Jajanan Kaki Lima Seoul

Toppoki, salah satu jenis jajanan kaki lima Seoul / photo Junanto

Salah satu ciri khas kekayaan kuliner sebuah kota adalah jajanan kaki limanya. Setiap kota di dunia memiliki berbagai cara untuk menyajikan kreativitas dan kenikmatan kulinernya masing-masing, tak terkecuali di Seoul, Ibu Kota Korea Selatan. Setiap mampir ke Seoul, saya selalu menyempatkan diri untuk mencoba ataupun sekedar melihat-lihat jajanan kaki lima yang banyak tersebar di penjuru kota Seoul. Salah satu tempat favorit saya ada di sekitar pasar Namdaemon atau kawasan kota tua Insa Dong. Di sana, saya menemukan begitu banyak jajanan kaki lima yang mengasyikkan. Jajanan tersebut ada yang dijual di atas lapak, menggunakan mobil toko, ataupun menggunakan gerobak. Sembari menghabiskan waktu, tak ada salahnya kalau saya menjelajahi berbagai kawasan tersebut untuk mencicipi berbagai jajanan kaki lima yang ada.

Salah satu kesukaan saya adalah Toppoki. Ini adalah salah satu jajanan yang ramai dibeli hingga harus mengantri. Toppoki adalah rice cake yang direbus dalam kuah kental yang panas dan pedas. Rasanya sungguh menyentak lidah, walau tidak sepedas makanan Indonesia. Segar dan hangat. Campuran kol dan sayuran menambah kaya rasa sup ini. Sup disajikan di atas mangkok styrofoam dan dimakan sambil berdiri. Cicipi bersama dengan berbagai “tigim” atau sajian gorengan yang disediakan.

Jajanan Uchingo dan Muni di Seoul / photo Junanto

Ada juga penjaja beragam camilan dari gurita (octopus). Tentacle gurita yang panjang disajikan begitu menggoda, sungguh garing dan crispy. Gurita atau “muno” dalam bahasa Korea adalah makanan kegemaran bangsa Korea yang mudah ditemukan di mana saja . Selain “muno”, bisa juga dicoba “uchingo” (squid) atau cumi-cumi yang dipotong kecil-kecil. Rasanya crispy, gurih, dan lezaaat. Makan bersama dengan “Kamcha” (atau potongan kentang goreng). Cocok buat dibawa jalan sore.

Selain itu, ada juga pedagang “odheng” yang juga ramai diantri pengunjung. Ini adalah semacam rice cake yang direbus dan ditusuk dengan tusukan sate. Penyajiannya mirip dengan Odhen di Jepang. Kuah hangat dengan aneka ragam camilan di dalamnya. Makan Odheng harus dengan celupan sausnya, itu yang membuat rasanya lezat.

Jajanan yang kelasnya masuk kategori extreme food adalah keong, atau siput gong gong, yang besar dan direbus. Rasanya kenyal dan slummy. Untuk uji nyali juga, cobalah juga ulat sutra rebus. Di pasar-pasar, ulat sutra ini dijajakan secara eksotis. Orang Korea menyebut ulat sutra rebus ini dengan nama “ponteghi”. Rasanya kenyel-kenyel dan agak menegangkan kalau belum pernah mencoba. Tapi katanya, ini bagus untuk kesehatan. Jadi saya coba dua !!

Satu lagi jajanan yang harus coba di Seoul. Nama jajanannya “hot teok”. Penjaja hot teok yang enak dan terkenal ada di daerah Insa Dong. Di sana, penjual Hot teok ramai diantri banyak orang. Hot teok ini adalah semacam pancake manis yang dibuat seperti kue serabi. Di dalamnya ditaburi gula. Sembari memandang para remaja dan gadis-gadis kota Seoul yang tampil trendy dan penuh fashion, Hot Teok memang layak dicoba.

Mencicipi jajanan kaki lima memang menjadi sebuah pengalaman unik tersendiri. Kalau teman-teman punya kesempatan mampir di kota Seoul, jangan lewatkan untuk mencicipi jajanan kaki limanya. Salam.

Jajanan Kamcha dan Tigim / photo Junanto

 

Ponteghi, camilan ulat sutra / photo Junanto

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *