Kudapan Belanda Wajib Coba

Stroopwafels yang Lekker / photo junanto

Stroopwafels segar yang Lekker / photo junanto

Tidak seperti Indonesia yang kaya akan berbagai jenis makanan, Belanda tidak memiliki banyak variasi makanan atau kudapan lokal. Tapi kalau mau merasakan bagaimana selera lokal di Belanda, perlu bagi kita untuk terjun ke pasar atau jalanan dan mencari makanan lokal.

Setelah ikan haring mentah yang saya cicipi kemarin, masih ada beberapa pilihan makanan lokal di Belanda yang menarik. Mungkin tidak terlalu istimewa karena sebagian besarnya sudah banyak terdapat, dan bisa dibuat di tanah air, seperti Bitterballen, Poffertjes, Kroket, ataupun Olliebollen. Tapi masih banyak lagi lainnya yang tentu berbeda rasanya dibandingkan di Indonesia.

Satu favorit saya adalah Stroopwafels. Makanan ini banyak bertebaran di mana-mana kalau kita ke Amsterdam. Prinsipnya, Stroopwafels ini adalah sirup wafel, yang terbuat dari butter dan diolesi sirup di tengahnya. Sejarahnya, makanan ini pertama dibuat di dareah Gouda, Belanda, pada abad ke-18. Hingga tahun 1870, stroopwafels ini hanya dibuat di Gouda, belum diekspor ke kota lain. Bahkan katanya, di tahun tersebut, ada sekitar 100 pedagang stroopwafels, hanya di kota Gouda.

Membeli Stroopwafels ini mudah karena sekarang sudah banyak dibuat kering dan dijual di supermarket. Tapi saya paling suka mencicipi stroopwafels yang segara, atau yang dibuat langsung di depan kita. Banyak pedagang Stroopwafels yang bisa dicoba. Saya mencicipi yang di dekat Rijkmuseum, sebelum Museum Van Gogh. Lalu ada lagi yang segar di daerah Albert Cuyp Market. Di sana, kita bisa melihat penjual wafel membuat adonan kuenya, lalu memasukkan ke mesin pressing. Setelah beberapa waktu, wafel matang. Dibagi dua dan diolesi sirup di tengahnya. Hmmm, lezaat.

Selain Stroopwafels, ada satu kudapan lokal yang menarik. Sebenarnya sih ga terlalu istimewa, tapi hampir semua orang menganggap ini adalah kudapan paling populer di Belanda. Namanya sih keren, Vlaamse Friet. Tapi sebenarnya ini hanyalah kentang goreng dengan diolesi aneka saus dan mayonnaise. Orang Belanda menyebut makanan ini dengan nama Patat. Awalnya, dulu makanan ini diciptakan di bagian utara Belgia, makanya dinamakan Vlaamse Friet. Kini, Patat menjadi makanan paling populer kalau kita ke Belanda.

Vlaamse Friet, satu kudapan lokal Amsterdam yang wajib coba / photo junanto

Vlaamse Friet, satu kudapan lokal Amsterdam yang wajib coba / photo junanto

Saya mencicipi Patat di warung Manneken Pis yang terletak di Damrak. Katanya, menurut klaim mereka, inilah number 1 Patat in Holland. Kayaknya sih bener begitu. Saat saya mau mencicipi, antriannya sungguh panjang mengular. Well, biasanya kalau yang antri ramai, makanannya populer.

Saya memesan satu Patat dengan saus mayonnaise dan sate (beneran loh ada saus sate bumbu kacang). Kentang gorengnya tebal dan empuk. Tapi yang membuat unik adalah taburan sausnya. Kita bisa memilih lebih dari sepuluh jenis saus, mulai dari yang klasik hingga yang pedas, ataupun saus sate. Selain saus, kentang juga ditaburi dengan irisan bawang bombay. Nah, kombinasi ini tadi yang membuat Patat menjadi khas, atau bukan sekedar kentang goreng biasa.

Salam

Mencicipi Ikan Haring Mentah di Amsterdam

Kedai Haring Favorit Saya, Stubbe's Haring / photo junanto

Kedai Haring Favorit Saya, Stubbe’s Haring / photo junanto

Setiap perjalanan adalah sebuah pengalaman, termasuk pengalaman mencicipi kuliner khas di daerah yang kita kunjungi. Perjalanan saya ke Amsterdam di pertengahan musim panas 2014 ini pun demikian. Seperti biasa, saya mencari makanan lokal yang unik dan belum pernah saya coba. Hal itu membawa saya pada satu kudapan lokal favorit, yang namanya “Hollandse Nieuwe Haring”.

Saat bertanya pada orang lokal, makanan ini adalah yang direkomendasikan atau wajib coba kalau ke Amsterdam. Bahkan di blog Top 10 Dutch Food that You Should Try, Nieuwe Haring termasuk di antaranya. Pada prinsipnya ini adalah ikan haring mentah. Yup, mentah. Ikan Haring dari Laut Utara ditangkap di penghujung musim semi, dibersihkan, dipotong kepalanya, lalu diolah dengan cara khusus (katanya direndam dalam cairan pankreas ikan itu sendiri). Setelah selesai, Ikan Haring mentah ini dimakan dengan kondimen irisan bawang bombay dan acar (pickles).

Hanya ikan yang ditangkap di bulan Mei hingga Juli yang bisa disebut sebagai Nieuwe Haring, karena itu adalah musim-musim penangkapan ikan haring. Di seputaran kota Amsterdam, banyak terdapat warung-warung yang menyediakan ikan haring ini. Kalau ada kedai bertuliskan “Vishhandel” ataupun yang memasang bendera Belanda, umumnya mereka menjual ikan haring.

Tapi kedai yang recommended menurut saya adalah kedai Stubbe’s Haring. Letak kedai ini tak jauh dari Amsterdam Central Station. Tepatnya di penghujung jalan Haarlemmerstraat, di daerah Joordan. Kedai ini terlihat mencolok jadi gampang ditemui kalau kita berjalan dari Central Station ke kanan.

Ikan Haring Mentah ini bisa dimakan langsung bulat-bulat, atau boleh juga dengan menggunakan roti. Kalau dibuat semacam sandwich, namanya “Broodje Haring” atau Sandwich Haring. Tapi kalau mau makan Niuewe Haring dengan cara lokal seperti para Amsterdammers, makanlah bulat-bulat. Caranya, pegang buntut ikan, angkat tinggi-tinggi, dongakkan kepala kita, buka mulut, dan masukkan ikan haring mentah perlahan-lahan.

Makan ikan mentah bagi saya sebenarnya adalah hal biasa. Saat tinggal di Jepang beberapa waktu lalu, saya paling suka makan ikan mentah atau sushi di pasar ikan Tsukiji. Namun ikan haring mentah ini kok keliatannya beda ya. Saat saya pesan, penjual haring menanyakan, apakah mau pakai roti atau dimakan langsung. Tentu saya memilih cara lokal dengan memakan langsung. Begini penampakan ikannya:

Seperti inilah Hollandse Nieuwe Haring / photo junanto

Seperti inilah Hollandse Nieuwe Haring / photo junanto

Hmmmm, aroma mentah ikannya masih tercium. Lalu licin atau lendir daging ikannya juga terasa. Ini jauh berbeda dengan sushi atau sashimi di Jepang. Ini betul-betul ikan mentah, yang diproses dengan cara Belanda. Awalnya saya ragu mencoba, kayaknya ini amis dan ga enak deh. Tapi tentu saya harus mencoba sebagai pengalaman, setidaknya saya sekali seumur hidup makanan ini perlu dicicipi.

Dan, saya pun melakukan aksi makan haring versi lokal, dengan mengangkat buntut ikan ke atas, dan memasukkan ke mulut saya perlahan demi perlahan.

Mencicipi Haring ala Orang Belanda

Mencicipi Haring ala Orang Belanda

Hmmmph, ternyata dugaan saya salah. Rasanya enak ! … Memang terasa mentah, tapi kelembutan daging haring, tekstur rasa dan kualitas ikannya, luar biasa. Saya sangat menikmati Holandse Nieuwe Haring ini.

Dan tentunya, ini bukan pengalaman sekali seumur hidup. Karena sore harinya, saya kembali ke Stubbe’s Haring untuk memesan lagi satu Ikan Haring Mentah… Hmmm, ketagihan ni yeeee ….

Salam Haring

Jerman Lebih Dari Sekedar Menang

Gotze usai membobol gawang Argentina / source FIFA.com

Gotze usai membobol gawang Argentina pada Final Piala Dunia 2014 / photo source FIFA.com

Don’t Cry for Me Argentina. Kiranya begitu suasana galau dan sedih bagi para pendukung kesebelasan Argentina. Hanya tujuh menit menjelang usainya babak perpanjangan waktu, Jerman melalui Mario Gotze, merobek gawang Sergio Romero. Kemenangan 1-0 bertahan, dan membawa Jerman menjadi Juara Dunia 2014.

Ein Traum wurde wahr, itulah yang dikatakan para pemain Jerman sebelum pertandingan melawan Argentina dimulai. Saatnya, mimpi akan jadi kenyataan. Begitu arti pepatah Jerman tersebut. Penyair besar Jerman, Goethe, mengatakan, “Lebih baik berlari daripada bermalas-malasan”.  Jerman membuktikan itu di berbagai hal, mereka berlari di segala bidang, mulai dari tekhnologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan dini hari tadi, sepak bola. Gotze, yang menjadi pemain pengganti meyakini syair Goethe. Ia berlari, berlari, dan berlari. Gotze, bagai Goethe, mampu membawakan syair indah bagi kemenangan Jerman.

Kita lihat pagi tadi, para pemain Argentina bagai tersedak. Tak mampu berkata-kata. Diam terpana. Gadis-gadis cantiknya menangis bagai tak percaya. Para lelakinya ling lung bagai hilang ingatan. Tangisan Argentina mengalir di stadion Maracana, Rio de Jainero, dinihari tadi. Sepak Bola memang bisa menyakitkan.

Usai sudah Piala Dunia 2014. Tiga puluh dua hari sudah kita terbuai dalam keriaan, tawa, canda, drama, tragedi, dan tangis, bersama seluruh warga dunia. Kini kita kembali ke dunia nyata. Namun, sebagaimana ibadah puasa bagi umat beragama, tiga puluh dua hari ibadah ritual nonton sepakbola (yang notabene juga sering bangun malam berbarengan sahur) juga harus punya makna.

Bahwa Final Piala Dunia hari ini bukanlah akhir. Pertandingan final ini justru dapat kita jadikan awal dari sebuah perbaikan kehidupan. Piala Dunia adalah hari-hari bangun malam untuk melakukan perenungan dan pelatihan diri. Jangan sampai semua itu menjadi sia-sia dan tak memiliki makna moral.

Bersama dengan rekan-rekan arek Suroboyo, di pelataran Cafe Heerlijk Gelato, yang bertempat di Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya dini hari tadi, saya bersama mas Aditya (pemilik cafe) menyaksikan nonton bareng Final Piala Dunia. Kita berbincang singkat, mencoba mencari benang merah, apa pelajaran dari kemenangan Jerman kali ini.

Dari omong-omong tadi, ditambah dengan perenungan di perjalanan pulang, plus beberapa referensi masa lalu saya, ada tiga pelajaran yang dapat kita renungkan dari Piala Dunia 2014, yang dapat kita renungkan bersama.

Nobar

Bersama mas Adit, mbak Linda, dan Lelaku Senja, usai Nobar di Heerlijk Gelato, Perpustakaan BI Surabaya

Pelajaran pertama, keberhasilan atau kesuksesan tidak pernah terjadi secara “instan” atau sekali jadi. Itu sudah hukum besi alam. Persiapan yang matang, ketekunan, kesabaran, adalah kunci. Jerman adalah negara yang persisten dalam hal ini. Mereka meraih juara dunia pada tahun 1954, 1974, dan 1990. Secara statistik, di tahun 1982 dan 1986, mereka hampir juara namun kalah di final oleh Italia dan Argentina. Di tahun 2002, mereka kembali masuk final, dan lagi-lagi kalah, saat itu oleh Brasil. Sejak itulah, mulai tahun 2002 itu, Jerman membangun kembali kekuatan sepak bolanya. Regenerasi dilakukan secara disiplin, untuk mencapai target juara di tahun 2014. Bayangkan, dilakukan jauh hari sebelum dini hari tadi.

Juara Dunia tahun 2014, bukan terjadi dalam semalam. Di balik kegembiraan Mueller dkk mengangkat Piala Dunia, di balik gempita kembang api, sorak sorai penonton, ada proses panjang yang bernama kerja keras, air mata, dan keringat. Sukses adalah sebuah proses panjang. Jerman melakukannya selama lebih dari sepuluh tahun. Kebiasaan merencanakan hal-hal berjangka panjang, adalah kunci kesuksesan.

Hal ini yang masih jauh dan belum kita miliki. Pola kerja kebanyakan dari kita, lebih banyak ad hoc, kerapkali mengerjakan pekerjaan hari ini saja. Mirip burung yang pergi pagi mencari makan, lalu pulang sore harinya. Undangan rapat mendadak, kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara sporadis, adalah contoh pekerjaan yang ad hoc. Tentu tak ada yang salah dengan kegiatan tersebut, karena kerap juga diperlukan. Tapi kalau semua pekerjaan adalah ad hoc, maka kita tidak punya prioritas atau pandangan jauh ke depan.

Contoh paling konkrit adalah tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Hari-hari ini kita sering sekali mendapat pertanyaan, atau kegalauan, dari berbagai kalangan, bagaimana persiapan kita menghadapi 2015. Nah, itu kan tinggal setahun lagi. Bukankah harusnya sudah kita siapkan dari 2003, saat kesepakatan ini dibuat. Mungkin karena kita dibesarkan dalam budaya SKS (Sistem Kebut Semalam), semua bisa beres dalam waktu singkat. Belajar dalam semalam toh bisa lulus juga. Lalu cerita legenda-legenda kita juga mengajarkan hal-hal instan tersebut. Membangun seribu candi dalam semalam, mendirikan gunung hanya dari lemparan biduk perahu, adalah legenda yang tertanam di pikiran kita. Bahwa pekerjaan besar seperti membangun candi, bisa kok dilakukan dalam semalam. Kita percaya pada hal-hal magi. Tapi pagi ini, Jerman mengajarkan kita, keberhasilan tak mungkin dilakukan dengan ketergagapan sesaat. Ia perlu kerja keras dan waktu panjang.

Indonesia adalah negara besar dengan segala potensi. Dengan kemampuan kita mengubah paradigma, berpikir panjang, dan mampu melihat masa depan dengan cermat, saya yakin, Indonesia bisa hebat dan bangkit ke depan.

Pelajaran kedua, tim terbaik belum tentu meraih juara. Kita melihat banyak contoh. Belanda misalnya, diperkuat oleh para pemain bagus di segala lini. Argentina juga memiliki kekuatan merata. Bahkan Amerika Serikat menurut saya merupakan tim bola masa depan yang punya gaya permainan bagus. Mereka adalah tim-tim baik, tapi tidak meraih juara. Bukan berarti usaha mereka sia-sia. Johan Cruyf dulu pernah berkata, ”Jangan sampai keinginan menjadi juara membuat orang lupa bermain indah”. Itulah semangat sport sejati, bola harus menghibur, bola harus indah, dan bola harus memukau. Jika ternyata hasilnya adalah kekalahan, kekalahan itu masih mengandung kemenangan.

Di bulan Ramadhan ini, kata-kata tausyiah dari Johan Cruyf itu perlu kita renungkan. Dalam kesalehan dan kehidupan beragama, kita kan diajarkan untuk tidak boleh hanya meraih hasil. Bagi Allah, hasil itu bukan yang utama. Tapi bagaimana cara kita meraihnya. Banyak yang bisa berhasil, jadi juara, tanpa memikirkan cara terindah dan terjujur dalam mendapatkannya. Tanpa cara yang tepat dan baik, hidup yang hanya memburu target hasil, bisa menjadi tidak bertanggungjawab dan amoral. Piala Dunia mengajarkan, tim terbaik belum tentu juara. Tapi keindahan permainan mereka akan mengenang sepanjang zaman. Demikian pula dalam hidup ini. Jangan pikirkan hasilnya. Mau naik gaji, naik pangkat, naik kelas, itu bukan tujuan. Yang terpenting, bekerjalah atau belajarlah dengan cantik, indah, dan memikat. Maka sejarah akan mencatat.

Pelajaran ketiga, asas sepak bola adalah kompetensi, bukan keunggulan yang lain. Bukan karena suku, agama, ras, apalagi kedekatan dengan pimpinan. Neymar, Boateng, Suarez, bukanlah bangsa Eropa. Tapi mereka memiliki kompetensi tinggi untuk bersaing dengan bangsa Eropa yang notabene adalah negara maju. Maksimalisasi kompetensi diri inilah yang perlu kita pakai dalam membangun bangsa dan bekerja. Untuk bersaing, gunakan kompetensi kita, dan karya ke depan, bukan bermodal masa lalu atau perkoncoan saja. Piala Dunia menjadi suatu pembuktian bahwa siapa saja bisa jadi bintang, asalkan kompeten.

Satu lagi catatan menarik saya dari Final tadi malam adalah kehadiran istri, keluarga, dan anak-anak para pemain sepak bola Jerman. Saat Jerman juara, anak-anak dan keluarga menghampiri ayah, atau pacar mendatangi kekasih mereka. Ini adalah sebuah revolusi yang dilakukan Jerman beberapa puluh tahun lalu. Sebelumnya, wanita dianggap pengganggu pekerjaan. Jerman dulu melarang pemainnya menemui keluarga saat konsinyering Piala Dunia. Wanita dan keluarga dianggap bisa merusak konsentrasi.

Adalah Franz Beckenbauer yang mencabut kebiasaan ini. Ia memberi kesempatan para pemain mengajak keluarga, istri ataupun pacar. Koran Jerman saat itu menulis, “Danke, Franz fur diese Liebesnacht”. Terima kasih Franz, atas malam-malam penuh cinta. Ya, bayangkan selama enam minggu para pemain tidak boleh bertemu kekasihnya. Puyeng kan.

Franz Beckenbauer berkata sambil bercanda, “Satu jam seks akan jauh lebih efektif dan membantu daripada lima jam latihan taktik dan teknik bola”. Ya, malam cinta adalah rahasia kemenangan Jerman.

Di sini kita bisa menarik lagi pelajaran, bekerja dan bekerja, tanpa cinta, adalah sebuah perjalanan yang kering. Pekerjaan menjadi tidak efektif dan kadang bisa kehilangan semangat. Jangan lupa kawan, bekerja penuh semangat, tapi tetaplah bercinta. Karena cinta membuat hidup lebih berwarna.

Itu catatan singkat saya pagi ini. Visi dan misi kita dalam hidup nampaknya harus banyak memuat unsur sepakbola ini. Kita sudah tanamkan keinginan buat bekerja dengan tekun, tidak ada kemenangan instan, kita memilih untuk bermain cantik dan indah, mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan manusia,  kita bersama-sama ingin membangun kompetensi diri. Dan terakhir, visi yang paling ultimate, jangan lupa bercinta.

Joachim Ringelnats pernah berkata, “Kegilaan pada bola adalah penyakit. Tapi saya bersyukur kepada Allah ada kegilaan itu”.

Selamat menjalankan sisa puasa kita. Semoga amal ibadah kita diterima dan hidup kita semakin diberkahi. Salam sepak bola.

(Catatan ini dibuat usai menyaksikan Final Piala Dunia 2014 antara Jerman melawan Argentina. Jerman menjadi Juara Dunia setelah menang dengan skor 1-0)

Menggapai Nirwana Bola

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Saat Lukaku dimasukkan ke lapangan oleh Pelatih Belgia, Marc Wilmots, dinihari tadi (2/7), getar kecemasan langsung dirasakan oleh para pemain kesebelasan Amerika Serikat (AS). Lukaku, akhirnya jadi Lukamu, jadi Luka bagi kesebelasan AS. Ya, Romelu Lukaku, pemain muda berbakat yang dikontrak Chelsea dan pernah bermain di Anderlecht, adalah “senjata pamungkas” yang dikeluarkan di masa perpanjangan waktu. Setelah 90 menit bermain ketat dan imbang, masa perpanjangan waktu adalah masa penentuan. Dalam kisah pewayangan, senjata pamungkas dikeluarkan pada jeda waktu itu. Dan Lukaku, adalah senjata Wilmots. Ia keluar, bermain, dan menusuk tanpa ampun.

Sepuluh menit pertama perpanjangan waktu, Belgia menghunjam pertahanan AS dengan daya gempur dan semangat baru. Tim Howard, kiper AS, yang tampil heroik menyelamatkan gawang AS dari gempuran Belgia selama 90 menit (sampai di twitter ada hashtag #HowardForPresident), akhirnya menyerah. Lukaku dan De Bryon menusuk patah dan menghabisi perjuangan Howard. AS harus menyerah dengan skor 2 – 1. Meski Green mampu memberi satu gol bagi AS, dan 10 menit terakhir milik AS, perjuangan itu tak cukup.

Duel Belgia – AS dinihari tadi menutup partai 16 besar Piala Dunia 2014. Menariknya, sebagian besar pertandingan di 16 besar ini diakhiri dengan perpanjangan waktu. Bahkan adu penalti.  Brazil vs Chile, Costa Rica vs Yunani, Jerman vs Aljazair, dan Argentina vs Swiss, berakhir dengan skor 0-0, sebelum dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Belanda bahkan menang di ujung waktu, dua gol disarangkan di menit 88 dan 91. Hampir saja berakhir seri 1 -1.

Inilah catatan menarik dari Piala Dunia 2014. Pertandingan berlangsung semakin menawan dan tidak mudah. Semua kesebelasan menyadari bahwa barangsiapa bisa mengalahkan lawan, maka ia sampai di ujung batas dunia bola. Para filsuf menyebutnya “Nirwana Bola”. Itulah titik Ma’rifat perjalanan sebuah Tim. Di Nirwana, tiada lagi bola, yang ada hanyalah PIALA. Atau balasan surgawi berupa regukan kenikmatan tiada bertepi.

Menyambut babak perempat final yang akan dimulai esok, kiranya kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari pertandingan di babak penyisihan dan 16 besar.

Pelajaran Pertamathere is no easy way to win. Tidak ada kemenangan yang mudah. Hal itu terlihat dari sebagian besar pertandingan di babak 16 besar “dipaksa” harus selesai dengan perpanjangan waktu dan adu penalti. Ini berarti bahwa mencapai kemenangan tidak seperti membalik telapak tangan, bahkan saat menghadapi lawan yang kita anggap lebih lemah. Kita belajar dari 16 besar ini bahwa tidak bisa memandang remeh lawan. Bahkan tidak boleh terlalu percaya diri.

Siapa sangka kalau Argentina harus bermain ekstra keras menghadapi Swiss (yang notabene kelasnya masih di bawah Argentina), atau Brazil yang harus susah payah adu penalti menghadapi Chile. Jadi, kita juga tak bisa memandang remeh terhadap permasalahan yang ada. Terhadap pekerjaan kita. Terhadap tugas sehari-hari. Karena sifat menganggap remeh dapat membuat kita alpa dan meleset pada kegagalan. Kemenangan selalu membutuhkan kerja keras dan kehati-hatian.

Pelajaran Kedua, patience is virtue. Kemenangan hanya bisa diperoleh bagi mereka yang sabar. Kesabaran adalah keutamaan. Selama 90 menit kesebelasan Belgia menggedor gawang Tim Howard. Selama itu juga pertahanan AS bergerak disiplin melalui zona marking. Tapi lewat masa 90 menit, Belgia terlihat lebih sabar. AS lengah. Dan kemenangan milik sang penyabar. Pelajaran kehidupan ini perlu kita renungkan, karena tak sedikit dari kita yang kerap tak sabar, baik perkara sekolah, pekerjaan, karir, pangkat, atau gaji. Ketidaksabaran umumnya berujung pada keluhan demi keluhan, hingga akhirnya kegagalan. Kita harus ingat pepatah, semua indah pada waktunya.

Pelajaran Ketiga, perlunya belajar dan belajar. Kesebelasan yang lolos ke 8 besar, bukan kesebelasan kemarin sore. Permainan AS sangat cantik, Swiss juga, tapi untuk mengatasi Belgia dan Argentina, mereka masih perlu baca banyak buku lagi. Mereka harus mengakui, mengalahkan kesebelasan Juara Dunia, hanya sebuah utopia. Atau seperti yang dikatakan Jacques Derrida, tokoh posmodernis Prancis, yang mengatakan itu adalah suatu l’im-possible (sebuah ketidak-mungkinan). Tapi ketidakmungkinan bisa jadi kemungkinan dengan belajar. Costa Rica telah membuktikan itu, terus menerus belajar membuat mereka bisa menembus delapan besar.

Dan terakhir, di bulan Ramadhan ini, saya teringat tulisan D.A Rindes dalam bukunya “Nine Saints of Java” yang mengibaratkan buah kelapa sebagai metafora atas hakikat dan syariat. Ibadah sebagai nyiur dan shariat hanya kulitnya. ”Kulitnya itu ibarat shariat. Tempurungnya itu ibarat Tarikat, Isinya itu ibarat HakikatMinyaknya itu ibarat ma’rifat”. Kita sering melihat kesuksesan orang itu dari luarnya saja. Padahal apa yang tampak, masih menyimpan cerita panjang sebuah perjuangan. Yang kelihatan hanya kulit, bahwa ia sukses. Di baliknya, ada kerja keras dan ketekunan.

Kesebelasan Juara, seperti Brazil, Jerman, atau Argentina, itu dapat diibaratkan kita lihat seperti shariat, kulit semata. Besar, hebat, dan juara. Tapi kita kerap lupa, bahwa di balik kebesaran mereka itu, ada tarikat, ada hakikat, dan ada ma’rifat. Di balik kesebelasan Brazil, ada kerja keras, ada konsistensi, ada disiplin, ada integritas.

Saat teman sebayanya tidur, Neymar (pemain Brazil) bangun jam 4 pagi untuk menendang-nendang bola. Saat teman sebayanya bermalas2an di siang hari, Neymar melatih fisiknya berlari di pantai  yang terik. Keajegan dalam berlatih adalah kunci sukses Neymar. Untuk itu, ia rela kehilangan kesenangan-kesenangan di masa mudanya. Ia rela membangun habitus yang mau menunda kesenangan (deffered gratification).

Sebagai bangsa Indonesia, ketiga hal tadi bisa jadi pelajaran kita. Kita perlu kerja lebih keras. Perlu lebih serius, ajeg, dan perlu menunda kesenangan-kesenangan sesaat, untuk masa depan yang lebih baik. Menghadapi pemilu pilpres nanti, nilai-nilai ini juga bisa dijadikan pedoman. Membangun bangsa Indonesia bukan perkara satu dua malam. Ia membutuhkan konsistensi, ketekunan, dan tidak mudah menyerah. Di sinilah harapan kita pada Presiden baru nanti, siapapun yang terpilih, untuk dapat menjaga ketekunan dan kesabaran bangsa dalam membangun dirinya. Dan membangun sebuah habitus, hanya akan bisa sukses lewat sebuah laku, bukan dengan kata-kata semata.

Mari kita belajar dari Piala Dunia 2014. Mari kita sambut dimulainya babak delapan besar. Selamat Menyaksikan. Selamat menjagokan kesebelasan anda. Dan semoga Indonesia dapat memilih Presiden yang tepat dan mampu membawa bangsa ini lebih baik lagi.

(tulisan ini dibuat usai menyaksikan pertandingan terakhir dari partai 16 besar di Piala Dunia 2014, Brazil, antara Kesebelasan Amerika Serikat melawan kesebelasan Belgia (2/7)

Mafia Nasi Goreng

Nasi Goreng Preman /photo junanto

Nasi Goreng Preman /photo junanto

Ada Mafia di Bandung! …. Ini satu pengalaman menarik dalam kunjungan saya ke Bandung beberapa waktu. Setelah lebih dari enam tahun saya tidak ke Bandung, banyak hal berubah di kota itu, khususnya peta kulinernya. Adalah mbak Stefanie Kurniadi dan Mbak Sarita Sutedja, kawan saya di media sosial yang mengenalkan saya pada  kedai milik mereka yang wajib dicoba. Nama kedainya, Nasi Goreng Mafia. Wah, mendengar namanya, saya pikir ini Nasi Goreng punya Mafia gitu. Tapi ternyata pemiliknya justru anak-anak muda yang baik hati. “Mas Iwan musti mampir, dan coba NasGor Mafia ya”, tulis mbak Stefani kepada saya.

Sebagai orang Indonesia, saya selalu suka nasi goreng. Menurut saya, nasi goreng adalah “national food” yang terkenal di mancanegara sejak dulu. Pengalaman saya bepergian ke berbagai negara, kalau masuk rumah makan Indonesia, maka menu yang pasti ada dan dikenal, adalah Nasi Goreng. Berbeda dengan restoran Thailand yang sudah terstruktur dalam urutan menu, mulai dari appetizer hingga desert, masakan Indonesia di luar negeri belum memiliki standar seperti itu. Akibatnya, orang asing kerap bingung memilih berderet menu Indonesia yang ada. Kalau sudah begini, maka Nasi Goreng menjadi favorit dan andalan. A must try menu in Indonesia Restaurant.

Saat tinggal di Tokyo beberapa waktu lalu, semua restoran Indonesia di sana juga menyajikan Nasi Goreng sebagai menu andalan. Kawan saya, Masaki-san, pemilik restoran Cabe di wilayah Meguro, mengklaim kalau nasi goreng cabe adalah yang terenak se-Jepang. Hehehe tentu saja dia subyektif. Karena di Tokyo banyak Nasi Goreng yang lain, mulai dari Wayang Bali, Warung Surabaya, dll. Ya, meski kesannya sederhana, nasi goreng sungguh sangat subtil dalam rasa. Sedikit saja perbedaan dan inovasi dalam bumbu, rasanya akan sangat berbeda.

Nah di sinilah nama Nasi Goreng MAFIA menjadi relevan. Konon kata MAFIA, berasal dari akronim MAsakan Favorit IndonesiA. Ya, memang tak salah. Dari pengalaman saya tadi, Nasi Goreng adalah makanan favorit, bukan hanya orang Indonesia, tapi juga warga asing. Keberadaan Nasi Goreng Mafia di Bandung memang relatif baru, atau berdiri sejak November 2013. Tapi perkembangannya sangat pesat.

 

Bersama Mas Sobar yang menjelaskan tentang Nasi Goreng Mafia

Bersama Mas Sobar yang menjelaskan tentang Nasi Goreng Mafia

Menurut mas Sobar, yang saya temui di sana, saat ini Nasi Goreng Mafia sudah punya enam gerai di Bandung, satu di Jakarta, dan Pekanbaru. Ke depan tentu masih akan terus berkembang apabila melihat animo penggemarnya Saya sungguh tercengang melihat warung kecil di Jalan Dipati Ukur Bandung itu yang luar biasa ramainya. Sebagian besar yang datang umumnya adalah anak muda atau mahasiswa.

Sebelum sampai ke rasa, keunikan Nasi Goreng Mafia terletak bagaimana mereka melakukan diferensiasi pada brand-nya. Banyak Nasi Goreng, tapi yang ini beda. Di mana bedanya? Saat pertama kali masuk warung, kita sudah melihat suasana yang unik tak terlupakan. Dinding warung diisi oleh komik-komik para mafia dari berbagai negeri. Ada Godfather, Yakuza, dan Triad. Menu yang ditawarkan juga seru, ada nasi goreng godfather, triad, yakuza, preman, dan berandal. Hal yang menarik, sebagaimana branding dari berbagai masakan di Indonesia, adalah tingkat kepedasan. Pedas seolah menjadi ciri kesukaan orang Indonesia. Makan apapun, kalau belum pakai cabe, rasanya belum sempurna. Nah, tingkat kepedasan Mafia ini juga dibuat berlapis, mulai dari menenangkan, menggoda, menyesakkan, merisaukan, menyesal, hingga mematikan.

Saya memesan Nasi Goreng Preman yang rasanya unik. Rasa rempah dan bumbunya sungguh luar biasa generous. Tentu saja kepedasannya tak akan terlupakan. Ini betul-betul makanan yang menyenangkan dan mengenyangkan. Soal harga juga tak mahal karena dibuat bersahabat dengan anak muda dan mahasiswa, atau sekitar 13 ribu hingga 15 ribu per porsi.

Pengalaman saya mencicipi banyak nasi goreng di dunia, Nasi Goreng Mafia ini salah satu yang rasanya tak terlupakan. Ngangenin. Ya, Nasi Goreng Indonesia memang ngangenin, tak heran kalau Wieteke Van Dort secara khusus membuat lagu untuk mengenang dan mengobati kerinduannya pada Nasi Goreng, Geef Mij Mar Nasi Goreng.

Selamat buat mbak Stef dan Sarita. Sukses selalu. Dan buat teman yg mau coba, hati2 kalau pilih menu dengan level “Mematikan”. Jangan sampai “mati” di-dor Mafia. Salam

Nasi Goreng Mafia

Nasi Goreng Mafia

Jazz Gunung 2014 Kembali Hangatkan Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Jazz Gunung 2014 terlihat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain keunikan tema, yaitu Sedekah Bumi, pengunjung yang datang tahun ini sungguh membludak. Tema Sedekah Bumi, menurut Sigit Pramono, salah satu penggagas Jazz Gunung yang juga Ketua Perbanas, mengajak masyarakat untuk kembali ke alam. Kita sudah banyak mengambil dari alam, saatnya kita mengembalikan benih kebaikan pada alam.

Sigit mengajak kita semua untuk mencintai lingkungan, tidak merusak alam, dan jangan membuang sampah sembarangan. Sedekah Bumi juga bisa dilakukan dengan Bunyi. Di sinilah bunyi musik jazz yang menyatu dengan alam memberi makna pada keindahan dan kesejukan udara di pegunungan Bromo tadi malam.

Ya, di bawah udara sejuk pegunungan, secangkir kopi hangat, dan sederetan penyanyi terkenal, menyaksikan jazz gunung bagai ritual yang harus saya lakukan setiap tahun di Gunung Bromo.

Tahun 2014 ini adalah kali keenam event Jazz Gunung digelar di Bromo. Semakin tahun pengunjung yang datang semakin ramai, dan jazz gunung mulai terdengar hingga mancanegara. Semalam (21/6), pengunjung membludak hingga sekitar 1700 orang. Pergelaran yang diselenggarakan di Amphitheater Java Banana Bromo, Kabupaten Probolinggo, sejak tanggal 20 hingga 21 Juni 2014 tersebut, sungguh penuh sesak dengan penonton.

Hawa dingin pegunungan yang menusuk tidak menghalangi meriahnya para penonton dan pemusik untuk menghangatkan malam. Tahun ini, udara cerah hingga pertunjukkan usai. Berbeda dengan tahun lalu, yang sempat turun hujan sehingga pertunjukan sempat dihentikan sementara, semalam pertunjukan berjalan lancar di bawah gemerlap langit berbintang.

Pertunjukan Jazz Gunung bagi saya sungguh sangat menghibur dan menyenangkan. Pembawa acara adalah ruh dari hidupnya petunjukan malam itu. Butet Kartaredjasa, bersama dengan Alit dan Gundhi tampil luar biasa, lucu menghibur melontarkan ceplosan yang ringan tapi menyentil ke sana sini, mulai dari pemerintah, khususnya pembangunan infrastruktur akses Bromo, para pemusik, hingga suasana menjelang pilpres saat ini.

Beberapa artis yang tampil di Jazz Gunung 2014 selama dua hari kemarin juga bukan sembarangan. Di hari kedua, saya terkesan dengan penampilan dari Nita Aartsen Quatro dan Yeppy Romero, yang tampil sungguh ciamik. Kecepatan tangan Nita di atas piano membawakan musik klasik yang dikomposisi bernuansa latin mampu menghibur penonton. Tembang Turkish March klasik, lagi Chick Korea dibawakan dengan piawai. Yeppy Romero tampil membawakan gitar klasik ala penyanyi Spanyol. Dengan jubah merahnya, petikan gitarnya membawa penonton ke dalam suasana kota Madrid di tengah pertandingan para matador.

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Djaduk Ferianto bersama Ring of Fire Project adalah highlight malam itu. Mereka tampil bersama Nicole Johänntge, seorang saxophonist dari Jerman. Nicole tampil sungguh luar biasa. Tiupan saxophone, mengiringi musik Djaduk, membius penonton. Lagu-lagu, seperti Ritme Khatulistiwa, dibawakan secara dinamis, saling bersahutan antara perkusi tradisional dengan tiupan saxophone Nicole.

Puncak acara malam terakhir Jazz Gunung 2014 adalah penampilan ESQI:EF – Syaharani and Queenfireworks. Di bawah udara yang semakin dingin menusuk, Syaharani membakar para penonton. Diawali lagu lembut lawas “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”, ia mulai menghentak dengan lagu-lagu berirama riang dari album-albumnya. Penonton ikut terbakar, menyanyi, bergoyang bersama. Meriah, sungguh meriah.

Saat lagu “Happy” dari Pharrel William dinyanyikan juga oleh Syaharani, penonton semakin bergairah. Mereka bersahut-sahutan dan saling menari ke kiri dan ke kanan.

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Jazz Gunung tahun 2014 ini terhitung sukses dan semakin menyematkan diri sebagai satu dari sekian pertunjukan musik di Indonesia yang punya kelas internasional. Bintang lain yang tampil tahun 2014 ini antara lain adalh The Overtunes, Monita Tahalea & The Nightingales, , Indro Hardjodikoro The Fingers, Bintang Indrianto Trio, Jazz Ngisoringin, serta Sanggar Genjah Arum Banyuwangi.

Satu lagi yang membuat pertunjukan kali ini berbeda adalah kehadiran pak Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, untuk menyaksikan Jazz Gunung kali ini. Bersama pak Sigit, saya sempat berbincang singkat, dan pak Bupati menyampaikan maksudnya untuk memboyong Jazz Gunung ke Banyuwangi. Ya, bulan November nanti, Banyuwangi akan menggelar juga pertunjukan jazz semacam ini, di pantai Banyuwangi.

Ini adalah sebuah berita bagus. Apabila beberapa daerah mampu menyelenggarakan event-event berkelas internasional, dan mendatangkan berbagai artis lokal maupun global, ekonomi kreatif Indonesia akan semakin tumbuh. Bukan hanya di pusat, tapi juga di daerah-daerah.

Jazz Gunung adalah sebuah penanda, semoga ia bisa menebarkan semangat kreativitas, dan kepedulian, ke seluruh daerah di Indonesia. Salam semangat.

 

Kopi Bondowoso Mendunia

Bersama Mat Husen, Petani Kopi Sukses di Ijen Raung

Bersama Mat Husen, Petani Kopi Sukses di Ijen Raung

“Kopi Bondowoso mengguncang dunia. Ini bukan khayalan pak, tapi kenyataan!”, demikian dikatakan oleh Mat Husein dan Pak Sukarjo kepada saya saat berkunjung ke perkebunan kopinya di lereng gunung Raung, Bondowoso, Jawa Timur. Mat Husein adalah satu dari sekitar 37 Kelompok Tani Kopi di Bondowoso yang merasakan perubahan nasib setelah mereka meningkatkan standar olahan kopinya.

Sekitar lima tahun lalu, Mat Husein dan kawan-kawannya hanyalah petani kopi miskin, yang produk olahan kopinya dihargai rendah oleh pasar. Padahal di lahan seluas 2400 hektar, mereka menanam kopi jenis Robusta dan Arabika unggulan. Proses tata niaga yang panjang, sistem ijon yang tidak menguntungkan, menjadikan para petani kopi harus rela apabila kopinya dihargai dengan sangat rendah oleh para tengkulak.

Adalah Pemerintah Kota Bondowoso, dengan menggandeng berbagai elemen, yang bertekad untuk menjadikan Kopi Bondowoso menembus pasar dunia, dan mengangkat nasib petani. Bekerjasama dengan Asosiasi Petani Kopi, Bank Indonesia Jember, Bank Jatim, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Masyarakat Indikasi Geografis, dan PT Indocom Citra Persada, Pemerintah Kota Bondowoso sejak tahun 2010 melakukan studi untuk memperbaiki proses pengolahan dan tata niaga kopi.

Selama empat tahun, para petani kopi di Gunung Raung dibina dan dilatih untuk mengolah kopi dengan standar internasional. Sebelumnya, pengolahan kopi dilakukan secara tradisional. Kopi dijemur di tanah atau aspal sehingga rasanya bercampur tanah. Pemilahan kopi matang dan mentah juga tidak dilakukan, sehingga kualitas biji kopi jadi rendah.

Ketujuh elemen tersebut kemudian bersinergi memperbaiki proses pengolahan, penyediaan infrastruktur seperti gudang dan pengairan, hingga tata niaga. Saya menyaksikan sendiri bagaimana kopi di Gunung Raung ini diolah secara teliti dan rapi. Kualitasnya pun kini sudah mendapat sertifikasi internasional. PT Indocom juga langsung membeli biji kopi dari petani untuk diekspor, sehingga memotong proses panjang rantai distribusi.

Bank Indonesia Jember membantu menyediakan pipanisasi sepanjang lima kilometer untuk mencuci dan membersihkan kopi. Sebelumnya, air yang digunakan harus berbagi dengan warga sehingga akibatnya kopi tidak tercuci bersih karena kekurangan air.

Hasilnya, kini para petani kopi Gunung Raung bisa mengekspor biji kopi sebanyak 300 ton setahun ke mancanegara (dari potensinya sebesar 6000 ton). Kopi, yang diberi label Ijen Raung Coffee itu, diekspor ke berbagai negara Eropa seperti Belanda, Italia, Swiss, juga ke Australia, Jepang, dan Amerika. Bahkan menurut Asisten Ekonomi Pemerintah Kota Bondowoso, gerai Starbucks di Amerika Serikat sudah menggunakan kopi Bondowoso untuk jenis Java Coffe-nya.

Petani Kopi di Ijen Raung melakukan proses pengolahan kopi/ photo junanto

Petani Kopi di Ijen Raung melakukan proses pengolahan kopi/ photo junanto

Menurut mas Joko dari Puslit Kopi dan Kakao, Java Coffee yang ada di mancanegara dapat dipastikan berasal dari Gunung Raung Bondowoso ini. Ia menceritakan ada seorang Belanda yang pernah mencicipi secangkir kopi di Italia. Saking terkesannya, ia kemudian mencari asal kopi yang nikmat itu. Ia melakukan perjalanan mencicipi kopi di berbagai wilayah nusantara. Dari Aceh hingga Toraja. Tapi baru ia temukan kopi yang sama dengan yang dicicipinya di Italia, saat sampai di Bondowoso. Ia kemudian menjadi pembeli tetap produk Kopi Ijen Raung Bondowoso.

Dari sisi petani kopi, perbaikan taraf hidup juga dirasakan langsung oleh para petani kopi di Bondowoso. Saya bertanya pada Pak Sukarjo, yang telah menjadi petani kopi sejak tahun 1986. Seperti Mat Husein, Pak Sukarjo kini bangga dengan pencapaian kopi Bondowoso. Sejak empat tahun terakhir ini, penghasilan dan taraf hidup mereka meningkat. Ekspor kopi ke mancanegara telah mengubah kehidupan di desa mereka.

Pengangguran juga berkurang karena industri pengolahan kopi melibatkan banyak tenaga kerja, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Pada gilirannya, kemiskinan juga berkurang signifikan di Bondowoso. Tak heran bila pada tahun 2014 ini, Bondowoso mendapat penghargaan dari Gubernur Jatim atas kebijakannya yang pro-poor karena mampu menurunkan tingkat kemiskinan.

Tapi pak Sukarjo tak puas dengan penghargaan. “Kalau soal penghargaan sih pak, sejak jaman Presiden Soeharto saya sering diberi penghargaan”, demikian ujarnya sambil menyebutkan sederet penghargaan karena dedikasinya sebagai petani kopi.

“Bukan penghargaan yang saya cari. Tapi saya ingin Kopi Bondowoso ini mengguncang dunia, menembus pasar dunia, dikenal banyak orang. Karena ini adalah biji kopi terbaik dunia !”, demikian ucapnya dengan nada bicara yang bergetar menahan haru.

Pak Karjo dan Mat Husein adalah contoh para pejuang ekonomi yang punya idealisme tinggi. Mereka bukan sekedar mengolah dan menjual kopi. Tapi punya cita-cita bagaimana agar kopi Indonesia bisa  terus mendunia, dan tentunya nasib petani kopi bisa meningkat lebih baik.

Kopi Ijen Raung menjadi contoh klaster kopi yang sukses di Indonesia. Pengelolaan yang dilakukan secara “keroyokan”, saling bersinergi antar berbagai elemen, bisa menjadi contoh bahwa penyelesaian masalah bangsa ini membutuhkan kerjasama, sinergi, dan saling menghargai. Semoga klaster ini bisa menginspirasi berbagai daerah dan wilayah lainnya untuk memperkuat komoditas-komoditas unggulannya, dan memperbaiki taraf hidup para petani.

Salam Kopi.

Bertemu Kawan Instagram di Amerika

Meet Cale, new friend from instagram, in Washington DC

Meet Cale, new friend from instagram, in Washington DC

Saya masih suka amazed dengan yg namanya social media. Beberapa kali saya merasakan bagaimana dari social media bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak kawan baru. Saya berkenalan dengan mbak Trinity Traveler melalui media twitter. Saat itu ia sedang di Tokyo, kita lalu berjumpa, bahkan Trinity sempat mampir satu malam di rumah kami. Setelah itu kita jadi berteman. Penerbitan tulisan saya di beberapa majalah, bahkan hingga penerbitan buku saya, tak lepas dari jasa Trinity. Awalnya, hanya social media.

Banyak lagi teman-teman yang saya kenal dari social media. Dari facebook saya banyak berkenalan dengan kawan, baik di Indonesia maupun di luar negri. Perkenalan itu menurut saya lebih banyak positif dan konstruktifnya. Kita menambah silaturahmi, memperpanjang jaringan pertemanan, hingga tentunya saling memberi manfaat dan ilmu pengetahuan. Di blog Kompasiana, saya merasakan persahabatan yang luar biasa. Awalnya kami hanya mengenal dari komentar ataupun tulisan di blog. Namun admin Kompasiana sangat aktif mengadakan kopi darat. Kita lalu jadi saling mengenal, dan terus berhubungan akrab hingga sekarang.

Menambah kawan adalah sebuah hal menyenangkan. Dan beberapa waktu lalu, saya merasakan lagi pengalaman yang tak terlupakan. Kali ini dari social media Instagram milik saya. Sejak “brand” Flying Traveler disematkan di instagram saya, para penggemar foto levitasi banyak yang menjadi kawan saya di instagram. Mereka berasal dari berbagai negara, mulai dari Amerika Latin, Eropa, Asia, bahkan sebagian besar dari Amerika Serikat.

Oleh karena itu, saat mampir ke Washington DC beberapa waktu lalu, saya memposting beberapa foto levitasi di sana. Caption yang saya buat adalah memberi salam pada kawan di AS, bahwa saya sedang mampir di sana.

Selang beberapa saat, saya menerima satu message dari seorang kawan instagram yang berasal dari Texas. Katanya, ia juga sedang berada di Washington DC. Ia sudah lama menjadi follower di instagram saya dan mengikuti perjalanan levitasi saya di berbagai tempat. Cale Yarborough, namanya, mengajak saya untuk bertemu muka. Pertama, ia ingin bertemu dan berfoto bersama. Kedua, ia ingin minta diajari caranya melakukan levitasi. Nah, ini yang menarik.

Banyak orang di Amerika masih melihat levitasi sebagai sebuah trik atau foto dengan menggunakan aplikasi. Ada banyak memang aplikasi yang membuat seolah seseorang terbang. Padahal, saya tidak pernah menggunakan semuanya itu. Levitasi saya adalah levitasi murni, yang terbang tanpa menggunakan alat.

Akhirnya, pagi hari itu, kami bertemu. Cale menjemput saya di lobby hotel. Saat bertemu, kita bersalaman dengan hangat. Cale orangnya ramah dan terbuka. Ia juga hangat tipikal Amerika, menceritakan tentang hidup dan keluarganya di Texas. Ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Usai bicara, kamipun berfoto bersama, dan tentu saja, levitasi bareng. Cale sangat cepat belajar, dan dalam satu dua kali take foto, ia sudah berhasil melakukan levitasi dengan sempurna.

Cale sangat senang mengetahui cara melakukan levitasi. Ternyata begitu sederhana dan mudah dilakukan. Tentunya tanpa menggunakan aplikasi apa-apa. Informasi ini kemudian disebut Cale di Instagramnya. Yang menarik, saat ada satu komen dari instagrammer mengenai foto levitasi saya, yang katanya menggunakan app (ia berkomentar, “This is app, levitagram), Cale malah berkomentar membela. Ia menulis “I was with him yesterday and saw it for myself. Definitely not an app!”. Hmm, menarik ya, mendapat pembelaan langsung dari kawan di Amerika. Terima kasih Cale.

Levitasi Bareng di Washington DC

Levitasi Bareng di Washington DC

Pengalaman bertemu Cale di Amerika adalah sebuah kejadian yang menarik dan tak terlupakan. Dari dua orang belum kenal (kecuali saling nge-like foto insta), yang terpisah ribuan kilometer, sekarang kita malah jadi temenan bener dan bisa bertatap muka. Kita saling bertukar cerita, kartu nama, dan informasi hangat lainnya. “If you come to Texas, let me know”, katanya.

Inti dari cerita saya adalah, inilah era netizen, era tanpa batas waktu dan tempat. Social Media memiliki banyak kelebihan dan keuntungan, tentu bila dimanfaatkan secara bijaksana. Di sana, kita bisa menambah kawan dan persahabatan. Seperti kata Nabi, silaturahmi menambah rejeki. Dan silaturahmi di era netizen ini, bergerak melampaui ruang dan waktu.

Cupcakes Kebahagiaan

Mencicipi DC Cupcakes bersama kawan Donny

Mencicipi DC Cupcakes bersama kawan Donny

Hari bergeser malam di kota Washington DC, saya dan kawan Dony Ardiansyah biasanya akan memilih cari makan malam yang praktis. Ya, kita hanya berada di Washington selama satu pekan untuk menghadiri sebuah kursus. Makan sekedarnya, asalkan bisa menjadi pengalaman, adalah tujuan persinggahan kami. Tak seperti kota New York yang hingar bingar, hingga disebut sebagai “City That Never Sleep”, Washington adalah kota yang tenang dan kalem, nyaris seperti kota mati kalau malam hari.

Begitu matahari tergelincir di musim semi, sekitar pukul 20.30 malam, jalanan sepanjang Dupont Circle hanya menyisakan keramaian pub, restoran, dan klab malam, yang masih jauh dibandingkan ramainya kota Jakarta di malam hari misalnya.

Di tengah kondisi tadi, kami punya satu tekad, yaitu mencari makanan yg berharga sebuah pengalaman. Tapi apa? Donny menyebut tentang terkenalnya Cupcakes di sini. Sayapun teringat sebuah reality show televisi yang lumayan tenar di Indonesia, DC Cupcakes judulnya. Reality show itu bercerita tentang sebuah toko cupcakes, atau kue mangkok, yang dikelola oleh dua saudara Sophie LaMontagne dan Katherine Kallinis. nama tokonya Georgetown Cupcakes, berlokasi di daerah Georgetown.

Mencapai wilayah Georgetown sangat mudah karena wilayah itu merupakan tempat wisata sehingga banyak dilalui oleh bis “circular loops”, dengan ongkos satu dollar. Georgetown dipenuhi oleh toko-toko, baik butik, restoran, gadget, yang terletak dalam berbagai bangunan kuno. Kita bisa merasakan suasana Washington tempo doeloe di sini, karena hampir seluruh bangunannya bergaya Victoria abad ke 18.

Georgetown Cupcakes terletak di satu sudut jalan. Menemukannya sangat mudah karena langsung terlihat penuh dan antrian yang panjang. Rupanya bukan hanya di Indonesia, melainkan di Amerika juga, Cupcakes sedang happening. Tak hanya Georgetown Cupcakes, di daerah situ ada beberapa warung cupcakes yang enak-enak. Satu yang pernah saya coba adalah Sprinkles Cupcake. Ini rasanya enak, karena cupcakesnya ditaburi begitu banyak topping tang sangat generous, seperti coklat ataupun coklat kelapa favorit saya.

Antrian di depan Georgetown Cupcakes / photo junanto

Antrian di depan Georgetown Cupcakes / photo junanto

Kembali ke Georgetown Cupcake, Saya dan Donny melihat antrian yang cukup panjang. Kami hitung, ada mungkin sekitar 50 meter. Sebagian besar yang mengantri adalah anak-anak muda perempuan, ataupun pasangan kekasih. Hmm, secara kita cowo2 gagah begini, rasanya imut amat ya kalau ikuta antri cupcakes berduaan (ehem hehehe). Tapi demi sebuah pengalaman, apa salahnya dicoba.

Dan, malam itu kitapun dengan manis mengantri di antara mereka. Ternyata tak salah, it was an experience worth to try. Kami memesan beberapa cupcakes favorit, seperti chocolate ganache, red velvet, dan lava fudge. Oh my God, saya harus mengakui, inilah cupcakes terenak sedunia. Lembut dan kaya rasa. Toppingnya menambah gelora kelembutan rotinya. Tak tertandingkan.

Malam itu, kita kembali ke hotel dengan senyum bahagia. Kita bisa mencicipi kenikmatan kecil dalam semangkuk cupcakes. Ya, kadang banyak hal-hal kecil di dunia ini yg menarik dan layak dicoba. Tak perlu besar, hanya satu cupcakes saja. Sebagai sebuah pengalaman. Sebagai kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Episode hari itu, saya menyebutnya, cupcakes kebahagiaan. Salam perjalanan.

Chocolate Ganache, satu yang wajib coba di sini / photo junanto

Chocolate Ganache, satu yang wajib coba di sini / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia, Washington DC

Steak Halal di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Buat banyak orang, terutama umat muslim, bepergian ke luar negeri kerap membawa masalah sendiri, terkait dengan makanan. Mulai dari kecocokan lidah, hingga kehalalan makanan yang tersedia, adalah kendala yang dihadapi.  Ujung-ujungnya, kalau tidak hanya makan sayur, ya memilih makan ikan saja, untuk amannya.

Namun kini sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir. Hampir di setiap negara maju yang non muslim, sudah banyak terdapat warung atau restoran yang menyediakan daging halal. Di Jepang saja, sudah mudah untuk menemukan restoran yang menyajikan daging halal. Demikian pula di Amerika Serikat. Bukan hanya restoran umum saja yang mulai menyediakan daging halal, bahkan di kantin Bank Dunia, Washington DC, misalnya, saya menemukan sajian menu halal untuk para pegawai maupun tamu Bank Dunia.

Bank Dunia memang mewakili kepentingan dari berbagai suku bangsa, agama, ras, dan tradisi. Pekan lalu, saya mengunjungi Bank Dunia dalam rangkaian seminar membahas Sektor Keuangan. Saat memasuki gedung kantor Bank Dunia, suasana internasional sudah sangat terasa. Di tempat itu, semua bangsa ada. Saya melihat orang Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia, berseliweran. Dalam satu lift misalnya, kerap terdengar orang berbicara dalam berbagai bahasa yang berbeda. Kadang rasanya seperti lost in translation.

Saat makan siang tiba, saya diajak kawan saya untuk mencicipi makan siang di kantin Bank Dunia, yang terletak di lantai B1 Gedung Utama. Pada jam makan siang, kantin itu penuh oleh pegawai Bank Dunia, dari segala level dan tingkatan. Kata teman saya, bukan hanya pegawai biasa, bahkan level Managing Director ataupun Presiden Bank Dunia, sering muncul di sini untuk makan bersama. Mereka sangat cair dan lepas dari protokoler yang ribet. Ibu Sri Mulyani, Managing Director Bank Dunia, asal Indonesia, juga katanya sering muncul di sini untuk makan siang berbaur dengan pegawai.

Sudut Halal Grill di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Sudut Halal Grill di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Kantin Bank Dunia ini luas sekali. Hampir memenuhi setengah dari lantai B1 tersebut. Sebelum memilih makanan, kita mengambil nampan, sendok garpu, atau pisau terlebih dahulu. Lalu kita bebas memilih aneka ragam makanan yang tersedia. Sangat menarik melihat kantin mereka. Bukan seperti kantin pegawai, tapi lebih mirip seperti foodcourt di mall.

Aneka ragam makanan dari berbagai negara disajikan. Ada juga festival makanan dari negara-negara tertentu yang digilir penyajiannya dalam beberapa waktu tertentu. Saat saya datang, sedang diadakan festival makanan Kuba. Berbagai sajian lokal Kuba ditampilkan. Bendera Kuba kecil-kecil juga dipasang di tempat penyajian makanan untuk menambah marak festival.

Namun yang menarik lagi, saya melihat satu counter makanan yang menyajikan aneka daging halal. Tertulis di atasnya tanda “Halal Grill”. Wah, menarik, karena kita tidak perlu repot mencari-cari makanan halal di luar. Di kantin itu, ada beberapa pilihan daging, mulai dari  kambing, ayam, hingga sapi. Dan pastinya, semua halal.

Saya memesan Daging NY Strip Steak. Petugas kantin lalu bertanya ingin disajikan apa, medium done atau well done. Saya memilih medium done, agar rasa dagingnya lebih juicy. Daging kemudian dipanggang, dan disajikan dengan salad dan sayuran. Kita bisa juga memilih kentang atau nasi sebagai pendamping. Soal rasa, tentu kualitasnya seperti restoran. Simple namun memiliki kelezatan tersendiri. Steak yang saya pesan rasanya lezat. Dagingnya lumayan lembut, dan bumbu salad serta sayurnya kaya.

Kantin Bank Dunia, atau mereka menyebutnya Cafeteria, adalah sebuah representasi keragaman yang indah. Dalam suasana dan lingkungan beragam, prasyarat yang diperlukan untuk menjaga keharmonisan dan kestabilan tatanan adalah “respect”, atau saling menghormati. Dan di Kantin Bank Dunia, nilai itu terlihat. Mewujud dalam aksi. Bukan sekedar jargon atau kata-kata di spanduk. Ya, keragaman itu indah, meski katkata itu kerap lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Salam Keragaman.