Dari Pengamen ke Penyanyi Profesional di Jepang

Cita-cita Rita naik Ojek di Jakarta akhinya kesampaian

Cita-cita Rita naik Ojek di Jakarta akhinya kesampaian

Sekitar lima tahun lalu, di depan stasiun Ikebukuro Tokyo, saya melihat seorang gadis muda cantik yang sedang mengamen. Suaranya indah dan melengking hingga membuat pejalan kaki yang lalu lalang berhenti untuk menyaksikan penampilan pengamen tersebut. Sayapun terusik untuk lebih tahu. Saat saya mendekat dan mengamati penampilannya, ada satu karton besar bertuliskan huruf kanji Jepang dan huruf latin yang berbunyi, Rita Nishikawa from Indonesia. Wow, rupanya gadis muda itu orang Indonesia. Di situlah awal perkenalan saya dengan Rita Nishikawa.

Lalu kenapa menggunakan nama Nishikawa? Rupanya Rita dilahirkan dari seorang ibu Jepang dan ayah yang asli Padang, Indonesia. Sejak lahir hingga besar, Rita tinggal di Jepang sehingga ia tidak mengetahui banyak tentang Indonesia. Pertemuan lima tahun lalu itu menjadi pertemuan terakhir saya dengan Rita, karena setelah itu saya kembali ke Jakarta. Setelah lima tahun tidak bertemu, kecuali melihat aktivitas masing-masing di sosial media, tiba-tiba beberapa hari lalu Rita Nishikawa mengirimkan email dan mengatakan bahwa ia akan mengunjungi Indonesia. Ia bersama ayahnya akan mengunjungi Padang untuk tampil pada peringatan HUT Kota Padang Pariaman. Setelah dari Padang, Rita mampir di Jakarta. Kamipun bertemu kembali.

Rita kini tampil lebih dewasa dan karirnya sebagai penyanyi di Jepang sudah maju pesat. Di usianya yang saat ini baru 22 tahun, Rita telah tampil di berbagai acara TV Jepang. Ia juga menyanyi bersama di Grup Band Khatulistiwa, yang anggotanya terdiri dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Bersama Khatulistiwa, Rita telah tampil pada berbagai show di televisi Jepang. Kemajuan yang sangat pesat ya.

Rita tampil di HUT Kota Padang Juli 2017

Dari hanya tampil mengamen di pinggir jalan kini Rita telah menjadi penyanyi profesional. Mulai dari tampil di berbagai event, klub atau kafe, maupun berbagai acara televisi Jepang, sekarang menjadi kegiatan sehari-hari Nita Nishikawa di Jepang. Rita juga sempat menjadi backing vocal dari seorang penyanyi terkenal Jepang dari grup Southern All Stars, yaitu Keisuke Kuwata.  Selain itu ia tampil di program televisi Jepang bertajuk “Nodojiman The World” bersama anggota band terkenal SMAP yaitu Nakai Masahiro. Itu adalah satu pencapain yang hebat untuk anak seusia Rita.

Untuk mendengarkan suara emas Rita, kita bisa mencarinya di YouTube ataupun di Soundcloud dengan keyword Rita Nishikawa atau Rita Nyina. Silakan dengar suaranya yang merdu dan melengking. Rita adalah salah satu diaspora Indonesia yang dapat membawa nama harum Indonesia di Jepang. Hampir semua orang yang melihat Rita pasti mengatakan kalau Rita adalah orang Indonesia. Bukan semata karena kulitnya yang tidak seperti orang Jepang, namun karena Rita sering menampilkan lagu-lagu Indonesia yang terkenal di telinga orang Jepang juga, seperti Bengawan Solo misalnya.

Apa harapan dan keinginan Rita ke depan? Pertama, Rita sangat ingin sekali tampil di Indonesia. Ia berharap ada kesempatan untuk dapat tampil di acara-acara nasional di Indonesia, apalagi kalau bisa tampil di televisi Indonesia. Sebagai anak keturunan Indonesia, ia ingin sekali bisa sering datang ke Indonesia dan menghibur pendengar maupun penggemarnya di tanah air. Semoga bisa segera terwujud keinginannya. Kedua, ini keinginan Rita dalam kunjungannya kali ini. Ia ingin sekali mencoba naik Ojek. Sepanjang hidupnya ia hanya bisa mendengar dan melihat bahwa di Jakarta ada ojek, namun belum pernah merasakan. Nah, kalau ini bisa saya bantu. Sayapun segera memesan ojek online dan siap mengantarkan Rita dari daerah Sabang ke Blok M. Senangnya Rita bisa naik Ojek di Jakarta. Semoga sukses untuk Rita!

 

Persaudaraan Kopi di Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

“Once Brew, We Bro”. Sekali Seduh, Kita Bersaudara. Begitu ungkapan dari Setiawan Subekti yang juga akrab dipanggil Pak Iwan, saat kami memasuki Sanggar Genjah Arum miliknya di Desa Kemiren, Banyuwangi. Pak Iwan menyambut kami dengan hangat dan mengajak masuk ke satu rumah yang dirancang seperti kedai kopi, lengkap dengan meja bar. Ia lalu menyajikan secangkir kopi racikannya.

Hmmmm, aroma kopinya harum dan membius kita semua yang hadir malam itu. “Silakan cicipi, dan ceritakan pada saya rasanya”, begitu kata pak Iwan. Dan, saat sesapan kopi masuk memenuhi langit-langit mulut, kenikmatan itu menyeruak. Meninggalkan jejak rasa, after taste, yang tak tepermanai. Bagi saya, kopi di Sanggar Genjah Arum ini adalah kopi terenak yang pernah saya cicipi dalam perjalanan hidup mencari kesempurnaan kopi.

Beberapa kawan tampak ragu mencicipi kopi yang disajikan tanpa gula tersebut. Sebagian karena pernah kena penyakit asam lambung sehingga khawatir kalau minum kopi akan kambuh. “Kopi tidak menyebabkan sakit lambung atau maag, seperti mitos yang selama ini berkembang”, demikian kata Pak Iwan menenangkan. Reaksi orang terhadap kopi tentu berbeda-beda. Namun kalau  diproses dan disajikan dengan benar, kopi menjadi minuman yang baik dan menyehatkan.

Setiawan Subekti adalah seorang pejuang. Ia bukan hanya pecinta kopi, tapi lebih seperti “Ambassador” atau Duta Kopi. Hidupnya dipersembahkan pada Kopi Banyuwangi dan Pelestarian Budaya Banyuwangi. Saat bercerita tentang kopi, matanya berbinar-binar.  Saat bicara budaya Banyuwangi, gairahnya menyebar. Ia seorang yang penuh semangat dan energi.

Para pecinta kopi, atau barista nasional maupun internasional, pasti mengenal Setiawan Subekti. Sebagai tester kopi internasional, ia sering diundang ke mancanegara, baik untuk membagi ilmunya, maupun menjadi juri pada berbagai kompetisi. Di dinding sanggarnya, kita melihat foto berbagai orang ternama yang pernah berkunjung ke sana, termasuk foto kunjungan Putri Kopi Dunia.

Tamu yang datang ke Sanggar Genjah Arum juga beragam, seperti Dahlan Iskan, Marie Pangestu, Konsul Jendral AS di Surabaya, pimpinan dan pejabat BUMN, hingga artis dan seniman. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, bahkan menjadikan Sanggar Genjah Arum sebagai satu destinasi bagi tamu-tamunya. Beliau sendiri secara rutin “nongkrong” untuk ngopi di sini.

Pak Iwan juga giat memperkenalkan kopi Banyuwangi atau Kopai Osing, ke berbagai negara. Nama Osing diambil dari subkultur terbesar yang hidup di Banyuwangi. Orang Osing adalah sebutan bagi masyarakat asli Banyuwangi.

Jenis kopai Osing ini unik dan memiliki cita rasa tersendiri. Kopi, yang ditanam di pegunungan Ijen dan Raung sekitar Banyuwangi dan Bondowoso, sudah diekspor ke mancanegara. Kalau kita pergi ke Eropa dan minta disajikan Java Coffee, maka hampir dipastikan bahwa kopi itu berasal dari daerah sekitar Banyuwangi, Jawa Timur. Keunikan rasanya, menjadikan Kopi Banyuwangi digemari di dunia.

keharuman biji kopi banyuwangi

keharuman biji kopi banyuwangi

Kopi memang bisa menjadi komoditas unggulan dan kekuatan ekonomi Indonesia. Kita memiliki kopi yang tidak kalah bersaing dengan kopi dari negara lain, bahkan lebih baik. Dilihat variannya, di seluruh nusantara terdapat aneka varian kopi yang lezat. Namun Pak Iwan masih menyayangkan pengembangan industri kopi nasional yang masih belum optimal. Biji kopi Indonesia itu bagus, namun kadang proses pembuatan, dari penanaman hingga menjadi biji kopi, belum dilakukan dengan benar. Mereka masih menggunakan proses tradisional, mencampur biji kopi kualitas bagus dan rendah, tidak memasak dengan standar yang baik, sehingga hasilnya tidak optimal. Banyak produk olahan kopi akhirnya memiliki kualitas yang rendah dan tidak memenuhi standar internasional sehingga harganya murah.

Oleh karena itu, Pak Iwan secara aktif turun ke perkebunan kopi, melakukan pembinaan bagi para petani kopi agar dapat memproses kopi dengan baik.  Hasilnya, kini banyak petani kopi yang mulai memproses kopi dengan benar, menghasilkan kopi berkualitas, dan dapat mengekspor ke luar negeri.

Di daerah Bondowoso misalnya, ada kelompok petani kopi Arabica binaan Bank Indonesia Jember, mampu mengekspor sebanyak 350 ton per bulan ke luar negeri. Mereka juga mendapatkan masukan konsultasi dari Pak Iwan agar dapat memproses kopi dengan baik. Meski sudah bisa mengekspor sebesar 350 ton, dan meningkatkan taraf hidup petani kopi di sana, angka itu masih rendah dari potensinya sebesar 6000 ton. Bayangkan bila seluruh wilayah penghasil kopi tersebut dapat memproses kopi dan mengekspor kopi dalam kapasitas optimal. Selain kopi Indonesia makin terkenal, kehidupan para petani akan meningkat.

Data Kemenperin menunjukkan bahwa ekspor kopi olahan Indonesia mencapai 244 juta dolar AS pada tahun 2012, dan meningkat menjadi 322 juta dolar AS pada tahun 2013. Ini menunjukkan bahwa permintaan dunia pada kopi sangatlah besar.  Potensi ini yang perlu menjadi perhatian kita semua.

Menikmati kopi di Sanggar Genjah Arum juga menikmati keindahan rumah-rumah tradisional suku Osing. Pak Iwan memang sengaja menjadikan tempatnya sebagai konservasi rumah Osing. Ada sembilan rumah khas orang Using berbahan kayu bendo dan tanjang. Setiap rumah memiliki fungsi berbeda. Ada yang dibuat sebagai gudang penyimpan kopi, tempat istirahat, tempat makan, dan tempat pertunjukan. Kami juga dipersilakan melihat dapur tradisional Osing, yang untuk memasaknya masih menggunakan tungku tanah liat dan kayu bakar.

Di Sanggar itu, kita juga bisa melihat beberapa perempuan asli Banyuwangi membawakan musik “gedhokan”, atau seni musik yang dihasilkan dari pukulan lesung. Juga  ditampilkan pula tarian Gandrung Banyuwangi, yang merupakan tarian asli Banyuwangi. Para penari, pemain musik, berasal dari warga sekitar. Beberapa di antaranya bahkan pernah diajak Iwan ke Amerika Serikat untuk sebuah pertunjukan seni.

Menyesap kopi Banyuwangi, menikmati udara dingin pegunungan, melayang dalam alunan seni tradisional, adalah perpaduan sempurna bagi indahnya kehidupan. Pak Iwan telah membuktikan, bahwa “surga” ada di ujung timur Pulau Jawa.

Salam Kopi.

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

kopi terlezat, kopai osing

kopi terlezat, kopai osing

 

Realisme Kepala Ikan di Tabula Rasa

Emak dan Hand di Tabula Rasa

Emak dan Hans di Tabula Rasa

“Kurang kacau, cirik kambing. Talalu kacau, bapantingan”, itulah pedoman dalam memasak rendang.  Artinya, bila kita kurang lama mengaduk rendang di wajan, kuah rendang akan bergumpal-gumpal seperti tahi kambing. Sebaliknya, bila terlalu cepat mengaduk, kuah rendang akan mendidih “meledak-ledak”, sehingga bisa melukai tangan sampai melepuh. Bagi orang Minang, mengaduk rendang adalah sebuah perjalanan ”spiritual”, karena tak bisa dilakukan sembarangan. Memasak rendang harus menggunakan hati dan perasaan. Tanpa itu, rendang yang disajikan akan hampa tanpa rasa. Bahkan bisa seburuk tahi kambing.

Itulah inti pesan dari Emak (Dewi Irawan) kepada Hans (Jimmy Kobogau) dalam film yang berlatar belakang kuliner, Tabula Rasa. Hans, seorang pemuda dari Serui Papua, yang pergi ke Jakarta untuk menjadi pemain sepak bola, tertimpa nasib buruk. Kakinya patah dan ia ditelantarkan oleh klubnya. Jadilah Hans terdampar di Warung Padang “Takana Juo” milik Emak. Dari semula hanya diminta membantu cuci piring, menemani belanja,  Hans perlahan diajari ilmu memasak oleh Emak.

Dapur Emak lalu jadi pusat pergumulan intrik dan politik. Parmanto (Yayu Unru), sang juru masak, merasa egonya tertusuk saat melihat Hans semakin dekat dengan Emak, bahkan bisa tinggal bersama mereka. Singkatnya ia merasa terancam akan kehadiran Hans di warung mereka. Parmanto lalu ngambek, dan ujungnya pindah ke restoran besar yang menjadi pesaing Takana Juo. Hans lalu perlahan mengambil alih peranan Parmanto, menjadi juru masak di warung Emak.

Masalah tidak selesai hanya sampai di sana. Warung Takana Juo semakin hari semakin sepi pengunjung. Selain kalah bersaing dengan Restoran Padang yang baru buka, Takana Juo seolah tak memiliki daya tarik khas. Dalam kebingungan, jawaban muncul dari Hans. Itulah, Gulai Kepala Ikan. Masalahnya, Emak tidak mau memasak gulai kepala ikan setiap hari. Gulai kepala ikan bagi emak adalah sebuah ziarah, yang hanya dibuat pada saat tertentu, di samping ada kisah pedih di belakangnya.

Perjalanan film ini kemudian mengajak penonton pada sebuah alur yang mengarus pada upaya terwujudnya Gulai Kepala Ikan. Pada akhirnya, saat Emak mau membuat kepala ikan, adegan terindah film ini ditampilkan. Emak membuat kepala ikan dengan bumbu-bumbu terbaik pilihannya. Sebagaimana orang Minang yang tahu betul makanan yang baik. Bumbu adalah kuncinya.

Kepala ikan kakap yang dibumbui secara visual dicemplungkan ke dalam kuah santan, yang dimasak di atas kuali dan tungku dengan kayu bakar.  Semua diproses secara alami. Emak tidak mau menggunakan santan kalengan. Ia memeras kelapa sendiri. Tidak ada juga bumbu rendang atau gulai instan yang kini banyak dijual di supermarket. Semua bumbu digerus di atas ulekan. Otentik.

Emak memulai hari sejak jam empat atau lima pagi. Dalam sepi dan sunyi, ia ke pasar membeli bahan terbaik. Ia mempersiapkan segala bumbu masak, memilih kelapa terbaik, dan mencari kepala ikan yang masih segar.  Dalam khazanah persantanan makanan Minang, kelapa terbaik itu tidak muda tapi juga tidak tua. Harus “sedang”.  Kelapa juga harus “diperas” sekali saja untuk dijadikan santan. Tak boleh lebih dari sekali. Kelebihan jumlah perasan akan menyebabkan rasa santannya berubah.

Dalam Tabula Rasa, Hans dengan takzim melihat dan belajar keseluruhan proses pembuatan makanan, terutama kepala ikan ini. Ide cerita dan plot film ini sungguh indah, mengambil tema kuliner. Mungkin baru ini film Indonesia yang berani mengambil  latar belakang kuliner. Produser Sheila Timothy, saya perhatikan di berbagai media sosialnya kerap mengunggah referensi dan riset yang dilakukannya. Film ini memang bukan sekedar film yang dibuat sekenanya, namun menggunakan referensi riset yang dalam. Berbagai buku tentang kuliner, film-film referensi luar negeri yang bertema kuliner, hingga riset ke Serui dan Sumatera Barat. Dapur Emak juga dibuat dengan memperhatikan detil dapur tradisional Minang.

Secara umum, film ini layak ditonton. Saya memang agak berharap ada lebih banyak visualisasi adegan yang menonjolkan rasa makanan, aroma bumbu, pedasnya rendang, maupun proses membuat makanan. Karena untuk sebuah film kuliner, adegan-adegan yang mampu mendegut ludah menjadi hal-hal yang ditunggu penonton. Tapi terlepas dari itu, sisi emosional antara Emak dan Hans, sangat menyentuh. Keragaman nusantara juga tercermin di dapur Emak. Masakan Minang dengan juru masak Orang Papua, sudah memberi keunikan tersendiri. Saat emak mengucapkan “Alhamdulillah”, lalu diikuti oleh Hans dengan kata “Puji Tuhan”, adegan berlangsung secara ringan dan menyentuh. Ada keragaman dalam kedamaian di sana.

Produser Sheila Timothy dan sutradara Adriyanto Dewo, memasak film bagai Emak memasak Gulai Kepala Ikan Kakap. Seperti Shakespeare dengan Othello-nya, Hegel dengan Dialektika-nya, Nietzche dengan Uebermensch-nya, atau bahkan Di Vinci dengan Monalisa-nya. Dilakukan dengan takzim dan penuh permenungan. Sebuah karya memang harus dilakukan bukan sekedar memenuhi pasar atau nilai uang, namun lebih seperti sebuah bangunan idealisme dan edukasi untuk mencerahkan.

Tapi, apakah film-film yang sarat makna, lincah dengan dialog cerdas, bisa dinikmati pasar film Indonesia? Seharusnya bisa, dan sangat bisa. Kitalah yang harus memulai, dengan mendukung film Indonesia yang bagus. Ayo, terus ramaikan bioskop dan saksikan film Indonesia. Tabula Rasa adalah salah satunya. Film bagus, yang menurut saya, sayang kalau dilewatkan.

Aroma Sastra dan Literasi di Paris

Toko buku Shakespeare & Co. Sanctuary for book lover in Paris

Toko buku Shakespeare & Co. Sanctuary for book lover in Paris

Mbak Lona Hutapea, penulis buku Paris C’est Ma Vie dan Voila La France, yang juga pernah tinggal di Paris, merekomendasikan saya untuk merasakan aroma sastra di kafe-kafe kota Paris. Nah, saat berkesempatan mampir di Paris beberapa waktu lalu, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke tempat yang direkomendasikan mbak Lona tersebut.

Dari banyaknya kawasan, ada satu daerah yang wajib dikunjungi para pecinta literatur. Nama daerahnya Latin Quarter, yang menurut sejarah adalah tempat mangkal dan kongkow para sastrawan dan seniman Eropa selama beratus tahun. Dahulu, para filsuf. seniman, artis, dan sastrawan, berkumpul di kafe-kafe daerah itu dan melakukan aneka diskursus intelektual. Ada pemikiran yang melawan arus, bahkan ada yang revolusioner. Tak heran, pergerakan filsafat dan sastra marak dan kerap bangkit di Paris. Nama-nama filsuf besar seperti Sartre, Simone de Beauvior, Oscar Wilde, Voltaire, Victor Hugo, adalah deretan nama yang pernah nongkrong di berbagai kafe kota Paris.

Saya selalu meyakini bahwa perjalanan panjang diskursus intelektual di satu area adalah energi yang terus melekat selama bertahun-tahun. Karena itulah, saat memasuki kafe atau sudut-sudut tua kota Paris, aura dan nuansa sastra intelektual terasa begitu kental dan menyesap.

Saya kemudian berhenti di satu toko buku legendaris yang menjadi salah satu ikon literasi Paris. Bagi saya, inilah sanctuary for book and literature lover in Paris. Surga bagi pecinta buku dan literasi di Paris. Nama tokonya Shakespeare and Co. Sayapun pergi ke sana, dan hanyut tenggelam di toko buku itu. Meski terlihat kecil dan tua, toko buku yang didirikan sejak tahun 1922 ini sarat dengan kisah. Para sastrawan dan penulis dunia, seperti Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald, dulu sering kongkow dan menelurkan karya2 dari toko kecil ini. Koleksi literaturnya juga luar biasa.

Sebenarnya, toko asli Shakespeare and Co didirikan oleh Sylvia Beach, seorang ekspatriat Amerika, pada tahun 1919di Rue Dupuytren. Pada tahun 1921, toko buku ini pindah ke tempat yang lebih besar, dan buka hingga tahun 1940, sebelum Perang Dunia ke-II. Setelah itu toko buku ini ditutup. Barulah pada tahun 1951, David Whitman membuka kembali toko buku ini. Saat ini, toko buku dikelola oleh putri dari David Whitman, yaitu Sylvia Whitman.

Memasuki toko buku kecil, yang terletak di bawah bayang-bayang Gereja Notre Dame Paris tersebut, kita seolah diajak berjalan dalam mesin waktu. Suasana Bohemian langsung terasa. Rak-rak buku model kayu, klasik, dipenuhi oleh koleksi aneka buku second hand -berbahasa Inggris, yang ekstensif. Toko ini juga memiliki beberapa kamar kecil, yang dulu jadi tempat bermalam para sastrawan dan seniman. Kadang bayarannya bukan uang, melainkan kewajiban mereka membaca satu buku dalam sehari, dan mendiskusikan isinya bersama-sama. Sungguh sangat kaya literasi.

Bagi para pecinta literasi, perjalanan ke Paris wajib mampir ke Shakespeare and Company. Dari toko kecil ini kita bisa belajar, bahwa bangsa besar adalah bangsa yang kaya membaca, menulis, dan budaya. Perancis dibangun juga oleh literasinya yang kaya. Tak banyak toko buku dan penerbit di Indonesia yang bisa berumur ratusan tahun. Tapi kita bisa memulai dan merawat yang sudah ada. Untuk Indonesia yang lebih baik dan kaya literasi.

Usai memilih buku, kita bisa duduk2 membaca di kafe2 bersejarah yang tersebar di seputaran situ. Ada satu kafe yang konon merupakan kafe tertua di sana, letaknya tak jauh dari Shakespeare. Namanya Le Procope. Silakan bungkus buku yang baru anda beli, bawa ke La Procope, kemudian pesanlah secangkir kopi. Nikmati aroma sastra dan literasi di Paris yang indah.

Jazz Gunung 2014 Kembali Hangatkan Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Jazz Gunung 2014 terlihat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain keunikan tema, yaitu Sedekah Bumi, pengunjung yang datang tahun ini sungguh membludak. Tema Sedekah Bumi, menurut Sigit Pramono, salah satu penggagas Jazz Gunung yang juga Ketua Perbanas, mengajak masyarakat untuk kembali ke alam. Kita sudah banyak mengambil dari alam, saatnya kita mengembalikan benih kebaikan pada alam.

Sigit mengajak kita semua untuk mencintai lingkungan, tidak merusak alam, dan jangan membuang sampah sembarangan. Sedekah Bumi juga bisa dilakukan dengan Bunyi. Di sinilah bunyi musik jazz yang menyatu dengan alam memberi makna pada keindahan dan kesejukan udara di pegunungan Bromo tadi malam.

Ya, di bawah udara sejuk pegunungan, secangkir kopi hangat, dan sederetan penyanyi terkenal, menyaksikan jazz gunung bagai ritual yang harus saya lakukan setiap tahun di Gunung Bromo.

Tahun 2014 ini adalah kali keenam event Jazz Gunung digelar di Bromo. Semakin tahun pengunjung yang datang semakin ramai, dan jazz gunung mulai terdengar hingga mancanegara. Semalam (21/6), pengunjung membludak hingga sekitar 1700 orang. Pergelaran yang diselenggarakan di Amphitheater Java Banana Bromo, Kabupaten Probolinggo, sejak tanggal 20 hingga 21 Juni 2014 tersebut, sungguh penuh sesak dengan penonton.

Hawa dingin pegunungan yang menusuk tidak menghalangi meriahnya para penonton dan pemusik untuk menghangatkan malam. Tahun ini, udara cerah hingga pertunjukkan usai. Berbeda dengan tahun lalu, yang sempat turun hujan sehingga pertunjukan sempat dihentikan sementara, semalam pertunjukan berjalan lancar di bawah gemerlap langit berbintang.

Pertunjukan Jazz Gunung bagi saya sungguh sangat menghibur dan menyenangkan. Pembawa acara adalah ruh dari hidupnya petunjukan malam itu. Butet Kartaredjasa, bersama dengan Alit dan Gundhi tampil luar biasa, lucu menghibur melontarkan ceplosan yang ringan tapi menyentil ke sana sini, mulai dari pemerintah, khususnya pembangunan infrastruktur akses Bromo, para pemusik, hingga suasana menjelang pilpres saat ini.

Beberapa artis yang tampil di Jazz Gunung 2014 selama dua hari kemarin juga bukan sembarangan. Di hari kedua, saya terkesan dengan penampilan dari Nita Aartsen Quatro dan Yeppy Romero, yang tampil sungguh ciamik. Kecepatan tangan Nita di atas piano membawakan musik klasik yang dikomposisi bernuansa latin mampu menghibur penonton. Tembang Turkish March klasik, lagi Chick Korea dibawakan dengan piawai. Yeppy Romero tampil membawakan gitar klasik ala penyanyi Spanyol. Dengan jubah merahnya, petikan gitarnya membawa penonton ke dalam suasana kota Madrid di tengah pertandingan para matador.

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Djaduk Ferianto bersama Ring of Fire Project adalah highlight malam itu. Mereka tampil bersama Nicole Johänntge, seorang saxophonist dari Jerman. Nicole tampil sungguh luar biasa. Tiupan saxophone, mengiringi musik Djaduk, membius penonton. Lagu-lagu, seperti Ritme Khatulistiwa, dibawakan secara dinamis, saling bersahutan antara perkusi tradisional dengan tiupan saxophone Nicole.

Puncak acara malam terakhir Jazz Gunung 2014 adalah penampilan ESQI:EF – Syaharani and Queenfireworks. Di bawah udara yang semakin dingin menusuk, Syaharani membakar para penonton. Diawali lagu lembut lawas “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”, ia mulai menghentak dengan lagu-lagu berirama riang dari album-albumnya. Penonton ikut terbakar, menyanyi, bergoyang bersama. Meriah, sungguh meriah.

Saat lagu “Happy” dari Pharrel William dinyanyikan juga oleh Syaharani, penonton semakin bergairah. Mereka bersahut-sahutan dan saling menari ke kiri dan ke kanan.

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Jazz Gunung tahun 2014 ini terhitung sukses dan semakin menyematkan diri sebagai satu dari sekian pertunjukan musik di Indonesia yang punya kelas internasional. Bintang lain yang tampil tahun 2014 ini antara lain adalh The Overtunes, Monita Tahalea & The Nightingales, , Indro Hardjodikoro The Fingers, Bintang Indrianto Trio, Jazz Ngisoringin, serta Sanggar Genjah Arum Banyuwangi.

Satu lagi yang membuat pertunjukan kali ini berbeda adalah kehadiran pak Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, untuk menyaksikan Jazz Gunung kali ini. Bersama pak Sigit, saya sempat berbincang singkat, dan pak Bupati menyampaikan maksudnya untuk memboyong Jazz Gunung ke Banyuwangi. Ya, bulan November nanti, Banyuwangi akan menggelar juga pertunjukan jazz semacam ini, di pantai Banyuwangi.

Ini adalah sebuah berita bagus. Apabila beberapa daerah mampu menyelenggarakan event-event berkelas internasional, dan mendatangkan berbagai artis lokal maupun global, ekonomi kreatif Indonesia akan semakin tumbuh. Bukan hanya di pusat, tapi juga di daerah-daerah.

Jazz Gunung adalah sebuah penanda, semoga ia bisa menebarkan semangat kreativitas, dan kepedulian, ke seluruh daerah di Indonesia. Salam semangat.

 

Gereja Merah Probolinggo

Gereja Merah Probolinggo / photo junanto by Samsung NX300

Gereja Merah Probolinggo / photo junanto by Samsung NX300

Kunjungan saya ke Probolinggo beberapa waktu lalu sungguh mengesankan. Akhirnya saya bisa melihat sendiri satu gereja tua di kota itu, yang terkenal dengan nama Gereja Merah. Bagi para penggemar bangunan heritage, Gereja Merah Probolinggo adalah sebuah legenda dan salah satu tempat yang wajib dikunjungi.

Gereja Merah ini dibangun pada tahun 1862 oleh Belanda, dan struktur bangunannya dibuat dari rangka besi baja. Konon dulu gereja ini dibangun dengan sistem knock down, artinya keseluruhan rangka bajanya dibuat di Belanda, lalu dibongkar, dan dibawa dengan kapal ke Probolinggo untuk dipasang kembali.

Mencari Gereja Merah di Probolinggo sangat mudah. Gereja tersebut adalah salah satu ikon kota, jadi hampir seluruh warga Probolinggo mengetahui lokasinya. Saya bertanya pada pengemudi becak di sekitar kantor pemkot Probolinggo, dan mereka menunjukkan lokasi gereja di Jalan Suroyo.

Saat ini gereja tersebut masih digunakan sebagai tempat ibadah umat Kristiani, dengan nama Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel. Namun selain itu, gereja ini juga menjadi kunjungan wisata, khususnya bagi para wisatawan asing dari Belanda yang ingin melihat karya unik dan langka itu.

Ya, hanya ada dua jenis gereja seperti ini di dunia. Yang pertama, ada di Den Haag, dan kedua, ada di Probolinggo.

Tampak depan Gereja / photo junanto with Samsung NX300

Tampak depan Gereja / photo junanto with Samsung NX300

SAMSUNG CSC

Salah satu sisi jendela yang masih asli / photo junanto with Samsung NX300

Saat tiba di lokasi gereja tersebut, kondisinya sepi dan pintu pagarnya ditutup. Setelah mengetuk pintu dan meminta ijin, penjaga gereja mempersilakan saya masuk dan memberi izin untuk mengambil foto.

Dilihat dari berbagai sisi, memang gereja ini sangat unik. Bentuknya simple, namun mengandung seni arsitektur gothic yang khas. Di depan pintunya tertulis “gebowd anno 1862″, yang artinya dibangun pada tahun 1862. Saat itu, gereja dibangun di bawah kepemimpinan Bupati Meijer, atau bupati Probolinggo pertama.

Sungguh patut diapresiasi upaya masyarakat Probolinggo yang tetap menjaga dan mengkonservasi bangunan cagar budaya ini. Hal tersebut menunjukkan kepedulian kita pada sejarah, dan menggambarkan keanekaragaman budaya dan agama di Indonesia yang bisa hidup rukun dan bersaudara.

Salam dari Gereja Merah Probolinggo

Dibangun pada tahun 1862 / photo junanto with samsung NX300

Dibangun pada tahun 1862 / photo junanto with samsung NX300

Red Church Levitation / with Samsung NX300

Red Church Levitation / with Samsung NX300

Bahan Fashion Terbuat Dari Sampah

Bersama Rancangan Billy Wong, yang bahannya dibuat dari sampah / taken with samsung nx300

Bersama Rancangan Billy Wong, yang bahannya dibuat dari sampah / taken with samsung nx300

Mendengar busana karya desainer haute couture, kita pasti terbayang akan bahan baku dan harga yang mahal. Tapi tidak demikian bagi Billy Wong,  salah satu desainer muda Indonesia yang kreatif dan terkenal di manca negara. Billy justru mengangkat sampah sebagai inspirasi bagi tema fashionnya.

Hah, bagaimana bisa? Tanya saya pada Billy Wong, saat bertemu dengannya di Surabaya hari ini (17/5). Billy berada di Surabaya untuk meramaikan acara “Jatim Kreatif”, yang merupakan ajang pameran perbankan dan usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) se-Jawa Timur. Acara akan diselenggarakan pekan depan, dari tanggal 22 hingga 26 Mei 2013, bertempat di Grand City Surabaya.

Saat acara konferensi pers mengenai acara dimaksud, Billy Wong ikut hadir untuk menampilkan rancangan desainnya, yang diberi judul “Senandung Dari Madura”. Dua model yang cantik, siang tadi tampil di hadapan beberapa pemimpin perbankan, serta wartawan media massa Jawa Timur.

Billy Wong Menjelaskan Karyanya / photo junanto, taken with samsung nx300

Billy Wong Menjelaskan Karyanya / photo junanto, taken with samsung nx300

Billy mengatakan bahwa UMKM itu memiliki potensi untuk maju dan go international. Seluruh rancangan desainnya justru diperoleh dari kehidupan rakyat kecil. Inspirasi gaun “Senandung dari Madura” misalnya, ia dapatkan saat melihat kain dari sepasang kakek nenek di Madura. Bahan baju ia padukan dari kain murah dan karung goni. Lalu ia juga menggunakan cabe merah dari Jawa Timur sebagai aksesoris. Sementara untuk bulu mata merah, dibuatnya dari sisa sapu ijuk.

Menurut Billy, ia belajar desain secara otodidak. Awalnya, ia berguru pada seorang desainer di Paris. Guru itu mengajaknya berjalan di kota dan berhenti di tempat sampah. Ia lalu berkata pada Billy, “Coba kau buat rancangan dari sampah-sampah itu!”.

Awalnya Billy terperanjat. Tapi dari situ ia belajar, bahwa bahan yang kita pikir adalah sampah, justru bisa memiliki nilai jual tinggi.

Tak heran lalu banyak orang yang menjulukinya “Desainer Sampah”.

Meski dicap sampah, karya desainnya mampu membawa Billy Wong ke manca negara. Ia telah melakukan fashion show di Eropa, Amerika, hingga Amerika Latin. Respon positif diperolehnya dari berbagai pengunjung.

Saat Jakarta Fashion Week 2012 lalu, Billy Wong merancang desain pakaian bertema Diva, yang terinspirasi dari jerit tangis dan penderitaan korban lumpur Lapindo. Kepedulian pada kerakyatan, UMKM, dan masyarakat terpinggirkan itu memang menjadi ciri dari desain Billy Wong.

Selanjutnya, Billy Wong akan menggelar Fashion Show yang menampilkan seluruh karya “sampah”-nya itu, pada hari Selasa, tanggal 22 Mei 2013, bertempat di Grand City Surabaya.  Acara Billy Wong adalah bagian dari Bazaar UMKM dan perbankan Jawa Timur, yang mengambil tema “Jatim Kreatif”.

UMKM memiliki potensi besar dalam mendukung perekonomian Indonesia. Selain upaya mendorong mereka pada akses keuangan, membangkitkan kreatifitas juga menjadi konci. Di sinilah peran serta semua pihak.

Tanpa adanya sinergi dari sisi keuangan dan kreatifitas, serta dukungan infrastruktur lainnya, UMKM hanya sebatas potensi belaka. Setidaknya, itulah yang dikatakan Billy Wong, dengan kreatifitasnya yang mengangkat UMKM bisa berkiprah di dunia internasional.

Salam

Bersama Billy Wong / taken with samsung nx300

Bersama Billy Wong / taken with samsung nx300

Mencintai Wisata Sejarah Surabaya

Gedung BI eks De Javasche Bank, Surabaya

Gedung BI eks De Javasche Bank, Surabaya

Seorang teman Jepang, yang bekerja sebagai tour guide, sering membawa rombongan turis Indonesia yang berkunjung ke Tokyo. Ia pernah mengatakan pada saya bahwa membawa turis asal Indonesia itu paling mudah.

“Loh, mudah gimana maksudnya?” tanya saya.

Katanya, “Turis Indonesia itu tidak suka kalau diceritakan soal sejarah atau kisah masa lalu di sebuah lokasi. Mereka biasanya sudah tidak sabar untuk minta diantar  ke tempat shopping atau makan”.

Apa yang dikatakan teman saya itu ada benarnya. Masih banyak turis Indonesia yang memiliki karakter seperti itu. Pergi ke luar negeri atau tempat wisata domestik hanya untuk shopping dan makan-makan.  Kalaupun pergi ke tempat bersejarah, hanya untuk foto-foto lalu upload di media sosial. Bukan karena tertarik untuk belajar atau mengetahui sejarah sebuah tempat.

Tapi sore tadi (14/5), saya dan beberapa kawan di Surabaya, melihat hal yang berbeda. Saya diundang oleh Pemerintah Kota Surabaya dan Dinas Pariwisata Kota Surabaya pada acara “Surabaya Tourism Award 2013” di sebuah mall di kota Surabaya. Panitia acara memilih 15 lokasi turisme sebagai nominasi, dari lebih 40 lokasi, yang akan menerima penghargaan tempat wisata paling menarik di Surabaya.

Saya diminta untuk sharing cerita mengenai kontribusi institusi di Surabaya terhadap konservasi gedung bersejarah dan peranan wisata sejarah atau “heritage”.

Kalau turis asing, memang tak perlu diragukan lagi. Umumnya mereka memiliki kepedulian yang tinggi pada wisata sejarah. Namun hal yang menarik belakangan ini adalah  semakin banyaknya turis domestik yang mulai memiliki kepedulian dan ketertarikan pada wisata sejarah tersebut.

Saya bertemu dengan Mbak Rani, manager dari museum House of Sampoerna Surabaya, yang sore itu juga datang. Ia mengonfirmasi bahwa jumlah turis domestik yang berkunjung ke museumnya jumlahnya terus meningkat. Meningkatnya kalangan menengah, dan juga pendidikan, menjadi salah satu faktor di balik hal tersebut.

Presentasi  Gedung BI eks De Javasche Bank Surabaya sebagai nominasi Surabaya Tourism Award / photo taken with Samsung NX300

Presentasi Gedung BI eks De Javasche Bank Surabaya sebagai nominasi Surabaya Tourism Award / photo taken with Samsung NX300

photo taken with Samsung NX300

photo taken with Samsung NX300

 

Selain House of Sampoerna, Gedung Eks De Javasche Bank, yang terletak di jalan Garuda No.1, Surabaya, adalah salah satu gedung yang terpilih sebagai nominasi tempat wisata favorit di Surabaya. Gedung tersebut dimiliki oleh Bank Indonesia, dan baru selesai dikonservasi tahun 2012 lalu, setelah lama tidak digunakan. Gedung itu kini menjadi museum dan ruang pamer. Masyarakat juga dapat meminjam gedung tersebut untuk berbagai kegiatan seni, budaya, dan pendidikan.

Tak banyak mungkin yang mengetahui lokasi bangunan eks De Javasche Bank tersebut. Padahal, sejarah lembaga keuangan di Nusantara telah berlangsung lama.

Setelah De Javasche Bank didirikan di Batavia tahun 1828, satu tahun kemudian didirikannya Cabang De Javasche Bank Surabaya. Pada era liberalisasi ekonomi akhir abad 18 itu, peranan De Javasche Bank sangat strategis, selain menyediakan jasa keuangan, juga melakukan kliring antar bank.

Bentuk bangunan Gedung De Javasche Bank itu juga unik, karena mengambil gaya arsitektur neo renaissance atau ekletisme, yang memadukan unsur Yunani Kuno, Eropa Klasik, Gothic, dan memasukkan elemen-elemen Indonesia, seperti pahatan Jepara di beberapa elemen gedungnya.

Meski masih baru direnovasi, Gedung BI eks De Javasche Bank itu mendapat perhatian besar dari masyarakat kota Surabaya.

Mbak Rani, dari House of Sampoerna, kemudian mempresentasikan mengenai museumnya. Menurut saya, House of Sampoerna adalah tempat yang juga wajib kunjung kalau ke Surabaya. Rumah bersejarah milik keluarga Sampoerna itu kini dibuka sebagai museum, yang menyediakan koleksi seni, sejarah industri rokok, termasuk cerita tentang Marching Band Sampoerna yang pernah terkenal.

Satu hal lain yang menarik dari House of Sampoerna adalah bahwa mereka menyediakan “Heritage Tour”, atau wisata obyek bersejarah di Surabaya dengan menggunakan bis wisata.

Saat acara berlangsung, saya melihat antusiasme yang tinggi dari beberapa anak muda yang hadir. Sebagian di antaranya, dari Universitas Ciputra, bahkan berniat untuk melakukan kegiatan di gedung-gedung bersejarah kota Surabaya.

Mencintai gedung bersejarah, bukan semata melihat bangunan tua. Bagi saya, di balik berbagai keindahan gedung itu, tersimpan banyak cerita, kisah, dan pelajaran.  Melihatnya, kita diajak untuk melampaui ruang dan waktu.

Dalam novelnya yang berjudul “Crabwalk”, Gunter Grass pernah menulis, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berjalan seperti kepiting. Ia mundur, tapi sebenarnya maju ke depan. Yang dimaksud adalah, kita perlu terus menengok sejarah atau masa lalu, dan menggunakannya untuk maju terus ke depan.

Persis seperti yang dikatakan Presiden Soekarno dulu. Jas Merah. Jangan Sekali-kali Kita Melupakan Sejarah.

Salam

Bersama mbak Rani (paling kanan), museum manager House of Sampoerna / photo taken with Samsung NX300

Bersama mbak Rani (paling kanan), museum manager House of Sampoerna / photo taken with Samsung NX300

Mahasiswa  Universitas Ciputra juga  mengisi acara Surabaya Tourism Award 2013 di Grand City, Surabaya / photo taken with Samsung NX300

Mahasiswa Universitas Ciputra juga mengisi acara Surabaya Tourism Award 2013 di Grand City, Surabaya / photo taken with Samsung NX300

 

Days of Danboard: Saturday Morning at the Garden

Melakukan proyek fotografi bersama Danbo, menurut saya cukup menyenangkan. Wajah Danbo yang terkesan “innocent” dan “photogenic” membuat hasil pemotretan menarik untuk dilihat.

Bagi yang belum familiar dengan Danbo, perlu saya jelaskan bahwa Danbo, atau dalam bahasa Jepang “Danboru”, adalah figur boneka yang menyerupai boks karton. Figur ini terkenal di kalangan fotografer dan kerap dijadikan model. Awalnya Danbo adalah karakter dari sebuah komik manga karya Kiyohiko Azuma, yang berjudul “Yotsuba & !”.

Nah, pekan lalu, saya ingin mencoba proyek foto Danbo dengan menggunakan kamera baru saya (Samsung NX300). Ada dua hal yang ingin saya coba, levitasi danbo dan tentu saja, aneka pose Danbo.

Kebetulan saya memiliki tiga buah Danbo (Danbo Amazon.jp, Danbo Taihenyoku Dekimashita, dan Danbo 7-Eleven), sehingga ketiganya dapat melakukan sesi foto bersama-sama.

Pertama, Danbo Taihenyoku Dekimashita ingin melakukan levitasi. Ini cukup sulit karena kecepatan terbang / jatuh yang cepat. Ternyata NX300 mampu menangkap gerak cepat Danbo seperti ini, sehingga terlihat melayang.

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Selanjutnya, inilah aktivitas Danbo di hari libur. Salam Danbo.

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

 

Bauhaus, Klub Rock dengan Azas Kekeluargaan

Aksi Panggung di Klub Bauhaus / foto junanto

Satu hal menarik dari kehidupan malam di Tokyo adalah ragam klub live housenya. Di berbagai sudut kota, tersebar aneka live house yang memainkan bermacam musik. Kalau anda pecinta jazz, cobalah ke Ochanomizu. Beragam klub jazz dapat ditemui di sepanjang jalannya. Kalau mau coba yang agak berkelas, bisa ke Cotton Club atau Blue Note.

Tapi bagi pecinta musik rock, pilihannya lebih banyak. Semalam saya diajak oleh rekan Jane, Norman, dan Abid, menyambangi satu klub rock favorit mereka. Namanya “Bauhaus”. Klub kecil ini terletak di daerah Roppongi. Keunggulan Bauhaus dibanding klub lainnya adalah soal tema. Bauhaus mengangkat tema yang sesuai dengan umur saya, rock tahun 70 dan 80-an. Yeaaay!

Then We Rock !

Memasuki Bauhaus, Jane sudah langsung disambut hangat oleh Rio Takagi, wanita setengah baya dan penyanyi di klub itu. Kita diantar memasuki klub kecil yang terletak di lantai dua sebuah gedung tak jauh dari Hard Rock Café, Roppongi. Kehangatan penerimaan dan pelayanan personal adalah kelebihan Bauhaus.

Aksi Panggung Dave / photo junanto

Suasana kekeluargaan langsung kita rasakan di klub ini. Keunikan lainnya dari Bauhaus adalah mereka menerapkan “total football” live house. Artinya, mulai dari pelayan, juru masaknya, kasir, dan pemain musiknya, dilakukan oleh orang yang sama. Ya, mereka-mereka juga.

Semula saya tidak percaya. Namun saat melihat para pelayan menerima kami, mengajak ngobrol, menerima order, lalu naik ke atas panggung, dan memulai aksi rock, saya cukup terkejut. Waah, betul-betul live house “total football” nih.

Penampilan ciamik gitaris mereka, Kay-chan, patut diacungi jempol. Usianya mungkin sudah lebih dari 50 tahun. Tapi gaya bermainnya penuh semangat dan mirip anak muda. Kay-chan membuka penampilan dengan lagu “Jumpin Jack Flash” dari Rolling Stone. Suasana klub mulai menghangat.

Kita lalu berkenalan dengan Dave. Nah dia ini penyanyi baru di Bauhaus. Baru bekerja dua minggu. Ia melayani tamu, menjadi bartender, tapi sekaligus juga menjadi vokalis di club itu. Suaranya dahsyat. Ia menyanyikan lagu “Sweet Child O Mine” dari Guns and Roses dengan lengkingan yang luar biasa.

Usai menyanyi, Dave mampir di meja kita. “Saya dari Filipina, baru kerja di sini dua minggu” ujarnya membuka pembicaraan. “Mau pesan minum apa?”, tanyanya. Kita pun menyebut pesanan dan Dave mencatat, lalu mengambilkan minuman kita. Duduk sebentar di meja, Dave bilang, “Saya balik nyanyi dulu ya”. Iapun naik lagi ke atas panggung.

Diselingi minuman, kudapan, dan alunan musik rock 80-an, Bauhaus adalah sebuah oase di tengah rutinitas kehidupan kota Tokyo. Bukan hanya soal mendengarkan musik, tapi juga suasana kekeluargaan.

Rio Takagi, sang penyanyi, tak lama kemudian menghampiri kami dan memberi tahu akun facebooknya. “Yuk, kita temenan di FB”, ujarnya. Tak seperti orang Jepang yang tertutup, ia justru sangat terbuka. Dan, kitapun semua berhubungan pertemanan dengan Takagi-san melalui jejaring Facebook.

Sebelum pulang, ia mengundang kita untuk datang pada penampilan band-nya di bulan Desember. Katanya ia akan manggung bersama rekannya, Seki Show, seorang pemusik Jepang yang cinta Indonesia.

Salam Bauhaus.

Yeaay We Rock !