Days of Danboard: Saturday Morning at the Garden

Melakukan proyek fotografi bersama Danbo, menurut saya cukup menyenangkan. Wajah Danbo yang terkesan “innocent” dan “photogenic” membuat hasil pemotretan menarik untuk dilihat.

Bagi yang belum familiar dengan Danbo, perlu saya jelaskan bahwa Danbo, atau dalam bahasa Jepang “Danboru”, adalah figur boneka yang menyerupai boks karton. Figur ini terkenal di kalangan fotografer dan kerap dijadikan model. Awalnya Danbo adalah karakter dari sebuah komik manga karya Kiyohiko Azuma, yang berjudul “Yotsuba & !”.

Nah, pekan lalu, saya ingin mencoba proyek foto Danbo dengan menggunakan kamera baru saya (Samsung NX300). Ada dua hal yang ingin saya coba, levitasi danbo dan tentu saja, aneka pose Danbo.

Kebetulan saya memiliki tiga buah Danbo (Danbo Amazon.jp, Danbo Taihenyoku Dekimashita, dan Danbo 7-Eleven), sehingga ketiganya dapat melakukan sesi foto bersama-sama.

Pertama, Danbo Taihenyoku Dekimashita ingin melakukan levitasi. Ini cukup sulit karena kecepatan terbang / jatuh yang cepat. Ternyata NX300 mampu menangkap gerak cepat Danbo seperti ini, sehingga terlihat melayang.

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Flying Danbo. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Selanjutnya, inilah aktivitas Danbo di hari libur. Salam Danbo.

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

Days of Danboard. Photo by Junanto, taken with Samsung NX300

 

Bauhaus, Klub Rock dengan Azas Kekeluargaan

Aksi Panggung di Klub Bauhaus / foto junanto

Satu hal menarik dari kehidupan malam di Tokyo adalah ragam klub live housenya. Di berbagai sudut kota, tersebar aneka live house yang memainkan bermacam musik. Kalau anda pecinta jazz, cobalah ke Ochanomizu. Beragam klub jazz dapat ditemui di sepanjang jalannya. Kalau mau coba yang agak berkelas, bisa ke Cotton Club atau Blue Note.

Tapi bagi pecinta musik rock, pilihannya lebih banyak. Semalam saya diajak oleh rekan Jane, Norman, dan Abid, menyambangi satu klub rock favorit mereka. Namanya “Bauhaus”. Klub kecil ini terletak di daerah Roppongi. Keunggulan Bauhaus dibanding klub lainnya adalah soal tema. Bauhaus mengangkat tema yang sesuai dengan umur saya, rock tahun 70 dan 80-an. Yeaaay!

Then We Rock !

Memasuki Bauhaus, Jane sudah langsung disambut hangat oleh Rio Takagi, wanita setengah baya dan penyanyi di klub itu. Kita diantar memasuki klub kecil yang terletak di lantai dua sebuah gedung tak jauh dari Hard Rock Café, Roppongi. Kehangatan penerimaan dan pelayanan personal adalah kelebihan Bauhaus.

Aksi Panggung Dave / photo junanto

Suasana kekeluargaan langsung kita rasakan di klub ini. Keunikan lainnya dari Bauhaus adalah mereka menerapkan “total football” live house. Artinya, mulai dari pelayan, juru masaknya, kasir, dan pemain musiknya, dilakukan oleh orang yang sama. Ya, mereka-mereka juga.

Semula saya tidak percaya. Namun saat melihat para pelayan menerima kami, mengajak ngobrol, menerima order, lalu naik ke atas panggung, dan memulai aksi rock, saya cukup terkejut. Waah, betul-betul live house “total football” nih.

Penampilan ciamik gitaris mereka, Kay-chan, patut diacungi jempol. Usianya mungkin sudah lebih dari 50 tahun. Tapi gaya bermainnya penuh semangat dan mirip anak muda. Kay-chan membuka penampilan dengan lagu “Jumpin Jack Flash” dari Rolling Stone. Suasana klub mulai menghangat.

Kita lalu berkenalan dengan Dave. Nah dia ini penyanyi baru di Bauhaus. Baru bekerja dua minggu. Ia melayani tamu, menjadi bartender, tapi sekaligus juga menjadi vokalis di club itu. Suaranya dahsyat. Ia menyanyikan lagu “Sweet Child O Mine” dari Guns and Roses dengan lengkingan yang luar biasa.

Usai menyanyi, Dave mampir di meja kita. “Saya dari Filipina, baru kerja di sini dua minggu” ujarnya membuka pembicaraan. “Mau pesan minum apa?”, tanyanya. Kita pun menyebut pesanan dan Dave mencatat, lalu mengambilkan minuman kita. Duduk sebentar di meja, Dave bilang, “Saya balik nyanyi dulu ya”. Iapun naik lagi ke atas panggung.

Diselingi minuman, kudapan, dan alunan musik rock 80-an, Bauhaus adalah sebuah oase di tengah rutinitas kehidupan kota Tokyo. Bukan hanya soal mendengarkan musik, tapi juga suasana kekeluargaan.

Rio Takagi, sang penyanyi, tak lama kemudian menghampiri kami dan memberi tahu akun facebooknya. “Yuk, kita temenan di FB”, ujarnya. Tak seperti orang Jepang yang tertutup, ia justru sangat terbuka. Dan, kitapun semua berhubungan pertemanan dengan Takagi-san melalui jejaring Facebook.

Sebelum pulang, ia mengundang kita untuk datang pada penampilan band-nya di bulan Desember. Katanya ia akan manggung bersama rekannya, Seki Show, seorang pemusik Jepang yang cinta Indonesia.

Salam Bauhaus.

Yeaay We Rock !

Asia Masih Perkasa di 30 Tahun

Asia XXX Tour 2012 in Japan / photo junanto

Bagi anak rock tahun 80-an, Asia bukan nama asing lagi. Inilah salah satu supergrup progressive rock Inggris yang masih berkibar hingga saat ini. Beranggotakan bassist/vokalis John Wetton (mantan personil King Crimson, Uriah Heep), Gitaris Steve Howe (mantan personil Yes), keyboardist Geoff Downes (mantan personil Yes), dan drummer Carl Palmer (Emerson, Lake, & Palmer), Asia bukanlah grup sembarangan.

Di Shibuya Public Hall, Tokyo, semalam (25/9), Asia menggelar tur untuk memperingati 30 tahun usia mereka. Bukan hanya masih aktif menggelar tur, Asia juga masih menelurkan album baru di tahun 2012 ini. Album XXX (Triple X) merupakan album ke-13 yang mereka keluarkan sejak album pertama, Asia, dirilis pada tahun 1982.

Bersama mas Norman, yang notabene adalah juga anak rock  80-an, saya pergi menyaksikan penampilan Asia di Shibuya, Tokyo. Menyaksikan Asia malam itu adalah juga sebuah misi penghormatan dan keinginan untuk mendengarkan kembali tembang kenangan masa lalu dari sebuah supergrup kenamaan dunia, yang lagu-lagunya telah menginspirasi saya di masa muda dulu hehehe…

Dan, Asia memang tampil sangat mengesankan. Menggebrak dengan lagu “Only Time Will Tell” dari album Asia 1982, Asia mengguncang gedung Shibuya Public Hall dalam euphoria. Di Jepang, Asia memiliki penggemar fanatik yang selalu rutin menyaksikan Asia tampil. Para penonton bergoyang bersama, tentu dengan gaya seragam penonton Jepang, dan ikut menyanyikan aneka tembang Asia.

Setelah itu meluncurlah lagu-lagu kenangan Asia dari berbagai albumnya. Lagu Wildest Dream, Time Again, Don’t Cry, The Smile Has Left Your Eyes, Here Comes The Feeling, Sole Survivor, meluncur satu per satu dengan ciamik. Dari album terbarunya, XXX, Asia membawakan lagu “Face on The Bridge”.

Asia Concert Book XXX 2012 / photo junanto

Sungguh luar biasa melihat stamina dari para personil Asia yang tentunya sudah tidak muda lagi. Rata-rata mereka semua berusia 60 tahun. Vokalis John Wetton tahun ini berumur 63 tahun, gitaris Steve Howe berusia 65 tahun, Geoff Downes berusia 60 tahun, dan Carl Palmer berusia 62 tahun.

Tapi usia lanjut memang menunjukkan kematangan dan akumulasi pengalaman yang luar biasa. Meski mereka harus mengambil rehat di beberapa bagian dari penampilan, permainan masing-masing personil tak terbantahkan adalah kelas sebuah supergrup. Steve Howe menunjukkan kepiawaiannya memetik gitar solo dengan sangat ciamik. Petikan gitar klasik dan rock balad yang dimainkannya sungguh mendayu-dayu penonton. Seluruh penonton memberi tepuk tangan panjang sebagai penghargaan.

Carl Palmer memukau kita semua dengan penampilan solo drum-nya yang luar biasa. Drummer veteran ini telah menginspirasi banyak grup band masa kini serta para drummer dunia. Dengan segala improvisasinya, Carl Palmer menggebuk drum tanpa lelah, ia mengajak penonton ikut serta bertepuk tangan mengiringinya bermain drum. Sungguh luar biasa.

Pertunjukan malam itu ditutup dengan lagu legendaris Asia, “Heat of The Moment”. Sontak seluruh penonton ikut bergoyang, berdiri, dan menyanyikan bersama-sama lagu tersebut. Heat of the Moment memang lagu yang melegenda bagi setiap pecinta rock tahun 80-an. Lagu ini juga telah digunakan menjadi soundtrack di banyak film dan berbagai kegiatan musik. Di film kartun South Park, ada episode saat Eric Cartman (tokoh kartun) dan anggota kongres AS menyanyikan bersama “Heat of the Moment” dalam a cappella.

Heat of the Moment menutup penampilan Asia malam tadi. Menutup pula episode kenangan anak Rock tahun 80-an. Asia, grup progresif rock Inggris, menunjukkan bahwa grup musik yang mengusung kedalaman makna, penguasaan tekhnik, dan ketekunan, mampu bertahan mengarungi waktu. Meski usianya sudah 30 tahun, Asia masih perkasa. Lagu-lagunya pun akan tetap melegenda.

Salam Rock 80-an!

Asia-ers in Tokyo / photo junanto

Rita Dendangkan Lagu di Jalanan Tokyo

Bersama Rita dan Pak Teddy, usai penampilan Rita di Ikebukuro

Sebagaimana kota besar lain di dunia, pengamen di Tokyo adalah sebuah fenomena tersendiri. Mereka umumnya adalah anak muda Jepang yang menampilkan beragam jenis musik. Saya termasuk suka menyaksikan penampilan pengamen tersebut, atau istilahnya street live performance, karena kadang mereka tampil layaknya pemusik professional. Tempat paling mudah untuk menyaksikan pengamen di kota Tokyo adalah di sekitar stasiun-stasiun kereta.

Di depan stasiun kereta Ikebukuro tadi malam (7/8), pandangan saya terpaku pada satu pengamen yang lain dari biasanya. Wajah dan kulitnya bukan orang Jepang. Lagu yang dibawakan juga bukan hanya lagu Jepang, melainkan lagu barat dengan lafal yang sempurna. Suaranya jernih, melengking tinggi, dan bersih.

Di depannya, ia meletakkan secarik kertas dan beberapa helai brosur. Tertulis di sana namanya, “Rita Nishikawa, penyanyi dari Indonesia”. Wow dari Indonesia !!

Sayapun berhenti sesaat untuk menyaksikan penampilannya yang luar biasa. Suaranya yang jernih mencuri perhatian para pengunjung yang sedang lalu lalang. Beberapa orang berhenti dan terpana dengan suara Rita. Sepasang kakek nenek saya lihat terdiam saat Rita membawakan lagu-lagu dari Whitney Houston yang bernada tinggi.

Sekelompok anak muda Jepang sampai bergerombol dan duduk di depan Rita, bagai menyaksikan sebuah pertunjukan konser. Sambil menyanyi, Rita sesekali membagikan brosur berisikan nama dan asalnya. Beberapa dari penonton juga diminta menuliskan kesannya pada kain putih yang digelar oleh Rita.

Penampilan Rita di Ikebukuro / photo Junanto

Usai konser, saya menghampiri Rita dan berbincang-bincang singkat. Rita Nishikawa memang orang Indonesia. Ayahnya orang Padang asli, sementara ibunya orang Jepang. Tapi  penampilan Rita lebih mirip orang Indonesia ketimbang Jepang karena kulitnya yang coklat dan wajahnya lebih mirip melayu. Rita sendiri lebih merasa Indonesia daripada Jepang.

Di Jepang, Rita adalah seorang pecinta seni. Ia hobi menyanyi dan bermain gitar. Melakukan pertunjukan jalanan (street live performance) atau ngamen, adalah bagian dari hobinya. Meski mengamen di jalanan, Rita bukan penyanyi karbitan. Di usianya yang 18 tahun saat ini, ia pernah belajar vokal di New York dan Los Angeles. Selama di Amerika Serikat, Rita juga mengasah kemampuannya menyanyi dengan manggung dari klub ke klub bersama teman-temannya dalam sebuah band.

Sekembali ke Jepang, Rita tinggal di Kyoto bersama ibunya. Untuk menyalurkan jiwa seninya, ia melakukan rangkaian tour “street live performance”, dari stasiun ke stasiun di berbagai kota. Minggu ini, hingga pertengahan Agustus 2012, Rita ngamen di Tokyo, setelah sebelumnya melakukan hal yang sama di Osaka.

Tampil mengamen di kota Tokyo tidak mudah. Ia juga harus kucing-kucingan dengan aparat keamanan. Mengamen memang bukan kegiatan legal dan diperbolehkan begitu saja. Beberapa kali ia sempat dihampiri polisi karena dilarang mengamen di tempat umum. Kalau demikian, biasanya ia akan melipat tempatnya dan pindah mencari tempat lain yang lebih aman.

Apakah Rita mengamen untuk mencari uang atau nafkah? Tidak. Ia mengamen bukan untuk mencari uang atau popularitas. Ia hanya ingin menyanyi dan menghibur orang. Ia berkata, “saya tidak menerima uang saat mengamen”.

Rita bernyanyi bermodalkan seperangkat portable sound system dan alat music player, untuk mengiringi lagu yang dibawakannya. Sesekali ia bernyanyi sambil menggunakan gitar, namun jarang ia bawa karena alasan repot menentengnya.

Rita Nishikawa tampil di jalanan Tokyo / photo Junanto

Sungguh menarik melihat ada pengamen Indonesia di tengah kota Tokyo. Saya kagum melihat penampilan Rita. Apalagi, Rita berani tampil di tengah keramaian masyarakat Tokyo yang terkenal cuek dan tidak peduli. Dan Rita mampu membuktikan, bahwa penampilannya yang baik, dapat menarik perhatian masyarakat Jepang, yang  tercermin dari respon mereka yang positif.

Melihat penampilan Rita malam itu, saya yakin, kalau Rita mau, ia bisa sukses di Indonesia sebagai penyanyi. Vokalnya yang bagus dan berciri “sekolahan”, garis keturunan Jepangnya, dan penampilannya yang menarik, bisa menjadi modal utama baginya untuk berkarir di Indonesia.

Namun Rita hanya menggeleng. “Belum pak”, katanya. Ia masih ingin mengejar passion-nya. Menyanyi di jalanan.

Baginya, dan juga bagi para pengamen lainnya di Tokyo, mengamen memang bukan sarana untuk mencari nafkah. Mengamen bagi mereka lebih pada bentuk ekspresi dan aktualisasi diri. Banyak di antaranya yang tidak mau menerima uang dari pengunjung. Mereka menyanyi, dan mereka bahagia.

Sukses selalu bagi Rita-san.

Film Indonesia Guncang Negeri Sakura

Bersama Takeo Kodera, GM Kadokawa Pictures Japan

Tak banyak film nasional yang mampu menembus bioskop-bioskop manca negara.  Beberapa di antaranya mengikuti festival film internasional, namun mungkin tak semua dibeli oleh distributor film asing untuk diputar di negaranya. Oleh karena itu, kita patut bangga apabila ada film nasional yang bisa tayang di bioskop-bioskop negara lain.

Pekan lalu saya diundang oleh Jane dan Leila dari KBRI Tokyo untuk memenuhi undangan dari Kadokawa Pictures, salah satu produsen dan distributor film terbesar di Jepang. Kadokawa Pictures berdiri sejak tahun 1945 dan telah memproduksi berbagai film Jepang, serta mengimpor ribuan film asing untuk disaksikan oleh penonton di Jepang.

Kadokawa Pictures mengundang kami untuk menyaksikan screening atau pemutaran khusus film Indonesia “The Raid”. Rencananya film The Raid akan diputar di Jepang pada akhir Oktober 2012. Bukan hanya di Tokyo, namun juga di bioskop-bioskop kota besar lain seperti Osaka, Kyoto, dan Nagoya.

Saya bertemu dengan Takeo Kadera, General Manager Kadokawa Pictures, di Studio Kadokawa yang terletak di kawasan Chiyoda, Tokyo.  Ia mengatakan bahwa selama tiga bulan ke depan, studionya akan mengundang berbagai pihak, terutama media, pengamat dan kritikus film, untuk menyaksikan pemutaran khusus film The Raid ini.

The Raid adalah film Indonesia pertama yang dibeli oleh Kadokawa Pictures untuk diputar di Jepang. Saat saya tanya mengapa ia membeli film ini, menurutnya film ini sangat menjanjikan dan penuh dengan adegan aksi yang luar biasa. Takeo-san melihat trailer film ini di Festival Film Cannes dan langsung jatuh hati. Tak sampai 10 menit, ia membeli film tersebut.

Setelah menyaksikan The Raid, Takeo-san melihat juga beberapa film Indonesia lainnya. Ia terus terang kaget dan kagum dengan banyaknya film Indonesia yang bermutu dan memiliki standar internasional. Apabila pemutaran The Raid ini meraih sukses, ia berencana untuk membeli film-film Indonesia lainnya. Ia telah memiliki beberapa list film yang akan dibelinya kemudian.

Pemutaran screening The Raid di Studio Kadokawa hari itu juga dipadati pengunjung. Kebanyakan mereka adalah media dan kritikus film. Padatnya pengunjung itu menunjukkan tingginya animo masyarakat Jepang. Menurut Takeo-san, umumnya screening film hanya dihadiri segelintir undangan. Tapi untuk The Raid ini justru membludak.

Liputan media di Jepang juga cukup agresif. Di berbagai blog dan media sosial Jepang, pendapat bermunculan yang menimbulkan rasa penasaran. Salah seorang kawan saya yang orang Jepang mengatakan rasa penasarannya, dan ingin segera menyaksikan The Raid begitu tayang di bioskop kota Tokyo.

Secara film, yang mungkin sudah banyak dibahas, The Raid bercerita mengenai penyergapan tim khusus polisi di sarang penjahat kelas kakap. Film ini, menurut saya, penuh adegan brutal dan kekerasan yang vulgar. Namun, adegan aksi martial arts-nya sangat indah dan menarik untuk ditonton para pecinta film laga.

Poster The Raid, atau Ze Raido, dalam lafal Jepang

Saat saya tanya apakah film aksi seperti The Raid ini sesuai dengan budaya Jepang yang keliatan kalem, Takeo-san mengatakan bahwa di Jepang justru ada komunitas pecinta film-film aksi dan laga. Ia optimis film ini akan meledak dan menjadi buah bibir masyarakat Jepang.

Semoga apa yang diharapkan Takeo-san itu menjadi kenyataan.

Industri film atau musik saat ini bukan hanya perkara tontonan dan dapat dianggap sepele. Di dunia global, film adalah bagian dari kekuatan “soft power, culture, and diplomacy” suatu bangsa. Banyak negara maju yang mengembangkan kekuatan film dan musik sebagai pilar perekonomian mereka. Bukan hanya soal nilai materi, tapi juga penyebaran budaya dan kreativitas suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas filmnya. Jepang dan Korea Selatan saat ini juga aktif menyebarkan “soft power” sebagai kekuatan ekonomi mereka.

Terlepas dari berbagai kontroversi dan pendapat mengenai film The Raid, kehadirannya di Jepang perlu kita beri apresiasi. Film ini telah membawa nama Indonesia dan menjadikannya buah bibir di penjuru kota Tokyo.

Mudah-mudahan akan lebih banyak lagi film Indonesia yang bisa diputar di Jepang dan tentu, di mancanegara. Sukses bagi para sineas dan film Indonesia.

Salam film nasional !

Diabolo, Grup Rock “Salary Man” Jepang

Penampilan Diabolo di Tokyo / photo junanto

Dibandingkan dengan musik pop-nya (J-Pop), musik rock Jepang kurang begitu populer di tanah air. Banyak dari kita mungkin mengenal Arashi atau AKB48, tapi tak banyak yang mengenal grup musik rock Jepang, seperti Crossfaith atau The Gazzete misalnya. Padahal, banyak event internasional rock yang diadakan di Jepang, seperti Fuji Rock Festival ataupun Summer Sonic Festival, yang juga menampilkan musisi rock Jepang.

Meski tidak terlalu populer di luar negeri, di kalangan anak muda Jepang, musik J-Rock tetap “happening”. Banyak anak-anak muda Jepang yang bukan hanya menggemari, tapi juga mendirikan grup indie dan kerap manggung di berbagai klub di seantero Jepang.

Akhir pekan lalu, kawan saya Kaneko-san mengundang saya untuk menyaksikan penampilan grup rock di Tokyo. Kebetulan yang bermain di grup tersebut adalah kawan-kawannya. Sebagai pecinta musik rock, ajakannya tentu tak saya sia-siakan. Namun saya diingatkan bahwa grup musik yang akan disaksikan adalah grup indie. Saya katakan bahwa saya justru senang datang ke klub house untuk menyaksikan penampilan grup indie. Rasanya lebih ekspresif gitu.

Diabolo, begitu nama grup musik tersebut. Mereka mengusung Japanese Rock sebagai aliran musiknya. Selama ini mereka secara rutin manggung dari klub ke klub di kota Tokyo. Saat saya menyaksikan penampilan mereka, saya langsung kagum dengan permainannya. Persis betul dengan musisi rock profesional. Vokalnya nyaring dan permainan instrumennya meraung-raung.

Penampilan Diabolo di Tokyo / photo junanto

Bersama Michan, vokalis Diabolo

Diabolo adalah grup band yang awalnya berdiri dari sekelompok teman sepermainan di wilayah Yokohama. Mereka adalah Misa-san pada vokal, Yukio-san pada bass, Daisuke-san pada gitar, Kouhei-san pada gitar, Hiroki-san pada keyboard, dan Tomo-san pada drum.

Sebagaimana disampaikan oleh Kaneko-san sebelumnya, keenam personil Diabolo tersebut adalah para “salary man”, atau sebutan bagi kaum pekerja di Jepang yang artinya “orang gajian” atau karyawan perusahaan.

Kelima personil Diabolo memang bekerja di berbagai perusahaan Jepang di Tokyo, seperti perusahaan IT atau elektronik. Meski bekerja sebagai salary man, sejak muda mereka memiliki hobi dan kecintaan yang mendalam pada musik rock. Oleh karena itu, usai bekerja, mereka berkumpul untuk berlatih band dan menyalurkan hobi mereka.

Di panggung, saya melihat Misha-san atau yang akrab dipanggil Mi-chan, tampil dengan vokalnya yang nyaring dan lantang. Diabolo membawakan empat lagu orisinal karya mereka sendiri, dan beberapa lagu J-Rock lainnya. Lagu karya Diabolo yang dibawakan adalah “Calling”, “Blue”, “Kirisane”, dan “Ai Ga Mahi Shisou”. Umumnya lagu tersebut bercerita soal hubungan antar kekasih dan cinta anak muda.

Usai menyaksikan Diabolo, saya menyempatkan diri untuk berbincang dengan para personil band di belakang panggung. Ke depan, Diabolo berencana untuk membuat album dan terus manggung. Melalui semangat indie,  mereka ingin tetap tampil optimal dan mempersembahkan yang terbaik bagi para penonton dan penggemar.

Usai menyaksikan penampilan Diabolo, saya berkata pada Kaneko-san bahwa saya sangat terhibur dengan penampilan mereka yang penuh semangat. Semoga Diabolo sukses selalu. Salam Indie Rock !!

Bersama Para Personil Diabolo

Orang Jepang Main Gamelan

Grup Langgamsari di Nippori Hall, Tokyo / photo Junanto

Di Jepang, seni karawitan adalah jenis hiburan berkelas tinggi. Masyarakat Jepang menikmati karawitan karena harmonisasinya yang universal dan suaranya yang lembut di telinga. Orang Jepang senang mendengarkannya karena mampu memberikan efek relaksasi dan menghilangkan stress.

Hal tersebut terungkap dalam bincang-bincang saya dengan Morishiga-san dari Grup Gamelan Lambangsari Jepang, usai pertunjukan mereka yang bertajuk “Gado-Gado Gamelan 2012”, siang tadi (3/6). Pertunjukan dilangsungkan di Nippori Sunny Hall, tak jauh dari stasiun JR Nippori, Tokyo.

Saya hadir diajak oleh sahabat saya Mas Kunta, orang Jogja pecinta musik karawitan, yang sedang menempuh studi di Tokyo. Hal yang menarik dari pertunjukan gamelan di Tokyo tadi siang adalah bahwa seluruh pemain gamelannya adalah orang Jepang asli, kecuali satu orang dari Indonesia.

Setibanya di Nippori Hall saya lebih terkejut lagi, karena aula yang berkapasitas sekitar 350 orang itu penuh sesak oleh pengunjung. Hampir semua yang hadir siang tadi adalah orang Jepang. Hanya beberapa orang Indonesia yang terlihat hadir di sana. Saya bertemu dengan mas Hardi, pejabat Pensosbud dari KBRI Tokyo, yang juga pecinta musik karawitan. Selain itu, saya bertemu sekitar delapan orang Indonesia lainnya.

Penampilan Grup Gamelan Lambangsari, yang telah berdiri sejak tahun 1985, sungguh luar biasa. Mereka memukau sejak awal penampilannya, baik dari sisi komposisi langgam, maupun cengkok pesindennya, yang terasa sangat sempurna. Junko Sahto, sang pesinden, adalah orang Jepang asli lulusan Tokyo National University of Fine Art jurusan Soprano Vocal. Ia membawakan langgam jawa dengan fasih dan indah.

Rata-rata pemain Grup Lambangsari adalah orang Jepang yang menempuh jurusan studi musik. Beberapa di antaranya lulusan Tokyo National University of Fine Art, dan banyak yang melanjutkan studi di STSI Surakarta. Tak heran penampilan mereka siang itu sempurna, dan terlihat bergaya “sekolahan”.

Langgamsari membawakan beberapa langgam tradisional, termasuk langgam dari Ki Dalang Nartosabdo. Selain membawakan gamelan Jawa, mereka juga menampilkan Ludruk Banyumasan yang diiringi oleh seni gamelan Banyumasan.

Ludruk Banyumasan oleh Langgamsari / photo Junanto

Ludruk dituturkan dalam bahasa Jepang, bercerita tentang sepasang suami istri yang ingin berlibur ke Banyumas. Dialog keduanya sangat kocak dan mengundang tawa para penonton.

Penampilan lain yang mengesankan adalah tarian “Janoko” yang juga dibawakan oleh seorang Jepang. Penari mampu membawakan lakon Arjuna tersebut dengan sempurna dan gerakan yang menawan.

Sebagai orang Indonesia, ada perasaan senang melihat seni tradisional bangsa kita dimainkan dengan sangat sempurna oleh bangsa lain. Tapi di sisi lain, saya juga merasa malu karena justru orang Jepang yang mempopulerkan seni gamelan ini di Jepang.

Di negeri sendiri, kadang anak-anak muda menganggap seni gamelan sebagai budaya kuno dan jadoel, alias “gak happening”. Animo anak-anak muda Indonesia pada seni karawitan dan tradisional Jawa juga terlihat  semakin surut.

Oleh karena itu, penampilan grup Langgamsari di Tokyo ini seolah menjadi sentilan bagi kita semua. Langgamsari, yang seluruh anggotanya berkebangsaan Jepang, justru aktif memperkenalkan musik gamelan pada masyarakat Jepang.

Selain di Tokyo, Langgamsari juga mengadakan tur gamelan ke berbagai kota di Jepang. Dalam berbagai penampilan, Morishiga-san secara menarik menyampaikan aneka cerita tentang gamelan dan musik yang dibawakan pada para penonton sehingga mereka mendapatkan informasi tentang gamelan.

Di Indonesia, grup musik Langgamsari telah berkolaborasi dengan banyak seniman seperti Didik Niniek Thowok dan Ki Purbo Asmoro. Dari berbagai kerjasama dan kegiatan tersebut, ketertarikan masyarakat Jepang pada musik gamelan terlihat semakin meningkat.

Di Nippori Hall Tokyo siang tadi, saya merasakan tingginya nuansa kecintaan orang Jepang pada kebudayaan Indonesia. Kalau orang Jepang saja begitu cinta pada Indonesia, sebagai orang Indonesia kita tentu harus lebih mencintai kebudayaan negeri sendiri.

Salam cinta budaya Indonesia.

Lewat Dolanan Anak, Niken Tembus Jepang

Bersama Niken Larasati dan Lukisan Dolanan Anak-nya

Kapan terakhir kali kita melihat anak-anak di Indonesia bermain conglak, petak umpet, atau gobak sodor? Pertanyaan itu diajukan oleh Niken Larasati, pelukis dari Yogyakarta, kepada saya saat bertemu dengannya di Graha Budaya Indonesia, Shinjuku, Tokyo beberapa hari lalu.

Niken datang ke Tokyo dalam rangka pameran tunggal lukisannya yang bertema “Dolanan Bocah Tradisional Indonesia”. Pameran tersebut diadakan hingga 16 Juni 2012, didukung oleh Jakarta Shimbun serta  Graha Budaya Indonesia yang dimotori oleh Seiichi Okawa, jurnalis Jepang yang memiliki kepedulian terhadap budaya Indonesia.

Saya sempat tertegun dengan pertanyaan dari Niken soal dolanan anak tadi. Permainan tradisional anak-anak memang sudah nyaris punah. Tak pernah lagi saya melihat anak-anak main petak umpet dan congklak. Anak-anak saya sendiri  bahkan lebih banyak bermain dengan game elektronik, handphone, ataupun bergaul secara online dengan rekan-rekannya di berbagai belahan dunia.

Pertanyaan dan kegelisahan Niken tentu sangat valid. Permainan anak tradisional bukan sekedar permainan saja, tapi memiliki filosofi yang dalam dan penuh makna. “Lukisan saya menggambarkan bagaimana anak-anak dulu masih bermain dengan manusia dan alam, sementara anak-anak sekarang bermain dengan mesin”, demikian kata Niken.

Niken merasakan kegalauan yang luar biasa saat permainan tradisional semakin terpinggirkan dan nyaris hilang ditelan zaman. Hal inilah yang mendorongnya untuk mengangkat dolanan anak tradisional sebagai tema lukisannya.

Permainan tradisional memang memiliki banyak keunggulan dibanding permainan anak sekarang. Permainan tradisional melibatkan aktivitas fisik yang lebih banyak sehingga membangun kematangan fisik seorang anak. Berlari, melompat, melempar bola, adalah contoh aktivitas tersebut.

Bermain memang sebuah hal yang terpenting bagi anak-anak. Lewat bermain, seorang anak memperoleh banyak pelajaran dan kesempatan besar melihat berbagai hal dalam hidup. Lewat dolanan tradisional, anak-anak terlibat dalam interaksi sosial dan emosi dengan teman bermainnya. Di situlah terjadi pembelajaran tenggang rasa, tahu aturan, pengembangan kognitif, hingga kemampuan menerima perbedaan.

Anak-anak yang aktif bermain dengan kawan-kawannya biasanya lebih matang dalam menerima perbedaan. Namun anak yang dibesarkan dalam kesendirian, jarang bergaul, dan hanya bermain dengan mesin, kerap selalu merasa dirinya benar dan sulit menerima perbedaan. Padahal dalam kehidupan ini, kita dihadapkan pada banyak perbedaan.

Niken juga mengatakan bahwa pada permainan tradisional masa lalu, anak-anak bisa bermain tanpa melihat perbedaan, seperti ayahnya siapa, agamanya apa, sukunya apa. Kita bermain bersama dengan segala perbedaan, meski teman-teman kita berasal dari beragam suku bangsa dan agama.

Hal itu benar sekali. Saya ingat betul saat kecil dulu masih sering melakukan permainan seperti petak umpet dengan berbagai jenis kawan. Ada teman dari Manado, Sulawesi, Sumatera. Ada yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha. Semua bermain bersama tanpa prejudice.

Ada sekitar 22 permainan anak-anak yang ditampilkan dalam pameran lukisan Niken di Tokyo. Atmosfer tradisional dikesankan di lukisan Niken dengan nuansa kemben dan batik pada anak-anak yang sedang melakukan permainan. Batik yang dilukiskan juga perpaduan dari berbagai jenis batik. Hal itu untuk menggambarkan perbedaan-perbedaan.

Main Bakiak, Lukisan Niken Larasati / photo Junanto

Main Jamuran, Lukisan Niken Larasati / photo Junanto

Ciri khas lain dari lukisan Niken adalah pola titik-titik yang berbentuk lingkaran sebagai dasar dari lukisannnya. Menurutnya, itu adalah gambaran kehidupan yang terus berputar dari satu titik ke titik lainnya, dan kita tak bisa kembali lagi ke titik awal.

Niken Larasati hanya seorang ibu rumah tangga. Ia tinggal di rumah kecilnya yang terletak di tengah sawah. Ia juga bukan pelukis besar dengan modal kuat. Sebelum melukis, Niken bekerja di pabrik kulit sepeninggal mendiang ayahnya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan menempa terus kemampuan melukisnya.

Tak pernah terbayangkan oleh Niken akan mampu melakukan pameran tunggal di Tokyo. Melukis awalnya hanya sebuah hobi bagi Niken. Ia lalu memajang berbagai lukisannya di dinding facebook-nya. Suatu hari, Seiichi Okawa melihat lukisan-lukisan Niken di facebook.

Tertarik dengan keunikan lukisannya, Seiichi Okawa menghubungi Niken dan bahkan berkunjung ke Jogja untuk melihat secara langsung lukisan-lukisannya. Ia menawarkan Niken untuk melakukan pameran di Tokyo. Namun proses untuk sampai ke Tokyo bukanlah jalan yang mudah. Dukungan pemerintah sangat sulit didapat. Apalagi Niken hanyalah seorang pelukis dari desa.

Berkat keteguhan dan ketekunan hati, Niken berhasil mendapat dukungan dari Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Beberapa perusahaan kemudian ikut mendukungnya untuk pergi ke Jepang.

Di Jepang, Niken mendapat sambutan yang luar biasa. Animo masyarakat Jepang  pada lukisannya cukup tinggi. Puluhan media lokal meliput pamerannya dan Niken muncul di halaman media-media berbahasa Jepang.

Niken juga didapuk menjadi pembicara dalam diskusi di depan warga Jepang di Tokyo, yang bertema tentang “Menjadi Pelukis, Ibu, dan Istri”, pada tanggal 31 Maret 2012. Ia juga mengajarkan beberapa kosa kata bahasa Jawa pada orang Jepang.

Kegigihan dan ketekunan Niken ini perlu kita apresiasi. Di tengah munculnya komersialisasi pada karya seni, termasuk lukisan, Niken masih mampu tampil dengan membawa sebuah prinsip dan idealisme. Ia juga mempu menunjukkan bahwa karya seni Indonesia mampu tampil di manca negara tanpa harus bergantung banyak pada pemetintah.

Niatnya hanya satu. Ia ingin mewariskan sebuah nilai, yang berasal dari permainan tradisional khas Indonesia, pada generasi penerusnya, dan juga  memperkenalkan budaya Indonesia pada dunia. Sebuah cita-cita yang sederhana tapi mulia.

Salam dari Tokyo.

Bersama Niken dan Seiichi Okawa

Seki-san, pemusik Jepang yang cinta Indonesia

Penampilan Seki-san di Tokyo / photo Junanto

Kemarin (19/3) saya diundang oleh Masaki-san, orang Jepang pemilik restoran Indonesia di Tokyo, untuk datang ke restorannya. Ia mengatakan bahwa malam itu akan ada acara “candle light dinner” yang juga menampilkan pertunjukan Seki Show, yang digawangi oleh Seki-san, seorang pemusik Jepang, instruktur musik, dan pengarang lagu yang mencintai Indonesia.

Di Jepang, Seki Show terkenal di kalangan penggemar musik etnik, karena aliran musiknya yang kerap menggabungkan unsur etnik dari berbagai daerah. Seki Show sering mengadakan pertunjukan keliling Jepang untuk menampilkan kepiawaiannya dalam memainkan berbagai instrumen tersebut.

Karena penasaran ingin melihat penampilan Seki Show, semalam saya datang ke Restoran Cabe milik Masaki-san. Saat tiba, saya melihat restoran telah penuh sesak oleh pengunjung. Beberapa orang yang datang bahkan rela berdiri di dalam restoran. Hal yang menarik adalah, hampir 99 persen yang hadir malam itu adalah orang Jepang. Hanya beberapa, termasuk saya, yang orang Indonesia.

Penampilan Seki Show malam itu luar biasa. Meski grup ini beranggotakan orang Jepang, aliran musiknya adalah kolaborasi. Mereka menggabungkan permainan gitar dengan alat-alat musik etnis Indonesia ataupun berbagai negara lainnya. Malam itu, gitar dipadu-padankan dengan permainan rindik, atau alat musik tradisional Bali. Suasana restoran Cabe malam itu, sungguh terasa bagai di persawahan Ubud, Bali.

Seki Show memang kerap bolak balik tampil di Jepang dan Indonesia. Mereka tampil dengan menggandeng seniman-seniman Bali. Seki Show pernah mempersembahkan seni kolaborasi yang memukau saat Pesta Kesenian Bali tahun 2010 lalu. Saat itu, Seki Show menggarap pertunjukan kolaborasi dengan Yayasan Seni Suar Agung pimpinan I Ketut “Pekak Jegog” Suwentra.

Sebagian besar warga Jepang yang hadir di restoran Cabe tadi malam, rata-rata pernah berkunjung ke Bali. Oleh karenanya, pertunjukan Seki Show membawa kenangan mereka akan romantisme Bali. Seki Show membawakan lagu-lagu andalan seperti “Burung” dan “Kokiriko Bushi”.

Penampilan menawan malam itu juga adalah dari bintang tamu, Michiko Nakamura. Michiko, yang juga seorang aktris Jepang, membawakan puisi tentang keindahan Bali. Sambil diiringi denting gitar, Michiko menceritakan indahnya Bali dengan segala budaya dan kesamaan unsur dengan budaya Jepang.

Michiko-san membawakan puisi Bali / photo Junanto

Para pengunjung seolah terbawa dalam kenangan indahnya masing-masing. Saya sempat berbincang dengan Yoko Kobayashi, yang hampir setiap tahun pergi ke Bali. Mendengarkan musik dari Seki Show, menurut Yoko, membawa pikirannya kembali ke pulau Bali.

Sementara itu, Yoka-san, warga Jepang yang tinggal di Sendagaya, mengatakan bahwa ia sangat mencintai Indonesia. Musik Seki Show seolah mengingatkannya pada masa-masa ia berkunjung ke Indonesia.

Acara malam itu memang bernuansa Indonesia. Masaki-san menyajikan set menu aneka makanan Indonesia yang terdiri dari ayam rujak, rendang, sate ayam, mie goreng, dan martabak. Semua disajikan dengan tatanan yang cantik dalam satu piring besar. Sambil mencicipi makanan, para pengunjung dibuai dengan suasana Bali dari Seki Show.

Dalam pertunjukan, Seki Show juga kerap mengucapkan kata-kata Indonesia seperti, “selamat malam”, “terima kasih”, “makanannya enak?”. Para pengunjung yang orang Jepang membalas dengan bahasa Indonesia yang baik.

Saat waktu istirahat, saya sempat berbincang dengan Seki-san yang ternyata menguasai bahasa Indonesia dengan sangat baik. Ia bercerita bahwa ia baru saja kembali dari Jambi. Di sana, ia melakukan studi observasi mengenai seni musik tradisional Jambi. Seki-san melakukan wawancara dan merekam berbagai alat musik tradisional Melayu Jambi, yang menurutnya sangat unik dibanding alat musik tradisional Melayu lainnya.

Seki-san mengatakan bahwa alat musik tradisional Jambi sangat layak tampil di Jepang karena kekhasannya. Ia sudah mencoba kolintang perunggu dan kayu, serdam, gendang melayu, dan cangor. Menurutnya, alat-alat musik tersebut sangat mungkin untuk dilakukan kolaborasi dengan alat musik lainnya karena ada kesamaan nada. Seki-san berencana memboyong pertunjukan seni musik Jambi ke Jepang, dan menampilkannya pada masyarakat Jepang.

Selain Jambi, Seki-san juga menjelajahi Aceh, Lhokseumawe, dan Takengon untuk melihat keindahan alam dan mempelajari budaya setempat.

Semangat Masaki-san, Seki-san, dan banyak orang Jepang di restoran Cabe tadi malam cukup membanggakan sekaligus mengharukan. Mereka tampil dengan semangat tinggi menunjukkan kecintaan pada Indonesia, tanpa meminta dukungan pemerintah ataupun masyarakat Indonesia yang ada di Jepang.

Mereka menyajikan makanan dan memainkan musik, semata-mata karena kecintaan pada Indonesia. Para pengunjung yang hadir juga ingin membangun kenangan pada keindahan dan keramahan orang Indonesia. Hal itu membuat pertunjukan malam tadi berlangsung dengan penuh kehangatan dan keakraban.

Salam dari Tokyo.

Bersama Seki-san

Bersama Michiko-san

 

Konser Perpisahan Judas Priest

Judas Priest "Epitaph World Tour" in Japan 2012 / photo Junanto

Inikah akhir kisah dari Judas Priest?

Tahun lalu, kelompok band heavy metal “gaek” Judas Priest mengumumkan kalau “Epitaph World Tour” akan menjadi konser perpisahan mereka. Bagi para penggemarnya, kabar itu terasa menyedihkan. Tak ada yang menyangka kalau band Judas Priest, yang berdiri tahun 1969, memutuskan untuk pensiun.  Meski vokalis Rob Halford mengatakan bahwa ini bukan akhir dari Judas Priest (mereka akan tetap membuat album dan sesekali tampil pada tur kecil), para penggemar global tetap tak dapat menahan emosi dan rasa kehilangannya.

Dan ikatan emosional itulah yang membuat stadion Budokan Tokyo tadi malam (17/2) tumpah ruah oleh para “Priest”, atau penggemar fanatik Judas Priest, yang datang dengan aneka atribut pecinta rock. Rangkaian Tour Epitaph, yang menjelajahi 120 tempat di seluruh dunia, termasuk Amerika Latin dan Asia, memang menjadikan Jepang sebagai salah satu tujuan konser. Judas Priest juga manggung di Yokohama, Kobe, Hiroshima, Nagoya, dan Fukuoka. Di Asia, selain Jepang, mereka juga manggung di Korea Selatan dan Singapura (sayang sekali tak sampai ke Indonesia).

Di stadion Budokan tadi malam, saya bersama mas Norman, sesama anak metal tahun 80-an, ikut larut bersama ribuan pecinta metal kota Tokyo. Bagi saya, Judas Priest adalah sebuah legenda. Mereka adalah klub band yang besar bukan di jaman internet dan tekhnologi seperti saat ini. Judas Priest justru tumbuh di masa informasi disebarkan dari mulut ke mulut. Hanya grup yang memiliki karakter kuat yang bisa tumbuh besar pada jaman itu. Judas Priest salah satunya.

Melihat usia para anggota Judas Priest, memang tak bisa dikatakan muda lagi. Rob Halford sang vokalis dan Ian Hill sang basis, berusia 61 tahun. Gitaris Glenn Tipton berusia 64 tahun. Sementara gitaris KK Downing telah mengundurkan diri tahun 2011 lalu karena alasan usia. Posisinya digantikan sementara oleh gitaris muda Richie Faulkner (satu-satunya di panggung yang berusia 30-an).

Penampilan Judas Priest di Budokan Tokyo tadi malam masih memukau. Rob Halford tampil dengan suara khas melengkingnya yang prima. Ia juga masih melakukan kebiasaannya mengganti-ganti kostum di setiap lagu. Mulai dari jaket kulit hingga jubah berkilau dikenakannya. Halford juga tak melupakan ciri khasnya menunggangi motor besar di panggung. Suara motor meraung-raung saat ia kemudikan, para penonton di Budokan langsung histeris.

Rock A Rolla / photo Junanto

Tata panggung, seperti penggunaan aksesoris rantai, cahaya, video, juga menarik meski terlihat minimal. Tapi hal yang paling terasa dari konser tadi malam adalah soal energi. Terasa sekali kalau para pemain cepat kehabisan tenaga. Saya melihat bagaimana gitaris Glenn Tipton berulangkali mencari waktu untuk istirahat di panggung. Beberapa kali ia harus berhenti lama antara dua lagu, sehingga ada jeda yang cukup panjang.

Penampilan Rob Halford sang vokalis juga menimbulkan kekhawatiran para penonton. Ia selalu menghilang ke belakang panggung, bukan hanya pada setiap pergantian lagu, namun kalau tiba gilirannya solo guitar-pun, ia menghilang ke sana. Saya agak khawatir juga dengan kesehatannya, mengingat usianya yang tidak muda lagi untuk jingkrak-jingkrak dan berteriak.

Rupanya bukan hanya saya, hampir seluruh penonton khawatir melihat Rob Halford beberapa kali menghilang seperti itu. Orang bule di sebelah saya sampai berteriak, “Hey, are you OK Rob? Pleeasee be OK Rob!”

Tapi terlepas dari itu, Judas Priest masih mencoba tampil sebaik mungkin untuk menghibur para penggemarnya. Menggebrak dengan lagu Rapid Fire, mereka membawakan tembang-tembang andalan dari  berbagai albumnya, seperti Sin After Sin,  Rock A Rolla, British Steel, dan Pain Killer. Lagu-lagu andalan seperti Turbo Lover, Breaking The Law, Living After Midnight, juga dibawakan dengan diiring koor seluruh penonton. Saat bagian akustik lagu “Diamond and Rust” dinyanyikan, ratusan senter kecil diangkat ke atas oleh para penonton. Mengiringi syahdunya lagu.

Konser Epitaph kali ini, sebagai sebuah pertunjukan, memang nampaknya bukan dirancang sebagai sebuah konser yang gegap gempita dengan segala kehebohan panggung. Bagi saya, dan penggemar lainnya, konser ini lebih sebagai sebuah tontonan emosional.  Dan di tataran itu, Judas Priest tampil mengesankan.

Perjalanan grup ini selama 40 tahun, dengan segala sejarah, kisah jatuh bangun, mulai dari cerita jaya hingga cerita kelam, memberi makna tersendiri bagi penggemarnya. Menyanyikan sekitar 20 lagu dalam waktu dua setengah jam, Rob Halford secara intim mengajak diskusi para penonton. Ia menceritakan banyak cerita di setiap lagu, baik sejarah maupun kisah di balik pembuatannya. Suasana malam itu lebih terasa seperti pertemuan akrab antara para penggemar dengan satu grup metal besar dan paling berpengaruh sepanjang sejarah.

Malam itu, saya pulang bersama dengan Masa-san, seorang pecinta metal dari Kobe. Ia mengikuti semua konser Judas Priest di Jepang, mulai dari Kobe, Tokyo, hingga Fukuoka. Baginya, konser Epitaph ini sangat emosional dan sentimental karena merupakan konser dunia terakhir Judas Priest.  Namun, kata Masa-san, meski Judas Priest akan “semi-pensiun”, lagu-lagu Judas Priest akan terus berkumandang di klub-klub heavy metal ataupun kamar-kamar para penggemarnya.

Salam Judas Priest dari Tokyo

 

Bersama Masa-san, Tokyo Priest / photo Junanto

 

Setlist Epitaph Tour, Tokyo, 17 Februari 2012:

Rapid Fire

Metal Gods

Heading Out to the Highway

Judas Rising

Starbreaker

Victim of Changes

Never Satisfied

Diamonds & Rust

Dawn Of Creation

Prophecy

Night Crawler

Turbo Lover

Beyond the Realms of Death

The Sentinel

Blood Red Skies

The Green Manalishi

Breaking the Law

Painkiller

The Hellion

Electric Eye

Hell Bent for Leather

You’ve Got Another Thing Comin’

Living After Midnight