Review Film: Kembalinya Si Badut Pembunuh

Pennywise si Badut Pembunuh dalam film IT September 2017 / photo courtesy of Guardian.

Pennywise si Badut Pembunuh dalam film IT September 2017 / photo courtesy of Guardian.

Buat anak tahun 80-an, film horror Stephen King berjudul IT yang diputar pada tahun 1990, adalah sebuah memori seru masa muda. Saya menyaksikan film itu saat di bangku SMA. Film IT bagi saya adalah sebuah karya monumental dari Stephen King karena memori yang membekas hingga terbawa terus sampai dewasa, khususnya kenangan pada figur Pennywise si Badut Pembunuh. Persis seperti saya mengingat figur Freddy Krueger dalam film Nightmare on Elm Street. Sejak mengenal Pennywise, pandangan saya pada Badut berubah. Saya kerap curiga kalau melihat badut. Bagi saya mereka tidak lucu lagi, baik itu badut ulang tahun atau badut sirkus. Badut bagi saya kini memiliki keseraman tersendiri, seperti badut pembunuh di film IT. Tentu saja itu hanyalah imajinasi liar saya.

Munculnya film edisi baru IT di bulan September 2017 seolah membangkitkan memori masa muda, tepatnya 27 tahun lalu, saat pertama kali menyaksikan film tersebut. Persis seperti plot filmnya, Badut Pennywise selalu muncul setiap 27 tahun sekali. Untuk itu, menyaksikan IT versi 2017 menjadi sebuah keharusan di tengah berbagai kesibukan.

Plot cerita IT edisi 2017 masih mirip dengan yang edisi 1990. Diawali oleh hilangnya Georgie (Jackson Robert Scott), anak kecil yang mengejar perahu kertas hingga masuk ke selokan (gorong-gorong) kota Derry. Pennywise berada di dalam gorong-gorong dan menarik Georgie. Hilangnya anak-anak kecil dan remaja di kota Derry adalah sebuah ciri dari kemunculan Badut IT. Urban legend kota tersebut, sebagaimana tertulis di perpustakaan kota, mencatat rentetan peristiwa misterius hilang dan matinya warga, setiap 27 tahun sekali.

Sekumpulan anak kecil kota Derry, dipimpin oleh Bill (Jaeden Lieberher), kakak dari Georgie, bergerak menuju gorong-gorong bawah tanah kota Derry untuk melawan IT langsung di pusat kekuasaannya (sumur misterius legendaris kota). Bill memimpin sekelompok kawan-kawannya – yang menamakan dirinya Klub Pecundang (the Losers’ Club)- yaitu seorang nerd (Finn Wolfhard), seorang phobia kuman (Jack Dylan Grazer), anak seorang Rabi Yahudi (Wyatt Oleff), seorang anak kulit hitam (Chosen Jacobs), dan anak baru (Jeremy Ray Taylor), serta seorang gadis manis Beverly (Sophia Lilis), yang memberi sedikit nuansa romantis komedi segi tiga melibatkan Bill dan si anak baru, Ben.

Setting cerita di kota Derry dibuat pada tahun 1988 – 1989, dicirikan pada plang film di bioskop yang memutar Nightmare on Elm Streets. Plot cerita masih sama dengan IT edisi 1990 di mana ada sekelompok anak pembully yang dipimpin oleh Henry Bowers, kota yang penuh gosip, dan orang tua-orang tua anak yang “abusive”. Kisah teror Pennywise pada anak-anak juga ditampilkan ala film horor yang menegangkan dan berisi kejutan-kejutan (satu dua kali kita pasti akan terkaget dengan adegan munculnya Pennywise).

Kunci utama perlawanan sekelompok anak kota Derry pada Pennywise adalah semangat kebersamaan dan persatuan. IT adalah badut monster pembunuh yang muncul dan menyerap ketakutan dari anak-anak kota Derry. Semakin takut seseorang, semakin besar kekuatan IT. Hal inilah yang diketahui oleh anak-anak Derry. Keberanian (courage) dan kebersamaan (unity) memang pesan moral utama dari film IT. Bagi anak-anak yang takut pada monster atau Badut pembunuh, kiranya pesan tersebut bisa menjadi pegangan. Namun tentu bukan hanya berlaku pada anak kecil. Bagi kita semua, IT membawa pesan sama. Keberanian adalah kunci dalam menghadapi berbagai godaan dan cobaan. Namun yang lebih penting lagi adalah juga kebersamaan, untuk mengalahkan kejahatan dengan semangat kebaikan.

Seperti pesan orang tua kita dulu, kebaikan yang tidak bersama-sama akan dikalahkan oleh kejahatan yang terkoordinir dan bersama-sama. Agak melebar, tapi tentu pesannya sama, ayo sebagai bangsa Indonesia yang saat ini menghadapi banyak tantangan, kita belajar dari anak-anak kota Derry untuk jangan terpecah belah, jangan terpisah-pisah, tapi bersatulah. Hanya dengan bersatu, kita bisa mengalahkan siapapun.

Salam Persatuan. Salam NKRI. Salam IT.

Verdict Film : Recommended. Layak Tonton.

 

Review Film: Teka Teki Moral The Exception

Adegan dalam Film The Exception / source : The Hollywood Reporter

Adegan dalam Film The Exception / source : The Hollywood Reporter

Setting film berlatar belakang Perang Dunia ke II selalu menarik perhatian saya. Di berbagai film tersebut saya dapat melihat berbagai dimensi yang diangkat pada saat Eropa berada dalam kekacauan akibat perang. Tak terkecuali di film The Exception. Film yang dilatari dari novel karya Alan Judd ini membidik kisah menarik dari tradisi kuno Eropa. Terlepas dari plot ceritanya yang berisi ketegangan, melodrama, dan bumbu seks di ranjang, The Exception mengangkat periode awal sebelum tragedi dan horor PD II dimulai oleh Nazi.

Kisah film ini berkisar seputar masa-masa akhir Kaisar Prussia (yang kekuasaannya melingkupi Jerman) terakhir, yaitu Kaisar Wilhem II (Christoper Plummer) dan istrinya (Janet McTeer) saat berada dalam pembuangan di Belanda. Kaisar disingkirkan saat  Adolf Hitler dan Partai Nasional Sozialist-nya berkuasa di Jerman. Namun Hitler masih tetap mempertahankan kehidupan dan keberadaan Kaisar Wilhelm dengan tujuan agar ia dapat membongkar konspirasi dan kekuatan-kekuatan yang masih berada di sekitar Kaisar tersebut. Plot selanjutnya di film tersebut adalah tentang Kapten Brandt (Jai Courtney), perwira Jerman yang ditugaskan mengawal (dan memata-matai) Kaisar, dengan Mieke De Jong (Lily James), pelayan muda cantik yang bekerja di istana “pengasingan” Kaisar. Mieke, yang kerap menemani Kaisar memberi makan bebek, sambil sesekali sang Kaisar menggodanya, memiliki hubungan gelap dengan Brandt.

Hubungan Brandt dan Mieke, yang digambarkan dengan beberapa adegan ranjang sensual, menjadi poros cerita film ini. Masalahnya menjadi rumit ketika Brandt mengetahui bahwa Mieke adalah seorang Yahudi. Apakah Mieke menjebak Brandt? Atau Brandt mengeksploitasi Mieke? Atau mereka hanya dua orang dewasa yang digerakkan oleh libido? Pertanyaan tersebut menjadi menarik dalam plot film The Exception.

Adegan Mieke dan Brand di The Exception / source from teaser-trailer.com

Adegan Mieke dan Brand di The Exception / source from teaser-trailer.com

The Exception adalah cerita tentang Pengecualian. Mieke de Jong, yang notabene seorang pelayan, di film itu digambarkan sebagai orang yang mengagumi filsuf Jerman, Friedrich Nietzche. Buku Nietzche yang berjudul “Beyond Good and Evil” menjadi bacaannya, yang di akhir perang kemudian buku ini dikirimkannya pada Kapten Brandt.

Kapten Brandt adalah tipikal orang yang memiliki kekecualian. Sebagai seorang perwira Jerman, Brandt adalah seorang patriot. Ia sadar akan tugas dan kewajibannya dalam membela negara. Namun ia juga seorang manusia yang tidak bisa menerima kekejaman dan kesadisan tentara SS saat ia turun di medan perang Polandia. Dalam hatinya ia mengutuk kejahatan perang. Baginya, negara Jerman dan militer Jerman seharusnya memiliki kehormatan dan kepantasan dalam berperang, bukan dengan melakukan genosida pada anak-anak. Mieke melihat sifat ini dalam diri Kapten Brandt, dan mencoba meyakinkan bahwa keyakinan Brandt itu benar. “They are the rule,” kata Mieke, “You are the exception.”

Inilah apa yang dimaksud oleh Nietzche dalam bukunya Beyond Good and Evil. Kita perlu untuk dapat melihat sebuah peristiwa atau sikap. Apa yang terlihat bagus atau jahat, perlu didalami lebih jauh lagi, karena itu akan tergantung pada berbagai variabel. Apakah itu ideologi, keyakinan, peraturan, ketentuan, atau suara hati. Melakukan pembantaian dan pembunuhan pada orang atau kaum yang dianggap liyan, mungkin bisa dianggap benar dilihat darii satu keyakinan agama atau politik. Tapi suara hati bisa mempertanyakan apakah keputusan itu baik.

Kita melihat dunia saat ini diwarnai oleh berbagai ketegangan dan saling penghancuran. Saling membenci dan menebar ujaran kebencian. Satu kelompok merasa benar dan menganggap yang berbeda itu salah tanpa saling menghormati. Kita begitu mudah marah dan menebar kebencian pada kelompok lain yang berbeda. Semua tentu memiliki alasan yang terlihat baik, bisa dari sisi kepentingan politik, agama, ataupun kebenaran suku dan ras. Tapi apakah itu betul-betul baik?

Film The Exception seolah mengingatkan kita bahwa di balik apa yang tampak dan apa yang banyak orang yakini, kita bisa jadi pengecualian apabila mau mendengar suara hati. Tentu hal ini bukan sebuah langkah mudah, apalagi di tengah kehidupan dunia yang penuh cobaan dan godaan. Tapi mari kita berusaha untuk menjadi orang baik, orang yang dikecualikan. The Exception.

Salam.

 

Realisme Kepala Ikan di Tabula Rasa

Emak dan Hand di Tabula Rasa

Emak dan Hans di Tabula Rasa

“Kurang kacau, cirik kambing. Talalu kacau, bapantingan”, itulah pedoman dalam memasak rendang.  Artinya, bila kita kurang lama mengaduk rendang di wajan, kuah rendang akan bergumpal-gumpal seperti tahi kambing. Sebaliknya, bila terlalu cepat mengaduk, kuah rendang akan mendidih “meledak-ledak”, sehingga bisa melukai tangan sampai melepuh. Bagi orang Minang, mengaduk rendang adalah sebuah perjalanan ”spiritual”, karena tak bisa dilakukan sembarangan. Memasak rendang harus menggunakan hati dan perasaan. Tanpa itu, rendang yang disajikan akan hampa tanpa rasa. Bahkan bisa seburuk tahi kambing.

Itulah inti pesan dari Emak (Dewi Irawan) kepada Hans (Jimmy Kobogau) dalam film yang berlatar belakang kuliner, Tabula Rasa. Hans, seorang pemuda dari Serui Papua, yang pergi ke Jakarta untuk menjadi pemain sepak bola, tertimpa nasib buruk. Kakinya patah dan ia ditelantarkan oleh klubnya. Jadilah Hans terdampar di Warung Padang “Takana Juo” milik Emak. Dari semula hanya diminta membantu cuci piring, menemani belanja,  Hans perlahan diajari ilmu memasak oleh Emak.

Dapur Emak lalu jadi pusat pergumulan intrik dan politik. Parmanto (Yayu Unru), sang juru masak, merasa egonya tertusuk saat melihat Hans semakin dekat dengan Emak, bahkan bisa tinggal bersama mereka. Singkatnya ia merasa terancam akan kehadiran Hans di warung mereka. Parmanto lalu ngambek, dan ujungnya pindah ke restoran besar yang menjadi pesaing Takana Juo. Hans lalu perlahan mengambil alih peranan Parmanto, menjadi juru masak di warung Emak.

Masalah tidak selesai hanya sampai di sana. Warung Takana Juo semakin hari semakin sepi pengunjung. Selain kalah bersaing dengan Restoran Padang yang baru buka, Takana Juo seolah tak memiliki daya tarik khas. Dalam kebingungan, jawaban muncul dari Hans. Itulah, Gulai Kepala Ikan. Masalahnya, Emak tidak mau memasak gulai kepala ikan setiap hari. Gulai kepala ikan bagi emak adalah sebuah ziarah, yang hanya dibuat pada saat tertentu, di samping ada kisah pedih di belakangnya.

Perjalanan film ini kemudian mengajak penonton pada sebuah alur yang mengarus pada upaya terwujudnya Gulai Kepala Ikan. Pada akhirnya, saat Emak mau membuat kepala ikan, adegan terindah film ini ditampilkan. Emak membuat kepala ikan dengan bumbu-bumbu terbaik pilihannya. Sebagaimana orang Minang yang tahu betul makanan yang baik. Bumbu adalah kuncinya.

Kepala ikan kakap yang dibumbui secara visual dicemplungkan ke dalam kuah santan, yang dimasak di atas kuali dan tungku dengan kayu bakar.  Semua diproses secara alami. Emak tidak mau menggunakan santan kalengan. Ia memeras kelapa sendiri. Tidak ada juga bumbu rendang atau gulai instan yang kini banyak dijual di supermarket. Semua bumbu digerus di atas ulekan. Otentik.

Emak memulai hari sejak jam empat atau lima pagi. Dalam sepi dan sunyi, ia ke pasar membeli bahan terbaik. Ia mempersiapkan segala bumbu masak, memilih kelapa terbaik, dan mencari kepala ikan yang masih segar.  Dalam khazanah persantanan makanan Minang, kelapa terbaik itu tidak muda tapi juga tidak tua. Harus “sedang”.  Kelapa juga harus “diperas” sekali saja untuk dijadikan santan. Tak boleh lebih dari sekali. Kelebihan jumlah perasan akan menyebabkan rasa santannya berubah.

Dalam Tabula Rasa, Hans dengan takzim melihat dan belajar keseluruhan proses pembuatan makanan, terutama kepala ikan ini. Ide cerita dan plot film ini sungguh indah, mengambil tema kuliner. Mungkin baru ini film Indonesia yang berani mengambil  latar belakang kuliner. Produser Sheila Timothy, saya perhatikan di berbagai media sosialnya kerap mengunggah referensi dan riset yang dilakukannya. Film ini memang bukan sekedar film yang dibuat sekenanya, namun menggunakan referensi riset yang dalam. Berbagai buku tentang kuliner, film-film referensi luar negeri yang bertema kuliner, hingga riset ke Serui dan Sumatera Barat. Dapur Emak juga dibuat dengan memperhatikan detil dapur tradisional Minang.

Secara umum, film ini layak ditonton. Saya memang agak berharap ada lebih banyak visualisasi adegan yang menonjolkan rasa makanan, aroma bumbu, pedasnya rendang, maupun proses membuat makanan. Karena untuk sebuah film kuliner, adegan-adegan yang mampu mendegut ludah menjadi hal-hal yang ditunggu penonton. Tapi terlepas dari itu, sisi emosional antara Emak dan Hans, sangat menyentuh. Keragaman nusantara juga tercermin di dapur Emak. Masakan Minang dengan juru masak Orang Papua, sudah memberi keunikan tersendiri. Saat emak mengucapkan “Alhamdulillah”, lalu diikuti oleh Hans dengan kata “Puji Tuhan”, adegan berlangsung secara ringan dan menyentuh. Ada keragaman dalam kedamaian di sana.

Produser Sheila Timothy dan sutradara Adriyanto Dewo, memasak film bagai Emak memasak Gulai Kepala Ikan Kakap. Seperti Shakespeare dengan Othello-nya, Hegel dengan Dialektika-nya, Nietzche dengan Uebermensch-nya, atau bahkan Di Vinci dengan Monalisa-nya. Dilakukan dengan takzim dan penuh permenungan. Sebuah karya memang harus dilakukan bukan sekedar memenuhi pasar atau nilai uang, namun lebih seperti sebuah bangunan idealisme dan edukasi untuk mencerahkan.

Tapi, apakah film-film yang sarat makna, lincah dengan dialog cerdas, bisa dinikmati pasar film Indonesia? Seharusnya bisa, dan sangat bisa. Kitalah yang harus memulai, dengan mendukung film Indonesia yang bagus. Ayo, terus ramaikan bioskop dan saksikan film Indonesia. Tabula Rasa adalah salah satunya. Film bagus, yang menurut saya, sayang kalau dilewatkan.

Aroma Sastra dan Literasi di Paris

Toko buku Shakespeare & Co. Sanctuary for book lover in Paris

Toko buku Shakespeare & Co. Sanctuary for book lover in Paris

Mbak Lona Hutapea, penulis buku Paris C’est Ma Vie dan Voila La France, yang juga pernah tinggal di Paris, merekomendasikan saya untuk merasakan aroma sastra di kafe-kafe kota Paris. Nah, saat berkesempatan mampir di Paris beberapa waktu lalu, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke tempat yang direkomendasikan mbak Lona tersebut.

Dari banyaknya kawasan, ada satu daerah yang wajib dikunjungi para pecinta literatur. Nama daerahnya Latin Quarter, yang menurut sejarah adalah tempat mangkal dan kongkow para sastrawan dan seniman Eropa selama beratus tahun. Dahulu, para filsuf. seniman, artis, dan sastrawan, berkumpul di kafe-kafe daerah itu dan melakukan aneka diskursus intelektual. Ada pemikiran yang melawan arus, bahkan ada yang revolusioner. Tak heran, pergerakan filsafat dan sastra marak dan kerap bangkit di Paris. Nama-nama filsuf besar seperti Sartre, Simone de Beauvior, Oscar Wilde, Voltaire, Victor Hugo, adalah deretan nama yang pernah nongkrong di berbagai kafe kota Paris.

Saya selalu meyakini bahwa perjalanan panjang diskursus intelektual di satu area adalah energi yang terus melekat selama bertahun-tahun. Karena itulah, saat memasuki kafe atau sudut-sudut tua kota Paris, aura dan nuansa sastra intelektual terasa begitu kental dan menyesap.

Saya kemudian berhenti di satu toko buku legendaris yang menjadi salah satu ikon literasi Paris. Bagi saya, inilah sanctuary for book and literature lover in Paris. Surga bagi pecinta buku dan literasi di Paris. Nama tokonya Shakespeare and Co. Sayapun pergi ke sana, dan hanyut tenggelam di toko buku itu. Meski terlihat kecil dan tua, toko buku yang didirikan sejak tahun 1922 ini sarat dengan kisah. Para sastrawan dan penulis dunia, seperti Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald, dulu sering kongkow dan menelurkan karya2 dari toko kecil ini. Koleksi literaturnya juga luar biasa.

Sebenarnya, toko asli Shakespeare and Co didirikan oleh Sylvia Beach, seorang ekspatriat Amerika, pada tahun 1919di Rue Dupuytren. Pada tahun 1921, toko buku ini pindah ke tempat yang lebih besar, dan buka hingga tahun 1940, sebelum Perang Dunia ke-II. Setelah itu toko buku ini ditutup. Barulah pada tahun 1951, David Whitman membuka kembali toko buku ini. Saat ini, toko buku dikelola oleh putri dari David Whitman, yaitu Sylvia Whitman.

Memasuki toko buku kecil, yang terletak di bawah bayang-bayang Gereja Notre Dame Paris tersebut, kita seolah diajak berjalan dalam mesin waktu. Suasana Bohemian langsung terasa. Rak-rak buku model kayu, klasik, dipenuhi oleh koleksi aneka buku second hand -berbahasa Inggris, yang ekstensif. Toko ini juga memiliki beberapa kamar kecil, yang dulu jadi tempat bermalam para sastrawan dan seniman. Kadang bayarannya bukan uang, melainkan kewajiban mereka membaca satu buku dalam sehari, dan mendiskusikan isinya bersama-sama. Sungguh sangat kaya literasi.

Bagi para pecinta literasi, perjalanan ke Paris wajib mampir ke Shakespeare and Company. Dari toko kecil ini kita bisa belajar, bahwa bangsa besar adalah bangsa yang kaya membaca, menulis, dan budaya. Perancis dibangun juga oleh literasinya yang kaya. Tak banyak toko buku dan penerbit di Indonesia yang bisa berumur ratusan tahun. Tapi kita bisa memulai dan merawat yang sudah ada. Untuk Indonesia yang lebih baik dan kaya literasi.

Usai memilih buku, kita bisa duduk2 membaca di kafe2 bersejarah yang tersebar di seputaran situ. Ada satu kafe yang konon merupakan kafe tertua di sana, letaknya tak jauh dari Shakespeare. Namanya Le Procope. Silakan bungkus buku yang baru anda beli, bawa ke La Procope, kemudian pesanlah secangkir kopi. Nikmati aroma sastra dan literasi di Paris yang indah.

Bedah Buku Malam: Surabaya Punya Cerita

Mas Ipung (no 2 dari kiri), penulis buku Surabaya Punya Cerita, saat launching buku, bersama Kiki Aishwarya, Duta Museum Jatim 2012, dan Prof. Matsui dari Jepang.

Mas Ipung (no 2 dari kiri), penulis buku Surabaya Punya Cerita, saat launching buku, bersama Kiki Aishwarya, Duta Museum Jatim 2012, dan Prof. Matsui dari Jepang.

Tak banyak anak muda yang mau dan mampu menuliskan kisah tentang kotanya secara menarik dan konsisten. Akibatnya, modernitas memakan waktu dan akhirnya pelajaran dari masa lampau raib tergilas zaman. Kitapun menjadi bangsa yang buta sejarah. Hal itulah yang menjadi kegalauan dari Dhahana Adi, yang akrab juga dipanggil Ipunk, saat peluncuran buku karyanya, berjudul “Surabaya Punya Cerita”, tadi malam (2/11) di pelataran gedung Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya.

Kegalauan itulah yang membuat Ipunk mencatat berbagai cerita tentang kota Surabaya, lalu memuatnya dalam blog “Surabaya Punya Cerita” (SPC). Berbagai tanggapan positifpun diterimanya dari berbagai kalangan di Surabaya. Ipung kemudian mengumpulkan berbagai cerita dari blog SPC, dan atas dukungan kawan-kawannya, kumpulan cerita itu diterbitkan dalam bentuk buku melalui nulisbuku.com.

Bagi pecinta kisah-kisah sejarah tentang sebuah kota, membaca buku SPC ini sangat mengasyikkan. Saya sendiri, yang baru tinggal di Surabaya sangat merasakan, tak banyak buku yang menulis tentang kota ini. Kalaupun ada, hanya buku travel yang memuat informasi standar mengenai wisata di Surabaya, ke mana harus pergi, di mana lokasinya, makanan khas, standar seperti itu. Itupun jumlahnya tak banyak.

Satu buku menarik yang dapat dibaca tentang perjalanan kota Surabaya adalah “Hikayat Surabaya” dan “Monggo Diphun Badhog” karya Dukut Imam Widodo. Berbagai kisah sejarah tempo dulu dapat dibaca secara menarik di buku itu. Namun perspektif dari anak muda tentang Surabaya, tidak banyak. Oleh karenanya, kehadiran buku SPC ini mampu mengobati kerinduan khalayak muda, dan pembaca yang ingin mengetahui kisah-kisah di balik perjalanan kota Surabaya.

Menariknya, Ipung menulis buku ini bukan seperti buku sejarah, yang isinya hanyalah “jaartalen” atau deretan tanggal-tanggal kejadian. Tapi ia mengangkat sisi-sisi humanis, yang unik, tidak terbaca, dan dituturkan sebagai “petite histoire”, atau sejarah kecil, yang mampu membuat kita ternganga, kadang baru tersadar akan  kebenaran ceritanya yang bisa jadi berbeda dengan yang kita tahu selama ini.

Kisah soal maestro jazz Bubi Chen misalnya. Bubi Chen adalah pemusik Jazz Indonesia berkelas dunia yang berasal dari Surabaya. Hingga kini, meski sudah meninggal, Bubi Chen tetap menjadi legenda musik jazz. Ipung menceritakan perjalanan Bubi Chen di Surabaya. Tapi di ujungnya, artikel ini seakan mengingatkan bahwa Surabaya adalah juga kota yang melahirkan banyak seniman kelas dunia. Bukan hanya Bubi Chen, Ipung juga menulis tentang Srimulat dan pemusik Gombloh, yang berawal dan bangkit dari Surabaya. Lalu, bagaimana regenerasi seniman dilakukan di Surabaya? Ini adalah sentilan yang cukup tajam dari artikel-artikel di buku SPC.

Selain musik, buku SPC juga menulis berbagai “petite histoire” menarik.  Bagaimana sejarah awal berdirinya Bandara Udara Djuanda Surabaya? Bahwa ternyata Djuanda bukanlah orang asli atau pahlawan asal Surabaya. Lalu kenapa namanya diabadikan jadi nama bandara? .. Kemudian ada sejarah Pasar Turi, Jembatan Merah, dan kisah pahlawan Surabaya. Dalam konteks kekinian, buku SPC memuat aneka dialog dan diskusi dengan pelaku sejarah, hingga wirausaha Surabaya saat ini yang sukses.

Cover buku Surabaya Punya Cerita

Cover buku Surabaya Punya Cerita

Buku SPC ini semakin dibaca, semakin menimbulkan rasa ingin tahu.  Dalam pembukaan diskusi, penulis Sastra Jawa senior, Suparto Brata, yang usianya kini 81 tahun, mengatakan bahwa tulisan di buku SPC ini bercerita tentang Surabaya. Namun tentu tidak berhenti di sana, buku ini juga bercerita untuk Indonesia.

Akhayari Hananto, pengelola Good News From Indonesia, semalam juga mengatakan bahwa buku ini adalah sebuah berita baik bagi generasi muda Indonesia. Andai banyak anak muda di Indonesia yang punya motivasi, semangat, dan optimisme besar, lalu menuliskan buah pikirnya dalam bentuk buku, masa depan Indonesia akan semakin cerah.

Saya sendiri yakin, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang produktif dan bangsa yang rajin menulis. Pemikiran dan perbuatan, yang diimbangi dengan tulisan-tulisan, akan menjadi pelajaran bagi generasi-generasi penerus. Begitulah peradaban diturunkan dari masa ke masa.

Memberikan sedikit pengantar, sebelum diskusi buku dimulai.

Memberikan sedikit pengantar, sebelum diskusi buku dimulai.

Pak Tua Jiro dan Sushi Ter-enak Sedunia

Pak Tua Jiro (tengah) dalam Film Jiro Dream of Sushi / photo: Jiro Dream of Sushi

Buat teman-teman yang sempat mampir di Tokyo dan pernah saya ajak mencicipi sushi di pasar ikan Tsukiji, saya harus mohon maaf karena pernah meng-klaim sushi itu sebagai sushi ter-enak sedunia.  Rupanya betul apa kata pepatah, “di atas langit masih ada langit”, karena baru-baru ini saya menemukan lagi satu warung sushi legendaris, dan menurut saya masuk dalam kategori “die die must try” di Tokyo. Kalau yang kemarin itu ter-enak sedunia, mungkin sushi ini bisa di-klaim sebagai sushi ter-enak sejagat.

Sayangnya, tak mudah untuk bisa makan di situ. Selain soal harganya yang selangit, atau hampir 300 dolar AS untuk satu set sajian (sekitar 15 potong sushi), kita juga harus melakukan reservasi, minimal tiga bulan sebelumnya. Kalau langsung go-show, jangan harap bisa mendapat tempat duduk.

Warung itu bernama Sukiyabashi Jiro, yang dimiliki oleh seorang tua bernama Jiro Ono. Usianya 85 tahun. Warung, yang terletak di basement gedung daerah Ginza,  berukuran kecil dan hanya bisa memuat 10 orang saja. Meski kecil dan letaknya terpencil, warung itu sangat istimewa. Apa yang membuatnya istimewa?

Bukan semata soal rasa dari sushi, tapi juga soal kecintaan Jiro-san pada sushi. “Jiro terlahir untuk Sushi” dan “Sushi terlahir untuk Jiro”. Selama 75 tahun, Jiro-san mendedikasikan hidupnya untuk membuat Sushi. Ia adalah seorang Master Sushi Tingkat Dewa. Bukan hanya sekedar membuat sushi, tapi ia membuat sushi terenak sedunia.

Karena dedikasinya itu juga, pemerintah Jepang kemudian menobatkan pak Tua Jiro sebagai “National Treasure” Jepang untuk dunia sushi. Ia juga adalah satu-satunya chef di Jepang yang menerima tiga bintang dari Michelin Guide. Itu adalah penghargaan tertinggi di dunia kuliner yang diberikan oleh pihak Michelin Guide dari Perancis. Tak banyak chef yang mampu meraih penghargaan setinggi itu, apalagi untuk seorang chef asing.

Saya beruntung bisa bertemu dengan Yoshikazu-san, anak tertua dari Pak Tua Jiro, saat mengunjungi Sukiyabashi Jiro suatu hari. Wajah Yoshikazu mirip ayahnya, tegang, dingin, dan serius. Ia akan mewarisi warung Jiro, sepeninggal Jiro nanti. Yoshikazu-san bercerita bahwa selain warung kecil ini, adiknya mengelola satu warung lagi di daerah Roppongi. Katanya, antrian di Roppongi  tak sepanjang di Ginza. Kita bisa reservasi minimal satu bulan sebelumnya (lah itu sih lama juga menurut saya hehehe).

Kehebatan Pak Tua Jiro ini mengguncang dunia kuliner internasional. Tak kurang dari David Gelb, seorang sutradara film, membuat film dokumentasi tentang Jiro-san. Film, yang berjudul “Jiro Dreams of Sushi” dirilis tahun ini di Jepang. Selama satu tahun, David Gelb merekam kehidupan Jiro-san dari bangun tidur hingga tidur lagi. Film itu bercerita tentang dunia sushi Jiro-san, dan bagaimana ia mendedikasikan hidupnya pada sushi. Film ini juga membawa pesan tentang sebuah visi masa depan berdasarkan kecintaan dan keseriusan pada pekerjaan.

Jiro adalah seorang perfectionist, yang tak pernah puas. Ia pergi sendiri setiap pagi ke pasar ikan tsukiji untuk memilih ikan yang akan disajikan di warungnya.  Hanya ikan yang sempurna yang layak disajikan di warung sushinya. Meski usianya sudah 85 tahun, sudah terkenal, dan meraih banyak penghargaan, Jiro tak pernah puas dengan pencapaiannya. Di film itu, pak tua Jiro berkata bahwa ia tak mau berhenti memperbaiki diri. Setiap hari baginya adalah upaya memperbaiki diri. Ia merasa masih memiliki banyak kekurangan dan belum mencapai kesempurnaan. Hal itulah yang membuat  Jiro tak pernah berhenti dan tak pernah puas.

Tuna (Maguro) Sushi / photo Jiro Dream of Sushi

Sushi di warung Jiro disajikan bak sebuah “konser klasik”, penuh ritual dan penghayatan. Kita cukup datang dengan perut kosong, dan Jiro-san akan memilihkannya untuk kita. Jiro mencermati setiap pelanggannya, ia tahu secara detail sejarah dari semua sushi yang ia buat. Ia bahkan memijat tentakel gurita selama 45 menit, persis 45 menit dan bukan 30 menit, sebelum dibuat menjadi “tako-sushi” yang lembut. Itu dilakukan dari hari ke hari tanpa bosan.

Bagi saya, film dokumenter ini wajib ditonton, bukan hanya para penggemar sushi, tapi juga untuk kita semua (saya tidak tahu apakah film ini diputar atau dijual DVD-nya di Indonesia). Film ini mengajarkan kisah tentang kedisipilinan, proses ritual, dan obsesi pada pekerjaan, yang juga menjadi ciri orang Jepang.

Melihat bagaimana Jiro mendedikasikan diri pada pekerjaannya, kita bisa bercermin. Di tengah ketatnya persaingan warung sushi di Jepang, di tengah ambisi orang lain pada karir dan kesuksesan, Jiro seolah tak peduli. Baginya, ia hanya ingin melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya.

Kiranya filosofi Jiro ini menarik untuk kita renungkan bersama. Kadang kita, dan saya sendiri tentunya, kerap mengeluh soal pekerjaan, soal karir, dan banyak keluhan lainnya. Keluhan itu, menurut Jiro-san, hanya berakhir pada kegagalan dan pekerjaan yang setengah-setengah. Kita jadi kehilangan esensi “bersenang-senang” dalam pekerjaan.

Sayapun jadi teringat pesan dari Confusius, “Find a job you love, and you will never have to work a day in your life”. Jiro memilih hidupnya untuk sushi, dan itu ia lakukan dengan sepenuh hati. Bekerja, pada akhirnya menjadi bagian dari bersenang-senang dan merayakan kehidupan.

Semoga kita semua bisa belajar dari Pak Tua Jiro, bekerja dengan senang, penuh cinta, dan hanya “sedikit” mengeluh  … Sebagaimana pesan Jiro-san di ujung film, “You have to love your job. You must fall in love with your work”. Saya sih optimis, kalau semangat itu menyebar pada setiap insan di negeri ini, apapun yang terjadi pada bangsa, kita tetap bisa berdiri tegak dan bermanfaat.

Dan semoga semangat bekerja itu juga semakin meningkat di bulan puasa. Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir bathin. Selamat Merayakan Kehidupan!

 

 

Agama Tanpa Agama

On Religion

Saya baru saja menyelesaikan satu buku yang menarik. JudulnyaOn Religion, karangan John D. Caputo. Buku ini menarik karena menawarkan sebuah konsep yang dikatakan oleh Caputo, ‘agama tanpa agama. Pesannya adalah kelanjutan buku sebelumnya yang berjudul, “Religion without religion”. Yang dimaksud Caputo dengan agama tanpa agama adalah laku agama namun tanpa harus terjebak atau terkungkung dalam lingkaran agama formal. Alasan ini didasari oleh sebuah keyakinan yang dimiliki Caputo bahwa itulah intisari agama apapun di dunia ini. Bahwa keberagamaan perlu memunculkan ‘tali kasih’ antar manusia.

Buku On Religion diawali oleh pendapat Caputo bahwa agama adalah bagi para pecinta (Religion is for lovers). Ia menulis bahwa manusia akan dihadapkan pada kebingungan pada begitu beragamnya agama di dunia. Ada agama timur, agama kuno, agama modern, monotheistic, polytheistic, dan bahkan atheis yang religius. Begitu banyak jenis agama dan begitu banyak yang harus dipahami. Perbedaan itu bahkan kerap menimbulkan pertentangan dan peperangan. Agama yang satu menganggap dirinya lebih benar, dan menghujat agama lainnya. Perang dan pertentangan mewarnai kisah agama-agama sepanjang sejarah. Menurut Caputo, sebenarnya agama adalah sesuatu yang sederhana, terbuka, dan memiliki makna klasik tentang cinta Tuhan. Namun ekspresi dari cinta Tuhan seperti apa, inilah yang perlu ditelaah lebih jauh. Kalimat cinta Tuhan saja tanpa pemaknaan akan seperti “macan ompong” belaka. Oleh karenanya, pertanyaan eksistensial yang diangkat oleh Caputo berasal dari pertanyaan St. Augustine dalam Confession, “What do I love when I love God”, apa yang aku cintai kala aku cinta pada Tuhan. Atau pertanyaan seperti “What do I Love when I Love You, my God?” Apakah aku mencintai Tuhan, agama, atau jangan-jangan hanya cinta pada diri sendiri .

Agama, menurut Caputo, adalah bagi para pecinta. Lawan dari pecinta ini adalah mereka yang tidak beragama atau tidak memiliki cinta. Orang yang tidak beragama dalam pandangan Caputo adalah orang yang egois, tak memiliki rasa cinta, yang tidak memiliki energi spiritual untuk mencinta, kecuali pada kepentingannya sendiri.

Hal menarik dari buku Caputo ini adalah sebuah pemikiran bahwa ‘agama’ yang dirindukan bukanlah agama formal, melainkan agama spritualitas yang mengedepankan cinta kasih. Spiritualitas cinta kasih itulah yang jauh lebih penting. Karenanya, Caputo yang banyak tertular pemikiran Jacques Derrida – menawarkan gagasan di atas: agama tanpa agama. Bukan berarti bahwa kita tidak meyakini agama, namun agama dimaknai sebagai cinta kasih atau religiositas. Sebab itu pula, Caputo menulis “Kebalikan manusia religius adalah manusia tanpa cinta. Agama adalah cinta kasih. Manusia religius adalah yang punya cinta (hal 5).”

Meski begitu, bukan berarti Caputo menafikan urgensi agama formal. Ia sendiri tetap memegang teguh tradisi keberagaamaan formal. Karenanya, setelah menawarkan gagasan ‘agama tanpa agama,’ dia menulis kembali: “Saya harus segera menambahkan bahwa agama-agama besar dunia sangat penting (hal 141).” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Caputo tetap menghormati agama formal dan itu dibuktikannya.

Buku ini menarik untuk dibaca karena pemikiran Caputo seperti sedang menyindir atau menyentil keberagamaan manusia yang justru tidak mendatangkan kedamaian di muka bumi. Agama bahkan dijadikan alasan untuk pertentangan dan peperangan. Padahal ajaran agama adalah cinta kasih, yang merupakan makna otentik dari setiap agama. Itulah ruh agama. Dan agama harus diartikan sebagaibeing religious, kereligiusan manusia. Karena itu, apa yang dinyatakan Caputo, dalam konteks kekinian, di mana agama kerap dijadikan alat untuk saling menyerang antar umat, menjadi sangat relevan. Cinta kasih lah yang seharusnya kita kedepankan guna mewujudkan rasa damai, aman, dan saling menghormati antar keragaman. Kita tidak dapat sepenuhnya bersembunyi di balik benteng agama formal, dengan mengklaim diri sebagai yang terbenar. Anggapan itulah yang justru memandang agama lain salah.

Bagi yang menggemari buku-buku religius dan ketuhanan, membaca buku Caputo ini mengasyikkan. Namun bagi yang kurang tertarik, buku ini memang terkesan monoton dan berisi banyak khutbah karena Caputo kerap mengutip Kitab Suci. Namun di buku ini Caputo telah menuliskan sebuah karya filsafat postmodern yang sungguh populer, memiliki terminologi, dan pilihan kata yang kaya, namun menarik dibaca oleh pembaca umum.

Caputo mengajak kita untuk menukik lebih dalam tentang keberagamaan kita. Ia mengajak kita untuk meyakini pusat mistik dari keimanan, sesuatu yang supranatural, atau esensi dari agama itu sendiri. Sebelum kita memeluk sebuah agama, pusat inti agama ini harus kita peluk terlebih dahulu. Karena setiap upaya yang berusaha mendefinisikan secara rasional obyek-obyek agama sebenarnya mengecilkan makna agama. Itulah hal yang kerap dilakukan oleh para fundamentalisme. Kala manusia meyakini bahwa mereka telah mencapai dan memahami pengetahuan dari Tuhan, pada saat bersamaan manusia itu juga rentan terhadap dorongan fanatisme dan berkurangnya rasa tenggang yang dibutuhkan untuk menghargai mereka yang berbeda keyakinan. Upaya meniadakan semua hal yang bersifat absolut dalam agama tersebut inilah yang menurut Caputo dinamakan sebagai proses dekonstruksi. Mudah-mudahan kita tetap bisa berada dalam cinta.

Selamat akhir pekan. Selamat membaca buku. Salam.

BESA: Kisah Muslim yang Menyelamatkan Yahudi

Besa

Saat libur panjang akhir pekan lalu, saya menyelesaikan bacaan satu buku yang menarik. Buku ini menarik dibaca, terutama di tengah maraknya kekerasan yang mengatasnamakan agama belakangan ini.

Judul  bukunya “BESA: Muslims Who Saved Jews in World War II”. Buku tersebut, yang ditulis oleh Norman H. Gershman, seorang fotografer Yahudi, memuat sepenggal kisah nyata pada zaman Perang Dunia ke-II. Selama Perang Dunia II, kaum Yahudi dikejar dan dibunuh oleh Nazi Jerman. Pada masa itu, sekitar 2000 orang Yahudi lari ke daerah Albania. Mereka kemudian dilindungi oleh keluarga muslim Albania di kota Berat.

Para muslim Albania mempertaruhkan nyawa guna melindungi pengungsi Yahudi yang meminta pertolongan. Menyembunyikan Yahudi risikonya sangat tinggi, karena setiap saat patroli Nazi dapat datang ke perkampungan dan menggeledah setiap rumah. Kalau sampai ketahuan menyembunyikan Yahudi, maka kehilangan nyawa adalah ganjarannya.

Namun menurut catatan sejarah, tidak ada satupun pengungsi Yahudi yang diserahkan oleh muslim Albania pada pihak Nazi. Buku ini menceritakan bagaimana para muslim Albania melindungi pengungsi Yahudi dengan segenap cara.

Muslim Albania memegang teguh tradisi BESA. Ini adalah tradisi yang berakar dari Al Qur’an yang berarti “memegang janji” atau “menjaga kehormatan”. BESA juga berarti peduli pada yang membutuhkan, melindungi kaum lemah, dan menolong sesama.

Dalam upaya melindungi kaum Yahudi, para muslim Albania menganggap mereka sebagai saudara. Mereka diberikan pakaian yang sama, makanan yang sama, dan tinggal bersama-sama di rumah seperti anggota keluarga. Apabila ada patroli Jerman datang, kaum Yahudi disembunyikan di bawah tanah atau tengah hutan.

Salah satu keluarga muslim yang menyelamatkan Yahudi Kisah dari keluarga Kasem Kocerri, yang didatangi serombongan patroli Nazi pada awal 1944, menarik disimak. Saat itu, tentara Nazi menanyakan di mana para pengungsi Yahudi bersembunyi. Tapi Kasem menolak untuk memberitahu. Diam-diam, ia menyembunyikan keluarga Yahudi di salah satu gudang di atas bukit.

Ali Pashkaj punya cerita lain. Ia sampai dibawa oleh tentara Nazi ke tengah hutan. Empat kali kepalanya ditodong senjata, dan akan ditembak apabila ia tidak memberitahu di mana orang Yahudi disembunyikan. Tapi Ali tetap bungkam. Akhirnya, tentara Nazi meninggalkannya.

Keluarga Halil Frasheri menceritakan pengalamannya yang mencekam saat patroli Nazi menggeledah rumah ke rumah. Ia, melalui pintu belakang, mengajak keluarga Yahudi yang bersembunyi di rumahnya, untuk lari ke dalam hutan.

Para muslim Albania di kota Berat tersebut tidak pernah sekalipun memberitahu atau menyerahkan keluarga Yahudi yang mereka lindungi kepada Nazi, meski mereka ditekan dan disiksa. Pengungsi Yahudi menganggap kaum muslim Albania bagai malaikat.

Usai perang, banyak dari kaum Yahudi yang pindah ke Israel atau negara lain dan memulai kehidupan barunya. Saat berpisah mereka saling menangis dalam haru. Kini, beberapa di antara keluarga Yahudi masih menjalin hubungan dengan muslim Albania, meski banyak di antaranya yang kehilangan kontak. Beberapa keluarga di Albania masih memegang barang-barang, seperti kitab Yahudi, yang ditinggal sebagai kenang-kenangan.

Agama Islam selama ini kerap diidentikkan dengan kekerasan.  Hal ini tak dapat dilepaskan dari maraknya berbagai aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Pertikaian Islam–Yahudi juga seolah menemukan jalan buntu bagi terwujudnya perdamaian antara kedua agama tersebut.

Namun, membaca buku ini kita seolah diingatkan kembali bahwa Islam memiliki akar yang sama dengan agama-agama lainnya, yaitu kasih sayang terhadap sesama, apapun agamanya atau apapun alirannya.

Saat ditanya mengapa mereka menyelamatkan Yahudi, kaum muslim Albania berkata bahwa Kaum Yahudi dan Islam adalah bersaudara, karena berasal dari satu Tuhan. Melindungi dan mengasihi sesama adalah kewajiban setiap umat beragama.

Norman H. Gershman bukanlah seorang Arab, ia bukan pula orang Islam. Ia seorang Yahudi. Kepada Jewish Chronicle ia berkata,”Persepsi bahwa Islam adalah agama kekerasan itu nonsense. Saya seorang Yahudi, tapi saya percaya bahwa Islam bukanlah agama teroris. Muslim Albania menjadi salah satu bukti bahwa ada kebaikan Islam di muka bumi ini”.

Membaca buku ini membuat kita merenung, apakah sebenarnya tujuan agama diturunkan ke muka bumi. Mungkinkah untuk kekerasan? Mungkinkah untuk mengklaim kebenarannya sendiri? Saya yakin bahwa  idealnya agama itu bertujuan untuk menyejukkan dan mencerahkan, bukan menebar kebencian, kekerasan, dan ketakutan.

Selamat membaca…