Mencari Kebahagiaan di Amsterdam

 

Anatomi Babi asli di pintu masuk Body Worlds Amsterdam / junanto

Anatomi Babi asli di pintu masuk Body Worlds Amsterdam / junanto

Di Amsterdam, kebahagiaan atau happiness adalah kata kunci yang dipegang hampir setiap warganya. Sebagai kota, yang masuk dalam jajaran kota paling bahagia sedunia, upaya meraih kebahagiaan adalah proyek hidup yang terus menerus diperbaiki.

Apa yang membuat orang Amsterdam, atau Belanda pada umumnya, bahagia? Salah satunya adalah statistik. Belanda mempelajari cara untuk menjadi bahagia. Dari statistik dan anatomi tubuh, dibuatlah semacam proyek kebahagiaan. Ini yang menarik, karena terbukti bahwa bahagia bisa diraih dengan latihan dan penelitian.

Memang terdengar terlalu tekhnis, tapi di Belanda, segalanya menjadi tekhnis dan detail. Saat mampir ke Amsterdam, saya mengunjungi satu Proyek Kebahagiaan Belanda yang dikemas dalam bentuk sebuah museum. Namanya Body Worlds: The Happiness Project. Letaknya di Damrak, dan menjadi salah satu ikon wisata kota Amsterdam.

Adalah seorang Jerman bernama Gunther von Hagens yang mengawali ide ini. Setelah melakukan pameran proyeknya ini, di berbagai kota, ia membangun pameran tetap di Amsterdam.

Apa yang menarik dan unik dari Proyek Kebahagiaan ini? Body Worlds menampilkan satu tema penting untuk kita renungkan, yaitu mengenai tubuh manusia dan pengaruh dari berbagai faktor, mulai dari fisik tubuh hingga emosi, pada kesehatan dan kebahagiaan manusia.

Premisnya sederhana. Apabila tubuh diberi input kesengsaraan dan kesulitan secara terus menerus, manusia akan cenderung tidak bahagia. Demikian pula sebaliknya. Di sini, von Hagens mengambil riset pada berbagai manusia dan menampilkannya utuh di museum ini. Ada lebih dari 200 jasad manusia asli, bukan display boneka, yang ditampilkan di museum body worlds. Berbagai jasad manusia itu, dibedah, dikuliti, dan diawetkan, sehingga kita bisa melihat kompleksitas tubuh manusia, termasuk kekuatan dan kerentanan tubuh.

Dari mana berbagai jasad itu berasal? Museum ini memberikan informasi bahwa jasad-jasad tersebut berasal dari para donatur, yang merelakan tubuhnya digunakan untuk ilmu pengetahuan setelah mereka meninggal.

Jasad-jasad manusia yang diawetkan dengan cara khusus oleh von Hagens tersebut bercerita bahwa kebahagiaan bisa diteliti. Tubuh yang bahagia, umumnya muncul dari kebiasaan fisik dan emosi yang bahagia. Kebiasaan merokok dan stress misalnya, bisa memicu ketidakbahagiaan. Di museum ini, ditampilan organ manusia yang terkena kanker paru-paru akibat merokok, dan otak yang rusak karena stroke. Kita diajak merasakan dampak dari kebiasaan negatif yang ditumpuk sekian lama.

Museum ini menyampaikan pesan bahwa gerak fisik bisa menimbulkan kebahagiaan. Orang yang rajin berolahraga biasanya lebih bahagia dari yang malas bergerak. Di sini, kita diajak untuk senantiasa melatih fisik, gaya hidup sehat. Namun di lain sisi, fisik juga harus diimbangi oleh jiwa dan emosi yang stabil. Kita harus juga mampu melatih emosi kita, agar tidak terjebak stress, tegang, yang berujung pada ketidakbahagiaan.

Memasuki museum Body Worlds ini menurut saya sesuatu banget, dan menjadi satu pengalaman yang “must try” kalau ke Amsterdam. Dengan tiket seharga 20 euro per orang (bisa lebih murah kalau beli online), kita diajak menyelami kembali makna kehidupan ini. Hidup pada ujungnya, bukanlah mencari materi. Tapi pada ujungnya, yang dicari oleh manusia ini, dengan berbagai aktivitasnya, adalah kebahagiaan atau eudomonia menurut Yunani Kuno.

Amsterdam membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi, tanpa kebahagiaan, adalah sia-sia. Pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita, keamanan, kesehatan, dan fungsi institusi yang baik, adalah prasyarat dasar kebahagiaan. Tanpa ekonomi yang baik, pendapatan per kapita yang memadai, sulit meraih kebahagiaan. Namun itu bukan tujuan, setelah semua yang bersifat materi diraih, kebahagiaan bukan sebuah perkara sederhana. Ia membutuhkan kebiasaan, pelatihan emosi, agar dapat pasrah, dan ringan, dalam menghadapi kehidupan dan segala tantangannya. Di sini baru berlaku, uang tidak selamanya membawa kebahagiaan.

Bahagia, di Belanda, adalah soal tekhnis. Bisa dipelajari. Untuk tahu lebih dalam dan detil, silakan mampir ke Body Worlds Amsterdam, bila sedang berkunjung ke sana. Salam Bahagia.

Jerman Lebih Dari Sekedar Menang

Gotze usai membobol gawang Argentina / source FIFA.com

Gotze usai membobol gawang Argentina pada Final Piala Dunia 2014 / photo source FIFA.com

Don’t Cry for Me Argentina. Kiranya begitu suasana galau dan sedih bagi para pendukung kesebelasan Argentina. Hanya tujuh menit menjelang usainya babak perpanjangan waktu, Jerman melalui Mario Gotze, merobek gawang Sergio Romero. Kemenangan 1-0 bertahan, dan membawa Jerman menjadi Juara Dunia 2014.

Ein Traum wurde wahr, itulah yang dikatakan para pemain Jerman sebelum pertandingan melawan Argentina dimulai. Saatnya, mimpi akan jadi kenyataan. Begitu arti pepatah Jerman tersebut. Penyair besar Jerman, Goethe, mengatakan, “Lebih baik berlari daripada bermalas-malasan”.  Jerman membuktikan itu di berbagai hal, mereka berlari di segala bidang, mulai dari tekhnologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan dini hari tadi, sepak bola. Gotze, yang menjadi pemain pengganti meyakini syair Goethe. Ia berlari, berlari, dan berlari. Gotze, bagai Goethe, mampu membawakan syair indah bagi kemenangan Jerman.

Kita lihat pagi tadi, para pemain Argentina bagai tersedak. Tak mampu berkata-kata. Diam terpana. Gadis-gadis cantiknya menangis bagai tak percaya. Para lelakinya ling lung bagai hilang ingatan. Tangisan Argentina mengalir di stadion Maracana, Rio de Jainero, dinihari tadi. Sepak Bola memang bisa menyakitkan.

Usai sudah Piala Dunia 2014. Tiga puluh dua hari sudah kita terbuai dalam keriaan, tawa, canda, drama, tragedi, dan tangis, bersama seluruh warga dunia. Kini kita kembali ke dunia nyata. Namun, sebagaimana ibadah puasa bagi umat beragama, tiga puluh dua hari ibadah ritual nonton sepakbola (yang notabene juga sering bangun malam berbarengan sahur) juga harus punya makna.

Bahwa Final Piala Dunia hari ini bukanlah akhir. Pertandingan final ini justru dapat kita jadikan awal dari sebuah perbaikan kehidupan. Piala Dunia adalah hari-hari bangun malam untuk melakukan perenungan dan pelatihan diri. Jangan sampai semua itu menjadi sia-sia dan tak memiliki makna moral.

Bersama dengan rekan-rekan arek Suroboyo, di pelataran Cafe Heerlijk Gelato, yang bertempat di Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya dini hari tadi, saya bersama mas Aditya (pemilik cafe) menyaksikan nonton bareng Final Piala Dunia. Kita berbincang singkat, mencoba mencari benang merah, apa pelajaran dari kemenangan Jerman kali ini.

Dari omong-omong tadi, ditambah dengan perenungan di perjalanan pulang, plus beberapa referensi masa lalu saya, ada tiga pelajaran yang dapat kita renungkan dari Piala Dunia 2014, yang dapat kita renungkan bersama.

Nobar

Bersama mas Adit, mbak Linda, dan Lelaku Senja, usai Nobar di Heerlijk Gelato, Perpustakaan BI Surabaya

Pelajaran pertama, keberhasilan atau kesuksesan tidak pernah terjadi secara “instan” atau sekali jadi. Itu sudah hukum besi alam. Persiapan yang matang, ketekunan, kesabaran, adalah kunci. Jerman adalah negara yang persisten dalam hal ini. Mereka meraih juara dunia pada tahun 1954, 1974, dan 1990. Secara statistik, di tahun 1982 dan 1986, mereka hampir juara namun kalah di final oleh Italia dan Argentina. Di tahun 2002, mereka kembali masuk final, dan lagi-lagi kalah, saat itu oleh Brasil. Sejak itulah, mulai tahun 2002 itu, Jerman membangun kembali kekuatan sepak bolanya. Regenerasi dilakukan secara disiplin, untuk mencapai target juara di tahun 2014. Bayangkan, dilakukan jauh hari sebelum dini hari tadi.

Juara Dunia tahun 2014, bukan terjadi dalam semalam. Di balik kegembiraan Mueller dkk mengangkat Piala Dunia, di balik gempita kembang api, sorak sorai penonton, ada proses panjang yang bernama kerja keras, air mata, dan keringat. Sukses adalah sebuah proses panjang. Jerman melakukannya selama lebih dari sepuluh tahun. Kebiasaan merencanakan hal-hal berjangka panjang, adalah kunci kesuksesan.

Hal ini yang masih jauh dan belum kita miliki. Pola kerja kebanyakan dari kita, lebih banyak ad hoc, kerapkali mengerjakan pekerjaan hari ini saja. Mirip burung yang pergi pagi mencari makan, lalu pulang sore harinya. Undangan rapat mendadak, kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara sporadis, adalah contoh pekerjaan yang ad hoc. Tentu tak ada yang salah dengan kegiatan tersebut, karena kerap juga diperlukan. Tapi kalau semua pekerjaan adalah ad hoc, maka kita tidak punya prioritas atau pandangan jauh ke depan.

Contoh paling konkrit adalah tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Hari-hari ini kita sering sekali mendapat pertanyaan, atau kegalauan, dari berbagai kalangan, bagaimana persiapan kita menghadapi 2015. Nah, itu kan tinggal setahun lagi. Bukankah harusnya sudah kita siapkan dari 2003, saat kesepakatan ini dibuat. Mungkin karena kita dibesarkan dalam budaya SKS (Sistem Kebut Semalam), semua bisa beres dalam waktu singkat. Belajar dalam semalam toh bisa lulus juga. Lalu cerita legenda-legenda kita juga mengajarkan hal-hal instan tersebut. Membangun seribu candi dalam semalam, mendirikan gunung hanya dari lemparan biduk perahu, adalah legenda yang tertanam di pikiran kita. Bahwa pekerjaan besar seperti membangun candi, bisa kok dilakukan dalam semalam. Kita percaya pada hal-hal magi. Tapi pagi ini, Jerman mengajarkan kita, keberhasilan tak mungkin dilakukan dengan ketergagapan sesaat. Ia perlu kerja keras dan waktu panjang.

Indonesia adalah negara besar dengan segala potensi. Dengan kemampuan kita mengubah paradigma, berpikir panjang, dan mampu melihat masa depan dengan cermat, saya yakin, Indonesia bisa hebat dan bangkit ke depan.

Pelajaran kedua, tim terbaik belum tentu meraih juara. Kita melihat banyak contoh. Belanda misalnya, diperkuat oleh para pemain bagus di segala lini. Argentina juga memiliki kekuatan merata. Bahkan Amerika Serikat menurut saya merupakan tim bola masa depan yang punya gaya permainan bagus. Mereka adalah tim-tim baik, tapi tidak meraih juara. Bukan berarti usaha mereka sia-sia. Johan Cruyf dulu pernah berkata, ”Jangan sampai keinginan menjadi juara membuat orang lupa bermain indah”. Itulah semangat sport sejati, bola harus menghibur, bola harus indah, dan bola harus memukau. Jika ternyata hasilnya adalah kekalahan, kekalahan itu masih mengandung kemenangan.

Di bulan Ramadhan ini, kata-kata tausyiah dari Johan Cruyf itu perlu kita renungkan. Dalam kesalehan dan kehidupan beragama, kita kan diajarkan untuk tidak boleh hanya meraih hasil. Bagi Allah, hasil itu bukan yang utama. Tapi bagaimana cara kita meraihnya. Banyak yang bisa berhasil, jadi juara, tanpa memikirkan cara terindah dan terjujur dalam mendapatkannya. Tanpa cara yang tepat dan baik, hidup yang hanya memburu target hasil, bisa menjadi tidak bertanggungjawab dan amoral. Piala Dunia mengajarkan, tim terbaik belum tentu juara. Tapi keindahan permainan mereka akan mengenang sepanjang zaman. Demikian pula dalam hidup ini. Jangan pikirkan hasilnya. Mau naik gaji, naik pangkat, naik kelas, itu bukan tujuan. Yang terpenting, bekerjalah atau belajarlah dengan cantik, indah, dan memikat. Maka sejarah akan mencatat.

Pelajaran ketiga, asas sepak bola adalah kompetensi, bukan keunggulan yang lain. Bukan karena suku, agama, ras, apalagi kedekatan dengan pimpinan. Neymar, Boateng, Suarez, bukanlah bangsa Eropa. Tapi mereka memiliki kompetensi tinggi untuk bersaing dengan bangsa Eropa yang notabene adalah negara maju. Maksimalisasi kompetensi diri inilah yang perlu kita pakai dalam membangun bangsa dan bekerja. Untuk bersaing, gunakan kompetensi kita, dan karya ke depan, bukan bermodal masa lalu atau perkoncoan saja. Piala Dunia menjadi suatu pembuktian bahwa siapa saja bisa jadi bintang, asalkan kompeten.

Satu lagi catatan menarik saya dari Final tadi malam adalah kehadiran istri, keluarga, dan anak-anak para pemain sepak bola Jerman. Saat Jerman juara, anak-anak dan keluarga menghampiri ayah, atau pacar mendatangi kekasih mereka. Ini adalah sebuah revolusi yang dilakukan Jerman beberapa puluh tahun lalu. Sebelumnya, wanita dianggap pengganggu pekerjaan. Jerman dulu melarang pemainnya menemui keluarga saat konsinyering Piala Dunia. Wanita dan keluarga dianggap bisa merusak konsentrasi.

Adalah Franz Beckenbauer yang mencabut kebiasaan ini. Ia memberi kesempatan para pemain mengajak keluarga, istri ataupun pacar. Koran Jerman saat itu menulis, “Danke, Franz fur diese Liebesnacht”. Terima kasih Franz, atas malam-malam penuh cinta. Ya, bayangkan selama enam minggu para pemain tidak boleh bertemu kekasihnya. Puyeng kan.

Franz Beckenbauer berkata sambil bercanda, “Satu jam seks akan jauh lebih efektif dan membantu daripada lima jam latihan taktik dan teknik bola”. Ya, malam cinta adalah rahasia kemenangan Jerman.

Di sini kita bisa menarik lagi pelajaran, bekerja dan bekerja, tanpa cinta, adalah sebuah perjalanan yang kering. Pekerjaan menjadi tidak efektif dan kadang bisa kehilangan semangat. Jangan lupa kawan, bekerja penuh semangat, tapi tetaplah bercinta. Karena cinta membuat hidup lebih berwarna.

Itu catatan singkat saya pagi ini. Visi dan misi kita dalam hidup nampaknya harus banyak memuat unsur sepakbola ini. Kita sudah tanamkan keinginan buat bekerja dengan tekun, tidak ada kemenangan instan, kita memilih untuk bermain cantik dan indah, mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan manusia,  kita bersama-sama ingin membangun kompetensi diri. Dan terakhir, visi yang paling ultimate, jangan lupa bercinta.

Joachim Ringelnats pernah berkata, “Kegilaan pada bola adalah penyakit. Tapi saya bersyukur kepada Allah ada kegilaan itu”.

Selamat menjalankan sisa puasa kita. Semoga amal ibadah kita diterima dan hidup kita semakin diberkahi. Salam sepak bola.

(Catatan ini dibuat usai menyaksikan Final Piala Dunia 2014 antara Jerman melawan Argentina. Jerman menjadi Juara Dunia setelah menang dengan skor 1-0)

Menggapai Nirwana Bola

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Saat Lukaku dimasukkan ke lapangan oleh Pelatih Belgia, Marc Wilmots, dinihari tadi (2/7), getar kecemasan langsung dirasakan oleh para pemain kesebelasan Amerika Serikat (AS). Lukaku, akhirnya jadi Lukamu, jadi Luka bagi kesebelasan AS. Ya, Romelu Lukaku, pemain muda berbakat yang dikontrak Chelsea dan pernah bermain di Anderlecht, adalah “senjata pamungkas” yang dikeluarkan di masa perpanjangan waktu. Setelah 90 menit bermain ketat dan imbang, masa perpanjangan waktu adalah masa penentuan. Dalam kisah pewayangan, senjata pamungkas dikeluarkan pada jeda waktu itu. Dan Lukaku, adalah senjata Wilmots. Ia keluar, bermain, dan menusuk tanpa ampun.

Sepuluh menit pertama perpanjangan waktu, Belgia menghunjam pertahanan AS dengan daya gempur dan semangat baru. Tim Howard, kiper AS, yang tampil heroik menyelamatkan gawang AS dari gempuran Belgia selama 90 menit (sampai di twitter ada hashtag #HowardForPresident), akhirnya menyerah. Lukaku dan De Bryon menusuk patah dan menghabisi perjuangan Howard. AS harus menyerah dengan skor 2 – 1. Meski Green mampu memberi satu gol bagi AS, dan 10 menit terakhir milik AS, perjuangan itu tak cukup.

Duel Belgia – AS dinihari tadi menutup partai 16 besar Piala Dunia 2014. Menariknya, sebagian besar pertandingan di 16 besar ini diakhiri dengan perpanjangan waktu. Bahkan adu penalti.  Brazil vs Chile, Costa Rica vs Yunani, Jerman vs Aljazair, dan Argentina vs Swiss, berakhir dengan skor 0-0, sebelum dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Belanda bahkan menang di ujung waktu, dua gol disarangkan di menit 88 dan 91. Hampir saja berakhir seri 1 -1.

Inilah catatan menarik dari Piala Dunia 2014. Pertandingan berlangsung semakin menawan dan tidak mudah. Semua kesebelasan menyadari bahwa barangsiapa bisa mengalahkan lawan, maka ia sampai di ujung batas dunia bola. Para filsuf menyebutnya “Nirwana Bola”. Itulah titik Ma’rifat perjalanan sebuah Tim. Di Nirwana, tiada lagi bola, yang ada hanyalah PIALA. Atau balasan surgawi berupa regukan kenikmatan tiada bertepi.

Menyambut babak perempat final yang akan dimulai esok, kiranya kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari pertandingan di babak penyisihan dan 16 besar.

Pelajaran Pertamathere is no easy way to win. Tidak ada kemenangan yang mudah. Hal itu terlihat dari sebagian besar pertandingan di babak 16 besar “dipaksa” harus selesai dengan perpanjangan waktu dan adu penalti. Ini berarti bahwa mencapai kemenangan tidak seperti membalik telapak tangan, bahkan saat menghadapi lawan yang kita anggap lebih lemah. Kita belajar dari 16 besar ini bahwa tidak bisa memandang remeh lawan. Bahkan tidak boleh terlalu percaya diri.

Siapa sangka kalau Argentina harus bermain ekstra keras menghadapi Swiss (yang notabene kelasnya masih di bawah Argentina), atau Brazil yang harus susah payah adu penalti menghadapi Chile. Jadi, kita juga tak bisa memandang remeh terhadap permasalahan yang ada. Terhadap pekerjaan kita. Terhadap tugas sehari-hari. Karena sifat menganggap remeh dapat membuat kita alpa dan meleset pada kegagalan. Kemenangan selalu membutuhkan kerja keras dan kehati-hatian.

Pelajaran Kedua, patience is virtue. Kemenangan hanya bisa diperoleh bagi mereka yang sabar. Kesabaran adalah keutamaan. Selama 90 menit kesebelasan Belgia menggedor gawang Tim Howard. Selama itu juga pertahanan AS bergerak disiplin melalui zona marking. Tapi lewat masa 90 menit, Belgia terlihat lebih sabar. AS lengah. Dan kemenangan milik sang penyabar. Pelajaran kehidupan ini perlu kita renungkan, karena tak sedikit dari kita yang kerap tak sabar, baik perkara sekolah, pekerjaan, karir, pangkat, atau gaji. Ketidaksabaran umumnya berujung pada keluhan demi keluhan, hingga akhirnya kegagalan. Kita harus ingat pepatah, semua indah pada waktunya.

Pelajaran Ketiga, perlunya belajar dan belajar. Kesebelasan yang lolos ke 8 besar, bukan kesebelasan kemarin sore. Permainan AS sangat cantik, Swiss juga, tapi untuk mengatasi Belgia dan Argentina, mereka masih perlu baca banyak buku lagi. Mereka harus mengakui, mengalahkan kesebelasan Juara Dunia, hanya sebuah utopia. Atau seperti yang dikatakan Jacques Derrida, tokoh posmodernis Prancis, yang mengatakan itu adalah suatu l’im-possible (sebuah ketidak-mungkinan). Tapi ketidakmungkinan bisa jadi kemungkinan dengan belajar. Costa Rica telah membuktikan itu, terus menerus belajar membuat mereka bisa menembus delapan besar.

Dan terakhir, di bulan Ramadhan ini, saya teringat tulisan D.A Rindes dalam bukunya “Nine Saints of Java” yang mengibaratkan buah kelapa sebagai metafora atas hakikat dan syariat. Ibadah sebagai nyiur dan shariat hanya kulitnya. ”Kulitnya itu ibarat shariat. Tempurungnya itu ibarat Tarikat, Isinya itu ibarat HakikatMinyaknya itu ibarat ma’rifat”. Kita sering melihat kesuksesan orang itu dari luarnya saja. Padahal apa yang tampak, masih menyimpan cerita panjang sebuah perjuangan. Yang kelihatan hanya kulit, bahwa ia sukses. Di baliknya, ada kerja keras dan ketekunan.

Kesebelasan Juara, seperti Brazil, Jerman, atau Argentina, itu dapat diibaratkan kita lihat seperti shariat, kulit semata. Besar, hebat, dan juara. Tapi kita kerap lupa, bahwa di balik kebesaran mereka itu, ada tarikat, ada hakikat, dan ada ma’rifat. Di balik kesebelasan Brazil, ada kerja keras, ada konsistensi, ada disiplin, ada integritas.

Saat teman sebayanya tidur, Neymar (pemain Brazil) bangun jam 4 pagi untuk menendang-nendang bola. Saat teman sebayanya bermalas2an di siang hari, Neymar melatih fisiknya berlari di pantai  yang terik. Keajegan dalam berlatih adalah kunci sukses Neymar. Untuk itu, ia rela kehilangan kesenangan-kesenangan di masa mudanya. Ia rela membangun habitus yang mau menunda kesenangan (deffered gratification).

Sebagai bangsa Indonesia, ketiga hal tadi bisa jadi pelajaran kita. Kita perlu kerja lebih keras. Perlu lebih serius, ajeg, dan perlu menunda kesenangan-kesenangan sesaat, untuk masa depan yang lebih baik. Menghadapi pemilu pilpres nanti, nilai-nilai ini juga bisa dijadikan pedoman. Membangun bangsa Indonesia bukan perkara satu dua malam. Ia membutuhkan konsistensi, ketekunan, dan tidak mudah menyerah. Di sinilah harapan kita pada Presiden baru nanti, siapapun yang terpilih, untuk dapat menjaga ketekunan dan kesabaran bangsa dalam membangun dirinya. Dan membangun sebuah habitus, hanya akan bisa sukses lewat sebuah laku, bukan dengan kata-kata semata.

Mari kita belajar dari Piala Dunia 2014. Mari kita sambut dimulainya babak delapan besar. Selamat Menyaksikan. Selamat menjagokan kesebelasan anda. Dan semoga Indonesia dapat memilih Presiden yang tepat dan mampu membawa bangsa ini lebih baik lagi.

(tulisan ini dibuat usai menyaksikan pertandingan terakhir dari partai 16 besar di Piala Dunia 2014, Brazil, antara Kesebelasan Amerika Serikat melawan kesebelasan Belgia (2/7)

Hidup Tanpa Rencana a la Bob Sadino

Bersama Oom Bob di Penyimpanan Keju Kem Chick

Dalam memulai usaha, buku-buku teks dan manajemen umumnya mengajarkan kita untuk menetapkan tujuan terlebih dahulu. Setelah ditetapkan, kita lalu menyusun rencana untuk mencapai tujuan tersebut.

Tapi, menurut Bob Sadino, yang juga akrab dipanggil Om Bob, hal itu omong kosong belaka. Itu hanya teori anak sekolah. “Hiduplah Tanpa Rencana”, begitu pesannya pada saya beberapa waktu lalu.

Hal itu tentu mengagetkan saya, yang sejak kecil diajarkan untuk membuat rencana dan tujuan, terutama dalam pekerjaan dan usaha. Bagaimana mungkin usaha tanpa tujuan. Tapi itulah yang disampaikan oleh Om Bob.

Sebuah kehormatan bagi saya saat diundang oleh Om Bob untuk makan siang di kafenya, yang terletak di dalam Super Market KembChick, Kemang, Jakarta Selatan. Sebelumnya, saya dan Om Bob pernah bertemu di Tokyo dalam acara Seminar Wirausaha yang diadakan di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Di Kem Chick Jakarta, kita bertemu lagi untuk berbincang-bincang mengenai kewirausahaan di Indonesia, termasuk membahas sisi-sisi sosial, kultur, dan budaya pada umumnya. Selain saya dan Om Bob, juga hadir pak Marlock, sahabat Om Bob.

Melihat kemegahan Kemchick, dengan Apartemen Mansion mewah yang dibangun di atasnya, tentu wajar bila saya bertanya apakah saat dulu Om Bob memulai usaha pernah menetapkan tujuan akhir sehingga usahanya akan besar seperti saat ini. Jawabnya, tidak pernah terpikirkan. Ia bekerja tanpa tujuan dan rencana.

“Bagaimana mungkin punya tujuan”, ujar Om Bob. “Saya memulai usaha hanya dari berjualan telor dari rumah ke rumah. Boro-boro berpikir punya warung, apalagi supermarket”, sambungnya.

“Lalu, bagaimana bisa besar seperti ini?”, tanya saya kemudian. Jawabnya, “40 tahun!” … Inilah makna dari sebuah proses.

Ya, Om Bob mengajarkan saya akan pentingnya sebuah proses. Pentingnya perjalanan, ketekunan, akumulasi pengalaman, dan kesabaran. Hal itu yang saat ini masih kurang dimiliki oleh para wirausahawan muda. Umumnya mereka mudah menyerah, ingin hasil instan, dan cengeng meminta aneka fasilitas.

Makan siang bersama Oom dan Tante Bob Sadino di Kem Chick

Menyinggung ke sektor pertanian dan peternakan, sisi usaha di mana Om Bob berkecimpung, ia berpesan pada saya. “Kalau ada petani yang ribut mengatakan bahwa ia perlu kredit agar usaha pertaniannya jalan, itu berarti dia bukan petani. Kamu harus hati-hati, karena bisa jadi mereka hanya mengatasnamakan petani !”.

Paradigma yang selama ini selalu ditanamkan pada kita, bahwa “Modal” itu adalah “Uang”. Jadi, kalau mau memulai usaha, kita harus punya uang. Padahal, itu paradigma yang salah. Modal itu bukan Uang. Bagi Om Bob, uang itu nomor seratus. Ketekunan, kesabaran, dan kemampuan membaca peluang, jauh lebih penting dari uang. “Coba tanyakan pada pengusaha-pengusaha sukses yang memulai dari bawah, umumnya mereka akan mengatakan hal yang sama, bahwa uang atau kredit bank, itu nomor sekian”, lanjut Om Bob.

Apa yang dikatakan oleh Om Bob siang itu sungguh menarik untuk direnungkan.  Kata-katanya tentu bukan asal ngomong, karena ia telah membuktikannya sendiri. Ia mengajarkan kita makna sebuah perjalanan, kesabaran, dan ketekunan. Hal inilah yang menurut saya sangat penting saat ini, terutama bagi para wirausahawan muda yang cenderung ingin sukses dalam waktu singkat.

Usai makan siang, saya diajak tur singkat oleh Om Bob untuk melihat suasana Super Market Kem Chick. Sambil melihat, Om Bob menjelaskan cerita dan aneka hal terkait dengan barang-barang yang disajikan di sana. Ia juga secara ramah menegur karyawannya (ia tidak pernah menyebut mereka karyawan, tapi anak-anaknya), serta pelanggan yang datang. Suasana kekeluargaan memang mewarnai KemChick.

Sambil berjalan, saya bertanya lagi, “Mengapa aura KemChick berbeda dibanding super market yang lain?” Jawab Om Bob, “Itulah aura dari sebuah perjalanan panjang, yang belum berakhir, dan akan terus bergulir ke depan”.

Di usianya yang 82 tahun, semangat seperti itu sungguh luar biasa. Semoga semangat itu bisa tumbuh juga di diri kita semua, khususnya generasi muda Indonesia. Salam.

Pak Tua Soba dan Dedikasi Kehidupan

Pak tua Suzuki dan istrinya di warung soba milik mereka / photo junanto

Tak jauh dari tempat saya tinggal, ada satu warung Soba sederhana. Pemiliknya adalah Pak tua Suzuki. Usianya sekitar 70 tahun. Setiap hari saya melewati warungnya, baik saat berangkat ataupun pulang bekerja. Saat lewat di depan warung Soba itu, saya dapat menghirup aroma harum dari kuah soba buatan pak Suzuki. Selama tiga tahun tinggal di Tokyo, saya kerap mengunjungi warung itu untuk mencicipi Soba hangat ataupun Soba dinginnya.

Satu hal yang membuat saya suka dengan warung itu adalah kehangatan personal dari Pak Suzuki.  Usai menyajikan soba, ia biasanya duduk di salah satu kursi di pojok warungnya, sambil membaca koran. Sembari makan soba, saya kerap ngobrol-ngobrol dengannya. Kitapun jadi saling mengenal.

Pak Suzuki masih membuat sendiri sobanya setiap hari. Kalau pagi tiba, ia meracik tepung soba hingga menjadi adonan soba. Adonan itu ia iris-iris sehingga menjadi potongan mie soba.

Selama lebih dari 40 tahun lamanya, pak Suzuki membuat soba. Di warungnya, ia dibantu istri dan satu stafnya. Ia juga masih naik motor untuk mengantar soba ke pelanggan-pelanggannya. Ya, warung soba pak Suzuki juga memberikan layanan “delivery” untuk pelanggan di sekitar wilayahnya. Dengan motor tuanya, ia membawa soba ke rumah para pelanggannya.

Sesekali, saya bertemu Pak Suzuki sedang mengendarai motornya untuk mengantar soba.

“Konnichiwa!”, begitu ia selalu berteriak dengan semangat kalau berpapasan dengan saya di siang hari.

Cinta Suzuki-san dalam semangkuk soba / photo junanto

Melakukan pekerjaan dengan “passion” dan serius adalah ciri dari kebanyakan orang Jepang. Pak Suzuki mengatakan pada saya bahwa “bekerja itu mulia”. Apapun pekerjaan itu, harus kita lakukan dengan sepenuh hati.  Persis apa yang dikatakan Confusius, “Wherever you go, go with all your heart”.

Bagi pak Suzuki, bekerja bukanlah sekedar mencari untung, apalagi ingin menjadi kaya. Ia membuktikan bahwa membuat soba adalah dedikasinya pada kehidupan. Saat meracik soba, ia bagai seorang maestro. Ia bagai Shakespeare dengan Othello-nya, Nietzche dengan Uebermensch-nya, Da Vinci dengan Monalisa-nya, terlihat orkestratik, takzim, dan khusyuk.

Di Jepang, saya jarang sekali melihat restoran yang menyajikan aneka ragam makanan. Umumnya mereka fokus hanya pada satu menu, soba saja, udon saja, sushi saja, atau tempura saja.Hal itu membuktikan bahwa kesetiaan, dedikasi pada pekerjaan, menjadi jauh lebih penting dalam kehidupan mereka, ketimbang keuntungan semata.

Ada peribahasa Jepang yang mengatakan “Mochi wa Mochiya”. Pepatah itu secara harfiah berarti “Untuk mencari mochi terbaik, pergilah ke tukang mochi”. Esensinya adalah seseorang harus melakukan sesuatu secara serius hingga mencapai keahlian.

Kecintaan dan keseriusan pada pekerjaan itu, membuat saya jarang sekali mendengar orang Jepang yang mengeluh pada pekerjaannya. Meski ia “hanya” tukang parkir, supir bis kota, ataupun pemilik warung soba, semuanya bangga pada pekerjaannya. Bekerja itu mulia sehingga mereka melakukan dengan sepenuh hati, passionate, dan bangga.

Saat saya katakan padanya bahwa sebentar lagi saya akan kembali ke Indonesia, Pak Suzuki menyalami saya dengan erat. “Arigatou”, katanya dengan berbisik sambil merapatkan badannya ke saya.

Iiie, watashi, Arigatou” , jawab saya. “Justru sebaliknya, saya yang harusnya berterima kasih pada pak Suzuki”.

Ya, saya yang harus berterima kasih padanya. Setiap makan di warungnya, berbicara dengannya, saya belajar banyak tentang kehidupan. Tentang passion, tentang dedikasi, tentang kebahagiaan.

Tak jarang kita, bahkan saya sendiri, sering mengeluhkan pekerjaan sendiri. Yang masalah begini lah. Begitu lah. Kerap kali pula kita menyalahkan orang lain, ataupun menganggap pekerjaan atau posisi kita tidak penting, “Ah, saya kan cuma staf rendahan, cuma kepala bagian, cuma sopir, cuma tukang mie ayam, cuma karyawan biasa, cuma mahasiswa, dan cuma lainnya …. ”.

Keluhan dan kegalauan itu berujung pada hilangnya passion pada pekerjaan.  Setiap hari adalah keluhan demi keluhan.

Kitapun gagal berdamai dengan diri kita sendiri.

Akibatnya, pekerjaan jadi asal-asalan. Kita bekerja, hanya mencari nafkah. Menunggu gajian. Kita buat usaha, hanya mencari untung. Acap kali menghalalkan segala cara. Lupa pada esensi kemuliaan pekerjaan itu sendiri.

Dan di warung soba sederhana itu, pak tua Suzuki mengajari saya arti cinta pekerjaan dan dedikasi pada kehidupan.

Arigatou Suzuki-san!

Arigatou Suzuki-san !

Pengakuan Saya Ikut Tawuran (di masa muda)

Saya (paling kanan) bersama Gank Orthodox sebelum "ditangkap" petugas karena mencoret tembok dgn cat pylox - Foto diambil tahun 1988.

Akhir tahun 1989, saya terlibat tawuran pelajar yang tak akan saya lupakan seumur hidup. Itu bukan tawuran pertama dan terakhir saya, tapi merupakan tawuran terbesar yang pernah saya ikuti. Saat itu, saya duduk di bangku kelas tiga SMA di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Menjadi SMA di tahun 80-an adalah juga mengakrabkan diri dengan tawuran. Tawuran ada di mana-mana dan bisa terjadi kapan saja.

Saat SMA, saya memang bukan pelajar yang baik-baik amat. Tapi juga tidak bandel-bandel amat. Saya hampir tidak pernah membaca buku pelajaran. Nilai SMA saya nyaris “jeblok” dengan nilai rapor pas-pas-an. Bukan tipikal anak pintar yang senang belajar. Kerjaan sehari-hari nongkrong di pagar SMA bersama gank sebaya. Sesekali merokok dan mencicipi alkohol, untungnya tidak terlibat narkoba, jadi otak saya masih agak lempeng sedikit untuk meneruskan kehidupan ke depan.

Berurusan dengan petugas berwajib juga hal biasa bagi saya. Bersama gank Orthodox waktu itu (gank SMA saya), saya pernah diinterogasi dan nyaris ditangkap gara-gara membuat graffiti di tembok parkir Puncak Pass. Saat itu, kita dituduh mencoret-coret tembok dengan nama gank dan SMA.

Di tahun 80-an, tawuran juga bukan hal yang aneh. Saya tinggal di daerah Kemayoran, sehingga harus transit di terminal Senen untuk berganti bis atau mikrolet ke Salemba. Kalau pergi ke sekolah, saya membawa kaos ganti di tas, ataupun tidak memakai badge nama sekolah. Hal itu untuk berjaga-jaga apabila terjadi sweeping atau tawuran mendadak.

Sering sekali saya mengalami sweeping  di bis oleh anak-anak SMA lain. Saat itu wilayah Kramat dikuasai anak Doski – konon katanya singkatan dari “Doa Sebelum Kiamat”. Suatu hari, segerombolah anak SMA Doski naik ke bis, dan melakukan inspeksi. “Eeh, anak mana lo?” … Sambil mereka melihat badge SMA saya. Kalau kebetulan yang ditanya adalah SMA musuh, atau SMA yang sedang diincar, tentu saya akan ramai-ramai diseret dan digebuki.

Saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri, satu anak SMA diseret keluar bis dan digebuki beramai-ramai. “Ampun bang .. ampun bang!”, anak itu hanya berteriak tanpa bisa apa.

Benih-benih tawuran muncul dari banyak hal. Selain soal tradisi masa lalu, urusan kecil soal palak memalak biasanya bisa jadi pencetus. Kalau untuk urusan dipalak, saya sudah biasa. Di kantong, paling tidak saya menyediakan uang Rp100 hingga Rp150 (saat itu jumlah yang lumayan untuk beli rokok).

Begitu turun di terminal Senen, biasanya ada satu preman SMA Senen yang saya ingat bergigi ompong, merangkul dan memeluk saya. Secara rutin, saya setor uang Rp100 agar bisa dibiarkan pulang dengan selamat.

Meski SMA saya bukan SMA yang punya tradisi tawuran, maraknya tawuran yang terjadi saat itu tak bisa menjadikannya imun. Beberapa kali kita terlibat bentrok dan tawuran dengan SMA sekitar. Saling lempar batu, bambu, pukul-pukulan, adalah hal biasa yang terjadi.

Saya (paling kiri) dipanggil guru BP untuk dinasehati/ koleksi foto Ale tahun 1989

Namun tawuran di akhir 1989 itu adalah yang terbesar saya pernah alami. Ceritanya, salah satu anak SMA kita dipalak oleh SMA lain. Suasana memanas. Kawan-kawan SMA saya melakukan rapat persiapan untuk serangan balasan. Satu kawan, yang memang bandelnya luar biasa, mengatur strategi serangan. Kawan ini memang dalam otaknya punya kurikulum tawuran. Konon, ia dipindahkan ke SMA kita karena dulu punya hobi tawuran.

Strateginya adalah, kita semua menaiki bis tingkat untuk menyerang gerombolan SMA lawan yang sedang duduk di halte. Kita diminta memenuhi bis tingkat, mengisi tas kita dengan batu-batu. Ia menyusun pembagian tim. Mereka yang di bawah, tugasnya menyerang dan menggebuki lawan. Yang di atas melempari batu. Strategi sempurna dan cukup “biadab” menurut saya.

Terus terang saya tak ingin ikut tawuran dengan metode “penyerangan” kali ini. Takut. Itu alasannya. Tapi kalau nggak ikut tawuran, saya nggak bisa pulang karena bis yang akan digunakan menyerang adalah bis yang saya tumpangi kalau pulang. Pastinya nanti akan ada serangan balasan, dan saya bisa konyol sendirian di bis nanti.

Kita-pun menyetop bis tingkat. Saya masih ingat, bis tingkat PPD itu jurusan Kampung Melayu – Senen. Ada sekitar 30-50 anak SMA saya yang ikut penyerangan. Saya duduk di bagian atas bis. Batu dan kerikil ada di tas saya. Gilaknya. Kawan saya yang biang tawuran, melakukan pidato sebelum penyerangan. Bahkan ia meminta kita membaca doa terlebih dahulu. “Kawan-kawan, misi kita kali ini adalah menyerang lawan di sini, tujuan kita adalah kesetiakawanan, membela nama SMA .. bla .. bla”.

Saya tak bisa konsentrasi mendengarnya, karena ketakutan dan galau memikirkan apa yang akan terjadi.

Menjelang halte bis FK-UI Salemba, ketegangan di dalam bis meningkat. Kita melihat, segerombolan SMA lawan sedang duduk menunggu bis. Kita semua di bis menunduk. Bersiap. Dan menanti apa yang akan terjadi.

Saat bis berhenti di halte. Pemimpin rombongan berteriak. “Serbuuu !”

Segerombolan kawan merangsek keluar dari bis dan menyerbu. Kejadian yang sangat mengerikan bagi saya. Kami di atas melihat sambil melempari batu ke bawah. Namun, dari bawah, batu juga beterbangan ke kami. Kaca-kaca pecah. Supir bis, kenek, dan penumpang berteriak-teriak. Bis berhenti. Kami ngibrit keluar.

Di depan pintu bis, saya melihat darah. Beberapa anak saya lihat ambruk berdarah-darah digebuki dan dipukuli dengan berbagai alat atau senjata. Ada botol, garpu bengkok, dan batu-batu besar.

Saya, dan tiga orang kawan lari.

Dari belakang, gerombolan SMA lawan mengejar. Ada juga polisi. Saya pun lari. Lari selari-larinya. Dan saya tak menyadari seberapa jauh saya berlari. Masuk ke gang kecil, ke jalanan sempit. Kita baru berhenti berlari di depan gedung bioskop TIM. Haaah? Saya baru sadar berlari tanpa henti dari FK-UI ke bioskop TIM.

Kita semua berganti baju SMA dengan kaos, dan kembali ke rumah masing-masing dengan hati takut dan galau. Saya sering ikut tawuran kecil-kecilan, saling lempar-lemparan batu lalu lari, tapi belum pernah melihat seperti yang saya alami itu.  Sungguh menyedihkan, dan tak terlupakan.

Esoknya, saya baru dengar kabar bahwa korban tawuran kemarin dibawa ke ICU RS.Carolus. Untung nyawanya bisa diselamatkan. Beberapa polisi datang ke SMA kami untuk menyelidiki.  Beberapa dari kita diwawancarai, diinterogasi. Kasus itu berakhir dengan penandatanganan akta damai antara dua SMA yang bertikai. Sebuah penyelesaian klasik, yang selalu terjadi usai tawuran SMA.

………

September 2012,  sekitar 23 tahun setelah saya mengikuti tawuran dulu. Kejadian tawuran terulang lagi, dan lagi.  Tragedinya kali ini menyedihkan karena memakan korban nyawa.

Namun, sebagai mantan pelaku “ikut-ikutan” tawuran, saya hanya bisa merenung dan tidak menyalahkan siapa-siapa. Tawuran seolah menjadi bagian dari kurikulum SMA kita. Hal ini sungguh memprihatinkan dan mencoreng wajah pendidikan kita.

Di Jepang, seorang kawan Jepang bercerita bahwa tawuran memang bukan menjadi masalah. Tapi kasus “bully-ing” sangat parah dan mendapat perhatian serius dari pemerintah. Banyak kasus bunuh diri pelajar akibat tak tahan di-bully senior atau teman SMA-nya. Kasus ini memprihatinkan dunia pendidikan Jepang.

Lain negeri, lain masalah dunia pendidikannya. Untuk mengatakan bahwa tawuran di Indonesia kali ini makin parah, tidak juga. Dulu, tawuran juga sadis dan memakan banyak korban jiwa. Korban mati, ditusuk, diclurit, juga terjadi di masa 20 tahun lampau. Saat itu, banyak kawan yang pergi melayat teman SMA-nya yang jadi korban tawuran. Tapi saat itu, media massa belum seperti sekarang. Media sosial juga belum ada. Jadi hanya seperti “kenakalan” remaja saja.

Menyelesaikan tawuran tentu bukan masalah mudah, dan tak bisa diselesaikan sesaat. Menyalahkan sistem pendidikan saat ini, ataupun pemerintah sekarang, sebagai penyebab maraknya tawuran, tentu adalah sebuah politisasi masalah. Kenyataannya, di pemerintah-pemerintah lalu juga sudah ada tawuran.

Tawuran menunjukkan sebuah penyakit dari berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perbedaan, perdamaian, dan nilai-nilai hidup orang lain. Para siswa melihat lingkungannya, dan belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka.

Saya tentu menyesal pernah ikut tawuran. Tapi saya menyadari, bahwa di masa muda, nilai-nilai yang dimiliki belum tertanam sempurna. Kita berbuat dengan melihat lingkungan sekitar kita juga.

Oleh karenanya, upaya menambah jam pelajaran, memperluas sanksi, dan lain sebagainya, bukan sebuah solusi jangka panjang untuk menghindari tawuran. Upaya menanamkan nilai moral, cinta, kasih sayang, kelembutan, dan ketulusan hati, menjadi penting di keluarga maupun sekolah.

Anak-anak yang dibesarkan dalam kasih sayang dan melihat lingkungan yang penuh kasih sayang, akan terbiasa mencintai dan mengasihi sesama. Tentu saja, hal ini tak bisa terjadi dalam sesaat.

Semoga tawuran dapat semakin berkurang, dan anak-anak kita terhindar dari kekerasan. Salam.

Kematian Sadako dan Mimpi Perdamaian

Patung Sadako Memegang Burung Jenjang Kertas / photo junanto

Perang selalu menyisakan kepedihan. Meski waktu telah berlalu, kenangan akan berbagai penderitaan itu tak pernah surut. Hal itulah yang saya rasakan saat berkunjung ke Peace Memorial Park di Hiroshima, Jepang. Di tempat itulah, pada 6 Agustus 1945, terjadi tragedi bom atom yang kepedihannya tak pernah bisa dilupakan oleh umat manusia.

Suasana hening dan syahdu begitu terasa di seputar Peace Memorial Park tersebut. Saya merasakan sebuah suasana, yang diistilahkan dengan “psychological present tense”, atau suasana psikologis yang membuat suasana puluhan tahun lampau, masih terasa nyata terjadi di hadapan kita. Merinding. Bergidik.

Saya lama terduduk di Children’s Peace Monument, yang terletak di salah satu pojok taman itu. Bagi saya, monumen itu menyimpan sebuah aura magis dan perih yang disimbolkan melalui penderitaan seorang anak, yang bernama Sadako Sasaki. Ia menjadi korban dari keganasan radiasi bom atom Hiroshima.

Tentu saja, kenangan yang paling nyata dirasakan oleh Masahiro Sasaki, adik kandung dari Sadako Sasaki, yang masih hidup sekarang. Pekan lalu, Masahiro bercerita di media Jepang tentang pedihnya menjadi korban bom atom.

Masahiro Sasaki bercerita tentang kejadian yang menyedihkan itu. Ia baru berusia 2 tahun, sementara sang kakak berusia 4 tahun, saat pesawat bomber B-29 menjatuhkan bom di pagi hari, 6 Agustus 1945.

Hanya dalam beberapa saat, “fat boy”, julukan bom yang dijatuhkan di Hiroshima, menyapu bersih kota itu dengan awan panas radiasi. Bom itu mengubah kota yang cantik menjadi abu dalam sekejap. Sekitar 140 ribu orang tewas, baik seketika, beberapa saat sesudahnya, maupun berbulan kemudian akibat terpapar radiasi.

Sadako dan Masahiro saat itu berada di rumah, hanya sekitar 1,6 kilometer dari ground zero. Bersama Ibu dan Neneknya, mereka berlari ke sungai terdekat untuk menghindari api panas. Mereka berpelukan bersama saat “hujan hitam” atau “black rain” turun akibat saratnya radiasi di langit. Tanpa disadari, saat itu tubuh mereka telah terpapar radiasi.

Namun, dari mereka berempat, hanya Sadako yang jatuh sakit. Itupun baru terasa beberapa tahun kemudian. Tak pernah terbayangkan bahwa Sadako akan jatuh sakit karena selama beberapa tahun sejak bom atom, ia tumbuh menjadi gadis yang energik dan penuh semangat. Ia bahkan menjadi tim atletik di sekolah dasarnya.

Sadako masuk rumah sakit pada Februari 1955. Ia terkena leukimia akibat radiasi dari bom atom. Dalam sakitnya, ia melipat burung kertas dengan harapan bisa mengobati sakitnya. Ia meyakini legenda di Jepang yang mengatakan bahwa apabila seseorang bisa melipat 1000 burung jenjang (crane) dari kertas, harapannya akan terkabul.

Sadako ingin sembuh dari sakitnya.

Kisah Sadako di Peace Memorial Museum Hiroshima / photo junanto

Saat itu, kertas sulit didapat dan harganya mahal. Sadako menggunakan berbagai kertas yang ada untuk melipatnya menjadi burung, termasuk kertas pembungkus obatnya.

Sadako tentu saja tidak berhasil sembuh dari sakitnya. Dengan bantuan kawan-kawannya, ia dapat melipat 1000 burung kertas. Namun saat memulai lipatan untuk 1000 burung selanjutnya, ia meninggal.

Kematian Sadako menyedihkan banyak teman-temannya. Mereka kemudian melakukan penggalangan dana untuk membangun monumen guna mengenang Sadako. Monumen, yang dinamakan Children’s Peace Monument itu, menggoreskan jeritan hati anak-anak, “This is our cry. This is our prayer. For building peace in the world.”

Kisah Sadako dan 1000 burung kertas telah ditulis dalam beragam buku, novel, dan film, termasuk diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Meski Sadako meninggal muda, semangat dan inspirasinya hidup hingga saat ini.

Di dalam Museum Perdamaian, kita bisa melihat beberapa peninggalan barang dari Sadako. Ada catatan mediknya, tulisan tangannya, dan juga harapan-harapannya.

Seribu burung yang dibuat Sadako telah dibagi-bagikan oleh keluarganya pada berbagai pihak yang peduli dengan perdamaian. Saat ini, keluarganya masih memegang lima buah burung. Kelima burung itu juga telah dan akan dibagikan ke beberapa museum, seperti WTC visitor centre untuk mengenang korban serangan teroris 11 September 2011, Museum Perdamaian di Austria, dan USS Arizona Memorial di Pearl Harbor.

Burung-burung itu mungkin hanyalah burung kertas. Tapi bagi banyak orang, itu bukan sekedar kertas. Dalam setiap lipatannya, terkandung emosi yang mendalam dari Sadako. Burung kertas itu adalah juga simbol dari sebuah harapan. Harapan akan dunia yang damai.

Anak-anak adalah korban tak berdosa dari berbagai pertikaian politik dan perang. Enam puluh tujuh tahun sejak bom atom Hiroshima, perang dan kekerasan masih terjadi di mana-mana. Anak-anak masih menjadi korban, darah masih tertumpah, dan hulu ledak nuklir masih tersimpan aktif di banyak negara.

Dengan berbagai konstelasi yang terjadi di dunia saat ini, di pojok Museum Perdamaian Hiroshima, saya merenung dan bertanya, mungkinkah perdamaian terwujud di muka bumi?

Children's Peace Monument Hiroshima / junanto

Tak Ada “Sweeping” Saat Ibadah di Tokyo

Masyarakat Indonesia usai Sholat Ied di Perumahan Warga Jepang, Tokyo / photo junanto

Andai ada gerakan sweeping umat beragama lain di kota Tokyo, atau misal ada semacam “Front Pembela Shinto”, mungkin lebaran kami kemarin tak bisa berjalan dengan tenang dan damai.

Malam hari, sebelum Idul Fitri di Jepang (19/8), saya datang ke Balai Indonesia atau Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) di wilayah Meguro. Di bangunan SRIT itu, umat Islam Indonesia secara rutin melakukan berbagai kegiatan ibadah. Bahkan kalau hari Jum’at, saya melakukan sholat Jum’at di sana.

Pada bulan Ramadhan, kegiatan umat Islam Indonesia di Jepang juga dipusatkan di SRIT. Bukan hanya tarawih, tapi juga kegiatan seperti pesantren, keputrian, bazaar, dan juga ikhtikaf (menginap), pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Namun ada satu hal menarik dari kegiatan keagamaan di SRIT tersebut. Sekolah ini terletak di kawasan perumahan yang tenang, di wilayah Meguro, Tokyo. Di kiri kanannya terletak rumah-rumah masyarakat. Umumnya mereka adalah orang Jepang yang mendambakan kehidupan sepi dan tenang.

Untuk menjaga ketenangan itulah, kami dilarang menggunakan pengeras suara dalam beribadah. Jadi, jangan harap bisa mendengar suara adzan yang pekik, atau suara tilawah dan pengajian ibu-ibu yang keras, seperti di Indonesia. Pengeras suara boleh digunakan, sepanjang suaranya hanya di dalam ruangan.

Tapi ya namanya ibadah, apalagi kalau bulan Ramadhan tiba, pastinya ramai dan menarik perhatian. Sesekali kami membuat keramaian. Beberapa kali di halaman SRIT dibuat bazaar yang ramai dan dipadati umat. Kalau Sholat Jum’at, deretan mobil dan masyarakat Indonesia juga memenuhi halaman SRIT, kadang menimbulkan keramaian.

Puncaknya, ya apalagi kalau bukan saat Sholat Ied. Kemarin (20/8) , sekitar 3500 orang, yang sebagian besarnya adalah masyarakat Indonesia, datang ke SRIT. Usai sholat, mereka membludak, luber ke depan rumah-rumah orang Jepang di sekitar kompleks. Beberapa bahkan ada yang nongkrong di depan pagar rumah.

Ada satu ibu dan anaknya sampai tidak bisa menjalankan mobilnya, karena ramainya masyarakat Indonesia memenuhi jalan saat bubaran sholat. Tampak di  satu dua rumah ada yang  mengintip dari jendela, melihat keramaian apa yang terjadi. Maklum hari itu adalah Minggu pagi, saatnya mereka beristirahat.

Mobil Warga Jepang Terjebak Keramaian usai Ied / photo junanto

Ibu ini sedang bertanya2 apa yang terjadi / photo junanto

Sesekali kami menerima protes dari tetangga. Protes biasanya diajukan melalui surat langsung ke Kepala Sekolah SRIT ataupun ke kepolisian setempat. Mereka umumnya terganggu dengan keramaian yang muncul dari ibadah umat Islam. Tapi tidak ada tekanan apa-apa, selain hanya meminta kita untuk tidak berisik dan menjaga ketertiban.

Kecurigaan pada Islam tentu ada. Secara rutin, kepolisian Tokyo melakukan patroli dan pengawasan melekat terhadap ibadah umat Islam di SRIT, dan juga di seluruh Masjid di Jepang. Persepsi dan paradigma tentang Islam yang radikal, tentu menjadi salah satu alasan dilakukannya pengawasan itu.

Namun permasalahan yang kami hadapi hanya sebatas itu saja. Tegoran formal dari tetangga, dan pengawasan dari polisi setempat. Selebihnya, kami bebas melakukan ibadah tanpa tekanan. Mau jumatan, tarawihan, pengajian, hingga sholat Ied, bisa kami lakukan tanpa adanya unsur ketakutan dan tekanan.

Polisi yang mengawasi kami bahkan sangat ramah. Namanya Inspektur Yamaguchi. Ia fasih mengucapkan “Assalamu’alaikum” dan “Alhamdulillah”. Ia memonitor setiap kegiatan keagamaan di SRIT. Tapi yang menarik, ia tidak rewel minta amplop atau kopi kalau sedang menjaga ibadah kami. Meski sepanjang waktu ia bertugas sambil berdiri, tak pernah ia minta macam-macam pada kami.

Ibadah di SRIT dan kota Tokyo pada umumnya cukup tenang. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Padahal, kalau mereka mau, masyarakat Jepang yang terganggu itu bisa saja memprotes kami dengan kekerasan. Andai saja mereka mendirikan “Front Pembela Shinto”, yang radikal, tentu gedung sekolah kami sudah digrebek, bahkan dibakar. Mereka juga bisa saja menganiaya kami saat melakukan ibadah. Toh ini negara mereka, dan ingat, mereka mayoritas loh.

Mereka juga bisa saja berdalih macam-macam, mulai dari kegiatan agama kami yang meresahkan dan mengganggu ketenangan lingkungan, hingga kecurigaan peruntukan gedung SRIT yang menyalahi fungsi. “Sekolah kok dibuat tempat ibadah, jadi boleh saja dibakar”, mungkin begitu pikiran ekstrimnya.

Tapi, sepanjang saya tinggal di Jepang dan beribadah di sini, tidak pernah ada hal seperti itu terjadi. Beberapa tetangga yang orang Jepang bahkan mengucapkan “omedetou”, atau selamat, kepada kami, saat Hari Raya Idul Fitri kemarin.

Di satu sisi, sentimen terhadap orang asing di Jepang masih tinggi. Beberapa gerakan ultra nasionalis bahkan mengecam banyaknya orang asing di Jepang. Namun di sisi lain, gerakan itu tidak sampai menjurus pada religionisme dan anarkisme.

Dari kejadian di Jepang itu, saya termenung. Kemampuan untuk menghormati ibadah orang lain yang berbeda dari kita bisa jadi cerminan dari matangnya suatu bangsa. Aaaah ….. untung saja tidak ada gerakan sweeping dan aksi penggrebekan umat yang berlainan agama di Tokyo ini.

Semoga bangsa kita juga bisa melakukan refleksi, dan mampu saling menghormati sesama umat beragama yang sedang melakukan ibadah.

Salam Damai.

Saya bersama Inspektur Yamaguchi, polisi Jepang yang Memonitor Kegiatan Keagamaan di SRIT

Di Tokyo, Masih Adakah Cinta?

Gerbong Khusus Wanita di Tokyo / photo Junanto

Tokyo, dan mungkin juga kota lainnya di Jepang, bukanlah kota yang romantis. Selama tinggal di kota ini, saya hampir tidak pernah melihat suasana romantis di jalan-jalan. Jarang sekali saya melihat sepasang kekasih atau suami istri yang jalan bergandengan tangan, berpelukan, atau saling memandang mata dengan hangat. Kaum pria dan wanita di kota ini secara umum tampak dingin, bahkan cenderung tanpa ekspresi.

Seorang kawan wanita bercerita, bahwa di Tokyo ini, betapapun kita tampil menarik, tak ada lawan jenis yang melirik. Para pria disini bergeming, meski ada perempuan cantik di hadapan mereka. Para wanita demikian pula, tak ada reaksi saat melihat pria ganteng dan keren di depannya. Mungkin satu dua ada pengecualian, tapi secara umum itu jarang terjadi. Di jalan, kereta, bis kota, saya perhatikan semua orang duduk diam tanpa ekspresi, atau asyik dengan telpon, buku, atau kesibukan masing-masing.

Saat makan siang, saya kerap keluar kantor ke restoran-restoran yang ada di sekitar wilayah Marunouchi. Saya perhatikan, kaum lelaki bergerombol bersama lelaki, sementara yang perempuan bergerombol bersama perempuan. Doryou atau rekan kerja, terlihat saling bicara dan tertawa di berbagai warung udon, sushi, atau tempura. Tapi jarang sekali saya melihat pria dan wanita bersama-sama dalam satu kelompok, sebagaimana sering saya lihat di Jakarta, atau kota lain di dunia.

Hubungan pria dan wanita di Jepang memang unik dan penuh kisah. Tradisi masyarakat samurai atau bukeshakai telah membentuk cara pandang pria terhadap wanita, dan demikian pula sebaliknya. Ada ungkapan lama di Jepang yang kira-kira bunyinya “Daidokoro wa onna no seiiki” atau dapur adalah tempat bagi perempuan. Dengan demikian, tugas perempuan, sebagaimana di Jawa jaman dulu, adalah macak, masak, dan manak (berdandan, memasak, dan melahirkan) .

….. kisah lengkap cerita ini bisa dibaca juga di buku “Shocking Japan: Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan”

Ekonomi Moral di Gerbang Stasiun

Mesin Tiket di depan Stasiun Meguro, Tokyo / photo Junanto

Jika kita ingin menggunakan kereta api di Tokyo, kita harus membeli karcis ataupun menggunakan kartu tiket prabayar. Sebelum masuk ke platform kereta, karcis kita masukkan, atau kartu kita tempelkan, di mesin tiket, lalu gerbang akan membuka secara otomatis. Ada beberapa jenis kartu prabayar untuk membeli tiket kereta di Jepang, seperti Suica dan Pasmo.

Biaya tiket sekali jalan untuk kereta subway di Tokyo, antara 130 hingga 190 Yen, atau sekitar Rp.13 ribu hingga Rp.19 ribu. Untuk anak-anak, ada kartu khusus, sehingga bisa mendapat diskon yang lumayan. Anak-anak umumnya hanya membayar tiket sebesar 80 hingga 100 Yen.

Di mesin tiket stasiun itu, kepercayaan menjadi unsur utama. Artinya, kalau mau nekat, bisa saja kita menerabas masuk, utamanya kalau jam sibuk. Wong pembatasnya pendek, dan orang ramai. Tapi kalau itu berisiko, kita bisa mengakali dengan banyak cara. Dan itulah kejadian yang baru saja saya saksikan sendiri beberapa hari lalu.

Saya melihat seorang ayah dan anak di depan mesin tiket pintu masuk stasiun (kewarganegaraan saya rahasiakan). Cara mereka masuk platform sangat menarik. Saat mendekati mesin tiket, keduanya berdiri rapat depan belakang. Lalu keduanya secara bersamaan menempelkan satu kartu suica di mesin tiket. Saat pintu terbuka, bersama-sama mereka masuk ke platform.

Praktis, hemat, dan tentu, cerdas. Dengan bermodal satu tiket, ayah dan anak itu bisa naik kereta. Lebih menarik lagi, kartu suica itu memiliki bunyi yang berbeda untuk kartu anak dan dewasa. Dan yang terdengar saat itu adalah bunyi kartu anak-anak. Artinya, semakin praktis, hemat, dan cerdas.

Kalau saya hitung-hitung secara umum, misalnya diambil jarak standar, orang dewasa harus membayar 190 Yen. Sementara anak kecil hanya membayar 90 Yen. Kalau kita bisa masuk dengan sistem seperti bapak tadi, artinya kita menghemat 290 Yen untuk sekali perjalanan. Lumayan kan.

Bisa jadi angka 290 Yen itu sekedar uang receh bagi sebagian orang, tapi bisa jadi itu jumlah yang besar, kalau kita berkali-kali menggunakan kereta. Sebagai orang ekonomi, saya memahami ilmu ekonomi. Dalam filosofi ekonomi, azas pertukaran menjadi penting. Saya mendapat apa, dengan biaya berapa. Ekonomi finansial menghitung sesuatu secara Nett.

Dengan hitungan ekonomi, naik kereta menggunakan cara bapak tadi, dapat menghemat 290 Yen sekali jalan. Kalau pulang pergi, bisa hemat 580 Yen, atau sekitar Rp.58 ribu. Berapa coba kalau dihitung sebulan, atau bahkan setahun?

Betapapun saya tidak tahu apakah ada isu sistemik mengenai kejadian itu. Dalam arti, apakah pihak JR, otoritas transportasi di Jepang, pernah menghitung jumlah kerugian-kerugian kecil ini. Saya lihat penjaga tiket hanya memandang kosong sambil geleng-geleng saat ayah dan anak itu masuk dengan cara “cerdas” tadi. Saya rasa juga, mungkin ada satu atau dua orang Jepang yang melakukan hal sama, atau bahkan menerabas pintu.

Masalah menjadi menarik kalau kita menyoroti kasus ini dari sisi etika dan moral. Bapak ekonomi, mulai Adam Smith, hingga JM Keynes tak pernah memisahkan ilmu ekonomi dari kajian etika dan moral, bahkan untuk sistem kapitalis sekalipun.

Etika adalah sebuah telaah kritis tentang ajaran moral. Bisa jadi etika satu bangsa berbeda dengan bangsa lain. Demikian pula dengan moral, atau ajaran yang mengakar dalam budaya masyarakat sehingga diterima di lingkungan sebagai sesuatu yang luhur pada dirinya.

Moral mengajarkan banyak hal, seperti jangan mengambil yang bukan hak-nya, jangan menipu, hingga memberikan tempat duduk pada orang tua. Etika membekali kita ilmu untuk menilai sikap-sikap itu. Dengan memahami etika, kita bisa memilih, apakah perlu menipu atau tidak. Setidaknya kita punya penjelasan mengapa saya memilih bersikap demikian.

Baik di Indonesia, Jepang, atau negara lainnya, mencuri bukan sebuah ajaran yang dianjurkan. Makan di warung tidak bayar, ataupun naik kendaraan umum tidak bayar, dan mengakali cara supaya tidak bayar, juga bukan sebuah ajaran moral yang bisa diajarkan ke anak-anak kita.

Meski dari hitungan ekonomi, menerabas mesin tiket dengan sistem “two-in-one” tadi dapat dijustifikasi, dari sisi etika dan moral perilaku itu menyimpan problema. Moral apa yang akan diajarkan oleh ayah itu ke anaknya dengan cara yang dilakukan tadi. Karena, si anak pasti bertanya. Mengapa begini pak?

Kita mungkin menjelaskan bahwa itu hanya hal sepele? yang penting kita hemat? Selama bisa diakali kenapa tidak? Atau sekedar bilang, sudahlah nak, ikut ayah saja.

Tapi dari titik itu, anak akan belajar tanpa kita sadari, bahwa kita mengakali sebuah sistem demi kepentingan diri sendiri. Contoh ini lebih membekas ketimbang seribu petuah sang ayah pada anak itu setiap hari. Dan seiring dengan bertambahnya usia anak, ia mungkin saja akan menerapkan cara untuk mengakali sistem demi kepentingan pribadi, dan mengerikannya kalau ia sudah mengakali sistem hukum dan moral.

Di pintu gerbang stasiun kereta kemarin, saya termenung. Dari segi ekonomi finansial, perilaku ayah anak tadi mungkin tidak akan merugikan JR, atau negeri Jepang, yang assetnya triliunan dolar. Di sisi lain, ayah tadi juga mungkin tidak akan  bertambah kaya, hanya dengan menghemat 290Yen sekali jalan.

Tapi dari segi ekonomi moral, yang berlangsung di hadapan saya itu bukanlah pertukaran berdasarkan azas kebaikan dan keadilan, melainkan sebuah kebangkrutan moral, sebuah pertukaran ekonomi yang syarat etisnya tidak terpenuhi.

Di pintu gerbang stasiun, saya terhenyak. Saya berjalan pulang, meninggalkan tragedi kecil moral, dan kebanggaan seorang ayah, yang bagi saya sudah runtuh.

Salam galau.