Bikin Rujak Uleg Berjamaah

Peserta Festival Rujak Uleg 2013 / photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Peserta Festival Rujak Uleg 2013 / photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Ingat Surabaya, pasti ingat Rujak Uleg, atau dikenal juga dengan nama Rujak Cingur. Ya, itulah “masterpiece” makanan Surabaya. Makanan itu telah terkenal sejak dulu kala.

Nah, bagaimana kalau ada 1500 orang berkumpul dan membuat rujak cingur bersama-sama? Pasti heboh kan.

Siang tadi (12/5), saya menyaksikan peristiwa tersebut di Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Ribuan orang tumpah ruah memadati jalanan sejak pukul 12.00 siang. Jalan Kembang Jepun ditutup khusus untuk memeriahkan Festival Rujak Uleg 2013, yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Surabaya yang ke-720.

Dan ini yang menarik, saat saya tiba di ujung jalan, saya melihat peserta festival, membuat rujak uleg dengan menggunakan aneka dandanan unik. Ada yang model drakula, carok, tokoh wayang, pendekar Cina, tokoh animasi, bahkan ada yang memakai topeng Eyang Subur.

Demi Tuhaaan ! memang itu topeng eyang Subur. Sambil membuat rujak cingur, mereka semua ramai-ramai berteriak, “Demi Tuhaaaan ! “. Saya rasa rujak cingur buatan mereka rasanya akan sangat emosional.

Kostum Eyang Subur di Festival Rujak Uleg 2013 / photo taken with Samsung NX300

Kostum Eyang Subur di Festival Rujak Uleg 2013 / photo taken with Samsung NX300

Rujak uleg dibuat secara beregu, masing-masing regu beranggota 3-5 orang. Saya sempat berkumpul dan ngobrol dengan ibu-ibu, dari Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kelurahan Tambak Sari. Mereka mengatakan telah berlatih dan mempersiapkan ramuan rujak yang terlezat. Wow, saya mau coba.

Rujak Uleg dibuat dari kombinasi cabai, petis, terasi, kacang, diuleg rata jadi satu bumbu. Bumbu rujak uleg ini lezat tak terkira. Perpaduan aneka bumbu tadi, selain menimbulkan aroma harum, juga meninggalkan cita rasa yang melekat di lidah.  Kemudian setelah bumbu selesai, di cobeknya ditambahkan sayuran, tauge, tahu, tempe, timun, nanas, sedikit mie, dan lonthong. Nah, jangan lupa juga, ada elemen terpenting yaitu cingur  alias hidung sapi.

Wow, buat yang belum pernah makan hidung sapi, tentu agak sedikit ragu. Namun kalau sudah mencicipi, saya jamin ketagihan. Makan cingur sapi ada seninya. Jangan langsung ditelen, karena bisa “kelolotan”, aliat tersedak. Dimakan pelan-pelan, dirasakan sensasi kelembutan dan rasa kenyal-kenyalnya.

Satu hal yang menyenangkan dari menyaksikan festival Rujak Ulek ini adalah kesempatan saya mencicipi berbagai kombinasi ramuan rasa rujak. Dari satu meja ke meja yang lain, bapak-bapak dan ibu-ibu peserta festival menawarkan saya untuk mencicipi rujak buatan mereka.

Mulai dari rasa yang emosional dari Tim Eyang Subur, alias pedesnya gak ketulungan, hingga yang rasanya “mild”, saya cicipi satu demi satu.

Di ujung acara, perut saya kekenyangan rujak uleg.

Rujak Ulek buatan salah satu tim / photo taken with Samsung NX300

Rujak Ulek buatan salah satu tim / photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Acara Festival Rujak Uleg ini sungguh menarik. Selain sebagai keriaan dalam memperingati hari jadi Kota Surabaya, upaya pemerintah kota Surabaya mengangkat menu kuliner khas kota yang nyaris punah perlu diapresiasi.  Munculnya waralaba makanan internasional dan asing, memang perlahan mulai menggusur banyak makanan tradisional. Beberapa makanan tradisional bahkan ditengari sudah punah dan tidak ada lagi yang menjual. Sungguh sayang sekali.

Semoga Festival Rujak Uleg ini mampu melestarikan dan menumbuhkan kecintaan kita pada makanan tradisional negeri.

Salam Rujak Uleg !

Lezatnya Kepiting saat ketemu Kambing

Siang tadi, Cak Dul, kawan saya di kantor, membawa aneka sajian kuliner Jawa Timuran yang dimasak khusus oleh istrinya.  Pekan lalu, Cak Dul berulang tahun. Hari ini ia ingin mentraktir rekan-rekannya di kantor. Istri Cak Dul memang terkenal jagoan soal memasak berbagai kuliner Jawa Timur, mulai dari bebek goreng, lontong kikil, gule kambing, bisa dibuat. Dan yang paling penting, semua makanan itu, rasanya super enak. Tapi itu kata orang. Saya belum pernah mencobanya.

Nah siang ini, Cak Dul membawa menu istimewa. “Pokoknya, Bapak musti coba makanan kali ini!”, demikian promosinya.

Ia paham betul kalau saya ini kerjanya tukang cicip, alias gemar mencicipi aneka jenis kuliner. “Ok Cak, saya coba dulu, dan nanti saya buktikan kata-kata Cak Dul, benar enak atau tidak”, tanggap saya.

Saat melihat sajian kuliner yang dibawa Cak Dul hari ini, saya hanya bisa terpana. Di meja rapat, yang disulap jadi meja makan, terhampar “Dua Kenikmatan”. Pertama, Kepiting Kare Khas Surabaya, dan Kedua, Krengsengan Kepala Kambing.

Oh no, ini adalah kenikmatan yang paling berat untuk ditahan, apalagi bagi para penggemar kepiting dan kambing seperti saya.

Saya hanya terpukau di hamparan kelezatan itu.

Kepiting Kare Cak Dul Surabaya

Kepiting Kare Cak Dul Surabaya

Sayapun mencicipi Kepiting Karenya. Singsingkan lengan baju, gunakan tangan kosong, dan ambillah kepiting dengan tangan kosong. Kepiting disajikan dengan saus dan bumbu khas yang rasanya gurih, lezat, dan pedas. Kelezatan bumbu ini menyesap dalam ke setiap lembar daging kepiting. Jadi kalau kita menghisap cangkang dan capitnya, semburat bumbu mengaliri liur kita. Lezat. Pedas.

Daging kepitingnya juga jagoan. Bu Dul cukup piawai memilih kepiting yang berdaging dan masih manis rasanya. Saat saya belah cangkangnya, daging kepitingnya mlekoh hangat meminta disedot. Dahsyat.

Beralih ke Krengsengan. Saya terpana jilid II. Karena ternyata ini bukan sekedar krengsengan kambing, tapi krengsengan kepala kambing. Yup, di dalam bumbu krengsengan itu, potongan bagian kepala kambing disajikan. Kalau beruntung, bisa dapat mencicipi mata kambing tuh hehehe…

Krengsengan Kepala Kambing

Krengsengan Kepala Kambing

Krengsengan ini beda dengan Gule. Di Krengsengan, bagian daging kambing dipotong kecil lalu dibumbui minimal, seperti tumisan bawang merah, bawang putih, ketumbar, merica, pala. Campuran ini lalu ditambah dengan kecap manis pada waktu memasak, sehingga tidak banyak berkuah dan berwarna coklat tua.

Mencicipi pipi kambing, bibir kambing, bagian kepala kambing, adalah sebuah pengalaman luar biasa. Dan soal rasa, mmmpph, sungguh tak tepermanai lezatnya.

Merasakan kelezatan kuliner ini, saya jadi bisa memahami mengapa Cak Dul selalu tersenyum bahagia setiap pagi.  Karena menurut Cak Dul, bahagia itu sederhana. Happiness is simple. Pikiran tenang, tubuh sehat, makan enak.

Tapi, jangan pikirkan kolesterol dulu. Bisa mengurangi kelezatan katanya. Nikmati saja lah kombinasi dahsyat Kepiting Kare dan Kepala Kambing Cak Dul.

Salam Dahsyat.

Tak Semua Pecel Diciptakan Sama

Nasi Pecel Hj Boeyatin Ketabang Kali Surabaya / photo junanto

Kalau dilihat sekilas, tak ada yang istimewa pada pecel ponorogo Hj. Boeyatin. Warung kecil di pinggir Kali Mas Surabaya itu, menyajikan nasi pecel berupa aneka sayuran yang ditaburi bumbu kacang di atasnya. Tak beda dengan pecel-pecel yang lain kan. Tapi mengapa warung pecel ini begitu ramai dan terkenal?

Karena penasaran, saya-pun mampir mencicipi Pecel Ponorogo di jalan Ketabang 51 Surabaya itu. Saat mencicipi sepiring nasi pecel, saya langsung bisa membedakan. Semua pecel itu mirip, sayuran seperti bayam, pare, taoge, kacang panjang, dan bunga turi, dicampur dan diberi bumbu. Tapi bumbu pecel itulah yang membedakan. Bumbu pecel di Boeyatin ini sangat istimewa. Rasa kacangnya berbeda.

Kabarnya, Boeyatin menggunakan kacang khusus dari Tuban. Istimewa memang rasanya karena lebih renyah dan gurih. Dipadu padan dengan bumbu seperti gula, garam, cabai, kencur, dan jeruk purut, rasanya mewah dan membuat lidah menari-nari. Ada dua pilihan, pedas atau tidak. Biasanya kita akan ditanya, ingin rasa yang mana. Kalau doyan pedas, saya sarankan memilih yang pedas. Lezat.

Bumbu kacang pecel Boeyatin ini juga tampaknya digiling secara manual. Hal ini menjadikan butir-butir kacangnya masih terasa. Ini dia yang membuat enak.

Keunikan lain dari pecel Boeyatin adalah aneka jajanan yang bebas kita pilih. Boeyatin meletakkan nasi, bumbu, sayuran, dan lauk-pauk, seperti ayam goreng, empal, otak, tahu dan tempe bacem, perkedel, serta tahu dan tempe goreng, di atas meja. Lauk itu masih ditambah sate ayam dan kerang.

Setelah menerima nasi pecel di piring, saya bebas mengambil lauk yang diinginkan. Bahkan, boleh minta tambah nasi, sayuran, atau bumbu. Penyajian seperti ini membuat warung Boeyatin seperti “rumah”.

Warung yang sudah berdiri puluhan tahun ini memang semacam ikon bagi Surabaya. Pelanggannya mulai dari pejabat hingga artis, termasuk pelanggan yag turun temurun. Oleh karenanya, kalau mampir ke Surabaya, makan nasi pecel Boeyatin, adalah sesuatu yang “must try”.

Wader, Makanan Khas Majapahit

Wader Goreng Trowulan / photo iwan

Mencicipi kuliner yang punya sejarah panjang bisa jadi sebuah sensasi tersendiri. Saat saya mampir ke daerah Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur, saya diajak kawan untuk mampir mencicipi hidangan khas jaman Majapahit. Ya, daerah Trowulan adalah lokasi situs arkeologi Kerajaan Majapahit yang terkenal. Bagi saya itulah salah satu situs yang masuk kategori paling “grandiose” di dunia. Kita bisa melihat aneka peninggalan arkeologi pada jaman Majapahit di sana.

Tapi bukan hanya soal situs, melainkan juga makanan yang punya cerita. Entah mitos atau nyata, tapi tak jauh dari situs Kolam Segaran, sebuah kolam kuno, tampak berderet warung Ikan Wader Goreng. Wader adalah ikan kecil-kecil yang hidup di kolam atau sungai. Masyarakat Trowulan, sejak jaman Majapahit, konon menangkap ikan wader dari kolam Segaran untuk dimakan.

Saya mampir ke satu warung yang terkenal, namanya Warung Ibu Tin. Warung ini sangat populer di kalangan masyarakat sekitar. Bahkan, beberapa pejabat dan artis pun konon pernah singgah di warung yang berada di pinggir situs kolam segaran itu.

Menu masakan di warung ini adalah ikan wader goreng yang diletakkan di atas sambal khas. Nasi hangat disediakan sebagai pendamping kelezatan. Nasi wader Trowulan Segaran ini memiliki rasa yang khas, dan resep bumbu yang berbeda. Saya merasakan kekuatan rasanya ada pada sambal yang pedas dan segar.

Biasanya kalau ingin membuat sambal, kita menggoreng sambal terlebih dahulu sebelum digoreng dan ditumbuk. Tapi di warung ini bumbu sambal; cabai, tomat, bawang merah, putih, dan jeruk nipis di tumbuk pada saat masih segar atau tanpa digoreng.

Bumbu sambal mentah itu membuat rasa pedasnya mantap. Rasanya semakin mendegut liur saat dipadukan dengan renyahnya ikan wader yang digoreng garing. Ikan-ikan kecil seukuran jari kelingking itu ditaburkan di atas piring tanah (cowek) kecil bersama sambal tadi. Sebagai lalapan, disertakan irisan ketimun, daun kemangi, dan kubis.

Mampir ke daerah Trowulan rasanya belum lengkap tanpa mencicipi ikan wader gorengnya. Selain kita bisa melihat situs arkeologi jaman Majapahit dengan melihat bangunan dan candi yang ada, mencicipi makanan khas Majapahit juga membawa kita pada suasana kehidupan pada jaman itu.

Sejarah adalah hal menarik untuk dinikmati. Salam Wader Majapahit.

Mengolah Sambal Ikan Wader / photo iwan

Makan Lobster, Harga Terjangkau

Whole Lobster Platter di Loobie Lobster / photo iwan

Lobster identik dengan makanan laut yang mewah atau mahal harganya. Umumnya lobster dijual di restoran kelas atas dan disajikan bagi kalangan tertentu saja. Padahal, menurut sejarahnya dulu, lobster itu makanan bagi kaum miskin loh. Di tahun 1800-an, para budak dan pelayan di Amerika hanya diberi makan lobster sehari-harinya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, lobster semakin populer dan permintaannya naik. Akhirnya, harga lobster meningkat dan menjadi ikon dari makanan kelas atas. Kini, lobster bukan lagi makanan orang miskin. Justru hanya masyarakat kelas atas yang bisa membeli atau makan lobster di restoran.

“Tapi siapa bilang lobster harus selalu mahal”, kata Chef Aafit saat bertemu saya di warung Lobsternya yang baru, Loobie Lobster, di kawasan Gunawarman, Jakarta Selatan. Kata Chef Aafit, ia membuka warung itu karena ingin menyajikan hidangan Lobster yang “affordable” atau harga terjangkau.

Dan malam itu, saya diajak mas Angga, seorang kawan yang saya kenal di Tokyo, untuk datang ke acara “launching” Warung Loobie Lobster. Warung itu dimiliki oleh Chef Aafit dan istrinya, Lucy Wiryono, yang juga terkenal sebagai pemilik resto steak “Holy Cow”.

Saat tiba di warungnya, suasana meriah langsung saya rasakan. Beberapa kawan dekat mas Aafit, dan juga pelanggan setia Holy Cow, sudah berkumpul untuk merasakan sajian dari warung baru itu.

“Hari ini saya akan menyiapkan Lobster, Whole Lobster Plate”, kata Chef Aafit. Hidangan ini adalah lobster yang di-grill model teppan hingga matang, lalu ditaburi bumbu minimalis, seperti garam dan lada. Lobster hadir didampingi oleh calamari dan nasi putih. Calamari, atau udang goreng tepung, digunakan sebagai appetizer.

Bersama Chef Aafit dan Mbak Lucy Wiryono, pemilik Loobie Lobster

Tapi yang unik juga dari warung ini adalah saus sambalnya.  Chef Aafit menyediakan dua jenis sambal, yaitu sambal “spicy garlic” dan “sambal matah”. Saya memilih sambal spicy garlic sebagai pendamping lobster.

Dan ternyata luar biasa. Rasa lobster-nya begitu lezat, kematangannya terasa pas, tidak terlalu lembek, tapi juga tidak terlalu keras. Kenyal, lembut, dan aroma lautan masih terasa. Pas menurut saya. Paduan spicy garlic menjadikan rasa lobster lebih kaya lagi karena bercampur dengan aroma bawang putih yang muncul subtil dari balik kepedasan sambalnya. Hmmm, lobster ini recommended dan layak coba.

Chef Aafit mengambil lobster dari perairan Kalimantan, dan memiliki supplier khusus yang memasoknya setiap hari. “Kesegaran adalah kunci dalam penyajian makanan sea food”, lanjutnya. Tak heran, setiap pagi ia mengecek sendiri kesegaran lobster yang disajikan. Jangan sampai ada pelanggan yang gatal-gatal usai makan lobster karena ketidaksegaran pilihan lobster yang disajikan.

Satu hal yang agak mengganggu saya adalah nasinya. Mungkin kalau disajikan bersama mashed potato atau kentang goreng lebih pas. “Tapi kita kan perut orang Indonesia, mas”, kata kawan saya. Iya betul juga, seperti di Jepang, semua sajian, bahkan steak sekalipun selalu hadir dengan nasi putih. Belum nendang kalau belum pakai nasi katanya hehehe….

Loobie Lobster hanya menyajikan menu lobster dan udang. Mereka memang ingin fokus pada dua hal tersebut saja. Dengan harga seporsi “whole lobster platter” sebesar Rp 95 ribu, makan lobster menjadi “affordable” bagi kalangan menengah di Jakarta.

Jadi, kalau tiba-tiba ingin makan lobster di Jakarta, silakan mampir ke Gunawarman No 32 di Jakarta Selatan.

Salam Lobster.

Pak Tua Soba dan Dedikasi Kehidupan

Pak tua Suzuki dan istrinya di warung soba milik mereka / photo junanto

Tak jauh dari tempat saya tinggal, ada satu warung Soba sederhana. Pemiliknya adalah Pak tua Suzuki. Usianya sekitar 70 tahun. Setiap hari saya melewati warungnya, baik saat berangkat ataupun pulang bekerja. Saat lewat di depan warung Soba itu, saya dapat menghirup aroma harum dari kuah soba buatan pak Suzuki. Selama tiga tahun tinggal di Tokyo, saya kerap mengunjungi warung itu untuk mencicipi Soba hangat ataupun Soba dinginnya.

Satu hal yang membuat saya suka dengan warung itu adalah kehangatan personal dari Pak Suzuki.  Usai menyajikan soba, ia biasanya duduk di salah satu kursi di pojok warungnya, sambil membaca koran. Sembari makan soba, saya kerap ngobrol-ngobrol dengannya. Kitapun jadi saling mengenal.

Pak Suzuki masih membuat sendiri sobanya setiap hari. Kalau pagi tiba, ia meracik tepung soba hingga menjadi adonan soba. Adonan itu ia iris-iris sehingga menjadi potongan mie soba.

Selama lebih dari 40 tahun lamanya, pak Suzuki membuat soba. Di warungnya, ia dibantu istri dan satu stafnya. Ia juga masih naik motor untuk mengantar soba ke pelanggan-pelanggannya. Ya, warung soba pak Suzuki juga memberikan layanan “delivery” untuk pelanggan di sekitar wilayahnya. Dengan motor tuanya, ia membawa soba ke rumah para pelanggannya.

Sesekali, saya bertemu Pak Suzuki sedang mengendarai motornya untuk mengantar soba.

“Konnichiwa!”, begitu ia selalu berteriak dengan semangat kalau berpapasan dengan saya di siang hari.

Cinta Suzuki-san dalam semangkuk soba / photo junanto

Melakukan pekerjaan dengan “passion” dan serius adalah ciri dari kebanyakan orang Jepang. Pak Suzuki mengatakan pada saya bahwa “bekerja itu mulia”. Apapun pekerjaan itu, harus kita lakukan dengan sepenuh hati.  Persis apa yang dikatakan Confusius, “Wherever you go, go with all your heart”.

Bagi pak Suzuki, bekerja bukanlah sekedar mencari untung, apalagi ingin menjadi kaya. Ia membuktikan bahwa membuat soba adalah dedikasinya pada kehidupan. Saat meracik soba, ia bagai seorang maestro. Ia bagai Shakespeare dengan Othello-nya, Nietzche dengan Uebermensch-nya, Da Vinci dengan Monalisa-nya, terlihat orkestratik, takzim, dan khusyuk.

Di Jepang, saya jarang sekali melihat restoran yang menyajikan aneka ragam makanan. Umumnya mereka fokus hanya pada satu menu, soba saja, udon saja, sushi saja, atau tempura saja.Hal itu membuktikan bahwa kesetiaan, dedikasi pada pekerjaan, menjadi jauh lebih penting dalam kehidupan mereka, ketimbang keuntungan semata.

Ada peribahasa Jepang yang mengatakan “Mochi wa Mochiya”. Pepatah itu secara harfiah berarti “Untuk mencari mochi terbaik, pergilah ke tukang mochi”. Esensinya adalah seseorang harus melakukan sesuatu secara serius hingga mencapai keahlian.

Kecintaan dan keseriusan pada pekerjaan itu, membuat saya jarang sekali mendengar orang Jepang yang mengeluh pada pekerjaannya. Meski ia “hanya” tukang parkir, supir bis kota, ataupun pemilik warung soba, semuanya bangga pada pekerjaannya. Bekerja itu mulia sehingga mereka melakukan dengan sepenuh hati, passionate, dan bangga.

Saat saya katakan padanya bahwa sebentar lagi saya akan kembali ke Indonesia, Pak Suzuki menyalami saya dengan erat. “Arigatou”, katanya dengan berbisik sambil merapatkan badannya ke saya.

Iiie, watashi, Arigatou” , jawab saya. “Justru sebaliknya, saya yang harusnya berterima kasih pada pak Suzuki”.

Ya, saya yang harus berterima kasih padanya. Setiap makan di warungnya, berbicara dengannya, saya belajar banyak tentang kehidupan. Tentang passion, tentang dedikasi, tentang kebahagiaan.

Tak jarang kita, bahkan saya sendiri, sering mengeluhkan pekerjaan sendiri. Yang masalah begini lah. Begitu lah. Kerap kali pula kita menyalahkan orang lain, ataupun menganggap pekerjaan atau posisi kita tidak penting, “Ah, saya kan cuma staf rendahan, cuma kepala bagian, cuma sopir, cuma tukang mie ayam, cuma karyawan biasa, cuma mahasiswa, dan cuma lainnya …. ”.

Keluhan dan kegalauan itu berujung pada hilangnya passion pada pekerjaan.  Setiap hari adalah keluhan demi keluhan.

Kitapun gagal berdamai dengan diri kita sendiri.

Akibatnya, pekerjaan jadi asal-asalan. Kita bekerja, hanya mencari nafkah. Menunggu gajian. Kita buat usaha, hanya mencari untung. Acap kali menghalalkan segala cara. Lupa pada esensi kemuliaan pekerjaan itu sendiri.

Dan di warung soba sederhana itu, pak tua Suzuki mengajari saya arti cinta pekerjaan dan dedikasi pada kehidupan.

Arigatou Suzuki-san!

Arigatou Suzuki-san !

Mencari Espresso Terbaik di Tokyo

An espresso afternoon with Raffaele

Di manakah kita bisa mencicipi espresso terbaik di kota Tokyo?

Pastinya, espresso yang dibuat oleh orang Italia dong”, demikian gurau Raffaele, kawan saya yang orang Italia asli, saat menjawab pertanyaan tadi. Iapun mengundang saya untuk mencicipi espresso terbaik itu di kantornya.

Raffaele adalah seorang ekonom Italia yang sudah lebih dari tujuh tahun tinggal di Tokyo. Di kalangan lingkar ekonom asing,  yang secara rutin bertemu untuk saling bertukar informasi, ia adalah yang paling lama tinggal di Tokyo.

Umumnya kami, menempati posting di Tokyo kurang lebih tiga tahun. Seorang kawan dari Perancis, dan Turki, baru saja kembali bulan lalu, dan digantikan dengan yang baru. Saya sendiri rencana kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Semua orang datang dan pergi, tapi Raffaele masih bertahan.

Sebelum kembali ke Indonesia, kamu harus mencicipi espresso terbaik di kantor saya”, ajak dia pekan lalu. “Ini espresso asli dan dibuat langsung oleh orang Italia (maksudnya sih dirinya sendiri)”, sambungnya.

Dan, bertemulah kita siang itu di kantornya. Raffaele mengajak saya ke coffee machine di pantry, menunjukkan cara membuat espresso, lalu kita mencicipi espresso di ruang kerjanya. Silvia, sekretaris di kantornya, yang juga orang Italia, membawakan kami sekaleng coklat. “Cocok nih, buat menemani espresso”, katanya.

Wow, sungguh sajian yang sempurna.

Raffaele meng-klaim bahwa espresso terbaik dunia ada di Italia. Hal itu karena mesin espresso pertama kali diciptakan oleh orang Italia. Adalah Angelo Moriondo dari Turin, yang pada tahun 1884 menciptakan mesin espresso pertama di dunia.  Mesin itu kemudian dikembangkan oleh beberapa orang Italia lainnya, hingga kemudian dipatenkan, serta mendunia.

Secara umum, espresso adalah menyiapkan konsentrat kopi dengan memberi tekanan air panas pada biji kopi. Dampak dari tekanan tersebut adalah konsentrat kopi yang kental, disertai dengan krema (foam). Strong rasanya.

Orang Italia, menurut Raffaele, punya budaya kopi (coffee culture) yang sangat kuat. Mereka bisa minum espresso tiga sampai empat kali sehari. Di kampung halamannya, minum kopi adalah bagian keseharian. Dengan harga sekitar satu dolar, orang Italia sudah bisa mendapatkan espresso secara cepat.

Saya baru tahu dari Raffaele bahwa di Italia tidak ada Starbucks Coffee. “Wah, gak bakal laku Starbucks di Italia”, katanya. Konsep minum kopi orang Italia berbeda dengan konsep Starbucks. Selain murah, orang Italia juga minum kopi sangat cepat. Sementara di Starbucks, selain harga lebih mahal, konsepnya berbeda dengan cara minum kopi Italia yang cepat.

Ironisnya, ide mendirikan Starbuck Coffee diperoleh oleh Howard Schultz (pendiri Starbucks) saat kunjungannya ke Milan, Italia, di tahun 1983. Ia melihat suasana di Piazza del Duomo dipenuhi oleh warung kopi yang berjejer dan masyarakat yang sangat passionate dengan kopi. Suasana kota yang “caffeinated” seperti itu membangkitkan inspirasinya. Iapun lalu mengembangkan Starbucks Coffee. Namun, hingga 30 tahun setelah itu, Starbucks belum mampu membuka cabang di Italia.

Fanatisme orang Italia pada kopi memang menarik. Dan siang itu, saya merasakan sendiri bagaimana suasana kantor Raffaele yang “caffeinated”. Mirip di kedai kopi yang cozy dan nyaman. Soal rasa? Ia tak bohong, itulah espresso terenak yang pernah saya cicipi. Mungkin juga kehangatan persahabatan dari Raffaele yang membuat secangkir espresso ini menjadi begitu lezat.

Sayangnya, Raffaele tidak membuka kedai kopi. Jadi, hanya undangan khusus  seperti saya yang bisa mencicipi espressonya hehehe ….

Salam espresso.

One Night in Beijing, Fall in Love with Dazhaxie

Dazhaxie experience with Michael in Beijing

Satu malam di Beijing ternyata bisa memberi kenangan yang berarti. Beberapa waktu lalu, saya sempat transit satu malam di Beijing. Dalam kesempatan yang singkat itu, saya bertemu dengan Michael, kawan saya yang tinggal di sana. Sambil bertemu, kita berbicara banyak hal, mulai dari politik hingga ekonomi Cina. Tapi yang tak terlupakan adalah karena ia mengajak saya mencicipi satu makanan khas di Cina, yang die die must try, khususnya kalau musim gugur tiba. Makanan itu adalah kepiting bulu air tawar, atau Da Zha Xie.

Dalam hidup ini, berbagai jenis makanan pernah saya cicipi. Sebagian masuk ke perut, dan terlupakan begitu saja rasanya. Tapi ada sebagian makanan, yang saya makan, dan setelahnya tak bisa dilupakan kenikmatannya. Nah, kepiting bulu Shanghai, atau Dazhaxie crab ini, masuk dalam golongan yang kedua. Makanan yang akan selalu mengenang dalam hidup saya.

Michael mengajak saya ke restoran “Shanghai Xiangmanlou” di salah satu sudut kota Beijing. Ia memesan dua ekor kepiting. Tak lama, pelayan datang membawa dua kepiting yang masih diikat dan memperlihatkannya pada Michael. Setelah mencermati kepiting itu satu per satu, Michael bilang, “Masih hidup, bagus!”. Ya, kepiting yang masih hidup akan lebih segar dan rasanya lebih lezat dibanding dengan kepiting yang sudah dibekukan.

Dazhaxie crabs adalah kepiting spesial yang diambil dari Danau Yangcheng, yang terletak di provinsi Jiangsu, tak jauh dari Shanghai. Danau Yangcheng itu terkenal akan kepiting bulunya. Dan saat paling tepat memakan kepiting Dazhaxie adalah pada musim gugur. Pada musim itulah mereka melakukan migrasi usai musim kawin. Namun karena populasi kepiting ini terbatas, harganya relatif mahal dan langka.

Michael memesan dua ekor kepiting jantan. Menurutnya bulan ini adalah musim terbaik mencicipi kepiting jantan. Kalau kelezatan kepiting betina terletak pada jumlah telur yang berwarna kuning/oranye di tengah cangkangnya, kelezatan kepiting jantan juga demikian, yaitu pada “crab cream” atau cairan kuning di tengah tubuh kepiting.

Saat kepiting dazaxhie datang, saya pikir sudah disajikan dengan terbelah, ataupun  dipecah-pecah cangkangnya. Rupanya belum. Kepiting datang dalam keadaan utuh, bulet-bulet. Waduh, bagaimana ini makannya?

The die die must try, Dazhaxie / photo junanto

Tenang”, kata Michael. “Kita belajar sajiannya dulu”. Kepiting, dalam kepercayaan Cina dianggap memiliki unsur “dingin” atau “Yin” sehingga tidak baik kalau dimakan begitu saja. Oleh karena itu, dingin itu harus diseimbangkan dengan “Yang”. Begitu menurut kepercayaan Cina, Yin dan Yang. Untuk itu, disediakan satu cawan saus yang merupakan campuran arak cina dan irisan jahe. Efek dingin Yin, diseimbangkan dengan efek hangat saus Yang. Oh begitu.

Lalu bagaimana cara makannya? Pertama adalah membelah bagian “bawah” kepiting yang terletak di sisi belakang. Lalu, kita dapat melepas cangkangnya. Di dalam cangkang, ada beberapa bagian yang harus dibuang dan tidak dimakan. Sisanya, kata Michael, dikumpulkan dengan sumpit, lalu dicelup ke saus. “Rasakan deh”.

Aduh, ya ampun. Beneran, ini kelembutan yang belum pernah saya rasakan dari kepiting lainnya di dunia. Ueeeenaaak!”.

Nah, sekarang kita tiba pada bagian terbaik Dazhaxie”, Michael  lalu membelah kepiting jadi dua bagian. Dan di dalamnya, terlihatlah “cream” kepiting yang berwarna kekuning2an. Cair, tidak beku, karena kepitingnya masih segar. Hmm, memang mirip krim.

Celup ke saus, dan rasakan”, pinta Michael.

Saya celup dan cicipi …. “Hmmmm, wadoooow, sodara-sodara sekalian. Hmmpph, bagian cream ini begitu lembut, gurih, lezat, creamy, asam, dingin, hangat, aneka kelezatan bercampur dalam satu sedotan. Maknyoooos. Enaaak!!”.

Tak diragukan lagi. Ini satu jenis kepiting yang die die must try kalau ke Cina.

Wah, ini enak sekali krimnya. Apa ini telur kepiting? Bentuknya seperti telur ya?” tanya saya ke Michael.

Ya ini kan kepiting jantan, bagaimana bisa kepiting jantan punya telur”, jawab Michael meluruskan logika saya.

Oh iya ya, kepiting jantan tidak punya telur. Lah, lalu ini …..”, saya belum selesai bertanya, dan Michael sudah menjawab,” Sperma. Yup, yang kamu makan barusan itu sperma kepiting”.

Woooow. Panteees, enak hehehe….

Kepiting Da Zha Xie adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Mencicipinya mungkin hanya sebentar. Dagingnya tidak banyak. Dan sajiannya juga sederhana. Tanpa macam-macam. Tapi pengalaman mencicipinya, sensasi rasanya di langit-langit mulut, akan tetap terkenang seumur hidup.

Di ujung jamuan, Michael berkata bahwa kalau bertemu dengan orang Cina, sekarang saya sudah bisa bilang. “Wo yijing chele Dazhaxie” atau “Saya sudah pernah mencicipi Dazhaxie”. Mereka umumnya akan kagum karena Dazhaxie adalah kepiting yang memiliki kelas tersendiri di Cina (asal gak malah bilang, trus gw harus bilang wow gitu… x_x).

Betul betul sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

How to eat Dazhaxie

Shocking Mongolia (Part I)

Melewati gurun salju di Tsonjin Boldog, Mongolia. Udara mencapai minus 25 C / photo junanto

Mendengar nama Mongolia, bayangan saya adalah padang rumput yang dingin dan kisah tentang pasukan Jengis Khan. Tidak terbayang seperti apa negeri tersebut dalam kenyataannya. Oleh karena itu, saat memiliki kesempatan mengunjungi Ulaanbaatar, ibu kota Mongolia,  guna mengikuti satu sidang internasional, saya mencoba  mengoptimalisasi kunjungan dengan mencoba mencermati geliat kehidupan lokal. Dan ternyata, Mongolia memberikan banyak kejutan. Jadi, boleh lah kalau kunjungan ke Mongolia beberapa waktu lalu saya beri judul, “Shocking Mongolia”.

Karena banyak shock yang saya alami, tulisan saya bagi ke dalam dua bagian.  Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan tentang Mongolia yang bikin shock.

Shocking pertama. Suhu yang ekstrim di musim dingin. Saat musim dingin tiba, udara di Mongolia bukan main-main. Kalau tidak suka dingin, sebaiknya jangan pergi ke sana sekitar bulan November sampai dengan Februari. Suhu udara bisa mencapai minus 25 derajat Celsius. Di daerah pegunungan, katanya,  bisa mencapai minus 45 hingga 50 derajat Celcius. Tapi kalau suka tantangan, musim dingin di Mongolia adalah musim yang “greget” dan layak dicoba.

Saya tiba di Ulaanbaatar saat malam hari. Udara membekap dan sekujur tubuh terasa beku. Esoknya, saya jalan keluar ditemani rekan Mongolia. Tentu dengan pakaian lengkap, berlapis-lapis, topi, tutup kuping, dan tentu sarung tangan. Sambil menahan dingin saya mencoba menembus udara siang itu. Meski pakaian sudah berlapis-lapis, udara minus tak ada ampun. Secara pasti ia mulai menusuk lapisan demi lapisan pakaian di tubuh saya, terutama di kepala dan ujung-ujung kaki tangan.

Tapi, saya liat banyak orang Mongolia yang jalan dengan santai saja. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak pakai tutup kepala dan sarung tangan. Santai sekali keliatannya. Saya tanya pada teman Mongol,  “Kenapa mereka tidak pakai topi dan sarung tangan, kan dingin begini”.

Jawabnya, “Oooh, hari ini hangat soalnya pak” …

“Hah, kayak gini hangat”, saya tanya lagi, “Memang ini berapa derajat?”.

Dengan santai kawan saya menjawab, “Ini cuma minus 12 derajat Celcius pak”. ….

Sayapun terpana sambil menggigil gaya anak alay, “ Haaah .. Ciyuuusss? minus 12? Miaaaapaaa!! …. #$%&’%”

Oh ya, saking dinginnya udara di Mongolia ini, benda elektronik yang paling tidak laku di sana adalah kulkas. Ya iya laaah, ngapain juga pakai kulkas kalau semua barang sudah beku dengan sendirinya di luar hehehe….

Shocking kedua. Negeri tanpa Starbucks. Di tengah derasnya arus globalisasi saat ini, sulit membayangkan suatu negara tanpa Starbucks. Ya, di Ulaanbaatar saya tidak menemukan McDonalds, Starbucks, Pizza Hut, maupun KFC, yang umumnya menjadi simbol kapitalisme. Meski demikian, banyak terdapat merek-merek asing seperti Louis Vuitton dari Perancis, ataupun minuman ringan seperti Pepsi.

Iklan Pepsi di Ulaanbaatar, Mongolia / photo junanto

Ketiadaan makanan cepat saji internasional, dan masih jarangnya terlihat merek asing terlihat menjadikan suasana kota Ulaanbaatar seperti kota tua dan tidak bersolek. Banyak sekali bangunan bekas Uni Soviet yang tidak terurus dan terlihat kusam.  Namun hal itu menjadikan sebuah keunikan tersendiri dari kota Ulaanbaatar karena saya melihat sebuah kota yang masih terkesan “perawan” atau “raw” tanpa banyak cemaran kapitalisme.

Menurut kawan Mongolia, hanya masalah waktu saja berbagai franchise restaurant internasional seperti McD atau KFC akan masuk Mongolia. Saat ini Mongolia memang semakin membuka diri dengan dunia internasional, termasuk mengundang berbagai perusahaan asing masuk . Ia menyayangkan juga apabila nanti berbagai restoran itu masuk dan mengubah gaya hidup orang Mongolia. Saat ini, mereka sudah punya restoran pizza, hamburger, ataupun kopi, dengan merek dan kreativitas mereka sendiri. Saya sempat mampir mencicipi burger di restoran yang bernama Mr. Pizza. Rasanya tak kalah seru dibanding dengan burger McD.

Yah, mungkin tak lama lagi Mongolia akan memiliki berbagai restoran internasional. Tapi saya beruntung bisa melihat kondisi negeri itu seperti saat ini, tanpa kehadiran banyak simbol kapitalisme tadi.

Shocking ketiga. Kebebasan informasi dan internet. Saya berpikir akan sulit menemukan jaringan WiFi dan internet di Mongolia. Saya sudah “prepare for the worst” hanya bisa berhubungan dengan dunia luar melalui sms, atau email saja.

Namun sejak 20 tahun terakhir Mongolia menganut ekonomi pasar dan membuka diri pada investasi asing, termasuk membangun jaringan tekhnologi informasi. Oleh karenanya, saya justru menemukan kemudahan untuk mendapatkan koneksi internet di Ulaanbaatar.  Saat masuk hotel, dengan mudah saya menemukan free WiFi. Bukan hanya di hotel, di berbagai restoran dan mall, Ulaanbaatar menyediakan Free WiFi. Akses internetnya juga bagus dan relatif cepat.

Tapi yang menarik, kita bisa mengakses “segalanya” di sana. Mulai dari Facebook, twitter, Google, Gmail, dan berbagai social media, bebas diakses. Hal tersebut berbeda dengan Cina, yang notabene memiliki ratusan cabang McD dan Starbucks, tapi internet sangat dikontrol oleh pemerintahnya. Di Cina, jangan harap bisa membuka Facebook atau Twitter. Bahkan membuka gmail saja, prosesnya bisa berjam-jam, untuk mengatakan hampir tidak bisa. Tentu mereka punya kebijakan sendiri-sendiri dalam menentukan arus informasi. Tapi, perbedaan itu cukup menarik dicermati.

Saya bertanya pada Okkta, kawan wanita Mongolia yang masih kuliah di salah satu universitas di Ulaanbaatar. Mana yang lebih diinginkan, Starbucks atau Internet? Jawabnya, “Wow, jelas saja internet”. Kata Okkta lagi, “We have many coffee shop here in Ulaanbaatar. No need starbucks. But internet? I can’t live without”, ujarnya. Ya, mereka, para anak muda Mongolia, sangat menikmati kebebasan informasi dan ekspresi. Umumnya mereka memiliki facebook, twitter, blog, ataupun instagram.

Mongolia memang menarik dan membuat “Shocking”.

…. Bersambung …

Kehangatan Mongolia

Bersama Saran dan Okkta, di kota Ulaanbaatar dengan suhu minus 25 derajat Celsius

Ulaanbaatar, Mongolia, di musim dingin bukanlah tempat yang nyaman. Suhu udara bisa mencapai minus 25 derajat celcius bila malam hari. Saya tiba di kota itu pukul sebelas malam dengan menggunakan penerbangan Mongolia Airlines. Begitu keluar dari Chinggis Khan airport, beku menyergap. Kepala, telinga, serta ujung-ujung jari serasa tak bisa digerakkan.

Tiga hari di Ulaanbaatar memang membuat beku segalanya. Saya tidak berani untuk terlalu lama berada di luar.  Selain dingin yang teramat, angin kencang menambah tajam tusukan di tulang, yang mulai menua ini hehehe…

Tapi dingin yang esktrim di Ulaanbaatar bisa dikompensasi dengan kehangatan orang Mongolia. Rata-rata orang Mongolia, di luar dugaan saya, sangat ramah. Meski muka mereka keliatan tegang, kalau dimintai tolong, mereka sangat helpful.

Di Ulaanbaatar, saya berkenalan dengan dua orang kawan, namanya Saran dan Batta. Saran, wanita yang memiliki dua putri, pernah tinggal dan belajar bahasa Indonesia di UI Depok. Ia sangat fasih bahasa Indonesia. Sementara Batta, seorang pria muda yang bekerja di bank, pernah tinggal selama enam tahun di Singapura. Ia lancar berbahasa Inggris.

Jadilah selama tiga hari di Ulaanbaatar kita kerap ngobrol dan pergi bersama. Saran dan Batta menemani saya menembus dinginnya cuaca di kota itu. Kehangatan persahabatan mereka sungguh melelehkan dinginnya salju di Mongolia. Mereka mengenalkan saya pada berbagai tradisi dan budaya Mongolia, termasuk aneka makanannya. Saya diajak untuk hang out ke restoran Mongolia, bar lokal, serta mencicipi aneka hidangan yang ada di sana.

Dalam setiap kunjungan ke berbagai tempat, saya memang selalu menyempatkan diri untuk mencicipi aneka hidangan lokal. Saya percaya bahwa untuk mengenal karakter dan budaya suatu masyarakat, bisa dimulai dari makanannya. Dan membuka diri terhadap aneka makanan lokal, berarti juga membuka diri terhadap aneka perbedaan dan keunikan manusia. Dengan demikian, kita tidak merasa diri kita benar sendiri, atau setidaknya merasa makanan kita yang paling enak sendiri. Karena “enak”, sungguh sangat relatif dan tak bisa diperdebatkan.

“Kamu harus coba buuz dan Khuusuur”, demikian kata Saran. Apa itu? Tanya saya. Buuz dan Khuusuur adalah makanan kebanggaan orang Mongol. Kitapun mampir di satu restoran tak jauh dari Sukhbaatar Square, pusat kota Ulaanbaatar. Saran memesan kedua makanan tersebut, plus satu jenis makanan lagi, yang namanya “Gurvan Undor”.

Saran menjelaskan bahwa makanan Mongolia umumnya berbasis daging. Orang Mongol makan daging sapi, kambing, ayam, kuda, onta, yak, dan juga babi. Mereka memelihara hewan ternak itu sebagai makanan pokok sehari-hari.

Di tengah udara dingin yang ekstrim, makan daging memang sesuatu banget. Kondisi alam dan geografis Mongolia memang menjadikan daging sebuah pilihan tepat. Di Mongolia, sayur-sayuran tak mudah tumbuh. Selain itu, Mongolia juga tidak punya lautan, sehingga mereka tidak makan ikan. Kalaupun ada hanya dari beberapa sungai dan danau.

Buuz tiba di meja kami. Bentuknya seperti pangsit, atau xiaolongpao kalau di Cina. Bedanya, ukuran Buuz lebih besar, dan di dalamnya berisi daging kambing. Sementara Khuusuur adalah buuz yang digoreng. Bentuknya dibuat mirip pastel ukuran besar. Sayapun mencicipi keduanya. Luar biasa, kambing di Mongolia ini rasanya memang khas. Beda kalau menurut saya. Lebih terasa kambingnya, dan lebih lembut dagingnya. Hmmm, sungguh enak.

Saat Gurvan Undor tiba, saya terkesima. Ukurannya besar. Ini adalah iga sapi dengan kulit pangsit lebar yang disajikan bersama wortel, kentang, dan beberapa sayuran.  Memakannya? Gak perlu ragu-ragu, gulung baju dan cabik-cabik sendiri dagingnya dengan tangan. Waah, lezat. Rasanya lembut, simple, namun mengundang sensasi. Konon katanya, ini dulu adalah makanan kesukaan pasukan Jengis Khan di tenda-tenda pasukan Mongol. Mantab.

Buuz, Mongolian Dumpling / photo junanto

Khuusuur, pastel Mongolia / photo junanto

Mencabik iga sapi Gurvan Undor / photo junanto

Buuz, Khuusuur, dan Gurvan Undor, adalah makanan khas Mongolia yang umumnya dibuat saat perayaan hari tertentu. Dalam keseharian mereka memang  tidak selalu makan itu. Lalu, apa yang dimakan orang Mongol sehari-hari? Nah, malam harinya, Saran dan Batta mengajak saya mencicipi makanan keseharian orang Mongol di salah satu bar yang ramai dikunjungi orang asing.

Menurut Batta, sehari-harinya orang Mongol makan yang namanya Tsuivan. Hampir semua orang Mongol bisa membuat Tsuivan di rumahnya. Kalau orang Indonesia makan nasi dan lauk di rumah, maka orang Mongol makan Tsuivan. Sayapun jadi antusias menunggu seperti apa Tsuivan itu.

Saat datang, eeh rupanya tsuivan itu mie goreng. Yup, ini sih mie goreng kalau di Indonesia. Eh iya, kata Saran. Ini memang Mie Goreng Mongolia. Bedanya, tekstur mienya lebih kasar dan tidak panjang. Selain itu, mereka menggunakan daging kambing Mongolia yang lembut. Hmm, Tsuivan, atau mie goreng kambing. Sangat lezat.

Tsuivan, mie goreng Mongolia, dengan daging kambing / photo junanto

Untuk menambah hangat suasana, Batta mengajak istrinya bergabung bersama kami malam itu. Okka, nama sang istri yang masih muda dan cantik, adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Ulaanbaatar.

Sambil makan, kita berbincang banyak hal soal kehidupan di Mongolia. Saya melihat anak-anak muda di Mongolia memiliki kehidupan yang lebih bebas dalam mengekspresikan pendapatnya. Mongolia memang menganut sistem ekonomi pasar dan demokrasi, sehingga kebebasan berpendapat lebih terlihat di muka umum.

Tak terasa kita berbincang hingga larut malam. Tak terasa pula suhu minus 25 derajat celcius di luar restoran. Saat pulang, saya katakan pada mereka, “the coldness of Mongolian weather is nothing, compare to the warmness of you and Mongolian people”. Dan, pelukan perpisahan malam itu, menambah hangat malam di Ulaanbaatar.

The warmness of Mongolian friends at Ulaanbaatar