Wisata Horor di Makam Peneleh

Berpose di Prasasti Nisan Gubernur Jenderal Belanda Mr. Pieter Markus yang wafat tahun 1844

Berpose di Prasasti Makam Gubernur Jenderal Belanda Mr. Pieter Markus yang wafat tahun 1844

Setiap kali berjalan melewati makam Belanda di Peneleh Surabaya, saya selalu merinding. Bulu kuduk ini rasanya berdiri. Hiiiiii , melihat batu-batu nisan yang besar, patung malaikat, dan tulisan berbahasa Belanda, memang membuat suasana semakin menyeramkan. Saya jadi ingat berbagai adegan di film-film horor. Takutnya, kalau pas jalan di situ, ada Drakula yang muncul dan menghisap darah kita … Aaaaack !

Tapi tidak demikian menurut kawan saya Mas Dandot, dan Mas Ipung yang juga penulis buku Surabaya Punya Cerita. Menurut Ipung, ia dan kawan-kawannya sering main ke makam Peneleh dan pulangnya tetap baik-baik saja. Gak kesurupan, ataupun di-”gelendoti” dedemit. Oleh karena itu, di suatu siang, ia mengajak saya untuk melihat makam Penelah dan membagi cerita tentangnya. Ya, beraninya siang dong hehe.

Memasuki Makam Peneleh memang seolah membawa kita ke suasana horor di Abad 18. Suasana makam yang bergaya gothic dan abad pertengahan itu, menjadikan aura makam peneleh berbeda dari makam umumnya di Indonesia. Saya membayangkan suasana muram di tempat ini saat dua ratus tahun lampau. Bayangan kereta kuda, suasana mendung, para kerabat berbaju hitam, membawa payung, mengantar jenazah orang-orang Belanda.

Di Peneleh ini, dimakamkan banyak tokoh Belanda, seperti Moeder Louise, Suster Kepala Ursulin, yang merupakan pendiri cikal bakal SMA Santa Maria di Surabaya. Selain itu, Gubernur Jenderal Pieter Markus, salah satu pejabat tertinggi Hindia Belanda yang meninggal pada saat menjabat, juga dimakamkan di sini. Ia adalah satu-satunya Gubernur Jenderal Belanda yang dimakamkan di Surabaya.

Menurut Ipung, Makam Peneleh adalah makam Belanda modern tertua di Indonesia. Ya, De Begraafplaats Peneleh atau Makam Peneleh dibangun sejak hampir dua abad lalu, atau tepatnya di tahun 1814. Makam ini lebih tua dari makam Belanda Kebon Jahe Kober di Jakarta. Selain itu, makam ini juga tercatat sebagai salah satu pemakaman modern tertua di dunia, bahkan lebih tua dari Fort Cannin Park Singapura (1926), Mount Auburn Cemeterydi Cambridge(1831), dan Arlington National Cemetery (1864).

Sayangnya, suasana makam ini kurang terawat. Saat saya memasuki kawasan makam Peneleh, banyak batu nisan yang sudah rusak, dibongkar, dan makam-makam yang gowong, atau bolong-bolong. Hiiiii, malah jadi nambah seram. Saya membayangkan ada tangan keluar dari bawah tanah gowong itu…

Saya diajak Ipung menuju satu bangunan yang konon paling angker di daerah itu. Kata mas penunggunya, banyak cerita aneh terjadi di sini. Bangunan itu dinamakan Omah Balung, atau Rumah Tengkorak, The House of Skeleton. Ga tau juga kenapa dinamakan seperti itu. Banyak riwayat, seperti misalnya dulu semua jenazah ditumpuk di situ, atau saat terjadi wabah penyakit banyak jenazah dikumpulkan, saya tidak mendapatkan penjelasan secara spesifik. Tapi yang jelas, aura angker memang terasa di depan Omah Balung ini. Bangunan ini hanya terdiri dari satu ruangan, di dalamnya ada semacam sumur, yang tentu menambah suasana mistik. Wah, saya tidak mau berlama-lama di sana. Segera saya beranjak ke makam yang lain.

Bersama Mas Dandot dan Mas Ipung, di depan Omah Balung, satu bangunan yang kata orang paling angker di makam Peneleh

Bersama Mas Dandot dan Mas Ipung, di depan Omah Balung, satu bangunan yang kata orang paling angker di makam Peneleh

Kalau cerita soal penampakan, mistik, dan lain-lain, banyak terjadi di makam tua ini. Tapi ya namanya juga kan makam, jadi wajar kalau sampai ada cerita seperti itu. Saya datang bukan untuk ikut uji nyali, melainkan melihat keanggunan sisa-sisa makam Belanda. Satu bangunan nisan yang saya juga kagumi adalah monumen pada pusara Pastor Martinus van den Elzen. Monumen ini dibuat oleh Kuyper, dari batu Maastricht kelabu dalam gaya gothic yang kental.

Dalam tatahan relungnya digambarkan kebangkitan Kristus. Ada nama almarhum, tanggal lahir dan wafat. Kata-katanya juga masih terbaca jelas, “Zalig zijn de dooden die in de heer sterven, want hunne werken volgen hen“, yang artinya “Bahagialah mereka yang meninggal dalam Tuhan, sebab amal mereka menyertainya“.

Monumen di Pusara Pastor Martinus van den Elzen

Monumen di Pusara Pastor Martinus van den Elzen

Saya juga berlama-lama menatap prasasti pada makam Gubernur Jenderal Pieter Markus, sambil membayangkan betapa berkuasanya ia dulu di Hindia Belanda. Tulisan prasastinya dalam bahasa Belanda, tapi menurut Pak Dukut (penulis buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe), artinya:

Paduka Yang Mulia Mr. Pieter Markus, Komandeur dalam Jajaran Singa Belanda, Ksatria dalam Legiun Kehormatan Perancis, Gubernur Jenderal dari Hindia Belanda, Panglima Tertinggi dari Angkatan Darat dan Laut di sebelah Timur Tanjung Harapan, dan seterusnya … Wafat di Wisma Simpang, 2 Agustus 1844″. Wisma Simpang adalah Gedung Grahadi sekarang.

Wisata ke Makam Peneleh ini bisa jadi sebuah alternatif kalau mampir di Surabaya. Lokasinya yang strategis, di tengah kota Surabaya, di tepian Kali Mas, menjadikan Peneleh sebuah tempat yang sayang kalau dilewatkan.

Namun memang amat disayangkan kalau melihat potensi wisata yang kurang terawat. Makam Peneleh terkesan kurang terawat, saat jalan di dalamnya banyak kotoran kambing, serta banyak nisan yang hilang, serta makam yang gowong. Andai suasananya bisa dibuat rapi dan terawat, tentu Makam Peneleh bisa jadi satu ikon wisata yang terkenal hingga manca negara, seperti beberapa konsep makam heritage lain di seluruh dunia.

Niwaay, kata orang di makam ini banyak dedemit terbang berkeliaran. Saksi matanya banyak yang pernah melihat penampakan-penampakan di sini. Well, menutup kunjungan hari ini, saya juga memilih ikutan terbang di sini, biar suasananya kena hehehe… Salam.

Levitasi di Makam Tua

Levitasi di Makam Tua

Omah Balung Levitation, photo by Ahmad, edited by Dandot.

Omah Balung Levitation, photo by Ahmad, edited by Dandot.

 

 

Uniknya Thanksgiving di Banyuwangi

Joanne, kawan dari Konjen AS di Surabaya, menyajikan Kalkun Thanksgiving

Joanne, kawan dari Konjen AS di Surabaya, menyajikan Kalkun Thanksgiving

Akhir pekan ini, saya diundang oleh Konsul Jendral Amerika Serikat (AS) di Surabaya, Pak Joaquin Monserrate, untuk menghadiri perayaan Tradisi Thanksgiving (Hari Bersyukur) di Kota Banyuwangi. Untuk pertama kalinya Kedutaan Besar AS di Indonesia dan Konjen AS di Surabaya menyelenggarakan tradisi Thanksgiving di Kota Banyuwangi. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, menyediakan pendoponya khusus bagi acara Thanksgiving tersebut. Sementara di luar pendopo, ia mengadakan pesta rakyat. Ada pergelaran seni, musik, bazaar aneka produk, dan tentunya kuliner gratis bagi rakyat Banyuwangi. Malam itu, Kota Banyuwangi berpesta.

Tradisi Thanksgiving, yang setiap tahun jatuh pada pekan keempat bulan November, dilakukan oleh bangsa Amerika sebagai rasa bersyukur pada Tuhan, dan berkumpul bersama keluarga. Acara dihadiri langsung oleh Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert O. Blake. Selain itu, hadir juga Menteri Pariwisata Arief Yahya, Yenny Wahid, beberapa tokoh dan artis, serta perwakilan masyarakat AS di Indonesia.

Dubes Blake mengatakan bahwa dipilihnya Banyuwangi adalah karena “keajaiban” kota kecil itu. Ia mendengar banyak kisah tentang kepemimpinan yang hebat di daerah-daerah Indonesia. Tapi baru kali ini ia melihat dengan mata kepala sendiri, betapa kisah itu benar-benar nyata di lapangan. Sebelum acara makan malam Thanksgiving, Bupati Azwar Anas memang mengajak Dubes AS untuk melihat kotanya, bertemu rakyatnya, agar bisa melihat bagaimana pembangunan dilakukan di kota Banyuwangi.

Dalam rangkaian Thanskgiving, Kedubes AS juga mengadakan acara lain, seperti mengundang sekitar 25 Bupati yang dinilai progresif dari kawasan timur Indonesia, dan mempertemukan mereka dengan Rajawali Foundation. Para bupati tersebut akan diberikan kesempatan untuk maju dan belajar di beberapa universitas terkemuka di AS. Selain itu Dubes AS juga melakukan berbagai kegiatan sosial, seperti membersihkan sampah di pantai, menanam koral, hingga melakukan dialog dengan anak sekolah di Taman Sritanjung Banyuwangi.

Dubes AS Robert Blake dan Konjen AS di Surabaya Joaquin Monseratte, menyajikan kalkun bagi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas / photo junanto

Dubes AS Robert Blake dan Konjen AS di Surabaya Joaquin Monseratte, menyajikan kalkun bagi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas / photo junanto

Acara Thanksgiving di Pendopo Kota Banyuwangi menggambarkan sebuah akulturasi tradisi yang unik antara AS dan Indonesia. Di AS, Thanksgiving mirip dengan lebaran di Indonesia. Pada hari itu, masyarakat AS bersyukur akan nikmat yang diberikan Tuhan, mereka berkumpul bersama keluarga. Setiap Thanksgiving juga, masyarakat Amerika melakukan tradisi mudik. Orang AS yang bekerja di kota atau luar negeri umumnya pulang kampung di Hari Thanksgiving untuk berkumpul bersama keluarga.

Selain itu yang menarik, kalau saat lebaran di Indonesia ada Opor Ayam, maka saat Thanksgiving di Amerika, ada Kalkun Panggang. Di Amerika, setiap Thanksgiving, banyak kalkun yang dipotong untuk sajian. Namun Presiden Obama memiliki satu tradisi untuk “mengampuni” satu kalkun agar tidak dipotong tahun itu. Nah, malam tadi, Dubes Blake dan Bupati Banyuwangi, juga melakukan tradisi “mengampuni” satu kalkun. Seekor kalkun dibawa ke depan, dan secara resmi diampuni oleh Dubes, tidak ikut dipotong sebagai makan malam. Hadirin ikut tertawa dan bertepuk tangan menyaksikan tradisi tersebut.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, yang juga ikut hadir, menyatakan kekagumannya pada Bupati Azwar Anas. Kota Banyuwangi, yang sekitar 5-6 tahun lalu tidak dilirik orang, kini menjadi trending topic di mana-mana. Aneka festival digelar, penerbangan dibuka, infrastruktur diperbaiki, dan sanitasi dibangun. Itu yang seharusnya dilakukan oleh Pemerintah Kota. Ia menyebutkan bahwa dengan upaya yang dilakukan Bupati Anas, kunjungan wisatawan domestik ke Banyuwangi dalam tiga tahun terakhir ini, naik 500 persen.

Namun tentunya jumlah kunjungan masih belum signifikan, atau masih harus ditingkatkan lagi. Oleh karena itu, upaya terus membenahi infrastruktur menjadi sangat penting. Membangun kesiapan masyarakat untuk menerima banyaknya wisatawan juga penting.

Usai Thanksgiving, pada hari Sabtu (22/11), Bupati Anas mengundang seluruh tamu untuk menyaksikan Banyuwangi Ethnics Carnival (BEC). Pada prinsipnya ini adalah karnaval fashion. Namun yang membedakan BEC dengan karnaval lainnya adalah karena BEC lebih mengangkat lokalitas Banyuwangi dan menambah dengan unsur tarian.

Untuk itu, tema BEC tahun ini adalah “Mystical Dance of Seblang”. Seblang adalah ritual suku Osing Banyuwangi. Seblang singkatan dari “Sebele Ilang” atau “Sialnya Ilang”. Ini adalah ritual mistik untuk menolak bala bagi masyarakat agraris Banyuwangi. Jadi selain fashion, ditampilkan pula ritual Seblang dengan menggunakan penari-penari yang “trance” saat mereka menolak kekuatan jahat. Menteri Pariwisata, Menteri Sosial, Dubes AS, Konjen AS di Surabaya, terlihat menikmati penampilan kreasi seni masyarakat di Carnival tersebut.

Banyuwangi memang luar biasa. Bupati Anas telah mengubah citra Banyuwangi, dari “Kota Santet” menjadi Kota Wisata dan “Digital Society”. Penuh festival, jadi tuan rumah Thanksgiving, dan tentu saja sinyal internetnya bagus. Semoga semakin banyak muncul kota-kota seperti Banyuwangi.

Bertemu Mbak Ayu Azhari di acara Thanksgiving Banyuwangi

Bertemu Mbak Ayu Azhari di acara Thanksgiving Banyuwangi

 

Kisah Empat Pria di Raja Ampat

Empat Pria di Bandara DEO Sorong

Empat Pria di Bandara DEO Sorong

Life begins at forty. Hidup mulai di usia empat puluh. Ya, memasuki usia itu, para kaum pria pada khususnya, seolah berada di persimpangan. Mau dibilang tua, tidak mau, karena rasanya masih muda. Tapi dibilang muda, ya juga sudah tidak muda lagi kan. Berbeda dengan saat berusia dua puluh-an.

Nah, dalam sebuah percakapan di grup chat, kami para pria sebaya, saya, Hery, Eddy, dan Poltak, berdiskusi ringan untuk melakukan satu hal yang impulsif, keluar dari kerutinan, tanpa rencana matang. Tapi harus seru. Semata untuk membuktikan bahwa kita masih muda, dan kita masih punya semangat adventure.

Eddy memulai chat dengan sebuah usulan, “Ke Raja Ampat, yuk!”

Ruang chat mendadak sepi. Bukan karena apa, tapi bagi kami yang kesehariannya termasuk dalam kategori pekerja sibuk, mengatur jadwal kerja tidaklah mudah. Pekerjaan di kantor membuat kita semakin sulit mengambil cuti mendadak. Masing-masing dari kami kerap diberi tugas segera, dinas ke luar kota, dan seabrek pekerjaan lainnya.

Selain itu, Raja Ampat itu kan jauh. Biayanya juga tidak murah. Konon kata orang bisa lebih mahal daripada jalan ke luar negeri. So, ujug-ujug ke Raja Ampat tanpa persiapan matang? Mungkin hanya mimpi.

Beberapa hari, usulan Edy tak mendapat tanggapan.

Sampai pada satu pagi, ada yang me-reply, “Kenapa nggak? … Yuuk”. Hmmmm …. Bener juga. Kenapa nggak. “Gimana kalau bulan depan?”. Rencana yang cukup mendadak dan nekat.

Kami beruntung karena memiliki seorang kawan yang bekerja di Papua. Roma namanya. Kitapun menghubungi dia untuk mencari informasi “how to” mencapai Raja Ampat. Lebih beruntung lagi, pada saat bersamaan, rupanya Roma dan suaminya sedang berdinas ke Raja Ampat. Ia bersedia mendampingi dan jadi pemandu kita. Yeeey, kita punya host! .. So, all settle. Kitapun mempersiapkan berbagai hal tekhnis untuk ke Raja Ampat, mulai dari tiket, akomodasi, transportasi, termasuk peralatan snorkeling.

Oh ya, tidak ada satupun di antara kita yang punya lisensi penyelam. Padahal,  Raja Ampat kan surganya penyelam. Rasanya kufur nikmat tuh kalau tidak menyelam. Tapi pastinya kita tidak akan diizinkan menyelam. Bisa jadi berita kalau ada empat pria paruh baya nekat menyelam di Raja Ampat, terus kebawa arus gitu. Naudzubillah deh. Jadi target kitapun hanya melakukan snorkeling dan memandang keindahan alam.

****

Tapiiiiii, enam hari menjelang keberangkatan, ada berita mengejutkan dari Eddy. “Frens, gue kayaknya ga bisa nih. Disuruh boss dinas ke Paris”. …… . Jreeeeeng! …

Wah, lo ga asyik amat Ed, kan ide ke Raja Ampat dari lo”, kata kita semua. Dan kitapun seolah hilang energi untuk melanjutkan perjalanan. Dua hari lamanya kita “ogah-ogahan” untuk melanjutkan perjalanan. Kalau cuma bertiga kan nanti namanya Raja Tiga, bukan Raja Ampat lagi, begitu pikir kita sedikit lebay.

Kitapun mem-bully Eddy di grup. Namun memang Eddy sahabat sejati. Ia berusaha menegosiasikan dengan bossnya soal perjalanan dinas ke Paris. Bayangkan tuh, mengorbankan Paris demi persahabatan. Syukurlah bossnya paham. Tugas ke Paris bisa dialihkan ke pegawai lainnya. Memang bukan penugasan yang mengharuskan Eddy untuk pergi. Sementara, kalau ke Raja Ampat, Eddy harus pergi kan. Daripada dianggap “pengkhianat” grup hehehe …..

****

Kita berkumpul di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng untuk memulai perjalanan. Ternyata perjalanan ke Raja Ampat itu cukup ribet. Dari Jakarta kita naik pesawat pukul 22.00, menuju Makassar. Transit di Makassar sekitar 3 jam. Kemudian dari Makassar, sekitar pukul 03.30 dinihari, kita melanjutkan penerbangan ke Sorong. Sampai Sorong pukul 06.30 pagi. Nah dari Sorong, kita masih harus naik boat lagi selama tiga jam menuju kepulauan Raja Ampat.

Jauh ya. Mungkin kalau dihitung dari perjalanan saya, yang berangkat dari Surabaya, total waktu menuju Raja Ampat mencapai 15 jam. Heeeee, sudah sampai Eropa itu.

***

The Beauty of Raja Ampat

The Beauty of Raja Ampat. Empat Pria dan Mamak Roma sebagai host

Raja Ampat memang Surga tingkat kesembilan. Indah. Saya sudah sering melihat foto, film, dan cerita tentang Raja Ampat. Tapi tidak membayangkan seindah itu saat melihat dengan mata kepala sendiri. Betul kata para filsuf, mereka yang merasakan, mengetahui. Untuk mengetahui keindahan Raja Ampat memang harus merasakan sendiri.

Kita menginap di salah satu villa di kepulauan Batanta. Saat tiba, kita melihat pantai yang begitu surgawi. Airnya sangat jernih sampai bisa melihat seluruh dasar dan terumbu karangnya. Dari jetty tempat boat kami bersandar, ikan warna warni berseliweran. Hampir semuanya schooling (bergerombolan dengan jenisnya).  Luar biasa kereeen.

Semua tidak sabar mau nyemplung. Eddy langsung menyiapkan Go Pro-nya. Hery sudah berganti pakaian selam yang dibelinya khusus di Mangga Dua. Dan Poltak sudah membuka baju bagai anak laut. Kitapun menceburkan diri di pantai. Sepanjang senja, kami berputar-putar snorkeling sekitar pulau.  Kita membayangkan kalau menyelam pasti lebih indah. Wong di sekitar pulau saja kita sudah melihat aneka karang yang mengagumkan. Bentuknya bunga, kipas, tumbuhan, aaah indah banget.

Ikan-ikannya juga ga ketulungan indah. Ikan kuning, nemo, buntal, aneka ragam ikan kuning, bahkan kita bertemu dengan Pari dan ikan Hiu.

Kita bagai anak kecil yang tak mau naik ke darat. Gak mau naiiik !!

Keindahan bawah pantai Raja Ampat / photo by Junanto

Keindahan bawah pantai Raja Ampat / photo by Junanto

Finding Nemo in Raja Ampat/ photo by Junanto

Finding Nemo in Raja Ampat/ photo by Junanto

snorkel .. snorkel ... snorkel

snorkel .. snorkel … snorkel

****

Hari kedua adalah saatnya menikmati pemandangan atas Raja Ampat. Kita naik boat lagi menuju Pulau Wayag Besar. Ini adalah lokasi yang konon pemandangannya indah, tapi rutenya sulit. Akibatnya, banyak turis yang memilih ke Pianemo, yang secara sekilas terlihat mirip Wayag Besar. Agar tetap merasa sudah sampai di Wayag, banyak orang menamakan Pianemo dengan sebutan Wayag Kecil.

Menurut Roma sebagai tuan rumah, biasanya kalau ada rombongan pejabat, diajaknya menuju Wayag Kecil ini. Di sana sudah ada tangganya, sehingga mendaki jadi lebih mudah. Mereka bisa naik tangga ke puncak, dan berpose di atasnya. Pemandangannya juga indah di sana.

Namun Wayag Besar adalah sebuah petualangan dengan lain cerita. Jarak ke sana lebih jauh. Sekitar tiga jam lagi dari Batanta naik boat apabila laut tenang. Kalau dari Waisai bisa sekitar delapan jam. Untuk menuju ke puncaknya juga harus mendaki bukit yang tinggi. Kita harus menggunakan sepatu karet selam, karena selain bukitnya terjal, juga berbatu runcing. Kalau pakai sepatu biasa khawatirnya robek. Apalagi kalau kaki kita nyeker hehehe.

Dan betul juga, perjuangan naik ke atas Wayag Besar sungguh terasa. Nafas saya sampai ngos-ngosan, keringat membasahi tubuh dan pakaian, belum lagi tubuh lemas akibat matahari yang bersinar ganda. Panas dan berat. Beberapa kali kita berhenti untuk beristirahat, mengatur nafas, dan naik lagi.

Setibanya di atas. Semua terbayar.

Wayag Besar dari atas / photo by Junanto

Wayag Besar dari atas / photo by Junanto

Yeeey, we are here !

Yeeey, we are here !

Ini memang surga tingkat kesembilan. Wayag Besar adalah satu dari keindahan Tuhan yang wajib kita lihat dalam hidup kita. Kita semua terpana. Bengong. Terpukau dalam keindahan. Gilaaa! Kereeeeen Bangeet!

Turun dari bukit, kita lanjut melakukan snorkeling di seputar Wayag Besar. Masih belum puas juga Snorkeling. Kembali ke penginapan. Lagi-lagi snorkeling senja. Minggu pagi, kita terus snorkeling seolah tak mau usai.

Minggu siang, holiday is over. Tentu saja kita tidak menyesal pergi ke Raja Ampat meski persiapannya mendadak. Satu hal yang disesalkan, kenapa cuma tiga hari. Harusnya semingguuu iniiiii.

Waktu berlalu, kita terduduk menunggu boat yang akan mengantar kembali ke Sorong. Sambil duduk bersebelahan, barulah lelah itu terasa. Kitapun mulai membongkar tas, mengambil sesuatu. Keluarlah semua obat-obatan. Dari balsem, obat dengkul, hingga obat anti masuk angin. Yaaaah, pada ujungnya, usia gak bisa boong ye……

Tetap semangaaat !!

Persaudaraan Kopi di Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

“Once Brew, We Bro”. Sekali Seduh, Kita Bersaudara. Begitu ungkapan dari Setiawan Subekti yang juga akrab dipanggil Pak Iwan, saat kami memasuki Sanggar Genjah Arum miliknya di Desa Kemiren, Banyuwangi. Pak Iwan menyambut kami dengan hangat dan mengajak masuk ke satu rumah yang dirancang seperti kedai kopi, lengkap dengan meja bar. Ia lalu menyajikan secangkir kopi racikannya.

Hmmmm, aroma kopinya harum dan membius kita semua yang hadir malam itu. “Silakan cicipi, dan ceritakan pada saya rasanya”, begitu kata pak Iwan. Dan, saat sesapan kopi masuk memenuhi langit-langit mulut, kenikmatan itu menyeruak. Meninggalkan jejak rasa, after taste, yang tak tepermanai. Bagi saya, kopi di Sanggar Genjah Arum ini adalah kopi terenak yang pernah saya cicipi dalam perjalanan hidup mencari kesempurnaan kopi.

Beberapa kawan tampak ragu mencicipi kopi yang disajikan tanpa gula tersebut. Sebagian karena pernah kena penyakit asam lambung sehingga khawatir kalau minum kopi akan kambuh. “Kopi tidak menyebabkan sakit lambung atau maag, seperti mitos yang selama ini berkembang”, demikian kata Pak Iwan menenangkan. Reaksi orang terhadap kopi tentu berbeda-beda. Namun kalau  diproses dan disajikan dengan benar, kopi menjadi minuman yang baik dan menyehatkan.

Setiawan Subekti adalah seorang pejuang. Ia bukan hanya pecinta kopi, tapi lebih seperti “Ambassador” atau Duta Kopi. Hidupnya dipersembahkan pada Kopi Banyuwangi dan Pelestarian Budaya Banyuwangi. Saat bercerita tentang kopi, matanya berbinar-binar.  Saat bicara budaya Banyuwangi, gairahnya menyebar. Ia seorang yang penuh semangat dan energi.

Para pecinta kopi, atau barista nasional maupun internasional, pasti mengenal Setiawan Subekti. Sebagai tester kopi internasional, ia sering diundang ke mancanegara, baik untuk membagi ilmunya, maupun menjadi juri pada berbagai kompetisi. Di dinding sanggarnya, kita melihat foto berbagai orang ternama yang pernah berkunjung ke sana, termasuk foto kunjungan Putri Kopi Dunia.

Tamu yang datang ke Sanggar Genjah Arum juga beragam, seperti Dahlan Iskan, Marie Pangestu, Konsul Jendral AS di Surabaya, pimpinan dan pejabat BUMN, hingga artis dan seniman. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, bahkan menjadikan Sanggar Genjah Arum sebagai satu destinasi bagi tamu-tamunya. Beliau sendiri secara rutin “nongkrong” untuk ngopi di sini.

Pak Iwan juga giat memperkenalkan kopi Banyuwangi atau Kopai Osing, ke berbagai negara. Nama Osing diambil dari subkultur terbesar yang hidup di Banyuwangi. Orang Osing adalah sebutan bagi masyarakat asli Banyuwangi.

Jenis kopai Osing ini unik dan memiliki cita rasa tersendiri. Kopi, yang ditanam di pegunungan Ijen dan Raung sekitar Banyuwangi dan Bondowoso, sudah diekspor ke mancanegara. Kalau kita pergi ke Eropa dan minta disajikan Java Coffee, maka hampir dipastikan bahwa kopi itu berasal dari daerah sekitar Banyuwangi, Jawa Timur. Keunikan rasanya, menjadikan Kopi Banyuwangi digemari di dunia.

keharuman biji kopi banyuwangi

keharuman biji kopi banyuwangi

Kopi memang bisa menjadi komoditas unggulan dan kekuatan ekonomi Indonesia. Kita memiliki kopi yang tidak kalah bersaing dengan kopi dari negara lain, bahkan lebih baik. Dilihat variannya, di seluruh nusantara terdapat aneka varian kopi yang lezat. Namun Pak Iwan masih menyayangkan pengembangan industri kopi nasional yang masih belum optimal. Biji kopi Indonesia itu bagus, namun kadang proses pembuatan, dari penanaman hingga menjadi biji kopi, belum dilakukan dengan benar. Mereka masih menggunakan proses tradisional, mencampur biji kopi kualitas bagus dan rendah, tidak memasak dengan standar yang baik, sehingga hasilnya tidak optimal. Banyak produk olahan kopi akhirnya memiliki kualitas yang rendah dan tidak memenuhi standar internasional sehingga harganya murah.

Oleh karena itu, Pak Iwan secara aktif turun ke perkebunan kopi, melakukan pembinaan bagi para petani kopi agar dapat memproses kopi dengan baik.  Hasilnya, kini banyak petani kopi yang mulai memproses kopi dengan benar, menghasilkan kopi berkualitas, dan dapat mengekspor ke luar negeri.

Di daerah Bondowoso misalnya, ada kelompok petani kopi Arabica binaan Bank Indonesia Jember, mampu mengekspor sebanyak 350 ton per bulan ke luar negeri. Mereka juga mendapatkan masukan konsultasi dari Pak Iwan agar dapat memproses kopi dengan baik. Meski sudah bisa mengekspor sebesar 350 ton, dan meningkatkan taraf hidup petani kopi di sana, angka itu masih rendah dari potensinya sebesar 6000 ton. Bayangkan bila seluruh wilayah penghasil kopi tersebut dapat memproses kopi dan mengekspor kopi dalam kapasitas optimal. Selain kopi Indonesia makin terkenal, kehidupan para petani akan meningkat.

Data Kemenperin menunjukkan bahwa ekspor kopi olahan Indonesia mencapai 244 juta dolar AS pada tahun 2012, dan meningkat menjadi 322 juta dolar AS pada tahun 2013. Ini menunjukkan bahwa permintaan dunia pada kopi sangatlah besar.  Potensi ini yang perlu menjadi perhatian kita semua.

Menikmati kopi di Sanggar Genjah Arum juga menikmati keindahan rumah-rumah tradisional suku Osing. Pak Iwan memang sengaja menjadikan tempatnya sebagai konservasi rumah Osing. Ada sembilan rumah khas orang Using berbahan kayu bendo dan tanjang. Setiap rumah memiliki fungsi berbeda. Ada yang dibuat sebagai gudang penyimpan kopi, tempat istirahat, tempat makan, dan tempat pertunjukan. Kami juga dipersilakan melihat dapur tradisional Osing, yang untuk memasaknya masih menggunakan tungku tanah liat dan kayu bakar.

Di Sanggar itu, kita juga bisa melihat beberapa perempuan asli Banyuwangi membawakan musik “gedhokan”, atau seni musik yang dihasilkan dari pukulan lesung. Juga  ditampilkan pula tarian Gandrung Banyuwangi, yang merupakan tarian asli Banyuwangi. Para penari, pemain musik, berasal dari warga sekitar. Beberapa di antaranya bahkan pernah diajak Iwan ke Amerika Serikat untuk sebuah pertunjukan seni.

Menyesap kopi Banyuwangi, menikmati udara dingin pegunungan, melayang dalam alunan seni tradisional, adalah perpaduan sempurna bagi indahnya kehidupan. Pak Iwan telah membuktikan, bahwa “surga” ada di ujung timur Pulau Jawa.

Salam Kopi.

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

kopi terlezat, kopai osing

kopi terlezat, kopai osing

 

Aroma Sastra dan Literasi di Paris

Toko buku Shakespeare & Co. Sanctuary for book lover in Paris

Toko buku Shakespeare & Co. Sanctuary for book lover in Paris

Mbak Lona Hutapea, penulis buku Paris C’est Ma Vie dan Voila La France, yang juga pernah tinggal di Paris, merekomendasikan saya untuk merasakan aroma sastra di kafe-kafe kota Paris. Nah, saat berkesempatan mampir di Paris beberapa waktu lalu, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke tempat yang direkomendasikan mbak Lona tersebut.

Dari banyaknya kawasan, ada satu daerah yang wajib dikunjungi para pecinta literatur. Nama daerahnya Latin Quarter, yang menurut sejarah adalah tempat mangkal dan kongkow para sastrawan dan seniman Eropa selama beratus tahun. Dahulu, para filsuf. seniman, artis, dan sastrawan, berkumpul di kafe-kafe daerah itu dan melakukan aneka diskursus intelektual. Ada pemikiran yang melawan arus, bahkan ada yang revolusioner. Tak heran, pergerakan filsafat dan sastra marak dan kerap bangkit di Paris. Nama-nama filsuf besar seperti Sartre, Simone de Beauvior, Oscar Wilde, Voltaire, Victor Hugo, adalah deretan nama yang pernah nongkrong di berbagai kafe kota Paris.

Saya selalu meyakini bahwa perjalanan panjang diskursus intelektual di satu area adalah energi yang terus melekat selama bertahun-tahun. Karena itulah, saat memasuki kafe atau sudut-sudut tua kota Paris, aura dan nuansa sastra intelektual terasa begitu kental dan menyesap.

Saya kemudian berhenti di satu toko buku legendaris yang menjadi salah satu ikon literasi Paris. Bagi saya, inilah sanctuary for book and literature lover in Paris. Surga bagi pecinta buku dan literasi di Paris. Nama tokonya Shakespeare and Co. Sayapun pergi ke sana, dan hanyut tenggelam di toko buku itu. Meski terlihat kecil dan tua, toko buku yang didirikan sejak tahun 1922 ini sarat dengan kisah. Para sastrawan dan penulis dunia, seperti Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald, dulu sering kongkow dan menelurkan karya2 dari toko kecil ini. Koleksi literaturnya juga luar biasa.

Sebenarnya, toko asli Shakespeare and Co didirikan oleh Sylvia Beach, seorang ekspatriat Amerika, pada tahun 1919di Rue Dupuytren. Pada tahun 1921, toko buku ini pindah ke tempat yang lebih besar, dan buka hingga tahun 1940, sebelum Perang Dunia ke-II. Setelah itu toko buku ini ditutup. Barulah pada tahun 1951, David Whitman membuka kembali toko buku ini. Saat ini, toko buku dikelola oleh putri dari David Whitman, yaitu Sylvia Whitman.

Memasuki toko buku kecil, yang terletak di bawah bayang-bayang Gereja Notre Dame Paris tersebut, kita seolah diajak berjalan dalam mesin waktu. Suasana Bohemian langsung terasa. Rak-rak buku model kayu, klasik, dipenuhi oleh koleksi aneka buku second hand -berbahasa Inggris, yang ekstensif. Toko ini juga memiliki beberapa kamar kecil, yang dulu jadi tempat bermalam para sastrawan dan seniman. Kadang bayarannya bukan uang, melainkan kewajiban mereka membaca satu buku dalam sehari, dan mendiskusikan isinya bersama-sama. Sungguh sangat kaya literasi.

Bagi para pecinta literasi, perjalanan ke Paris wajib mampir ke Shakespeare and Company. Dari toko kecil ini kita bisa belajar, bahwa bangsa besar adalah bangsa yang kaya membaca, menulis, dan budaya. Perancis dibangun juga oleh literasinya yang kaya. Tak banyak toko buku dan penerbit di Indonesia yang bisa berumur ratusan tahun. Tapi kita bisa memulai dan merawat yang sudah ada. Untuk Indonesia yang lebih baik dan kaya literasi.

Usai memilih buku, kita bisa duduk2 membaca di kafe2 bersejarah yang tersebar di seputaran situ. Ada satu kafe yang konon merupakan kafe tertua di sana, letaknya tak jauh dari Shakespeare. Namanya Le Procope. Silakan bungkus buku yang baru anda beli, bawa ke La Procope, kemudian pesanlah secangkir kopi. Nikmati aroma sastra dan literasi di Paris yang indah.

Surga Pecinta Macaron di Paris

Laduree, Surga Macaroon di Paris / photo junanto

Laduree, Surga Macaroon di Paris / photo junanto

Mengunjungi kota Paris serasa belum lengkap kalau belum mencicipi pattiserie-nya. Selain terkenal sebagai City of Love dan City of Light, Paris juga menjadi kiblat bagi dunia kuliner. Saat berkunjung ke Paris, saya selalu menyempatkan waktu untuk mencicipi kue di berbagai kafe yang tersebar di setiap sudut kota. Dijamin rasanya jauh lebih enak dari kue serupa yang dibuat di luar Perancis.

Ada satu kue juga yang wajib dicicipi kalau ke Paris, yaitu kue Macaron. Bagi para pecinta kue macaron, rasanya belum sempurna kalau belum mencicipi kue ini langsung di tempat kelahirannya. Bersama keluarga, dan juga sepupu bersama suami dan anak2nya yang datang dari Jerman, saya menyempatkan diri untuk mencicipi aneka kue macaron di toko kue yang terkenal di Paris, Laduree.

Adalah Louis Ernest Laduree yg pada tahun 1862 mendirikan toko kue di kota Paris. Awalnya, kue macaron belum berbentuk seperti sekarang, melainkan dua keping yang terpisah dan dibawa oleh ratu Catherine de Medicci dari Italia di abad ke-16. Saat itu biskuit macaron menjadi kesukaan orang Perancis.

Nah barulah pada tahun 1930, bersama cucunya, Pierre Desfontaines, Laduree menciptakan utk pertama kalinya “double decker macaron”, yaitu dua keping macaron yang dilekatkan dengan cream ganache sbg “filling”-nya. Macaron itulah yg kemudian terkenal hingga sekarang. Laduree kemudian berkembang dan membuka cabang di berbagai negara, menebarkan budaya macaron, yang juga banyak ditiru orang.

Laduree mungkin sudah banyak membuka cabang, di berbagai kota dan negara. Namun, toko di Champ-Elysees Paris adalah sebuah legenda karena konon di sinilah macaron diciptakan. Di kios inilah, saya mampir sebentar untuk mencicipi “authentic” macaron. Saat saya tiba di depan Laduree, antrian panjang sudah terlihat. Orang-orang rela mengantri berjam-jam hanya demi mencicipi kue, pastry, atau macaron yang dibuat di toko ini. Panjangnya antrian itu menunjukkan bahwa toko itu bukan sekedar menjual macaron. Di balik macaron Laduree, ada sejarah, kisah, dan perjalanan panjang, yang tentunya menyisakan sesap kelembutan dan rasa manis tak terlupakan.

Bersama Avandra, keponakan yang tinggal di Jerman, di depan toko Laduree

Bersama Avandra, keponakan yang tinggal di Jerman, di depan toko Laduree Champ-Elysees

Setelah mengantri beberapa waktu, saya tiba di jejeran kue dan macaron. Sungguh bagai surga macaron. Saya melihat jejeran kue dan macaron, dengan aneka rasa dan warna. Begitu indah. Aroma harum dan wangi dari aneka kue itu, meruap dalam semesta toko yang bentuknya tidak terlalu besar. Meski kita dalam antrian, semua orang bagai terbius oleh keindahan kue-kue. Kita menghirup aroma wangi kue, dan mabuk di dalamnya.

Satu set macaron, isi sembilan dihargai sekitar 21 Euro, atau sekitar Rp.350 ribu. Harga yang pantas untuk sebuah sejarah panjang. Apalagi ini macaron yang diciptakan pertama kali di dunia. Nah, lagi2 Perancis memberi renungan, bahwa kue itu bukan perkara remeh temeh loh. Asal dikelola serius, apa saja bisa jadi kekuatan ekonomi nasional, termasuk sekeping macaron.

Mencari Kebahagiaan di Amsterdam

 

Anatomi Babi asli di pintu masuk Body Worlds Amsterdam / junanto

Anatomi Babi asli di pintu masuk Body Worlds Amsterdam / junanto

Di Amsterdam, kebahagiaan atau happiness adalah kata kunci yang dipegang hampir setiap warganya. Sebagai kota, yang masuk dalam jajaran kota paling bahagia sedunia, upaya meraih kebahagiaan adalah proyek hidup yang terus menerus diperbaiki.

Apa yang membuat orang Amsterdam, atau Belanda pada umumnya, bahagia? Salah satunya adalah statistik. Belanda mempelajari cara untuk menjadi bahagia. Dari statistik dan anatomi tubuh, dibuatlah semacam proyek kebahagiaan. Ini yang menarik, karena terbukti bahwa bahagia bisa diraih dengan latihan dan penelitian.

Memang terdengar terlalu tekhnis, tapi di Belanda, segalanya menjadi tekhnis dan detail. Saat mampir ke Amsterdam, saya mengunjungi satu Proyek Kebahagiaan Belanda yang dikemas dalam bentuk sebuah museum. Namanya Body Worlds: The Happiness Project. Letaknya di Damrak, dan menjadi salah satu ikon wisata kota Amsterdam.

Adalah seorang Jerman bernama Gunther von Hagens yang mengawali ide ini. Setelah melakukan pameran proyeknya ini, di berbagai kota, ia membangun pameran tetap di Amsterdam.

Apa yang menarik dan unik dari Proyek Kebahagiaan ini? Body Worlds menampilkan satu tema penting untuk kita renungkan, yaitu mengenai tubuh manusia dan pengaruh dari berbagai faktor, mulai dari fisik tubuh hingga emosi, pada kesehatan dan kebahagiaan manusia.

Premisnya sederhana. Apabila tubuh diberi input kesengsaraan dan kesulitan secara terus menerus, manusia akan cenderung tidak bahagia. Demikian pula sebaliknya. Di sini, von Hagens mengambil riset pada berbagai manusia dan menampilkannya utuh di museum ini. Ada lebih dari 200 jasad manusia asli, bukan display boneka, yang ditampilkan di museum body worlds. Berbagai jasad manusia itu, dibedah, dikuliti, dan diawetkan, sehingga kita bisa melihat kompleksitas tubuh manusia, termasuk kekuatan dan kerentanan tubuh.

Dari mana berbagai jasad itu berasal? Museum ini memberikan informasi bahwa jasad-jasad tersebut berasal dari para donatur, yang merelakan tubuhnya digunakan untuk ilmu pengetahuan setelah mereka meninggal.

Jasad-jasad manusia yang diawetkan dengan cara khusus oleh von Hagens tersebut bercerita bahwa kebahagiaan bisa diteliti. Tubuh yang bahagia, umumnya muncul dari kebiasaan fisik dan emosi yang bahagia. Kebiasaan merokok dan stress misalnya, bisa memicu ketidakbahagiaan. Di museum ini, ditampilan organ manusia yang terkena kanker paru-paru akibat merokok, dan otak yang rusak karena stroke. Kita diajak merasakan dampak dari kebiasaan negatif yang ditumpuk sekian lama.

Museum ini menyampaikan pesan bahwa gerak fisik bisa menimbulkan kebahagiaan. Orang yang rajin berolahraga biasanya lebih bahagia dari yang malas bergerak. Di sini, kita diajak untuk senantiasa melatih fisik, gaya hidup sehat. Namun di lain sisi, fisik juga harus diimbangi oleh jiwa dan emosi yang stabil. Kita harus juga mampu melatih emosi kita, agar tidak terjebak stress, tegang, yang berujung pada ketidakbahagiaan.

Memasuki museum Body Worlds ini menurut saya sesuatu banget, dan menjadi satu pengalaman yang “must try” kalau ke Amsterdam. Dengan tiket seharga 20 euro per orang (bisa lebih murah kalau beli online), kita diajak menyelami kembali makna kehidupan ini. Hidup pada ujungnya, bukanlah mencari materi. Tapi pada ujungnya, yang dicari oleh manusia ini, dengan berbagai aktivitasnya, adalah kebahagiaan atau eudomonia menurut Yunani Kuno.

Amsterdam membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi, tanpa kebahagiaan, adalah sia-sia. Pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita, keamanan, kesehatan, dan fungsi institusi yang baik, adalah prasyarat dasar kebahagiaan. Tanpa ekonomi yang baik, pendapatan per kapita yang memadai, sulit meraih kebahagiaan. Namun itu bukan tujuan, setelah semua yang bersifat materi diraih, kebahagiaan bukan sebuah perkara sederhana. Ia membutuhkan kebiasaan, pelatihan emosi, agar dapat pasrah, dan ringan, dalam menghadapi kehidupan dan segala tantangannya. Di sini baru berlaku, uang tidak selamanya membawa kebahagiaan.

Bahagia, di Belanda, adalah soal tekhnis. Bisa dipelajari. Untuk tahu lebih dalam dan detil, silakan mampir ke Body Worlds Amsterdam, bila sedang berkunjung ke sana. Salam Bahagia.

Bersepeda di Amsterdam

Cycling in Amsterdam

Cycling in Amsterdam

Tidak ada cara yang paling mudah untuk menyusuri kota Amsterdam, selain menggunakan sepeda. Ya, sepeda di Amsterdam adalah bagian dari nafas kota itu sendiri. Jumlah sepeda saja lebih banyak dari jumlah penduduknya. Di mana-mana kita melihat orang bepergian naik sepeda. Bahkan pejabat pemerintah, termasuk Menteri di Pemerintahan Belanda, kalau bepergian kerap menggunakan sepeda.

Oleh karena itu, saat mengunjungi Amsterdam bersama keluarga beberapa waktu lalu, saya memilih untuk menyewa sepeda agar lebih mengenal sudut-sudut kota. Menyewa sepeda di Amsterdam sangat mudah dan jauh lebih efisien ketimbang kita naik bis atau trem yang harus berganti-ganti kalau ingin ke satu tempat. Dengan sepeda, kita bisa berpindah-pindah ke tempat yang kita suka. Cukup dengan membawa peta.

Ada beberapa penyewaan sepeda yang terdapat di Amsterdam. Saya memilih menggunakan MacBike yang salah satu kiosnya ada di dekat Amsterdam Central Station. Cukup dengan sekitar 12 Euro per orang, kita sudah bisa menyewa sepeda seharian. Kita menyewa empat sepeda dan bersama-sama memulai perjalanan.

Satu kelebihan bersepeda di Amsterdam adalah infrastruktur untuk bersepedanya yang nyaman. Karena percuma kalau kita naik sepeda namun tidak ada infrastruktur yang memadai. Sepeda kita akan bersaing dengan motor dan mobil, yang justru malah membuat bersepeda berbahaya. Di Amsterdam, sepeda memiliki jalur tersendiri yang tidak mungkin diserobot mobil. Uniknya lagi, jalur-jalur sepeda itu terintegrasi dan saling terkoneksi antara satu dengan yang lain. Jadi, kalau kita mau pergi dari satu titik ke titik lainnya, yang memerlukan perpindahan jalan atau menyebrangi jalan besar, jalur sepedanya sudah terhubung. Nyaman bukan?

Nah, kami mengambil jalur atau rute sepeda sendiri, disesuaikan dengan ketertarikan kita sekeluarga. Dari Amsterdam Station, kita berbelok ke kiri menuju Maritime Museum di daerah Waterfornt, di depannya, kita belok kanan lalu masuk ke daerah Plantage. Kitapun menyusuri Plantage yang suasananya tenang dan penuh taman. Di Plantage kita berhenti di distrik yahudi, dan melihat Sinagog Portugis tua yang dibangun oleh kaum Yahudi.

Dari Plantage, kita meneruskan perjalanan menuju Sungai Amstel. Kita melewati Magere Brug, atau “Skinny Bridge”, yang merupakan jembatan tertua di Amsterdam. Lalu menyebrangi Sluice Gates yang masih berfungsi mengatur perjalanan kapal di sungai, termasuk mengatur pengairan di kota Amsterdam.

Dari situ kita lanjut menyusuri daerah Prinsengracht, atau menyusuri kawasan kanal Amsterdam. Jalan ini menarik karena banyak terdapat butik-butik, seperti di Utrechstraat, Reguliersgracht, yang terkenal dengan tujuh jembatan berderetnya. Di Prinsengracht kita beristirahat sebentar dan berhenti di kedai ikan, atau Vishhandel, untuk memesan ikan haring mentah, holandse nieuwe haring. Sambil mencicipi haring, kita menikmati ketenangan kanal Amsterdam.

Berpose sebentar di Kanal Amsterdam

Berpose sebentar di Kanal Amsterdam

Kitapun meneruskan perjalanan ke Nieuw Spiegelstrat, untuk menuju Vondelpark. Ini adalah taman yang menjadi salah satu ikon kota Amsterdam. Di sana, khususnya pada musim panas, banyak warga Amsterdam yang keluar dan berpiknik bersama. Dari Vondelpark, kita menuju Rijkmuseum. Di belakang Rijkmuseum ada taman yang menjadi tempat kumpul warga Amsterdam maupun turis asing.

Kita berpose di satu ikon kota yang kini menjadi populer, yaitu tulisan besar I AMsterdam. Di kota ini ada tiga ikon besar tersebut, satu diletakkan di Rijkmuseum, lalu satu di Schiphol Airport, dan satu lagi berpindah-pindah sesuai waktunya.

I AMsterdam

I AMsterdam

Dari I AMsterdam ikon, kita kembali ke Central Station melewati Dam, atau alun-alun kota, tempat Royal Palace berada.

Bersepeda di Amsterdam sangat mengasyikkan. Selain sehat dan hemat, kita bisa belajar bagaimana suatu kota mengelola lalu lintasnya, dari dominasi mobil dan motor, menjadi dominasi sepeda. Sebelumnya, hingga tahun 1970, kota Amsterdam hiruk pikuk dan kacau oleh tumbuhnya masyarakat menengah dan penggunaan mobil. Persis seperti keadaan kota Jakarta sekarang. Di Amsterdam saat itu, macet di mana-mana. Penggunaan mobil membludak, kecelakaan meningkat, dan kematian anak akibat kecelakaan mobil tinggi.

Dari kondisi itulah mereka berpikir, Amsterdam, atau Belanda pada umumnya, tidak bisa dibiarkan berkembang begitu saja tanpa arah. Berbagai aksi kampanye dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. Gerakan naik sepeda dibangun. Hal ini tidak berlangsung satu pihak, namun juga ditanggapi positif oleh Pemerintah Belanda, dengan membangun infrastruktur. Jalur untuk sepeda dibangun, diperluas, dan jalur untuk mobil dikurangi. Masyarakat, baik oleh kesadaran ataupun dipaksa keadaan, berpindah menggunakan sepeda. Awalnya memang sulit dan butuh kerja keras, tapi kini, sepeda telah menjadi budaya, atau habit dan keseharian masyarakat Belanda.

Bukan itu saja, wisata sepeda, seperti yang baru saja saya lakukan, menjamur di kota Amsterdam. Menambah marak kota, dan tentunya mendukung turisme dan ekonomi lokal.

Proses Amsterdam menuju Kota Sepeda, bukan proses kebetulan, dan bukan proses satu malam. Butuh waktu panjang juga. Ada konsistensi, keteguhan hati masyarakat, dan yang paling penting dukungan total dari Pemerintah. Sinergi semua institusi ini adalah kunci. Naik sepeda tak cukup hanya dengan membangun komunitas bersepeda. Itu penting dan harus dilakukan memang untuk membangun kesadaran. Tapi apabila hal itu tidak didukung pemerintah, maka gerakan bersepeda hanya menjadi hobi atau gaya hidup beberapa kalangan. Karena kenyataan di lapangan saat ini, naik sepeda bisa jadi masih berbahaya, terutama saat bersaing dengan mobil, bis, kendaraan umum, bajaj, hingga sepeda motor. Belum lagi asap knalpot kendaraan yang harus kita hirup.

Nah, kalau Belanda bisa, pastinya kita juga bisa. Tak sulit, hanya butuh kemauan dan kerjasama. Eeeh, tapi justru itu yang paling sulit kan ye hehehe….

Salam Gowes.

Salam Gowes

Salam Gowes

Menggapai Nirwana Bola

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Saat Lukaku dimasukkan ke lapangan oleh Pelatih Belgia, Marc Wilmots, dinihari tadi (2/7), getar kecemasan langsung dirasakan oleh para pemain kesebelasan Amerika Serikat (AS). Lukaku, akhirnya jadi Lukamu, jadi Luka bagi kesebelasan AS. Ya, Romelu Lukaku, pemain muda berbakat yang dikontrak Chelsea dan pernah bermain di Anderlecht, adalah “senjata pamungkas” yang dikeluarkan di masa perpanjangan waktu. Setelah 90 menit bermain ketat dan imbang, masa perpanjangan waktu adalah masa penentuan. Dalam kisah pewayangan, senjata pamungkas dikeluarkan pada jeda waktu itu. Dan Lukaku, adalah senjata Wilmots. Ia keluar, bermain, dan menusuk tanpa ampun.

Sepuluh menit pertama perpanjangan waktu, Belgia menghunjam pertahanan AS dengan daya gempur dan semangat baru. Tim Howard, kiper AS, yang tampil heroik menyelamatkan gawang AS dari gempuran Belgia selama 90 menit (sampai di twitter ada hashtag #HowardForPresident), akhirnya menyerah. Lukaku dan De Bryon menusuk patah dan menghabisi perjuangan Howard. AS harus menyerah dengan skor 2 – 1. Meski Green mampu memberi satu gol bagi AS, dan 10 menit terakhir milik AS, perjuangan itu tak cukup.

Duel Belgia – AS dinihari tadi menutup partai 16 besar Piala Dunia 2014. Menariknya, sebagian besar pertandingan di 16 besar ini diakhiri dengan perpanjangan waktu. Bahkan adu penalti.  Brazil vs Chile, Costa Rica vs Yunani, Jerman vs Aljazair, dan Argentina vs Swiss, berakhir dengan skor 0-0, sebelum dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Belanda bahkan menang di ujung waktu, dua gol disarangkan di menit 88 dan 91. Hampir saja berakhir seri 1 -1.

Inilah catatan menarik dari Piala Dunia 2014. Pertandingan berlangsung semakin menawan dan tidak mudah. Semua kesebelasan menyadari bahwa barangsiapa bisa mengalahkan lawan, maka ia sampai di ujung batas dunia bola. Para filsuf menyebutnya “Nirwana Bola”. Itulah titik Ma’rifat perjalanan sebuah Tim. Di Nirwana, tiada lagi bola, yang ada hanyalah PIALA. Atau balasan surgawi berupa regukan kenikmatan tiada bertepi.

Menyambut babak perempat final yang akan dimulai esok, kiranya kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari pertandingan di babak penyisihan dan 16 besar.

Pelajaran Pertamathere is no easy way to win. Tidak ada kemenangan yang mudah. Hal itu terlihat dari sebagian besar pertandingan di babak 16 besar “dipaksa” harus selesai dengan perpanjangan waktu dan adu penalti. Ini berarti bahwa mencapai kemenangan tidak seperti membalik telapak tangan, bahkan saat menghadapi lawan yang kita anggap lebih lemah. Kita belajar dari 16 besar ini bahwa tidak bisa memandang remeh lawan. Bahkan tidak boleh terlalu percaya diri.

Siapa sangka kalau Argentina harus bermain ekstra keras menghadapi Swiss (yang notabene kelasnya masih di bawah Argentina), atau Brazil yang harus susah payah adu penalti menghadapi Chile. Jadi, kita juga tak bisa memandang remeh terhadap permasalahan yang ada. Terhadap pekerjaan kita. Terhadap tugas sehari-hari. Karena sifat menganggap remeh dapat membuat kita alpa dan meleset pada kegagalan. Kemenangan selalu membutuhkan kerja keras dan kehati-hatian.

Pelajaran Kedua, patience is virtue. Kemenangan hanya bisa diperoleh bagi mereka yang sabar. Kesabaran adalah keutamaan. Selama 90 menit kesebelasan Belgia menggedor gawang Tim Howard. Selama itu juga pertahanan AS bergerak disiplin melalui zona marking. Tapi lewat masa 90 menit, Belgia terlihat lebih sabar. AS lengah. Dan kemenangan milik sang penyabar. Pelajaran kehidupan ini perlu kita renungkan, karena tak sedikit dari kita yang kerap tak sabar, baik perkara sekolah, pekerjaan, karir, pangkat, atau gaji. Ketidaksabaran umumnya berujung pada keluhan demi keluhan, hingga akhirnya kegagalan. Kita harus ingat pepatah, semua indah pada waktunya.

Pelajaran Ketiga, perlunya belajar dan belajar. Kesebelasan yang lolos ke 8 besar, bukan kesebelasan kemarin sore. Permainan AS sangat cantik, Swiss juga, tapi untuk mengatasi Belgia dan Argentina, mereka masih perlu baca banyak buku lagi. Mereka harus mengakui, mengalahkan kesebelasan Juara Dunia, hanya sebuah utopia. Atau seperti yang dikatakan Jacques Derrida, tokoh posmodernis Prancis, yang mengatakan itu adalah suatu l’im-possible (sebuah ketidak-mungkinan). Tapi ketidakmungkinan bisa jadi kemungkinan dengan belajar. Costa Rica telah membuktikan itu, terus menerus belajar membuat mereka bisa menembus delapan besar.

Dan terakhir, di bulan Ramadhan ini, saya teringat tulisan D.A Rindes dalam bukunya “Nine Saints of Java” yang mengibaratkan buah kelapa sebagai metafora atas hakikat dan syariat. Ibadah sebagai nyiur dan shariat hanya kulitnya. ”Kulitnya itu ibarat shariat. Tempurungnya itu ibarat Tarikat, Isinya itu ibarat HakikatMinyaknya itu ibarat ma’rifat”. Kita sering melihat kesuksesan orang itu dari luarnya saja. Padahal apa yang tampak, masih menyimpan cerita panjang sebuah perjuangan. Yang kelihatan hanya kulit, bahwa ia sukses. Di baliknya, ada kerja keras dan ketekunan.

Kesebelasan Juara, seperti Brazil, Jerman, atau Argentina, itu dapat diibaratkan kita lihat seperti shariat, kulit semata. Besar, hebat, dan juara. Tapi kita kerap lupa, bahwa di balik kebesaran mereka itu, ada tarikat, ada hakikat, dan ada ma’rifat. Di balik kesebelasan Brazil, ada kerja keras, ada konsistensi, ada disiplin, ada integritas.

Saat teman sebayanya tidur, Neymar (pemain Brazil) bangun jam 4 pagi untuk menendang-nendang bola. Saat teman sebayanya bermalas2an di siang hari, Neymar melatih fisiknya berlari di pantai  yang terik. Keajegan dalam berlatih adalah kunci sukses Neymar. Untuk itu, ia rela kehilangan kesenangan-kesenangan di masa mudanya. Ia rela membangun habitus yang mau menunda kesenangan (deffered gratification).

Sebagai bangsa Indonesia, ketiga hal tadi bisa jadi pelajaran kita. Kita perlu kerja lebih keras. Perlu lebih serius, ajeg, dan perlu menunda kesenangan-kesenangan sesaat, untuk masa depan yang lebih baik. Menghadapi pemilu pilpres nanti, nilai-nilai ini juga bisa dijadikan pedoman. Membangun bangsa Indonesia bukan perkara satu dua malam. Ia membutuhkan konsistensi, ketekunan, dan tidak mudah menyerah. Di sinilah harapan kita pada Presiden baru nanti, siapapun yang terpilih, untuk dapat menjaga ketekunan dan kesabaran bangsa dalam membangun dirinya. Dan membangun sebuah habitus, hanya akan bisa sukses lewat sebuah laku, bukan dengan kata-kata semata.

Mari kita belajar dari Piala Dunia 2014. Mari kita sambut dimulainya babak delapan besar. Selamat Menyaksikan. Selamat menjagokan kesebelasan anda. Dan semoga Indonesia dapat memilih Presiden yang tepat dan mampu membawa bangsa ini lebih baik lagi.

(tulisan ini dibuat usai menyaksikan pertandingan terakhir dari partai 16 besar di Piala Dunia 2014, Brazil, antara Kesebelasan Amerika Serikat melawan kesebelasan Belgia (2/7)

Jazz Gunung 2014 Kembali Hangatkan Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Jazz Gunung 2014 terlihat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain keunikan tema, yaitu Sedekah Bumi, pengunjung yang datang tahun ini sungguh membludak. Tema Sedekah Bumi, menurut Sigit Pramono, salah satu penggagas Jazz Gunung yang juga Ketua Perbanas, mengajak masyarakat untuk kembali ke alam. Kita sudah banyak mengambil dari alam, saatnya kita mengembalikan benih kebaikan pada alam.

Sigit mengajak kita semua untuk mencintai lingkungan, tidak merusak alam, dan jangan membuang sampah sembarangan. Sedekah Bumi juga bisa dilakukan dengan Bunyi. Di sinilah bunyi musik jazz yang menyatu dengan alam memberi makna pada keindahan dan kesejukan udara di pegunungan Bromo tadi malam.

Ya, di bawah udara sejuk pegunungan, secangkir kopi hangat, dan sederetan penyanyi terkenal, menyaksikan jazz gunung bagai ritual yang harus saya lakukan setiap tahun di Gunung Bromo.

Tahun 2014 ini adalah kali keenam event Jazz Gunung digelar di Bromo. Semakin tahun pengunjung yang datang semakin ramai, dan jazz gunung mulai terdengar hingga mancanegara. Semalam (21/6), pengunjung membludak hingga sekitar 1700 orang. Pergelaran yang diselenggarakan di Amphitheater Java Banana Bromo, Kabupaten Probolinggo, sejak tanggal 20 hingga 21 Juni 2014 tersebut, sungguh penuh sesak dengan penonton.

Hawa dingin pegunungan yang menusuk tidak menghalangi meriahnya para penonton dan pemusik untuk menghangatkan malam. Tahun ini, udara cerah hingga pertunjukkan usai. Berbeda dengan tahun lalu, yang sempat turun hujan sehingga pertunjukan sempat dihentikan sementara, semalam pertunjukan berjalan lancar di bawah gemerlap langit berbintang.

Pertunjukan Jazz Gunung bagi saya sungguh sangat menghibur dan menyenangkan. Pembawa acara adalah ruh dari hidupnya petunjukan malam itu. Butet Kartaredjasa, bersama dengan Alit dan Gundhi tampil luar biasa, lucu menghibur melontarkan ceplosan yang ringan tapi menyentil ke sana sini, mulai dari pemerintah, khususnya pembangunan infrastruktur akses Bromo, para pemusik, hingga suasana menjelang pilpres saat ini.

Beberapa artis yang tampil di Jazz Gunung 2014 selama dua hari kemarin juga bukan sembarangan. Di hari kedua, saya terkesan dengan penampilan dari Nita Aartsen Quatro dan Yeppy Romero, yang tampil sungguh ciamik. Kecepatan tangan Nita di atas piano membawakan musik klasik yang dikomposisi bernuansa latin mampu menghibur penonton. Tembang Turkish March klasik, lagi Chick Korea dibawakan dengan piawai. Yeppy Romero tampil membawakan gitar klasik ala penyanyi Spanyol. Dengan jubah merahnya, petikan gitarnya membawa penonton ke dalam suasana kota Madrid di tengah pertandingan para matador.

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Djaduk Ferianto bersama Ring of Fire Project adalah highlight malam itu. Mereka tampil bersama Nicole Johänntge, seorang saxophonist dari Jerman. Nicole tampil sungguh luar biasa. Tiupan saxophone, mengiringi musik Djaduk, membius penonton. Lagu-lagu, seperti Ritme Khatulistiwa, dibawakan secara dinamis, saling bersahutan antara perkusi tradisional dengan tiupan saxophone Nicole.

Puncak acara malam terakhir Jazz Gunung 2014 adalah penampilan ESQI:EF – Syaharani and Queenfireworks. Di bawah udara yang semakin dingin menusuk, Syaharani membakar para penonton. Diawali lagu lembut lawas “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”, ia mulai menghentak dengan lagu-lagu berirama riang dari album-albumnya. Penonton ikut terbakar, menyanyi, bergoyang bersama. Meriah, sungguh meriah.

Saat lagu “Happy” dari Pharrel William dinyanyikan juga oleh Syaharani, penonton semakin bergairah. Mereka bersahut-sahutan dan saling menari ke kiri dan ke kanan.

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Jazz Gunung tahun 2014 ini terhitung sukses dan semakin menyematkan diri sebagai satu dari sekian pertunjukan musik di Indonesia yang punya kelas internasional. Bintang lain yang tampil tahun 2014 ini antara lain adalh The Overtunes, Monita Tahalea & The Nightingales, , Indro Hardjodikoro The Fingers, Bintang Indrianto Trio, Jazz Ngisoringin, serta Sanggar Genjah Arum Banyuwangi.

Satu lagi yang membuat pertunjukan kali ini berbeda adalah kehadiran pak Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, untuk menyaksikan Jazz Gunung kali ini. Bersama pak Sigit, saya sempat berbincang singkat, dan pak Bupati menyampaikan maksudnya untuk memboyong Jazz Gunung ke Banyuwangi. Ya, bulan November nanti, Banyuwangi akan menggelar juga pertunjukan jazz semacam ini, di pantai Banyuwangi.

Ini adalah sebuah berita bagus. Apabila beberapa daerah mampu menyelenggarakan event-event berkelas internasional, dan mendatangkan berbagai artis lokal maupun global, ekonomi kreatif Indonesia akan semakin tumbuh. Bukan hanya di pusat, tapi juga di daerah-daerah.

Jazz Gunung adalah sebuah penanda, semoga ia bisa menebarkan semangat kreativitas, dan kepedulian, ke seluruh daerah di Indonesia. Salam semangat.