Tong Ah, ikon Kopitiam di Singapura

Sarapan di Tong Ah

Sarapan di Tong Ah

Banyak cara untuk menikmati pagi di Singapura. Salah satunya adalah nongkrong di warung kopi lokal, yang akrab disebut dengan nama Kopitiam. “Tiam” dalam bahasa Hokkien artinya warung. Saya senang menghabiskan waktu sarapan di warung kopi sambil memandang jalanan dan orang-orang yang memulai aktivitasnya di pagi hari. Rasanya invigorating, menambah semangat dan inspirasi. Dari berbagai kopitiam di Singapura, favorit saya adalah Tong Ah. Ini adalah satu warung kopi yang mungkin tertua di Singapura. Telah berdiri sejak 1939. Awalnya lokasi Tong Ah berada di sebuah bangunan heritage, di pertigaan Teck Lim dan jalan Keong Saik. Namun beberapa tahun lalu bangunan itu dijual (kemudian dibeli oleh  warung kopi lainnya), dan Tong Ah bergeser ke salah satu gedung di seberang jalan. Meski sudah kehilangan nuansa ikonik dari gedung bersejarah, rasa roti bakar atau “Kaya Toast” dan Kopi-nya masih Ciamik. Beberapa pekan lalu, saat berkunjung di Singapura, saya mengajak putra sulung untuk nongkrong dan menikmati pagi di warung kopi. Pilihan menu di Tong Ah dibuat seperti paket-paket di makanan cepat saji. Paket itu terdiri dari pilihan roti bakar, yang disebut Kaya Toast, minuman -bisa kopi atau teh, dan telor setengah matang. Special order para pengunjung adalah “Crispy Kaya Toast”. Ini adalah roti panggang yang dibuat kering dan crispy, lalu diolesi butter dan srikaya. Rasanya crispy. Lezat dan nikmat disantap di pagi hari. Favorit saya lainnya adalah telor setengah matang. Entah kenapa, beda aja. Awalnya saya pikir semua telor setengah matang itu sama. Tapi di Tong Ah, telor setengah matang diciptakan seperti sebuah maha karya. Menurut pembuatnya, telor dipilih yang berkualitas dan direbus tepat 12 menit dengan perhitungan lainnya. Dampaknya adalah pemerataan rasa pada setiap bagian telur. Tidak terlalu mentah, dan tidak terlalu matang, tapi merata. Ini lezatnya. Buat penggemar telor setengan matang, saya rekomendasikan.

Telor Setengah Matang Tong Ah

Telor Setengah Matang Tong Ah

Untuk minumnya bisa mencoba kopi butter. Ini adalah kopi yang dicampur dengan butter. Aneh memang. Tapi itu adalah tradisi masyarakat Tionghoa sejak jaman kolonial. Saya sendiri kalau tidak memesan kopi hitam, umumnya teh tarik. Rasanya otentik. Kopitiam adalah pusat kehidupan dari masyarakat Tionghoa di Singapura. Mencicipi kopi dan roti bakar di Tong Ah, memandang lalu lalang dan aktivitas warga di wilayah pecinan sekitarnya, merupakan sebuah pengalaman yang patut dicoba kalau di Singapura. Tidak terlalu istimewa memang (karena di daerah Kota Tua dan Glodok kita juga bisa merasakan makanan yang sama), namun pengalaman ini harus dicoba. Salam

Dari Pengamen ke Penyanyi Profesional di Jepang

Cita-cita Rita naik Ojek di Jakarta akhinya kesampaian

Cita-cita Rita naik Ojek di Jakarta akhinya kesampaian

Sekitar lima tahun lalu, di depan stasiun Ikebukuro Tokyo, saya melihat seorang gadis muda cantik yang sedang mengamen. Suaranya indah dan melengking hingga membuat pejalan kaki yang lalu lalang berhenti untuk menyaksikan penampilan pengamen tersebut. Sayapun terusik untuk lebih tahu. Saat saya mendekat dan mengamati penampilannya, ada satu karton besar bertuliskan huruf kanji Jepang dan huruf latin yang berbunyi, Rita Nishikawa from Indonesia. Wow, rupanya gadis muda itu orang Indonesia. Di situlah awal perkenalan saya dengan Rita Nishikawa.

Lalu kenapa menggunakan nama Nishikawa? Rupanya Rita dilahirkan dari seorang ibu Jepang dan ayah yang asli Padang, Indonesia. Sejak lahir hingga besar, Rita tinggal di Jepang sehingga ia tidak mengetahui banyak tentang Indonesia. Pertemuan lima tahun lalu itu menjadi pertemuan terakhir saya dengan Rita, karena setelah itu saya kembali ke Jakarta. Setelah lima tahun tidak bertemu, kecuali melihat aktivitas masing-masing di sosial media, tiba-tiba beberapa hari lalu Rita Nishikawa mengirimkan email dan mengatakan bahwa ia akan mengunjungi Indonesia. Ia bersama ayahnya akan mengunjungi Padang untuk tampil pada peringatan HUT Kota Padang Pariaman. Setelah dari Padang, Rita mampir di Jakarta. Kamipun bertemu kembali.

Rita kini tampil lebih dewasa dan karirnya sebagai penyanyi di Jepang sudah maju pesat. Di usianya yang saat ini baru 22 tahun, Rita telah tampil di berbagai acara TV Jepang. Ia juga menyanyi bersama di Grup Band Khatulistiwa, yang anggotanya terdiri dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Bersama Khatulistiwa, Rita telah tampil pada berbagai show di televisi Jepang. Kemajuan yang sangat pesat ya.

Rita tampil di HUT Kota Padang Juli 2017

Dari hanya tampil mengamen di pinggir jalan kini Rita telah menjadi penyanyi profesional. Mulai dari tampil di berbagai event, klub atau kafe, maupun berbagai acara televisi Jepang, sekarang menjadi kegiatan sehari-hari Nita Nishikawa di Jepang. Rita juga sempat menjadi backing vocal dari seorang penyanyi terkenal Jepang dari grup Southern All Stars, yaitu Keisuke Kuwata.  Selain itu ia tampil di program televisi Jepang bertajuk “Nodojiman The World” bersama anggota band terkenal SMAP yaitu Nakai Masahiro. Itu adalah satu pencapain yang hebat untuk anak seusia Rita.

Untuk mendengarkan suara emas Rita, kita bisa mencarinya di YouTube ataupun di Soundcloud dengan keyword Rita Nishikawa atau Rita Nyina. Silakan dengar suaranya yang merdu dan melengking. Rita adalah salah satu diaspora Indonesia yang dapat membawa nama harum Indonesia di Jepang. Hampir semua orang yang melihat Rita pasti mengatakan kalau Rita adalah orang Indonesia. Bukan semata karena kulitnya yang tidak seperti orang Jepang, namun karena Rita sering menampilkan lagu-lagu Indonesia yang terkenal di telinga orang Jepang juga, seperti Bengawan Solo misalnya.

Apa harapan dan keinginan Rita ke depan? Pertama, Rita sangat ingin sekali tampil di Indonesia. Ia berharap ada kesempatan untuk dapat tampil di acara-acara nasional di Indonesia, apalagi kalau bisa tampil di televisi Indonesia. Sebagai anak keturunan Indonesia, ia ingin sekali bisa sering datang ke Indonesia dan menghibur pendengar maupun penggemarnya di tanah air. Semoga bisa segera terwujud keinginannya. Kedua, ini keinginan Rita dalam kunjungannya kali ini. Ia ingin sekali mencoba naik Ojek. Sepanjang hidupnya ia hanya bisa mendengar dan melihat bahwa di Jakarta ada ojek, namun belum pernah merasakan. Nah, kalau ini bisa saya bantu. Sayapun segera memesan ojek online dan siap mengantarkan Rita dari daerah Sabang ke Blok M. Senangnya Rita bisa naik Ojek di Jakarta. Semoga sukses untuk Rita!

 

Menjadi Moksa di Ubud

Bersama Chef Made di Restoran Moksa miliknya di Ubud, Bali

Bersama Chef Made di Restoran Moksa miliknya di Ubud, Bali

Mendengar istilah makanan vegetarian, persepsi sebagian besar dari kita adalah cita rasa yang kurang sedap. Bayangan yang muncul adalah hidangan seperti salad atau sayur mayur lainnya yang membosankan. Tapi pandangan itu berubah drastis setelah saya bertemu dengan Chef I Made Runatha yang menemukan seni memasak makanan berbasis tanaman menjadi hidangan yang lezat mendegut liur kita.

Chef Made adalah ahli masak yang telah malang melintang bekerja menjadi chef di berbagai hotel bintang lima, baik di Bali, Beijing, hingga Warsawa. Awalnya ia adalah pemakan segalanya. Namun sejak 15 tahun lalu ia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian. Bukan hanya menjadi vegetarian, iapun seolah mematikan kompornya, menyimpan ovennya, dan mulai membuat olahan makanan yang disiapkan tanpa itu semua, alias makanan “raw” atau berbahan dasar tanaman mentah (uncooked). Chef Made kemudian mendirikan restoran bernama Moksa sekitar 1,5 tahun lalu, di daerah Sayan, Ubud, Bali.

Sungguh sebuah kehormatan bagi kami sekeluarga, yang sedang berlibur di Bali, karena dijamu langsung oleh Chef Made di Restoran Moksa. Menurut Chef Made, Moksa berarti “higher achievement” atau sebuah pencapaian yang lebih baik. Dalam tradisi spiritual, Moksa diartikan sebagai sebuah pencapaian manusia yang bisa mencapai derajat tertinggi sehingga tidak perlu ber-reinkarnasi lagi. Dengan menamakan restorannya Moksa, Chef Made seolah mengajak kita untuk mengubah kebiasaan hidup yang makan segalanya menuju makanan sehat berbasis sayuran. Dengan demikian, kita mencapai tingkatan yang lebih baik dari sisi kesehatan.

Ajakan Chef Made ini bukan sebuah omongan kosong. Ia sendiri sudah membuktikan bahwa sejak beralih menjadi vegetarian sekitar 15 tahun lalu, di usianya yang menjelang 60 tahun ini, ia tak pernah minum obat sebutirpun. Ia juga tak pernah lagi sakit, tidur menjadi lebih nyenyak, dan tubuh terasa sehat. Berat badannyapun ideal. Wow, kelihatannya menarik kan. Tapi tentu ia menyadari bahwa ide makanan vegan itu tidak menarik. Oleh karenanya, Moksa didirikan juga sebagai sarana agar masyarakat bisa mengetahui bahwa makanan vegetarian juga bisa tampil enak.

Sebagai penikmat awal makanan vegetarian, tentu saya masih curiga pada rasa. Chef Made nampaknya memahami kegusaran itu. Oleh karenanya, ia sendiri yang memilihkan menu makanan. Sebagai entree, kami disajikan dua jenis menu makanan, yaitu Sup Moksa Dhal dan Jacfruit Taco. Kedua makanan ini menarik karena umumnya rasa kari dari Dhal dan filling dari Taco menggunakan bahan berbasis hewan. Sup Dhal tampil pertama dan langsung mencengangkan lidah kita. Rasa kari dan kacangnya dominan dan lezat. Taco juga tampil cantik dan di atas ekspektasi kita. Isi taco terasa seperti daging ayam. Ketika kami tanya, menurut Chef Made itu adalah Jackfruit Taco, atau Taco diisi oleh Nangka. Ooooh pantes terasa kenyal seperti daging. A Winner !

Eggplant Rendang atau Rendang Terong

Eggplant Rendang atau Rendang Terong

Hidangan utama yang ditampilkan selanjutnya adalah Rendang Terong (Eggplant Rendang) yang juga mengagetkan kita semua. Irisan terong panggang dijajar rapi mirip seperti irisan daging tipis. Penampilannya menggugah cita rasa. Rasa rendang juga kaya, ada pedas, manis, dan santan kelapa yang gurih. Rendang terong disajikan bersama nasi jenis brown rice yang juga berbahan dasar organik. Dan di tengah kenikmatan ternyata ada juga rasa kimchi di dalamnya, wow, sungguh menambah kelezatan. Ini Juarak !

Hidangan selanjutnya berturut-turut disajikan  adalah Moksa Sampler yang berisi aneka kreasi makanan ukuran kecil, seperti mini lasagna, spring pasta, mini pizza, gado-gado, campuran daun selada, dan sop jamur kuah santan. Semuanya tentu berbahan dasar sayuran. Lalu bagaimana spaghettinya bisa persis bentuknya seperti spaghetti. Rupanya itu dibuat dari parutan bengkoang. Ketika dirasakan barulah terasa kesegaran bengkuangnya. Bagi saya, sop jamur kuah santannya yang paling juara. Kesegaran santan kelapa bercampur dengan aneka jamur terasa menghangatkan badan di tengah sejuknya hawa Ubud.

Tempeh Cesar Salad adalah satu menu lain yang wajib coba. Aneka sayuran salad yang segar organik disajikan bersama tempe cardamom yang dipanggang hingga caramelized. Tempenya juga paduan dari berbagai kacang, seperti chestnut atau kacang mede. Salad disirami kuah saus strawberry dan keju parmesan yang terbuat dari kacang-kacangan. Keju di Moksa dibuat tanpa menggunakan susu hewan, melainkan dari kacang-kacangan. Super sekali. Selanjutnya kami mencicipi  Quesadillas yang juga memiliki citarasa surgawi. Rasa kacang dan sayuran membuat kami harus berkali-kali merem melek terbawa kelezatan alami.

Jangan lupa juga untuk mencicipi aneka juice dan smoothiesnya. Saya mencoba juice berjudul Flu Fighter and Immunity Booster yang merupakan campuran dari asam jawa, wortel, bayam, seledri, parsley, dan bawang putih. Rasanya segar terutama untuk tubuh yang lelah dan rawan terkena flu. Ada juga aneka smoothies, seperti Green Energy yang merupakan campuran dari daun kale, pisang, strawberry, jeruk, korma, nangka, dan spirulina. Atau cicipi juga Anti Aging Smoothies yang merupakan campuran dari buah berry, pisang, madu.

Sebagai hidangan pencuci mulut, Chef Made memilihkan es krim simphony dengan berbagai rasa. Menariknya adalah es krim di Moksa dibuat sepenuhnya berbahan dasar organik dan tanaman, tidak menggunakan krim atau susu dari hewan. Tapi rasanya sungguh luar biasa, ada es krim buah naga, cengkeh, vanilla, dan lainnya. Untuk sajian manis, kami dipilihkan cheesecake yang menggunakan taburan buah delima (pomegranate). Ini lezat dan menutup seluruh sajian secara sempurna.

Mencicipi makanan di Moksa memang seolah membawa kita Moksa menuju pencapaian yang lebih tinggi. Bukan hanya menyenangkan di perut tapi juga menyenangkan di hati. Apalagi kalau makan bersama orang-orang tercinta. Dari Ubud, kami kini punya keyakinan baru bahwa makanan raw dan vegan tidak selalu tampil membosankan, tapi bisa juga tampil penuh kreasi dan dibuat secara sederhana. Kalau ke Ubud, silakan mampir ke Moksa.

Salam sehat.

 

Wisata Horor di Makam Peneleh

Berpose di Prasasti Nisan Gubernur Jenderal Belanda Mr. Pieter Markus yang wafat tahun 1844

Berpose di Prasasti Makam Gubernur Jenderal Belanda Mr. Pieter Markus yang wafat tahun 1844

Setiap kali berjalan melewati makam Belanda di Peneleh Surabaya, saya selalu merinding. Bulu kuduk ini rasanya berdiri. Hiiiiii , melihat batu-batu nisan yang besar, patung malaikat, dan tulisan berbahasa Belanda, memang membuat suasana semakin menyeramkan. Saya jadi ingat berbagai adegan di film-film horor. Takutnya, kalau pas jalan di situ, ada Drakula yang muncul dan menghisap darah kita … Aaaaack !

Tapi tidak demikian menurut kawan saya Mas Dandot, dan Mas Ipung yang juga penulis buku Surabaya Punya Cerita. Menurut Ipung, ia dan kawan-kawannya sering main ke makam Peneleh dan pulangnya tetap baik-baik saja. Gak kesurupan, ataupun di-”gelendoti” dedemit. Oleh karena itu, di suatu siang, ia mengajak saya untuk melihat makam Penelah dan membagi cerita tentangnya. Ya, beraninya siang dong hehe.

Memasuki Makam Peneleh memang seolah membawa kita ke suasana horor di Abad 18. Suasana makam yang bergaya gothic dan abad pertengahan itu, menjadikan aura makam peneleh berbeda dari makam umumnya di Indonesia. Saya membayangkan suasana muram di tempat ini saat dua ratus tahun lampau. Bayangan kereta kuda, suasana mendung, para kerabat berbaju hitam, membawa payung, mengantar jenazah orang-orang Belanda.

Di Peneleh ini, dimakamkan banyak tokoh Belanda, seperti Moeder Louise, Suster Kepala Ursulin, yang merupakan pendiri cikal bakal SMA Santa Maria di Surabaya. Selain itu, Gubernur Jenderal Pieter Markus, salah satu pejabat tertinggi Hindia Belanda yang meninggal pada saat menjabat, juga dimakamkan di sini. Ia adalah satu-satunya Gubernur Jenderal Belanda yang dimakamkan di Surabaya.

Menurut Ipung, Makam Peneleh adalah makam Belanda modern tertua di Indonesia. Ya, De Begraafplaats Peneleh atau Makam Peneleh dibangun sejak hampir dua abad lalu, atau tepatnya di tahun 1814. Makam ini lebih tua dari makam Belanda Kebon Jahe Kober di Jakarta. Selain itu, makam ini juga tercatat sebagai salah satu pemakaman modern tertua di dunia, bahkan lebih tua dari Fort Cannin Park Singapura (1926), Mount Auburn Cemeterydi Cambridge(1831), dan Arlington National Cemetery (1864).

Sayangnya, suasana makam ini kurang terawat. Saat saya memasuki kawasan makam Peneleh, banyak batu nisan yang sudah rusak, dibongkar, dan makam-makam yang gowong, atau bolong-bolong. Hiiiii, malah jadi nambah seram. Saya membayangkan ada tangan keluar dari bawah tanah gowong itu…

Saya diajak Ipung menuju satu bangunan yang konon paling angker di daerah itu. Kata mas penunggunya, banyak cerita aneh terjadi di sini. Bangunan itu dinamakan Omah Balung, atau Rumah Tengkorak, The House of Skeleton. Ga tau juga kenapa dinamakan seperti itu. Banyak riwayat, seperti misalnya dulu semua jenazah ditumpuk di situ, atau saat terjadi wabah penyakit banyak jenazah dikumpulkan, saya tidak mendapatkan penjelasan secara spesifik. Tapi yang jelas, aura angker memang terasa di depan Omah Balung ini. Bangunan ini hanya terdiri dari satu ruangan, di dalamnya ada semacam sumur, yang tentu menambah suasana mistik. Wah, saya tidak mau berlama-lama di sana. Segera saya beranjak ke makam yang lain.

Bersama Mas Dandot dan Mas Ipung, di depan Omah Balung, satu bangunan yang kata orang paling angker di makam Peneleh

Bersama Mas Dandot dan Mas Ipung, di depan Omah Balung, satu bangunan yang kata orang paling angker di makam Peneleh

Kalau cerita soal penampakan, mistik, dan lain-lain, banyak terjadi di makam tua ini. Tapi ya namanya juga kan makam, jadi wajar kalau sampai ada cerita seperti itu. Saya datang bukan untuk ikut uji nyali, melainkan melihat keanggunan sisa-sisa makam Belanda. Satu bangunan nisan yang saya juga kagumi adalah monumen pada pusara Pastor Martinus van den Elzen. Monumen ini dibuat oleh Kuyper, dari batu Maastricht kelabu dalam gaya gothic yang kental.

Dalam tatahan relungnya digambarkan kebangkitan Kristus. Ada nama almarhum, tanggal lahir dan wafat. Kata-katanya juga masih terbaca jelas, “Zalig zijn de dooden die in de heer sterven, want hunne werken volgen hen“, yang artinya “Bahagialah mereka yang meninggal dalam Tuhan, sebab amal mereka menyertainya“.

Monumen di Pusara Pastor Martinus van den Elzen

Monumen di Pusara Pastor Martinus van den Elzen

Saya juga berlama-lama menatap prasasti pada makam Gubernur Jenderal Pieter Markus, sambil membayangkan betapa berkuasanya ia dulu di Hindia Belanda. Tulisan prasastinya dalam bahasa Belanda, tapi menurut Pak Dukut (penulis buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe), artinya:

Paduka Yang Mulia Mr. Pieter Markus, Komandeur dalam Jajaran Singa Belanda, Ksatria dalam Legiun Kehormatan Perancis, Gubernur Jenderal dari Hindia Belanda, Panglima Tertinggi dari Angkatan Darat dan Laut di sebelah Timur Tanjung Harapan, dan seterusnya … Wafat di Wisma Simpang, 2 Agustus 1844″. Wisma Simpang adalah Gedung Grahadi sekarang.

Wisata ke Makam Peneleh ini bisa jadi sebuah alternatif kalau mampir di Surabaya. Lokasinya yang strategis, di tengah kota Surabaya, di tepian Kali Mas, menjadikan Peneleh sebuah tempat yang sayang kalau dilewatkan.

Namun memang amat disayangkan kalau melihat potensi wisata yang kurang terawat. Makam Peneleh terkesan kurang terawat, saat jalan di dalamnya banyak kotoran kambing, serta banyak nisan yang hilang, serta makam yang gowong. Andai suasananya bisa dibuat rapi dan terawat, tentu Makam Peneleh bisa jadi satu ikon wisata yang terkenal hingga manca negara, seperti beberapa konsep makam heritage lain di seluruh dunia.

Niwaay, kata orang di makam ini banyak dedemit terbang berkeliaran. Saksi matanya banyak yang pernah melihat penampakan-penampakan di sini. Well, menutup kunjungan hari ini, saya juga memilih ikutan terbang di sini, biar suasananya kena hehehe… Salam.

Levitasi di Makam Tua

Levitasi di Makam Tua

Omah Balung Levitation, photo by Ahmad, edited by Dandot.

Omah Balung Levitation, photo by Ahmad, edited by Dandot.

 

 

Uniknya Thanksgiving di Banyuwangi

Joanne, kawan dari Konjen AS di Surabaya, menyajikan Kalkun Thanksgiving

Joanne, kawan dari Konjen AS di Surabaya, menyajikan Kalkun Thanksgiving

Akhir pekan ini, saya diundang oleh Konsul Jendral Amerika Serikat (AS) di Surabaya, Pak Joaquin Monserrate, untuk menghadiri perayaan Tradisi Thanksgiving (Hari Bersyukur) di Kota Banyuwangi. Untuk pertama kalinya Kedutaan Besar AS di Indonesia dan Konjen AS di Surabaya menyelenggarakan tradisi Thanksgiving di Kota Banyuwangi. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, menyediakan pendoponya khusus bagi acara Thanksgiving tersebut. Sementara di luar pendopo, ia mengadakan pesta rakyat. Ada pergelaran seni, musik, bazaar aneka produk, dan tentunya kuliner gratis bagi rakyat Banyuwangi. Malam itu, Kota Banyuwangi berpesta.

Tradisi Thanksgiving, yang setiap tahun jatuh pada pekan keempat bulan November, dilakukan oleh bangsa Amerika sebagai rasa bersyukur pada Tuhan, dan berkumpul bersama keluarga. Acara dihadiri langsung oleh Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert O. Blake. Selain itu, hadir juga Menteri Pariwisata Arief Yahya, Yenny Wahid, beberapa tokoh dan artis, serta perwakilan masyarakat AS di Indonesia.

Dubes Blake mengatakan bahwa dipilihnya Banyuwangi adalah karena “keajaiban” kota kecil itu. Ia mendengar banyak kisah tentang kepemimpinan yang hebat di daerah-daerah Indonesia. Tapi baru kali ini ia melihat dengan mata kepala sendiri, betapa kisah itu benar-benar nyata di lapangan. Sebelum acara makan malam Thanksgiving, Bupati Azwar Anas memang mengajak Dubes AS untuk melihat kotanya, bertemu rakyatnya, agar bisa melihat bagaimana pembangunan dilakukan di kota Banyuwangi.

Dalam rangkaian Thanskgiving, Kedubes AS juga mengadakan acara lain, seperti mengundang sekitar 25 Bupati yang dinilai progresif dari kawasan timur Indonesia, dan mempertemukan mereka dengan Rajawali Foundation. Para bupati tersebut akan diberikan kesempatan untuk maju dan belajar di beberapa universitas terkemuka di AS. Selain itu Dubes AS juga melakukan berbagai kegiatan sosial, seperti membersihkan sampah di pantai, menanam koral, hingga melakukan dialog dengan anak sekolah di Taman Sritanjung Banyuwangi.

Dubes AS Robert Blake dan Konjen AS di Surabaya Joaquin Monseratte, menyajikan kalkun bagi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas / photo junanto

Dubes AS Robert Blake dan Konjen AS di Surabaya Joaquin Monseratte, menyajikan kalkun bagi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas / photo junanto

Acara Thanksgiving di Pendopo Kota Banyuwangi menggambarkan sebuah akulturasi tradisi yang unik antara AS dan Indonesia. Di AS, Thanksgiving mirip dengan lebaran di Indonesia. Pada hari itu, masyarakat AS bersyukur akan nikmat yang diberikan Tuhan, mereka berkumpul bersama keluarga. Setiap Thanksgiving juga, masyarakat Amerika melakukan tradisi mudik. Orang AS yang bekerja di kota atau luar negeri umumnya pulang kampung di Hari Thanksgiving untuk berkumpul bersama keluarga.

Selain itu yang menarik, kalau saat lebaran di Indonesia ada Opor Ayam, maka saat Thanksgiving di Amerika, ada Kalkun Panggang. Di Amerika, setiap Thanksgiving, banyak kalkun yang dipotong untuk sajian. Namun Presiden Obama memiliki satu tradisi untuk “mengampuni” satu kalkun agar tidak dipotong tahun itu. Nah, malam tadi, Dubes Blake dan Bupati Banyuwangi, juga melakukan tradisi “mengampuni” satu kalkun. Seekor kalkun dibawa ke depan, dan secara resmi diampuni oleh Dubes, tidak ikut dipotong sebagai makan malam. Hadirin ikut tertawa dan bertepuk tangan menyaksikan tradisi tersebut.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, yang juga ikut hadir, menyatakan kekagumannya pada Bupati Azwar Anas. Kota Banyuwangi, yang sekitar 5-6 tahun lalu tidak dilirik orang, kini menjadi trending topic di mana-mana. Aneka festival digelar, penerbangan dibuka, infrastruktur diperbaiki, dan sanitasi dibangun. Itu yang seharusnya dilakukan oleh Pemerintah Kota. Ia menyebutkan bahwa dengan upaya yang dilakukan Bupati Anas, kunjungan wisatawan domestik ke Banyuwangi dalam tiga tahun terakhir ini, naik 500 persen.

Namun tentunya jumlah kunjungan masih belum signifikan, atau masih harus ditingkatkan lagi. Oleh karena itu, upaya terus membenahi infrastruktur menjadi sangat penting. Membangun kesiapan masyarakat untuk menerima banyaknya wisatawan juga penting.

Usai Thanksgiving, pada hari Sabtu (22/11), Bupati Anas mengundang seluruh tamu untuk menyaksikan Banyuwangi Ethnics Carnival (BEC). Pada prinsipnya ini adalah karnaval fashion. Namun yang membedakan BEC dengan karnaval lainnya adalah karena BEC lebih mengangkat lokalitas Banyuwangi dan menambah dengan unsur tarian.

Untuk itu, tema BEC tahun ini adalah “Mystical Dance of Seblang”. Seblang adalah ritual suku Osing Banyuwangi. Seblang singkatan dari “Sebele Ilang” atau “Sialnya Ilang”. Ini adalah ritual mistik untuk menolak bala bagi masyarakat agraris Banyuwangi. Jadi selain fashion, ditampilkan pula ritual Seblang dengan menggunakan penari-penari yang “trance” saat mereka menolak kekuatan jahat. Menteri Pariwisata, Menteri Sosial, Dubes AS, Konjen AS di Surabaya, terlihat menikmati penampilan kreasi seni masyarakat di Carnival tersebut.

Banyuwangi memang luar biasa. Bupati Anas telah mengubah citra Banyuwangi, dari “Kota Santet” menjadi Kota Wisata dan “Digital Society”. Penuh festival, jadi tuan rumah Thanksgiving, dan tentu saja sinyal internetnya bagus. Semoga semakin banyak muncul kota-kota seperti Banyuwangi.

Bertemu Mbak Ayu Azhari di acara Thanksgiving Banyuwangi

Bertemu Mbak Ayu Azhari di acara Thanksgiving Banyuwangi

 

Kisah Empat Pria di Raja Ampat

Empat Pria di Bandara DEO Sorong

Empat Pria di Bandara DEO Sorong

Life begins at forty. Hidup mulai di usia empat puluh. Ya, memasuki usia itu, para kaum pria pada khususnya, seolah berada di persimpangan. Mau dibilang tua, tidak mau, karena rasanya masih muda. Tapi dibilang muda, ya juga sudah tidak muda lagi kan. Berbeda dengan saat berusia dua puluh-an.

Nah, dalam sebuah percakapan di grup chat, kami para pria sebaya, saya, Hery, Eddy, dan Poltak, berdiskusi ringan untuk melakukan satu hal yang impulsif, keluar dari kerutinan, tanpa rencana matang. Tapi harus seru. Semata untuk membuktikan bahwa kita masih muda, dan kita masih punya semangat adventure.

Eddy memulai chat dengan sebuah usulan, “Ke Raja Ampat, yuk!”

Ruang chat mendadak sepi. Bukan karena apa, tapi bagi kami yang kesehariannya termasuk dalam kategori pekerja sibuk, mengatur jadwal kerja tidaklah mudah. Pekerjaan di kantor membuat kita semakin sulit mengambil cuti mendadak. Masing-masing dari kami kerap diberi tugas segera, dinas ke luar kota, dan seabrek pekerjaan lainnya.

Selain itu, Raja Ampat itu kan jauh. Biayanya juga tidak murah. Konon kata orang bisa lebih mahal daripada jalan ke luar negeri. So, ujug-ujug ke Raja Ampat tanpa persiapan matang? Mungkin hanya mimpi.

Beberapa hari, usulan Edy tak mendapat tanggapan.

Sampai pada satu pagi, ada yang me-reply, “Kenapa nggak? … Yuuk”. Hmmmm …. Bener juga. Kenapa nggak. “Gimana kalau bulan depan?”. Rencana yang cukup mendadak dan nekat.

Kami beruntung karena memiliki seorang kawan yang bekerja di Papua. Roma namanya. Kitapun menghubungi dia untuk mencari informasi “how to” mencapai Raja Ampat. Lebih beruntung lagi, pada saat bersamaan, rupanya Roma dan suaminya sedang berdinas ke Raja Ampat. Ia bersedia mendampingi dan jadi pemandu kita. Yeeey, kita punya host! .. So, all settle. Kitapun mempersiapkan berbagai hal tekhnis untuk ke Raja Ampat, mulai dari tiket, akomodasi, transportasi, termasuk peralatan snorkeling.

Oh ya, tidak ada satupun di antara kita yang punya lisensi penyelam. Padahal,  Raja Ampat kan surganya penyelam. Rasanya kufur nikmat tuh kalau tidak menyelam. Tapi pastinya kita tidak akan diizinkan menyelam. Bisa jadi berita kalau ada empat pria paruh baya nekat menyelam di Raja Ampat, terus kebawa arus gitu. Naudzubillah deh. Jadi target kitapun hanya melakukan snorkeling dan memandang keindahan alam.

****

Tapiiiiii, enam hari menjelang keberangkatan, ada berita mengejutkan dari Eddy. “Frens, gue kayaknya ga bisa nih. Disuruh boss dinas ke Paris”. …… . Jreeeeeng! …

Wah, lo ga asyik amat Ed, kan ide ke Raja Ampat dari lo”, kata kita semua. Dan kitapun seolah hilang energi untuk melanjutkan perjalanan. Dua hari lamanya kita “ogah-ogahan” untuk melanjutkan perjalanan. Kalau cuma bertiga kan nanti namanya Raja Tiga, bukan Raja Ampat lagi, begitu pikir kita sedikit lebay.

Kitapun mem-bully Eddy di grup. Namun memang Eddy sahabat sejati. Ia berusaha menegosiasikan dengan bossnya soal perjalanan dinas ke Paris. Bayangkan tuh, mengorbankan Paris demi persahabatan. Syukurlah bossnya paham. Tugas ke Paris bisa dialihkan ke pegawai lainnya. Memang bukan penugasan yang mengharuskan Eddy untuk pergi. Sementara, kalau ke Raja Ampat, Eddy harus pergi kan. Daripada dianggap “pengkhianat” grup hehehe …..

****

Kita berkumpul di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng untuk memulai perjalanan. Ternyata perjalanan ke Raja Ampat itu cukup ribet. Dari Jakarta kita naik pesawat pukul 22.00, menuju Makassar. Transit di Makassar sekitar 3 jam. Kemudian dari Makassar, sekitar pukul 03.30 dinihari, kita melanjutkan penerbangan ke Sorong. Sampai Sorong pukul 06.30 pagi. Nah dari Sorong, kita masih harus naik boat lagi selama tiga jam menuju kepulauan Raja Ampat.

Jauh ya. Mungkin kalau dihitung dari perjalanan saya, yang berangkat dari Surabaya, total waktu menuju Raja Ampat mencapai 15 jam. Heeeee, sudah sampai Eropa itu.

***

The Beauty of Raja Ampat

The Beauty of Raja Ampat. Empat Pria dan Mamak Roma sebagai host

Raja Ampat memang Surga tingkat kesembilan. Indah. Saya sudah sering melihat foto, film, dan cerita tentang Raja Ampat. Tapi tidak membayangkan seindah itu saat melihat dengan mata kepala sendiri. Betul kata para filsuf, mereka yang merasakan, mengetahui. Untuk mengetahui keindahan Raja Ampat memang harus merasakan sendiri.

Kita menginap di salah satu villa di kepulauan Batanta. Saat tiba, kita melihat pantai yang begitu surgawi. Airnya sangat jernih sampai bisa melihat seluruh dasar dan terumbu karangnya. Dari jetty tempat boat kami bersandar, ikan warna warni berseliweran. Hampir semuanya schooling (bergerombolan dengan jenisnya).  Luar biasa kereeen.

Semua tidak sabar mau nyemplung. Eddy langsung menyiapkan Go Pro-nya. Hery sudah berganti pakaian selam yang dibelinya khusus di Mangga Dua. Dan Poltak sudah membuka baju bagai anak laut. Kitapun menceburkan diri di pantai. Sepanjang senja, kami berputar-putar snorkeling sekitar pulau.  Kita membayangkan kalau menyelam pasti lebih indah. Wong di sekitar pulau saja kita sudah melihat aneka karang yang mengagumkan. Bentuknya bunga, kipas, tumbuhan, aaah indah banget.

Ikan-ikannya juga ga ketulungan indah. Ikan kuning, nemo, buntal, aneka ragam ikan kuning, bahkan kita bertemu dengan Pari dan ikan Hiu.

Kita bagai anak kecil yang tak mau naik ke darat. Gak mau naiiik !!

Keindahan bawah pantai Raja Ampat / photo by Junanto

Keindahan bawah pantai Raja Ampat / photo by Junanto

Finding Nemo in Raja Ampat/ photo by Junanto

Finding Nemo in Raja Ampat/ photo by Junanto

snorkel .. snorkel ... snorkel

snorkel .. snorkel … snorkel

****

Hari kedua adalah saatnya menikmati pemandangan atas Raja Ampat. Kita naik boat lagi menuju Pulau Wayag Besar. Ini adalah lokasi yang konon pemandangannya indah, tapi rutenya sulit. Akibatnya, banyak turis yang memilih ke Pianemo, yang secara sekilas terlihat mirip Wayag Besar. Agar tetap merasa sudah sampai di Wayag, banyak orang menamakan Pianemo dengan sebutan Wayag Kecil.

Menurut Roma sebagai tuan rumah, biasanya kalau ada rombongan pejabat, diajaknya menuju Wayag Kecil ini. Di sana sudah ada tangganya, sehingga mendaki jadi lebih mudah. Mereka bisa naik tangga ke puncak, dan berpose di atasnya. Pemandangannya juga indah di sana.

Namun Wayag Besar adalah sebuah petualangan dengan lain cerita. Jarak ke sana lebih jauh. Sekitar tiga jam lagi dari Batanta naik boat apabila laut tenang. Kalau dari Waisai bisa sekitar delapan jam. Untuk menuju ke puncaknya juga harus mendaki bukit yang tinggi. Kita harus menggunakan sepatu karet selam, karena selain bukitnya terjal, juga berbatu runcing. Kalau pakai sepatu biasa khawatirnya robek. Apalagi kalau kaki kita nyeker hehehe.

Dan betul juga, perjuangan naik ke atas Wayag Besar sungguh terasa. Nafas saya sampai ngos-ngosan, keringat membasahi tubuh dan pakaian, belum lagi tubuh lemas akibat matahari yang bersinar ganda. Panas dan berat. Beberapa kali kita berhenti untuk beristirahat, mengatur nafas, dan naik lagi.

Setibanya di atas. Semua terbayar.

Wayag Besar dari atas / photo by Junanto

Wayag Besar dari atas / photo by Junanto

Yeeey, we are here !

Yeeey, we are here !

Ini memang surga tingkat kesembilan. Wayag Besar adalah satu dari keindahan Tuhan yang wajib kita lihat dalam hidup kita. Kita semua terpana. Bengong. Terpukau dalam keindahan. Gilaaa! Kereeeeen Bangeet!

Turun dari bukit, kita lanjut melakukan snorkeling di seputar Wayag Besar. Masih belum puas juga Snorkeling. Kembali ke penginapan. Lagi-lagi snorkeling senja. Minggu pagi, kita terus snorkeling seolah tak mau usai.

Minggu siang, holiday is over. Tentu saja kita tidak menyesal pergi ke Raja Ampat meski persiapannya mendadak. Satu hal yang disesalkan, kenapa cuma tiga hari. Harusnya semingguuu iniiiii.

Waktu berlalu, kita terduduk menunggu boat yang akan mengantar kembali ke Sorong. Sambil duduk bersebelahan, barulah lelah itu terasa. Kitapun mulai membongkar tas, mengambil sesuatu. Keluarlah semua obat-obatan. Dari balsem, obat dengkul, hingga obat anti masuk angin. Yaaaah, pada ujungnya, usia gak bisa boong ye……

Tetap semangaaat !!

Persaudaraan Kopi di Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

“Once Brew, We Bro”. Sekali Seduh, Kita Bersaudara. Begitu ungkapan dari Setiawan Subekti yang juga akrab dipanggil Pak Iwan, saat kami memasuki Sanggar Genjah Arum miliknya di Desa Kemiren, Banyuwangi. Pak Iwan menyambut kami dengan hangat dan mengajak masuk ke satu rumah yang dirancang seperti kedai kopi, lengkap dengan meja bar. Ia lalu menyajikan secangkir kopi racikannya.

Hmmmm, aroma kopinya harum dan membius kita semua yang hadir malam itu. “Silakan cicipi, dan ceritakan pada saya rasanya”, begitu kata pak Iwan. Dan, saat sesapan kopi masuk memenuhi langit-langit mulut, kenikmatan itu menyeruak. Meninggalkan jejak rasa, after taste, yang tak tepermanai. Bagi saya, kopi di Sanggar Genjah Arum ini adalah kopi terenak yang pernah saya cicipi dalam perjalanan hidup mencari kesempurnaan kopi.

Beberapa kawan tampak ragu mencicipi kopi yang disajikan tanpa gula tersebut. Sebagian karena pernah kena penyakit asam lambung sehingga khawatir kalau minum kopi akan kambuh. “Kopi tidak menyebabkan sakit lambung atau maag, seperti mitos yang selama ini berkembang”, demikian kata Pak Iwan menenangkan. Reaksi orang terhadap kopi tentu berbeda-beda. Namun kalau  diproses dan disajikan dengan benar, kopi menjadi minuman yang baik dan menyehatkan.

Setiawan Subekti adalah seorang pejuang. Ia bukan hanya pecinta kopi, tapi lebih seperti “Ambassador” atau Duta Kopi. Hidupnya dipersembahkan pada Kopi Banyuwangi dan Pelestarian Budaya Banyuwangi. Saat bercerita tentang kopi, matanya berbinar-binar.  Saat bicara budaya Banyuwangi, gairahnya menyebar. Ia seorang yang penuh semangat dan energi.

Para pecinta kopi, atau barista nasional maupun internasional, pasti mengenal Setiawan Subekti. Sebagai tester kopi internasional, ia sering diundang ke mancanegara, baik untuk membagi ilmunya, maupun menjadi juri pada berbagai kompetisi. Di dinding sanggarnya, kita melihat foto berbagai orang ternama yang pernah berkunjung ke sana, termasuk foto kunjungan Putri Kopi Dunia.

Tamu yang datang ke Sanggar Genjah Arum juga beragam, seperti Dahlan Iskan, Marie Pangestu, Konsul Jendral AS di Surabaya, pimpinan dan pejabat BUMN, hingga artis dan seniman. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, bahkan menjadikan Sanggar Genjah Arum sebagai satu destinasi bagi tamu-tamunya. Beliau sendiri secara rutin “nongkrong” untuk ngopi di sini.

Pak Iwan juga giat memperkenalkan kopi Banyuwangi atau Kopai Osing, ke berbagai negara. Nama Osing diambil dari subkultur terbesar yang hidup di Banyuwangi. Orang Osing adalah sebutan bagi masyarakat asli Banyuwangi.

Jenis kopai Osing ini unik dan memiliki cita rasa tersendiri. Kopi, yang ditanam di pegunungan Ijen dan Raung sekitar Banyuwangi dan Bondowoso, sudah diekspor ke mancanegara. Kalau kita pergi ke Eropa dan minta disajikan Java Coffee, maka hampir dipastikan bahwa kopi itu berasal dari daerah sekitar Banyuwangi, Jawa Timur. Keunikan rasanya, menjadikan Kopi Banyuwangi digemari di dunia.

keharuman biji kopi banyuwangi

keharuman biji kopi banyuwangi

Kopi memang bisa menjadi komoditas unggulan dan kekuatan ekonomi Indonesia. Kita memiliki kopi yang tidak kalah bersaing dengan kopi dari negara lain, bahkan lebih baik. Dilihat variannya, di seluruh nusantara terdapat aneka varian kopi yang lezat. Namun Pak Iwan masih menyayangkan pengembangan industri kopi nasional yang masih belum optimal. Biji kopi Indonesia itu bagus, namun kadang proses pembuatan, dari penanaman hingga menjadi biji kopi, belum dilakukan dengan benar. Mereka masih menggunakan proses tradisional, mencampur biji kopi kualitas bagus dan rendah, tidak memasak dengan standar yang baik, sehingga hasilnya tidak optimal. Banyak produk olahan kopi akhirnya memiliki kualitas yang rendah dan tidak memenuhi standar internasional sehingga harganya murah.

Oleh karena itu, Pak Iwan secara aktif turun ke perkebunan kopi, melakukan pembinaan bagi para petani kopi agar dapat memproses kopi dengan baik.  Hasilnya, kini banyak petani kopi yang mulai memproses kopi dengan benar, menghasilkan kopi berkualitas, dan dapat mengekspor ke luar negeri.

Di daerah Bondowoso misalnya, ada kelompok petani kopi Arabica binaan Bank Indonesia Jember, mampu mengekspor sebanyak 350 ton per bulan ke luar negeri. Mereka juga mendapatkan masukan konsultasi dari Pak Iwan agar dapat memproses kopi dengan baik. Meski sudah bisa mengekspor sebesar 350 ton, dan meningkatkan taraf hidup petani kopi di sana, angka itu masih rendah dari potensinya sebesar 6000 ton. Bayangkan bila seluruh wilayah penghasil kopi tersebut dapat memproses kopi dan mengekspor kopi dalam kapasitas optimal. Selain kopi Indonesia makin terkenal, kehidupan para petani akan meningkat.

Data Kemenperin menunjukkan bahwa ekspor kopi olahan Indonesia mencapai 244 juta dolar AS pada tahun 2012, dan meningkat menjadi 322 juta dolar AS pada tahun 2013. Ini menunjukkan bahwa permintaan dunia pada kopi sangatlah besar.  Potensi ini yang perlu menjadi perhatian kita semua.

Menikmati kopi di Sanggar Genjah Arum juga menikmati keindahan rumah-rumah tradisional suku Osing. Pak Iwan memang sengaja menjadikan tempatnya sebagai konservasi rumah Osing. Ada sembilan rumah khas orang Using berbahan kayu bendo dan tanjang. Setiap rumah memiliki fungsi berbeda. Ada yang dibuat sebagai gudang penyimpan kopi, tempat istirahat, tempat makan, dan tempat pertunjukan. Kami juga dipersilakan melihat dapur tradisional Osing, yang untuk memasaknya masih menggunakan tungku tanah liat dan kayu bakar.

Di Sanggar itu, kita juga bisa melihat beberapa perempuan asli Banyuwangi membawakan musik “gedhokan”, atau seni musik yang dihasilkan dari pukulan lesung. Juga  ditampilkan pula tarian Gandrung Banyuwangi, yang merupakan tarian asli Banyuwangi. Para penari, pemain musik, berasal dari warga sekitar. Beberapa di antaranya bahkan pernah diajak Iwan ke Amerika Serikat untuk sebuah pertunjukan seni.

Menyesap kopi Banyuwangi, menikmati udara dingin pegunungan, melayang dalam alunan seni tradisional, adalah perpaduan sempurna bagi indahnya kehidupan. Pak Iwan telah membuktikan, bahwa “surga” ada di ujung timur Pulau Jawa.

Salam Kopi.

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

kopi terlezat, kopai osing

kopi terlezat, kopai osing

 

Aroma Sastra dan Literasi di Paris

Toko buku Shakespeare & Co. Sanctuary for book lover in Paris

Toko buku Shakespeare & Co. Sanctuary for book lover in Paris

Mbak Lona Hutapea, penulis buku Paris C’est Ma Vie dan Voila La France, yang juga pernah tinggal di Paris, merekomendasikan saya untuk merasakan aroma sastra di kafe-kafe kota Paris. Nah, saat berkesempatan mampir di Paris beberapa waktu lalu, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke tempat yang direkomendasikan mbak Lona tersebut.

Dari banyaknya kawasan, ada satu daerah yang wajib dikunjungi para pecinta literatur. Nama daerahnya Latin Quarter, yang menurut sejarah adalah tempat mangkal dan kongkow para sastrawan dan seniman Eropa selama beratus tahun. Dahulu, para filsuf. seniman, artis, dan sastrawan, berkumpul di kafe-kafe daerah itu dan melakukan aneka diskursus intelektual. Ada pemikiran yang melawan arus, bahkan ada yang revolusioner. Tak heran, pergerakan filsafat dan sastra marak dan kerap bangkit di Paris. Nama-nama filsuf besar seperti Sartre, Simone de Beauvior, Oscar Wilde, Voltaire, Victor Hugo, adalah deretan nama yang pernah nongkrong di berbagai kafe kota Paris.

Saya selalu meyakini bahwa perjalanan panjang diskursus intelektual di satu area adalah energi yang terus melekat selama bertahun-tahun. Karena itulah, saat memasuki kafe atau sudut-sudut tua kota Paris, aura dan nuansa sastra intelektual terasa begitu kental dan menyesap.

Saya kemudian berhenti di satu toko buku legendaris yang menjadi salah satu ikon literasi Paris. Bagi saya, inilah sanctuary for book and literature lover in Paris. Surga bagi pecinta buku dan literasi di Paris. Nama tokonya Shakespeare and Co. Sayapun pergi ke sana, dan hanyut tenggelam di toko buku itu. Meski terlihat kecil dan tua, toko buku yang didirikan sejak tahun 1922 ini sarat dengan kisah. Para sastrawan dan penulis dunia, seperti Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald, dulu sering kongkow dan menelurkan karya2 dari toko kecil ini. Koleksi literaturnya juga luar biasa.

Sebenarnya, toko asli Shakespeare and Co didirikan oleh Sylvia Beach, seorang ekspatriat Amerika, pada tahun 1919di Rue Dupuytren. Pada tahun 1921, toko buku ini pindah ke tempat yang lebih besar, dan buka hingga tahun 1940, sebelum Perang Dunia ke-II. Setelah itu toko buku ini ditutup. Barulah pada tahun 1951, David Whitman membuka kembali toko buku ini. Saat ini, toko buku dikelola oleh putri dari David Whitman, yaitu Sylvia Whitman.

Memasuki toko buku kecil, yang terletak di bawah bayang-bayang Gereja Notre Dame Paris tersebut, kita seolah diajak berjalan dalam mesin waktu. Suasana Bohemian langsung terasa. Rak-rak buku model kayu, klasik, dipenuhi oleh koleksi aneka buku second hand -berbahasa Inggris, yang ekstensif. Toko ini juga memiliki beberapa kamar kecil, yang dulu jadi tempat bermalam para sastrawan dan seniman. Kadang bayarannya bukan uang, melainkan kewajiban mereka membaca satu buku dalam sehari, dan mendiskusikan isinya bersama-sama. Sungguh sangat kaya literasi.

Bagi para pecinta literasi, perjalanan ke Paris wajib mampir ke Shakespeare and Company. Dari toko kecil ini kita bisa belajar, bahwa bangsa besar adalah bangsa yang kaya membaca, menulis, dan budaya. Perancis dibangun juga oleh literasinya yang kaya. Tak banyak toko buku dan penerbit di Indonesia yang bisa berumur ratusan tahun. Tapi kita bisa memulai dan merawat yang sudah ada. Untuk Indonesia yang lebih baik dan kaya literasi.

Usai memilih buku, kita bisa duduk2 membaca di kafe2 bersejarah yang tersebar di seputaran situ. Ada satu kafe yang konon merupakan kafe tertua di sana, letaknya tak jauh dari Shakespeare. Namanya Le Procope. Silakan bungkus buku yang baru anda beli, bawa ke La Procope, kemudian pesanlah secangkir kopi. Nikmati aroma sastra dan literasi di Paris yang indah.

Surga Pecinta Macaron di Paris

Laduree, Surga Macaroon di Paris / photo junanto

Laduree, Surga Macaroon di Paris / photo junanto

Mengunjungi kota Paris serasa belum lengkap kalau belum mencicipi pattiserie-nya. Selain terkenal sebagai City of Love dan City of Light, Paris juga menjadi kiblat bagi dunia kuliner. Saat berkunjung ke Paris, saya selalu menyempatkan waktu untuk mencicipi kue di berbagai kafe yang tersebar di setiap sudut kota. Dijamin rasanya jauh lebih enak dari kue serupa yang dibuat di luar Perancis.

Ada satu kue juga yang wajib dicicipi kalau ke Paris, yaitu kue Macaron. Bagi para pecinta kue macaron, rasanya belum sempurna kalau belum mencicipi kue ini langsung di tempat kelahirannya. Bersama keluarga, dan juga sepupu bersama suami dan anak2nya yang datang dari Jerman, saya menyempatkan diri untuk mencicipi aneka kue macaron di toko kue yang terkenal di Paris, Laduree.

Adalah Louis Ernest Laduree yg pada tahun 1862 mendirikan toko kue di kota Paris. Awalnya, kue macaron belum berbentuk seperti sekarang, melainkan dua keping yang terpisah dan dibawa oleh ratu Catherine de Medicci dari Italia di abad ke-16. Saat itu biskuit macaron menjadi kesukaan orang Perancis.

Nah barulah pada tahun 1930, bersama cucunya, Pierre Desfontaines, Laduree menciptakan utk pertama kalinya “double decker macaron”, yaitu dua keping macaron yang dilekatkan dengan cream ganache sbg “filling”-nya. Macaron itulah yg kemudian terkenal hingga sekarang. Laduree kemudian berkembang dan membuka cabang di berbagai negara, menebarkan budaya macaron, yang juga banyak ditiru orang.

Laduree mungkin sudah banyak membuka cabang, di berbagai kota dan negara. Namun, toko di Champ-Elysees Paris adalah sebuah legenda karena konon di sinilah macaron diciptakan. Di kios inilah, saya mampir sebentar untuk mencicipi “authentic” macaron. Saat saya tiba di depan Laduree, antrian panjang sudah terlihat. Orang-orang rela mengantri berjam-jam hanya demi mencicipi kue, pastry, atau macaron yang dibuat di toko ini. Panjangnya antrian itu menunjukkan bahwa toko itu bukan sekedar menjual macaron. Di balik macaron Laduree, ada sejarah, kisah, dan perjalanan panjang, yang tentunya menyisakan sesap kelembutan dan rasa manis tak terlupakan.

Bersama Avandra, keponakan yang tinggal di Jerman, di depan toko Laduree

Bersama Avandra, keponakan yang tinggal di Jerman, di depan toko Laduree Champ-Elysees

Setelah mengantri beberapa waktu, saya tiba di jejeran kue dan macaron. Sungguh bagai surga macaron. Saya melihat jejeran kue dan macaron, dengan aneka rasa dan warna. Begitu indah. Aroma harum dan wangi dari aneka kue itu, meruap dalam semesta toko yang bentuknya tidak terlalu besar. Meski kita dalam antrian, semua orang bagai terbius oleh keindahan kue-kue. Kita menghirup aroma wangi kue, dan mabuk di dalamnya.

Satu set macaron, isi sembilan dihargai sekitar 21 Euro, atau sekitar Rp.350 ribu. Harga yang pantas untuk sebuah sejarah panjang. Apalagi ini macaron yang diciptakan pertama kali di dunia. Nah, lagi2 Perancis memberi renungan, bahwa kue itu bukan perkara remeh temeh loh. Asal dikelola serius, apa saja bisa jadi kekuatan ekonomi nasional, termasuk sekeping macaron.

Mencari Kebahagiaan di Amsterdam

 

Anatomi Babi asli di pintu masuk Body Worlds Amsterdam / junanto

Anatomi Babi asli di pintu masuk Body Worlds Amsterdam / junanto

Di Amsterdam, kebahagiaan atau happiness adalah kata kunci yang dipegang hampir setiap warganya. Sebagai kota, yang masuk dalam jajaran kota paling bahagia sedunia, upaya meraih kebahagiaan adalah proyek hidup yang terus menerus diperbaiki.

Apa yang membuat orang Amsterdam, atau Belanda pada umumnya, bahagia? Salah satunya adalah statistik. Belanda mempelajari cara untuk menjadi bahagia. Dari statistik dan anatomi tubuh, dibuatlah semacam proyek kebahagiaan. Ini yang menarik, karena terbukti bahwa bahagia bisa diraih dengan latihan dan penelitian.

Memang terdengar terlalu tekhnis, tapi di Belanda, segalanya menjadi tekhnis dan detail. Saat mampir ke Amsterdam, saya mengunjungi satu Proyek Kebahagiaan Belanda yang dikemas dalam bentuk sebuah museum. Namanya Body Worlds: The Happiness Project. Letaknya di Damrak, dan menjadi salah satu ikon wisata kota Amsterdam.

Adalah seorang Jerman bernama Gunther von Hagens yang mengawali ide ini. Setelah melakukan pameran proyeknya ini, di berbagai kota, ia membangun pameran tetap di Amsterdam.

Apa yang menarik dan unik dari Proyek Kebahagiaan ini? Body Worlds menampilkan satu tema penting untuk kita renungkan, yaitu mengenai tubuh manusia dan pengaruh dari berbagai faktor, mulai dari fisik tubuh hingga emosi, pada kesehatan dan kebahagiaan manusia.

Premisnya sederhana. Apabila tubuh diberi input kesengsaraan dan kesulitan secara terus menerus, manusia akan cenderung tidak bahagia. Demikian pula sebaliknya. Di sini, von Hagens mengambil riset pada berbagai manusia dan menampilkannya utuh di museum ini. Ada lebih dari 200 jasad manusia asli, bukan display boneka, yang ditampilkan di museum body worlds. Berbagai jasad manusia itu, dibedah, dikuliti, dan diawetkan, sehingga kita bisa melihat kompleksitas tubuh manusia, termasuk kekuatan dan kerentanan tubuh.

Dari mana berbagai jasad itu berasal? Museum ini memberikan informasi bahwa jasad-jasad tersebut berasal dari para donatur, yang merelakan tubuhnya digunakan untuk ilmu pengetahuan setelah mereka meninggal.

Jasad-jasad manusia yang diawetkan dengan cara khusus oleh von Hagens tersebut bercerita bahwa kebahagiaan bisa diteliti. Tubuh yang bahagia, umumnya muncul dari kebiasaan fisik dan emosi yang bahagia. Kebiasaan merokok dan stress misalnya, bisa memicu ketidakbahagiaan. Di museum ini, ditampilan organ manusia yang terkena kanker paru-paru akibat merokok, dan otak yang rusak karena stroke. Kita diajak merasakan dampak dari kebiasaan negatif yang ditumpuk sekian lama.

Museum ini menyampaikan pesan bahwa gerak fisik bisa menimbulkan kebahagiaan. Orang yang rajin berolahraga biasanya lebih bahagia dari yang malas bergerak. Di sini, kita diajak untuk senantiasa melatih fisik, gaya hidup sehat. Namun di lain sisi, fisik juga harus diimbangi oleh jiwa dan emosi yang stabil. Kita harus juga mampu melatih emosi kita, agar tidak terjebak stress, tegang, yang berujung pada ketidakbahagiaan.

Memasuki museum Body Worlds ini menurut saya sesuatu banget, dan menjadi satu pengalaman yang “must try” kalau ke Amsterdam. Dengan tiket seharga 20 euro per orang (bisa lebih murah kalau beli online), kita diajak menyelami kembali makna kehidupan ini. Hidup pada ujungnya, bukanlah mencari materi. Tapi pada ujungnya, yang dicari oleh manusia ini, dengan berbagai aktivitasnya, adalah kebahagiaan atau eudomonia menurut Yunani Kuno.

Amsterdam membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi, tanpa kebahagiaan, adalah sia-sia. Pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita, keamanan, kesehatan, dan fungsi institusi yang baik, adalah prasyarat dasar kebahagiaan. Tanpa ekonomi yang baik, pendapatan per kapita yang memadai, sulit meraih kebahagiaan. Namun itu bukan tujuan, setelah semua yang bersifat materi diraih, kebahagiaan bukan sebuah perkara sederhana. Ia membutuhkan kebiasaan, pelatihan emosi, agar dapat pasrah, dan ringan, dalam menghadapi kehidupan dan segala tantangannya. Di sini baru berlaku, uang tidak selamanya membawa kebahagiaan.

Bahagia, di Belanda, adalah soal tekhnis. Bisa dipelajari. Untuk tahu lebih dalam dan detil, silakan mampir ke Body Worlds Amsterdam, bila sedang berkunjung ke sana. Salam Bahagia.