Wisata Horor di Makam Peneleh

Berpose di Prasasti Nisan Gubernur Jenderal Belanda Mr. Pieter Markus yang wafat tahun 1844

Berpose di Prasasti Makam Gubernur Jenderal Belanda Mr. Pieter Markus yang wafat tahun 1844

Setiap kali berjalan melewati makam Belanda di Peneleh Surabaya, saya selalu merinding. Bulu kuduk ini rasanya berdiri. Hiiiiii , melihat batu-batu nisan yang besar, patung malaikat, dan tulisan berbahasa Belanda, memang membuat suasana semakin menyeramkan. Saya jadi ingat berbagai adegan di film-film horor. Takutnya, kalau pas jalan di situ, ada Drakula yang muncul dan menghisap darah kita … Aaaaack !

Tapi tidak demikian menurut kawan saya Mas Dandot, dan Mas Ipung yang juga penulis buku Surabaya Punya Cerita. Menurut Ipung, ia dan kawan-kawannya sering main ke makam Peneleh dan pulangnya tetap baik-baik saja. Gak kesurupan, ataupun di-”gelendoti” dedemit. Oleh karena itu, di suatu siang, ia mengajak saya untuk melihat makam Penelah dan membagi cerita tentangnya. Ya, beraninya siang dong hehe.

Memasuki Makam Peneleh memang seolah membawa kita ke suasana horor di Abad 18. Suasana makam yang bergaya gothic dan abad pertengahan itu, menjadikan aura makam peneleh berbeda dari makam umumnya di Indonesia. Saya membayangkan suasana muram di tempat ini saat dua ratus tahun lampau. Bayangan kereta kuda, suasana mendung, para kerabat berbaju hitam, membawa payung, mengantar jenazah orang-orang Belanda.

Di Peneleh ini, dimakamkan banyak tokoh Belanda, seperti Moeder Louise, Suster Kepala Ursulin, yang merupakan pendiri cikal bakal SMA Santa Maria di Surabaya. Selain itu, Gubernur Jenderal Pieter Markus, salah satu pejabat tertinggi Hindia Belanda yang meninggal pada saat menjabat, juga dimakamkan di sini. Ia adalah satu-satunya Gubernur Jenderal Belanda yang dimakamkan di Surabaya.

Menurut Ipung, Makam Peneleh adalah makam Belanda modern tertua di Indonesia. Ya, De Begraafplaats Peneleh atau Makam Peneleh dibangun sejak hampir dua abad lalu, atau tepatnya di tahun 1814. Makam ini lebih tua dari makam Belanda Kebon Jahe Kober di Jakarta. Selain itu, makam ini juga tercatat sebagai salah satu pemakaman modern tertua di dunia, bahkan lebih tua dari Fort Cannin Park Singapura (1926), Mount Auburn Cemeterydi Cambridge(1831), dan Arlington National Cemetery (1864).

Sayangnya, suasana makam ini kurang terawat. Saat saya memasuki kawasan makam Peneleh, banyak batu nisan yang sudah rusak, dibongkar, dan makam-makam yang gowong, atau bolong-bolong. Hiiiii, malah jadi nambah seram. Saya membayangkan ada tangan keluar dari bawah tanah gowong itu…

Saya diajak Ipung menuju satu bangunan yang konon paling angker di daerah itu. Kata mas penunggunya, banyak cerita aneh terjadi di sini. Bangunan itu dinamakan Omah Balung, atau Rumah Tengkorak, The House of Skeleton. Ga tau juga kenapa dinamakan seperti itu. Banyak riwayat, seperti misalnya dulu semua jenazah ditumpuk di situ, atau saat terjadi wabah penyakit banyak jenazah dikumpulkan, saya tidak mendapatkan penjelasan secara spesifik. Tapi yang jelas, aura angker memang terasa di depan Omah Balung ini. Bangunan ini hanya terdiri dari satu ruangan, di dalamnya ada semacam sumur, yang tentu menambah suasana mistik. Wah, saya tidak mau berlama-lama di sana. Segera saya beranjak ke makam yang lain.

Bersama Mas Dandot dan Mas Ipung, di depan Omah Balung, satu bangunan yang kata orang paling angker di makam Peneleh

Bersama Mas Dandot dan Mas Ipung, di depan Omah Balung, satu bangunan yang kata orang paling angker di makam Peneleh

Kalau cerita soal penampakan, mistik, dan lain-lain, banyak terjadi di makam tua ini. Tapi ya namanya juga kan makam, jadi wajar kalau sampai ada cerita seperti itu. Saya datang bukan untuk ikut uji nyali, melainkan melihat keanggunan sisa-sisa makam Belanda. Satu bangunan nisan yang saya juga kagumi adalah monumen pada pusara Pastor Martinus van den Elzen. Monumen ini dibuat oleh Kuyper, dari batu Maastricht kelabu dalam gaya gothic yang kental.

Dalam tatahan relungnya digambarkan kebangkitan Kristus. Ada nama almarhum, tanggal lahir dan wafat. Kata-katanya juga masih terbaca jelas, “Zalig zijn de dooden die in de heer sterven, want hunne werken volgen hen“, yang artinya “Bahagialah mereka yang meninggal dalam Tuhan, sebab amal mereka menyertainya“.

Monumen di Pusara Pastor Martinus van den Elzen

Monumen di Pusara Pastor Martinus van den Elzen

Saya juga berlama-lama menatap prasasti pada makam Gubernur Jenderal Pieter Markus, sambil membayangkan betapa berkuasanya ia dulu di Hindia Belanda. Tulisan prasastinya dalam bahasa Belanda, tapi menurut Pak Dukut (penulis buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe), artinya:

Paduka Yang Mulia Mr. Pieter Markus, Komandeur dalam Jajaran Singa Belanda, Ksatria dalam Legiun Kehormatan Perancis, Gubernur Jenderal dari Hindia Belanda, Panglima Tertinggi dari Angkatan Darat dan Laut di sebelah Timur Tanjung Harapan, dan seterusnya … Wafat di Wisma Simpang, 2 Agustus 1844″. Wisma Simpang adalah Gedung Grahadi sekarang.

Wisata ke Makam Peneleh ini bisa jadi sebuah alternatif kalau mampir di Surabaya. Lokasinya yang strategis, di tengah kota Surabaya, di tepian Kali Mas, menjadikan Peneleh sebuah tempat yang sayang kalau dilewatkan.

Namun memang amat disayangkan kalau melihat potensi wisata yang kurang terawat. Makam Peneleh terkesan kurang terawat, saat jalan di dalamnya banyak kotoran kambing, serta banyak nisan yang hilang, serta makam yang gowong. Andai suasananya bisa dibuat rapi dan terawat, tentu Makam Peneleh bisa jadi satu ikon wisata yang terkenal hingga manca negara, seperti beberapa konsep makam heritage lain di seluruh dunia.

Niwaay, kata orang di makam ini banyak dedemit terbang berkeliaran. Saksi matanya banyak yang pernah melihat penampakan-penampakan di sini. Well, menutup kunjungan hari ini, saya juga memilih ikutan terbang di sini, biar suasananya kena hehehe… Salam.

Levitasi di Makam Tua

Levitasi di Makam Tua

Omah Balung Levitation, photo by Ahmad, edited by Dandot.

Omah Balung Levitation, photo by Ahmad, edited by Dandot.

 

 

Flying Traveler in Washington DC

Mid May, it was a perfect day in Washington DC. I was strolling around The National Mall and have a good experience seeing all the monuments and historic buildings. It is always my desire to do levitation in such an interesting place. So, I did some levitation photos in Washington DC. I started to do levitation at the Washington Monument, Capitol Hill, and walk around to Library of Congress, and White House. My friend, Dony, took my levitation pictures. Please enjoy, here are some of my levitation pictures, during my short trip to DC. Thank you for stopping by.

PS. levitation pictures taken with no app, no photoshop, no trick. It is purely levitation skills.

Levitation at Washington Monument

Levitation at Washington Monument

Flying around the "No Fly Zone"

Flying around the “No Fly Zone”

Flying Traveler on a mission: Secret Service Levitation

Flying Traveler on a mission: Secret Service Levitation

The Library of Congress

The Library of Congress

The Capitol Hill Levitation

The Capitol Hill Levitation

 

 

 

 

Levitasi di Monas

Levitasi di Monas

Levitasi di Monas

Hampir tiga tahun saya melakukan levitasi di berbagai kota dan tempat. Tapi belum pernah saya melakukan levitasi di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Padahal Jakarta adalah tempat kelahiran saya. Ya, setelah hampir 5 tahun bertugas di luar Jakarta, hanya sesekali saja saya kembali ke Jakarta. Oleh karenanya, saat liburan Nyepi 2014 kali ini, saya menyempatkan diri untuk pulang liburan ke Jakarta, dengan satu misi khusus, melakukan levitasi di Monas (hahaha … niat banget kan).

Pagi hari, Minggu, saya bersiap menuju monas untuk levitasi. Tapi alangkah kagetnya saya melihat monas telah berubah. Car Free Day. Itu sebabnya. Sekitar lima tahun lalu, hari Minggu di monas tidak terlalu ramai. Meski ada CFD sekalipun, keramaian belum seperti kemarin. Luar biasa padatnya. Ya, Jakarta memang telah berubah.

Di tengah keramaian itu, sulit bagi kita untuk melakukan levitasi. Hampir setiap saat orang mondar mandir. Belum lagi ada yang naik sepeda, motor dandy, delman, atau ondel-ondel lewat. Saya mencoba mencari spot untuk melakukan levitasi. Beruntung ada sudut taman, dengan gundukan rumput yang lumayan sepi.

Selain melakukan levitasi standar (foto atas), di sana saya juga mencoba melakukan levitasi horizontal. Ini adalah pose levitasi yang cukup sulit dan menantang. Hal ini karena kalau kita terlambat mengantisipasi pendaratan, akibatnya fatal. Tapi, for the love of Monas, saya mencobanya. Hasilnya lumayan juga. Silakan dinikmati pada foto di bawah ini.

Horizontal Levitation at National Monument / photo taken by andriani

Horizontal Levitation at National Monument / photo taken by andriani with samsung nx300

Saya juga mencoba levitasi dengan ondel-ondel, dan tentu dengan latar belakang ikon menara kembar Bank Indonesia.

Demikian share saya tentang levitasi di area Monas. Terima kasih sudah mampir, dan salam levitasi.

Shocked by ondel-ondel

Shocked by ondel-ondel

Beyond Central Banking

Beyond Central Banking

 

Levitation in Ngantang Village

Last saturday, I passed through Ngantang Village, a small village in Malang, East Java, Indonesia. It is a very beautiful village with a nice view and weather. I took a levitation picture around paddy field and crossing the small village street. Here are the pictures. Thank you very much for stoping by.

Levitation around paddy field / picture taken with samsung nx300

Levitation around paddy field / picture taken with samsung nx300

floating across the village street / picture taken with samsung nx300

floating across the village street / picture taken with samsung nx300

 

Levitation at Semoet Station

I always love train since I was a little boy. Any kind of train. Therefore, when Ipung, my friend, asked me to join him for a sunday morning walk around Old Surabaya Train Station a.k.a Semoet Station, I didn’t think twice to say Yes. Beside listening to Ipung’s explanation about history of the station, I also took my time to do some levitation shots.

I love train, I love to levitate. So, these are my train levitation photos. Please enjoy, and thank you for stopping by.

Catch The Train Levitation. Look at the man's expression ! .. taken with Samsung NX300

Catch The Train Levitation. Look at the man’s expression ! .. taken with Samsung NX300

Catch the Train Part II / photo taken by Andriani with Samsung NX300

Catch the Train Part II / photo taken by Andriani with Samsung NX300

 

Railway Levitation

Railway Levitation

Along the rail road

Along the rail road

Seinhuiss, Signal House Levitation

Seinhuiss, Signal House Levitation

 

 

 

Levitasi di Lawang Sewu

Levitasi di Lawang Sewu, Semarang

Levitasi di Lawang Sewu, Semarang

Saya selalu terkagum-kagum dengan bangunan Lawang Sewu di kota Semarang, Jawa Tengah. Bagi saya, Lawang Sewu adalah salah satu landmarks dari berbagai bangunan era kolonial yang terindah di dunia. Lawang Sewu didirikan pada tahun 1904 oleh arsitek Prof. Klinkhamer dan B.J. Qüendag, yang di dalam proses tersebut juga terlibat arsitek C. Citroen yang juga mendesain beberapa gedung di Hindia Belanda pada masa itu, seperti kantor Balaikota Surabaya dan Rumah Sakit Darmo.

Lawang Sewu bukanlah nama asli gedung tersebut, melainkan sebuah kantor untuk Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta Belanda. Namun karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, orang Jawa menyebutnya dengan istilah Lawang Sewu. Di Jawa, sesuatu yang sifatnya banyak atau masif kerap di representasikan dengan jumlah seribu.

Banyak cerita gaib yang beredar tentang gedung Lawang Sewu. Bahkan beberapa acara reality show di televisi pernah melakukan pengambilan gambar tentang dunia misteri di Lawang Sewu. Padahal sebenarnya, kisah sejarah di balik Lawang Sewu jauh lebih menarik untuk dinikmati para pengunjung.

Arsitektur bangunan kolonial yang bersifat campuran atau ekletik dirancang sesuai dengan iklim tropis. Hal itu terlihat dari bagaimana Lawang Sewu dibangun, dengan tetap menampilkan gaya Eropa ciri “Amsterdam School”, namun dibuat sedemikian rupa sehingga sebagian besar dari gedungnya tidak menghadap ke arah Timur-Barat secara langsung. Lawang Sewu mengantisipasi tampiasnya air hujan dan sinar matahari langsung dengan desainnya yang unik.

Satu hal yang menarik adalah adanya ruangan bawah tanah yang diisi oleh air. Fungsinya untuk menjaga kelembaban bangunan sehingga ruangan tidak terasa panas di siang hari. Jaman dahulu belum ada pendingin ruangan sehingga ide membuat ruang air bawah tanah adalah sebuah hal luar biasa.

Nah, di jaman pendudukan Jepang, Lawang Sewu dijadikan markas Kempetai atau polisi Jepang, dan ruangan bawah tanah itu dijadikan penjara air untuk tahanan. Lawang Sewu pernah dipakai sebagai kantor Kereta Api, Komando Daerah Militer IV Diponegoro, dan Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini menjadi saksi peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945). Sebelumnya,

Levitasi di Lawang Sewu adalah sebuah pengalaman dan penjelajahan sejarah. Saya memilih tempat di depan dan tengah gedung untuk melakukan levitasi. Kemegahan bangunan Lawang Sewu menjadikan levitasi memiliki efek “grandiose”. Bangunan bersejarah selalu menjadi latar belakang yang bagus untuk melakukan levitasi. Cobalah berkunjung ke bangunan bersejarah di tanah air, dan lakukan levitasi.

Salam levitasi !

Days of Danboard: Saturday Morning at the Garden

Melakukan proyek fotografi bersama Danbo, menurut saya cukup menyenangkan. Wajah Danbo yang terkesan “innocent” dan “photogenic” membuat hasil pemotretan menarik untuk dilihat.

Bagi yang belum familiar dengan Danbo, perlu saya jelaskan bahwa Danbo, atau dalam bahasa Jepang “Danboru”, adalah figur boneka yang menyerupai boks karton. Figur ini terkenal di kalangan fotografer dan kerap dijadikan model. Awalnya Danbo adalah karakter dari sebuah komik manga karya Kiyohiko Azuma, yang berjudul “Yotsuba & !”.

Nah, pekan lalu, saya ingin mencoba proyek foto Danbo dengan menggunakan kamera baru saya (Samsung NX300). Ada dua hal yang ingin saya coba, levitasi danbo dan tentu saja, aneka pose Danbo.

Kebetulan saya memiliki tiga buah Danbo (Danbo Amazon.jp, Danbo Taihenyoku Dekimashita, dan Danbo 7-Eleven), sehingga ketiganya dapat melakukan sesi foto bersama-sama.

Pertama, Danbo Taihenyoku Dekimashita ingin melakukan levitasi. Ini cukup sulit karena kecepatan terbang / jatuh yang cepat. Ternyata NX300 mampu menangkap gerak cepat Danbo seperti ini, sehingga terlihat melayang.

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Selanjutnya, inilah aktivitas Danbo di hari libur. Salam Danbo.

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

 

How I Shoot: Levitating with @junantoherdiawan

Gengis Khan Levitation

My levitation photos are being featured in Instagram Blog at:  http://blog.instagram.com/post/43484235620/how-i-shoot-levitating-with

If you have time, please take a look. Thank you very much.

Camera: iPhone & iPad.

Vantage Point: “Levitation is like philosophy. It’s not just a jump shot; it is a floating moment. I like to travel and see many interesting places in the world. My idea is to levitate in any interesting place or interesting moment. By doing that, I feel like I can float or fly in any place in the world.”

Shooting: Using an application that takes multiple photos at a time while you jump makes it easier to capture the perfect levitation photo. “I use the Fast Camera application on iPhone or iPad to capture the moment. It is a continuous-shoot application that can capture every second of my levitation.”

Editing: While Junanto may touch up the lighting or tones in his photos, there are no special apps or programs used to create the levitation effect. “I don’t use editing for my levitation photos, no special application. I only adjust for lighting and other effects.”

Follow Junanto’s levitating adventures in Jakarta, Indonesia, and throughout the world at instagram.com/junantoherdiawan.

Story of A Superhero Family

Once upon a time in a planet called “Odaiba”, lived a superhero family. Papa superhero used to fly everyday to save people and humanity. Anywhere, anything, he likes to help people in need.

One day, the children of superhero family asked their father to teach them how to fly.

Children: Papa…. papa ….teach us to fly!

Papa: Kids, just believe in yourself. You can fly.

Children: How to do it papa? it’s difficult.

Papa: Look at papa! Let’s fly together.

…and they fly together ….

Learning to Fly

“Yeeey, we can fly! …. we can fly!”, the children were very happy … They were flying around the planet by themselves.

“But, be careful girl. Don’t fly too fast …”

Don't fly too fast !

And the boy was floating around the statue of liberty … “Yes, I am flying…”

Near the statue of liberty

Then they asked their mother to fly together.

Children: Let’s go shopping Mom. Flying shopping!

Mom : Yes, let’s go. But be careful kids, don’t fly too fast… I might dropped my wallet  :)

Superhero Family flies to the shop

Meanwhile, Papa got a call from Chief of Police. There is a “Godzilla Attack” in the town. “They need my help”, said Papa. And Papa flew to the city.

Papa Superhero is Coming

Oooh No! A fierce and monster Godzilla!! …. Papa Superhero were very surprised when he saw the Scary Monster Godzilla.

Hey, Godzilla.. Get out of my town!”

Godzilla: “Roooaaaarrrr …. Rooooaaaarrrr …. (Sending atomic breath from his mouth)

Aaaargh, the Atomic Breath !!

Papa Superhero won’t give up and fight the Godzilla…. Boom..Booom…

Get Out Mr. Godzilla!!

And the Godzilla is defeated. Papa Superhero caught it’s tail and brought the monster to the Zoo :)

Let's go to the Zoo

The crowds cheers the superhero. Yeeey…we defeat the Godzilla!! Thank you Superhero.

Look! It's a bird! No, it's Papa Superhero!

End of story.

Thank you very much for stopping by.

 

Floating at Kawaguchi Lake

Last weekend, my best friend from Indonesia, Imam-san, came to Tokyo to visit me. We haven’t met each other for more than 5 years. So, I am really happy with his visit. To mark our reunion, we went together to Kawaguchi Lake for a weekend trip. Imam-san, My wife, and I went together to Kawaguchi. It’s about an hour drive from Tokyo.

Lake Kawaguchi is a beautiful lake near Mount Fuji, Japan. From this lake, we can see a serene and clear shape of mount Fuji (if the weather is good). Very beautiful.

Mount Fuji from Lake Kawaguchi

Imam and I then decided to do our levitation by the lake kawaguchi. It is a little difficult to do levitation together because you need to combine the same rhythm  and style :) … however, this is our double levitation.

Levitate Together by The Lake Kawaguchi

 

I did some other levitation by the lake. It seems like I am floating on the water. Yes, I am floating :)

Levitation by the Lake Kawaguchi

Floating by the Lake

Floating by The Lake

Floating at the Lake

We then decided to climb to mount Fuji. We stopped at 3rd Station to take some photographs. Here is my picture with Imam-san, but no levitation.

Best friend at the mountain

I tried to do some levitation at the mountain. Look, I am floating above the trees and fogs.

Floating above the trees

.... and the fogs

That was our experience to Lake Kawaguchi and Mount Fuji. Happy Levitating. Thank you for reading and stopping by.