Mencari Kebahagiaan di Amsterdam

 

Anatomi Babi asli di pintu masuk Body Worlds Amsterdam / junanto

Anatomi Babi asli di pintu masuk Body Worlds Amsterdam / junanto

Di Amsterdam, kebahagiaan atau happiness adalah kata kunci yang dipegang hampir setiap warganya. Sebagai kota, yang masuk dalam jajaran kota paling bahagia sedunia, upaya meraih kebahagiaan adalah proyek hidup yang terus menerus diperbaiki.

Apa yang membuat orang Amsterdam, atau Belanda pada umumnya, bahagia? Salah satunya adalah statistik. Belanda mempelajari cara untuk menjadi bahagia. Dari statistik dan anatomi tubuh, dibuatlah semacam proyek kebahagiaan. Ini yang menarik, karena terbukti bahwa bahagia bisa diraih dengan latihan dan penelitian.

Memang terdengar terlalu tekhnis, tapi di Belanda, segalanya menjadi tekhnis dan detail. Saat mampir ke Amsterdam, saya mengunjungi satu Proyek Kebahagiaan Belanda yang dikemas dalam bentuk sebuah museum. Namanya Body Worlds: The Happiness Project. Letaknya di Damrak, dan menjadi salah satu ikon wisata kota Amsterdam.

Adalah seorang Jerman bernama Gunther von Hagens yang mengawali ide ini. Setelah melakukan pameran proyeknya ini, di berbagai kota, ia membangun pameran tetap di Amsterdam.

Apa yang menarik dan unik dari Proyek Kebahagiaan ini? Body Worlds menampilkan satu tema penting untuk kita renungkan, yaitu mengenai tubuh manusia dan pengaruh dari berbagai faktor, mulai dari fisik tubuh hingga emosi, pada kesehatan dan kebahagiaan manusia.

Premisnya sederhana. Apabila tubuh diberi input kesengsaraan dan kesulitan secara terus menerus, manusia akan cenderung tidak bahagia. Demikian pula sebaliknya. Di sini, von Hagens mengambil riset pada berbagai manusia dan menampilkannya utuh di museum ini. Ada lebih dari 200 jasad manusia asli, bukan display boneka, yang ditampilkan di museum body worlds. Berbagai jasad manusia itu, dibedah, dikuliti, dan diawetkan, sehingga kita bisa melihat kompleksitas tubuh manusia, termasuk kekuatan dan kerentanan tubuh.

Dari mana berbagai jasad itu berasal? Museum ini memberikan informasi bahwa jasad-jasad tersebut berasal dari para donatur, yang merelakan tubuhnya digunakan untuk ilmu pengetahuan setelah mereka meninggal.

Jasad-jasad manusia yang diawetkan dengan cara khusus oleh von Hagens tersebut bercerita bahwa kebahagiaan bisa diteliti. Tubuh yang bahagia, umumnya muncul dari kebiasaan fisik dan emosi yang bahagia. Kebiasaan merokok dan stress misalnya, bisa memicu ketidakbahagiaan. Di museum ini, ditampilan organ manusia yang terkena kanker paru-paru akibat merokok, dan otak yang rusak karena stroke. Kita diajak merasakan dampak dari kebiasaan negatif yang ditumpuk sekian lama.

Museum ini menyampaikan pesan bahwa gerak fisik bisa menimbulkan kebahagiaan. Orang yang rajin berolahraga biasanya lebih bahagia dari yang malas bergerak. Di sini, kita diajak untuk senantiasa melatih fisik, gaya hidup sehat. Namun di lain sisi, fisik juga harus diimbangi oleh jiwa dan emosi yang stabil. Kita harus juga mampu melatih emosi kita, agar tidak terjebak stress, tegang, yang berujung pada ketidakbahagiaan.

Memasuki museum Body Worlds ini menurut saya sesuatu banget, dan menjadi satu pengalaman yang “must try” kalau ke Amsterdam. Dengan tiket seharga 20 euro per orang (bisa lebih murah kalau beli online), kita diajak menyelami kembali makna kehidupan ini. Hidup pada ujungnya, bukanlah mencari materi. Tapi pada ujungnya, yang dicari oleh manusia ini, dengan berbagai aktivitasnya, adalah kebahagiaan atau eudomonia menurut Yunani Kuno.

Amsterdam membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi, tanpa kebahagiaan, adalah sia-sia. Pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita, keamanan, kesehatan, dan fungsi institusi yang baik, adalah prasyarat dasar kebahagiaan. Tanpa ekonomi yang baik, pendapatan per kapita yang memadai, sulit meraih kebahagiaan. Namun itu bukan tujuan, setelah semua yang bersifat materi diraih, kebahagiaan bukan sebuah perkara sederhana. Ia membutuhkan kebiasaan, pelatihan emosi, agar dapat pasrah, dan ringan, dalam menghadapi kehidupan dan segala tantangannya. Di sini baru berlaku, uang tidak selamanya membawa kebahagiaan.

Bahagia, di Belanda, adalah soal tekhnis. Bisa dipelajari. Untuk tahu lebih dalam dan detil, silakan mampir ke Body Worlds Amsterdam, bila sedang berkunjung ke sana. Salam Bahagia.

Bersepeda di Amsterdam

Cycling in Amsterdam

Cycling in Amsterdam

Tidak ada cara yang paling mudah untuk menyusuri kota Amsterdam, selain menggunakan sepeda. Ya, sepeda di Amsterdam adalah bagian dari nafas kota itu sendiri. Jumlah sepeda saja lebih banyak dari jumlah penduduknya. Di mana-mana kita melihat orang bepergian naik sepeda. Bahkan pejabat pemerintah, termasuk Menteri di Pemerintahan Belanda, kalau bepergian kerap menggunakan sepeda.

Oleh karena itu, saat mengunjungi Amsterdam bersama keluarga beberapa waktu lalu, saya memilih untuk menyewa sepeda agar lebih mengenal sudut-sudut kota. Menyewa sepeda di Amsterdam sangat mudah dan jauh lebih efisien ketimbang kita naik bis atau trem yang harus berganti-ganti kalau ingin ke satu tempat. Dengan sepeda, kita bisa berpindah-pindah ke tempat yang kita suka. Cukup dengan membawa peta.

Ada beberapa penyewaan sepeda yang terdapat di Amsterdam. Saya memilih menggunakan MacBike yang salah satu kiosnya ada di dekat Amsterdam Central Station. Cukup dengan sekitar 12 Euro per orang, kita sudah bisa menyewa sepeda seharian. Kita menyewa empat sepeda dan bersama-sama memulai perjalanan.

Satu kelebihan bersepeda di Amsterdam adalah infrastruktur untuk bersepedanya yang nyaman. Karena percuma kalau kita naik sepeda namun tidak ada infrastruktur yang memadai. Sepeda kita akan bersaing dengan motor dan mobil, yang justru malah membuat bersepeda berbahaya. Di Amsterdam, sepeda memiliki jalur tersendiri yang tidak mungkin diserobot mobil. Uniknya lagi, jalur-jalur sepeda itu terintegrasi dan saling terkoneksi antara satu dengan yang lain. Jadi, kalau kita mau pergi dari satu titik ke titik lainnya, yang memerlukan perpindahan jalan atau menyebrangi jalan besar, jalur sepedanya sudah terhubung. Nyaman bukan?

Nah, kami mengambil jalur atau rute sepeda sendiri, disesuaikan dengan ketertarikan kita sekeluarga. Dari Amsterdam Station, kita berbelok ke kiri menuju Maritime Museum di daerah Waterfornt, di depannya, kita belok kanan lalu masuk ke daerah Plantage. Kitapun menyusuri Plantage yang suasananya tenang dan penuh taman. Di Plantage kita berhenti di distrik yahudi, dan melihat Sinagog Portugis tua yang dibangun oleh kaum Yahudi.

Dari Plantage, kita meneruskan perjalanan menuju Sungai Amstel. Kita melewati Magere Brug, atau “Skinny Bridge”, yang merupakan jembatan tertua di Amsterdam. Lalu menyebrangi Sluice Gates yang masih berfungsi mengatur perjalanan kapal di sungai, termasuk mengatur pengairan di kota Amsterdam.

Dari situ kita lanjut menyusuri daerah Prinsengracht, atau menyusuri kawasan kanal Amsterdam. Jalan ini menarik karena banyak terdapat butik-butik, seperti di Utrechstraat, Reguliersgracht, yang terkenal dengan tujuh jembatan berderetnya. Di Prinsengracht kita beristirahat sebentar dan berhenti di kedai ikan, atau Vishhandel, untuk memesan ikan haring mentah, holandse nieuwe haring. Sambil mencicipi haring, kita menikmati ketenangan kanal Amsterdam.

Berpose sebentar di Kanal Amsterdam

Berpose sebentar di Kanal Amsterdam

Kitapun meneruskan perjalanan ke Nieuw Spiegelstrat, untuk menuju Vondelpark. Ini adalah taman yang menjadi salah satu ikon kota Amsterdam. Di sana, khususnya pada musim panas, banyak warga Amsterdam yang keluar dan berpiknik bersama. Dari Vondelpark, kita menuju Rijkmuseum. Di belakang Rijkmuseum ada taman yang menjadi tempat kumpul warga Amsterdam maupun turis asing.

Kita berpose di satu ikon kota yang kini menjadi populer, yaitu tulisan besar I AMsterdam. Di kota ini ada tiga ikon besar tersebut, satu diletakkan di Rijkmuseum, lalu satu di Schiphol Airport, dan satu lagi berpindah-pindah sesuai waktunya.

I AMsterdam

I AMsterdam

Dari I AMsterdam ikon, kita kembali ke Central Station melewati Dam, atau alun-alun kota, tempat Royal Palace berada.

Bersepeda di Amsterdam sangat mengasyikkan. Selain sehat dan hemat, kita bisa belajar bagaimana suatu kota mengelola lalu lintasnya, dari dominasi mobil dan motor, menjadi dominasi sepeda. Sebelumnya, hingga tahun 1970, kota Amsterdam hiruk pikuk dan kacau oleh tumbuhnya masyarakat menengah dan penggunaan mobil. Persis seperti keadaan kota Jakarta sekarang. Di Amsterdam saat itu, macet di mana-mana. Penggunaan mobil membludak, kecelakaan meningkat, dan kematian anak akibat kecelakaan mobil tinggi.

Dari kondisi itulah mereka berpikir, Amsterdam, atau Belanda pada umumnya, tidak bisa dibiarkan berkembang begitu saja tanpa arah. Berbagai aksi kampanye dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. Gerakan naik sepeda dibangun. Hal ini tidak berlangsung satu pihak, namun juga ditanggapi positif oleh Pemerintah Belanda, dengan membangun infrastruktur. Jalur untuk sepeda dibangun, diperluas, dan jalur untuk mobil dikurangi. Masyarakat, baik oleh kesadaran ataupun dipaksa keadaan, berpindah menggunakan sepeda. Awalnya memang sulit dan butuh kerja keras, tapi kini, sepeda telah menjadi budaya, atau habit dan keseharian masyarakat Belanda.

Bukan itu saja, wisata sepeda, seperti yang baru saja saya lakukan, menjamur di kota Amsterdam. Menambah marak kota, dan tentunya mendukung turisme dan ekonomi lokal.

Proses Amsterdam menuju Kota Sepeda, bukan proses kebetulan, dan bukan proses satu malam. Butuh waktu panjang juga. Ada konsistensi, keteguhan hati masyarakat, dan yang paling penting dukungan total dari Pemerintah. Sinergi semua institusi ini adalah kunci. Naik sepeda tak cukup hanya dengan membangun komunitas bersepeda. Itu penting dan harus dilakukan memang untuk membangun kesadaran. Tapi apabila hal itu tidak didukung pemerintah, maka gerakan bersepeda hanya menjadi hobi atau gaya hidup beberapa kalangan. Karena kenyataan di lapangan saat ini, naik sepeda bisa jadi masih berbahaya, terutama saat bersaing dengan mobil, bis, kendaraan umum, bajaj, hingga sepeda motor. Belum lagi asap knalpot kendaraan yang harus kita hirup.

Nah, kalau Belanda bisa, pastinya kita juga bisa. Tak sulit, hanya butuh kemauan dan kerjasama. Eeeh, tapi justru itu yang paling sulit kan ye hehehe….

Salam Gowes.

Salam Gowes

Salam Gowes

Menggapai Nirwana Bola

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Saat Lukaku dimasukkan ke lapangan oleh Pelatih Belgia, Marc Wilmots, dinihari tadi (2/7), getar kecemasan langsung dirasakan oleh para pemain kesebelasan Amerika Serikat (AS). Lukaku, akhirnya jadi Lukamu, jadi Luka bagi kesebelasan AS. Ya, Romelu Lukaku, pemain muda berbakat yang dikontrak Chelsea dan pernah bermain di Anderlecht, adalah “senjata pamungkas” yang dikeluarkan di masa perpanjangan waktu. Setelah 90 menit bermain ketat dan imbang, masa perpanjangan waktu adalah masa penentuan. Dalam kisah pewayangan, senjata pamungkas dikeluarkan pada jeda waktu itu. Dan Lukaku, adalah senjata Wilmots. Ia keluar, bermain, dan menusuk tanpa ampun.

Sepuluh menit pertama perpanjangan waktu, Belgia menghunjam pertahanan AS dengan daya gempur dan semangat baru. Tim Howard, kiper AS, yang tampil heroik menyelamatkan gawang AS dari gempuran Belgia selama 90 menit (sampai di twitter ada hashtag #HowardForPresident), akhirnya menyerah. Lukaku dan De Bryon menusuk patah dan menghabisi perjuangan Howard. AS harus menyerah dengan skor 2 – 1. Meski Green mampu memberi satu gol bagi AS, dan 10 menit terakhir milik AS, perjuangan itu tak cukup.

Duel Belgia – AS dinihari tadi menutup partai 16 besar Piala Dunia 2014. Menariknya, sebagian besar pertandingan di 16 besar ini diakhiri dengan perpanjangan waktu. Bahkan adu penalti.  Brazil vs Chile, Costa Rica vs Yunani, Jerman vs Aljazair, dan Argentina vs Swiss, berakhir dengan skor 0-0, sebelum dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Belanda bahkan menang di ujung waktu, dua gol disarangkan di menit 88 dan 91. Hampir saja berakhir seri 1 -1.

Inilah catatan menarik dari Piala Dunia 2014. Pertandingan berlangsung semakin menawan dan tidak mudah. Semua kesebelasan menyadari bahwa barangsiapa bisa mengalahkan lawan, maka ia sampai di ujung batas dunia bola. Para filsuf menyebutnya “Nirwana Bola”. Itulah titik Ma’rifat perjalanan sebuah Tim. Di Nirwana, tiada lagi bola, yang ada hanyalah PIALA. Atau balasan surgawi berupa regukan kenikmatan tiada bertepi.

Menyambut babak perempat final yang akan dimulai esok, kiranya kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari pertandingan di babak penyisihan dan 16 besar.

Pelajaran Pertamathere is no easy way to win. Tidak ada kemenangan yang mudah. Hal itu terlihat dari sebagian besar pertandingan di babak 16 besar “dipaksa” harus selesai dengan perpanjangan waktu dan adu penalti. Ini berarti bahwa mencapai kemenangan tidak seperti membalik telapak tangan, bahkan saat menghadapi lawan yang kita anggap lebih lemah. Kita belajar dari 16 besar ini bahwa tidak bisa memandang remeh lawan. Bahkan tidak boleh terlalu percaya diri.

Siapa sangka kalau Argentina harus bermain ekstra keras menghadapi Swiss (yang notabene kelasnya masih di bawah Argentina), atau Brazil yang harus susah payah adu penalti menghadapi Chile. Jadi, kita juga tak bisa memandang remeh terhadap permasalahan yang ada. Terhadap pekerjaan kita. Terhadap tugas sehari-hari. Karena sifat menganggap remeh dapat membuat kita alpa dan meleset pada kegagalan. Kemenangan selalu membutuhkan kerja keras dan kehati-hatian.

Pelajaran Kedua, patience is virtue. Kemenangan hanya bisa diperoleh bagi mereka yang sabar. Kesabaran adalah keutamaan. Selama 90 menit kesebelasan Belgia menggedor gawang Tim Howard. Selama itu juga pertahanan AS bergerak disiplin melalui zona marking. Tapi lewat masa 90 menit, Belgia terlihat lebih sabar. AS lengah. Dan kemenangan milik sang penyabar. Pelajaran kehidupan ini perlu kita renungkan, karena tak sedikit dari kita yang kerap tak sabar, baik perkara sekolah, pekerjaan, karir, pangkat, atau gaji. Ketidaksabaran umumnya berujung pada keluhan demi keluhan, hingga akhirnya kegagalan. Kita harus ingat pepatah, semua indah pada waktunya.

Pelajaran Ketiga, perlunya belajar dan belajar. Kesebelasan yang lolos ke 8 besar, bukan kesebelasan kemarin sore. Permainan AS sangat cantik, Swiss juga, tapi untuk mengatasi Belgia dan Argentina, mereka masih perlu baca banyak buku lagi. Mereka harus mengakui, mengalahkan kesebelasan Juara Dunia, hanya sebuah utopia. Atau seperti yang dikatakan Jacques Derrida, tokoh posmodernis Prancis, yang mengatakan itu adalah suatu l’im-possible (sebuah ketidak-mungkinan). Tapi ketidakmungkinan bisa jadi kemungkinan dengan belajar. Costa Rica telah membuktikan itu, terus menerus belajar membuat mereka bisa menembus delapan besar.

Dan terakhir, di bulan Ramadhan ini, saya teringat tulisan D.A Rindes dalam bukunya “Nine Saints of Java” yang mengibaratkan buah kelapa sebagai metafora atas hakikat dan syariat. Ibadah sebagai nyiur dan shariat hanya kulitnya. ”Kulitnya itu ibarat shariat. Tempurungnya itu ibarat Tarikat, Isinya itu ibarat HakikatMinyaknya itu ibarat ma’rifat”. Kita sering melihat kesuksesan orang itu dari luarnya saja. Padahal apa yang tampak, masih menyimpan cerita panjang sebuah perjuangan. Yang kelihatan hanya kulit, bahwa ia sukses. Di baliknya, ada kerja keras dan ketekunan.

Kesebelasan Juara, seperti Brazil, Jerman, atau Argentina, itu dapat diibaratkan kita lihat seperti shariat, kulit semata. Besar, hebat, dan juara. Tapi kita kerap lupa, bahwa di balik kebesaran mereka itu, ada tarikat, ada hakikat, dan ada ma’rifat. Di balik kesebelasan Brazil, ada kerja keras, ada konsistensi, ada disiplin, ada integritas.

Saat teman sebayanya tidur, Neymar (pemain Brazil) bangun jam 4 pagi untuk menendang-nendang bola. Saat teman sebayanya bermalas2an di siang hari, Neymar melatih fisiknya berlari di pantai  yang terik. Keajegan dalam berlatih adalah kunci sukses Neymar. Untuk itu, ia rela kehilangan kesenangan-kesenangan di masa mudanya. Ia rela membangun habitus yang mau menunda kesenangan (deffered gratification).

Sebagai bangsa Indonesia, ketiga hal tadi bisa jadi pelajaran kita. Kita perlu kerja lebih keras. Perlu lebih serius, ajeg, dan perlu menunda kesenangan-kesenangan sesaat, untuk masa depan yang lebih baik. Menghadapi pemilu pilpres nanti, nilai-nilai ini juga bisa dijadikan pedoman. Membangun bangsa Indonesia bukan perkara satu dua malam. Ia membutuhkan konsistensi, ketekunan, dan tidak mudah menyerah. Di sinilah harapan kita pada Presiden baru nanti, siapapun yang terpilih, untuk dapat menjaga ketekunan dan kesabaran bangsa dalam membangun dirinya. Dan membangun sebuah habitus, hanya akan bisa sukses lewat sebuah laku, bukan dengan kata-kata semata.

Mari kita belajar dari Piala Dunia 2014. Mari kita sambut dimulainya babak delapan besar. Selamat Menyaksikan. Selamat menjagokan kesebelasan anda. Dan semoga Indonesia dapat memilih Presiden yang tepat dan mampu membawa bangsa ini lebih baik lagi.

(tulisan ini dibuat usai menyaksikan pertandingan terakhir dari partai 16 besar di Piala Dunia 2014, Brazil, antara Kesebelasan Amerika Serikat melawan kesebelasan Belgia (2/7)

Jazz Gunung 2014 Kembali Hangatkan Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Jazz Gunung 2014 terlihat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain keunikan tema, yaitu Sedekah Bumi, pengunjung yang datang tahun ini sungguh membludak. Tema Sedekah Bumi, menurut Sigit Pramono, salah satu penggagas Jazz Gunung yang juga Ketua Perbanas, mengajak masyarakat untuk kembali ke alam. Kita sudah banyak mengambil dari alam, saatnya kita mengembalikan benih kebaikan pada alam.

Sigit mengajak kita semua untuk mencintai lingkungan, tidak merusak alam, dan jangan membuang sampah sembarangan. Sedekah Bumi juga bisa dilakukan dengan Bunyi. Di sinilah bunyi musik jazz yang menyatu dengan alam memberi makna pada keindahan dan kesejukan udara di pegunungan Bromo tadi malam.

Ya, di bawah udara sejuk pegunungan, secangkir kopi hangat, dan sederetan penyanyi terkenal, menyaksikan jazz gunung bagai ritual yang harus saya lakukan setiap tahun di Gunung Bromo.

Tahun 2014 ini adalah kali keenam event Jazz Gunung digelar di Bromo. Semakin tahun pengunjung yang datang semakin ramai, dan jazz gunung mulai terdengar hingga mancanegara. Semalam (21/6), pengunjung membludak hingga sekitar 1700 orang. Pergelaran yang diselenggarakan di Amphitheater Java Banana Bromo, Kabupaten Probolinggo, sejak tanggal 20 hingga 21 Juni 2014 tersebut, sungguh penuh sesak dengan penonton.

Hawa dingin pegunungan yang menusuk tidak menghalangi meriahnya para penonton dan pemusik untuk menghangatkan malam. Tahun ini, udara cerah hingga pertunjukkan usai. Berbeda dengan tahun lalu, yang sempat turun hujan sehingga pertunjukan sempat dihentikan sementara, semalam pertunjukan berjalan lancar di bawah gemerlap langit berbintang.

Pertunjukan Jazz Gunung bagi saya sungguh sangat menghibur dan menyenangkan. Pembawa acara adalah ruh dari hidupnya petunjukan malam itu. Butet Kartaredjasa, bersama dengan Alit dan Gundhi tampil luar biasa, lucu menghibur melontarkan ceplosan yang ringan tapi menyentil ke sana sini, mulai dari pemerintah, khususnya pembangunan infrastruktur akses Bromo, para pemusik, hingga suasana menjelang pilpres saat ini.

Beberapa artis yang tampil di Jazz Gunung 2014 selama dua hari kemarin juga bukan sembarangan. Di hari kedua, saya terkesan dengan penampilan dari Nita Aartsen Quatro dan Yeppy Romero, yang tampil sungguh ciamik. Kecepatan tangan Nita di atas piano membawakan musik klasik yang dikomposisi bernuansa latin mampu menghibur penonton. Tembang Turkish March klasik, lagi Chick Korea dibawakan dengan piawai. Yeppy Romero tampil membawakan gitar klasik ala penyanyi Spanyol. Dengan jubah merahnya, petikan gitarnya membawa penonton ke dalam suasana kota Madrid di tengah pertandingan para matador.

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Djaduk Ferianto bersama Ring of Fire Project adalah highlight malam itu. Mereka tampil bersama Nicole Johänntge, seorang saxophonist dari Jerman. Nicole tampil sungguh luar biasa. Tiupan saxophone, mengiringi musik Djaduk, membius penonton. Lagu-lagu, seperti Ritme Khatulistiwa, dibawakan secara dinamis, saling bersahutan antara perkusi tradisional dengan tiupan saxophone Nicole.

Puncak acara malam terakhir Jazz Gunung 2014 adalah penampilan ESQI:EF – Syaharani and Queenfireworks. Di bawah udara yang semakin dingin menusuk, Syaharani membakar para penonton. Diawali lagu lembut lawas “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”, ia mulai menghentak dengan lagu-lagu berirama riang dari album-albumnya. Penonton ikut terbakar, menyanyi, bergoyang bersama. Meriah, sungguh meriah.

Saat lagu “Happy” dari Pharrel William dinyanyikan juga oleh Syaharani, penonton semakin bergairah. Mereka bersahut-sahutan dan saling menari ke kiri dan ke kanan.

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Jazz Gunung tahun 2014 ini terhitung sukses dan semakin menyematkan diri sebagai satu dari sekian pertunjukan musik di Indonesia yang punya kelas internasional. Bintang lain yang tampil tahun 2014 ini antara lain adalh The Overtunes, Monita Tahalea & The Nightingales, , Indro Hardjodikoro The Fingers, Bintang Indrianto Trio, Jazz Ngisoringin, serta Sanggar Genjah Arum Banyuwangi.

Satu lagi yang membuat pertunjukan kali ini berbeda adalah kehadiran pak Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, untuk menyaksikan Jazz Gunung kali ini. Bersama pak Sigit, saya sempat berbincang singkat, dan pak Bupati menyampaikan maksudnya untuk memboyong Jazz Gunung ke Banyuwangi. Ya, bulan November nanti, Banyuwangi akan menggelar juga pertunjukan jazz semacam ini, di pantai Banyuwangi.

Ini adalah sebuah berita bagus. Apabila beberapa daerah mampu menyelenggarakan event-event berkelas internasional, dan mendatangkan berbagai artis lokal maupun global, ekonomi kreatif Indonesia akan semakin tumbuh. Bukan hanya di pusat, tapi juga di daerah-daerah.

Jazz Gunung adalah sebuah penanda, semoga ia bisa menebarkan semangat kreativitas, dan kepedulian, ke seluruh daerah di Indonesia. Salam semangat.

 

Kopi Bondowoso Mendunia

Bersama Mat Husen, Petani Kopi Sukses di Ijen Raung

Bersama Mat Husen, Petani Kopi Sukses di Ijen Raung

“Kopi Bondowoso mengguncang dunia. Ini bukan khayalan pak, tapi kenyataan!”, demikian dikatakan oleh Mat Husein dan Pak Sukarjo kepada saya saat berkunjung ke perkebunan kopinya di lereng gunung Raung, Bondowoso, Jawa Timur. Mat Husein adalah satu dari sekitar 37 Kelompok Tani Kopi di Bondowoso yang merasakan perubahan nasib setelah mereka meningkatkan standar olahan kopinya.

Sekitar lima tahun lalu, Mat Husein dan kawan-kawannya hanyalah petani kopi miskin, yang produk olahan kopinya dihargai rendah oleh pasar. Padahal di lahan seluas 2400 hektar, mereka menanam kopi jenis Robusta dan Arabika unggulan. Proses tata niaga yang panjang, sistem ijon yang tidak menguntungkan, menjadikan para petani kopi harus rela apabila kopinya dihargai dengan sangat rendah oleh para tengkulak.

Adalah Pemerintah Kota Bondowoso, dengan menggandeng berbagai elemen, yang bertekad untuk menjadikan Kopi Bondowoso menembus pasar dunia, dan mengangkat nasib petani. Bekerjasama dengan Asosiasi Petani Kopi, Bank Indonesia Jember, Bank Jatim, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Masyarakat Indikasi Geografis, dan PT Indocom Citra Persada, Pemerintah Kota Bondowoso sejak tahun 2010 melakukan studi untuk memperbaiki proses pengolahan dan tata niaga kopi.

Selama empat tahun, para petani kopi di Gunung Raung dibina dan dilatih untuk mengolah kopi dengan standar internasional. Sebelumnya, pengolahan kopi dilakukan secara tradisional. Kopi dijemur di tanah atau aspal sehingga rasanya bercampur tanah. Pemilahan kopi matang dan mentah juga tidak dilakukan, sehingga kualitas biji kopi jadi rendah.

Ketujuh elemen tersebut kemudian bersinergi memperbaiki proses pengolahan, penyediaan infrastruktur seperti gudang dan pengairan, hingga tata niaga. Saya menyaksikan sendiri bagaimana kopi di Gunung Raung ini diolah secara teliti dan rapi. Kualitasnya pun kini sudah mendapat sertifikasi internasional. PT Indocom juga langsung membeli biji kopi dari petani untuk diekspor, sehingga memotong proses panjang rantai distribusi.

Bank Indonesia Jember membantu menyediakan pipanisasi sepanjang lima kilometer untuk mencuci dan membersihkan kopi. Sebelumnya, air yang digunakan harus berbagi dengan warga sehingga akibatnya kopi tidak tercuci bersih karena kekurangan air.

Hasilnya, kini para petani kopi Gunung Raung bisa mengekspor biji kopi sebanyak 300 ton setahun ke mancanegara (dari potensinya sebesar 6000 ton). Kopi, yang diberi label Ijen Raung Coffee itu, diekspor ke berbagai negara Eropa seperti Belanda, Italia, Swiss, juga ke Australia, Jepang, dan Amerika. Bahkan menurut Asisten Ekonomi Pemerintah Kota Bondowoso, gerai Starbucks di Amerika Serikat sudah menggunakan kopi Bondowoso untuk jenis Java Coffe-nya.

Petani Kopi di Ijen Raung melakukan proses pengolahan kopi/ photo junanto

Petani Kopi di Ijen Raung melakukan proses pengolahan kopi/ photo junanto

Menurut mas Joko dari Puslit Kopi dan Kakao, Java Coffee yang ada di mancanegara dapat dipastikan berasal dari Gunung Raung Bondowoso ini. Ia menceritakan ada seorang Belanda yang pernah mencicipi secangkir kopi di Italia. Saking terkesannya, ia kemudian mencari asal kopi yang nikmat itu. Ia melakukan perjalanan mencicipi kopi di berbagai wilayah nusantara. Dari Aceh hingga Toraja. Tapi baru ia temukan kopi yang sama dengan yang dicicipinya di Italia, saat sampai di Bondowoso. Ia kemudian menjadi pembeli tetap produk Kopi Ijen Raung Bondowoso.

Dari sisi petani kopi, perbaikan taraf hidup juga dirasakan langsung oleh para petani kopi di Bondowoso. Saya bertanya pada Pak Sukarjo, yang telah menjadi petani kopi sejak tahun 1986. Seperti Mat Husein, Pak Sukarjo kini bangga dengan pencapaian kopi Bondowoso. Sejak empat tahun terakhir ini, penghasilan dan taraf hidup mereka meningkat. Ekspor kopi ke mancanegara telah mengubah kehidupan di desa mereka.

Pengangguran juga berkurang karena industri pengolahan kopi melibatkan banyak tenaga kerja, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Pada gilirannya, kemiskinan juga berkurang signifikan di Bondowoso. Tak heran bila pada tahun 2014 ini, Bondowoso mendapat penghargaan dari Gubernur Jatim atas kebijakannya yang pro-poor karena mampu menurunkan tingkat kemiskinan.

Tapi pak Sukarjo tak puas dengan penghargaan. “Kalau soal penghargaan sih pak, sejak jaman Presiden Soeharto saya sering diberi penghargaan”, demikian ujarnya sambil menyebutkan sederet penghargaan karena dedikasinya sebagai petani kopi.

“Bukan penghargaan yang saya cari. Tapi saya ingin Kopi Bondowoso ini mengguncang dunia, menembus pasar dunia, dikenal banyak orang. Karena ini adalah biji kopi terbaik dunia !”, demikian ucapnya dengan nada bicara yang bergetar menahan haru.

Pak Karjo dan Mat Husein adalah contoh para pejuang ekonomi yang punya idealisme tinggi. Mereka bukan sekedar mengolah dan menjual kopi. Tapi punya cita-cita bagaimana agar kopi Indonesia bisa  terus mendunia, dan tentunya nasib petani kopi bisa meningkat lebih baik.

Kopi Ijen Raung menjadi contoh klaster kopi yang sukses di Indonesia. Pengelolaan yang dilakukan secara “keroyokan”, saling bersinergi antar berbagai elemen, bisa menjadi contoh bahwa penyelesaian masalah bangsa ini membutuhkan kerjasama, sinergi, dan saling menghargai. Semoga klaster ini bisa menginspirasi berbagai daerah dan wilayah lainnya untuk memperkuat komoditas-komoditas unggulannya, dan memperbaiki taraf hidup para petani.

Salam Kopi.

Bertemu Kawan Instagram di Amerika

Meet Cale, new friend from instagram, in Washington DC

Meet Cale, new friend from instagram, in Washington DC

Saya masih suka amazed dengan yg namanya social media. Beberapa kali saya merasakan bagaimana dari social media bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak kawan baru. Saya berkenalan dengan mbak Trinity Traveler melalui media twitter. Saat itu ia sedang di Tokyo, kita lalu berjumpa, bahkan Trinity sempat mampir satu malam di rumah kami. Setelah itu kita jadi berteman. Penerbitan tulisan saya di beberapa majalah, bahkan hingga penerbitan buku saya, tak lepas dari jasa Trinity. Awalnya, hanya social media.

Banyak lagi teman-teman yang saya kenal dari social media. Dari facebook saya banyak berkenalan dengan kawan, baik di Indonesia maupun di luar negri. Perkenalan itu menurut saya lebih banyak positif dan konstruktifnya. Kita menambah silaturahmi, memperpanjang jaringan pertemanan, hingga tentunya saling memberi manfaat dan ilmu pengetahuan. Di blog Kompasiana, saya merasakan persahabatan yang luar biasa. Awalnya kami hanya mengenal dari komentar ataupun tulisan di blog. Namun admin Kompasiana sangat aktif mengadakan kopi darat. Kita lalu jadi saling mengenal, dan terus berhubungan akrab hingga sekarang.

Menambah kawan adalah sebuah hal menyenangkan. Dan beberapa waktu lalu, saya merasakan lagi pengalaman yang tak terlupakan. Kali ini dari social media Instagram milik saya. Sejak “brand” Flying Traveler disematkan di instagram saya, para penggemar foto levitasi banyak yang menjadi kawan saya di instagram. Mereka berasal dari berbagai negara, mulai dari Amerika Latin, Eropa, Asia, bahkan sebagian besar dari Amerika Serikat.

Oleh karena itu, saat mampir ke Washington DC beberapa waktu lalu, saya memposting beberapa foto levitasi di sana. Caption yang saya buat adalah memberi salam pada kawan di AS, bahwa saya sedang mampir di sana.

Selang beberapa saat, saya menerima satu message dari seorang kawan instagram yang berasal dari Texas. Katanya, ia juga sedang berada di Washington DC. Ia sudah lama menjadi follower di instagram saya dan mengikuti perjalanan levitasi saya di berbagai tempat. Cale Yarborough, namanya, mengajak saya untuk bertemu muka. Pertama, ia ingin bertemu dan berfoto bersama. Kedua, ia ingin minta diajari caranya melakukan levitasi. Nah, ini yang menarik.

Banyak orang di Amerika masih melihat levitasi sebagai sebuah trik atau foto dengan menggunakan aplikasi. Ada banyak memang aplikasi yang membuat seolah seseorang terbang. Padahal, saya tidak pernah menggunakan semuanya itu. Levitasi saya adalah levitasi murni, yang terbang tanpa menggunakan alat.

Akhirnya, pagi hari itu, kami bertemu. Cale menjemput saya di lobby hotel. Saat bertemu, kita bersalaman dengan hangat. Cale orangnya ramah dan terbuka. Ia juga hangat tipikal Amerika, menceritakan tentang hidup dan keluarganya di Texas. Ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Usai bicara, kamipun berfoto bersama, dan tentu saja, levitasi bareng. Cale sangat cepat belajar, dan dalam satu dua kali take foto, ia sudah berhasil melakukan levitasi dengan sempurna.

Cale sangat senang mengetahui cara melakukan levitasi. Ternyata begitu sederhana dan mudah dilakukan. Tentunya tanpa menggunakan aplikasi apa-apa. Informasi ini kemudian disebut Cale di Instagramnya. Yang menarik, saat ada satu komen dari instagrammer mengenai foto levitasi saya, yang katanya menggunakan app (ia berkomentar, “This is app, levitagram), Cale malah berkomentar membela. Ia menulis “I was with him yesterday and saw it for myself. Definitely not an app!”. Hmm, menarik ya, mendapat pembelaan langsung dari kawan di Amerika. Terima kasih Cale.

Levitasi Bareng di Washington DC

Levitasi Bareng di Washington DC

Pengalaman bertemu Cale di Amerika adalah sebuah kejadian yang menarik dan tak terlupakan. Dari dua orang belum kenal (kecuali saling nge-like foto insta), yang terpisah ribuan kilometer, sekarang kita malah jadi temenan bener dan bisa bertatap muka. Kita saling bertukar cerita, kartu nama, dan informasi hangat lainnya. “If you come to Texas, let me know”, katanya.

Inti dari cerita saya adalah, inilah era netizen, era tanpa batas waktu dan tempat. Social Media memiliki banyak kelebihan dan keuntungan, tentu bila dimanfaatkan secara bijaksana. Di sana, kita bisa menambah kawan dan persahabatan. Seperti kata Nabi, silaturahmi menambah rejeki. Dan silaturahmi di era netizen ini, bergerak melampaui ruang dan waktu.

Cupcakes Kebahagiaan

Mencicipi DC Cupcakes bersama kawan Donny

Mencicipi DC Cupcakes bersama kawan Donny

Hari bergeser malam di kota Washington DC, saya dan kawan Dony Ardiansyah biasanya akan memilih cari makan malam yang praktis. Ya, kita hanya berada di Washington selama satu pekan untuk menghadiri sebuah kursus. Makan sekedarnya, asalkan bisa menjadi pengalaman, adalah tujuan persinggahan kami. Tak seperti kota New York yang hingar bingar, hingga disebut sebagai “City That Never Sleep”, Washington adalah kota yang tenang dan kalem, nyaris seperti kota mati kalau malam hari.

Begitu matahari tergelincir di musim semi, sekitar pukul 20.30 malam, jalanan sepanjang Dupont Circle hanya menyisakan keramaian pub, restoran, dan klab malam, yang masih jauh dibandingkan ramainya kota Jakarta di malam hari misalnya.

Di tengah kondisi tadi, kami punya satu tekad, yaitu mencari makanan yg berharga sebuah pengalaman. Tapi apa? Donny menyebut tentang terkenalnya Cupcakes di sini. Sayapun teringat sebuah reality show televisi yang lumayan tenar di Indonesia, DC Cupcakes judulnya. Reality show itu bercerita tentang sebuah toko cupcakes, atau kue mangkok, yang dikelola oleh dua saudara Sophie LaMontagne dan Katherine Kallinis. nama tokonya Georgetown Cupcakes, berlokasi di daerah Georgetown.

Mencapai wilayah Georgetown sangat mudah karena wilayah itu merupakan tempat wisata sehingga banyak dilalui oleh bis “circular loops”, dengan ongkos satu dollar. Georgetown dipenuhi oleh toko-toko, baik butik, restoran, gadget, yang terletak dalam berbagai bangunan kuno. Kita bisa merasakan suasana Washington tempo doeloe di sini, karena hampir seluruh bangunannya bergaya Victoria abad ke 18.

Georgetown Cupcakes terletak di satu sudut jalan. Menemukannya sangat mudah karena langsung terlihat penuh dan antrian yang panjang. Rupanya bukan hanya di Indonesia, melainkan di Amerika juga, Cupcakes sedang happening. Tak hanya Georgetown Cupcakes, di daerah situ ada beberapa warung cupcakes yang enak-enak. Satu yang pernah saya coba adalah Sprinkles Cupcake. Ini rasanya enak, karena cupcakesnya ditaburi begitu banyak topping tang sangat generous, seperti coklat ataupun coklat kelapa favorit saya.

Antrian di depan Georgetown Cupcakes / photo junanto

Antrian di depan Georgetown Cupcakes / photo junanto

Kembali ke Georgetown Cupcake, Saya dan Donny melihat antrian yang cukup panjang. Kami hitung, ada mungkin sekitar 50 meter. Sebagian besar yang mengantri adalah anak-anak muda perempuan, ataupun pasangan kekasih. Hmm, secara kita cowo2 gagah begini, rasanya imut amat ya kalau ikuta antri cupcakes berduaan (ehem hehehe). Tapi demi sebuah pengalaman, apa salahnya dicoba.

Dan, malam itu kitapun dengan manis mengantri di antara mereka. Ternyata tak salah, it was an experience worth to try. Kami memesan beberapa cupcakes favorit, seperti chocolate ganache, red velvet, dan lava fudge. Oh my God, saya harus mengakui, inilah cupcakes terenak sedunia. Lembut dan kaya rasa. Toppingnya menambah gelora kelembutan rotinya. Tak tertandingkan.

Malam itu, kita kembali ke hotel dengan senyum bahagia. Kita bisa mencicipi kenikmatan kecil dalam semangkuk cupcakes. Ya, kadang banyak hal-hal kecil di dunia ini yg menarik dan layak dicoba. Tak perlu besar, hanya satu cupcakes saja. Sebagai sebuah pengalaman. Sebagai kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Episode hari itu, saya menyebutnya, cupcakes kebahagiaan. Salam perjalanan.

Chocolate Ganache, satu yang wajib coba di sini / photo junanto

Chocolate Ganache, satu yang wajib coba di sini / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia, Washington DC

Steak Halal di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Buat banyak orang, terutama umat muslim, bepergian ke luar negeri kerap membawa masalah sendiri, terkait dengan makanan. Mulai dari kecocokan lidah, hingga kehalalan makanan yang tersedia, adalah kendala yang dihadapi.  Ujung-ujungnya, kalau tidak hanya makan sayur, ya memilih makan ikan saja, untuk amannya.

Namun kini sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir. Hampir di setiap negara maju yang non muslim, sudah banyak terdapat warung atau restoran yang menyediakan daging halal. Di Jepang saja, sudah mudah untuk menemukan restoran yang menyajikan daging halal. Demikian pula di Amerika Serikat. Bukan hanya restoran umum saja yang mulai menyediakan daging halal, bahkan di kantin Bank Dunia, Washington DC, misalnya, saya menemukan sajian menu halal untuk para pegawai maupun tamu Bank Dunia.

Bank Dunia memang mewakili kepentingan dari berbagai suku bangsa, agama, ras, dan tradisi. Pekan lalu, saya mengunjungi Bank Dunia dalam rangkaian seminar membahas Sektor Keuangan. Saat memasuki gedung kantor Bank Dunia, suasana internasional sudah sangat terasa. Di tempat itu, semua bangsa ada. Saya melihat orang Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia, berseliweran. Dalam satu lift misalnya, kerap terdengar orang berbicara dalam berbagai bahasa yang berbeda. Kadang rasanya seperti lost in translation.

Saat makan siang tiba, saya diajak kawan saya untuk mencicipi makan siang di kantin Bank Dunia, yang terletak di lantai B1 Gedung Utama. Pada jam makan siang, kantin itu penuh oleh pegawai Bank Dunia, dari segala level dan tingkatan. Kata teman saya, bukan hanya pegawai biasa, bahkan level Managing Director ataupun Presiden Bank Dunia, sering muncul di sini untuk makan bersama. Mereka sangat cair dan lepas dari protokoler yang ribet. Ibu Sri Mulyani, Managing Director Bank Dunia, asal Indonesia, juga katanya sering muncul di sini untuk makan siang berbaur dengan pegawai.

Sudut Halal Grill di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Sudut Halal Grill di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Kantin Bank Dunia ini luas sekali. Hampir memenuhi setengah dari lantai B1 tersebut. Sebelum memilih makanan, kita mengambil nampan, sendok garpu, atau pisau terlebih dahulu. Lalu kita bebas memilih aneka ragam makanan yang tersedia. Sangat menarik melihat kantin mereka. Bukan seperti kantin pegawai, tapi lebih mirip seperti foodcourt di mall.

Aneka ragam makanan dari berbagai negara disajikan. Ada juga festival makanan dari negara-negara tertentu yang digilir penyajiannya dalam beberapa waktu tertentu. Saat saya datang, sedang diadakan festival makanan Kuba. Berbagai sajian lokal Kuba ditampilkan. Bendera Kuba kecil-kecil juga dipasang di tempat penyajian makanan untuk menambah marak festival.

Namun yang menarik lagi, saya melihat satu counter makanan yang menyajikan aneka daging halal. Tertulis di atasnya tanda “Halal Grill”. Wah, menarik, karena kita tidak perlu repot mencari-cari makanan halal di luar. Di kantin itu, ada beberapa pilihan daging, mulai dari  kambing, ayam, hingga sapi. Dan pastinya, semua halal.

Saya memesan Daging NY Strip Steak. Petugas kantin lalu bertanya ingin disajikan apa, medium done atau well done. Saya memilih medium done, agar rasa dagingnya lebih juicy. Daging kemudian dipanggang, dan disajikan dengan salad dan sayuran. Kita bisa juga memilih kentang atau nasi sebagai pendamping. Soal rasa, tentu kualitasnya seperti restoran. Simple namun memiliki kelezatan tersendiri. Steak yang saya pesan rasanya lezat. Dagingnya lumayan lembut, dan bumbu salad serta sayurnya kaya.

Kantin Bank Dunia, atau mereka menyebutnya Cafeteria, adalah sebuah representasi keragaman yang indah. Dalam suasana dan lingkungan beragam, prasyarat yang diperlukan untuk menjaga keharmonisan dan kestabilan tatanan adalah “respect”, atau saling menghormati. Dan di Kantin Bank Dunia, nilai itu terlihat. Mewujud dalam aksi. Bukan sekedar jargon atau kata-kata di spanduk. Ya, keragaman itu indah, meski katkata itu kerap lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Salam Keragaman.

Touch Screen a la Warung Mojorejo

touch screen technology in warung mojorejo

touch screen technology in warung mojorejo

Dalam perjalanan darat dari Surabaya ke Pasuruan, saya mampir makan siang di Warung Mojorejo. Ini adalah Warung legendaris di sepanjang jalan raya Surabaya – Pandaan. Warung ini kerap digunakan sebagai tempat para pengendara beristirahat, baik untuk makan maupun sholat atau ke kamar kecil. Sajian makanannya versi rumahan, mulai dari daging, telur, ikan, aneka sayur, bothok dan pepesan, hingga berbagai minuman.

Penyajiannya pun sama seperti warung-warung tegal (Warteg). Kita jangan duduk dan menunggu pelayan menawarkan makanan, tapi harus memesan makanan melalui tekhnologi touch screen, atau menunjuk ke kaca untuk memesan aneka makanan yang tersedia. Nah ini menariknya, saya tinggal tekan “screen” kacanya, pilih aneka ragam menu yang tampak di kaca itu, sebutkan dengan suara kita, dan tak lama kemudian, makanan tersaji di hadapan kita. Canggih bukan :)

Mungkin dari sinilah tekhnologi “touch screen” ditemukan. Bukan hanya touch screen, tapi juga voice activated.  Saya memilih makan mangut lele, perkedel, dan sayur pare. Makanan lezat, penyajian canggih. Mari, selamat makan.

mangut lele versi warung mojorejo

mangut lele versi warung mojorejo

Di Balik Kekurangan, Tersimpan Kelebihan

Bersama Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, dan anak-anak tunagrahita di depan karya mereka.

Bersama Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, dan anak-anak tunagrahita di depan karya mereka.

Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan. Itulah keadilan Tuhan pada umatnya. Tadi malam (13/12), saya menghadiri pameran lukisan karya anak-anak yang memiliki hambatan mental (tuna grahita) dan penyandang masalah kesejahteraan sosial, di Balai Pemuda, Surabaya.

Acara dibuka oleh Tri Rismaharini, Walikota Surabaya, dan dihadiri oleh puluhan anak-anak penyandang tuna grahita.  Suasana pameran, yang biasanya terkesan formal, malam itu sungguh bernuansa kekeluargaan. Saat anak-anak melihat Ibu Risma, panggilan akrab wallikota Surabaya, mereka berebut memeluknya sambil berteriak, “Ibu Risma, Ibu Risma, minta donat… aku minta kue”. Bu Risma merangkul dan memeluk mereka secara bergantian.

Keakraban itu terjalin karena anak-anak tuna grahita dan anak jalanan yang malam itu menggelar pameran lukisan adalah binaan Pemerintah Kota Surabaya. Sebagian besar dari mereka ditemukan oleh Satpol PP Kota Surabaya di jalanan lampu merah, atau stasiun-stasiun bis dan kereta. Beberapa dari mereka lahir tidak dikehendaki oleh orang tuanya sehingga dibuang di jalan karena enggan menanggung malu.

Ibu Risma dan Pemkot Surabaya lalu merawat mereka, mengambil mereka dari jalanan, menyediakan pondok sosial Kalijudan, lalu membina kehidupannya. Awalnya, kata Ibu Risma dalam sambutan malam itu, anak-anak itu sangat nakal dan susah diatur. Mereka lalu diberi bimbingan oleh para pengasuh, psikolog, dokter, maupun seniman yang peduli.

Setelah beberapa tahun dibina, lihatlah kondisi mereka sekarang.

Di balik kekurangannya, mereka ternyata punya kelebihan yang luar biasa.  Mereka mampu menghasilkan karya-karya lukis yang sungguh ekspresif dan natural, tak kalah dari anak-anak lain seusianya. Saat melihat karya lukis anak-anak itu, nampak ekspresi kanvas yang menggambarkan sebuah pengalaman atau kerinduan pada berbagai hal.

Neneng misalnya, melukis figur perempuan misterius, yang mencerminkan kerinduan pada sosok Ibu yang tak pernah diketahui bentuk rupanya. Neneng ditemukan oleh Satpol PP saat sedang mengamen di perempatan jalan Dupak pada tahun 2008. Setelah dilatih dan dibina, ia mulai dapat mengekspresikan perasaannya, kerinduan pada wajah Ibu, pada kanvas lukis.

Ada lagi yang menggambar impian, cita-cita, keinginan jadi dokter, tentara, bahkan pengalaman masa lalu mengamen di jalan raya dan stasiun kereta. Ada seorang anak bernama Omay, yang sangat ekspresif dan lincah berlari dan menari ke sana ke mari. Omay ditemukan juga sedang mengamen di jalanan pada tahun 2010. Karya dari Muslimah, yang oleh kawan-kawannya dipanggil So’imah juga mengesankan. Ia mampu mengekspresikan perasaannya pada kanvas secara detil. Pengalaman rasa, pemandangan, suasana hati, tergambar jelas dari lukisan So’imah.

Ibu Risma, Walikota Surabaya, bersama Imah, pelukis tuna grahita di depan karya lukis / photo junanto

Ibu Risma, Walikota Surabaya, bersama Imah, pelukis tuna grahita di depan karya lukis bergambar jembatan Suramadu / photo junanto

Problema anak jalanan, atau anak yang memiliki keterbelakangan mental, adalah masalah yang sering dihadapi kota besar. Di Surabaya, mereka bersyukur karena dapat dibina oleh pemerintah kota, diangkat harkat dan martabatnya, agar kehidupannya lebih baik dibanding masa lalunya.

Cobalah tengok jalan-jalan dan lampu merah di kota Surabaya. Saya tidak pernah menemukan pengamen, pengemis, ataupun anak-anak yang mengelap kaca mobil. Mereka telah dibina untuk mengembangkan kreativitas berseni rupa agar bisa mengungkap isi hati dan bakatnya. Untuk itu, psikolog, dokter, dan beberapa seniman seperti Mas Agus Koecink dari Art Surabaya, memberi pendampingan secara sabar dan tekun pada anak-anak jalanan itu.

Pameran lukisan yang bertema “Believe” menjadi sebuah pembuktian bahwa tidak ada anak yang tak punya kelebihan. Bahkan mereka yang memiliki keterbelakangan mental sekalipun, memiliki kelebihan. Hal yang terpenting, menurut walikota Surabaya, adalah kita harus percaya, bukannya malah menyisihkan atau mencampakkan anak-anak itu di jalanan.

Menurut Bu Risma, sudah ada beberapa pengusaha yang ingin memborong lebih dari seratus lukisan anak-anak itu. Padahal jumlah lukisan yang ditampilkan belum banyak. Anak-anak Panti Asuhan itu tentu tidak bisa dipaksa untuk melukis karena mereka bukan melukis untuk uang. Mereka melukis karena ingin melukis. Ada sih yang lucu, menurut Ibu Risma. Seorang anak yang baru mau melukis kalau “disogok” terlebih dahulu dengan nasi bebek.

Nah, kalau anda di Surabaya, silakan kunjungi pameran lukisan anak-anak tuna grahita ini. Pameran berlangsung di Balai Pemuda Surabaya, dari tanggal 13 hingga 16 Desember 2013.

Datanglah, dan kalau ada rezeki, koleksilah lukisan anak-anak yang hebat ini.