Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia, Washington DC

Steak Halal di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Buat banyak orang, terutama umat muslim, bepergian ke luar negeri kerap membawa masalah sendiri, terkait dengan makanan. Mulai dari kecocokan lidah, hingga kehalalan makanan yang tersedia, adalah kendala yang dihadapi.  Ujung-ujungnya, kalau tidak hanya makan sayur, ya memilih makan ikan saja, untuk amannya.

Namun kini sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir. Hampir di setiap negara maju yang non muslim, sudah banyak terdapat warung atau restoran yang menyediakan daging halal. Di Jepang saja, sudah mudah untuk menemukan restoran yang menyajikan daging halal. Demikian pula di Amerika Serikat. Bukan hanya restoran umum saja yang mulai menyediakan daging halal, bahkan di kantin Bank Dunia, Washington DC, misalnya, saya menemukan sajian menu halal untuk para pegawai maupun tamu Bank Dunia.

Bank Dunia memang mewakili kepentingan dari berbagai suku bangsa, agama, ras, dan tradisi. Pekan lalu, saya mengunjungi Bank Dunia dalam rangkaian seminar membahas Sektor Keuangan. Saat memasuki gedung kantor Bank Dunia, suasana internasional sudah sangat terasa. Di tempat itu, semua bangsa ada. Saya melihat orang Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia, berseliweran. Dalam satu lift misalnya, kerap terdengar orang berbicara dalam berbagai bahasa yang berbeda. Kadang rasanya seperti lost in translation.

Saat makan siang tiba, saya diajak kawan saya untuk mencicipi makan siang di kantin Bank Dunia, yang terletak di lantai B1 Gedung Utama. Pada jam makan siang, kantin itu penuh oleh pegawai Bank Dunia, dari segala level dan tingkatan. Kata teman saya, bukan hanya pegawai biasa, bahkan level Managing Director ataupun Presiden Bank Dunia, sering muncul di sini untuk makan bersama. Mereka sangat cair dan lepas dari protokoler yang ribet. Ibu Sri Mulyani, Managing Director Bank Dunia, asal Indonesia, juga katanya sering muncul di sini untuk makan siang berbaur dengan pegawai.

Sudut Halal Grill di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Sudut Halal Grill di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Kantin Bank Dunia ini luas sekali. Hampir memenuhi setengah dari lantai B1 tersebut. Sebelum memilih makanan, kita mengambil nampan, sendok garpu, atau pisau terlebih dahulu. Lalu kita bebas memilih aneka ragam makanan yang tersedia. Sangat menarik melihat kantin mereka. Bukan seperti kantin pegawai, tapi lebih mirip seperti foodcourt di mall.

Aneka ragam makanan dari berbagai negara disajikan. Ada juga festival makanan dari negara-negara tertentu yang digilir penyajiannya dalam beberapa waktu tertentu. Saat saya datang, sedang diadakan festival makanan Kuba. Berbagai sajian lokal Kuba ditampilkan. Bendera Kuba kecil-kecil juga dipasang di tempat penyajian makanan untuk menambah marak festival.

Namun yang menarik lagi, saya melihat satu counter makanan yang menyajikan aneka daging halal. Tertulis di atasnya tanda “Halal Grill”. Wah, menarik, karena kita tidak perlu repot mencari-cari makanan halal di luar. Di kantin itu, ada beberapa pilihan daging, mulai dari  kambing, ayam, hingga sapi. Dan pastinya, semua halal.

Saya memesan Daging NY Strip Steak. Petugas kantin lalu bertanya ingin disajikan apa, medium done atau well done. Saya memilih medium done, agar rasa dagingnya lebih juicy. Daging kemudian dipanggang, dan disajikan dengan salad dan sayuran. Kita bisa juga memilih kentang atau nasi sebagai pendamping. Soal rasa, tentu kualitasnya seperti restoran. Simple namun memiliki kelezatan tersendiri. Steak yang saya pesan rasanya lezat. Dagingnya lumayan lembut, dan bumbu salad serta sayurnya kaya.

Kantin Bank Dunia, atau mereka menyebutnya Cafeteria, adalah sebuah representasi keragaman yang indah. Dalam suasana dan lingkungan beragam, prasyarat yang diperlukan untuk menjaga keharmonisan dan kestabilan tatanan adalah “respect”, atau saling menghormati. Dan di Kantin Bank Dunia, nilai itu terlihat. Mewujud dalam aksi. Bukan sekedar jargon atau kata-kata di spanduk. Ya, keragaman itu indah, meski katkata itu kerap lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Salam Keragaman.