How I Shoot: Levitating with @junantoherdiawan

Gengis Khan Levitation

My levitation photos are being featured in Instagram Blog at:  http://blog.instagram.com/post/43484235620/how-i-shoot-levitating-with

If you have time, please take a look. Thank you very much.

Camera: iPhone & iPad.

Vantage Point: “Levitation is like philosophy. It’s not just a jump shot; it is a floating moment. I like to travel and see many interesting places in the world. My idea is to levitate in any interesting place or interesting moment. By doing that, I feel like I can float or fly in any place in the world.”

Shooting: Using an application that takes multiple photos at a time while you jump makes it easier to capture the perfect levitation photo. “I use the Fast Camera application on iPhone or iPad to capture the moment. It is a continuous-shoot application that can capture every second of my levitation.”

Editing: While Junanto may touch up the lighting or tones in his photos, there are no special apps or programs used to create the levitation effect. “I don’t use editing for my levitation photos, no special application. I only adjust for lighting and other effects.”

Follow Junanto’s levitating adventures in Jakarta, Indonesia, and throughout the world at instagram.com/junantoherdiawan.

Soba “Terenak” Sedunia

Yabu Soba Kanda, Warung Soba Tertua di Tokyo / photo junanto

Bagi para pecinta soba, mencicipi langsung soba di Jepang adalah sebuah pencapaian. Sejujurnya, hampir semua soba di Jepang itu enak banget. Baik itu soba kelas restoran, warung, atau bahkan soba kaki lima, punya tingkat kelezatan masing-masing.  Bahkan warung soba kaki lima di depan stasiun Meguro saja, menurut saya enaknya selangit. Kita makan soba sambil berdiri dan dilayani nenek tua pemilik warung itu.

Setiap kelezatan pasti punya karakter dan kelebihannya masing-masing. Begitu pula dengan soba. Beberapa waktu lalu, saya diajak teman saya, Masae-san, untuk mencicipi soba “terenak sedunia”. Bukan hanya terenak, tapi yang pasti, warung soba yang akan kita tuju adalah warung soba tertua di Tokyo.

Kita pergi ke daerah Kanda. Di sana ada satu warung Soba bernama Yabu Soba. Warung itu berbentuk rumah tua dan telah menjual soba sejak tahun 1880, atau sejak Periode Edo. Jaman dulu, para samurai dan penguasa Edo secara rutin makan di warung ini.

Terus terang saya harus bilang “wow” saat masuk ke Yabu Soba. Suasana khas Jepang masa lalu masih tercermin di sana. Ada pilihan tempat duduk dan juga tatami atau duduk bersila ala Jepang. Suasana, yang menurut saya, Jepang banget.

Soba di warung ini dibuat dari gandum terbaik, dan menggunakan air yang berasal dari mata air pilihan. Ketepatan pilihan adonan, ketekunan mengiris soba, dan tentu air yang digunakan, menjadi elemen terpenting dalam menentukan tekstur dari soba.

Saya memesan Nameko Soba, atau soba kuah hangat jamur. Sementara Masae-san memesan soba dingin atau sumetai soba. Hmmm, aroma dari soba hangat jamur sangat harum membuat liur saya bergejolak. Saya suka sekali dengan jamur. Oleh karenanya, perpaduan jamur dan soba akan terasa dahsyat.

Nameko Soba, Soba Kuah dengan Jamur / photo junanto

Soba Dingin yang sederhana / photo junanto

Dan, memang tak salah. Ini adalah soba dengan sensasi terenak sedunia. Kualitas dan tekstur sobanya kelas wahid, kuahnya ciamik, dan perpaduan rasanya pas. Jamurnya juga memiliki kekenyalan yang pas. Tidak terlalu “mushy” tapi juga tidak terlalu kenyal atau keras.

Sementara untuk soba dingin, rasanya tak kalah enak. Menurut Masae-san, itu adalah salah satu soba dingin terlezat yang pernah dicoba. Buat banyak orang, terutama orang Indonesia yang doyan bumbu pedas, makan soba dingin terasa aneh. Awalnya saya juga tidak begitu suka karena rasanya “anyep”. Ya, soba dingin memang tidak ada rasanya, ia dicelup ke shoyu dingin, lalu dimakan begitu saja. Di akhir menu kita bisa mereguk kuah hangat sisa rendaman sobanya. Itupun tanpa rasa. Tapi lama kelamaan, saya bisa merasakan sensasi dari kesederhanaan soba dingin. Dan tentu, lezatnya gak keruan.

Satu lagi hal unik dari warung Yabu Soba adalah proses pemesanannya. Seorang ibu tua duduk di ujung ruangan menerima semua pesanan. Ia lalu mendendangkan pesanannya dalam lantunan lagu Jepang. Para juru masak di dapur yang mendengarkan membuat sesuai lantunan lagu sang ibu.

Hebatnya, ibu ini memperhatikan satu persatu meja di warung itu. Ia menghafal betul urutan pesanan, dan jenis makanan yang dipesan setiap meja. Kalau ada yang memesan appetizer, ia tunggu hingga menjelang habis, baru ia melantunkan pesanan selanjutnya agar tidak ada jeda terlalu lama dalam menunggu makanan.

Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan sang Ibu. Ia berkata bahwa telah bekerja di warung ini selama dua puluh tahun. Baginya, menyanyikan pesanan adalah meneruskan sebuah tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun di warung itu. Wow.

Soba, memang merupakan salah satu makanan favorit orang Jepang. Tapi ia bukan sekedar mie belaka, melainkan memiliki makna filosofis yang dalam. Pada setiap perayaan, seperti tahun baru atau upacara pindah rumah, orang Jepang selalu menyertakan soba. Bagi mereka, soba melambangkan kesuksesan, panjang umur, panjang rezeki.

Oleh karena itu, kalau mampir ke Tokyo, jangan lupa untuk mencicipi soba ya. Kalau ada waktu juga, mampirlah ke warung soba tertua di Tokyo ini, dan tentu “terenak sedunia”.

Salam Soba.

Bersama Ibu Soba, Pelantun Pesanan

Bertemu Doraemon di Jepang

Baling-baling Bambu bersama Doraemon

Hampir semua dari kita mengenal karakter Doraemon. Kucing robot masa depan yang memiliki kemampuan ajaib. Hari ini, Doraemon berulang tahun. Banyak yang menyebut ia berusia 100 tahun, karena ia dilahirkan pada tanggal 3 September 2112. Angka 100 adalah hitungan mundur dari tahun kelahirannya.

Dari sisi karya seni, Doraemon baru berusia 43 tahun. Ia diciptakan pada tahun 1969 oleh Hiroshi Fujimoto. Selama kurun usianya itu, Doraemon telah mengubah wajah dunia.

Sejak kecil, saya mengagumi tokoh kucing masa depan ini. Doraemon bahkan menjadi salah satu inspirasi saya dalam menjalani kehidupan. Bersama dengan Nobita, Takeshi, dan Suneo, Doraemon melakukan petualangan yang menyenangkan dan memberi pelajaran bagi kita semua. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya dunia tanpa Doraemon.

Oleh karenanya, saat museum Doraemon dibuka di kota Kawasaki, saya merasa wajib untuk berkunjung ke sana. Dan pekan lalu, menjelang ulang tahun Dora Emon, saya bersama keluarga pergi mengunjungi museum yang bernama  Fujiko F. Fujio Museum.

Nama Fujiko diambil dari dua sahabat, yaitu Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko, pencipta karakter Doraemon dan manga lainnya. Keduanya kemudian berpisah dan Fujimoto menggunakan nama Fujiko F. Fujio, serta terus menciptakan karakter Doraemon.

Mengingat karya monumental Fujimoto adalah Doraemon, tak salah bila museumnya sering disebut dengan nama museum Doraemon. Museum Fujiko F. Fujio ini didirikan di Kawasaki karena di daerah itulah dulu Fujiko tinggal. Hiroshi Fujimoto meninggal pada tahun 1996 di usia 62 tahun.

Memasuki museum Doraemon, saya seolah dibawa ke dalam kehidupan dan alam pikir dari Fujiko. Ada sekitar 50 ribu sketsa, yang secara bergiliran dipertunjukkan di museum ini. Kita bisa melihat sketsa awal kucing Doraemon, yang masih memiliki telinga dan tubuhnya berwarna putih.

Konon, kabarnya telinga Doraemon digigit tikus hingga habis. Saat Doraemon melihat dirinya di kaca dan menyadari telinganya tidak ada, ia shock sehingga warna bulunya berubah, dari putih menjadi biru.

Doraemon, Nobita, dan Pisuke di Fujiko Fujio Museum Japan / photo junanto

Naik ke lantai dua kita dapat melihat ruang kerja dari Fujimoto. Replika ruangannya dibuat secara lengkap dan disusun persis saat ia masih hidup. Dari situ kemudian kita dapat melihat film pendek dan aneka sketsa Doraemon awal yang belum pernah ditampilkan sebelumnya di muka umum.

Di atap museumnya, ada taman bermain yang luas. Ada boneka Doraemon dan Nobita sedang menaiki Pisuke, karakter dinosaurus yang sering muncul di serinya. Kafetaria museum itu juga menarik karena menyediakan aneka makanan dan minuman bertema Doraemon. Cicipilah Dora-latte, yang merupakan latte bergambar Doraemon di buihnya.

Sangat menyenangkan mengikuti perjalanan kehidupan Doraemon di museum ini. Meski penciptanya kini sudah tiada, karakter Doraemon masih tetap hidup di seluruh dunia. Di Jepang sendiri, Doraemon masih dicintai semua orang.

Pintu Ke Mana Saja / photo junanto

Doraemon memang layak dicintai. Saat beberapa waktu lalu ada satu tulisan di internet yang melarang anak-anak kita menyaksikan film Doraemon, saya agak sedih. Tentu saja ada alasan khusus yang diyakini oleh masing-masing orang. Tapi sebagai pecinta Doraemon, saya tidak melihat adanya alasan anak-anak kita dilarang menyaksikan Doraemon.

Banyak yang mengatakan bahwa menyaksikan Doraemon akan menjadikan anak malas dan percaya pada kekuatan kantung ajaib. Padahal, kalau kita saksikan film atau kartun Doraemon sampai habis, kita akan menyadari bahwa kantong ajaib, ataupun baling-baling bambu, bukanlah jawaban dari persoalan di dunia.

Nobita selalu menghadapi “ending” yang konyol saat menggunakan alat Doraemon. Demikian pula Suneo dan Takeshi, yang kerap meminjam alat dari Doraemon untuk menyelesaikan masalahnya. Ujungnya selalu gagal total. Yang ada adalah penyesalan. Alhasil mereka harus kerja keras dari awal lagi untuk bisa berhasil dan sukses.

Moral cerita dari Doraemon cukup jelas. Bahwasanya hidup ini tidak bisa “jalan pintas”, apa-apa mau cepat berhasil. Kalaupun bisa, umumnya tidak lama (unsustainable). Kesuksesan selalu membutuhkan usaha, disiplin, dan kerja keras. Ini adalah ajaran moral yang ditanamkan ke anak-anak.

Doraemon juga mengajak kita untuk tidak berhenti bermimpi. Mimpi sangat penting dalam menjalani masa depan. Lewat mimpi, Doraemon menciptakan aneka jenis alat yang kadang tak terpikirkan manusia. Dalam realitanya, bangsa Jepang mampu menciptakan berbagai alat dan tekhnologi canggih yang kadang tak terpikirkan.

Doraemon mengingatkan kita, lewat pesannya yang jenaka, bahwa hidup adalah perjalanan. Life is a journey. Bukan hasil akhir yang penting, tapi bagaimana kita bisa terus menerus memperbaiki diri, dari hari ke hari. Itu esensi dari kehidupan.

Selamat Ulang Tahun Dora Emon. Otanjoubi Omedetou Gozaimasu.

Hari Undokai dan Jiwa Japan Inc

Tim Merah (Akagumi) mengibarkan bendera di Undokai / junanto

Akhir pekan lalu, saya diminta anak saya untuk hadir ke sekolahnya, di SD Fudo Tokyo. Ia mengundang saya untuk menyaksikan acara “undokai”. Sebenarnya sudah sejak jauh hari dia wanti-wanti agar papanya tidak bertugas di hari libur. Dan syukurlah, hari itu jadwal saya pas kosong, sehingga bisa memenuhi janji menyaksikan acara “undokai”.

Undokai adalah Hari Olah Raga, atau Hari Atletik, yang diselenggarakan di SD atau SMP Jepang setiap tahunnya. Dalam undokai, seluruh anak, dari kelas 1 hingga 6 SD berpartisipasi meramaikan festival itu. Guru, murid, dan orang tua sangat serius menyelenggarakannya dan turut aktif di acara ini dari mulai hingga selesai.

Saya mulanya berpikir acara ini tak jauh beda dengan acara keriaan atau festival olah raga di negeri kita. Namun setibanya di sana, saya menyadari ada beberapa perbedaan mendasar dan menarik untuk dicermati. Di undokai itu, saya bukan sekedar melihat sebuah acara olah raga, melainkan sebuah tradisi yang mengakar panjang di satu bangsa.

Undokai diselenggakan pada seluruh sekolah di Jepang dengan model, aturan, bahkan teriakan yang hampir sama. Acara ini juga sangat formal dan diselenggarakan dengan persiapan yang sangat rapi dan teratur.

Pada pukul 8.30 pagi, seluruh siswa berkumpul di lapangan dan berpakaian seragam untuk mengikuti upacara. Anak-anak yang hadir dibagi ke dalam dua tim yang terlihat dari topi yang mereka kenakan. Ada yang menggunakan topi merah, dan ada yang topi putih. Warna itu menunjukkan kelompok tim mereka, ada tim merah (akagumi) dan tim putih (shirogumi).

Pidato pembukaan disampaikan oleh kepala sekolah dan perwakilan orang tua murid. Setelah itu diadakan pemanasan berupa senam, sebelum undokai akhirnya dimulai.

Pada prinsipnya, undokai adalah pertandingan atletik, yang didominasi oleh lomba lari, antara tim merah dan tim putih. Setiap kelas dibagi dalam beberapa batch untuk diadu masing-masing. Di sela-sela pertandingan, anak-anak menampilkan aneka pertunjukan, mulai dari tarian, marching band, hingga penampilan puncak anak kelas 6 SD berupa piramida manusia.

Piramida Manusia oleh kelas 6 SD / junanto

Dari undokai tersebut, saya melihat ada ciri-ciri menonjol yang terbentuk dari anak-anak Jepang. Dan ciri itu terbawa hingga dewasa, bahkan tercermin di perusahaan-perusahaan Jepang.

Ciri itu adalah kolektivisme atau orientasi pada kerja tim. Setiap anak di tim undokai tidak pernah menonjolkan diri sendiri. Kalau berhasil mereka selalu mengatakan itu berkat kerjasama tim. Sementara kalau gagal, mereka merasa kurang berbuat baik bagi tim.

Kalau ada satu anak kita puji, “Waah kamu hebat ya!”, mereka akan otomatis mengatakan “Iiiiiie (dengan intonasi panjang)”, yang artinya, bukaaan. “Ini semua terjadi berkat kerjasama tim”, begitu kata mereka menyambung. Tidak ada anak yang berusaha menonjol dalam undokai, dan para orang tua juga tidak ingin menonjolkan anaknya masing-masing. Tidak ada juga yang berkata, ” Siapa dulu dong bapaknyaa!”. Yang ada adalah semua lebur dalam kerjasama tim.

Saya melihat hal itu juga terbawa hingga dewasa. Orang Jepang dalam bekerja selalu kolektif dan mendahulukan tim. Ada pepatah Jepang yang mengatakan, “Burung Elang yang menunjukkan kukunya, akan dipukul”. Ini artinya bahwa kita dianjurkan untuk tidak menonjolkan diri.

Memang kalau direnungkan, saat ini tak banyak lagi nama entrepreneur Jepang yang menonjol, selain nama-nama lama seperti Honda atau Toyota. Berbeda dengan Amerika atau Eropa yang memiliki banyak nama menonjol, seperti Steve Job, atau Bill Gates misalnya. Padahal, produk Jepang ataupun aneka budaya Jepang mengepung kehidupan kita sehari-hari.

Selain soal kerjasama tim, ada satu hal menarik lagi yang saya catat saat undokai. Murid-murid yang lebih tua terus menerus meneriakan semangat pada yang muda. Mereka berteriak “Gambatte! Gambatte!” dan meminta adek-adeknya untuk memberikan yang terbaik bagi tim.

Selain filosofi kerja keras tanpa menyerah yang sudah menjadi ciri khas Jepang, di undokai ini saya melihat sistem senior-junior yang sangat kental di Jepang. Di perusahaan Jepang, mereka menyebutnya dengan sistem “sempai-kohai”.  Mereka yang senior harus membimbing yang junior, dan yang junior harus menghormati yang senior. Di Jepang, senioritas memang sangat penting.

Undokai ini juga dilakukan tanpa pandang bulu bagi semua anak di Jepang. Sejak kecil kelihatannya anak-anak tidak dimanja dengan berbagai fasilitas. Untuk persiapan undokai ini, anak-anak berlatih sekitar satu bulan sebelumnya. Mereka juga setiap hari berlatih fisik. Tak heran kalau orang Jepang fisiknya kuat-kuat (ingat tim bola Samurai Blue dan Nadeshiko).

Hari itu, undokai ditutup pada pukul 14.30 sore (tepat waktu sesuai jadwal yang dibagikan, sebagaimana kebiasaan orang Jepang). Tim merah keluar sebagai pemenang.

Setelah pembagian hadiah, Kepala Sekolah menyampaikan pesannya. Satu pesan penting yang disampaikan adalah, “Tidak ada keberhasilan yang instan, semua butuh ketekunan, kerja keras, dan kesabaran. Oleh karena itu, Jangan Pernah Menyerah, Gambatte Kudasai!”.

Di Undokai hari itu, saya melihat sebuah tradisi panjang yang tercetak dalam kehidupan bangsa. Hari itu, saya melihat jiwa Japan Inc. yang tertanam sejak dini, dalam semangat  kebersamaan dan nation building yang kuat. Tak heran kalau Jepang hingga saat ini masih menguasai tekhnologi dunia.

Salam.

Lomba lari di undokai / junanto

Levitation Photowalk around My Neighborhood

Inspired by Natsumi Hayashi in yowayowacamera.com, I held a levitation photowalk around my neighborhood in Meguro, Tokyo. I love doing levitation in my leisure time as it is a great way to express myself as a free person.

I stopped off Rhinshinomori Park  on my way to the nishikoyama market. The park was so quiet and peaceful. It is nice to levitate here.

Tap water levitating at rhinshinomori park

Reach for the tree levitation

At the park, I saw many old men doing exercise and some kind of Taichi. So, I think I will have some levitating exercise on the park bench.

After the Taichi

I finally arrived at Nishikoyama station. I took some levitation photographs in front of the station.

Nishikoyama Station, Tokyo

Flying Without Wing at Nishikoyama Station

On my way back home, I stopped by at a secondhand bookstore. It was a very nice small shop selling many interesting books. I bought some photography books at a very cheap price. Before that, I did a levitating pose while reading the book.

Levitating while reading

That was my levitating photowalk project around my neighborhood. Keep levitating, keep passionate, and free yourself.

Thank you for stopping by.

 

Why Do I Levitate?

Natsumi Hayashi / photo by Junanto

Yesterday (6/16), I met Natsumi Hayashi during her exhibition of “Natsumi Hayashi Today’s Levitation” at MEM Gallery in Ebisu, Tokyo. Hayashi-san, who lives in Tokyo, is very famous for her levitation project. She presents photographs of herself looking light as air, shot mostly around the city. The images have earned her a respectable following on her blog (http://yowayowacamera.com), as well as on Facebook and Twitter.

Is she jumping to get a perfect pose? No, Natsumi Hayashi is not jumping.

She’s levitating.

Hayashi-san looks as if she’s doing a slow, lyrical dance through the air.

Her style has inspired many people in the world to do the same things.

“Why do you levitate?” I asked. She said that she has fantasies of escaping from the confines of gravity. “I wanted to express myself as an honest person ‘whose feet are not firmly planted on the ground’ by shooting myself being free of the gravity of the Earth,”.

“When I am free of the gravity inside the picture, I feel free of any obligation to the society and live without being bound to many things.”

That was inspiring.

Here are some of my levitation project, inspired by Natsumi Hayashi.

Keep levitating.

Thank you for stopping by.

Levitation Project / yowayowacamera and junanto

Mengambang Bersama Natsumi Hayashi

Natsumi Hayashi Levitation Project / yowayowacamera.com

Natsumi Hayashi adalah sebuah fenomena. Ia dikenal sebagai “the floating girl from Tokyo” atau gadis Tokyo yang bisa mengambang. Foto-foto dirinya yang sedang mengambang dimuat di website yowayowacamera.com dan menyebar luas ke seluruh dunia. Gaya berfoto Natsumi Hayashi kemudian banyak ditiru dan menjadi trend serta inspirasi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Tentu saja Natsumi bukan seorang yang memiliki ilmu mengambang dalam arti sebenarnya. Ia hanya meloncat ke udara kemudian dipotret dalam satu pose natural tertentu. Tekhnik fotografi seperti itu dikenal dengan nama levitasi. Levitasi murni tekhnik fotografi yang tidak melakukan manipulasi foto atau trik pada komputer atau software lainnya.

Berbeda pula dengan “jump shot” di mana ekspresi wajah dan tubuh seseorang terlihat  melompat, dalam tekhnik levitasi ekspresi tersebut harus terlihat natural. Hal inilah yang menjadikan seseorang kemudian terkesan mengambang dalam foto.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang levitasi dan alasan Natsumi Hayashi melakukan hal tersebut, siang tadi (17/6) saya bertemu dengan Natsumi Hayashi di Tokyo. Kebetulan hari itu adalah hari pertama dibukanya Pameran Fotografi bertema “Natsumi Hayashi Today’s Levitation”. Pameran berlangsung di MEM Galery, Ebisu, Tokyo, dari tanggal 16 Juni hingga 16 Juli 2012.

Bersama Natsumi Hayashi di Tokyo

Dalam kesempatan tersebut, Natsumi Hayashi bercerita tentang berbagai hal di balik proyek levitasinya. Sebagaimana dikenal, Natsumi melakukan program satu hari satu levitasi (One Levitation A Day) yang dimuat dalam yowayowa diary. Aneka foto yang dikumpulkan tersebut, kemudian dibukukan dalam satu buku yang bertajuk Today’s Levitation yang sekaligus diluncurkan hari ini.

Dalam melakukan berbagai pose levitasi, Natsumi mengambil tema kehidupan sehari-hari, seperti di taman, jalanan, kantor, gedung, restoran, bahkan di kereta api. Secara tekhnis, banyak cerita lucu yang ia ceritakan saat melakukan berbagai pose levitasi.

Menurut Natsumi, guna mendapatkan satu gambar yang sempurna, ia kadang harus melompat hingga 200 sampai 300 kali. Dengan kamera Canon EOS 5D dan Mark 2, Natsumi pada awalnya melakukan pose levitasi seorang diri dengan menggunakan shutter otomatis. Ia menyetel shutter selama 10 detik, kemudian lari dan meloncat. Namun kini, ia memiliki seorang fotografer yang membantunya melakukan berbagai aksi.

Natsumi bercerita bahwa ia pernah dikira orang gila karena meloncat-loncat sendiri di depan sebuah toko. Sang pemilik toko bahkan hampir memanggil polisi, sebelum kemudian Natsumi menjelaskan maksudnya loncat-loncat.

Kejadian lucu juga terjadi saat ia mengambil pose mengambang di depat mesin tiket stasiun kereta. Karena ia berkali-kali melompat, seorang tua merasa kasihan kepadanya karena dikira ia tidak memiliki tiket. Si orang tua menawarkan tiket kereta pada Natsumi.

Tekhnik foto levitasi juga bukan tanpa bahaya. Karena ingin mendapatkan satu pose yang sempurna, Natsumi meloncat terlalu tinggi di Taiwan dan jatuh. Ia harus sampai masuk rumah sakit untuk dijahit bagian dagunya karena robek. Selain bahaya, loncat-loncat juga memiliki dampak tidak baik bagi tulang. Oleh karena itu, Natsumi Hayashi secara rutin berkonsultasi dengan ahli tulang dan chiropracticer sebelum melakukan loncatan-loncatan.

Mengenai alasan Nastumi Hayashi melakukan levitasi ini, ia mengatakan bahwa gravitasi adalah sesuatu yang mengikat kita. Di manapun kita berada selalu terikat oleh gravitasi. Dilihat secara filosofis, manusia juga terikat oleh berbagai masalah, seperti rasa percaya diri yang kurang, rasa minder, stress, dan berbagai penyakit hati lain yang mengikat.

Levitasi adalah sebuah simbol untuk mengajak kita keluar dari berbagai jeratan tersebut. Levitasi adalah anti-gravitasi. Kalau dulu orang Jepang punya pepatah yang mengajarkan kita untuk menjejakkan kaki di bumi, atau dengan kata lain menjadi realistis, kini Natsumi justru mengajak sebaliknya. Ia mengajak kita membebaskan diri dari jeratan atau “to break our boundaries”.

Dalam kesempatan berbicara dengan Natsumi, saya menyampaikan bahwa di Indonesia tekhnik levitasi memiliki banyak penggemar. Bahkan kini ada satu komunitas yang bernama Levitasi Hore yang didirikan karena terinspirasi oleh dirinya. Mendengar hal itu, Natsumi Hayashi menyatakan kegembiraannya dan menyampaikan salam kepada rekan-rekan di komunitas Levitasi Hore ataupun bagi para penggemar serta pelaku levitasi di tanah air.

Pesannya, tetaplah melakukan levitasi, jangan menyerah. Tetaplah mengambang dan bebaskan diri kita dari jerat-jerat negatif yang mengikat diri. Salam Levitasi

Rahasia Sukses Pengolahan Sampah di Jepang – Part 2

Sampah Menurut Jenisnya di Jepang / photo Junanto

Sebelumnya, saya selalu berpikir bahwa tradisi mengolah sampah di Jepang, dengan memilah sampah menurut jenisnya, adalah budaya yang sudah lama dilakukan (baca: Mengolah Sampah di Jepang). Namun ternyata, menurut penjelasan kawan Jepang dan juga petugas di tempat pembuangan sampah yang saya temui, cara membuang dan mengolah sampah seperti saat ini, belum lama dilakukan di Jepang.

Sekitar 20 tahun lalu, orang Jepang belum melakukan pemilahan sampah. Di tahun 1960 dan 1970-an, orang Jepang bahkan masih rendah kepeduliannya pada masalah pembuangan dan pengelolaan sampah.

Saat-saat itu, Jepang baru bangkit menjadi negara industri, sehingga masalah lingkungan hidup tidak terlalu mereka pedulikan. Contoh terbesar ketidakpedulian itu adalah terjadinya kasus pencemaran Minamata, saat pabrik Chisso Minamata membuang limbah merkuri ke lautan dan mencemari ikan serta hasil laut lainnya. Para nelayan dan warga sekitar yang makan ikan dari laut sekitar Minamata menjadi korban.  Di tahun 2001, tercatat lebih dari 1700 korban meninggal akibat tragedi tersebut.

Di tahun 60 dan 70-an, kasus polusi, pencemaran lingkungan, keracunan, menjadi bagian dari tumbuhnya industri Jepang. Di kota Tokyo sendiri, limbah dan sampah rumah tangga saat itu menjadi masalah besar bagi lingkungan dan mengganggu kehidupan warga Tokyo.

Barulah pada pertengahan 1970-an mulai bangkit gerakan masyarakat peduli lingkungan atau “chonaikai” di berbagai kota di Jepang. Masyarakat menggalang kesadaran warga tentang cara membuang sampah, dan memilah-milah sampah, sehingga memudahkan dalam pengolahannya. Gerakan mereka menganut tema 3R atau Reduce, Reuse, and Recycle.  Mengurangi pembuangan sampah, Menggunakan Kembali, dan Daur Ulang.

Gerakan tersebut terus berkembang, didukung oleh berbagai lapisan masyarakat di Jepang. Meski gerakan peduli lingkungan di masyarakat berkembang pesat, pemerintah Jepang belum memiliki Undang-undang yang mengatur pengolahan sampah. Bagi pemerintah saat itu, urusan lingkungan belum menjadi prioritas.

Baru sekitar 20 tahun kemudian, setelah melihat perkembangan yang positif dan dukungan besar dari seluruh masyarakat Jepang, Undang-undang mengenai pengolahan sampah diloloskan Parlemen Jepang

Bulan Juni 2000, UU mengenai Masyarakat Jepang yang berorientasi Daur Ulang atau Basic Law for Promotion of the Formation of Recycling Oriented Society disetujui oleh parlemen Jepang. Sebelumnya, pada tahun 1997, Undang-undang Kemasan Daur Ulang atau “Containers and Packaging Recycle Law” telah terlebih dahulu disetujui oleh Parlemen.

Rahasia Sukses Jepang

Dari beberapa hal tersebut, setidaknya terdapat tiga rahasia sukses Jepang dalam penanganan sampah rumah tangga. Pertama, tingginya prioritas masyarakat pada program daur ulang. Hampir semua orang Jepang paham mengenai pentingnya pengelolaan sampah daur ulang.

Untuk membangun kesadaran itu, kelompok masyarakat seperti “chonaikai” melakukan aksi-aksi kampanye kepedulian lingkungan di berbagai lapisan masyarakat. Beberapa sukarelawan ada yang secara aktif turun ke perumahan untuk memonitor pembuangan sampah, dan berdialog dengan warga tentang cara penanganan sampah.

Kedua, munculnya  tekanan sosial dari masyarakat Jepang apabila kita tidak membuang sampah pada tempat dan jenisnya. Rasa malu menjadi kunci efektivitas penanganan sampah di Jepang.

Saya pernah melihat orang Jepang yang sedang mabuk di kereta sambil memegang botol bir. Saya mengikuti saat ia keluar dari kereta. Dia celingak celinguk mencari tempat sampah. Menariknya, dalam keadaan mabuk, ia masih membuang sampah, bukan hanya di tempatnya, namun bisa memilih tempat sampah daur ulang khusus botol dan kaleng.

Dari kejadian itu saya berpikir bahwa kebiasaan membuang sampah, selain juga karena dibangun rasa malu, juga telah masuk ke alam bawah sadar mereka.

Ketiga, program edukasi yang masif dan agresif dilakukan sejak dini. Anak-anak di Jepang, sejak kelas 3 SD sudah dilatih cara membuang sampah sesuai dengan jenisnya. Hal tersebut membangun kultur buang sampah yang mampu tertanam di alam bawah sadar. Membuang sampah sesuai jenis sudah menjadi “habit”.

Awalnya dulu, resistensi sempat muncul dari beberapa kalangan mengenai perubahan cara membuang sampah ini. Banyak warga, khususnya orang-orang tua, yang memprotes cara baru penanganan sampah, karena dianggap merepotkan. Namun dengan penjelasan dan informasi yang terus menerus mengenai manfaat dari pembuangan sampah, resistensi itu berkurang dengan sendirinya.

Tempat Sampah di salah satu Mall kota Tokyo / photo Junanto

Bisakah kita Meniru Jepang?

Melihat proses pembentukan “habit” pengolahan sampah di Jepang tersebut, saya yakin kalau kita di Indonesia bisa meniru Jepang. Kesadaran pada sampah dan lingkungan hidup di Jepang baru tumbuh dalam beberapa puluh tahun terakhir. Artinya hal tersebut bukan terjadi by default pada diri masyarakat Jepang, namun dilakukan by design dengan membentuk habit atau kebiasaan melalu edukasi.

Oleh karena itu, upaya membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai kampanye lingkungan hidup oleh komunitas-komunitas peduli lingkungan, seperti yang dilakukan oleh Sahabat Kompasianer dari Jogjakarta, Mas Daniel Suharta dan kawan-kawan, perlu banyak dilakukan di setiap kota dan tempat.

Apa yang dilakukan mas Daniel dengan membentuk berbagai program kampanye peduli lingkungan, persis seperti yang dilakukan oleh chonaikai di Jepang, 30 tahun lalu. Meski saat itu pemerintah Jepang belum mendukung dan bergerak, mereka tidak putus asa.  Selama 20 tahun, komunitas tersebut terus konsisten meraih simpati dan berkembang pesat hingga akhirnya malah dapat memberi tekanan sosial pada pihak pemerintah.

Langkah lainnya adalah dengan membuat program edukasi bagi setiap elemen masyarakat. Berbagai brosur dan informasi dibuat untuk anak-anak sekolah sehingga kebiasaan membuang sampah terbentuk sejak kecil. Di sisi lain para orang tua juga harus memberi contoh. Hal ini sangat penting, karena anak-anak meniru apa yang dilakukan orang tua.

Dengan berbagai hal tersebut, pada akhirnya nanti pemerintah mau tak mau akan mendukung gerakan peduli lingkungan. Dan bila demikian halnya, Undang-undang dibuat bukan untuk mengatur, namun hanya meng-amin-i saja realita yang sudah terjadi di masyarakat.

Tak heran, makin maju suatu negara, makin sedikit peraturannya. Di Jepang, saya jarang sekali melihat tulisan “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” atau “Dilarang Buang Sampah”. Karena tanpa tulisan itu-pun, masyarakat sudah membuang sampah di tempatnya.

Salam dari Tokyo.

ps. tulisan juga mengutip bahan dari berbagai sumber dan penelitian

Lebay-nya Mengolah Sampah di Jepang – part 1

Truk Sampah Memasuki Pusat Pengolahan Sampah / photo junanto

Mas Daniel Suharta, sahabat Kompasianer yang juga aktivis gowes dan lingkungan hidup di Jogjakarta, meminta saya untuk bercerita tentang pengolahan sampah di Jepang. Mas Daniel adalah seorang aktivis yang saya kenal rajin menginisiasi dan ikut serta di berbagai kegiatan peduli lingkungan, serta aktif menulis di media massa mengenai lingkungan hidup.

Saya tentu dengan senang hati membagi cerita tentang pengolahan sampah di Jepang. Hal ini karena orang Jepang terkenal sangat serius menangani soal sampah. Dibanding negara maju lainnya, masyarakat Jepang memang paling unggul dalam mengelola sampah, khususnya sampah rumah tangga.

Bagi orang asing yang pertama kali tinggal di Jepang, penanganan sampah di sini memang terkesan “lebay”. Bukan hanya kita tidak boleh membuang sampah sembarangan, tapi kita juga harus memisah-misahkan berbagai jenis sampah sebelum dibuang.

Saya terus terang mengalami “culture shock” saat pertama kali belajar cara membuang sampah. Maklum, di Jakarta masalah sampah tidak perlu repot. Semua dicampur-campur di keranjang sampah atau plastik, nanti tukang sampah datang, dan sampah dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seperti di Bantar Gebang.

Namun di Jepang, sampah ditangani berbeda. Secara prinsip sampah dibagi dalam empat jenis, yaitu sampah bakar (combustible), sampah tidak bakar (non-combustible), sampah daur ulang (recycle), dan sampah ukuran besar. Ada jadwal hari-hari tertentu yang mengatur jenis sampah apa yang dapat dibuang. Petugas akan mengambil sampah setiap hari sesuai dengan jadwal dan jenis sampahnya.

Satu hal lagi, untuk sampah minyak goreng atau minyak jelantah, tidak boleh dibuang ke saluran air. Hal tersebut dikhawatirkan mencemari air tanah. Oleh karena itu, di Jepang dijual bubuk yang berfungsi  membekukan sisa minyak goreng tersebut. Bubuk itu ditaburi di atas minyak hingga berubah menjadi gel. Setelah itu,  minyak jelantah yang sudah berbentuk gel dapat dibuang ke tempat sampah.

Terdengarnya sederhana kan? Hmmm, tidak sampai saya merasakannya sendiri.

Pertama, kita harus membeli plastik khusus sampah. Setelah sampah dipisahkan dan dimasukkan ke plastik tersebut sesuai jenisnya, sampah diletakkan di luar rumah. Selanjutnya, petugas akan datang mengumpulkan sampah.

Masalahnya, mereka hanya mengambil plastik sampah yang tepat jenis dan sesuai jadwalnya. Kalau salah jadwal, atau jenisnya kita campur-campur (misalnya botol minum di sampah makanan), sampah tidak akan diangkat

Satu bulan pertama tinggal di Jepang, sampah di tempat tinggal saya menumpuk sampai lima kantong besar. Hal itu karena saya belum paham cara mengklasifikasikan jenis sampah apa dan harus masuk ke kategori apa. Daripada repot, semua sampah saya gabung saja. Akibatnya, petugas membiarkan sampah tak terangkut dan membuat bau di lingkungan sekitar.

Hal itu tentu memalukan saya, karena dilihat oleh tetangga sebagai orang yang tidak disiplin dan peduli lingkungan.

Pihak kelurahan di tempat saya tinggal nampaknya memahami kesulitan dan ketidakpahaman orang asing dalam penanganan sampah di Jepang. Untuk itu, mereka telah merancang program edukasi yang sangat baik bagi warga asing.

Selain membagi-bagikan brosur cara membuang sampah (dalam bahasa Inggris), suatu hari mereka mengundang keluarga saya, bersama dengan warga asing lain, untuk mengunjungi lokasi pengolahan sampah di wilayah kecamatan tempat kami tinggal. Di kota Tokyo, setiap kecamatan besar memiliki pusat pengolahan sampah masing-masing.

Dengan melihat cara sampah-sampah tersebut dikelola, diharapkan kesadaran masyarakat terbangun, dan dengan itu turut mendukung proses pengolahan sampah bersama.

Klasifikasi Jenis Sampah di Jepang / photo Junanto

 

Sampah sebagai masalah Kritis dan Penting

Undangan mengunjungi pusat pengolahan sampah di distrik Meguro, Tokyo, tersebut tidak kami sia-siakan. Kami berkumpul di pusat pengolahan sampah pukul 10.00 pagi untuk kemudian dilanjutkan dengan melihat proses pengolahan sampah.

Namun sebelum melihat proses pengolahan, kita diterangkah terlebih dahulu betapa kritis dan pentingnya urusan sampah ini. Kebanyakan dari kita memang terkesan menganggap sepele bahkan tidak peduli dengan masalah pembuangan sampah. Padahal ketidakpedulian itu dapat menimbulkan masalah lingkungan hidup yang serius.

Lahan tanah di dunia kini sudah hampir mencapai puncak kapasitasnya. Sampah yang menimbun di permukaan tanah akan mengakibatkan kontaminasi pada resapan air tanah, yang pada akhirnya dapat meracuni kehidupan dan mengkontaminasi air tanah.Sementara itu, cara pengolahan sampah dengan membakar secara tradisional dapat mengakibatkan jumlah besar karbon monoksida dan gas karsinogen yang akan mengotori atmosfer. Selain itu, kita juga dijelaskan bahwa tidak semua sampah bisa didaur ulang oleh tanah.

Oleh karenanya, upaya manajemen sampah yang baik, serta kepedulian dalam memisah-misahkan sampah plastik, metal, botol, karet, dan benda-benda sejenis, menjadi penting untuk kesinambungan lingkungan hidup.

Proses Pengolahan Sampah di Jepang

Kami kemudian diajak melihat bagaimana sampah diolah sejak awal. Truk-truk sampah masuk ke pusat pengolahan melalui pintu utama. Di situ truk tersebut ditimbang untuk mengetahui berat sampah yang dibawa.

Dari sana sampah-sampah dimasukkan ke tempat pembakaran. Hari itu, kebetulan sedang dilakukan proses untuk sampah bakar, atau sampah basah rumah tangga. Timbunan sampah yang berasal dari sisa-sisa makanan, kotoran dapur, dimasukkan ke dalam sebuah tempat penampungan besar. Ada bungkus tahu, sisa tulang ikan, dan aneka makanan sisa lainnya dimasukkan ke tempat itu. Dari situ, sampah dimasukkan ke tempat pembakaran dan kemudian dibakar.

Hal yang menarik adalah ternyata ampas dari sampah-sampah tersebut bisa dimanfaatkan menjadi “cone-block” untuk lapisan jalanan. Jadi saya baru tahu kalau cone-blok di trotoar kota Tokyo sebagian di antaranya dibuat dari sampah yang kita buang setiap hari.

Selain bermanfaat untuk membuat cone-block, pembakaran sampah di Jepang juga dapat menjadi salah satu sumber daya penghasil listrik.

Sementara untuk cairan dari sampah basah, pusat pengolahan tersebut memiliki mesin penyulingan air yang fungsinya membersihkan air dari sampah, sebelum kemudian dialirkan kembali ke sungai.

Sistem daur ulang di Jepang menganut dua langkah dasar. Pertama, pemisahan material dan pengumpulan. Kedua, pemrosesan dan daur ulang sampah. Kedua hal tersebut bisa berhasil karena dilakukan secara gotong royong antara masyarakat dan pemerintah. Setiap rumah tangga di Jepang secara sadar melakukan langkah pertama. Sementara pihak pemerintah daerah melakukan langkah kedua.

Kesadaran, gotong royong, dan kerjasama yang baik antar warga, pemerintah, dan segenap elemen masyarakat menjadikan pengolahan sampah di Jepang dapat berjalan dengan lancar.

Nah, sepulang dari pusat pengolahan sampah, saya semakin disadarkan tentang pentingnya kita semua mengelola buangan sampah, sebagai bagian dari kepedulian kita pada lingkungan hidup. Dan sekarang, memilah-milah jenis  sampah yang dibuang sudah menjadi bagian dari keseharian hidup di Jepang.

Salam dari Tokyo

Mewaspadai Kembali Arus Modal Asing

foreign exchange / photo bloomberg-guido

Tulisan ini dimuat di Harian KONTAN, 27 Februari 2012, halaman 23

Di tengah belum adanya kepastian penyelesaian krisis di Eropa dan Amerika Serikat, negara-negara di Asia kembali dihadapkan pada risiko terjadinya pembalikan arus modal asing.  Hal tersebut juga mengemuka dalam sidang para Gubernur Bank Sentral negara-negara anggota South East Asian Central Bank (SEACEN) di Seoul, Korea Selatan, pada 14 Februari 2012.

Dalam sidang tersebut, gubernur bank sentral  dari 18 negara, termasuk Indonesia, menggarisbawahi pentingnya negara-negara Asia untuk meningkatkan koordinasi dan kewaspadaan pada ancaman pembalikan arus modal asing, khususnya yang bersifat jangka pendek dan spekulatif.

Kita menyadari bahwa ekonomi Asia tidak sepenuhnya kebal terhadap krisis global yang terjadi saat ini. Krisis merambat ke Asia melalui tiga jalur, yaitu jalur perdagangan (trade channel), jalur keuangan (financial channel), dan deleveraging, atau pelepasan asset dan utang dari investor-investor Eropa di Asia. Ketiga hal itu akan menyebabkan tekanan bagi pasar di Asia yang dampaknya dapat mengganggu stabilitas ekonomi regional.

Menyikapi ancaman tersebut, negara-negara  di wilayah Asia perlu bersiap diri membangun garis-garis pertahanan. Sejak krisis global terjadi di tahun 2008, arus modal asing mengalir secara deras ke wilayah Asia, termasuk Indonesia. Hal tersebut meningkatkan risiko terjadinya pembalikan, yang kini mulai dirasakan di beberapa negara, dan menyulitkan pihak otoritas dalam mengendalikan stabilitas makroekonomi.

Indonesia memiliki pengalaman buruk dengan pelarian modal asing saat krisis ekonomi tahun 1998 lalu. Saat itu, modal asing ditarik dari Indonesia dalam sekejap dan berakibat pada runtuhnya perekonomian Indonesia. Pengalaman ini membuat kita belajar untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi masuknya modal asing.

Di satu sisi, kita perlu tetap menjaga keterbukaan Indonesia pada modal asing yang masuk. Perekonomian  yang sedang berkembang tetap memerlukan asing. Namun di sisi lain, kita perlu mencermati jenis modal yang masuk. Modal asing, terutama yang sifatnya portfolio dan berjangka pendek, apabila masuk dalam jumlah besar dan waktu singkat akan menyebabkan kondisi yang tidak sehat pada transaksi berjalan (unsustainable current account).

Apabila modal asing terus menerus masuk dalam jumlah besar, akan menyebabkan nilai tukar rupiah menguat atau terapresiasi. Pada satu level tertentu, apresiasi yang berlebihan berakibat tidak baik karena dapat menyebabkan ekspor Indonesia terpukul.

Sementara itu, rupiah yang terus menguat juga akan meningkatkan permintaan domestik terhadap barang-barang impor. Apabila impor, terutama yang bersifat konsumtif, terus meningkat tajam dan tidak diiringi oleh meningkatnya ekspor, terjadilah ketidakseimbangan eksternal. Ketidakseimbangan ini sangat berbahaya, khususnya apabila secara tiba-tiba terjadi pelarian (pembalikan) arus modal asing dalam jumlah besar.

Keseimbangan dalam negeri

Di sinilah perlunya otoritas masing-masing negara di Asia melakukan langkah-langkah pengamanan. Indonesia berupaya untuk melakukan berbagai upaya dalam menangani modal asing ini. Di sisi nilai tukar, Bank Indonesia (BI) melakukan kebijakan stabilisasi di pasar valuta asing.

Namun kebijakan itu saja belum cukup, mengingat terus masuknya modal asing ke dalam negeri. Stabilisasi BI di pasar valas justru menambah jumlah likuiditas rupiah di pasar uang. Akhirnya, Bank Indonesia harus menyerap kembali likuiditas tersebut agar tidak memberikan dampak inflasi.  Penyerapan itu dilakukan melalui instrumen moneter yang pada akhirnya justru menambah beban operasi Bank Indonesia.

Kemudian BI menerapkan kebijakan lain, seperti holding period atau batas minimum kepemilikan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di dalam negeri. Modal asing yang masuk ke dalam SBI dibatasi minimal harus bertahan di dalam negeri selama 6 bulan. Hal ini cukup mengurangi derasnya dana-dana spekulatif yang masuk ke SBI. Selain itu ada juga kebijakan pembatasan saldo harian pinjaman luar negeri jangka pendek bank, peningkatan giro wajib minimum valuta asing Bank, dan munculnya term deposit untuk menjaga kestabilan di pasar uang.

Penerapan kebijakan itu telah terbukti efektif meredam masuknya dana asing jangka pendek yang bersifat spekulatif. Di sisi lain, kebijakan itu mampu diterima publik tanpa adanya kekhawatiran terjadinya penerapan capital control

Meski kita telah menempuh berbagai aturan makroprudensial, kita tak boleh berpuas diri. Risiko tetap ada, mengingat jumlah modal asing yang masuk ke dalam negeri saat ini relatif masih besar.

Satu langkah lain yang juga kita lakukan adalah membangun kerjasama dengan negara-negara di wilayah regional. Hal ini penting, negara-negara di Asia memiliki permasalahan yang sama. China misalnya, pada triwulan IV-2011 menghadapi pelarian modal asing sekitar 100 miliar dolar AS. Hal tersebut cukup memberi tekanan pada stabilitas perekonomian China.

Kerjasama multilateral untuk memperkuat posisi likuiditas valuta asing guna mengatasi permasalahan neraca pembayaran dan likuiditas jangka pendek. Salah satu inisiatif yang telah dilakukan adalah Chiang Mai Inisiatif Multilateralisme (CMIM) antar negara ASEAN+3, yang telah disusun dengan  menyediakan dana jaga-jaga sebesar 120 miliar dolar AS. Selain itu, otoritas negara-negara di kawasan Asia terus mengembangkan berbagai forum kerjasama seperti SEACEN, EMEAP, dan kerjasama bilateral lainnya.

Tentu saja kita tak boleh melupakan pentingnya menjaga keseimbangan di dalam negeri. Upaya melakukan reformasi struktural untuk menciptakan lapangan kerja, serta harmonisasi kebijakan moneter dengan fiskal dan stabilitas sistem keuangan, terutama dalam mencermati dana asing yang masuk ke pasar obligasi, menjadi syarat mutlak yang perlu dilakukan untuk memperkuat pertahanan domestik.

Junanto Herdiawan, Analis Ekonomi Senior, Kantor Perwakilan BI Tokyo