Kala Sakura Merekah di Tokyo

Sakura Menggantung di Sungai Meguro / photo Junanto

Awal bulan April adalah momen yang paling indah di Jepang. Saat itu, bunga sakura mekar di berbagai penjuru negeri. Dua minggu terakhir ini, saya menikmati hari-hari merekahnya sakura di Tokyo.

Setelah pada musim sakura tahun 2011 lalu masyarakat Jepang berduka akibat bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah Tohoku, tahun ini mekarnya sakura dirayakan secara lebih meriah. Suasana kota Tokyo kembali hidup dan bergairah sebagai penanda lahirnya harapan baru.

Untuk merayakan mekarnya sakura, masyarakat Jepang punya tradisi yang dinamakan “hanami”. Kata “hanami” berasal dari “hana” yang artinya “bunga”, dan “miru” yang artinya “melihat”. Hanami secara literal diartikan sebagai piknik bersama kawan atau keluarga sambil memandang keindahan bunga sakura.

Tradisi hanami ini sebenarnya bukan asli dari Jepang, melainkan diadopsi dari masyarakat Cina yang memiliki kebiasaan melihat mekarnya bunga plum di musim semi. Di Jepang, kebiasaan itu diadopsi sejak ratusan tahun lalu. Banyak yang mengatakan tradisi hanami dimulai sejak periode Nara (710-784 SM). Namun bedanya di Jepang, hanami lebih difokuskan pada keindahan dan pendeknya rentang waktu merekahnya bunga sakura.

Saat itu orang Jepang percaya bahwa di dalam setiap pohon sakura bersemayam dewa-dewa. Saat musim dingin, para dewa pergi ke gunung. Merekahnya sakura diartikan bahwa dewa-dewa telah turun dari gunung dan membawa angin musim semi. Saat itulah, para petani bersiap untuk mulai menanam sawah mereka.

Masyarakat Jepang kemudian berkumpul di bawah pohon sakura, dan menawarkan berbagai sajian bagi para dewa. Mereka juga makan dan minum bersama sebagai bagian dari upacara menghormati kedatangan sang dewa.

Di masa Kaisar Saga dan Heian, praktik hanami hanya dibatasi bagi keluarga elite kerajaan. Namun kemudian tradisi ini menyebar di kalangan samurai. Di jaman Edo, pertengahan tahun 1800-an, tradisi hanami mulai dilakukan oleh orang biasa. Hingga hari ini, tradisi itu terus dilakukan oleh orang Jepang setiap tahunnya.

Hanami adalah sebuah tradisi yang sangat penting di Jepang. Setiap tahun, Badan Meteorologi Jepang mengumumkan ramalan mekarnya sakura. Ramalan ini dinamakan Sakurazensen. Orang-orang Jepang memantau ramalan sakura ini dengan cermat, karena mereka harus merencanakan kapan untuk melakukan hanami.

Perencanaan hanami menjadi penting karena sakura hanya merekah sekitar satu atau dua minggu saja. Di waktu yang sempit itu selalu ada risiko hari-hari yang anginnya kencang dan hujan deras. Kalau sudah begitu, mungkin hanya sekitar 3-4 hari saja kita bisa melakukan hanami.

Tahun 2012 ini, sakura merekah agak terlambat dan baru mencapai puncaknya pada hari Minggu, 8 April 2012.  Dan di hari itu, saya bersama kawan-kawan menelusuri kota Tokyo untuk mencari spot hanami terbaik.

Tokyo memiliki banyak tempat yang indah untuk melihat bunga sakura, baik itu taman ataupun kuil. Aneka kuil Shinto dan Buddha umumnya memiliki pohon sakura yang umurnya bisa mencapai ratusan tahun. Di antara tempat yang populer adalah Taman Ueno, Taman Shinjuku, Wilayah Kudanshita, Istana Imperial, Asakasa Sacas, Roppongi Hills, sekitar bantaran Sungai Meguro, dan Pekuburan di Aoyama.

Saya memulai perjalanan dengan menuju tempat favorit saya di Shinjuku Gyoen atau taman Shinjuku yang terletak di tengah kota Tokyo. Namun Shinjuku Gyoen pada hari itu penuh sesak dengan orang. Padahal tahun lalu saya bisa masuk melenggang ke dalamnya. Antrian untuk masuk ke taman sudah mengular hampir satu kilometer, hingga mendekati stasiun Shinjuku.

Mereka umumnya sudah datang sejak pagi hari, bahkan ada yang datang dini hari. Hanami dilakukan bukan hanya oleh keluarga, tapi juga oleh perusahaan-perusahaan dan tentu, para turis. Deretan bis turis memadati kawasan parker taman Shinjuku hingga menimbulkan kemacetan.

Suasana di taman juga sangat padat dan sulit sekali mendapatkan ruang untuk menggelar tikar. Namun saya tidak melihat orang-orang mengeluh dan saling berebut tempat. Mereka justru mengantri dengan tertib, saling bergembira dan menyapa, bahkan ada yang saling berbagi makanan dan minuman.

Dari Shinjuku Gyoen, saya pindah tempat hanami dengan menyusuri kawasan sungai Meguro. Kawasan ini sangat indah, khususnya di waktu sore hari. Saya paling suka untuk duduk dan berdiam di sana hingga malam datang.

Pohon sakura di sungai Meguro tumbuh berderet di sepanjang pinggiran sungai. Saat mereka merekah, bunganya membentuk kanopi di atas sungai, dan ranting-rantingnya menggantung indah di sana. Saya sangat menikmati indahnya bayangan dan refleksi bunga sakura di aliran sungai. Saat angin kencang bertiup, suasana menjadi lebih indah karena putik-putik sakura beterbangan tertiup angin dan jatuh mengalir bersama air sungai. Melihat itu semua, saya merasakan keindahan dan kedamaian tumbuh di dalam hati.

Di tahun 1912, Jepang menyumbangkan sekitar 3000 pohon sakura ke Amerika Serikat untuk merayakan persahabatan antar kedua negara. Pohon sakura itu ditanam di Washington DC dan setiap tahun diselenggarakan festival untuk melihat sakura, yang dinamakan “Annual Cherry Blossom Festival”.  Tahun ini juga menandai 100 tahun pemberian bunga sakura oleh Jepang. Untuk itu,  masyarakat Amerika mengadakan upacara peringatan 100 tahun sakura tiba di Amerika.

Keindahan dan kedamaian yang terpancar dari sakura selalu mengingatkan saya pada kehidupan yang penuh berkah. Bunga sakura mengingatkan kita betapa hidup ini indah. Namun kita juga diingatkan bahwa meski indah, sakura hanya bertahan dalam waktu yang singkat. Di singkatnya waktu itu, kita wajib mensyukuri setiap detik keindahan yang terjadi.

Kadang kita selalu menerima begitu saja apa yang kita miliki dalam hidup ini. Istilahnya, take for granted. Kita selalu berpikir bahwa kita dapat begitu saja memiliki berbagai hal itu setiap hari, keluarga kita, kesehatan kita, ataupun pekerjaan kita. Seolah mereka ada begitu saja dan menjadi hak kita. Mekarnya sakura mengingatkan kita bahwa kita harus selalu berterima kasih pada Tuhan atas segala hal yang diberikan dan keindahan hidup yang setiap detik dianugerahkan kepada kita.

Setiap malam di musim sakura, putri saya selalu meminta dinyanyikan lagu tradisional Jepang sebelum tidur. Kita pasti ingat lagunya. Begini liriknya: Sakura/sakura/noyamamo satomo/miwatasu kagiri/kasumi-ka kumo-ka/asahi-ni ni ou/sakura-sakura/hanazakari. (Sakura, Sakura, Di gunung dan di desa. Sejauh mata memandang. Mereka nampak seperti kabut atau awan. Mereka merekah di mentari pagi. Sakura. Sakura. Merekah penuh).