@thecentralbankers: A Tribute to Rani Lestari

Alm. Rani Lestari 

Para pegawai Bank Indonesia, khususnya yang memiliki akun Instagram, tentu pernah mendengar akun bertajuk @thecentralbankers. Akun itu menarik karena memuat profil pegawai generasi millenial Bank Indonesia. Di akun tersebut, dituliskan peran dan tugas masing-masing pegawai di kantor, dan di sisi lain ditambahkan nuansa personal mengenai hobi maupun ketrampilan mereka. Saya katakan menarik karena melalui akun ini publik bisa melihat gambaran pegawai BI dari sisi lain. Selama ini kesan kaku, konservatif, dan membosankan, kerap menjadi ciri khas pegawai bank sentral. Akun instagram @thecentralbankers mengubah persepsi itu.

Sebenarnya akun @thecentralbankers bukan yang pertama mengangkat profil pegawai generasi millenial di lembaga negara atau pemerintahan. Sebelumnya sempat terkenal akun @gantenggantengdiplomat yang berisikan para diplomat muda Indonesia di berbagai negara. Tentu saja akun-akun seperti itu bukan akun resmi lembaga.

Pertanyaannya adalah, siapa yang membuat akun @thecentralbankers? Pertanyaan ini menggelitik banyak kalangan, terutama di internal Bank Indonesia. Berbagai spekulasi muncul, tapi tak pernah terjawab sehingga terus menjadi misteri.

Saat bertugas di Departemen Komunikasi BI, banyak pertanyaan mengenai akun tersebut yang mengarah ke tempat saya. Mulai dari yang setuju, mendukung, hingga yang tidak setuju dan mengusulkan untuk menutup akun tersebut. Mereka khawatir akan ekses negatif pada lembaga. Saya sendiri tidak tahu siapa yang membuat akun tersebut. Tapi secara personal, dari sisi komunikasi, akun @thecentralbankers adalah sebuah “soft communication channel” yang menarik dan efektif dalam membangun sisi lain bank sentral.

Misteri itu terjawab pada suatu pagi, di awal tahun 2016. Saat itu saya mendapat pesan di telepon genggam. Seorang anak mengenalkan diri. Namanya Rani Lestari. Ia, didampingi seorang kawannya, meminta waktu untuk bertemu. Dari pertemuan itulah, misteri tentang akun @thecentralbankers terjawab, setidaknya bagi saya. Rani mengaku sebagai admin sekaligus pendiri dari akun @thecentralbankers. Ia sengaja membuat akun tersebut karena ingin menampilkan wajah pegawai BI yang profesional dan tetap asyik. Namun ia mulai khawatir ketika mendengar banyak pihak memperbincangkan dan mempertanyakan akun tersebut.

Rani bertanya apakah ia diperkenankan untuk terus mengelola atau sebaiknya menutup akun tersebut. Saya menyampaikan bahwa akun @thecentralbankers adalah sebuah ide yang kreatif. Itu adalah “soft diplomasi” untuk menunjukkan pada publik bahwa anak-anak muda yang memiliki kompetensi, keahlian, dan pengetahuan, dapat bekerja di BI untuk menjaga stabilitas perekonomian. Sayapun meminta Rani untuk meneruskan saja akun tersebut sambil kita lihat bersama perkembangannya ke depan. Namun sambil jalan, saya akan terus memonitor dan memberi masukan. Rani setuju.

Sejak saat itu, Rani nampak semakin bersemangat. Ia mengirimkan beberapa profil usulan pegawai, membuat narasi, dan mengirimkan kepada saya untuk meminta pendapat. Tak banyak yang saya lakukan selain memberi kebebasan pada Rani. Sekali-kali saja saya menambahkan pesan dan masukan, khususnya di sisi peran dan tugas BI.
Tentu saja mengelola akun Instagram itu hanya dilakukan Rani di waktu luang. Sehari-harinya ia termasuk salah satu tulang punggung dalam pengembangan UMKM di Departemen Pengembangan UMKM. Ia melakukan berbagai program, termasuk menginisiasi program kreatif Local Economic Development yang mengangkat berbagai karya anak bangsa.

Kreativitas, ketekunan, dan semangat bekerja dari Rani ini yang menarik minat kami, Mas Imam Subarkah dan saya, untuk mengajak Rani bergabung dalam keanggotaan pengurus Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) 2017-2020. Rani kami ajak untuk mengembangkan komunikasi digital dan kreatif di IPEBI. Saat saya hubungi, Rani terlihat antusias. “Saya akan lakukan yang terbaik mas”, komentarnya.

Rani tak pernah bercerita soal sakit yang dideritanya. Saya baru mendengar kemudian kalau ia menderita penyakit berat yang sulit disembuhkan. Dalam sakitnya, Rani masih sempat mengirimkan WA pada saya. Update beberapa kegiatan, termasuk nasib akun @thecentralbankers.

Beberapa pekan lalu, saya mendengar kalau sakit Rani semakin parah, bahkan ia masuk ke perawatan intensif (ICU) di Rumah Sakit. Keberaniannya menghadapi penyakit diceritakan oleh kawan-kawannya. Ia tak menyerah, dan tetap membangun harapan, bahwa suatu saat ia akan pulih kembali.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Rani berpulang pada 20 Juli 2017. Kita semua seolah tak percaya. Saat orang berpulang, tentu kita selalu menceritakan hal-hal baik tentangnya. Dan saya yakin bahwa semua hal baik yang diceritakan kawan-kawannya tentang Rani adalah benar. IPEBI telah kehilangan seorang pengurusnya yang penuh ide. Bank Indonesia juga kehilangan seorang anak muda yang bekerja penuh semangat. Kita semua kehilangan seseorang yang selama ini selalu menebarkan kebahagiaan, keceriaan, dan kebaikan pada sekitarnya. Akun @thecentralbankers adalah salah satu buah karya Rani yang ditinggalkan pada kita. Semoga kawan-kawannya dapat meneruskan karya itu sebagai tribute untuk Rani.

Beberapa pekan sebelum masuk Rumah Sakit, Rani sempat bepergian ke Jepang. Sepulangnya dari sana, ia sempat membawakan sekantong teh hijau kesukaan saya. “Sebagai obat kangen dengan Jepang mas,” begitu ujarnya saat itu. Kemarin, beberapa hari setelah Rani berpulang, saya membuka satu kantong teh hijau pemberian Rani untuk diminum. Meski perkenalan saya dengan Rani begitu singkat, sambil menyesap kehangatan teh hijau, saya juga menyesap sebuah rasa kehilangan. Kehilangan seorang kawan. Selamat jalan Rani. Beristirahatlah dengan damai di Syurga. Aamiin.

Junanto Herdiawan – Wakil Ketua Umum IPEBI

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


8 + 5 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>