Kisah Pak Musa: Mensyukuri Hidup Lewat Traveling

bersama pak Musa

Bersama pak Musa

Sebagai orang yang menganggap diri lumayan banyak melakukan perjalanan, saya merasa malu saat bertemu dengan Pak Musa Anshory. Sebuah pertemuan yang kebetulan, tapi mampu mengubah dan menambah kaya wawasan saya tentang kehidupan. Kami duduk bersebelahan di pesawat dari Jakarta menuju Abu Dhabi. Dari Abu Dhabi, Pak Musa akan melanjutkan perjalanannya menuju London. Melihat dari perawakannya, Pak Musa terlihat masih semangat meski tak bisa menutupi usia uzurnya. Saat saya tanya berapa usianya, ia berkata, 84 tahun! … Di situlah kisah panjang kehidupan yang membuka mata saya dimulai.

Pak Musa mungkin bukan siapa-siapa. Selama 40 tahun ia pernah mengabdi di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London sebagai staf lokal. Tak banyak muncul dan terlihat. Ya, katanya, saya bukan siapa-siapa. Tapi pak Musa bisa bangga, karena meski ia bukan siapa-siapa, sekarang ke mana saja ia pergi selalu dihormati. Kalau pergi ke Indramayu, kampung kelahirannya, hampir semua anak muda mencium tangannya. Di London, tempat tinggalnya sekarang, ke manapun pergi selalu diberi hak istimewa, duduk diprioritaskan, mengantri didahulukan. “Ya, karena saya tua hehehe”, ujarnya sambil terkekeh. Kata-katanya betul, tapi saya paham, tidak semua orang tua bisa begitu saja mendapatkan penghormatan. Pasti ada sesuatu yang membuatnya memiliki aura atau pesona sehingga “respect” itu datang.

Kisah itupun dimulai. Berawal dari tahun 1956, Musa muda telah mencoba merantau ke luar negeri. Ia mengawalinya dengan mengambil kuliah di Al Azhar Kairo, Mesir. Usai kuliah ia menaiki sepeda berkeliling jazirah Arab, Afrika, dan Eropa. Ia berkelana hingga Yerusalem, Palestina, Syria, Turki, Eropa Timur, hingga kemudian berhenti di Jerman. Saat Olimpiade Italia tahun 1960, Musa berada di sana dan sempat dimuat di salah satu koran lokal. Saat itu ada seorang wartawan yang tertarik dengan kisah perjalanan sepeda dari Mesir ke Italia. Musa sempat tinggal di Muenchen, Jerman, selama lebih dari lima tahun. Di sana ia bekerja di pabrik mobil Ford. Dubes RI untuk Jerman saat itu sempat memanggilnya karena membaca artikel di koran Italia tentang perjalanan sepeda Musa.

Dari Jerman, Musa meneruskan kehidupan ke London. Sejak tahun 1970, ia menetap di London dan bekerja di KBRI. Sepanjang bekerja di London, perjalanan kehidupan melalui traveling tetap dilakukan Pak Musa. Baginya, travel adalah satu cara mensyukuri kehidupan. Dengan bertemu banyak orang, banyak tempat, ia bisa merasakan kebesaran Tuhan. Terus, uangnya dari mana pak? Dari Allah!, begitu jawabnya mantab. Rejeki itu datang dari Allah, kata Pak Musa. Kalau kita yakin dan optimis, insyaalah akan ada. Meski bekerja sebagai pegawai staf lokal, Pak Musa sudah punya dua rumah di London. Ia punya mobil Mercedes Benz dan Rolls Royce. Di Indramayu, kampung halamannya, ia juga punya rumah dan ruko. Alhamdulillah. Anak-anaknya juga sudah besar dan bekerja di London. Ia memiliki tiga orang anak. Kata pak Musa, “Robbana attina fi dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah”. Ia mengatakan bahwa di dunia ini sudah banyak diberikan “hasanah”, atau kebaikan. Ia selalu bersyukur untuk itu.

Apa rahasianya sih pak bisa panjang umur dan tetap traveling begini? Jawabnya, Sabar dan Pasrah. Kehidupan ini punya banyak masalah, tak bisa semuanya kita selesaikan. Untuk itu kita harus sabar, bersyukur, dan pasrah. Betul sekali. Pesan yang sederhana, tapi tentunya kita juga tahu, itu bukan hal yang mudah. Butuh konsistensi dan keyakinan. Semoga kita bisa belajar dari pengalaman hidup pak Musa. Sungguh sebuah pengalaman!

Salam