Pecel Punten Kediri : The Screaming Pecel

Pecel Punten Kediri. Warung yang wajib dikunjung (photo Junanto)

Saya menyebutnya “the screaming” pecel. Ini adalah sebuah warung pecel di tengah sawah yang tampil berbeda dari kebanyakan warung. Namanya warung Pecel Punten, berlokasi di Desa Ketami, sekitar wilayah Pabrik Gula Pesantren, Kediri. Nah kalau teman-teman ke Kediri, ini salah satu warung yang wajib didatangi karena menyajikan hidangan dan pengalaman yang menarik.

Mengapa saya menyebutnya dengan “screaming” pecel? Karena begitu kita masuk ke warung kecil di tengah sawah tersebut, kita akan disambut oleh teriakan lantang yang mengagetkan, sekaligus menggelikan dari para penjualnya. Menu utama warung ini adalah Pecel Punten. Apa itu Punten? Kalau dilihat sekilas, Punten memiliki penampulan mirip dengan jadah atau ketupat. Namun bedanya, dia lebih lembek dan kenyal. Punten memang  berasal dari nasi yang dihaluskan dengan cara ditumbuk dan dicampur santan kelapa dan bumbu lainnya. Rasanya gurih dan mirip dengan jadah, yang terbuat dari nasi ketan, hanya saja rasanya lebih lembut.

Pecelnya sendiri terdiri dari bauran sayur mayur segar, seperti kangkung, tauge, sawi, kacang panjang, dan daun kenikir. Tambahan lainnya adalah kerupuk yang tidak digoreng dengan minyak, tetapi dengan pasir halus. Selain pecel punten, warung ini juga menyediakan aneka lauk tambahan, seperti ceker ayam, ikan pindang, tempe, dan lain sebagainya.

Selain kelezatan dan keunikan dari pecel punten,  warung  itu juga mempunyai keunikan tersendiri, yaitu suasana akrab dan meriah dari para pegawainya. Saat kita memasuki warung, teriakan saling bersahutan menyambut kita. Mirip kalau kita masuk ke umumnya restoran Jepang, yang pegawainya kerap berteriak “Irrashaimaseee”…. Bedanya, sambutan riang di Pecel Punten menggunakan bahasa Jawa dan kerap mengundang senyum geli.

Usai membayar pecel, mereka pasti berteriak lantang … “Matur suwuuun. Mbenjing mriki maleh nggih,”  yang artinya, “terima kasih atas kunjungannya, besok ke sini lagi ya..,”.

Yang juga unik adalah saat melakukan penghitungan harga, mbak Sumiyati, sang pegawai kerap menggunakan pecahan jutaan Rupiah. Berbeda dengan semangat redenominasi yang mengurangi pecahan angka nol, dia justru sebaliknya, menambah angka nol. Misalnya total biaya makan adalah Rp 50 ribu, maka ia akan menyebutnya Rp 50 juta. Buat yang baru pertama kali mungkin sempat kaget. Tapi setelah memahami, akan langsung tertawa.

Pecel Punten adalah satu dari sekian banyak kuliner lokal negeri ini yang patut dikunjungi sebagai sebuah pengalaman. Jadi, kalau mampir Kediri, jangan lupa mampir ke Pecel Punten, mbenjing mriki malih nggeeeh !

Salam Pecel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *