Review Film: Teka Teki Moral The Exception

Adegan dalam Film The Exception / source : The Hollywood Reporter

Adegan dalam Film The Exception / source : The Hollywood Reporter

Setting film berlatar belakang Perang Dunia ke II selalu menarik perhatian saya. Di berbagai film tersebut saya dapat melihat berbagai dimensi yang diangkat pada saat Eropa berada dalam kekacauan akibat perang. Tak terkecuali di film The Exception. Film yang dilatari dari novel karya Alan Judd ini membidik kisah menarik dari tradisi kuno Eropa. Terlepas dari plot ceritanya yang berisi ketegangan, melodrama, dan bumbu seks di ranjang, The Exception mengangkat periode awal sebelum tragedi dan horor PD II dimulai oleh Nazi.

Kisah film ini berkisar seputar masa-masa akhir Kaisar Prussia (yang kekuasaannya melingkupi Jerman) terakhir, yaitu Kaisar Wilhem II (Christoper Plummer) dan istrinya (Janet McTeer) saat berada dalam pembuangan di Belanda. Kaisar disingkirkan saat  Adolf Hitler dan Partai Nasional Sozialist-nya berkuasa di Jerman. Namun Hitler masih tetap mempertahankan kehidupan dan keberadaan Kaisar Wilhelm dengan tujuan agar ia dapat membongkar konspirasi dan kekuatan-kekuatan yang masih berada di sekitar Kaisar tersebut. Plot selanjutnya di film tersebut adalah tentang Kapten Brandt (Jai Courtney), perwira Jerman yang ditugaskan mengawal (dan memata-matai) Kaisar, dengan Mieke De Jong (Lily James), pelayan muda cantik yang bekerja di istana “pengasingan” Kaisar. Mieke, yang kerap menemani Kaisar memberi makan bebek, sambil sesekali sang Kaisar menggodanya, memiliki hubungan gelap dengan Brandt.

Hubungan Brandt dan Mieke, yang digambarkan dengan beberapa adegan ranjang sensual, menjadi poros cerita film ini. Masalahnya menjadi rumit ketika Brandt mengetahui bahwa Mieke adalah seorang Yahudi. Apakah Mieke menjebak Brandt? Atau Brandt mengeksploitasi Mieke? Atau mereka hanya dua orang dewasa yang digerakkan oleh libido? Pertanyaan tersebut menjadi menarik dalam plot film The Exception.

Adegan Mieke dan Brand di The Exception / source from teaser-trailer.com

Adegan Mieke dan Brand di The Exception / source from teaser-trailer.com

The Exception adalah cerita tentang Pengecualian. Mieke de Jong, yang notabene seorang pelayan, di film itu digambarkan sebagai orang yang mengagumi filsuf Jerman, Friedrich Nietzche. Buku Nietzche yang berjudul “Beyond Good and Evil” menjadi bacaannya, yang di akhir perang kemudian buku ini dikirimkannya pada Kapten Brandt.

Kapten Brandt adalah tipikal orang yang memiliki kekecualian. Sebagai seorang perwira Jerman, Brandt adalah seorang patriot. Ia sadar akan tugas dan kewajibannya dalam membela negara. Namun ia juga seorang manusia yang tidak bisa menerima kekejaman dan kesadisan tentara SS saat ia turun di medan perang Polandia. Dalam hatinya ia mengutuk kejahatan perang. Baginya, negara Jerman dan militer Jerman seharusnya memiliki kehormatan dan kepantasan dalam berperang, bukan dengan melakukan genosida pada anak-anak. Mieke melihat sifat ini dalam diri Kapten Brandt, dan mencoba meyakinkan bahwa keyakinan Brandt itu benar. “They are the rule,” kata Mieke, “You are the exception.”

Inilah apa yang dimaksud oleh Nietzche dalam bukunya Beyond Good and Evil. Kita perlu untuk dapat melihat sebuah peristiwa atau sikap. Apa yang terlihat bagus atau jahat, perlu didalami lebih jauh lagi, karena itu akan tergantung pada berbagai variabel. Apakah itu ideologi, keyakinan, peraturan, ketentuan, atau suara hati. Melakukan pembantaian dan pembunuhan pada orang atau kaum yang dianggap liyan, mungkin bisa dianggap benar dilihat darii satu keyakinan agama atau politik. Tapi suara hati bisa mempertanyakan apakah keputusan itu baik.

Kita melihat dunia saat ini diwarnai oleh berbagai ketegangan dan saling penghancuran. Saling membenci dan menebar ujaran kebencian. Satu kelompok merasa benar dan menganggap yang berbeda itu salah tanpa saling menghormati. Kita begitu mudah marah dan menebar kebencian pada kelompok lain yang berbeda. Semua tentu memiliki alasan yang terlihat baik, bisa dari sisi kepentingan politik, agama, ataupun kebenaran suku dan ras. Tapi apakah itu betul-betul baik?

Film The Exception seolah mengingatkan kita bahwa di balik apa yang tampak dan apa yang banyak orang yakini, kita bisa jadi pengecualian apabila mau mendengar suara hati. Tentu hal ini bukan sebuah langkah mudah, apalagi di tengah kehidupan dunia yang penuh cobaan dan godaan. Tapi mari kita berusaha untuk menjadi orang baik, orang yang dikecualikan. The Exception.

Salam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 4 = 6

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>