Lulusan MIT, Tapi Pilih “Jualan” Sepatu

Bersama Pak Ali Tanuwidjaja (paling kanan), di showroom sepatu yang terletak di pabriknya.

Bersama Pak Ali Tanuwidjaja (paling kanan), di showroom sepatu yang terletak di pabriknya.

Banyak pihak yang khawatir kalau Indonesia tidak akan mampu bersaing saat diberlakukannya Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA) 2015. Tapi bagi Pak Ali Tanuwidjaja, Indonesia bukan hanya mampu, melainkan sanggup menjadi pemimpin pasar, khususnya di bidang alas kaki. Pak Ali tentu tidak main-main dengan ucapannya. Ia adalah pemilik PT Karyamitra Budisentosa, produsen sepatu kelas dunia, yang 97 persen produknya diekspor ke luar negeri.

Saya bertemu dengan Pak Ali di pabriknya yang terletak di wilayah Pasuruan, Jawa Timur. Di sana, saya diajak melihat proses pembuatan sepatu di pabriknya yang seluas 5 hektar. PT. Karyamitra khusus memproduksi sepatu perempuan. Bukan hanya sembarang sepatu perempuan, melainkan sepatu perempuan brand kelas dunia.

Pak Ali memproduksi sepatu perempuan  seperti Prada, Aigner, Rotteli, Geox, dan berbagai merek lainnya. Jadi, sepatu branded itu, yang dijual di butik-butik terkenal Eropa, diproduksi di Pasuruan. Wah mengagumkan.

Pasar ekspornya mencakup Singapura, Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swiss, AS, Inggris, Jepang, Rusia, Belgia, Hong Kong dan Taiwan. Dalam setahun ia memproduksi sepatu sebanyak 2,5 juta pasang. Untuk pasar lokal, sejak 1996, Karyamitra mengeluarkan sejumlah merek, yaitu Rotelli, Gosh dan Bellagio.

Tapi ada satu hal yang menarik dari Pak Ali. Latar belakang pendidikan dan pekerjaannya sangat tidak sejalan. Ali Tanuwidjaja adalah lulusan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), salah satu universitas top di Amerika Serikat, Jurusan Aerospace Engineering.  Ia pernah bekerja di Boeing dan memiliki keahlian khusus di bidang helikopter. Katanya, dulu Pak Habibie pernah memanggilnya dan memintanya meneruskan cita-cita membuat pesawat di Indonesia.

Jalan hidup dan suratan nasib kadang tidak berjalan lurus. Pulang ke Indonesia, pada tahun 1991, Pak Ali justru memulai usaha membuat sepatu. Ia memulai usaha dari nol. Awalnya tidak tahu sama sekali seluk beluk membuat sepatu. Ia hanya punya satu cita-cita, bagaimana bisa memberikan nilai tambah terhadap bahan yang banyak tersedia di tanah air, dan bagaimana bisa menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

Pak Ali kemudian memanggil pembuat-pembuat sepatu home industry dan belajar dari mereka. Dari situlah ia yakin bisa menjalankan bisnis sepatu. Dalam industri sepatu, Ali meyakini bahwa pemahaman akan hal detail sangatlah penting. Kalau orang memilih baju, beda 5 milimeter saja tidak jadi masalah. Tapi kalau sepatu, itu jadi masalah. Untuk itulah ia menjaga betul hal-hal detail dalam proses produksi sepatu. Mulai dari fittingnya, kecocokan bentuk kaki, harga, hingga selera pasar.

Kemampuan untuk memahami hal detail inilah yang menarik hati merek-merek sepatu internasional untuk membuat sepatunya di PT Karyamitra.  Pak Ali kemudian mampu menembus pasar Eropa. Kita tentu mengetahui kalau kiblat mode sepatu perempuan adalah Eropa. Oleh karenanya, saat pak Ali mampu menembus pasar Eropa, order langsung datang bertubi-tubi.

Sejumlah strategi sudah dipikirkan Pak Ali dan timnya untuk menembus pasar global. Salah satu uang dilakukan adalah upaya mereka untuk memenuhi standar internasional ISO 9001 (Quality Management System). Perusahaannya juga harus mengikuti setiap peraturan yang diberlakukan di negara tujuan, seperti berbagai sertifikat uji standar internasional.

Apa yang membuat produksi sepatu dari Indonesia unggul? Menurut Pak Ali, kulit sapi Indonesia, sebagai bahan baku pembuat sepatu, adalah yang terbaik di dunia. Hal ini diakui oleh AS, China, dan Eropa. Oleh karenanya, para pengusaha sepatu dari Tiongkok selalu berupaya membeli pasokan kulit lokal dari Indonesia. Nah, hal inilah yang membuat pasokan kulit untuk pasar domestik berkurang. Beberapa pengusaha penyamakan kulit mengolah kulitnya sebentar, sehingga bisa mengekspor kulit tersebut ke luar negeri.

Karena itulah, menurutnya, Karyamitra berusaha mempertahankan hubungan baik dengan para pemasok bahan baku. Saat ini pasokan bahan baku kulit Karyamitra ada yang dari pemasok lokal, yakni PT Rajawali Tanjungsari (Jawa Timur), PT Sayung Adhimukti (Jawa Tengah), PT Budi Makmur (Yogyakarta), dan perusahaan dari Cianjur. Sementara sisanya masih ada yang diimpor untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Kendala lain bagi industri sepatu di tanah air adalah kurangnya industri pendukung, seperti pembuat hak sepatu, sol sepatu, dan sebagainya. Karyamitra masih menghadapi kesulitan memperoleh SDM yang mengerti perkulitan. Untuk memperkuat riset dan pengembangan di perusahaannya, Pak Ali merekrut lulusan Akademi Teknik Kulit Yogyakarta. Namun jumlah mahasiswa akademi tersebut dalam 10 tahun terakhir ini semakin menurun prestasinya. Pak Ali pun merancang program beasiswa bagi mahasiswa ATK berprestasi yang dijamin dapat bekerja di perusahaannya.

Kini, PT Karyamitra telah memiliki karyawan lebih dari 5 ribu orang. Sebagian besar karyawannya adalah kaum perempuan. Nah, selain memperluas kesempatan kerja, juga mengangkat peranan ekonomi kaum perempuan. Saat saya tanya, apakah ia tidak menyesal keluar dari industri pesawat di luar negeri, yang tentunya menjanjikan uang dan kenyamanan hidup, Pak Ali berkata, ia tak pernah menyesal.

Katanya, “Hidup ini bagi saya yang terpenting adalah memberi manfaat bagi orang banyak. Di Pasuruan ini, saya bisa memberi pekerjaan pada ribuan orang. Kalau bekerja di luar negeri, manfaatnya hanya buat saya saja. Jadi saya memilih yang pertama”.

Bagi saya, pak Ali ini juga adalah seorang nasionalis. Upayanya memilih jalur sepatu khusus untuk ekspor, menunjukkan semangat nasionalismenya untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia global melalui produk-produknya.

Semoga semakin banyak pengusaha yang memiliki idealisme dan semangat seperti Pak Ali Tanuwidjaja dan PT Karyamitranya. Pada gilirannya nanti, produk-produk Indonesia akan mampu menembus pasar global.

Salam

Robohnya Sinagog Yahudi di Surabaya

Suasana di dalam Sinagog Surabaya / photo from google.com

Suasana di dalam Sinagog Surabaya / photo from google.com

Pekan lalu, saya bertemu dengan Pak Freddy Istanto, Direktur Surabaya Heritage Society. Kita berdiskusi panjang tentang kekayaan heritage, atau bangunan bersejarah, yang ada di Surabaya.

Surabaya memang terkenal memiliki banyak bangunan bersejarah. Perjalanan panjang sebagai kota dagang di zaman kolonial, melatarbelakangi berdirinya berbagai bangunan tersebut. Sayangnya, saat ini banyak bangunan bersejarah yang terbengkalai. Masih lumayan kalau hanya terbengkalai, sebab banyak pula yang sudah dirobohkan dan diganti dengan ruko atau tempat perbelanjaan.

Dari pak Freddy pula saya mendengar bahwa Surabaya memiliki satu-satunya bangunan sinagog bersejarah di Indonesia. Sinagog adalah tempat ibadah agama Yahudi. Lokasinya di Jalan Kayon no 4-5, Surabaya. Memang tidak banyak orang yang mengetahui bahwa bangunan berarsitek Eropa yang ada di jalan tersebut, adalah tempat ibadah agama Yahudi.

“Dari luar, bangunan tersebut tampak seperti rumah biasa”, imbuh pak Freddy. Satu hal yang membedakan adalah terdapatnya logo Bintang Daud dan tulisan Ibrani di pintu masuk depan. Bangunan itu awalnya adalah rumah yang ditinggali oleh seorang dokter keturunan Yahudi Belanda. Pada tahun 1939, (beberapa sumber mengatakan tahun 1948), rumah tersebut diubah fungsinya menjadi Sinagog.

Sayangnya, kata pak Freddy, bangunan itu sudah dirobohkan sekarang. Sudah  rata dengan tanah. Kabarnya tanah dan bangunan itu dibeli oleh sekelompok pengembang dan akan didirikan bangunan baru di sana.

Kalau sinagog tersebut termasuk dalam bangunan cagar budaya, tentu pembongkaran bangunan bersejarah patut disayangkan. Berdasarkan UU No 11 tahun 2010, Pasal 104 dan 105, bangunan yang termasuk cagar budaya dilarang keras dibongkar, dan ada denda bagi siapapun yang berusaha membongkarnya.

Sinagog Yahudi, kini rata dengan tanah /  photo by NX300

Sinagog Yahudi, kini rata dengan tanah / photo by NX300

Memang, beberapa waktu lalu sempat ada aksi demonstrasi dari kelompok masyarakat untuk memprotes aksi Israel di Palestina. Mereka membakar bendera Israel dan mengibarkan bendera Palestina di Sinagog tersebut. Setelah itu, bangunan sinagog sempat disegel Pemerintah Kota.

Namun, menurut informasi dari beberapa kalangan, aktivitas sinagog tersebut sudah lama sepi. Hanya ada sekitar 10 orang Yahudi di Surabaya yang masih secara rutin beribadah di sana. Itupun sangat jarang. Tidak ada Rabbi atau Pendeta Yahudi, tidak ada persembahyangan (karena jumlahnya jamaah terlalu sedikit), dan tidak ada kitab Taurat di dalamnya.

Saya sempat lewat ke lokasi Sinagog tersebut dan melihat bangunannya sudah rata dengan tanah. Dari hasil bincang-bincang dengan petugas parkir dan beberapa orang yang sudah lama tinggal di sana, rumah itu terakhir ditinggali oleh seorang warga Belanda keturunan Yahudi, dan satu keluarga Indonesia. Namun, karena sudah semakin tua dan sakit-sakitan, warga Belanda tersebut pindah ke rumah lain. Yang tersisa adalah seorang ibu, yang konon keturunan Yahudi dari garis ayahnya. Entah di mana saat ini keberadaan dari ibu tersebut dan keluarganya.

Bangunan sinagog di jalan Kayon Surabaya itu sebenarnya menjadi sebuah saksi sejarah penting tentang persentuhan Yahudi dengan Indonesia di masa lalu. Meski saat ini Indonesia tidak mengakui Yahudi sebagai agama resmi, keberadaan bangunan tersebut menjadi bukti bahwa di masa lalu bangsa Indonesia pernah hidup berdampingan dengan bangsa Yahudi.

Ditilik dari perjalanan sejarah, kedatangan kaum Yahudi di Surabaya sudah terjadi sejak abad 19. Saat itu banyak Yahudi Belanda yang bekerja di perusahaan kolonial. Setelah itu, mulai berdatanganlah beberapa anggota komunitas imigran dari Irak atau Yaman.

Di masa Pemerintahan Belanda di Indonesia, Agama Yahudi diakui sebagai agama resmi. Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaannya, hak penganut Yahudi juga sempat disamakan dengan agama lain, melalui surat keputusan Menteri Agraria yang dirilis pada tahun 1961.

Bagi mereka yang mempelajari perjuangan arek-arek Suroboyo pada peristiwa 10 November 1945, tentu ingat dengan tokoh Charles Mussry. Ia adalah Yahudi Surabaya yang saat itu bahu membahu membantu arek Suroboyo untuk mengusir Belanda.

Sejarah memang penuh kisah menarik. Dari sejarah pula, kita bisa merenung dan belajar banyak. Presiden Soekarno mengingatkan kita agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Karena bangsa yang besar adalah mereka yang belajar dari sejarah pendahulunya. Dan salah satu wahana penting dalam mempelajari sejarah adalah dari berbagai bangunan bersejarah yang ada.

Terlepas dari pro kontra yang muncul, sungguh amat disayangkan kalau bangunan-bangunan itu dirobohkan.

Anak Tulungagung Mampu Tembus Komik Dunia

Beberapa Komik terbitan DC Comics yg sketsanya dikerjakan Ardian / photo junanti by Samsung NX300

Beberapa Komik terbitan DC Comics yg sketsanya dikerjakan Ardian / photo junanti by Samsung NX300

Indonesia harus bangga. Dan, menjadi orang Indonesia juga harus terus bangga. Pekan lalu saya bertemu langsung dengan mas Ardian Syaf, yang figurnya kerap ditulis oleh beberapa media. Ardian ini memberikan secercah lagi harapan bagi masa depan generasi muda Indonesia. Ia adalah komikus dari Desa Tenggur, Tulungagung, yang karyanya telah menembus industri komik dunia. Saat ini, ia dikontrak eksklusif oleh DC Comics di Amerika Serikat, yang menerbitkan ragam komik superhero seperti Batman, Green Lantern, atau Cat Girl.

Ardian datang ke Surabaya untuk tampil di ajang expo “Jatim Kreatif” yang diselenggarakan oleh Perbankan se-Jatim. Expo itu mengangkat aneka kreatifitas yang dimiliki Jawa Timur. Untuk bisa bersaing dengan dunia global dan pasar bebas ke depan, kekayaan alam tak lagi bisa jadi modal. Kreatifitas dan Inovasi adalah kunci. Itulah semangat yang dibawa dari Expo tersebut.

Ardian salah satunya. Ia memulai karyanya dari nol, bahkan tak dilirik orang. Lulusan Universitas Negeri Malang Angkatan 1998 ini memang punya cita-cita menjadi komikus sejak kecil. Setelah lulus kuliah, ia mengirimkan karya-karyanya ke beberapa penerbit dan media cetak di Jakarta. Namun jawabannya selalu mengecewakan. Ia ditolak banyak penerbit lokal.

Aridan bukan tipe yang mudah menyerah. Meski sedih karena karyanya ditolak, ia malah makin semangat mengirimkan karyanya. Kali ini ia iseng-iseng mengirimkan ke luar negeri. Melalui salah satu situs di internet, ia memasang galeri untuk meawarkan desain komiknya.

Mulailah ia dilirik oleh beberapa penerbit asing. Mulai dari penerbit independen, hingga Marvel dan DC Comics. Saat ini, ia dikontrak ekslusif sebagai pembuat sketsa (penciller) oleh DC Comics dengan bayaran 300 dolar AS per lembar. Dan umumnya, ia bisa mengirim hingga ratusan lembar per bulannya. Bayangkan nilai kontraknya kan.

Bersama Ardian, dan pak Andy dari BI Kediri

Bersama Ardian, dan pak Andy dari BI Kediri

Saat berbincang dengan Ardian, saya menangkap semangatnya untuk terus mengembangkan dunia komik Indonesia. Ia bercita-cita membangun industri komik di Indonesia. Namun ia menyayangkan bahwa industri komik di tanah air masih belum berkembang dan dilirik sebelah mata. Padahal anak-anak muda Indonesia banyak yang memiliki karya bagus, bahkan sudah dipakai di dunia internasional.

Di Tulungangung, Ardian berterima kasih pada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, yang selama ini menjadi mitra bagi pengembangan usahanya. Hadir pada kesempatan itu, pak Andy dari BI Kediri yang selama ini menjadi sahabat untuk berkonsultasi mengenai banyak hal, khususnya pengembangan usaha.

Kreatifitas adalah kunci. Namun kita juga menyadari bahwa industri kreatif di negeri ini belum optimal. Belum ada strategi nasional yang nyata untuk mengembangkan atau mengarahkan “soft skill” anak-anak muda kita. Jepang dan Korea Selatan bisa menjadi contoh bagaimana pemerintah menjadikan “soft power” sebagai penghasil devisa yang besar.

Mudah-mudahan ke depan, semangat anak muda seperti Ardian ini tidak luntur. Dan kita akan semakin banyak memiliki anak-anak muda yang kreatif.

Bila itu terjadi, bukan tak mungkin “soft power” Indonesia akan diakui dunia global.

Pak Tua Soba dan Dedikasi Kehidupan

Pak tua Suzuki dan istrinya di warung soba milik mereka / photo junanto

Tak jauh dari tempat saya tinggal, ada satu warung Soba sederhana. Pemiliknya adalah Pak tua Suzuki. Usianya sekitar 70 tahun. Setiap hari saya melewati warungnya, baik saat berangkat ataupun pulang bekerja. Saat lewat di depan warung Soba itu, saya dapat menghirup aroma harum dari kuah soba buatan pak Suzuki. Selama tiga tahun tinggal di Tokyo, saya kerap mengunjungi warung itu untuk mencicipi Soba hangat ataupun Soba dinginnya.

Satu hal yang membuat saya suka dengan warung itu adalah kehangatan personal dari Pak Suzuki.  Usai menyajikan soba, ia biasanya duduk di salah satu kursi di pojok warungnya, sambil membaca koran. Sembari makan soba, saya kerap ngobrol-ngobrol dengannya. Kitapun jadi saling mengenal.

Pak Suzuki masih membuat sendiri sobanya setiap hari. Kalau pagi tiba, ia meracik tepung soba hingga menjadi adonan soba. Adonan itu ia iris-iris sehingga menjadi potongan mie soba.

Selama lebih dari 40 tahun lamanya, pak Suzuki membuat soba. Di warungnya, ia dibantu istri dan satu stafnya. Ia juga masih naik motor untuk mengantar soba ke pelanggan-pelanggannya. Ya, warung soba pak Suzuki juga memberikan layanan “delivery” untuk pelanggan di sekitar wilayahnya. Dengan motor tuanya, ia membawa soba ke rumah para pelanggannya.

Sesekali, saya bertemu Pak Suzuki sedang mengendarai motornya untuk mengantar soba.

“Konnichiwa!”, begitu ia selalu berteriak dengan semangat kalau berpapasan dengan saya di siang hari.

Cinta Suzuki-san dalam semangkuk soba / photo junanto

Melakukan pekerjaan dengan “passion” dan serius adalah ciri dari kebanyakan orang Jepang. Pak Suzuki mengatakan pada saya bahwa “bekerja itu mulia”. Apapun pekerjaan itu, harus kita lakukan dengan sepenuh hati.  Persis apa yang dikatakan Confusius, “Wherever you go, go with all your heart”.

Bagi pak Suzuki, bekerja bukanlah sekedar mencari untung, apalagi ingin menjadi kaya. Ia membuktikan bahwa membuat soba adalah dedikasinya pada kehidupan. Saat meracik soba, ia bagai seorang maestro. Ia bagai Shakespeare dengan Othello-nya, Nietzche dengan Uebermensch-nya, Da Vinci dengan Monalisa-nya, terlihat orkestratik, takzim, dan khusyuk.

Di Jepang, saya jarang sekali melihat restoran yang menyajikan aneka ragam makanan. Umumnya mereka fokus hanya pada satu menu, soba saja, udon saja, sushi saja, atau tempura saja.Hal itu membuktikan bahwa kesetiaan, dedikasi pada pekerjaan, menjadi jauh lebih penting dalam kehidupan mereka, ketimbang keuntungan semata.

Ada peribahasa Jepang yang mengatakan “Mochi wa Mochiya”. Pepatah itu secara harfiah berarti “Untuk mencari mochi terbaik, pergilah ke tukang mochi”. Esensinya adalah seseorang harus melakukan sesuatu secara serius hingga mencapai keahlian.

Kecintaan dan keseriusan pada pekerjaan itu, membuat saya jarang sekali mendengar orang Jepang yang mengeluh pada pekerjaannya. Meski ia “hanya” tukang parkir, supir bis kota, ataupun pemilik warung soba, semuanya bangga pada pekerjaannya. Bekerja itu mulia sehingga mereka melakukan dengan sepenuh hati, passionate, dan bangga.

Saat saya katakan padanya bahwa sebentar lagi saya akan kembali ke Indonesia, Pak Suzuki menyalami saya dengan erat. “Arigatou”, katanya dengan berbisik sambil merapatkan badannya ke saya.

Iiie, watashi, Arigatou” , jawab saya. “Justru sebaliknya, saya yang harusnya berterima kasih pada pak Suzuki”.

Ya, saya yang harus berterima kasih padanya. Setiap makan di warungnya, berbicara dengannya, saya belajar banyak tentang kehidupan. Tentang passion, tentang dedikasi, tentang kebahagiaan.

Tak jarang kita, bahkan saya sendiri, sering mengeluhkan pekerjaan sendiri. Yang masalah begini lah. Begitu lah. Kerap kali pula kita menyalahkan orang lain, ataupun menganggap pekerjaan atau posisi kita tidak penting, “Ah, saya kan cuma staf rendahan, cuma kepala bagian, cuma sopir, cuma tukang mie ayam, cuma karyawan biasa, cuma mahasiswa, dan cuma lainnya …. ”.

Keluhan dan kegalauan itu berujung pada hilangnya passion pada pekerjaan.  Setiap hari adalah keluhan demi keluhan.

Kitapun gagal berdamai dengan diri kita sendiri.

Akibatnya, pekerjaan jadi asal-asalan. Kita bekerja, hanya mencari nafkah. Menunggu gajian. Kita buat usaha, hanya mencari untung. Acap kali menghalalkan segala cara. Lupa pada esensi kemuliaan pekerjaan itu sendiri.

Dan di warung soba sederhana itu, pak tua Suzuki mengajari saya arti cinta pekerjaan dan dedikasi pada kehidupan.

Arigatou Suzuki-san!

Arigatou Suzuki-san !

Mencari Espresso Terbaik di Tokyo

An espresso afternoon with Raffaele

Di manakah kita bisa mencicipi espresso terbaik di kota Tokyo?

Pastinya, espresso yang dibuat oleh orang Italia dong”, demikian gurau Raffaele, kawan saya yang orang Italia asli, saat menjawab pertanyaan tadi. Iapun mengundang saya untuk mencicipi espresso terbaik itu di kantornya.

Raffaele adalah seorang ekonom Italia yang sudah lebih dari tujuh tahun tinggal di Tokyo. Di kalangan lingkar ekonom asing,  yang secara rutin bertemu untuk saling bertukar informasi, ia adalah yang paling lama tinggal di Tokyo.

Umumnya kami, menempati posting di Tokyo kurang lebih tiga tahun. Seorang kawan dari Perancis, dan Turki, baru saja kembali bulan lalu, dan digantikan dengan yang baru. Saya sendiri rencana kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Semua orang datang dan pergi, tapi Raffaele masih bertahan.

Sebelum kembali ke Indonesia, kamu harus mencicipi espresso terbaik di kantor saya”, ajak dia pekan lalu. “Ini espresso asli dan dibuat langsung oleh orang Italia (maksudnya sih dirinya sendiri)”, sambungnya.

Dan, bertemulah kita siang itu di kantornya. Raffaele mengajak saya ke coffee machine di pantry, menunjukkan cara membuat espresso, lalu kita mencicipi espresso di ruang kerjanya. Silvia, sekretaris di kantornya, yang juga orang Italia, membawakan kami sekaleng coklat. “Cocok nih, buat menemani espresso”, katanya.

Wow, sungguh sajian yang sempurna.

Raffaele meng-klaim bahwa espresso terbaik dunia ada di Italia. Hal itu karena mesin espresso pertama kali diciptakan oleh orang Italia. Adalah Angelo Moriondo dari Turin, yang pada tahun 1884 menciptakan mesin espresso pertama di dunia.  Mesin itu kemudian dikembangkan oleh beberapa orang Italia lainnya, hingga kemudian dipatenkan, serta mendunia.

Secara umum, espresso adalah menyiapkan konsentrat kopi dengan memberi tekanan air panas pada biji kopi. Dampak dari tekanan tersebut adalah konsentrat kopi yang kental, disertai dengan krema (foam). Strong rasanya.

Orang Italia, menurut Raffaele, punya budaya kopi (coffee culture) yang sangat kuat. Mereka bisa minum espresso tiga sampai empat kali sehari. Di kampung halamannya, minum kopi adalah bagian keseharian. Dengan harga sekitar satu dolar, orang Italia sudah bisa mendapatkan espresso secara cepat.

Saya baru tahu dari Raffaele bahwa di Italia tidak ada Starbucks Coffee. “Wah, gak bakal laku Starbucks di Italia”, katanya. Konsep minum kopi orang Italia berbeda dengan konsep Starbucks. Selain murah, orang Italia juga minum kopi sangat cepat. Sementara di Starbucks, selain harga lebih mahal, konsepnya berbeda dengan cara minum kopi Italia yang cepat.

Ironisnya, ide mendirikan Starbuck Coffee diperoleh oleh Howard Schultz (pendiri Starbucks) saat kunjungannya ke Milan, Italia, di tahun 1983. Ia melihat suasana di Piazza del Duomo dipenuhi oleh warung kopi yang berjejer dan masyarakat yang sangat passionate dengan kopi. Suasana kota yang “caffeinated” seperti itu membangkitkan inspirasinya. Iapun lalu mengembangkan Starbucks Coffee. Namun, hingga 30 tahun setelah itu, Starbucks belum mampu membuka cabang di Italia.

Fanatisme orang Italia pada kopi memang menarik. Dan siang itu, saya merasakan sendiri bagaimana suasana kantor Raffaele yang “caffeinated”. Mirip di kedai kopi yang cozy dan nyaman. Soal rasa? Ia tak bohong, itulah espresso terenak yang pernah saya cicipi. Mungkin juga kehangatan persahabatan dari Raffaele yang membuat secangkir espresso ini menjadi begitu lezat.

Sayangnya, Raffaele tidak membuka kedai kopi. Jadi, hanya undangan khusus  seperti saya yang bisa mencicipi espressonya hehehe ….

Salam espresso.

One Day in Kimono, Feel Like A Samurai

Scrolling around Asakusa wearing kimono / photo junanto

It was in the middle of autum 2012. It will also be my last autumn in Japan. I will return to my country by the beginning of next year. Having heard that, Yukako-san, my Japanese friend, had an interesting idea. “Why don’t we do something fun together this autumn, before you leave Japan?”, asked Yukako-san.

She said again, “Let’s experience Japanese traditional kimono and enjoy strolling around Asakusa area!”. She also invited my wife to join the fun.

I have been many times scrolling around Asakusa area. But, I never wear kimono in that place. So, of course, it is an interesting idea! We had a deal !

Then we met at Asakusa train station. It was raining at that day, but we hope the rain will over soon as we wear the kimono. Yukako-san guided us to a small kimono rental shop near Senso-ji Temple. An old lady (Obaa-san), kindly welcomed us into her shop.

After taking my coat, Yukako-san and my wife went upstairs to choose and try the kimono. As for me, she asked me to choose the perfect kimono that I felt like. Well, there are not much choices of color for men’s kimono. They all come in basic color, black, dark, and grey. So I chose the light grey one.

Now, it’s time to wear it. It easier said than done, though. Obaa-san asked me to wear layer of layer of kimono. It was really difficult and tight. She asked me also to go to toilet first, since it will be very difficult to go there when I am in kimono !!!

After we are all dressed up, we were able to walk around  Asakusa. Yukako-san wore a red kimono, and my wife in a gold-yellow kimono. We went to the Senso-ji, street of Asakusa, around the temple, stopped there and took some pictures.

Look, we are in kimono !

Senso-ji Gate

Under the autumn leaves

We also had the fun time of having our pictures taken by foreign tourists in the streets of Asakusa. They thought I am the last samurai, since they saw me as a foreigner with kimono (LoL … I wish). Anyway, having our pictures taken by many people, we felt like celebrity.

When lunch time is coming, Yukako-san took us to an old tempura restaurant. She said that the restaurant is hundred years old restaurant. It used to be the restaurant for the samurai.  Hmm, entering the restaurant, we felt like samurai family in Edo Period.

The tempura came in a combo bowl. Very big, but absolutely delicious. Ittadakimasu!

Big Tempura Bowl / by junanto

Ittadakimasu !

After lunch, then it’s photo time again. Yukako-san took an O-mikuji at the temple. O-mikuji is random fortunes written on strips of paper at Shinto shrines and Buddhist temples in Japan. She randomly chose one strip of paper from a box, hoping for the resulting fortune to be good. “How is it?” I asked. “Aha, it was a good fortune!“, said Yukako-san.

Congratulations. Let’s hope a good future ahead for her.

A good fortune Omikuji. Congratulations, and Gambatte!

At the end of the day, renting a kimono and strolling in it was an incredible experience. It was also a great idea!

What better way to experience authentic Japanese culture and elegance? Wearing kimono, scrolling around Japanese old district, and also accompanied by a beautiful Japanese woman.

What more can I ask?

The Last Samurai ... LoL ....

Romantisme Gunung Hakodate

Best night view you should try, mount Hakodate / photo junanto

Tokyo mungkin bukan kota yang romantis. Tapi saat tiba di kota Hakodate, saya terbekap dalam romantismenya. Hakodate membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan saat naik ke puncak gunung Hakodate,  saya merasakan, inilah tempat paling romantis di Jepang.

Hakodate adalah sebuah kota kecil yang terletak di pulau Hokkaido, sebelah utara Jepang. Kota ini adalah kota pelabuhan yang memiliki sejarah panjang dan penting bagi Jepang. Hakodate  memiliki pelabuhan pertama yang dibuka bagi perdagangan dengan pihak asing pada tahun 1894. Ekspedisi Komodor Perry pernah mendarat di kota ini pascarestorasi Meiji.

Sejarah kontak dengan pihak asing menjadikan kota ini berbeda dengan kota lain di Jepang. Pengaruh barat dan juga Rusia sangat kental di kota ini, sebagaimana terlihat dari bangunan-bangunannya.

Tapi yang wajib dicoba kalau mampir Hakodate adalah naik ke puncak gunungnya. Memangnya kenapa? Tanya saya pada Seki-san, kawan Jepang yang menemani saya di Hakodate. Katanya, itu adalah tempat paling romantis di Jepang.

Menurut Seki-san, pemandangan terbaik dari gunung Hakodate adalah di waktu malam.  Sambungnya, pemandanga dari gunung Hakodate adalah pemandangan malam terbaik nomor tiga di dunia, setelah Napoli dan Hong Kong. Di Jepang, pemandangannya merupakan salah satu yang terbaik, setelah Nagasaki dan Kobe. So, harus dicoba kan.

Saat mentari mulai tenggelam di bulan November, saya dan Seki-san berangkat ke sana. Suhu yang sudah mencapai nol derajat celcius tidak menghalangi kami mendaki gunung Hakodate. Kita menaiki cable car sampai ke puncak gunungnya, setinggi 334 meter.

Dan benar saja. Di puncak gunung Hakodate, keindahan terhampar di hadapan kita. Pemandangan malam, lampu kota, dari atas gunung ini sungguh indah. Kota Hakodate terletak di semenanjung Kameda, dan gunung Hakodate berada di ujung semenanjung itu. Dengan demikian kita dapat melihat kota ini diapit oleh dua bagian laut. Romantis banget beneran.

Di puncak gunung Hakodate

Saya melihat banyak pasangan muda yang sedang berasyik masyuk berduaan. Di sana juga ada restoran yang bisa dijadikan tempat minum atau makan sambil melihat pemandangan romantis.

Seki-san bercerita bahwa puncak gunung ini sangat berkesan dan penuh kenangan baginya. Mengapa?, tanya saya. Rupanya, ia melamar istrinya di gunung ini. Saat itu ia mengajak sang kekasih makan malam di puncak gunung Hakodate. Lalu, sambil memandang keindahan di bawah, ia pun melamar kekasihnya itu. Aaaah so sweet. Wanita mana yang mampu menolak tawaran kekasihnya di suasana seperti ini.

Jadi, kalau ingin mencari tempat romantis di Jepang, Hakodate bisa jadi pilihan. Ajak kekasih atau pasangan kita, dan utarakan lagi cinta di puncak gunung ini. Dijamin pasti klepek-klepek deh hehehe…..

Bersama kawan Seki-san di cable car menuju gunung Hakodate

Bauhaus, Klub Rock dengan Azas Kekeluargaan

Aksi Panggung di Klub Bauhaus / foto junanto

Satu hal menarik dari kehidupan malam di Tokyo adalah ragam klub live housenya. Di berbagai sudut kota, tersebar aneka live house yang memainkan bermacam musik. Kalau anda pecinta jazz, cobalah ke Ochanomizu. Beragam klub jazz dapat ditemui di sepanjang jalannya. Kalau mau coba yang agak berkelas, bisa ke Cotton Club atau Blue Note.

Tapi bagi pecinta musik rock, pilihannya lebih banyak. Semalam saya diajak oleh rekan Jane, Norman, dan Abid, menyambangi satu klub rock favorit mereka. Namanya “Bauhaus”. Klub kecil ini terletak di daerah Roppongi. Keunggulan Bauhaus dibanding klub lainnya adalah soal tema. Bauhaus mengangkat tema yang sesuai dengan umur saya, rock tahun 70 dan 80-an. Yeaaay!

Then We Rock !

Memasuki Bauhaus, Jane sudah langsung disambut hangat oleh Rio Takagi, wanita setengah baya dan penyanyi di klub itu. Kita diantar memasuki klub kecil yang terletak di lantai dua sebuah gedung tak jauh dari Hard Rock Café, Roppongi. Kehangatan penerimaan dan pelayanan personal adalah kelebihan Bauhaus.

Aksi Panggung Dave / photo junanto

Suasana kekeluargaan langsung kita rasakan di klub ini. Keunikan lainnya dari Bauhaus adalah mereka menerapkan “total football” live house. Artinya, mulai dari pelayan, juru masaknya, kasir, dan pemain musiknya, dilakukan oleh orang yang sama. Ya, mereka-mereka juga.

Semula saya tidak percaya. Namun saat melihat para pelayan menerima kami, mengajak ngobrol, menerima order, lalu naik ke atas panggung, dan memulai aksi rock, saya cukup terkejut. Waah, betul-betul live house “total football” nih.

Penampilan ciamik gitaris mereka, Kay-chan, patut diacungi jempol. Usianya mungkin sudah lebih dari 50 tahun. Tapi gaya bermainnya penuh semangat dan mirip anak muda. Kay-chan membuka penampilan dengan lagu “Jumpin Jack Flash” dari Rolling Stone. Suasana klub mulai menghangat.

Kita lalu berkenalan dengan Dave. Nah dia ini penyanyi baru di Bauhaus. Baru bekerja dua minggu. Ia melayani tamu, menjadi bartender, tapi sekaligus juga menjadi vokalis di club itu. Suaranya dahsyat. Ia menyanyikan lagu “Sweet Child O Mine” dari Guns and Roses dengan lengkingan yang luar biasa.

Usai menyanyi, Dave mampir di meja kita. “Saya dari Filipina, baru kerja di sini dua minggu” ujarnya membuka pembicaraan. “Mau pesan minum apa?”, tanyanya. Kita pun menyebut pesanan dan Dave mencatat, lalu mengambilkan minuman kita. Duduk sebentar di meja, Dave bilang, “Saya balik nyanyi dulu ya”. Iapun naik lagi ke atas panggung.

Diselingi minuman, kudapan, dan alunan musik rock 80-an, Bauhaus adalah sebuah oase di tengah rutinitas kehidupan kota Tokyo. Bukan hanya soal mendengarkan musik, tapi juga suasana kekeluargaan.

Rio Takagi, sang penyanyi, tak lama kemudian menghampiri kami dan memberi tahu akun facebooknya. “Yuk, kita temenan di FB”, ujarnya. Tak seperti orang Jepang yang tertutup, ia justru sangat terbuka. Dan, kitapun semua berhubungan pertemanan dengan Takagi-san melalui jejaring Facebook.

Sebelum pulang, ia mengundang kita untuk datang pada penampilan band-nya di bulan Desember. Katanya ia akan manggung bersama rekannya, Seki Show, seorang pemusik Jepang yang cinta Indonesia.

Salam Bauhaus.

Yeaay We Rock !

Sushi Iwakuni, Tak Semua Sushi Sama

Sushi Iwakuni yang mirip Sandwich / photo junanto

Saya semula berpikir bahwa semua sushi bentuknya sama, yaitu berbentuk sekepal nasi dengan irisan ikan di atasnya. Bentuk sushi seperti itu adalah yang paling populer di Jepang, atau biasa disebut nigiri sushi. Tentu ada beberapa bentuk sushi lagi, seperti sushi roll (maki sushi), sushi dalam bentuk cone dari rumput laut (temaki sushi), dan chirashi sushi (irisan ikan mentah yang diletakkan di atas semangkuk nasi).

Tapi di Iwakuni, saya terkejut saat menemukan bahwa ada lagi bentuk sushi yang berbeda. Mereka menyebutnya Iwakuni Sushi. Iwakuni adalah satu desa kecil yang terletak dekat Hiroshima, Jepang. Desa itu, meski kecil, terkenal dengan kuil samurai, ular putih, tempat onsen, jembatan kintai yang berusia ratusan tahun, dan satu lagi, sushi kotak.

Hah? Sushi kotak? Betul. Sushi di Iwakuni bentuknya bukan nasi sekepal, tapi kotak. Ukurannya juga bukan sekepal, tapi bisa sepiring besar. Bahkan, saat menyiapkan, sushi Iwakuni dimensinya seperti kotak boks ukuran besar.

Inilah: Sushi raksasa.

Saat saya mampir ke salah satu warung di Iwakuni, saya memesan seporsi sushi. Datanglah sushi Iwakuni. Betul-betul tidak mirip sushi, karena tidak ada ikan mentahnya, tidak ada nori atau rumput laut. Kalau dilihat-lihat ini mirip lasagna tapi dari nasi. Di atas nasi itu diletakkan aneka sayuran dan telur. Lalu sepotong bunga lotus rebus sebagai pemanis, yang tentu juga lezat.

Tekstur Iwakuni Sushi ini lebih mirip sandwich ketimbang sushi. Kalau dilihat di dapurnya, sushi Iwakuni terdiri dari nasi dibuat berlapis-lapis, dan masing-masing lapisan diisi telur dan sayur-sayuran. Gaya penyajian sushi seperti ini dikenal dengan nama “oshi sushi” dan bisa ditemukan di beberapa tempat di Jepang, selain Iwakuni. Namun, sushi Iwakuni ini yang paling terkenal.

Konon ceritanya dulu, ia dibuat besar karena digunakan sebagai makanan para samurai menjelang pertempuran. Legenda mengatakan sushi jenis ini diciptakan sekitar 400 tahun lalu. Meski besar, irisan sushi Iwakuni dibuat portable, walau tetap lebih besar dibandingkan sushi pada umumnya. Sushi ini dulu menjadi favorit para samurai.

Bagaimana rasanya? Hmmmm, jangan berpikir rasanya mirip sushi. Saya merasakan tekstur yang lain dari sushi Iwakuni ini. Nasinya lembut, sayurannya terasa, dan telurnya subtil, lezat. Walau demikian, rasanya masih aneh kalau menyebut makanan ini dengan sushi kan.

Untuk meyakinkan, saya tanya pada pemilik warung, apakah nama makanan ini? Dia mengatakan, “Sushi! … Sushi!” … Ya, bagi penduduk Iwakuni, inilah Sushi.

Salam sushi Iwakuni.

Soba “Terenak” Sedunia

Yabu Soba Kanda, Warung Soba Tertua di Tokyo / photo junanto

Bagi para pecinta soba, mencicipi langsung soba di Jepang adalah sebuah pencapaian. Sejujurnya, hampir semua soba di Jepang itu enak banget. Baik itu soba kelas restoran, warung, atau bahkan soba kaki lima, punya tingkat kelezatan masing-masing.  Bahkan warung soba kaki lima di depan stasiun Meguro saja, menurut saya enaknya selangit. Kita makan soba sambil berdiri dan dilayani nenek tua pemilik warung itu.

Setiap kelezatan pasti punya karakter dan kelebihannya masing-masing. Begitu pula dengan soba. Beberapa waktu lalu, saya diajak teman saya, Masae-san, untuk mencicipi soba “terenak sedunia”. Bukan hanya terenak, tapi yang pasti, warung soba yang akan kita tuju adalah warung soba tertua di Tokyo.

Kita pergi ke daerah Kanda. Di sana ada satu warung Soba bernama Yabu Soba. Warung itu berbentuk rumah tua dan telah menjual soba sejak tahun 1880, atau sejak Periode Edo. Jaman dulu, para samurai dan penguasa Edo secara rutin makan di warung ini.

Terus terang saya harus bilang “wow” saat masuk ke Yabu Soba. Suasana khas Jepang masa lalu masih tercermin di sana. Ada pilihan tempat duduk dan juga tatami atau duduk bersila ala Jepang. Suasana, yang menurut saya, Jepang banget.

Soba di warung ini dibuat dari gandum terbaik, dan menggunakan air yang berasal dari mata air pilihan. Ketepatan pilihan adonan, ketekunan mengiris soba, dan tentu air yang digunakan, menjadi elemen terpenting dalam menentukan tekstur dari soba.

Saya memesan Nameko Soba, atau soba kuah hangat jamur. Sementara Masae-san memesan soba dingin atau sumetai soba. Hmmm, aroma dari soba hangat jamur sangat harum membuat liur saya bergejolak. Saya suka sekali dengan jamur. Oleh karenanya, perpaduan jamur dan soba akan terasa dahsyat.

Nameko Soba, Soba Kuah dengan Jamur / photo junanto

Soba Dingin yang sederhana / photo junanto

Dan, memang tak salah. Ini adalah soba dengan sensasi terenak sedunia. Kualitas dan tekstur sobanya kelas wahid, kuahnya ciamik, dan perpaduan rasanya pas. Jamurnya juga memiliki kekenyalan yang pas. Tidak terlalu “mushy” tapi juga tidak terlalu kenyal atau keras.

Sementara untuk soba dingin, rasanya tak kalah enak. Menurut Masae-san, itu adalah salah satu soba dingin terlezat yang pernah dicoba. Buat banyak orang, terutama orang Indonesia yang doyan bumbu pedas, makan soba dingin terasa aneh. Awalnya saya juga tidak begitu suka karena rasanya “anyep”. Ya, soba dingin memang tidak ada rasanya, ia dicelup ke shoyu dingin, lalu dimakan begitu saja. Di akhir menu kita bisa mereguk kuah hangat sisa rendaman sobanya. Itupun tanpa rasa. Tapi lama kelamaan, saya bisa merasakan sensasi dari kesederhanaan soba dingin. Dan tentu, lezatnya gak keruan.

Satu lagi hal unik dari warung Yabu Soba adalah proses pemesanannya. Seorang ibu tua duduk di ujung ruangan menerima semua pesanan. Ia lalu mendendangkan pesanannya dalam lantunan lagu Jepang. Para juru masak di dapur yang mendengarkan membuat sesuai lantunan lagu sang ibu.

Hebatnya, ibu ini memperhatikan satu persatu meja di warung itu. Ia menghafal betul urutan pesanan, dan jenis makanan yang dipesan setiap meja. Kalau ada yang memesan appetizer, ia tunggu hingga menjelang habis, baru ia melantunkan pesanan selanjutnya agar tidak ada jeda terlalu lama dalam menunggu makanan.

Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan sang Ibu. Ia berkata bahwa telah bekerja di warung ini selama dua puluh tahun. Baginya, menyanyikan pesanan adalah meneruskan sebuah tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun di warung itu. Wow.

Soba, memang merupakan salah satu makanan favorit orang Jepang. Tapi ia bukan sekedar mie belaka, melainkan memiliki makna filosofis yang dalam. Pada setiap perayaan, seperti tahun baru atau upacara pindah rumah, orang Jepang selalu menyertakan soba. Bagi mereka, soba melambangkan kesuksesan, panjang umur, panjang rezeki.

Oleh karena itu, kalau mampir ke Tokyo, jangan lupa untuk mencicipi soba ya. Kalau ada waktu juga, mampirlah ke warung soba tertua di Tokyo ini, dan tentu “terenak sedunia”.

Salam Soba.

Bersama Ibu Soba, Pelantun Pesanan