Persaudaraan Kopi di Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

Once Brew, We Bro. Bersama Pak Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi

“Once Brew, We Bro”. Sekali Seduh, Kita Bersaudara. Begitu ungkapan dari Setiawan Subekti yang juga akrab dipanggil Pak Iwan, saat kami memasuki Sanggar Genjah Arum miliknya di Desa Kemiren, Banyuwangi. Pak Iwan menyambut kami dengan hangat dan mengajak masuk ke satu rumah yang dirancang seperti kedai kopi, lengkap dengan meja bar. Ia lalu menyajikan secangkir kopi racikannya.

Hmmmm, aroma kopinya harum dan membius kita semua yang hadir malam itu. “Silakan cicipi, dan ceritakan pada saya rasanya”, begitu kata pak Iwan. Dan, saat sesapan kopi masuk memenuhi langit-langit mulut, kenikmatan itu menyeruak. Meninggalkan jejak rasa, after taste, yang tak tepermanai. Bagi saya, kopi di Sanggar Genjah Arum ini adalah kopi terenak yang pernah saya cicipi dalam perjalanan hidup mencari kesempurnaan kopi.

Beberapa kawan tampak ragu mencicipi kopi yang disajikan tanpa gula tersebut. Sebagian karena pernah kena penyakit asam lambung sehingga khawatir kalau minum kopi akan kambuh. “Kopi tidak menyebabkan sakit lambung atau maag, seperti mitos yang selama ini berkembang”, demikian kata Pak Iwan menenangkan. Reaksi orang terhadap kopi tentu berbeda-beda. Namun kalau  diproses dan disajikan dengan benar, kopi menjadi minuman yang baik dan menyehatkan.

Setiawan Subekti adalah seorang pejuang. Ia bukan hanya pecinta kopi, tapi lebih seperti “Ambassador” atau Duta Kopi. Hidupnya dipersembahkan pada Kopi Banyuwangi dan Pelestarian Budaya Banyuwangi. Saat bercerita tentang kopi, matanya berbinar-binar.  Saat bicara budaya Banyuwangi, gairahnya menyebar. Ia seorang yang penuh semangat dan energi.

Para pecinta kopi, atau barista nasional maupun internasional, pasti mengenal Setiawan Subekti. Sebagai tester kopi internasional, ia sering diundang ke mancanegara, baik untuk membagi ilmunya, maupun menjadi juri pada berbagai kompetisi. Di dinding sanggarnya, kita melihat foto berbagai orang ternama yang pernah berkunjung ke sana, termasuk foto kunjungan Putri Kopi Dunia.

Tamu yang datang ke Sanggar Genjah Arum juga beragam, seperti Dahlan Iskan, Marie Pangestu, Konsul Jendral AS di Surabaya, pimpinan dan pejabat BUMN, hingga artis dan seniman. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, bahkan menjadikan Sanggar Genjah Arum sebagai satu destinasi bagi tamu-tamunya. Beliau sendiri secara rutin “nongkrong” untuk ngopi di sini.

Pak Iwan juga giat memperkenalkan kopi Banyuwangi atau Kopai Osing, ke berbagai negara. Nama Osing diambil dari subkultur terbesar yang hidup di Banyuwangi. Orang Osing adalah sebutan bagi masyarakat asli Banyuwangi.

Jenis kopai Osing ini unik dan memiliki cita rasa tersendiri. Kopi, yang ditanam di pegunungan Ijen dan Raung sekitar Banyuwangi dan Bondowoso, sudah diekspor ke mancanegara. Kalau kita pergi ke Eropa dan minta disajikan Java Coffee, maka hampir dipastikan bahwa kopi itu berasal dari daerah sekitar Banyuwangi, Jawa Timur. Keunikan rasanya, menjadikan Kopi Banyuwangi digemari di dunia.

keharuman biji kopi banyuwangi

keharuman biji kopi banyuwangi

Kopi memang bisa menjadi komoditas unggulan dan kekuatan ekonomi Indonesia. Kita memiliki kopi yang tidak kalah bersaing dengan kopi dari negara lain, bahkan lebih baik. Dilihat variannya, di seluruh nusantara terdapat aneka varian kopi yang lezat. Namun Pak Iwan masih menyayangkan pengembangan industri kopi nasional yang masih belum optimal. Biji kopi Indonesia itu bagus, namun kadang proses pembuatan, dari penanaman hingga menjadi biji kopi, belum dilakukan dengan benar. Mereka masih menggunakan proses tradisional, mencampur biji kopi kualitas bagus dan rendah, tidak memasak dengan standar yang baik, sehingga hasilnya tidak optimal. Banyak produk olahan kopi akhirnya memiliki kualitas yang rendah dan tidak memenuhi standar internasional sehingga harganya murah.

Oleh karena itu, Pak Iwan secara aktif turun ke perkebunan kopi, melakukan pembinaan bagi para petani kopi agar dapat memproses kopi dengan baik.  Hasilnya, kini banyak petani kopi yang mulai memproses kopi dengan benar, menghasilkan kopi berkualitas, dan dapat mengekspor ke luar negeri.

Di daerah Bondowoso misalnya, ada kelompok petani kopi Arabica binaan Bank Indonesia Jember, mampu mengekspor sebanyak 350 ton per bulan ke luar negeri. Mereka juga mendapatkan masukan konsultasi dari Pak Iwan agar dapat memproses kopi dengan baik. Meski sudah bisa mengekspor sebesar 350 ton, dan meningkatkan taraf hidup petani kopi di sana, angka itu masih rendah dari potensinya sebesar 6000 ton. Bayangkan bila seluruh wilayah penghasil kopi tersebut dapat memproses kopi dan mengekspor kopi dalam kapasitas optimal. Selain kopi Indonesia makin terkenal, kehidupan para petani akan meningkat.

Data Kemenperin menunjukkan bahwa ekspor kopi olahan Indonesia mencapai 244 juta dolar AS pada tahun 2012, dan meningkat menjadi 322 juta dolar AS pada tahun 2013. Ini menunjukkan bahwa permintaan dunia pada kopi sangatlah besar.  Potensi ini yang perlu menjadi perhatian kita semua.

Menikmati kopi di Sanggar Genjah Arum juga menikmati keindahan rumah-rumah tradisional suku Osing. Pak Iwan memang sengaja menjadikan tempatnya sebagai konservasi rumah Osing. Ada sembilan rumah khas orang Using berbahan kayu bendo dan tanjang. Setiap rumah memiliki fungsi berbeda. Ada yang dibuat sebagai gudang penyimpan kopi, tempat istirahat, tempat makan, dan tempat pertunjukan. Kami juga dipersilakan melihat dapur tradisional Osing, yang untuk memasaknya masih menggunakan tungku tanah liat dan kayu bakar.

Di Sanggar itu, kita juga bisa melihat beberapa perempuan asli Banyuwangi membawakan musik “gedhokan”, atau seni musik yang dihasilkan dari pukulan lesung. Juga  ditampilkan pula tarian Gandrung Banyuwangi, yang merupakan tarian asli Banyuwangi. Para penari, pemain musik, berasal dari warga sekitar. Beberapa di antaranya bahkan pernah diajak Iwan ke Amerika Serikat untuk sebuah pertunjukan seni.

Menyesap kopi Banyuwangi, menikmati udara dingin pegunungan, melayang dalam alunan seni tradisional, adalah perpaduan sempurna bagi indahnya kehidupan. Pak Iwan telah membuktikan, bahwa “surga” ada di ujung timur Pulau Jawa.

Salam Kopi.

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

bersama keluarga dan pak iwan di sanggar genjah arum

kopi terlezat, kopai osing

kopi terlezat, kopai osing

 

Rujak Soto, Kuliner Tabrakan Banyuwangi

 

Rujak Soto Banyuwangi / photo junanto

Rujak Soto Banyuwangi / photo junanto

Makan rujak saja itu biasa. Makan Soto saja juga begitu. Tapi kalau Rujak dicampur Soto? Nah ini agak aneh terdengarnya. “Haah, memang ada makanan seperti itu ya?” tanya saya saat tiba di Banyuwangi.  Ya, kata kawan-kawan Banyuwangi. Rujak Soto adalah kuliner khas Banyuwangi, kota yang  terletak di ujung timur Pulau Jawa. Makanan ini juga terkenal sebagai makanan favorit yang lezat di Banyuwangi.

Siang itu, sayapun memulai perjalanan mencari Rujak Soto di Banyuwangi. Setelah bertanya ke beberapa orang, saya tiba di Jalan Musi Banyuwangi. Ada satu warung rujak soto legendaris di sana, yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun. Saya lalu memesan semangkuk rujak soto dengan level kepedasan sedang. 

Saat semangkuk rujak soto tiba, saya lihat memang makanan ini unik. Agak mengagetkan memang, karena dalam mangkok itu, rujak cingur disiram dengan kuah soto. Bagi saya, ini jenis kuliner tabrakan yang berani. Crash culinary experience. Bagaimana tidak. Rujak cingur yang biasanya dimakan dengan bumbu petis saja, harus dimakan dengan kuah soto. Bagi yang tidak terbiasa tentu agak “geli” membayangkan rasanya seperti apa. Ya, dua jenis makanan dengan genre terpisah tersebut, dibenturkan dalam satu mangkok. Sebuah pemaksaan, namun menyimpan keingintahuan akan rasa.

Konon sejarahnya dulu , rujak soto ini adalah hasil “eksperimen” dari penikmat rujak di Banyuwangi. Mereka menjajal beberapa menu makanan hingga menemukan rujak soto yang kemudian menjadi populer. Ada juga Rujak Bakso, yaitu rujak yang ditabrakkan dengan bakso kuah. Dan juga pecel rawon, atau pecel yang ditabrakkan dengan kuah rawon. Dahsyat ya perpaduannya.

Rujak soto disajikan sebagai campuran soto (bisa daging atau babat) dan rujak petis, atau rujak cingur.  Mbak Yati, sang penjual membuat campuran  rujak yang terdiri  tahu tempe dan rebusan sayuran kacang panjang, taoge, kangkung. Uniknya, ada juga irisan pisang klutuk dan petis udang yang lezat. Setelah rujak jadi, ia menyendok kuah soto yang panas mendidih, kemudian menyiram rujak tadi dengan kuah soto panas yang encer dan babat rebus. Wuiiih, keliatannya memang aneh. Tapi begitu dicicipi, lezaaat. Ini sajian luar biasa. Segar dengan campuran rasa petis, pedas, asin dan kuah soto. Kesegaran rujak sayur dan buah dibalur dengan kuah soto menghasilkan rasa yang “ultimate”. Penuh dengan petualangan. Mulut kita mengalami tabrakan dua rasa yang justru memberi sebuah kenikmatan tersendiri.

Kalau kamu ke Banyuwangi, saya sarankan untuk mencicipi hidangan unik ini. Rujak Soto memberi kita pengalaman, bahwa kenikmatan bisa muncul dari eksperimen yang kelihatannya hampir tak mungkin. Salam Rujak Soto.

 

Eksotisme Blue Fire di Kawah Ijen

Eksotisme Kawah Ijen / photo junanto

Eksotisme Kawah Ijen / photo junanto

Filsuf Immanuel Kant pernah berkata, “Ada dua hal yang membuatku kagum, langit berbintang, dan hukum moral di hatiku”. Dan langit berbintang itulah yang saya lihat di kawasan Gunung Ijen, Jawa Timur, saat saya bersiap mendaki ke puncak kawahnya. Sebagai anak kota, atau city boy, yang lahir dan dibesarkan di tengah gemerlap lampu ibu kota, melihat langit yang penuh sesak dengan bintang gemintang  adalah sebuah kemewahan. Dan tentunya, sebuah keindahan.

Pukul 00.30 di Pos Paltuding, saya memulai pendakian ke kawah gunung Ijen. Kawah Ijen, yang terletak di perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi itu, adalah satu keindahan gunung berapi di Indonesia yang wajib dilihat, terutama bagi pecinta fenomena alam. Kawah itu berada pada ketinggian 2388 meter di atas permukaan laut.

Sebelum mendaki, kita diperingatkan oleh pemandu bahwa medan yang akan dilalui tidak ringan. Kita diperingatkan untuk berhati-hati.

Perjalanan ke atas kawah memang tidak mudah, terutama bagi saya yang bukan seorang pendaki gunung. Saya harus berjalan kaki sepanjang tiga kilometer. Medan yang ditempuh juga mendaki, bahkan sekitar 1,5 kilometer di antaranya, adalah jalan yang menanjak 45 derajat. Duh, andai ada gondola yang bisa mengangkut kita hingga puncak ya (sambil mengkhayal).

Berbeda dengan kondisi di Gunung Bromo yang banyak terdapat ojek atau kuda, di Ijen suasananya lebih “suci”, dalam arti  bersih dari kendaraan, juga pedagang. Kita hanya bisa berjalan kaki untuk menuju puncaknya. Apabila kita berangkat dari Banyuwangi, mobil hanya diperkenankan sampai pos Paltuding, di kaki pegunungan.

Tapi, dengan berjalan kaki itulah saya justru menemukan keheningan. Hanya ada saya, gunung, dan langit berbintang. Meski naik mendaki bersama kawan-kawan, kita menahan diri untuk tidak banyak berbicara untuk menghemat energi. Sesekali saja, kawan saya Gde, yang sudah beberapa kali naik gunung Ijen, memberi semangat. “Tinggal bentar lagi pak, sedikit lagi menanjaknya”. Lumayan membangkitkan semangat.

Waktu terbaik mendaki Gunung Ijen adalah di musim kemarau, sekitar bulan Mei hingga Oktober, saat dini hari hingga pagi. Kalau kita bisa tiba di puncak kawah sebelum matahari terbit, kita dapat menyaksikan “Blue Fire” atau “Api Biru, sebuah fenomena alam yang sangat indah.

“Blue fire” memang menjadi tujuan kami mendaki. Api berwarna biru tersebut adalah api yang tercipta dari semburat belerang cair dari dalam kawah Ijen. Panasnya kawah yang berpadu dengan belerang menciptakan efek api berwarna biru di permukaan. Fenomena ini hanya bisa disaksikan sebelum matahari terbit. Oleh karena itu, kita harus melakukan pendakian, setidaknya mulai pukul 01.00 dari pos Paltuding.

Setelah melalui perjuangan mendaki yang lumayan “ngos-ngos-an”, saya tiba di puncak kawah pada sekitar pukul 03.30. Dan di puncak itulah, saya menyaksikan “blue fire” dengan mata kepala sendiri.

Fenomena Blue Fire di Kawah Ijen / photo junanto

Fenomena Blue Fire di Kawah Ijen / photo junanto

Kawah Ijen adalah satu-satunya kawah di Indonesia yang memiliki fenomena alam “blue fire”. Di dunia, hanya ada dua tempat yang memiliki Blue Fire. Selain Indonesia, menurut pemandu kita, blue fire juga terdapat di Islandia. Karena ini fenomena langka, tak heran kalau banyak sekali orang asing yang mendaki kawah Ijen pada dini hari itu. Umumnya mereka dari Eropa, seperti Jerman, Belanda, Perancis, Belgia.

Blue fire adalah sebuah fenomena, yang mampu membuat saya ternganga dan kagum terus menerus. Semburat panas dari kawah mengeluarkan kilatan api berwarna biru. Menjilat-jilat udara di atasnya. Rasa lelah mendaki, rasa gigil karena angin dingin pegunungan, semua sirna dan hilang saat melihat keindahan di bawah sana.

Saat matahari terbit, saya  melihat keindahan lainnya, yaitu danau kawah Ijen dengan jelas. Danau yang terbentuk dari letusan gunung berapi sekitar 2500 tahun lalu itu, memiliki air berwarna hijau toska. Sungguh indah. Danau kawah Ijen adalah danau yang memiliki keasaman tinggi, dan merupakan danau vulkanik terbesar di dunia. Dengan kedalaman hingga 200 meter dan luas lebih dari 5000 hektar, danau kawah ijen adalah sebuah fenomena.

Saat mentari bersinar itulah, saya bisa melihat aktivitas penambangan belerang di kawah Ijen. Para penambang memanggul bongkahan belerang di dasar kawah kemudian memanggulnya ke bawah untuk dikumpulkan pada perusahaan penambangan. Rata-rata seorang penambang, bisa mengangkut antara 50 hingga 90 kilogram belerang sekali jalan. Dan hebatnya, mereka bisa berjalan dengan cepat untuk naik turun gunung.

Saat saya bersusah payah mengatur nafas turun dari kawah, karena medan yang curam, seorang kakek tua dengan ringannya menyalip saya sambil memanggul 80 kilogram belerang. Oh noooo !!

Wajah Penambang Belerang / photo Junanto

Wajah Penambang Belerang / photo Junanto

Beberapa tahun lalu, para penambang ini bekerja dengan penuh risiko tanpa dilindungi oleh asuransi jiwa. Namun, Bupati Banyuwangi saat ini, Abdullah Azwar Anas, membuat kebijakan agar seluruh penambang belerang dilindungi oleh asuransi. Syukurlah, karena tugas mereka sangat penuh dengan risiko.

Kawah Gunung Ijen, dan fenomena Api Biru adalah satu dari hal terindah yang pernah saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Meski perjuangan mencapai ke sana lumayan berat, kesemuanya terhapus dengan keindahan di puncaknya.

Dan pada momen menyaksikan keindahan alam itu, saya teringat ungkapan Voltaire, “Dans ton Immensite”. Aku terpukau di hadapan ke-Maha Besaran –Mu. Maha Suci Allah.

The Mountaineers

The Mountaineers