Tubuh, Perempuan Jepang, dan Seks

Tubuh Perempuan / ilustrasi dari kompas.com

Tubuh Perempuan adalah sebuah panggung drama. Demikian diungkapkan oleh Simone de Beauvoir (1908-1986), seorang feminis yang terkenal dengan bukunya, The Second Sex. Perempuan, menurut Simone, adalah makhluk yang tubuhnya masuk dalam penyelidikan fenomenologis.

Semenjak ia mengalami menstruasi hingga menopause, hormon yang diproduksi menyebabkan tubuhnya bagai panggung drama. Hormon itu kerap meledak-ledak hingga ia kadang tak mampu mengontrol dirinya sendiri.

Saat kehamilan, melahirkan, menyusui, membesarkan anak, dan menstruasi yang datang berulang, hingga menopause, perempuan kerap terombang-ambing dalam perasaan yang sulit dijelaskan. Ia bisa sedih, ia bisa mellow, tanpa sebab. Itulah perempuan. Apapun kebangsaannya, baik perempuan Jepang atau perempuan Indonesia, menghadapi fenomena kebertubuhan yang sama.

Dengan pandangan demikian, perempuan menjadi sesuatu “yang lain”. Inilah konsep yang memandu seluruh analisis de Beauvoir dalam buku The Second Sex. Dengan cara mengeksploitasi perbedaan seksual, struktur patriarkal menciptakan ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Second Sex mendefinisikan apa yang mampu dan tidak mampu dilakukan oleh “tubuh” perempuan. Perempuan, menjadi kelas dua dalam kehidupan.

Kebertubuhan yang membedakan inilah yang coba didobrak oleh R.A Kartini lebih dari seratus tahun lampau. Melalui surat-surat dan ungkapan hati kepada Stella sahabatnya, Kartini menuliskan pandangannya tentang feminisme dan nasionalisme.

Meski banyak yang kecewa dengan Kartini, karena ia akhirnya menyerah saat diperistri oleh Bupati Rembang yang sudah beristri tiga, Kartini tetap sebuah perjuangan.

Dalam diam, Kartini memberontak. Sebagaimana diungkap pula oleh Leo Tolstoy dalam bukunya Anna Karenina. Saat Anna tak mampu menghadapi tekanan pada perkawinannya yang tak bahagia, ia menabrakkan diri ke kereta api. Bukan sekedar menabrakkan diri, tapi ia melakukan sebuah pemberontakan di jamannya.

Dengan berbagai cerita itu, nasib wanita hingga kini masih tak jauh beda. Jaman boleh berganti, tekhnologi boleh bertambah maju, tapi perempuan masih berada dalam peranannya yang marginal.

Bukan hanya di Indonesia. Jepang yang terkenal sebagai negara maju juga terlambat dalam memandang kebertubuhan kaum perempuan. Sebelum abad ke-19, wanita di Jepang dianggap rendah. Kaum perempuan hampir tidak punya hak apa-apa. Mereka harus patuh pada kaum pria, tak punya hak edukasi, tak punya hak politik, dan kerap hanya menjadi obyek seks belaka.

Pengantin Perempuan di Jepang / photo Junanto

Gerakan kaum perempuan di Jepang baru dimulai pascarestorasi Meiji. Setelah tahun 1946, Jepang lalu mulai mengundangkan kesamaan hak bagi kaum perempuan. Setelah itu, perlahan demi perlahan, kaum perempuan Jepang mendapatkan haknya.  Sebuah langkah yang relatif lebih lambat dibandingkan dengan Indonesia yang memulai gerakan kaum Ibu dalam Kongres Kaum Perempuan Indonesia di tahun 1928.

Di Jepang, budaya mengangkat harkat kaum perempuan masih terlihat gagap dan tersendat. Seorang suami bahkan dulu masih bisa membawa perempuan lain ke rumah, sementara istrinya menyiapkan kamar untuk keperluan suaminya. Tingkat kekerasan dalam rumah tangga juga masih tinggi.

Berbagai gerakan kaum perempuan dan upaya pemerintah Jepang untuk melakukan perlindungan hukum telah banyak digalang. Satu organisasi seperti Tokyo Federation of Women Organization, memiliki berbagai divisi yang dikhususkan pada upaya perlindungan kaum perempuan di Jepang.

Organisasi seperti Liga Peningkatan Kesamaan Hak Perempuan atau Fujin Sanseiken Kakutoku Kisei Domei adalah satu organisasi yang cukup berpengaruh di Jepang saat ini untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan.

Realita bagi kaum perempuan memang tak mudah. Satu hal yang saat ini sangat memprihatinkan adalah soal kemiskinan. Data pemerintah Jepang dan National Institute of Population and Social Security Research (NIPSSR), menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan di Jepang berusia 20 hingga 64 tahun, hidup menyendiri dalam kemiskinan. Kaum perempuan di Jepang tercatat lebih miskin dari kaum prianya.

Kalau Jepang, yang notabene negara maju saja menghadapi tantangan yang berat pada kaum perempuannya, bagaimana Indonesia?

Dilihat dari struktur demografi ekonomi, kaum perempuan Indonesia juga masih terpinggirkan. Dari jumlah penduduk miskin absolut di Indonesia, apabila dibedakan menurut jenis kelaminnya, maka penduduk perempuan miskin (16,72%) lebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki (16,61%).

Kalau kita merinci menurut rumah tangga, maka rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan di Indonesia jumlahnya masih tinggi. Kemiskinan di Indonesia sangat lekat dan dekat dengan perempuan. Dana BLT yang diterima dari Pemerintah sebagian besar juga diterima oleh laki laki, karena definisi kepala keluarga di Indonesia masih menempatkan laki-laki sebagai subjeknya.

Dampak dari kemiskinan tersebut dapat ditebak, prioritas akses pada berbagai layanan akan diberikan lebih banyak pada laki-laki. Tidak mengherankan jika perempuan identik dengan kemiskinan. Budaya patriarkat yang masih melekat di Indonesia menyebabkan perempuan tertinggal di setiap sektor. Di sektor pendidikan dapat kita lihat bahwa persentase rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan yang berpendidikan SD dan SLTP lebih tinggi jumlahnya dibandingkan rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki. Sebaliknya, persentase rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki dengan pendidikan sekolah menengah ke atas jumlahnya lebih tinggi.

Berbagai upaya tentu telah dilakukan untuk memberdayakan perempuan Indonesia. Meski begitu, saat ini tantangan ke depan masih berat. Masalah ketimpangan gender, angka kematian ibu, masalah buruh perempuan, Tenaga Kerja Wanita yang kerap disiksa, Pekerja Rumah Tangga Wanita, dan berbagai permasalahan lainnya masih menggelayuti negeri ini.

Kartini / sumber google

Kartini di hari-hari ini menjadi relevan lagi. Isu yang diangkatnya dari sebuah desa kecil di Jawa ternyata bukan isu lokal. Kartini justru mengangkat sebuah isu universal yang bukan hanya masalah bagi tradisi Jawa. Bahkan di Jepang sekalipun, hingga saat ini, isu pemberdayaan perempuan masih relevan.

Indonesia bisa dinilai lebih maju dari Jepang dalam memberdayakan kaum perempuannya. Kita bahkan telah memiliki Presiden perempuan, dan banyak perempuan berpartisipasi dalam politik. Satu hal yang masih langka di Jepang.

Di hari Kartini ini, kiranya kita perlu merenungkan kembali, bahwa perempuan adalah tulang punggung bangsa. Bangsa ini tak bisa jalan tanpa perempuan. Andai para ibu rumah tangga mogok saja dalam sehari, maka mandeklah  kehidupan kita. Kalau ibu rumah tangga berhenti belanja dalam sehari, mogoklah ekonomi kita. Banyak perusahaan yang bisa bangkrut karena diboikot ibu-ibu. Dijamin, bukan hanya perekonomian, tapi bapak-bapak juga bakal kerepotan.

Selamat Hari Kartini. Salam.