Cupcakes Kebahagiaan

Mencicipi DC Cupcakes bersama kawan Donny

Mencicipi DC Cupcakes bersama kawan Donny

Hari bergeser malam di kota Washington DC, saya dan kawan Dony Ardiansyah biasanya akan memilih cari makan malam yang praktis. Ya, kita hanya berada di Washington selama satu pekan untuk menghadiri sebuah kursus. Makan sekedarnya, asalkan bisa menjadi pengalaman, adalah tujuan persinggahan kami. Tak seperti kota New York yang hingar bingar, hingga disebut sebagai “City That Never Sleep”, Washington adalah kota yang tenang dan kalem, nyaris seperti kota mati kalau malam hari.

Begitu matahari tergelincir di musim semi, sekitar pukul 20.30 malam, jalanan sepanjang Dupont Circle hanya menyisakan keramaian pub, restoran, dan klab malam, yang masih jauh dibandingkan ramainya kota Jakarta di malam hari misalnya.

Di tengah kondisi tadi, kami punya satu tekad, yaitu mencari makanan yg berharga sebuah pengalaman. Tapi apa? Donny menyebut tentang terkenalnya Cupcakes di sini. Sayapun teringat sebuah reality show televisi yang lumayan tenar di Indonesia, DC Cupcakes judulnya. Reality show itu bercerita tentang sebuah toko cupcakes, atau kue mangkok, yang dikelola oleh dua saudara Sophie LaMontagne dan Katherine Kallinis. nama tokonya Georgetown Cupcakes, berlokasi di daerah Georgetown.

Mencapai wilayah Georgetown sangat mudah karena wilayah itu merupakan tempat wisata sehingga banyak dilalui oleh bis “circular loops”, dengan ongkos satu dollar. Georgetown dipenuhi oleh toko-toko, baik butik, restoran, gadget, yang terletak dalam berbagai bangunan kuno. Kita bisa merasakan suasana Washington tempo doeloe di sini, karena hampir seluruh bangunannya bergaya Victoria abad ke 18.

Georgetown Cupcakes terletak di satu sudut jalan. Menemukannya sangat mudah karena langsung terlihat penuh dan antrian yang panjang. Rupanya bukan hanya di Indonesia, melainkan di Amerika juga, Cupcakes sedang happening. Tak hanya Georgetown Cupcakes, di daerah situ ada beberapa warung cupcakes yang enak-enak. Satu yang pernah saya coba adalah Sprinkles Cupcake. Ini rasanya enak, karena cupcakesnya ditaburi begitu banyak topping tang sangat generous, seperti coklat ataupun coklat kelapa favorit saya.

Antrian di depan Georgetown Cupcakes / photo junanto

Antrian di depan Georgetown Cupcakes / photo junanto

Kembali ke Georgetown Cupcake, Saya dan Donny melihat antrian yang cukup panjang. Kami hitung, ada mungkin sekitar 50 meter. Sebagian besar yang mengantri adalah anak-anak muda perempuan, ataupun pasangan kekasih. Hmm, secara kita cowo2 gagah begini, rasanya imut amat ya kalau ikuta antri cupcakes berduaan (ehem hehehe). Tapi demi sebuah pengalaman, apa salahnya dicoba.

Dan, malam itu kitapun dengan manis mengantri di antara mereka. Ternyata tak salah, it was an experience worth to try. Kami memesan beberapa cupcakes favorit, seperti chocolate ganache, red velvet, dan lava fudge. Oh my God, saya harus mengakui, inilah cupcakes terenak sedunia. Lembut dan kaya rasa. Toppingnya menambah gelora kelembutan rotinya. Tak tertandingkan.

Malam itu, kita kembali ke hotel dengan senyum bahagia. Kita bisa mencicipi kenikmatan kecil dalam semangkuk cupcakes. Ya, kadang banyak hal-hal kecil di dunia ini yg menarik dan layak dicoba. Tak perlu besar, hanya satu cupcakes saja. Sebagai sebuah pengalaman. Sebagai kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Episode hari itu, saya menyebutnya, cupcakes kebahagiaan. Salam perjalanan.

Chocolate Ganache, satu yang wajib coba di sini / photo junanto

Chocolate Ganache, satu yang wajib coba di sini / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia, Washington DC

Steak Halal di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Buat banyak orang, terutama umat muslim, bepergian ke luar negeri kerap membawa masalah sendiri, terkait dengan makanan. Mulai dari kecocokan lidah, hingga kehalalan makanan yang tersedia, adalah kendala yang dihadapi.  Ujung-ujungnya, kalau tidak hanya makan sayur, ya memilih makan ikan saja, untuk amannya.

Namun kini sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir. Hampir di setiap negara maju yang non muslim, sudah banyak terdapat warung atau restoran yang menyediakan daging halal. Di Jepang saja, sudah mudah untuk menemukan restoran yang menyajikan daging halal. Demikian pula di Amerika Serikat. Bukan hanya restoran umum saja yang mulai menyediakan daging halal, bahkan di kantin Bank Dunia, Washington DC, misalnya, saya menemukan sajian menu halal untuk para pegawai maupun tamu Bank Dunia.

Bank Dunia memang mewakili kepentingan dari berbagai suku bangsa, agama, ras, dan tradisi. Pekan lalu, saya mengunjungi Bank Dunia dalam rangkaian seminar membahas Sektor Keuangan. Saat memasuki gedung kantor Bank Dunia, suasana internasional sudah sangat terasa. Di tempat itu, semua bangsa ada. Saya melihat orang Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia, berseliweran. Dalam satu lift misalnya, kerap terdengar orang berbicara dalam berbagai bahasa yang berbeda. Kadang rasanya seperti lost in translation.

Saat makan siang tiba, saya diajak kawan saya untuk mencicipi makan siang di kantin Bank Dunia, yang terletak di lantai B1 Gedung Utama. Pada jam makan siang, kantin itu penuh oleh pegawai Bank Dunia, dari segala level dan tingkatan. Kata teman saya, bukan hanya pegawai biasa, bahkan level Managing Director ataupun Presiden Bank Dunia, sering muncul di sini untuk makan bersama. Mereka sangat cair dan lepas dari protokoler yang ribet. Ibu Sri Mulyani, Managing Director Bank Dunia, asal Indonesia, juga katanya sering muncul di sini untuk makan siang berbaur dengan pegawai.

Sudut Halal Grill di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Sudut Halal Grill di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Kantin Bank Dunia ini luas sekali. Hampir memenuhi setengah dari lantai B1 tersebut. Sebelum memilih makanan, kita mengambil nampan, sendok garpu, atau pisau terlebih dahulu. Lalu kita bebas memilih aneka ragam makanan yang tersedia. Sangat menarik melihat kantin mereka. Bukan seperti kantin pegawai, tapi lebih mirip seperti foodcourt di mall.

Aneka ragam makanan dari berbagai negara disajikan. Ada juga festival makanan dari negara-negara tertentu yang digilir penyajiannya dalam beberapa waktu tertentu. Saat saya datang, sedang diadakan festival makanan Kuba. Berbagai sajian lokal Kuba ditampilkan. Bendera Kuba kecil-kecil juga dipasang di tempat penyajian makanan untuk menambah marak festival.

Namun yang menarik lagi, saya melihat satu counter makanan yang menyajikan aneka daging halal. Tertulis di atasnya tanda “Halal Grill”. Wah, menarik, karena kita tidak perlu repot mencari-cari makanan halal di luar. Di kantin itu, ada beberapa pilihan daging, mulai dari  kambing, ayam, hingga sapi. Dan pastinya, semua halal.

Saya memesan Daging NY Strip Steak. Petugas kantin lalu bertanya ingin disajikan apa, medium done atau well done. Saya memilih medium done, agar rasa dagingnya lebih juicy. Daging kemudian dipanggang, dan disajikan dengan salad dan sayuran. Kita bisa juga memilih kentang atau nasi sebagai pendamping. Soal rasa, tentu kualitasnya seperti restoran. Simple namun memiliki kelezatan tersendiri. Steak yang saya pesan rasanya lezat. Dagingnya lumayan lembut, dan bumbu salad serta sayurnya kaya.

Kantin Bank Dunia, atau mereka menyebutnya Cafeteria, adalah sebuah representasi keragaman yang indah. Dalam suasana dan lingkungan beragam, prasyarat yang diperlukan untuk menjaga keharmonisan dan kestabilan tatanan adalah “respect”, atau saling menghormati. Dan di Kantin Bank Dunia, nilai itu terlihat. Mewujud dalam aksi. Bukan sekedar jargon atau kata-kata di spanduk. Ya, keragaman itu indah, meski katkata itu kerap lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Salam Keragaman.

Mencari Kesempurnaan Burger di Amerika

 

Shroom Burger yang mlekoh di Shake Shack Washington DC / photo junanto

Shroom Burger yang mlekoh di Shake Shack Washington DC / photo junanto

Berbeda dengan negara lain, Amerika Serikat nyaris tidak punya makanan lokal yang khas. Kalau ke negara Asia, atau beberapa negara Eropa, dengan mudah kita bisa menemukan makanan lokal. Tapi kalau ke Amerika dan mencari makanan lokal, ya ujung-ujungnya hanya ada satu jawaban, hamburger.

Tentu tidak heran, karena sejarah negeri tersebut adalah rangkaian dari beragam suku bangsa yang membangun sebuah negeri bernama Amerika Serikat. Jadi kalau mau mencari makanan dari beragam penjuru dunia, di Amerika lah tempatnya. Makanan Mexico-nya enak, Makanan Italia-nya enak, Makanan Afrika-nya enak, bahkan Makanan Jepang-nya enak.

Tapi tentu saya tidak ingin mencoba semua itu. Mencicipi masakan lokal di setiap kunjungan atau travel, biasanya menjadi kebiasaan saya untuk mengenal lebih dekat kultur ataupun sosiologi suatu bangsa. Ya, dari makanan kita bisa mengenal sejarah dan kebiasaan suatu bangsa. Untuk itu, dalam kunjungan ke Washington DC kemarin, saya mencari makanan Amerika, dan, apalagi kalau bukan burger hehe.

Saya berjalan bersama rekan Evie Silviani dan suaminya, Kang Odink, yang sedang tinggal dan bertugas di Washington DC. Mereka merekomendasikan restoran burger Shake Shack kalau mau mencicipi burger Amerika yang sedang “happening”. Shake Shack yang didirikan pada tahun 2001, kini tumbuh menjadi satu chain restoran yang sedang populer dan happening di seantero AS. Bahkan restoran ini sudah merambah dunia internasional dengan membuka cabang di berbagai negara, seperti Turki dan beberapa negara Timur Tengah. Tinggal menunggu waktu saja, resto ini buka cabang di Indonesia keliatannya hehehe.

Memasuki Shake Shack, saya mulai merasakan suasana yang sangat Amerika. For the love of Burger. Orang rela mengantri, panjang, demi sebuah kenikmatan sepotong daging dalam jepitan roti bun. Hampir semua yang mengantri saya perhatikan adalah anak muda, atau keluarga muda. Termasuk juga beberapa turis seperti saya.

Pilihan menu di Shake Shack sangat beragam. Evie menyarankan memesan Shroom Burger. Ini kombinasi menawan antara patty burger dan jamur portobello. Jamurnya dibuat burger dan digoreng garing. Kenikmatan di sini sangat unik, daging burger dimasak pas, hingga berwarna coklat kekuningan, mirip kertas sampul coklat yang basah. Kekeringan dagingnya merata luar dalam. Ditaburi sedikit garam sehingga rasanya gurih dan tentunya, crispy lezat.

Saya percaya bahwa burger yang baik adalah burger yang indah. Kalau kita lihat tampilan burger yang mengandung unsur artistik dan keindahan, saya yakin pasti rasanya juga lezat. Dan Shroom Burger mengandung dua unsur itu, indah dan sungguh lezat. Deep-fried jamur portobelo dimasak garing, mencuat di tengah roti burger yang sesak oleh daging, sayuran, tomat, dan lelehan keju yang sangat lezat. Panasnya lelehan keju terasa di tangan kita, hingga kita harus menunggunya beberapa saat sebelum mengunyah kelezatan burger itu.

Hmmmm, saya sudah banyak mencoba burger di penjuru dunia, tapi memang menurut saya Shake Shack burger ini punya keunikan dan kelezatan tersendiri yang tak akan terlupakan. Oh ya, satu lagi. Burger di Amerika ini porsinya ukuran Amerika alias gede banget. Ya, makanan di Amerika umumnya memang disajikan dalam porsi jumbo. Tak heran kalau lihat orang Amerika badannya besar-besar ya hehe. Kalau perut kamu ukuran standar Indonesia, awas bisa kekenyangan atau tidak habis dalam melahap burger versi Amerika ini.

Crab Cake Sandwich di Georgetown, Washington DC / photo junanto

Crab Cake Sandwich di Georgetown, Washington DC / photo junanto

Selain mencicipi burger Shake Shack, dalam satu kesempatan saya juga mencoba satu makanan khas wilayah Maryland, Washington, yang namanya Crab Cake. Ini adalah makanan yang kalau dirunut usianya sudah ratusan tahun lalu ada di Amerika. Dulu para nelayan menangkap kepiting, dan mengolah dagingnya menjadi satu makanan yang dinamakan crabcake. Prinsipnya crab cake ini seperti daging burger, namun isinya adalah daging kepiting. Hmmm, manteb kan.

Di Georgetown, Washington DC, saya mampir ke satu restoran kecil. Namanya Tackl. Di sana saya memesan Crab Cake Sandwich. Sebagai camilan, saya memesan semangkuk Neck Clam with butter sauce and lemon. Ini semacam kerang disiram kuah butter dan jeruk lemon.

Crab Cake Sandwichnya luar biasa enak. Serpihan daging kepiting terasa gurih, dipadu dengan roti burger, mustard, mayoinesse, daun selada, bawang, dan tomat. Sebuah perpaduan yang kaya dan menggugah selera. Porsinya yang besar tidak menjadi masalah kalau perut sedang lapar.

Neck Clam with Butter Sauce and Lemon / photo junanti

Neck Clam with Butter Sauce and Lemon / photo junanto

Neck Clam butternya juga segar. Gurihnya keju, asamnya lemon, berpadu dengan segarnya daging kerang, menjadikan hidangan tersebut kaya akan rasa lautan. Enak, lezat, segar, manteb.

Di Amerika, burger, crab cake, adalah makanan lokal yang layak dicoba. Meski makanan itu sudah go international, mulai dari Burger King hingga McDonalds, mencicipi burger di tanah kelahirannya adalah sebuah pengalaman tersendiri. Cicipi, rasakan, dan temukan sensasinya.

Salam Burger.

Endah Kreco, dari Sawah ke Manca Negara

Bersama Endah Kreco di Warung Kebul Kebul miliknya

Bersama Endah Kreco di Warung Kebul Kebul miliknya

Menjelang hari Kartini, saya diundang oleh Mbak Endah, seorang kawan, untuk mampir ke warung terbarunya di daerah Kebraon, Surabaya. Ia ingin memperkenalkan menu terbaru warungnya, yaitu Kreco (sejenis keong sawah – kalau di Jabar namanya Tutut) dan Bothok Lele. Sebelumnya, Mbak Endah sudah terkenal dengan produk ikan wadher (ikan kecil di air tawar). Ia sudah memiliki tiga warung makan, dan mulai merintis franchise Kreco Bumbu Serapah Khas Jatim.

Tak sampai tujuh tahun lalu, Endah tak punya apa-apa. Ia bercerita sambil menerawang mengingat masa sulitnya dulu. Ia dan suaminya, tak punya pekerjaan. Rumah tak punya, uang tak punya. Tapi Endah punya kemampuan memasak yang diwarisi dari nenek dan tetangga-tetangganya waktu kecil di Gresik.

Ia lalu mengajak suaminya menangkap ikan wader (ikan air tawar kecil) di kali dan waduk-waduk sekitar Gresik. Satu per satu ikan itu dibersihkannya, lalu digoreng. Endah lalu menjajakan dari warung ke warung. Rasa wadher Mbak Endah ini memang khas. Crispy dan tepat bumbunya. Singkat kata, permintaan meningkat, bahkan ia memasok ke beberapa restoran besar di Surabaya.

Ingin maju dan berkembang, Endah pergi ke Dinas Perikanan Kota Surabaya, untuk mendapatkan advis tentang budi daya wader. Dinas Perikanan malah tertarik dengan usahanya. Endah kemudian dipinjami modal alat pendingin, diajari cara membesarkan usaha, memberi “brand”, mengajukan label halal dari MUI, hingga berhubungan dengan bank. Merek “Qalifish” dipilihnya sebagai brand. Sejak itu, usaha Endah tumbuh pesat. Ia meraih juara pertama tingkat kota Surabaya, dan juara tiga tingkat provinsi Jatim, untuk kategori inovasi Usaha Kecil Mikro Menengah.

Dalam dua bulan terakhir ini, Endah memperkenalkan produk barunya, yaitu Kreco, atau sejenis keong sawah. Saya mencicipi kreco buatan Mbak Endah. Katanya ini pakai bumbu serapah, atau bumbu dengan aneka rempah khas Jatim. Betul sekali, rasanya uenaak. Sama sekali tidak terasa bau sawah. Bersih, segar, dan tentu makanan ini kaya gizi. Penelitian mengatakan bahwa Kreco mengandung banyak protein. Kalau di Perancis, ini bisa masuk kategori l’escargot yang harganya bisa jutaan Rupiah itu.

Kreco, sejenis keong sawah yang menjadi kudapan favorit di Surabaya. Mirip Escargot kalau di Perancis

Kreco, sejenis keong sawah yang menjadi kudapan favorit di Surabaya. Mirip Escargot kalau di Perancis

Masakan Mbak Endah bahkan pernah menembus Istana Negara di Jakarta. Katanya, suatu waktu saat kunjungan Presiden RI ke Jatim, salah seorang Paspampres merasakan kenikmatan ikan wadhernya. Endah kemudian diundang ke salah satu acara di Istana untuk menyajikan ikan wadher bagi para tamu dan pejabat tinggi. Mbak Endah memperlihatkan pada saya beberapa souvenir yang diterimanya dari Istana Negara.

Bukan itu saja, beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi melalui Dinas Perikanan, mengajak Mbak Endah untuk promosi produknya hingga ke Osaka, Jepang. Mbak Endah tentu tidak mengira kalau usahanya bisa diajak promosi di pasar luar negeri.

Endah adalah salah satu contoh Pahlawan Perempuan. Selain mampu meningkatkan taraf hidup dirinya dan keluarga, Endah juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Ia mempekerjakan ibu-ibu untuk membantunya di bagian produksi, mulai dari membersihkan ikan wadher, kreco, hingga memasak. Pemberdayaan ekonomi bagi kaum perempuan adalah salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam membangun ketahanan ekonomi kerakyatan. Surabaya terkenal sebagai satu kota yang menetapkan Pemberdayaan Ekonomi Kaum Perempuan, sebagai salah satu pilar pertumbuhannya.

Ya, kalau dilihat dari struktur demografi ekonomi, kaum perempuan Indonesia memang masih terpinggirkan. Dari jumlah penduduk miskin absolut di Indonesia, apabila dibedakan menurut jenis kelaminnya, maka penduduk perempuan miskinlebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki.

Kalau kita merinci menurut rumah tangga, maka rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan jumlahnya masih tinggi dari tahun ke tahun. Kemiskinan di Indonesia sangat lekat dan dekat dengan perempuan. Dana bantuan yang diterima dari Pemerintah sebagian besar diterima oleh laki laki, karena definisi kepala keluarga di Indonesia masih menempatkan laki-laki sebagai subjeknya.

Dampak dari kemiskinan tersebut dapat ditebak, prioritas akses pada berbagai layanan akan diberikan lebih banyak pada laki-laki. Tidak mengherankan jika perempuan identik dengan kemiskinan. Di sektor pendidikan dapat kita lihat bahwa persentase rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan yang berpendidikan SD dan SLTP lebih tinggi jumlahnya dibandingkan rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki. Sebaliknya, persentase rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki dengan pendidikan sekolah menengah ke atas jumlahnya lebih tinggi.

Perbedaan sosial, ekonomi, dan politik kaum perempuan itulah yang coba didobrak oleh R.A Kartini lebih dari seratus tahun lampau. Melalui surat-surat dan ungkapan hati kepada Stella sahabatnya, Kartini menuliskan pandangannya tentang feminisme dan nasionalisme. Di dalamnya, mencakup bagaimana peranan kaum perempuan bisa terus ditingkatkan dalam membangun negeri.

Kini, lebih dari seratus tahun, kaum perempuan Indonesia sudah terus meningkat. Pak Hermawan Kartajaya bahkan mengatakan kalau masa depan Indonesia berada di segmen Y-W-N, atau Youth, Women, and Netizen. Itulah masa depan Indonesia. Berada di peranan kaum perempuannya.

Namun berbeda dengan di kota-kota besar, tantangan kaum perempuan di pedesaan masih besar. Endah Kreco hanya satu dari sekian kaum perempuan yang mampu keluar dari stigma “lemah” kaum perempuan.

Semoga peringatan Hari Kartini, tidak terjebak hanya pada perayaan memakai kebaya di kantor dan sekolah-sekolah. Foto bersama, upload di sosial media, tentu satu acara yang menarik dan tak ada salahnya. Tapi di balik seremoni “kebaya” itu, pe-er Kartini masih banyak. Kaum perempuan Indonesia masih perlu terus diberdayakan.

Salam.

Mencicipi Menu Tabrakan Jepang dan Padang

Warung Suntiang, Menu Padang disajikan dengan Conveyor Belt / photo junanto

Warung Suntiang, Menu Padang disajikan dengan Conveyor Belt / photo junanto

Penasaran dengan berbagai liputan media tentang Restoran Suntiang di Pondok Indah Mall 2, beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri mampir ke sana. Konsep “tabrakan” antara dua karakter makanan, menjadi daya tarik tersendiri yang membangkitkan rasa ingin tahu saya. Ya, resto Suntiang memadukan dua karakter makanan yang nyaris “impossible” untuk digabung. Makanan Padang dan Makanan Jepang.

Makanan Padang punya karakter yang “kuat” pada bumbu. Semua masakan Padang kaya rasa, bumbu, dan aroma. Selain itu, makanan padang menggunakan hampir seluruh bagian dari tubuh binatang ternak seperti sapi, kambing, atau ayam. Mulai dari otak, kikil, jeroan, kulit (untuk kerupuk jangek), hingga daging, semua diolah dan dimasak dalam kuali masakan Padang.

Di sisi lain, makanan Jepang sangat konservatif dengan bumbu, bahkan nyaris tak pernah pakai banyak bumbu. Makanan Jepang juga menggunakan bahan dasar yang segar, seperti ikan segar. Dari binatang ternak, mereka hanya mengolah daging terbaik.

Soal penampilan di meja juga demikian. Keduanya memiliki filosofi yang berbeda. Makanan Jepang sangat detail dalam penampilan. Semua diatur rapi, disajikan dalam keteraturan (cosmos). Sementara makanan Padang disajikan secara “chaos”, disebar di meja, kuah ditebar tanpa aturan di atas nasi. Yang penting, nikmat.

Lalu, apa jadinya bila keduanya digabung. Jawabannya ada dalam menu-menu di restoran Suntiang itu. Eksperimen mereka memadukan dua jenis makanan yang memiliki filosofi berbeda, menjadi keunikan tersendiri yang membuat kita penasaran. Di secawan sushi rendang misalnya, kesederhanaan sushi roll ditabrakkan dengan kemlekohan rendang yang bersantan dan berbumbu. Hasilnya luar biasa, kelembutan nasi sushi berpadu dengan kekayaan rasa rendang, yang disajikan rapi a la makanan Jepang.

Balado Edamame. Perpaduan camilan yang ciamik / photo by junanto

Balado Edamame. Perpaduan camilan yang ciamik / photo by junanto

Saya mencoba juga balado edamame. Hah? edamame yang di setiap restoran Jepang dijadikan camilan “plain”, sekedar direbus dan disajikan di meja, kini ditampilkan dengan bumbu balado yang pedas. Rasanya sangat unik, keterpaduan balado dan kacang edamame menjadikan keduanya camilan yang kaya rasa.

Penyajian di Suntiang juga menarik. Tidak seperti warung padang yang berbagai menunya ditumpuk di meja, di sana penyajian dilakukan pula menggunakan conveyor belt. Persis seperti di warung sushi. Kita dapat dengan leluasa memilih aneka sushi yang disajikan, mulai dari sushi ayam pop, otak roll, gyouza dua rasa, otak tempura, hingga ramen gulai yang menarik.

Rendang Sushi Roll. Satu signature dish yang wajib coba / photo junanto

Rendang Sushi Roll. Satu signature dish yang wajib coba / photo junanto

Secara umum, restoran ini lebih berkarakter sebagai warung padang, karena bumbu Makanan Padang lebih “strong” dari makanan Jepang. Untuk lidah Indonesia yang gemar makanan Padang tapi juga makanan Jepang, ini bisa jadi penghibur dan menambah kenikmatan.

Sebagai sebuah eksperimen untuk memadukan dua karakter makanan, warung ini patut diacungi jempol. “Tambo ciek Uda!” … Haik haik, ittadakimasu ! ….

 

Touch Screen a la Warung Mojorejo

touch screen technology in warung mojorejo

touch screen technology in warung mojorejo

Dalam perjalanan darat dari Surabaya ke Pasuruan, saya mampir makan siang di Warung Mojorejo. Ini adalah Warung legendaris di sepanjang jalan raya Surabaya – Pandaan. Warung ini kerap digunakan sebagai tempat para pengendara beristirahat, baik untuk makan maupun sholat atau ke kamar kecil. Sajian makanannya versi rumahan, mulai dari daging, telur, ikan, aneka sayur, bothok dan pepesan, hingga berbagai minuman.

Penyajiannya pun sama seperti warung-warung tegal (Warteg). Kita jangan duduk dan menunggu pelayan menawarkan makanan, tapi harus memesan makanan melalui tekhnologi touch screen, atau menunjuk ke kaca untuk memesan aneka makanan yang tersedia. Nah ini menariknya, saya tinggal tekan “screen” kacanya, pilih aneka ragam menu yang tampak di kaca itu, sebutkan dengan suara kita, dan tak lama kemudian, makanan tersaji di hadapan kita. Canggih bukan :)

Mungkin dari sinilah tekhnologi “touch screen” ditemukan. Bukan hanya touch screen, tapi juga voice activated.  Saya memilih makan mangut lele, perkedel, dan sayur pare. Makanan lezat, penyajian canggih. Mari, selamat makan.

mangut lele versi warung mojorejo

mangut lele versi warung mojorejo

Ayam Si Mbah Pedes yang Cerewet

Ayam Pedesan si Mbah / photo junanto

Ayam Pedesan si Mbah / photo junanto

Di era customer oriented saat ini, para pelaku usaha berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin pada pelanggan. Mulai dari penerimaan, hingga pelayanan prioritas, diciptakan agar pelanggan puas dan terus datang. Tapi tidak demikian dengan mbah Siti Aisyah, pemilik Warung Langgeng di daerah Krembangan, Surabaya.

Warung Langgeng menjual menu khusus, Ayam Krengsengan dan Sambel Pedas, yang terkenal kelezatannya lebih dari 60 tahun. Ya, warung itu berdiri sejak tahun 1952 dan memiliki banyak cerita.

Tapi bukan itu yang menarik dari warung Si Mbah. Hal yang menjadi ciri khas dari Warung Langgeng adalah bagaimana si Mbah melayani pelanggannya. Bukannya menyambut ramah dan menawarkan “hospitality”, tapi si Mbah malah rajin mencereweti, bahkan bisa dikatakan galak, pada pelanggan yang datang.

Kalau ada pelanggan yang banyak bertanya atau banyak maunya, si mbah akan marah. Saya mendengar dari Pak Yunus, seorang rekan di kantor, tentang keunikan Si Mbah. Katanya saat ada satu ibu bertanya tentang menu, dan meminta untuk tidak memakai ini dan itu, si mbah langsung membentak, “Wis meneng ae, arep mangan nang kene opo ora?” (udah diam aja, mau makan di sini atau nggak?). Atau malah si mbah pernah mengusir seorang pelanggan karena terlalu banyak meminta atau bertanya.

Beberapa pelanggan ada yang sempat “misuh-misuh” atau ngegerundel, ada yang diam tapi tak sedikit pula yang langsung keluar. “Wah, kita kan mau beli makan, masa dibentak-bentak. Mending keluar aja”, demikian kata pak Yunus menirukan komentar satu pelanggan. Waaah, ngeri juga yaaa.

Tapi cerewetnya si Mbah malah memberi keunikan tersendiri bagi Warung Langgeng. Suatu siang, saya untuk pertama kalinya mampir mencoba makanan di sana. Konon kata orang, si Mbah ini relatif baik kalau sama pria. Apalagi yang masih muda hehe.

Saat masuk warung, si mbah langsung menatap kami. Mau apa? tanyanya. Ya karena kita sudah tau ceritanya, kita bilang dengan sopan saja. Ayam mbah, dua porsi. Datanglah dua porsi ayam krengsengan beserta sambal pedasnya yang luar biasa. Saya makan dengan tenang dan tidak banyak bicara atau bertanya. Takut si mbah marah hehe….

Eh tapi bener juga, rasa krengsengan ayam dan sambalnya dahsyat. Perpaduannya pas dan nikmat. Lalapan disajikan dalam nampan besar dan all you can eat. Enaknya.

Karena pedas, wajah saya berkeringat basah. Untuk menyeka, saya ambil sapu tangan dan mengelap wajah berkeringat. Tiba-tiba si mbah, saat melihat saya menyeka wajah dan bagian mata, langsung  membentak, “Woi, kowe mangan ojo nangis. Mangano ae!” (Hei, kamu makan jangan nangis, nikmatin aja). Saya kaget, tapi langsung tertawa, karena merasa, “kena juga gw sama si mbah” hehehe….

Tapi setelah itu, si mbah malah ramah dan banyak ngobrol. Dari situ saya baru tahu kalau si mbah usianya sudah 95 tahun. Haa? 95 tahun? Ya, dan di usia itu, si Mbah masih kuat melayani pelanggan, mulai dari menuang sayur hingga membungkus nasi. Ia bercerita banyak tentang pengalamannya selama lebih dari 60 tahun berjualan. Intinya, ia memang cerewet dan tidak suka kalau pelanggan banyak bertanya. Tapi karena kebiasaan itu juga, dan karena rasa makanannya yang khas, pelanggan justru bolak balik datang ke sana.

Ada yang kangen dengan cerewetnya si mbah, ada yang kangen dimarahin, ada yang ingin nostalgia masa muda, berbagai alasan untuk kembali dan kembali ke warung si mbah. Walaupun ada risiko kena marah.

Ya, mungkin si mbah ini cerewet. Tapi kita semua tidak merasa sakit hati. Seperti diomelin oleh nenek sendiri saja. Didengar tapi tidak dimasukkin hati, yang penting ayam tersaji hehehe…. Di ujung jamuan saya minta foto bareng sama si mbah. Dan dia sambil mencerocos kalau hari itu belum berdandan (genit juga ya si mbah), akhirnya tetap bersedia di foto. Ini dia hasilnya.

Bersama si Mbah Ayam Krembangan

Oh ya satu lagi, itungan si mbah juga kurang begitu bagus. Jadi kalau kita minta ia menghitung harga, umumnya tidak bisa seragam. Suka-suka si mbah saja, kadang rasanya murah, tapi kadang kayak kemahalan hehehe… Tapi secara keseluruhan, kunjungan ke Warung Langgeng dan bertemu si Mbah adalah pengalaman yang luar biasa.

Pesta Durian di Kediri

 

King of Fruit

King of Fruit

DUKUNG DURIAN KEDIRI. Erupsi Gunung Kelud membawa dampak pada panen beberapa hasil bumi di Kediri, termasuk Durian. Kediri adalah salah satu penghasil durian di tanah air. Tapi ternyata, bencana belum berdampak signifikan pada durian. Beberapa desa di Kediri justru mengalami masa panen durian. Dalam satu hari, kata seorang petani durian, mereka bisa panen hingga 500 buah. Namun masalah muncul di pemasaran. Bencana menyebabkan kedatangan wisatawan ke Kediri turun drastis. Akibatnya mereka kesulitan menjual durian.

Nah, pekan lalu kami, bersama rekan-rekan dari Universitas Airlangga dan Media Massa di Jatim, dalam kunjungan ke Kediri dan Malang, melewati banyak kios-kios di pinggir jalan yang menjajakan durian hasil panen kebun. Beberapa kawan wartawan langsung semangat melihat duren yang berjejer di pinggir jalan. Bahkan di pohon-pohon masih nampak duren menggantung. “Wah, kalau kita melewatkan kenikmatan itu, artinya kita kufur nikmat nih”, celetuk salah satu wartawan.

Eh betul juga ya. Lagian, kita kan harus mendukung buah-buahan produk lokal. Masa makannya durian bangkok, rasanya kurang nasionalis kan. Akhirnya, kami memutuskan untuk mampir di salah satu kios durian. Kebetulan kita semua pecinta durian. Tanpa banyak bertanya pada Ibu penjual durian, kita langsung meminta durian-durian itu dikupas. Ya, kita telah membulatkan tekad untuk mendukung petani durian. Kita beli durian lokal, dan kita pesta makan durian.

Kebersamaan dan kenikmatan durian tanah air menjadikan semuanya lebih nikmat. Salam durian.

Dukung Durian Kediri

Dukung Durian Kediri

After the party

After the party

 

Selera Peranakan di Kuala Lumpur

Fish Head Curry at Precious / photo by junanto

Fish Head Curry at Precious / photo by junanto

Makanan peranakan adalah satu jenis masakan tradisional khas yang saya suka. Akulturasi antara tradisi kuliner China dengan cita rasa Melayu menjadikan masakan ini unik dan memiliki kelezatan tersendiri. Makanan peranakan awalnya diciptakan oleh para imigran keturunan Tionghoa yang tinggal di wilayah semenanjung, seperti Malaysia dan Singapura. Makanan ini mulai populer pada masa kolonial, hingga saat ini. Beragam restoran yang menyajikan masakan peranakan dapat kita temui di berbagai kota, termasuk di Indonesia.

Namun belum mampir di semenanjung rasanya kalau belum mencicipi makanan peranakan. Oleh karena itu, dalam kunjungan saya ke Kuala Lumpur pada pekan terakhir Oktober 2013 lalu, salah satu agenda makan malam wajib adalah makanan peranakan. Seorang kawan yang bekerja di Bank Negara Malaysia merekomendasikan restoran “Precious Old China” yang terletak di wilayah Central Market. Dan malam itu, saya bersama mas Poetra, mas Feriansyah, dan pak Ramlan, yang kebetulan sama-sama berada di KL, menyusuri jalan menuju Central Market. Kami memberi judul perjalanan malam itu dengan, in search for a perfect peranakan cuisine.

Memasuki Precious Old China Restaurant, kami serasa dibawa ke masa silam. Masa saat semenanjung Malaka berada di bawah pengaruh kolonial. Furnitur dan dekorasi restoran dibuat antik, mirip rumah orang Tionghoa jaman dulu, dengan tata letak yang beraroma mistik. Kalau melihat dari dekornya, makanan yang disajikan pastinya otentik.

Suasana Restoran Precious Old China / photo junanto

Suasana Restoran Precious Old China / photo junanto

Setelah duduk, kami melihat daftar menu. Petugas restoran menawarkan untuk mencoba Pucuk Paku Kerabu. Itu adalah semacam oseng-oseng daun paku dengan sambal blacan. Wow, sudah lama rasanya tidak mencicipi daun paku. Kami pesan satu. Selain itu, kami juga memesan Gulai Kepala Ikan, Tofu Goreng with Sweet Sauce, dan Ayam Goreng Pong Teh. Nampaknya, kita akan makan besar malam itu.

Saat makanan datang, kami melakukan ritual foto bersama, dan foto makanan (untuk keperluan status atau blog). Dan, kita langsung melahap kesemuanya. Betul juga, rasa makanan di Precious Old China sangat otentik. Gulai kepala ikannya khas peranakan, dengan taburan irisan okra di atasnya. Lezat.Ayam goreng Pong Teh, Tofu, dan pucuk paku-nya juga jagoan. Dimasak dengan rasa dan aroma sambal blacan yang khas. 

Ciri khas dari makanan peranakan adalah kekayaan bumbu-bumbunya, seperti santan kelapa, lengkuas, cabai, kemiri, belacan, asam, daun jeruk, jahe, daun pandan dan beberapa bahan lainnya. Soal rasa, ada perpaduan antara asam, pedas, gurih dan kaya rempah. Hmmm, sungguh nikmat.

Mencicipi makanan peranakan langsung di semenanjung Malaka, adalah sebuah pengalaman yang menarik dan tentunya wajib dicoba kalau mampir ke sana. Salam Makan-Makan !

Salam Makan Makan

Salam Makan Makan

Truly South India di Kuala Lumpur

Hidangan Chettinad di atas Daun Pisang. Sexy dan Menggoda / photo junanto

Hidangan Chettinad di atas Daun Pisang. Sexy dan Menggoda / photo junanto

Perjalanan ke Kuala Lumpur kali ini membawa saya pada satu hidangan khas dari India Selatan, khususnya wilayah Chettinad, di negara bagian Tamil Nadu. Wilayah Chettinad terkenal dengan makanannya yang khas. The spiciest of the spicy, the most aromatic among the aromatic, begitu kesan yang melekat. Makanan Chettinad kaya akan penggunaan minyak, dan sungguh “generous” dalam pemakaian bumbu-bumbu, seperti kayu manis, cabai, pala, lada, daun salam, dan bunga lawang.

Bersama pak Feriansyah, seorang kawan, saya menelusuri jalan-jalan di KL untuk mencapai restoran Vishalatchi Cettinad yang terletak di Jalan Scott. Kami naik kereta hingga stasiun Kuala Lumpur, dan berjalan beberapa ratus meter untuk mencapai wilayah Jalan Scott. Restoran ini terletak di wilayah warga India. Sambil mencicipi makanan, kita dapat mendengarkan suara-suara orang bersembahyang dari sebuah pura Hindu yang terletak tepat di depan restoran. Sungguh sebuah suasana yang otentik dan unik.

Menurut saya, hidangan Chettinad ini juara di dalam gagrak makanan India Selatan. Rasanya yang pedas, dan disajikan panas, menjadikan hidangan Chettinad ini memiliki keunggulan rasa dibanding makanan India dari daerah lainnya. Penyajiannya juga unik karena dilakukan di atas daun pisang, sebagaimana tradisi asli di daerah asalnya. Berbagai lauk, pilihan kari, baik vegetarian dan non vegetarian, dihamparkan di atas daun pisang, sehingga membuat air liur saya mengalir deras untuk ingin segera mencicipi kenikmatannya.

Saya selalu berpikir kalau makanan yang disajikan di atas daun itu sexy banget. Coba liat nasi pecel pincuk. Kalau dia diletakkan di atas piring, mungkin rasanya biasa saja. Namun begitu disajikan di atas daun pincuk, rasanya langsung terasa sexy. Pun demikian dengan hidangan Tamil Nadu ini. Daun pisang yang dihamparkan di hadapan kita, pilhan lauk dan nasi hangat yang ditebar di atasnya, seperti sebuah komposisi kelezatan yang menanti untuk dicicip dan dinikmati tanpa pikir panjang.

Restoran yang sudah buka sejak 10 tahun itu nampaknya memiliki penggemar yang “die hard”. Semakin malam semakin ramai, baik datang sendiri, bersama kawan, ataupun keluarga. Mereka juga tampak terlihat akrab dengan pegawai dan pemilik restoran. Sebuah ciri restoran yang memiliki basis komunitas. Keunggulan, selain terletak pada rasa, adalah pada kemampuan mereka menjaga tradisi dan suasana, yang dibuat mirip dengan kondisi di kampung halaman mereka. Warung yang sederhana, pajangan gambar-gambar tradisional India, aroma dupa, dan juru masak yang asli didatangkan dari Tamil Nadu, melengkapi kelezatan hidangan restoran itu.

Suasana Warung Vishalatchi KL / photo junanto

Suasana Warung Vishalatchi KL / photo junanto

Soal menu yang disajikan, kita dapat memilih dari ragam makanan vegetarian atau non vegetarian. Menu daging terdiri dari ikan, udang, kepiting, ayam, atau kambing. Orang Chettinad tidak makan sapi dan babi. Cobalah, kepala ikannya, juga kari kambing, ayam, ikan, dan kari telor. Hmmmph, rasanya sungguh luar biasa. Bagi saya kari kambingnya juara. Kelembutan daging kambing dan kelezatan bumbu karinya, menjadi kenikmatan tersendiri yang tak akan terlupakan.

Kita dapat memilih untuk mencicip aneka lauk tersebut dengan nasi, atau dengan roti khas Chettinad, yang dinamakan idly. Bentuk idly seperti kue serabi yang plain, namun fluffy. Nah kita bisa mencocol idly ke kuah kari atau mencampurnya dengan daging, dan merasakan kelezatannya. Waaah, enaknya….

Kalau ingin mencicipi makanan India Selatan, khususnya hidangan wilayah Chettinad, di Kuala Lumpur, coba deh mampir ke Jalan Scott. Siapkan saja perut yang kosong, dan selera makan tinggi. Harganya juga relatif murah untuk sebuah kenikmatan. Selamat mencicipi.