Days of Danboard: Saturday Morning at the Garden

Melakukan proyek fotografi bersama Danbo, menurut saya cukup menyenangkan. Wajah Danbo yang terkesan “innocent” dan “photogenic” membuat hasil pemotretan menarik untuk dilihat.

Bagi yang belum familiar dengan Danbo, perlu saya jelaskan bahwa Danbo, atau dalam bahasa Jepang “Danboru”, adalah figur boneka yang menyerupai boks karton. Figur ini terkenal di kalangan fotografer dan kerap dijadikan model. Awalnya Danbo adalah karakter dari sebuah komik manga karya Kiyohiko Azuma, yang berjudul “Yotsuba & !”.

Nah, pekan lalu, saya ingin mencoba proyek foto Danbo dengan menggunakan kamera baru saya (Samsung NX300). Ada dua hal yang ingin saya coba, levitasi danbo dan tentu saja, aneka pose Danbo.

Kebetulan saya memiliki tiga buah Danbo (Danbo Amazon.jp, Danbo Taihenyoku Dekimashita, dan Danbo 7-Eleven), sehingga ketiganya dapat melakukan sesi foto bersama-sama.

Pertama, Danbo Taihenyoku Dekimashita ingin melakukan levitasi. Ini cukup sulit karena kecepatan terbang / jatuh yang cepat. Ternyata NX300 mampu menangkap gerak cepat Danbo seperti ini, sehingga terlihat melayang.

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Selanjutnya, inilah aktivitas Danbo di hari libur. Salam Danbo.

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

 

Merayakan Imlek di Surabaya

Beribadah di Klenteng Hok An Kiong Surabaya / photo junanto

Hari pertama saya tinggal di Surabaya bertepatan dengan perayaan Hari  Imlek atau Tahun Baru China. Tahun ini diyakini oleh masyarakat China sebagai tahun Ular Air, yang juga bisa berarti tahun awal dari sebuah kehidupan baru yang lebih baik.

Menurut seorang teman, keyakinan itu muncul karena ada salah satu gigi ular yang hanya digunakan sekali saja seumur hidupnya, yaitu saat ia lahir ke dunia. Gigi ular itu digunakan untuk memecah cangkang telurnya sehingga ia bisa keluar dan tumbuh besar. Dengan demikian, tahun ular bisa diartikan juga sebagai tahun untuk memulai kehidupan baru.

Untuk melihat bagaimana masyarakat Tionghoa di Surabaya merayakan Imlek, siang tadi saya berjalan-jalan di kawasan Pecinan Surabaya. Seperti wilayah Glodok atau Kota di Jakarta, kawasan Pecinan Surabaya terletak di wilayah kota tua. Daerahnya sangat menarik, karena saya menemukan banyak bangunan eksotik masa lampau. Meski beberapa gedung tampilannya tidak terurus, aura masa lalu kaum Tionghoa di Surabaya dapat dirasakan.

Perjalanan saya mulai dari kawasan Jalan Bibis, Jalan Karet, dan Jalan Coklat, hingga melintasi kawasan Kembang Jepun. Di sana banyak terdapat rumah sembahyang milik warga Tionghoa.

Saya kemudian mampir ke Klenteng Hok An Kiong. Ini adalah klenteng tertua di Surabaya yang dibangun sejak tahun 1830 M. Saat saya memasuki pagarnya, banyak masyarakat Tionghoa yang mengantri untuk melakukan sembahyang. Di luar pagar, banyak warga yang mengemis dan menunggu pembagian angpau. Agak ironis, tapi itulah pemandangan khas di setiap Hari Raya di Indonesia, ada saja masyarakat yang mengemis untuk meminta pembagian rejeki.

Klenteng Hok An Kiong Surabaya / photo junanto

Warga Tionghoa Bersembahyang di Hari Imlek / photo junanto

Kembali ke Imlek, Klenteng Hok An Kiong ini awalnya adalah tempat persinggahan bagi pendatang dari Tiongkok di Surabaya. Menurut sejarah, mereka datang dengan membawa serta patung Makcho, dewi pelindung para pelaut dan nelayan untuk disembahyangi di lokasi persinggahan.

Seiring dengan berjalannya waktu, kawasan itu berkembang menjadi pemukiman. Akhirnya masyarakat Tionghoa membangun sebuah klenteng sebagai tempat ibadah dan penghormatan kepada Makcho atau Ma Cou Po. Keunikan klenteng Hok An Kiong ini adalah bangunannya yang sama sekali tidak menggunakan paku dari logam, melainkan potongan bambu yang diruncingkan.

Di Klenteng ini pula, masyarakat Tionghoa Tri Dharma melakukan perayaan Bwee Gee saat Hari Imlek. Dalam perayaan tersebut, mereka menggelar sembahyangan untuk memohon kesejahteraan, kesehatan, serta mendoakan bangsa dan negara agar menghargai keberagaman dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Beberapa polisi dan anggota masyarakat tampak berjaga-jaga di sekitar klenteng untuk memastikan peribadatan umat Tionghoa berjalan lancar dan aman. Saya melihat perayaan Imlek siang itu berlangsung dengan lancar dan aman.

Pada dasarnya kita semua perlu juga menyadari bahwa keragaman adalah kekayaan bangsa kita. Untuk itu nilai kemanusiaan dan kerukunan perlu didahulukan di atas perbedaan.

Dan kalau belajar pada sejarah masa lalu, kita melihat bahwa banyak orang China yang ternyata memiliki peranan besar dalam penyebaran agama Islam di Jawa.  Salah satunya adalah peranan dari Laksamana Cheng Hoo atau Sam Poo Kong. Pasukan Cheng Hoo berasal dari wilayah Yunnan, China Selatan, yang masuk nusantara pada abad XIV di era Dinasti Ming.

Usai melihat perayaan Imlek di Klenteng, saya mampir ke satu Masjid unik di Surabaya yang lokasinya tak jauh dari kawasan Pecinan tadi. Namanya Masjid Muhammad Cheng Hoo. Arsitekturnya sama sekali berbeda dengan masjid pada umumnya yang berbentuk kubah. Masjid Cheng Hoo malah berarsitektur China, bahkan mirip dengan klenteng.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya / photo junanto

Saya mampir untuk menunaikan sholat, dan usai sholat saya mendengarkan pengajian yang dipimpin oleh seorang Ustadz Tionghoa. Sangat menarik mendengarkan ceramahnya yang mengangkat pentingnya kita menghargai perbedaan dan keragaman.

Menikmati Pecinan, khususnya di Hari Imlek, sangatlah menyenangkan, terutama bagi para pecinta sejarah, budaya, dan bangunan-bangunan kuno. Dan Surabaya, ternyata menyimpan banyak cerita tentang kekayaan sejarah atau heritage masa lalu.

Selamat Tahun Baru Imlek.

Ustadz keturunan Tionghoa mengisi ceramah di Masjid Cheng Hoo / photo junanto

Jangan Hina Genghis Khan di Mongolia (Shocking Part II)

Patung Genghis Khan setinggi 40 meter di Tsonjin Boldog, Mongolia / photo iwan

Satu hal yang perlu diingat kalau ke Mongolia. Jangan pernah menjelekkan nama Genghis Khan di sana. Orang Mongolia bisa sangat marah. Hal tersebut karena Genghis Khan, atau di Mongolia ditulis dengan lafal “Chinggis Khan”, adalah idola dan kebanggaan nasional bangsa mereka.

Saat saya pertama menginjakkan kaki di Ulaanbaatar, ibu kota Mongolia, nama Genghis Khan sudah terpampang besar. Ya, airport internasionalnya bernama Chinggis Khan Airport. Bukan hanya di airport, tapi juga di segenap lapis kehidupan orang Mongolia, nama Genghis Khan banyak digunakan.

Mata uang Mongolia Tugrug misalnya, memiliki gambar wajah Genghis Khan. Minuman vodka produksi Mongolia, yang menjadi kebanggaan mereka, mereknya “Chinggis Vodka”. Di berbagai sudut Ulaanbaatar, saya melihat banyak restoran, salon, toko, yang mengambil nama “Chinggis”, atau juga ditulis lengkap “Chinggis Khan”.

Pernah ada usulan membuat Undang-undang untuk mematenkan atau menarik lisensi bagi penggunaan nama Genghis Khan di Mongolia. Namun hingga kini, usulan itu tak pernah terealisasi.

Di Sukhbataar Square, atau di pintu masuk istana Presiden Mongolia, ada satu patung Genghis Khan besar yang sedang duduk. Posisi duduknya mirip seperti patung Abraham Lincoln di Washington, DC. Orang Mongolia percaya kalau arwah Genghis Khan masih ada dan melindungi bangsa Mongolia sebagaimana dulu ia menguasai dunia pada abad ke-13.

Batta, kawan saya yang orang Mongolia, dengan bangga menyebut dirinya “the grandson of Genghis Khan”. Dengan serius dia bilang, “Saya nih cucunya Genghis Khan loh”. Awalnya saya pikir dia betul-betul keturunan langsung Genghis Khan. Gak taunya, semua orang Mongolia yang saya jumpai mengaku juga sebagai cucu Genghis Khan. Sama aja dong, kayak kita semua mengaku cucu Adam hehe….

Patung Genghis Khan di Sukhbaatar Square / photo iwan

Tapi dari semua simbol atau patung Genghis Khan yang saya lihat di Mongolia, yang paling bikin saya shock adalah patung Genghis Khan raksasa yang terletak di Tsonjin Boldog, atau sekitar 54 km dari kota Ulaanbaatar. Dan, ke sanalah saya menuju pagi itu.

Di Tsonjin Boldog, patung Genghis Khan dibuat besar dan megah. Luar biasa megahnya karena tingginya mencapai 40 meter dan beratnya 250 ton, terbuat dari baja. Genghis Khan dibuat sedang duduk di atas kuda dengan posisi mengarah ke negeri Cina.

Untuk menuju ke patung itu, kita perlu berkendara melalui gurun, kalau musim dingin ditutupi salju, yang luas banget. Perjalanan menuju Tsonjin Boldog menempuh waktu hampir satu jam. Bukan masalah jarak saja yang membuat kunjungan ke sana menarik, tapi medan menuju patung itu masih alami, alias banyak jalan yang belum diaspal.Mungkin hal tersebut agar kita bisa merasakan suasana menjadi bangsa nomaden di masa lalu.

Sepanjang jalan kita juga dapat menemukan banyak sapi ternak, padang gurun bersalju, dan pemandangan pegunungan yang indah. Sesekali mobil kita harus berhenti, karena ada rombongan sapi dan kambing menyebrang.

Berpose di pelana kuda Genghis Khan bersama para cucunya

“Kenapa sih harus jauh seperti ini, untuk membuat patung?” tanya saya pada Saran, kawan Mongolia yang ikut pergi bersama. Jawab Saran, “Oh tempat ini dulu diyakini sebagai tempat pertama kali Genghis Khan memperoleh wangsit dan kekuatan sebelum kemudian pasukannya menguasai dunia”. Ya, di Tsonjin Boldon inilah, masyarakat Mongolia meyakini bahwa Genghis Khan dan pasukannya pernah mendirikan tenda dan membangun markas pasukan mereka di abad ke-13.

Di bawah patung setinggi 40 meter itu, ada sebuah bangunan dua lantai yang memuat museum tentang kehidupan di masa kejayaan Genghis Khan. Kita dapat melihat berbagai peninggalan Genghis Khan, baik senjata maupun perlengkapan lainnya. Selain itu, kisah sejarah bagaimana Genghis Khan menguasai dunia dengan pasukan Mongolnya juga digambarkan dengan menarik. Kita juga bisa naik ke patung itu hingga pelana kudanya dengan menggunakan lift.

“Genghis Khan adalah kebanggaan nasional bangsa kami”, ujar Saran. Banyak pihak mengatakan kalau dulu ia sangat bengis. Pasukannya terkenal kejam. Tapi, orang Mongolia ingin menunjukkan pada dunia, bahwa Genghis Khan adalah seorang pemimpin besar. Ia mampu menyatukan bangsa Mongol yang tersebar dalam suku-suku menjadi satu kekuatan besar di masa lalu.

Museum dan patung Genghis Khan ini adalah upaya dari bangsa Mongol untuk melakukan re-branding pada figur idola mereka kepada dunia internasional. Saya rasa semua pemimpin besar dunia adalah pribadi yang penuh kontroversial. Masing-masing negara tentu bangga pada pahlawannya. Demikian pula bangsa Mongolia.

Salam.

Shocking Mongolia (Part I)

Melewati gurun salju di Tsonjin Boldog, Mongolia. Udara mencapai minus 25 C / photo junanto

Mendengar nama Mongolia, bayangan saya adalah padang rumput yang dingin dan kisah tentang pasukan Jengis Khan. Tidak terbayang seperti apa negeri tersebut dalam kenyataannya. Oleh karena itu, saat memiliki kesempatan mengunjungi Ulaanbaatar, ibu kota Mongolia,  guna mengikuti satu sidang internasional, saya mencoba  mengoptimalisasi kunjungan dengan mencoba mencermati geliat kehidupan lokal. Dan ternyata, Mongolia memberikan banyak kejutan. Jadi, boleh lah kalau kunjungan ke Mongolia beberapa waktu lalu saya beri judul, “Shocking Mongolia”.

Karena banyak shock yang saya alami, tulisan saya bagi ke dalam dua bagian.  Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan tentang Mongolia yang bikin shock.

Shocking pertama. Suhu yang ekstrim di musim dingin. Saat musim dingin tiba, udara di Mongolia bukan main-main. Kalau tidak suka dingin, sebaiknya jangan pergi ke sana sekitar bulan November sampai dengan Februari. Suhu udara bisa mencapai minus 25 derajat Celsius. Di daerah pegunungan, katanya,  bisa mencapai minus 45 hingga 50 derajat Celcius. Tapi kalau suka tantangan, musim dingin di Mongolia adalah musim yang “greget” dan layak dicoba.

Saya tiba di Ulaanbaatar saat malam hari. Udara membekap dan sekujur tubuh terasa beku. Esoknya, saya jalan keluar ditemani rekan Mongolia. Tentu dengan pakaian lengkap, berlapis-lapis, topi, tutup kuping, dan tentu sarung tangan. Sambil menahan dingin saya mencoba menembus udara siang itu. Meski pakaian sudah berlapis-lapis, udara minus tak ada ampun. Secara pasti ia mulai menusuk lapisan demi lapisan pakaian di tubuh saya, terutama di kepala dan ujung-ujung kaki tangan.

Tapi, saya liat banyak orang Mongolia yang jalan dengan santai saja. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak pakai tutup kepala dan sarung tangan. Santai sekali keliatannya. Saya tanya pada teman Mongol,  “Kenapa mereka tidak pakai topi dan sarung tangan, kan dingin begini”.

Jawabnya, “Oooh, hari ini hangat soalnya pak” …

“Hah, kayak gini hangat”, saya tanya lagi, “Memang ini berapa derajat?”.

Dengan santai kawan saya menjawab, “Ini cuma minus 12 derajat Celcius pak”. ….

Sayapun terpana sambil menggigil gaya anak alay, “ Haaah .. Ciyuuusss? minus 12? Miaaaapaaa!! …. #$%&’%”

Oh ya, saking dinginnya udara di Mongolia ini, benda elektronik yang paling tidak laku di sana adalah kulkas. Ya iya laaah, ngapain juga pakai kulkas kalau semua barang sudah beku dengan sendirinya di luar hehehe….

Shocking kedua. Negeri tanpa Starbucks. Di tengah derasnya arus globalisasi saat ini, sulit membayangkan suatu negara tanpa Starbucks. Ya, di Ulaanbaatar saya tidak menemukan McDonalds, Starbucks, Pizza Hut, maupun KFC, yang umumnya menjadi simbol kapitalisme. Meski demikian, banyak terdapat merek-merek asing seperti Louis Vuitton dari Perancis, ataupun minuman ringan seperti Pepsi.

Iklan Pepsi di Ulaanbaatar, Mongolia / photo junanto

Ketiadaan makanan cepat saji internasional, dan masih jarangnya terlihat merek asing terlihat menjadikan suasana kota Ulaanbaatar seperti kota tua dan tidak bersolek. Banyak sekali bangunan bekas Uni Soviet yang tidak terurus dan terlihat kusam.  Namun hal itu menjadikan sebuah keunikan tersendiri dari kota Ulaanbaatar karena saya melihat sebuah kota yang masih terkesan “perawan” atau “raw” tanpa banyak cemaran kapitalisme.

Menurut kawan Mongolia, hanya masalah waktu saja berbagai franchise restaurant internasional seperti McD atau KFC akan masuk Mongolia. Saat ini Mongolia memang semakin membuka diri dengan dunia internasional, termasuk mengundang berbagai perusahaan asing masuk . Ia menyayangkan juga apabila nanti berbagai restoran itu masuk dan mengubah gaya hidup orang Mongolia. Saat ini, mereka sudah punya restoran pizza, hamburger, ataupun kopi, dengan merek dan kreativitas mereka sendiri. Saya sempat mampir mencicipi burger di restoran yang bernama Mr. Pizza. Rasanya tak kalah seru dibanding dengan burger McD.

Yah, mungkin tak lama lagi Mongolia akan memiliki berbagai restoran internasional. Tapi saya beruntung bisa melihat kondisi negeri itu seperti saat ini, tanpa kehadiran banyak simbol kapitalisme tadi.

Shocking ketiga. Kebebasan informasi dan internet. Saya berpikir akan sulit menemukan jaringan WiFi dan internet di Mongolia. Saya sudah “prepare for the worst” hanya bisa berhubungan dengan dunia luar melalui sms, atau email saja.

Namun sejak 20 tahun terakhir Mongolia menganut ekonomi pasar dan membuka diri pada investasi asing, termasuk membangun jaringan tekhnologi informasi. Oleh karenanya, saya justru menemukan kemudahan untuk mendapatkan koneksi internet di Ulaanbaatar.  Saat masuk hotel, dengan mudah saya menemukan free WiFi. Bukan hanya di hotel, di berbagai restoran dan mall, Ulaanbaatar menyediakan Free WiFi. Akses internetnya juga bagus dan relatif cepat.

Tapi yang menarik, kita bisa mengakses “segalanya” di sana. Mulai dari Facebook, twitter, Google, Gmail, dan berbagai social media, bebas diakses. Hal tersebut berbeda dengan Cina, yang notabene memiliki ratusan cabang McD dan Starbucks, tapi internet sangat dikontrol oleh pemerintahnya. Di Cina, jangan harap bisa membuka Facebook atau Twitter. Bahkan membuka gmail saja, prosesnya bisa berjam-jam, untuk mengatakan hampir tidak bisa. Tentu mereka punya kebijakan sendiri-sendiri dalam menentukan arus informasi. Tapi, perbedaan itu cukup menarik dicermati.

Saya bertanya pada Okkta, kawan wanita Mongolia yang masih kuliah di salah satu universitas di Ulaanbaatar. Mana yang lebih diinginkan, Starbucks atau Internet? Jawabnya, “Wow, jelas saja internet”. Kata Okkta lagi, “We have many coffee shop here in Ulaanbaatar. No need starbucks. But internet? I can’t live without”, ujarnya. Ya, mereka, para anak muda Mongolia, sangat menikmati kebebasan informasi dan ekspresi. Umumnya mereka memiliki facebook, twitter, blog, ataupun instagram.

Mongolia memang menarik dan membuat “Shocking”.

…. Bersambung …

Mistik Boneka Jepang dan Sidang IMF

Boneka Mistik Okiagari Koboshi / photo junanto

Saat sidang tahunan IMF/WB di Tokyo pekan lalu, pemerintah Jepang membagikan tiga boneka kayu “okiagari-koboshi” sebagai paket selamat datang pada setiap peserta. Saya meletakkan ketiga boneka itu di atas meja sidang. Saya dorong boneka kayu itu ke belakang, dan ia kembali lagi ke posisinya semula. Bounce back doll. Semakin didorong ke belakang, semakin boneka itu kembali ke posisi semula.

Okiagari koboshi adalah satu jenis boneka di Jepang yang berasal dari daerah Aizu, Fukushima. Boneka ini telah dibuat lebih dari 400 tahun lalu dan dikenal sebagai simbol semangat yang tak pernah padam, karena sifatnya yang selalu bangkit kembali.

Bencana alam gempa bumi, tsunami, dan krisis nuklir pada tahun 2011 lalu telah menghancurkan Fukushima dan Jepang pada umumnya. Tapi semangat dari orang Jepang tak pernah padam, mereka berupaya bangkit kembali seperti boneka okiagari koboshi.

Dalam pembukaan sidang, Managing Director IMF Christine Lagarde menyampaikan pandangan yang suram tentang ekonomi global. Saya melihat sedikit optimisme dari pidato yang disampaikan. Wajar, karena rebound atau kebangkitan kembali perekonomian global masih terlihat jauh di depan dengan kemungkinan yang sangat kecil untuk terjadi di waktu dekat ini.

Kesuraman sudah dimulai sehari sebelum sidang. Olivier Blanchard, ekonom IMF, mengatakan bahwa ekonomi dunia sedang dalam proses pelemahan. Pertumbuhan negara-negara maju terus turun. Dan masalahnya, bukan hanya negara maju yang melemah, negara emerging juga mulai ikut melemah. India, Brazil, Cina, telah memotong proyeksi ekonomi mereka ke depan.

Meski kita melihat kebijakan yang ditempuh pemerintah masing-masing negara cukup mendukung, seperti melakukan pelonggaran moneter dan pengurangan defisit secara perlahan, negara maju tetap mengidap penyakit anemik. Kekurangan darah ekonomi untuk mendorong pertumbuhan dan membuka lapangan kerja.

Saat kita berbicara kebijakan fiskal, konsolidasi fiskal ataupun fiscal austerity, permasalahan menjadi semakin serius di negara-negara maju. Kebijakan konsolidasi fiskal justru akan menekan pertumbuhan di jangka pendek, menambah pengangguran, dan meningkatkan kesenjangan. Bagai buah simalakama.

Tak salah, apabila sidang IMF/WB di Tokyo pekan lalu dirundung suasana lesu. Hampir di setiap persidangan, isu ekonomi global seperti berputar-putar dalam sebuah lingkar yang itu-itu saja. Para ekonom, pengambil kebijakan, mencari jalan dan memberi usulan pada kebijakan yang bersifat “lebih fair, lebih cerdas, dan dilakukan secara perlahan”. Para otoritas dari negara berkembang ada yang bersifat skeptis dan cenderung memandang krisis ini adalah masalah Eropa dan AS, sehingga menuntut mereka menyelesaikan masalah itu.

Dalam kondisi perekonomian global yang serba terjalin ini, krisis tak bisa dipilah-pilah lagi. Cepat atau lambat, krisis akan menjalar ke seluruh negara di dunia apabila tidak ditemukan penyelesaiannya.

Indonesia mulai merasakan akibat dari krisis global di penghujung tahun ini. Meski secara domestik, ekonomi Indonesia kuat dan memiliki ketahanan, tekanan eksternal tetap memberikan dampak. Kita melihat tekanan pada nilai tukar, neraca pembayaran, mulai muncul. Oleh karenanya, selain melakukan upaya domestik, langkah di bidang multilateral perlu ditempuh agar terjalin koordinasi kebijakan antar negara.

Dan di tengah berbagai kelesuan itu, pandangan saya kembali pada tiga boneka okiagari-koboshi. Boneka tersebut menganut azas “simple, tough, and sustainable”, atau sederhana, tabah, dan berkelanjutan. Kiranya demikian pula upaya kita mengatasi krisis, ataupun mencegah krisis terulang lagi ke depan. Kita memerlukan kebijakan yang sederhana, tabah, dan berkelanjutan. Bukan yg rumit, emosional, dan dilakukan sekedar demi kepentingan politis.

Salam semangat.

Ngopi Bareng Einstein di Tokyo


Hello Bertie ... Marunouchi Bench Art 2012

Ingin minum kopi sebangku dengan selebriti Jepang, atau mau duduk sebangku dengan Albert Einstein?  Silakan datang ke wilayah Marunouchi, Tokyo. Di sana ada sederetan figur tokoh, seperti pegolf Ryo Sakamoto, pemain baseball Hideki Matsui, hingga samurai Ryoma Sakamoto. Tentu saja mereka bukan tokoh nyata, melainkan hadir  dalam bentuk patung ukuran hidup. Berbagai patung tersebut diletakkan di sepanjang bangku jalan Marunouchi Naka-Dori. Mereka ditampilkan sebagai bagian dalam proyek instalasi yang dinamakan “Bench Art in Marunouchi 2012”.

Seni instalasi tersebut menandai peringatan 10 tahun direvitalisasinya daerah sekitar Marunouchi dan Stasiun Tokyo. Di sepanjang jalan Marunouchi naka-dori kita bisa melihat sebanyak 20 patung yang diletakkan di sekitar kursi umum.

Kebetulan wilayah Marunouchi ini berada di sekitar tempat saya bekerja. Jadi kalau makan siang, atau sore hari, saya berjalan di sepanjang jalan ini menikmati aneka seni instalasi yang menarik tersebut. Kalau saya perhatikan, selebriti atau tokoh yang dipilih untuk dipasang sepanjang jalan ini adalah mereka yang dekat dalam kehidupan sehari-hari orang Jepang. Beberapa orang Jepang yang lewat saya perhatikan tak asing lagi dengan figur patung-patung tersebut, sementara saya masih perlu sekali dua kali melihat keterangan namanya.

Goro Yamada, yang menjadi kurator proyek instalasi ini, memang mengatakan bahwa nama-nama yang ditampilkan mewakili berbagai bidang kehidupan. Para fans sejarah Jepang akan senang kalau melihat profil Shogun Ieyasu Tokugawa, shogun yang mendirikan dinasti Tokugawa. Ada juga patung Takamori Saigo, pahlawan di jaman restorasi Meiji, yang menggulingkan Dinasti Shogun Tokugawa. Saigo juga terkenal sebagai “the last true samurai”. 

Patung Kingo Tetsuno, arsitek Stasiun Tokyo / photo junanto

Bagi para pecinta anime dan film Jepang, ada patung Kamen Rider duduk dengan gagah di depan gedung Shin Tokyo. Juga ada patung Barbie Jepang, Rika-chan, yang diproduksi oleh TOMY dan berusia lebih dari 40 tahun sejak kelahirannya. Patung Mana Ashida, artis cilik Jepang, adalah yang paling menjadi perhatian anak-anak yang kebetulan lewat daerah Marunouchi. Beberapa kali saya lewat sana, ada saja anak kecil yang bermain-main dengan patung itu.

Ashida-chan, patungnya digemari anak2 Jepang / photo junanto

Bagi pecinta olah raga, ada patung petenis meja kebanggaan Jepang, Ai Fukuhara.  Masyarakat Jepang memanggilnya dengan sebutan “Ai-chan”.  Ia mulai bermain tenis meja sejak usia tiga tahun, dan terakhir mampu meraih medali perak di Olimpiade London 2012. Beberapa figur olah raga lain, seperti golfer Ryo Ishikawa, pemain baseball Hideki Matsui, dan pesumo Hakuho juga bisa kita temui di sana.

Hal menarik dari aneka patung yang ditampilkan dalam Bench Art tersebut, adalah terdapatnya dua patung  arsitek, yaitu Josiah Conder, yang merancang gedung museum Mitsubushi Ichigokan, dan Kingo Tatsuno, arsitek yang menjadi  mastermind di balik bangunan klasik Stasiun Tokyo.

Dari berbagai patung yang ada, satu patung yang tampil warna warni adalah patung dari pegulat Jepang, Giant Baba. Patung ini juga berbeda dengan yang lain. Tujuannya adalah ingin menunjukkan warna warni dan ukuran tinggi dari Giant Baba sebenarnya, yang mencapai 209 cm.

Giant Baba, pegulat profesional Jepang / photo junanto

Seni instalasi “Bench Art” di Marunouchi ini berakhir tanggal 14 Oktober 2012. Kalau anda sedang di Tokyo, punya waktu luang, tak ada salahnya untuk menghabiskan senja di sepanjang jalan Marunouchi-dori. Tinggal pilih salah satu figur kesayangan anda, bawa segelas kopi, dan duduklah di sebelahnya.

Sambil menikmati udara musim gugur yang sejuk, minum kopi di Marunouchi itu sesuatu banget loh. Salam.

Tak Ada “Sweeping” Saat Ibadah di Tokyo

Masyarakat Indonesia usai Sholat Ied di Perumahan Warga Jepang, Tokyo / photo junanto

Andai ada gerakan sweeping umat beragama lain di kota Tokyo, atau misal ada semacam “Front Pembela Shinto”, mungkin lebaran kami kemarin tak bisa berjalan dengan tenang dan damai.

Malam hari, sebelum Idul Fitri di Jepang (19/8), saya datang ke Balai Indonesia atau Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) di wilayah Meguro. Di bangunan SRIT itu, umat Islam Indonesia secara rutin melakukan berbagai kegiatan ibadah. Bahkan kalau hari Jum’at, saya melakukan sholat Jum’at di sana.

Pada bulan Ramadhan, kegiatan umat Islam Indonesia di Jepang juga dipusatkan di SRIT. Bukan hanya tarawih, tapi juga kegiatan seperti pesantren, keputrian, bazaar, dan juga ikhtikaf (menginap), pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Namun ada satu hal menarik dari kegiatan keagamaan di SRIT tersebut. Sekolah ini terletak di kawasan perumahan yang tenang, di wilayah Meguro, Tokyo. Di kiri kanannya terletak rumah-rumah masyarakat. Umumnya mereka adalah orang Jepang yang mendambakan kehidupan sepi dan tenang.

Untuk menjaga ketenangan itulah, kami dilarang menggunakan pengeras suara dalam beribadah. Jadi, jangan harap bisa mendengar suara adzan yang pekik, atau suara tilawah dan pengajian ibu-ibu yang keras, seperti di Indonesia. Pengeras suara boleh digunakan, sepanjang suaranya hanya di dalam ruangan.

Tapi ya namanya ibadah, apalagi kalau bulan Ramadhan tiba, pastinya ramai dan menarik perhatian. Sesekali kami membuat keramaian. Beberapa kali di halaman SRIT dibuat bazaar yang ramai dan dipadati umat. Kalau Sholat Jum’at, deretan mobil dan masyarakat Indonesia juga memenuhi halaman SRIT, kadang menimbulkan keramaian.

Puncaknya, ya apalagi kalau bukan saat Sholat Ied. Kemarin (20/8) , sekitar 3500 orang, yang sebagian besarnya adalah masyarakat Indonesia, datang ke SRIT. Usai sholat, mereka membludak, luber ke depan rumah-rumah orang Jepang di sekitar kompleks. Beberapa bahkan ada yang nongkrong di depan pagar rumah.

Ada satu ibu dan anaknya sampai tidak bisa menjalankan mobilnya, karena ramainya masyarakat Indonesia memenuhi jalan saat bubaran sholat. Tampak di  satu dua rumah ada yang  mengintip dari jendela, melihat keramaian apa yang terjadi. Maklum hari itu adalah Minggu pagi, saatnya mereka beristirahat.

Mobil Warga Jepang Terjebak Keramaian usai Ied / photo junanto

Ibu ini sedang bertanya2 apa yang terjadi / photo junanto

Sesekali kami menerima protes dari tetangga. Protes biasanya diajukan melalui surat langsung ke Kepala Sekolah SRIT ataupun ke kepolisian setempat. Mereka umumnya terganggu dengan keramaian yang muncul dari ibadah umat Islam. Tapi tidak ada tekanan apa-apa, selain hanya meminta kita untuk tidak berisik dan menjaga ketertiban.

Kecurigaan pada Islam tentu ada. Secara rutin, kepolisian Tokyo melakukan patroli dan pengawasan melekat terhadap ibadah umat Islam di SRIT, dan juga di seluruh Masjid di Jepang. Persepsi dan paradigma tentang Islam yang radikal, tentu menjadi salah satu alasan dilakukannya pengawasan itu.

Namun permasalahan yang kami hadapi hanya sebatas itu saja. Tegoran formal dari tetangga, dan pengawasan dari polisi setempat. Selebihnya, kami bebas melakukan ibadah tanpa tekanan. Mau jumatan, tarawihan, pengajian, hingga sholat Ied, bisa kami lakukan tanpa adanya unsur ketakutan dan tekanan.

Polisi yang mengawasi kami bahkan sangat ramah. Namanya Inspektur Yamaguchi. Ia fasih mengucapkan “Assalamu’alaikum” dan “Alhamdulillah”. Ia memonitor setiap kegiatan keagamaan di SRIT. Tapi yang menarik, ia tidak rewel minta amplop atau kopi kalau sedang menjaga ibadah kami. Meski sepanjang waktu ia bertugas sambil berdiri, tak pernah ia minta macam-macam pada kami.

Ibadah di SRIT dan kota Tokyo pada umumnya cukup tenang. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Padahal, kalau mereka mau, masyarakat Jepang yang terganggu itu bisa saja memprotes kami dengan kekerasan. Andai saja mereka mendirikan “Front Pembela Shinto”, yang radikal, tentu gedung sekolah kami sudah digrebek, bahkan dibakar. Mereka juga bisa saja menganiaya kami saat melakukan ibadah. Toh ini negara mereka, dan ingat, mereka mayoritas loh.

Mereka juga bisa saja berdalih macam-macam, mulai dari kegiatan agama kami yang meresahkan dan mengganggu ketenangan lingkungan, hingga kecurigaan peruntukan gedung SRIT yang menyalahi fungsi. “Sekolah kok dibuat tempat ibadah, jadi boleh saja dibakar”, mungkin begitu pikiran ekstrimnya.

Tapi, sepanjang saya tinggal di Jepang dan beribadah di sini, tidak pernah ada hal seperti itu terjadi. Beberapa tetangga yang orang Jepang bahkan mengucapkan “omedetou”, atau selamat, kepada kami, saat Hari Raya Idul Fitri kemarin.

Di satu sisi, sentimen terhadap orang asing di Jepang masih tinggi. Beberapa gerakan ultra nasionalis bahkan mengecam banyaknya orang asing di Jepang. Namun di sisi lain, gerakan itu tidak sampai menjurus pada religionisme dan anarkisme.

Dari kejadian di Jepang itu, saya termenung. Kemampuan untuk menghormati ibadah orang lain yang berbeda dari kita bisa jadi cerminan dari matangnya suatu bangsa. Aaaah ….. untung saja tidak ada gerakan sweeping dan aksi penggrebekan umat yang berlainan agama di Tokyo ini.

Semoga bangsa kita juga bisa melakukan refleksi, dan mampu saling menghormati sesama umat beragama yang sedang melakukan ibadah.

Salam Damai.

Saya bersama Inspektur Yamaguchi, polisi Jepang yang Memonitor Kegiatan Keagamaan di SRIT

Bobotoh Persib Lebaran di Jepang

Baraya Viking di Jepang / photo junanto

Persaudaraan pecinta klub sepakbola atau Football Supporter Brotherhood memang tak mengenal jarak. Ia bagai sebuah ikatan “keimanan”. Meski jauh di rantau sekalipun, persaudaraan tetap bisa terjalin erat. Di Jepang, para pendukung Persib Bandung punya satu komunitas yang dinamakan “Baraya Viking Japan”.

Para anggota komunitas Baraya Viking Japan tadi siang saya lihat berbondong-bondong datang ke Wisma Duta KBRI Tokyo untuk menghadiri acara Open House Hari Raya Idul Fitri 1433H. Bobotoh Persib itu beramai ramai bersalaman dengan Duta Besar RI untuk Jepang, Muhammad Lutfi, untuk kemudian bebaru dengan sekitar tiga ribu masyarakat Indonesia yang hadir di Wisma Duta.

Anggota “Baraya Viking” datang dengan kaos seragam biru, dan di lengannya berlogo bendera Jepang-Indonesia. Menurut salah satu anggotanya, Baraya Viking pada prinsipnya adalah klub silaturahmi. Bukan untuk sok-sok-an atau membuat kerusuhan. Ya, Baraya Viking Japan memang sebuah kelompok yang justru cinta damai dan banyak melakukan aksi sosial di Jepang.

Umumnya, anggota mereka terdiri dari para pekerja Indonesia atau kenshusei yang berasal dari Jawa Barat, atau dari mana saja, sepanjang menjadi simpatisan Persib Bandung. Secara rutin, Baraya Viking Japan juga melakukan banyak kegiatan bersama, seperti pengajian, siraman rohani, hingga konser musik.

Baraya Viking Japan hanyalah salah satu dari sekian kelompok masyarakat Indonesia di Jepang yang tadi siang hadir di acara Open House Idul Fitri 1433H di kediaman Dubes RI untuk Jepang.

Selain Baraya Viking, masyarakat Indonesia yang hadir di acara Open House terdiri dari aneka ragam elemen, baik itu pekerja, perawat, mahasiswa, pegawai BUMN yang ada di Jepang, maupun masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang.

Hari Idul Fitri yang jatuh bertepatan dengan hari libur, menjadikan jumlah masyarakat Indonesia yang hadir meningkat tiga kali lipat lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Mereka bahkan datang dari berbagai daerah di luar kota Tokyo, seperti Gunma, Tohoku, Yokohama, dan Saitama.

Untuk mengantisipasi banyaknya pengunjung, pihak KBRI Tokyo menyediakan aneka makanan Indonesia dalam jumlah yang lebih banyak dibanding biasa. Menu tersebut disiapkan pula oleh berbagai restoran Indonesia di Tokyo.

Merayakan Hari Idul Fitri di Luar Negeri memang unik.  Berada jauh dari sanak saudara dan handai taulan, menjadikan hari raya di luar negeri kerap terasa sepi. Kadang muncul kerinduan pada suasana hari raya di tanah air.

Baraya Viking, ataupun kelompok lain dari masyarakat Indonesia, berkumpul bersama di Wisma Duta guna mengobati rasa sepi dan kerinduan pada tanah air tersebut.

Selain dapat bersilaturahmi, menghadiri Open House di Wisma Duta KBRI Tokyo tersebut mampu membangkitkan rasa  kebersamaan, keakraban, kehangatan, dan persaudaraan sebagai bangsa Indonesia.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Cinta Yamashita-san Pada Indonesia

Yamashita-san di acara Upacara HUT RI 2012 / photo junanto

Namanya Yamashita-san. Orang Jepang asli. Usianya sudah 92 tahun. Jalannya mulai payah dan bicaranya sedikit terbata-bata. Tapi kecintaannya pada Indonesia, jangan ditanya.  Meski panas menyengat di kota Tokyo, Yamashita-san tetap datang ke Wisma KBRI Tokyo untuk mengikuti upacara peringatan HUT-RI ke-67.

“Tujuh puluh tahun lalu, saya bertugas di Surabaya”, cerita Yamashita-san pada saya, sambil menunjukkan foto masa mudanya di Surabaya.  Saat itu usianya masih 22 tahun. Ia ikut dalam rombongan orang Jepang ke Indonesia. Tapi ia tidak bertugas di militer. Banyak juga orang Jepang yang datang ke Indonesia pada masa itu, bertugas sebagai tekhnisi, guru, ataupun pekerja biasa.

Yamashita-san sungguh menyesalkan terjadinya Perang Dunia ke-II yang menyimpan kisah suram antara Indonesia dan Jepang. Padahal hubungan Jepang-Indonesia tidak melulu soal perang. Banyak kisah sosial, budaya, perdagangan, dan pendidikan di antara kedua negara, yang tertutup oleh kekejaman perang.

Kecintaan Yamashita-san pada Indonesia menjadikannya terus menerus aktif dalam kegiatan di Asosiasi Persahabatan Jepang Indonesia (Japindo).  Asosiasi ini aktif di berbagai kegiatan sosial antara kedua negara.

Hari ini, Yamashita-san, datang bersama rekan-rekannya yang juga aktif di Japindo, yaitu Kato-san (82 tahun) dan Imazawa-san (98 tahun). Mereka berdua juga pernah tinggal di Indonesia pada tahun 1940-an. Imazawa-san di Papua dan Maluku, sementara Kato-san mengatakan bahwa ia berada di Indonesia saat kelas 3 SMP untuk mengikuti kedua orang tuanya.

Rasa cinta ketiga orang tua Jepang tersebut pada Indonesia juga ditunjukkan dengan semangat mereka untuk menghadiri upacara HUT RI ke-67. Padahal, udara di kota Tokyo pada musim panas sangat menyengat. Suhu berkisar antara 31 hingga 34 derajat Celcius, namun lebih pengap dari Jakarta. Pemerintah Jepang bahkan sudah memperingatkan orang-orang tua untuk tetap berdiam di dalam rumah guna menghindari hal yang tidak diinginkan, seperti serangan “heat-stroke”, atau “netsucho” dalam bahasa Jepang.

Namun Yamashita-san tak mau diam di rumah. Baginya, upacara 17 Agustus adalah sebuah tempat baginya untuk menunjukkan kecintaannya pada Indonesia.  Iapun hadir di tengah upacara.

Upacara di Wisma KBRI Tokyo dimulai pada pukul 8.00 pagi, dipimpin langsung oleh Inspektur Upacara, Dubes RI untuk Jepang, Muhammad Lutfi.

Saat upacara berlangsung, matahari terik menyengat. Yamashita-san saya lihat berdiri saat bendera merah putih dikibarkan. Namun tak lama, ia duduk terkulai. Yamashita-san tak sadarkan diri. Kato-san dan Imazawa-san berusaha menolong dan memberikannya minuman. Tapi Yamashita-san tak bereaksi.

Petugas upacara kemudian mendatangi dan memapah Yamashita-san yang terlihat lemah. Tim dokter membantunya memberi alat bantu oksigen dan minum. Alhamdulillah, berkat juga kesigapan tim dokter, Yamashita-san akhirnya sadar. Ia bisa berbicara kembali. Kita semua lega.

Melihat semangat Yamashita-san untuk datang upacara, sebagai orang Indonesia saya jadi malu. Banyak dari kita, terutama anak-anak muda, yang terlihat enggan melakukan upacara bendara. Apalagi cuaca saat ini panas dan sedang berpuasa. Tak sedikit saya lihat di status bbm atau twitter yang mengatakan dirinya malas upacara, pegel, panas, dan berjuta alasan lainnya, sampai tidak melihat esensi upacara.

Tapi dari apa yang terjadi pada Yamashita-san hari ini, saya belajar makna cinta tanah air. Di tengah musim panas yang menyengat, Yamashita-san rela mengambil risiko terkena serangan heat stroke demi menunjukkan cintanya pada negeri Indonesia. Kalau orang Jepang saja begitu besarnya cinta pada negeri kita, selayaknyalah kalau cinta kita harus lebih besar. Dan cinta, tak cukup di kata, ia harus ditunjukkan dalam perbuatan.

Selamat Hari Ulang Tahun Indonesia ke-67. Dirgahayu !

Ritual Siram Air di Jepang

Tradisi Uchimizu di Jepang

Saya berpikir bahwa lahir dan besar di Jakarta bisa membuat saya santai menghadapi musim panas di kota Tokyo. Tapi kenyataannya tidak demikian. Musim panas di Tokyo terasa lebih pengap dan sesak. Panas, tapi tidak ada angin sehingga kita terasa berada dalam ruang sauna raksasa. Suhu bisa mencapai 37 hingga 39 derajat Celcius di siang hari.

Tantangan semakin berat karena di musim panas ini saya dan umat Islam di Jepang sedang menjalankan ibadah puasa. Jadi kalau waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, berjalan di luar gedung adalah sebuah tantangan yang luar biasa.

Di sisi lain, Pemerintah Jepang telah mengeluarkan peringatan kepada seluruh masyarakat agar berhati-hati di musim panas ini. Kasus “heat stroke” atau serangan stroke akibat kepanasan banyak menimpa orang Jepang, khususnya orang tua dan anak-anak. Masyarakat dihimbau untuk berteduh di dalam ruangan dan tidak keluar bila panas menyengat.

Menyikapi musim panas itu, masyarakat Jepang punya ritual untuk meredakan udara yang panas. Salah satunya adalah dengan menyiram air ke jalanan, saat udara panas. Ritual itu dinamakan “Uchimizu”, yang berasal dari kata “Uchi” berarti melempar atau menyirami, dan “Mizu” yang berarti air.

Di wilayah saya berkantor, daerah Marunouchi Tokyo, pekan lalu dilaksanakan ritual uchimizu tersebut. Acara itu dinamakan “Tokyo Uchimizu Project 2012” yang disponsori oleh Menteri Lingkungan Hidup Jepang dan organisasi kemasyarakatan lain, serta perkantoran di wilayah Marunouchi.

Bersama Gadis-gadis Jepang Ber-yukata di Ritual Uchimizu

Baskom berisikan air untuk Uchimizu / photo junanto

Saya kebetulan ikut hadir di acara yang dilakukan di Jalan Gyoko, persis di depan Stasiun Kereta Tokyo. Jalan ini menghubungkan Stasiun Kereta Tokyo dengan Istana Imperial, tempat Kaisar Akihito dan Putri Michiko tinggal.

Saya bersama pengunjung, rata-rata wanita muda Jepang, mengenakan yukata atau baju tradisional mirip kimono yg dikenakan di musim panas. Kita yg hadir dibagikan baskom kayu dan gayung kecil, lalu bersama-sama menyiram air ke jalanan.

Hal yang bikin seru, ada juga yang menyiram air menggunakan sprinkler pemadam kebakaran (fire hydrant). Mungkin mereka berharap dengan disiramnya air dari fire hydrant tersebut, panas di kota Tokyo dapat cepat reda.

Acara dimulai, dan air disiram ke jalanan Gyoko. Semoga musim panas kali ini berlangsung baik-baik saja, dan kita semua dilindungi Yang Maha Kuasa, khususnya yang berpuasa.

Ritual Uchimizu yang Meriah

Bayi-pun ikut upacara siram air / photo junanto

Dan kodok pun ikut disiram di Uchimizu / photo junanto