Levitation at Semoet Station

I always love train since I was a little boy. Any kind of train. Therefore, when Ipung, my friend, asked me to join him for a sunday morning walk around Old Surabaya Train Station a.k.a Semoet Station, I didn’t think twice to say Yes. Beside listening to Ipung’s explanation about history of the station, I also took my time to do some levitation shots.

I love train, I love to levitate. So, these are my train levitation photos. Please enjoy, and thank you for stopping by.

Catch The Train Levitation. Look at the man's expression ! .. taken with Samsung NX300

Catch The Train Levitation. Look at the man’s expression ! .. taken with Samsung NX300

Catch the Train Part II / photo taken by Andriani with Samsung NX300

Catch the Train Part II / photo taken by Andriani with Samsung NX300

 

Railway Levitation

Railway Levitation

Along the rail road

Along the rail road

Seinhuiss, Signal House Levitation

Seinhuiss, Signal House Levitation

 

 

 

Hikayat di Stasiun Semoet dan Sekitarnya

di depan rumah sinyal stasiun semut bersama kawan-kawan

di depan rumah sinyal stasiun semut bersama kawan-kawan

Jiwa sebuah kota bukan terlihat dari apa yang nampak, tapi kadang dari apa yang tersembunyi. Oleh karena itu, saat mas Ipung, penulis buku Surabaya Punya Cerita, mengajak saya untuk jalan pagi di sekitaran Stasiun Semut, saya menyambutnya dengan senang hati. Selain bisa mendengar langsung berbagai cerita dari “penguasa” kisah-kisah tempo doeloe Surabaya, jalan pagi bersama komunitas akan menambah kawan.

Saya datang agak terlambat dan bertemu di depan Stasiun Semut. Mas Ipung mengenalkan saya pada pak Supratman dan mbak Lucia, mas Ragil, mbak Tia, mbak Silvana, dan ada juga Mas Dimas dari AISIEC. So, lengkaplah sudah kita. Perjalanan diawali dengan berhenti di Rumah Sinyal Stasiun Semut. Ya, Stasiun Semut adalah stasiun tertua di Surabaya dan merupakan satu dari 10 stasiun kereta api tertua di Indonesia. Diresmikan pada tahun 1878. Kini, stasiun Semut sedangd alam proses renovasi untuk menjadi museum (semoga bisa menjadi kenyataan segera).

Sebaliknya, Rumah Sinyal Stasiun Semut masih beroperasi penuh sebagai pemberi isyarat sebelum kereta masuk ke Stasiun Surabaya Kota (pengalihan dari Stasiun Semut). Banyak kisah tentang rumah sinyal di stasiun semut, mulai dari kisah perjuangan hingga kisah mistik. Berbagai kisah itu yang membuat rumah sinyal selalu menjadi perhatian masyarakat kota Surabaya. Kalau minggu pagi, banyak orang berkumpul di sekitar stasiun sekedar untuk melihat kereta datang dan pergi.

Dari Stasiun Semut kita menyusuri Kampung Pengampon. Nah ini dia gambaran kampung Surabaya tempo doeloe. Ciri khasnya, di depan gang masuk ada pos penjagaan yang letaknya di atas gapura. Ini dulu konon untuk penjaga keamanan kampung. Saat menyusuri gang gang kecil ini kita bisa merasakan suasana kampung di Surabaya. Di balik bangunan mewah dan gedung tinggi, ternyata Surabaya masih memiliki banyak kampung. Tapi uniknya, kondisi kampung di Surabaya ini relatif lebih bersih dan tertata. Banyak tanaman di pot yang dijejer rapi.

plang nama di kampung pengampon, masih menggunakan ejaan belanda, kalimeer.

plang nama di kampung pengampon, masih menggunakan ejaan belanda, kalimeer.

Kita lanjut ke daerah Jagalan dan mampir di Klenteng Jagalan. Di sana kami ditemui oleh Pak Adi, salah seorang pengurus klenteng. Dia bercerita kalau hari itu sedang persiapan upacara “fengzhen”, atau upacara melepas jiwa ke alam. Biasanya, orang Tionghoa membeli burung lalu melepasnya di alam, bisa di pantai atau di rumah. Tradisi itu umum dilakukan setelah Hari Imlek sebagai simbol melepaskan nafsu jahat atau negatif dari diri kita. Dengan lepasnya jiwa burung-burung itu ke alam, kita juga melepas nafsu negatif dari diri.

Pak Adi juga mengajak diskusi tentang berbagai tradisi Tionghoa, sebelum dan setelah Imlek. Tradisi-tradisi itu ternyata memiliki makna filosofi yang tinggi, yang berujung sebenarnya pada kebersyukuran pada Yang Maha Kuasa atas segala karunianya, dan juga ajakan untuk berbuat baik pada sesama, melakukan kebajikan, dan mengurangi berbuat buruk. Sungguh indah. Ya, agama apapun sebenarnya memiliki pesan moral yang sama, mengajarkan kita untuk bersyukur dan berbuat kebajikan. Tidak ada agama yang mengajarkan kita untuk berbuat kerusakan atau menyakiti sesama, meski berbeda keyakinan sekalipun.

Well, perjalanan pagi itu sungguh memberi pelajaran bagi kita semua. Selain bertambah kawan, memperpanjang silaturahmi, kita jadi bisa belajar sepatah hikayat Surabaya tempo doeloe, melihat jiwa kota di balik apa yang tampak, dan pada ujungnya mendapat pencerahan moral dan spiritual.

Mari kita terus cintai budaya, dan saling berbuat kebajikan. Salam kebajikan.

di klenteng jagalan

di klenteng jagalan

Dari Jejak Nazi Jerman hingga Catatan Pramoedya

Bersama Pak Wie di depan Perpustakaan Medayu Agung

Bersama Pak Wie di depan Perpustakaan Medayu Agung

Kemarin saya bertemu dengan Pak Oei Hiem Hwie, yang akrab dipanggil pak Wie. Usianya 76 tahun. Kami bertemu di perpustakaan Medayu Agung, daerah Rungkut, Surabaya, yang didirikannya sejak tahun 2001. Perpustakaan itu memiliki koleksi buku-buku kuno yang sangat langka.  Sebagai pecinta sejarah dan kisah masa lalu, saat memasuki ruang perpustakaan tersebut, saya merasa berada dalam “hidden paradise” atau tempat tersembunyi yang sangat berharga. Sungguh, priceless!

Pak Wie bercerita banyak soal masa lalu dari koleksi buku ataupun koran yang dimilikinya. Perhatian pertama saya tertambat pada buku berbahasa Jerman yang memuat tentang foto-foto tentara Nazi. Menurut pak  Wie, di awal tahun 1940-an, dunia dikuasai oleh dua kekuatan, Jerman dan Jepang. Saat itu, Jerman ingin menguasai Eropa, dan Jepang ingin menguasai Asia. Di antara mereka terjalin kerjasama dan saling bertukar informasi serta kekuatan.  Tak heran, banyak tentara Nazi yang saat itu berada di Indonesia. Ditemukannya bangkai kapal selam Nazi tipe U-Boat Karimun Jawa pada tahun 2013 lalu, semakin menambah bukti adanya peran tentara Nazi di Indonesia.

Persinggungan dengan Nazi itu juga dapat dilihat dari koleksi koran-koran Jerman yang masih tersimpan rapi di Perpustakaan Medayu. Ada satu koran tertanggal 3 Agustus 1936 yang memuat berita saat Adolf Hitler, The Fuehrer, sedang membuka Olimpiade di Jerman. Berita di koran itu seperti menunjukkan sedang bangkitnya kekuatan Jerman di Eropa.

Hal yang lebih menarik adalah saat pak Wie menunjukkan koleksi buku “Mein Kampf” edisi asli dan bertanda tangan Adolf Hitler. Buku ini sudah sangat langka dan hanya ada beberapa eksemplar di dunia karena sebagian besar dimusnahkan saat Jerman kalah perang. Buku yang masih berbahasa Jerman tersebut tersimpan rapi bersama buku-buku literatur klasik lainnya, seperti Kapital karya Marx, Materialisme dan Empirokritisime karya Lenin, History of Java karya Raffles, dan cetakan asli buku-buku filsafat , mulai dari Immanuel Kant, Hegel, hingga Plato.

Buku Mein Kampf edisi langka

Buku Mein Kampf edisi langka

Koran terbitan Jerman tahun 1936

Koran terbitan Jerman tahun 1936

Bukan hanya literature Eropa, Pak Wi juga punya buku-buku terbitan pertengahan tahun 1800-an, komik Sam Kok terbitan tahun 1910, koleksi buku Oud Batavia, Oud Surabaia, Oud Malang, buku sejarah Raja Madura dalam Bahasa Perancis, kliping koran Star Weekly, majalah Sin Po edisi tahun 1926, majalah Tempo tahun 1971, dan masih banyak lagi.

Dengan koleksi yang begitu luar biasa, kita bisa menghabiskan waktu berhari-hari kalau ingin mereguk keseluruhan informasi dan pengetahuan yang ada.

Namun selain koleksi buku itu, yang lebih menyentuh perasaan adalah kisah hidup Pak Wie, yang ternyata penuh dengan pengalaman miris. Pak Wie ternyata adalah mantan tahanan politik di era Orde Baru. Sebelum tahun 1965, ia bekerja sebagai wartawan di Harian Trompet Masjarakat, yang saat itu dianggap pro Sukarno. Ia bahkan kerap bertemu dan pernah mewawancarai Sukarno saat itu.

Saat pecah tragedi 1965, pak Wie dikejar dan diciduk oleh aparat karena dianggap pro Sukarno. Ia diinterogasi dan disangka anggota PKI. Tapi ia tak pernah terbukti sama sekali sebagai anggota PKI, melainkan hanya dianggap pro-Sukarno dan aktivis organisasi massa Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Nah, keanggotaannya dalam Baperki dijadikan dalih untuk menahannya.

Tanpa pengadilan, Pak Wie ditahan di Batu selama 3 bulan, lalu pindah ke penjara Lowokwaru Malang, lalu pindah ke Kalisosok Surabaya selama 5 tahun. Dari Kalisosok, ia dipindahkan ke Pulau Buru selama 8 tahun. Total ia menghabiskan waktu selama 13 tahun di penjara.

Di Pulau Buru itulah ia berteman dekat dengan Pramoedya Ananta Toer. Bahkan Pak Wie menjadi salah satu sahabat dekat yang membantu pak Pram dalam menulis. Saat itu pak Pram belum diperbolehkan memakai mesin tik. Pak Wi yang mencarikan kertas dari merobek-robek kertas sak semen. Tulisan tangan Pram di sak semen itu, menjadi karya besarnya yang berjudul “Bumi Manusia”.

Di Perpustakaan Medayu Agung kita bisa melihat coretan asli Pramoedya di kertas semen, dan juga surat menyurat antara Pak Pram dan Pak Wie di penjara. Ada juga edisi asli “Buku Manusia” yang bertanda tangan Pramoedya. Sungguh sebuah koleksi yang luar biasa.

Catatan dan Tulisan Tangan Pramoedya di Pulau Buru

Catatan dan Tulisan Tangan Pramoedya di Pulau Buru

Pak Wie bersyukur bahwa seluruh koleksi bukunya tidak disita dan dimusnahkan aparat saat itu. Ia dan keluarganya menyembunyikan beberapa koleksi buku kuno di atap rumahnya di Malang. Sebagian besar koleksi sudah dibakar dan disita, tapi yang disembunyikan di atap itulah yang masih bisa kita lihat saat ini di perpustakaan Medayu Agung.

Ratusan koleksi itu baru berani ia turunkan pada tahun 1999, setelah Orde Baru jatuh. Sekitar tahun 2000, ada orang Australia yang mendengar bahwa Pak Wi memiliki koleksi buku langka. Orang itu datang menemui pak Wie dan menawarkan uang sejumlah 1 milyar rupiah untuk membawa seluruh koleksi buku tua yang dimiliki pak Wie tersebut. Siapa tak tergiur uang, apalagi dalam kondisi membutuhkan saat itu.

Tapi pak Wie menolak. Ia berpikir, kalau buku itu dibawa ke Australia, nanti akan digunakan sebagai cara untuk menjelek-jelekkan Indonesia. Ia tidak rela kalau Indonesia dijelek-jelekkan di dunia internasional.

Wah, luar biasa pak Wie. Ia, selama 13 tahun disiksa dan ditahan di penjara tanpa diadili. Lalu sekeluar dari penjara, ia juga diberi status Eks Tapol yang hampir hilang hak warganegaranya, tak bisa bekerja di mana-mana. Tapi saat ditawarkan uang besar, dengan risiko nama Indonesia dijelekkan di luar negeri, ia tak mau menerima. Kata pak Wie, ia masih cinta Indonesia. Ia juga tak menyimpan dendam pada rezim yang memenjarakannya dulu. Anggap saja dulu saya disekolahne, begitu katanya.

Buku-buku kuno dan langka milik pak Wie, tidak akan dijualnya. Buku-buku itu akan digunakan sebagai bahan pembelajaran generasi muda Indonesia.  Untuk itulah, dengan dukungan berbagai donator, Perpustakaan Medayu Agung itu didirikan. Jadi, kalau sempat mampir Surabaya, datang deh ke sini. Belajar dari sejarah negeri kita, yang dulu pernah penuh gejolak dan saling benci. Ke depan, kita harus lebih baik. Bersama membangun bangsa, bukan saling membenci. Ini kenapa dulu Presiden Sukarno berpesan, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Karena tanpa belajar dari sejarah, bangsa ini tidak akan maju.

Salam semangat.

Pak Wie menjelaskan koleksi Perpustakaan Medayu Agung

Pak Wie menjelaskan koleksi Perpustakaan Medayu Agung

Di Balik Kekurangan, Tersimpan Kelebihan

Bersama Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, dan anak-anak tunagrahita di depan karya mereka.

Bersama Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, dan anak-anak tunagrahita di depan karya mereka.

Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan. Itulah keadilan Tuhan pada umatnya. Tadi malam (13/12), saya menghadiri pameran lukisan karya anak-anak yang memiliki hambatan mental (tuna grahita) dan penyandang masalah kesejahteraan sosial, di Balai Pemuda, Surabaya.

Acara dibuka oleh Tri Rismaharini, Walikota Surabaya, dan dihadiri oleh puluhan anak-anak penyandang tuna grahita.  Suasana pameran, yang biasanya terkesan formal, malam itu sungguh bernuansa kekeluargaan. Saat anak-anak melihat Ibu Risma, panggilan akrab wallikota Surabaya, mereka berebut memeluknya sambil berteriak, “Ibu Risma, Ibu Risma, minta donat… aku minta kue”. Bu Risma merangkul dan memeluk mereka secara bergantian.

Keakraban itu terjalin karena anak-anak tuna grahita dan anak jalanan yang malam itu menggelar pameran lukisan adalah binaan Pemerintah Kota Surabaya. Sebagian besar dari mereka ditemukan oleh Satpol PP Kota Surabaya di jalanan lampu merah, atau stasiun-stasiun bis dan kereta. Beberapa dari mereka lahir tidak dikehendaki oleh orang tuanya sehingga dibuang di jalan karena enggan menanggung malu.

Ibu Risma dan Pemkot Surabaya lalu merawat mereka, mengambil mereka dari jalanan, menyediakan pondok sosial Kalijudan, lalu membina kehidupannya. Awalnya, kata Ibu Risma dalam sambutan malam itu, anak-anak itu sangat nakal dan susah diatur. Mereka lalu diberi bimbingan oleh para pengasuh, psikolog, dokter, maupun seniman yang peduli.

Setelah beberapa tahun dibina, lihatlah kondisi mereka sekarang.

Di balik kekurangannya, mereka ternyata punya kelebihan yang luar biasa.  Mereka mampu menghasilkan karya-karya lukis yang sungguh ekspresif dan natural, tak kalah dari anak-anak lain seusianya. Saat melihat karya lukis anak-anak itu, nampak ekspresi kanvas yang menggambarkan sebuah pengalaman atau kerinduan pada berbagai hal.

Neneng misalnya, melukis figur perempuan misterius, yang mencerminkan kerinduan pada sosok Ibu yang tak pernah diketahui bentuk rupanya. Neneng ditemukan oleh Satpol PP saat sedang mengamen di perempatan jalan Dupak pada tahun 2008. Setelah dilatih dan dibina, ia mulai dapat mengekspresikan perasaannya, kerinduan pada wajah Ibu, pada kanvas lukis.

Ada lagi yang menggambar impian, cita-cita, keinginan jadi dokter, tentara, bahkan pengalaman masa lalu mengamen di jalan raya dan stasiun kereta. Ada seorang anak bernama Omay, yang sangat ekspresif dan lincah berlari dan menari ke sana ke mari. Omay ditemukan juga sedang mengamen di jalanan pada tahun 2010. Karya dari Muslimah, yang oleh kawan-kawannya dipanggil So’imah juga mengesankan. Ia mampu mengekspresikan perasaannya pada kanvas secara detil. Pengalaman rasa, pemandangan, suasana hati, tergambar jelas dari lukisan So’imah.

Ibu Risma, Walikota Surabaya, bersama Imah, pelukis tuna grahita di depan karya lukis / photo junanto

Ibu Risma, Walikota Surabaya, bersama Imah, pelukis tuna grahita di depan karya lukis bergambar jembatan Suramadu / photo junanto

Problema anak jalanan, atau anak yang memiliki keterbelakangan mental, adalah masalah yang sering dihadapi kota besar. Di Surabaya, mereka bersyukur karena dapat dibina oleh pemerintah kota, diangkat harkat dan martabatnya, agar kehidupannya lebih baik dibanding masa lalunya.

Cobalah tengok jalan-jalan dan lampu merah di kota Surabaya. Saya tidak pernah menemukan pengamen, pengemis, ataupun anak-anak yang mengelap kaca mobil. Mereka telah dibina untuk mengembangkan kreativitas berseni rupa agar bisa mengungkap isi hati dan bakatnya. Untuk itu, psikolog, dokter, dan beberapa seniman seperti Mas Agus Koecink dari Art Surabaya, memberi pendampingan secara sabar dan tekun pada anak-anak jalanan itu.

Pameran lukisan yang bertema “Believe” menjadi sebuah pembuktian bahwa tidak ada anak yang tak punya kelebihan. Bahkan mereka yang memiliki keterbelakangan mental sekalipun, memiliki kelebihan. Hal yang terpenting, menurut walikota Surabaya, adalah kita harus percaya, bukannya malah menyisihkan atau mencampakkan anak-anak itu di jalanan.

Menurut Bu Risma, sudah ada beberapa pengusaha yang ingin memborong lebih dari seratus lukisan anak-anak itu. Padahal jumlah lukisan yang ditampilkan belum banyak. Anak-anak Panti Asuhan itu tentu tidak bisa dipaksa untuk melukis karena mereka bukan melukis untuk uang. Mereka melukis karena ingin melukis. Ada sih yang lucu, menurut Ibu Risma. Seorang anak yang baru mau melukis kalau “disogok” terlebih dahulu dengan nasi bebek.

Nah, kalau anda di Surabaya, silakan kunjungi pameran lukisan anak-anak tuna grahita ini. Pameran berlangsung di Balai Pemuda Surabaya, dari tanggal 13 hingga 16 Desember 2013.

Datanglah, dan kalau ada rezeki, koleksilah lukisan anak-anak yang hebat ini.

Bedah Buku Malam: Surabaya Punya Cerita

Mas Ipung (no 2 dari kiri), penulis buku Surabaya Punya Cerita, saat launching buku, bersama Kiki Aishwarya, Duta Museum Jatim 2012, dan Prof. Matsui dari Jepang.

Mas Ipung (no 2 dari kiri), penulis buku Surabaya Punya Cerita, saat launching buku, bersama Kiki Aishwarya, Duta Museum Jatim 2012, dan Prof. Matsui dari Jepang.

Tak banyak anak muda yang mau dan mampu menuliskan kisah tentang kotanya secara menarik dan konsisten. Akibatnya, modernitas memakan waktu dan akhirnya pelajaran dari masa lampau raib tergilas zaman. Kitapun menjadi bangsa yang buta sejarah. Hal itulah yang menjadi kegalauan dari Dhahana Adi, yang akrab juga dipanggil Ipunk, saat peluncuran buku karyanya, berjudul “Surabaya Punya Cerita”, tadi malam (2/11) di pelataran gedung Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya.

Kegalauan itulah yang membuat Ipunk mencatat berbagai cerita tentang kota Surabaya, lalu memuatnya dalam blog “Surabaya Punya Cerita” (SPC). Berbagai tanggapan positifpun diterimanya dari berbagai kalangan di Surabaya. Ipung kemudian mengumpulkan berbagai cerita dari blog SPC, dan atas dukungan kawan-kawannya, kumpulan cerita itu diterbitkan dalam bentuk buku melalui nulisbuku.com.

Bagi pecinta kisah-kisah sejarah tentang sebuah kota, membaca buku SPC ini sangat mengasyikkan. Saya sendiri, yang baru tinggal di Surabaya sangat merasakan, tak banyak buku yang menulis tentang kota ini. Kalaupun ada, hanya buku travel yang memuat informasi standar mengenai wisata di Surabaya, ke mana harus pergi, di mana lokasinya, makanan khas, standar seperti itu. Itupun jumlahnya tak banyak.

Satu buku menarik yang dapat dibaca tentang perjalanan kota Surabaya adalah “Hikayat Surabaya” dan “Monggo Diphun Badhog” karya Dukut Imam Widodo. Berbagai kisah sejarah tempo dulu dapat dibaca secara menarik di buku itu. Namun perspektif dari anak muda tentang Surabaya, tidak banyak. Oleh karenanya, kehadiran buku SPC ini mampu mengobati kerinduan khalayak muda, dan pembaca yang ingin mengetahui kisah-kisah di balik perjalanan kota Surabaya.

Menariknya, Ipung menulis buku ini bukan seperti buku sejarah, yang isinya hanyalah “jaartalen” atau deretan tanggal-tanggal kejadian. Tapi ia mengangkat sisi-sisi humanis, yang unik, tidak terbaca, dan dituturkan sebagai “petite histoire”, atau sejarah kecil, yang mampu membuat kita ternganga, kadang baru tersadar akan  kebenaran ceritanya yang bisa jadi berbeda dengan yang kita tahu selama ini.

Kisah soal maestro jazz Bubi Chen misalnya. Bubi Chen adalah pemusik Jazz Indonesia berkelas dunia yang berasal dari Surabaya. Hingga kini, meski sudah meninggal, Bubi Chen tetap menjadi legenda musik jazz. Ipung menceritakan perjalanan Bubi Chen di Surabaya. Tapi di ujungnya, artikel ini seakan mengingatkan bahwa Surabaya adalah juga kota yang melahirkan banyak seniman kelas dunia. Bukan hanya Bubi Chen, Ipung juga menulis tentang Srimulat dan pemusik Gombloh, yang berawal dan bangkit dari Surabaya. Lalu, bagaimana regenerasi seniman dilakukan di Surabaya? Ini adalah sentilan yang cukup tajam dari artikel-artikel di buku SPC.

Selain musik, buku SPC juga menulis berbagai “petite histoire” menarik.  Bagaimana sejarah awal berdirinya Bandara Udara Djuanda Surabaya? Bahwa ternyata Djuanda bukanlah orang asli atau pahlawan asal Surabaya. Lalu kenapa namanya diabadikan jadi nama bandara? .. Kemudian ada sejarah Pasar Turi, Jembatan Merah, dan kisah pahlawan Surabaya. Dalam konteks kekinian, buku SPC memuat aneka dialog dan diskusi dengan pelaku sejarah, hingga wirausaha Surabaya saat ini yang sukses.

Cover buku Surabaya Punya Cerita

Cover buku Surabaya Punya Cerita

Buku SPC ini semakin dibaca, semakin menimbulkan rasa ingin tahu.  Dalam pembukaan diskusi, penulis Sastra Jawa senior, Suparto Brata, yang usianya kini 81 tahun, mengatakan bahwa tulisan di buku SPC ini bercerita tentang Surabaya. Namun tentu tidak berhenti di sana, buku ini juga bercerita untuk Indonesia.

Akhayari Hananto, pengelola Good News From Indonesia, semalam juga mengatakan bahwa buku ini adalah sebuah berita baik bagi generasi muda Indonesia. Andai banyak anak muda di Indonesia yang punya motivasi, semangat, dan optimisme besar, lalu menuliskan buah pikirnya dalam bentuk buku, masa depan Indonesia akan semakin cerah.

Saya sendiri yakin, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang produktif dan bangsa yang rajin menulis. Pemikiran dan perbuatan, yang diimbangi dengan tulisan-tulisan, akan menjadi pelajaran bagi generasi-generasi penerus. Begitulah peradaban diturunkan dari masa ke masa.

Memberikan sedikit pengantar, sebelum diskusi buku dimulai.

Memberikan sedikit pengantar, sebelum diskusi buku dimulai.

Cinta Indonesia a la Wieteke van Dort

Bersama Tante Lien atau Wieteke van Dort di villa Kaliandra, Pasuruan.

Bersama Tante Lien atau Wieteke van Dort di villa Kaliandra, Pasuruan.

Siapa tak kenal lagu “Geef Mij Maar Nasi Goreng”? Lagu yang populer di Belanda dan Indonesia tersebut dinyanyikan oleh Wieteke van Dort. Ia adalah orang Belanda yang lahir pada tahun 1943 di Surabaya. Wieteke meninggalkan Indonesia ke Belanda, saat berusia 14 tahun. Kini, ia tinggal di Den Hag. Usianya 70 tahun.

Saya sendiri adalah penggemar Wieteke van Dort. Lagu-lagunya sangat unik karena menggambarkan kecintaan orang Belanda pada kehidupan di Indonesia. Kalau melihat lirik-lirik lagunya, selain berisi kecintaan, juga kerinduan pada kehidupan di Indonesia. Namun informasi mengenai Wieteke sangat minim di internet. Ia memang memiliki website, tapi sayangnya semua dalam bahasa Belanda, sehingga tak banyak yang bisa memahaminya.

Saat seorang kawan mengajak saya untuk menemui Wieteke van Dort beberapa hari lalu, saya langsung menyambut gembira. Mbak Maya, penggagas komunitas Plesiran Pecinan Surabaya, menghubungi saya dan memberitahu kalau Wieteke van Dort sedang berlibur di Jawa Timur. Dan yang menarik lagi, ia bersedia menerima kita untuk ngobrol-ngobrol.

Kamipun menuju villa Kaliandra, milik Yayasan Kaliandra Sejati, yang terletak di Desa Ledug, kaki Gunung Arjuna, Pasuruan. Di sana, Wieteke sedang menjalani liburan bersama suaminya, Theo Moody, dan dua orang kawannya, Reen dan Iest. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam, dari Surabaya ke villa Kaliandra.

Setiba di Kaliandra, kami diterima dengan hangat oleh tante Wieteke, suami, dan kawan-kawannya. Di usianya yang sudah 70 tahun, tante Wieteke masih tampil prima dan energik. Ekspresinya juga hangat dan penuh semangat. Dari semula ngobrol-ngobrol di beranda luar, ia malah  mengajak kita untuk sarapan pagi bersama di beranda dalam villa yang sangat indah itu. Suasana villa Kaliandra memang sungguh nyaman dan cocok untuk mereka yang ingin berlibur jauh dari keramaian kota. Theo Moody menyebut tempat itu sebagai “paradise”.

Sarapan bersama Tante Wieteke, suami, dan kawan-kawannya

Sarapan bersama Tante Wieteke, suami, dan kawan-kawannya

Indonesia is Paradise, kata Theo Moody, suami Tante Lien

Indonesia is Paradise, kata Theo Moody, suami Tante Lien

Rupanya ini adalah kali kedua mereka berlibur di sana.  Ya, meski tinggal di Belanda, kecintaan tante Wieteke pada Indonesia tidak pernah luntur. Setiap tahun, ia dan suaminya selalu berlibur ke Indonesia. Bisa dua hingga tiga kali dalam setahun. Ia selalu mampir Surabaya, sebagai kota masa kecilnya. Di Surabaya, Wieteke masih memiliki sahabat masa kecil yang kini sudah sama-sama berusia 70 tahun. Namanya Poplin dan Rosie. Mereka kadang bertemu, melakukan reuni, dan mengenang masa kecil mereka di Surabaya.

Bagaimana Surabaya sekarang menurut tante Wieteke? Sejak dulu, Surabaya sudah ramai, dan sekarang semakin ramai. Tapi ia kagum dengan kondisi Surabaya kini yang lebih tertata rapi. Ia bercerita tentang masa kecilnya di Surabaya. Keluarga Wieteke tinggal di Jalan Supratman No. 70. Rumah itu masih ada hingga kini namun sudah dimiliki orang lain. Ia kerap berhenti di depan rumahnya dulu untuk mengenang masa-masa kecilnya. Wieteke juga masih ingat kondisi di jalan Embong Sawo, Darmo, hingga pabrik karet milik ayah tirinya di Ngagel Jaya.

Sambil menerawang jauh, ia teringat peristiwa di tahun 1957. Saat itu, Presiden Sukarno menasionalisasi asset-aset milik asing yang ada di Indonesia. Dan otomatis, keluarga van Dort kehilangan seluruh hartanya. Mereka juga harus meninggalkan Indonesia, bersama dengan sekitar 300 ribu orang Belanda lainnya. Kembali ke Belanda pada masa itu bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka harus beradaptasi kembali dengan cuaca yang dingin, makanan yang “tidak enak”, hingga penerimaan yang kurang baik dari warga Belanda.

Wieteke muda kemudian menempuh pendidikan di Akademi Seni dan Drama. Dari situlah, ia kemudian berkecimpung di dunia seni dan pertunjukan. Di Belanda, Wieteke van Dort  lalu dikenal sebagai artis, komedian, penyanyi, dan pembawa acara di berbagai media, baik televisi maupun panggung-panggung.

Program televisinya, The Late Late Lien Show, mendapat penggemar yang banyak, umumnya para orang-orang tua di Belanda yang memiliki kenangan pada Indonesia. Di program itu, Wieteke menjadi host dengan berperan sebagai Tante Lien. Acara Lien Show mengangkat berbagai topik, dan sebagian besarnya adalah kenangan pada Indonesia, atau berbagai hal yang berkaitan dengan pengalaman di masa “Indische”.

Ia bercerita, kalau dalam penampilannya menyebutkan kata-kata Indonesia, seperti “bangkrut”, “makan”, atau kata lainnya, banyak yang ikut-ikutan mengulang kalimat itu sambil mengingat-ingat artinya. Mereka seolah dibawa pada masa kecilnya dulu.

Program Tante Lien sudah berakhir beberapa tahun lalu. Tapi di usianya kini, ia belum berhenti. Wieteke masih terus beraktivitas. Setiap hari, ia sibuk mengisi panggung sandiwara, cerita anak-anak, dan tentu tetap menyanyi di berbagai acara. Meski sudah tinggal di Belanda, kerinduan dan kecintaan Wieteke van Dort pada Indonesia tak pupus. Ia terus mencipta lagu-lagu yang berisi kerinduan pada Indonesia.  Lagu nasi goreng bercerita tentang kerinduan pada nasi goreng. Selain itu, ada lagi lagu “Terima Kasih voor jouw nasi”, yang bercerita tentang terima kasihnya pada nasi di Indonesia.

Selain menyanyi, Wieteke kini juga sedang dalam proses menulis buku. Ia menuliskan kisah-kisah masa kecilnya di Surabaya dalam beberapa seri buku. Saat ini bukunya masih berbahasa Belanda. Namun saya menyarankan juga untuk segera dapat diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, agar orang Indonesia dapat membaca rekaman Surabaya tempo doeloe dari kenangan seorang Belanda yang pernah tinggal di sana.

Kurangnya penghargaan pada seniman

Ada satu hal yang disesalkan oleh Wieteke van Dort tentang karya-karyanya di Indonesia. Hal itu menyangkut soal penghargaan pada seniman. Ia bercerita bahwa dulu pernah ada orang Indonesia yang menawarkan kontrak atas lagunya “Geef Mij Maar Nasi Goreng”. Lagu itu akan diputar di Indonesia dalam berbagai rekaman. Tapi, hingga saat ini, ia tak pernah menerima satu peserpun royalti atau penghargaan atas lagu itu. Padahal, lagu itu sering diputar di berbagai acara televisi berskala nasional, acara-acara resmi, bahkan di lomba-lomba reality show.

Wieteke mengatakan bahwa kalau ia membawakan lagu seperti Bengawan Solo, atau Jembatan Merah, ia selalu mengeluarkan uang untuk membeli royalti atas penggunaan lagu tersebut. Ia bahkan pernah memberikan kompensasi langsung ke Gesang, pengarang lagu Bengawan Solo, karena menyanyikan lagu tersebut di salah satu albumnya. Yaah, penghargaan pada seniman di Indonesia memang masih belum seperti di Belanda, demikian ujarnya.

Terlepas dari itu semua, Wieteke tetap cinta pada Indonesia. Keindahan alam Indonesia, keramahan orang-orangnya, kelezatan masakannya, hingga kenangan indah di masa kecilnya, menjadikan Indonesia sebagai tanah air keduanya. Sambil makan gado-gado, Wieteke mengatakan bahwa makanan Indonesia adalah satu hal yang selalu membuatnya rindu. Di Belanda ada banyak warung Indonesia, tapi tetap saja tidak selezat di Indonesia.

Pagi hari itu, petugas villa menawarkan nasi goreng pada tante Wieteke. Tapi ia menolak dengan alasan sudah kenyang. Sambil bergurau saya katakan, “Katanya tante kangen nasi goreng, sambil merefer lagu nasi goreng, kenapa sekarang tidak mau makan?” Ia menjawab sambil tertawa, “Hahaha.. saya sudah tua sekarang, harus kurangi makanan yang berat-berat di pagi hari”.

Tante Wieteke kemudian memberikan saya salah satu CD albumnya yang berjudul, “Land van de Zon”, atau Land of the Sun. Album itu berisi lagu-lagu yang mengacu pada keindahan negeri Indonesia. Ya, negeri kita memang indah, kaya, dan penuh potensi. Tak heran kalau banyak orang asing yang rindu pada keindahannya. Tentu amat disayangkan, kalau kita tidak mampu menjaganya.

Salam Nasi Goreng. Geef Mij Maar Nasi Goreng !

Land van de Zon, salah satu album dari Tante Lien

Land van de Zon, salah satu album dari Tante Lien

Rujak Soto, Kuliner Tabrakan Banyuwangi

 

Rujak Soto Banyuwangi / photo junanto

Rujak Soto Banyuwangi / photo junanto

Makan rujak saja itu biasa. Makan Soto saja juga begitu. Tapi kalau Rujak dicampur Soto? Nah ini agak aneh terdengarnya. “Haah, memang ada makanan seperti itu ya?” tanya saya saat tiba di Banyuwangi.  Ya, kata kawan-kawan Banyuwangi. Rujak Soto adalah kuliner khas Banyuwangi, kota yang  terletak di ujung timur Pulau Jawa. Makanan ini juga terkenal sebagai makanan favorit yang lezat di Banyuwangi.

Siang itu, sayapun memulai perjalanan mencari Rujak Soto di Banyuwangi. Setelah bertanya ke beberapa orang, saya tiba di Jalan Musi Banyuwangi. Ada satu warung rujak soto legendaris di sana, yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun. Saya lalu memesan semangkuk rujak soto dengan level kepedasan sedang. 

Saat semangkuk rujak soto tiba, saya lihat memang makanan ini unik. Agak mengagetkan memang, karena dalam mangkok itu, rujak cingur disiram dengan kuah soto. Bagi saya, ini jenis kuliner tabrakan yang berani. Crash culinary experience. Bagaimana tidak. Rujak cingur yang biasanya dimakan dengan bumbu petis saja, harus dimakan dengan kuah soto. Bagi yang tidak terbiasa tentu agak “geli” membayangkan rasanya seperti apa. Ya, dua jenis makanan dengan genre terpisah tersebut, dibenturkan dalam satu mangkok. Sebuah pemaksaan, namun menyimpan keingintahuan akan rasa.

Konon sejarahnya dulu , rujak soto ini adalah hasil “eksperimen” dari penikmat rujak di Banyuwangi. Mereka menjajal beberapa menu makanan hingga menemukan rujak soto yang kemudian menjadi populer. Ada juga Rujak Bakso, yaitu rujak yang ditabrakkan dengan bakso kuah. Dan juga pecel rawon, atau pecel yang ditabrakkan dengan kuah rawon. Dahsyat ya perpaduannya.

Rujak soto disajikan sebagai campuran soto (bisa daging atau babat) dan rujak petis, atau rujak cingur.  Mbak Yati, sang penjual membuat campuran  rujak yang terdiri  tahu tempe dan rebusan sayuran kacang panjang, taoge, kangkung. Uniknya, ada juga irisan pisang klutuk dan petis udang yang lezat. Setelah rujak jadi, ia menyendok kuah soto yang panas mendidih, kemudian menyiram rujak tadi dengan kuah soto panas yang encer dan babat rebus. Wuiiih, keliatannya memang aneh. Tapi begitu dicicipi, lezaaat. Ini sajian luar biasa. Segar dengan campuran rasa petis, pedas, asin dan kuah soto. Kesegaran rujak sayur dan buah dibalur dengan kuah soto menghasilkan rasa yang “ultimate”. Penuh dengan petualangan. Mulut kita mengalami tabrakan dua rasa yang justru memberi sebuah kenikmatan tersendiri.

Kalau kamu ke Banyuwangi, saya sarankan untuk mencicipi hidangan unik ini. Rujak Soto memberi kita pengalaman, bahwa kenikmatan bisa muncul dari eksperimen yang kelihatannya hampir tak mungkin. Salam Rujak Soto.

 

Krisis Membaca Lebih Bahaya dari Krisis Ekonomi

Kegiatan YPPI di Perpustakaan BI Surabaya

Kegiatan YPPI di Perpustakaan BI Surabaya/ photo by junanto

Apa yang membuat Jepang jadi negara maju? Bukan karena teknologi, tapi karena tingkat literasi masyarakatnya. Saat Jepang memenangi pertempuran laut melawan Rusia di awal abad XX, kemenangannya bukan didukung oleh teknologi, melainkan tingginya tingkat literasi. Saat itu, hanya 20 persen tentara Rusia yang bisa “membaca dan menulis”. Sebaliknya seluruh personil tentara Jepang tahu “membaca dan menulis” serta mahir menggunakan peralatan militer modern. Meski kemudian Jepang kalah perang di tahun 1945, negeri itu tetap bisa bangkit kembali menjadi negara berkekuatan ekonomi besar hingga saat ini.

Ya, teknologi bisa diambil setiap saat, bisa dibeli kapan saja, tapi literasi hanya bisa dibangun oleh waktu dan kesabaran. Literasi yang dimaksud di sini adalah tingkat kemampuan masyarakat dalam membaca dan menulis. Tapi tak berhenti di situ, karena literasi juga kini berkembang secara fungsional terkait dengan berbagai fungsi dan ketrampilan hidup.

Hal yang memprihatinkan dari negeri kita saat ini bukanlah krisis nilai tukar. Krisis ekonomi bisa datang dan pergi. Tapi krisis membaca adalah masalah serius kebangsaan. Survei Unesco menunjukkan kalau Indonesia adalah negara di ASEAN yang minat bacanya paling rendah. Sementara itu, perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA kita juga memprihatinkan. Kalau di Jepang, anak SMA wajib membaca 22 buku, sementara di negeri kita nol buku. Hal ini pernah disindir oleh Taufiq Ismail dengan istilah “Tragedi Nol Buku”.

Hasil survey dari Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) maupun Programme for International Student Assessment (PISA) juga mencatat bahwa kemampuan memahami dan keterampilan menggunakan bahan-bahan bacaan, khususnya teks dokumen, pada anak-anak Indonesia usia 9-14 tahun berada di peringkat lima terbawah. Angka yang masih memprihatinkan.

Oleh karenanya, kegiatan yang dirintis oleh Ibu Trini Haryanti dan mbak Dini Wikartaatmadja dari Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) ini perlu kita dukung bersama. Pagi tadi, saya datang pada acara puncak Hari Kunjung Perpustakaan (HKP) di Surabaya (29/9). Acara HKP, yang kegiatannya dipusatkan di Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya itu, dilakukan oleh para pegiat literasi di Surabaya. Hadir juga Pak Bambang Haryanto, seorang “jendral” dari Republik Aeng-Aeng yang bermarkas di kota Solo, serta pegiat literasi lain dari Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI), Asia Foundation, Perpustakaan Lentera, Kampung Sahabat Anak, IIP, dan Taman Bacaan Masyarakat Surabaya Barat.

Kegiatan yang sebelumnya dilakukan setiap hari Minggu dan berlangsung selama satu bulan penuh itu juga dilaksanakan serentak di 13 kota.

Monyet saja suka baca / photo junanto

Monyet saja suka baca / photo junanto

Sejak pagi hari, perpustakaan BI yang terletak di Taman Mayangkara, telah dipenuhi oleh berbagai komunitas pecinta buku, pustakawan, maupun anak-anak sekolah di kota Surabaya. Puluhan anak-anak SD sekitar kota Surabaya diajak bergoyang Cesar bersama oleh kakak-kakak pustakawan, mendengarkan dongeng anak-anak yang dibawakan oleh pendongeng terkenal, mas Aryo, menyaksikan pertunjukan topeng monyet, dan lomba membuat menara buku.

Acara ditutup dengan pemberian secara simbolis gerobak buku bantuan dari Bank Indonesia Surabaya kepada Perpustakaan Lentera.  Mas Affan dan Mbak Fransiska dari perpustakaan Lentera adalah anak-anak muda Surabaya yang memiliki idealisme dan cita-cita mulia untuk memperluas akses anak-anak pesisir Surabaya pada buku dan pendidikan. Mereka juga membantu mengelola SD Pesisir yang memberi kesempatan pendidikan bagi anak-anak petani atau nelayan miskin di sekitar pesisir pantai Kenjeran, Surabaya.

Kegiatan mulia seperti yang dilakukan pagi tadi tentu sangat membanggakan kita semua. Di tengah krisis ekonomi dan krisis membaca saat ini, masih banyak anggota masyarakat yang punya kepedulian tinggi pada pendidikan anak-anak miskin. Dan yang menarik, upaya mereka dilakukan dengan sebuah cita-cita tulus, tanpa tujuan politis (karena saya tidak melihat adanya spanduk caleg atau calon presiden di belakang itu semua).

Indonesia menghadapi masalah dan tantangan berat dalam perekonomian saat ini. Meski pertumbuhan ekonomi kita masih tercatat tinggi untuk ukuran negara berkembang, angka itu saja tidak cukup. Pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa diikuti oleh kualitas masyarakatnya hanya akan menjadikan pertumbuhan itu tumbuh di atas tanah yang rapuh. Untuk menguatkan fondasi perekonomian Indonesia, jawaban jangka panjangnya bukan dengan membeli teknologi, atau membeli barang-barang dari luar negeri. Tapi dengan meningkatkan literasi di masyarakatnya. Masyarakat yang matang memiliki budaya membaca yang tertanam kuat di setiap individunya.

Dukungan pemerintah tentu sangat dibutuhkan dalam hal ini. Namun kesadaran dari masyarakat, terutama kaum terpelajar, juga tak kalah penting. Membiasakan membaca di setiap tingkat masyarakat adalah sebuah perjuangan yang harus terus dilakukan oleh negeri kita. Perpustakaan sebagai “sanctuary” atau benteng pertahanan moral membaca perlu “reach out”, atau keluar merengkuh masyarakat. Perpustakaan, demikian kata Pak Bambang Haryanto, tidak bisa hanya sekedar jadi “biara” yang hening dan sunyi, yang didatangi masyarakat sesekali saja. Tapi perpustakaan harus menjadi ikon peradaban negeri ini.

Mari kita biasakan membaca. Minimal satu buku setiap bulan. Kalau bisa lebih, bagus. Karena itulah perintah pertama Tuhan pada manusia, Bacalah!

Salam literasi.

Penyerahan Gerebek Buku pada Perpustakaan Lentera

Penyerahan Gerebek Buku pada Perpustakaan Lentera

Mystical Sumenep

Asta Tinggi Sumenep, Madura / photo junanto with Samsung NX300

Asta Tinggi Sumenep, Madura / photo junanto with Samsung NX300

Belum ke Madura kalau belum mampir Sumenep. Bagi saya, Madura adalah Sumenep. Meski daerah Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan, memiliki kelebihan dan keunikan sendiri-sendiri, Sumenep bagaikan puncak dari kelengkapan Pulau Madura. Kabupaten yang berada di ujung timur pulau Madura itu, memiliki sejarah yang panjang dan strategis dalam terbentuknya Nusantara.

Pertemuan saya dengan beberapa pejabat dari Kabupaten Sumenep beberapa lalu menambah wawasan tentang Sumenep. Secara berseloroh, mereka bercerita bahwa tanpa Sumenep, belum tentu ada Sumpah Palapa Majapahit. Mungkin betul apa yang disampaikan mereka. Sumenep memang cikal bakal Majapahit.

Adipati pertama Sumenep adalah Raden Arya Wiraraja, yang dilantik pada tanggal 31 Oktober 1269. Ia adalah seorang ahli strategi yang juga visioner. Bersama Raden Wijaya, Arya Wiraraja mendirikan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Dari situlah, kemudian Majapahit menjadi kerajaan besar di Nusantara, dan lahirlah Sumpah Palapa.

Jadi memang betul kata kawan-kawan di Sumenep, peranan Sumenep dalam terbentuknya Nusantara cukup penting. Sepanjang sejarah, Sumenep menjadi pusat kerajaan di Madura. Tercatat ada lebih dari 35 raja yang pernah memimpin kerajaan Sumenep.

Peninggalan kerajaan tersebut masih dapat dilihat hingga saat ini. Saya mampir ke satu tempat yang memiliki cerita panjang, yaitu Asta Tinggi, atau dalam bahasa Madura dibaca “Asta Tenggih”. Asta berarti pemakaman, dan Tenggih berarti letaknya di dataran tinggi. Untuk mencapai Asta Tinggi memang kita harus naik ke atas terlebih dahulu.

Bangunan di pemakaman Asta Tinggi / photo junanto with Samsung NX300

Bangunan di pemakaman Asta Tinggi / photo junanto with Samsung NX300

Asta Tinggi juga dikenal dengan sebutan Asta Raje (Asta Pangradje) yang berarti tempat pemakaman pejabat atau pembesar dari Kerajaan Sumenep. Dilihat dari tahun pembuatan, Asta Tinggi dibangun sekitar abad ke-17, atau setelah Islam masuk Sumenep. Di Asta Tinggi ini, kita dapat melihat makam raja-raja yang terkenal dari Sumenep seperti Pangeran Jimad, Bindara Saod, dan Pangeran Panji Pulang Jiwa, Panembahan Semolo, dan Sultan Abdurrahman Pakunatan Ningrat.

Kalau melihat pada arsitektur bangunan di Asta Tinggi, saya melihat sebuah perpaduan yang unik pada berbagai unsur. Ada hiasan atau ornamen yang mengandung unsur Eropa, Tiongkok, Jawa, dan khas Madura sendiri. Bentuk gapura sebelum memasuki Asta Tinggi juga unik karena mengandung berbagai unsur tersebut. Gapura, berasal dari bahasa Arab yaitu “Ghafura” yang berarti pengampunan. Menurut kepercayaan, memasuki gapura berarti melewati satu tahapan menjadi manusia yang lebih baik, dan berharap dapat diampuni dari dosa-dosa.

Setelah berziarah di Asta Tinggi, membaca doa dan dzikir, saya melanjutkan penjelajahan di Sumenep ke Masjid Jami atau Masjid Agung Sumenep. Masjid ini juga unik dan memiliki aura tersendiri. Masjid ini adalah satu dari 10 masjid tertua di Nusantara. Inilah landmark Pulau Madura. Dibangun pada masa Panembahan Somala,  dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai 1787 Masehi, masjid ini merupakan pilar terpenting bagi Keraton Sumenep. Dari dahulu hingga hari ini, Masjid ini menjadi tempat ibadah bagi keluarga Keraton dan Masyarakat.

Gerbang Utama Masjid Jami Sumenep / photo junanto with Samsung NX300

Gerbang Utama Masjid Jami Sumenep / photo junanto with Samsung NX300

Saya terkagum-kagum pada arsitektur bangunan masjid yang banyak dipengaruhi unsur kebudayaan Tiongkok, Eropa, Jawa, dan Madura. Pintu gerbangnya menjadi contoh. Dilihat sekilas, gerbang pintu masuk utama masjid corak arsitekturnya bernuansa kebudayaan Tiongkok. Sementara bangunan utama masjid secara keseluruhan terpengaruh budaya Jawa pada bagian atapnya dan budaya Madura pada pewarnaan pintu utama dan jendela masjid, sedangkan interior masjid lebih cenderung bernuansa kebudayaan Tiongkok pada bagian mihrab.

Filosofi pintu gerbang masjid Sumenep ini menarik deh (lihat foto di atas). Di atas gapura terlihat ada ornamen berbentuk dua lubang tanpa penutup. Awalnya saya bertanya untuk apa dua lubang itu. Tapi dari penjelasan kawan-kawan, katanya dua lobang itu adalah simbolisasi dari dua mata manusia. Di atas kedua lobang tadi, ada cungkup segi lima yang berpusat ke atas. Itu adalah ibarat manusia yang menuju pada pusatnya, ke kiblat di tanah suci, ataupun ke Illahi Robb.

Di sebelah kanan dan kiri pintu utama, ada dua pintu kecil yang bentuknya lengkung. Nah ini ibarat dua telinga manusia, yang dimaksudkan agar kita bersikap bijaksana, lebih banyak mendengar dari berbicara. Kalau adzan dikumandangkan, khotbah disampaikan, ataupun ayat-ayat suci dikumandangkan, kita diminta untuk mendengar.

Lalu ada lagi yang menarik. Ornamen-ornamen yang berbentuk rantai. Apa maksudnya? Itu dimaksudkan agar umat itu harus bersatu, jangan saling menyalahkan, menganggap kelompoknya sendiri yang paling benar, ataupun meneror kelompok lain. Intinya janganlah bercerai berai.

Ajaran yang sangat baik dan penuh makna dari gapura di masjid Jami Sumenep. Semoga filosofi itu masih terus dipegang hingga sekarang (semoga).

Berbagai perpaduan unsur asing dan luar di bangunan-bangunan Kerajaan Sumenep  menunjukkan bahwa Pulau Madura, khususnya Sumenep,  di masa lalu sangat terbuka pada akulturasi berbagai budaya. Keterbukaan dan kesediaan menerima perbedaan-perbedaan tersebut menjadikan Sumenep di masa lalu mampu tampil sebagai salah satu kerajaan terpenting di Nusantara, bahkan menjadi cikal bakal kerajaan Majapahit.

Terus terang selama ini saya paling jauh ke Pulau Madura hanya sampai Bangkalan. Lokasinya yang dekat dengan Surabaya, menyeberang Jembatan Suramadu, menjadikan Bangkalan sebagai pintu gerbang Madura yang bisa ditempuh dalam waktu beberapa menit saja. Sementara untuk mencapai Sumenep, kita harus menempuh lagi perjalanan darat ke arah timur selama kurang lebih 4 hingga 5 jam.

Tapi meski jauh, perjalanan ke Sumenep sungguh berarti, karena di Sumenep, kita bisa melihat Pulau Madura seutuhnya.

Jalan-jalan ke Madura, harus mampir ke Sumenep. Salam.

Berpose levitasi di gerbang masjid Jami Sumenep / with Samsung NX300

Berpose levitasi di gerbang masjid Jami Sumenep / with Samsung NX300

Sate Barongan Sidoarjo: Tak Semua Sate Diciptakan Sama

Sate Kambing Barongan Sidoarjo / photo junanto with Samsung NX300

Sate Kambing Barongan Sidoarjo / photo junanto with Samsung NX300

Tak semua sate kambing diciptakan sama. Selama perjalanan hidup saya, beragam rasa sate kambing pernah saya coba. Mulai dari yang rasanya alot dan menyedihkan, hingga yang paling lembut dan mengenang sepanjang hidup. Banyak yang sudah saya coba, tapi tak banyak yang bisa membuat terkenang.

Sate Barongan di daerah Sepanjang, Sidoarjo, adalah salah satu jenis sate kambing yang sulit dilupakan. Mencicipinya, membuat kita ingin kembali dan kembali lagi. Kelembutan daging dalam setiap tusuknya, mengenang di langit-langit mulut. Teringat dan tak terlupakan.

Sate Barongan terletak di daerah Sepanjang. Warung ini milik pak Uniq. Konon dulu ia harus berjuang keras hingga bisa mencapai kesuksesan seperti saat ini. Dua tahun pertama ia membuka warung Sate, ia nyaris bangkrut. Namun tak mau menyerah, ia bangkit lagi dan memilih branding Barongan, yang berarti hutan bambu.

Warung sate barongan terdiri dari dua lantai. Dari depan memang terlihat sempit. Namun kalau kita terus masuk dan naik ke lantai dua, terlihat kali surabaya di hadapan kita. Makan sambil memandang kali yang bersih, menjadi pengalaman unik tersendiri.

Deratan foto selebritis dan orang terkenal terlihat di dinding warung sate barongan. Ya, warung ini memang recommended bagi para pecinta sate kambing.

Saat saya mencicipi satu tusuk satenya, hmmmmph, betul juga. Sungguh lembut dan meleleh di lidah. Jarang sekali saya berani makan sate kambing banyak-banyak. Paling-paling hanya mencicip satu atau dua tusuk. Namun di Sate Barongan ini, saya sendiri menghabiskan 10 tusuk sate kambing. Saking enaknya.

Jangan lupa juga untuk memesan gule kambingnya. Rasa gule-nya cocok dan pas di lidah kita. Untuk kambingnya, sungguh sangat lembut.

Gule Kambing Probolinggo / photo junanto with Samsung NX300

Gule Kambing Probolinggo / photo junanto with Samsung NX300

Apa rahasia kelezatan Sate Barongan? Tak lain dan tak bukan terletak pada jenis dan pilihan kambingnya. Menurut pelayan di warung sate tersebut, jenis kambing tertentu telah dijadikan standar bagi warung ini. Kambing juga dipilih di usia yang pas, belum terlalu tua dan sudah tidak muda, atau umur sekitar 5-6 bulan.

Penampilan Sate Barongan ini sederhana. Tapi di balik kesederhanaan biasanya terdapat kenikmatan. Dan saya sudah membuktikan bahwa kambing Barongan, adalah satu dari sekian sate kambing di Indonesia yang wajib dicoba kalau mampir di Surabaya.

Beginilah penampilan kambing-kambing muda di warung sate Barongan, Sepanjang. Salam sate kambing.

Kambing Muda untuk Sate dan Gule / photo junanto by samsung nx300

Kambing Muda untuk Sate dan Gule / photo junanto by samsung nx300