Menatap Masa Depan Energi Indonesia

Mengunjungi PLTA Bili-Bili, sumber tenaga air, Sulawesi Selatan.

Mengunjungi PLTA Bili-Bili, sumber tenaga air, Sulawesi Selatan.

Pekan lalu, saya dan kawan-kawan peserta pendidikan kepemimpinan, mengunjungi beberapa lokasi di Sulawesi Selatan, khususnya proyek pembangkit listrik dari energi terbarukan. Kunjungan itu sangat menarik dan membuka mata saya, yang dasarnya bukan ahli teknik dan energi, karena mengingatkan akan pentingnya energi bagi masa depan bumi ini. Berbagai penelitian, seperti yang dimuat pada Buletin Energy for Sustainable Development (2016), menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara konsumsi energi per kapita dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat (human development index).

Bagi Indonesia, yang berpenduduk besar dan tersebar di wilayah kepulauan, isu ketahanan energi menjadi penting dalam pembangunan ekonomi. Sulit rasanya membayangkan di jaman “now” ini untuk bisa meraih pertumbuhan dan kesejahteraan kalau listrik saja kita tidak punya. Oleh karenanya, selain upaya meningkatkan elektrifikasi (jumlah penduduk yang mendapatkan akses pada listrik), langkah strategis memikirkan sumber energi bagi kehidupan, menjadi penting. Dibandingkan dengan negara lain, khususnya di ASEAN, posisi Indonesia dalam hal ketahanan energi masih relatif rendah (tercermin dari konsumsi energi per kapita). Untuk itu, upaya membangun sumber-sumber energi perlu dilakukan secara strategis.

Kalau melihat pada sumber energi primer yang kita miliki, sumber dari segala sumber energi adalah matahari (tak bisa dibayangkan kalau tidak ada matahari). Dari matahari inilah kemudian terbentuk dua jenis energi, yaitu energi yang tidak bisa diperbarui (non renewable), seperti minyak, gas, dan batu bara, dan energi baru (nuklir, hidrogen) serta terbarukan (panas bumi, air, surya, angin, laut, biomass). Dua energi terakhir disebut dengan istilah Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Nah, kita tentu harus menyadari bahwa energi yang non-renewable tidak akan ada selamanya. Saat ini saja, kita sudah mulai mengimpor minyak dan gas. Meskipun kita masih memiliki batu bara, cadangannya hanya untuk beberapa puluh tahun ke depan. Belum lagi dampak lingkungan yang disebabkannya. Pertanyaannya adalah, dengan energi apa nanti anak cucu kita hidup di Indonesia? Apakah mereka harus mengimpor (dengan asumsi mereka mampu membayar)? Atau mereka akan hidup dalam kegelapan karena tidak memiliki energi listrik?

Doomsday skenario ini tentu bisa kita hindari karena Indonesia sebenarnya dilimpahi oleh sumber daya energi terbarukan yang melimpah. Kita punya beragam sumber, mulai dari panas bumi (geothermal), tenaga angin (bayu), tenaga air (hydro), matahari (surya), dan biomass.

Kita tentu mengapresiasi Pemerintah yang sudah memiliki peta jalan yang mendukung pembangunan energi terbarukan. Lewat UU No 30 tahun 2007 tentang energi, lalu ada Peraturan Presiden No 4/2016 tentang percepatan infrastruktur ketenagalistrikan, pemerintah mendorong pelaksanaan percepatan infrastruktur listrik dengan mengutamakan pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Pemerintah juga telah menetapkan target penyediaan energi primer terbarukan menjadi 23 persen di tahun 2025, dan mencapai 31 persen di tahun 2050. Ini adalah porsi EBT dalam komposisi energi Indonesia yang terdiri dari minyak, gas, batu bara, dan EBT. Jadi kita akan mulai mengurangi penggunaan energi dari minyak, gas, dan batu bara, dan mulai beralih ke tenaga terbarukan yang berasal dari kekayaan bumi Indonesia dengan komposisi sesuai target yang ditetapkan tadi.

Saat ini porsi energi terbarukan dalam komposisi energy mix sudah meningkat, dari sekitar 6 persen di tahun 2015, menjadi realisasi penandatanganan tambahan kapasitas sebesar 12 persen (September 2017). EBT di Indonesia dibangun dari energi panas bumi, air, angin, biogas, surya, dll.

Di Sulawesi Selatan, saya dan kawan-kawan mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bili-Bili. Ini adalah satu lokasi pembangkit listrik yang sangat membantu kehidupan masyarakat di daerah Bili-Bili, karena dari PLTA ini mereka bisa mendapatkan listrik sebesar 19 Megawatt yang sumbernya dari waduk. Ini artinya mereka bisa mendapatkan sumber listrik dari air dengan dampak lingkungan yang hampir tidak ada. Malahan, menurut Pak Mansyur, Manager PLTA yang kami temui, air bisa digunakan sebagai irigasi, pengendalian banjir, dan air minum.

Kami juga mengunjungi perusahaan yang sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) atau angin, yang akan menjadi PLTB pertama di Indonesia, berlokasi di Sidrap, Sulawesi Selatan. PLTB ini keren banget karena terdiri dari 30 kincir angin besar, yang tingginya 80 meter, dengan baling-baling sepanjang 56 meter. Persis seperti yang ada di negara-negara Eropa. Tenaga angin ini akan menghasilkan listrik sebesar 70 megawatt dan akan mampu menambah pasokan listrik di Sulawesi Selatan.

Kincir di PLTB, tenaga Bayu (angin) di Sidrap,SulSel - foto koleksi PT UPC Renewable Energy

Kincir di PLTB, tenaga Bayu (angin) di Sidrap,SulSel – foto koleksi PT UPC Renewable Energy

Secara umum, wilayah Sulawesi Selatan saat ini sudah mengalami “surplus” listrik, atau daya mampu listriknya lebih besar dari penggunaan. Hal ini menjadikan wilayah Sulsel jarang mengalami kondisi pemadaman listrik dan memiliki daya tarik tersendiri bagi investor yang ingin membangun usahanya karena kondisi surplus energi tersebut. Apalagi pemerintah provinsi Sulsel juga sangat positif dan mendukung pemanfaatan energi terbarukan.

Namun tantangan tentu juga tidak sedikit. Persepsi dan paradigma banyak pihak kerap melihat bahwa membangun energi terbarukan ini mahal dan tidak efisien. Selain itu, ada juga pesimisme bahwa energi terbarukan akan dapat menggantikan energi yang berasal dari fossil. Tentu persepsi itu tidak sepenuhnya benar. Beberapa permasalahan memang muncul dalam membangun energi terbarukan. Soal investasi yang besar dan mahal memang muncul, terutama pada saat-saat awal pembangunan. Untuk membangun waduk bagi PLTA, termasuk mengadakan teknologinya, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Demikian pula untuk tenaga angin, contohnya untuk PLTB di Sidrap membutuhkan investasi lebih dari 120 juta dolar AS.

Meski investasi awalnya besar, setelah berdiri dan berjalan, biaya selanjutnya menjadi sangat kecil. Hal tersebut karena biaya sumber dayanya yang murah, relatif gratis karena berasal dari alam, emisi karbon dan dampak lingkungannya yang tidak ada, serta dampak sosialnya yang rendah. Keterlibatan masyarakat juga menjadi kunci bagi pengembangan energi terbarukan ini. Untuk PLTA misalnya, masyarakat perlu memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga daerah aliran sungai, sedimentasi, tidak membuang sampah ke sungai dan waduk, agar air yang digunakan bagi pembangkit listrik optimal.

Dari sisi pemerintah, umumnya keluhan pelaku usaha adalah soal keringanan pajak. Meskipun pemerintah telah memberikan berbagai insentif fiskal, seperti pada PMK no 144 tahun 2012, dan PMK no 159 tahun 2015, kalangan pelaku usaha masih mengharapkan beberapa keringanan karena biaya financing dari bank yang masih tinggi. Masalah model bisnis antara perusahaan swasta dan pemerintah (dalam hal ini melalui PLN) juga perlu terus menerus dibicarakan dan disempurnakan agar dapat menemukan model yang paling efisien dan menarik pihak swasta untuk berinvestasi tanpa di sisi lain pihak pemerintah mengalami kerugian.

Dari sisi pemerintah daerah Sulawesi Selatan, berbagai potensi EBT yang dimiliki wilayah tersebut bisa menjadi keunggulan dan ”branding” yang dapat dibangun.  Sulawesi Selatan dapat mempromosikan dirinya sebagai wilayah yang memiliki surplus energi dan ramah lingkungan. Green South Sulawesi, atau Sulawesi Selatan Ramah Lingkungan, adalah kelebihan yang dimiliki dan dapat menjadi daya tarik investor yang ingin menanamkan modal pada energi terbarukan. Tentunya, kemudahan berbisnis juga harus ditingkatkan. Jangan sampai kemudian para investor justru menemukan masalah-masalah saat turun di lapangan. Koordinasi Pemerintah Provinsi dengan para Bupati dan Walikota menjadi kunci.

Turbin di PLTA Bili Bili Sulsel (foto koleksi pribadi JH)

Turbin di PLTA Bili Bili Sulsel (foto koleksi pribadi JH)

Indonesia kaya energi alam dan terbarukan. Banyak pendapat yang menganggap satu energi lebih baik dari yang lain, misalnya harus air dan memandang kalau tenaga angin tidak perlu. Cara paling bijak melihat hal ini adalah dengan memetakan berbagai energi alam tersebut dan mencari kombinasi yang paling optimal bagi Indonesia. Setiap negara berbeda, demikian pula setiap wilayah di Indonesia. Jadi, diversifikasi portfolio energi terbarukan menjadi penting. Tidak semua daerah di Indonesia memiliki tenaga surya yang cocok untuk pembangkit. Perlu diidentifikasi wilayah mana yang memiliki keunggulan dan dikombinasikan dengan baik. Angin di Sulawesi Selatan misalnya, diperkirakan hanya bagus pada musim panas. Di musim hujan, anginnya tidak optimal. Nah pada saat itu, dukungan dari tenaga air menjadi komplemen yang tepat.

Memilih energi terbarukan adalah sebuah langkah penting bagi masa depan anak cucu kita di Indonesia, dan juga di dunia. Kita tentu tidak ingin meninggalkan dunia yang rusak lingkungannya, dan habis sumber energinya, pada anak cucu kita. Ini adalah soal masa depan bumi. Sebagaimana yang dikatakan juga oleh Arnold Schwarzeneger saat menjabat Gubernur California, “Masa depan adalah adalah Green Energy, Keberlanjutan, dan Energi Terbarukan”. Kalau bukan kita, dan bukan saat ini, kapan lagi?

Salam Energi Terbarukan.

 

Teknologi Finansial dan Stabilitas Keuangan

(Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian Kompas, 30 Oktober 2017)

Saat menjadi narasumber tentang Tekfin di CNN Indonesia bersama Anchor Desi Anwar.

Ilustrasi foto : saat menjadi narasumber tentang Tekfin di CNN Indonesia – Anchor Desi Anwar.

Peretasan jutaan data pribadi konsumen yang dialami oleh Equifax, salah satu perusahaan pelaporan kredit nasional terbesar di Amerika Serikat, mengingatkan kita akan risiko yang dapat muncul dari perkembangan teknologi finansial.

Teknologi memang hadir bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi mampu memberi manfaat, tetapi di sisi lain juga memberi rasa waswas bagi penggunanya. Tanpa disadari, setiap hari kita telah membagi aneka informasi pribadi, mulai dari perbincangan sosial, kebiasaan belanja, pola bepergian, hingga transaksi keuangan, melalui berbagai aplikasi berbasis internet yang kita miliki. Berbagai data tersebut, jika tidak dikelola dengan baik, memiliki potensi untuk disalahgunakan pihak yang tak bertanggung jawab.

Regulator di sejumlah negara menyadari berbagai implikasi risiko yang muncul dari berkembangnya teknologi finansial (tekfin). Dalam pertemuan negara anggota G-20 di Jerman, beberapa waktu lalu, salah satu topik yang dibahas adalah pentingnya setiap negara untuk mencermati digitalisasi pada sistem keuangan. Fokus perhatian bukan hanya risiko mikro pada individual perusahaan tekfin, melainkan juga diperlukan adanya pemantauan dan pengawasan agar risiko mikro itu tidak menjalar menjadi risiko yang berdampak makro.

Hal ini masuk akal mengingat investasi global di bidang tekfin terus tumbuh signifikan dalam lima tahun belakangan. Sepanjang 2016, investasi global di bidang tekfin melejit hingga melebihi angka 21 miliar dollar AS. Nilai tersebut meningkat lima kali lipat dibandingkan dengan tahun 2013. Data dari KPMG menunjukkan bahwa dalam triwulan II-2017, investasi di sektor tekfin masih terus tumbuh dan sudah mencapai 8,4 miliar dollar AS.

Sebagian besar investasi tekfin dilakukan di AS dan Asia yang sebagian besar ditanamkan pada perusahaan tekfin di bidang pembayaran dan pinjam-meminjam berbasis digital. Di tengah ekonomi global lesu saat ini, meningkat signifikannya investasi tersebut tentu perlu dicermati.

Pengawasan dan regulasi

Dalam laporan yang berjudul ”Financial Stability Implication from Fintech (2017)”, Dewan Stabilitas Finansial (Financial Stability Board/FSB), sebuah lembaga internasional yang memantau dan memberikan rekomendasi terhadap sistem keuangan global, menyampaikan pentingnya regulator untuk membenahi aspek pengawasan dan regulasi dalam menyikapi pertumbuhan tekfin.

Dalam laporan itu, FSB mengingatkan regulator di sejumlah negara untuk terus-menerus melakukan pengujian pada aturan-aturan yang dimilikinya agar dapat memperoleh manfaat optimal dari perkembangan inovasi, tetapi di sisi lain mampu melindungi konsumen dan meminimalkan munculnya risiko, baik mikro maupun makro.

Teknologi finansial terus bertumbuh tanpa bisa dicegah seiring dengan bergesernya preferensi masyarakat, khususnya generasi milenial, yang menginginkan kenyamanan, kecepatan, biaya yang lebih efisien, dan kemudahan dalam bertransaksi keuangan. Kita melihat inovasi tekfin saat ini juga muncul dan berlangsung begitu cepat.

Namun, berbagai inovasi tersebut belum terbukti resilien dan belum seluruhnya melalui siklus pengujian lengkap (full cycle process), terutama pada aspek mitigasi risiko. Dilihat dari penerapan teknologinya, kemunculan berbagai inovasi di bidang pinjam meminjam digital (fintech credit), robo-advisors, inovasi pembayaran bernilai besar, penggunaan mata uang virtual (cryptocurrency), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan mesin pembelajar (machine learning) berpotensi memberikan manfaat bagi perekonomian.

Manfaat yang dapat kita rasakan antara lain munculnya berbagai aplikasi yang mengurangi peran pihak intermediasi sehingga pembayaran bisa lebih efisien dan transparan. Selain itu, berkembangnya tekfin juga berpotensi meningkatkan inklusi finansial dan pertumbuhan ekonomi. Untuk Indonesia dengan 64 persen penduduknya masih belum terjangkau layanan keuangan (unbanked people), kehadiran tekfin memberikan peluang besar untuk memperluas inklusi finansial.

Risiko dan potensi penyalahgunaan

Namun, di balik manfaatnya yang besar, tekfin juga memiliki risiko dan potensi penyalahgunaan. FSB membagi risiko ini menjadi dua, yaitu risiko mikrofinansial dan risiko makrofinansial. Risiko mikrofinansial adalah risiko yang dapat menyebabkan satu perusahaan tekfin memiliki kerentanan (vulnerable) terhadap munculnya gejolak (shocks).

Beberapa risiko mikrofinansial yang perlu kita cermati adalah soal keamanan data, peretasan (cyber risks), tata kelola beberapa perusahaan tekfin yang masih lemah, pengelolaan likuiditas, ketergantungan pada pihak ketiga untuk teknologi, hingga risiko pelanggaran regulasi.

Adapun risiko makrofinansial adalah kerentanan secara luas yang dapat menyebabkan gejolak pada sistem keuangan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya instabilitas hingga krisis keuangan. Risiko ini muncul jika kegagalan di satu perusahaan tekfin kemudian menyebar dan menular ke perusahaan lain, lalu berdampak sistemik, dan biasanya diiringi oleh anjloknya kepercayaan publik.

Menyikapi perkembangan di atas, penting sekali bagi regulator untuk dapat menangkap munculnya berbagai potensi risiko tersebut. Bank Indonesia (BI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyadari pentingnya sinergi dan koordinasi dalam melakukan pengawasan mikro dan makro. OJK telah mengeluarkan peraturan OJK tentang layanan pinjam-meminjam berbasis digital, sementara BI juga telah mengeluarkan beberapa peraturan terkait inovasi tekfin di bidang uang elektronik, transfer dana, dan aturan bagi penyelenggara jasa sistem pembayaran.

Dalam waktu dekat, BI juga akan mengimplementasikan peraturan regulatory sandbox agar dapat mendorong tumbuhnya inovasi dari pelaku tekfin dengan tetap menjaga kehati-hatian.

Satu kesulitan bagi regulator saat ini dalam melakukan asesmen terhadap implikasi risiko makrofinansial adalah keterbatasan data yang dapat dikumpulkan dari para pelaku tekfin. Selain karena seri data (time series) yang masih pendek, mekanisme pengumpulan data oleh regulator juga masih terbatas. Di area inilah pentingnya sinergi dan koordinasi antara regulator dan pelaku industri tekfin, baik melalui asosiasi maupun komunitas lainnya, untuk dapat saling bertukar data dan informasi terkait perkembangan industri tekfin. Untuk itu, pendekatan regulator pun tidak bisa lagi menggunakan pendekatan lama yang hanya menunggu, tetapi juga harus tangkas (agile), eksperimental, dan siap membuka ruang dialog sebesarbesarnya dengan para pelaku tekfin.

Junanto Herdiawan, Kepala Bank Indonesia Fintech Office

Ada Coto Kuda di Jeneponto

 

Kerja Keras Bagai Kuda

Kerja Keras Bagai Kuda

Pergi ke Sulawesi Selatan, mampirlah ke Jeneponto. Dalam kesempatan meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jeneponto, Sulawesi Selatan, seorang kawan mengajak saya untuk mencicipi hidangan lokal daerah tersebut. “Apa itu?” tanya saya. “Coto Makassar”, katanya. “Wah kalau itu saya sudah sering mencoba”, kilah saya.

“Tapi yang ini beda”, ujar teman saya lagi.

“Coto Makassar di Jeneponto menggunakan daging Kuda….”

Jreeeng…jreeeeng!

Kuda?? Tentu ada sedikit kerisihan ketika mendengar daging kuda dimakan untuk coto. Ya, kuda memang bukan jenis binatang yang umum dijadikan makanan. Selain untuk hiasan, kuda kan selama ini kita kenal memiliki fungsi sebagai tunggangan atau transportasi. Sering juga dipakai sebagai keindahan lukisan-lukisan dan patung. Hubungan emosional manusia dengan kuda yang selama ini dijadikan tunggangan atau teman berekreasi seperti itu memang menjadikan kita merasa tidak layak memakannya. Jadi memang tak mudah untuk menerima kenyataan kalau daging kuda dijadikan makanan.

Urusan kuda sebagai makanan memang memiliki berbagai pandangan. Ada negara yang melarang, ada juga yang membolehkan. Di beberapa negara, seperti Inggris misalnya, daging kuda pernah dianggap tabu dan dilarang untuk dimakan. Kalau melihat sejarah dulu, Paus Gregorius III di tahun 732 pernah mengeluarkan larangan memakan daging kuda. Dari sudut pandang agama Islam juga ada beberapa pandangan tentang makan daging kuda, dari yang menghalalkan, makruh, hingga melarang.

Di Perancis pada masa perang Napoleon pernah terjadi suasana kelaparan yang menjadikan banyak tentara memakan daging kuda sebagai sumber tenaga mereka. Kebiasaan ini mulai meluas di Abad 19 seiring dengan mahalnya harga daging sapi saat ini. Kuda kemudian dilegalkan sebagai makanan di Perancis. Di beberapa negara lain, seperti Jepang, daging kuda juga memiliki sejarah sama. Saat terjadi kelaparan, penduduk memakan kuda hingga kemudian menjadi kebiasaan hingga sekarang. Di wilayah Kumamoto, penduduknya memakan kuda sebagai asupan daging sehari-hari. Mereka menyebut daging kuda dengan istilah “sakura-niku” karena dagingnya yang berwarna pink mirip bunga sakura saat mekar. Saya pernah mencicipi sashimi kuda saat tinggal di Jepang, ya, sashimi daging kuda mentah hehehe… aneh ya.

Kembali ke warung coto kuda di Jeneponto, saya dan kawan-kawan akhirnya mengikuti saran kawan tadi dan masuk ke warung yang menyajikan coto kuda. Tidak semua kawan mau mencicipi karena kerisihannya. Tapi sebagian lainnya mau mencoba petualangan itu. Di Jeneponto, makan daging kuda sudah menjadi bagian dari tradisi mereka. Menurut Ibu Mardiana, kawan di kantor Makassar yang aslinya orang Jeneponto, sejak kecil mereka sudah dibiasakan makan daging kuda. Bahkan kalau ada acara kendurian, syukuran, daging kuda menjadi sebuah hidangan wajib. “Belum sah acaranya kalau belum ada daging kuda”, begitu ujarnya.

Coto Kuda Jeneponto disajikan dengan kuah encer

Coto Kuda Jeneponto disajikan dengan kuah encer

Well, itu kearifan lokal, dan kekayaan serta dinamika dari kuliner di nusantara. Sejarahnya tentu panjang. Jadi ada baiknya kita menghormati dan mencoba mengenali, kalau berani, ya ikut mencicipi.

Persepsi pertama tentang daging kuda adalah alot. Ya, mungkin ada yang pernah punya pengalaman makan sate kuda di Jogja yang kebetulan dapat daging alot. Sejak itu persepsi akan melekat terus. Tapi persepsi itu tidak selamanya benar. Menurut pemilik warung coto kuda, daging kuda yang mereka sajikan bukan berasal dari kuda pacuan, kuda transport, atau kuda delman, melainkan kuda yang memang disiapkan untuk dimakan dagingnya. Jadi dari sisi asupan dan gerak mereka juga disesuaikan. Kuda yang diambil dagingnya juga bukan kuda tua, melainkan yang berumur sekitar satu tahun.

Dan benar kata pak pemilik warung, daging kuda yang dijadikan coto kuda ini sangat lembut. Serat daging kuda lebih besar dibandingkan daging sapi, tapi soal kelembutannya tidak kalah. Soal rasa juga relatif lebih ”strong” dibanding sapi, namun tidak sekeras daging kambing yang kadang ”prengus”.

Mencicipi daging kuda adalah sebuah pengalaman. Tentunya ini jenis makanan yang sifatnya “acquired taste”, atau cita rasa yang memerlukan pembiasaan sebelum bisa memakannya. Juga memerlukan wisdom tersendiri untuk menilainya. Jadi wajar saja bila orang yang baru pertama mendengar akan merasa risih untuk mencicipinya.

Namun kalau mau mencoba pengalaman, tentunya tak akan melewatkan kesempatan tersebut. Jadi teringat lagu Koes Plus yang liriknya berbunyi, “Kerja Keras Bagai Kuda” …. Mungkin kalau makan kuda, dipercaya bisa sekuat kuda hehehe …. Salam.

 

Review Film: Kembalinya Si Badut Pembunuh

Pennywise si Badut Pembunuh dalam film IT September 2017 / photo courtesy of Guardian.

Pennywise si Badut Pembunuh dalam film IT September 2017 / photo courtesy of Guardian.

Buat anak tahun 80-an, film horror Stephen King berjudul IT yang diputar pada tahun 1990, adalah sebuah memori seru masa muda. Saya menyaksikan film itu saat di bangku SMA. Film IT bagi saya adalah sebuah karya monumental dari Stephen King karena memori yang membekas hingga terbawa terus sampai dewasa, khususnya kenangan pada figur Pennywise si Badut Pembunuh. Persis seperti saya mengingat figur Freddy Krueger dalam film Nightmare on Elm Street. Sejak mengenal Pennywise, pandangan saya pada Badut berubah. Saya kerap curiga kalau melihat badut. Bagi saya mereka tidak lucu lagi, baik itu badut ulang tahun atau badut sirkus. Badut bagi saya kini memiliki keseraman tersendiri, seperti badut pembunuh di film IT. Tentu saja itu hanyalah imajinasi liar saya.

Munculnya film edisi baru IT di bulan September 2017 seolah membangkitkan memori masa muda, tepatnya 27 tahun lalu, saat pertama kali menyaksikan film tersebut. Persis seperti plot filmnya, Badut Pennywise selalu muncul setiap 27 tahun sekali. Untuk itu, menyaksikan IT versi 2017 menjadi sebuah keharusan di tengah berbagai kesibukan.

Plot cerita IT edisi 2017 masih mirip dengan yang edisi 1990. Diawali oleh hilangnya Georgie (Jackson Robert Scott), anak kecil yang mengejar perahu kertas hingga masuk ke selokan (gorong-gorong) kota Derry. Pennywise berada di dalam gorong-gorong dan menarik Georgie. Hilangnya anak-anak kecil dan remaja di kota Derry adalah sebuah ciri dari kemunculan Badut IT. Urban legend kota tersebut, sebagaimana tertulis di perpustakaan kota, mencatat rentetan peristiwa misterius hilang dan matinya warga, setiap 27 tahun sekali.

Sekumpulan anak kecil kota Derry, dipimpin oleh Bill (Jaeden Lieberher), kakak dari Georgie, bergerak menuju gorong-gorong bawah tanah kota Derry untuk melawan IT langsung di pusat kekuasaannya (sumur misterius legendaris kota). Bill memimpin sekelompok kawan-kawannya – yang menamakan dirinya Klub Pecundang (the Losers’ Club)- yaitu seorang nerd (Finn Wolfhard), seorang phobia kuman (Jack Dylan Grazer), anak seorang Rabi Yahudi (Wyatt Oleff), seorang anak kulit hitam (Chosen Jacobs), dan anak baru (Jeremy Ray Taylor), serta seorang gadis manis Beverly (Sophia Lilis), yang memberi sedikit nuansa romantis komedi segi tiga melibatkan Bill dan si anak baru, Ben.

Setting cerita di kota Derry dibuat pada tahun 1988 – 1989, dicirikan pada plang film di bioskop yang memutar Nightmare on Elm Streets. Plot cerita masih sama dengan IT edisi 1990 di mana ada sekelompok anak pembully yang dipimpin oleh Henry Bowers, kota yang penuh gosip, dan orang tua-orang tua anak yang “abusive”. Kisah teror Pennywise pada anak-anak juga ditampilkan ala film horor yang menegangkan dan berisi kejutan-kejutan (satu dua kali kita pasti akan terkaget dengan adegan munculnya Pennywise).

Kunci utama perlawanan sekelompok anak kota Derry pada Pennywise adalah semangat kebersamaan dan persatuan. IT adalah badut monster pembunuh yang muncul dan menyerap ketakutan dari anak-anak kota Derry. Semakin takut seseorang, semakin besar kekuatan IT. Hal inilah yang diketahui oleh anak-anak Derry. Keberanian (courage) dan kebersamaan (unity) memang pesan moral utama dari film IT. Bagi anak-anak yang takut pada monster atau Badut pembunuh, kiranya pesan tersebut bisa menjadi pegangan. Namun tentu bukan hanya berlaku pada anak kecil. Bagi kita semua, IT membawa pesan sama. Keberanian adalah kunci dalam menghadapi berbagai godaan dan cobaan. Namun yang lebih penting lagi adalah juga kebersamaan, untuk mengalahkan kejahatan dengan semangat kebaikan.

Seperti pesan orang tua kita dulu, kebaikan yang tidak bersama-sama akan dikalahkan oleh kejahatan yang terkoordinir dan bersama-sama. Agak melebar, tapi tentu pesannya sama, ayo sebagai bangsa Indonesia yang saat ini menghadapi banyak tantangan, kita belajar dari anak-anak kota Derry untuk jangan terpecah belah, jangan terpisah-pisah, tapi bersatulah. Hanya dengan bersatu, kita bisa mengalahkan siapapun.

Salam Persatuan. Salam NKRI. Salam IT.

Verdict Film : Recommended. Layak Tonton.

 

Review Film: Teka Teki Moral The Exception

Adegan dalam Film The Exception / source : The Hollywood Reporter

Adegan dalam Film The Exception / source : The Hollywood Reporter

Setting film berlatar belakang Perang Dunia ke II selalu menarik perhatian saya. Di berbagai film tersebut saya dapat melihat berbagai dimensi yang diangkat pada saat Eropa berada dalam kekacauan akibat perang. Tak terkecuali di film The Exception. Film yang dilatari dari novel karya Alan Judd ini membidik kisah menarik dari tradisi kuno Eropa. Terlepas dari plot ceritanya yang berisi ketegangan, melodrama, dan bumbu seks di ranjang, The Exception mengangkat periode awal sebelum tragedi dan horor PD II dimulai oleh Nazi.

Kisah film ini berkisar seputar masa-masa akhir Kaisar Prussia (yang kekuasaannya melingkupi Jerman) terakhir, yaitu Kaisar Wilhem II (Christoper Plummer) dan istrinya (Janet McTeer) saat berada dalam pembuangan di Belanda. Kaisar disingkirkan saat  Adolf Hitler dan Partai Nasional Sozialist-nya berkuasa di Jerman. Namun Hitler masih tetap mempertahankan kehidupan dan keberadaan Kaisar Wilhelm dengan tujuan agar ia dapat membongkar konspirasi dan kekuatan-kekuatan yang masih berada di sekitar Kaisar tersebut. Plot selanjutnya di film tersebut adalah tentang Kapten Brandt (Jai Courtney), perwira Jerman yang ditugaskan mengawal (dan memata-matai) Kaisar, dengan Mieke De Jong (Lily James), pelayan muda cantik yang bekerja di istana “pengasingan” Kaisar. Mieke, yang kerap menemani Kaisar memberi makan bebek, sambil sesekali sang Kaisar menggodanya, memiliki hubungan gelap dengan Brandt.

Hubungan Brandt dan Mieke, yang digambarkan dengan beberapa adegan ranjang sensual, menjadi poros cerita film ini. Masalahnya menjadi rumit ketika Brandt mengetahui bahwa Mieke adalah seorang Yahudi. Apakah Mieke menjebak Brandt? Atau Brandt mengeksploitasi Mieke? Atau mereka hanya dua orang dewasa yang digerakkan oleh libido? Pertanyaan tersebut menjadi menarik dalam plot film The Exception.

Adegan Mieke dan Brand di The Exception / source from teaser-trailer.com

Adegan Mieke dan Brand di The Exception / source from teaser-trailer.com

The Exception adalah cerita tentang Pengecualian. Mieke de Jong, yang notabene seorang pelayan, di film itu digambarkan sebagai orang yang mengagumi filsuf Jerman, Friedrich Nietzche. Buku Nietzche yang berjudul “Beyond Good and Evil” menjadi bacaannya, yang di akhir perang kemudian buku ini dikirimkannya pada Kapten Brandt.

Kapten Brandt adalah tipikal orang yang memiliki kekecualian. Sebagai seorang perwira Jerman, Brandt adalah seorang patriot. Ia sadar akan tugas dan kewajibannya dalam membela negara. Namun ia juga seorang manusia yang tidak bisa menerima kekejaman dan kesadisan tentara SS saat ia turun di medan perang Polandia. Dalam hatinya ia mengutuk kejahatan perang. Baginya, negara Jerman dan militer Jerman seharusnya memiliki kehormatan dan kepantasan dalam berperang, bukan dengan melakukan genosida pada anak-anak. Mieke melihat sifat ini dalam diri Kapten Brandt, dan mencoba meyakinkan bahwa keyakinan Brandt itu benar. “They are the rule,” kata Mieke, “You are the exception.”

Inilah apa yang dimaksud oleh Nietzche dalam bukunya Beyond Good and Evil. Kita perlu untuk dapat melihat sebuah peristiwa atau sikap. Apa yang terlihat bagus atau jahat, perlu didalami lebih jauh lagi, karena itu akan tergantung pada berbagai variabel. Apakah itu ideologi, keyakinan, peraturan, ketentuan, atau suara hati. Melakukan pembantaian dan pembunuhan pada orang atau kaum yang dianggap liyan, mungkin bisa dianggap benar dilihat darii satu keyakinan agama atau politik. Tapi suara hati bisa mempertanyakan apakah keputusan itu baik.

Kita melihat dunia saat ini diwarnai oleh berbagai ketegangan dan saling penghancuran. Saling membenci dan menebar ujaran kebencian. Satu kelompok merasa benar dan menganggap yang berbeda itu salah tanpa saling menghormati. Kita begitu mudah marah dan menebar kebencian pada kelompok lain yang berbeda. Semua tentu memiliki alasan yang terlihat baik, bisa dari sisi kepentingan politik, agama, ataupun kebenaran suku dan ras. Tapi apakah itu betul-betul baik?

Film The Exception seolah mengingatkan kita bahwa di balik apa yang tampak dan apa yang banyak orang yakini, kita bisa jadi pengecualian apabila mau mendengar suara hati. Tentu hal ini bukan sebuah langkah mudah, apalagi di tengah kehidupan dunia yang penuh cobaan dan godaan. Tapi mari kita berusaha untuk menjadi orang baik, orang yang dikecualikan. The Exception.

Salam.

 

Lokalitas Rasa di KAUM Jakarta

Bersama Mbak Lisa, Brand Director KAUM.

Bersama Mbak Lisa, Brand Director KAUM.

Jakarta seolah tak pernah kehabisan tempat baru untuk menikmati kuliner ataupun menjajal lokalitas rasa Nusantara. Keberadaan Restoran KAUM di jl Dr Kusuma Atmaja adalah salah satu contohnya. Setelah sukses di Hong Kong dan Bali, KAUM akhirnya membuka outlet di Jakarta. Restoran yang berada di bawah Group Potato Head ini mengambil tempat di salah satu bangunan heritage Jakarta yang dipadu dengan satu main hall bernuansa modern. Hidangannya mengusung lokalitas rasa Nusantara. Namun bukan sembarang rasa Nusantara karena setiap bumbu dan bahan dikurasi secara serius oleh ahli-ahlinya sebelum diproses dan dihidangkan.

Saya mendapat kesempatan ke KAUM diundang oleh Mbak Lisa Virgiano yang juga Brand Director dari restoran itu.  Mbak Lisa adalah kawan lama saya yang juga aktivis kuliner lokal, pemberdayaan petani nelayan, dan juga pendiri komunitas Underground Secret Dining. Kami diterima di bangunan belakang restoran yang dirancang model hall bernuansa modern. Kitapun mencicipi hidangan yang disajikan di sana. Bagi pecinta kuliner Nusantara yang mengapresiasi lokalitas rasa dan bumbu, KAUM ini tempat yang tepat untuk disambangi. Suasana rumah kolonial dipadu dengan area dining hall yang modern, membawa kita pada suasana yang nyaman dan homey.

Ikan Bakar Barramundi Dabu Dabu

Ikan Bakar Barramundi Dabu Dabu

KAUM berarti adalah kelompok atau suku, atau bisa juga etnis. Nama itu diambil sebagai representasi beragamnya suku bangsa di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 600 grup etnis. Menu makanan yang disajikan juga khas Indonesia, seperti ikan bakar barramundi sambal dabu-dabu, gulai udang Aceh, gohu ikan tuna Maluku, dan aneka menu lainnya. Satu hal yang membuat KAUM berbeda dengan yang lain adalah soal pemilihan bahan baku lokal dan proses memasak yang dibuat persis dengan kondisi aslinya. Beras misalnya, masih diliwet dan diaron. Bahan yang digunakan juga lokal diambil dari pembuatnya atau petaninya, seperti Beras Metik Susu Magelang, Kecapnya dari Oma-Oma di Cideng (bukan kecap industri), garamnya didatangkan Khusus dari Amed Bali (serius ini garamnya enak banget).

Kami mencicipi ikan bakar baramundi dabu-dabu. Ikan barramundi dibakar sederhana, hanya menggunakan bahan yang ada tanpa garam. Hal ini karena garamnya disajikan terpisah sehingga kita bisa mengapresiasi garam langka yang didatangkan khusus dari Amed. Begitu kami cicipi, hmmmm, rasa memang tak pernah bohong. Kalau kawan punya lidah yang subtil tentu bisa membedakan. Kelembutan daging, cocolan garam dan sambal, serta sambalnya, sungguh sempurna membawa ikan bakar naik kelas. Lokalitas rasa juga bisa dirasakan di menu-menu lainnya, seperti gohu ikan tuna maluku, yang kerap menjadi pilihan favorit pengunjung.

Setiap Jumat malam, KAUM juga menampilkan live music akustik sebagai pendamping makan malam kita, atau bisa jadi juga sebagai tempat hang out anak-anak muda yang cinta pada lokalitas menu Nusantara. KAUM memang menyajikan  makanan dengan bumbu dan proses terbaik.

Silakan dicicipi!

KAUM Jakarta berlokasi di Jl Dr Kusuma Atmadja No 77-79 Jakarta Pusat.

Tong Ah, ikon Kopitiam di Singapura

Sarapan di Tong Ah

Sarapan di Tong Ah

Banyak cara untuk menikmati pagi di Singapura. Salah satunya adalah nongkrong di warung kopi lokal, yang akrab disebut dengan nama Kopitiam. “Tiam” dalam bahasa Hokkien artinya warung. Saya senang menghabiskan waktu sarapan di warung kopi sambil memandang jalanan dan orang-orang yang memulai aktivitasnya di pagi hari. Rasanya invigorating, menambah semangat dan inspirasi. Dari berbagai kopitiam di Singapura, favorit saya adalah Tong Ah. Ini adalah satu warung kopi yang mungkin tertua di Singapura. Telah berdiri sejak 1939. Awalnya lokasi Tong Ah berada di sebuah bangunan heritage, di pertigaan Teck Lim dan jalan Keong Saik. Namun beberapa tahun lalu bangunan itu dijual (kemudian dibeli oleh  warung kopi lainnya), dan Tong Ah bergeser ke salah satu gedung di seberang jalan. Meski sudah kehilangan nuansa ikonik dari gedung bersejarah, rasa roti bakar atau “Kaya Toast” dan Kopi-nya masih Ciamik. Beberapa pekan lalu, saat berkunjung di Singapura, saya mengajak putra sulung untuk nongkrong dan menikmati pagi di warung kopi. Pilihan menu di Tong Ah dibuat seperti paket-paket di makanan cepat saji. Paket itu terdiri dari pilihan roti bakar, yang disebut Kaya Toast, minuman -bisa kopi atau teh, dan telor setengah matang. Special order para pengunjung adalah “Crispy Kaya Toast”. Ini adalah roti panggang yang dibuat kering dan crispy, lalu diolesi butter dan srikaya. Rasanya crispy. Lezat dan nikmat disantap di pagi hari. Favorit saya lainnya adalah telor setengah matang. Entah kenapa, beda aja. Awalnya saya pikir semua telor setengah matang itu sama. Tapi di Tong Ah, telor setengah matang diciptakan seperti sebuah maha karya. Menurut pembuatnya, telor dipilih yang berkualitas dan direbus tepat 12 menit dengan perhitungan lainnya. Dampaknya adalah pemerataan rasa pada setiap bagian telur. Tidak terlalu mentah, dan tidak terlalu matang, tapi merata. Ini lezatnya. Buat penggemar telor setengan matang, saya rekomendasikan.

Telor Setengah Matang Tong Ah

Telor Setengah Matang Tong Ah

Untuk minumnya bisa mencoba kopi butter. Ini adalah kopi yang dicampur dengan butter. Aneh memang. Tapi itu adalah tradisi masyarakat Tionghoa sejak jaman kolonial. Saya sendiri kalau tidak memesan kopi hitam, umumnya teh tarik. Rasanya otentik. Kopitiam adalah pusat kehidupan dari masyarakat Tionghoa di Singapura. Mencicipi kopi dan roti bakar di Tong Ah, memandang lalu lalang dan aktivitas warga di wilayah pecinan sekitarnya, merupakan sebuah pengalaman yang patut dicoba kalau di Singapura. Tidak terlalu istimewa memang (karena di daerah Kota Tua dan Glodok kita juga bisa merasakan makanan yang sama), namun pengalaman ini harus dicoba. Salam

@thecentralbankers: A Tribute to Rani Lestari

Alm. Rani Lestari 

Para pegawai Bank Indonesia, khususnya yang memiliki akun Instagram, tentu pernah mendengar akun bertajuk @thecentralbankers. Akun itu menarik karena memuat profil pegawai generasi millenial Bank Indonesia. Di akun tersebut, dituliskan peran dan tugas masing-masing pegawai di kantor, dan di sisi lain ditambahkan nuansa personal mengenai hobi maupun ketrampilan mereka. Saya katakan menarik karena melalui akun ini publik bisa melihat gambaran pegawai BI dari sisi lain. Selama ini kesan kaku, konservatif, dan membosankan, kerap menjadi ciri khas pegawai bank sentral. Akun instagram @thecentralbankers mengubah persepsi itu.

Sebenarnya akun @thecentralbankers bukan yang pertama mengangkat profil pegawai generasi millenial di lembaga negara atau pemerintahan. Sebelumnya sempat terkenal akun @gantenggantengdiplomat yang berisikan para diplomat muda Indonesia di berbagai negara. Tentu saja akun-akun seperti itu bukan akun resmi lembaga.

Pertanyaannya adalah, siapa yang membuat akun @thecentralbankers? Pertanyaan ini menggelitik banyak kalangan, terutama di internal Bank Indonesia. Berbagai spekulasi muncul, tapi tak pernah terjawab sehingga terus menjadi misteri.

Saat bertugas di Departemen Komunikasi BI, banyak pertanyaan mengenai akun tersebut yang mengarah ke tempat saya. Mulai dari yang setuju, mendukung, hingga yang tidak setuju dan mengusulkan untuk menutup akun tersebut. Mereka khawatir akan ekses negatif pada lembaga. Saya sendiri tidak tahu siapa yang membuat akun tersebut. Tapi secara personal, dari sisi komunikasi, akun @thecentralbankers adalah sebuah “soft communication channel” yang menarik dan efektif dalam membangun sisi lain bank sentral.

Misteri itu terjawab pada suatu pagi, di awal tahun 2016. Saat itu saya mendapat pesan di telepon genggam. Seorang anak mengenalkan diri. Namanya Rani Lestari. Ia, didampingi seorang kawannya, meminta waktu untuk bertemu. Dari pertemuan itulah, misteri tentang akun @thecentralbankers terjawab, setidaknya bagi saya. Rani mengaku sebagai admin sekaligus pendiri dari akun @thecentralbankers. Ia sengaja membuat akun tersebut karena ingin menampilkan wajah pegawai BI yang profesional dan tetap asyik. Namun ia mulai khawatir ketika mendengar banyak pihak memperbincangkan dan mempertanyakan akun tersebut.

Rani bertanya apakah ia diperkenankan untuk terus mengelola atau sebaiknya menutup akun tersebut. Saya menyampaikan bahwa akun @thecentralbankers adalah sebuah ide yang kreatif. Itu adalah “soft diplomasi” untuk menunjukkan pada publik bahwa anak-anak muda yang memiliki kompetensi, keahlian, dan pengetahuan, dapat bekerja di BI untuk menjaga stabilitas perekonomian. Sayapun meminta Rani untuk meneruskan saja akun tersebut sambil kita lihat bersama perkembangannya ke depan. Namun sambil jalan, saya akan terus memonitor dan memberi masukan. Rani setuju.

Sejak saat itu, Rani nampak semakin bersemangat. Ia mengirimkan beberapa profil usulan pegawai, membuat narasi, dan mengirimkan kepada saya untuk meminta pendapat. Tak banyak yang saya lakukan selain memberi kebebasan pada Rani. Sekali-kali saja saya menambahkan pesan dan masukan, khususnya di sisi peran dan tugas BI.
Tentu saja mengelola akun Instagram itu hanya dilakukan Rani di waktu luang. Sehari-harinya ia termasuk salah satu tulang punggung dalam pengembangan UMKM di Departemen Pengembangan UMKM. Ia melakukan berbagai program, termasuk menginisiasi program kreatif Local Economic Development yang mengangkat berbagai karya anak bangsa.

Kreativitas, ketekunan, dan semangat bekerja dari Rani ini yang menarik minat kami, Mas Imam Subarkah dan saya, untuk mengajak Rani bergabung dalam keanggotaan pengurus Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) 2017-2020. Rani kami ajak untuk mengembangkan komunikasi digital dan kreatif di IPEBI. Saat saya hubungi, Rani terlihat antusias. “Saya akan lakukan yang terbaik mas”, komentarnya.

Rani tak pernah bercerita soal sakit yang dideritanya. Saya baru mendengar kemudian kalau ia menderita penyakit berat yang sulit disembuhkan. Dalam sakitnya, Rani masih sempat mengirimkan WA pada saya. Update beberapa kegiatan, termasuk nasib akun @thecentralbankers.

Beberapa pekan lalu, saya mendengar kalau sakit Rani semakin parah, bahkan ia masuk ke perawatan intensif (ICU) di Rumah Sakit. Keberaniannya menghadapi penyakit diceritakan oleh kawan-kawannya. Ia tak menyerah, dan tetap membangun harapan, bahwa suatu saat ia akan pulih kembali.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Rani berpulang pada 20 Juli 2017. Kita semua seolah tak percaya. Saat orang berpulang, tentu kita selalu menceritakan hal-hal baik tentangnya. Dan saya yakin bahwa semua hal baik yang diceritakan kawan-kawannya tentang Rani adalah benar. IPEBI telah kehilangan seorang pengurusnya yang penuh ide. Bank Indonesia juga kehilangan seorang anak muda yang bekerja penuh semangat. Kita semua kehilangan seseorang yang selama ini selalu menebarkan kebahagiaan, keceriaan, dan kebaikan pada sekitarnya. Akun @thecentralbankers adalah salah satu buah karya Rani yang ditinggalkan pada kita. Semoga kawan-kawannya dapat meneruskan karya itu sebagai tribute untuk Rani.

Beberapa pekan sebelum masuk Rumah Sakit, Rani sempat bepergian ke Jepang. Sepulangnya dari sana, ia sempat membawakan sekantong teh hijau kesukaan saya. “Sebagai obat kangen dengan Jepang mas,” begitu ujarnya saat itu. Kemarin, beberapa hari setelah Rani berpulang, saya membuka satu kantong teh hijau pemberian Rani untuk diminum. Meski perkenalan saya dengan Rani begitu singkat, sambil menyesap kehangatan teh hijau, saya juga menyesap sebuah rasa kehilangan. Kehilangan seorang kawan. Selamat jalan Rani. Beristirahatlah dengan damai di Syurga. Aamiin.

Junanto Herdiawan – Wakil Ketua Umum IPEBI

 

 

 

 

Dari Pengamen ke Penyanyi Profesional di Jepang

Cita-cita Rita naik Ojek di Jakarta akhinya kesampaian

Cita-cita Rita naik Ojek di Jakarta akhinya kesampaian

Sekitar lima tahun lalu, di depan stasiun Ikebukuro Tokyo, saya melihat seorang gadis muda cantik yang sedang mengamen. Suaranya indah dan melengking hingga membuat pejalan kaki yang lalu lalang berhenti untuk menyaksikan penampilan pengamen tersebut. Sayapun terusik untuk lebih tahu. Saat saya mendekat dan mengamati penampilannya, ada satu karton besar bertuliskan huruf kanji Jepang dan huruf latin yang berbunyi, Rita Nishikawa from Indonesia. Wow, rupanya gadis muda itu orang Indonesia. Di situlah awal perkenalan saya dengan Rita Nishikawa.

Lalu kenapa menggunakan nama Nishikawa? Rupanya Rita dilahirkan dari seorang ibu Jepang dan ayah yang asli Padang, Indonesia. Sejak lahir hingga besar, Rita tinggal di Jepang sehingga ia tidak mengetahui banyak tentang Indonesia. Pertemuan lima tahun lalu itu menjadi pertemuan terakhir saya dengan Rita, karena setelah itu saya kembali ke Jakarta. Setelah lima tahun tidak bertemu, kecuali melihat aktivitas masing-masing di sosial media, tiba-tiba beberapa hari lalu Rita Nishikawa mengirimkan email dan mengatakan bahwa ia akan mengunjungi Indonesia. Ia bersama ayahnya akan mengunjungi Padang untuk tampil pada peringatan HUT Kota Padang Pariaman. Setelah dari Padang, Rita mampir di Jakarta. Kamipun bertemu kembali.

Rita kini tampil lebih dewasa dan karirnya sebagai penyanyi di Jepang sudah maju pesat. Di usianya yang saat ini baru 22 tahun, Rita telah tampil di berbagai acara TV Jepang. Ia juga menyanyi bersama di Grup Band Khatulistiwa, yang anggotanya terdiri dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Bersama Khatulistiwa, Rita telah tampil pada berbagai show di televisi Jepang. Kemajuan yang sangat pesat ya.

Rita tampil di HUT Kota Padang Juli 2017

Dari hanya tampil mengamen di pinggir jalan kini Rita telah menjadi penyanyi profesional. Mulai dari tampil di berbagai event, klub atau kafe, maupun berbagai acara televisi Jepang, sekarang menjadi kegiatan sehari-hari Nita Nishikawa di Jepang. Rita juga sempat menjadi backing vocal dari seorang penyanyi terkenal Jepang dari grup Southern All Stars, yaitu Keisuke Kuwata.  Selain itu ia tampil di program televisi Jepang bertajuk “Nodojiman The World” bersama anggota band terkenal SMAP yaitu Nakai Masahiro. Itu adalah satu pencapain yang hebat untuk anak seusia Rita.

Untuk mendengarkan suara emas Rita, kita bisa mencarinya di YouTube ataupun di Soundcloud dengan keyword Rita Nishikawa atau Rita Nyina. Silakan dengar suaranya yang merdu dan melengking. Rita adalah salah satu diaspora Indonesia yang dapat membawa nama harum Indonesia di Jepang. Hampir semua orang yang melihat Rita pasti mengatakan kalau Rita adalah orang Indonesia. Bukan semata karena kulitnya yang tidak seperti orang Jepang, namun karena Rita sering menampilkan lagu-lagu Indonesia yang terkenal di telinga orang Jepang juga, seperti Bengawan Solo misalnya.

Apa harapan dan keinginan Rita ke depan? Pertama, Rita sangat ingin sekali tampil di Indonesia. Ia berharap ada kesempatan untuk dapat tampil di acara-acara nasional di Indonesia, apalagi kalau bisa tampil di televisi Indonesia. Sebagai anak keturunan Indonesia, ia ingin sekali bisa sering datang ke Indonesia dan menghibur pendengar maupun penggemarnya di tanah air. Semoga bisa segera terwujud keinginannya. Kedua, ini keinginan Rita dalam kunjungannya kali ini. Ia ingin sekali mencoba naik Ojek. Sepanjang hidupnya ia hanya bisa mendengar dan melihat bahwa di Jakarta ada ojek, namun belum pernah merasakan. Nah, kalau ini bisa saya bantu. Sayapun segera memesan ojek online dan siap mengantarkan Rita dari daerah Sabang ke Blok M. Senangnya Rita bisa naik Ojek di Jakarta. Semoga sukses untuk Rita!

 

Menjadi Moksa di Ubud

Bersama Chef Made di Restoran Moksa miliknya di Ubud, Bali

Bersama Chef Made di Restoran Moksa miliknya di Ubud, Bali

Mendengar istilah makanan vegetarian, persepsi sebagian besar dari kita adalah cita rasa yang kurang sedap. Bayangan yang muncul adalah hidangan seperti salad atau sayur mayur lainnya yang membosankan. Tapi pandangan itu berubah drastis setelah saya bertemu dengan Chef I Made Runatha yang menemukan seni memasak makanan berbasis tanaman menjadi hidangan yang lezat mendegut liur kita.

Chef Made adalah ahli masak yang telah malang melintang bekerja menjadi chef di berbagai hotel bintang lima, baik di Bali, Beijing, hingga Warsawa. Awalnya ia adalah pemakan segalanya. Namun sejak 15 tahun lalu ia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian. Bukan hanya menjadi vegetarian, iapun seolah mematikan kompornya, menyimpan ovennya, dan mulai membuat olahan makanan yang disiapkan tanpa itu semua, alias makanan “raw” atau berbahan dasar tanaman mentah (uncooked). Chef Made kemudian mendirikan restoran bernama Moksa sekitar 1,5 tahun lalu, di daerah Sayan, Ubud, Bali.

Sungguh sebuah kehormatan bagi kami sekeluarga, yang sedang berlibur di Bali, karena dijamu langsung oleh Chef Made di Restoran Moksa. Menurut Chef Made, Moksa berarti “higher achievement” atau sebuah pencapaian yang lebih baik. Dalam tradisi spiritual, Moksa diartikan sebagai sebuah pencapaian manusia yang bisa mencapai derajat tertinggi sehingga tidak perlu ber-reinkarnasi lagi. Dengan menamakan restorannya Moksa, Chef Made seolah mengajak kita untuk mengubah kebiasaan hidup yang makan segalanya menuju makanan sehat berbasis sayuran. Dengan demikian, kita mencapai tingkatan yang lebih baik dari sisi kesehatan.

Ajakan Chef Made ini bukan sebuah omongan kosong. Ia sendiri sudah membuktikan bahwa sejak beralih menjadi vegetarian sekitar 15 tahun lalu, di usianya yang menjelang 60 tahun ini, ia tak pernah minum obat sebutirpun. Ia juga tak pernah lagi sakit, tidur menjadi lebih nyenyak, dan tubuh terasa sehat. Berat badannyapun ideal. Wow, kelihatannya menarik kan. Tapi tentu ia menyadari bahwa ide makanan vegan itu tidak menarik. Oleh karenanya, Moksa didirikan juga sebagai sarana agar masyarakat bisa mengetahui bahwa makanan vegetarian juga bisa tampil enak.

Sebagai penikmat awal makanan vegetarian, tentu saya masih curiga pada rasa. Chef Made nampaknya memahami kegusaran itu. Oleh karenanya, ia sendiri yang memilihkan menu makanan. Sebagai entree, kami disajikan dua jenis menu makanan, yaitu Sup Moksa Dhal dan Jacfruit Taco. Kedua makanan ini menarik karena umumnya rasa kari dari Dhal dan filling dari Taco menggunakan bahan berbasis hewan. Sup Dhal tampil pertama dan langsung mencengangkan lidah kita. Rasa kari dan kacangnya dominan dan lezat. Taco juga tampil cantik dan di atas ekspektasi kita. Isi taco terasa seperti daging ayam. Ketika kami tanya, menurut Chef Made itu adalah Jackfruit Taco, atau Taco diisi oleh Nangka. Ooooh pantes terasa kenyal seperti daging. A Winner !

Eggplant Rendang atau Rendang Terong

Eggplant Rendang atau Rendang Terong

Hidangan utama yang ditampilkan selanjutnya adalah Rendang Terong (Eggplant Rendang) yang juga mengagetkan kita semua. Irisan terong panggang dijajar rapi mirip seperti irisan daging tipis. Penampilannya menggugah cita rasa. Rasa rendang juga kaya, ada pedas, manis, dan santan kelapa yang gurih. Rendang terong disajikan bersama nasi jenis brown rice yang juga berbahan dasar organik. Dan di tengah kenikmatan ternyata ada juga rasa kimchi di dalamnya, wow, sungguh menambah kelezatan. Ini Juarak !

Hidangan selanjutnya berturut-turut disajikan  adalah Moksa Sampler yang berisi aneka kreasi makanan ukuran kecil, seperti mini lasagna, spring pasta, mini pizza, gado-gado, campuran daun selada, dan sop jamur kuah santan. Semuanya tentu berbahan dasar sayuran. Lalu bagaimana spaghettinya bisa persis bentuknya seperti spaghetti. Rupanya itu dibuat dari parutan bengkoang. Ketika dirasakan barulah terasa kesegaran bengkuangnya. Bagi saya, sop jamur kuah santannya yang paling juara. Kesegaran santan kelapa bercampur dengan aneka jamur terasa menghangatkan badan di tengah sejuknya hawa Ubud.

Tempeh Cesar Salad adalah satu menu lain yang wajib coba. Aneka sayuran salad yang segar organik disajikan bersama tempe cardamom yang dipanggang hingga caramelized. Tempenya juga paduan dari berbagai kacang, seperti chestnut atau kacang mede. Salad disirami kuah saus strawberry dan keju parmesan yang terbuat dari kacang-kacangan. Keju di Moksa dibuat tanpa menggunakan susu hewan, melainkan dari kacang-kacangan. Super sekali. Selanjutnya kami mencicipi  Quesadillas yang juga memiliki citarasa surgawi. Rasa kacang dan sayuran membuat kami harus berkali-kali merem melek terbawa kelezatan alami.

Jangan lupa juga untuk mencicipi aneka juice dan smoothiesnya. Saya mencoba juice berjudul Flu Fighter and Immunity Booster yang merupakan campuran dari asam jawa, wortel, bayam, seledri, parsley, dan bawang putih. Rasanya segar terutama untuk tubuh yang lelah dan rawan terkena flu. Ada juga aneka smoothies, seperti Green Energy yang merupakan campuran dari daun kale, pisang, strawberry, jeruk, korma, nangka, dan spirulina. Atau cicipi juga Anti Aging Smoothies yang merupakan campuran dari buah berry, pisang, madu.

Sebagai hidangan pencuci mulut, Chef Made memilihkan es krim simphony dengan berbagai rasa. Menariknya adalah es krim di Moksa dibuat sepenuhnya berbahan dasar organik dan tanaman, tidak menggunakan krim atau susu dari hewan. Tapi rasanya sungguh luar biasa, ada es krim buah naga, cengkeh, vanilla, dan lainnya. Untuk sajian manis, kami dipilihkan cheesecake yang menggunakan taburan buah delima (pomegranate). Ini lezat dan menutup seluruh sajian secara sempurna.

Mencicipi makanan di Moksa memang seolah membawa kita Moksa menuju pencapaian yang lebih tinggi. Bukan hanya menyenangkan di perut tapi juga menyenangkan di hati. Apalagi kalau makan bersama orang-orang tercinta. Dari Ubud, kami kini punya keyakinan baru bahwa makanan raw dan vegan tidak selalu tampil membosankan, tapi bisa juga tampil penuh kreasi dan dibuat secara sederhana. Kalau ke Ubud, silakan mampir ke Moksa.

Salam sehat.