Menjadi Moksa di Ubud

Bersama Chef Made di Restoran Moksa miliknya di Ubud, Bali

Bersama Chef Made di Restoran Moksa miliknya di Ubud, Bali

Mendengar istilah makanan vegetarian, persepsi sebagian besar dari kita adalah cita rasa yang kurang sedap. Bayangan yang muncul adalah hidangan seperti salad atau sayur mayur lainnya yang membosankan. Tapi pandangan itu berubah drastis setelah saya bertemu dengan Chef I Made Runatha yang menemukan seni memasak makanan berbasis tanaman menjadi hidangan yang lezat mendegut liur kita.

Chef Made adalah ahli masak yang telah malang melintang bekerja menjadi chef di berbagai hotel bintang lima, baik di Bali, Beijing, hingga Warsawa. Awalnya ia adalah pemakan segalanya. Namun sejak 15 tahun lalu ia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian. Bukan hanya menjadi vegetarian, iapun seolah mematikan kompornya, menyimpan ovennya, dan mulai membuat olahan makanan yang disiapkan tanpa itu semua, alias makanan “raw” atau berbahan dasar tanaman mentah (uncooked). Chef Made kemudian mendirikan restoran bernama Moksa sekitar 1,5 tahun lalu, di daerah Sayan, Ubud, Bali.

Sungguh sebuah kehormatan bagi kami sekeluarga, yang sedang berlibur di Bali, karena dijamu langsung oleh Chef Made di Restoran Moksa. Menurut Chef Made, Moksa berarti “higher achievement” atau sebuah pencapaian yang lebih baik. Dalam tradisi spiritual, Moksa diartikan sebagai sebuah pencapaian manusia yang bisa mencapai derajat tertinggi sehingga tidak perlu ber-reinkarnasi lagi. Dengan menamakan restorannya Moksa, Chef Made seolah mengajak kita untuk mengubah kebiasaan hidup yang makan segalanya menuju makanan sehat berbasis sayuran. Dengan demikian, kita mencapai tingkatan yang lebih baik dari sisi kesehatan.

Ajakan Chef Made ini bukan sebuah omongan kosong. Ia sendiri sudah membuktikan bahwa sejak beralih menjadi vegetarian sekitar 15 tahun lalu, di usianya yang menjelang 60 tahun ini, ia tak pernah minum obat sebutirpun. Ia juga tak pernah lagi sakit, tidur menjadi lebih nyenyak, dan tubuh terasa sehat. Berat badannyapun ideal. Wow, kelihatannya menarik kan. Tapi tentu ia menyadari bahwa ide makanan vegan itu tidak menarik. Oleh karenanya, Moksa didirikan juga sebagai sarana agar masyarakat bisa mengetahui bahwa makanan vegetarian juga bisa tampil enak.

Sebagai penikmat awal makanan vegetarian, tentu saya masih curiga pada rasa. Chef Made nampaknya memahami kegusaran itu. Oleh karenanya, ia sendiri yang memilihkan menu makanan. Sebagai entree, kami disajikan dua jenis menu makanan, yaitu Sup Moksa Dhal dan Jacfruit Taco. Kedua makanan ini menarik karena umumnya rasa kari dari Dhal dan filling dari Taco menggunakan bahan berbasis hewan. Sup Dhal tampil pertama dan langsung mencengangkan lidah kita. Rasa kari dan kacangnya dominan dan lezat. Taco juga tampil cantik dan di atas ekspektasi kita. Isi taco terasa seperti daging ayam. Ketika kami tanya, menurut Chef Made itu adalah Jackfruit Taco, atau Taco diisi oleh Nangka. Ooooh pantes terasa kenyal seperti daging. A Winner !

Eggplant Rendang atau Rendang Terong

Eggplant Rendang atau Rendang Terong

Hidangan utama yang ditampilkan selanjutnya adalah Rendang Terong (Eggplant Rendang) yang juga mengagetkan kita semua. Irisan terong panggang dijajar rapi mirip seperti irisan daging tipis. Penampilannya menggugah cita rasa. Rasa rendang juga kaya, ada pedas, manis, dan santan kelapa yang gurih. Rendang terong disajikan bersama nasi jenis brown rice yang juga berbahan dasar organik. Dan di tengah kenikmatan ternyata ada juga rasa kimchi di dalamnya, wow, sungguh menambah kelezatan. Ini Juarak !

Hidangan selanjutnya berturut-turut disajikan  adalah Moksa Sampler yang berisi aneka kreasi makanan ukuran kecil, seperti mini lasagna, spring pasta, mini pizza, gado-gado, campuran daun selada, dan sop jamur kuah santan. Semuanya tentu berbahan dasar sayuran. Lalu bagaimana spaghettinya bisa persis bentuknya seperti spaghetti. Rupanya itu dibuat dari parutan bengkoang. Ketika dirasakan barulah terasa kesegaran bengkuangnya. Bagi saya, sop jamur kuah santannya yang paling juara. Kesegaran santan kelapa bercampur dengan aneka jamur terasa menghangatkan badan di tengah sejuknya hawa Ubud.

Tempeh Cesar Salad adalah satu menu lain yang wajib coba. Aneka sayuran salad yang segar organik disajikan bersama tempe cardamom yang dipanggang hingga caramelized. Tempenya juga paduan dari berbagai kacang, seperti chestnut atau kacang mede. Salad disirami kuah saus strawberry dan keju parmesan yang terbuat dari kacang-kacangan. Keju di Moksa dibuat tanpa menggunakan susu hewan, melainkan dari kacang-kacangan. Super sekali. Selanjutnya kami mencicipi  Quesadillas yang juga memiliki citarasa surgawi. Rasa kacang dan sayuran membuat kami harus berkali-kali merem melek terbawa kelezatan alami.

Jangan lupa juga untuk mencicipi aneka juice dan smoothiesnya. Saya mencoba juice berjudul Flu Fighter and Immunity Booster yang merupakan campuran dari asam jawa, wortel, bayam, seledri, parsley, dan bawang putih. Rasanya segar terutama untuk tubuh yang lelah dan rawan terkena flu. Ada juga aneka smoothies, seperti Green Energy yang merupakan campuran dari daun kale, pisang, strawberry, jeruk, korma, nangka, dan spirulina. Atau cicipi juga Anti Aging Smoothies yang merupakan campuran dari buah berry, pisang, madu.

Sebagai hidangan pencuci mulut, Chef Made memilihkan es krim simphony dengan berbagai rasa. Menariknya adalah es krim di Moksa dibuat sepenuhnya berbahan dasar organik dan tanaman, tidak menggunakan krim atau susu dari hewan. Tapi rasanya sungguh luar biasa, ada es krim buah naga, cengkeh, vanilla, dan lainnya. Untuk sajian manis, kami dipilihkan cheesecake yang menggunakan taburan buah delima (pomegranate). Ini lezat dan menutup seluruh sajian secara sempurna.

Mencicipi makanan di Moksa memang seolah membawa kita Moksa menuju pencapaian yang lebih tinggi. Bukan hanya menyenangkan di perut tapi juga menyenangkan di hati. Apalagi kalau makan bersama orang-orang tercinta. Dari Ubud, kami kini punya keyakinan baru bahwa makanan raw dan vegan tidak selalu tampil membosankan, tapi bisa juga tampil penuh kreasi dan dibuat secara sederhana. Kalau ke Ubud, silakan mampir ke Moksa.

Salam sehat.

 

Kisah Pak Musa: Mensyukuri Hidup Lewat Traveling

bersama pak Musa

Bersama pak Musa

Sebagai orang yang menganggap diri lumayan banyak melakukan perjalanan, saya merasa malu saat bertemu dengan Pak Musa Anshory. Sebuah pertemuan yang kebetulan, tapi mampu mengubah dan menambah kaya wawasan saya tentang kehidupan. Kami duduk bersebelahan di pesawat dari Jakarta menuju Abu Dhabi. Dari Abu Dhabi, Pak Musa akan melanjutkan perjalanannya menuju London. Melihat dari perawakannya, Pak Musa terlihat masih semangat meski tak bisa menutupi usia uzurnya. Saat saya tanya berapa usianya, ia berkata, 84 tahun! … Di situlah kisah panjang kehidupan yang membuka mata saya dimulai.

Pak Musa mungkin bukan siapa-siapa. Selama 40 tahun ia pernah mengabdi di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London sebagai staf lokal. Tak banyak muncul dan terlihat. Ya, katanya, saya bukan siapa-siapa. Tapi pak Musa bisa bangga, karena meski ia bukan siapa-siapa, sekarang ke mana saja ia pergi selalu dihormati. Kalau pergi ke Indramayu, kampung kelahirannya, hampir semua anak muda mencium tangannya. Di London, tempat tinggalnya sekarang, ke manapun pergi selalu diberi hak istimewa, duduk diprioritaskan, mengantri didahulukan. “Ya, karena saya tua hehehe”, ujarnya sambil terkekeh. Kata-katanya betul, tapi saya paham, tidak semua orang tua bisa begitu saja mendapatkan penghormatan. Pasti ada sesuatu yang membuatnya memiliki aura atau pesona sehingga “respect” itu datang.

Kisah itupun dimulai. Berawal dari tahun 1956, Musa muda telah mencoba merantau ke luar negeri. Ia mengawalinya dengan mengambil kuliah di Al Azhar Kairo, Mesir. Usai kuliah ia menaiki sepeda berkeliling jazirah Arab, Afrika, dan Eropa. Ia berkelana hingga Yerusalem, Palestina, Syria, Turki, Eropa Timur, hingga kemudian berhenti di Jerman. Saat Olimpiade Italia tahun 1960, Musa berada di sana dan sempat dimuat di salah satu koran lokal. Saat itu ada seorang wartawan yang tertarik dengan kisah perjalanan sepeda dari Mesir ke Italia. Musa sempat tinggal di Muenchen, Jerman, selama lebih dari lima tahun. Di sana ia bekerja di pabrik mobil Ford. Dubes RI untuk Jerman saat itu sempat memanggilnya karena membaca artikel di koran Italia tentang perjalanan sepeda Musa.

Dari Jerman, Musa meneruskan kehidupan ke London. Sejak tahun 1970, ia menetap di London dan bekerja di KBRI. Sepanjang bekerja di London, perjalanan kehidupan melalui traveling tetap dilakukan Pak Musa. Baginya, travel adalah satu cara mensyukuri kehidupan. Dengan bertemu banyak orang, banyak tempat, ia bisa merasakan kebesaran Tuhan. Terus, uangnya dari mana pak? Dari Allah!, begitu jawabnya mantab. Rejeki itu datang dari Allah, kata Pak Musa. Kalau kita yakin dan optimis, insyaalah akan ada. Meski bekerja sebagai pegawai staf lokal, Pak Musa sudah punya dua rumah di London. Ia punya mobil Mercedes Benz dan Rolls Royce. Di Indramayu, kampung halamannya, ia juga punya rumah dan ruko. Alhamdulillah. Anak-anaknya juga sudah besar dan bekerja di London. Ia memiliki tiga orang anak. Kata pak Musa, “Robbana attina fi dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah”. Ia mengatakan bahwa di dunia ini sudah banyak diberikan “hasanah”, atau kebaikan. Ia selalu bersyukur untuk itu.

Apa rahasianya sih pak bisa panjang umur dan tetap traveling begini? Jawabnya, Sabar dan Pasrah. Kehidupan ini punya banyak masalah, tak bisa semuanya kita selesaikan. Untuk itu kita harus sabar, bersyukur, dan pasrah. Betul sekali. Pesan yang sederhana, tapi tentunya kita juga tahu, itu bukan hal yang mudah. Butuh konsistensi dan keyakinan. Semoga kita bisa belajar dari pengalaman hidup pak Musa. Sungguh sebuah pengalaman!

Salam

 

Teknologi Finansial dan Masa Depan Perbankan

Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian Kompas, 21 Februari 2017

Teknologi telah mengubah kehidupan kita dan mendisrupsi kemapanan berbagai sektor industri.Munculnya media daring, buku digital, hingga musik dan film yang bisa diunduh langsung dari internet telah mengguncang industri penerbitan dan musik. Beberapa media cetak dan perusahaan penerbitan yang tak mampu bersaing akhirnya menutup usaha. Kita juga melihat satu per satu toko kaset, cakram musik (compact disc), dan video (DVD) mulai menghilang dari pertokoan karena sepi peminat. Inilah yang dinamakan disrupsi teknologi.

Di dunia keuangan disrupsi ini juga tak terhindarkan. Gelombang munculnya para pelaku usaha rintisan (start up) di bidang layanan keuangan digital atau yang umum disebut dengan istilah financial technology (fintech) telah menimbulkan waswas dari industri petahana, dalam hal ini perbankan. Pelaku usaha rintisan di bidang teknologi finansial (tekfin) atau fintech telah mengubah cara masyarakat dalam membayar, mengirim uang, memperoleh pinjaman, hingga berinvestasi.

Masyarakat kini tak perlu repot datang ke bank karena layanan perbankan telah ada dalam genggaman tangan mereka. Ini yang dulu dikatakan Bill Gates, pendiri Microsoft, bahwa masyarakat sebenarnya tidak membutuhkan bank, yang mereka butuhkan adalah layanan bank.

Perusahaan tekfin hadir menawarkan berbagai layanan yang sebelumnya hanya dapat diberikan oleh bank. Melalui platform digital, masyarakat yang berbelanja daring kini bisa memanfaatkan pembayaran cukup melalui dompet elektronik.Untuk memperoleh pinjaman, masyarakat kini juga dapat melakukannya secara mudah melalui layanan peer-to-peer (P2P) lending yang menghubungkan langsung pemilik dana dengan yang membutuhkan dana.Bagi konsumen, tekfin memperluas pilihan terhadap akses produk atau layanan jasa keuangan dan mampu menurunkan harga.

Bagi masyarakat, tekfin memperpendek rantai transaksi, meningkatkan inklusi keuangan, dan memperlancar arus informasi. Bagi perekonomian, tekfin dapat mempercepat transmisi kebijakan moneter karena biaya transaksi menurun dan meningkatkan velositas perputaran uang.

Dilihat dari statistik, pertumbuhan perusahaan tekfin di Indonesia terhitung signifikan. Sampai akhir 2016, tercatat 156 perusahaan bergerak di bidang tekfin. Total nilai transaksi tekfin tahun 2016 di Indonesia, menurut data Statista, diperkirakan menembus 15,02 miliar dollar AS, tumbuh 24,6 persen dari 2015.

Bagaimana menyikapi?Menghadapi perkembangan yang begitu pesat, bagaimana perbankan perlu bersikap? Dan bagaimana peran regulator? Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan melihat respons perbankan beberapa tahun terakhir. Sampai dengan saat ini, perbankan masih merupakan pemain utama di jasa keuangan.

Perusahaan tekfin juga masih menggunakan bank sebagai landasan transaksinya. Jika dilihat sejarahnya, bank selama ini menjadi motor bagi inovasi teknologi dengan menginisiasi mulai dari cek, kartu kredit, kartu debet, mesin anjungan tunai mandiri (ATM), hinggainternet banking.

Namun, kini perbankan sudah bukan lagi satu-satunya pemain dalam industri jasa keuangan. Kemudahan akses dan kenyamanan adalah dua hal yang ditawarkan perusahaan tekfin. Jika kita lihat, fungsi utama bank adalah menerima simpanan, memberikan pinjaman, dan memfasilitasi pembayaran.

Fungsi itu secara terpisah sudah dapat dilakukan oleh perusahaan tekfin melalui generasi baru teknologi digital. Perusahaan tekfin menawarkan berbagai layanan bank tersebut secara terpisah. Fenomena ini yang dinamakan dengan kecenderungan unbundling the businessatau tekfin yang memereteli usaha bank.

Langkah strategis untuk bertahan bagi bank adalah berkolaborasi. Setidaknya ada empat hal yang umumnya dilakukan bank dalam menyikapi gelombang tekfin. Pertama, bank ikut membangun inkubator bagi para pelaku rintisan di bidang tekfin. Kedua, bank mendirikan unit khusus untuk permodalan tekfin atau modal ventura. Ketiga, bank membangun kemitraan dengan pelaku tekfin. Keempat, bank mengambil alih perusahaan rintisan yang sudah ada.

Keempat strategi ini telah dilakukan oleh beberapa bank di Indonesia. Ada bank yang bermitra dengan perusahaan P2Plending untuk menyalurkan kreditnya atau bank mengadakan lomba hackhatonuntuk menyaring bibit-bibit inovasi baru di bidang tekfin.

Dari sisi regulasi, pada November 2016, Bank Indonesia telah mengeluarkan peraturan Bank Indonesia tentang pemrosesan transaksi pembayaran yang di dalamnya juga mengatur tentang pelaku usaha rintisan di bidang tekfin. Bank Indonesia berupaya mendorong inovasi dengan tetap memperhatikan kehati-hatian dan perlindungan konsumen.

Untuk itu, Bank Indonesia akan mengeluarkan implementasi dari aturan regulatory sandbox, yang merupakan sebuah wahana inovasi bagi pelaku usaha tekfin agar dapat beroperasi secara terbatas dengan ketentuan yang diatur dan disepakati. Di sisi lain, koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus dilakukan. Pada akhir Desember 2016, OJK juga telah mengeluarkan aturan mengenai layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi yang ditujukan untuk mendukung pertumbuhan P2P lendingsebagai alternatif sumber pembiayaan bagi masyarakat.

Dalam sebuah laporan bertajuk “The Future of Fintech and Banking: Digitally Disrupted or Reimagined?”, Accenture menyimpulkan dua hal yang akan terjadi pada perbankan dalam menghadapi gelombang tekfin.Pertama, bank tetap merasa yakin dengan dominasinya sehingga enggan beradaptasi dengan teknologi. Jika hal ini dilakukan, hasilnya akan merugikan bank sendiri. Kedua, bank menyadari terjadinya perubahan perilaku pada nasabah dan inovasi teknologi. Untuk itu, mereka berusaha beradaptasi dan berkolaborasi dengan pendatang baru. Dari kedua pilihan, tampaknya pilihan kedua mulai ditempuh industri perbankan Tanah Air.

JUNANTO HERDIAWAN

Plt Kepala Fintech Office Bank Indonesia

Fintech dan Optimisme Ekonomi Indonesia

Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian KOMPAS, 30 November 2016

Perekonomian Indonesia sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ekonomi global yang lesu, permintaan domestik yang belum optimal, dan pertumbuhan kredit yang masih rendah menjadi beberapa faktor yang menghambat ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi dan merata.

Kondisi tersebut kerap menimbulkan pesimisme pada pelaku ekonomi. Namun Presiden Joko Widodo mengingatkan kita untuk tetap optimistis dalam memandang masa depan. Sebenarnya banyak hal yang dapat membuat kita tetap optimistis, mulai dari indikator makroekonomi yang stabil hingga berbagai potensi yang kita miliki saat ini. Salah satu potensi tersebut adalah fenomena bertumbuhnya ekonomi digital di Tanah Air.

Istilah ekonomi digital belakangan ini marak dibicarakan. Kita tengah mengalami perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kemajuan teknologi, khususnya penetrasi internet, masyarakat secara instan terhubung satu dengan yang lain. Munculnya media sosial dan sarana digital, seperti e-mail, Whatsapp, Facebook, Twitter, dan Instagram, telah mengubah cara kita berkomunikasi.Kecepatan berkomunikasi secara langsung dan terbuka lewat teknologi turut membuka pasar dan mendekatkan produsen dengan konsumen. Kita menjadi akrab dengan aktivitas belanja daring atau yang umum disebut e-dagang. Perkembangan ini kemudian diikuti pula oleh peningkatan peran masyarakat dalam mengakses sektor keuangan.

Namun, sebagian besar masyarakat masih menganggap sektor keuangan sebagai sektor yang sulit diakses. Krisis ekonomi global tahun 2008 semakin menguatkan persepsi tersebut. Pasca krisis global, otoritas di sejumlah negara melakukan respons dengan pengetatan terhadap aturan-aturan di sektor keuangan, termasuk perbankan.Berbagai perkembangan itu telah memberi ruang bagi tumbuhnya inovasi ekonomi digital, khususnya di bidang teknologi keuangan, yang kini populer dengan istilah financial technology atau disingkat Fintech.

Kehadiran inovasi teknologi keuangan telah mampu memotong jalur dan prosedur panjang yang menjadi ciri sektor keuangan formal.Secara sederhana, Fintech adalah berbagai inovasi yang menggabungkan fungsi keuangan (financial) dengan teknologi (technology). Pelaku usaha Fintech, yang umumnya disebut pelaku usaha rintisan (start up), berbekal ide kreatif dan inovatif, hadir memberi solusi alternatif atas kebutuhan masyarakat akan pelayanan jasa keuangan, mulai dari pembayaran, pengiriman uang, mendapatkan pinjaman, berbelanja, berdagang, hingga berinvestasi. Fintech menyimpan potensi besar dalam sebuah ekonomi.

Data dari McKinsey (2016) menunjukkan bahwa industri Fintech secara global tumbuh signifikan, dari sekitar 800 pelaku hingga mencapai 2.000 pelaku dalam kurun satu tahun. Data lain menyebutkan bahwa total transaksi global Fintech di tahun 2016 diperkirakan mencapai 2.355 miliar dollar AS.Di Indonesia, menurut data Statista, nilai transaksi Fintech selama tahun 2016 diperkirakan mencapai 14,5 miliar dollar AS. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa akses pembiayaan dan konsumsi rumah tangga dari Fintech mampu memberi dorongan bagi pertumbuhan ekonomi dan mendukung penyerapan tenaga kerja.

Satu hal yang membedakan dari perkembangan Fintech di negara maju dibandingkan dengan negara berkembang adalah bahwa Fintech di negara maju umumnya fokus pada penciptaan inovasi dan nilai tambah. Sementara di negara berkembang, Fintech tumbuh sebagai solusi alternatif atas berbagai masalah ekonomi yang dihadapi negara tersebut, seperti keterbatasan akses masyarakat pada sektor keuangan, kesenjangan ekonomi, hingga kesempatan kerja.

Fintech di Indonesia

Kondisi Indonesia saat ini juga menjadi pemicu bagi bertumbuhnya usaha Fintech. Saat ini baru 36 persen penduduk Indonesia yang memiliki akses ke layanan perbankan. Selain itu, jumlah kantor cabang bank per jumlah penduduk juga masih rendah. Data Bank Dunia juga menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi permintaan pendanaan hingga Rp 1.600 triliun. Namun, hanya Rp 600 triliun yang mampu disediakan oleh industri perbankan.

Pintu masuk paling efektif bagi Fintech di Indonesia adalah melalui penggunaan telepon genggam. Saat ini ada 326 juta pengguna telepon genggam di Indonesia dan pengguna internet aktif 88,1 juta orang. Peluang inilah yang menjadi pemicu pelaku usaha rintisan mengembangkan inovasi di bidang Fintech. Mulai dari model bisnis pinjam meminjam bagi UMKM dengan peer to peer lending atau crowdfunding, hingga berbagai kemudahan pembayaran menggunakan telepon genggam(mobile payment) telah menjadi pilihan alternatif kegiatan Fintech.

Pertanyaan yang muncul adalah ke mana arah perkembangan Fintech di Indonesia, bagaimana mitigasi risiko dari transaksi digital, serta bagaimana perlindungan konsumen. Di sinilah peran regulator menjadi penting. Inovasi teknologi adalah suatu keniscayaan. Regulator perlu selalu berada di dekat inovasi. Iklim berusaha yang kondusif perlu terus dirangsang tumbuh untuk mendorong ekonomi, namun dengan tetap memerhatikan kehati-hatian.Pemerintah telah mengeluarkan Paket Kebijakan Jilid 14 mengenai ekonomi digital. Langkah ini perlu didukung oleh otoritas lain.

Bank Indonesia juga telah mendirikan BI Fintech Office pada pertengahan November 2016. BI Fintech Office salah satunya ditujukan sebagai katalisator/fasilitator bagi ide pengembangan inovasi di bidang Fintech, selain juga melakukan kajian dan penilaian serta pemetaan atas potensi dan manfaat Fintech.Kegiatan usaha Fintech menyentuh wilayah yurisdiksi beberapa regulator, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Keuangan, Kemenko Perekonomian, hingga wilayah penegak hukum.

Untuk itu, kesamaan pandang antar otoritas dan regulator sangat penting. Tentu saja komunikasi dengan pelaku industri Fintech, baik melalui Asosiasi Fintech Indonesia maupun industri perbankan, perlu terus dilakukan agar berbagai inovasi dapat tumbuh positif.Melihat kisah sukses pertumbuhan Fintech di negara lain, kunci kemajuannya adalah pada koordinasi dan kerja sama antarelemen di negara tersebut dalam mendukung tumbuhnya ekosistem Fintech. Dengan koordinasi yang erat dan visi yang sama, kita optimistis Fintech di Indonesia dapat tumbuh positif, mampu menjadikan sistem keuangan lebih efisien, mendorong pertumbuhan, memperluas kesempatan kerja, dan menebar manfaat secara luas pada perekonomian.

Junanto Herdiawan

Plt Kepala Fintech Office Bank Indonesia

Menjadikan Rupiah Berdaulat di NKRI

Gunakan Rupiah Untuk Transaksi di NKRI

Gunakan Rupiah Untuk Transaksi di NKRI

tulisan ini dimuat pula di Harian Kompas, Kolom Opini hal 7, tanggal 27 Juni 2015

Rupiah stabil dan berdaulat adalah harapan kita semua. Meski demikian, kenyataan tak selalu berjalan seiring dengan harapan. Beberapa waktu terakhir kita justru menyaksikan sendiri bagaimana nilai tukar Rupiah tertekan. Alasan utama yang kerap disampaikan adalah karena faktor eksternal, sehubungan dengan rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed. Hal tersebut mengakibatkan Dolar AS menguat terhadap berbagai mata uang lain di dunia, termasuk Rupiah.

Dengan sistem nilai tukar mengambang yang kita anut saat ini, nilai tukar Rupiah ditentukan oleh besarnya permintaan dan penawaran. Ini artinya, apabila permintaan dolar AS lebih tinggi, secara alamiah nilai Dolar akan menguat terhadap Rupiah. Dari sini dapat kita lihat bahwa kalau kita ingin menjadikan Rupiah lebih stabil dan menguat, langkahnya sederhana, yaitu kurangi permintaan dolar, tingkatkan permintaan atau penggunaan Rupiah.

Namun masalahnya tentu tak sesederhana itu. Sejak tahun 2011, kondisi di pasar valuta asing (valas) kita diwarnai oleh lebih tingginya permintaan valas, terutama dolar AS, daripada pasokannya. Hal tersebut menyebabkan Rupiah secara signifikan terus tertekan. Tingginya permintaan Dolar AS itu didasari oleh beberapa alasan, antara lain untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, dan penjualan barang jasa dalam satuan valuta asing.

Repotnya, guna memenuhi kebutuhan valas di dalam negeri, sekitar 80 persen pelaku pasar masih bertransaksi di pasar spot, atau melakukan penjualan dan pembelian secara tunai atau langsung. Baru sekitar 20 persen pelaku pasar yang melakukan transaksi derivative, seperti forward atau swap. Selain itu, baru sekitar 26 persen pelaku transaksi valas yang melakukan lindung nilai (hedging). Tentu saja, kondisi seperti di atas dapat menyebabkan pelaku pasar rentan terhadap risiko nilai tukar yang bergejolak, serta dapat menimbulkan kerentanan pada kondisi makroekonomi.

Di sisi lain, kebutuhan pembayaran utang luar negeri kita juga meningkat. Hal ini seiring dengan jumlah utang luar negeri yang meningkat signifikan. Di tahun 2005, utang luar negeri swasta mencapai sekitar 80 miliar dolar AS. Di tahun 2015, atau sepuluh tahun kemudian, jumlahnya mencapai sekitar 160 miliar dolar AS. Rasio pembayaran utang luar negeri swasta terhadap pendapatan ekspor, atau yang dikenal dengan istilah Debt Service Ratio (DSR) juga meningkat, dari sekitar 15 persen di tahun 2007, menjadi sekitar 54 persen di tahun 2015. Kondisi ini juga mengakibatkan tekanan pada nilai tukar Rupiah dan kerentanan makroekonomi.

Selain kedua faktor di atas, secara geoekonomi, kita melihat kecenderungan meningkatnya pemakaian mata uang asing, khususnya dolar AS, dalam berbagai transaksi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam praktik sehari-hari, masih banyak masyarakat Indonesia yang enggan menggunakan Rupiah dan cenderung memilih menggunakan mata uang asing.

Hal itu terlihat dari tingginya transaksi mata uang asing di wilayah NKRI yang dilakukan antar penduduk Indonesia non bank. Bayangkan, transaksi dolar AS tersebut jumlahnya mencapai 7,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp78 Triliun setiap bulan. Hal ini berarti sekitar Rp 936 Triliun per tahun. Sementara itu, perputaran uang kertas asing (UKA) di Indonesia mencapai sekitar Rp 10 triliun per bulan.

Tingginya transaksi dalam dolar atau “Dolarisasi” tersebut telah merambah ke segala sektor ekonomi, mulai dari sektor migas, pelabuhan, tekstil, manufaktur, hingga perdagangan. Fenomena penggunaan mata uang asing di wilayah NKRI tak bisa dipandang sebagai konsekuensi dari liberalisasi, namun bisa juga dilihat sebagai bentuk “ancaman” atau soft invasion terhadap kedaulatan politik dan ekonomi suatu negara.

Pengalaman beberapa negara di Amerika Latin, Karibia, dan Pasifik, membuktikan bahwa sikap permisif pada penggunaan mata uang asing di dalam negeri pada akhirnya justru menggusur peran mata uang lokal. Ada premis yang mengatakan bahwa mata uang yang kuat akan menggeser yang lemah. Tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi di NKRI.

Beberapa kebijakan perlu ditempuh untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas. Pertama, perlunya upaya melakukan pendalaman pasar keuangan. Langkah ini perlu dilakukan agar pelaku pasar memiliki lebih banyak instrumen dan kemudahan dalam bertransaksi, sehingga mengurangi risiko atau kerentanan. Kedua, perlunya monitoring yang ketat terhadap utang luar negeri, khususnya di sektor korporasi atau swasta. Utang luar negeri swasta yang tidak terkendali akan meningkatkan risiko nilai tukar, likuiditas, dan terlalu banyak berutang (over leveraging).

Ketiga, dan yang tak kalah pentingnya, adalah perlunya masyarakat untuk mendukung langkah penggunaan mata uang Rupiah untuk bertransaksi di wilayah NKRI. Kita tentu tak ingin mata uang asing berkuasa atau lebih dihargai di negara ini. Undang-undang Mata Uang No 7 Tahun 2011 serta Peraturan Bank Indonesia No 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah NKRI telah secara tegas mengatur mengenai penggunaan Rupiah tersebut.

Menjadikan Rupiah sebagai mata uang yang stabil dan berdaulat memang bukan langkah mudah. Tekanan terhadap Rupiah ditentukan oleh banyak hal yang saling berkelindan. Langkah meningkatkan produktivitas ekonomi tidak dapat ditawar lagi. Namun di sisi lain, upaya menjadikan Rupiah berdaulat di negeri sendiri juga perlu didukung. Mata Uang Rupiah adalah salah satu simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Kita pernah memiliki pengalaman pahit saat lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan dari NKRI. Salah satu alasan yang muncul pada waktu itu adalah karena Rupiah tidak lagi digunakan untuk bertransaksi di sana.

Junanto Herdiawan

Deputi Direktur, Departemen Komunikasi Bank Indonesia

 

 

Ketupat Sayur, Cinta, dan Perjuangan

Bersama Uni Linda di depan Kedainya

Bersama Uni Linda di depan Kedainya

Saya punya tempat makan ketupat sayur favorit di Pasar Tebet Barat. Letaknya di lantai dua. Namanya Warung Ketupat Sayur Uni Linda. Ketupat Sayur, atau Katupe Sayur dalam bahasa Minang, buatan Uni Linda ini menurut saya spesial. Bukan hanya soal rasa, tapi soal cerita di balik ketupat sayur ini.

Bagi Uni Linda, ketupat sayur bukan hanya makanan, tapi juga menyimpan cinta, passion, dan akar kehidupan. Baginya, membuat ketupat sayur adalah mahakaryanya untuk kehidupan.

Kalau melihat dari sisi tampilan, ketupat sayur di warung ini sebenarnya biasa saja. Sebagaimana ketupat sayur pada umumnya, setelah diiris-iris, ketupat disiram kuah sayur serta pilihan telur atau rendang. Di atasnya kemudian ditaburkan kerupuk pink, kerupuk khas ketupat sayur padang.

Satu hal kecil yang dilakukan Uni untuk menambah rasa signifikan adalah mencelupkan saus kacang ke dalam kuah ketupat sayur. Ketika kita mengaduk kuah tersebut, paduan rempah, bumbu sayur, dan saus kacang, langsung tersublimasi menambah sensasi rasa.

Uni Linda berasal dari Batu Sangkar. Dengan demikian ketupat sayur yang dibuatnya berbeda dengan Ketupat Sayur Pariaman. Umumnya, ketupat Padang Pariaman lebih melekoh kuahnya, menggunakan sayur paku (pakis), dan menonjol pedasnya. Sementara Uni Linda, tidak menggunakan sayur pakis, melainkan hanya sayur nangka. Rasa kuahnya juga tidak melekoh atau menonjol pedas.

Memang agak aneh buat sebuah masakan Padang kalau tidak pedas. Namun ini soal selera Uni. “Iyo, uni ini urang Padang tapi ga suka pedas”, demikian ujar Uni Linda. Jadilah ia mengkomposisi ketupat sayurnya dengan rasa netral. Sambal ditawarkannya bagi mereka yang ingin menambah level kepedasan.

Katupe Sayur Uni Linda, Pasar Tebet Barat

Katupe Sayur Uni Linda, Pasar Tebet Barat

Sambil makan, saya ngobrol dan bertukar cerita dengan Uni Linda. Di sinilah saya mengetahui bahwa Ketupat Sayur bagi Uni bukan sekedar makanan, tapi juga sebuah wilayah tempat dirinya menuangkan cinta dan kehidupan.

Awalnya, Uni mencari mata pencaharian sebagai penjual pakaian di Pasar Tebet. Hal itu terjadi pada tahun 1986.  Kehidupan sebagai penjual pakaian dirasakannya kurang menjanjikan, sementara passionnya adalah memasak. Lalu di awal tahun 1990-an, mulailah Uni Linda berjualan ketupat sayur.

Kejadian yang cukup berat baginya adalah saat ia ditinggal suaminya sekitar sepuluh tahun lalu. Ia harus menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil. Namun Uni Linda selalu percaya, bahwa rejeki ada yang mengatur. Kuncinya adalah mengerjakan sesuatu yang ia cintai. Dan ia mencintai ketupat sayur.

Dari ketupat sayur buatannya itu , ia mampu membesarkan anak-anaknya. Satu hal luar biasa, anak sulungnya mampu menyelesaikan kuliah di jurusan Arsitek Universitas Diponegoro, dan kini sudah bekerja di salah satu pengembang besar Jakarta. Anak sulungnya dianggap sudah mandiri dan memiliki kehidupan layak dalam kelas menengah Indonesia. Sementara anak keduanya sebentar lagi lulus dari Akademi Sekretaris.

Uni Linda selalu mensyukuri hidupnya. Saat saya tanya soal isu politik, ekonomi, dan hal-hal yang lagi trending topic saat ini, Uni Linda hanya bergumam, itu adalah dinamika kehidupan saja. Ia tak ambil pusing.

Baginya, yang paling penting adalah bekerja dan berkarya sesuai hati nurani, atau passion, lalu memberi manfaat bagi orang lain. Saya jadi teringat kutipan dari Steve Jobs, “The only way to do a great work, is to love what you do”, atau satu-satunya cara menghasilkan karya besar, adalah mencintai pekerjaan kita.

Dari katupe sayur Uni Linda, saya belajar. Bukan jenis pekerjaan yang menentukan seseorang itu berharga, tapi pada cinta, karya, dan manfaat yang diberikannya. Bagaimana kita bisa bermanfaat, kalau tidak mencintai apa yang kita kerjakan, bukan? …..  Salam.

Selamat Menikmati Ketupat Sayur

Selamat Menikmati Ketupat Sayur

Uniknya Thanksgiving di Banyuwangi

Joanne, kawan dari Konjen AS di Surabaya, menyajikan Kalkun Thanksgiving

Joanne, kawan dari Konjen AS di Surabaya, menyajikan Kalkun Thanksgiving

Akhir pekan ini, saya diundang oleh Konsul Jendral Amerika Serikat (AS) di Surabaya, Pak Joaquin Monserrate, untuk menghadiri perayaan Tradisi Thanksgiving (Hari Bersyukur) di Kota Banyuwangi. Untuk pertama kalinya Kedutaan Besar AS di Indonesia dan Konjen AS di Surabaya menyelenggarakan tradisi Thanksgiving di Kota Banyuwangi. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, menyediakan pendoponya khusus bagi acara Thanksgiving tersebut. Sementara di luar pendopo, ia mengadakan pesta rakyat. Ada pergelaran seni, musik, bazaar aneka produk, dan tentunya kuliner gratis bagi rakyat Banyuwangi. Malam itu, Kota Banyuwangi berpesta.

Tradisi Thanksgiving, yang setiap tahun jatuh pada pekan keempat bulan November, dilakukan oleh bangsa Amerika sebagai rasa bersyukur pada Tuhan, dan berkumpul bersama keluarga. Acara dihadiri langsung oleh Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert O. Blake. Selain itu, hadir juga Menteri Pariwisata Arief Yahya, Yenny Wahid, beberapa tokoh dan artis, serta perwakilan masyarakat AS di Indonesia.

Dubes Blake mengatakan bahwa dipilihnya Banyuwangi adalah karena “keajaiban” kota kecil itu. Ia mendengar banyak kisah tentang kepemimpinan yang hebat di daerah-daerah Indonesia. Tapi baru kali ini ia melihat dengan mata kepala sendiri, betapa kisah itu benar-benar nyata di lapangan. Sebelum acara makan malam Thanksgiving, Bupati Azwar Anas memang mengajak Dubes AS untuk melihat kotanya, bertemu rakyatnya, agar bisa melihat bagaimana pembangunan dilakukan di kota Banyuwangi.

Dalam rangkaian Thanskgiving, Kedubes AS juga mengadakan acara lain, seperti mengundang sekitar 25 Bupati yang dinilai progresif dari kawasan timur Indonesia, dan mempertemukan mereka dengan Rajawali Foundation. Para bupati tersebut akan diberikan kesempatan untuk maju dan belajar di beberapa universitas terkemuka di AS. Selain itu Dubes AS juga melakukan berbagai kegiatan sosial, seperti membersihkan sampah di pantai, menanam koral, hingga melakukan dialog dengan anak sekolah di Taman Sritanjung Banyuwangi.

Dubes AS Robert Blake dan Konjen AS di Surabaya Joaquin Monseratte, menyajikan kalkun bagi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas / photo junanto

Dubes AS Robert Blake dan Konjen AS di Surabaya Joaquin Monseratte, menyajikan kalkun bagi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas / photo junanto

Acara Thanksgiving di Pendopo Kota Banyuwangi menggambarkan sebuah akulturasi tradisi yang unik antara AS dan Indonesia. Di AS, Thanksgiving mirip dengan lebaran di Indonesia. Pada hari itu, masyarakat AS bersyukur akan nikmat yang diberikan Tuhan, mereka berkumpul bersama keluarga. Setiap Thanksgiving juga, masyarakat Amerika melakukan tradisi mudik. Orang AS yang bekerja di kota atau luar negeri umumnya pulang kampung di Hari Thanksgiving untuk berkumpul bersama keluarga.

Selain itu yang menarik, kalau saat lebaran di Indonesia ada Opor Ayam, maka saat Thanksgiving di Amerika, ada Kalkun Panggang. Di Amerika, setiap Thanksgiving, banyak kalkun yang dipotong untuk sajian. Namun Presiden Obama memiliki satu tradisi untuk “mengampuni” satu kalkun agar tidak dipotong tahun itu. Nah, malam tadi, Dubes Blake dan Bupati Banyuwangi, juga melakukan tradisi “mengampuni” satu kalkun. Seekor kalkun dibawa ke depan, dan secara resmi diampuni oleh Dubes, tidak ikut dipotong sebagai makan malam. Hadirin ikut tertawa dan bertepuk tangan menyaksikan tradisi tersebut.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, yang juga ikut hadir, menyatakan kekagumannya pada Bupati Azwar Anas. Kota Banyuwangi, yang sekitar 5-6 tahun lalu tidak dilirik orang, kini menjadi trending topic di mana-mana. Aneka festival digelar, penerbangan dibuka, infrastruktur diperbaiki, dan sanitasi dibangun. Itu yang seharusnya dilakukan oleh Pemerintah Kota. Ia menyebutkan bahwa dengan upaya yang dilakukan Bupati Anas, kunjungan wisatawan domestik ke Banyuwangi dalam tiga tahun terakhir ini, naik 500 persen.

Namun tentunya jumlah kunjungan masih belum signifikan, atau masih harus ditingkatkan lagi. Oleh karena itu, upaya terus membenahi infrastruktur menjadi sangat penting. Membangun kesiapan masyarakat untuk menerima banyaknya wisatawan juga penting.

Usai Thanksgiving, pada hari Sabtu (22/11), Bupati Anas mengundang seluruh tamu untuk menyaksikan Banyuwangi Ethnics Carnival (BEC). Pada prinsipnya ini adalah karnaval fashion. Namun yang membedakan BEC dengan karnaval lainnya adalah karena BEC lebih mengangkat lokalitas Banyuwangi dan menambah dengan unsur tarian.

Untuk itu, tema BEC tahun ini adalah “Mystical Dance of Seblang”. Seblang adalah ritual suku Osing Banyuwangi. Seblang singkatan dari “Sebele Ilang” atau “Sialnya Ilang”. Ini adalah ritual mistik untuk menolak bala bagi masyarakat agraris Banyuwangi. Jadi selain fashion, ditampilkan pula ritual Seblang dengan menggunakan penari-penari yang “trance” saat mereka menolak kekuatan jahat. Menteri Pariwisata, Menteri Sosial, Dubes AS, Konjen AS di Surabaya, terlihat menikmati penampilan kreasi seni masyarakat di Carnival tersebut.

Banyuwangi memang luar biasa. Bupati Anas telah mengubah citra Banyuwangi, dari “Kota Santet” menjadi Kota Wisata dan “Digital Society”. Penuh festival, jadi tuan rumah Thanksgiving, dan tentu saja sinyal internetnya bagus. Semoga semakin banyak muncul kota-kota seperti Banyuwangi.

Bertemu Mbak Ayu Azhari di acara Thanksgiving Banyuwangi

Bertemu Mbak Ayu Azhari di acara Thanksgiving Banyuwangi

 

Jazz Gunung 2014 Kembali Hangatkan Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Jazz Gunung 2014 terlihat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain keunikan tema, yaitu Sedekah Bumi, pengunjung yang datang tahun ini sungguh membludak. Tema Sedekah Bumi, menurut Sigit Pramono, salah satu penggagas Jazz Gunung yang juga Ketua Perbanas, mengajak masyarakat untuk kembali ke alam. Kita sudah banyak mengambil dari alam, saatnya kita mengembalikan benih kebaikan pada alam.

Sigit mengajak kita semua untuk mencintai lingkungan, tidak merusak alam, dan jangan membuang sampah sembarangan. Sedekah Bumi juga bisa dilakukan dengan Bunyi. Di sinilah bunyi musik jazz yang menyatu dengan alam memberi makna pada keindahan dan kesejukan udara di pegunungan Bromo tadi malam.

Ya, di bawah udara sejuk pegunungan, secangkir kopi hangat, dan sederetan penyanyi terkenal, menyaksikan jazz gunung bagai ritual yang harus saya lakukan setiap tahun di Gunung Bromo.

Tahun 2014 ini adalah kali keenam event Jazz Gunung digelar di Bromo. Semakin tahun pengunjung yang datang semakin ramai, dan jazz gunung mulai terdengar hingga mancanegara. Semalam (21/6), pengunjung membludak hingga sekitar 1700 orang. Pergelaran yang diselenggarakan di Amphitheater Java Banana Bromo, Kabupaten Probolinggo, sejak tanggal 20 hingga 21 Juni 2014 tersebut, sungguh penuh sesak dengan penonton.

Hawa dingin pegunungan yang menusuk tidak menghalangi meriahnya para penonton dan pemusik untuk menghangatkan malam. Tahun ini, udara cerah hingga pertunjukkan usai. Berbeda dengan tahun lalu, yang sempat turun hujan sehingga pertunjukan sempat dihentikan sementara, semalam pertunjukan berjalan lancar di bawah gemerlap langit berbintang.

Pertunjukan Jazz Gunung bagi saya sungguh sangat menghibur dan menyenangkan. Pembawa acara adalah ruh dari hidupnya petunjukan malam itu. Butet Kartaredjasa, bersama dengan Alit dan Gundhi tampil luar biasa, lucu menghibur melontarkan ceplosan yang ringan tapi menyentil ke sana sini, mulai dari pemerintah, khususnya pembangunan infrastruktur akses Bromo, para pemusik, hingga suasana menjelang pilpres saat ini.

Beberapa artis yang tampil di Jazz Gunung 2014 selama dua hari kemarin juga bukan sembarangan. Di hari kedua, saya terkesan dengan penampilan dari Nita Aartsen Quatro dan Yeppy Romero, yang tampil sungguh ciamik. Kecepatan tangan Nita di atas piano membawakan musik klasik yang dikomposisi bernuansa latin mampu menghibur penonton. Tembang Turkish March klasik, lagi Chick Korea dibawakan dengan piawai. Yeppy Romero tampil membawakan gitar klasik ala penyanyi Spanyol. Dengan jubah merahnya, petikan gitarnya membawa penonton ke dalam suasana kota Madrid di tengah pertandingan para matador.

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Djaduk Ferianto bersama Ring of Fire Project adalah highlight malam itu. Mereka tampil bersama Nicole Johänntge, seorang saxophonist dari Jerman. Nicole tampil sungguh luar biasa. Tiupan saxophone, mengiringi musik Djaduk, membius penonton. Lagu-lagu, seperti Ritme Khatulistiwa, dibawakan secara dinamis, saling bersahutan antara perkusi tradisional dengan tiupan saxophone Nicole.

Puncak acara malam terakhir Jazz Gunung 2014 adalah penampilan ESQI:EF – Syaharani and Queenfireworks. Di bawah udara yang semakin dingin menusuk, Syaharani membakar para penonton. Diawali lagu lembut lawas “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”, ia mulai menghentak dengan lagu-lagu berirama riang dari album-albumnya. Penonton ikut terbakar, menyanyi, bergoyang bersama. Meriah, sungguh meriah.

Saat lagu “Happy” dari Pharrel William dinyanyikan juga oleh Syaharani, penonton semakin bergairah. Mereka bersahut-sahutan dan saling menari ke kiri dan ke kanan.

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Jazz Gunung tahun 2014 ini terhitung sukses dan semakin menyematkan diri sebagai satu dari sekian pertunjukan musik di Indonesia yang punya kelas internasional. Bintang lain yang tampil tahun 2014 ini antara lain adalh The Overtunes, Monita Tahalea & The Nightingales, , Indro Hardjodikoro The Fingers, Bintang Indrianto Trio, Jazz Ngisoringin, serta Sanggar Genjah Arum Banyuwangi.

Satu lagi yang membuat pertunjukan kali ini berbeda adalah kehadiran pak Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, untuk menyaksikan Jazz Gunung kali ini. Bersama pak Sigit, saya sempat berbincang singkat, dan pak Bupati menyampaikan maksudnya untuk memboyong Jazz Gunung ke Banyuwangi. Ya, bulan November nanti, Banyuwangi akan menggelar juga pertunjukan jazz semacam ini, di pantai Banyuwangi.

Ini adalah sebuah berita bagus. Apabila beberapa daerah mampu menyelenggarakan event-event berkelas internasional, dan mendatangkan berbagai artis lokal maupun global, ekonomi kreatif Indonesia akan semakin tumbuh. Bukan hanya di pusat, tapi juga di daerah-daerah.

Jazz Gunung adalah sebuah penanda, semoga ia bisa menebarkan semangat kreativitas, dan kepedulian, ke seluruh daerah di Indonesia. Salam semangat.

 

Kopi Bondowoso Mendunia

Bersama Mat Husen, Petani Kopi Sukses di Ijen Raung

Bersama Mat Husen, Petani Kopi Sukses di Ijen Raung

“Kopi Bondowoso mengguncang dunia. Ini bukan khayalan pak, tapi kenyataan!”, demikian dikatakan oleh Mat Husein dan Pak Sukarjo kepada saya saat berkunjung ke perkebunan kopinya di lereng gunung Raung, Bondowoso, Jawa Timur. Mat Husein adalah satu dari sekitar 37 Kelompok Tani Kopi di Bondowoso yang merasakan perubahan nasib setelah mereka meningkatkan standar olahan kopinya.

Sekitar lima tahun lalu, Mat Husein dan kawan-kawannya hanyalah petani kopi miskin, yang produk olahan kopinya dihargai rendah oleh pasar. Padahal di lahan seluas 2400 hektar, mereka menanam kopi jenis Robusta dan Arabika unggulan. Proses tata niaga yang panjang, sistem ijon yang tidak menguntungkan, menjadikan para petani kopi harus rela apabila kopinya dihargai dengan sangat rendah oleh para tengkulak.

Adalah Pemerintah Kota Bondowoso, dengan menggandeng berbagai elemen, yang bertekad untuk menjadikan Kopi Bondowoso menembus pasar dunia, dan mengangkat nasib petani. Bekerjasama dengan Asosiasi Petani Kopi, Bank Indonesia Jember, Bank Jatim, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Masyarakat Indikasi Geografis, dan PT Indocom Citra Persada, Pemerintah Kota Bondowoso sejak tahun 2010 melakukan studi untuk memperbaiki proses pengolahan dan tata niaga kopi.

Selama empat tahun, para petani kopi di Gunung Raung dibina dan dilatih untuk mengolah kopi dengan standar internasional. Sebelumnya, pengolahan kopi dilakukan secara tradisional. Kopi dijemur di tanah atau aspal sehingga rasanya bercampur tanah. Pemilahan kopi matang dan mentah juga tidak dilakukan, sehingga kualitas biji kopi jadi rendah.

Ketujuh elemen tersebut kemudian bersinergi memperbaiki proses pengolahan, penyediaan infrastruktur seperti gudang dan pengairan, hingga tata niaga. Saya menyaksikan sendiri bagaimana kopi di Gunung Raung ini diolah secara teliti dan rapi. Kualitasnya pun kini sudah mendapat sertifikasi internasional. PT Indocom juga langsung membeli biji kopi dari petani untuk diekspor, sehingga memotong proses panjang rantai distribusi.

Bank Indonesia Jember membantu menyediakan pipanisasi sepanjang lima kilometer untuk mencuci dan membersihkan kopi. Sebelumnya, air yang digunakan harus berbagi dengan warga sehingga akibatnya kopi tidak tercuci bersih karena kekurangan air.

Hasilnya, kini para petani kopi Gunung Raung bisa mengekspor biji kopi sebanyak 300 ton setahun ke mancanegara (dari potensinya sebesar 6000 ton). Kopi, yang diberi label Ijen Raung Coffee itu, diekspor ke berbagai negara Eropa seperti Belanda, Italia, Swiss, juga ke Australia, Jepang, dan Amerika. Bahkan menurut Asisten Ekonomi Pemerintah Kota Bondowoso, gerai Starbucks di Amerika Serikat sudah menggunakan kopi Bondowoso untuk jenis Java Coffe-nya.

Petani Kopi di Ijen Raung melakukan proses pengolahan kopi/ photo junanto

Petani Kopi di Ijen Raung melakukan proses pengolahan kopi/ photo junanto

Menurut mas Joko dari Puslit Kopi dan Kakao, Java Coffee yang ada di mancanegara dapat dipastikan berasal dari Gunung Raung Bondowoso ini. Ia menceritakan ada seorang Belanda yang pernah mencicipi secangkir kopi di Italia. Saking terkesannya, ia kemudian mencari asal kopi yang nikmat itu. Ia melakukan perjalanan mencicipi kopi di berbagai wilayah nusantara. Dari Aceh hingga Toraja. Tapi baru ia temukan kopi yang sama dengan yang dicicipinya di Italia, saat sampai di Bondowoso. Ia kemudian menjadi pembeli tetap produk Kopi Ijen Raung Bondowoso.

Dari sisi petani kopi, perbaikan taraf hidup juga dirasakan langsung oleh para petani kopi di Bondowoso. Saya bertanya pada Pak Sukarjo, yang telah menjadi petani kopi sejak tahun 1986. Seperti Mat Husein, Pak Sukarjo kini bangga dengan pencapaian kopi Bondowoso. Sejak empat tahun terakhir ini, penghasilan dan taraf hidup mereka meningkat. Ekspor kopi ke mancanegara telah mengubah kehidupan di desa mereka.

Pengangguran juga berkurang karena industri pengolahan kopi melibatkan banyak tenaga kerja, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Pada gilirannya, kemiskinan juga berkurang signifikan di Bondowoso. Tak heran bila pada tahun 2014 ini, Bondowoso mendapat penghargaan dari Gubernur Jatim atas kebijakannya yang pro-poor karena mampu menurunkan tingkat kemiskinan.

Tapi pak Sukarjo tak puas dengan penghargaan. “Kalau soal penghargaan sih pak, sejak jaman Presiden Soeharto saya sering diberi penghargaan”, demikian ujarnya sambil menyebutkan sederet penghargaan karena dedikasinya sebagai petani kopi.

“Bukan penghargaan yang saya cari. Tapi saya ingin Kopi Bondowoso ini mengguncang dunia, menembus pasar dunia, dikenal banyak orang. Karena ini adalah biji kopi terbaik dunia !”, demikian ucapnya dengan nada bicara yang bergetar menahan haru.

Pak Karjo dan Mat Husein adalah contoh para pejuang ekonomi yang punya idealisme tinggi. Mereka bukan sekedar mengolah dan menjual kopi. Tapi punya cita-cita bagaimana agar kopi Indonesia bisa  terus mendunia, dan tentunya nasib petani kopi bisa meningkat lebih baik.

Kopi Ijen Raung menjadi contoh klaster kopi yang sukses di Indonesia. Pengelolaan yang dilakukan secara “keroyokan”, saling bersinergi antar berbagai elemen, bisa menjadi contoh bahwa penyelesaian masalah bangsa ini membutuhkan kerjasama, sinergi, dan saling menghargai. Semoga klaster ini bisa menginspirasi berbagai daerah dan wilayah lainnya untuk memperkuat komoditas-komoditas unggulannya, dan memperbaiki taraf hidup para petani.

Salam Kopi.

Flying Traveler in Washington DC

Mid May, it was a perfect day in Washington DC. I was strolling around The National Mall and have a good experience seeing all the monuments and historic buildings. It is always my desire to do levitation in such an interesting place. So, I did some levitation photos in Washington DC. I started to do levitation at the Washington Monument, Capitol Hill, and walk around to Library of Congress, and White House. My friend, Dony, took my levitation pictures. Please enjoy, here are some of my levitation pictures, during my short trip to DC. Thank you for stopping by.

PS. levitation pictures taken with no app, no photoshop, no trick. It is purely levitation skills.

Levitation at Washington Monument

Levitation at Washington Monument

Flying around the "No Fly Zone"

Flying around the “No Fly Zone”

Flying Traveler on a mission: Secret Service Levitation

Flying Traveler on a mission: Secret Service Levitation

The Library of Congress

The Library of Congress

The Capitol Hill Levitation

The Capitol Hill Levitation