Kisah Pak Musa: Mensyukuri Hidup Lewat Traveling

bersama pak Musa

Bersama pak Musa

Sebagai orang yang menganggap diri lumayan banyak melakukan perjalanan, saya merasa malu saat bertemu dengan Pak Musa Anshory. Sebuah pertemuan yang kebetulan, tapi mampu mengubah dan menambah kaya wawasan saya tentang kehidupan. Kami duduk bersebelahan di pesawat dari Jakarta menuju Abu Dhabi. Dari Abu Dhabi, Pak Musa akan melanjutkan perjalanannya menuju London. Melihat dari perawakannya, Pak Musa terlihat masih semangat meski tak bisa menutupi usia uzurnya. Saat saya tanya berapa usianya, ia berkata, 84 tahun! … Di situlah kisah panjang kehidupan yang membuka mata saya dimulai.

Pak Musa mungkin bukan siapa-siapa. Selama 40 tahun ia pernah mengabdi di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London sebagai staf lokal. Tak banyak muncul dan terlihat. Ya, katanya, saya bukan siapa-siapa. Tapi pak Musa bisa bangga, karena meski ia bukan siapa-siapa, sekarang ke mana saja ia pergi selalu dihormati. Kalau pergi ke Indramayu, kampung kelahirannya, hampir semua anak muda mencium tangannya. Di London, tempat tinggalnya sekarang, ke manapun pergi selalu diberi hak istimewa, duduk diprioritaskan, mengantri didahulukan. “Ya, karena saya tua hehehe”, ujarnya sambil terkekeh. Kata-katanya betul, tapi saya paham, tidak semua orang tua bisa begitu saja mendapatkan penghormatan. Pasti ada sesuatu yang membuatnya memiliki aura atau pesona sehingga “respect” itu datang.

Kisah itupun dimulai. Berawal dari tahun 1956, Musa muda telah mencoba merantau ke luar negeri. Ia mengawalinya dengan mengambil kuliah di Al Azhar Kairo, Mesir. Usai kuliah ia menaiki sepeda berkeliling jazirah Arab, Afrika, dan Eropa. Ia berkelana hingga Yerusalem, Palestina, Syria, Turki, Eropa Timur, hingga kemudian berhenti di Jerman. Saat Olimpiade Italia tahun 1960, Musa berada di sana dan sempat dimuat di salah satu koran lokal. Saat itu ada seorang wartawan yang tertarik dengan kisah perjalanan sepeda dari Mesir ke Italia. Musa sempat tinggal di Muenchen, Jerman, selama lebih dari lima tahun. Di sana ia bekerja di pabrik mobil Ford. Dubes RI untuk Jerman saat itu sempat memanggilnya karena membaca artikel di koran Italia tentang perjalanan sepeda Musa.

Dari Jerman, Musa meneruskan kehidupan ke London. Sejak tahun 1970, ia menetap di London dan bekerja di KBRI. Sepanjang bekerja di London, perjalanan kehidupan melalui traveling tetap dilakukan Pak Musa. Baginya, travel adalah satu cara mensyukuri kehidupan. Dengan bertemu banyak orang, banyak tempat, ia bisa merasakan kebesaran Tuhan. Terus, uangnya dari mana pak? Dari Allah!, begitu jawabnya mantab. Rejeki itu datang dari Allah, kata Pak Musa. Kalau kita yakin dan optimis, insyaalah akan ada. Meski bekerja sebagai pegawai staf lokal, Pak Musa sudah punya dua rumah di London. Ia punya mobil Mercedes Benz dan Rolls Royce. Di Indramayu, kampung halamannya, ia juga punya rumah dan ruko. Alhamdulillah. Anak-anaknya juga sudah besar dan bekerja di London. Ia memiliki tiga orang anak. Kata pak Musa, “Robbana attina fi dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah”. Ia mengatakan bahwa di dunia ini sudah banyak diberikan “hasanah”, atau kebaikan. Ia selalu bersyukur untuk itu.

Apa rahasianya sih pak bisa panjang umur dan tetap traveling begini? Jawabnya, Sabar dan Pasrah. Kehidupan ini punya banyak masalah, tak bisa semuanya kita selesaikan. Untuk itu kita harus sabar, bersyukur, dan pasrah. Betul sekali. Pesan yang sederhana, tapi tentunya kita juga tahu, itu bukan hal yang mudah. Butuh konsistensi dan keyakinan. Semoga kita bisa belajar dari pengalaman hidup pak Musa. Sungguh sebuah pengalaman!

Salam

 

Teknologi Finansial dan Masa Depan Perbankan

Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian Kompas, 21 Februari 2017

Teknologi telah mengubah kehidupan kita dan mendisrupsi kemapanan berbagai sektor industri.Munculnya media daring, buku digital, hingga musik dan film yang bisa diunduh langsung dari internet telah mengguncang industri penerbitan dan musik. Beberapa media cetak dan perusahaan penerbitan yang tak mampu bersaing akhirnya menutup usaha. Kita juga melihat satu per satu toko kaset, cakram musik (compact disc), dan video (DVD) mulai menghilang dari pertokoan karena sepi peminat. Inilah yang dinamakan disrupsi teknologi.

Di dunia keuangan disrupsi ini juga tak terhindarkan. Gelombang munculnya para pelaku usaha rintisan (start up) di bidang layanan keuangan digital atau yang umum disebut dengan istilah financial technology (fintech) telah menimbulkan waswas dari industri petahana, dalam hal ini perbankan. Pelaku usaha rintisan di bidang teknologi finansial (tekfin) atau fintech telah mengubah cara masyarakat dalam membayar, mengirim uang, memperoleh pinjaman, hingga berinvestasi.

Masyarakat kini tak perlu repot datang ke bank karena layanan perbankan telah ada dalam genggaman tangan mereka. Ini yang dulu dikatakan Bill Gates, pendiri Microsoft, bahwa masyarakat sebenarnya tidak membutuhkan bank, yang mereka butuhkan adalah layanan bank.

Perusahaan tekfin hadir menawarkan berbagai layanan yang sebelumnya hanya dapat diberikan oleh bank. Melalui platform digital, masyarakat yang berbelanja daring kini bisa memanfaatkan pembayaran cukup melalui dompet elektronik.Untuk memperoleh pinjaman, masyarakat kini juga dapat melakukannya secara mudah melalui layanan peer-to-peer (P2P) lending yang menghubungkan langsung pemilik dana dengan yang membutuhkan dana.Bagi konsumen, tekfin memperluas pilihan terhadap akses produk atau layanan jasa keuangan dan mampu menurunkan harga.

Bagi masyarakat, tekfin memperpendek rantai transaksi, meningkatkan inklusi keuangan, dan memperlancar arus informasi. Bagi perekonomian, tekfin dapat mempercepat transmisi kebijakan moneter karena biaya transaksi menurun dan meningkatkan velositas perputaran uang.

Dilihat dari statistik, pertumbuhan perusahaan tekfin di Indonesia terhitung signifikan. Sampai akhir 2016, tercatat 156 perusahaan bergerak di bidang tekfin. Total nilai transaksi tekfin tahun 2016 di Indonesia, menurut data Statista, diperkirakan menembus 15,02 miliar dollar AS, tumbuh 24,6 persen dari 2015.

Bagaimana menyikapi?Menghadapi perkembangan yang begitu pesat, bagaimana perbankan perlu bersikap? Dan bagaimana peran regulator? Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan melihat respons perbankan beberapa tahun terakhir. Sampai dengan saat ini, perbankan masih merupakan pemain utama di jasa keuangan.

Perusahaan tekfin juga masih menggunakan bank sebagai landasan transaksinya. Jika dilihat sejarahnya, bank selama ini menjadi motor bagi inovasi teknologi dengan menginisiasi mulai dari cek, kartu kredit, kartu debet, mesin anjungan tunai mandiri (ATM), hinggainternet banking.

Namun, kini perbankan sudah bukan lagi satu-satunya pemain dalam industri jasa keuangan. Kemudahan akses dan kenyamanan adalah dua hal yang ditawarkan perusahaan tekfin. Jika kita lihat, fungsi utama bank adalah menerima simpanan, memberikan pinjaman, dan memfasilitasi pembayaran.

Fungsi itu secara terpisah sudah dapat dilakukan oleh perusahaan tekfin melalui generasi baru teknologi digital. Perusahaan tekfin menawarkan berbagai layanan bank tersebut secara terpisah. Fenomena ini yang dinamakan dengan kecenderungan unbundling the businessatau tekfin yang memereteli usaha bank.

Langkah strategis untuk bertahan bagi bank adalah berkolaborasi. Setidaknya ada empat hal yang umumnya dilakukan bank dalam menyikapi gelombang tekfin. Pertama, bank ikut membangun inkubator bagi para pelaku rintisan di bidang tekfin. Kedua, bank mendirikan unit khusus untuk permodalan tekfin atau modal ventura. Ketiga, bank membangun kemitraan dengan pelaku tekfin. Keempat, bank mengambil alih perusahaan rintisan yang sudah ada.

Keempat strategi ini telah dilakukan oleh beberapa bank di Indonesia. Ada bank yang bermitra dengan perusahaan P2Plending untuk menyalurkan kreditnya atau bank mengadakan lomba hackhatonuntuk menyaring bibit-bibit inovasi baru di bidang tekfin.

Dari sisi regulasi, pada November 2016, Bank Indonesia telah mengeluarkan peraturan Bank Indonesia tentang pemrosesan transaksi pembayaran yang di dalamnya juga mengatur tentang pelaku usaha rintisan di bidang tekfin. Bank Indonesia berupaya mendorong inovasi dengan tetap memperhatikan kehati-hatian dan perlindungan konsumen.

Untuk itu, Bank Indonesia akan mengeluarkan implementasi dari aturan regulatory sandbox, yang merupakan sebuah wahana inovasi bagi pelaku usaha tekfin agar dapat beroperasi secara terbatas dengan ketentuan yang diatur dan disepakati. Di sisi lain, koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus dilakukan. Pada akhir Desember 2016, OJK juga telah mengeluarkan aturan mengenai layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi yang ditujukan untuk mendukung pertumbuhan P2P lendingsebagai alternatif sumber pembiayaan bagi masyarakat.

Dalam sebuah laporan bertajuk “The Future of Fintech and Banking: Digitally Disrupted or Reimagined?”, Accenture menyimpulkan dua hal yang akan terjadi pada perbankan dalam menghadapi gelombang tekfin.Pertama, bank tetap merasa yakin dengan dominasinya sehingga enggan beradaptasi dengan teknologi. Jika hal ini dilakukan, hasilnya akan merugikan bank sendiri. Kedua, bank menyadari terjadinya perubahan perilaku pada nasabah dan inovasi teknologi. Untuk itu, mereka berusaha beradaptasi dan berkolaborasi dengan pendatang baru. Dari kedua pilihan, tampaknya pilihan kedua mulai ditempuh industri perbankan Tanah Air.

JUNANTO HERDIAWAN

Plt Kepala Fintech Office Bank Indonesia

Fintech dan Optimisme Ekonomi Indonesia

Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian KOMPAS, 30 November 2016

Perekonomian Indonesia sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ekonomi global yang lesu, permintaan domestik yang belum optimal, dan pertumbuhan kredit yang masih rendah menjadi beberapa faktor yang menghambat ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi dan merata.

Kondisi tersebut kerap menimbulkan pesimisme pada pelaku ekonomi. Namun Presiden Joko Widodo mengingatkan kita untuk tetap optimistis dalam memandang masa depan. Sebenarnya banyak hal yang dapat membuat kita tetap optimistis, mulai dari indikator makroekonomi yang stabil hingga berbagai potensi yang kita miliki saat ini. Salah satu potensi tersebut adalah fenomena bertumbuhnya ekonomi digital di Tanah Air.

Istilah ekonomi digital belakangan ini marak dibicarakan. Kita tengah mengalami perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kemajuan teknologi, khususnya penetrasi internet, masyarakat secara instan terhubung satu dengan yang lain. Munculnya media sosial dan sarana digital, seperti e-mail, Whatsapp, Facebook, Twitter, dan Instagram, telah mengubah cara kita berkomunikasi.Kecepatan berkomunikasi secara langsung dan terbuka lewat teknologi turut membuka pasar dan mendekatkan produsen dengan konsumen. Kita menjadi akrab dengan aktivitas belanja daring atau yang umum disebut e-dagang. Perkembangan ini kemudian diikuti pula oleh peningkatan peran masyarakat dalam mengakses sektor keuangan.

Namun, sebagian besar masyarakat masih menganggap sektor keuangan sebagai sektor yang sulit diakses. Krisis ekonomi global tahun 2008 semakin menguatkan persepsi tersebut. Pasca krisis global, otoritas di sejumlah negara melakukan respons dengan pengetatan terhadap aturan-aturan di sektor keuangan, termasuk perbankan.Berbagai perkembangan itu telah memberi ruang bagi tumbuhnya inovasi ekonomi digital, khususnya di bidang teknologi keuangan, yang kini populer dengan istilah financial technology atau disingkat Fintech.

Kehadiran inovasi teknologi keuangan telah mampu memotong jalur dan prosedur panjang yang menjadi ciri sektor keuangan formal.Secara sederhana, Fintech adalah berbagai inovasi yang menggabungkan fungsi keuangan (financial) dengan teknologi (technology). Pelaku usaha Fintech, yang umumnya disebut pelaku usaha rintisan (start up), berbekal ide kreatif dan inovatif, hadir memberi solusi alternatif atas kebutuhan masyarakat akan pelayanan jasa keuangan, mulai dari pembayaran, pengiriman uang, mendapatkan pinjaman, berbelanja, berdagang, hingga berinvestasi. Fintech menyimpan potensi besar dalam sebuah ekonomi.

Data dari McKinsey (2016) menunjukkan bahwa industri Fintech secara global tumbuh signifikan, dari sekitar 800 pelaku hingga mencapai 2.000 pelaku dalam kurun satu tahun. Data lain menyebutkan bahwa total transaksi global Fintech di tahun 2016 diperkirakan mencapai 2.355 miliar dollar AS.Di Indonesia, menurut data Statista, nilai transaksi Fintech selama tahun 2016 diperkirakan mencapai 14,5 miliar dollar AS. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa akses pembiayaan dan konsumsi rumah tangga dari Fintech mampu memberi dorongan bagi pertumbuhan ekonomi dan mendukung penyerapan tenaga kerja.

Satu hal yang membedakan dari perkembangan Fintech di negara maju dibandingkan dengan negara berkembang adalah bahwa Fintech di negara maju umumnya fokus pada penciptaan inovasi dan nilai tambah. Sementara di negara berkembang, Fintech tumbuh sebagai solusi alternatif atas berbagai masalah ekonomi yang dihadapi negara tersebut, seperti keterbatasan akses masyarakat pada sektor keuangan, kesenjangan ekonomi, hingga kesempatan kerja.

Fintech di Indonesia

Kondisi Indonesia saat ini juga menjadi pemicu bagi bertumbuhnya usaha Fintech. Saat ini baru 36 persen penduduk Indonesia yang memiliki akses ke layanan perbankan. Selain itu, jumlah kantor cabang bank per jumlah penduduk juga masih rendah. Data Bank Dunia juga menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi permintaan pendanaan hingga Rp 1.600 triliun. Namun, hanya Rp 600 triliun yang mampu disediakan oleh industri perbankan.

Pintu masuk paling efektif bagi Fintech di Indonesia adalah melalui penggunaan telepon genggam. Saat ini ada 326 juta pengguna telepon genggam di Indonesia dan pengguna internet aktif 88,1 juta orang. Peluang inilah yang menjadi pemicu pelaku usaha rintisan mengembangkan inovasi di bidang Fintech. Mulai dari model bisnis pinjam meminjam bagi UMKM dengan peer to peer lending atau crowdfunding, hingga berbagai kemudahan pembayaran menggunakan telepon genggam(mobile payment) telah menjadi pilihan alternatif kegiatan Fintech.

Pertanyaan yang muncul adalah ke mana arah perkembangan Fintech di Indonesia, bagaimana mitigasi risiko dari transaksi digital, serta bagaimana perlindungan konsumen. Di sinilah peran regulator menjadi penting. Inovasi teknologi adalah suatu keniscayaan. Regulator perlu selalu berada di dekat inovasi. Iklim berusaha yang kondusif perlu terus dirangsang tumbuh untuk mendorong ekonomi, namun dengan tetap memerhatikan kehati-hatian.Pemerintah telah mengeluarkan Paket Kebijakan Jilid 14 mengenai ekonomi digital. Langkah ini perlu didukung oleh otoritas lain.

Bank Indonesia juga telah mendirikan BI Fintech Office pada pertengahan November 2016. BI Fintech Office salah satunya ditujukan sebagai katalisator/fasilitator bagi ide pengembangan inovasi di bidang Fintech, selain juga melakukan kajian dan penilaian serta pemetaan atas potensi dan manfaat Fintech.Kegiatan usaha Fintech menyentuh wilayah yurisdiksi beberapa regulator, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Keuangan, Kemenko Perekonomian, hingga wilayah penegak hukum.

Untuk itu, kesamaan pandang antar otoritas dan regulator sangat penting. Tentu saja komunikasi dengan pelaku industri Fintech, baik melalui Asosiasi Fintech Indonesia maupun industri perbankan, perlu terus dilakukan agar berbagai inovasi dapat tumbuh positif.Melihat kisah sukses pertumbuhan Fintech di negara lain, kunci kemajuannya adalah pada koordinasi dan kerja sama antarelemen di negara tersebut dalam mendukung tumbuhnya ekosistem Fintech. Dengan koordinasi yang erat dan visi yang sama, kita optimistis Fintech di Indonesia dapat tumbuh positif, mampu menjadikan sistem keuangan lebih efisien, mendorong pertumbuhan, memperluas kesempatan kerja, dan menebar manfaat secara luas pada perekonomian.

Junanto Herdiawan

Plt Kepala Fintech Office Bank Indonesia

Dua Hari di Medan: Sop Kepala Kambing dan Durian Medan – Part I

Sop Kepala Kambing Datuk, Medan

Sop Kepala Kambing Datuk, Medan

Dalam sebuah perjalanan bisnis ke Medan, setelah kurang lebih 15 tahun tidak ke sana, saya bertanya pada kawan-kawan, “Apa yang harus saya cicipi dalam waktu sesingkat itu?”

Jawabannya banyaaaaak dan beragam, mulai dari makanan ringan hingga makanan “hard core” kelas pemberani. Tentunya tak semua dapat saya cicipi. Yang memberi usul agar saya  mencicipi BPK (Babi Panggang Karo) tentu paham kalau saya tidak bisa memakan babi hehehe…. Anyway, beberapa rekomendasi lainnya layak dicoba. Namun karena waktu yang terbatas, saya hanya memilih yang bisa dijangkau oleh waktu. Kiranya ini bisa jadi panduan juga buat kawan-kawan yang mampir ke Medan dalam waktu singkat.

Pertama, ini rekomendasi jagoan dari kawan saya, mas Dadal, yang juga ahli perihal dunia kambing. Ia merekomendasikan: Sop Kepala Kambing ! .. Haaah, kepala? .. Iya, katanya. Kalau kepala ikan, saya sudah biasa. Tapi kepala kambing? mungkin butuh keberanian. Ada beberapa tempat yang terkenal soal penyajian kepala kambing di Medan, dua di antaranya adalah Sop Kepala Kambing Sipirok dan Sop Kepala Kambing Datuk. Kitapun mencoba Sop Kepala Kambing Datuk yang terletak di Jalan Gagak Hitam. Dan, ternyata pilihan tepat karena kepala kambing bisa membawa kebahagiaan.

Kepala kambing di warung Pak Datuk hadir dalam bentuk utuh, dengan dibelah dua secara simetris antara sisi kepala bagian kiri dan kanan. Kepala itu disajikan dalam piring berkuah bening. Epic dan Majestic! … Melihat penampilannya, banyak orang akan merasakan suasana horor dan kengerian, namun bagi pecinta kepala kambing, para carnivore, ini adalah sebuah mahakarya. Menyajikan kepala kambing pastinya tidak mudah. Pemilihan bumbu dan lama proses memasaknya membutuhkan skill tersendiri. Saya cicipi kuahnya yang lezat dan gurih. Bumbu-bumbu terasa kaya di sana. Tahap selanjutnya adalah membongkar kepala kambingnya. Nah ini yang complicated. Untunglah mas Dadal punya keahlian membongkar kepala kambing. Pertama ia memisahkan bagian-bagian kepala. Mulai dari mata, lidah, pipi, dan mata. Dari situ barulah kita memilih bagian yang ingin kita makan. Ngeri ya. Tapi itulah budaya makanan di Medan.

Next Journey setelah Kepala Kambing, Durian Medan

Next Journey setelah Kepala Kambing, Durian Medan

Usai kepala kambing (dengan perasaan deg-degan karena khawatir kolesterol dan darah tinggi meningkat), kita meluncur pada tantangan kedua di Medan. Ya, apalagi kalau bukan mencoba Durian Medan. Well, durian setelah kepala kambing? Ini cukup mengerikan. Tapi sesekali menarik dicoba dengan penuh kehati-hatian.

Banyak tempat durian yang terkenal di Medan, dua di antaranya yang sudah terkenal adalah Durian Ucok dan Durian Pelawi. Banyak kawan merekomendasikan Durian Ucok. Ya, karena durian Ucok ini memang sudah mendunia. Branding Ucok pada Durian Medan sudah menjadi semacam ikon bagi siapa saja yang ingin mencicipi durian di Medan. Tapi karena kita tidak ingin yang terlalu mainstream, kita mencicipi tempat lain yang tak kalah enaknya, yaitu Durian Pelawi.

Pilihan itu tidak salah. Di Pelawi, kita disajikan butiran-butiran durian terbaik yang dikupas langsung dari bijinya. Kelembutan daging durian, sensasi rasa manis dan pahit, dan melelehnya aneka kenikmatan itu di mulut, telah membawa kita serasa ke puncak kenikmatan. Satu … dua .. tiga… empat … lima … hingga sepuluh buah durian kita lahap berempat. Dahsyat ya. Memang. Tapi lebih dahsyat lagi adalah saat membayar. Harga keseluruhan duren hanya sekitar Rp 130 ribu saja. Ini luar biasa.

Well, mencicipi kombinasi kepala kambing dan duren bukanlah sebuah permainan ringan. Ini membutuhkan kehati-hatian tinggi. Kalau kamu masih muda, silakan saja dinikmati sepuasnya. Namun kalau sudah berumur, makanlah secara bijak.

Tapi terlepas dari itu, sop kepala kambing dan durian di Medan adalah sebuah hidangan wajib coba kalau kalian ke Medan. Ini termasuk kategori die die must try, kalau kamu adalah petualang kuliner dan suka mencicipi tantangan. Salam

(bersambung ke Part II Medan …..)

Durian Medan yang sensual dan menggemaskan

Durian Medan yang sensual dan menggemaskan

Menjadikan Rupiah Berdaulat di NKRI

Gunakan Rupiah Untuk Transaksi di NKRI

Gunakan Rupiah Untuk Transaksi di NKRI

tulisan ini dimuat pula di Harian Kompas, Kolom Opini hal 7, tanggal 27 Juni 2015

Rupiah stabil dan berdaulat adalah harapan kita semua. Meski demikian, kenyataan tak selalu berjalan seiring dengan harapan. Beberapa waktu terakhir kita justru menyaksikan sendiri bagaimana nilai tukar Rupiah tertekan. Alasan utama yang kerap disampaikan adalah karena faktor eksternal, sehubungan dengan rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed. Hal tersebut mengakibatkan Dolar AS menguat terhadap berbagai mata uang lain di dunia, termasuk Rupiah.

Dengan sistem nilai tukar mengambang yang kita anut saat ini, nilai tukar Rupiah ditentukan oleh besarnya permintaan dan penawaran. Ini artinya, apabila permintaan dolar AS lebih tinggi, secara alamiah nilai Dolar akan menguat terhadap Rupiah. Dari sini dapat kita lihat bahwa kalau kita ingin menjadikan Rupiah lebih stabil dan menguat, langkahnya sederhana, yaitu kurangi permintaan dolar, tingkatkan permintaan atau penggunaan Rupiah.

Namun masalahnya tentu tak sesederhana itu. Sejak tahun 2011, kondisi di pasar valuta asing (valas) kita diwarnai oleh lebih tingginya permintaan valas, terutama dolar AS, daripada pasokannya. Hal tersebut menyebabkan Rupiah secara signifikan terus tertekan. Tingginya permintaan Dolar AS itu didasari oleh beberapa alasan, antara lain untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, dan penjualan barang jasa dalam satuan valuta asing.

Repotnya, guna memenuhi kebutuhan valas di dalam negeri, sekitar 80 persen pelaku pasar masih bertransaksi di pasar spot, atau melakukan penjualan dan pembelian secara tunai atau langsung. Baru sekitar 20 persen pelaku pasar yang melakukan transaksi derivative, seperti forward atau swap. Selain itu, baru sekitar 26 persen pelaku transaksi valas yang melakukan lindung nilai (hedging). Tentu saja, kondisi seperti di atas dapat menyebabkan pelaku pasar rentan terhadap risiko nilai tukar yang bergejolak, serta dapat menimbulkan kerentanan pada kondisi makroekonomi.

Di sisi lain, kebutuhan pembayaran utang luar negeri kita juga meningkat. Hal ini seiring dengan jumlah utang luar negeri yang meningkat signifikan. Di tahun 2005, utang luar negeri swasta mencapai sekitar 80 miliar dolar AS. Di tahun 2015, atau sepuluh tahun kemudian, jumlahnya mencapai sekitar 160 miliar dolar AS. Rasio pembayaran utang luar negeri swasta terhadap pendapatan ekspor, atau yang dikenal dengan istilah Debt Service Ratio (DSR) juga meningkat, dari sekitar 15 persen di tahun 2007, menjadi sekitar 54 persen di tahun 2015. Kondisi ini juga mengakibatkan tekanan pada nilai tukar Rupiah dan kerentanan makroekonomi.

Selain kedua faktor di atas, secara geoekonomi, kita melihat kecenderungan meningkatnya pemakaian mata uang asing, khususnya dolar AS, dalam berbagai transaksi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam praktik sehari-hari, masih banyak masyarakat Indonesia yang enggan menggunakan Rupiah dan cenderung memilih menggunakan mata uang asing.

Hal itu terlihat dari tingginya transaksi mata uang asing di wilayah NKRI yang dilakukan antar penduduk Indonesia non bank. Bayangkan, transaksi dolar AS tersebut jumlahnya mencapai 7,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp78 Triliun setiap bulan. Hal ini berarti sekitar Rp 936 Triliun per tahun. Sementara itu, perputaran uang kertas asing (UKA) di Indonesia mencapai sekitar Rp 10 triliun per bulan.

Tingginya transaksi dalam dolar atau “Dolarisasi” tersebut telah merambah ke segala sektor ekonomi, mulai dari sektor migas, pelabuhan, tekstil, manufaktur, hingga perdagangan. Fenomena penggunaan mata uang asing di wilayah NKRI tak bisa dipandang sebagai konsekuensi dari liberalisasi, namun bisa juga dilihat sebagai bentuk “ancaman” atau soft invasion terhadap kedaulatan politik dan ekonomi suatu negara.

Pengalaman beberapa negara di Amerika Latin, Karibia, dan Pasifik, membuktikan bahwa sikap permisif pada penggunaan mata uang asing di dalam negeri pada akhirnya justru menggusur peran mata uang lokal. Ada premis yang mengatakan bahwa mata uang yang kuat akan menggeser yang lemah. Tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi di NKRI.

Beberapa kebijakan perlu ditempuh untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas. Pertama, perlunya upaya melakukan pendalaman pasar keuangan. Langkah ini perlu dilakukan agar pelaku pasar memiliki lebih banyak instrumen dan kemudahan dalam bertransaksi, sehingga mengurangi risiko atau kerentanan. Kedua, perlunya monitoring yang ketat terhadap utang luar negeri, khususnya di sektor korporasi atau swasta. Utang luar negeri swasta yang tidak terkendali akan meningkatkan risiko nilai tukar, likuiditas, dan terlalu banyak berutang (over leveraging).

Ketiga, dan yang tak kalah pentingnya, adalah perlunya masyarakat untuk mendukung langkah penggunaan mata uang Rupiah untuk bertransaksi di wilayah NKRI. Kita tentu tak ingin mata uang asing berkuasa atau lebih dihargai di negara ini. Undang-undang Mata Uang No 7 Tahun 2011 serta Peraturan Bank Indonesia No 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah NKRI telah secara tegas mengatur mengenai penggunaan Rupiah tersebut.

Menjadikan Rupiah sebagai mata uang yang stabil dan berdaulat memang bukan langkah mudah. Tekanan terhadap Rupiah ditentukan oleh banyak hal yang saling berkelindan. Langkah meningkatkan produktivitas ekonomi tidak dapat ditawar lagi. Namun di sisi lain, upaya menjadikan Rupiah berdaulat di negeri sendiri juga perlu didukung. Mata Uang Rupiah adalah salah satu simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Kita pernah memiliki pengalaman pahit saat lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan dari NKRI. Salah satu alasan yang muncul pada waktu itu adalah karena Rupiah tidak lagi digunakan untuk bertransaksi di sana.

Junanto Herdiawan

Deputi Direktur, Departemen Komunikasi Bank Indonesia

 

 

Jangan Menangisiku, Rupiah !

The truth is I never left you…”. Lirik lagu Don’t Cry for Me, Argentina itu dapat menggambarkan kondisi Rupiah saat ini. Meski terus tertekan hingga sempat menembus level Rp.13.400 per dolar AS, bangsa Indonesia sepantasnya tetap mencintai Rupiah.

Kita melihat banyak pihak mulai saling menyalahkan seiring dengan terjadinya pelemahan Rupiah. Namun umumnya, kritik mereka lebih mengaitkan Rupiah agar terbawa pada isu-isu di sosial media, yang tidak berhubungan langsung dengan pelemahan Rupiah, seperti soal tanggal lahir Presiden Soekarno, soal PSSI, dan trending topic lainnya. Padahal, untuk mengetahui mengapa Rupiah melemah, kita perlu melihat pada penyebab mendasar, yang sering disebut sebagai faktor fundamental ekonomi.

Tak dapat dipungkiri bahwa pelemahan Rupiah saat ini perlu dicermati dengan hati-hati, karena apabila pelemahan mata uang terjadi secara terus menerus dan dalam level yang signifikan, pada ujungnya akan membebani kehidupan masyarakat, terutama yang memiliki kewajiban dan kebutuhan valuta asing.

Pertanyaan yang kerap muncul adalah, sampai kapan Rupiah tertekan? Apakah betul komentar dari orang Singapura bahwa Rupiah akan mencapai Rp.25.000 per dolar AS? Atau kapan Rupiah kembali ke level, misalnya, di bawah Rp10.000? Ini adalah pertanyaan mendasar yang kerap ditanyakan orang sehari-hari.

Untuk menjelaskannya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu, apa yang membuat nilai mata uang suatu negara menguat atau melemah. Pada dasarnya, penguatan atau pelemahan suatu mata uang, termasuk Rupiah, sangat dipengaruhi permintaan dan penawaran akan mata uang tersebut. Ini hukum dasar dari pasar. Apabila permintaan terhadap dolar AS tinggi, dan penawarannya sedikit, otomatis harganya akan naik. Rupiah akan melemah. Sebaliknya juga demikian.

Permintaan dan penawaran mata uang ini, dipengaruhi oleh daya saing perekonomian suatu negara. Bila sebuah perekonomian memiliki daya saing tinggi, mata uangnya akan lebih stabil dan cenderung menguat. Sebaliknya, bila daya saing ekonomi suatu negara rendah, mata uangnya akan cenderung melemah. Itu nature yang memengaruhi nilai mata uang suatu negara.

Lalu, bagaimana melihat daya saing ekonomi kita? Cara paling mudah melihat daya saing adalah mencermati posisi Neraca Pembayaran, khususnya di bagian Neraca Transaksi Berjalan (Current Account). Kondisi neraca transaksi berjalan suatu negara ini sangat penting untuk memengaruhi stabilitas ekonomi. Hal ini membuat Bank Indonesia menggarisbawahi secara khusus tingkat defisit yang sehat bagi Indonesia, sebesar 2,5-3 persen defisit yang dijaga.

Penting dijaga karena negara yang mengalami defisit transaksi berjalan, akan mengalami kebutuhan valas lebih besar dari persediaannya. Di sisi lain, bisa juga disebabkan oleh impornya yang lebih tinggi dari ekspor. Untuk menutupi defisit tersebut tentu dibutuhkan tambahan valas. Dengan demikian, secara teori, negara yang mengalami defisit transaksi berjalan, nilai mata uangnya akan cenderung melemah.

Hal ini yang terjadi pada Indonesia. Selama ini, kita mengalami defisit pada neraca transaksi berjalan. Kecenderungannya mata uang Rupiah secara natural akan melemah mengikuti permintaan dan penawaran di pasar.

Negara tentu bisa saja mengendalikan kestabilan dengan menarik investor asing agar menanamkan dana valasnya di dalam negeri. Apabila banyak investor masuk ke Indonesia, pasokan dolar AS akan bertambah sehingga mengurangi dampak pelemahan. Namun bila kepercayaan terhadap suatu negara rendah, atau ada daya tarik lain di luar negeri, investor akan enggan menanamkan dananya. Cara lain untuk menambah pasokan dolar adalah dengan memanfaatkan cadangan devisa atau menerbitkan surat utang.

Sebagai perbandingan dan analogi, kita melihat tahun lalu defisit transaksi berjalan Indonesia sekitar 2,95 persen dari PDB. Sementara Turki mengalami defisit transaksi berjalan sebesar 5 persen, atau hampir dua kali Indonesia. Brasil mengalami defisit neraca berjalan mencapai 8 persen.  Melihat perbandingan tersebut, secara natural kita melihat, saat terdapat tekanan terhadap mata uang,  mata uang  Brasil dan Turki lebih melemah dari Rupiah.

Di sisi lain, Peso Filipina dan Baht Thailand relatif stabil dalam menghadapi tekanan. Hal itu dapat dijelaskan dari posisi neraca berjalan kedua negara tersebut yang mencatat surplus. Filipina mencatat surplus 3,5 persen dari PDB, sementara Thailand mencatat surplus sekitar 2,2 persen.

Sebenarnya Indonesia memiliki modal dasar yang baik. Kita melihat pemerintah telah berupaya melakukan perbaikan ekonomi dalam jangka menengah panjang. Penghapusan subsidi, pembangunan infrastruktur, dan langkah meningkatkan efisiensi ekonomi, adalah langkah tepat, namun memang membutuhkan waktu untuk memetik hasilnya.

Di jangka pendek, kita melihat bahwa saat ini meski tekanan inflasi meningkat jelang Ramadhan dan Idul Fitri, secara tahunan masih terkendali. Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia juga masih relatif tinggi, Stabilitas sistem keuangan masih solid, dan indikator risiko Credit Default Swap (CDS) Indonesia masih baik.

Permasalahan terhadap mata uang, bisa datang juga dari sisi eksternal. Saat ini yang terjadi adalah fenomena Superdollar, yang artinya Dolar AS menguat hampir pada seluruh mata uang dunia. Perkembangan di AS dan Eropa sangat memengaruhi pergerakan mata uang di seluruh dunia saat ini. Rencana bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga, serta langkah pelonggaran moneter dari Bank Sentral Eropa, telah memengaruhi “selera” para investor dunia. Saat terjadi perkembangan yang membaik di AS misalnya, mereka menukar dolarnya di berbagai negara, dan kembali menanamkannya di AS. Hal inilah yang menyebabkan pelemahan mata uang bukan hanya terjadi pada Rupiah, namun pada hampir seluruh mata uang dunia.

Dengan modal yang kita miliki saat ini, Rupiah masih memiliki kemampuan untuk bertahan dari tekanan. Bank Indonesia sebagai bank sentral setiap saat melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga agar tidak terjadi gejolak yang berlebihan.

Meski demikian, kita menyadari bahwa untuk menjadikan Rupiah memiliki ketahanan yang berkelanjutan, tidak ada cara singkat, selain kita semua membulatkan tekad untuk memperbaiki  masalah utama, yaitu defisit transaksi berjalan.

Bagaimana caranya? Tentu bukan dengan saling menyalahkan, karena kita semua memiliki peranan dalam memperbaiki defisit. Pemerintah tentu harus konsisten dalam meningkatkan ekspor, meningkatkan produktivitas terutama produk pertanian (pangan), membangun infrastuktur, ketahanan energi, memperbaiki iklim investasi, dan menggalakkan penggunaan Rupiah di dalam negeri.

Bank Indonesia terus mengendalikan stabilitas, dengan fokus pada inflasi dan mencermati tingkat defisit transaksi berjalan. Kebijakan moneter berhati-hati juga diperlukan dalam mengawal stabilitas.

Sementara itu, dunia usaha dituntut untuk semakin kreatif mencari substitusi bahan baku impor, melakukan perhitungan cermat pada pinjaman luar negerinya, dan meningkatkan daya saing.

Anak muda Indonesia juga dituntut mampu menciptakan produk kreatif yang mampu bersaing di luar negeri.  Di tingkat individu dan rumah tangga, kita semua dituntut untuk waspada dan mencoba mengurangi ketergantungan pada barang impor, termasuk makanan, buah impor, kaos impor, hingga gadget impor.

Sementara perbaikan tersebut dilakukan, saat ini Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya. Inilah kondisi yang harus kita hadapi bersama-sama. Perbaikan memang selalu membutuhkan proses, ketekunan, dan kesabaran. Namun, bila itu dapat terwujud nanti, kita tak perlu menangisi Rupiah lagi. Don’t Cry for Me, Rupiah!

Ketupat Sayur, Cinta, dan Perjuangan

Bersama Uni Linda di depan Kedainya

Bersama Uni Linda di depan Kedainya

Saya punya tempat makan ketupat sayur favorit di Pasar Tebet Barat. Letaknya di lantai dua. Namanya Warung Ketupat Sayur Uni Linda. Ketupat Sayur, atau Katupe Sayur dalam bahasa Minang, buatan Uni Linda ini menurut saya spesial. Bukan hanya soal rasa, tapi soal cerita di balik ketupat sayur ini.

Bagi Uni Linda, ketupat sayur bukan hanya makanan, tapi juga menyimpan cinta, passion, dan akar kehidupan. Baginya, membuat ketupat sayur adalah mahakaryanya untuk kehidupan.

Kalau melihat dari sisi tampilan, ketupat sayur di warung ini sebenarnya biasa saja. Sebagaimana ketupat sayur pada umumnya, setelah diiris-iris, ketupat disiram kuah sayur serta pilihan telur atau rendang. Di atasnya kemudian ditaburkan kerupuk pink, kerupuk khas ketupat sayur padang.

Satu hal kecil yang dilakukan Uni untuk menambah rasa signifikan adalah mencelupkan saus kacang ke dalam kuah ketupat sayur. Ketika kita mengaduk kuah tersebut, paduan rempah, bumbu sayur, dan saus kacang, langsung tersublimasi menambah sensasi rasa.

Uni Linda berasal dari Batu Sangkar. Dengan demikian ketupat sayur yang dibuatnya berbeda dengan Ketupat Sayur Pariaman. Umumnya, ketupat Padang Pariaman lebih melekoh kuahnya, menggunakan sayur paku (pakis), dan menonjol pedasnya. Sementara Uni Linda, tidak menggunakan sayur pakis, melainkan hanya sayur nangka. Rasa kuahnya juga tidak melekoh atau menonjol pedas.

Memang agak aneh buat sebuah masakan Padang kalau tidak pedas. Namun ini soal selera Uni. “Iyo, uni ini urang Padang tapi ga suka pedas”, demikian ujar Uni Linda. Jadilah ia mengkomposisi ketupat sayurnya dengan rasa netral. Sambal ditawarkannya bagi mereka yang ingin menambah level kepedasan.

Katupe Sayur Uni Linda, Pasar Tebet Barat

Katupe Sayur Uni Linda, Pasar Tebet Barat

Sambil makan, saya ngobrol dan bertukar cerita dengan Uni Linda. Di sinilah saya mengetahui bahwa Ketupat Sayur bagi Uni bukan sekedar makanan, tapi juga sebuah wilayah tempat dirinya menuangkan cinta dan kehidupan.

Awalnya, Uni mencari mata pencaharian sebagai penjual pakaian di Pasar Tebet. Hal itu terjadi pada tahun 1986.  Kehidupan sebagai penjual pakaian dirasakannya kurang menjanjikan, sementara passionnya adalah memasak. Lalu di awal tahun 1990-an, mulailah Uni Linda berjualan ketupat sayur.

Kejadian yang cukup berat baginya adalah saat ia ditinggal suaminya sekitar sepuluh tahun lalu. Ia harus menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil. Namun Uni Linda selalu percaya, bahwa rejeki ada yang mengatur. Kuncinya adalah mengerjakan sesuatu yang ia cintai. Dan ia mencintai ketupat sayur.

Dari ketupat sayur buatannya itu , ia mampu membesarkan anak-anaknya. Satu hal luar biasa, anak sulungnya mampu menyelesaikan kuliah di jurusan Arsitek Universitas Diponegoro, dan kini sudah bekerja di salah satu pengembang besar Jakarta. Anak sulungnya dianggap sudah mandiri dan memiliki kehidupan layak dalam kelas menengah Indonesia. Sementara anak keduanya sebentar lagi lulus dari Akademi Sekretaris.

Uni Linda selalu mensyukuri hidupnya. Saat saya tanya soal isu politik, ekonomi, dan hal-hal yang lagi trending topic saat ini, Uni Linda hanya bergumam, itu adalah dinamika kehidupan saja. Ia tak ambil pusing.

Baginya, yang paling penting adalah bekerja dan berkarya sesuai hati nurani, atau passion, lalu memberi manfaat bagi orang lain. Saya jadi teringat kutipan dari Steve Jobs, “The only way to do a great work, is to love what you do”, atau satu-satunya cara menghasilkan karya besar, adalah mencintai pekerjaan kita.

Dari katupe sayur Uni Linda, saya belajar. Bukan jenis pekerjaan yang menentukan seseorang itu berharga, tapi pada cinta, karya, dan manfaat yang diberikannya. Bagaimana kita bisa bermanfaat, kalau tidak mencintai apa yang kita kerjakan, bukan? …..  Salam.

Selamat Menikmati Ketupat Sayur

Selamat Menikmati Ketupat Sayur

Tambak Bayan: Kampung Pecinan yang Terlupakan

Dalam satu bangunan di Kampung Tambak Bayan / photo oleh Satria

Dalam satu bangunan di Kampung Tambak Bayan / photo oleh Satria

Mengawali 2015, saya diajak Mas Ipung, penulis buku “Surabaya Punya Cerita”, untuk melakukan blusukan sejarah dengan mengunjungi satu kampung pecinan di Surabaya, yang kerap terlupakan. Kampung Tambak Bayan namanya. Lokasi tepatnya di wilayah Kelurahan Alun-Alun, Bubutan. Kampung ini dihuni oleh mayoritas keturunan Tionghoa sejak tahun 1930. Dulu, mereka datang ke Surabaya, bermigrasi dari daratan Kanton. Saat ini yang tertinggal umumnya adalah generasi ketiga dan keempat. Mereka memiliki keahlian seperti tukang kayu, tukang kawat, penjahit, maupun menjual makanan.

Saya bertemu dengan mas Gepeng yang merupakan anak muda generasi keempat di kampung itu. Turut bergabung di tim blusukan sejarah pagi itu, Satria, Adrea, dan Josef. Gepeng kemudian membawa kami menelusuri sudut-sudut Tambak Bayan. Kami dikenalkan dengan Pak Tjoe, penduduk tertua di kampung tersebut, usianya 84 tahun. Meski sudah tua, Pak Tjoe bersemangat kalau diajak cerita tentang Tambak Bayan. Ia mengisahkan perjalanan dirinya diajak oleh orang tuanya, dari Tiongkok, ke Surabaya, pada saat ia berusia 12 tahun. Sejak itulah ia tinggal di Kampung Tambak Bayan ini. “Saya di sini lebih dari 70 tahun, saya mau tetap di sini, mati di sini”, demikian kata pak Tjoe.

Pak Tjoe, warga tertua di Tambak Bayan

Pak Tjoe, warga tertua di Tambak Bayan

Dahulu, Tambak Bayan terkenal sebagai tempat istal atau kandang kuda. Ada satu bangunan besar yang digunakan sebagai kandang kuda pada jaman kolonial Belanda dan Jepang. Di sekitar istal itulah dibangun pemukiman bagi warga Tionghoa yang membantu dan merawat kuda dan melakukan pekerjaan pendukung, seperti tukang kayu, memasak dll. Hingga kini kita masih bisa melihat sisa istal tersebut, dan rumah-rumah petak yang dibangun di sekitarnya.

Selain istal dan rumah petak, di sekitar kampung Tambak Bayan juga masih banyak terdapat rumah dengan arsitektur indische dan kolonial, yang tetap dipertahankan bentuknya hingga sekarang. Beberapa rumah terlihat dirawat dan dicat ulang, namun beberapa di antaranya terlihat terbengkalai. Kami berhenti dan berpose di beberapa rumah.

Berpose bersama di salah satu rumah indische di Tambak Bayan

Berpose bersama di salah satu rumah kolonial di Tambak Bayan

Kampung Tambak Bayan dalam beberapa waktu belakangan ini ramai diberitakan media terkait dengan sengketa lahan. Ada satu pihak yang meng-klaim kepemilikan lahan di Tambak Bayan, sementara penduduk yang tinggal di sana juga merasa sudah tinggal di lahan itu dari generasi ke generasi. Hingga kini permasalahan itu belum menunjukkan penyelesaian. Pak Tjoe dan penduduk sekitarnya tentu berharap permasalahan kepemilikan lahan di Tambak Bayan dapat segera diselesaikan.

Terlepas dari permasalahan itu, menelusuri Kampung Tambak Bayan membawa kita pada sebuah dimensi yang berbeda dalam melihat keturunan Tionghoa di Indonesia. Umumnya penduduk di sini tinggal di rumah petak, ukuran 4×3 meter, atau 4×5 meter, dan diisi oleh banyak anggota keluarga. Jalanan kampung ini juga sempit berupa lorong dan gang-gang kecil. Kesan yang didapat memang sungguh memprihatinkan. Namun dengan kehidupan yang dihadapi sehari-hari seperti itu, warga Tambak Bayan tampak menikmati kehidupannya. Setiap bertemu dengan warga, senyum dan keramahan tersebar dari wajah meraka. Warga di sini memang guyub dan bersatu. “Sing penting tetep kumpul, bagai saudara”. Demikian kata seorang warga.

Mural di Tambak Bayan

Mural di Tambak Bayan/ photo junanto

Pak Joaquin dan Harley Davidsonnya

Pak Joaquin dan Motor Harley Davidsonnya

Pak Joaquin dan Motor Harley Davidsonnya

Ini sedikit kisah tentang kawan saya, Pak Joaquin Monseratte, Konsul Jendral AS di Surabaya. Saya mengenalnya sejak tahun 2013, saat ia datang ke kantor memenuhi undangan diskusi ekonomi. Biasanya, hampir tidak pernah seorang Konsul Jenderal datang ke diskusi tingkat tekhnis. Mereka mendelegasikan pada bidang ekonomi untuk hadir. Namun, pak Joaquin datang sendiri karena ingin mendengar, dan tentunya ingin berkenalan.

Dari situ terlihat pendekatannya yang santai, rileks, dan tidak formal. Beda dengan umumnya diplomat yang terkesan resmi, bahkan tak sedikit yang bersikap kaku. Pak Joaquin ini beda. Pembawaannya memang agak-agak koboi dan tidak protokoler.

Bagi kota Surabaya, sosok Joaquin memang bukan orang baru. Di tahun 2000-2002, ia pernah ditempatkan di Surabaya sebagai staf Konjen AS. Itu kenapa, ia begitu fasih berbahasa Indonesia, karena saat penempatannya dulu, ia belajar bahasa. Makanan Jawa Timur juga disantapnya. Kesukaan pada Lontong Kupang, Rawon, Soto, menjadikannya unik. Tak banyak loh orang bule yang suka makan Lontong Kupang. Saya aja ga berani hehehe….

Sejak pertemuan pertama itu, kitapun berkawan. Saya beberapa kali bertemu dan diundang pada berbagai acara Konsulat, baik resmi maupun informal. Dan akhir pekan lalu, kita janjian sarapan pagi untuk mencicipi Soto Banjar. Ada satu warung Soto Banjar di dekat perumahan Graha Famili yang direkomendasikan oleh kawan Fadhil. Sarapan kita dilakukan dalam rangka perpisahan dengan Fadhil, yang baru lulus dari Universitas Ciputra dan harus kembali ke kampung halamannya di Bontang.

Pak Joaquin memang tidak pernah memandang pangkat, jabatan, atau formalitas dalam bersahabat. Selama ini Fadhil adalah mahasiswa yang aktif membantu kegiatan-kegiatan konsulat, sebagai volunteer muda. Nah saat ia mendengar Fadhil mau pulang kampung, ia langsung ajak bikin sarapan farewell. Dan kita bertigapun janjian di warung Soto Banjar.

Well, bukan pak Joaquin kalau tidak memberi kejutan.

Pagi itu, saya dan kawan Fadhil sudah datang duluan. Kitapun menanti kedatangan Pak Joaquin. Biasanya ia datang menggunakan mobil dinas SUV anti peluru dengan plat CC-12-01. Plat nomor konsuler.

Nah, saat kita menunggu, tiba-tiba ada motor Harley masuk dikendarai orang memakai helm. Suara Harley khas meraung-raung memasuki wilayah warung. Kita berdua membatin, “Eh liat tuh ada bule naik motor Harley terus pake baju batik, lucu banget”. Memang terlihat unik sekali ada bule yang tinggi besar, pakai helm, berbaju batik, dan mengendarai motor Harley Davidson.

Eh, tapi motor itu tiba-tiba berhenti di depan kita, lalu pengendaranya melepas helm. Taraaaa, ternyata itu Pak Joaquin! … Kitapun tertawa bersama.

Ia bercerita bahwa menaiki motor Harley adalah salah satu hobinya di kala senggang, terutama saat akhir pekan. Motor Harley dibawanya dari Kuba. Di Jawa Timur, ia pernah naik Harley sampai Pamekasan Madura, berdua saja dengan istrinya. Namun ia bilang, kalau hari biasa tidak sanggup naik Harley di Surabaya, selain panas, jalanannya juga sudah ramai dengan motor.

Pak Joaquin adalah satu contoh diplomat yang membumi. Hobinya blusukan, makan kuliner lokal, menyatu dengan masyarakat. Ia rajin berkunjung ke berbagai pesantren, komunitas, pelosok daerah, semua didatanginya. Kawannya berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, bupati, walikota, pengusaha, akademisi, kyai-kyai, hingga anak-anak sekolah. Pendekatannya horizontal, bukan vertikal dan “angkuh” sebagaimana banyak pejabat ataupun diplomat. Hal ini yang menjadikan banyak orang menganggapnya sebagai kawan. Kefasihannya berbahasa Indonesia membuatnya semakin mudah diterima.

Pak Joaquin membawa wajah baru diplomasi AS di Indonesia, dan Surabaya pada khususnya, sebagaimana dulu juga pernah dibawakan oleh Dubes-Dubes AS seperti Pak Paul Wolfowitz, dan para penerusnya. Sukses terus Pak!

Wisata Horor di Makam Peneleh

Berpose di Prasasti Nisan Gubernur Jenderal Belanda Mr. Pieter Markus yang wafat tahun 1844

Berpose di Prasasti Makam Gubernur Jenderal Belanda Mr. Pieter Markus yang wafat tahun 1844

Setiap kali berjalan melewati makam Belanda di Peneleh Surabaya, saya selalu merinding. Bulu kuduk ini rasanya berdiri. Hiiiiii , melihat batu-batu nisan yang besar, patung malaikat, dan tulisan berbahasa Belanda, memang membuat suasana semakin menyeramkan. Saya jadi ingat berbagai adegan di film-film horor. Takutnya, kalau pas jalan di situ, ada Drakula yang muncul dan menghisap darah kita … Aaaaack !

Tapi tidak demikian menurut kawan saya Mas Dandot, dan Mas Ipung yang juga penulis buku Surabaya Punya Cerita. Menurut Ipung, ia dan kawan-kawannya sering main ke makam Peneleh dan pulangnya tetap baik-baik saja. Gak kesurupan, ataupun di-”gelendoti” dedemit. Oleh karena itu, di suatu siang, ia mengajak saya untuk melihat makam Penelah dan membagi cerita tentangnya. Ya, beraninya siang dong hehe.

Memasuki Makam Peneleh memang seolah membawa kita ke suasana horor di Abad 18. Suasana makam yang bergaya gothic dan abad pertengahan itu, menjadikan aura makam peneleh berbeda dari makam umumnya di Indonesia. Saya membayangkan suasana muram di tempat ini saat dua ratus tahun lampau. Bayangan kereta kuda, suasana mendung, para kerabat berbaju hitam, membawa payung, mengantar jenazah orang-orang Belanda.

Di Peneleh ini, dimakamkan banyak tokoh Belanda, seperti Moeder Louise, Suster Kepala Ursulin, yang merupakan pendiri cikal bakal SMA Santa Maria di Surabaya. Selain itu, Gubernur Jenderal Pieter Markus, salah satu pejabat tertinggi Hindia Belanda yang meninggal pada saat menjabat, juga dimakamkan di sini. Ia adalah satu-satunya Gubernur Jenderal Belanda yang dimakamkan di Surabaya.

Menurut Ipung, Makam Peneleh adalah makam Belanda modern tertua di Indonesia. Ya, De Begraafplaats Peneleh atau Makam Peneleh dibangun sejak hampir dua abad lalu, atau tepatnya di tahun 1814. Makam ini lebih tua dari makam Belanda Kebon Jahe Kober di Jakarta. Selain itu, makam ini juga tercatat sebagai salah satu pemakaman modern tertua di dunia, bahkan lebih tua dari Fort Cannin Park Singapura (1926), Mount Auburn Cemeterydi Cambridge(1831), dan Arlington National Cemetery (1864).

Sayangnya, suasana makam ini kurang terawat. Saat saya memasuki kawasan makam Peneleh, banyak batu nisan yang sudah rusak, dibongkar, dan makam-makam yang gowong, atau bolong-bolong. Hiiiii, malah jadi nambah seram. Saya membayangkan ada tangan keluar dari bawah tanah gowong itu…

Saya diajak Ipung menuju satu bangunan yang konon paling angker di daerah itu. Kata mas penunggunya, banyak cerita aneh terjadi di sini. Bangunan itu dinamakan Omah Balung, atau Rumah Tengkorak, The House of Skeleton. Ga tau juga kenapa dinamakan seperti itu. Banyak riwayat, seperti misalnya dulu semua jenazah ditumpuk di situ, atau saat terjadi wabah penyakit banyak jenazah dikumpulkan, saya tidak mendapatkan penjelasan secara spesifik. Tapi yang jelas, aura angker memang terasa di depan Omah Balung ini. Bangunan ini hanya terdiri dari satu ruangan, di dalamnya ada semacam sumur, yang tentu menambah suasana mistik. Wah, saya tidak mau berlama-lama di sana. Segera saya beranjak ke makam yang lain.

Bersama Mas Dandot dan Mas Ipung, di depan Omah Balung, satu bangunan yang kata orang paling angker di makam Peneleh

Bersama Mas Dandot dan Mas Ipung, di depan Omah Balung, satu bangunan yang kata orang paling angker di makam Peneleh

Kalau cerita soal penampakan, mistik, dan lain-lain, banyak terjadi di makam tua ini. Tapi ya namanya juga kan makam, jadi wajar kalau sampai ada cerita seperti itu. Saya datang bukan untuk ikut uji nyali, melainkan melihat keanggunan sisa-sisa makam Belanda. Satu bangunan nisan yang saya juga kagumi adalah monumen pada pusara Pastor Martinus van den Elzen. Monumen ini dibuat oleh Kuyper, dari batu Maastricht kelabu dalam gaya gothic yang kental.

Dalam tatahan relungnya digambarkan kebangkitan Kristus. Ada nama almarhum, tanggal lahir dan wafat. Kata-katanya juga masih terbaca jelas, “Zalig zijn de dooden die in de heer sterven, want hunne werken volgen hen“, yang artinya “Bahagialah mereka yang meninggal dalam Tuhan, sebab amal mereka menyertainya“.

Monumen di Pusara Pastor Martinus van den Elzen

Monumen di Pusara Pastor Martinus van den Elzen

Saya juga berlama-lama menatap prasasti pada makam Gubernur Jenderal Pieter Markus, sambil membayangkan betapa berkuasanya ia dulu di Hindia Belanda. Tulisan prasastinya dalam bahasa Belanda, tapi menurut Pak Dukut (penulis buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe), artinya:

Paduka Yang Mulia Mr. Pieter Markus, Komandeur dalam Jajaran Singa Belanda, Ksatria dalam Legiun Kehormatan Perancis, Gubernur Jenderal dari Hindia Belanda, Panglima Tertinggi dari Angkatan Darat dan Laut di sebelah Timur Tanjung Harapan, dan seterusnya … Wafat di Wisma Simpang, 2 Agustus 1844″. Wisma Simpang adalah Gedung Grahadi sekarang.

Wisata ke Makam Peneleh ini bisa jadi sebuah alternatif kalau mampir di Surabaya. Lokasinya yang strategis, di tengah kota Surabaya, di tepian Kali Mas, menjadikan Peneleh sebuah tempat yang sayang kalau dilewatkan.

Namun memang amat disayangkan kalau melihat potensi wisata yang kurang terawat. Makam Peneleh terkesan kurang terawat, saat jalan di dalamnya banyak kotoran kambing, serta banyak nisan yang hilang, serta makam yang gowong. Andai suasananya bisa dibuat rapi dan terawat, tentu Makam Peneleh bisa jadi satu ikon wisata yang terkenal hingga manca negara, seperti beberapa konsep makam heritage lain di seluruh dunia.

Niwaay, kata orang di makam ini banyak dedemit terbang berkeliaran. Saksi matanya banyak yang pernah melihat penampakan-penampakan di sini. Well, menutup kunjungan hari ini, saya juga memilih ikutan terbang di sini, biar suasananya kena hehehe… Salam.

Levitasi di Makam Tua

Levitasi di Makam Tua

Omah Balung Levitation, photo by Ahmad, edited by Dandot.

Omah Balung Levitation, photo by Ahmad, edited by Dandot.