Cita Rasa Bali di Tokyo

Deretan Arak dan Brem Bali di Warung Bli Made, Tokyo / photo Junanto

Bali adalah salah satu destinasi favorit orang Jepang. Ribuan orang Jepang pergi ke Bali setiap tahun untuk menikmati budaya dan keindahan alamnya. Mereka  juga sangat menyukai aneka masakan Bali. Meski  demikian, mencari makanan Bali di Tokyo ternyata tidak mudah.

Restoran Indonesia di Tokyo memang tidak sebanyak restoran Thailand atau India. Oleh karenanya, berita satu restoran Indonesia yang menarik, sangat cepat menyebar di kalangan pecinta makanan etnis. Salah satu yang menarik perhatian orang Jepang belakangan ini adalah Warung Bli Made, yang terletak di wilayah Aoyama, tak jauh dari daerah Harajuku, Tokyo.

Berbeda dengan kebanyakan restoran Indonesia di Jepang, warung Bli Made mengkhususkan diri pada menu makanan Bali. Saya dan kawan-kawan beberapa waktu lalu mampir ke Warung Bli Made untuk mendapatkan suasana Bali di tengah kota Tokyo. Dan betul saja, Warung tersebut menyajikan suasana dan cita rasa Bali yang otentik.

Meski juga menyajikan menu Indonesia lainnya, makanan Bali tetap menjadi “signature dish” dari warung ini. Adalah I Made Sugita, pemillik sekaligus juru masak di warung ini, yang memulai bisnis restoran Bali sejak tiga tahun lalu. Made, yang beristrikan orang Jepang, pindah ke Tokyo sejak tahun 2003, usai tragedi Bom Bali. Di Tokyo, ia bekerja serabutan di berbagai tempat hingga kemudian memutuskan untuk membuka warung makanan.

Warung Bli Made terletak di lantai dua sebuah bangunan yang menyelip di salah satu sudut Aoyama. Memang warungnya bukan menempati ruangan yang luas dan fancy. Namun kehangatan personal dari Bli Made membuat warung itu menyenangkan.

Interior dan desain Bali sangat mencolok terlihat dari berbagai hiasan dan ukiran yang diletakkan di dalam warungnya.  Aneka makanan dan minuman ringan Indonesia juga disajikan di counter bar, bersama dengan deretan botol Brem dan Arak Bali.

Kapasitasnya yang terbatas, sekitar 20 orang, menjadikan para pelanggan sebaiknya melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum datang. Di hari-hari tertentu, khususnya akhir pekan, warung Bli Made penuh sesak oleh pengunjung.

Bli Made menjamin sendiri kelezatan rasa dan otentisitas masakannya. Untuk itu, ia memasak sendiri seluruh pesanan dari pelanggan. Warung itu memang hanya dikelola oleh dua orang, Bli Made sebagai juru masak, dan seorang pegawai yang bertugas menerima pesanan dan menyajikan makanan.

Untuk makanan pembuka, kami memesan lumpia goreng, urap, dan plecing kangkung. Bli Made sengaja menyetel kepedasan rasa makanan sesuai aslinya untuk para pengunjung asal Indonesia. Plecing kangkungnya asli dibuat pedas menggigit. Mantab membara di langit-langit mulut.

Usai hidangan pembuka, kami mencicipi satu sajian spesial di warung ini, yaitu Sate Rusa. Rasa daging rusanya sungguh lembut dan gurih. Dibalur bumbu kecap dan tingkat kematangan yang pas, tekstur daging rusanya terasa lezat. Menurut Bli Made, ia mendapatkan daging rusa dari daerah Hokkaido, bagian utara Jepang.

Sate Rusa di Warung Bli Made, Tokyo / photo Junanto

Ikan Bakar Jimbaran di Warung Bli Made, Tokyo / photo Junanto

Selain daging rusa, Warung Bli Made menyediakan aneka makanan Bali lain, seperti Ikan Bakar Bali, Mie Goreng, Sate Lilit, dan Nasi Campur Bali. Ikan Bakarnya sangat recommended. Bumbu bali pedas yang dibalur di atas ikan sangat terasa menyerap ke dalam bagian ikannya. Rasanya membawa kita pada suasana pantai di Jimbaran. Sangat memorable dan menyenangkan.

Sebagai hidangan penutup mulut, Bli Made memiliki hidangan khas berupa bubur Injin, atau bubur ketan hitam dengan es krim dan santan.

Menu andalan Warung Bli Made lainnya adalah Ayam atau Bebek Betutu. Namun untuk mencicipi makanan ini, kita harus memesan terlebih dahulu minimal sehari sebelumnya.

Dengan segala otensitas rasa Bali itu, Bli Made memiliki banyak pelanggan tetap orang Jepang. Kebanyakan mereka sudah pernah pergi ke Bali sehingga ingin mendapatkan kenangan tentang keindahan Pulau Dewata di tengah hiruk pikuk Tokyo.

Bli Made mengatakan bahwa warung ini dibangun dengan modal sendiri. Ia tidak mengandalkan dan mengharapkan dukungan atau bantuan dari pemerintah Indonesia. Berbeda dengan rekan-rekannya yang mengelola restoran Thailand, mereka umumnya banyak dibantu oleh pemerintahnya, baik untuk urusan kredit, keterjaminan pasokan impor bahan makanan, ataupun dukungan lainnya seperti bantuan pemasaran.

Bli Made menyadari bahwa urusan makanan Indonesia di luar negeri belum terlalu dianggap penting oleh banyak kalangan. Masih banyak yang menganggap restoran dan makanan sebagai urusan sepele dan personal.

Meski demikian, Bli Made tidak patah arang. Ia tetap memiliki semangat untuk memperkenalkan masakan Bali di luar negeri. Bli Made percaya bahwa usahanya ini adalah bagian dari tugas luhurnya sebagai manusia Indonesia yang cinta tanah air.

Salam dari Tokyo.

Salam dari Bli Made / photo Junanto

Lewat Dolanan Anak, Niken Tembus Jepang

Bersama Niken Larasati dan Lukisan Dolanan Anak-nya

Kapan terakhir kali kita melihat anak-anak di Indonesia bermain conglak, petak umpet, atau gobak sodor? Pertanyaan itu diajukan oleh Niken Larasati, pelukis dari Yogyakarta, kepada saya saat bertemu dengannya di Graha Budaya Indonesia, Shinjuku, Tokyo beberapa hari lalu.

Niken datang ke Tokyo dalam rangka pameran tunggal lukisannya yang bertema “Dolanan Bocah Tradisional Indonesia”. Pameran tersebut diadakan hingga 16 Juni 2012, didukung oleh Jakarta Shimbun serta  Graha Budaya Indonesia yang dimotori oleh Seiichi Okawa, jurnalis Jepang yang memiliki kepedulian terhadap budaya Indonesia.

Saya sempat tertegun dengan pertanyaan dari Niken soal dolanan anak tadi. Permainan tradisional anak-anak memang sudah nyaris punah. Tak pernah lagi saya melihat anak-anak main petak umpet dan congklak. Anak-anak saya sendiri  bahkan lebih banyak bermain dengan game elektronik, handphone, ataupun bergaul secara online dengan rekan-rekannya di berbagai belahan dunia.

Pertanyaan dan kegelisahan Niken tentu sangat valid. Permainan anak tradisional bukan sekedar permainan saja, tapi memiliki filosofi yang dalam dan penuh makna. “Lukisan saya menggambarkan bagaimana anak-anak dulu masih bermain dengan manusia dan alam, sementara anak-anak sekarang bermain dengan mesin”, demikian kata Niken.

Niken merasakan kegalauan yang luar biasa saat permainan tradisional semakin terpinggirkan dan nyaris hilang ditelan zaman. Hal inilah yang mendorongnya untuk mengangkat dolanan anak tradisional sebagai tema lukisannya.

Permainan tradisional memang memiliki banyak keunggulan dibanding permainan anak sekarang. Permainan tradisional melibatkan aktivitas fisik yang lebih banyak sehingga membangun kematangan fisik seorang anak. Berlari, melompat, melempar bola, adalah contoh aktivitas tersebut.

Bermain memang sebuah hal yang terpenting bagi anak-anak. Lewat bermain, seorang anak memperoleh banyak pelajaran dan kesempatan besar melihat berbagai hal dalam hidup. Lewat dolanan tradisional, anak-anak terlibat dalam interaksi sosial dan emosi dengan teman bermainnya. Di situlah terjadi pembelajaran tenggang rasa, tahu aturan, pengembangan kognitif, hingga kemampuan menerima perbedaan.

Anak-anak yang aktif bermain dengan kawan-kawannya biasanya lebih matang dalam menerima perbedaan. Namun anak yang dibesarkan dalam kesendirian, jarang bergaul, dan hanya bermain dengan mesin, kerap selalu merasa dirinya benar dan sulit menerima perbedaan. Padahal dalam kehidupan ini, kita dihadapkan pada banyak perbedaan.

Niken juga mengatakan bahwa pada permainan tradisional masa lalu, anak-anak bisa bermain tanpa melihat perbedaan, seperti ayahnya siapa, agamanya apa, sukunya apa. Kita bermain bersama dengan segala perbedaan, meski teman-teman kita berasal dari beragam suku bangsa dan agama.

Hal itu benar sekali. Saya ingat betul saat kecil dulu masih sering melakukan permainan seperti petak umpet dengan berbagai jenis kawan. Ada teman dari Manado, Sulawesi, Sumatera. Ada yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha. Semua bermain bersama tanpa prejudice.

Ada sekitar 22 permainan anak-anak yang ditampilkan dalam pameran lukisan Niken di Tokyo. Atmosfer tradisional dikesankan di lukisan Niken dengan nuansa kemben dan batik pada anak-anak yang sedang melakukan permainan. Batik yang dilukiskan juga perpaduan dari berbagai jenis batik. Hal itu untuk menggambarkan perbedaan-perbedaan.

Main Bakiak, Lukisan Niken Larasati / photo Junanto

Main Jamuran, Lukisan Niken Larasati / photo Junanto

Ciri khas lain dari lukisan Niken adalah pola titik-titik yang berbentuk lingkaran sebagai dasar dari lukisannnya. Menurutnya, itu adalah gambaran kehidupan yang terus berputar dari satu titik ke titik lainnya, dan kita tak bisa kembali lagi ke titik awal.

Niken Larasati hanya seorang ibu rumah tangga. Ia tinggal di rumah kecilnya yang terletak di tengah sawah. Ia juga bukan pelukis besar dengan modal kuat. Sebelum melukis, Niken bekerja di pabrik kulit sepeninggal mendiang ayahnya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan menempa terus kemampuan melukisnya.

Tak pernah terbayangkan oleh Niken akan mampu melakukan pameran tunggal di Tokyo. Melukis awalnya hanya sebuah hobi bagi Niken. Ia lalu memajang berbagai lukisannya di dinding facebook-nya. Suatu hari, Seiichi Okawa melihat lukisan-lukisan Niken di facebook.

Tertarik dengan keunikan lukisannya, Seiichi Okawa menghubungi Niken dan bahkan berkunjung ke Jogja untuk melihat secara langsung lukisan-lukisannya. Ia menawarkan Niken untuk melakukan pameran di Tokyo. Namun proses untuk sampai ke Tokyo bukanlah jalan yang mudah. Dukungan pemerintah sangat sulit didapat. Apalagi Niken hanyalah seorang pelukis dari desa.

Berkat keteguhan dan ketekunan hati, Niken berhasil mendapat dukungan dari Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Beberapa perusahaan kemudian ikut mendukungnya untuk pergi ke Jepang.

Di Jepang, Niken mendapat sambutan yang luar biasa. Animo masyarakat Jepang  pada lukisannya cukup tinggi. Puluhan media lokal meliput pamerannya dan Niken muncul di halaman media-media berbahasa Jepang.

Niken juga didapuk menjadi pembicara dalam diskusi di depan warga Jepang di Tokyo, yang bertema tentang “Menjadi Pelukis, Ibu, dan Istri”, pada tanggal 31 Maret 2012. Ia juga mengajarkan beberapa kosa kata bahasa Jawa pada orang Jepang.

Kegigihan dan ketekunan Niken ini perlu kita apresiasi. Di tengah munculnya komersialisasi pada karya seni, termasuk lukisan, Niken masih mampu tampil dengan membawa sebuah prinsip dan idealisme. Ia juga mempu menunjukkan bahwa karya seni Indonesia mampu tampil di manca negara tanpa harus bergantung banyak pada pemetintah.

Niatnya hanya satu. Ia ingin mewariskan sebuah nilai, yang berasal dari permainan tradisional khas Indonesia, pada generasi penerusnya, dan juga  memperkenalkan budaya Indonesia pada dunia. Sebuah cita-cita yang sederhana tapi mulia.

Salam dari Tokyo.

Bersama Niken dan Seiichi Okawa

Bertemu Hatsune Miku: Dia Seksi, Dia Menyanyi, Tapi Tak Nyata

Hatsune Miku di Tokyo International Anime Festival 2012 / photo Junanto

Pekan lalu saya berkenalan dengan idola Jepang yang sedang naik daun. Namanya “Hatsune Miku”. Dia cantik, seksi, bisa menari, bisa menyanyi, penampilannya juga menarik dengan rambut panjang dan rok pendek. Satu hal saja yang membedakan Miku dengan yang lainnya: Dia bukan manusia, alias tidak nyata.

Ya, Hatsune Miku adalah penyanyi virtual. Namanya sendiri kira-kira artinya “suara pertama dari masa depan”. Hatsune Miku adalah seorang vocaloid, atau program synthesizer bernyanyi yang dirancang dengan menggunakan tekhnologi komputer.

Vocaloid yang berasal dari kata “Vocal” dan “Android” yang mampu menggunakan teknologi komputer untuk menciptakan suara dengan input text. Teknologi ini mulai digunakan pada tahun 2004, dan figur Hatsune Miku lahir pada tahun 2007 dari perusahaan Yamaha.

Di Indonesia sendiri, figur Hatsune Miku memiliki banyak penggemar dan pernah tampil saat acara “Hellofest 8” serta “Toy and Comic Festival” tahun 2011 lalu. Sementara di Tokyo International Anime Festival 2012 pekan lalu (25/3), Hatsune Miku kembali merebut perhatian khalayak, khususnya kalangan anak muda di Jepang.

Fans Hatsune Miku telah tersebar di dunia global. Di internet, penggemarnya mencapai jutaan. Penampilan Hatsune Miku di YouTube sudah diunduh oleh lebih dari 2,4 juta di seluruh dunia. Bukan sebuah jumlah yang sedikit untuk penyanyi virtual yang tidak nyata.

Hal yang menarik, Hatsune Miku bukan hanya ada di internet, namun juga menggelar konser secara Live. Ia tampil di panggung dengan menggunakan teknik hologram sehingga gerak tubuh dan nyanyinya terlihat nyata.

Hatsune Miku juga telah menggelar konser di Los Angeles, Amerika Serikat. Arena konser, yang mampu menampung 6000 orang, dipenuhi para penggemarnya, yang pada umumnya adalah para “Otaku”. Otaku adalah salah satu fenomena pop culture Jepang, yang berarti orang yang memiliki kegemaran obsesif terhadap karakter anime, komik, ataupun video games.

Hatsune Miku / photo Junanto

Saya pernah mencoba untuk membeli tiket guna menyaksikan penampilan  Hatsune Miku di Tokyo Dome beberapa saat lalu. Namun ternyata tiketnya sudah habis terjual sejak tiga bulan sebelumnya. Para penggemar Hatsune Miku di Jepang memang jumlahnya mencapai puluhan ribu dan selalu mengejar ke mana Hatsune Miku menggelar konser.

Kepopuleran Hatsune Miki, baik di Jepang maupun dunia global, menarik perhatian banyak perusahaan. Tak kurang dari Google Inc dan Toyota Motor Corp menggunakan Hatsune Miku sebagai juru bicara pada produk mereka.

Seni vocaloid ini memang merupakan sebuah fenomena yang menarik.  Vocaloid menggunakan open source model sehingga setiap orang dapat menggunakan karakter tersebut tanpa kekhawatiran copywright. Ia  mampu berkembang karena setiap orang bisa menciptakan lagu untuk karakter yang ada. Para komposer, videographer, dan lebih dari 10.000 fans menciptakan lagu dan menampilkannya di internet. Sementara penggemar lainnya ada yang menambahkan gerak tarian, gambar, dan aneka posisi sehingga membuat Hatsune Miku semakin hidup.

Lagu-lagu Hatsune Miku bahkan menjadi top download di toko online iTunes milik perusahaan Apple. Hal tersebut menyumbang pada melambungnya Hatsune Miku. Bukan hanya itu, di karaoke-karaoke Jepang pun kini lagu-lagu Hatsune Miku mulai masuk dan dinyanyikan bersama oleh para penggemarnya. Lagu-lagu tersebut tersedia online dan gratis diunduh.

Ketenaran Hatsune Miku ini menjadikan perusahaan Crypton Future Media Plan berniat membuat versi Hatsune Miku berbahasa Inggris sehingga bisa lebih luas lagi daya jangkaunya. Dengan adanya karakter berbahasa Inggris, lagu-lagu Miku akan semakin banyak dan dikenal masyarakat.

Selain Hatsune Miku, beberapa vocaloid baru juga dilahirkan oleh pihak Yamaha. Pekan lalu saya berkenalan juga dengan tiga karakter baru yang akan menemani Hatsune Miku. Mereka adalah Lily, Megumi atau lebih akrab dipanggil dengan Gumi, dan Aiko Rapisu. Penampilan mereka mirip dengan Hatsune Miku, seksi, cantik, dan bisa menyanyi.

Bersama Gumi, Vocaloid Jepang

Budaya Pop Jepang (Japanese Pop Culture) memang sebuah fenomena yang menarik. Ia memiliki berbagai sisi yang menyimpan banyak cerita dan kisah seru. Kreatifitas para animator, videographer, dan penulis manga menjadi kunci bagi berkembangnya budaya pop ini.

Mungkin bagi banyak orang, pop culture Jepang ini terkesan aneh. Banyak “otaku” yang juga dicap sebagai nerd dan geek oleh masyarakat. Tapi fenomena Hatsune Miku bukan hal sepele. Nomura Research Institute memperkirakan bahwa pangsa pasar Hatsune Miku, termasuk barang dan jasanya, seperti lagu, games, karaoke, dan merchandise, memiliki nilai tak kurang dari 10 miliar Yen, atau sekitar satu triliun rupiah. Bukan nilai yang kecil bukan?

Dunia animasi, meski isinya adalah hiburan dan main-main, ternyata menyimpan sebuah potensi yang bukan main-main. Secara ekonomi bahkan ia memiliki kekuatan dan kelebihan. Semoga kita bisa memetik pelajaran. Salam dari Tokyo.

Festival Anime Tokyo, Dari Otaku Hingga Bisnis Miliaran Dolar

Penjaga Stand di Tokyo International Anime Festival 2012 / photo Junanto

Siapa yang tidak kenal dengan Dora Emon, Crayon Sinchan, atau Pokemon? Nama-nama itu populer di Indonesia dan di seluruh dunia melalui berbagai bentuk animasi, baik film ataupun komik manga.

Setelah otomotif, Jepang memang terkenal sebagai negeri yang mengekspor anime atau animasi ke seluruh dunia. Berbagai produk dan karakter Jepang menguasai sebagian besar pasar anime di dunia.

Animasi, yang juga menjadi salah satu kekuatan “soft power” Jepang, memang menjadi andalan ekonomi dan bagian terpenting dari ekspor negeri tersebut. Ekspor anime Jepang menyumbang pemasukan sekitar 2,5 miliar dolar AS setiap tahunnya.

Untuk mendukung industri animasi tersebut, Jepang setiap tahun menggelar festival akbar anime yang dinamakan “Tokyo International Anime Festival”. Setelah tahun lalu dibatalkan karena bencana gempa bumi, tahun ini festival anime Tokyo kembali digelar di Tokyo Big Sight, daerah Odaiba. Tokyo Anime Festival ini juga merupakan salah satu festival animasi terbesar di dunia.

Festival diikuti oleh berbagai perusahaan anime dunia dan menjadi ajang perdagangan anime antar negara terbesar yang diadakan di Jepang. Selama dua hari, 24-25 Maret 2012, festival ini  juga terbuka untuk umum, dan dipenuhi oleh para penggemar anime, manga, serta video games dari berbagai negara.

Kemarin siang (25/3), saya datang ke festival tersebut untuk melihat dan merasakan perkembangan animasi di Jepang. Saat saya tiba di lokasi pameran, saya terkagum-kagum dengan berbagai penampilan karya anime Jepang.

Banyak di antaranya begitu akrab dengan saya, termasuk membangkitkan memori masa kecil saya. Mulai dari Gundam, Totoro dari Studio Ghibli, hingga karya-karya terbaru seperti One Piece dari Toei Entertaintment.

Namun ada dua hal penting yang menarik dan saya catat dari festival tersebut. Pertama, fenomena pop culture Jepang selalu menarik dan memiliki banyak sisi. Salah satu sisi itu adalah munculnya para “otaku”, atau pecinta anime, manga, dan sejenisnya. Para otaku bukanlah sekedar penggemar anime, namun mereka sudah sampai ke tahap obsesif dengan berbagai terkait  anime, video games, ataupun karakter di komik manga. Saking terobsesinya, mereka mengoleksi berbagai merchandise anime, dan bahkan berpakaian seperti tokoh yang dicintainya.

Di festival anime kemarin, saya berjumpa dan melihat berbagai anak-anak muda otaku di Jepang. Dapat saya katakan bahwa festival ini juga adalah ajang kumpul-kumpul para otaku terbesar di Jepang.

Otaku tak bisa dilepaskan dari dunia anime. Mereka adalah fenomena yang erat di dunia ini. Di Jepang sendiri, para otaku kerap dicap orang aneh, geek, atau nerd. Mereka menyendiri dan hidup dalam dunia mereka sendiri, khususnya dunia anime.

Namun otaku tak selalu berkonotasi negatif.  Di berbagai negara otaku bahkan memiliki konotasi yang relative “cool”. Sampai satu sisi, kecintaan pada industri anime masih dapat dinilai positif, khususnya apabila dilihat di sisi industri kreatif. PM Jepang Taro Aso bahkan pernah mengatakan dirinya adalah seorang Otaku, untuk memberi semangat pada dunia anime.

Karakter anime / photo Junanto

Karakter anime Jepang / photo Junanto

Hal kedua yang menjadi catatan saya adalah bahwa dunia animasi, video games, film kartun, bukan sebuah hal sepele. Ini adalah bisnis miliaran dolar dan menyumbang besar pada industri kreatif negeri.

Jepang mengembangkan “soft power” bukan sebagai proses kebetulan, namun didukung penuh oleh pemerintahnya, melalui Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI). Pemerintah Jepang telah menetapkan untuk mendukung sepenuhnya perkembangan “Cool Japan”. Mereka menetapkan enam area, yaitu fashion, kuliner Jepang, media content, produk lokal, perumahan dan turisme, sebagai sektor yang didukung penuh melalui berbagai kebijakan.

Target Jepang adalah meningkatkan penjualan global dari produk-produk kultural ini, menjadi 10 triliun Yen (131 miliar dolar AS) pada tahun 2020, dari sekarang sebesar 2 triliun Yen.

Animasi sendiri memiliki pangsa pasar global yang sangat besar mencapai 25 miliar dolar AS saat ini. Jepang masih merupakan pemain utama di dunia anime. Namun, gempa bumi dan krisis ekonomi telah memukul cukup telak industri anime Jepang. Tumbuhnya perusahaan-perusahaan anime asing, seperti dari China, Korea Selatan, bahkan Thailand, memberi tekanan berat pada industri anime Jepang.

Di festival anime Tokyo kemarin, posisi Jepang juga terlihat tertekan oleh semakin maraknya booth atau counter perusahaan anime asing. Satu hal yang penting dicermati adalah meningkat pesatnya perusahaan anime China. Saat festival dua tahun lalu, China hanya membuka 10 booth perusahaan animasi. Namun kemarin, ada sekitar 48 booth perusahaan animasi China.

Untuk itu, Kementerian Budaya Jepang setiap tahun memberi subsidi sebesar 500.000 dolar AS untuk pengembangan pendidikan anime dan manga di Jepang. Hal ini agar anak-anak muda di Jepang mampu terus kreatif dan menyumbang pada dunia anime. Beberapa universitas di Jepang juga memiliki jurusan dan disiplin ilmu khusus Anime dan Manga.

Kita kerap menyepelekan hal-hal seperti anime, video game, komik, atau musik. Namun dunia telah membuktikan hal lain. Pemerintah di banyak negara telah memfokuskan kebijakannya dalam pengembangan “soft power”.

Di sisi lain, kita melihat bahwa anak-anak muda Indonesia memiliki potensi dan bakat besar di industri kreatif. Beberapa karya anak Indonesia bahkan mampu mengglobal dan mendunia. Sayangnya, banyak dari kita yang belum menganggap penting “soft power”.  Akhirnya industri kreatif berkembang secara parsial sendiri sendiri dan belum tumbuh secara by design seperti yang dilakukan di Jepang.

Semoga kita bisa lebih baik lagi ke depan. Dan kita juga berharap suatu saat nanti, karya-karya animasi anak bangsa semakin mampu berkiprah secara global dan menyumbang pada kemajuan negeri.

Salam dari Tokyo.

Mencicipi Menu Vegetarian di Tokyo

Suasana Resto Dapur Petani / photo Junanto

Meski makanan Jepang terkenal dengan cirinya yang sehat dan lezat, menu khusus sayuran tidaklah terlalu populer.  Ciri khas yang paling menonjol dari makanan Jepang justru banyak mengandalkan ikan, seperti sushi dan sashimi. Selain ikan, menu daging-dagingan, seperti yakiniku, syabu-syabu, ataupun sukiyaki lebih populer dibandingkan sayuran.

Namun bukan berarti kalau menu vegetarian tidak dikenal dalam gagrak kuliner Jepang.  Shojin Ryori misalnya, adalah menu makanan vegetarian dari para pendeta zen budhisme sejak berabad lampau di Jepang.  Saat ini, jenis makanan vegetarian juga semakin meningkat popularitasnya seiring dengan tingginya kesadaran warga Jepang akan kesehatan dan makanan berserat.

Para wanita muda Jepang umumnya memilih sayur-sayuran sebagai makanan utama mereka. Selain karena pertimbangan kesehatan, makan sayuran juga kini menjadi gaya hidup wanita muda di Jepang. Akibatnya, restoran yang mengandalkan sayuran sebagai menu utamanya semakin banyak dan mudah didapatkan di Tokyo.

Ada beberapa restoran vegetarian atau menu makanan sayuran yang jadi favorit saya di Tokyo. Salah satunya terletak di dekat stasiun Yurakucho. Nama restaurannya Yasai no Ohsama. Restoran ini khusus menyajikan sayur mayur yang lezat dan organik. Salah satu menu jagoannya adalah Syabu-Syabu sayuran. Rasanya sangat lezat dan menyenangkan.

Selain syabu-syabu sayuran, saya juga suka mencicipi Ramen Sayur. Warung Ramen “Kagetsu Arashi” secara khusus mengeluarkan edisi ramen sayuran, atau Vege Ramen, guna menyambut musim semi setiap tahunnya. Setiap musim semi, saya menyempatkan waktu untuk mencicipi Ramen Sayuran dari warung arashi. Menu ini dipromosikan oleh empat wanita Jepang yang cantik dan mewakili berbagai kalangan, seperti selebritis, penggemar ramen, dan wanita muda Jepang.

Beberapa waktu lalu, saya diajak kawan saya, Leila-chan dan Yumi-chan, untuk mencicipi satu restoran “sayuran” lagi. Nama restorannya “Nouka no Daidokoro” atau kalau diterjemahkan berarti “Dapur-nya Petani”. Restoran ini terletak di daerah Ebisu, tak jauh dari stasiun kereta api Ebisu.

Karena namanya adalah Dapur Petani, interior restoran dibuat seperti nuansa dapur dan pertanian. Saat memasuki restoran itu, kami langsung disambut oleh suasana dapur yang dipenuhi oleh aneka sayuran segar dan ditata secara rapi.

Suasana di depan Warung / photo Junanto

Pilihan Sayuran Segar / photo Junanto

Satu hal yang saya suka dari sayuran di Jepang adalah kualitas dan kesegarannya. Selama tinggal di Jepang, saya belum pernah menemukan sayuran yang layu atau “langu” dijual di supermarket.

Dari aneka menu sayuran yang tersaji di restoran ini,  menu utama yang disajikan tidak melulu seratus persen sayuran. Kalau kita menginginkan daging ayam atau ikan, restoran ini menyediakan kombinasinya. Mereka memberikan rasio 4:3:3 atau 6:2:2 untuk sayuran, ikan dan ayam. Sementara untuk 100% sayuran, pilihannya adalah steak sayuran yang terdiri dari kentang, terong, wortel, dan kol ditaburi dengan aneka saus.

Satu hal yang paling saya suka di restoran ini adalah konsep “all you can eat” vegetable bar-nya. Berbeda dengan salad bar di banyak restaurant yang hanya menyediakan sedikit pilihan sayuran untuk salad, di vegetable bar ini pilihan sayuran cukup banyak. Sayur-sayur itu disusun secara cantik, dan diletakkan di atas taburan es batu.

Satu jenis sayuran yang paling saya suka di bar sayuran ini adalah saltwater leaves. Ini sejenis tanaman liar yang di sekujurnya menempel kristal garam yang lembut. Rasa sayurnya “crunchy” dan sedikit gurih. Enak sekali. Untuk memakan sayuran ini, disediakan aneka saus yang lezat, seperti miso saus, ataupun saus minyak zaitun dicampur garam. Sayuran yang segar dicelupkan dalam saus, hmmm lezat rasanya.

Vegetable bar / photo Junanto

Sayuran segar dan lezat / photo Junanto

Hal lain yang juga penting adalah bahwa sayuran-sayuran di restoran ini dirawat dan dipetik oleh orang-orang atau petani yang memiliki passion dalam memberikan kualitas sayuran terbaik. Menurut keterangan petugas restoran, mereka mendapatkan sayuran itu dari lahan pertanian yang dimiliki sendiri.

Mereka juga menjalin kerjasama dengan para petani di berbagai wilayah, sebagaimana terlihat dari foto-foto petani yang dipajang di dinding restoran. Restoran ini juga menjamin bahwa sayuran yang disajikan berjenis organik, bebas pestisida, dan yang terpenting dijamin bebas radiasi nuklir.

Menarik kan? Nah, kalau mampir ke Tokyo, jangan hanya mencicipi sushi, sashimi, atau daging. Tapi cobalah sesekali mencicipi aneka sayuran lezat dan crispy dari Jepang.

Salam sayuran.

Aneka Ramen (no pork) di Tokyo

Chicken Ramen Shinagawa / photo Junanto

Saat pertama kali tiba di Tokyo, saya diperingati seorang kawan untuk berhati-hati dalam memilih makanan. Hal itu karena hampir semua makanan di Jepang kerap mengandung babi. Sebagai seorang muslim, tentu saya dilarang untuk makan babi.

Salah satu makanan yang menurut kawan saya tadi harus dihindari adalah Ramen, atau mie kuah yang disajikan dengan aneka topping. Ramen di Jepang sejarahnya berasal dari Cina, sehingga kerap disebut juga dengan istilah “shina soba”, shina berarti Cina.

Mie untuk ramen dibuat dari terigu, persis seperti mie kuning untuk mie ayam pangsit di Indonesia. Meski kelihatannya lezat, apa yang dikatakan teman saya tadi benar adanya. Ramen di Jepang selalu disajikan dengan menggunakan kaldu babi, terutama di kuahnya. Ramen jenis itu populer di Jepang, dinamakan dengan istilah “tonkotsu” ramen. Meski kita memesan ramen sayuran, atau ramen ayam, kuahnya tetap menggunakan babi. Daripada risiko, mendingan saya tidak usah makan toh.

Tapi, setelah melakukan penelitian dan penelusuran ke banyak warung ramen, termasuk mencari rekomendasi kawan-kawan, ternyata tak semua ramen mengandung babi. Meski jarang, ada juga ramen di Tokyo yang bebas dari babi.

Salah satunya adalah warung ramen ayam yang terletak di dekat stasiun Shinagawa. Kalau kita tidak termasuk yang “strict” dan bisa makan daging ayam, ramen di Shinagawa ini sangat recommended. Warungnya kecil dan terletak di Ramen Street, tepat di depan hotel Shinagawa Prince.

Mencicipi Ramen di Tokyo

Ramen yang disajikan menggunakan kaldu ayam, dan topping irisan daging ayam. Saya biasanya menambahkan telur matang di atasnya. Rasanya khas dan berbeda dengan mie ayam di Indonesia. Kuahnya asin dan terasa kaldunya. Kuah ramen asin ini dinamakan dengan shio ramen.

Kalau tidak bisa makan ayam, saya punya satu rekomendasi lagi, yaitu ramen seafood. Informasi ramen ini saya dapatkan dari Haji Fithra, mantan ketua PPI Jepang. Karena yang merekomendasi haji, jadi saya yakin akan ketidakterlibatan babi di dalam pembuatan ramen ini.

Warung ramen seafood ini lokasinya di daerah Shinjuku. Tak jauh dari pintu keluar tenggara (South East Exit). Nama warungnya “Kaijin” atau berarti juga Dewa Laut. Warungnya sempit dan terletak di lantai dua sebuah bangunan. Kalau kita datang pada saat makan siang, dipastikan penuh dan harus mengantri panjang. Kapasitas warungnya hanya dapat memuat sekitar 15 orang.

Menurut saya, ramen seafood di Kaijin ini sangat lezat. Ada dua jenis rasa yang ditawarkan, rasa gurih dan rasa pedas. Untuk yang pedas, kita bisa memilih beberapa level kepedasan. Mulai dari pedas satu, dua, hingga empat.

Saat semangkuk besar ramen tiba, harum aroma seafood langsung terasa. Mie-nya juga lembut dan teksturnya menyenangkan. Kita bisa memesan bakso udang di dalam ramen tersebut.

Satu hal menarik dari ramen di Kaijin ini adalah disajikannya onigiri bakar, yang dapat dimakan bersama ramen. Onigiri adalah nasi kepal Jepang yang umumnya dijual di supermarket. Biasanya berisi aneka jenis ikan atau sayuran. Tapi onigiri di Kaijin ini plain tanpa isi dan dibakar hingga permukaannya sedikit hangus. Jadi mirip jadah bakar kalau di Jawa. Di atasnya, diolesi sambal pedas. Mak nyuss toh.

Cara makannya, setelah mie habis disantap, onigiri dimasukkan ke dalam kuah ramen. Diaduk bersama kuah dan nasi onigir dimakan seperti kita memakan sup. Rasanya sungguh luar biasa. Lezat dan must try deeeeh. Saya jamin tidak bakal menyesal mencicipi ramen sea food ini.

Satu lagi ramen yang saya rekomendasikan kalau mampir ke Tokyo, yaitu Ramen Sayuran atau Veggie Ramen. Tapi ramen ini hanya disajikan pada awal musim semi. Biasanya dari bulan Maret hingga Mei. Orang Jepang menyebut makanan yang keluar pada saat-saat tertentu dengan sebutan“kinan gentei”, atau makanan musiman.

Ramen special ini dikeluarkan oleh warung Ramen Kagetsu Arashi. Nama ramennya adalah “Vegie Ramen Nana”. Warubg ini menjamin ramen bebas daging, sebagaimana tagline-nya “No Pork, No Chicken, No Fish”.

Dan benar saja, saat saya memesan Vegie Ramen ini, yang datang adalah semangkuk besar ramen penuh dengan sayuran. Mie-nya sendiri berwarna hijau tua karena dibuat dengan campuran sayur. Toppingnya juga semua sayuran, mulai dari jamur, lobak, daun bawang, tomat cherry, daun ketumbar (cilantro) dan aneka sayuran lainnya. Rasanya sangat gurih dan khas terasa sayurnya.

Selain ramen sayuran, warung ini juga menyediakan gyoza atau pangsit berisi sayuran. Umumnya gyoza di Jepang berisi daging babi cincang. Tapi untuk musim promosi ini, mereka membuat khusus dari sayuran. Saya tentu tak menyia-nyiakan kesempatan dengan memesan satu porsi gyoza. Hmmmm, rasanya sungguh kaya, gurih, lezat, mantab dengan aneka sayuran.

Sebagai pecinta sayuran, Veggie Ramen Nana ini sungguh sangat mendegut ludah dan mengenang di atap mulut. Rasanya tak terlupakan dan wajib dicoba kalau suka dengan sayuran. Selain lezat, Ramen sayuran ini juga jauh lebih sehat dibandingkan dengan jenis ramen lainnya.

Jadi, kalau mampir ke Tokyo, jangan ragu lagi memilih ramen. Selamat mencicipi aneka ramen di Tokyo. Salam Ramen.

Berikut aneka ramen dan gyoza yang saya cicipi di Tokyo:

Ramen Seafood "Kaijin" dan Onigiri Bakar oles Sambel / photo Junanto

 

Ramen Sayuran "Veggie Ramen Nana" / photo Junanto

vegetable gyoza / photo Junanto

Seki-san, pemusik Jepang yang cinta Indonesia

Penampilan Seki-san di Tokyo / photo Junanto

Kemarin (19/3) saya diundang oleh Masaki-san, orang Jepang pemilik restoran Indonesia di Tokyo, untuk datang ke restorannya. Ia mengatakan bahwa malam itu akan ada acara “candle light dinner” yang juga menampilkan pertunjukan Seki Show, yang digawangi oleh Seki-san, seorang pemusik Jepang, instruktur musik, dan pengarang lagu yang mencintai Indonesia.

Di Jepang, Seki Show terkenal di kalangan penggemar musik etnik, karena aliran musiknya yang kerap menggabungkan unsur etnik dari berbagai daerah. Seki Show sering mengadakan pertunjukan keliling Jepang untuk menampilkan kepiawaiannya dalam memainkan berbagai instrumen tersebut.

Karena penasaran ingin melihat penampilan Seki Show, semalam saya datang ke Restoran Cabe milik Masaki-san. Saat tiba, saya melihat restoran telah penuh sesak oleh pengunjung. Beberapa orang yang datang bahkan rela berdiri di dalam restoran. Hal yang menarik adalah, hampir 99 persen yang hadir malam itu adalah orang Jepang. Hanya beberapa, termasuk saya, yang orang Indonesia.

Penampilan Seki Show malam itu luar biasa. Meski grup ini beranggotakan orang Jepang, aliran musiknya adalah kolaborasi. Mereka menggabungkan permainan gitar dengan alat-alat musik etnis Indonesia ataupun berbagai negara lainnya. Malam itu, gitar dipadu-padankan dengan permainan rindik, atau alat musik tradisional Bali. Suasana restoran Cabe malam itu, sungguh terasa bagai di persawahan Ubud, Bali.

Seki Show memang kerap bolak balik tampil di Jepang dan Indonesia. Mereka tampil dengan menggandeng seniman-seniman Bali. Seki Show pernah mempersembahkan seni kolaborasi yang memukau saat Pesta Kesenian Bali tahun 2010 lalu. Saat itu, Seki Show menggarap pertunjukan kolaborasi dengan Yayasan Seni Suar Agung pimpinan I Ketut “Pekak Jegog” Suwentra.

Sebagian besar warga Jepang yang hadir di restoran Cabe tadi malam, rata-rata pernah berkunjung ke Bali. Oleh karenanya, pertunjukan Seki Show membawa kenangan mereka akan romantisme Bali. Seki Show membawakan lagu-lagu andalan seperti “Burung” dan “Kokiriko Bushi”.

Penampilan menawan malam itu juga adalah dari bintang tamu, Michiko Nakamura. Michiko, yang juga seorang aktris Jepang, membawakan puisi tentang keindahan Bali. Sambil diiringi denting gitar, Michiko menceritakan indahnya Bali dengan segala budaya dan kesamaan unsur dengan budaya Jepang.

Michiko-san membawakan puisi Bali / photo Junanto

Para pengunjung seolah terbawa dalam kenangan indahnya masing-masing. Saya sempat berbincang dengan Yoko Kobayashi, yang hampir setiap tahun pergi ke Bali. Mendengarkan musik dari Seki Show, menurut Yoko, membawa pikirannya kembali ke pulau Bali.

Sementara itu, Yoka-san, warga Jepang yang tinggal di Sendagaya, mengatakan bahwa ia sangat mencintai Indonesia. Musik Seki Show seolah mengingatkannya pada masa-masa ia berkunjung ke Indonesia.

Acara malam itu memang bernuansa Indonesia. Masaki-san menyajikan set menu aneka makanan Indonesia yang terdiri dari ayam rujak, rendang, sate ayam, mie goreng, dan martabak. Semua disajikan dengan tatanan yang cantik dalam satu piring besar. Sambil mencicipi makanan, para pengunjung dibuai dengan suasana Bali dari Seki Show.

Dalam pertunjukan, Seki Show juga kerap mengucapkan kata-kata Indonesia seperti, “selamat malam”, “terima kasih”, “makanannya enak?”. Para pengunjung yang orang Jepang membalas dengan bahasa Indonesia yang baik.

Saat waktu istirahat, saya sempat berbincang dengan Seki-san yang ternyata menguasai bahasa Indonesia dengan sangat baik. Ia bercerita bahwa ia baru saja kembali dari Jambi. Di sana, ia melakukan studi observasi mengenai seni musik tradisional Jambi. Seki-san melakukan wawancara dan merekam berbagai alat musik tradisional Melayu Jambi, yang menurutnya sangat unik dibanding alat musik tradisional Melayu lainnya.

Seki-san mengatakan bahwa alat musik tradisional Jambi sangat layak tampil di Jepang karena kekhasannya. Ia sudah mencoba kolintang perunggu dan kayu, serdam, gendang melayu, dan cangor. Menurutnya, alat-alat musik tersebut sangat mungkin untuk dilakukan kolaborasi dengan alat musik lainnya karena ada kesamaan nada. Seki-san berencana memboyong pertunjukan seni musik Jambi ke Jepang, dan menampilkannya pada masyarakat Jepang.

Selain Jambi, Seki-san juga menjelajahi Aceh, Lhokseumawe, dan Takengon untuk melihat keindahan alam dan mempelajari budaya setempat.

Semangat Masaki-san, Seki-san, dan banyak orang Jepang di restoran Cabe tadi malam cukup membanggakan sekaligus mengharukan. Mereka tampil dengan semangat tinggi menunjukkan kecintaan pada Indonesia, tanpa meminta dukungan pemerintah ataupun masyarakat Indonesia yang ada di Jepang.

Mereka menyajikan makanan dan memainkan musik, semata-mata karena kecintaan pada Indonesia. Para pengunjung yang hadir juga ingin membangun kenangan pada keindahan dan keramahan orang Indonesia. Hal itu membuat pertunjukan malam tadi berlangsung dengan penuh kehangatan dan keakraban.

Salam dari Tokyo.

Bersama Seki-san

Bersama Michiko-san

 

St. Patrick’s Day 2012 di Tokyo

Parade St Patrick's Day di Tokyo / photo Junanto

Kemarin siang (18/3) saya kebetulan sedang berjalan-jalan di daerah Omotesando, Tokyo. Saat itu, saya menyaksikan parade perayaan St. Patricks di jalanan Omotesando. Aneka kostum, marching band, dan kalangan masyarakat memenuhi jalanan dan membuat suasana meriah. Konon kabarnya, ini adalah perayaan St. Patrick terbesar di Asia.

Jepang memang terkenal dengan kemampuannya mengadaptasi berbagai kultur dan religi. Berbagai budaya, kebiasaan, maupun ritual agama negara lain umumnya dapat dilakukan di Jepang, tanpa harus khawatir diganggu oleh orang Jepang.

Salah satu yang menarik dari akulturasi budaya dan agama di Jepang itu adalah dirayakannya parade St. Patrick Day. Sejarah perayaan St Patricks berasal dari Irladia.  Perayaan St Patrick merupakan perayaan untuk memperingati kematian Santo pelindung Irlandia, yang meninggal pada 17 Maret 461.

Untuk menghormati sang pelindung, 17 Maret ditetapkan sebagai hari suci dan hari libur nasional Irlandia. Warga Irlandia di berbagai belahan dunia merayakan St Patricks dengan berbagai cara. Ada yang sekedar berkumpul di bar, kafe, atau restoran, ada pula yang menyelenggarakan parade, seperti yang dilakukan di Tokyo.

Parade St Patricks di Tokyo digagas oleh Irish Network Japan (INJ), sebuah lembaga pertukaran budaya antara Jepang dan Irlandia. Hubungan kedua negara memang memiliki sejarah panjang. Konon pada tahun 1700-an, orang asing yang pertama mendarat di Jepang, adalah orang Irlandia.

Eratnya hubungan kedua negara ini membuat banyak warga Irlandia yang tinggal dan menetap di Tokyo. Sejak pukul dua siang, jalanan di Omotesando, Harajuku, penuh dengan warga Jepang dan asing yang ingin menyaksikan parade St. Patrick.

Perayaan St Patricks di Tokyo tahun ini sekaligus menandai perayaan yang ke-20 dilakukan di Jepang. Sebenarnya perayaan ke-20 tersebut jatuh pada tahun 2011 lalu. Namun, parade yang sedianya dilaksanakan pada 17 Maret 2011 tahun lalu, dibatalkan karena Jepang saat itu sedang dilanda bencana gempa dan tsunami.

Jalanan di Omotesando pada hari itu ditutup untuk kendaraan, dan hanya digunakan untuk parade. Aneka kostum, marching band, cheerleader, dan berbagai Pub Irlandia (Irish Pub) meramaikan acara. Pihak panitia menyebutkan sekitar 2000 orang ikut berpartisipasi dalam parade, dan sekitar 7000 orang menyaksikan di pinggir-pinggir jalan.

Beberapa atraksi yang berpartisipasi antara lain Tokyo Pipe Band,  U.S. Army Band, Nihon University Brass Band, Senshu University Brass Band, Tokyo Girls cheerleading, Irish Dance, dana banyak Irish Pubs, seperti Hobgoblin Roppongi, Dubliner Tokyo, dan Hard Rock Café Roppongi.

Marching Band / photo Junanto

Tokyo Cheerleaders / photo Junanto

Seperti perayaan pada umumnya, perayaan St Patrick juga identik dengan beberapa simbol. Salah satu simbol yang digunakan dan dipercaya oleh masyarakat Irlandia adalah warna hijau dan daun semanggi.  Lambang ini digunakan di berbagai atribut perayaan St Patrick Day.

Daun semanggi atau yang disebut shamrock merupakan simbol penting bagi perayaan St Patrick. Konon, St Patrick menggunakan shamrock yang memiliki tiga lembar daun untuk menjelaskan konsep tritunggal, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Karena itu, perayaan St Patrick selalu dihiasi dengan simbol shamrock dan warna hijau seperti shamrock.

Warna hijau memang identik dengan Irlandia karena bendera mereka juga memiliki unsur warna hijau. Selain itu, Irlandia juga merupakan negara yang sangat subur sehingga dijuluki green country. Oleh karenanya, jalanan di Omotesando, Tokyo, sore hari kemarin berubah menjadi hijau.

Satu hal lagi yang menjadi simbol perayaan St Patricks Day, meskipun bukan bagian dari ritual sebelumnya, adalah penampilan Bir Guinness Irlandia. Ini adalah bir kebanggaan masyarakat Irlandia dan telah lama dijadikan minuman tradisi di perayaan St Patricks. Di hari biasa, bir ini dikonsumsi sebanyak 2,6 juta liter di seluruh dunia. Namun pada perayaan St Patrick, konsumsinya melonjak mencapai 6,2 juta liter per hari.

Demikian dilaporkan dari perayaan St Patricks di Omotesando, Tokyo.

Melihat Lelang Ikan Tuna di Tsukiji

Deretan Tuna yang akan dilelang di Tsukiji / photo Junanto

Satu hal yang “must see” atau wajib dilihat kalau mampir ke Tokyo adalah mengunjungi pasar ikan Tsukiji. Ini adalah pasar yang terletak di pusat kota Tokyo dan merupakan pasar grosir ikan dan sea food terbesar di dunia.

Hal yang paling menarik dari berkunjung ke pasar Tsukiji adalah melihat lelang ikan tuna. Kita dapat menyaksikan ikan tuna yang besarnya melebihi tubuh orang dewasa dan harganya mencapai jutaan Yen, atau miliaran Rupiah.

Melihat sejarahnya, pasar ikan di Tokyo ini telah berdiri sejak jaman Edo (sekitar tahun 1800-an). Saat itu Tokugawa Ieyasu mendirikan pasar ikan dengan mengundang para nelayan dari penjuru Jepang. Ikan yang dibeli digunakan untuk keperluan makan para shogun. Lokasinya saat itu di sekitar jembatan Nihonbashi, tak jauh dari lokasi sekarang.

Sejak Gempa Bumi besar di Tokyo tahun 1923, pasar ikan Tokyo dipindahkan ke lokasi saat ini. Konstruksinya selesai pada tahun 1935, dan mulai beroperasi di tahun yang sama.

Saat ini, pasar ikan Tsukiji menangani lebih dari 700 ribu metrik ton seafood dalam setahun, dengan nilai 600 miliar Yen atau sekitar 6 milliar dolar AS.

Sejak pertama kali tiba di Tokyo, saya selalu berkeinginan untuk melihat lelang ikan tuna. Namun beberapa kali lokasi pelelangan ikan tuna tersebut ditutup oleh pemerintah setempat karena perilaku turis yang kerap mengganggu berjalannya lelang ikan, dengan memotret menggunakan cahaya, serta memegang ikan tuna yang dilelang. Padahal aksi itu dilarang oleh penyelenggara lelang.

Saat terjadi bencana gempa Tohoku pada 11 Maret 2011 lalu, lelang ikan tuna sempat berhenti dan beberapa bulan tertutup untuk umum.

Baru pekan lalu (Maret 2012), saya berkesempatan melihat lelang ikan tuna tersebut. Saya pergi bersama pak Julius, yang kebetulan adalah juga anggota komite pembangunan pasar ikan di Jogjakarta, dan juga rekan Nandar yang tinggal di Tokyo. Pak Julius bercerita banyak tentang lelang ikan tuna yang juga dilakukan di Jogjakarta. Dengan melihat lelang tuna di Tsukiji, ia berharap hal itu bisa menjadi masukan bagi pengembangan pasar ikan di Jogja.

Bersama Pak Julius di Lelang Ikan

Ikan Tuna yang Besar / photo Junanto

Untuk bisa melihat lelang ikan, kita harus berangkat pagi-pagi sekali, atau tiba di lokasi sekitar pukul 04.15 pagi. Lelang ikan tuna dimulai dalam dua gelombang, pukul 05.30 dan pukul 06.30. Namun pengunjung yang dapat melihat lelang hanya dibatasi sebanyak 120 orang dalam sehari, dengan sistem “first come, first service”, atau siapa yang datang pertama yang diperkenankan masuk.

Oleh karena itu kita harus datang lebih pagi. Harap diingat kalau peminat lelang ikan ini banyak sekali. Jadi kalau kita datang agak siang sedikit saja, dapat dipastikan akan ditolak masuk area pelelangan.

Saat kami tiba, sekitar pukul 4.00 pagi, antrian pengunjung sudah memanjang. Tapi untunglah kami masih bisa masuk ke area lelang.

Memasuki wilayah lelang, suasana pasar ikan sangat terasa. Kesibukan dan kegaduhan para nelayan dan pedagang terlihat di setiap penjuru. Namun yang membuat saya kagum adalah keteraturan dan kebersihan di Tsukiji.

Di tempat pelelangan yang berbentuk hangar, ratusan tuna digeletakkan di lantai dalam keadaan beku. Besarnya sungguh luar biasa. Pak Julius, yang biasa melihat lelang tuna di Jogja saja sampai kaget. Biasanya tuna di Jogja sebesar lengan orang dewasa, tapi di Tsukiji malah sebesar orang dewasa, bahkan banyak yang lebih besar lagi.

Ikan tuna sirip biru (Bluefin tuna) menjadi andalan dan paling digemari di Jepang. Di awal januari 2012 lalu, satu ikan tuna bluefin  seberat 269 kilogram dilelang dengan harga 56 juta Yen, atau sekitar 5 milyar rupiah. Luar biasa kan untuk harga seekor ikan.

Sebelum lelang dilakukan, para calon pembeli (umumnya professional tuna), melakukan pengetesan pada masing-masing ikan tuna. Mereka mengamati bagian buntut ikan tuna. Kabarnya bagian buntut tuna menunjukkan kesegaran dari dagingnya secara keseluruhan.

Lelang dimulai dengan membunyikan lonceng. Pelelangan ikan berlangsung ramai dan gaduh. Penjual ikan berteriak dengan keras dan cepat menawarkan ikan-ikan tuna yang ada.

Menguji kesegaran tuna dari buntutnya / photo Junanto

Usai mengikuti lelang ikan tuna, kita dapat berkeliling pasar ikan tsukiji untuk sarapan. Para penggemar sushi umumnya langsung mencicipi kesegaran sushi yang dijual di kios-kios yang banyak tersebar. Kalau tidak suka sushi, kita juga bisa berbelanja aneka makanan laut untuk dimakan di hotel atau rumah.

Kunjungan ke Tsukiji Tokyo menunjukkan betapa Jepang mampu mengelola secara serius pasar ikannya. Bukan hanya memberi keuntungan secara ekonomi, namun pasar ikan dapat dijadikan lokasi yang menarik perhatian para turis. Kebersihan dan keteraturan juga menjadi ciri dari pasar ikan Tsukiji. Saya tidak mencium sama sekali bau amis ikan, maupun becek lumpur, yang biasanya menjadi ciri di pasar ikan negeri kita.

Indonesia yang juga adalah negara maritim terbesar di dunia, memiliki banyak pasar ikan yang tersebar di berbagai daerah. Kiranya kita dapat belajar dari kemampuan Jepang mengelola pasar ikan Tsukiji. Mungkin ratusan studi banding telah kita lakukan ke berbagai negara, mungkin pula ratusan paper sudah disusun. Kita tinggal menunggu implementasinya.

Kapan ya, pasar ikan di negeri kita bisa dibuat semenarik ini?

Salam dari Tokyo.

Bunuh Diri di Jepang

Gerakan GKB47 untuk Cegah Bunuh diri di Jepang / Cabinet Office Japan

Di balik gemerlap dan kemajuan ekonominya, Jepang menyimpan beberapa kisah pilu. Salah satunya adalah tingginya angka bunuh diri. Jepang memang  tercatat sebagai salah satu negara yang memiliki angka bunuh diri tertinggi di dunia. Dalam setahun, sekitar 33.000 orang Jepang melakukan bunuh diri.

Membicarakan perkara bunuh diri dengan orang Jepang juga tidak mudah. Saya sering kesulitan untuk mencari kisah-kisah bunuh diri orang Jepang. Kebanyakan mereka tidak nyaman bila saya mulai bertanya soal bunuh diri.

Bukan hanya dalam pembicaraan, bahkan pengumuman di kereta api juga kerap menggunakan kalimat eufemisme saat terjadi peristiwa bunuh diri (kerap terjadi kasus penumpang yang meloncat ke rel kereta). Pengumuman di kereta biasanya menggunakan kalimat seperti “personal injury”, “customer fall” atau “human accident”, ketimbang menggunakan kata “rekishi” (kematian di kereta) atau bahkan “suicide”.

….. kisah lengkap cerita ini bisa dibaca juga di buku “Shocking Japan: Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan”

Rel Kereta Terbuka, Rawan Kecelakaan / photo Junanto

Rel Kereta diberi pembatas, Cegah Kecelakaan / photo Junanto