Teknologi Finansial dan Masa Depan Perbankan

Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian Kompas, 21 Februari 2017

Teknologi telah mengubah kehidupan kita dan mendisrupsi kemapanan berbagai sektor industri.Munculnya media daring, buku digital, hingga musik dan film yang bisa diunduh langsung dari internet telah mengguncang industri penerbitan dan musik. Beberapa media cetak dan perusahaan penerbitan yang tak mampu bersaing akhirnya menutup usaha. Kita juga melihat satu per satu toko kaset, cakram musik (compact disc), dan video (DVD) mulai menghilang dari pertokoan karena sepi peminat. Inilah yang dinamakan disrupsi teknologi.

Di dunia keuangan disrupsi ini juga tak terhindarkan. Gelombang munculnya para pelaku usaha rintisan (start up) di bidang layanan keuangan digital atau yang umum disebut dengan istilah financial technology (fintech) telah menimbulkan waswas dari industri petahana, dalam hal ini perbankan. Pelaku usaha rintisan di bidang teknologi finansial (tekfin) atau fintech telah mengubah cara masyarakat dalam membayar, mengirim uang, memperoleh pinjaman, hingga berinvestasi.

Masyarakat kini tak perlu repot datang ke bank karena layanan perbankan telah ada dalam genggaman tangan mereka. Ini yang dulu dikatakan Bill Gates, pendiri Microsoft, bahwa masyarakat sebenarnya tidak membutuhkan bank, yang mereka butuhkan adalah layanan bank.

Perusahaan tekfin hadir menawarkan berbagai layanan yang sebelumnya hanya dapat diberikan oleh bank. Melalui platform digital, masyarakat yang berbelanja daring kini bisa memanfaatkan pembayaran cukup melalui dompet elektronik.Untuk memperoleh pinjaman, masyarakat kini juga dapat melakukannya secara mudah melalui layanan peer-to-peer (P2P) lending yang menghubungkan langsung pemilik dana dengan yang membutuhkan dana.Bagi konsumen, tekfin memperluas pilihan terhadap akses produk atau layanan jasa keuangan dan mampu menurunkan harga.

Bagi masyarakat, tekfin memperpendek rantai transaksi, meningkatkan inklusi keuangan, dan memperlancar arus informasi. Bagi perekonomian, tekfin dapat mempercepat transmisi kebijakan moneter karena biaya transaksi menurun dan meningkatkan velositas perputaran uang.

Dilihat dari statistik, pertumbuhan perusahaan tekfin di Indonesia terhitung signifikan. Sampai akhir 2016, tercatat 156 perusahaan bergerak di bidang tekfin. Total nilai transaksi tekfin tahun 2016 di Indonesia, menurut data Statista, diperkirakan menembus 15,02 miliar dollar AS, tumbuh 24,6 persen dari 2015.

Bagaimana menyikapi?Menghadapi perkembangan yang begitu pesat, bagaimana perbankan perlu bersikap? Dan bagaimana peran regulator? Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan melihat respons perbankan beberapa tahun terakhir. Sampai dengan saat ini, perbankan masih merupakan pemain utama di jasa keuangan.

Perusahaan tekfin juga masih menggunakan bank sebagai landasan transaksinya. Jika dilihat sejarahnya, bank selama ini menjadi motor bagi inovasi teknologi dengan menginisiasi mulai dari cek, kartu kredit, kartu debet, mesin anjungan tunai mandiri (ATM), hinggainternet banking.

Namun, kini perbankan sudah bukan lagi satu-satunya pemain dalam industri jasa keuangan. Kemudahan akses dan kenyamanan adalah dua hal yang ditawarkan perusahaan tekfin. Jika kita lihat, fungsi utama bank adalah menerima simpanan, memberikan pinjaman, dan memfasilitasi pembayaran.

Fungsi itu secara terpisah sudah dapat dilakukan oleh perusahaan tekfin melalui generasi baru teknologi digital. Perusahaan tekfin menawarkan berbagai layanan bank tersebut secara terpisah. Fenomena ini yang dinamakan dengan kecenderungan unbundling the businessatau tekfin yang memereteli usaha bank.

Langkah strategis untuk bertahan bagi bank adalah berkolaborasi. Setidaknya ada empat hal yang umumnya dilakukan bank dalam menyikapi gelombang tekfin. Pertama, bank ikut membangun inkubator bagi para pelaku rintisan di bidang tekfin. Kedua, bank mendirikan unit khusus untuk permodalan tekfin atau modal ventura. Ketiga, bank membangun kemitraan dengan pelaku tekfin. Keempat, bank mengambil alih perusahaan rintisan yang sudah ada.

Keempat strategi ini telah dilakukan oleh beberapa bank di Indonesia. Ada bank yang bermitra dengan perusahaan P2Plending untuk menyalurkan kreditnya atau bank mengadakan lomba hackhatonuntuk menyaring bibit-bibit inovasi baru di bidang tekfin.

Dari sisi regulasi, pada November 2016, Bank Indonesia telah mengeluarkan peraturan Bank Indonesia tentang pemrosesan transaksi pembayaran yang di dalamnya juga mengatur tentang pelaku usaha rintisan di bidang tekfin. Bank Indonesia berupaya mendorong inovasi dengan tetap memperhatikan kehati-hatian dan perlindungan konsumen.

Untuk itu, Bank Indonesia akan mengeluarkan implementasi dari aturan regulatory sandbox, yang merupakan sebuah wahana inovasi bagi pelaku usaha tekfin agar dapat beroperasi secara terbatas dengan ketentuan yang diatur dan disepakati. Di sisi lain, koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus dilakukan. Pada akhir Desember 2016, OJK juga telah mengeluarkan aturan mengenai layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi yang ditujukan untuk mendukung pertumbuhan P2P lendingsebagai alternatif sumber pembiayaan bagi masyarakat.

Dalam sebuah laporan bertajuk “The Future of Fintech and Banking: Digitally Disrupted or Reimagined?”, Accenture menyimpulkan dua hal yang akan terjadi pada perbankan dalam menghadapi gelombang tekfin.Pertama, bank tetap merasa yakin dengan dominasinya sehingga enggan beradaptasi dengan teknologi. Jika hal ini dilakukan, hasilnya akan merugikan bank sendiri. Kedua, bank menyadari terjadinya perubahan perilaku pada nasabah dan inovasi teknologi. Untuk itu, mereka berusaha beradaptasi dan berkolaborasi dengan pendatang baru. Dari kedua pilihan, tampaknya pilihan kedua mulai ditempuh industri perbankan Tanah Air.

JUNANTO HERDIAWAN

Plt Kepala Fintech Office Bank Indonesia

Fintech dan Optimisme Ekonomi Indonesia

Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian KOMPAS, 30 November 2016

Perekonomian Indonesia sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ekonomi global yang lesu, permintaan domestik yang belum optimal, dan pertumbuhan kredit yang masih rendah menjadi beberapa faktor yang menghambat ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi dan merata.

Kondisi tersebut kerap menimbulkan pesimisme pada pelaku ekonomi. Namun Presiden Joko Widodo mengingatkan kita untuk tetap optimistis dalam memandang masa depan. Sebenarnya banyak hal yang dapat membuat kita tetap optimistis, mulai dari indikator makroekonomi yang stabil hingga berbagai potensi yang kita miliki saat ini. Salah satu potensi tersebut adalah fenomena bertumbuhnya ekonomi digital di Tanah Air.

Istilah ekonomi digital belakangan ini marak dibicarakan. Kita tengah mengalami perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kemajuan teknologi, khususnya penetrasi internet, masyarakat secara instan terhubung satu dengan yang lain. Munculnya media sosial dan sarana digital, seperti e-mail, Whatsapp, Facebook, Twitter, dan Instagram, telah mengubah cara kita berkomunikasi.Kecepatan berkomunikasi secara langsung dan terbuka lewat teknologi turut membuka pasar dan mendekatkan produsen dengan konsumen. Kita menjadi akrab dengan aktivitas belanja daring atau yang umum disebut e-dagang. Perkembangan ini kemudian diikuti pula oleh peningkatan peran masyarakat dalam mengakses sektor keuangan.

Namun, sebagian besar masyarakat masih menganggap sektor keuangan sebagai sektor yang sulit diakses. Krisis ekonomi global tahun 2008 semakin menguatkan persepsi tersebut. Pasca krisis global, otoritas di sejumlah negara melakukan respons dengan pengetatan terhadap aturan-aturan di sektor keuangan, termasuk perbankan.Berbagai perkembangan itu telah memberi ruang bagi tumbuhnya inovasi ekonomi digital, khususnya di bidang teknologi keuangan, yang kini populer dengan istilah financial technology atau disingkat Fintech.

Kehadiran inovasi teknologi keuangan telah mampu memotong jalur dan prosedur panjang yang menjadi ciri sektor keuangan formal.Secara sederhana, Fintech adalah berbagai inovasi yang menggabungkan fungsi keuangan (financial) dengan teknologi (technology). Pelaku usaha Fintech, yang umumnya disebut pelaku usaha rintisan (start up), berbekal ide kreatif dan inovatif, hadir memberi solusi alternatif atas kebutuhan masyarakat akan pelayanan jasa keuangan, mulai dari pembayaran, pengiriman uang, mendapatkan pinjaman, berbelanja, berdagang, hingga berinvestasi. Fintech menyimpan potensi besar dalam sebuah ekonomi.

Data dari McKinsey (2016) menunjukkan bahwa industri Fintech secara global tumbuh signifikan, dari sekitar 800 pelaku hingga mencapai 2.000 pelaku dalam kurun satu tahun. Data lain menyebutkan bahwa total transaksi global Fintech di tahun 2016 diperkirakan mencapai 2.355 miliar dollar AS.Di Indonesia, menurut data Statista, nilai transaksi Fintech selama tahun 2016 diperkirakan mencapai 14,5 miliar dollar AS. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa akses pembiayaan dan konsumsi rumah tangga dari Fintech mampu memberi dorongan bagi pertumbuhan ekonomi dan mendukung penyerapan tenaga kerja.

Satu hal yang membedakan dari perkembangan Fintech di negara maju dibandingkan dengan negara berkembang adalah bahwa Fintech di negara maju umumnya fokus pada penciptaan inovasi dan nilai tambah. Sementara di negara berkembang, Fintech tumbuh sebagai solusi alternatif atas berbagai masalah ekonomi yang dihadapi negara tersebut, seperti keterbatasan akses masyarakat pada sektor keuangan, kesenjangan ekonomi, hingga kesempatan kerja.

Fintech di Indonesia

Kondisi Indonesia saat ini juga menjadi pemicu bagi bertumbuhnya usaha Fintech. Saat ini baru 36 persen penduduk Indonesia yang memiliki akses ke layanan perbankan. Selain itu, jumlah kantor cabang bank per jumlah penduduk juga masih rendah. Data Bank Dunia juga menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi permintaan pendanaan hingga Rp 1.600 triliun. Namun, hanya Rp 600 triliun yang mampu disediakan oleh industri perbankan.

Pintu masuk paling efektif bagi Fintech di Indonesia adalah melalui penggunaan telepon genggam. Saat ini ada 326 juta pengguna telepon genggam di Indonesia dan pengguna internet aktif 88,1 juta orang. Peluang inilah yang menjadi pemicu pelaku usaha rintisan mengembangkan inovasi di bidang Fintech. Mulai dari model bisnis pinjam meminjam bagi UMKM dengan peer to peer lending atau crowdfunding, hingga berbagai kemudahan pembayaran menggunakan telepon genggam(mobile payment) telah menjadi pilihan alternatif kegiatan Fintech.

Pertanyaan yang muncul adalah ke mana arah perkembangan Fintech di Indonesia, bagaimana mitigasi risiko dari transaksi digital, serta bagaimana perlindungan konsumen. Di sinilah peran regulator menjadi penting. Inovasi teknologi adalah suatu keniscayaan. Regulator perlu selalu berada di dekat inovasi. Iklim berusaha yang kondusif perlu terus dirangsang tumbuh untuk mendorong ekonomi, namun dengan tetap memerhatikan kehati-hatian.Pemerintah telah mengeluarkan Paket Kebijakan Jilid 14 mengenai ekonomi digital. Langkah ini perlu didukung oleh otoritas lain.

Bank Indonesia juga telah mendirikan BI Fintech Office pada pertengahan November 2016. BI Fintech Office salah satunya ditujukan sebagai katalisator/fasilitator bagi ide pengembangan inovasi di bidang Fintech, selain juga melakukan kajian dan penilaian serta pemetaan atas potensi dan manfaat Fintech.Kegiatan usaha Fintech menyentuh wilayah yurisdiksi beberapa regulator, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Keuangan, Kemenko Perekonomian, hingga wilayah penegak hukum.

Untuk itu, kesamaan pandang antar otoritas dan regulator sangat penting. Tentu saja komunikasi dengan pelaku industri Fintech, baik melalui Asosiasi Fintech Indonesia maupun industri perbankan, perlu terus dilakukan agar berbagai inovasi dapat tumbuh positif.Melihat kisah sukses pertumbuhan Fintech di negara lain, kunci kemajuannya adalah pada koordinasi dan kerja sama antarelemen di negara tersebut dalam mendukung tumbuhnya ekosistem Fintech. Dengan koordinasi yang erat dan visi yang sama, kita optimistis Fintech di Indonesia dapat tumbuh positif, mampu menjadikan sistem keuangan lebih efisien, mendorong pertumbuhan, memperluas kesempatan kerja, dan menebar manfaat secara luas pada perekonomian.

Junanto Herdiawan

Plt Kepala Fintech Office Bank Indonesia