Tambak Bayan: Kampung Pecinan yang Terlupakan

Dalam satu bangunan di Kampung Tambak Bayan / photo oleh Satria

Dalam satu bangunan di Kampung Tambak Bayan / photo oleh Satria

Mengawali 2015, saya diajak Mas Ipung, penulis buku “Surabaya Punya Cerita”, untuk melakukan blusukan sejarah dengan mengunjungi satu kampung pecinan di Surabaya, yang kerap terlupakan. Kampung Tambak Bayan namanya. Lokasi tepatnya di wilayah Kelurahan Alun-Alun, Bubutan. Kampung ini dihuni oleh mayoritas keturunan Tionghoa sejak tahun 1930. Dulu, mereka datang ke Surabaya, bermigrasi dari daratan Kanton. Saat ini yang tertinggal umumnya adalah generasi ketiga dan keempat. Mereka memiliki keahlian seperti tukang kayu, tukang kawat, penjahit, maupun menjual makanan.

Saya bertemu dengan mas Gepeng yang merupakan anak muda generasi keempat di kampung itu. Turut bergabung di tim blusukan sejarah pagi itu, Satria, Adrea, dan Josef. Gepeng kemudian membawa kami menelusuri sudut-sudut Tambak Bayan. Kami dikenalkan dengan Pak Tjoe, penduduk tertua di kampung tersebut, usianya 84 tahun. Meski sudah tua, Pak Tjoe bersemangat kalau diajak cerita tentang Tambak Bayan. Ia mengisahkan perjalanan dirinya diajak oleh orang tuanya, dari Tiongkok, ke Surabaya, pada saat ia berusia 12 tahun. Sejak itulah ia tinggal di Kampung Tambak Bayan ini. “Saya di sini lebih dari 70 tahun, saya mau tetap di sini, mati di sini”, demikian kata pak Tjoe.

Pak Tjoe, warga tertua di Tambak Bayan

Pak Tjoe, warga tertua di Tambak Bayan

Dahulu, Tambak Bayan terkenal sebagai tempat istal atau kandang kuda. Ada satu bangunan besar yang digunakan sebagai kandang kuda pada jaman kolonial Belanda dan Jepang. Di sekitar istal itulah dibangun pemukiman bagi warga Tionghoa yang membantu dan merawat kuda dan melakukan pekerjaan pendukung, seperti tukang kayu, memasak dll. Hingga kini kita masih bisa melihat sisa istal tersebut, dan rumah-rumah petak yang dibangun di sekitarnya.

Selain istal dan rumah petak, di sekitar kampung Tambak Bayan juga masih banyak terdapat rumah dengan arsitektur indische dan kolonial, yang tetap dipertahankan bentuknya hingga sekarang. Beberapa rumah terlihat dirawat dan dicat ulang, namun beberapa di antaranya terlihat terbengkalai. Kami berhenti dan berpose di beberapa rumah.

Berpose bersama di salah satu rumah indische di Tambak Bayan

Berpose bersama di salah satu rumah kolonial di Tambak Bayan

Kampung Tambak Bayan dalam beberapa waktu belakangan ini ramai diberitakan media terkait dengan sengketa lahan. Ada satu pihak yang meng-klaim kepemilikan lahan di Tambak Bayan, sementara penduduk yang tinggal di sana juga merasa sudah tinggal di lahan itu dari generasi ke generasi. Hingga kini permasalahan itu belum menunjukkan penyelesaian. Pak Tjoe dan penduduk sekitarnya tentu berharap permasalahan kepemilikan lahan di Tambak Bayan dapat segera diselesaikan.

Terlepas dari permasalahan itu, menelusuri Kampung Tambak Bayan membawa kita pada sebuah dimensi yang berbeda dalam melihat keturunan Tionghoa di Indonesia. Umumnya penduduk di sini tinggal di rumah petak, ukuran 4×3 meter, atau 4×5 meter, dan diisi oleh banyak anggota keluarga. Jalanan kampung ini juga sempit berupa lorong dan gang-gang kecil. Kesan yang didapat memang sungguh memprihatinkan. Namun dengan kehidupan yang dihadapi sehari-hari seperti itu, warga Tambak Bayan tampak menikmati kehidupannya. Setiap bertemu dengan warga, senyum dan keramahan tersebar dari wajah meraka. Warga di sini memang guyub dan bersatu. “Sing penting tetep kumpul, bagai saudara”. Demikian kata seorang warga.

Mural di Tambak Bayan

Mural di Tambak Bayan/ photo junanto

Pak Joaquin dan Harley Davidsonnya

Pak Joaquin dan Motor Harley Davidsonnya

Pak Joaquin dan Motor Harley Davidsonnya

Ini sedikit kisah tentang kawan saya, Pak Joaquin Monseratte, Konsul Jendral AS di Surabaya. Saya mengenalnya sejak tahun 2013, saat ia datang ke kantor memenuhi undangan diskusi ekonomi. Biasanya, hampir tidak pernah seorang Konsul Jenderal datang ke diskusi tingkat tekhnis. Mereka mendelegasikan pada bidang ekonomi untuk hadir. Namun, pak Joaquin datang sendiri karena ingin mendengar, dan tentunya ingin berkenalan.

Dari situ terlihat pendekatannya yang santai, rileks, dan tidak formal. Beda dengan umumnya diplomat yang terkesan resmi, bahkan tak sedikit yang bersikap kaku. Pak Joaquin ini beda. Pembawaannya memang agak-agak koboi dan tidak protokoler.

Bagi kota Surabaya, sosok Joaquin memang bukan orang baru. Di tahun 2000-2002, ia pernah ditempatkan di Surabaya sebagai staf Konjen AS. Itu kenapa, ia begitu fasih berbahasa Indonesia, karena saat penempatannya dulu, ia belajar bahasa. Makanan Jawa Timur juga disantapnya. Kesukaan pada Lontong Kupang, Rawon, Soto, menjadikannya unik. Tak banyak loh orang bule yang suka makan Lontong Kupang. Saya aja ga berani hehehe….

Sejak pertemuan pertama itu, kitapun berkawan. Saya beberapa kali bertemu dan diundang pada berbagai acara Konsulat, baik resmi maupun informal. Dan akhir pekan lalu, kita janjian sarapan pagi untuk mencicipi Soto Banjar. Ada satu warung Soto Banjar di dekat perumahan Graha Famili yang direkomendasikan oleh kawan Fadhil. Sarapan kita dilakukan dalam rangka perpisahan dengan Fadhil, yang baru lulus dari Universitas Ciputra dan harus kembali ke kampung halamannya di Bontang.

Pak Joaquin memang tidak pernah memandang pangkat, jabatan, atau formalitas dalam bersahabat. Selama ini Fadhil adalah mahasiswa yang aktif membantu kegiatan-kegiatan konsulat, sebagai volunteer muda. Nah saat ia mendengar Fadhil mau pulang kampung, ia langsung ajak bikin sarapan farewell. Dan kita bertigapun janjian di warung Soto Banjar.

Well, bukan pak Joaquin kalau tidak memberi kejutan.

Pagi itu, saya dan kawan Fadhil sudah datang duluan. Kitapun menanti kedatangan Pak Joaquin. Biasanya ia datang menggunakan mobil dinas SUV anti peluru dengan plat CC-12-01. Plat nomor konsuler.

Nah, saat kita menunggu, tiba-tiba ada motor Harley masuk dikendarai orang memakai helm. Suara Harley khas meraung-raung memasuki wilayah warung. Kita berdua membatin, “Eh liat tuh ada bule naik motor Harley terus pake baju batik, lucu banget”. Memang terlihat unik sekali ada bule yang tinggi besar, pakai helm, berbaju batik, dan mengendarai motor Harley Davidson.

Eh, tapi motor itu tiba-tiba berhenti di depan kita, lalu pengendaranya melepas helm. Taraaaa, ternyata itu Pak Joaquin! … Kitapun tertawa bersama.

Ia bercerita bahwa menaiki motor Harley adalah salah satu hobinya di kala senggang, terutama saat akhir pekan. Motor Harley dibawanya dari Kuba. Di Jawa Timur, ia pernah naik Harley sampai Pamekasan Madura, berdua saja dengan istrinya. Namun ia bilang, kalau hari biasa tidak sanggup naik Harley di Surabaya, selain panas, jalanannya juga sudah ramai dengan motor.

Pak Joaquin adalah satu contoh diplomat yang membumi. Hobinya blusukan, makan kuliner lokal, menyatu dengan masyarakat. Ia rajin berkunjung ke berbagai pesantren, komunitas, pelosok daerah, semua didatanginya. Kawannya berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, bupati, walikota, pengusaha, akademisi, kyai-kyai, hingga anak-anak sekolah. Pendekatannya horizontal, bukan vertikal dan “angkuh” sebagaimana banyak pejabat ataupun diplomat. Hal ini yang menjadikan banyak orang menganggapnya sebagai kawan. Kefasihannya berbahasa Indonesia membuatnya semakin mudah diterima.

Pak Joaquin membawa wajah baru diplomasi AS di Indonesia, dan Surabaya pada khususnya, sebagaimana dulu juga pernah dibawakan oleh Dubes-Dubes AS seperti Pak Paul Wolfowitz, dan para penerusnya. Sukses terus Pak!

Wisata Horor di Makam Peneleh

Berpose di Prasasti Nisan Gubernur Jenderal Belanda Mr. Pieter Markus yang wafat tahun 1844

Berpose di Prasasti Makam Gubernur Jenderal Belanda Mr. Pieter Markus yang wafat tahun 1844

Setiap kali berjalan melewati makam Belanda di Peneleh Surabaya, saya selalu merinding. Bulu kuduk ini rasanya berdiri. Hiiiiii , melihat batu-batu nisan yang besar, patung malaikat, dan tulisan berbahasa Belanda, memang membuat suasana semakin menyeramkan. Saya jadi ingat berbagai adegan di film-film horor. Takutnya, kalau pas jalan di situ, ada Drakula yang muncul dan menghisap darah kita … Aaaaack !

Tapi tidak demikian menurut kawan saya Mas Dandot, dan Mas Ipung yang juga penulis buku Surabaya Punya Cerita. Menurut Ipung, ia dan kawan-kawannya sering main ke makam Peneleh dan pulangnya tetap baik-baik saja. Gak kesurupan, ataupun di-”gelendoti” dedemit. Oleh karena itu, di suatu siang, ia mengajak saya untuk melihat makam Penelah dan membagi cerita tentangnya. Ya, beraninya siang dong hehe.

Memasuki Makam Peneleh memang seolah membawa kita ke suasana horor di Abad 18. Suasana makam yang bergaya gothic dan abad pertengahan itu, menjadikan aura makam peneleh berbeda dari makam umumnya di Indonesia. Saya membayangkan suasana muram di tempat ini saat dua ratus tahun lampau. Bayangan kereta kuda, suasana mendung, para kerabat berbaju hitam, membawa payung, mengantar jenazah orang-orang Belanda.

Di Peneleh ini, dimakamkan banyak tokoh Belanda, seperti Moeder Louise, Suster Kepala Ursulin, yang merupakan pendiri cikal bakal SMA Santa Maria di Surabaya. Selain itu, Gubernur Jenderal Pieter Markus, salah satu pejabat tertinggi Hindia Belanda yang meninggal pada saat menjabat, juga dimakamkan di sini. Ia adalah satu-satunya Gubernur Jenderal Belanda yang dimakamkan di Surabaya.

Menurut Ipung, Makam Peneleh adalah makam Belanda modern tertua di Indonesia. Ya, De Begraafplaats Peneleh atau Makam Peneleh dibangun sejak hampir dua abad lalu, atau tepatnya di tahun 1814. Makam ini lebih tua dari makam Belanda Kebon Jahe Kober di Jakarta. Selain itu, makam ini juga tercatat sebagai salah satu pemakaman modern tertua di dunia, bahkan lebih tua dari Fort Cannin Park Singapura (1926), Mount Auburn Cemeterydi Cambridge(1831), dan Arlington National Cemetery (1864).

Sayangnya, suasana makam ini kurang terawat. Saat saya memasuki kawasan makam Peneleh, banyak batu nisan yang sudah rusak, dibongkar, dan makam-makam yang gowong, atau bolong-bolong. Hiiiii, malah jadi nambah seram. Saya membayangkan ada tangan keluar dari bawah tanah gowong itu…

Saya diajak Ipung menuju satu bangunan yang konon paling angker di daerah itu. Kata mas penunggunya, banyak cerita aneh terjadi di sini. Bangunan itu dinamakan Omah Balung, atau Rumah Tengkorak, The House of Skeleton. Ga tau juga kenapa dinamakan seperti itu. Banyak riwayat, seperti misalnya dulu semua jenazah ditumpuk di situ, atau saat terjadi wabah penyakit banyak jenazah dikumpulkan, saya tidak mendapatkan penjelasan secara spesifik. Tapi yang jelas, aura angker memang terasa di depan Omah Balung ini. Bangunan ini hanya terdiri dari satu ruangan, di dalamnya ada semacam sumur, yang tentu menambah suasana mistik. Wah, saya tidak mau berlama-lama di sana. Segera saya beranjak ke makam yang lain.

Bersama Mas Dandot dan Mas Ipung, di depan Omah Balung, satu bangunan yang kata orang paling angker di makam Peneleh

Bersama Mas Dandot dan Mas Ipung, di depan Omah Balung, satu bangunan yang kata orang paling angker di makam Peneleh

Kalau cerita soal penampakan, mistik, dan lain-lain, banyak terjadi di makam tua ini. Tapi ya namanya juga kan makam, jadi wajar kalau sampai ada cerita seperti itu. Saya datang bukan untuk ikut uji nyali, melainkan melihat keanggunan sisa-sisa makam Belanda. Satu bangunan nisan yang saya juga kagumi adalah monumen pada pusara Pastor Martinus van den Elzen. Monumen ini dibuat oleh Kuyper, dari batu Maastricht kelabu dalam gaya gothic yang kental.

Dalam tatahan relungnya digambarkan kebangkitan Kristus. Ada nama almarhum, tanggal lahir dan wafat. Kata-katanya juga masih terbaca jelas, “Zalig zijn de dooden die in de heer sterven, want hunne werken volgen hen“, yang artinya “Bahagialah mereka yang meninggal dalam Tuhan, sebab amal mereka menyertainya“.

Monumen di Pusara Pastor Martinus van den Elzen

Monumen di Pusara Pastor Martinus van den Elzen

Saya juga berlama-lama menatap prasasti pada makam Gubernur Jenderal Pieter Markus, sambil membayangkan betapa berkuasanya ia dulu di Hindia Belanda. Tulisan prasastinya dalam bahasa Belanda, tapi menurut Pak Dukut (penulis buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe), artinya:

Paduka Yang Mulia Mr. Pieter Markus, Komandeur dalam Jajaran Singa Belanda, Ksatria dalam Legiun Kehormatan Perancis, Gubernur Jenderal dari Hindia Belanda, Panglima Tertinggi dari Angkatan Darat dan Laut di sebelah Timur Tanjung Harapan, dan seterusnya … Wafat di Wisma Simpang, 2 Agustus 1844″. Wisma Simpang adalah Gedung Grahadi sekarang.

Wisata ke Makam Peneleh ini bisa jadi sebuah alternatif kalau mampir di Surabaya. Lokasinya yang strategis, di tengah kota Surabaya, di tepian Kali Mas, menjadikan Peneleh sebuah tempat yang sayang kalau dilewatkan.

Namun memang amat disayangkan kalau melihat potensi wisata yang kurang terawat. Makam Peneleh terkesan kurang terawat, saat jalan di dalamnya banyak kotoran kambing, serta banyak nisan yang hilang, serta makam yang gowong. Andai suasananya bisa dibuat rapi dan terawat, tentu Makam Peneleh bisa jadi satu ikon wisata yang terkenal hingga manca negara, seperti beberapa konsep makam heritage lain di seluruh dunia.

Niwaay, kata orang di makam ini banyak dedemit terbang berkeliaran. Saksi matanya banyak yang pernah melihat penampakan-penampakan di sini. Well, menutup kunjungan hari ini, saya juga memilih ikutan terbang di sini, biar suasananya kena hehehe… Salam.

Levitasi di Makam Tua

Levitasi di Makam Tua

Omah Balung Levitation, photo by Ahmad, edited by Dandot.

Omah Balung Levitation, photo by Ahmad, edited by Dandot.

 

 

Jerman Lebih Dari Sekedar Menang

Gotze usai membobol gawang Argentina / source FIFA.com

Gotze usai membobol gawang Argentina pada Final Piala Dunia 2014 / photo source FIFA.com

Don’t Cry for Me Argentina. Kiranya begitu suasana galau dan sedih bagi para pendukung kesebelasan Argentina. Hanya tujuh menit menjelang usainya babak perpanjangan waktu, Jerman melalui Mario Gotze, merobek gawang Sergio Romero. Kemenangan 1-0 bertahan, dan membawa Jerman menjadi Juara Dunia 2014.

Ein Traum wurde wahr, itulah yang dikatakan para pemain Jerman sebelum pertandingan melawan Argentina dimulai. Saatnya, mimpi akan jadi kenyataan. Begitu arti pepatah Jerman tersebut. Penyair besar Jerman, Goethe, mengatakan, “Lebih baik berlari daripada bermalas-malasan”.  Jerman membuktikan itu di berbagai hal, mereka berlari di segala bidang, mulai dari tekhnologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan dini hari tadi, sepak bola. Gotze, yang menjadi pemain pengganti meyakini syair Goethe. Ia berlari, berlari, dan berlari. Gotze, bagai Goethe, mampu membawakan syair indah bagi kemenangan Jerman.

Kita lihat pagi tadi, para pemain Argentina bagai tersedak. Tak mampu berkata-kata. Diam terpana. Gadis-gadis cantiknya menangis bagai tak percaya. Para lelakinya ling lung bagai hilang ingatan. Tangisan Argentina mengalir di stadion Maracana, Rio de Jainero, dinihari tadi. Sepak Bola memang bisa menyakitkan.

Usai sudah Piala Dunia 2014. Tiga puluh dua hari sudah kita terbuai dalam keriaan, tawa, canda, drama, tragedi, dan tangis, bersama seluruh warga dunia. Kini kita kembali ke dunia nyata. Namun, sebagaimana ibadah puasa bagi umat beragama, tiga puluh dua hari ibadah ritual nonton sepakbola (yang notabene juga sering bangun malam berbarengan sahur) juga harus punya makna.

Bahwa Final Piala Dunia hari ini bukanlah akhir. Pertandingan final ini justru dapat kita jadikan awal dari sebuah perbaikan kehidupan. Piala Dunia adalah hari-hari bangun malam untuk melakukan perenungan dan pelatihan diri. Jangan sampai semua itu menjadi sia-sia dan tak memiliki makna moral.

Bersama dengan rekan-rekan arek Suroboyo, di pelataran Cafe Heerlijk Gelato, yang bertempat di Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya dini hari tadi, saya bersama mas Aditya (pemilik cafe) menyaksikan nonton bareng Final Piala Dunia. Kita berbincang singkat, mencoba mencari benang merah, apa pelajaran dari kemenangan Jerman kali ini.

Dari omong-omong tadi, ditambah dengan perenungan di perjalanan pulang, plus beberapa referensi masa lalu saya, ada tiga pelajaran yang dapat kita renungkan dari Piala Dunia 2014, yang dapat kita renungkan bersama.

Nobar

Bersama mas Adit, mbak Linda, dan Lelaku Senja, usai Nobar di Heerlijk Gelato, Perpustakaan BI Surabaya

Pelajaran pertama, keberhasilan atau kesuksesan tidak pernah terjadi secara “instan” atau sekali jadi. Itu sudah hukum besi alam. Persiapan yang matang, ketekunan, kesabaran, adalah kunci. Jerman adalah negara yang persisten dalam hal ini. Mereka meraih juara dunia pada tahun 1954, 1974, dan 1990. Secara statistik, di tahun 1982 dan 1986, mereka hampir juara namun kalah di final oleh Italia dan Argentina. Di tahun 2002, mereka kembali masuk final, dan lagi-lagi kalah, saat itu oleh Brasil. Sejak itulah, mulai tahun 2002 itu, Jerman membangun kembali kekuatan sepak bolanya. Regenerasi dilakukan secara disiplin, untuk mencapai target juara di tahun 2014. Bayangkan, dilakukan jauh hari sebelum dini hari tadi.

Juara Dunia tahun 2014, bukan terjadi dalam semalam. Di balik kegembiraan Mueller dkk mengangkat Piala Dunia, di balik gempita kembang api, sorak sorai penonton, ada proses panjang yang bernama kerja keras, air mata, dan keringat. Sukses adalah sebuah proses panjang. Jerman melakukannya selama lebih dari sepuluh tahun. Kebiasaan merencanakan hal-hal berjangka panjang, adalah kunci kesuksesan.

Hal ini yang masih jauh dan belum kita miliki. Pola kerja kebanyakan dari kita, lebih banyak ad hoc, kerapkali mengerjakan pekerjaan hari ini saja. Mirip burung yang pergi pagi mencari makan, lalu pulang sore harinya. Undangan rapat mendadak, kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara sporadis, adalah contoh pekerjaan yang ad hoc. Tentu tak ada yang salah dengan kegiatan tersebut, karena kerap juga diperlukan. Tapi kalau semua pekerjaan adalah ad hoc, maka kita tidak punya prioritas atau pandangan jauh ke depan.

Contoh paling konkrit adalah tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Hari-hari ini kita sering sekali mendapat pertanyaan, atau kegalauan, dari berbagai kalangan, bagaimana persiapan kita menghadapi 2015. Nah, itu kan tinggal setahun lagi. Bukankah harusnya sudah kita siapkan dari 2003, saat kesepakatan ini dibuat. Mungkin karena kita dibesarkan dalam budaya SKS (Sistem Kebut Semalam), semua bisa beres dalam waktu singkat. Belajar dalam semalam toh bisa lulus juga. Lalu cerita legenda-legenda kita juga mengajarkan hal-hal instan tersebut. Membangun seribu candi dalam semalam, mendirikan gunung hanya dari lemparan biduk perahu, adalah legenda yang tertanam di pikiran kita. Bahwa pekerjaan besar seperti membangun candi, bisa kok dilakukan dalam semalam. Kita percaya pada hal-hal magi. Tapi pagi ini, Jerman mengajarkan kita, keberhasilan tak mungkin dilakukan dengan ketergagapan sesaat. Ia perlu kerja keras dan waktu panjang.

Indonesia adalah negara besar dengan segala potensi. Dengan kemampuan kita mengubah paradigma, berpikir panjang, dan mampu melihat masa depan dengan cermat, saya yakin, Indonesia bisa hebat dan bangkit ke depan.

Pelajaran kedua, tim terbaik belum tentu meraih juara. Kita melihat banyak contoh. Belanda misalnya, diperkuat oleh para pemain bagus di segala lini. Argentina juga memiliki kekuatan merata. Bahkan Amerika Serikat menurut saya merupakan tim bola masa depan yang punya gaya permainan bagus. Mereka adalah tim-tim baik, tapi tidak meraih juara. Bukan berarti usaha mereka sia-sia. Johan Cruyf dulu pernah berkata, ”Jangan sampai keinginan menjadi juara membuat orang lupa bermain indah”. Itulah semangat sport sejati, bola harus menghibur, bola harus indah, dan bola harus memukau. Jika ternyata hasilnya adalah kekalahan, kekalahan itu masih mengandung kemenangan.

Di bulan Ramadhan ini, kata-kata tausyiah dari Johan Cruyf itu perlu kita renungkan. Dalam kesalehan dan kehidupan beragama, kita kan diajarkan untuk tidak boleh hanya meraih hasil. Bagi Allah, hasil itu bukan yang utama. Tapi bagaimana cara kita meraihnya. Banyak yang bisa berhasil, jadi juara, tanpa memikirkan cara terindah dan terjujur dalam mendapatkannya. Tanpa cara yang tepat dan baik, hidup yang hanya memburu target hasil, bisa menjadi tidak bertanggungjawab dan amoral. Piala Dunia mengajarkan, tim terbaik belum tentu juara. Tapi keindahan permainan mereka akan mengenang sepanjang zaman. Demikian pula dalam hidup ini. Jangan pikirkan hasilnya. Mau naik gaji, naik pangkat, naik kelas, itu bukan tujuan. Yang terpenting, bekerjalah atau belajarlah dengan cantik, indah, dan memikat. Maka sejarah akan mencatat.

Pelajaran ketiga, asas sepak bola adalah kompetensi, bukan keunggulan yang lain. Bukan karena suku, agama, ras, apalagi kedekatan dengan pimpinan. Neymar, Boateng, Suarez, bukanlah bangsa Eropa. Tapi mereka memiliki kompetensi tinggi untuk bersaing dengan bangsa Eropa yang notabene adalah negara maju. Maksimalisasi kompetensi diri inilah yang perlu kita pakai dalam membangun bangsa dan bekerja. Untuk bersaing, gunakan kompetensi kita, dan karya ke depan, bukan bermodal masa lalu atau perkoncoan saja. Piala Dunia menjadi suatu pembuktian bahwa siapa saja bisa jadi bintang, asalkan kompeten.

Satu lagi catatan menarik saya dari Final tadi malam adalah kehadiran istri, keluarga, dan anak-anak para pemain sepak bola Jerman. Saat Jerman juara, anak-anak dan keluarga menghampiri ayah, atau pacar mendatangi kekasih mereka. Ini adalah sebuah revolusi yang dilakukan Jerman beberapa puluh tahun lalu. Sebelumnya, wanita dianggap pengganggu pekerjaan. Jerman dulu melarang pemainnya menemui keluarga saat konsinyering Piala Dunia. Wanita dan keluarga dianggap bisa merusak konsentrasi.

Adalah Franz Beckenbauer yang mencabut kebiasaan ini. Ia memberi kesempatan para pemain mengajak keluarga, istri ataupun pacar. Koran Jerman saat itu menulis, “Danke, Franz fur diese Liebesnacht”. Terima kasih Franz, atas malam-malam penuh cinta. Ya, bayangkan selama enam minggu para pemain tidak boleh bertemu kekasihnya. Puyeng kan.

Franz Beckenbauer berkata sambil bercanda, “Satu jam seks akan jauh lebih efektif dan membantu daripada lima jam latihan taktik dan teknik bola”. Ya, malam cinta adalah rahasia kemenangan Jerman.

Di sini kita bisa menarik lagi pelajaran, bekerja dan bekerja, tanpa cinta, adalah sebuah perjalanan yang kering. Pekerjaan menjadi tidak efektif dan kadang bisa kehilangan semangat. Jangan lupa kawan, bekerja penuh semangat, tapi tetaplah bercinta. Karena cinta membuat hidup lebih berwarna.

Itu catatan singkat saya pagi ini. Visi dan misi kita dalam hidup nampaknya harus banyak memuat unsur sepakbola ini. Kita sudah tanamkan keinginan buat bekerja dengan tekun, tidak ada kemenangan instan, kita memilih untuk bermain cantik dan indah, mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan manusia,  kita bersama-sama ingin membangun kompetensi diri. Dan terakhir, visi yang paling ultimate, jangan lupa bercinta.

Joachim Ringelnats pernah berkata, “Kegilaan pada bola adalah penyakit. Tapi saya bersyukur kepada Allah ada kegilaan itu”.

Selamat menjalankan sisa puasa kita. Semoga amal ibadah kita diterima dan hidup kita semakin diberkahi. Salam sepak bola.

(Catatan ini dibuat usai menyaksikan Final Piala Dunia 2014 antara Jerman melawan Argentina. Jerman menjadi Juara Dunia setelah menang dengan skor 1-0)

Endah Kreco, dari Sawah ke Manca Negara

Bersama Endah Kreco di Warung Kebul Kebul miliknya

Bersama Endah Kreco di Warung Kebul Kebul miliknya

Menjelang hari Kartini, saya diundang oleh Mbak Endah, seorang kawan, untuk mampir ke warung terbarunya di daerah Kebraon, Surabaya. Ia ingin memperkenalkan menu terbaru warungnya, yaitu Kreco (sejenis keong sawah – kalau di Jabar namanya Tutut) dan Bothok Lele. Sebelumnya, Mbak Endah sudah terkenal dengan produk ikan wadher (ikan kecil di air tawar). Ia sudah memiliki tiga warung makan, dan mulai merintis franchise Kreco Bumbu Serapah Khas Jatim.

Tak sampai tujuh tahun lalu, Endah tak punya apa-apa. Ia bercerita sambil menerawang mengingat masa sulitnya dulu. Ia dan suaminya, tak punya pekerjaan. Rumah tak punya, uang tak punya. Tapi Endah punya kemampuan memasak yang diwarisi dari nenek dan tetangga-tetangganya waktu kecil di Gresik.

Ia lalu mengajak suaminya menangkap ikan wader (ikan air tawar kecil) di kali dan waduk-waduk sekitar Gresik. Satu per satu ikan itu dibersihkannya, lalu digoreng. Endah lalu menjajakan dari warung ke warung. Rasa wadher Mbak Endah ini memang khas. Crispy dan tepat bumbunya. Singkat kata, permintaan meningkat, bahkan ia memasok ke beberapa restoran besar di Surabaya.

Ingin maju dan berkembang, Endah pergi ke Dinas Perikanan Kota Surabaya, untuk mendapatkan advis tentang budi daya wader. Dinas Perikanan malah tertarik dengan usahanya. Endah kemudian dipinjami modal alat pendingin, diajari cara membesarkan usaha, memberi “brand”, mengajukan label halal dari MUI, hingga berhubungan dengan bank. Merek “Qalifish” dipilihnya sebagai brand. Sejak itu, usaha Endah tumbuh pesat. Ia meraih juara pertama tingkat kota Surabaya, dan juara tiga tingkat provinsi Jatim, untuk kategori inovasi Usaha Kecil Mikro Menengah.

Dalam dua bulan terakhir ini, Endah memperkenalkan produk barunya, yaitu Kreco, atau sejenis keong sawah. Saya mencicipi kreco buatan Mbak Endah. Katanya ini pakai bumbu serapah, atau bumbu dengan aneka rempah khas Jatim. Betul sekali, rasanya uenaak. Sama sekali tidak terasa bau sawah. Bersih, segar, dan tentu makanan ini kaya gizi. Penelitian mengatakan bahwa Kreco mengandung banyak protein. Kalau di Perancis, ini bisa masuk kategori l’escargot yang harganya bisa jutaan Rupiah itu.

Kreco, sejenis keong sawah yang menjadi kudapan favorit di Surabaya. Mirip Escargot kalau di Perancis

Kreco, sejenis keong sawah yang menjadi kudapan favorit di Surabaya. Mirip Escargot kalau di Perancis

Masakan Mbak Endah bahkan pernah menembus Istana Negara di Jakarta. Katanya, suatu waktu saat kunjungan Presiden RI ke Jatim, salah seorang Paspampres merasakan kenikmatan ikan wadhernya. Endah kemudian diundang ke salah satu acara di Istana untuk menyajikan ikan wadher bagi para tamu dan pejabat tinggi. Mbak Endah memperlihatkan pada saya beberapa souvenir yang diterimanya dari Istana Negara.

Bukan itu saja, beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi melalui Dinas Perikanan, mengajak Mbak Endah untuk promosi produknya hingga ke Osaka, Jepang. Mbak Endah tentu tidak mengira kalau usahanya bisa diajak promosi di pasar luar negeri.

Endah adalah salah satu contoh Pahlawan Perempuan. Selain mampu meningkatkan taraf hidup dirinya dan keluarga, Endah juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Ia mempekerjakan ibu-ibu untuk membantunya di bagian produksi, mulai dari membersihkan ikan wadher, kreco, hingga memasak. Pemberdayaan ekonomi bagi kaum perempuan adalah salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam membangun ketahanan ekonomi kerakyatan. Surabaya terkenal sebagai satu kota yang menetapkan Pemberdayaan Ekonomi Kaum Perempuan, sebagai salah satu pilar pertumbuhannya.

Ya, kalau dilihat dari struktur demografi ekonomi, kaum perempuan Indonesia memang masih terpinggirkan. Dari jumlah penduduk miskin absolut di Indonesia, apabila dibedakan menurut jenis kelaminnya, maka penduduk perempuan miskinlebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki.

Kalau kita merinci menurut rumah tangga, maka rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan jumlahnya masih tinggi dari tahun ke tahun. Kemiskinan di Indonesia sangat lekat dan dekat dengan perempuan. Dana bantuan yang diterima dari Pemerintah sebagian besar diterima oleh laki laki, karena definisi kepala keluarga di Indonesia masih menempatkan laki-laki sebagai subjeknya.

Dampak dari kemiskinan tersebut dapat ditebak, prioritas akses pada berbagai layanan akan diberikan lebih banyak pada laki-laki. Tidak mengherankan jika perempuan identik dengan kemiskinan. Di sektor pendidikan dapat kita lihat bahwa persentase rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan yang berpendidikan SD dan SLTP lebih tinggi jumlahnya dibandingkan rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki. Sebaliknya, persentase rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki dengan pendidikan sekolah menengah ke atas jumlahnya lebih tinggi.

Perbedaan sosial, ekonomi, dan politik kaum perempuan itulah yang coba didobrak oleh R.A Kartini lebih dari seratus tahun lampau. Melalui surat-surat dan ungkapan hati kepada Stella sahabatnya, Kartini menuliskan pandangannya tentang feminisme dan nasionalisme. Di dalamnya, mencakup bagaimana peranan kaum perempuan bisa terus ditingkatkan dalam membangun negeri.

Kini, lebih dari seratus tahun, kaum perempuan Indonesia sudah terus meningkat. Pak Hermawan Kartajaya bahkan mengatakan kalau masa depan Indonesia berada di segmen Y-W-N, atau Youth, Women, and Netizen. Itulah masa depan Indonesia. Berada di peranan kaum perempuannya.

Namun berbeda dengan di kota-kota besar, tantangan kaum perempuan di pedesaan masih besar. Endah Kreco hanya satu dari sekian kaum perempuan yang mampu keluar dari stigma “lemah” kaum perempuan.

Semoga peringatan Hari Kartini, tidak terjebak hanya pada perayaan memakai kebaya di kantor dan sekolah-sekolah. Foto bersama, upload di sosial media, tentu satu acara yang menarik dan tak ada salahnya. Tapi di balik seremoni “kebaya” itu, pe-er Kartini masih banyak. Kaum perempuan Indonesia masih perlu terus diberdayakan.

Salam.

Sersan Mayorku

Pak Boedi Santosa, pemilik PT Rutan, meminjamkan kita mobil klasik Chevrolet 1948. Konon kabarnya, mobil ini pernah digunakan oleh Presiden Soekarno. Menariknya, Chevy 48 ini masih berfungsi dengan baik. Ia dikemudikan dari Gresik ke wilayah kota tua Surabaya dengan lancar.

Bahkan beberapa tahun lalu, Chevy ini menyelesaikan trayek Jakarta-Palembang secara penuh. Luar biasa.

Jadi, saya bersama arek-arek Suroboyo berpose dengan Old Chevy 48 ini. Tema ceritanya: Sersan Mayorku. Tentu saja sambil kita memutar lagu, Sersan Mayorku …. masih ingat kan? begini liriknya, “Kalau Ibuku, Pilih Menantu. Pilihlah dia, Sersan Mayorku. Dia idaman, hasratnya hatiku. Juru Terbang, Angkatan Udara Negaraku…” Salam Perjuangan.

Sersan Mayor memeriksa mesin Chevy

Sersan Mayor memeriksa mesin Chevy

 

Ciamik tenan kowe, Nung

Ciamik tenan kowe, Nung

Bersama Arek-Arek Soerabaia

Bersama Arek-Arek Soerabaia

On the road

On the road

Sersan Mayor Rawuh !

Sersan Mayor Rawuh !

 

 

 

 

Solusi Kemiskinan dari Laut a la Pak Nadjikh

Pengolahan ikan di PT Kelola Mina Laut / photo iwan

Pengolahan ikan di PT Kelola Mina Laut / photo iwan

Pekan lalu saya bertemu dengan Pak Mohammad Nadjikh, di kantornya yang berlokasi di Kawasan Industri Gresik, Jawa Timur. Pak Nadjikh adalah pemilik sekaligus CEO dari PT Kelola Mina Laut (KML), yang merupakan perusahaan Indonesia terbesar dalam pengolahan hasil laut dan perikanan secara terpadu. Usahanya meliputi unit pengolahan ikan, udang, rajungan, teri nasi, seafood olahan, surimi, hingga bakso ikan.  Dalam setahun, Group KML mampu menghasilkan produk olahan hasil laut 20 ribu ton yang diekspor ke seluruh dunia, dan mempekerjakan lebih dari 14 ribu karyawan.

Saat banyak partai politik hanya menjanjikan kemakmuran bagi petani dan nelayan, Pak Nadjikh dalam diamnya telah memberi bukti nyata. Secara perlahan tapi pasti, ia telah mengangkat kehidupan lebih dari 500 ribu nelayan pesisir pantura dan pulau Madura. Bukan hanya para nelayan, tapi juga keluarga dan anak-anak nelayan ikut meningkat kesejahteraannya melalui konsep bisnis yang dirancang oleh Pak Nadjikh.

Group KML memang memiliki visi bisnis yang basisnya ngopeni (mengayomi) rakyat kecil. Hal ini tidak terlepas dari masa lalu Pak Nadjikh yang merasakan sulitnya kehidupan nelayan. Terlahir dari keluarga pedagang ikan, Pak Nadjikh tahu betul kesulitan hidup petani dan nelayan. Oleh karenanya ia punya tekad untuk maju, menuntut ilmu, dan memberdayakan kaum nelayan. Lulus dari IPB jurusan Teknik Industri pada tahun 1984, ia bertekad memanfaatkan ilmunya di “jalan yang benar”. Pak Nadjikh lalu memulai usaha pengolahan dan penjualan teri nasi (chirimen) pada tahun 1994.

Memulai dari nol, jerih payahnya memberi hasil yang tidak main-main. Hanya dalam kurun 15 tahun, omset usaha Pak Nadjikh telah mencapai lima triliun rupiah. Siapa yang menyangka kalau usaha awal menjual teri nasi  dari perairan Madura, Pak  Nadjikh kini telah berhasil menjadi eksportir teri nasi terbesar di Indonesia. Bahkan melalui brand “Prima Star”, KML Group telah menjadi pemasok teri nasi terbesar di pasar Jepang.

Usaha Pak Nadjikh juga terus berkembang merambah pasar Amerika Serikat, Uni Eropa, dengan produk unggulan fillet ikan kakap merah, udang, rajungan kaleng. Dan kini KML Group telah mengekspor ke lebih dari 30 negara, termasuk Rusia, Kanada, Australia, Taiwan, Korea, Tiongkok, New Zealand, dan negara-negara Timur Tengah.

Namun hal yang mengagumkan saya bukan saja soal omset dan pasar Group KML, melainkan bagaimana Pak Nadjikh menempatkan usahanya berbasis pada pemberdayaan nelayan tradisional dan pesisir.

Di pesisir Madura, banyak terdapat kampung nelayan yang seluruh nelayan masih menggunakan kapal-kapal tradisional untuk mencari ikan. Kehidupan di sana juga memprihatinkan secara sosial. Tapi justru dari sanalah, rantai usaha pak Nadjikh bermula dan dibangun.

Di perkampungan nelayan itu, ia membangun unit-unit pabrik kecil (miniplant), yang membeli hasil laut dari nelayan. Di miniplant tersebut, hasil tangkapan nelayan dikumpulkan dan diproses. Titik awal pengendalian mutu juga dilakukan di miniplant tersebut. Hasilnya mencengangkan, karena justru miniplant itu menjadi motor perubahan di kampung-kampung nelayan pesisir Madura. Saat ini, Group KML telah membangun sekitar 30 miniplant di berbagai lokasi.

Pengolahan Udang di KML Gresik / photo by iwan

Pengolahan Udang di KML Gresik / photo by iwan

Menariknya lagi, hampir 90 persen pekerja di miniplant tersebut adalah perempuan. Pada umumnya perempuan yang bekerja di sana adalah ibu-ibu rumah tangga atau remaja putri yang tinggal di daerah sekitar kampung nelayan. Bisa dibayangkan, para pria melaut, kaum perempuannya mengolah hasil tangkapan di miniplant. Nah dampaknya luar biasa, meluaslah lapangan pekerjaan di desa, sehingga meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan keluarga. Dengan meningkatkan pendapatan, tingkat pendidikan anak-anak desa juga meningkat.

Dari miniplant di kampung-kampung nelayan tersebut, produk olahan disortir, dikirim ke pusat pengolahan agroindustri, lalu diekspor ke mancanegara. Siapa menyangka, rajungan dari pesisir Madura, bisa menempati rak-rak super market besar, seperti Wall Mart di AS, atau super market kelas atas di Rusia, Kanada, dan Jepang.

Pak Nadjikh juga merancang skim pembiayaan bagi para nelayan dengan sistem dana talangan melalui perbankan. Kita tahu bahwa perbankan menganggap sektor pertanian dan perikanan sebagai sektor yang memiliki bio-risk, atau risiko yang tinggi karena berbagai ketidakpastian akibat alam. Akibatnya, tak banyak perbankan yang mau terjun ke sektor ini. Nah, Pak Nadjikh merancang skim bersama perbankan sehingga nelayan-nelayan bisa memperoleh kredit, bahkan tanpa agunan, karena dijamin perusahaannya.

Konsep bisnis Pak Nadjikh untuk memberantas kemiskinan di kalangan nelayan secara singkat dibagi dalam empat besaran, yaitu: Diferesiansi Bisnis (ekspor teri nasi ke Jepang), Diferensiasi Produk Samping (Ekspor Daging Rajungan, Kulit, kepala Ikan pun diolah), Desentralisasi Proses Industri (Membangun Miniplant di daerah-daerah nelayan), dan Dekonsentrasi Usaha Penunjang (Melalui toko, warung, penjual baso keliling).

Indonesia adalah sebuah potensi besar dari sisi kekayaan laut. Lautan kita adalah “amazon of the seas”, memiliki aneka ragam kekayaan biota laut. Oleh karenanya agroindustry hasil laut adalah salah satu industri strategis. Agroindustri hasil laut menggunakan sumber daya lokal yang menjadi keunggulan komparatif Indonesia. Sumber daya itu juga mempunyai keterkaitan yang kuat (backward dan forward linkage) dengan budidaya perikanan dan aktivitas ekonomi lainnya.

Sumber daya kelautan adalah sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga keberlangsungannya dapat dipertahankan. Industri seperti ini prospeknya besar untuk dijadikan penggerak roda perekonomian daerah ke depan, sehingga dapat berperan penting dalam menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Bersama Pak Nadjikh (tengah) di depan frozen mart, usai mengunjungi pemrosesan hasil laut di pabriknya.

Bersama Pak Nadjikh (tengah) di depan frozen mart, usai mengunjungi pemrosesan hasil laut di pabriknya.

Langkah Pak Nadjikh adalah satu contoh membanggakan dari wirausahawan negeri ini yang sukses membantu kehidupan masyarakat. Sebagaimana pepatah, economy is for the people, not the people for the economy. Ini artinya, berbagai indikator makroekonomi yang bagus, akan percuma apabila tidak meningkatkan taraf hidup rakyat.

Untuk ukuran pengusaha sukses dan kaya raya, Pak Nadjikh adalah pribadi yang sederhana, bahkan sangat sangat sederhana. Jiwanya rendah hati dan tidak menampakkan kemewahan secara berlebihan untuk ukuran orang kaya. Kerendahan hati ini juga menjadi konci suksesnya dalam membangun usaha.

Sebagai penutup, saya menanyakan soal dunia politik. Umumnya pengusaha yang sudah sukses dan kaya, pasti tergoda untuk terjun ke dunia politik. Di sini jawabannya menarik, ia ingin memberi perhatian penuh pada perusahaan dan mengangkat taraf hidup masyarakat nelayan. Tidak tertarik dunia politik yang penuh racun, tipu daya, dan kejijikan. Ia tidak mau. Atau mungkin belum mau. Semoga bisa tetap konsisten dan terus demikian.

Salam.

Touch Screen a la Warung Mojorejo

touch screen technology in warung mojorejo

touch screen technology in warung mojorejo

Dalam perjalanan darat dari Surabaya ke Pasuruan, saya mampir makan siang di Warung Mojorejo. Ini adalah Warung legendaris di sepanjang jalan raya Surabaya – Pandaan. Warung ini kerap digunakan sebagai tempat para pengendara beristirahat, baik untuk makan maupun sholat atau ke kamar kecil. Sajian makanannya versi rumahan, mulai dari daging, telur, ikan, aneka sayur, bothok dan pepesan, hingga berbagai minuman.

Penyajiannya pun sama seperti warung-warung tegal (Warteg). Kita jangan duduk dan menunggu pelayan menawarkan makanan, tapi harus memesan makanan melalui tekhnologi touch screen, atau menunjuk ke kaca untuk memesan aneka makanan yang tersedia. Nah ini menariknya, saya tinggal tekan “screen” kacanya, pilih aneka ragam menu yang tampak di kaca itu, sebutkan dengan suara kita, dan tak lama kemudian, makanan tersaji di hadapan kita. Canggih bukan :)

Mungkin dari sinilah tekhnologi “touch screen” ditemukan. Bukan hanya touch screen, tapi juga voice activated.  Saya memilih makan mangut lele, perkedel, dan sayur pare. Makanan lezat, penyajian canggih. Mari, selamat makan.

mangut lele versi warung mojorejo

mangut lele versi warung mojorejo

Ayam Si Mbah Pedes yang Cerewet

Ayam Pedesan si Mbah / photo junanto

Ayam Pedesan si Mbah / photo junanto

Di era customer oriented saat ini, para pelaku usaha berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin pada pelanggan. Mulai dari penerimaan, hingga pelayanan prioritas, diciptakan agar pelanggan puas dan terus datang. Tapi tidak demikian dengan mbah Siti Aisyah, pemilik Warung Langgeng di daerah Krembangan, Surabaya.

Warung Langgeng menjual menu khusus, Ayam Krengsengan dan Sambel Pedas, yang terkenal kelezatannya lebih dari 60 tahun. Ya, warung itu berdiri sejak tahun 1952 dan memiliki banyak cerita.

Tapi bukan itu yang menarik dari warung Si Mbah. Hal yang menjadi ciri khas dari Warung Langgeng adalah bagaimana si Mbah melayani pelanggannya. Bukannya menyambut ramah dan menawarkan “hospitality”, tapi si Mbah malah rajin mencereweti, bahkan bisa dikatakan galak, pada pelanggan yang datang.

Kalau ada pelanggan yang banyak bertanya atau banyak maunya, si mbah akan marah. Saya mendengar dari Pak Yunus, seorang rekan di kantor, tentang keunikan Si Mbah. Katanya saat ada satu ibu bertanya tentang menu, dan meminta untuk tidak memakai ini dan itu, si mbah langsung membentak, “Wis meneng ae, arep mangan nang kene opo ora?” (udah diam aja, mau makan di sini atau nggak?). Atau malah si mbah pernah mengusir seorang pelanggan karena terlalu banyak meminta atau bertanya.

Beberapa pelanggan ada yang sempat “misuh-misuh” atau ngegerundel, ada yang diam tapi tak sedikit pula yang langsung keluar. “Wah, kita kan mau beli makan, masa dibentak-bentak. Mending keluar aja”, demikian kata pak Yunus menirukan komentar satu pelanggan. Waaah, ngeri juga yaaa.

Tapi cerewetnya si Mbah malah memberi keunikan tersendiri bagi Warung Langgeng. Suatu siang, saya untuk pertama kalinya mampir mencoba makanan di sana. Konon kata orang, si Mbah ini relatif baik kalau sama pria. Apalagi yang masih muda hehe.

Saat masuk warung, si mbah langsung menatap kami. Mau apa? tanyanya. Ya karena kita sudah tau ceritanya, kita bilang dengan sopan saja. Ayam mbah, dua porsi. Datanglah dua porsi ayam krengsengan beserta sambal pedasnya yang luar biasa. Saya makan dengan tenang dan tidak banyak bicara atau bertanya. Takut si mbah marah hehe….

Eh tapi bener juga, rasa krengsengan ayam dan sambalnya dahsyat. Perpaduannya pas dan nikmat. Lalapan disajikan dalam nampan besar dan all you can eat. Enaknya.

Karena pedas, wajah saya berkeringat basah. Untuk menyeka, saya ambil sapu tangan dan mengelap wajah berkeringat. Tiba-tiba si mbah, saat melihat saya menyeka wajah dan bagian mata, langsung  membentak, “Woi, kowe mangan ojo nangis. Mangano ae!” (Hei, kamu makan jangan nangis, nikmatin aja). Saya kaget, tapi langsung tertawa, karena merasa, “kena juga gw sama si mbah” hehehe….

Tapi setelah itu, si mbah malah ramah dan banyak ngobrol. Dari situ saya baru tahu kalau si mbah usianya sudah 95 tahun. Haa? 95 tahun? Ya, dan di usia itu, si Mbah masih kuat melayani pelanggan, mulai dari menuang sayur hingga membungkus nasi. Ia bercerita banyak tentang pengalamannya selama lebih dari 60 tahun berjualan. Intinya, ia memang cerewet dan tidak suka kalau pelanggan banyak bertanya. Tapi karena kebiasaan itu juga, dan karena rasa makanannya yang khas, pelanggan justru bolak balik datang ke sana.

Ada yang kangen dengan cerewetnya si mbah, ada yang kangen dimarahin, ada yang ingin nostalgia masa muda, berbagai alasan untuk kembali dan kembali ke warung si mbah. Walaupun ada risiko kena marah.

Ya, mungkin si mbah ini cerewet. Tapi kita semua tidak merasa sakit hati. Seperti diomelin oleh nenek sendiri saja. Didengar tapi tidak dimasukkin hati, yang penting ayam tersaji hehehe…. Di ujung jamuan saya minta foto bareng sama si mbah. Dan dia sambil mencerocos kalau hari itu belum berdandan (genit juga ya si mbah), akhirnya tetap bersedia di foto. Ini dia hasilnya.

Bersama si Mbah Ayam Krembangan

Oh ya satu lagi, itungan si mbah juga kurang begitu bagus. Jadi kalau kita minta ia menghitung harga, umumnya tidak bisa seragam. Suka-suka si mbah saja, kadang rasanya murah, tapi kadang kayak kemahalan hehehe… Tapi secara keseluruhan, kunjungan ke Warung Langgeng dan bertemu si Mbah adalah pengalaman yang luar biasa.

Pesta Durian di Kediri

 

King of Fruit

King of Fruit

DUKUNG DURIAN KEDIRI. Erupsi Gunung Kelud membawa dampak pada panen beberapa hasil bumi di Kediri, termasuk Durian. Kediri adalah salah satu penghasil durian di tanah air. Tapi ternyata, bencana belum berdampak signifikan pada durian. Beberapa desa di Kediri justru mengalami masa panen durian. Dalam satu hari, kata seorang petani durian, mereka bisa panen hingga 500 buah. Namun masalah muncul di pemasaran. Bencana menyebabkan kedatangan wisatawan ke Kediri turun drastis. Akibatnya mereka kesulitan menjual durian.

Nah, pekan lalu kami, bersama rekan-rekan dari Universitas Airlangga dan Media Massa di Jatim, dalam kunjungan ke Kediri dan Malang, melewati banyak kios-kios di pinggir jalan yang menjajakan durian hasil panen kebun. Beberapa kawan wartawan langsung semangat melihat duren yang berjejer di pinggir jalan. Bahkan di pohon-pohon masih nampak duren menggantung. “Wah, kalau kita melewatkan kenikmatan itu, artinya kita kufur nikmat nih”, celetuk salah satu wartawan.

Eh betul juga ya. Lagian, kita kan harus mendukung buah-buahan produk lokal. Masa makannya durian bangkok, rasanya kurang nasionalis kan. Akhirnya, kami memutuskan untuk mampir di salah satu kios durian. Kebetulan kita semua pecinta durian. Tanpa banyak bertanya pada Ibu penjual durian, kita langsung meminta durian-durian itu dikupas. Ya, kita telah membulatkan tekad untuk mendukung petani durian. Kita beli durian lokal, dan kita pesta makan durian.

Kebersamaan dan kenikmatan durian tanah air menjadikan semuanya lebih nikmat. Salam durian.

Dukung Durian Kediri

Dukung Durian Kediri

After the party

After the party