Dari Pengamen ke Penyanyi Profesional di Jepang

Cita-cita Rita naik Ojek di Jakarta akhinya kesampaian

Cita-cita Rita naik Ojek di Jakarta akhinya kesampaian

Sekitar lima tahun lalu, di depan stasiun Ikebukuro Tokyo, saya melihat seorang gadis muda cantik yang sedang mengamen. Suaranya indah dan melengking hingga membuat pejalan kaki yang lalu lalang berhenti untuk menyaksikan penampilan pengamen tersebut. Sayapun terusik untuk lebih tahu. Saat saya mendekat dan mengamati penampilannya, ada satu karton besar bertuliskan huruf kanji Jepang dan huruf latin yang berbunyi, Rita Nishikawa from Indonesia. Wow, rupanya gadis muda itu orang Indonesia. Di situlah awal perkenalan saya dengan Rita Nishikawa.

Lalu kenapa menggunakan nama Nishikawa? Rupanya Rita dilahirkan dari seorang ibu Jepang dan ayah yang asli Padang, Indonesia. Sejak lahir hingga besar, Rita tinggal di Jepang sehingga ia tidak mengetahui banyak tentang Indonesia. Pertemuan lima tahun lalu itu menjadi pertemuan terakhir saya dengan Rita, karena setelah itu saya kembali ke Jakarta. Setelah lima tahun tidak bertemu, kecuali melihat aktivitas masing-masing di sosial media, tiba-tiba beberapa hari lalu Rita Nishikawa mengirimkan email dan mengatakan bahwa ia akan mengunjungi Indonesia. Ia bersama ayahnya akan mengunjungi Padang untuk tampil pada peringatan HUT Kota Padang Pariaman. Setelah dari Padang, Rita mampir di Jakarta. Kamipun bertemu kembali.

Rita kini tampil lebih dewasa dan karirnya sebagai penyanyi di Jepang sudah maju pesat. Di usianya yang saat ini baru 22 tahun, Rita telah tampil di berbagai acara TV Jepang. Ia juga menyanyi bersama di Grup Band Khatulistiwa, yang anggotanya terdiri dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Bersama Khatulistiwa, Rita telah tampil pada berbagai show di televisi Jepang. Kemajuan yang sangat pesat ya.

Rita tampil di HUT Kota Padang Juli 2017

Dari hanya tampil mengamen di pinggir jalan kini Rita telah menjadi penyanyi profesional. Mulai dari tampil di berbagai event, klub atau kafe, maupun berbagai acara televisi Jepang, sekarang menjadi kegiatan sehari-hari Nita Nishikawa di Jepang. Rita juga sempat menjadi backing vocal dari seorang penyanyi terkenal Jepang dari grup Southern All Stars, yaitu Keisuke Kuwata.  Selain itu ia tampil di program televisi Jepang bertajuk “Nodojiman The World” bersama anggota band terkenal SMAP yaitu Nakai Masahiro. Itu adalah satu pencapain yang hebat untuk anak seusia Rita.

Untuk mendengarkan suara emas Rita, kita bisa mencarinya di YouTube ataupun di Soundcloud dengan keyword Rita Nishikawa atau Rita Nyina. Silakan dengar suaranya yang merdu dan melengking. Rita adalah salah satu diaspora Indonesia yang dapat membawa nama harum Indonesia di Jepang. Hampir semua orang yang melihat Rita pasti mengatakan kalau Rita adalah orang Indonesia. Bukan semata karena kulitnya yang tidak seperti orang Jepang, namun karena Rita sering menampilkan lagu-lagu Indonesia yang terkenal di telinga orang Jepang juga, seperti Bengawan Solo misalnya.

Apa harapan dan keinginan Rita ke depan? Pertama, Rita sangat ingin sekali tampil di Indonesia. Ia berharap ada kesempatan untuk dapat tampil di acara-acara nasional di Indonesia, apalagi kalau bisa tampil di televisi Indonesia. Sebagai anak keturunan Indonesia, ia ingin sekali bisa sering datang ke Indonesia dan menghibur pendengar maupun penggemarnya di tanah air. Semoga bisa segera terwujud keinginannya. Kedua, ini keinginan Rita dalam kunjungannya kali ini. Ia ingin sekali mencoba naik Ojek. Sepanjang hidupnya ia hanya bisa mendengar dan melihat bahwa di Jakarta ada ojek, namun belum pernah merasakan. Nah, kalau ini bisa saya bantu. Sayapun segera memesan ojek online dan siap mengantarkan Rita dari daerah Sabang ke Blok M. Senangnya Rita bisa naik Ojek di Jakarta. Semoga sukses untuk Rita!

 

Rita Dendangkan Lagu di Jalanan Tokyo

Bersama Rita dan Pak Teddy, usai penampilan Rita di Ikebukuro

Sebagaimana kota besar lain di dunia, pengamen di Tokyo adalah sebuah fenomena tersendiri. Mereka umumnya adalah anak muda Jepang yang menampilkan beragam jenis musik. Saya termasuk suka menyaksikan penampilan pengamen tersebut, atau istilahnya street live performance, karena kadang mereka tampil layaknya pemusik professional. Tempat paling mudah untuk menyaksikan pengamen di kota Tokyo adalah di sekitar stasiun-stasiun kereta.

Di depan stasiun kereta Ikebukuro tadi malam (7/8), pandangan saya terpaku pada satu pengamen yang lain dari biasanya. Wajah dan kulitnya bukan orang Jepang. Lagu yang dibawakan juga bukan hanya lagu Jepang, melainkan lagu barat dengan lafal yang sempurna. Suaranya jernih, melengking tinggi, dan bersih.

Di depannya, ia meletakkan secarik kertas dan beberapa helai brosur. Tertulis di sana namanya, “Rita Nishikawa, penyanyi dari Indonesia”. Wow dari Indonesia !!

Sayapun berhenti sesaat untuk menyaksikan penampilannya yang luar biasa. Suaranya yang jernih mencuri perhatian para pengunjung yang sedang lalu lalang. Beberapa orang berhenti dan terpana dengan suara Rita. Sepasang kakek nenek saya lihat terdiam saat Rita membawakan lagu-lagu dari Whitney Houston yang bernada tinggi.

Sekelompok anak muda Jepang sampai bergerombol dan duduk di depan Rita, bagai menyaksikan sebuah pertunjukan konser. Sambil menyanyi, Rita sesekali membagikan brosur berisikan nama dan asalnya. Beberapa dari penonton juga diminta menuliskan kesannya pada kain putih yang digelar oleh Rita.

Penampilan Rita di Ikebukuro / photo Junanto

Usai konser, saya menghampiri Rita dan berbincang-bincang singkat. Rita Nishikawa memang orang Indonesia. Ayahnya orang Padang asli, sementara ibunya orang Jepang. Tapi  penampilan Rita lebih mirip orang Indonesia ketimbang Jepang karena kulitnya yang coklat dan wajahnya lebih mirip melayu. Rita sendiri lebih merasa Indonesia daripada Jepang.

Di Jepang, Rita adalah seorang pecinta seni. Ia hobi menyanyi dan bermain gitar. Melakukan pertunjukan jalanan (street live performance) atau ngamen, adalah bagian dari hobinya. Meski mengamen di jalanan, Rita bukan penyanyi karbitan. Di usianya yang 18 tahun saat ini, ia pernah belajar vokal di New York dan Los Angeles. Selama di Amerika Serikat, Rita juga mengasah kemampuannya menyanyi dengan manggung dari klub ke klub bersama teman-temannya dalam sebuah band.

Sekembali ke Jepang, Rita tinggal di Kyoto bersama ibunya. Untuk menyalurkan jiwa seninya, ia melakukan rangkaian tour “street live performance”, dari stasiun ke stasiun di berbagai kota. Minggu ini, hingga pertengahan Agustus 2012, Rita ngamen di Tokyo, setelah sebelumnya melakukan hal yang sama di Osaka.

Tampil mengamen di kota Tokyo tidak mudah. Ia juga harus kucing-kucingan dengan aparat keamanan. Mengamen memang bukan kegiatan legal dan diperbolehkan begitu saja. Beberapa kali ia sempat dihampiri polisi karena dilarang mengamen di tempat umum. Kalau demikian, biasanya ia akan melipat tempatnya dan pindah mencari tempat lain yang lebih aman.

Apakah Rita mengamen untuk mencari uang atau nafkah? Tidak. Ia mengamen bukan untuk mencari uang atau popularitas. Ia hanya ingin menyanyi dan menghibur orang. Ia berkata, “saya tidak menerima uang saat mengamen”.

Rita bernyanyi bermodalkan seperangkat portable sound system dan alat music player, untuk mengiringi lagu yang dibawakannya. Sesekali ia bernyanyi sambil menggunakan gitar, namun jarang ia bawa karena alasan repot menentengnya.

Rita Nishikawa tampil di jalanan Tokyo / photo Junanto

Sungguh menarik melihat ada pengamen Indonesia di tengah kota Tokyo. Saya kagum melihat penampilan Rita. Apalagi, Rita berani tampil di tengah keramaian masyarakat Tokyo yang terkenal cuek dan tidak peduli. Dan Rita mampu membuktikan, bahwa penampilannya yang baik, dapat menarik perhatian masyarakat Jepang, yang  tercermin dari respon mereka yang positif.

Melihat penampilan Rita malam itu, saya yakin, kalau Rita mau, ia bisa sukses di Indonesia sebagai penyanyi. Vokalnya yang bagus dan berciri “sekolahan”, garis keturunan Jepangnya, dan penampilannya yang menarik, bisa menjadi modal utama baginya untuk berkarir di Indonesia.

Namun Rita hanya menggeleng. “Belum pak”, katanya. Ia masih ingin mengejar passion-nya. Menyanyi di jalanan.

Baginya, dan juga bagi para pengamen lainnya di Tokyo, mengamen memang bukan sarana untuk mencari nafkah. Mengamen bagi mereka lebih pada bentuk ekspresi dan aktualisasi diri. Banyak di antaranya yang tidak mau menerima uang dari pengunjung. Mereka menyanyi, dan mereka bahagia.

Sukses selalu bagi Rita-san.