Ume Matsuri, Tradisi Tertua Melihat Bunga di Jepang

Putik Ume di Yushima Tenjin / photo Junanto

Negeri Jepang identik dengan bunga sakura. Setiap sakura mekar di musim semi, orang Jepang beramai-ramai menyaksikan keindahannya. Mereka punya tradisi yang dinamakan “hanami” atau piknik bersama di bawah pohon sakura. Hanami berasal dari kata “hana” yang berarti “bunga”, dan “miru” yang berarti “melihat”. Kata Hanami erat dikaitkan dengan tradisi melihat bunga sakura.

Tapi saya baru tahu kalau ternyata orang Jepang juga punya tradisi melihat bunga yang lain. Tradisi itu dinamakan ume matsuri, atau festival melihat bunga ume (plum Jepang).

Beberapa waktu lalu, saya pergi ke kuil Yushima Tenjin di Tokyo untuk melihat festival bunga ume tersebut. Yushima Tenjin adalah kuil yang paling popular di kota Tokyo untuk melihat bunga ume. Selain Yushima Tenjin, beberapa tempat lain yang juga popular di Tokyo adalah Kosihikawa Korakuen dan Hanegi Park di Setagaya.

Ume Matsuri di Yushima Tenjin telah dirayakan sejak jaman Edo, atau sekitar 300 tahun lalu. Masyarakat Jepang berbondong-bondong datang ke kuil ini bersama anggota keluarganya, untuk merayakan Ume Matsuri. Selain melihat putik bunga ume yang mekar, di kuil ini aneka ragam jajanan khas Jepang dijual. Ada juga kesempatan untuk mengikuti upacara tradisional minum teh Jepang. Saya juga melihat ada upacara memanggul kuil Shinto portable atau “mikoshi” untuk meramaikan festival.

Saya tiba di Yushima Tenjin menjelang siang hari dan melihat keramaian mulai memadati beberapa bagian dari kuil tersebut. Kuil Yushima juga dikenal sebagai kuil pelajar. Orang Jepang meyakini bahwa di kuil ini ada dewa untuk pelajar, yang bisa mengabulkan permintaan para pelajar, ataupun mereka yang akan menghadapi ujian. Setiap menjelang akhir tahun ajaran, atau ujian nasional, kuil ini penuh dengan pelajar-pelajar Jepang yang berdoa meminta lulus ujian.

Keunikan yang menonjol dari Yushima Tenjin adalah banyaknya pohon ume di sekeliling tamannya. Beberapa pucuk pohon ume, baik yang berwarna merah atau putih,  terlihat telah berbunga. Cantik dan indah. Namun, sebagian besar di antaranya masih berupa putik.

Setelah mengagumi keindahan dan putik bunga ume, saya ikut serta dalam upacara minum teh tradisional Jepang. Dengan membayar 500 Yen, saya bisa duduk pada karpet yang dibuat khusus di atas kolam ikan. Sambil memandang putik bunga ume, mengikuti upacara minum teh hijau ini terasa “sesuatu banget”.

Sebelum mulai minum, kita diberikan kue manis yang bernama “hana no hi”. Konon kue ini memiliki sejarah panjang dan dibuat dari bagian bunga ume. Teh hijau atau matcha, dibuat oleh seorang ibu tua (obaa-san) dengan upacara khusus. Ia membungkukkan badan ke kita, memutar-mutar cawan, menaburkan bubuk teh, dan mengaduknya dengan menggunakan pengaduk dari bambu atau chasen.

Mengikuti upacara minum teh

Sambil minum teh, ibu tua itu bercerita bahwa ume matsuri adalah tradisi melihat bunga yang telah berlangsung beratus-ratus tahun di Jepang. Sebelum ada tradisi melihat bunga sakura, orang Jepang terlebih dahulu merayakan mekarnya ume.

Istilah “hanami” pada awalnya adalah upacara melihat bunga ume, bukan sakura. Tradisi ini dimulai jauh sebelum periode Nara (710-784) dan berlangsung hingga periode Heian (794-1185). Saat Kaisar Saga memimpin, tradisi melihat bunga ume diganti menjadi tradisi melihat bunga sakura. Sejak itu, istilah hanami identik dengan melihat bunga sakura.

Budaya memandang keindahan bunga ume dan sakura adalah perlambang kebersyukuran masyarakat Jepang pada sang Dewa. Mereka percaya bahwa saat musim dingin berakhir, dewa turun ke pohon-pohon, dan kemudian ke ladang pertanian untuk memberi rezeki makanan bagi manusia.

Mekarnya bunga ume menandakan bahwa kasih sayang para dewa telah tiba bagi mereka. Untuk itu, orang Jepang berpiknik di bawah pohon itu untuk mengucapkan syukur. Mereka melakukan upacara minum teh, dan kadang memberi persembahan. Mereka juga berdoa agar panen berhasil dengan baik.

Di masa lalu, lanjut ibu tua tadi, hanami adalah sebuah proses meditasi dan ritual. Mereka menjadikan mekarnya bunga sebagai sarana kontemplasi pada yang Maha. Di situlah momen baik untuk bersyukur dan berserah diri.

Tapi ia menyayangkan tingkah anak-anak muda sekarang yang lebih tertarik pada senang-senang dan pestanya, daripada memikirkan makna hanami sebenarnya. Ada pepatah Jepang yang berbunyi, ‘hana yori dango’, yang artinya kira-kira, makanan lebih penting daripada esensi melakukan hanami. Banyak anak muda yang membawa sake dan minum-minum hingga mabuk. Tentu hal ini bukan esensi dari hanami.

Namun saat saya kemarin mengunjungi kuil Yushima Tenjin, suasananya sangat khusyuk. Hampir semua yang berkunjung mengagumi bunga ume dan banyak yang berkontemplasi. Mekarnya ume tahun 2012 ini juga menandai peringatan satu tahun bencana gempa bumi Tohoku Maret 2011. Oleh karena itu, banyak terlihat orang yang merenung dan menundukkan kepala.

Selamat datang musim Semi. Salam dari Tokyo.

 

 

 

 

 

 

Bunga Ume / photo Junanto

 

Bunga Ume yang sudah mekar / photo Junanto

 

 

5 comments

  1. bunga apa yang mekar lebih dulu ??? sakura atau ume ???? dan nama taman apa yang berdekatan dengan kantor pusat penyiaran NHK yang di kunjungi saat Hanami ??? bagus ya bunga-bunganya

  2. Junanto-senpai yg terhormat…. Kira-kira kalo kita mau liat bunga sakura brmekaran wktunya bulan brapa ya….???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *