Kisah Empat Pria di Raja Ampat

Empat Pria di Bandara DEO Sorong

Empat Pria di Bandara DEO Sorong

Life begins at forty. Hidup mulai di usia empat puluh. Ya, memasuki usia itu, para kaum pria pada khususnya, seolah berada di persimpangan. Mau dibilang tua, tidak mau, karena rasanya masih muda. Tapi dibilang muda, ya juga sudah tidak muda lagi kan. Berbeda dengan saat berusia dua puluh-an.

Nah, dalam sebuah percakapan di grup chat, kami para pria sebaya, saya, Hery, Eddy, dan Poltak, berdiskusi ringan untuk melakukan satu hal yang impulsif, keluar dari kerutinan, tanpa rencana matang. Tapi harus seru. Semata untuk membuktikan bahwa kita masih muda, dan kita masih punya semangat adventure.

Eddy memulai chat dengan sebuah usulan, “Ke Raja Ampat, yuk!”

Ruang chat mendadak sepi. Bukan karena apa, tapi bagi kami yang kesehariannya termasuk dalam kategori pekerja sibuk, mengatur jadwal kerja tidaklah mudah. Pekerjaan di kantor membuat kita semakin sulit mengambil cuti mendadak. Masing-masing dari kami kerap diberi tugas segera, dinas ke luar kota, dan seabrek pekerjaan lainnya.

Selain itu, Raja Ampat itu kan jauh. Biayanya juga tidak murah. Konon kata orang bisa lebih mahal daripada jalan ke luar negeri. So, ujug-ujug ke Raja Ampat tanpa persiapan matang? Mungkin hanya mimpi.

Beberapa hari, usulan Edy tak mendapat tanggapan.

Sampai pada satu pagi, ada yang me-reply, “Kenapa nggak? … Yuuk”. Hmmmm …. Bener juga. Kenapa nggak. “Gimana kalau bulan depan?”. Rencana yang cukup mendadak dan nekat.

Kami beruntung karena memiliki seorang kawan yang bekerja di Papua. Roma namanya. Kitapun menghubungi dia untuk mencari informasi “how to” mencapai Raja Ampat. Lebih beruntung lagi, pada saat bersamaan, rupanya Roma dan suaminya sedang berdinas ke Raja Ampat. Ia bersedia mendampingi dan jadi pemandu kita. Yeeey, kita punya host! .. So, all settle. Kitapun mempersiapkan berbagai hal tekhnis untuk ke Raja Ampat, mulai dari tiket, akomodasi, transportasi, termasuk peralatan snorkeling.

Oh ya, tidak ada satupun di antara kita yang punya lisensi penyelam. Padahal,  Raja Ampat kan surganya penyelam. Rasanya kufur nikmat tuh kalau tidak menyelam. Tapi pastinya kita tidak akan diizinkan menyelam. Bisa jadi berita kalau ada empat pria paruh baya nekat menyelam di Raja Ampat, terus kebawa arus gitu. Naudzubillah deh. Jadi target kitapun hanya melakukan snorkeling dan memandang keindahan alam.

****

Tapiiiiii, enam hari menjelang keberangkatan, ada berita mengejutkan dari Eddy. “Frens, gue kayaknya ga bisa nih. Disuruh boss dinas ke Paris”. …… . Jreeeeeng! …

Wah, lo ga asyik amat Ed, kan ide ke Raja Ampat dari lo”, kata kita semua. Dan kitapun seolah hilang energi untuk melanjutkan perjalanan. Dua hari lamanya kita “ogah-ogahan” untuk melanjutkan perjalanan. Kalau cuma bertiga kan nanti namanya Raja Tiga, bukan Raja Ampat lagi, begitu pikir kita sedikit lebay.

Kitapun mem-bully Eddy di grup. Namun memang Eddy sahabat sejati. Ia berusaha menegosiasikan dengan bossnya soal perjalanan dinas ke Paris. Bayangkan tuh, mengorbankan Paris demi persahabatan. Syukurlah bossnya paham. Tugas ke Paris bisa dialihkan ke pegawai lainnya. Memang bukan penugasan yang mengharuskan Eddy untuk pergi. Sementara, kalau ke Raja Ampat, Eddy harus pergi kan. Daripada dianggap “pengkhianat” grup hehehe …..

****

Kita berkumpul di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng untuk memulai perjalanan. Ternyata perjalanan ke Raja Ampat itu cukup ribet. Dari Jakarta kita naik pesawat pukul 22.00, menuju Makassar. Transit di Makassar sekitar 3 jam. Kemudian dari Makassar, sekitar pukul 03.30 dinihari, kita melanjutkan penerbangan ke Sorong. Sampai Sorong pukul 06.30 pagi. Nah dari Sorong, kita masih harus naik boat lagi selama tiga jam menuju kepulauan Raja Ampat.

Jauh ya. Mungkin kalau dihitung dari perjalanan saya, yang berangkat dari Surabaya, total waktu menuju Raja Ampat mencapai 15 jam. Heeeee, sudah sampai Eropa itu.

***

The Beauty of Raja Ampat

The Beauty of Raja Ampat. Empat Pria dan Mamak Roma sebagai host

Raja Ampat memang Surga tingkat kesembilan. Indah. Saya sudah sering melihat foto, film, dan cerita tentang Raja Ampat. Tapi tidak membayangkan seindah itu saat melihat dengan mata kepala sendiri. Betul kata para filsuf, mereka yang merasakan, mengetahui. Untuk mengetahui keindahan Raja Ampat memang harus merasakan sendiri.

Kita menginap di salah satu villa di kepulauan Batanta. Saat tiba, kita melihat pantai yang begitu surgawi. Airnya sangat jernih sampai bisa melihat seluruh dasar dan terumbu karangnya. Dari jetty tempat boat kami bersandar, ikan warna warni berseliweran. Hampir semuanya schooling (bergerombolan dengan jenisnya).  Luar biasa kereeen.

Semua tidak sabar mau nyemplung. Eddy langsung menyiapkan Go Pro-nya. Hery sudah berganti pakaian selam yang dibelinya khusus di Mangga Dua. Dan Poltak sudah membuka baju bagai anak laut. Kitapun menceburkan diri di pantai. Sepanjang senja, kami berputar-putar snorkeling sekitar pulau.  Kita membayangkan kalau menyelam pasti lebih indah. Wong di sekitar pulau saja kita sudah melihat aneka karang yang mengagumkan. Bentuknya bunga, kipas, tumbuhan, aaah indah banget.

Ikan-ikannya juga ga ketulungan indah. Ikan kuning, nemo, buntal, aneka ragam ikan kuning, bahkan kita bertemu dengan Pari dan ikan Hiu.

Kita bagai anak kecil yang tak mau naik ke darat. Gak mau naiiik !!

Keindahan bawah pantai Raja Ampat / photo by Junanto

Keindahan bawah pantai Raja Ampat / photo by Junanto

Finding Nemo in Raja Ampat/ photo by Junanto

Finding Nemo in Raja Ampat/ photo by Junanto

snorkel .. snorkel ... snorkel

snorkel .. snorkel … snorkel

****

Hari kedua adalah saatnya menikmati pemandangan atas Raja Ampat. Kita naik boat lagi menuju Pulau Wayag Besar. Ini adalah lokasi yang konon pemandangannya indah, tapi rutenya sulit. Akibatnya, banyak turis yang memilih ke Pianemo, yang secara sekilas terlihat mirip Wayag Besar. Agar tetap merasa sudah sampai di Wayag, banyak orang menamakan Pianemo dengan sebutan Wayag Kecil.

Menurut Roma sebagai tuan rumah, biasanya kalau ada rombongan pejabat, diajaknya menuju Wayag Kecil ini. Di sana sudah ada tangganya, sehingga mendaki jadi lebih mudah. Mereka bisa naik tangga ke puncak, dan berpose di atasnya. Pemandangannya juga indah di sana.

Namun Wayag Besar adalah sebuah petualangan dengan lain cerita. Jarak ke sana lebih jauh. Sekitar tiga jam lagi dari Batanta naik boat apabila laut tenang. Kalau dari Waisai bisa sekitar delapan jam. Untuk menuju ke puncaknya juga harus mendaki bukit yang tinggi. Kita harus menggunakan sepatu karet selam, karena selain bukitnya terjal, juga berbatu runcing. Kalau pakai sepatu biasa khawatirnya robek. Apalagi kalau kaki kita nyeker hehehe.

Dan betul juga, perjuangan naik ke atas Wayag Besar sungguh terasa. Nafas saya sampai ngos-ngosan, keringat membasahi tubuh dan pakaian, belum lagi tubuh lemas akibat matahari yang bersinar ganda. Panas dan berat. Beberapa kali kita berhenti untuk beristirahat, mengatur nafas, dan naik lagi.

Setibanya di atas. Semua terbayar.

Wayag Besar dari atas / photo by Junanto

Wayag Besar dari atas / photo by Junanto

Yeeey, we are here !

Yeeey, we are here !

Ini memang surga tingkat kesembilan. Wayag Besar adalah satu dari keindahan Tuhan yang wajib kita lihat dalam hidup kita. Kita semua terpana. Bengong. Terpukau dalam keindahan. Gilaaa! Kereeeeen Bangeet!

Turun dari bukit, kita lanjut melakukan snorkeling di seputar Wayag Besar. Masih belum puas juga Snorkeling. Kembali ke penginapan. Lagi-lagi snorkeling senja. Minggu pagi, kita terus snorkeling seolah tak mau usai.

Minggu siang, holiday is over. Tentu saja kita tidak menyesal pergi ke Raja Ampat meski persiapannya mendadak. Satu hal yang disesalkan, kenapa cuma tiga hari. Harusnya semingguuu iniiiii.

Waktu berlalu, kita terduduk menunggu boat yang akan mengantar kembali ke Sorong. Sambil duduk bersebelahan, barulah lelah itu terasa. Kitapun mulai membongkar tas, mengambil sesuatu. Keluarlah semua obat-obatan. Dari balsem, obat dengkul, hingga obat anti masuk angin. Yaaaah, pada ujungnya, usia gak bisa boong ye……

Tetap semangaaat !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 9 = 16

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>