Bahan Fashion Terbuat Dari Sampah

Bersama Rancangan Billy Wong, yang bahannya dibuat dari sampah / taken with samsung nx300

Bersama Rancangan Billy Wong, yang bahannya dibuat dari sampah / taken with samsung nx300

Mendengar busana karya desainer haute couture, kita pasti terbayang akan bahan baku dan harga yang mahal. Tapi tidak demikian bagi Billy Wong,  salah satu desainer muda Indonesia yang kreatif dan terkenal di manca negara. Billy justru mengangkat sampah sebagai inspirasi bagi tema fashionnya.

Hah, bagaimana bisa? Tanya saya pada Billy Wong, saat bertemu dengannya di Surabaya hari ini (17/5). Billy berada di Surabaya untuk meramaikan acara “Jatim Kreatif”, yang merupakan ajang pameran perbankan dan usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) se-Jawa Timur. Acara akan diselenggarakan pekan depan, dari tanggal 22 hingga 26 Mei 2013, bertempat di Grand City Surabaya.

Saat acara konferensi pers mengenai acara dimaksud, Billy Wong ikut hadir untuk menampilkan rancangan desainnya, yang diberi judul “Senandung Dari Madura”. Dua model yang cantik, siang tadi tampil di hadapan beberapa pemimpin perbankan, serta wartawan media massa Jawa Timur.

Billy Wong Menjelaskan Karyanya / photo junanto, taken with samsung nx300

Billy Wong Menjelaskan Karyanya / photo junanto, taken with samsung nx300

Billy mengatakan bahwa UMKM itu memiliki potensi untuk maju dan go international. Seluruh rancangan desainnya justru diperoleh dari kehidupan rakyat kecil. Inspirasi gaun “Senandung dari Madura” misalnya, ia dapatkan saat melihat kain dari sepasang kakek nenek di Madura. Bahan baju ia padukan dari kain murah dan karung goni. Lalu ia juga menggunakan cabe merah dari Jawa Timur sebagai aksesoris. Sementara untuk bulu mata merah, dibuatnya dari sisa sapu ijuk.

Menurut Billy, ia belajar desain secara otodidak. Awalnya, ia berguru pada seorang desainer di Paris. Guru itu mengajaknya berjalan di kota dan berhenti di tempat sampah. Ia lalu berkata pada Billy, “Coba kau buat rancangan dari sampah-sampah itu!”.

Awalnya Billy terperanjat. Tapi dari situ ia belajar, bahwa bahan yang kita pikir adalah sampah, justru bisa memiliki nilai jual tinggi.

Tak heran lalu banyak orang yang menjulukinya “Desainer Sampah”.

Meski dicap sampah, karya desainnya mampu membawa Billy Wong ke manca negara. Ia telah melakukan fashion show di Eropa, Amerika, hingga Amerika Latin. Respon positif diperolehnya dari berbagai pengunjung.

Saat Jakarta Fashion Week 2012 lalu, Billy Wong merancang desain pakaian bertema Diva, yang terinspirasi dari jerit tangis dan penderitaan korban lumpur Lapindo. Kepedulian pada kerakyatan, UMKM, dan masyarakat terpinggirkan itu memang menjadi ciri dari desain Billy Wong.

Selanjutnya, Billy Wong akan menggelar Fashion Show yang menampilkan seluruh karya “sampah”-nya itu, pada hari Selasa, tanggal 22 Mei 2013, bertempat di Grand City Surabaya.  Acara Billy Wong adalah bagian dari Bazaar UMKM dan perbankan Jawa Timur, yang mengambil tema “Jatim Kreatif”.

UMKM memiliki potensi besar dalam mendukung perekonomian Indonesia. Selain upaya mendorong mereka pada akses keuangan, membangkitkan kreatifitas juga menjadi konci. Di sinilah peran serta semua pihak.

Tanpa adanya sinergi dari sisi keuangan dan kreatifitas, serta dukungan infrastruktur lainnya, UMKM hanya sebatas potensi belaka. Setidaknya, itulah yang dikatakan Billy Wong, dengan kreatifitasnya yang mengangkat UMKM bisa berkiprah di dunia internasional.

Salam

Bersama Billy Wong / taken with samsung nx300

Bersama Billy Wong / taken with samsung nx300

Mencintai Wisata Sejarah Surabaya

Gedung BI eks De Javasche Bank, Surabaya

Gedung BI eks De Javasche Bank, Surabaya

Seorang teman Jepang, yang bekerja sebagai tour guide, sering membawa rombongan turis Indonesia yang berkunjung ke Tokyo. Ia pernah mengatakan pada saya bahwa membawa turis asal Indonesia itu paling mudah.

“Loh, mudah gimana maksudnya?” tanya saya.

Katanya, “Turis Indonesia itu tidak suka kalau diceritakan soal sejarah atau kisah masa lalu di sebuah lokasi. Mereka biasanya sudah tidak sabar untuk minta diantar  ke tempat shopping atau makan”.

Apa yang dikatakan teman saya itu ada benarnya. Masih banyak turis Indonesia yang memiliki karakter seperti itu. Pergi ke luar negeri atau tempat wisata domestik hanya untuk shopping dan makan-makan.  Kalaupun pergi ke tempat bersejarah, hanya untuk foto-foto lalu upload di media sosial. Bukan karena tertarik untuk belajar atau mengetahui sejarah sebuah tempat.

Tapi sore tadi (14/5), saya dan beberapa kawan di Surabaya, melihat hal yang berbeda. Saya diundang oleh Pemerintah Kota Surabaya dan Dinas Pariwisata Kota Surabaya pada acara “Surabaya Tourism Award 2013” di sebuah mall di kota Surabaya. Panitia acara memilih 15 lokasi turisme sebagai nominasi, dari lebih 40 lokasi, yang akan menerima penghargaan tempat wisata paling menarik di Surabaya.

Saya diminta untuk sharing cerita mengenai kontribusi institusi di Surabaya terhadap konservasi gedung bersejarah dan peranan wisata sejarah atau “heritage”.

Kalau turis asing, memang tak perlu diragukan lagi. Umumnya mereka memiliki kepedulian yang tinggi pada wisata sejarah. Namun hal yang menarik belakangan ini adalah  semakin banyaknya turis domestik yang mulai memiliki kepedulian dan ketertarikan pada wisata sejarah tersebut.

Saya bertemu dengan Mbak Rani, manager dari museum House of Sampoerna Surabaya, yang sore itu juga datang. Ia mengonfirmasi bahwa jumlah turis domestik yang berkunjung ke museumnya jumlahnya terus meningkat. Meningkatnya kalangan menengah, dan juga pendidikan, menjadi salah satu faktor di balik hal tersebut.

Presentasi  Gedung BI eks De Javasche Bank Surabaya sebagai nominasi Surabaya Tourism Award / photo taken with Samsung NX300

Presentasi Gedung BI eks De Javasche Bank Surabaya sebagai nominasi Surabaya Tourism Award / photo taken with Samsung NX300

photo taken with Samsung NX300

photo taken with Samsung NX300

 

Selain House of Sampoerna, Gedung Eks De Javasche Bank, yang terletak di jalan Garuda No.1, Surabaya, adalah salah satu gedung yang terpilih sebagai nominasi tempat wisata favorit di Surabaya. Gedung tersebut dimiliki oleh Bank Indonesia, dan baru selesai dikonservasi tahun 2012 lalu, setelah lama tidak digunakan. Gedung itu kini menjadi museum dan ruang pamer. Masyarakat juga dapat meminjam gedung tersebut untuk berbagai kegiatan seni, budaya, dan pendidikan.

Tak banyak mungkin yang mengetahui lokasi bangunan eks De Javasche Bank tersebut. Padahal, sejarah lembaga keuangan di Nusantara telah berlangsung lama.

Setelah De Javasche Bank didirikan di Batavia tahun 1828, satu tahun kemudian didirikannya Cabang De Javasche Bank Surabaya. Pada era liberalisasi ekonomi akhir abad 18 itu, peranan De Javasche Bank sangat strategis, selain menyediakan jasa keuangan, juga melakukan kliring antar bank.

Bentuk bangunan Gedung De Javasche Bank itu juga unik, karena mengambil gaya arsitektur neo renaissance atau ekletisme, yang memadukan unsur Yunani Kuno, Eropa Klasik, Gothic, dan memasukkan elemen-elemen Indonesia, seperti pahatan Jepara di beberapa elemen gedungnya.

Meski masih baru direnovasi, Gedung BI eks De Javasche Bank itu mendapat perhatian besar dari masyarakat kota Surabaya.

Mbak Rani, dari House of Sampoerna, kemudian mempresentasikan mengenai museumnya. Menurut saya, House of Sampoerna adalah tempat yang juga wajib kunjung kalau ke Surabaya. Rumah bersejarah milik keluarga Sampoerna itu kini dibuka sebagai museum, yang menyediakan koleksi seni, sejarah industri rokok, termasuk cerita tentang Marching Band Sampoerna yang pernah terkenal.

Satu hal lain yang menarik dari House of Sampoerna adalah bahwa mereka menyediakan “Heritage Tour”, atau wisata obyek bersejarah di Surabaya dengan menggunakan bis wisata.

Saat acara berlangsung, saya melihat antusiasme yang tinggi dari beberapa anak muda yang hadir. Sebagian di antaranya, dari Universitas Ciputra, bahkan berniat untuk melakukan kegiatan di gedung-gedung bersejarah kota Surabaya.

Mencintai gedung bersejarah, bukan semata melihat bangunan tua. Bagi saya, di balik berbagai keindahan gedung itu, tersimpan banyak cerita, kisah, dan pelajaran.  Melihatnya, kita diajak untuk melampaui ruang dan waktu.

Dalam novelnya yang berjudul “Crabwalk”, Gunter Grass pernah menulis, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berjalan seperti kepiting. Ia mundur, tapi sebenarnya maju ke depan. Yang dimaksud adalah, kita perlu terus menengok sejarah atau masa lalu, dan menggunakannya untuk maju terus ke depan.

Persis seperti yang dikatakan Presiden Soekarno dulu. Jas Merah. Jangan Sekali-kali Kita Melupakan Sejarah.

Salam

Bersama mbak Rani (paling kanan), museum manager House of Sampoerna / photo taken with Samsung NX300

Bersama mbak Rani (paling kanan), museum manager House of Sampoerna / photo taken with Samsung NX300

Mahasiswa  Universitas Ciputra juga  mengisi acara Surabaya Tourism Award 2013 di Grand City, Surabaya / photo taken with Samsung NX300

Mahasiswa Universitas Ciputra juga mengisi acara Surabaya Tourism Award 2013 di Grand City, Surabaya / photo taken with Samsung NX300

 

Days of Danboard: Saturday Morning at the Garden

Melakukan proyek fotografi bersama Danbo, menurut saya cukup menyenangkan. Wajah Danbo yang terkesan “innocent” dan “photogenic” membuat hasil pemotretan menarik untuk dilihat.

Bagi yang belum familiar dengan Danbo, perlu saya jelaskan bahwa Danbo, atau dalam bahasa Jepang “Danboru”, adalah figur boneka yang menyerupai boks karton. Figur ini terkenal di kalangan fotografer dan kerap dijadikan model. Awalnya Danbo adalah karakter dari sebuah komik manga karya Kiyohiko Azuma, yang berjudul “Yotsuba & !”.

Nah, pekan lalu, saya ingin mencoba proyek foto Danbo dengan menggunakan kamera baru saya (Samsung NX300). Ada dua hal yang ingin saya coba, levitasi danbo dan tentu saja, aneka pose Danbo.

Kebetulan saya memiliki tiga buah Danbo (Danbo Amazon.jp, Danbo Taihenyoku Dekimashita, dan Danbo 7-Eleven), sehingga ketiganya dapat melakukan sesi foto bersama-sama.

Pertama, Danbo Taihenyoku Dekimashita ingin melakukan levitasi. Ini cukup sulit karena kecepatan terbang / jatuh yang cepat. Ternyata NX300 mampu menangkap gerak cepat Danbo seperti ini, sehingga terlihat melayang.

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Selanjutnya, inilah aktivitas Danbo di hari libur. Salam Danbo.

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

 

Bikin Rujak Uleg Berjamaah

Peserta Festival Rujak Uleg 2013 / photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Peserta Festival Rujak Uleg 2013 / photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Ingat Surabaya, pasti ingat Rujak Uleg, atau dikenal juga dengan nama Rujak Cingur. Ya, itulah “masterpiece” makanan Surabaya. Makanan itu telah terkenal sejak dulu kala.

Nah, bagaimana kalau ada 1500 orang berkumpul dan membuat rujak cingur bersama-sama? Pasti heboh kan.

Siang tadi (12/5), saya menyaksikan peristiwa tersebut di Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Ribuan orang tumpah ruah memadati jalanan sejak pukul 12.00 siang. Jalan Kembang Jepun ditutup khusus untuk memeriahkan Festival Rujak Uleg 2013, yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Surabaya yang ke-720.

Dan ini yang menarik, saat saya tiba di ujung jalan, saya melihat peserta festival, membuat rujak uleg dengan menggunakan aneka dandanan unik. Ada yang model drakula, carok, tokoh wayang, pendekar Cina, tokoh animasi, bahkan ada yang memakai topeng Eyang Subur.

Demi Tuhaaan ! memang itu topeng eyang Subur. Sambil membuat rujak cingur, mereka semua ramai-ramai berteriak, “Demi Tuhaaaan ! “. Saya rasa rujak cingur buatan mereka rasanya akan sangat emosional.

Kostum Eyang Subur di Festival Rujak Uleg 2013 / photo taken with Samsung NX300

Kostum Eyang Subur di Festival Rujak Uleg 2013 / photo taken with Samsung NX300

Rujak uleg dibuat secara beregu, masing-masing regu beranggota 3-5 orang. Saya sempat berkumpul dan ngobrol dengan ibu-ibu, dari Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kelurahan Tambak Sari. Mereka mengatakan telah berlatih dan mempersiapkan ramuan rujak yang terlezat. Wow, saya mau coba.

Rujak Uleg dibuat dari kombinasi cabai, petis, terasi, kacang, diuleg rata jadi satu bumbu. Bumbu rujak uleg ini lezat tak terkira. Perpaduan aneka bumbu tadi, selain menimbulkan aroma harum, juga meninggalkan cita rasa yang melekat di lidah.  Kemudian setelah bumbu selesai, di cobeknya ditambahkan sayuran, tauge, tahu, tempe, timun, nanas, sedikit mie, dan lonthong. Nah, jangan lupa juga, ada elemen terpenting yaitu cingur  alias hidung sapi.

Wow, buat yang belum pernah makan hidung sapi, tentu agak sedikit ragu. Namun kalau sudah mencicipi, saya jamin ketagihan. Makan cingur sapi ada seninya. Jangan langsung ditelen, karena bisa “kelolotan”, aliat tersedak. Dimakan pelan-pelan, dirasakan sensasi kelembutan dan rasa kenyal-kenyalnya.

Satu hal yang menyenangkan dari menyaksikan festival Rujak Ulek ini adalah kesempatan saya mencicipi berbagai kombinasi ramuan rasa rujak. Dari satu meja ke meja yang lain, bapak-bapak dan ibu-ibu peserta festival menawarkan saya untuk mencicipi rujak buatan mereka.

Mulai dari rasa yang emosional dari Tim Eyang Subur, alias pedesnya gak ketulungan, hingga yang rasanya “mild”, saya cicipi satu demi satu.

Di ujung acara, perut saya kekenyangan rujak uleg.

Rujak Ulek buatan salah satu tim / photo taken with Samsung NX300

Rujak Ulek buatan salah satu tim / photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Acara Festival Rujak Uleg ini sungguh menarik. Selain sebagai keriaan dalam memperingati hari jadi Kota Surabaya, upaya pemerintah kota Surabaya mengangkat menu kuliner khas kota yang nyaris punah perlu diapresiasi.  Munculnya waralaba makanan internasional dan asing, memang perlahan mulai menggusur banyak makanan tradisional. Beberapa makanan tradisional bahkan ditengari sudah punah dan tidak ada lagi yang menjual. Sungguh sayang sekali.

Semoga Festival Rujak Uleg ini mampu melestarikan dan menumbuhkan kecintaan kita pada makanan tradisional negeri.

Salam Rujak Uleg !

Lezatnya Kepiting saat ketemu Kambing

Siang tadi, Cak Dul, kawan saya di kantor, membawa aneka sajian kuliner Jawa Timuran yang dimasak khusus oleh istrinya.  Pekan lalu, Cak Dul berulang tahun. Hari ini ia ingin mentraktir rekan-rekannya di kantor. Istri Cak Dul memang terkenal jagoan soal memasak berbagai kuliner Jawa Timur, mulai dari bebek goreng, lontong kikil, gule kambing, bisa dibuat. Dan yang paling penting, semua makanan itu, rasanya super enak. Tapi itu kata orang. Saya belum pernah mencobanya.

Nah siang ini, Cak Dul membawa menu istimewa. “Pokoknya, Bapak musti coba makanan kali ini!”, demikian promosinya.

Ia paham betul kalau saya ini kerjanya tukang cicip, alias gemar mencicipi aneka jenis kuliner. “Ok Cak, saya coba dulu, dan nanti saya buktikan kata-kata Cak Dul, benar enak atau tidak”, tanggap saya.

Saat melihat sajian kuliner yang dibawa Cak Dul hari ini, saya hanya bisa terpana. Di meja rapat, yang disulap jadi meja makan, terhampar “Dua Kenikmatan”. Pertama, Kepiting Kare Khas Surabaya, dan Kedua, Krengsengan Kepala Kambing.

Oh no, ini adalah kenikmatan yang paling berat untuk ditahan, apalagi bagi para penggemar kepiting dan kambing seperti saya.

Saya hanya terpukau di hamparan kelezatan itu.

Kepiting Kare Cak Dul Surabaya

Kepiting Kare Cak Dul Surabaya

Sayapun mencicipi Kepiting Karenya. Singsingkan lengan baju, gunakan tangan kosong, dan ambillah kepiting dengan tangan kosong. Kepiting disajikan dengan saus dan bumbu khas yang rasanya gurih, lezat, dan pedas. Kelezatan bumbu ini menyesap dalam ke setiap lembar daging kepiting. Jadi kalau kita menghisap cangkang dan capitnya, semburat bumbu mengaliri liur kita. Lezat. Pedas.

Daging kepitingnya juga jagoan. Bu Dul cukup piawai memilih kepiting yang berdaging dan masih manis rasanya. Saat saya belah cangkangnya, daging kepitingnya mlekoh hangat meminta disedot. Dahsyat.

Beralih ke Krengsengan. Saya terpana jilid II. Karena ternyata ini bukan sekedar krengsengan kambing, tapi krengsengan kepala kambing. Yup, di dalam bumbu krengsengan itu, potongan bagian kepala kambing disajikan. Kalau beruntung, bisa dapat mencicipi mata kambing tuh hehehe…

Krengsengan Kepala Kambing

Krengsengan Kepala Kambing

Krengsengan ini beda dengan Gule. Di Krengsengan, bagian daging kambing dipotong kecil lalu dibumbui minimal, seperti tumisan bawang merah, bawang putih, ketumbar, merica, pala. Campuran ini lalu ditambah dengan kecap manis pada waktu memasak, sehingga tidak banyak berkuah dan berwarna coklat tua.

Mencicipi pipi kambing, bibir kambing, bagian kepala kambing, adalah sebuah pengalaman luar biasa. Dan soal rasa, mmmpph, sungguh tak tepermanai lezatnya.

Merasakan kelezatan kuliner ini, saya jadi bisa memahami mengapa Cak Dul selalu tersenyum bahagia setiap pagi.  Karena menurut Cak Dul, bahagia itu sederhana. Happiness is simple. Pikiran tenang, tubuh sehat, makan enak.

Tapi, jangan pikirkan kolesterol dulu. Bisa mengurangi kelezatan katanya. Nikmati saja lah kombinasi dahsyat Kepiting Kare dan Kepala Kambing Cak Dul.

Salam Dahsyat.

Tak Semua Pecel Diciptakan Sama

Nasi Pecel Hj Boeyatin Ketabang Kali Surabaya / photo junanto

Kalau dilihat sekilas, tak ada yang istimewa pada pecel ponorogo Hj. Boeyatin. Warung kecil di pinggir Kali Mas Surabaya itu, menyajikan nasi pecel berupa aneka sayuran yang ditaburi bumbu kacang di atasnya. Tak beda dengan pecel-pecel yang lain kan. Tapi mengapa warung pecel ini begitu ramai dan terkenal?

Karena penasaran, saya-pun mampir mencicipi Pecel Ponorogo di jalan Ketabang 51 Surabaya itu. Saat mencicipi sepiring nasi pecel, saya langsung bisa membedakan. Semua pecel itu mirip, sayuran seperti bayam, pare, taoge, kacang panjang, dan bunga turi, dicampur dan diberi bumbu. Tapi bumbu pecel itulah yang membedakan. Bumbu pecel di Boeyatin ini sangat istimewa. Rasa kacangnya berbeda.

Kabarnya, Boeyatin menggunakan kacang khusus dari Tuban. Istimewa memang rasanya karena lebih renyah dan gurih. Dipadu padan dengan bumbu seperti gula, garam, cabai, kencur, dan jeruk purut, rasanya mewah dan membuat lidah menari-nari. Ada dua pilihan, pedas atau tidak. Biasanya kita akan ditanya, ingin rasa yang mana. Kalau doyan pedas, saya sarankan memilih yang pedas. Lezat.

Bumbu kacang pecel Boeyatin ini juga tampaknya digiling secara manual. Hal ini menjadikan butir-butir kacangnya masih terasa. Ini dia yang membuat enak.

Keunikan lain dari pecel Boeyatin adalah aneka jajanan yang bebas kita pilih. Boeyatin meletakkan nasi, bumbu, sayuran, dan lauk-pauk, seperti ayam goreng, empal, otak, tahu dan tempe bacem, perkedel, serta tahu dan tempe goreng, di atas meja. Lauk itu masih ditambah sate ayam dan kerang.

Setelah menerima nasi pecel di piring, saya bebas mengambil lauk yang diinginkan. Bahkan, boleh minta tambah nasi, sayuran, atau bumbu. Penyajian seperti ini membuat warung Boeyatin seperti “rumah”.

Warung yang sudah berdiri puluhan tahun ini memang semacam ikon bagi Surabaya. Pelanggannya mulai dari pejabat hingga artis, termasuk pelanggan yag turun temurun. Oleh karenanya, kalau mampir ke Surabaya, makan nasi pecel Boeyatin, adalah sesuatu yang “must try”.

Wader, Makanan Khas Majapahit

Wader Goreng Trowulan / photo iwan

Mencicipi kuliner yang punya sejarah panjang bisa jadi sebuah sensasi tersendiri. Saat saya mampir ke daerah Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur, saya diajak kawan untuk mampir mencicipi hidangan khas jaman Majapahit. Ya, daerah Trowulan adalah lokasi situs arkeologi Kerajaan Majapahit yang terkenal. Bagi saya itulah salah satu situs yang masuk kategori paling “grandiose” di dunia. Kita bisa melihat aneka peninggalan arkeologi pada jaman Majapahit di sana.

Tapi bukan hanya soal situs, melainkan juga makanan yang punya cerita. Entah mitos atau nyata, tapi tak jauh dari situs Kolam Segaran, sebuah kolam kuno, tampak berderet warung Ikan Wader Goreng. Wader adalah ikan kecil-kecil yang hidup di kolam atau sungai. Masyarakat Trowulan, sejak jaman Majapahit, konon menangkap ikan wader dari kolam Segaran untuk dimakan.

Saya mampir ke satu warung yang terkenal, namanya Warung Ibu Tin. Warung ini sangat populer di kalangan masyarakat sekitar. Bahkan, beberapa pejabat dan artis pun konon pernah singgah di warung yang berada di pinggir situs kolam segaran itu.

Menu masakan di warung ini adalah ikan wader goreng yang diletakkan di atas sambal khas. Nasi hangat disediakan sebagai pendamping kelezatan. Nasi wader Trowulan Segaran ini memiliki rasa yang khas, dan resep bumbu yang berbeda. Saya merasakan kekuatan rasanya ada pada sambal yang pedas dan segar.

Biasanya kalau ingin membuat sambal, kita menggoreng sambal terlebih dahulu sebelum digoreng dan ditumbuk. Tapi di warung ini bumbu sambal; cabai, tomat, bawang merah, putih, dan jeruk nipis di tumbuk pada saat masih segar atau tanpa digoreng.

Bumbu sambal mentah itu membuat rasa pedasnya mantap. Rasanya semakin mendegut liur saat dipadukan dengan renyahnya ikan wader yang digoreng garing. Ikan-ikan kecil seukuran jari kelingking itu ditaburkan di atas piring tanah (cowek) kecil bersama sambal tadi. Sebagai lalapan, disertakan irisan ketimun, daun kemangi, dan kubis.

Mampir ke daerah Trowulan rasanya belum lengkap tanpa mencicipi ikan wader gorengnya. Selain kita bisa melihat situs arkeologi jaman Majapahit dengan melihat bangunan dan candi yang ada, mencicipi makanan khas Majapahit juga membawa kita pada suasana kehidupan pada jaman itu.

Sejarah adalah hal menarik untuk dinikmati. Salam Wader Majapahit.

Mengolah Sambal Ikan Wader / photo iwan

How I Shoot: Levitating with @junantoherdiawan

Gengis Khan Levitation

My levitation photos are being featured in Instagram Blog at:  http://blog.instagram.com/post/43484235620/how-i-shoot-levitating-with

If you have time, please take a look. Thank you very much.

Camera: iPhone & iPad.

Vantage Point: “Levitation is like philosophy. It’s not just a jump shot; it is a floating moment. I like to travel and see many interesting places in the world. My idea is to levitate in any interesting place or interesting moment. By doing that, I feel like I can float or fly in any place in the world.”

Shooting: Using an application that takes multiple photos at a time while you jump makes it easier to capture the perfect levitation photo. “I use the Fast Camera application on iPhone or iPad to capture the moment. It is a continuous-shoot application that can capture every second of my levitation.”

Editing: While Junanto may touch up the lighting or tones in his photos, there are no special apps or programs used to create the levitation effect. “I don’t use editing for my levitation photos, no special application. I only adjust for lighting and other effects.”

Follow Junanto’s levitating adventures in Jakarta, Indonesia, and throughout the world at instagram.com/junantoherdiawan.

Merayakan Imlek di Surabaya

Beribadah di Klenteng Hok An Kiong Surabaya / photo junanto

Hari pertama saya tinggal di Surabaya bertepatan dengan perayaan Hari  Imlek atau Tahun Baru China. Tahun ini diyakini oleh masyarakat China sebagai tahun Ular Air, yang juga bisa berarti tahun awal dari sebuah kehidupan baru yang lebih baik.

Menurut seorang teman, keyakinan itu muncul karena ada salah satu gigi ular yang hanya digunakan sekali saja seumur hidupnya, yaitu saat ia lahir ke dunia. Gigi ular itu digunakan untuk memecah cangkang telurnya sehingga ia bisa keluar dan tumbuh besar. Dengan demikian, tahun ular bisa diartikan juga sebagai tahun untuk memulai kehidupan baru.

Untuk melihat bagaimana masyarakat Tionghoa di Surabaya merayakan Imlek, siang tadi saya berjalan-jalan di kawasan Pecinan Surabaya. Seperti wilayah Glodok atau Kota di Jakarta, kawasan Pecinan Surabaya terletak di wilayah kota tua. Daerahnya sangat menarik, karena saya menemukan banyak bangunan eksotik masa lampau. Meski beberapa gedung tampilannya tidak terurus, aura masa lalu kaum Tionghoa di Surabaya dapat dirasakan.

Perjalanan saya mulai dari kawasan Jalan Bibis, Jalan Karet, dan Jalan Coklat, hingga melintasi kawasan Kembang Jepun. Di sana banyak terdapat rumah sembahyang milik warga Tionghoa.

Saya kemudian mampir ke Klenteng Hok An Kiong. Ini adalah klenteng tertua di Surabaya yang dibangun sejak tahun 1830 M. Saat saya memasuki pagarnya, banyak masyarakat Tionghoa yang mengantri untuk melakukan sembahyang. Di luar pagar, banyak warga yang mengemis dan menunggu pembagian angpau. Agak ironis, tapi itulah pemandangan khas di setiap Hari Raya di Indonesia, ada saja masyarakat yang mengemis untuk meminta pembagian rejeki.

Klenteng Hok An Kiong Surabaya / photo junanto

Warga Tionghoa Bersembahyang di Hari Imlek / photo junanto

Kembali ke Imlek, Klenteng Hok An Kiong ini awalnya adalah tempat persinggahan bagi pendatang dari Tiongkok di Surabaya. Menurut sejarah, mereka datang dengan membawa serta patung Makcho, dewi pelindung para pelaut dan nelayan untuk disembahyangi di lokasi persinggahan.

Seiring dengan berjalannya waktu, kawasan itu berkembang menjadi pemukiman. Akhirnya masyarakat Tionghoa membangun sebuah klenteng sebagai tempat ibadah dan penghormatan kepada Makcho atau Ma Cou Po. Keunikan klenteng Hok An Kiong ini adalah bangunannya yang sama sekali tidak menggunakan paku dari logam, melainkan potongan bambu yang diruncingkan.

Di Klenteng ini pula, masyarakat Tionghoa Tri Dharma melakukan perayaan Bwee Gee saat Hari Imlek. Dalam perayaan tersebut, mereka menggelar sembahyangan untuk memohon kesejahteraan, kesehatan, serta mendoakan bangsa dan negara agar menghargai keberagaman dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Beberapa polisi dan anggota masyarakat tampak berjaga-jaga di sekitar klenteng untuk memastikan peribadatan umat Tionghoa berjalan lancar dan aman. Saya melihat perayaan Imlek siang itu berlangsung dengan lancar dan aman.

Pada dasarnya kita semua perlu juga menyadari bahwa keragaman adalah kekayaan bangsa kita. Untuk itu nilai kemanusiaan dan kerukunan perlu didahulukan di atas perbedaan.

Dan kalau belajar pada sejarah masa lalu, kita melihat bahwa banyak orang China yang ternyata memiliki peranan besar dalam penyebaran agama Islam di Jawa.  Salah satunya adalah peranan dari Laksamana Cheng Hoo atau Sam Poo Kong. Pasukan Cheng Hoo berasal dari wilayah Yunnan, China Selatan, yang masuk nusantara pada abad XIV di era Dinasti Ming.

Usai melihat perayaan Imlek di Klenteng, saya mampir ke satu Masjid unik di Surabaya yang lokasinya tak jauh dari kawasan Pecinan tadi. Namanya Masjid Muhammad Cheng Hoo. Arsitekturnya sama sekali berbeda dengan masjid pada umumnya yang berbentuk kubah. Masjid Cheng Hoo malah berarsitektur China, bahkan mirip dengan klenteng.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya / photo junanto

Saya mampir untuk menunaikan sholat, dan usai sholat saya mendengarkan pengajian yang dipimpin oleh seorang Ustadz Tionghoa. Sangat menarik mendengarkan ceramahnya yang mengangkat pentingnya kita menghargai perbedaan dan keragaman.

Menikmati Pecinan, khususnya di Hari Imlek, sangatlah menyenangkan, terutama bagi para pecinta sejarah, budaya, dan bangunan-bangunan kuno. Dan Surabaya, ternyata menyimpan banyak cerita tentang kekayaan sejarah atau heritage masa lalu.

Selamat Tahun Baru Imlek.

Ustadz keturunan Tionghoa mengisi ceramah di Masjid Cheng Hoo / photo junanto

Hidup Tanpa Rencana a la Bob Sadino

Bersama Oom Bob di Penyimpanan Keju Kem Chick

Dalam memulai usaha, buku-buku teks dan manajemen umumnya mengajarkan kita untuk menetapkan tujuan terlebih dahulu. Setelah ditetapkan, kita lalu menyusun rencana untuk mencapai tujuan tersebut.

Tapi, menurut Bob Sadino, yang juga akrab dipanggil Om Bob, hal itu omong kosong belaka. Itu hanya teori anak sekolah. “Hiduplah Tanpa Rencana”, begitu pesannya pada saya beberapa waktu lalu.

Hal itu tentu mengagetkan saya, yang sejak kecil diajarkan untuk membuat rencana dan tujuan, terutama dalam pekerjaan dan usaha. Bagaimana mungkin usaha tanpa tujuan. Tapi itulah yang disampaikan oleh Om Bob.

Sebuah kehormatan bagi saya saat diundang oleh Om Bob untuk makan siang di kafenya, yang terletak di dalam Super Market KembChick, Kemang, Jakarta Selatan. Sebelumnya, saya dan Om Bob pernah bertemu di Tokyo dalam acara Seminar Wirausaha yang diadakan di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Di Kem Chick Jakarta, kita bertemu lagi untuk berbincang-bincang mengenai kewirausahaan di Indonesia, termasuk membahas sisi-sisi sosial, kultur, dan budaya pada umumnya. Selain saya dan Om Bob, juga hadir pak Marlock, sahabat Om Bob.

Melihat kemegahan Kemchick, dengan Apartemen Mansion mewah yang dibangun di atasnya, tentu wajar bila saya bertanya apakah saat dulu Om Bob memulai usaha pernah menetapkan tujuan akhir sehingga usahanya akan besar seperti saat ini. Jawabnya, tidak pernah terpikirkan. Ia bekerja tanpa tujuan dan rencana.

“Bagaimana mungkin punya tujuan”, ujar Om Bob. “Saya memulai usaha hanya dari berjualan telor dari rumah ke rumah. Boro-boro berpikir punya warung, apalagi supermarket”, sambungnya.

“Lalu, bagaimana bisa besar seperti ini?”, tanya saya kemudian. Jawabnya, “40 tahun!” … Inilah makna dari sebuah proses.

Ya, Om Bob mengajarkan saya akan pentingnya sebuah proses. Pentingnya perjalanan, ketekunan, akumulasi pengalaman, dan kesabaran. Hal itu yang saat ini masih kurang dimiliki oleh para wirausahawan muda. Umumnya mereka mudah menyerah, ingin hasil instan, dan cengeng meminta aneka fasilitas.

Makan siang bersama Oom dan Tante Bob Sadino di Kem Chick

Menyinggung ke sektor pertanian dan peternakan, sisi usaha di mana Om Bob berkecimpung, ia berpesan pada saya. “Kalau ada petani yang ribut mengatakan bahwa ia perlu kredit agar usaha pertaniannya jalan, itu berarti dia bukan petani. Kamu harus hati-hati, karena bisa jadi mereka hanya mengatasnamakan petani !”.

Paradigma yang selama ini selalu ditanamkan pada kita, bahwa “Modal” itu adalah “Uang”. Jadi, kalau mau memulai usaha, kita harus punya uang. Padahal, itu paradigma yang salah. Modal itu bukan Uang. Bagi Om Bob, uang itu nomor seratus. Ketekunan, kesabaran, dan kemampuan membaca peluang, jauh lebih penting dari uang. “Coba tanyakan pada pengusaha-pengusaha sukses yang memulai dari bawah, umumnya mereka akan mengatakan hal yang sama, bahwa uang atau kredit bank, itu nomor sekian”, lanjut Om Bob.

Apa yang dikatakan oleh Om Bob siang itu sungguh menarik untuk direnungkan.  Kata-katanya tentu bukan asal ngomong, karena ia telah membuktikannya sendiri. Ia mengajarkan kita makna sebuah perjalanan, kesabaran, dan ketekunan. Hal inilah yang menurut saya sangat penting saat ini, terutama bagi para wirausahawan muda yang cenderung ingin sukses dalam waktu singkat.

Usai makan siang, saya diajak tur singkat oleh Om Bob untuk melihat suasana Super Market Kem Chick. Sambil melihat, Om Bob menjelaskan cerita dan aneka hal terkait dengan barang-barang yang disajikan di sana. Ia juga secara ramah menegur karyawannya (ia tidak pernah menyebut mereka karyawan, tapi anak-anaknya), serta pelanggan yang datang. Suasana kekeluargaan memang mewarnai KemChick.

Sambil berjalan, saya bertanya lagi, “Mengapa aura KemChick berbeda dibanding super market yang lain?” Jawab Om Bob, “Itulah aura dari sebuah perjalanan panjang, yang belum berakhir, dan akan terus bergulir ke depan”.

Di usianya yang 82 tahun, semangat seperti itu sungguh luar biasa. Semoga semangat itu bisa tumbuh juga di diri kita semua, khususnya generasi muda Indonesia. Salam.