Krisis Paruh Baya Gundam

Gundam RX-78-2 di Odaiba, April 2012 / photo Junanto

Ada dua ikon terkenal Jepang yang selalu saya ingat sejak kecil. Pertama, Godzilla. Dan kedua, Gundam. Bagi pria seumuran saya, Gundam adalah super hero. Saat kecil dulu, saya tak pernah melewatkan film kartun seri Gundam. Dulu judulnya “Mobile Suit Gundam”, dengan tipe robot  RX-78-2.

Oleh karena itu, saat Gundam Front, sebuah taman bermain dengan tema Gundam, dibuka di Odaiba Tokyo, 19 April 2012 lalu, para pecinta Gundam seolah mendapat kesenangan yang luar biasa. Saya menyempatkan waktu untuk mampir ke sana guna mendapatkan suasana Gundam di akhir pekan.

Setiba di DiverCity Tokyo Plaza, sebuah kompleks mall komersial yang juga tempat Gundam Front Tokyo berada, saya menyaksikan Patung Gundam ukuran “life size” setinggi 18 meter berdiri tegak. Patung, yang berciri khas warna biru, kuning, merah, dan putih ini, pada tahun 2009 lalu pernah didirikan di daerah Odaiba, lalu dipindahkan ke Shizuoka, dan kini kembali berdiri tempat di DiverCity, Tokyo. Patung dan tempat bermain Gundam dikelola oleh Bandai Co, perusahaan yang melahirkan Gundam.

Sebagian besar pengunjung yang datang dan berpose di patung Gundam tadi adalah para pria atau wanita paruh baya. Rata-rata umur mereka sekitar 40 tahunan. Banyak yang mengenang masa kecilnya dengan melihat Gundam ukuran raksasa.

“Mobile Suit Gundam” memang memulai debutnya di Jepang dengan 43 episode yang ditayangkan di televisi antara April 1979 hingga Januari di tahun berikutnya. Sejak itu, Gundam menjadi sebuah ikon global bagi dunia animasi dan robot. Penjualan model robot, video games, kompilasi DVD untuk Namco Bandai Holding telah mencapai 45 miliar Yen setiap tahunnya. Gundam juga menjadi inspirasi bagi lahirnya robot-robot generasi baru, seperti Transformer.

Di usianya yang ke-33, Gundam sendiri juga seperti sedang memasuki usia paruh baya. Penjualannya di seluruh dunia mulai menghadapi tekanan, terutama dari pesaing-pesaingnya. Gundam seolah mengalami masalah eksistensi. Dibangunnya taman bermain dan patung Gundam ukuran besar di Odaiba ini seperti sebuah penanda bahwa Gundam masih eksis dan tetap hidup di hati masyarakat Jepang dan para penggemarnya di seluruh dunia.

Gundam Front ini juga dibangun untuk menarik hati para penggemar-penggemar muda. Oleh karena itu, banyak fasilitasnya dibuat dengan tekhnologi hi-tech yang menarik.

Atraksi utama dari Gundam Front adalah Dome-G yang menampilkan gambar-gambar dinamis dari seri Gundam yang dibuat dengan seni grafis komputer dan ditayangkan ke layar dome berdiameter 16 meter.

Di area Experience, para pengunjung dapat menyaksikan aneka model Gundam, seperti 1/1 Core Fighter Ver GFT dari seri pertama, dan 1/1 Strike Freedom Gundam versi GST yang ada di seri Seed Destiny.

Dan yang paling menyenangkan adalah GunPla, atau arena pameran yang memuat  lebih dari 1000 model plastik Gundam dari awal lahirnya hingga sekarang. Kita seolah diajak menapaki perjalanan Gundam dari lahir hingga sekarang.

The Genealogy of Gundam at GunPla / photo Junanto

Informasi di tempat ini juga sangat membantu apabila kita tidak bisa berbahasa Jepang, karena tersedia pula dalam bahasa Inggris, Cina, dan Korea. Tiket dapat dibeli secara online di website Gundam Front, Tokyo.

Gundam Café, yang merupakan café kedua di Tokyo setelah di Akihabara, juga dibuka di lokasi yang sama. Para pengunjung dapat mencicipi aneka hidangan dan makanan dengan tema Gundam.

Bagi saya, dan juga penggemar Gundam lainnya, Gundam bukan hanya sekedar animasi. Ia adalah sebuah kisah tentang kehidupan. Dalam film Gundam, kita diajarkan bahwa hidup tak pernah selamanya hitam putih. Banyak sekali wilayah abu-abu di dalamnya.

Kadang kita harus bijaksana dalam memilih jalan hidup. Kebijaksanaan itu adalah inti dari kemanusiaan, bahwa manusia harus mampu berubah dan beradaptasi dengan segala perubahan dan dinamika hidup, tanpa harus mengorbankan prinsip utamanya. Gundam mengajarkan itu semua.

Yoshihuki Tomino, pencipta robot Gundam, juga mengatakan bahwa di usianya yang ke-33, Gundam ingin mengingatkan pentingnya kita mencintai lingkungan hidup. Musuh besar Gundam, yang berasal dari planet lain, melakukan invasi ke bumi karena planetnya telah tercemar polusi. Di sini kita diajarkan untuk juga mencintai lingkungan kita, mulai dari buang sampah hingga melestarikan tanaman dan lingkungan.

Didirikannya Gundam ukuran besar di Tokyo ini dapat pula diartikan sebagai sebuah simbol akan tetap berseminya harapan dan inspirasi bagi umat manusia.

Salam Gundam. The Sky is Falling !!

Gundam Cafe at Odaiba / photo junanto

Guardian of the Earth

One thought on “Krisis Paruh Baya Gundam

  1. Setelah Star Wars dan Star Trek, Gundam merupakan kisah SciFi yg menurut sy paling logis dan mungkin terjadi. Star Trek sdh mulai terlihat aplikasi nya di dunia nyata spt handphone, iPad dll. Untuk konsep mobile suite Gundam kita sdh liat di film ALIEN 2 yg diperankan oleh Sigourney Weaver pd saat melawan mother Alien di kapal induk Sulaco, Exosuit cargo loader adalah alat angkut berat yg dikendalikan oleh manusia dg jln memakainya. Kesamaan inilah yg membuat sy yakin Gundam suatu saat akan lahir di dunia nyata. Karena sistem robotik yg mengikuti mekanisme otot manusia sudah dibuat dalam tahap prototipe baik untuk kesehatan, industri bahkan untuk militer. di game Ghost Recon yg didisain oleh Tom Clancy sudah memperlihatkan kemungkinan itu terjadi. hanya masalah waktu saja ukurannya pun dibuat dengan skala yg jauh lebih besar. Sooo….untuk anak sy yg tergila-gila dg sistem robotik dan mau sekpolah di Jepang…insya Allah dia akan menjadi generasi yg bisa menyaksikan Gundam melakukan First Flight nya.
    Mudah2an tidak didisain untuk menjadi mesin tempur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 8 = 14

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>