Mencintai Wisata Sejarah Surabaya

Gedung BI eks De Javasche Bank, Surabaya

Gedung BI eks De Javasche Bank, Surabaya

Seorang teman Jepang, yang bekerja sebagai tour guide, sering membawa rombongan turis Indonesia yang berkunjung ke Tokyo. Ia pernah mengatakan pada saya bahwa membawa turis asal Indonesia itu paling mudah.

“Loh, mudah gimana maksudnya?” tanya saya.

Katanya, “Turis Indonesia itu tidak suka kalau diceritakan soal sejarah atau kisah masa lalu di sebuah lokasi. Mereka biasanya sudah tidak sabar untuk minta diantar  ke tempat shopping atau makan”.

Apa yang dikatakan teman saya itu ada benarnya. Masih banyak turis Indonesia yang memiliki karakter seperti itu. Pergi ke luar negeri atau tempat wisata domestik hanya untuk shopping dan makan-makan.  Kalaupun pergi ke tempat bersejarah, hanya untuk foto-foto lalu upload di media sosial. Bukan karena tertarik untuk belajar atau mengetahui sejarah sebuah tempat.

Tapi sore tadi (14/5), saya dan beberapa kawan di Surabaya, melihat hal yang berbeda. Saya diundang oleh Pemerintah Kota Surabaya dan Dinas Pariwisata Kota Surabaya pada acara “Surabaya Tourism Award 2013” di sebuah mall di kota Surabaya. Panitia acara memilih 15 lokasi turisme sebagai nominasi, dari lebih 40 lokasi, yang akan menerima penghargaan tempat wisata paling menarik di Surabaya.

Saya diminta untuk sharing cerita mengenai kontribusi institusi di Surabaya terhadap konservasi gedung bersejarah dan peranan wisata sejarah atau “heritage”.

Kalau turis asing, memang tak perlu diragukan lagi. Umumnya mereka memiliki kepedulian yang tinggi pada wisata sejarah. Namun hal yang menarik belakangan ini adalah  semakin banyaknya turis domestik yang mulai memiliki kepedulian dan ketertarikan pada wisata sejarah tersebut.

Saya bertemu dengan Mbak Rani, manager dari museum House of Sampoerna Surabaya, yang sore itu juga datang. Ia mengonfirmasi bahwa jumlah turis domestik yang berkunjung ke museumnya jumlahnya terus meningkat. Meningkatnya kalangan menengah, dan juga pendidikan, menjadi salah satu faktor di balik hal tersebut.

Presentasi  Gedung BI eks De Javasche Bank Surabaya sebagai nominasi Surabaya Tourism Award / photo taken with Samsung NX300

Presentasi Gedung BI eks De Javasche Bank Surabaya sebagai nominasi Surabaya Tourism Award / photo taken with Samsung NX300

photo taken with Samsung NX300

photo taken with Samsung NX300

 

Selain House of Sampoerna, Gedung Eks De Javasche Bank, yang terletak di jalan Garuda No.1, Surabaya, adalah salah satu gedung yang terpilih sebagai nominasi tempat wisata favorit di Surabaya. Gedung tersebut dimiliki oleh Bank Indonesia, dan baru selesai dikonservasi tahun 2012 lalu, setelah lama tidak digunakan. Gedung itu kini menjadi museum dan ruang pamer. Masyarakat juga dapat meminjam gedung tersebut untuk berbagai kegiatan seni, budaya, dan pendidikan.

Tak banyak mungkin yang mengetahui lokasi bangunan eks De Javasche Bank tersebut. Padahal, sejarah lembaga keuangan di Nusantara telah berlangsung lama.

Setelah De Javasche Bank didirikan di Batavia tahun 1828, satu tahun kemudian didirikannya Cabang De Javasche Bank Surabaya. Pada era liberalisasi ekonomi akhir abad 18 itu, peranan De Javasche Bank sangat strategis, selain menyediakan jasa keuangan, juga melakukan kliring antar bank.

Bentuk bangunan Gedung De Javasche Bank itu juga unik, karena mengambil gaya arsitektur neo renaissance atau ekletisme, yang memadukan unsur Yunani Kuno, Eropa Klasik, Gothic, dan memasukkan elemen-elemen Indonesia, seperti pahatan Jepara di beberapa elemen gedungnya.

Meski masih baru direnovasi, Gedung BI eks De Javasche Bank itu mendapat perhatian besar dari masyarakat kota Surabaya.

Mbak Rani, dari House of Sampoerna, kemudian mempresentasikan mengenai museumnya. Menurut saya, House of Sampoerna adalah tempat yang juga wajib kunjung kalau ke Surabaya. Rumah bersejarah milik keluarga Sampoerna itu kini dibuka sebagai museum, yang menyediakan koleksi seni, sejarah industri rokok, termasuk cerita tentang Marching Band Sampoerna yang pernah terkenal.

Satu hal lain yang menarik dari House of Sampoerna adalah bahwa mereka menyediakan “Heritage Tour”, atau wisata obyek bersejarah di Surabaya dengan menggunakan bis wisata.

Saat acara berlangsung, saya melihat antusiasme yang tinggi dari beberapa anak muda yang hadir. Sebagian di antaranya, dari Universitas Ciputra, bahkan berniat untuk melakukan kegiatan di gedung-gedung bersejarah kota Surabaya.

Mencintai gedung bersejarah, bukan semata melihat bangunan tua. Bagi saya, di balik berbagai keindahan gedung itu, tersimpan banyak cerita, kisah, dan pelajaran.  Melihatnya, kita diajak untuk melampaui ruang dan waktu.

Dalam novelnya yang berjudul “Crabwalk”, Gunter Grass pernah menulis, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berjalan seperti kepiting. Ia mundur, tapi sebenarnya maju ke depan. Yang dimaksud adalah, kita perlu terus menengok sejarah atau masa lalu, dan menggunakannya untuk maju terus ke depan.

Persis seperti yang dikatakan Presiden Soekarno dulu. Jas Merah. Jangan Sekali-kali Kita Melupakan Sejarah.

Salam

Bersama mbak Rani (paling kanan), museum manager House of Sampoerna / photo taken with Samsung NX300

Bersama mbak Rani (paling kanan), museum manager House of Sampoerna / photo taken with Samsung NX300

Mahasiswa  Universitas Ciputra juga  mengisi acara Surabaya Tourism Award 2013 di Grand City, Surabaya / photo taken with Samsung NX300

Mahasiswa Universitas Ciputra juga mengisi acara Surabaya Tourism Award 2013 di Grand City, Surabaya / photo taken with Samsung NX300

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 6 = 10

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>