Review Film: Kembalinya Si Badut Pembunuh

Pennywise si Badut Pembunuh dalam film IT September 2017 / photo courtesy of Guardian.

Pennywise si Badut Pembunuh dalam film IT September 2017 / photo courtesy of Guardian.

Buat anak tahun 80-an, film horror Stephen King berjudul IT yang diputar pada tahun 1990, adalah sebuah memori seru masa muda. Saya menyaksikan film itu saat di bangku SMA. Film IT bagi saya adalah sebuah karya monumental dari Stephen King karena memori yang membekas hingga terbawa terus sampai dewasa, khususnya kenangan pada figur Pennywise si Badut Pembunuh. Persis seperti saya mengingat figur Freddy Krueger dalam film Nightmare on Elm Street. Sejak mengenal Pennywise, pandangan saya pada Badut berubah. Saya kerap curiga kalau melihat badut. Bagi saya mereka tidak lucu lagi, baik itu badut ulang tahun atau badut sirkus. Badut bagi saya kini memiliki keseraman tersendiri, seperti badut pembunuh di film IT. Tentu saja itu hanyalah imajinasi liar saya.

Munculnya film edisi baru IT di bulan September 2017 seolah membangkitkan memori masa muda, tepatnya 27 tahun lalu, saat pertama kali menyaksikan film tersebut. Persis seperti plot filmnya, Badut Pennywise selalu muncul setiap 27 tahun sekali. Untuk itu, menyaksikan IT versi 2017 menjadi sebuah keharusan di tengah berbagai kesibukan.

Plot cerita IT edisi 2017 masih mirip dengan yang edisi 1990. Diawali oleh hilangnya Georgie (Jackson Robert Scott), anak kecil yang mengejar perahu kertas hingga masuk ke selokan (gorong-gorong) kota Derry. Pennywise berada di dalam gorong-gorong dan menarik Georgie. Hilangnya anak-anak kecil dan remaja di kota Derry adalah sebuah ciri dari kemunculan Badut IT. Urban legend kota tersebut, sebagaimana tertulis di perpustakaan kota, mencatat rentetan peristiwa misterius hilang dan matinya warga, setiap 27 tahun sekali.

Sekumpulan anak kecil kota Derry, dipimpin oleh Bill (Jaeden Lieberher), kakak dari Georgie, bergerak menuju gorong-gorong bawah tanah kota Derry untuk melawan IT langsung di pusat kekuasaannya (sumur misterius legendaris kota). Bill memimpin sekelompok kawan-kawannya – yang menamakan dirinya Klub Pecundang (the Losers’ Club)- yaitu seorang nerd (Finn Wolfhard), seorang phobia kuman (Jack Dylan Grazer), anak seorang Rabi Yahudi (Wyatt Oleff), seorang anak kulit hitam (Chosen Jacobs), dan anak baru (Jeremy Ray Taylor), serta seorang gadis manis Beverly (Sophia Lilis), yang memberi sedikit nuansa romantis komedi segi tiga melibatkan Bill dan si anak baru, Ben.

Setting cerita di kota Derry dibuat pada tahun 1988 – 1989, dicirikan pada plang film di bioskop yang memutar Nightmare on Elm Streets. Plot cerita masih sama dengan IT edisi 1990 di mana ada sekelompok anak pembully yang dipimpin oleh Henry Bowers, kota yang penuh gosip, dan orang tua-orang tua anak yang “abusive”. Kisah teror Pennywise pada anak-anak juga ditampilkan ala film horor yang menegangkan dan berisi kejutan-kejutan (satu dua kali kita pasti akan terkaget dengan adegan munculnya Pennywise).

Kunci utama perlawanan sekelompok anak kota Derry pada Pennywise adalah semangat kebersamaan dan persatuan. IT adalah badut monster pembunuh yang muncul dan menyerap ketakutan dari anak-anak kota Derry. Semakin takut seseorang, semakin besar kekuatan IT. Hal inilah yang diketahui oleh anak-anak Derry. Keberanian (courage) dan kebersamaan (unity) memang pesan moral utama dari film IT. Bagi anak-anak yang takut pada monster atau Badut pembunuh, kiranya pesan tersebut bisa menjadi pegangan. Namun tentu bukan hanya berlaku pada anak kecil. Bagi kita semua, IT membawa pesan sama. Keberanian adalah kunci dalam menghadapi berbagai godaan dan cobaan. Namun yang lebih penting lagi adalah juga kebersamaan, untuk mengalahkan kejahatan dengan semangat kebaikan.

Seperti pesan orang tua kita dulu, kebaikan yang tidak bersama-sama akan dikalahkan oleh kejahatan yang terkoordinir dan bersama-sama. Agak melebar, tapi tentu pesannya sama, ayo sebagai bangsa Indonesia yang saat ini menghadapi banyak tantangan, kita belajar dari anak-anak kota Derry untuk jangan terpecah belah, jangan terpisah-pisah, tapi bersatulah. Hanya dengan bersatu, kita bisa mengalahkan siapapun.

Salam Persatuan. Salam NKRI. Salam IT.

Verdict Film : Recommended. Layak Tonton.

 

Review Film: Teka Teki Moral The Exception

Adegan dalam Film The Exception / source : The Hollywood Reporter

Adegan dalam Film The Exception / source : The Hollywood Reporter

Setting film berlatar belakang Perang Dunia ke II selalu menarik perhatian saya. Di berbagai film tersebut saya dapat melihat berbagai dimensi yang diangkat pada saat Eropa berada dalam kekacauan akibat perang. Tak terkecuali di film The Exception. Film yang dilatari dari novel karya Alan Judd ini membidik kisah menarik dari tradisi kuno Eropa. Terlepas dari plot ceritanya yang berisi ketegangan, melodrama, dan bumbu seks di ranjang, The Exception mengangkat periode awal sebelum tragedi dan horor PD II dimulai oleh Nazi.

Kisah film ini berkisar seputar masa-masa akhir Kaisar Prussia (yang kekuasaannya melingkupi Jerman) terakhir, yaitu Kaisar Wilhem II (Christoper Plummer) dan istrinya (Janet McTeer) saat berada dalam pembuangan di Belanda. Kaisar disingkirkan saat  Adolf Hitler dan Partai Nasional Sozialist-nya berkuasa di Jerman. Namun Hitler masih tetap mempertahankan kehidupan dan keberadaan Kaisar Wilhelm dengan tujuan agar ia dapat membongkar konspirasi dan kekuatan-kekuatan yang masih berada di sekitar Kaisar tersebut. Plot selanjutnya di film tersebut adalah tentang Kapten Brandt (Jai Courtney), perwira Jerman yang ditugaskan mengawal (dan memata-matai) Kaisar, dengan Mieke De Jong (Lily James), pelayan muda cantik yang bekerja di istana “pengasingan” Kaisar. Mieke, yang kerap menemani Kaisar memberi makan bebek, sambil sesekali sang Kaisar menggodanya, memiliki hubungan gelap dengan Brandt.

Hubungan Brandt dan Mieke, yang digambarkan dengan beberapa adegan ranjang sensual, menjadi poros cerita film ini. Masalahnya menjadi rumit ketika Brandt mengetahui bahwa Mieke adalah seorang Yahudi. Apakah Mieke menjebak Brandt? Atau Brandt mengeksploitasi Mieke? Atau mereka hanya dua orang dewasa yang digerakkan oleh libido? Pertanyaan tersebut menjadi menarik dalam plot film The Exception.

Adegan Mieke dan Brand di The Exception / source from teaser-trailer.com

Adegan Mieke dan Brand di The Exception / source from teaser-trailer.com

The Exception adalah cerita tentang Pengecualian. Mieke de Jong, yang notabene seorang pelayan, di film itu digambarkan sebagai orang yang mengagumi filsuf Jerman, Friedrich Nietzche. Buku Nietzche yang berjudul “Beyond Good and Evil” menjadi bacaannya, yang di akhir perang kemudian buku ini dikirimkannya pada Kapten Brandt.

Kapten Brandt adalah tipikal orang yang memiliki kekecualian. Sebagai seorang perwira Jerman, Brandt adalah seorang patriot. Ia sadar akan tugas dan kewajibannya dalam membela negara. Namun ia juga seorang manusia yang tidak bisa menerima kekejaman dan kesadisan tentara SS saat ia turun di medan perang Polandia. Dalam hatinya ia mengutuk kejahatan perang. Baginya, negara Jerman dan militer Jerman seharusnya memiliki kehormatan dan kepantasan dalam berperang, bukan dengan melakukan genosida pada anak-anak. Mieke melihat sifat ini dalam diri Kapten Brandt, dan mencoba meyakinkan bahwa keyakinan Brandt itu benar. “They are the rule,” kata Mieke, “You are the exception.”

Inilah apa yang dimaksud oleh Nietzche dalam bukunya Beyond Good and Evil. Kita perlu untuk dapat melihat sebuah peristiwa atau sikap. Apa yang terlihat bagus atau jahat, perlu didalami lebih jauh lagi, karena itu akan tergantung pada berbagai variabel. Apakah itu ideologi, keyakinan, peraturan, ketentuan, atau suara hati. Melakukan pembantaian dan pembunuhan pada orang atau kaum yang dianggap liyan, mungkin bisa dianggap benar dilihat darii satu keyakinan agama atau politik. Tapi suara hati bisa mempertanyakan apakah keputusan itu baik.

Kita melihat dunia saat ini diwarnai oleh berbagai ketegangan dan saling penghancuran. Saling membenci dan menebar ujaran kebencian. Satu kelompok merasa benar dan menganggap yang berbeda itu salah tanpa saling menghormati. Kita begitu mudah marah dan menebar kebencian pada kelompok lain yang berbeda. Semua tentu memiliki alasan yang terlihat baik, bisa dari sisi kepentingan politik, agama, ataupun kebenaran suku dan ras. Tapi apakah itu betul-betul baik?

Film The Exception seolah mengingatkan kita bahwa di balik apa yang tampak dan apa yang banyak orang yakini, kita bisa jadi pengecualian apabila mau mendengar suara hati. Tentu hal ini bukan sebuah langkah mudah, apalagi di tengah kehidupan dunia yang penuh cobaan dan godaan. Tapi mari kita berusaha untuk menjadi orang baik, orang yang dikecualikan. The Exception.

Salam.

 

Lokalitas Rasa di KAUM Jakarta

Bersama Mbak Lisa, Brand Director KAUM.

Bersama Mbak Lisa, Brand Director KAUM.

Jakarta seolah tak pernah kehabisan tempat baru untuk menikmati kuliner ataupun menjajal lokalitas rasa Nusantara. Keberadaan Restoran KAUM di jl Dr Kusuma Atmaja adalah salah satu contohnya. Setelah sukses di Hong Kong dan Bali, KAUM akhirnya membuka outlet di Jakarta. Restoran yang berada di bawah Group Potato Head ini mengambil tempat di salah satu bangunan heritage Jakarta yang dipadu dengan satu main hall bernuansa modern. Hidangannya mengusung lokalitas rasa Nusantara. Namun bukan sembarang rasa Nusantara karena setiap bumbu dan bahan dikurasi secara serius oleh ahli-ahlinya sebelum diproses dan dihidangkan.

Saya mendapat kesempatan ke KAUM diundang oleh Mbak Lisa Virgiano yang juga Brand Director dari restoran itu.  Mbak Lisa adalah kawan lama saya yang juga aktivis kuliner lokal, pemberdayaan petani nelayan, dan juga pendiri komunitas Underground Secret Dining. Kami diterima di bangunan belakang restoran yang dirancang model hall bernuansa modern. Kitapun mencicipi hidangan yang disajikan di sana. Bagi pecinta kuliner Nusantara yang mengapresiasi lokalitas rasa dan bumbu, KAUM ini tempat yang tepat untuk disambangi. Suasana rumah kolonial dipadu dengan area dining hall yang modern, membawa kita pada suasana yang nyaman dan homey.

Ikan Bakar Barramundi Dabu Dabu

Ikan Bakar Barramundi Dabu Dabu

KAUM berarti adalah kelompok atau suku, atau bisa juga etnis. Nama itu diambil sebagai representasi beragamnya suku bangsa di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 600 grup etnis. Menu makanan yang disajikan juga khas Indonesia, seperti ikan bakar barramundi sambal dabu-dabu, gulai udang Aceh, gohu ikan tuna Maluku, dan aneka menu lainnya. Satu hal yang membuat KAUM berbeda dengan yang lain adalah soal pemilihan bahan baku lokal dan proses memasak yang dibuat persis dengan kondisi aslinya. Beras misalnya, masih diliwet dan diaron. Bahan yang digunakan juga lokal diambil dari pembuatnya atau petaninya, seperti Beras Metik Susu Magelang, Kecapnya dari Oma-Oma di Cideng (bukan kecap industri), garamnya didatangkan Khusus dari Amed Bali (serius ini garamnya enak banget).

Kami mencicipi ikan bakar baramundi dabu-dabu. Ikan barramundi dibakar sederhana, hanya menggunakan bahan yang ada tanpa garam. Hal ini karena garamnya disajikan terpisah sehingga kita bisa mengapresiasi garam langka yang didatangkan khusus dari Amed. Begitu kami cicipi, hmmmm, rasa memang tak pernah bohong. Kalau kawan punya lidah yang subtil tentu bisa membedakan. Kelembutan daging, cocolan garam dan sambal, serta sambalnya, sungguh sempurna membawa ikan bakar naik kelas. Lokalitas rasa juga bisa dirasakan di menu-menu lainnya, seperti gohu ikan tuna maluku, yang kerap menjadi pilihan favorit pengunjung.

Setiap Jumat malam, KAUM juga menampilkan live music akustik sebagai pendamping makan malam kita, atau bisa jadi juga sebagai tempat hang out anak-anak muda yang cinta pada lokalitas menu Nusantara. KAUM memang menyajikan  makanan dengan bumbu dan proses terbaik.

Silakan dicicipi!

KAUM Jakarta berlokasi di Jl Dr Kusuma Atmadja No 77-79 Jakarta Pusat.

Tong Ah, ikon Kopitiam di Singapura

Sarapan di Tong Ah

Sarapan di Tong Ah

Banyak cara untuk menikmati pagi di Singapura. Salah satunya adalah nongkrong di warung kopi lokal, yang akrab disebut dengan nama Kopitiam. “Tiam” dalam bahasa Hokkien artinya warung. Saya senang menghabiskan waktu sarapan di warung kopi sambil memandang jalanan dan orang-orang yang memulai aktivitasnya di pagi hari. Rasanya invigorating, menambah semangat dan inspirasi. Dari berbagai kopitiam di Singapura, favorit saya adalah Tong Ah. Ini adalah satu warung kopi yang mungkin tertua di Singapura. Telah berdiri sejak 1939. Awalnya lokasi Tong Ah berada di sebuah bangunan heritage, di pertigaan Teck Lim dan jalan Keong Saik. Namun beberapa tahun lalu bangunan itu dijual (kemudian dibeli oleh  warung kopi lainnya), dan Tong Ah bergeser ke salah satu gedung di seberang jalan. Meski sudah kehilangan nuansa ikonik dari gedung bersejarah, rasa roti bakar atau “Kaya Toast” dan Kopi-nya masih Ciamik. Beberapa pekan lalu, saat berkunjung di Singapura, saya mengajak putra sulung untuk nongkrong dan menikmati pagi di warung kopi. Pilihan menu di Tong Ah dibuat seperti paket-paket di makanan cepat saji. Paket itu terdiri dari pilihan roti bakar, yang disebut Kaya Toast, minuman -bisa kopi atau teh, dan telor setengah matang. Special order para pengunjung adalah “Crispy Kaya Toast”. Ini adalah roti panggang yang dibuat kering dan crispy, lalu diolesi butter dan srikaya. Rasanya crispy. Lezat dan nikmat disantap di pagi hari. Favorit saya lainnya adalah telor setengah matang. Entah kenapa, beda aja. Awalnya saya pikir semua telor setengah matang itu sama. Tapi di Tong Ah, telor setengah matang diciptakan seperti sebuah maha karya. Menurut pembuatnya, telor dipilih yang berkualitas dan direbus tepat 12 menit dengan perhitungan lainnya. Dampaknya adalah pemerataan rasa pada setiap bagian telur. Tidak terlalu mentah, dan tidak terlalu matang, tapi merata. Ini lezatnya. Buat penggemar telor setengan matang, saya rekomendasikan.

Telor Setengah Matang Tong Ah

Telor Setengah Matang Tong Ah

Untuk minumnya bisa mencoba kopi butter. Ini adalah kopi yang dicampur dengan butter. Aneh memang. Tapi itu adalah tradisi masyarakat Tionghoa sejak jaman kolonial. Saya sendiri kalau tidak memesan kopi hitam, umumnya teh tarik. Rasanya otentik. Kopitiam adalah pusat kehidupan dari masyarakat Tionghoa di Singapura. Mencicipi kopi dan roti bakar di Tong Ah, memandang lalu lalang dan aktivitas warga di wilayah pecinan sekitarnya, merupakan sebuah pengalaman yang patut dicoba kalau di Singapura. Tidak terlalu istimewa memang (karena di daerah Kota Tua dan Glodok kita juga bisa merasakan makanan yang sama), namun pengalaman ini harus dicoba. Salam

@thecentralbankers: A Tribute to Rani Lestari

Alm. Rani Lestari 

Para pegawai Bank Indonesia, khususnya yang memiliki akun Instagram, tentu pernah mendengar akun bertajuk @thecentralbankers. Akun itu menarik karena memuat profil pegawai generasi millenial Bank Indonesia. Di akun tersebut, dituliskan peran dan tugas masing-masing pegawai di kantor, dan di sisi lain ditambahkan nuansa personal mengenai hobi maupun ketrampilan mereka. Saya katakan menarik karena melalui akun ini publik bisa melihat gambaran pegawai BI dari sisi lain. Selama ini kesan kaku, konservatif, dan membosankan, kerap menjadi ciri khas pegawai bank sentral. Akun instagram @thecentralbankers mengubah persepsi itu.

Sebenarnya akun @thecentralbankers bukan yang pertama mengangkat profil pegawai generasi millenial di lembaga negara atau pemerintahan. Sebelumnya sempat terkenal akun @gantenggantengdiplomat yang berisikan para diplomat muda Indonesia di berbagai negara. Tentu saja akun-akun seperti itu bukan akun resmi lembaga.

Pertanyaannya adalah, siapa yang membuat akun @thecentralbankers? Pertanyaan ini menggelitik banyak kalangan, terutama di internal Bank Indonesia. Berbagai spekulasi muncul, tapi tak pernah terjawab sehingga terus menjadi misteri.

Saat bertugas di Departemen Komunikasi BI, banyak pertanyaan mengenai akun tersebut yang mengarah ke tempat saya. Mulai dari yang setuju, mendukung, hingga yang tidak setuju dan mengusulkan untuk menutup akun tersebut. Mereka khawatir akan ekses negatif pada lembaga. Saya sendiri tidak tahu siapa yang membuat akun tersebut. Tapi secara personal, dari sisi komunikasi, akun @thecentralbankers adalah sebuah “soft communication channel” yang menarik dan efektif dalam membangun sisi lain bank sentral.

Misteri itu terjawab pada suatu pagi, di awal tahun 2016. Saat itu saya mendapat pesan di telepon genggam. Seorang anak mengenalkan diri. Namanya Rani Lestari. Ia, didampingi seorang kawannya, meminta waktu untuk bertemu. Dari pertemuan itulah, misteri tentang akun @thecentralbankers terjawab, setidaknya bagi saya. Rani mengaku sebagai admin sekaligus pendiri dari akun @thecentralbankers. Ia sengaja membuat akun tersebut karena ingin menampilkan wajah pegawai BI yang profesional dan tetap asyik. Namun ia mulai khawatir ketika mendengar banyak pihak memperbincangkan dan mempertanyakan akun tersebut.

Rani bertanya apakah ia diperkenankan untuk terus mengelola atau sebaiknya menutup akun tersebut. Saya menyampaikan bahwa akun @thecentralbankers adalah sebuah ide yang kreatif. Itu adalah “soft diplomasi” untuk menunjukkan pada publik bahwa anak-anak muda yang memiliki kompetensi, keahlian, dan pengetahuan, dapat bekerja di BI untuk menjaga stabilitas perekonomian. Sayapun meminta Rani untuk meneruskan saja akun tersebut sambil kita lihat bersama perkembangannya ke depan. Namun sambil jalan, saya akan terus memonitor dan memberi masukan. Rani setuju.

Sejak saat itu, Rani nampak semakin bersemangat. Ia mengirimkan beberapa profil usulan pegawai, membuat narasi, dan mengirimkan kepada saya untuk meminta pendapat. Tak banyak yang saya lakukan selain memberi kebebasan pada Rani. Sekali-kali saja saya menambahkan pesan dan masukan, khususnya di sisi peran dan tugas BI.
Tentu saja mengelola akun Instagram itu hanya dilakukan Rani di waktu luang. Sehari-harinya ia termasuk salah satu tulang punggung dalam pengembangan UMKM di Departemen Pengembangan UMKM. Ia melakukan berbagai program, termasuk menginisiasi program kreatif Local Economic Development yang mengangkat berbagai karya anak bangsa.

Kreativitas, ketekunan, dan semangat bekerja dari Rani ini yang menarik minat kami, Mas Imam Subarkah dan saya, untuk mengajak Rani bergabung dalam keanggotaan pengurus Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) 2017-2020. Rani kami ajak untuk mengembangkan komunikasi digital dan kreatif di IPEBI. Saat saya hubungi, Rani terlihat antusias. “Saya akan lakukan yang terbaik mas”, komentarnya.

Rani tak pernah bercerita soal sakit yang dideritanya. Saya baru mendengar kemudian kalau ia menderita penyakit berat yang sulit disembuhkan. Dalam sakitnya, Rani masih sempat mengirimkan WA pada saya. Update beberapa kegiatan, termasuk nasib akun @thecentralbankers.

Beberapa pekan lalu, saya mendengar kalau sakit Rani semakin parah, bahkan ia masuk ke perawatan intensif (ICU) di Rumah Sakit. Keberaniannya menghadapi penyakit diceritakan oleh kawan-kawannya. Ia tak menyerah, dan tetap membangun harapan, bahwa suatu saat ia akan pulih kembali.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Rani berpulang pada 20 Juli 2017. Kita semua seolah tak percaya. Saat orang berpulang, tentu kita selalu menceritakan hal-hal baik tentangnya. Dan saya yakin bahwa semua hal baik yang diceritakan kawan-kawannya tentang Rani adalah benar. IPEBI telah kehilangan seorang pengurusnya yang penuh ide. Bank Indonesia juga kehilangan seorang anak muda yang bekerja penuh semangat. Kita semua kehilangan seseorang yang selama ini selalu menebarkan kebahagiaan, keceriaan, dan kebaikan pada sekitarnya. Akun @thecentralbankers adalah salah satu buah karya Rani yang ditinggalkan pada kita. Semoga kawan-kawannya dapat meneruskan karya itu sebagai tribute untuk Rani.

Beberapa pekan sebelum masuk Rumah Sakit, Rani sempat bepergian ke Jepang. Sepulangnya dari sana, ia sempat membawakan sekantong teh hijau kesukaan saya. “Sebagai obat kangen dengan Jepang mas,” begitu ujarnya saat itu. Kemarin, beberapa hari setelah Rani berpulang, saya membuka satu kantong teh hijau pemberian Rani untuk diminum. Meski perkenalan saya dengan Rani begitu singkat, sambil menyesap kehangatan teh hijau, saya juga menyesap sebuah rasa kehilangan. Kehilangan seorang kawan. Selamat jalan Rani. Beristirahatlah dengan damai di Syurga. Aamiin.

Junanto Herdiawan – Wakil Ketua Umum IPEBI

 

 

 

 

Dari Pengamen ke Penyanyi Profesional di Jepang

Cita-cita Rita naik Ojek di Jakarta akhinya kesampaian

Cita-cita Rita naik Ojek di Jakarta akhinya kesampaian

Sekitar lima tahun lalu, di depan stasiun Ikebukuro Tokyo, saya melihat seorang gadis muda cantik yang sedang mengamen. Suaranya indah dan melengking hingga membuat pejalan kaki yang lalu lalang berhenti untuk menyaksikan penampilan pengamen tersebut. Sayapun terusik untuk lebih tahu. Saat saya mendekat dan mengamati penampilannya, ada satu karton besar bertuliskan huruf kanji Jepang dan huruf latin yang berbunyi, Rita Nishikawa from Indonesia. Wow, rupanya gadis muda itu orang Indonesia. Di situlah awal perkenalan saya dengan Rita Nishikawa.

Lalu kenapa menggunakan nama Nishikawa? Rupanya Rita dilahirkan dari seorang ibu Jepang dan ayah yang asli Padang, Indonesia. Sejak lahir hingga besar, Rita tinggal di Jepang sehingga ia tidak mengetahui banyak tentang Indonesia. Pertemuan lima tahun lalu itu menjadi pertemuan terakhir saya dengan Rita, karena setelah itu saya kembali ke Jakarta. Setelah lima tahun tidak bertemu, kecuali melihat aktivitas masing-masing di sosial media, tiba-tiba beberapa hari lalu Rita Nishikawa mengirimkan email dan mengatakan bahwa ia akan mengunjungi Indonesia. Ia bersama ayahnya akan mengunjungi Padang untuk tampil pada peringatan HUT Kota Padang Pariaman. Setelah dari Padang, Rita mampir di Jakarta. Kamipun bertemu kembali.

Rita kini tampil lebih dewasa dan karirnya sebagai penyanyi di Jepang sudah maju pesat. Di usianya yang saat ini baru 22 tahun, Rita telah tampil di berbagai acara TV Jepang. Ia juga menyanyi bersama di Grup Band Khatulistiwa, yang anggotanya terdiri dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Bersama Khatulistiwa, Rita telah tampil pada berbagai show di televisi Jepang. Kemajuan yang sangat pesat ya.

Rita tampil di HUT Kota Padang Juli 2017

Dari hanya tampil mengamen di pinggir jalan kini Rita telah menjadi penyanyi profesional. Mulai dari tampil di berbagai event, klub atau kafe, maupun berbagai acara televisi Jepang, sekarang menjadi kegiatan sehari-hari Nita Nishikawa di Jepang. Rita juga sempat menjadi backing vocal dari seorang penyanyi terkenal Jepang dari grup Southern All Stars, yaitu Keisuke Kuwata.  Selain itu ia tampil di program televisi Jepang bertajuk “Nodojiman The World” bersama anggota band terkenal SMAP yaitu Nakai Masahiro. Itu adalah satu pencapain yang hebat untuk anak seusia Rita.

Untuk mendengarkan suara emas Rita, kita bisa mencarinya di YouTube ataupun di Soundcloud dengan keyword Rita Nishikawa atau Rita Nyina. Silakan dengar suaranya yang merdu dan melengking. Rita adalah salah satu diaspora Indonesia yang dapat membawa nama harum Indonesia di Jepang. Hampir semua orang yang melihat Rita pasti mengatakan kalau Rita adalah orang Indonesia. Bukan semata karena kulitnya yang tidak seperti orang Jepang, namun karena Rita sering menampilkan lagu-lagu Indonesia yang terkenal di telinga orang Jepang juga, seperti Bengawan Solo misalnya.

Apa harapan dan keinginan Rita ke depan? Pertama, Rita sangat ingin sekali tampil di Indonesia. Ia berharap ada kesempatan untuk dapat tampil di acara-acara nasional di Indonesia, apalagi kalau bisa tampil di televisi Indonesia. Sebagai anak keturunan Indonesia, ia ingin sekali bisa sering datang ke Indonesia dan menghibur pendengar maupun penggemarnya di tanah air. Semoga bisa segera terwujud keinginannya. Kedua, ini keinginan Rita dalam kunjungannya kali ini. Ia ingin sekali mencoba naik Ojek. Sepanjang hidupnya ia hanya bisa mendengar dan melihat bahwa di Jakarta ada ojek, namun belum pernah merasakan. Nah, kalau ini bisa saya bantu. Sayapun segera memesan ojek online dan siap mengantarkan Rita dari daerah Sabang ke Blok M. Senangnya Rita bisa naik Ojek di Jakarta. Semoga sukses untuk Rita!

 

Menjadi Moksa di Ubud

Bersama Chef Made di Restoran Moksa miliknya di Ubud, Bali

Bersama Chef Made di Restoran Moksa miliknya di Ubud, Bali

Mendengar istilah makanan vegetarian, persepsi sebagian besar dari kita adalah cita rasa yang kurang sedap. Bayangan yang muncul adalah hidangan seperti salad atau sayur mayur lainnya yang membosankan. Tapi pandangan itu berubah drastis setelah saya bertemu dengan Chef I Made Runatha yang menemukan seni memasak makanan berbasis tanaman menjadi hidangan yang lezat mendegut liur kita.

Chef Made adalah ahli masak yang telah malang melintang bekerja menjadi chef di berbagai hotel bintang lima, baik di Bali, Beijing, hingga Warsawa. Awalnya ia adalah pemakan segalanya. Namun sejak 15 tahun lalu ia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian. Bukan hanya menjadi vegetarian, iapun seolah mematikan kompornya, menyimpan ovennya, dan mulai membuat olahan makanan yang disiapkan tanpa itu semua, alias makanan “raw” atau berbahan dasar tanaman mentah (uncooked). Chef Made kemudian mendirikan restoran bernama Moksa sekitar 1,5 tahun lalu, di daerah Sayan, Ubud, Bali.

Sungguh sebuah kehormatan bagi kami sekeluarga, yang sedang berlibur di Bali, karena dijamu langsung oleh Chef Made di Restoran Moksa. Menurut Chef Made, Moksa berarti “higher achievement” atau sebuah pencapaian yang lebih baik. Dalam tradisi spiritual, Moksa diartikan sebagai sebuah pencapaian manusia yang bisa mencapai derajat tertinggi sehingga tidak perlu ber-reinkarnasi lagi. Dengan menamakan restorannya Moksa, Chef Made seolah mengajak kita untuk mengubah kebiasaan hidup yang makan segalanya menuju makanan sehat berbasis sayuran. Dengan demikian, kita mencapai tingkatan yang lebih baik dari sisi kesehatan.

Ajakan Chef Made ini bukan sebuah omongan kosong. Ia sendiri sudah membuktikan bahwa sejak beralih menjadi vegetarian sekitar 15 tahun lalu, di usianya yang menjelang 60 tahun ini, ia tak pernah minum obat sebutirpun. Ia juga tak pernah lagi sakit, tidur menjadi lebih nyenyak, dan tubuh terasa sehat. Berat badannyapun ideal. Wow, kelihatannya menarik kan. Tapi tentu ia menyadari bahwa ide makanan vegan itu tidak menarik. Oleh karenanya, Moksa didirikan juga sebagai sarana agar masyarakat bisa mengetahui bahwa makanan vegetarian juga bisa tampil enak.

Sebagai penikmat awal makanan vegetarian, tentu saya masih curiga pada rasa. Chef Made nampaknya memahami kegusaran itu. Oleh karenanya, ia sendiri yang memilihkan menu makanan. Sebagai entree, kami disajikan dua jenis menu makanan, yaitu Sup Moksa Dhal dan Jacfruit Taco. Kedua makanan ini menarik karena umumnya rasa kari dari Dhal dan filling dari Taco menggunakan bahan berbasis hewan. Sup Dhal tampil pertama dan langsung mencengangkan lidah kita. Rasa kari dan kacangnya dominan dan lezat. Taco juga tampil cantik dan di atas ekspektasi kita. Isi taco terasa seperti daging ayam. Ketika kami tanya, menurut Chef Made itu adalah Jackfruit Taco, atau Taco diisi oleh Nangka. Ooooh pantes terasa kenyal seperti daging. A Winner !

Eggplant Rendang atau Rendang Terong

Eggplant Rendang atau Rendang Terong

Hidangan utama yang ditampilkan selanjutnya adalah Rendang Terong (Eggplant Rendang) yang juga mengagetkan kita semua. Irisan terong panggang dijajar rapi mirip seperti irisan daging tipis. Penampilannya menggugah cita rasa. Rasa rendang juga kaya, ada pedas, manis, dan santan kelapa yang gurih. Rendang terong disajikan bersama nasi jenis brown rice yang juga berbahan dasar organik. Dan di tengah kenikmatan ternyata ada juga rasa kimchi di dalamnya, wow, sungguh menambah kelezatan. Ini Juarak !

Hidangan selanjutnya berturut-turut disajikan  adalah Moksa Sampler yang berisi aneka kreasi makanan ukuran kecil, seperti mini lasagna, spring pasta, mini pizza, gado-gado, campuran daun selada, dan sop jamur kuah santan. Semuanya tentu berbahan dasar sayuran. Lalu bagaimana spaghettinya bisa persis bentuknya seperti spaghetti. Rupanya itu dibuat dari parutan bengkoang. Ketika dirasakan barulah terasa kesegaran bengkuangnya. Bagi saya, sop jamur kuah santannya yang paling juara. Kesegaran santan kelapa bercampur dengan aneka jamur terasa menghangatkan badan di tengah sejuknya hawa Ubud.

Tempeh Cesar Salad adalah satu menu lain yang wajib coba. Aneka sayuran salad yang segar organik disajikan bersama tempe cardamom yang dipanggang hingga caramelized. Tempenya juga paduan dari berbagai kacang, seperti chestnut atau kacang mede. Salad disirami kuah saus strawberry dan keju parmesan yang terbuat dari kacang-kacangan. Keju di Moksa dibuat tanpa menggunakan susu hewan, melainkan dari kacang-kacangan. Super sekali. Selanjutnya kami mencicipi  Quesadillas yang juga memiliki citarasa surgawi. Rasa kacang dan sayuran membuat kami harus berkali-kali merem melek terbawa kelezatan alami.

Jangan lupa juga untuk mencicipi aneka juice dan smoothiesnya. Saya mencoba juice berjudul Flu Fighter and Immunity Booster yang merupakan campuran dari asam jawa, wortel, bayam, seledri, parsley, dan bawang putih. Rasanya segar terutama untuk tubuh yang lelah dan rawan terkena flu. Ada juga aneka smoothies, seperti Green Energy yang merupakan campuran dari daun kale, pisang, strawberry, jeruk, korma, nangka, dan spirulina. Atau cicipi juga Anti Aging Smoothies yang merupakan campuran dari buah berry, pisang, madu.

Sebagai hidangan pencuci mulut, Chef Made memilihkan es krim simphony dengan berbagai rasa. Menariknya adalah es krim di Moksa dibuat sepenuhnya berbahan dasar organik dan tanaman, tidak menggunakan krim atau susu dari hewan. Tapi rasanya sungguh luar biasa, ada es krim buah naga, cengkeh, vanilla, dan lainnya. Untuk sajian manis, kami dipilihkan cheesecake yang menggunakan taburan buah delima (pomegranate). Ini lezat dan menutup seluruh sajian secara sempurna.

Mencicipi makanan di Moksa memang seolah membawa kita Moksa menuju pencapaian yang lebih tinggi. Bukan hanya menyenangkan di perut tapi juga menyenangkan di hati. Apalagi kalau makan bersama orang-orang tercinta. Dari Ubud, kami kini punya keyakinan baru bahwa makanan raw dan vegan tidak selalu tampil membosankan, tapi bisa juga tampil penuh kreasi dan dibuat secara sederhana. Kalau ke Ubud, silakan mampir ke Moksa.

Salam sehat.

 

Kisah Pak Musa: Mensyukuri Hidup Lewat Traveling

bersama pak Musa

Bersama pak Musa

Sebagai orang yang menganggap diri lumayan banyak melakukan perjalanan, saya merasa malu saat bertemu dengan Pak Musa Anshory. Sebuah pertemuan yang kebetulan, tapi mampu mengubah dan menambah kaya wawasan saya tentang kehidupan. Kami duduk bersebelahan di pesawat dari Jakarta menuju Abu Dhabi. Dari Abu Dhabi, Pak Musa akan melanjutkan perjalanannya menuju London. Melihat dari perawakannya, Pak Musa terlihat masih semangat meski tak bisa menutupi usia uzurnya. Saat saya tanya berapa usianya, ia berkata, 84 tahun! … Di situlah kisah panjang kehidupan yang membuka mata saya dimulai.

Pak Musa mungkin bukan siapa-siapa. Selama 40 tahun ia pernah mengabdi di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London sebagai staf lokal. Tak banyak muncul dan terlihat. Ya, katanya, saya bukan siapa-siapa. Tapi pak Musa bisa bangga, karena meski ia bukan siapa-siapa, sekarang ke mana saja ia pergi selalu dihormati. Kalau pergi ke Indramayu, kampung kelahirannya, hampir semua anak muda mencium tangannya. Di London, tempat tinggalnya sekarang, ke manapun pergi selalu diberi hak istimewa, duduk diprioritaskan, mengantri didahulukan. “Ya, karena saya tua hehehe”, ujarnya sambil terkekeh. Kata-katanya betul, tapi saya paham, tidak semua orang tua bisa begitu saja mendapatkan penghormatan. Pasti ada sesuatu yang membuatnya memiliki aura atau pesona sehingga “respect” itu datang.

Kisah itupun dimulai. Berawal dari tahun 1956, Musa muda telah mencoba merantau ke luar negeri. Ia mengawalinya dengan mengambil kuliah di Al Azhar Kairo, Mesir. Usai kuliah ia menaiki sepeda berkeliling jazirah Arab, Afrika, dan Eropa. Ia berkelana hingga Yerusalem, Palestina, Syria, Turki, Eropa Timur, hingga kemudian berhenti di Jerman. Saat Olimpiade Italia tahun 1960, Musa berada di sana dan sempat dimuat di salah satu koran lokal. Saat itu ada seorang wartawan yang tertarik dengan kisah perjalanan sepeda dari Mesir ke Italia. Musa sempat tinggal di Muenchen, Jerman, selama lebih dari lima tahun. Di sana ia bekerja di pabrik mobil Ford. Dubes RI untuk Jerman saat itu sempat memanggilnya karena membaca artikel di koran Italia tentang perjalanan sepeda Musa.

Dari Jerman, Musa meneruskan kehidupan ke London. Sejak tahun 1970, ia menetap di London dan bekerja di KBRI. Sepanjang bekerja di London, perjalanan kehidupan melalui traveling tetap dilakukan Pak Musa. Baginya, travel adalah satu cara mensyukuri kehidupan. Dengan bertemu banyak orang, banyak tempat, ia bisa merasakan kebesaran Tuhan. Terus, uangnya dari mana pak? Dari Allah!, begitu jawabnya mantab. Rejeki itu datang dari Allah, kata Pak Musa. Kalau kita yakin dan optimis, insyaalah akan ada. Meski bekerja sebagai pegawai staf lokal, Pak Musa sudah punya dua rumah di London. Ia punya mobil Mercedes Benz dan Rolls Royce. Di Indramayu, kampung halamannya, ia juga punya rumah dan ruko. Alhamdulillah. Anak-anaknya juga sudah besar dan bekerja di London. Ia memiliki tiga orang anak. Kata pak Musa, “Robbana attina fi dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah”. Ia mengatakan bahwa di dunia ini sudah banyak diberikan “hasanah”, atau kebaikan. Ia selalu bersyukur untuk itu.

Apa rahasianya sih pak bisa panjang umur dan tetap traveling begini? Jawabnya, Sabar dan Pasrah. Kehidupan ini punya banyak masalah, tak bisa semuanya kita selesaikan. Untuk itu kita harus sabar, bersyukur, dan pasrah. Betul sekali. Pesan yang sederhana, tapi tentunya kita juga tahu, itu bukan hal yang mudah. Butuh konsistensi dan keyakinan. Semoga kita bisa belajar dari pengalaman hidup pak Musa. Sungguh sebuah pengalaman!

Salam

 

Teknologi Finansial dan Masa Depan Perbankan

Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian Kompas, 21 Februari 2017

Teknologi telah mengubah kehidupan kita dan mendisrupsi kemapanan berbagai sektor industri.Munculnya media daring, buku digital, hingga musik dan film yang bisa diunduh langsung dari internet telah mengguncang industri penerbitan dan musik. Beberapa media cetak dan perusahaan penerbitan yang tak mampu bersaing akhirnya menutup usaha. Kita juga melihat satu per satu toko kaset, cakram musik (compact disc), dan video (DVD) mulai menghilang dari pertokoan karena sepi peminat. Inilah yang dinamakan disrupsi teknologi.

Di dunia keuangan disrupsi ini juga tak terhindarkan. Gelombang munculnya para pelaku usaha rintisan (start up) di bidang layanan keuangan digital atau yang umum disebut dengan istilah financial technology (fintech) telah menimbulkan waswas dari industri petahana, dalam hal ini perbankan. Pelaku usaha rintisan di bidang teknologi finansial (tekfin) atau fintech telah mengubah cara masyarakat dalam membayar, mengirim uang, memperoleh pinjaman, hingga berinvestasi.

Masyarakat kini tak perlu repot datang ke bank karena layanan perbankan telah ada dalam genggaman tangan mereka. Ini yang dulu dikatakan Bill Gates, pendiri Microsoft, bahwa masyarakat sebenarnya tidak membutuhkan bank, yang mereka butuhkan adalah layanan bank.

Perusahaan tekfin hadir menawarkan berbagai layanan yang sebelumnya hanya dapat diberikan oleh bank. Melalui platform digital, masyarakat yang berbelanja daring kini bisa memanfaatkan pembayaran cukup melalui dompet elektronik.Untuk memperoleh pinjaman, masyarakat kini juga dapat melakukannya secara mudah melalui layanan peer-to-peer (P2P) lending yang menghubungkan langsung pemilik dana dengan yang membutuhkan dana.Bagi konsumen, tekfin memperluas pilihan terhadap akses produk atau layanan jasa keuangan dan mampu menurunkan harga.

Bagi masyarakat, tekfin memperpendek rantai transaksi, meningkatkan inklusi keuangan, dan memperlancar arus informasi. Bagi perekonomian, tekfin dapat mempercepat transmisi kebijakan moneter karena biaya transaksi menurun dan meningkatkan velositas perputaran uang.

Dilihat dari statistik, pertumbuhan perusahaan tekfin di Indonesia terhitung signifikan. Sampai akhir 2016, tercatat 156 perusahaan bergerak di bidang tekfin. Total nilai transaksi tekfin tahun 2016 di Indonesia, menurut data Statista, diperkirakan menembus 15,02 miliar dollar AS, tumbuh 24,6 persen dari 2015.

Bagaimana menyikapi?Menghadapi perkembangan yang begitu pesat, bagaimana perbankan perlu bersikap? Dan bagaimana peran regulator? Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan melihat respons perbankan beberapa tahun terakhir. Sampai dengan saat ini, perbankan masih merupakan pemain utama di jasa keuangan.

Perusahaan tekfin juga masih menggunakan bank sebagai landasan transaksinya. Jika dilihat sejarahnya, bank selama ini menjadi motor bagi inovasi teknologi dengan menginisiasi mulai dari cek, kartu kredit, kartu debet, mesin anjungan tunai mandiri (ATM), hinggainternet banking.

Namun, kini perbankan sudah bukan lagi satu-satunya pemain dalam industri jasa keuangan. Kemudahan akses dan kenyamanan adalah dua hal yang ditawarkan perusahaan tekfin. Jika kita lihat, fungsi utama bank adalah menerima simpanan, memberikan pinjaman, dan memfasilitasi pembayaran.

Fungsi itu secara terpisah sudah dapat dilakukan oleh perusahaan tekfin melalui generasi baru teknologi digital. Perusahaan tekfin menawarkan berbagai layanan bank tersebut secara terpisah. Fenomena ini yang dinamakan dengan kecenderungan unbundling the businessatau tekfin yang memereteli usaha bank.

Langkah strategis untuk bertahan bagi bank adalah berkolaborasi. Setidaknya ada empat hal yang umumnya dilakukan bank dalam menyikapi gelombang tekfin. Pertama, bank ikut membangun inkubator bagi para pelaku rintisan di bidang tekfin. Kedua, bank mendirikan unit khusus untuk permodalan tekfin atau modal ventura. Ketiga, bank membangun kemitraan dengan pelaku tekfin. Keempat, bank mengambil alih perusahaan rintisan yang sudah ada.

Keempat strategi ini telah dilakukan oleh beberapa bank di Indonesia. Ada bank yang bermitra dengan perusahaan P2Plending untuk menyalurkan kreditnya atau bank mengadakan lomba hackhatonuntuk menyaring bibit-bibit inovasi baru di bidang tekfin.

Dari sisi regulasi, pada November 2016, Bank Indonesia telah mengeluarkan peraturan Bank Indonesia tentang pemrosesan transaksi pembayaran yang di dalamnya juga mengatur tentang pelaku usaha rintisan di bidang tekfin. Bank Indonesia berupaya mendorong inovasi dengan tetap memperhatikan kehati-hatian dan perlindungan konsumen.

Untuk itu, Bank Indonesia akan mengeluarkan implementasi dari aturan regulatory sandbox, yang merupakan sebuah wahana inovasi bagi pelaku usaha tekfin agar dapat beroperasi secara terbatas dengan ketentuan yang diatur dan disepakati. Di sisi lain, koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus dilakukan. Pada akhir Desember 2016, OJK juga telah mengeluarkan aturan mengenai layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi yang ditujukan untuk mendukung pertumbuhan P2P lendingsebagai alternatif sumber pembiayaan bagi masyarakat.

Dalam sebuah laporan bertajuk “The Future of Fintech and Banking: Digitally Disrupted or Reimagined?”, Accenture menyimpulkan dua hal yang akan terjadi pada perbankan dalam menghadapi gelombang tekfin.Pertama, bank tetap merasa yakin dengan dominasinya sehingga enggan beradaptasi dengan teknologi. Jika hal ini dilakukan, hasilnya akan merugikan bank sendiri. Kedua, bank menyadari terjadinya perubahan perilaku pada nasabah dan inovasi teknologi. Untuk itu, mereka berusaha beradaptasi dan berkolaborasi dengan pendatang baru. Dari kedua pilihan, tampaknya pilihan kedua mulai ditempuh industri perbankan Tanah Air.

JUNANTO HERDIAWAN

Plt Kepala Fintech Office Bank Indonesia

Fintech dan Optimisme Ekonomi Indonesia

Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian KOMPAS, 30 November 2016

Perekonomian Indonesia sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ekonomi global yang lesu, permintaan domestik yang belum optimal, dan pertumbuhan kredit yang masih rendah menjadi beberapa faktor yang menghambat ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi dan merata.

Kondisi tersebut kerap menimbulkan pesimisme pada pelaku ekonomi. Namun Presiden Joko Widodo mengingatkan kita untuk tetap optimistis dalam memandang masa depan. Sebenarnya banyak hal yang dapat membuat kita tetap optimistis, mulai dari indikator makroekonomi yang stabil hingga berbagai potensi yang kita miliki saat ini. Salah satu potensi tersebut adalah fenomena bertumbuhnya ekonomi digital di Tanah Air.

Istilah ekonomi digital belakangan ini marak dibicarakan. Kita tengah mengalami perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kemajuan teknologi, khususnya penetrasi internet, masyarakat secara instan terhubung satu dengan yang lain. Munculnya media sosial dan sarana digital, seperti e-mail, Whatsapp, Facebook, Twitter, dan Instagram, telah mengubah cara kita berkomunikasi.Kecepatan berkomunikasi secara langsung dan terbuka lewat teknologi turut membuka pasar dan mendekatkan produsen dengan konsumen. Kita menjadi akrab dengan aktivitas belanja daring atau yang umum disebut e-dagang. Perkembangan ini kemudian diikuti pula oleh peningkatan peran masyarakat dalam mengakses sektor keuangan.

Namun, sebagian besar masyarakat masih menganggap sektor keuangan sebagai sektor yang sulit diakses. Krisis ekonomi global tahun 2008 semakin menguatkan persepsi tersebut. Pasca krisis global, otoritas di sejumlah negara melakukan respons dengan pengetatan terhadap aturan-aturan di sektor keuangan, termasuk perbankan.Berbagai perkembangan itu telah memberi ruang bagi tumbuhnya inovasi ekonomi digital, khususnya di bidang teknologi keuangan, yang kini populer dengan istilah financial technology atau disingkat Fintech.

Kehadiran inovasi teknologi keuangan telah mampu memotong jalur dan prosedur panjang yang menjadi ciri sektor keuangan formal.Secara sederhana, Fintech adalah berbagai inovasi yang menggabungkan fungsi keuangan (financial) dengan teknologi (technology). Pelaku usaha Fintech, yang umumnya disebut pelaku usaha rintisan (start up), berbekal ide kreatif dan inovatif, hadir memberi solusi alternatif atas kebutuhan masyarakat akan pelayanan jasa keuangan, mulai dari pembayaran, pengiriman uang, mendapatkan pinjaman, berbelanja, berdagang, hingga berinvestasi. Fintech menyimpan potensi besar dalam sebuah ekonomi.

Data dari McKinsey (2016) menunjukkan bahwa industri Fintech secara global tumbuh signifikan, dari sekitar 800 pelaku hingga mencapai 2.000 pelaku dalam kurun satu tahun. Data lain menyebutkan bahwa total transaksi global Fintech di tahun 2016 diperkirakan mencapai 2.355 miliar dollar AS.Di Indonesia, menurut data Statista, nilai transaksi Fintech selama tahun 2016 diperkirakan mencapai 14,5 miliar dollar AS. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa akses pembiayaan dan konsumsi rumah tangga dari Fintech mampu memberi dorongan bagi pertumbuhan ekonomi dan mendukung penyerapan tenaga kerja.

Satu hal yang membedakan dari perkembangan Fintech di negara maju dibandingkan dengan negara berkembang adalah bahwa Fintech di negara maju umumnya fokus pada penciptaan inovasi dan nilai tambah. Sementara di negara berkembang, Fintech tumbuh sebagai solusi alternatif atas berbagai masalah ekonomi yang dihadapi negara tersebut, seperti keterbatasan akses masyarakat pada sektor keuangan, kesenjangan ekonomi, hingga kesempatan kerja.

Fintech di Indonesia

Kondisi Indonesia saat ini juga menjadi pemicu bagi bertumbuhnya usaha Fintech. Saat ini baru 36 persen penduduk Indonesia yang memiliki akses ke layanan perbankan. Selain itu, jumlah kantor cabang bank per jumlah penduduk juga masih rendah. Data Bank Dunia juga menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi permintaan pendanaan hingga Rp 1.600 triliun. Namun, hanya Rp 600 triliun yang mampu disediakan oleh industri perbankan.

Pintu masuk paling efektif bagi Fintech di Indonesia adalah melalui penggunaan telepon genggam. Saat ini ada 326 juta pengguna telepon genggam di Indonesia dan pengguna internet aktif 88,1 juta orang. Peluang inilah yang menjadi pemicu pelaku usaha rintisan mengembangkan inovasi di bidang Fintech. Mulai dari model bisnis pinjam meminjam bagi UMKM dengan peer to peer lending atau crowdfunding, hingga berbagai kemudahan pembayaran menggunakan telepon genggam(mobile payment) telah menjadi pilihan alternatif kegiatan Fintech.

Pertanyaan yang muncul adalah ke mana arah perkembangan Fintech di Indonesia, bagaimana mitigasi risiko dari transaksi digital, serta bagaimana perlindungan konsumen. Di sinilah peran regulator menjadi penting. Inovasi teknologi adalah suatu keniscayaan. Regulator perlu selalu berada di dekat inovasi. Iklim berusaha yang kondusif perlu terus dirangsang tumbuh untuk mendorong ekonomi, namun dengan tetap memerhatikan kehati-hatian.Pemerintah telah mengeluarkan Paket Kebijakan Jilid 14 mengenai ekonomi digital. Langkah ini perlu didukung oleh otoritas lain.

Bank Indonesia juga telah mendirikan BI Fintech Office pada pertengahan November 2016. BI Fintech Office salah satunya ditujukan sebagai katalisator/fasilitator bagi ide pengembangan inovasi di bidang Fintech, selain juga melakukan kajian dan penilaian serta pemetaan atas potensi dan manfaat Fintech.Kegiatan usaha Fintech menyentuh wilayah yurisdiksi beberapa regulator, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Keuangan, Kemenko Perekonomian, hingga wilayah penegak hukum.

Untuk itu, kesamaan pandang antar otoritas dan regulator sangat penting. Tentu saja komunikasi dengan pelaku industri Fintech, baik melalui Asosiasi Fintech Indonesia maupun industri perbankan, perlu terus dilakukan agar berbagai inovasi dapat tumbuh positif.Melihat kisah sukses pertumbuhan Fintech di negara lain, kunci kemajuannya adalah pada koordinasi dan kerja sama antarelemen di negara tersebut dalam mendukung tumbuhnya ekosistem Fintech. Dengan koordinasi yang erat dan visi yang sama, kita optimistis Fintech di Indonesia dapat tumbuh positif, mampu menjadikan sistem keuangan lebih efisien, mendorong pertumbuhan, memperluas kesempatan kerja, dan menebar manfaat secara luas pada perekonomian.

Junanto Herdiawan

Plt Kepala Fintech Office Bank Indonesia