaman. Karena percuma kalau kita naik sepeda namun tidak ada infrastruktur yang memadai. Sepeda kita akan bersaing dengan motor dan mobil, yang justru malah membuat bersepeda berbahaya. Di Amsterdam, sepeda memiliki jalur tersendiri yang tidak mungkin diserobot mobil. Uniknya lagi, jalur-jalur sepeda itu terintegrasi dan saling terkoneksi antara satu dengan yang lain. Jadi, kalau kita mau pergi dari satu titik ke titik lainnya, yang memerlukan perpindahan jalan atau menyebrangi jalan besar, jalur sepedanya sudah terhubung. Nyaman bukan?

Nah, kami mengambil jalur atau rute sepeda sendiri, disesuaikan dengan ketertarikan kita sekeluarga. Dari Amsterdam Station, kita berbelok ke kiri menuju Maritime Museum di daerah Waterfornt, di depannya, kita belok kanan lalu masuk ke daerah Plantage. Kitapun menyusuri Plantage yang suasananya tenang dan penuh taman. Di Plantage kita berhenti di distrik yahudi, dan melihat Sinagog Portugis tua yang dibangun oleh kaum Yahudi.

Dari Plantage, kita meneruskan perjalanan menuju Sungai Amstel. Kita melewati Magere Brug, atau “Skinny Bridge”, yang merupakan jembatan tertua di Amsterdam. Lalu menyebrangi Sluice Gates yang masih berfungsi mengatur perjalanan kapal di sungai, termasuk mengatur pengairan di kota Amsterdam.

Dari situ kita lanjut menyusuri daerah Prinsengracht, atau menyusuri kawasan kanal Amsterdam. Jalan ini menarik karena banyak terdapat butik-butik, seperti di Utrechstraat, Reguliersgracht, yang terkenal dengan tujuh jembatan berderetnya. Di Prinsengracht kita beristirahat sebentar dan berhenti di kedai ikan, atau Vishhandel, untuk memesan ikan haring mentah, holandse nieuwe haring. Sambil mencicipi haring, kita menikmati ketenangan kanal Amsterdam.

Berpose sebentar di Kanal Amsterdam

Berpose sebentar di Kanal Amsterdam

Kitapun meneruskan perjalanan ke Nieuw Spiegelstrat, untuk menuju Vondelpark. Ini adalah taman yang menjadi salah satu ikon kota Amsterdam. Di sana, khususnya pada musim panas, banyak warga Amsterdam yang keluar dan berpiknik bersama. Dari Vondelpark, kita menuju Rijkmuseum. Di belakang Rijkmuseum ada taman yang menjadi tempat kumpul warga Amsterdam maupun turis asing.

Kita berpose di satu ikon kota yang kini menjadi populer, yaitu tulisan besar I AMsterdam. Di kota ini ada tiga ikon besar tersebut, satu diletakkan di Rijkmuseum, lalu satu di Schiphol Airport, dan satu lagi berpindah-pindah sesuai waktunya.

I AMsterdam

I AMsterdam

Dari I AMsterdam ikon, kita kembali ke Central Station melewati Dam, atau alun-alun kota, tempat Royal Palace berada.

Bersepeda di Amsterdam sangat mengasyikkan. Selain sehat dan hemat, kita bisa belajar bagaimana suatu kota mengelola lalu lintasnya, dari dominasi mobil dan motor, menjadi dominasi sepeda. Sebelumnya, hingga tahun 1970, kota Amsterdam hiruk pikuk dan kacau oleh tumbuhnya masyarakat menengah dan penggunaan mobil. Persis seperti keadaan kota Jakarta sekarang. Di Amsterdam saat itu, macet di mana-mana. Penggunaan mobil membludak, kecelakaan meningkat, dan kematian anak akibat kecelakaan mobil tinggi.

Dari kondisi itulah mereka berpikir, Amsterdam, atau Belanda pada umumnya, tidak bisa dibiarkan berkembang begitu saja tanpa arah. Berbagai aksi kampanye dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. Gerakan naik sepeda dibangun. Hal ini tidak berlangsung satu pihak, namun juga ditanggapi positif oleh Pemerintah Belanda, dengan membangun infrastruktur. Jalur untuk sepeda dibangun, diperluas, dan jalur untuk mobil dikurangi. Masyarakat, baik oleh kesadaran ataupun dipaksa keadaan, berpindah menggunakan sepeda. Awalnya memang sulit dan butuh kerja keras, tapi kini, sepeda telah menjadi budaya, atau habit dan keseharian masyarakat Belanda.

Bukan itu saja, wisata sepeda, seperti yang baru saja saya lakukan, menjamur di kota Amsterdam. Menambah marak kota, dan tentunya mendukung turisme dan ekonomi lokal.

Proses Amsterdam menuju Kota Sepeda, bukan proses kebetulan, dan bukan proses satu malam. Butuh waktu panjang juga. Ada konsistensi, keteguhan hati masyarakat, dan yang paling penting dukungan total dari Pemerintah. Sinergi semua institusi ini adalah kunci. Naik sepeda tak cukup hanya dengan membangun komunitas bersepeda. Itu penting dan harus dilakukan memang untuk membangun kesadaran. Tapi apabila hal itu tidak didukung pemerintah, maka gerakan bersepeda hanya menjadi hobi atau gaya hidup beberapa kalangan. Karena kenyataan di lapangan saat ini, naik sepeda bisa jadi masih berbahaya, terutama saat bersaing dengan mobil, bis, kendaraan umum, bajaj, hingga sepeda motor. Belum lagi asap knalpot kendaraan yang harus kita hirup.

Nah, kalau Belanda bisa, pastinya kita juga bisa. Tak sulit, hanya butuh kemauan dan kerjasama. Eeeh, tapi justru itu yang paling sulit kan ye hehehe….

Salam Gowes.

Salam Gowes

Salam Gowes

Kudapan Belanda Wajib Coba

Stroopwafels yang Lekker / photo junanto

Stroopwafels segar yang Lekker / photo junanto

Tidak seperti Indonesia yang kaya akan berbagai jenis makanan, Belanda tidak memiliki banyak variasi makanan atau kudapan lokal. Tapi kalau mau merasakan bagaimana selera lokal di Belanda, perlu bagi kita untuk terjun ke pasar atau jalanan dan mencari makanan lokal.

Setelah ikan haring mentah yang saya cicipi kemarin, masih ada beberapa pilihan makanan lokal di Belanda yang menarik. Mungkin tidak terlalu istimewa karena sebagian besarnya sudah banyak terdapat, dan bisa dibuat di tanah air, seperti Bitterballen, Poffertjes, Kroket, ataupun Olliebollen. Tapi masih banyak lagi lainnya yang tentu berbeda rasanya dibandingkan di Indonesia.

Satu favorit saya adalah Stroopwafels. Makanan ini banyak bertebaran di mana-mana kalau kita ke Amsterdam. Prinsipnya, Stroopwafels ini adalah sirup wafel, yang terbuat dari butter dan diolesi sirup di tengahnya. Sejarahnya, makanan ini pertama dibuat di dareah Gouda, Belanda, pada abad ke-18. Hingga tahun 1870, stroopwafels ini hanya dibuat di Gouda, belum diekspor ke kota lain. Bahkan katanya, di tahun tersebut, ada sekitar 100 pedagang stroopwafels, hanya di kota Gouda.

Membeli Stroopwafels ini mudah karena sekarang sudah banyak dibuat kering dan dijual di supermarket. Tapi saya paling suka mencicipi stroopwafels yang segara, atau yang dibuat langsung di depan kita. Banyak pedagang Stroopwafels yang bisa dicoba. Saya mencicipi yang di dekat Rijkmuseum, sebelum Museum Van Gogh. Lalu ada lagi yang segar di daerah Albert Cuyp Market. Di sana, kita bisa melihat penjual wafel membuat adonan kuenya, lalu memasukkan ke mesin pressing. Setelah beberapa waktu, wafel matang. Dibagi dua dan diolesi sirup di tengahnya. Hmmm, lezaat.

Selain Stroopwafels, ada satu kudapan lokal yang menarik. Sebenarnya sih ga terlalu istimewa, tapi hampir semua orang menganggap ini adalah kudapan paling populer di Belanda. Namanya sih keren, Vlaamse Friet. Tapi sebenarnya ini hanyalah kentang goreng dengan diolesi aneka saus dan mayonnaise. Orang Belanda menyebut makanan ini dengan nama Patat. Awalnya, dulu makanan ini diciptakan di bagian utara Belgia, makanya dinamakan Vlaamse Friet. Kini, Patat menjadi makanan paling populer kalau kita ke Belanda.

Vlaamse Friet, satu kudapan lokal Amsterdam yang wajib coba / photo junanto

Vlaamse Friet, satu kudapan lokal Amsterdam yang wajib coba / photo junanto

Saya mencicipi Patat di warung Manneken Pis yang terletak di Damrak. Katanya, menurut klaim mereka, inilah number 1 Patat in Holland. Kayaknya sih bener begitu. Saat saya mau mencicipi, antriannya sungguh panjang mengular. Well, biasanya kalau yang antri ramai, makanannya populer.

Saya memesan satu Patat dengan saus mayonnaise dan sate (beneran loh ada saus sate bumbu kacang). Kentang gorengnya tebal dan empuk. Tapi yang membuat unik adalah taburan sausnya. Kita bisa memilih lebih dari sepuluh jenis saus, mulai dari yang klasik hingga yang pedas, ataupun saus sate. Selain saus, kentang juga ditaburi dengan irisan bawang bombay. Nah, kombinasi ini tadi yang membuat Patat menjadi khas, atau bukan sekedar kentang goreng biasa.

Salam

Mencicipi Ikan Haring Mentah di Amsterdam

Kedai Haring Favorit Saya, Stubbe's Haring / photo junanto

Kedai Haring Favorit Saya, Stubbe’s Haring / photo junanto

Setiap perjalanan adalah sebuah pengalaman, termasuk pengalaman mencicipi kuliner khas di daerah yang kita kunjungi. Perjalanan saya ke Amsterdam di pertengahan musim panas 2014 ini pun demikian. Seperti biasa, saya mencari makanan lokal yang unik dan belum pernah saya coba. Hal itu membawa saya pada satu kudapan lokal favorit, yang namanya “Hollandse Nieuwe Haring”.

Saat bertanya pada orang lokal, makanan ini adalah yang direkomendasikan atau wajib coba kalau ke Amsterdam. Bahkan di blog Top 10 Dutch Food that You Should Try, Nieuwe Haring termasuk di antaranya. Pada prinsipnya ini adalah ikan haring mentah. Yup, mentah. Ikan Haring dari Laut Utara ditangkap di penghujung musim semi, dibersihkan, dipotong kepalanya, lalu diolah dengan cara khusus (katanya direndam dalam cairan pankreas ikan itu sendiri). Setelah selesai, Ikan Haring mentah ini dimakan dengan kondimen irisan bawang bombay dan acar (pickles).

Hanya ikan yang ditangkap di bulan Mei hingga Juli yang bisa disebut sebagai Nieuwe Haring, karena itu adalah musim-musim penangkapan ikan haring. Di seputaran kota Amsterdam, banyak terdapat warung-warung yang menyediakan ikan haring ini. Kalau ada kedai bertuliskan “Vishhandel” ataupun yang memasang bendera Belanda, umumnya mereka menjual ikan haring.

Tapi kedai yang recommended menurut saya adalah kedai Stubbe’s Haring. Letak kedai ini tak jauh dari Amsterdam Central Station. Tepatnya di penghujung jalan Haarlemmerstraat, di daerah Joordan. Kedai ini terlihat mencolok jadi gampang ditemui kalau kita berjalan dari Central Station ke kanan.

Ikan Haring Mentah ini bisa dimakan langsung bulat-bulat, atau boleh juga dengan menggunakan roti. Kalau dibuat semacam sandwich, namanya “Broodje Haring” atau Sandwich Haring. Tapi kalau mau makan Niuewe Haring dengan cara lokal seperti para Amsterdammers, makanlah bulat-bulat. Caranya, pegang buntut ikan, angkat tinggi-tinggi, dongakkan kepala kita, buka mulut, dan masukkan ikan haring mentah perlahan-lahan.

Makan ikan mentah bagi saya sebenarnya adalah hal biasa. Saat tinggal di Jepang beberapa waktu lalu, saya paling suka makan ikan mentah atau sushi di pasar ikan Tsukiji. Namun ikan haring mentah ini kok keliatannya beda ya. Saat saya pesan, penjual haring menanyakan, apakah mau pakai roti atau dimakan langsung. Tentu saya memilih cara lokal dengan memakan langsung. Begini penampakan ikannya:

Seperti inilah Hollandse Nieuwe Haring / photo junanto

Seperti inilah Hollandse Nieuwe Haring / photo junanto

Hmmmm, aroma mentah ikannya masih tercium. Lalu licin atau lendir daging ikannya juga terasa. Ini jauh berbeda dengan sushi atau sashimi di Jepang. Ini betul-betul ikan mentah, yang diproses dengan cara Belanda. Awalnya saya ragu mencoba, kayaknya ini amis dan ga enak deh. Tapi tentu saya harus mencoba sebagai pengalaman, setidaknya saya sekali seumur hidup makanan ini perlu dicicipi.

Dan, saya pun melakukan aksi makan haring versi lokal, dengan mengangkat buntut ikan ke atas, dan memasukkan ke mulut saya perlahan demi perlahan.

Mencicipi Haring ala Orang Belanda

Mencicipi Haring ala Orang Belanda

Hmmmph, ternyata dugaan saya salah. Rasanya enak ! … Memang terasa mentah, tapi kelembutan daging haring, tekstur rasa dan kualitas ikannya, luar biasa. Saya sangat menikmati Holandse Nieuwe Haring ini.

Dan tentunya, ini bukan pengalaman sekali seumur hidup. Karena sore harinya, saya kembali ke Stubbe’s Haring untuk memesan lagi satu Ikan Haring Mentah… Hmmm, ketagihan ni yeeee ….

Salam Haring

Jerman Lebih Dari Sekedar Menang

Gotze usai membobol gawang Argentina / source FIFA.com

Gotze usai membobol gawang Argentina pada Final Piala Dunia 2014 / photo source FIFA.com

Don’t Cry for Me Argentina. Kiranya begitu suasana galau dan sedih bagi para pendukung kesebelasan Argentina. Hanya tujuh menit menjelang usainya babak perpanjangan waktu, Jerman melalui Mario Gotze, merobek gawang Sergio Romero. Kemenangan 1-0 bertahan, dan membawa Jerman menjadi Juara Dunia 2014.

Ein Traum wurde wahr, itulah yang dikatakan para pemain Jerman sebelum pertandingan melawan Argentina dimulai. Saatnya, mimpi akan jadi kenyataan. Begitu arti pepatah Jerman tersebut. Penyair besar Jerman, Goethe, mengatakan, “Lebih baik berlari daripada bermalas-malasan”.  Jerman membuktikan itu di berbagai hal, mereka berlari di segala bidang, mulai dari tekhnologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan dini hari tadi, sepak bola. Gotze, yang menjadi pemain pengganti meyakini syair Goethe. Ia berlari, berlari, dan berlari. Gotze, bagai Goethe, mampu membawakan syair indah bagi kemenangan Jerman.

Kita lihat pagi tadi, para pemain Argentina bagai tersedak. Tak mampu berkata-kata. Diam terpana. Gadis-gadis cantiknya menangis bagai tak percaya. Para lelakinya ling lung bagai hilang ingatan. Tangisan Argentina mengalir di stadion Maracana, Rio de Jainero, dinihari tadi. Sepak Bola memang bisa menyakitkan.

Usai sudah Piala Dunia 2014. Tiga puluh dua hari sudah kita terbuai dalam keriaan, tawa, canda, drama, tragedi, dan tangis, bersama seluruh warga dunia. Kini kita kembali ke dunia nyata. Namun, sebagaimana ibadah puasa bagi umat beragama, tiga puluh dua hari ibadah ritual nonton sepakbola (yang notabene juga sering bangun malam berbarengan sahur) juga harus punya makna.

Bahwa Final Piala Dunia hari ini bukanlah akhir. Pertandingan final ini justru dapat kita jadikan awal dari sebuah perbaikan kehidupan. Piala Dunia adalah hari-hari bangun malam untuk melakukan perenungan dan pelatihan diri. Jangan sampai semua itu menjadi sia-sia dan tak memiliki makna moral.

Bersama dengan rekan-rekan arek Suroboyo, di pelataran Cafe Heerlijk Gelato, yang bertempat di Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya dini hari tadi, saya bersama mas Aditya (pemilik cafe) menyaksikan nonton bareng Final Piala Dunia. Kita berbincang singkat, mencoba mencari benang merah, apa pelajaran dari kemenangan Jerman kali ini.

Dari omong-omong tadi, ditambah dengan perenungan di perjalanan pulang, plus beberapa referensi masa lalu saya, ada tiga pelajaran yang dapat kita renungkan dari Piala Dunia 2014, yang dapat kita renungkan bersama.

Nobar

Bersama mas Adit, mbak Linda, dan Lelaku Senja, usai Nobar di Heerlijk Gelato, Perpustakaan BI Surabaya

Pelajaran pertama, keberhasilan atau kesuksesan tidak pernah terjadi secara “instan” atau sekali jadi. Itu sudah hukum besi alam. Persiapan yang matang, ketekunan, kesabaran, adalah kunci. Jerman adalah negara yang persisten dalam hal ini. Mereka meraih juara dunia pada tahun 1954, 1974, dan 1990. Secara statistik, di tahun 1982 dan 1986, mereka hampir juara namun kalah di final oleh Italia dan Argentina. Di tahun 2002, mereka kembali masuk final, dan lagi-lagi kalah, saat itu oleh Brasil. Sejak itulah, mulai tahun 2002 itu, Jerman membangun kembali kekuatan sepak bolanya. Regenerasi dilakukan secara disiplin, untuk mencapai target juara di tahun 2014. Bayangkan, dilakukan jauh hari sebelum dini hari tadi.

Juara Dunia tahun 2014, bukan terjadi dalam semalam. Di balik kegembiraan Mueller dkk mengangkat Piala Dunia, di balik gempita kembang api, sorak sorai penonton, ada proses panjang yang bernama kerja keras, air mata, dan keringat. Sukses adalah sebuah proses panjang. Jerman melakukannya selama lebih dari sepuluh tahun. Kebiasaan merencanakan hal-hal berjangka panjang, adalah kunci kesuksesan.

Hal ini yang masih jauh dan belum kita miliki. Pola kerja kebanyakan dari kita, lebih banyak ad hoc, kerapkali mengerjakan pekerjaan hari ini saja. Mirip burung yang pergi pagi mencari makan, lalu pulang sore harinya. Undangan rapat mendadak, kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara sporadis, adalah contoh pekerjaan yang ad hoc. Tentu tak ada yang salah dengan kegiatan tersebut, karena kerap juga diperlukan. Tapi kalau semua pekerjaan adalah ad hoc, maka kita tidak punya prioritas atau pandangan jauh ke depan.

Contoh paling konkrit adalah tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Hari-hari ini kita sering sekali mendapat pertanyaan, atau kegalauan, dari berbagai kalangan, bagaimana persiapan kita menghadapi 2015. Nah, itu kan tinggal setahun lagi. Bukankah harusnya sudah kita siapkan dari 2003, saat kesepakatan ini dibuat. Mungkin karena kita dibesarkan dalam budaya SKS (Sistem Kebut Semalam), semua bisa beres dalam waktu singkat. Belajar dalam semalam toh bisa lulus juga. Lalu cerita legenda-legenda kita juga mengajarkan hal-hal instan tersebut. Membangun seribu candi dalam semalam, mendirikan gunung hanya dari lemparan biduk perahu, adalah legenda yang tertanam di pikiran kita. Bahwa pekerjaan besar seperti membangun candi, bisa kok dilakukan dalam semalam. Kita percaya pada hal-hal magi. Tapi pagi ini, Jerman mengajarkan kita, keberhasilan tak mungkin dilakukan dengan ketergagapan sesaat. Ia perlu kerja keras dan waktu panjang.

Indonesia adalah negara besar dengan segala potensi. Dengan kemampuan kita mengubah paradigma, berpikir panjang, dan mampu melihat masa depan dengan cermat, saya yakin, Indonesia bisa hebat dan bangkit ke depan.

Pelajaran kedua, tim terbaik belum tentu meraih juara. Kita melihat banyak contoh. Belanda misalnya, diperkuat oleh para pemain bagus di segala lini. Argentina juga memiliki kekuatan merata. Bahkan Amerika Serikat menurut saya merupakan tim bola masa depan yang punya gaya permainan bagus. Mereka adalah tim-tim baik, tapi tidak meraih juara. Bukan berarti usaha mereka sia-sia. Johan Cruyf dulu pernah berkata, ”Jangan sampai keinginan menjadi juara membuat orang lupa bermain indah”. Itulah semangat sport sejati, bola harus menghibur, bola harus indah, dan bola harus memukau. Jika ternyata hasilnya adalah kekalahan, kekalahan itu masih mengandung kemenangan.

Di bulan Ramadhan ini, kata-kata tausyiah dari Johan Cruyf itu perlu kita renungkan. Dalam kesalehan dan kehidupan beragama, kita kan diajarkan untuk tidak boleh hanya meraih hasil. Bagi Allah, hasil itu bukan yang utama. Tapi bagaimana cara kita meraihnya. Banyak yang bisa berhasil, jadi juara, tanpa memikirkan cara terindah dan terjujur dalam mendapatkannya. Tanpa cara yang tepat dan baik, hidup yang hanya memburu target hasil, bisa menjadi tidak bertanggungjawab dan amoral. Piala Dunia mengajarkan, tim terbaik belum tentu juara. Tapi keindahan permainan mereka akan mengenang sepanjang zaman. Demikian pula dalam hidup ini. Jangan pikirkan hasilnya. Mau naik gaji, naik pangkat, naik kelas, itu bukan tujuan. Yang terpenting, bekerjalah atau belajarlah dengan cantik, indah, dan memikat. Maka sejarah akan mencatat.

Pelajaran ketiga, asas sepak bola adalah kompetensi, bukan keunggulan yang lain. Bukan karena suku, agama, ras, apalagi kedekatan dengan pimpinan. Neymar, Boateng, Suarez, bukanlah bangsa Eropa. Tapi mereka memiliki kompetensi tinggi untuk bersaing dengan bangsa Eropa yang notabene adalah negara maju. Maksimalisasi kompetensi diri inilah yang perlu kita pakai dalam membangun bangsa dan bekerja. Untuk bersaing, gunakan kompetensi kita, dan karya ke depan, bukan bermodal masa lalu atau perkoncoan saja. Piala Dunia menjadi suatu pembuktian bahwa siapa saja bisa jadi bintang, asalkan kompeten.

Satu lagi catatan menarik saya dari Final tadi malam adalah kehadiran istri, keluarga, dan anak-anak para pemain sepak bola Jerman. Saat Jerman juara, anak-anak dan keluarga menghampiri ayah, atau pacar mendatangi kekasih mereka. Ini adalah sebuah revolusi yang dilakukan Jerman beberapa puluh tahun lalu. Sebelumnya, wanita dianggap pengganggu pekerjaan. Jerman dulu melarang pemainnya menemui keluarga saat konsinyering Piala Dunia. Wanita dan keluarga dianggap bisa merusak konsentrasi.

Adalah Franz Beckenbauer yang mencabut kebiasaan ini. Ia memberi kesempatan para pemain mengajak keluarga, istri ataupun pacar. Koran Jerman saat itu menulis, “Danke, Franz fur diese Liebesnacht”. Terima kasih Franz, atas malam-malam penuh cinta. Ya, bayangkan selama enam minggu para pemain tidak boleh bertemu kekasihnya. Puyeng kan.

Franz Beckenbauer berkata sambil bercanda, “Satu jam seks akan jauh lebih efektif dan membantu daripada lima jam latihan taktik dan teknik bola”. Ya, malam cinta adalah rahasia kemenangan Jerman.

Di sini kita bisa menarik lagi pelajaran, bekerja dan bekerja, tanpa cinta, adalah sebuah perjalanan yang kering. Pekerjaan menjadi tidak efektif dan kadang bisa kehilangan semangat. Jangan lupa kawan, bekerja penuh semangat, tapi tetaplah bercinta. Karena cinta membuat hidup lebih berwarna.

Itu catatan singkat saya pagi ini. Visi dan misi kita dalam hidup nampaknya harus banyak memuat unsur sepakbola ini. Kita sudah tanamkan keinginan buat bekerja dengan tekun, tidak ada kemenangan instan, kita memilih untuk bermain cantik dan indah, mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan manusia,  kita bersama-sama ingin membangun kompetensi diri. Dan terakhir, visi yang paling ultimate, jangan lupa bercinta.

Joachim Ringelnats pernah berkata, “Kegilaan pada bola adalah penyakit. Tapi saya bersyukur kepada Allah ada kegilaan itu”.

Selamat menjalankan sisa puasa kita. Semoga amal ibadah kita diterima dan hidup kita semakin diberkahi. Salam sepak bola.

(Catatan ini dibuat usai menyaksikan Final Piala Dunia 2014 antara Jerman melawan Argentina. Jerman menjadi Juara Dunia setelah menang dengan skor 1-0)

Menggapai Nirwana Bola

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Saat Lukaku dimasukkan ke lapangan oleh Pelatih Belgia, Marc Wilmots, dinihari tadi (2/7), getar kecemasan langsung dirasakan oleh para pemain kesebelasan Amerika Serikat (AS). Lukaku, akhirnya jadi Lukamu, jadi Luka bagi kesebelasan AS. Ya, Romelu Lukaku, pemain muda berbakat yang dikontrak Chelsea dan pernah bermain di Anderlecht, adalah “senjata pamungkas” yang dikeluarkan di masa perpanjangan waktu. Setelah 90 menit bermain ketat dan imbang, masa perpanjangan waktu adalah masa penentuan. Dalam kisah pewayangan, senjata pamungkas dikeluarkan pada jeda waktu itu. Dan Lukaku, adalah senjata Wilmots. Ia keluar, bermain, dan menusuk tanpa ampun.

Sepuluh menit pertama perpanjangan waktu, Belgia menghunjam pertahanan AS dengan daya gempur dan semangat baru. Tim Howard, kiper AS, yang tampil heroik menyelamatkan gawang AS dari gempuran Belgia selama 90 menit (sampai di twitter ada hashtag #HowardForPresident), akhirnya menyerah. Lukaku dan De Bryon menusuk patah dan menghabisi perjuangan Howard. AS harus menyerah dengan skor 2 – 1. Meski Green mampu memberi satu gol bagi AS, dan 10 menit terakhir milik AS, perjuangan itu tak cukup.

Duel Belgia – AS dinihari tadi menutup partai 16 besar Piala Dunia 2014. Menariknya, sebagian besar pertandingan di 16 besar ini diakhiri dengan perpanjangan waktu. Bahkan adu penalti.  Brazil vs Chile, Costa Rica vs Yunani, Jerman vs Aljazair, dan Argentina vs Swiss, berakhir dengan skor 0-0, sebelum dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Belanda bahkan menang di ujung waktu, dua gol disarangkan di menit 88 dan 91. Hampir saja berakhir seri 1 -1.

Inilah catatan menarik dari Piala Dunia 2014. Pertandingan berlangsung semakin menawan dan tidak mudah. Semua kesebelasan menyadari bahwa barangsiapa bisa mengalahkan lawan, maka ia sampai di ujung batas dunia bola. Para filsuf menyebutnya “Nirwana Bola”. Itulah titik Ma’rifat perjalanan sebuah Tim. Di Nirwana, tiada lagi bola, yang ada hanyalah PIALA. Atau balasan surgawi berupa regukan kenikmatan tiada bertepi.

Menyambut babak perempat final yang akan dimulai esok, kiranya kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari pertandingan di babak penyisihan dan 16 besar.

Pelajaran Pertamathere is no easy way to win. Tidak ada kemenangan yang mudah. Hal itu terlihat dari sebagian besar pertandingan di babak 16 besar “dipaksa” harus selesai dengan perpanjangan waktu dan adu penalti. Ini berarti bahwa mencapai kemenangan tidak seperti membalik telapak tangan, bahkan saat menghadapi lawan yang kita anggap lebih lemah. Kita belajar dari 16 besar ini bahwa tidak bisa memandang remeh lawan. Bahkan tidak boleh terlalu percaya diri.

Siapa sangka kalau Argentina harus bermain ekstra keras menghadapi Swiss (yang notabene kelasnya masih di bawah Argentina), atau Brazil yang harus susah payah adu penalti menghadapi Chile. Jadi, kita juga tak bisa memandang remeh terhadap permasalahan yang ada. Terhadap pekerjaan kita. Terhadap tugas sehari-hari. Karena sifat menganggap remeh dapat membuat kita alpa dan meleset pada kegagalan. Kemenangan selalu membutuhkan kerja keras dan kehati-hatian.

Pelajaran Kedua, patience is virtue. Kemenangan hanya bisa diperoleh bagi mereka yang sabar. Kesabaran adalah keutamaan. Selama 90 menit kesebelasan Belgia menggedor gawang Tim Howard. Selama itu juga pertahanan AS bergerak disiplin melalui zona marking. Tapi lewat masa 90 menit, Belgia terlihat lebih sabar. AS lengah. Dan kemenangan milik sang penyabar. Pelajaran kehidupan ini perlu kita renungkan, karena tak sedikit dari kita yang kerap tak sabar, baik perkara sekolah, pekerjaan, karir, pangkat, atau gaji. Ketidaksabaran umumnya berujung pada keluhan demi keluhan, hingga akhirnya kegagalan. Kita harus ingat pepatah, semua indah pada waktunya.

Pelajaran Ketiga, perlunya belajar dan belajar. Kesebelasan yang lolos ke 8 besar, bukan kesebelasan kemarin sore. Permainan AS sangat cantik, Swiss juga, tapi untuk mengatasi Belgia dan Argentina, mereka masih perlu baca banyak buku lagi. Mereka harus mengakui, mengalahkan kesebelasan Juara Dunia, hanya sebuah utopia. Atau seperti yang dikatakan Jacques Derrida, tokoh posmodernis Prancis, yang mengatakan itu adalah suatu l’im-possible (sebuah ketidak-mungkinan). Tapi ketidakmungkinan bisa jadi kemungkinan dengan belajar. Costa Rica telah membuktikan itu, terus menerus belajar membuat mereka bisa menembus delapan besar.

Dan terakhir, di bulan Ramadhan ini, saya teringat tulisan D.A Rindes dalam bukunya “Nine Saints of Java” yang mengibaratkan buah kelapa sebagai metafora atas hakikat dan syariat. Ibadah sebagai nyiur dan shariat hanya kulitnya. ”Kulitnya itu ibarat shariat. Tempurungnya itu ibarat Tarikat, Isinya itu ibarat HakikatMinyaknya itu ibarat ma’rifat”. Kita sering melihat kesuksesan orang itu dari luarnya saja. Padahal apa yang tampak, masih menyimpan cerita panjang sebuah perjuangan. Yang kelihatan hanya kulit, bahwa ia sukses. Di baliknya, ada kerja keras dan ketekunan.

Kesebelasan Juara, seperti Brazil, Jerman, atau Argentina, itu dapat diibaratkan kita lihat seperti shariat, kulit semata. Besar, hebat, dan juara. Tapi kita kerap lupa, bahwa di balik kebesaran mereka itu, ada tarikat, ada hakikat, dan ada ma’rifat. Di balik kesebelasan Brazil, ada kerja keras, ada konsistensi, ada disiplin, ada integritas.

Saat teman sebayanya tidur, Neymar (pemain Brazil) bangun jam 4 pagi untuk menendang-nendang bola. Saat teman sebayanya bermalas2an di siang hari, Neymar melatih fisiknya berlari di pantai  yang terik. Keajegan dalam berlatih adalah kunci sukses Neymar. Untuk itu, ia rela kehilangan kesenangan-kesenangan di masa mudanya. Ia rela membangun habitus yang mau menunda kesenangan (deffered gratification).

Sebagai bangsa Indonesia, ketiga hal tadi bisa jadi pelajaran kita. Kita perlu kerja lebih keras. Perlu lebih serius, ajeg, dan perlu menunda kesenangan-kesenangan sesaat, untuk masa depan yang lebih baik. Menghadapi pemilu pilpres nanti, nilai-nilai ini juga bisa dijadikan pedoman. Membangun bangsa Indonesia bukan perkara satu dua malam. Ia membutuhkan konsistensi, ketekunan, dan tidak mudah menyerah. Di sinilah harapan kita pada Presiden baru nanti, siapapun yang terpilih, untuk dapat menjaga ketekunan dan kesabaran bangsa dalam membangun dirinya. Dan membangun sebuah habitus, hanya akan bisa sukses lewat sebuah laku, bukan dengan kata-kata semata.

Mari kita belajar dari Piala Dunia 2014. Mari kita sambut dimulainya babak delapan besar. Selamat Menyaksikan. Selamat menjagokan kesebelasan anda. Dan semoga Indonesia dapat memilih Presiden yang tepat dan mampu membawa bangsa ini lebih baik lagi.

(tulisan ini dibuat usai menyaksikan pertandingan terakhir dari partai 16 besar di Piala Dunia 2014, Brazil, antara Kesebelasan Amerika Serikat melawan kesebelasan Belgia (2/7)