How I Shoot: Levitating with @junantoherdiawan

Gengis Khan Levitation

My levitation photos are being featured in Instagram Blog at:  http://blog.instagram.com/post/43484235620/how-i-shoot-levitating-with

If you have time, please take a look. Thank you very much.

Camera: iPhone & iPad.

Vantage Point: “Levitation is like philosophy. It’s not just a jump shot; it is a floating moment. I like to travel and see many interesting places in the world. My idea is to levitate in any interesting place or interesting moment. By doing that, I feel like I can float or fly in any place in the world.”

Shooting: Using an application that takes multiple photos at a time while you jump makes it easier to capture the perfect levitation photo. “I use the Fast Camera application on iPhone or iPad to capture the moment. It is a continuous-shoot application that can capture every second of my levitation.”

Editing: While Junanto may touch up the lighting or tones in his photos, there are no special apps or programs used to create the levitation effect. “I don’t use editing for my levitation photos, no special application. I only adjust for lighting and other effects.”

Follow Junanto’s levitating adventures in Jakarta, Indonesia, and throughout the world at instagram.com/junantoherdiawan.

In Search of Daibutsu : Kamakura Levitation Project

Kamakura is one of my favorite places in Japan. It is a small city and a very popular tourist destination, sometimes called the Kyoto of Eastern Japan. It only takes an hour drive by car or train from Tokyo to Kamakura.

I frequently visit Kamakura on weekend or my leisure time to enjoy the ancient city experience. Kamakura used to be the political center of Japan in 1192. The Kamakura government continued to rule Japan for over a century, first under the Minamoto shogun and then under the Hojo regents. Since it is a political centre, in Kamakura we can find many historic places, numerous temples, shrines and other historical monuments.

The main attraction in Kamakura is undoubtedly the Great Buddha which also known as “Daibutsu”. It is a monumental outdoor bronze statue of Buddha which seated serenely in the grounds of a Buddhist temple. Daibutsu is my favorite place in Kamakura to experience spiritual ambience of this ancient city.

I started my tour in Kamakura from Kamakura Station. Not far from the station, there is a big Torii or Shinto Gate which directly leads to Tsurugaoka Hachimangu Shrine. This shrine is a symbol of the ancient capital of Kamakura.

Levitation at the Torii in Tsurugaoka Hachimangu Kamakura

From Kamakura Station, I took the Enoden Line Train. Enoden train is a classic train which runs from Kamakura to Fujisawa. I like to get on the first wagon, behind the driver, so I can see the railroad in Kamakura.

Enoden Line, behind the driver / photo junanto

I stopped at Hase Station and getting off the train. It is the closest station to get to Daibutsu.

Getting off levitation at Hase Station, Kamakura

But before Daibutsu, I stopped over to Hasedera Temple or Hase Kanon. It is only 5 minutes walk from the station.  In Hase temple, there is a tallest wood carving of the “Goddess of Mercy” in Japan. In summer time there are so many hydrangea or Ajisai (in Japanese) and other kinds of flower blooming here. Very beautiful.

White Ajisai at Hase Temple / by junanto

Flowers at Hase Temple / by junanto

Statues at Hase Temple / by junanto

I respect the spectacular view of this ancient temple. So, I did some tribute levitation around the temple.

Pay a tribute at Hase Kanon

Also, I did a levitation under the big lampoon of Hase Kanon.

Hase Kanon Levitation

Walking another 10 minutes, I finally reached Daibutsu. I always amazed by the serenity of the Buddha Statue seated in the lotus position with his hands forming the Dhyani Mudra, the gesture of meditation. With a serene expression and a beautiful backdrop of wooded hills, I always told my friends that the Daibutsu is a truly spectacular sight that a “must see” experience in Kamakura.

At 13.35 meters high and weighing 93 tons, the Daibutsu is the second largest monumental Buddha in Japan (after the one at Todaiji in Nara) and to many, the most impressive.

I did some levitation meditation position around the Daibutsu.

Daibutsu Levitation

Flying Around The Big Buddha Daibutsu

In addition, Kamakura’s sand beaches also interesting to try. It attract large crowds during the summer time. However, I prefer to go to Enoshima Island, not far form Kamakura center. From Hase Station, I took the Enoden Line Train again and stopped at Enoshima Station.

Here I am, waiting for the train to come.

Leviation : Waiting for the Train to come at Hase Station

In Enoshima, I can feel the beauty beaches and sun set. Here is my levitation during sunset in Enoshima beach. Look, two Japanese girls beside me are surprised with my levitation.

Sunset levitation at Enoshima Beach with Japanese girls

It was an interesting experience visiting Kamakura and Enoshima. And this is the sun set levitation.

Enoshima Sunset Levitation

Thank you for stopping by.

Mengambang Bersama Natsumi Hayashi

Natsumi Hayashi Levitation Project / yowayowacamera.com

Natsumi Hayashi adalah sebuah fenomena. Ia dikenal sebagai “the floating girl from Tokyo” atau gadis Tokyo yang bisa mengambang. Foto-foto dirinya yang sedang mengambang dimuat di website yowayowacamera.com dan menyebar luas ke seluruh dunia. Gaya berfoto Natsumi Hayashi kemudian banyak ditiru dan menjadi trend serta inspirasi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Tentu saja Natsumi bukan seorang yang memiliki ilmu mengambang dalam arti sebenarnya. Ia hanya meloncat ke udara kemudian dipotret dalam satu pose natural tertentu. Tekhnik fotografi seperti itu dikenal dengan nama levitasi. Levitasi murni tekhnik fotografi yang tidak melakukan manipulasi foto atau trik pada komputer atau software lainnya.

Berbeda pula dengan “jump shot” di mana ekspresi wajah dan tubuh seseorang terlihat  melompat, dalam tekhnik levitasi ekspresi tersebut harus terlihat natural. Hal inilah yang menjadikan seseorang kemudian terkesan mengambang dalam foto.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang levitasi dan alasan Natsumi Hayashi melakukan hal tersebut, siang tadi (17/6) saya bertemu dengan Natsumi Hayashi di Tokyo. Kebetulan hari itu adalah hari pertama dibukanya Pameran Fotografi bertema “Natsumi Hayashi Today’s Levitation”. Pameran berlangsung di MEM Galery, Ebisu, Tokyo, dari tanggal 16 Juni hingga 16 Juli 2012.

Bersama Natsumi Hayashi di Tokyo

Dalam kesempatan tersebut, Natsumi Hayashi bercerita tentang berbagai hal di balik proyek levitasinya. Sebagaimana dikenal, Natsumi melakukan program satu hari satu levitasi (One Levitation A Day) yang dimuat dalam yowayowa diary. Aneka foto yang dikumpulkan tersebut, kemudian dibukukan dalam satu buku yang bertajuk Today’s Levitation yang sekaligus diluncurkan hari ini.

Dalam melakukan berbagai pose levitasi, Natsumi mengambil tema kehidupan sehari-hari, seperti di taman, jalanan, kantor, gedung, restoran, bahkan di kereta api. Secara tekhnis, banyak cerita lucu yang ia ceritakan saat melakukan berbagai pose levitasi.

Menurut Natsumi, guna mendapatkan satu gambar yang sempurna, ia kadang harus melompat hingga 200 sampai 300 kali. Dengan kamera Canon EOS 5D dan Mark 2, Natsumi pada awalnya melakukan pose levitasi seorang diri dengan menggunakan shutter otomatis. Ia menyetel shutter selama 10 detik, kemudian lari dan meloncat. Namun kini, ia memiliki seorang fotografer yang membantunya melakukan berbagai aksi.

Natsumi bercerita bahwa ia pernah dikira orang gila karena meloncat-loncat sendiri di depan sebuah toko. Sang pemilik toko bahkan hampir memanggil polisi, sebelum kemudian Natsumi menjelaskan maksudnya loncat-loncat.

Kejadian lucu juga terjadi saat ia mengambil pose mengambang di depat mesin tiket stasiun kereta. Karena ia berkali-kali melompat, seorang tua merasa kasihan kepadanya karena dikira ia tidak memiliki tiket. Si orang tua menawarkan tiket kereta pada Natsumi.

Tekhnik foto levitasi juga bukan tanpa bahaya. Karena ingin mendapatkan satu pose yang sempurna, Natsumi meloncat terlalu tinggi di Taiwan dan jatuh. Ia harus sampai masuk rumah sakit untuk dijahit bagian dagunya karena robek. Selain bahaya, loncat-loncat juga memiliki dampak tidak baik bagi tulang. Oleh karena itu, Natsumi Hayashi secara rutin berkonsultasi dengan ahli tulang dan chiropracticer sebelum melakukan loncatan-loncatan.

Mengenai alasan Nastumi Hayashi melakukan levitasi ini, ia mengatakan bahwa gravitasi adalah sesuatu yang mengikat kita. Di manapun kita berada selalu terikat oleh gravitasi. Dilihat secara filosofis, manusia juga terikat oleh berbagai masalah, seperti rasa percaya diri yang kurang, rasa minder, stress, dan berbagai penyakit hati lain yang mengikat.

Levitasi adalah sebuah simbol untuk mengajak kita keluar dari berbagai jeratan tersebut. Levitasi adalah anti-gravitasi. Kalau dulu orang Jepang punya pepatah yang mengajarkan kita untuk menjejakkan kaki di bumi, atau dengan kata lain menjadi realistis, kini Natsumi justru mengajak sebaliknya. Ia mengajak kita membebaskan diri dari jeratan atau “to break our boundaries”.

Dalam kesempatan berbicara dengan Natsumi, saya menyampaikan bahwa di Indonesia tekhnik levitasi memiliki banyak penggemar. Bahkan kini ada satu komunitas yang bernama Levitasi Hore yang didirikan karena terinspirasi oleh dirinya. Mendengar hal itu, Natsumi Hayashi menyatakan kegembiraannya dan menyampaikan salam kepada rekan-rekan di komunitas Levitasi Hore ataupun bagi para penggemar serta pelaku levitasi di tanah air.

Pesannya, tetaplah melakukan levitasi, jangan menyerah. Tetaplah mengambang dan bebaskan diri kita dari jerat-jerat negatif yang mengikat diri. Salam Levitasi