Flying Traveler in Washington DC

Mid May, it was a perfect day in Washington DC. I was strolling around The National Mall and have a good experience seeing all the monuments and historic buildings. It is always my desire to do levitation in such an interesting place. So, I did some levitation photos in Washington DC. I started to do levitation at the Washington Monument, Capitol Hill, and walk around to Library of Congress, and White House. My friend, Dony, took my levitation pictures. Please enjoy, here are some of my levitation pictures, during my short trip to DC. Thank you for stopping by.

PS. levitation pictures taken with no app, no photoshop, no trick. It is purely levitation skills.

Levitation at Washington Monument

Levitation at Washington Monument

Flying around the "No Fly Zone"

Flying around the “No Fly Zone”

Flying Traveler on a mission: Secret Service Levitation

Flying Traveler on a mission: Secret Service Levitation

The Library of Congress

The Library of Congress

The Capitol Hill Levitation

The Capitol Hill Levitation

 

 

 

 

Levitasi di Monas

Levitasi di Monas

Levitasi di Monas

Hampir tiga tahun saya melakukan levitasi di berbagai kota dan tempat. Tapi belum pernah saya melakukan levitasi di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Padahal Jakarta adalah tempat kelahiran saya. Ya, setelah hampir 5 tahun bertugas di luar Jakarta, hanya sesekali saja saya kembali ke Jakarta. Oleh karenanya, saat liburan Nyepi 2014 kali ini, saya menyempatkan diri untuk pulang liburan ke Jakarta, dengan satu misi khusus, melakukan levitasi di Monas (hahaha … niat banget kan).

Pagi hari, Minggu, saya bersiap menuju monas untuk levitasi. Tapi alangkah kagetnya saya melihat monas telah berubah. Car Free Day. Itu sebabnya. Sekitar lima tahun lalu, hari Minggu di monas tidak terlalu ramai. Meski ada CFD sekalipun, keramaian belum seperti kemarin. Luar biasa padatnya. Ya, Jakarta memang telah berubah.

Di tengah keramaian itu, sulit bagi kita untuk melakukan levitasi. Hampir setiap saat orang mondar mandir. Belum lagi ada yang naik sepeda, motor dandy, delman, atau ondel-ondel lewat. Saya mencoba mencari spot untuk melakukan levitasi. Beruntung ada sudut taman, dengan gundukan rumput yang lumayan sepi.

Selain melakukan levitasi standar (foto atas), di sana saya juga mencoba melakukan levitasi horizontal. Ini adalah pose levitasi yang cukup sulit dan menantang. Hal ini karena kalau kita terlambat mengantisipasi pendaratan, akibatnya fatal. Tapi, for the love of Monas, saya mencobanya. Hasilnya lumayan juga. Silakan dinikmati pada foto di bawah ini.

Horizontal Levitation at National Monument / photo taken by andriani

Horizontal Levitation at National Monument / photo taken by andriani with samsung nx300

Saya juga mencoba levitasi dengan ondel-ondel, dan tentu dengan latar belakang ikon menara kembar Bank Indonesia.

Demikian share saya tentang levitasi di area Monas. Terima kasih sudah mampir, dan salam levitasi.

Shocked by ondel-ondel

Shocked by ondel-ondel

Beyond Central Banking

Beyond Central Banking

 

Levitasi di Lawang Sewu

Levitasi di Lawang Sewu, Semarang

Levitasi di Lawang Sewu, Semarang

Saya selalu terkagum-kagum dengan bangunan Lawang Sewu di kota Semarang, Jawa Tengah. Bagi saya, Lawang Sewu adalah salah satu landmarks dari berbagai bangunan era kolonial yang terindah di dunia. Lawang Sewu didirikan pada tahun 1904 oleh arsitek Prof. Klinkhamer dan B.J. Qüendag, yang di dalam proses tersebut juga terlibat arsitek C. Citroen yang juga mendesain beberapa gedung di Hindia Belanda pada masa itu, seperti kantor Balaikota Surabaya dan Rumah Sakit Darmo.

Lawang Sewu bukanlah nama asli gedung tersebut, melainkan sebuah kantor untuk Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta Belanda. Namun karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, orang Jawa menyebutnya dengan istilah Lawang Sewu. Di Jawa, sesuatu yang sifatnya banyak atau masif kerap di representasikan dengan jumlah seribu.

Banyak cerita gaib yang beredar tentang gedung Lawang Sewu. Bahkan beberapa acara reality show di televisi pernah melakukan pengambilan gambar tentang dunia misteri di Lawang Sewu. Padahal sebenarnya, kisah sejarah di balik Lawang Sewu jauh lebih menarik untuk dinikmati para pengunjung.

Arsitektur bangunan kolonial yang bersifat campuran atau ekletik dirancang sesuai dengan iklim tropis. Hal itu terlihat dari bagaimana Lawang Sewu dibangun, dengan tetap menampilkan gaya Eropa ciri “Amsterdam School”, namun dibuat sedemikian rupa sehingga sebagian besar dari gedungnya tidak menghadap ke arah Timur-Barat secara langsung. Lawang Sewu mengantisipasi tampiasnya air hujan dan sinar matahari langsung dengan desainnya yang unik.

Satu hal yang menarik adalah adanya ruangan bawah tanah yang diisi oleh air. Fungsinya untuk menjaga kelembaban bangunan sehingga ruangan tidak terasa panas di siang hari. Jaman dahulu belum ada pendingin ruangan sehingga ide membuat ruang air bawah tanah adalah sebuah hal luar biasa.

Nah, di jaman pendudukan Jepang, Lawang Sewu dijadikan markas Kempetai atau polisi Jepang, dan ruangan bawah tanah itu dijadikan penjara air untuk tahanan. Lawang Sewu pernah dipakai sebagai kantor Kereta Api, Komando Daerah Militer IV Diponegoro, dan Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini menjadi saksi peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945). Sebelumnya,

Levitasi di Lawang Sewu adalah sebuah pengalaman dan penjelajahan sejarah. Saya memilih tempat di depan dan tengah gedung untuk melakukan levitasi. Kemegahan bangunan Lawang Sewu menjadikan levitasi memiliki efek “grandiose”. Bangunan bersejarah selalu menjadi latar belakang yang bagus untuk melakukan levitasi. Cobalah berkunjung ke bangunan bersejarah di tanah air, dan lakukan levitasi.

Salam levitasi !