Mizutaki, Tradisi Sup Ayam Jepang

Mizutaki, Sup Kaldu Ayam Jepang / photo junanto

Beberapa waktu lalu, saya diajak dua orang kawan Jepang untuk mencicipi salah satu menu tradisional Jepang. Kami punya kebiasaan untuk saling mentraktir makanan khas dari masing-masing negara. Dalam kesempatan sebelumnya, saya mengajak mereka mencicipi nasi goreng dan rendang pada salah satu warung Indonesia di Tokyo.

Puas dengan cita rasa nusantara, sebagai balasan mereka mengundang saya mencicipi masakan Jepang yang khas. Mereka menjamin bahwa saya pasti belum pernah mencicipi makanan yang mereka pilih kali ini.

Sampai dengan hari H, saya tidak diberitahu jenis makanan apa yang akan kita makan. Kita bertemu di salah satu restoran di daerah Shinjuku. Nama restorannya, Genkai. Restoran itu konon sudah berdiri sejak tahun 1928.

Retsoran Genkai berbentuk rumah Jepang kuno. Di dalamnya tersedia ruang-ruang privat. Kami diantar masuk ke salah satu ruang di lantai 2, yang khusus sudah disiapkan untuk tiga orang. Makanan favorit Genkai adalah Mizutaki. Pilihan kawan saya tepat, karena saya memang belum pernah mencicipi Mizutaki.

Ruang Makan di Genkai / photo junanto

Apa itu Misutaki? Mizutaki adalah sejenis sup kaldu ayam yang kuahnya kental. Sedemikian kentalnya kuah mizutaki sehingga kalau dilihat mirip susu yang kental. Asal Mizutaki adalah dari daerah Fukuoka, sebelah selatan Jepang.

Cara memasak Mizutaki juga unik. Ayam direbus dalam kuah kaldu selama lebih dari lima jam. Keduanya direbus dengan perlahan sehingga mengeluarkan cita rasa dan kolagen yang baik untuk kesehatan kulit.

Reputasi Genkai sejak tahun 1928 dalam menyiapkan Mizutaki ini saya rasa memegang peranan penting. Resep tradisional yang mereka jaga selama puluhan tahun menjadikan Mizutaki Genkai ini terjaga kelezatannya. Ayam yang digunakan di restoran ini juga dibesarkan di peternakan khusus yang menjaga secara detil tingkat kesehatan dan kualitas tekstur dagingnya.

Muzitaki disajikan dalam nabe atau hot pot dari keramik yang diletakkan di tengah meja makan. Pelayan restoran, yang mengenakan kimono, menyajikan aneka sajian sambil menunggu mizutaki siap. Ketika mizutaki siap, ia menuangkan terlebih dahulu kuah kaldu ayam yang kental ke dalam cawan kecil.

Saya diminta mencicipi kuahnya terlebih dahulu. Melihat penampilannya yang sederhana, hanya kuah dan ayam, saya sempat ragu dengan rasa dari mizutaki ini. Tapi betul apa kata pepatah “don’t judge the book by its cover”, demikian pula dengan makanan. Penampilan kadang tidak mencerminkan rasa.

Kaldu Mizutaki dalam cawan / photo junanto

Tekstur daging ayam Mizutaki yang lembut / photo junanto

Dan, ketika satu seruput kuah kaldu mizutaki saya cicipi, rasanya sungguh lezat. Gurih bercampur dengan kental kolagen membuat cita rasa kaldu ayam menyeruak dan terasa nikmat.  Bagi saya, di balik kesederhanaan penampilannya, kuah mizutaki ini menyimpan elemen-elemen bumbu yang kaya.

Setelah kuahnya habis, barulah potongan ayam disajikan. Tekstur daging ayam, yang direbus selama lebih dari lima jam dengan campuran aneka sayuran, sungguh lembut dikunyah tanpa perlawanan. Ayam dimakan dengan campuran kuah shoyu atau ponzu. Lezat sekali.

Malam itu, kita berbincang sampai malam sambil menikmati kelezatan mizutaki. Lezat  itu terasa, sampai tetes kuah sup terakhir.

Salam Mizutaki.

Rahasia Sukses Pengolahan Sampah di Jepang – Part 2

Sampah Menurut Jenisnya di Jepang / photo Junanto

Sebelumnya, saya selalu berpikir bahwa tradisi mengolah sampah di Jepang, dengan memilah sampah menurut jenisnya, adalah budaya yang sudah lama dilakukan (baca: Mengolah Sampah di Jepang). Namun ternyata, menurut penjelasan kawan Jepang dan juga petugas di tempat pembuangan sampah yang saya temui, cara membuang dan mengolah sampah seperti saat ini, belum lama dilakukan di Jepang.

Sekitar 20 tahun lalu, orang Jepang belum melakukan pemilahan sampah. Di tahun 1960 dan 1970-an, orang Jepang bahkan masih rendah kepeduliannya pada masalah pembuangan dan pengelolaan sampah.

Saat-saat itu, Jepang baru bangkit menjadi negara industri, sehingga masalah lingkungan hidup tidak terlalu mereka pedulikan. Contoh terbesar ketidakpedulian itu adalah terjadinya kasus pencemaran Minamata, saat pabrik Chisso Minamata membuang limbah merkuri ke lautan dan mencemari ikan serta hasil laut lainnya. Para nelayan dan warga sekitar yang makan ikan dari laut sekitar Minamata menjadi korban.  Di tahun 2001, tercatat lebih dari 1700 korban meninggal akibat tragedi tersebut.

Di tahun 60 dan 70-an, kasus polusi, pencemaran lingkungan, keracunan, menjadi bagian dari tumbuhnya industri Jepang. Di kota Tokyo sendiri, limbah dan sampah rumah tangga saat itu menjadi masalah besar bagi lingkungan dan mengganggu kehidupan warga Tokyo.

Barulah pada pertengahan 1970-an mulai bangkit gerakan masyarakat peduli lingkungan atau “chonaikai” di berbagai kota di Jepang. Masyarakat menggalang kesadaran warga tentang cara membuang sampah, dan memilah-milah sampah, sehingga memudahkan dalam pengolahannya. Gerakan mereka menganut tema 3R atau Reduce, Reuse, and Recycle.  Mengurangi pembuangan sampah, Menggunakan Kembali, dan Daur Ulang.

Gerakan tersebut terus berkembang, didukung oleh berbagai lapisan masyarakat di Jepang. Meski gerakan peduli lingkungan di masyarakat berkembang pesat, pemerintah Jepang belum memiliki Undang-undang yang mengatur pengolahan sampah. Bagi pemerintah saat itu, urusan lingkungan belum menjadi prioritas.

Baru sekitar 20 tahun kemudian, setelah melihat perkembangan yang positif dan dukungan besar dari seluruh masyarakat Jepang, Undang-undang mengenai pengolahan sampah diloloskan Parlemen Jepang

Bulan Juni 2000, UU mengenai Masyarakat Jepang yang berorientasi Daur Ulang atau Basic Law for Promotion of the Formation of Recycling Oriented Society disetujui oleh parlemen Jepang. Sebelumnya, pada tahun 1997, Undang-undang Kemasan Daur Ulang atau “Containers and Packaging Recycle Law” telah terlebih dahulu disetujui oleh Parlemen.

Rahasia Sukses Jepang

Dari beberapa hal tersebut, setidaknya terdapat tiga rahasia sukses Jepang dalam penanganan sampah rumah tangga. Pertama, tingginya prioritas masyarakat pada program daur ulang. Hampir semua orang Jepang paham mengenai pentingnya pengelolaan sampah daur ulang.

Untuk membangun kesadaran itu, kelompok masyarakat seperti “chonaikai” melakukan aksi-aksi kampanye kepedulian lingkungan di berbagai lapisan masyarakat. Beberapa sukarelawan ada yang secara aktif turun ke perumahan untuk memonitor pembuangan sampah, dan berdialog dengan warga tentang cara penanganan sampah.

Kedua, munculnya  tekanan sosial dari masyarakat Jepang apabila kita tidak membuang sampah pada tempat dan jenisnya. Rasa malu menjadi kunci efektivitas penanganan sampah di Jepang.

Saya pernah melihat orang Jepang yang sedang mabuk di kereta sambil memegang botol bir. Saya mengikuti saat ia keluar dari kereta. Dia celingak celinguk mencari tempat sampah. Menariknya, dalam keadaan mabuk, ia masih membuang sampah, bukan hanya di tempatnya, namun bisa memilih tempat sampah daur ulang khusus botol dan kaleng.

Dari kejadian itu saya berpikir bahwa kebiasaan membuang sampah, selain juga karena dibangun rasa malu, juga telah masuk ke alam bawah sadar mereka.

Ketiga, program edukasi yang masif dan agresif dilakukan sejak dini. Anak-anak di Jepang, sejak kelas 3 SD sudah dilatih cara membuang sampah sesuai dengan jenisnya. Hal tersebut membangun kultur buang sampah yang mampu tertanam di alam bawah sadar. Membuang sampah sesuai jenis sudah menjadi “habit”.

Awalnya dulu, resistensi sempat muncul dari beberapa kalangan mengenai perubahan cara membuang sampah ini. Banyak warga, khususnya orang-orang tua, yang memprotes cara baru penanganan sampah, karena dianggap merepotkan. Namun dengan penjelasan dan informasi yang terus menerus mengenai manfaat dari pembuangan sampah, resistensi itu berkurang dengan sendirinya.

Tempat Sampah di salah satu Mall kota Tokyo / photo Junanto

Bisakah kita Meniru Jepang?

Melihat proses pembentukan “habit” pengolahan sampah di Jepang tersebut, saya yakin kalau kita di Indonesia bisa meniru Jepang. Kesadaran pada sampah dan lingkungan hidup di Jepang baru tumbuh dalam beberapa puluh tahun terakhir. Artinya hal tersebut bukan terjadi by default pada diri masyarakat Jepang, namun dilakukan by design dengan membentuk habit atau kebiasaan melalu edukasi.

Oleh karena itu, upaya membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai kampanye lingkungan hidup oleh komunitas-komunitas peduli lingkungan, seperti yang dilakukan oleh Sahabat Kompasianer dari Jogjakarta, Mas Daniel Suharta dan kawan-kawan, perlu banyak dilakukan di setiap kota dan tempat.

Apa yang dilakukan mas Daniel dengan membentuk berbagai program kampanye peduli lingkungan, persis seperti yang dilakukan oleh chonaikai di Jepang, 30 tahun lalu. Meski saat itu pemerintah Jepang belum mendukung dan bergerak, mereka tidak putus asa.  Selama 20 tahun, komunitas tersebut terus konsisten meraih simpati dan berkembang pesat hingga akhirnya malah dapat memberi tekanan sosial pada pihak pemerintah.

Langkah lainnya adalah dengan membuat program edukasi bagi setiap elemen masyarakat. Berbagai brosur dan informasi dibuat untuk anak-anak sekolah sehingga kebiasaan membuang sampah terbentuk sejak kecil. Di sisi lain para orang tua juga harus memberi contoh. Hal ini sangat penting, karena anak-anak meniru apa yang dilakukan orang tua.

Dengan berbagai hal tersebut, pada akhirnya nanti pemerintah mau tak mau akan mendukung gerakan peduli lingkungan. Dan bila demikian halnya, Undang-undang dibuat bukan untuk mengatur, namun hanya meng-amin-i saja realita yang sudah terjadi di masyarakat.

Tak heran, makin maju suatu negara, makin sedikit peraturannya. Di Jepang, saya jarang sekali melihat tulisan “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” atau “Dilarang Buang Sampah”. Karena tanpa tulisan itu-pun, masyarakat sudah membuang sampah di tempatnya.

Salam dari Tokyo.

ps. tulisan juga mengutip bahan dari berbagai sumber dan penelitian

Lebay-nya Mengolah Sampah di Jepang – part 1

Truk Sampah Memasuki Pusat Pengolahan Sampah / photo junanto

Mas Daniel Suharta, sahabat Kompasianer yang juga aktivis gowes dan lingkungan hidup di Jogjakarta, meminta saya untuk bercerita tentang pengolahan sampah di Jepang. Mas Daniel adalah seorang aktivis yang saya kenal rajin menginisiasi dan ikut serta di berbagai kegiatan peduli lingkungan, serta aktif menulis di media massa mengenai lingkungan hidup.

Saya tentu dengan senang hati membagi cerita tentang pengolahan sampah di Jepang. Hal ini karena orang Jepang terkenal sangat serius menangani soal sampah. Dibanding negara maju lainnya, masyarakat Jepang memang paling unggul dalam mengelola sampah, khususnya sampah rumah tangga.

Bagi orang asing yang pertama kali tinggal di Jepang, penanganan sampah di sini memang terkesan “lebay”. Bukan hanya kita tidak boleh membuang sampah sembarangan, tapi kita juga harus memisah-misahkan berbagai jenis sampah sebelum dibuang.

Saya terus terang mengalami “culture shock” saat pertama kali belajar cara membuang sampah. Maklum, di Jakarta masalah sampah tidak perlu repot. Semua dicampur-campur di keranjang sampah atau plastik, nanti tukang sampah datang, dan sampah dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seperti di Bantar Gebang.

Namun di Jepang, sampah ditangani berbeda. Secara prinsip sampah dibagi dalam empat jenis, yaitu sampah bakar (combustible), sampah tidak bakar (non-combustible), sampah daur ulang (recycle), dan sampah ukuran besar. Ada jadwal hari-hari tertentu yang mengatur jenis sampah apa yang dapat dibuang. Petugas akan mengambil sampah setiap hari sesuai dengan jadwal dan jenis sampahnya.

Satu hal lagi, untuk sampah minyak goreng atau minyak jelantah, tidak boleh dibuang ke saluran air. Hal tersebut dikhawatirkan mencemari air tanah. Oleh karena itu, di Jepang dijual bubuk yang berfungsi  membekukan sisa minyak goreng tersebut. Bubuk itu ditaburi di atas minyak hingga berubah menjadi gel. Setelah itu,  minyak jelantah yang sudah berbentuk gel dapat dibuang ke tempat sampah.

Terdengarnya sederhana kan? Hmmm, tidak sampai saya merasakannya sendiri.

Pertama, kita harus membeli plastik khusus sampah. Setelah sampah dipisahkan dan dimasukkan ke plastik tersebut sesuai jenisnya, sampah diletakkan di luar rumah. Selanjutnya, petugas akan datang mengumpulkan sampah.

Masalahnya, mereka hanya mengambil plastik sampah yang tepat jenis dan sesuai jadwalnya. Kalau salah jadwal, atau jenisnya kita campur-campur (misalnya botol minum di sampah makanan), sampah tidak akan diangkat

Satu bulan pertama tinggal di Jepang, sampah di tempat tinggal saya menumpuk sampai lima kantong besar. Hal itu karena saya belum paham cara mengklasifikasikan jenis sampah apa dan harus masuk ke kategori apa. Daripada repot, semua sampah saya gabung saja. Akibatnya, petugas membiarkan sampah tak terangkut dan membuat bau di lingkungan sekitar.

Hal itu tentu memalukan saya, karena dilihat oleh tetangga sebagai orang yang tidak disiplin dan peduli lingkungan.

Pihak kelurahan di tempat saya tinggal nampaknya memahami kesulitan dan ketidakpahaman orang asing dalam penanganan sampah di Jepang. Untuk itu, mereka telah merancang program edukasi yang sangat baik bagi warga asing.

Selain membagi-bagikan brosur cara membuang sampah (dalam bahasa Inggris), suatu hari mereka mengundang keluarga saya, bersama dengan warga asing lain, untuk mengunjungi lokasi pengolahan sampah di wilayah kecamatan tempat kami tinggal. Di kota Tokyo, setiap kecamatan besar memiliki pusat pengolahan sampah masing-masing.

Dengan melihat cara sampah-sampah tersebut dikelola, diharapkan kesadaran masyarakat terbangun, dan dengan itu turut mendukung proses pengolahan sampah bersama.

Klasifikasi Jenis Sampah di Jepang / photo Junanto

 

Sampah sebagai masalah Kritis dan Penting

Undangan mengunjungi pusat pengolahan sampah di distrik Meguro, Tokyo, tersebut tidak kami sia-siakan. Kami berkumpul di pusat pengolahan sampah pukul 10.00 pagi untuk kemudian dilanjutkan dengan melihat proses pengolahan sampah.

Namun sebelum melihat proses pengolahan, kita diterangkah terlebih dahulu betapa kritis dan pentingnya urusan sampah ini. Kebanyakan dari kita memang terkesan menganggap sepele bahkan tidak peduli dengan masalah pembuangan sampah. Padahal ketidakpedulian itu dapat menimbulkan masalah lingkungan hidup yang serius.

Lahan tanah di dunia kini sudah hampir mencapai puncak kapasitasnya. Sampah yang menimbun di permukaan tanah akan mengakibatkan kontaminasi pada resapan air tanah, yang pada akhirnya dapat meracuni kehidupan dan mengkontaminasi air tanah.Sementara itu, cara pengolahan sampah dengan membakar secara tradisional dapat mengakibatkan jumlah besar karbon monoksida dan gas karsinogen yang akan mengotori atmosfer. Selain itu, kita juga dijelaskan bahwa tidak semua sampah bisa didaur ulang oleh tanah.

Oleh karenanya, upaya manajemen sampah yang baik, serta kepedulian dalam memisah-misahkan sampah plastik, metal, botol, karet, dan benda-benda sejenis, menjadi penting untuk kesinambungan lingkungan hidup.

Proses Pengolahan Sampah di Jepang

Kami kemudian diajak melihat bagaimana sampah diolah sejak awal. Truk-truk sampah masuk ke pusat pengolahan melalui pintu utama. Di situ truk tersebut ditimbang untuk mengetahui berat sampah yang dibawa.

Dari sana sampah-sampah dimasukkan ke tempat pembakaran. Hari itu, kebetulan sedang dilakukan proses untuk sampah bakar, atau sampah basah rumah tangga. Timbunan sampah yang berasal dari sisa-sisa makanan, kotoran dapur, dimasukkan ke dalam sebuah tempat penampungan besar. Ada bungkus tahu, sisa tulang ikan, dan aneka makanan sisa lainnya dimasukkan ke tempat itu. Dari situ, sampah dimasukkan ke tempat pembakaran dan kemudian dibakar.

Hal yang menarik adalah ternyata ampas dari sampah-sampah tersebut bisa dimanfaatkan menjadi “cone-block” untuk lapisan jalanan. Jadi saya baru tahu kalau cone-blok di trotoar kota Tokyo sebagian di antaranya dibuat dari sampah yang kita buang setiap hari.

Selain bermanfaat untuk membuat cone-block, pembakaran sampah di Jepang juga dapat menjadi salah satu sumber daya penghasil listrik.

Sementara untuk cairan dari sampah basah, pusat pengolahan tersebut memiliki mesin penyulingan air yang fungsinya membersihkan air dari sampah, sebelum kemudian dialirkan kembali ke sungai.

Sistem daur ulang di Jepang menganut dua langkah dasar. Pertama, pemisahan material dan pengumpulan. Kedua, pemrosesan dan daur ulang sampah. Kedua hal tersebut bisa berhasil karena dilakukan secara gotong royong antara masyarakat dan pemerintah. Setiap rumah tangga di Jepang secara sadar melakukan langkah pertama. Sementara pihak pemerintah daerah melakukan langkah kedua.

Kesadaran, gotong royong, dan kerjasama yang baik antar warga, pemerintah, dan segenap elemen masyarakat menjadikan pengolahan sampah di Jepang dapat berjalan dengan lancar.

Nah, sepulang dari pusat pengolahan sampah, saya semakin disadarkan tentang pentingnya kita semua mengelola buangan sampah, sebagai bagian dari kepedulian kita pada lingkungan hidup. Dan sekarang, memilah-milah jenis  sampah yang dibuang sudah menjadi bagian dari keseharian hidup di Jepang.

Salam dari Tokyo

Hati-Hati, Makan di Kyoto

Bersama mas Teddy, pemilik resto Hati-Hati di Kyoto

“Kalau mampir ke Kyoto, cobalah Hati-Hati”, demikian pesan seorang kawan saat saya bertanya tentang restoran Indonesia di Kyoto. Saya pikir ia berpesan pada saya untuk berhati-hati, tapi ternyata, itu adalah nama sebuah restoran Indonesia yang terletak di daerah Kiyamachi, pusat kota Kyoto.

Dalam kunjungan ke kota Kyoto beberapa waktu lalu, saya memang menyempatkan diri untuk mampir ke restoran Indonesia. Selain sebagai obat rindu kampung halaman, restoran Indonesia di negeri orang bagi saya bukan sekedar tempat makan. Restoran atau warung Indonesia adalah duta bangsa  yang sejati, karena melalui merekalah Indonesia bisa diterima dengan hati terbuka oleh orang asing. Makanan tidak memiliki banyak pretensi, orang bisa makan jenis masakan suatu negara terlepas dari ideologi atau politik.

Dan Hati-Hati adalah sebuah ikon bagi restoran Indonesia di Kyoto. Di Jepang, banyak terdapat restoran Indonesia. Namun umumnya restoran itu dimiliki oleh orang Jepang. Tak banyak resto Indonesia di Jepang yang dimiliki oleh orang Indonesia. Hati-hati adalah salah satunya.

Adalah Teddy Fahmi, sang pemilik restoran, yang telah membuka restoran ini sejak 15 tahun lalu. Pria asli Sumatera Barat ini sengaja memilih nama Hati-Hati karena mudah dilafalkan oleh lidah orang Jepang. Memang betul kata Teddy, orang Jepang sangat mudah melafalkan kalimat yang diulang-ulang, seperti “cumi-cumi”, “pura-pura”, “mata-mata” dsb. Dengan demikian, nama Hati-hati mudah diingat dalam benak mereka.

Restoran Hati-Hati memiliki interior mirip dengan sebuah klub atau bar. Penyinaran yang temaram di berbagai sudut, serta interiornya yang bernuansa etnis Indonesia, menjadikan tempat ini cozy untuk menghabiskan waktu sambil mencicipi hidangan tanah air. Restoran ini menempati ruang basement sebuah gedung di tengah kota Kyoto. Lokasinya yang berada di sekitar keramaian sangat strategis dan mudah ditemukan.

Menurut Teddy, penggemar makanan Indonesia di Jepang cukup banyak. Bukan hanya warga Indonesia, melainkan justru orang-orang Jepang. Ia memiliki pelanggan tetap yang sebagian di antaranya adalah orang Jepang. Untuk menghidupkan suasana, Teddy sering mengadakan pertunjukan Live Show di restorannya. Di akhir pekan, Hati-Hati kerap diubah menjadi bar dan tempat pertunjukan musik.

Menu jagoan  restoran ini adalah rendang. Maklum, karena sang pemilik adlaah asli orang Minang. Saat saya mencicipi rendangnya, rasanya sungguh otentik. Banyak restoran Indonesia di Jepang yang menyajikan rendang, tapi memang tidak semua  rendang memiliki rasa se-otentik Hati-Hati.

Rendang Hati-Hati / photo junanto

Nasi Campur Hati-Hati / photo Junanto

Selain rendang, nasi campur Hati-Hati juga menawarkan otentisitas Indonesia. Rekan-rekan Jepang yang diajak mencicipi makanan ini umumnya menyatakan kepuasannya.  Tempe, tahu, ayam goreng, dan lalapannya terasa segar ditemani oleh sambal yang lumayan pedas. Mirip dengan nasi campur di Indonesia.

Untuk makanan pembuka, gado-gado yang disajikan juga segar. Orang Jepang sangat suka dengan gado-gado. Mereka menyebutnya Salada Indonesia. Yang unik dari Gado-gado bagi mereka adalah dressing-nya yang berupa saus kacang. Hal serupa juga berlaku pada sate ayam yang disajikan. Bumbu kacang di sate ayam membedakan sate Indonesia dengan yakitori (sate Jepang) yang minim bumbu.

Selain Hati-Hati, di kota Kyoto sebenarnya ada beberapa restoran Indonesia juga. Salah satunya adalah “Cita-Cita”. Restoran tersebut dimiliki oleh adik dari Teddy. Usia kedua restoran juga sudah cukup lama di Kyoto.

Kyoto adalah kota budaya bagi Jepang. Dahulu, Kyoto adalah ibukota Jepang sebelum pindah ke Tokyo. Oleh karenanya, di kota ini, nuansa Jepang tempo dulu sangat terasa. Aneka jajanan dan makanan khas Jepang sudah tentu banyak terdapat di Kyoto.

Namun tak ada salahnya kalau saat mengunjungi Kyoto, kita menyempatkan diri untuk mampir ke warung-warung Indonesia yang ada di sana. Bukan sekedar mencicipi makanan saja, namun juga sebagai bentuk keicntaan dan dukungan kita pada diplomasi kuliner yang dilakukan oleh anak-anak bangsa di luar negeri.

Selamat makan rendang. Salam Hati-Hati dari Kyoto.

Sate Ayam Hati Hati / photo junanto

 

Signboard Hati-Hati di Kyoto / photo junanto

Kontes Sumo Menangis

Kontes Naki Sumo di Asakusa / photo junanto

Umumnya orang tua akan khawatir bila bayinya menangis keras. Tapi di Sensoji Temple, Tokyo, siang tadi (21/4), para orang tua justru mengharapkan bayinya menangis keras-keras. Ya, karena para bayi tersebut diikutsertakan pada kontes sumo bayi menangis, atau yang dikenal dengan nama “Naki Sumo”.  Naki dalam bahasa Jepang artinya menangis.

Siang tadi saya mampir ke Sensoji Temple untuk menyaksikan kontes yang unik tersebut. Mengapa unik, karena kedua bayi tersebut diadu layaknya dua pesumo. Mereka digendong oleh dua pesumo dan dihadapkan satu sama lainnya. Bayi yang menangis paling kencang menjadi pemenangnya.

Pertandingan ini juga dilakukan mirip dengan aksi laga sumo. Mulai dari ring bundar atau dohyo, yang biasa digunakan pada pertandingan sumo, hingga para juri dan pemain sumo ikut serta dalam pertandingan ini.

….. kisah lengkap cerita ini bisa dibaca juga di buku “Shocking Japan: Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan”

Krisis Paruh Baya Gundam

Gundam RX-78-2 di Odaiba, April 2012 / photo Junanto

Ada dua ikon terkenal Jepang yang selalu saya ingat sejak kecil. Pertama, Godzilla. Dan kedua, Gundam. Bagi pria seumuran saya, Gundam adalah super hero. Saat kecil dulu, saya tak pernah melewatkan film kartun seri Gundam. Dulu judulnya “Mobile Suit Gundam”, dengan tipe robot  RX-78-2.

Oleh karena itu, saat Gundam Front, sebuah taman bermain dengan tema Gundam, dibuka di Odaiba Tokyo, 19 April 2012 lalu, para pecinta Gundam seolah mendapat kesenangan yang luar biasa. Saya menyempatkan waktu untuk mampir ke sana guna mendapatkan suasana Gundam di akhir pekan.

Setiba di DiverCity Tokyo Plaza, sebuah kompleks mall komersial yang juga tempat Gundam Front Tokyo berada, saya menyaksikan Patung Gundam ukuran “life size” setinggi 18 meter berdiri tegak. Patung, yang berciri khas warna biru, kuning, merah, dan putih ini, pada tahun 2009 lalu pernah didirikan di daerah Odaiba, lalu dipindahkan ke Shizuoka, dan kini kembali berdiri tempat di DiverCity, Tokyo. Patung dan tempat bermain Gundam dikelola oleh Bandai Co, perusahaan yang melahirkan Gundam.

Sebagian besar pengunjung yang datang dan berpose di patung Gundam tadi adalah para pria atau wanita paruh baya. Rata-rata umur mereka sekitar 40 tahunan. Banyak yang mengenang masa kecilnya dengan melihat Gundam ukuran raksasa.

“Mobile Suit Gundam” memang memulai debutnya di Jepang dengan 43 episode yang ditayangkan di televisi antara April 1979 hingga Januari di tahun berikutnya. Sejak itu, Gundam menjadi sebuah ikon global bagi dunia animasi dan robot. Penjualan model robot, video games, kompilasi DVD untuk Namco Bandai Holding telah mencapai 45 miliar Yen setiap tahunnya. Gundam juga menjadi inspirasi bagi lahirnya robot-robot generasi baru, seperti Transformer.

Di usianya yang ke-33, Gundam sendiri juga seperti sedang memasuki usia paruh baya. Penjualannya di seluruh dunia mulai menghadapi tekanan, terutama dari pesaing-pesaingnya. Gundam seolah mengalami masalah eksistensi. Dibangunnya taman bermain dan patung Gundam ukuran besar di Odaiba ini seperti sebuah penanda bahwa Gundam masih eksis dan tetap hidup di hati masyarakat Jepang dan para penggemarnya di seluruh dunia.

Gundam Front ini juga dibangun untuk menarik hati para penggemar-penggemar muda. Oleh karena itu, banyak fasilitasnya dibuat dengan tekhnologi hi-tech yang menarik.

Atraksi utama dari Gundam Front adalah Dome-G yang menampilkan gambar-gambar dinamis dari seri Gundam yang dibuat dengan seni grafis komputer dan ditayangkan ke layar dome berdiameter 16 meter.

Di area Experience, para pengunjung dapat menyaksikan aneka model Gundam, seperti 1/1 Core Fighter Ver GFT dari seri pertama, dan 1/1 Strike Freedom Gundam versi GST yang ada di seri Seed Destiny.

Dan yang paling menyenangkan adalah GunPla, atau arena pameran yang memuat  lebih dari 1000 model plastik Gundam dari awal lahirnya hingga sekarang. Kita seolah diajak menapaki perjalanan Gundam dari lahir hingga sekarang.

The Genealogy of Gundam at GunPla / photo Junanto

Informasi di tempat ini juga sangat membantu apabila kita tidak bisa berbahasa Jepang, karena tersedia pula dalam bahasa Inggris, Cina, dan Korea. Tiket dapat dibeli secara online di website Gundam Front, Tokyo.

Gundam Café, yang merupakan café kedua di Tokyo setelah di Akihabara, juga dibuka di lokasi yang sama. Para pengunjung dapat mencicipi aneka hidangan dan makanan dengan tema Gundam.

Bagi saya, dan juga penggemar Gundam lainnya, Gundam bukan hanya sekedar animasi. Ia adalah sebuah kisah tentang kehidupan. Dalam film Gundam, kita diajarkan bahwa hidup tak pernah selamanya hitam putih. Banyak sekali wilayah abu-abu di dalamnya.

Kadang kita harus bijaksana dalam memilih jalan hidup. Kebijaksanaan itu adalah inti dari kemanusiaan, bahwa manusia harus mampu berubah dan beradaptasi dengan segala perubahan dan dinamika hidup, tanpa harus mengorbankan prinsip utamanya. Gundam mengajarkan itu semua.

Yoshihuki Tomino, pencipta robot Gundam, juga mengatakan bahwa di usianya yang ke-33, Gundam ingin mengingatkan pentingnya kita mencintai lingkungan hidup. Musuh besar Gundam, yang berasal dari planet lain, melakukan invasi ke bumi karena planetnya telah tercemar polusi. Di sini kita diajarkan untuk juga mencintai lingkungan kita, mulai dari buang sampah hingga melestarikan tanaman dan lingkungan.

Didirikannya Gundam ukuran besar di Tokyo ini dapat pula diartikan sebagai sebuah simbol akan tetap berseminya harapan dan inspirasi bagi umat manusia.

Salam Gundam. The Sky is Falling !!

Gundam Cafe at Odaiba / photo junanto

Guardian of the Earth

Irori, Sajian Tradisional Jepang Dengan Tungku Api

Pelayan Restoran Menyiapkan Irori / photo junanto

Beberapa waktu lalu saya mencicipi satu jenis makanan tradisional Jepang di daerah Shinbasi, Tokyo. Makanan ini disajikan dengan style Irori, yaitu cara memasak dengan menggunakan tungku api di tengah meja. Irori sendiri artinya adalah tungku api tradisional yang terbuat dari batu dan umum terdapat di rumah-rumah orang Jepang jaman dahulu. Di tengah irori umumnya diletakkan bara api panas dari kayu.

Pada sekitar abad pertengahan, masyarakat Jepang belum mengenal gas, kompor, atau listrik. Tradisi memasak makanan masih menggunakan irori yang diletakkan di tengah-tengah rumah. Anggota keluarga biasanya duduk mengelilingi irori sekaligus menghangatkan tubuh sebelum masakan matang.

Di jaman modern, irori tetap dipertahankan di beberapa restoran Jepang. Restoran yang menggunakan panggangan api di tengah pengunjung dinamakan Robatayaki. Makanan di restoran ini bukanlah tipe makanan cepat, dalam arti penyajian makanan membutuhkan waktu yang panjang. Jadi kalau mau makan di sini, kita harus meluangkan waktu sekitar 2 atau 3 jam.

Sajian utama masakan Irori yang saya pesan malam itu adalah sejenis ikan sungai yang dinamakan “Yamame”, atau dikenal juga dengan nama “Yamame Trout”. Ukuran ikannya sedang, tidak terlalu kecil, tapi juga tidak besar.

Ikan yamame yang masih mentah ditusuk dengan tusukan seperti sate dan ditancapkan ke abu yang terletak di dalam Irori. Sebelum itu, pelayan restoran meletakkan terlebih dulu bara api yang sangat panas ke dalam irori. Setelah tungku api panas, beberapa tusuk ikan ditancapkan di sekitarnya.

Ikan Yamame ditancapkan di Irori / photo junanto

Melihat lambatnya api mematangkan ikan, dalam hati saya berpikir, sampai kapan ikan ini bisa matang ya. Dan betul saja, sampai hampir satu jam, ikan yamame belum juga matang. Pelayan hanya sesekali membolak balik ikan untuk meratakan kematangan.

Selama penantian ikan itu matang, kita disajikan beberapa makanan pengantar, mulai dari salad, sashimi, sup, dan cawan mushi. Hidangan tersebut disajikan dengan cantik dan artistik, tentunya juga dengan sofistikasi rasa yang kaya.

Melihat dari prosesnya yang panjang, makan di Irori ini cocok untuk dilakukan bersama kawan-kawan atau dalam perbincangan bisnis. Sambil menunggu panggangan di tengah meja matang, kita juga mengisi dengan perbincangan.

Setelah deretan makanan pengantar, akhirnya ikan yamame matang juga. Melihat dari panjangnya waktu menunggu, then it has to be good, begitu pikir saya.  Seperti inilah ikan yamame yang sudah matang di piring saya.

Grilled Yamame on my plate / photo junanto

Saat saya cicipi dagingnya. Hmmmm … betul juga. Rasanya luar biasa. Kelembutan daging ikan ini sangat terasa di mulut. Rasanya juga minimalis, meski hanya dibalur garam saja, aroma gurih ikan yang lezat sangat terasa. Meski tidak besar, ikan yamame ini mengandung daging yang tebal. Tak mengenyangkan, tapi saya jamin menyenangkan.

Ikan memang sajian puncak makanan Irori malam itu, tapi bukan akhir dari sajian. Usai daging ikan tuntas dimakan, kami memesan rangkaian makan selanjutnya, yaitu daging sapi wagyu yang dimasak dengan model Robatayaki, atau dipanggang di atas bara api. Jadi bara api yang tadi belum dimatikan, melainkan digunakan untuk memanggang daging. Kelembutan rasa daging wagyu, asparagus, dan irisan lotus, di atas panggangan sungguh terasa sangat menyenangkan, seolah ia meletup di mulut sebagaimana meletupnya bara api panas di dalam irori.

Kelembutan Daging Wagyu on Irori / photo junanto

Makan di Irori membuat kita merasakan tradisi kuno dari masyarakat Jepang kala belum ditemukan tekhnologi seperti gas dan kompor. Makanan yang disajikan juga matang secara alami, dan yang jelas sehat.

Jadi, kalau main-main ke Tokyo, sempatkan ya makan di restoran dengan Irori-style. Salam makanan sehat.

Tubuh, Perempuan Jepang, dan Seks

Tubuh Perempuan / ilustrasi dari kompas.com

Tubuh Perempuan adalah sebuah panggung drama. Demikian diungkapkan oleh Simone de Beauvoir (1908-1986), seorang feminis yang terkenal dengan bukunya, The Second Sex. Perempuan, menurut Simone, adalah makhluk yang tubuhnya masuk dalam penyelidikan fenomenologis.

Semenjak ia mengalami menstruasi hingga menopause, hormon yang diproduksi menyebabkan tubuhnya bagai panggung drama. Hormon itu kerap meledak-ledak hingga ia kadang tak mampu mengontrol dirinya sendiri.

Saat kehamilan, melahirkan, menyusui, membesarkan anak, dan menstruasi yang datang berulang, hingga menopause, perempuan kerap terombang-ambing dalam perasaan yang sulit dijelaskan. Ia bisa sedih, ia bisa mellow, tanpa sebab. Itulah perempuan. Apapun kebangsaannya, baik perempuan Jepang atau perempuan Indonesia, menghadapi fenomena kebertubuhan yang sama.

Dengan pandangan demikian, perempuan menjadi sesuatu “yang lain”. Inilah konsep yang memandu seluruh analisis de Beauvoir dalam buku The Second Sex. Dengan cara mengeksploitasi perbedaan seksual, struktur patriarkal menciptakan ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Second Sex mendefinisikan apa yang mampu dan tidak mampu dilakukan oleh “tubuh” perempuan. Perempuan, menjadi kelas dua dalam kehidupan.

Kebertubuhan yang membedakan inilah yang coba didobrak oleh R.A Kartini lebih dari seratus tahun lampau. Melalui surat-surat dan ungkapan hati kepada Stella sahabatnya, Kartini menuliskan pandangannya tentang feminisme dan nasionalisme.

Meski banyak yang kecewa dengan Kartini, karena ia akhirnya menyerah saat diperistri oleh Bupati Rembang yang sudah beristri tiga, Kartini tetap sebuah perjuangan.

Dalam diam, Kartini memberontak. Sebagaimana diungkap pula oleh Leo Tolstoy dalam bukunya Anna Karenina. Saat Anna tak mampu menghadapi tekanan pada perkawinannya yang tak bahagia, ia menabrakkan diri ke kereta api. Bukan sekedar menabrakkan diri, tapi ia melakukan sebuah pemberontakan di jamannya.

Dengan berbagai cerita itu, nasib wanita hingga kini masih tak jauh beda. Jaman boleh berganti, tekhnologi boleh bertambah maju, tapi perempuan masih berada dalam peranannya yang marginal.

Bukan hanya di Indonesia. Jepang yang terkenal sebagai negara maju juga terlambat dalam memandang kebertubuhan kaum perempuan. Sebelum abad ke-19, wanita di Jepang dianggap rendah. Kaum perempuan hampir tidak punya hak apa-apa. Mereka harus patuh pada kaum pria, tak punya hak edukasi, tak punya hak politik, dan kerap hanya menjadi obyek seks belaka.

Pengantin Perempuan di Jepang / photo Junanto

Gerakan kaum perempuan di Jepang baru dimulai pascarestorasi Meiji. Setelah tahun 1946, Jepang lalu mulai mengundangkan kesamaan hak bagi kaum perempuan. Setelah itu, perlahan demi perlahan, kaum perempuan Jepang mendapatkan haknya.  Sebuah langkah yang relatif lebih lambat dibandingkan dengan Indonesia yang memulai gerakan kaum Ibu dalam Kongres Kaum Perempuan Indonesia di tahun 1928.

Di Jepang, budaya mengangkat harkat kaum perempuan masih terlihat gagap dan tersendat. Seorang suami bahkan dulu masih bisa membawa perempuan lain ke rumah, sementara istrinya menyiapkan kamar untuk keperluan suaminya. Tingkat kekerasan dalam rumah tangga juga masih tinggi.

Berbagai gerakan kaum perempuan dan upaya pemerintah Jepang untuk melakukan perlindungan hukum telah banyak digalang. Satu organisasi seperti Tokyo Federation of Women Organization, memiliki berbagai divisi yang dikhususkan pada upaya perlindungan kaum perempuan di Jepang.

Organisasi seperti Liga Peningkatan Kesamaan Hak Perempuan atau Fujin Sanseiken Kakutoku Kisei Domei adalah satu organisasi yang cukup berpengaruh di Jepang saat ini untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan.

Realita bagi kaum perempuan memang tak mudah. Satu hal yang saat ini sangat memprihatinkan adalah soal kemiskinan. Data pemerintah Jepang dan National Institute of Population and Social Security Research (NIPSSR), menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan di Jepang berusia 20 hingga 64 tahun, hidup menyendiri dalam kemiskinan. Kaum perempuan di Jepang tercatat lebih miskin dari kaum prianya.

Kalau Jepang, yang notabene negara maju saja menghadapi tantangan yang berat pada kaum perempuannya, bagaimana Indonesia?

Dilihat dari struktur demografi ekonomi, kaum perempuan Indonesia juga masih terpinggirkan. Dari jumlah penduduk miskin absolut di Indonesia, apabila dibedakan menurut jenis kelaminnya, maka penduduk perempuan miskin (16,72%) lebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki (16,61%).

Kalau kita merinci menurut rumah tangga, maka rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan di Indonesia jumlahnya masih tinggi. Kemiskinan di Indonesia sangat lekat dan dekat dengan perempuan. Dana BLT yang diterima dari Pemerintah sebagian besar juga diterima oleh laki laki, karena definisi kepala keluarga di Indonesia masih menempatkan laki-laki sebagai subjeknya.

Dampak dari kemiskinan tersebut dapat ditebak, prioritas akses pada berbagai layanan akan diberikan lebih banyak pada laki-laki. Tidak mengherankan jika perempuan identik dengan kemiskinan. Budaya patriarkat yang masih melekat di Indonesia menyebabkan perempuan tertinggal di setiap sektor. Di sektor pendidikan dapat kita lihat bahwa persentase rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan yang berpendidikan SD dan SLTP lebih tinggi jumlahnya dibandingkan rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki. Sebaliknya, persentase rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki dengan pendidikan sekolah menengah ke atas jumlahnya lebih tinggi.

Berbagai upaya tentu telah dilakukan untuk memberdayakan perempuan Indonesia. Meski begitu, saat ini tantangan ke depan masih berat. Masalah ketimpangan gender, angka kematian ibu, masalah buruh perempuan, Tenaga Kerja Wanita yang kerap disiksa, Pekerja Rumah Tangga Wanita, dan berbagai permasalahan lainnya masih menggelayuti negeri ini.

Kartini / sumber google

Kartini di hari-hari ini menjadi relevan lagi. Isu yang diangkatnya dari sebuah desa kecil di Jawa ternyata bukan isu lokal. Kartini justru mengangkat sebuah isu universal yang bukan hanya masalah bagi tradisi Jawa. Bahkan di Jepang sekalipun, hingga saat ini, isu pemberdayaan perempuan masih relevan.

Indonesia bisa dinilai lebih maju dari Jepang dalam memberdayakan kaum perempuannya. Kita bahkan telah memiliki Presiden perempuan, dan banyak perempuan berpartisipasi dalam politik. Satu hal yang masih langka di Jepang.

Di hari Kartini ini, kiranya kita perlu merenungkan kembali, bahwa perempuan adalah tulang punggung bangsa. Bangsa ini tak bisa jalan tanpa perempuan. Andai para ibu rumah tangga mogok saja dalam sehari, maka mandeklah  kehidupan kita. Kalau ibu rumah tangga berhenti belanja dalam sehari, mogoklah ekonomi kita. Banyak perusahaan yang bisa bangkrut karena diboikot ibu-ibu. Dijamin, bukan hanya perekonomian, tapi bapak-bapak juga bakal kerepotan.

Selamat Hari Kartini. Salam.

Serunya Hanami Malam

yozasakura atau sakura malam -night hanami 2012 / photo junanto

 “If only we might fall like cherry blossom in the spring. So pure and radiant!” – From “The Nobility of Failure”, 1975

 Saat musim sakura tiba, orang Jepang punya tradisi melakukan hanami, atau  piknik di bawah pohon sakura. Umumnya hanami dilakukan pada siang hari, terutama saat matahari bersinar cerah.

Masyarakat Jepang keluar rumah, menggelar tikar, serta makan minum bersama kawan dan keluarga. Tradisi hanami dilakukan secara marak karena sakura hanya mekar dalam waktu singkat. Tak penuh dua minggu. Orang Jepang mengoptimalkan waktu yang ada untuk menikmati keindahan sakura.

Tapi kayaknya hanami siang itu sudah biasa dilakukan saat musim sakura tiba. Ada satu hal yang tidak biasa dilakukan banyak orang. Apa itu?  Bagaimana kalau melakukan hanami di malam hari?

“Apa? Hanami malam?” Begitu tanya saya pada Jane, seorang teman yang mengajak untuk melakukan hanami malam di kota Tokyo. Tentu saja saya membayangkan angin malam Tokyo yang masih dingin di awal musim semi.

“Kan gelap tuh? Apa bunganya keliatan, Jane?” sambung saya masih tidak percaya dengan ajakan Jane.

“Keliatan kok. Ada satu taman di Tokyo yang terkenal dengan hanami malamnya. Namanya Taman Rikugien. Taman itu malah terkenal dengan pohon sakura tuanya, yang umurnya sudah ratusan tahun,” begitu jawab si Jane setengah promosi.

“Tau dari mana Jane?”

“Di website ada kok infonya”

Weeits, menarik juga nih. Saya sering dengar istilah “terbang malam”, “balapan malam”, tapi baru kali ini mendengar hanami malam. Saat saya lihat literatur dan tradisi masyarakat Jepang, hanami malam memang ada. Mereka menyebutnya dengan istilah “yozasakura”, yang artinya sakura malam.

Menurut Jane, hanami malam itu asyik karena kita bisa melihat bunga sakura yang putiknya bergerombol disirami cahaya lampu. ‘Pokoknya indah deh’.

Mengingat kita-kita ini tergolong orang yang sibuk (jiyaaaah), dalam arti sulit mencari waktu untuk hanami di siang hari, terutama karena alasan pekerjaan kita yang saling tidak klop, ide hanami malam sangat feasible untuk dilakukan. Apalagi hal itu bisa dilakukan usai jam kantor kita semua.

Dan sore itu, hari Rabu, pukul 19.00, usai bubaran kantor, kami semua bertemu di stasiun Meguro. Saya, Norman, Jane, Leila, Abid, dan Yumiko, yang orang Jepang asli, pergi bersama melakukan petualangan hanami malam.

Kehebohan sebenarnya telah dimulai beberapa jam sebelum hanami. Di forum email, masing-masing dari kita sibuk menawarkan diri untuk membawa perlengkapan hanami. Abid bersedia membawa camilan, seperti biskuit dan crispy. Saya janji membawa bir non alcohol. Dan Jane membawa tikar untuk duduk di atas rumput. Niat hanami banget kan sampai bawa tikar plastik.

All set, then we go.

Perjalanan ke Rikugien lumayan jauh karena lokasinya terletak di pinggiran kota Tokyo. Dari stasiun Meguro kira-kira menempuh waktu 30 menit sampai stasiun Komagome, atau stasiun terdekat dari pintu taman Rikugien.

Sepanjang jalan di kereta kita semua berbicara tentang bakal serunya suasana hanami malam di bawah pohon sakura tua yang disinari spotlight. Khayalan yang muncul di benak adalah foto-foto dengan latar belakang sakura malam yang bercahaya nan indah.

Setiba di stasiun Komagome, kita merasa bahwa bekal yang dibawa masih terlalu sedikit. Begitu keluar dari mesin karcis stasiun Komagome, kitapun langsung menuju satu toko yang kelihatan seperti kombini (convenience store). Di sana kita mengincar camilan dan minuman. Tapi saat diliat-liat isi tokonya, kok ga banyak pilihannyanya ya. Bir saja tidak ada.

Tak lama Leila berkata, ‘Eh ini sih bukan kombini, tapi apotik. Liat tuh tulisannya gede, “kusuri”, yang artinya emang toko obat’. Haaaah, pantesaan. Begini nih kalau terlalu semangat hanami malam. Sampai belanja saja gak liat toko apa.

Akhirnya kita memutuskan saja untuk keluar dari stasiun dan mencari kombini. Untunglah tak jauh dari pintu exit ada toko Sunkus yang masih buka. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 20.15. Di Sunkus, kita belanja aneka minuman dan makanan untuk memeriahkan acara hanami malam.

Norman belum makan malam, jadi dia membeli banyak onigiri (nasi kepal Jepang). Sementara Yumiko membeli coklat dan kue manis. Leila dan Jane tentu saja melirik-lirik aneka bir kaleng.

Kamipun keluar dari Sunkus dengan menenteng dua bungkusan besar plastik yang berisi makanan dan minuman. Abid bersedia menenteng kedua bungkusan plastik besar itu.

Keluar dari Sunkus kita masih mencari-cari lokasi Taman Rikugien. Maklum ternyata kita semua belum pernah ke taman itu. Kitapun melihat-lihat tanda dan peta di iphone.

Tapi keliatannya ada yang gak konsisten nih antara promosi hanami malam dengan suasana jalanan menuju taman. Kok suasana jalanan menuju gerbang Rikugien pada malam itu cukup sepi ya. Mencurigakan memang.

Setelah proses pencarian, kita akhirnya sampai juga di taman itu.

Tapi …. Kok sepi ya.

Seperti ini nih kondisi pintu tamannya.

Pintu Masuk Rikugien yang Tertutup. Mana Hanami Malamnya? / photo junanto

‘Oh no,’ kata Jane. ‘Jangan-jangan tutup! Gak Mungkin! Di web site ditulis ada hanami malam kok!’ kata Jane setengah menjerit penuh harapan.

Namun apa mau dinyana, pintu gerbang tetap tertutup dan digembok. Di sekitar taman ada beberapa pengumuman berhuruf kanji. Kita mengerahkan kemampuan Leila dan Yumiko yang bisa membaca kanji, untuk membaca pengumuman di depan pintu. Siapa tau ya, kita salah pintu masuk dan bahwa ada pintu masuk lainnya ke taman. Tapi hasilnya tetap nihil. Tetap tidak ada satupun pengumuman tentang hanami malam. Informasinya jelas, taman sudah tutup sejak pukul 17.00 sore.

Eeeng iiing eeeeng …

‘Gak mungkin website boong nih. Ayo kita tanya ke sana,’ kata Jane sambil menunjuk satu apartemen kecil yang masih menyala lampunya. Ditemani  oleh Yumiko, Jane-pun meluncur ke sana untuk bertanya pada mas-mas Jepang yang menjaga apartemen.

Jane: Ini betul Taman Rikugien?

Orang Jepang: Haik, betul nee

Jane: Katanya di sini ada hanami malam?

Orang Jepang: Haik, betul nee

Jane: Lho kok sekarang sepi? Pintu gerbangnya digembok kok?

Orang Jepang: Haik, tutupnya jam lima sore nee

Jane: Lho kok tutup jam 5 sore. Kan hanami malam musti malam. Jadi bukanya sampai malam mustinya.

Orang Jepang: Haik betul

Jane: Trus kalau betul, kenapa sekarang ga ada hanami malam?

Orang Jepang: Ooh hanami malam sudah selesai hari Minggu kemarin. Hari ini tidak ada lagi. Taman tutup jam 17.00.

Jane : #$%&’(&%$  …..Gubraak… Makasih mas!

 

Demikianlah, acara hanami di Rikugien malam itu pun gagal. Kita tidak bisa masuk ke dalam Rikugien guna menyaksikan sakura yang konon indahnya seperti ini (gambar diambil dari google)…

Seperti inilah kiranya keindahan Sakura Malam di Taman Rikugien / photonya dari google

Pasrah. Kitapun terduduk di depan pintu gerbang taman yang digembok. Karena lapar, Norman memakan onigiri. Saya makan roti. Yang lain mengais-ngais belanjaan, mulai dari kue hingga onigiri. Yaah lumayan, hanami di depan gerbang hehehe….

Usai makan, niatan foto-foto tetap dilakukan. Jadi kita ambil posisi  di depan gerbang, tentu saja dengan pose pasrah seperti ini….

eeeeng iiing eeeng, taman tutup jam 17.00 / photo junanto

Meski Rikugien tutup, semangat hanami malam kita tidak luntur. Setidaknya kita bukan tipe hanami-er yang mudah menyerah. Apalagi musim sakura segera berakhir. Kitapun telpon sana sini, browse sini sana, untuk mencari hanami nght spot yang baik.

Akhirnya kita memutuskan untuk ke daerah Idabashi. Di sana ada sungai yang lumayan besar dan bantarannya ditanami oleh pohon sakura. Betul saja. Saat tiba di sana, suasananya sudah ramai dengan orang2 Jepang yang melakukan hanami.

Ada satu café yang terletak di pinggir sungai, namanya “Canal Café”. Suasananya indah karena sakura merekah di sekitar café dan sungai. Cafe ini juga punya sejarah panjang. Tertulis, berdiri sejak 1918. Tapi alamak, antriannya panjang sekali. Kita menyerah.

Canal Cafe di Iidabashi, antriannya maak! / photo junanto

Akhirnya kita memilih untuk menggelar tikar di sepanjang bantaran sungai. Kebetulan ada spot kosong, tak jauh dari sebuah pekerjaan konstruksi. Bersebelahan dengan parkiran alat konstruksi dan mesin besar. Lumayan romantis kan hehehe….

Tapi lumayaan lah lokasi ini sebagai pelipur lara.

Meski terkesan darurat, suasana hanami malam tetap bisa dilaksanakan dengan khusyuk dan yang jelas, tetap seru!

Beginilah suasana hanami malam versi kami.

Salam hanami ….

Suasana hanami malam di bantaran IIdabashi / photo junanto

Tetap bisa ber-hanami malam / photo junanto by norman

Kampaiii ! Hanami Malam 2012 / photo junanto

Satu Jam Bersama Geisha

Penampilan para Maiko di Miyako Odori / photo Junanto

“Geisha tidak menjual tubuh, tapi menjual skill atau keahlian”, demikian ungkap Riko-san, seorang kawan Jepang, saat mengantar saya menjelajahi kawasan Gion, di kota Kyoto, Jepang. Gion adalah salah satu distrik tertua di Kyoto yang terkenal dengan istilah “hanamachi” atau “kota bunga”, sebuah istilah yang digunakan oleh orang Kyoto pada tempat praktik seni tingkat tinggi para geisha. Novel dan film terkenal Hollywood “Memoirs of A Geisha” juga mengambil setting di tempat ini.

….. kisah lengkap cerita ini bisa dibaca juga di buku “Shocking Japan: Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan”

Musik para Maiko / photo Junanto

 

Miyako Odori "The Finale" / photo Junanto

Bersama Pamflet Miyako Odori / photo Junanto