Endah Kreco, dari Sawah ke Manca Negara

Bersama Endah Kreco di Warung Kebul Kebul miliknya
Bersama Endah Kreco di Warung Kebul Kebul miliknya

Menjelang hari Kartini, saya diundang oleh Mbak Endah, seorang kawan, untuk mampir ke warung terbarunya di daerah Kebraon, Surabaya. Ia ingin memperkenalkan menu terbaru warungnya, yaitu Kreco (sejenis keong sawah – kalau di Jabar namanya Tutut) dan Bothok Lele. Sebelumnya, Mbak Endah sudah terkenal dengan produk ikan wadher (ikan kecil di air tawar). Ia sudah memiliki tiga warung makan, dan mulai merintis franchise Kreco Bumbu Serapah Khas Jatim.

Tak sampai tujuh tahun lalu, Endah tak punya apa-apa. Ia bercerita sambil menerawang mengingat masa sulitnya dulu. Ia dan suaminya, tak punya pekerjaan. Rumah tak punya, uang tak punya. Tapi Endah punya kemampuan memasak yang diwarisi dari nenek dan tetangga-tetangganya waktu kecil di Gresik.

Ia lalu mengajak suaminya menangkap ikan wader (ikan air tawar kecil) di kali dan waduk-waduk sekitar Gresik. Satu per satu ikan itu dibersihkannya, lalu digoreng. Endah lalu menjajakan dari warung ke warung. Rasa wadher Mbak Endah ini memang khas. Crispy dan tepat bumbunya. Singkat kata, permintaan meningkat, bahkan ia memasok ke beberapa restoran besar di Surabaya.

Ingin maju dan berkembang, Endah pergi ke Dinas Perikanan Kota Surabaya, untuk mendapatkan advis tentang budi daya wader. Dinas Perikanan malah tertarik dengan usahanya. Endah kemudian dipinjami modal alat pendingin, diajari cara membesarkan usaha, memberi “brand”, mengajukan label halal dari MUI, hingga berhubungan dengan bank. Merek “Qalifish” dipilihnya sebagai brand. Sejak itu, usaha Endah tumbuh pesat. Ia meraih juara pertama tingkat kota Surabaya, dan juara tiga tingkat provinsi Jatim, untuk kategori inovasi Usaha Kecil Mikro Menengah.

Dalam dua bulan terakhir ini, Endah memperkenalkan produk barunya, yaitu Kreco, atau sejenis keong sawah. Saya mencicipi kreco buatan Mbak Endah. Katanya ini pakai bumbu serapah, atau bumbu dengan aneka rempah khas Jatim. Betul sekali, rasanya uenaak. Sama sekali tidak terasa bau sawah. Bersih, segar, dan tentu makanan ini kaya gizi. Penelitian mengatakan bahwa Kreco mengandung banyak protein. Kalau di Perancis, ini bisa masuk kategori l’escargot yang harganya bisa jutaan Rupiah itu.

Kreco, sejenis keong sawah yang menjadi kudapan favorit di Surabaya. Mirip Escargot kalau di Perancis
Kreco, sejenis keong sawah yang menjadi kudapan favorit di Surabaya. Mirip Escargot kalau di Perancis

Masakan Mbak Endah bahkan pernah menembus Istana Negara di Jakarta. Katanya, suatu waktu saat kunjungan Presiden RI ke Jatim, salah seorang Paspampres merasakan kenikmatan ikan wadhernya. Endah kemudian diundang ke salah satu acara di Istana untuk menyajikan ikan wadher bagi para tamu dan pejabat tinggi. Mbak Endah memperlihatkan pada saya beberapa souvenir yang diterimanya dari Istana Negara.

Bukan itu saja, beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi melalui Dinas Perikanan, mengajak Mbak Endah untuk promosi produknya hingga ke Osaka, Jepang. Mbak Endah tentu tidak mengira kalau usahanya bisa diajak promosi di pasar luar negeri.

Endah adalah salah satu contoh Pahlawan Perempuan. Selain mampu meningkatkan taraf hidup dirinya dan keluarga, Endah juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Ia mempekerjakan ibu-ibu untuk membantunya di bagian produksi, mulai dari membersihkan ikan wadher, kreco, hingga memasak. Pemberdayaan ekonomi bagi kaum perempuan adalah salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam membangun ketahanan ekonomi kerakyatan. Surabaya terkenal sebagai satu kota yang menetapkan Pemberdayaan Ekonomi Kaum Perempuan, sebagai salah satu pilar pertumbuhannya.

Ya, kalau dilihat dari struktur demografi ekonomi, kaum perempuan Indonesia memang masih terpinggirkan. Dari jumlah penduduk miskin absolut di Indonesia, apabila dibedakan menurut jenis kelaminnya, maka penduduk perempuan miskinlebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki.

Kalau kita merinci menurut rumah tangga, maka rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan jumlahnya masih tinggi dari tahun ke tahun. Kemiskinan di Indonesia sangat lekat dan dekat dengan perempuan. Dana bantuan yang diterima dari Pemerintah sebagian besar diterima oleh laki laki, karena definisi kepala keluarga di Indonesia masih menempatkan laki-laki sebagai subjeknya.

Dampak dari kemiskinan tersebut dapat ditebak, prioritas akses pada berbagai layanan akan diberikan lebih banyak pada laki-laki. Tidak mengherankan jika perempuan identik dengan kemiskinan. Di sektor pendidikan dapat kita lihat bahwa persentase rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan yang berpendidikan SD dan SLTP lebih tinggi jumlahnya dibandingkan rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki. Sebaliknya, persentase rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki dengan pendidikan sekolah menengah ke atas jumlahnya lebih tinggi.

Perbedaan sosial, ekonomi, dan politik kaum perempuan itulah yang coba didobrak oleh R.A Kartini lebih dari seratus tahun lampau. Melalui surat-surat dan ungkapan hati kepada Stella sahabatnya, Kartini menuliskan pandangannya tentang feminisme dan nasionalisme. Di dalamnya, mencakup bagaimana peranan kaum perempuan bisa terus ditingkatkan dalam membangun negeri.

Kini, lebih dari seratus tahun, kaum perempuan Indonesia sudah terus meningkat. Pak Hermawan Kartajaya bahkan mengatakan kalau masa depan Indonesia berada di segmen Y-W-N, atau Youth, Women, and Netizen. Itulah masa depan Indonesia. Berada di peranan kaum perempuannya.

Namun berbeda dengan di kota-kota besar, tantangan kaum perempuan di pedesaan masih besar. Endah Kreco hanya satu dari sekian kaum perempuan yang mampu keluar dari stigma “lemah” kaum perempuan.

Semoga peringatan Hari Kartini, tidak terjebak hanya pada perayaan memakai kebaya di kantor dan sekolah-sekolah. Foto bersama, upload di sosial media, tentu satu acara yang menarik dan tak ada salahnya. Tapi di balik seremoni “kebaya” itu, pe-er Kartini masih banyak. Kaum perempuan Indonesia masih perlu terus diberdayakan.

Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *