Hikayat di Stasiun Semoet dan Sekitarnya

di depan rumah sinyal stasiun semut bersama kawan-kawan
di depan rumah sinyal stasiun semut bersama kawan-kawan

Jiwa sebuah kota bukan terlihat dari apa yang nampak, tapi kadang dari apa yang tersembunyi. Oleh karena itu, saat mas Ipung, penulis buku Surabaya Punya Cerita, mengajak saya untuk jalan pagi di sekitaran Stasiun Semut, saya menyambutnya dengan senang hati. Selain bisa mendengar langsung berbagai cerita dari “penguasa” kisah-kisah tempo doeloe Surabaya, jalan pagi bersama komunitas akan menambah kawan.

Saya datang agak terlambat dan bertemu di depan Stasiun Semut. Mas Ipung mengenalkan saya pada pak Supratman dan mbak Lucia, mas Ragil, mbak Tia, mbak Silvana, dan ada juga Mas Dimas dari AISIEC. So, lengkaplah sudah kita. Perjalanan diawali dengan berhenti di Rumah Sinyal Stasiun Semut. Ya, Stasiun Semut adalah stasiun tertua di Surabaya dan merupakan satu dari 10 stasiun kereta api tertua di Indonesia. Diresmikan pada tahun 1878. Kini, stasiun Semut sedangd alam proses renovasi untuk menjadi museum (semoga bisa menjadi kenyataan segera).

Sebaliknya, Rumah Sinyal Stasiun Semut masih beroperasi penuh sebagai pemberi isyarat sebelum kereta masuk ke Stasiun Surabaya Kota (pengalihan dari Stasiun Semut). Banyak kisah tentang rumah sinyal di stasiun semut, mulai dari kisah perjuangan hingga kisah mistik. Berbagai kisah itu yang membuat rumah sinyal selalu menjadi perhatian masyarakat kota Surabaya. Kalau minggu pagi, banyak orang berkumpul di sekitar stasiun sekedar untuk melihat kereta datang dan pergi.

Dari Stasiun Semut kita menyusuri Kampung Pengampon. Nah ini dia gambaran kampung Surabaya tempo doeloe. Ciri khasnya, di depan gang masuk ada pos penjagaan yang letaknya di atas gapura. Ini dulu konon untuk penjaga keamanan kampung. Saat menyusuri gang gang kecil ini kita bisa merasakan suasana kampung di Surabaya. Di balik bangunan mewah dan gedung tinggi, ternyata Surabaya masih memiliki banyak kampung. Tapi uniknya, kondisi kampung di Surabaya ini relatif lebih bersih dan tertata. Banyak tanaman di pot yang dijejer rapi.

plang nama di kampung pengampon, masih menggunakan ejaan belanda, kalimeer.
plang nama di kampung pengampon, masih menggunakan ejaan belanda, kalimeer.

Kita lanjut ke daerah Jagalan dan mampir di Klenteng Jagalan. Di sana kami ditemui oleh Pak Adi, salah seorang pengurus klenteng. Dia bercerita kalau hari itu sedang persiapan upacara “fengzhen”, atau upacara melepas jiwa ke alam. Biasanya, orang Tionghoa membeli burung lalu melepasnya di alam, bisa di pantai atau di rumah. Tradisi itu umum dilakukan setelah Hari Imlek sebagai simbol melepaskan nafsu jahat atau negatif dari diri kita. Dengan lepasnya jiwa burung-burung itu ke alam, kita juga melepas nafsu negatif dari diri.

Pak Adi juga mengajak diskusi tentang berbagai tradisi Tionghoa, sebelum dan setelah Imlek. Tradisi-tradisi itu ternyata memiliki makna filosofi yang tinggi, yang berujung sebenarnya pada kebersyukuran pada Yang Maha Kuasa atas segala karunianya, dan juga ajakan untuk berbuat baik pada sesama, melakukan kebajikan, dan mengurangi berbuat buruk. Sungguh indah. Ya, agama apapun sebenarnya memiliki pesan moral yang sama, mengajarkan kita untuk bersyukur dan berbuat kebajikan. Tidak ada agama yang mengajarkan kita untuk berbuat kerusakan atau menyakiti sesama, meski berbeda keyakinan sekalipun.

Well, perjalanan pagi itu sungguh memberi pelajaran bagi kita semua. Selain bertambah kawan, memperpanjang silaturahmi, kita jadi bisa belajar sepatah hikayat Surabaya tempo doeloe, melihat jiwa kota di balik apa yang tampak, dan pada ujungnya mendapat pencerahan moral dan spiritual.

Mari kita terus cintai budaya, dan saling berbuat kebajikan. Salam kebajikan.

di klenteng jagalan
di klenteng jagalan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *