Levitasi di Monas

Levitasi di Monas

Levitasi di Monas

Hampir tiga tahun saya melakukan levitasi di berbagai kota dan tempat. Tapi belum pernah saya melakukan levitasi di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Padahal Jakarta adalah tempat kelahiran saya. Ya, setelah hampir 5 tahun bertugas di luar Jakarta, hanya sesekali saja saya kembali ke Jakarta. Oleh karenanya, saat liburan Nyepi 2014 kali ini, saya menyempatkan diri untuk pulang liburan ke Jakarta, dengan satu misi khusus, melakukan levitasi di Monas (hahaha … niat banget kan).

Pagi hari, Minggu, saya bersiap menuju monas untuk levitasi. Tapi alangkah kagetnya saya melihat monas telah berubah. Car Free Day. Itu sebabnya. Sekitar lima tahun lalu, hari Minggu di monas tidak terlalu ramai. Meski ada CFD sekalipun, keramaian belum seperti kemarin. Luar biasa padatnya. Ya, Jakarta memang telah berubah.

Di tengah keramaian itu, sulit bagi kita untuk melakukan levitasi. Hampir setiap saat orang mondar mandir. Belum lagi ada yang naik sepeda, motor dandy, delman, atau ondel-ondel lewat. Saya mencoba mencari spot untuk melakukan levitasi. Beruntung ada sudut taman, dengan gundukan rumput yang lumayan sepi.

Selain melakukan levitasi standar (foto atas), di sana saya juga mencoba melakukan levitasi horizontal. Ini adalah pose levitasi yang cukup sulit dan menantang. Hal ini karena kalau kita terlambat mengantisipasi pendaratan, akibatnya fatal. Tapi, for the love of Monas, saya mencobanya. Hasilnya lumayan juga. Silakan dinikmati pada foto di bawah ini.

Horizontal Levitation at National Monument / photo taken by andriani

Horizontal Levitation at National Monument / photo taken by andriani with samsung nx300

Saya juga mencoba levitasi dengan ondel-ondel, dan tentu dengan latar belakang ikon menara kembar Bank Indonesia.

Demikian share saya tentang levitasi di area Monas. Terima kasih sudah mampir, dan salam levitasi.

Shocked by ondel-ondel

Shocked by ondel-ondel

Beyond Central Banking

Beyond Central Banking

 

Levitation in Ngantang Village

Last saturday, I passed through Ngantang Village, a small village in Malang, East Java, Indonesia. It is a very beautiful village with a nice view and weather. I took a levitation picture around paddy field and crossing the small village street. Here are the pictures. Thank you very much for stoping by.

Levitation around paddy field / picture taken with samsung nx300

Levitation around paddy field / picture taken with samsung nx300

floating across the village street / picture taken with samsung nx300

floating across the village street / picture taken with samsung nx300

 

Levitation at Semoet Station

I always love train since I was a little boy. Any kind of train. Therefore, when Ipung, my friend, asked me to join him for a sunday morning walk around Old Surabaya Train Station a.k.a Semoet Station, I didn’t think twice to say Yes. Beside listening to Ipung’s explanation about history of the station, I also took my time to do some levitation shots.

I love train, I love to levitate. So, these are my train levitation photos. Please enjoy, and thank you for stopping by.

Catch The Train Levitation. Look at the man's expression ! .. taken with Samsung NX300

Catch The Train Levitation. Look at the man’s expression ! .. taken with Samsung NX300

Catch the Train Part II / photo taken by Andriani with Samsung NX300

Catch the Train Part II / photo taken by Andriani with Samsung NX300

 

Railway Levitation

Railway Levitation

Along the rail road

Along the rail road

Seinhuiss, Signal House Levitation

Seinhuiss, Signal House Levitation

 

 

 

Di Balik Kekurangan, Tersimpan Kelebihan

Bersama Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, dan anak-anak tunagrahita di depan karya mereka.

Bersama Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, dan anak-anak tunagrahita di depan karya mereka.

Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan. Itulah keadilan Tuhan pada umatnya. Tadi malam (13/12), saya menghadiri pameran lukisan karya anak-anak yang memiliki hambatan mental (tuna grahita) dan penyandang masalah kesejahteraan sosial, di Balai Pemuda, Surabaya.

Acara dibuka oleh Tri Rismaharini, Walikota Surabaya, dan dihadiri oleh puluhan anak-anak penyandang tuna grahita.  Suasana pameran, yang biasanya terkesan formal, malam itu sungguh bernuansa kekeluargaan. Saat anak-anak melihat Ibu Risma, panggilan akrab wallikota Surabaya, mereka berebut memeluknya sambil berteriak, “Ibu Risma, Ibu Risma, minta donat… aku minta kue”. Bu Risma merangkul dan memeluk mereka secara bergantian.

Keakraban itu terjalin karena anak-anak tuna grahita dan anak jalanan yang malam itu menggelar pameran lukisan adalah binaan Pemerintah Kota Surabaya. Sebagian besar dari mereka ditemukan oleh Satpol PP Kota Surabaya di jalanan lampu merah, atau stasiun-stasiun bis dan kereta. Beberapa dari mereka lahir tidak dikehendaki oleh orang tuanya sehingga dibuang di jalan karena enggan menanggung malu.

Ibu Risma dan Pemkot Surabaya lalu merawat mereka, mengambil mereka dari jalanan, menyediakan pondok sosial Kalijudan, lalu membina kehidupannya. Awalnya, kata Ibu Risma dalam sambutan malam itu, anak-anak itu sangat nakal dan susah diatur. Mereka lalu diberi bimbingan oleh para pengasuh, psikolog, dokter, maupun seniman yang peduli.

Setelah beberapa tahun dibina, lihatlah kondisi mereka sekarang.

Di balik kekurangannya, mereka ternyata punya kelebihan yang luar biasa.  Mereka mampu menghasilkan karya-karya lukis yang sungguh ekspresif dan natural, tak kalah dari anak-anak lain seusianya. Saat melihat karya lukis anak-anak itu, nampak ekspresi kanvas yang menggambarkan sebuah pengalaman atau kerinduan pada berbagai hal.

Neneng misalnya, melukis figur perempuan misterius, yang mencerminkan kerinduan pada sosok Ibu yang tak pernah diketahui bentuk rupanya. Neneng ditemukan oleh Satpol PP saat sedang mengamen di perempatan jalan Dupak pada tahun 2008. Setelah dilatih dan dibina, ia mulai dapat mengekspresikan perasaannya, kerinduan pada wajah Ibu, pada kanvas lukis.

Ada lagi yang menggambar impian, cita-cita, keinginan jadi dokter, tentara, bahkan pengalaman masa lalu mengamen di jalan raya dan stasiun kereta. Ada seorang anak bernama Omay, yang sangat ekspresif dan lincah berlari dan menari ke sana ke mari. Omay ditemukan juga sedang mengamen di jalanan pada tahun 2010. Karya dari Muslimah, yang oleh kawan-kawannya dipanggil So’imah juga mengesankan. Ia mampu mengekspresikan perasaannya pada kanvas secara detil. Pengalaman rasa, pemandangan, suasana hati, tergambar jelas dari lukisan So’imah.

Ibu Risma, Walikota Surabaya, bersama Imah, pelukis tuna grahita di depan karya lukis / photo junanto

Ibu Risma, Walikota Surabaya, bersama Imah, pelukis tuna grahita di depan karya lukis bergambar jembatan Suramadu / photo junanto

Problema anak jalanan, atau anak yang memiliki keterbelakangan mental, adalah masalah yang sering dihadapi kota besar. Di Surabaya, mereka bersyukur karena dapat dibina oleh pemerintah kota, diangkat harkat dan martabatnya, agar kehidupannya lebih baik dibanding masa lalunya.

Cobalah tengok jalan-jalan dan lampu merah di kota Surabaya. Saya tidak pernah menemukan pengamen, pengemis, ataupun anak-anak yang mengelap kaca mobil. Mereka telah dibina untuk mengembangkan kreativitas berseni rupa agar bisa mengungkap isi hati dan bakatnya. Untuk itu, psikolog, dokter, dan beberapa seniman seperti Mas Agus Koecink dari Art Surabaya, memberi pendampingan secara sabar dan tekun pada anak-anak jalanan itu.

Pameran lukisan yang bertema “Believe” menjadi sebuah pembuktian bahwa tidak ada anak yang tak punya kelebihan. Bahkan mereka yang memiliki keterbelakangan mental sekalipun, memiliki kelebihan. Hal yang terpenting, menurut walikota Surabaya, adalah kita harus percaya, bukannya malah menyisihkan atau mencampakkan anak-anak itu di jalanan.

Menurut Bu Risma, sudah ada beberapa pengusaha yang ingin memborong lebih dari seratus lukisan anak-anak itu. Padahal jumlah lukisan yang ditampilkan belum banyak. Anak-anak Panti Asuhan itu tentu tidak bisa dipaksa untuk melukis karena mereka bukan melukis untuk uang. Mereka melukis karena ingin melukis. Ada sih yang lucu, menurut Ibu Risma. Seorang anak yang baru mau melukis kalau “disogok” terlebih dahulu dengan nasi bebek.

Nah, kalau anda di Surabaya, silakan kunjungi pameran lukisan anak-anak tuna grahita ini. Pameran berlangsung di Balai Pemuda Surabaya, dari tanggal 13 hingga 16 Desember 2013.

Datanglah, dan kalau ada rezeki, koleksilah lukisan anak-anak yang hebat ini.

Bedah Buku Malam: Surabaya Punya Cerita

Mas Ipung (no 2 dari kiri), penulis buku Surabaya Punya Cerita, saat launching buku, bersama Kiki Aishwarya, Duta Museum Jatim 2012, dan Prof. Matsui dari Jepang.

Mas Ipung (no 2 dari kiri), penulis buku Surabaya Punya Cerita, saat launching buku, bersama Kiki Aishwarya, Duta Museum Jatim 2012, dan Prof. Matsui dari Jepang.

Tak banyak anak muda yang mau dan mampu menuliskan kisah tentang kotanya secara menarik dan konsisten. Akibatnya, modernitas memakan waktu dan akhirnya pelajaran dari masa lampau raib tergilas zaman. Kitapun menjadi bangsa yang buta sejarah. Hal itulah yang menjadi kegalauan dari Dhahana Adi, yang akrab juga dipanggil Ipunk, saat peluncuran buku karyanya, berjudul “Surabaya Punya Cerita”, tadi malam (2/11) di pelataran gedung Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya.

Kegalauan itulah yang membuat Ipunk mencatat berbagai cerita tentang kota Surabaya, lalu memuatnya dalam blog “Surabaya Punya Cerita” (SPC). Berbagai tanggapan positifpun diterimanya dari berbagai kalangan di Surabaya. Ipung kemudian mengumpulkan berbagai cerita dari blog SPC, dan atas dukungan kawan-kawannya, kumpulan cerita itu diterbitkan dalam bentuk buku melalui nulisbuku.com.

Bagi pecinta kisah-kisah sejarah tentang sebuah kota, membaca buku SPC ini sangat mengasyikkan. Saya sendiri, yang baru tinggal di Surabaya sangat merasakan, tak banyak buku yang menulis tentang kota ini. Kalaupun ada, hanya buku travel yang memuat informasi standar mengenai wisata di Surabaya, ke mana harus pergi, di mana lokasinya, makanan khas, standar seperti itu. Itupun jumlahnya tak banyak.

Satu buku menarik yang dapat dibaca tentang perjalanan kota Surabaya adalah “Hikayat Surabaya” dan “Monggo Diphun Badhog” karya Dukut Imam Widodo. Berbagai kisah sejarah tempo dulu dapat dibaca secara menarik di buku itu. Namun perspektif dari anak muda tentang Surabaya, tidak banyak. Oleh karenanya, kehadiran buku SPC ini mampu mengobati kerinduan khalayak muda, dan pembaca yang ingin mengetahui kisah-kisah di balik perjalanan kota Surabaya.

Menariknya, Ipung menulis buku ini bukan seperti buku sejarah, yang isinya hanyalah “jaartalen” atau deretan tanggal-tanggal kejadian. Tapi ia mengangkat sisi-sisi humanis, yang unik, tidak terbaca, dan dituturkan sebagai “petite histoire”, atau sejarah kecil, yang mampu membuat kita ternganga, kadang baru tersadar akan  kebenaran ceritanya yang bisa jadi berbeda dengan yang kita tahu selama ini.

Kisah soal maestro jazz Bubi Chen misalnya. Bubi Chen adalah pemusik Jazz Indonesia berkelas dunia yang berasal dari Surabaya. Hingga kini, meski sudah meninggal, Bubi Chen tetap menjadi legenda musik jazz. Ipung menceritakan perjalanan Bubi Chen di Surabaya. Tapi di ujungnya, artikel ini seakan mengingatkan bahwa Surabaya adalah juga kota yang melahirkan banyak seniman kelas dunia. Bukan hanya Bubi Chen, Ipung juga menulis tentang Srimulat dan pemusik Gombloh, yang berawal dan bangkit dari Surabaya. Lalu, bagaimana regenerasi seniman dilakukan di Surabaya? Ini adalah sentilan yang cukup tajam dari artikel-artikel di buku SPC.

Selain musik, buku SPC juga menulis berbagai “petite histoire” menarik.  Bagaimana sejarah awal berdirinya Bandara Udara Djuanda Surabaya? Bahwa ternyata Djuanda bukanlah orang asli atau pahlawan asal Surabaya. Lalu kenapa namanya diabadikan jadi nama bandara? .. Kemudian ada sejarah Pasar Turi, Jembatan Merah, dan kisah pahlawan Surabaya. Dalam konteks kekinian, buku SPC memuat aneka dialog dan diskusi dengan pelaku sejarah, hingga wirausaha Surabaya saat ini yang sukses.

Cover buku Surabaya Punya Cerita

Cover buku Surabaya Punya Cerita

Buku SPC ini semakin dibaca, semakin menimbulkan rasa ingin tahu.  Dalam pembukaan diskusi, penulis Sastra Jawa senior, Suparto Brata, yang usianya kini 81 tahun, mengatakan bahwa tulisan di buku SPC ini bercerita tentang Surabaya. Namun tentu tidak berhenti di sana, buku ini juga bercerita untuk Indonesia.

Akhayari Hananto, pengelola Good News From Indonesia, semalam juga mengatakan bahwa buku ini adalah sebuah berita baik bagi generasi muda Indonesia. Andai banyak anak muda di Indonesia yang punya motivasi, semangat, dan optimisme besar, lalu menuliskan buah pikirnya dalam bentuk buku, masa depan Indonesia akan semakin cerah.

Saya sendiri yakin, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang produktif dan bangsa yang rajin menulis. Pemikiran dan perbuatan, yang diimbangi dengan tulisan-tulisan, akan menjadi pelajaran bagi generasi-generasi penerus. Begitulah peradaban diturunkan dari masa ke masa.

Memberikan sedikit pengantar, sebelum diskusi buku dimulai.

Memberikan sedikit pengantar, sebelum diskusi buku dimulai.

How I Shoot: Levitating with @junantoherdiawan

Gengis Khan Levitation

My levitation photos are being featured in Instagram Blog at:  http://blog.instagram.com/post/43484235620/how-i-shoot-levitating-with

If you have time, please take a look. Thank you very much.

Camera: iPhone & iPad.

Vantage Point: “Levitation is like philosophy. It’s not just a jump shot; it is a floating moment. I like to travel and see many interesting places in the world. My idea is to levitate in any interesting place or interesting moment. By doing that, I feel like I can float or fly in any place in the world.”

Shooting: Using an application that takes multiple photos at a time while you jump makes it easier to capture the perfect levitation photo. “I use the Fast Camera application on iPhone or iPad to capture the moment. It is a continuous-shoot application that can capture every second of my levitation.”

Editing: While Junanto may touch up the lighting or tones in his photos, there are no special apps or programs used to create the levitation effect. “I don’t use editing for my levitation photos, no special application. I only adjust for lighting and other effects.”

Follow Junanto’s levitating adventures in Jakarta, Indonesia, and throughout the world at instagram.com/junantoherdiawan.

Soba “Terenak” Sedunia

Yabu Soba Kanda, Warung Soba Tertua di Tokyo / photo junanto

Bagi para pecinta soba, mencicipi langsung soba di Jepang adalah sebuah pencapaian. Sejujurnya, hampir semua soba di Jepang itu enak banget. Baik itu soba kelas restoran, warung, atau bahkan soba kaki lima, punya tingkat kelezatan masing-masing.  Bahkan warung soba kaki lima di depan stasiun Meguro saja, menurut saya enaknya selangit. Kita makan soba sambil berdiri dan dilayani nenek tua pemilik warung itu.

Setiap kelezatan pasti punya karakter dan kelebihannya masing-masing. Begitu pula dengan soba. Beberapa waktu lalu, saya diajak teman saya, Masae-san, untuk mencicipi soba “terenak sedunia”. Bukan hanya terenak, tapi yang pasti, warung soba yang akan kita tuju adalah warung soba tertua di Tokyo.

Kita pergi ke daerah Kanda. Di sana ada satu warung Soba bernama Yabu Soba. Warung itu berbentuk rumah tua dan telah menjual soba sejak tahun 1880, atau sejak Periode Edo. Jaman dulu, para samurai dan penguasa Edo secara rutin makan di warung ini.

Terus terang saya harus bilang “wow” saat masuk ke Yabu Soba. Suasana khas Jepang masa lalu masih tercermin di sana. Ada pilihan tempat duduk dan juga tatami atau duduk bersila ala Jepang. Suasana, yang menurut saya, Jepang banget.

Soba di warung ini dibuat dari gandum terbaik, dan menggunakan air yang berasal dari mata air pilihan. Ketepatan pilihan adonan, ketekunan mengiris soba, dan tentu air yang digunakan, menjadi elemen terpenting dalam menentukan tekstur dari soba.

Saya memesan Nameko Soba, atau soba kuah hangat jamur. Sementara Masae-san memesan soba dingin atau sumetai soba. Hmmm, aroma dari soba hangat jamur sangat harum membuat liur saya bergejolak. Saya suka sekali dengan jamur. Oleh karenanya, perpaduan jamur dan soba akan terasa dahsyat.

Nameko Soba, Soba Kuah dengan Jamur / photo junanto

Soba Dingin yang sederhana / photo junanto

Dan, memang tak salah. Ini adalah soba dengan sensasi terenak sedunia. Kualitas dan tekstur sobanya kelas wahid, kuahnya ciamik, dan perpaduan rasanya pas. Jamurnya juga memiliki kekenyalan yang pas. Tidak terlalu “mushy” tapi juga tidak terlalu kenyal atau keras.

Sementara untuk soba dingin, rasanya tak kalah enak. Menurut Masae-san, itu adalah salah satu soba dingin terlezat yang pernah dicoba. Buat banyak orang, terutama orang Indonesia yang doyan bumbu pedas, makan soba dingin terasa aneh. Awalnya saya juga tidak begitu suka karena rasanya “anyep”. Ya, soba dingin memang tidak ada rasanya, ia dicelup ke shoyu dingin, lalu dimakan begitu saja. Di akhir menu kita bisa mereguk kuah hangat sisa rendaman sobanya. Itupun tanpa rasa. Tapi lama kelamaan, saya bisa merasakan sensasi dari kesederhanaan soba dingin. Dan tentu, lezatnya gak keruan.

Satu lagi hal unik dari warung Yabu Soba adalah proses pemesanannya. Seorang ibu tua duduk di ujung ruangan menerima semua pesanan. Ia lalu mendendangkan pesanannya dalam lantunan lagu Jepang. Para juru masak di dapur yang mendengarkan membuat sesuai lantunan lagu sang ibu.

Hebatnya, ibu ini memperhatikan satu persatu meja di warung itu. Ia menghafal betul urutan pesanan, dan jenis makanan yang dipesan setiap meja. Kalau ada yang memesan appetizer, ia tunggu hingga menjelang habis, baru ia melantunkan pesanan selanjutnya agar tidak ada jeda terlalu lama dalam menunggu makanan.

Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan sang Ibu. Ia berkata bahwa telah bekerja di warung ini selama dua puluh tahun. Baginya, menyanyikan pesanan adalah meneruskan sebuah tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun di warung itu. Wow.

Soba, memang merupakan salah satu makanan favorit orang Jepang. Tapi ia bukan sekedar mie belaka, melainkan memiliki makna filosofis yang dalam. Pada setiap perayaan, seperti tahun baru atau upacara pindah rumah, orang Jepang selalu menyertakan soba. Bagi mereka, soba melambangkan kesuksesan, panjang umur, panjang rezeki.

Oleh karena itu, kalau mampir ke Tokyo, jangan lupa untuk mencicipi soba ya. Kalau ada waktu juga, mampirlah ke warung soba tertua di Tokyo ini, dan tentu “terenak sedunia”.

Salam Soba.

Bersama Ibu Soba, Pelantun Pesanan

Bertemu Doraemon di Jepang

Baling-baling Bambu bersama Doraemon

Hampir semua dari kita mengenal karakter Doraemon. Kucing robot masa depan yang memiliki kemampuan ajaib. Hari ini, Doraemon berulang tahun. Banyak yang menyebut ia berusia 100 tahun, karena ia dilahirkan pada tanggal 3 September 2112. Angka 100 adalah hitungan mundur dari tahun kelahirannya.

Dari sisi karya seni, Doraemon baru berusia 43 tahun. Ia diciptakan pada tahun 1969 oleh Hiroshi Fujimoto. Selama kurun usianya itu, Doraemon telah mengubah wajah dunia.

Sejak kecil, saya mengagumi tokoh kucing masa depan ini. Doraemon bahkan menjadi salah satu inspirasi saya dalam menjalani kehidupan. Bersama dengan Nobita, Takeshi, dan Suneo, Doraemon melakukan petualangan yang menyenangkan dan memberi pelajaran bagi kita semua. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya dunia tanpa Doraemon.

Oleh karenanya, saat museum Doraemon dibuka di kota Kawasaki, saya merasa wajib untuk berkunjung ke sana. Dan pekan lalu, menjelang ulang tahun Dora Emon, saya bersama keluarga pergi mengunjungi museum yang bernama  Fujiko F. Fujio Museum.

Nama Fujiko diambil dari dua sahabat, yaitu Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko, pencipta karakter Doraemon dan manga lainnya. Keduanya kemudian berpisah dan Fujimoto menggunakan nama Fujiko F. Fujio, serta terus menciptakan karakter Doraemon.

Mengingat karya monumental Fujimoto adalah Doraemon, tak salah bila museumnya sering disebut dengan nama museum Doraemon. Museum Fujiko F. Fujio ini didirikan di Kawasaki karena di daerah itulah dulu Fujiko tinggal. Hiroshi Fujimoto meninggal pada tahun 1996 di usia 62 tahun.

Memasuki museum Doraemon, saya seolah dibawa ke dalam kehidupan dan alam pikir dari Fujiko. Ada sekitar 50 ribu sketsa, yang secara bergiliran dipertunjukkan di museum ini. Kita bisa melihat sketsa awal kucing Doraemon, yang masih memiliki telinga dan tubuhnya berwarna putih.

Konon, kabarnya telinga Doraemon digigit tikus hingga habis. Saat Doraemon melihat dirinya di kaca dan menyadari telinganya tidak ada, ia shock sehingga warna bulunya berubah, dari putih menjadi biru.

Doraemon, Nobita, dan Pisuke di Fujiko Fujio Museum Japan / photo junanto

Naik ke lantai dua kita dapat melihat ruang kerja dari Fujimoto. Replika ruangannya dibuat secara lengkap dan disusun persis saat ia masih hidup. Dari situ kemudian kita dapat melihat film pendek dan aneka sketsa Doraemon awal yang belum pernah ditampilkan sebelumnya di muka umum.

Di atap museumnya, ada taman bermain yang luas. Ada boneka Doraemon dan Nobita sedang menaiki Pisuke, karakter dinosaurus yang sering muncul di serinya. Kafetaria museum itu juga menarik karena menyediakan aneka makanan dan minuman bertema Doraemon. Cicipilah Dora-latte, yang merupakan latte bergambar Doraemon di buihnya.

Sangat menyenangkan mengikuti perjalanan kehidupan Doraemon di museum ini. Meski penciptanya kini sudah tiada, karakter Doraemon masih tetap hidup di seluruh dunia. Di Jepang sendiri, Doraemon masih dicintai semua orang.

Pintu Ke Mana Saja / photo junanto

Doraemon memang layak dicintai. Saat beberapa waktu lalu ada satu tulisan di internet yang melarang anak-anak kita menyaksikan film Doraemon, saya agak sedih. Tentu saja ada alasan khusus yang diyakini oleh masing-masing orang. Tapi sebagai pecinta Doraemon, saya tidak melihat adanya alasan anak-anak kita dilarang menyaksikan Doraemon.

Banyak yang mengatakan bahwa menyaksikan Doraemon akan menjadikan anak malas dan percaya pada kekuatan kantung ajaib. Padahal, kalau kita saksikan film atau kartun Doraemon sampai habis, kita akan menyadari bahwa kantong ajaib, ataupun baling-baling bambu, bukanlah jawaban dari persoalan di dunia.

Nobita selalu menghadapi “ending” yang konyol saat menggunakan alat Doraemon. Demikian pula Suneo dan Takeshi, yang kerap meminjam alat dari Doraemon untuk menyelesaikan masalahnya. Ujungnya selalu gagal total. Yang ada adalah penyesalan. Alhasil mereka harus kerja keras dari awal lagi untuk bisa berhasil dan sukses.

Moral cerita dari Doraemon cukup jelas. Bahwasanya hidup ini tidak bisa “jalan pintas”, apa-apa mau cepat berhasil. Kalaupun bisa, umumnya tidak lama (unsustainable). Kesuksesan selalu membutuhkan usaha, disiplin, dan kerja keras. Ini adalah ajaran moral yang ditanamkan ke anak-anak.

Doraemon juga mengajak kita untuk tidak berhenti bermimpi. Mimpi sangat penting dalam menjalani masa depan. Lewat mimpi, Doraemon menciptakan aneka jenis alat yang kadang tak terpikirkan manusia. Dalam realitanya, bangsa Jepang mampu menciptakan berbagai alat dan tekhnologi canggih yang kadang tak terpikirkan.

Doraemon mengingatkan kita, lewat pesannya yang jenaka, bahwa hidup adalah perjalanan. Life is a journey. Bukan hasil akhir yang penting, tapi bagaimana kita bisa terus menerus memperbaiki diri, dari hari ke hari. Itu esensi dari kehidupan.

Selamat Ulang Tahun Dora Emon. Otanjoubi Omedetou Gozaimasu.

Hari Undokai dan Jiwa Japan Inc

Tim Merah (Akagumi) mengibarkan bendera di Undokai / junanto

Akhir pekan lalu, saya diminta anak saya untuk hadir ke sekolahnya, di SD Fudo Tokyo. Ia mengundang saya untuk menyaksikan acara “undokai”. Sebenarnya sudah sejak jauh hari dia wanti-wanti agar papanya tidak bertugas di hari libur. Dan syukurlah, hari itu jadwal saya pas kosong, sehingga bisa memenuhi janji menyaksikan acara “undokai”.

Undokai adalah Hari Olah Raga, atau Hari Atletik, yang diselenggarakan di SD atau SMP Jepang setiap tahunnya. Dalam undokai, seluruh anak, dari kelas 1 hingga 6 SD berpartisipasi meramaikan festival itu. Guru, murid, dan orang tua sangat serius menyelenggarakannya dan turut aktif di acara ini dari mulai hingga selesai.

Saya mulanya berpikir acara ini tak jauh beda dengan acara keriaan atau festival olah raga di negeri kita. Namun setibanya di sana, saya menyadari ada beberapa perbedaan mendasar dan menarik untuk dicermati. Di undokai itu, saya bukan sekedar melihat sebuah acara olah raga, melainkan sebuah tradisi yang mengakar panjang di satu bangsa.

Undokai diselenggakan pada seluruh sekolah di Jepang dengan model, aturan, bahkan teriakan yang hampir sama. Acara ini juga sangat formal dan diselenggarakan dengan persiapan yang sangat rapi dan teratur.

Pada pukul 8.30 pagi, seluruh siswa berkumpul di lapangan dan berpakaian seragam untuk mengikuti upacara. Anak-anak yang hadir dibagi ke dalam dua tim yang terlihat dari topi yang mereka kenakan. Ada yang menggunakan topi merah, dan ada yang topi putih. Warna itu menunjukkan kelompok tim mereka, ada tim merah (akagumi) dan tim putih (shirogumi).

Pidato pembukaan disampaikan oleh kepala sekolah dan perwakilan orang tua murid. Setelah itu diadakan pemanasan berupa senam, sebelum undokai akhirnya dimulai.

Pada prinsipnya, undokai adalah pertandingan atletik, yang didominasi oleh lomba lari, antara tim merah dan tim putih. Setiap kelas dibagi dalam beberapa batch untuk diadu masing-masing. Di sela-sela pertandingan, anak-anak menampilkan aneka pertunjukan, mulai dari tarian, marching band, hingga penampilan puncak anak kelas 6 SD berupa piramida manusia.

Piramida Manusia oleh kelas 6 SD / junanto

Dari undokai tersebut, saya melihat ada ciri-ciri menonjol yang terbentuk dari anak-anak Jepang. Dan ciri itu terbawa hingga dewasa, bahkan tercermin di perusahaan-perusahaan Jepang.

Ciri itu adalah kolektivisme atau orientasi pada kerja tim. Setiap anak di tim undokai tidak pernah menonjolkan diri sendiri. Kalau berhasil mereka selalu mengatakan itu berkat kerjasama tim. Sementara kalau gagal, mereka merasa kurang berbuat baik bagi tim.

Kalau ada satu anak kita puji, “Waah kamu hebat ya!”, mereka akan otomatis mengatakan “Iiiiiie (dengan intonasi panjang)”, yang artinya, bukaaan. “Ini semua terjadi berkat kerjasama tim”, begitu kata mereka menyambung. Tidak ada anak yang berusaha menonjol dalam undokai, dan para orang tua juga tidak ingin menonjolkan anaknya masing-masing. Tidak ada juga yang berkata, ” Siapa dulu dong bapaknyaa!”. Yang ada adalah semua lebur dalam kerjasama tim.

Saya melihat hal itu juga terbawa hingga dewasa. Orang Jepang dalam bekerja selalu kolektif dan mendahulukan tim. Ada pepatah Jepang yang mengatakan, “Burung Elang yang menunjukkan kukunya, akan dipukul”. Ini artinya bahwa kita dianjurkan untuk tidak menonjolkan diri.

Memang kalau direnungkan, saat ini tak banyak lagi nama entrepreneur Jepang yang menonjol, selain nama-nama lama seperti Honda atau Toyota. Berbeda dengan Amerika atau Eropa yang memiliki banyak nama menonjol, seperti Steve Job, atau Bill Gates misalnya. Padahal, produk Jepang ataupun aneka budaya Jepang mengepung kehidupan kita sehari-hari.

Selain soal kerjasama tim, ada satu hal menarik lagi yang saya catat saat undokai. Murid-murid yang lebih tua terus menerus meneriakan semangat pada yang muda. Mereka berteriak “Gambatte! Gambatte!” dan meminta adek-adeknya untuk memberikan yang terbaik bagi tim.

Selain filosofi kerja keras tanpa menyerah yang sudah menjadi ciri khas Jepang, di undokai ini saya melihat sistem senior-junior yang sangat kental di Jepang. Di perusahaan Jepang, mereka menyebutnya dengan sistem “sempai-kohai”.  Mereka yang senior harus membimbing yang junior, dan yang junior harus menghormati yang senior. Di Jepang, senioritas memang sangat penting.

Undokai ini juga dilakukan tanpa pandang bulu bagi semua anak di Jepang. Sejak kecil kelihatannya anak-anak tidak dimanja dengan berbagai fasilitas. Untuk persiapan undokai ini, anak-anak berlatih sekitar satu bulan sebelumnya. Mereka juga setiap hari berlatih fisik. Tak heran kalau orang Jepang fisiknya kuat-kuat (ingat tim bola Samurai Blue dan Nadeshiko).

Hari itu, undokai ditutup pada pukul 14.30 sore (tepat waktu sesuai jadwal yang dibagikan, sebagaimana kebiasaan orang Jepang). Tim merah keluar sebagai pemenang.

Setelah pembagian hadiah, Kepala Sekolah menyampaikan pesannya. Satu pesan penting yang disampaikan adalah, “Tidak ada keberhasilan yang instan, semua butuh ketekunan, kerja keras, dan kesabaran. Oleh karena itu, Jangan Pernah Menyerah, Gambatte Kudasai!”.

Di Undokai hari itu, saya melihat sebuah tradisi panjang yang tercetak dalam kehidupan bangsa. Hari itu, saya melihat jiwa Japan Inc. yang tertanam sejak dini, dalam semangat  kebersamaan dan nation building yang kuat. Tak heran kalau Jepang hingga saat ini masih menguasai tekhnologi dunia.

Salam.

Lomba lari di undokai / junanto

Levitation Photowalk around My Neighborhood

Inspired by Natsumi Hayashi in yowayowacamera.com, I held a levitation photowalk around my neighborhood in Meguro, Tokyo. I love doing levitation in my leisure time as it is a great way to express myself as a free person.

I stopped off Rhinshinomori Park  on my way to the nishikoyama market. The park was so quiet and peaceful. It is nice to levitate here.

Tap water levitating at rhinshinomori park

Reach for the tree levitation

At the park, I saw many old men doing exercise and some kind of Taichi. So, I think I will have some levitating exercise on the park bench.

After the Taichi

I finally arrived at Nishikoyama station. I took some levitation photographs in front of the station.

Nishikoyama Station, Tokyo

Flying Without Wing at Nishikoyama Station

On my way back home, I stopped by at a secondhand bookstore. It was a very nice small shop selling many interesting books. I bought some photography books at a very cheap price. Before that, I did a levitating pose while reading the book.

Levitating while reading

That was my levitating photowalk project around my neighborhood. Keep levitating, keep passionate, and free yourself.

Thank you for stopping by.