Mencetak Uang di Jepang

Kampanye Uang Kertas di Jepang / photo junanto

Selama tinggal di Jepang, saya jarang sekali menemukan uang lusuh atau lecek. Meski menerima uang kembalian dari pasar ikan sekalipun, uang kertas Yen yang saya terima umumnya masih bersih dan lurus. Hal ini berbeda dengan di negeri kita, yang masih banyak ditemukan uang lusuh saat kita bertransaksi.

Menjaga uang agar tetap bersih, atau istilah tekhnisnya “layak edar”, tidaklah mudah. Secara kelembagaan hal tersebut menjadi tugas dari bank sentral. Namun dalam pelaksanaannya, budaya dan kebiasaan masyarakat turut mendukung, bahkan menjadi hal yang terpenting. Masyarakat Jepang sangat mencintai keindahan dan kebersihan. Mereka jarang sekali melipat-lipat uang kertasnya, karena takut merusak keindahannya.

Budaya menghargai keindahan itu tercermin pula di setiap aspek kehidupan masyarakat Jepang yang serba rapi dan teratur. Kultur tersebut ternyata berdampak pula pada pengelolaan uang kertas di Jepang.

Hal tersebut terungkap saat saya mendampingi Deputi Gubernur BI, Ronald Waas, yang menangani urusan pengedaran uang di Bank Indonesia, ketika berdiskusi dengan Executive Director, Kinoshita, dari Bank of Japan (BoJ) dan pejabat dari National Printing Bureau (NPB), pekan lalu (14-16 Mei 2012).

Diskusi Deputi Gubernur BI dengan Bank of Japan / photo junanto

Di Jepang, kebijakan pencetakan dan pengedaran uang menjadi wewenang Bank of Japan sebagai bank sentral, berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dan National Printing Bureau of Japan (semacam Peruri di Indonesia). Bank of Japan berlaku sebagai otoritas yang mengeluarkan uang kertas dan melakukan kebijakan untuk memastikan kestabilan pasokan uang, dan menjaga kepercayaan publik pada uang. Sementara penerbitan uang koin dilakukan oleh Kementrian Keuangan Jepang. National Printing Bureau berperan melakukan pencetakan uang berdasarkan pesanan dari BoJ.

Meski terkenal sebagai negara industri maju, masyarakat Jepang terkenal masih suka menggunakan uang kas dalam transaksi sehari-hari. Jepang memang terkenal sebagai cash society karena penggunaan uang kas yang tinggi. Dibanding negara maju lain, seperti AS, Eropa, atau Inggris, angka peredaran uang kas di Jepang masih paling tinggi. Jumlah uang kertas yang diedarkan (money in circulation) di Jepang mencapai 18 persen dari PDB, sementara di Amerika Serikat hanya sekitar 6 persen.

Tingginya uang beredar tersebut menuntut manajemen pengedaran uang yang efektif. Upaya menjaga kondisi uang agar tetap layak edar atau tidak lusuh menjadi penting. Untuk melakukan fungsi ini pula, selain di Nihonbashi, Bank of Japan juga memiliki Pusat Pengelolaan Uang Kas (Currency Centre) yang terletak di wilayah Toda, sekitar 30 menit dari Tokyo.

Toda Currency Center berfungsi menangani sistem pengedaran uang di Jepang. Uang kas dari masyarakat masuk ke Toda Currency Centre melalui sistem perbankan. Di sana, uang dipilah dan dilakukan pengecekan kembali. Uang yang lusuh ataupun palsu langsung diracik dengan mesin peracik.

Selanjutnya, BoJ mengganti uang lusuh tadi dengan mengeluarkan uang yang “layak edar” ke masyarakat, sehingga uang yang beredar senantiasa bersih. Satu hal menarik dari Toda Currency Centre adalah canggihnya tekhnologi full otomasi yang diterapkan. Toda Currency Centre memiliki sistem yang terintegratif dan dilengkapi dengan tekhnologi robotik untuk melakukan berbagai fungsi seperti sortasi dan peracikan uang kertas yang tidak layak edar.

Kultur masyarakat Jepang yang menjaga kebersihan uangnya terlihat dari rendahnya jumlah uang lusuh yang masuk ke BoJ. Selain itu, jumlah uang palsu di Jepang juga sangat rendah. Masyarakat Jepang sangat jarang melakukan kejahatan pemalsuan uang karena hal itu dianggap merugikan negara.

Namun upaya menjaga keamanan uang tetap dilakukan oleh Bank of Japan dan pihak National Printing Bureau. Berbagai fitur pengamanan (security features) dipasang di uang kertas Yen, baik pecahan 10.000, 5.000, 2.000, dan 1.000 Yen.

Dilihat dari security features, jumlah pengamanan di uang kertas Yen tidak sebanyak yang ada di uang kertas Rupiah. Rendahnya pemalsuan di Jepang menjadi salah satu alasan tersebut.

Selain melakukan upaya pengamanan, Bank of Japan dan National Printing Bureau melakukan langkah-langkah komunikasi yang baik tentang uang kertas Yen. Berbagai poster yang mengajak masyarakat menjaga kebersihan uang Yen dipasang dan disosialisasikan ke berbagai tempat dan sekolah.

Deputi Gubernur BI dan Vice President NPB mengamati security features uang / photo junanto

Masalah kultur memang memegang peranan penting. Namun sebagai otoritas, bank sentral dituntut juga untuk melakukan upaya maksimal dalam menjaga dan mengelola peredaran uangnya.

Secara umum, Deputi Gubernur Ronald Waas mengatakan bahwa isu dan aktivitas pengedaran uang di banyak negara memiliki kemiripan. Hal yang membedakan adalah tantangan lokal yang ditangani oleh masing-masing negara. Di sisi lain, pihak BoJ menyatakan kekagumannya dengan Bank Indonesia karena mampu melakukan langkah pengedaran uang di wilayah geografis Indonesia yang luas. Jepang ingin sekali mengetahui bagaimana Bank Indonesia dapat mengatasi tantangan pengedaran uang di negeri kepulauan yang luas seperti Indonesia. Alat transportasi dan pengamanan seperti apa yang digunakan oleh Bank Indonesia, menjadi hal menarik yang ingin diketahui oleh pihak BoJ karena mereka tidak memiliki pengalaman seperti itu.

Dari diskusi tersebut, Indonesia dan Jepang bisa saling belajar tentang bagaimana uang kertas dikelola dengan baik serta memahami tantangan lokalitas masing-masing negara. Banyak hal yang bisa diserap dan ditiru. Namun ada juga hal-hal yang bisa diterapkan di Jepang, tidak semerta-merta bisa diterapkan di Indonesia, karena  kultur dan karakteristik lokal di Indonesia yang tidak memungkinkan.

Oleh karena itu, tukar pikiran dan diskusi antar bank sentral menjadi penting sebagai upaya menambah wawasan, pengalaman, dan saling berbagi informasi sehingga dapat menjadi masukan bagi masing- masing negara dalam mengambil kebijakan.

Salam.