Ayam Si Mbah Pedes yang Cerewet

Ayam Pedesan si Mbah / photo junanto

Ayam Pedesan si Mbah / photo junanto

Di era customer oriented saat ini, para pelaku usaha berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin pada pelanggan. Mulai dari penerimaan, hingga pelayanan prioritas, diciptakan agar pelanggan puas dan terus datang. Tapi tidak demikian dengan mbah Siti Aisyah, pemilik Warung Langgeng di daerah Krembangan, Surabaya.

Warung Langgeng menjual menu khusus, Ayam Krengsengan dan Sambel Pedas, yang terkenal kelezatannya lebih dari 60 tahun. Ya, warung itu berdiri sejak tahun 1952 dan memiliki banyak cerita.

Tapi bukan itu yang menarik dari warung Si Mbah. Hal yang menjadi ciri khas dari Warung Langgeng adalah bagaimana si Mbah melayani pelanggannya. Bukannya menyambut ramah dan menawarkan “hospitality”, tapi si Mbah malah rajin mencereweti, bahkan bisa dikatakan galak, pada pelanggan yang datang.

Kalau ada pelanggan yang banyak bertanya atau banyak maunya, si mbah akan marah. Saya mendengar dari Pak Yunus, seorang rekan di kantor, tentang keunikan Si Mbah. Katanya saat ada satu ibu bertanya tentang menu, dan meminta untuk tidak memakai ini dan itu, si mbah langsung membentak, “Wis meneng ae, arep mangan nang kene opo ora?” (udah diam aja, mau makan di sini atau nggak?). Atau malah si mbah pernah mengusir seorang pelanggan karena terlalu banyak meminta atau bertanya.

Beberapa pelanggan ada yang sempat “misuh-misuh” atau ngegerundel, ada yang diam tapi tak sedikit pula yang langsung keluar. “Wah, kita kan mau beli makan, masa dibentak-bentak. Mending keluar aja”, demikian kata pak Yunus menirukan komentar satu pelanggan. Waaah, ngeri juga yaaa.

Tapi cerewetnya si Mbah malah memberi keunikan tersendiri bagi Warung Langgeng. Suatu siang, saya untuk pertama kalinya mampir mencoba makanan di sana. Konon kata orang, si Mbah ini relatif baik kalau sama pria. Apalagi yang masih muda hehe.

Saat masuk warung, si mbah langsung menatap kami. Mau apa? tanyanya. Ya karena kita sudah tau ceritanya, kita bilang dengan sopan saja. Ayam mbah, dua porsi. Datanglah dua porsi ayam krengsengan beserta sambal pedasnya yang luar biasa. Saya makan dengan tenang dan tidak banyak bicara atau bertanya. Takut si mbah marah hehe….

Eh tapi bener juga, rasa krengsengan ayam dan sambalnya dahsyat. Perpaduannya pas dan nikmat. Lalapan disajikan dalam nampan besar dan all you can eat. Enaknya.

Karena pedas, wajah saya berkeringat basah. Untuk menyeka, saya ambil sapu tangan dan mengelap wajah berkeringat. Tiba-tiba si mbah, saat melihat saya menyeka wajah dan bagian mata, langsung  membentak, “Woi, kowe mangan ojo nangis. Mangano ae!” (Hei, kamu makan jangan nangis, nikmatin aja). Saya kaget, tapi langsung tertawa, karena merasa, “kena juga gw sama si mbah” hehehe….

Tapi setelah itu, si mbah malah ramah dan banyak ngobrol. Dari situ saya baru tahu kalau si mbah usianya sudah 95 tahun. Haa? 95 tahun? Ya, dan di usia itu, si Mbah masih kuat melayani pelanggan, mulai dari menuang sayur hingga membungkus nasi. Ia bercerita banyak tentang pengalamannya selama lebih dari 60 tahun berjualan. Intinya, ia memang cerewet dan tidak suka kalau pelanggan banyak bertanya. Tapi karena kebiasaan itu juga, dan karena rasa makanannya yang khas, pelanggan justru bolak balik datang ke sana.

Ada yang kangen dengan cerewetnya si mbah, ada yang kangen dimarahin, ada yang ingin nostalgia masa muda, berbagai alasan untuk kembali dan kembali ke warung si mbah. Walaupun ada risiko kena marah.

Ya, mungkin si mbah ini cerewet. Tapi kita semua tidak merasa sakit hati. Seperti diomelin oleh nenek sendiri saja. Didengar tapi tidak dimasukkin hati, yang penting ayam tersaji hehehe…. Di ujung jamuan saya minta foto bareng sama si mbah. Dan dia sambil mencerocos kalau hari itu belum berdandan (genit juga ya si mbah), akhirnya tetap bersedia di foto. Ini dia hasilnya.

Bersama si Mbah Ayam Krembangan

Oh ya satu lagi, itungan si mbah juga kurang begitu bagus. Jadi kalau kita minta ia menghitung harga, umumnya tidak bisa seragam. Suka-suka si mbah saja, kadang rasanya murah, tapi kadang kayak kemahalan hehehe… Tapi secara keseluruhan, kunjungan ke Warung Langgeng dan bertemu si Mbah adalah pengalaman yang luar biasa.