Dua Hari di Medan: Sop Kepala Kambing dan Durian Medan – Part I

Sop Kepala Kambing Datuk, Medan

Sop Kepala Kambing Datuk, Medan

Dalam sebuah perjalanan bisnis ke Medan, setelah kurang lebih 15 tahun tidak ke sana, saya bertanya pada kawan-kawan, “Apa yang harus saya cicipi dalam waktu sesingkat itu?”

Jawabannya banyaaaaak dan beragam, mulai dari makanan ringan hingga makanan “hard core” kelas pemberani. Tentunya tak semua dapat saya cicipi. Yang memberi usul agar saya  mencicipi BPK (Babi Panggang Karo) tentu paham kalau saya tidak bisa memakan babi hehehe…. Anyway, beberapa rekomendasi lainnya layak dicoba. Namun karena waktu yang terbatas, saya hanya memilih yang bisa dijangkau oleh waktu. Kiranya ini bisa jadi panduan juga buat kawan-kawan yang mampir ke Medan dalam waktu singkat.

Pertama, ini rekomendasi jagoan dari kawan saya, mas Dadal, yang juga ahli perihal dunia kambing. Ia merekomendasikan: Sop Kepala Kambing ! .. Haaah, kepala? .. Iya, katanya. Kalau kepala ikan, saya sudah biasa. Tapi kepala kambing? mungkin butuh keberanian. Ada beberapa tempat yang terkenal soal penyajian kepala kambing di Medan, dua di antaranya adalah Sop Kepala Kambing Sipirok dan Sop Kepala Kambing Datuk. Kitapun mencoba Sop Kepala Kambing Datuk yang terletak di Jalan Gagak Hitam. Dan, ternyata pilihan tepat karena kepala kambing bisa membawa kebahagiaan.

Kepala kambing di warung Pak Datuk hadir dalam bentuk utuh, dengan dibelah dua secara simetris antara sisi kepala bagian kiri dan kanan. Kepala itu disajikan dalam piring berkuah bening. Epic dan Majestic! … Melihat penampilannya, banyak orang akan merasakan suasana horor dan kengerian, namun bagi pecinta kepala kambing, para carnivore, ini adalah sebuah mahakarya. Menyajikan kepala kambing pastinya tidak mudah. Pemilihan bumbu dan lama proses memasaknya membutuhkan skill tersendiri. Saya cicipi kuahnya yang lezat dan gurih. Bumbu-bumbu terasa kaya di sana. Tahap selanjutnya adalah membongkar kepala kambingnya. Nah ini yang complicated. Untunglah mas Dadal punya keahlian membongkar kepala kambing. Pertama ia memisahkan bagian-bagian kepala. Mulai dari mata, lidah, pipi, dan mata. Dari situ barulah kita memilih bagian yang ingin kita makan. Ngeri ya. Tapi itulah budaya makanan di Medan.

Next Journey setelah Kepala Kambing, Durian Medan

Next Journey setelah Kepala Kambing, Durian Medan

Usai kepala kambing (dengan perasaan deg-degan karena khawatir kolesterol dan darah tinggi meningkat), kita meluncur pada tantangan kedua di Medan. Ya, apalagi kalau bukan mencoba Durian Medan. Well, durian setelah kepala kambing? Ini cukup mengerikan. Tapi sesekali menarik dicoba dengan penuh kehati-hatian.

Banyak tempat durian yang terkenal di Medan, dua di antaranya yang sudah terkenal adalah Durian Ucok dan Durian Pelawi. Banyak kawan merekomendasikan Durian Ucok. Ya, karena durian Ucok ini memang sudah mendunia. Branding Ucok pada Durian Medan sudah menjadi semacam ikon bagi siapa saja yang ingin mencicipi durian di Medan. Tapi karena kita tidak ingin yang terlalu mainstream, kita mencicipi tempat lain yang tak kalah enaknya, yaitu Durian Pelawi.

Pilihan itu tidak salah. Di Pelawi, kita disajikan butiran-butiran durian terbaik yang dikupas langsung dari bijinya. Kelembutan daging durian, sensasi rasa manis dan pahit, dan melelehnya aneka kenikmatan itu di mulut, telah membawa kita serasa ke puncak kenikmatan. Satu … dua .. tiga… empat … lima … hingga sepuluh buah durian kita lahap berempat. Dahsyat ya. Memang. Tapi lebih dahsyat lagi adalah saat membayar. Harga keseluruhan duren hanya sekitar Rp 130 ribu saja. Ini luar biasa.

Well, mencicipi kombinasi kepala kambing dan duren bukanlah sebuah permainan ringan. Ini membutuhkan kehati-hatian tinggi. Kalau kamu masih muda, silakan saja dinikmati sepuasnya. Namun kalau sudah berumur, makanlah secara bijak.

Tapi terlepas dari itu, sop kepala kambing dan durian di Medan adalah sebuah hidangan wajib coba kalau kalian ke Medan. Ini termasuk kategori die die must try, kalau kamu adalah petualang kuliner dan suka mencicipi tantangan. Salam

(bersambung ke Part II Medan …..)

Durian Medan yang sensual dan menggemaskan

Durian Medan yang sensual dan menggemaskan

Ketupat Sayur, Cinta, dan Perjuangan

Bersama Uni Linda di depan Kedainya

Bersama Uni Linda di depan Kedainya

Saya punya tempat makan ketupat sayur favorit di Pasar Tebet Barat. Letaknya di lantai dua. Namanya Warung Ketupat Sayur Uni Linda. Ketupat Sayur, atau Katupe Sayur dalam bahasa Minang, buatan Uni Linda ini menurut saya spesial. Bukan hanya soal rasa, tapi soal cerita di balik ketupat sayur ini.

Bagi Uni Linda, ketupat sayur bukan hanya makanan, tapi juga menyimpan cinta, passion, dan akar kehidupan. Baginya, membuat ketupat sayur adalah mahakaryanya untuk kehidupan.

Kalau melihat dari sisi tampilan, ketupat sayur di warung ini sebenarnya biasa saja. Sebagaimana ketupat sayur pada umumnya, setelah diiris-iris, ketupat disiram kuah sayur serta pilihan telur atau rendang. Di atasnya kemudian ditaburkan kerupuk pink, kerupuk khas ketupat sayur padang.

Satu hal kecil yang dilakukan Uni untuk menambah rasa signifikan adalah mencelupkan saus kacang ke dalam kuah ketupat sayur. Ketika kita mengaduk kuah tersebut, paduan rempah, bumbu sayur, dan saus kacang, langsung tersublimasi menambah sensasi rasa.

Uni Linda berasal dari Batu Sangkar. Dengan demikian ketupat sayur yang dibuatnya berbeda dengan Ketupat Sayur Pariaman. Umumnya, ketupat Padang Pariaman lebih melekoh kuahnya, menggunakan sayur paku (pakis), dan menonjol pedasnya. Sementara Uni Linda, tidak menggunakan sayur pakis, melainkan hanya sayur nangka. Rasa kuahnya juga tidak melekoh atau menonjol pedas.

Memang agak aneh buat sebuah masakan Padang kalau tidak pedas. Namun ini soal selera Uni. “Iyo, uni ini urang Padang tapi ga suka pedas”, demikian ujar Uni Linda. Jadilah ia mengkomposisi ketupat sayurnya dengan rasa netral. Sambal ditawarkannya bagi mereka yang ingin menambah level kepedasan.

Katupe Sayur Uni Linda, Pasar Tebet Barat

Katupe Sayur Uni Linda, Pasar Tebet Barat

Sambil makan, saya ngobrol dan bertukar cerita dengan Uni Linda. Di sinilah saya mengetahui bahwa Ketupat Sayur bagi Uni bukan sekedar makanan, tapi juga sebuah wilayah tempat dirinya menuangkan cinta dan kehidupan.

Awalnya, Uni mencari mata pencaharian sebagai penjual pakaian di Pasar Tebet. Hal itu terjadi pada tahun 1986.  Kehidupan sebagai penjual pakaian dirasakannya kurang menjanjikan, sementara passionnya adalah memasak. Lalu di awal tahun 1990-an, mulailah Uni Linda berjualan ketupat sayur.

Kejadian yang cukup berat baginya adalah saat ia ditinggal suaminya sekitar sepuluh tahun lalu. Ia harus menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil. Namun Uni Linda selalu percaya, bahwa rejeki ada yang mengatur. Kuncinya adalah mengerjakan sesuatu yang ia cintai. Dan ia mencintai ketupat sayur.

Dari ketupat sayur buatannya itu , ia mampu membesarkan anak-anaknya. Satu hal luar biasa, anak sulungnya mampu menyelesaikan kuliah di jurusan Arsitek Universitas Diponegoro, dan kini sudah bekerja di salah satu pengembang besar Jakarta. Anak sulungnya dianggap sudah mandiri dan memiliki kehidupan layak dalam kelas menengah Indonesia. Sementara anak keduanya sebentar lagi lulus dari Akademi Sekretaris.

Uni Linda selalu mensyukuri hidupnya. Saat saya tanya soal isu politik, ekonomi, dan hal-hal yang lagi trending topic saat ini, Uni Linda hanya bergumam, itu adalah dinamika kehidupan saja. Ia tak ambil pusing.

Baginya, yang paling penting adalah bekerja dan berkarya sesuai hati nurani, atau passion, lalu memberi manfaat bagi orang lain. Saya jadi teringat kutipan dari Steve Jobs, “The only way to do a great work, is to love what you do”, atau satu-satunya cara menghasilkan karya besar, adalah mencintai pekerjaan kita.

Dari katupe sayur Uni Linda, saya belajar. Bukan jenis pekerjaan yang menentukan seseorang itu berharga, tapi pada cinta, karya, dan manfaat yang diberikannya. Bagaimana kita bisa bermanfaat, kalau tidak mencintai apa yang kita kerjakan, bukan? …..  Salam.

Selamat Menikmati Ketupat Sayur

Selamat Menikmati Ketupat Sayur

Persaudaraan Kopi di Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

“Once Brew, We Bro”. Sekali Seduh, Kita Bersaudara. Begitu ungkapan dari Setiawan Subekti yang juga akrab dipanggil Pak Iwan, saat kami memasuki Sanggar Genjah Arum miliknya di Desa Kemiren, Banyuwangi. Pak Iwan menyambut kami dengan hangat dan mengajak masuk ke satu rumah yang dirancang seperti kedai kopi, lengkap dengan meja bar. Ia lalu menyajikan secangkir kopi racikannya.

Hmmmm, aroma kopinya harum dan membius kita semua yang hadir malam itu. “Silakan cicipi, dan ceritakan pada saya rasanya”, begitu kata pak Iwan. Dan, saat sesapan kopi masuk memenuhi langit-langit mulut, kenikmatan itu menyeruak. Meninggalkan jejak rasa, after taste, yang tak tepermanai. Bagi saya, kopi di Sanggar Genjah Arum ini adalah kopi terenak yang pernah saya cicipi dalam perjalanan hidup mencari kesempurnaan kopi.

Beberapa kawan tampak ragu mencicipi kopi yang disajikan tanpa gula tersebut. Sebagian karena pernah kena penyakit asam lambung sehingga khawatir kalau minum kopi akan kambuh. “Kopi tidak menyebabkan sakit lambung atau maag, seperti mitos yang selama ini berkembang”, demikian kata Pak Iwan menenangkan. Reaksi orang terhadap kopi tentu berbeda-beda. Namun kalau  diproses dan disajikan dengan benar, kopi menjadi minuman yang baik dan menyehatkan.

Setiawan Subekti adalah seorang pejuang. Ia bukan hanya pecinta kopi, tapi lebih seperti “Ambassador” atau Duta Kopi. Hidupnya dipersembahkan pada Kopi Banyuwangi dan Pelestarian Budaya Banyuwangi. Saat bercerita tentang kopi, matanya berbinar-binar.  Saat bicara budaya Banyuwangi, gairahnya menyebar. Ia seorang yang penuh semangat dan energi.

Para pecinta kopi, atau barista nasional maupun internasional, pasti mengenal Setiawan Subekti. Sebagai tester kopi internasional, ia sering diundang ke mancanegara, baik untuk membagi ilmunya, maupun menjadi juri pada berbagai kompetisi. Di dinding sanggarnya, kita melihat foto berbagai orang ternama yang pernah berkunjung ke sana, termasuk foto kunjungan Putri Kopi Dunia.

Tamu yang datang ke Sanggar Genjah Arum juga beragam, seperti Dahlan Iskan, Marie Pangestu, Konsul Jendral AS di Surabaya, pimpinan dan pejabat BUMN, hingga artis dan seniman. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, bahkan menjadikan Sanggar Genjah Arum sebagai satu destinasi bagi tamu-tamunya. Beliau sendiri secara rutin “nongkrong” untuk ngopi di sini.

Pak Iwan juga giat memperkenalkan kopi Banyuwangi atau Kopai Osing, ke berbagai negara. Nama Osing diambil dari subkultur terbesar yang hidup di Banyuwangi. Orang Osing adalah sebutan bagi masyarakat asli Banyuwangi.

Jenis kopai Osing ini unik dan memiliki cita rasa tersendiri. Kopi, yang ditanam di pegunungan Ijen dan Raung sekitar Banyuwangi dan Bondowoso, sudah diekspor ke mancanegara. Kalau kita pergi ke Eropa dan minta disajikan Java Coffee, maka hampir dipastikan bahwa kopi itu berasal dari daerah sekitar Banyuwangi, Jawa Timur. Keunikan rasanya, menjadikan Kopi Banyuwangi digemari di dunia.

keharuman biji kopi banyuwangi

keharuman biji kopi banyuwangi

Kopi memang bisa menjadi komoditas unggulan dan kekuatan ekonomi Indonesia. Kita memiliki kopi yang tidak kalah bersaing dengan kopi dari negara lain, bahkan lebih baik. Dilihat variannya, di seluruh nusantara terdapat aneka varian kopi yang lezat. Namun Pak Iwan masih menyayangkan pengembangan industri kopi nasional yang masih belum optimal. Biji kopi Indonesia itu bagus, namun kadang proses pembuatan, dari penanaman hingga menjadi biji kopi, belum dilakukan dengan benar. Mereka masih menggunakan proses tradisional, mencampur biji kopi kualitas bagus dan rendah, tidak memasak dengan standar yang baik, sehingga hasilnya tidak optimal. Banyak produk olahan kopi akhirnya memiliki kualitas yang rendah dan tidak memenuhi standar internasional sehingga harganya murah.

Oleh karena itu, Pak Iwan secara aktif turun ke perkebunan kopi, melakukan pembinaan bagi para petani kopi agar dapat memproses kopi dengan baik.  Hasilnya, kini banyak petani kopi yang mulai memproses kopi dengan benar, menghasilkan kopi berkualitas, dan dapat mengekspor ke luar negeri.

Di daerah Bondowoso misalnya, ada kelompok petani kopi Arabica binaan Bank Indonesia Jember, mampu mengekspor sebanyak 350 ton per bulan ke luar negeri. Mereka juga mendapatkan masukan konsultasi dari Pak Iwan agar dapat memproses kopi dengan baik. Meski sudah bisa mengekspor sebesar 350 ton, dan meningkatkan taraf hidup petani kopi di sana, angka itu masih rendah dari potensinya sebesar 6000 ton. Bayangkan bila seluruh wilayah penghasil kopi tersebut dapat memproses kopi dan mengekspor kopi dalam kapasitas optimal. Selain kopi Indonesia makin terkenal, kehidupan para petani akan meningkat.

Data Kemenperin menunjukkan bahwa ekspor kopi olahan Indonesia mencapai 244 juta dolar AS pada tahun 2012, dan meningkat menjadi 322 juta dolar AS pada tahun 2013. Ini menunjukkan bahwa permintaan dunia pada kopi sangatlah besar.  Potensi ini yang perlu menjadi perhatian kita semua.

Menikmati kopi di Sanggar Genjah Arum juga menikmati keindahan rumah-rumah tradisional suku Osing. Pak Iwan memang sengaja menjadikan tempatnya sebagai konservasi rumah Osing. Ada sembilan rumah khas orang Using berbahan kayu bendo dan tanjang. Setiap rumah memiliki fungsi berbeda. Ada yang dibuat sebagai gudang penyimpan kopi, tempat istirahat, tempat makan, dan tempat pertunjukan. Kami juga dipersilakan melihat dapur tradisional Osing, yang untuk memasaknya masih menggunakan tungku tanah liat dan kayu bakar.

Di Sanggar itu, kita juga bisa melihat beberapa perempuan asli Banyuwangi membawakan musik “gedhokan”, atau seni musik yang dihasilkan dari pukulan lesung. Juga  ditampilkan pula tarian Gandrung Banyuwangi, yang merupakan tarian asli Banyuwangi. Para penari, pemain musik, berasal dari warga sekitar. Beberapa di antaranya bahkan pernah diajak Iwan ke Amerika Serikat untuk sebuah pertunjukan seni.

Menyesap kopi Banyuwangi, menikmati udara dingin pegunungan, melayang dalam alunan seni tradisional, adalah perpaduan sempurna bagi indahnya kehidupan. Pak Iwan telah membuktikan, bahwa “surga” ada di ujung timur Pulau Jawa.

Salam Kopi.

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

kopi terlezat, kopai osing

kopi terlezat, kopai osing

 

Surga Pecinta Macaron di Paris

Laduree, Surga Macaroon di Paris / photo junanto

Laduree, Surga Macaroon di Paris / photo junanto

Mengunjungi kota Paris serasa belum lengkap kalau belum mencicipi pattiserie-nya. Selain terkenal sebagai City of Love dan City of Light, Paris juga menjadi kiblat bagi dunia kuliner. Saat berkunjung ke Paris, saya selalu menyempatkan waktu untuk mencicipi kue di berbagai kafe yang tersebar di setiap sudut kota. Dijamin rasanya jauh lebih enak dari kue serupa yang dibuat di luar Perancis.

Ada satu kue juga yang wajib dicicipi kalau ke Paris, yaitu kue Macaron. Bagi para pecinta kue macaron, rasanya belum sempurna kalau belum mencicipi kue ini langsung di tempat kelahirannya. Bersama keluarga, dan juga sepupu bersama suami dan anak2nya yang datang dari Jerman, saya menyempatkan diri untuk mencicipi aneka kue macaron di toko kue yang terkenal di Paris, Laduree.

Adalah Louis Ernest Laduree yg pada tahun 1862 mendirikan toko kue di kota Paris. Awalnya, kue macaron belum berbentuk seperti sekarang, melainkan dua keping yang terpisah dan dibawa oleh ratu Catherine de Medicci dari Italia di abad ke-16. Saat itu biskuit macaron menjadi kesukaan orang Perancis.

Nah barulah pada tahun 1930, bersama cucunya, Pierre Desfontaines, Laduree menciptakan utk pertama kalinya “double decker macaron”, yaitu dua keping macaron yang dilekatkan dengan cream ganache sbg “filling”-nya. Macaron itulah yg kemudian terkenal hingga sekarang. Laduree kemudian berkembang dan membuka cabang di berbagai negara, menebarkan budaya macaron, yang juga banyak ditiru orang.

Laduree mungkin sudah banyak membuka cabang, di berbagai kota dan negara. Namun, toko di Champ-Elysees Paris adalah sebuah legenda karena konon di sinilah macaron diciptakan. Di kios inilah, saya mampir sebentar untuk mencicipi “authentic” macaron. Saat saya tiba di depan Laduree, antrian panjang sudah terlihat. Orang-orang rela mengantri berjam-jam hanya demi mencicipi kue, pastry, atau macaron yang dibuat di toko ini. Panjangnya antrian itu menunjukkan bahwa toko itu bukan sekedar menjual macaron. Di balik macaron Laduree, ada sejarah, kisah, dan perjalanan panjang, yang tentunya menyisakan sesap kelembutan dan rasa manis tak terlupakan.

Bersama Avandra, keponakan yang tinggal di Jerman, di depan toko Laduree

Bersama Avandra, keponakan yang tinggal di Jerman, di depan toko Laduree Champ-Elysees

Setelah mengantri beberapa waktu, saya tiba di jejeran kue dan macaron. Sungguh bagai surga macaron. Saya melihat jejeran kue dan macaron, dengan aneka rasa dan warna. Begitu indah. Aroma harum dan wangi dari aneka kue itu, meruap dalam semesta toko yang bentuknya tidak terlalu besar. Meski kita dalam antrian, semua orang bagai terbius oleh keindahan kue-kue. Kita menghirup aroma wangi kue, dan mabuk di dalamnya.

Satu set macaron, isi sembilan dihargai sekitar 21 Euro, atau sekitar Rp.350 ribu. Harga yang pantas untuk sebuah sejarah panjang. Apalagi ini macaron yang diciptakan pertama kali di dunia. Nah, lagi2 Perancis memberi renungan, bahwa kue itu bukan perkara remeh temeh loh. Asal dikelola serius, apa saja bisa jadi kekuatan ekonomi nasional, termasuk sekeping macaron.

Kudapan Belanda Wajib Coba

Stroopwafels yang Lekker / photo junanto

Stroopwafels segar yang Lekker / photo junanto

Tidak seperti Indonesia yang kaya akan berbagai jenis makanan, Belanda tidak memiliki banyak variasi makanan atau kudapan lokal. Tapi kalau mau merasakan bagaimana selera lokal di Belanda, perlu bagi kita untuk terjun ke pasar atau jalanan dan mencari makanan lokal.

Setelah ikan haring mentah yang saya cicipi kemarin, masih ada beberapa pilihan makanan lokal di Belanda yang menarik. Mungkin tidak terlalu istimewa karena sebagian besarnya sudah banyak terdapat, dan bisa dibuat di tanah air, seperti Bitterballen, Poffertjes, Kroket, ataupun Olliebollen. Tapi masih banyak lagi lainnya yang tentu berbeda rasanya dibandingkan di Indonesia.

Satu favorit saya adalah Stroopwafels. Makanan ini banyak bertebaran di mana-mana kalau kita ke Amsterdam. Prinsipnya, Stroopwafels ini adalah sirup wafel, yang terbuat dari butter dan diolesi sirup di tengahnya. Sejarahnya, makanan ini pertama dibuat di dareah Gouda, Belanda, pada abad ke-18. Hingga tahun 1870, stroopwafels ini hanya dibuat di Gouda, belum diekspor ke kota lain. Bahkan katanya, di tahun tersebut, ada sekitar 100 pedagang stroopwafels, hanya di kota Gouda.

Membeli Stroopwafels ini mudah karena sekarang sudah banyak dibuat kering dan dijual di supermarket. Tapi saya paling suka mencicipi stroopwafels yang segara, atau yang dibuat langsung di depan kita. Banyak pedagang Stroopwafels yang bisa dicoba. Saya mencicipi yang di dekat Rijkmuseum, sebelum Museum Van Gogh. Lalu ada lagi yang segar di daerah Albert Cuyp Market. Di sana, kita bisa melihat penjual wafel membuat adonan kuenya, lalu memasukkan ke mesin pressing. Setelah beberapa waktu, wafel matang. Dibagi dua dan diolesi sirup di tengahnya. Hmmm, lezaat.

Selain Stroopwafels, ada satu kudapan lokal yang menarik. Sebenarnya sih ga terlalu istimewa, tapi hampir semua orang menganggap ini adalah kudapan paling populer di Belanda. Namanya sih keren, Vlaamse Friet. Tapi sebenarnya ini hanyalah kentang goreng dengan diolesi aneka saus dan mayonnaise. Orang Belanda menyebut makanan ini dengan nama Patat. Awalnya, dulu makanan ini diciptakan di bagian utara Belgia, makanya dinamakan Vlaamse Friet. Kini, Patat menjadi makanan paling populer kalau kita ke Belanda.

Vlaamse Friet, satu kudapan lokal Amsterdam yang wajib coba / photo junanto

Vlaamse Friet, satu kudapan lokal Amsterdam yang wajib coba / photo junanto

Saya mencicipi Patat di warung Manneken Pis yang terletak di Damrak. Katanya, menurut klaim mereka, inilah number 1 Patat in Holland. Kayaknya sih bener begitu. Saat saya mau mencicipi, antriannya sungguh panjang mengular. Well, biasanya kalau yang antri ramai, makanannya populer.

Saya memesan satu Patat dengan saus mayonnaise dan sate (beneran loh ada saus sate bumbu kacang). Kentang gorengnya tebal dan empuk. Tapi yang membuat unik adalah taburan sausnya. Kita bisa memilih lebih dari sepuluh jenis saus, mulai dari yang klasik hingga yang pedas, ataupun saus sate. Selain saus, kentang juga ditaburi dengan irisan bawang bombay. Nah, kombinasi ini tadi yang membuat Patat menjadi khas, atau bukan sekedar kentang goreng biasa.

Salam

Mencicipi Ikan Haring Mentah di Amsterdam

Kedai Haring Favorit Saya, Stubbe's Haring / photo junanto

Kedai Haring Favorit Saya, Stubbe’s Haring / photo junanto

Setiap perjalanan adalah sebuah pengalaman, termasuk pengalaman mencicipi kuliner khas di daerah yang kita kunjungi. Perjalanan saya ke Amsterdam di pertengahan musim panas 2014 ini pun demikian. Seperti biasa, saya mencari makanan lokal yang unik dan belum pernah saya coba. Hal itu membawa saya pada satu kudapan lokal favorit, yang namanya “Hollandse Nieuwe Haring”.

Saat bertanya pada orang lokal, makanan ini adalah yang direkomendasikan atau wajib coba kalau ke Amsterdam. Bahkan di blog Top 10 Dutch Food that You Should Try, Nieuwe Haring termasuk di antaranya. Pada prinsipnya ini adalah ikan haring mentah. Yup, mentah. Ikan Haring dari Laut Utara ditangkap di penghujung musim semi, dibersihkan, dipotong kepalanya, lalu diolah dengan cara khusus (katanya direndam dalam cairan pankreas ikan itu sendiri). Setelah selesai, Ikan Haring mentah ini dimakan dengan kondimen irisan bawang bombay dan acar (pickles).

Hanya ikan yang ditangkap di bulan Mei hingga Juli yang bisa disebut sebagai Nieuwe Haring, karena itu adalah musim-musim penangkapan ikan haring. Di seputaran kota Amsterdam, banyak terdapat warung-warung yang menyediakan ikan haring ini. Kalau ada kedai bertuliskan “Vishhandel” ataupun yang memasang bendera Belanda, umumnya mereka menjual ikan haring.

Tapi kedai yang recommended menurut saya adalah kedai Stubbe’s Haring. Letak kedai ini tak jauh dari Amsterdam Central Station. Tepatnya di penghujung jalan Haarlemmerstraat, di daerah Joordan. Kedai ini terlihat mencolok jadi gampang ditemui kalau kita berjalan dari Central Station ke kanan.

Ikan Haring Mentah ini bisa dimakan langsung bulat-bulat, atau boleh juga dengan menggunakan roti. Kalau dibuat semacam sandwich, namanya “Broodje Haring” atau Sandwich Haring. Tapi kalau mau makan Niuewe Haring dengan cara lokal seperti para Amsterdammers, makanlah bulat-bulat. Caranya, pegang buntut ikan, angkat tinggi-tinggi, dongakkan kepala kita, buka mulut, dan masukkan ikan haring mentah perlahan-lahan.

Makan ikan mentah bagi saya sebenarnya adalah hal biasa. Saat tinggal di Jepang beberapa waktu lalu, saya paling suka makan ikan mentah atau sushi di pasar ikan Tsukiji. Namun ikan haring mentah ini kok keliatannya beda ya. Saat saya pesan, penjual haring menanyakan, apakah mau pakai roti atau dimakan langsung. Tentu saya memilih cara lokal dengan memakan langsung. Begini penampakan ikannya:

Seperti inilah Hollandse Nieuwe Haring / photo junanto

Seperti inilah Hollandse Nieuwe Haring / photo junanto

Hmmmm, aroma mentah ikannya masih tercium. Lalu licin atau lendir daging ikannya juga terasa. Ini jauh berbeda dengan sushi atau sashimi di Jepang. Ini betul-betul ikan mentah, yang diproses dengan cara Belanda. Awalnya saya ragu mencoba, kayaknya ini amis dan ga enak deh. Tapi tentu saya harus mencoba sebagai pengalaman, setidaknya saya sekali seumur hidup makanan ini perlu dicicipi.

Dan, saya pun melakukan aksi makan haring versi lokal, dengan mengangkat buntut ikan ke atas, dan memasukkan ke mulut saya perlahan demi perlahan.

Mencicipi Haring ala Orang Belanda

Mencicipi Haring ala Orang Belanda

Hmmmph, ternyata dugaan saya salah. Rasanya enak ! … Memang terasa mentah, tapi kelembutan daging haring, tekstur rasa dan kualitas ikannya, luar biasa. Saya sangat menikmati Holandse Nieuwe Haring ini.

Dan tentunya, ini bukan pengalaman sekali seumur hidup. Karena sore harinya, saya kembali ke Stubbe’s Haring untuk memesan lagi satu Ikan Haring Mentah… Hmmm, ketagihan ni yeeee ….

Salam Haring

Mafia Nasi Goreng

Nasi Goreng Preman /photo junanto

Nasi Goreng Preman /photo junanto

Ada Mafia di Bandung! …. Ini satu pengalaman menarik dalam kunjungan saya ke Bandung beberapa waktu. Setelah lebih dari enam tahun saya tidak ke Bandung, banyak hal berubah di kota itu, khususnya peta kulinernya. Adalah mbak Stefanie Kurniadi dan Mbak Sarita Sutedja, kawan saya di media sosial yang mengenalkan saya pada  kedai milik mereka yang wajib dicoba. Nama kedainya, Nasi Goreng Mafia. Wah, mendengar namanya, saya pikir ini Nasi Goreng punya Mafia gitu. Tapi ternyata pemiliknya justru anak-anak muda yang baik hati. “Mas Iwan musti mampir, dan coba NasGor Mafia ya”, tulis mbak Stefani kepada saya.

Sebagai orang Indonesia, saya selalu suka nasi goreng. Menurut saya, nasi goreng adalah “national food” yang terkenal di mancanegara sejak dulu. Pengalaman saya bepergian ke berbagai negara, kalau masuk rumah makan Indonesia, maka menu yang pasti ada dan dikenal, adalah Nasi Goreng. Berbeda dengan restoran Thailand yang sudah terstruktur dalam urutan menu, mulai dari appetizer hingga desert, masakan Indonesia di luar negeri belum memiliki standar seperti itu. Akibatnya, orang asing kerap bingung memilih berderet menu Indonesia yang ada. Kalau sudah begini, maka Nasi Goreng menjadi favorit dan andalan. A must try menu in Indonesia Restaurant.

Saat tinggal di Tokyo beberapa waktu lalu, semua restoran Indonesia di sana juga menyajikan Nasi Goreng sebagai menu andalan. Kawan saya, Masaki-san, pemilik restoran Cabe di wilayah Meguro, mengklaim kalau nasi goreng cabe adalah yang terenak se-Jepang. Hehehe tentu saja dia subyektif. Karena di Tokyo banyak Nasi Goreng yang lain, mulai dari Wayang Bali, Warung Surabaya, dll. Ya, meski kesannya sederhana, nasi goreng sungguh sangat subtil dalam rasa. Sedikit saja perbedaan dan inovasi dalam bumbu, rasanya akan sangat berbeda.

Nah di sinilah nama Nasi Goreng MAFIA menjadi relevan. Konon kata MAFIA, berasal dari akronim MAsakan Favorit IndonesiA. Ya, memang tak salah. Dari pengalaman saya tadi, Nasi Goreng adalah makanan favorit, bukan hanya orang Indonesia, tapi juga warga asing. Keberadaan Nasi Goreng Mafia di Bandung memang relatif baru, atau berdiri sejak November 2013. Tapi perkembangannya sangat pesat.

 

Bersama Mas Sobar yang menjelaskan tentang Nasi Goreng Mafia

Bersama Mas Sobar yang menjelaskan tentang Nasi Goreng Mafia

Menurut mas Sobar, yang saya temui di sana, saat ini Nasi Goreng Mafia sudah punya enam gerai di Bandung, satu di Jakarta, dan Pekanbaru. Ke depan tentu masih akan terus berkembang apabila melihat animo penggemarnya Saya sungguh tercengang melihat warung kecil di Jalan Dipati Ukur Bandung itu yang luar biasa ramainya. Sebagian besar yang datang umumnya adalah anak muda atau mahasiswa.

Sebelum sampai ke rasa, keunikan Nasi Goreng Mafia terletak bagaimana mereka melakukan diferensiasi pada brand-nya. Banyak Nasi Goreng, tapi yang ini beda. Di mana bedanya? Saat pertama kali masuk warung, kita sudah melihat suasana yang unik tak terlupakan. Dinding warung diisi oleh komik-komik para mafia dari berbagai negeri. Ada Godfather, Yakuza, dan Triad. Menu yang ditawarkan juga seru, ada nasi goreng godfather, triad, yakuza, preman, dan berandal. Hal yang menarik, sebagaimana branding dari berbagai masakan di Indonesia, adalah tingkat kepedasan. Pedas seolah menjadi ciri kesukaan orang Indonesia. Makan apapun, kalau belum pakai cabe, rasanya belum sempurna. Nah, tingkat kepedasan Mafia ini juga dibuat berlapis, mulai dari menenangkan, menggoda, menyesakkan, merisaukan, menyesal, hingga mematikan.

Saya memesan Nasi Goreng Preman yang rasanya unik. Rasa rempah dan bumbunya sungguh luar biasa generous. Tentu saja kepedasannya tak akan terlupakan. Ini betul-betul makanan yang menyenangkan dan mengenyangkan. Soal harga juga tak mahal karena dibuat bersahabat dengan anak muda dan mahasiswa, atau sekitar 13 ribu hingga 15 ribu per porsi.

Pengalaman saya mencicipi banyak nasi goreng di dunia, Nasi Goreng Mafia ini salah satu yang rasanya tak terlupakan. Ngangenin. Ya, Nasi Goreng Indonesia memang ngangenin, tak heran kalau Wieteke Van Dort secara khusus membuat lagu untuk mengenang dan mengobati kerinduannya pada Nasi Goreng, Geef Mij Mar Nasi Goreng.

Selamat buat mbak Stef dan Sarita. Sukses selalu. Dan buat teman yg mau coba, hati2 kalau pilih menu dengan level “Mematikan”. Jangan sampai “mati” di-dor Mafia. Salam

Nasi Goreng Mafia

Nasi Goreng Mafia

Cupcakes Kebahagiaan

Mencicipi DC Cupcakes bersama kawan Donny

Mencicipi DC Cupcakes bersama kawan Donny

Hari bergeser malam di kota Washington DC, saya dan kawan Dony Ardiansyah biasanya akan memilih cari makan malam yang praktis. Ya, kita hanya berada di Washington selama satu pekan untuk menghadiri sebuah kursus. Makan sekedarnya, asalkan bisa menjadi pengalaman, adalah tujuan persinggahan kami. Tak seperti kota New York yang hingar bingar, hingga disebut sebagai “City That Never Sleep”, Washington adalah kota yang tenang dan kalem, nyaris seperti kota mati kalau malam hari.

Begitu matahari tergelincir di musim semi, sekitar pukul 20.30 malam, jalanan sepanjang Dupont Circle hanya menyisakan keramaian pub, restoran, dan klab malam, yang masih jauh dibandingkan ramainya kota Jakarta di malam hari misalnya.

Di tengah kondisi tadi, kami punya satu tekad, yaitu mencari makanan yg berharga sebuah pengalaman. Tapi apa? Donny menyebut tentang terkenalnya Cupcakes di sini. Sayapun teringat sebuah reality show televisi yang lumayan tenar di Indonesia, DC Cupcakes judulnya. Reality show itu bercerita tentang sebuah toko cupcakes, atau kue mangkok, yang dikelola oleh dua saudara Sophie LaMontagne dan Katherine Kallinis. nama tokonya Georgetown Cupcakes, berlokasi di daerah Georgetown.

Mencapai wilayah Georgetown sangat mudah karena wilayah itu merupakan tempat wisata sehingga banyak dilalui oleh bis “circular loops”, dengan ongkos satu dollar. Georgetown dipenuhi oleh toko-toko, baik butik, restoran, gadget, yang terletak dalam berbagai bangunan kuno. Kita bisa merasakan suasana Washington tempo doeloe di sini, karena hampir seluruh bangunannya bergaya Victoria abad ke 18.

Georgetown Cupcakes terletak di satu sudut jalan. Menemukannya sangat mudah karena langsung terlihat penuh dan antrian yang panjang. Rupanya bukan hanya di Indonesia, melainkan di Amerika juga, Cupcakes sedang happening. Tak hanya Georgetown Cupcakes, di daerah situ ada beberapa warung cupcakes yang enak-enak. Satu yang pernah saya coba adalah Sprinkles Cupcake. Ini rasanya enak, karena cupcakesnya ditaburi begitu banyak topping tang sangat generous, seperti coklat ataupun coklat kelapa favorit saya.

Antrian di depan Georgetown Cupcakes / photo junanto

Antrian di depan Georgetown Cupcakes / photo junanto

Kembali ke Georgetown Cupcake, Saya dan Donny melihat antrian yang cukup panjang. Kami hitung, ada mungkin sekitar 50 meter. Sebagian besar yang mengantri adalah anak-anak muda perempuan, ataupun pasangan kekasih. Hmm, secara kita cowo2 gagah begini, rasanya imut amat ya kalau ikuta antri cupcakes berduaan (ehem hehehe). Tapi demi sebuah pengalaman, apa salahnya dicoba.

Dan, malam itu kitapun dengan manis mengantri di antara mereka. Ternyata tak salah, it was an experience worth to try. Kami memesan beberapa cupcakes favorit, seperti chocolate ganache, red velvet, dan lava fudge. Oh my God, saya harus mengakui, inilah cupcakes terenak sedunia. Lembut dan kaya rasa. Toppingnya menambah gelora kelembutan rotinya. Tak tertandingkan.

Malam itu, kita kembali ke hotel dengan senyum bahagia. Kita bisa mencicipi kenikmatan kecil dalam semangkuk cupcakes. Ya, kadang banyak hal-hal kecil di dunia ini yg menarik dan layak dicoba. Tak perlu besar, hanya satu cupcakes saja. Sebagai sebuah pengalaman. Sebagai kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Episode hari itu, saya menyebutnya, cupcakes kebahagiaan. Salam perjalanan.

Chocolate Ganache, satu yang wajib coba di sini / photo junanto

Chocolate Ganache, satu yang wajib coba di sini / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia, Washington DC

Steak Halal di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Buat banyak orang, terutama umat muslim, bepergian ke luar negeri kerap membawa masalah sendiri, terkait dengan makanan. Mulai dari kecocokan lidah, hingga kehalalan makanan yang tersedia, adalah kendala yang dihadapi.  Ujung-ujungnya, kalau tidak hanya makan sayur, ya memilih makan ikan saja, untuk amannya.

Namun kini sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir. Hampir di setiap negara maju yang non muslim, sudah banyak terdapat warung atau restoran yang menyediakan daging halal. Di Jepang saja, sudah mudah untuk menemukan restoran yang menyajikan daging halal. Demikian pula di Amerika Serikat. Bukan hanya restoran umum saja yang mulai menyediakan daging halal, bahkan di kantin Bank Dunia, Washington DC, misalnya, saya menemukan sajian menu halal untuk para pegawai maupun tamu Bank Dunia.

Bank Dunia memang mewakili kepentingan dari berbagai suku bangsa, agama, ras, dan tradisi. Pekan lalu, saya mengunjungi Bank Dunia dalam rangkaian seminar membahas Sektor Keuangan. Saat memasuki gedung kantor Bank Dunia, suasana internasional sudah sangat terasa. Di tempat itu, semua bangsa ada. Saya melihat orang Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia, berseliweran. Dalam satu lift misalnya, kerap terdengar orang berbicara dalam berbagai bahasa yang berbeda. Kadang rasanya seperti lost in translation.

Saat makan siang tiba, saya diajak kawan saya untuk mencicipi makan siang di kantin Bank Dunia, yang terletak di lantai B1 Gedung Utama. Pada jam makan siang, kantin itu penuh oleh pegawai Bank Dunia, dari segala level dan tingkatan. Kata teman saya, bukan hanya pegawai biasa, bahkan level Managing Director ataupun Presiden Bank Dunia, sering muncul di sini untuk makan bersama. Mereka sangat cair dan lepas dari protokoler yang ribet. Ibu Sri Mulyani, Managing Director Bank Dunia, asal Indonesia, juga katanya sering muncul di sini untuk makan siang berbaur dengan pegawai.

Sudut Halal Grill di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Sudut Halal Grill di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Kantin Bank Dunia ini luas sekali. Hampir memenuhi setengah dari lantai B1 tersebut. Sebelum memilih makanan, kita mengambil nampan, sendok garpu, atau pisau terlebih dahulu. Lalu kita bebas memilih aneka ragam makanan yang tersedia. Sangat menarik melihat kantin mereka. Bukan seperti kantin pegawai, tapi lebih mirip seperti foodcourt di mall.

Aneka ragam makanan dari berbagai negara disajikan. Ada juga festival makanan dari negara-negara tertentu yang digilir penyajiannya dalam beberapa waktu tertentu. Saat saya datang, sedang diadakan festival makanan Kuba. Berbagai sajian lokal Kuba ditampilkan. Bendera Kuba kecil-kecil juga dipasang di tempat penyajian makanan untuk menambah marak festival.

Namun yang menarik lagi, saya melihat satu counter makanan yang menyajikan aneka daging halal. Tertulis di atasnya tanda “Halal Grill”. Wah, menarik, karena kita tidak perlu repot mencari-cari makanan halal di luar. Di kantin itu, ada beberapa pilihan daging, mulai dari  kambing, ayam, hingga sapi. Dan pastinya, semua halal.

Saya memesan Daging NY Strip Steak. Petugas kantin lalu bertanya ingin disajikan apa, medium done atau well done. Saya memilih medium done, agar rasa dagingnya lebih juicy. Daging kemudian dipanggang, dan disajikan dengan salad dan sayuran. Kita bisa juga memilih kentang atau nasi sebagai pendamping. Soal rasa, tentu kualitasnya seperti restoran. Simple namun memiliki kelezatan tersendiri. Steak yang saya pesan rasanya lezat. Dagingnya lumayan lembut, dan bumbu salad serta sayurnya kaya.

Kantin Bank Dunia, atau mereka menyebutnya Cafeteria, adalah sebuah representasi keragaman yang indah. Dalam suasana dan lingkungan beragam, prasyarat yang diperlukan untuk menjaga keharmonisan dan kestabilan tatanan adalah “respect”, atau saling menghormati. Dan di Kantin Bank Dunia, nilai itu terlihat. Mewujud dalam aksi. Bukan sekedar jargon atau kata-kata di spanduk. Ya, keragaman itu indah, meski katkata itu kerap lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Salam Keragaman.

Mencari Kesempurnaan Burger di Amerika

 

Shroom Burger yang mlekoh di Shake Shack Washington DC / photo junanto

Shroom Burger yang mlekoh di Shake Shack Washington DC / photo junanto

Berbeda dengan negara lain, Amerika Serikat nyaris tidak punya makanan lokal yang khas. Kalau ke negara Asia, atau beberapa negara Eropa, dengan mudah kita bisa menemukan makanan lokal. Tapi kalau ke Amerika dan mencari makanan lokal, ya ujung-ujungnya hanya ada satu jawaban, hamburger.

Tentu tidak heran, karena sejarah negeri tersebut adalah rangkaian dari beragam suku bangsa yang membangun sebuah negeri bernama Amerika Serikat. Jadi kalau mau mencari makanan dari beragam penjuru dunia, di Amerika lah tempatnya. Makanan Mexico-nya enak, Makanan Italia-nya enak, Makanan Afrika-nya enak, bahkan Makanan Jepang-nya enak.

Tapi tentu saya tidak ingin mencoba semua itu. Mencicipi masakan lokal di setiap kunjungan atau travel, biasanya menjadi kebiasaan saya untuk mengenal lebih dekat kultur ataupun sosiologi suatu bangsa. Ya, dari makanan kita bisa mengenal sejarah dan kebiasaan suatu bangsa. Untuk itu, dalam kunjungan ke Washington DC kemarin, saya mencari makanan Amerika, dan, apalagi kalau bukan burger hehe.

Saya berjalan bersama rekan Evie Silviani dan suaminya, Kang Odink, yang sedang tinggal dan bertugas di Washington DC. Mereka merekomendasikan restoran burger Shake Shack kalau mau mencicipi burger Amerika yang sedang “happening”. Shake Shack yang didirikan pada tahun 2001, kini tumbuh menjadi satu chain restoran yang sedang populer dan happening di seantero AS. Bahkan restoran ini sudah merambah dunia internasional dengan membuka cabang di berbagai negara, seperti Turki dan beberapa negara Timur Tengah. Tinggal menunggu waktu saja, resto ini buka cabang di Indonesia keliatannya hehehe.

Memasuki Shake Shack, saya mulai merasakan suasana yang sangat Amerika. For the love of Burger. Orang rela mengantri, panjang, demi sebuah kenikmatan sepotong daging dalam jepitan roti bun. Hampir semua yang mengantri saya perhatikan adalah anak muda, atau keluarga muda. Termasuk juga beberapa turis seperti saya.

Pilihan menu di Shake Shack sangat beragam. Evie menyarankan memesan Shroom Burger. Ini kombinasi menawan antara patty burger dan jamur portobello. Jamurnya dibuat burger dan digoreng garing. Kenikmatan di sini sangat unik, daging burger dimasak pas, hingga berwarna coklat kekuningan, mirip kertas sampul coklat yang basah. Kekeringan dagingnya merata luar dalam. Ditaburi sedikit garam sehingga rasanya gurih dan tentunya, crispy lezat.

Saya percaya bahwa burger yang baik adalah burger yang indah. Kalau kita lihat tampilan burger yang mengandung unsur artistik dan keindahan, saya yakin pasti rasanya juga lezat. Dan Shroom Burger mengandung dua unsur itu, indah dan sungguh lezat. Deep-fried jamur portobelo dimasak garing, mencuat di tengah roti burger yang sesak oleh daging, sayuran, tomat, dan lelehan keju yang sangat lezat. Panasnya lelehan keju terasa di tangan kita, hingga kita harus menunggunya beberapa saat sebelum mengunyah kelezatan burger itu.

Hmmmm, saya sudah banyak mencoba burger di penjuru dunia, tapi memang menurut saya Shake Shack burger ini punya keunikan dan kelezatan tersendiri yang tak akan terlupakan. Oh ya, satu lagi. Burger di Amerika ini porsinya ukuran Amerika alias gede banget. Ya, makanan di Amerika umumnya memang disajikan dalam porsi jumbo. Tak heran kalau lihat orang Amerika badannya besar-besar ya hehe. Kalau perut kamu ukuran standar Indonesia, awas bisa kekenyangan atau tidak habis dalam melahap burger versi Amerika ini.

Crab Cake Sandwich di Georgetown, Washington DC / photo junanto

Crab Cake Sandwich di Georgetown, Washington DC / photo junanto

Selain mencicipi burger Shake Shack, dalam satu kesempatan saya juga mencoba satu makanan khas wilayah Maryland, Washington, yang namanya Crab Cake. Ini adalah makanan yang kalau dirunut usianya sudah ratusan tahun lalu ada di Amerika. Dulu para nelayan menangkap kepiting, dan mengolah dagingnya menjadi satu makanan yang dinamakan crabcake. Prinsipnya crab cake ini seperti daging burger, namun isinya adalah daging kepiting. Hmmm, manteb kan.

Di Georgetown, Washington DC, saya mampir ke satu restoran kecil. Namanya Tackl. Di sana saya memesan Crab Cake Sandwich. Sebagai camilan, saya memesan semangkuk Neck Clam with butter sauce and lemon. Ini semacam kerang disiram kuah butter dan jeruk lemon.

Crab Cake Sandwichnya luar biasa enak. Serpihan daging kepiting terasa gurih, dipadu dengan roti burger, mustard, mayoinesse, daun selada, bawang, dan tomat. Sebuah perpaduan yang kaya dan menggugah selera. Porsinya yang besar tidak menjadi masalah kalau perut sedang lapar.

Neck Clam with Butter Sauce and Lemon / photo junanti

Neck Clam with Butter Sauce and Lemon / photo junanto

Neck Clam butternya juga segar. Gurihnya keju, asamnya lemon, berpadu dengan segarnya daging kerang, menjadikan hidangan tersebut kaya akan rasa lautan. Enak, lezat, segar, manteb.

Di Amerika, burger, crab cake, adalah makanan lokal yang layak dicoba. Meski makanan itu sudah go international, mulai dari Burger King hingga McDonalds, mencicipi burger di tanah kelahirannya adalah sebuah pengalaman tersendiri. Cicipi, rasakan, dan temukan sensasinya.

Salam Burger.