Floating at Kawaguchi Lake

Last weekend, my best friend from Indonesia, Imam-san, came to Tokyo to visit me. We haven’t met each other for more than 5 years. So, I am really happy with his visit. To mark our reunion, we went together to Kawaguchi Lake for a weekend trip. Imam-san, My wife, and I went together to Kawaguchi. It’s about an hour drive from Tokyo.

Lake Kawaguchi is a beautiful lake near Mount Fuji, Japan. From this lake, we can see a serene and clear shape of mount Fuji (if the weather is good). Very beautiful.

Mount Fuji from Lake Kawaguchi

Imam and I then decided to do our levitation by the lake kawaguchi. It is a little difficult to do levitation together because you need to combine the same rhythm  and style :) … however, this is our double levitation.

Levitate Together by The Lake Kawaguchi

 

I did some other levitation by the lake. It seems like I am floating on the water. Yes, I am floating :)

Levitation by the Lake Kawaguchi

Floating by the Lake

Floating by The Lake

Floating at the Lake

We then decided to climb to mount Fuji. We stopped at 3rd Station to take some photographs. Here is my picture with Imam-san, but no levitation.

Best friend at the mountain

I tried to do some levitation at the mountain. Look, I am floating above the trees and fogs.

Floating above the trees

.... and the fogs

That was our experience to Lake Kawaguchi and Mount Fuji. Happy Levitating. Thank you for reading and stopping by.

 

 

 

Rasa Indonesia di Beppu

Lumpia dan Aneka Krupuk di Hot Mango / photo junanto

Setiap pergi ke luar negeri, saya selalu menyempatkan diri mencari restoran Indonesia. Banyak teman berkata, “Ngapain lu udah jauh-jauh ke luar negeri cari makanan Indonesia lagi”. Saya sependapat dengan perkataan teman tersebut. Kita memang perlu mencari makanan khas dari daerah yang kita kunjungi kalau ke luar negeri. Tapi alasan saya mencari warung Indonesia di luar negeri bukan soal makanan semata.

Saya kerap penasaran ingin mengetahui mengapa ada orang yang mau mendirikan restoran Indonesia di luar negeri. Berbeda dengan Thailand yang punya program “Thai Kitchen for the World”, di mana pemerintahnya mendukung 100 persen berdirinya restoran Thailand di seluruh dunia, urusan makanan di negeri kita masih dianggap sepele. Kalau ada orang yang ingin membuka restoran Indonesia di luar negeri, hampir dipastikan dilakukan atas keinginan dan usaha sendiri.

Oleh karena itu, saya selalu tertarik mendengar cerita mereka.

Perjalanan saya ke Beppu pekan lalu memberi satu lagi pengalaman tentang warung Indonesia di luar negeri, khususnya di Jepang. Beppu adalah kota kecil yang terletak sekitar 1000 km dari Tokyo. Di kota itu, jangankan pusat keramaian, bioskop saja tidak ada.

Saya sempat bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di sana. Mereka bilang kalau di kota itu memang tidak ada hiburan, sepi sesepi-sepinya. Alhasil kalau mau cari keramaian, mereka harus pergi dulu ke kota Oita, yang letaknya sekitar 30 km dari Beppu.

Tapi yang menarik, di kota kecil itu, ada satu warung Indonesia.

Suasana Bali di Warung Hot Mango / photo junanto

Saya menemukan warung itu secara kebetulan. Suatu malam, sepulang dari satu acara, saya berkeliling Beppu mencari makan malam. Mencari makan di tempat yang asing tentu agak sulit dan membutuhkan kecermatan khusus.

Tiba-tiba pandangan saya terpaku pada signboard yang bertuliskan “Pulau Bali”, dalam bahasa Jepang. Nama restorannya sendiri juga tidak otentik Indonesia, melainkan nama barat yaitu “Hot Mango”.

Sebelumnya saya tidak memiliki informasi tentang adanya warung Indonesia di sana, jadi saya tentu ragu. Karena ragu dan ingin memastikan, saya masuk ke dalam warung itu.

Di dalam warung, saya disambut oleh Mas Hery, demikian ia memperkenalkan diri. Rupanya ia adalah pemilik warung itu. Dan betul, warungnya 100 persen Indonesia. Mulai dari interior yang bernuansa Bali, seperti patung Bali, sarung, leak, hingga menu yang disajikan, semua Indonesia.

Hery mengatakan bahwa ia telah membuka restoran ini sejak tujuh tahun lalu. Awalnya, Hery lulus dari APU university jurusan pariwisata. Sejak lulus, ia didorong oleh keluarganya untuk membuka restoran Indonesia di kota Beppu. Animo yang tinggi dari masyarakat Beppu terhadap Indonesia menjadi satu alasan potensi dibukanya warung Indonesia.

Tapi membuka restoran Indonesia di Jepang bukan perkara mudah, apalagi dilakukan oleh orang Indonesia. Mungkin warung miliknya hanya satu-satunya resto Indonesia di Beppu, dan mungkin di Kyushu (pulau sebelah selatan Jepang).

Bermodal keberanian dan tekad, Hery dibantu oleh seorang temannya yang warga Jepang. Teman Hery tersebut sangat mencintai Indonesia, sehingga ia membantu segala hal terkait dengan administrasi dan perijinan membuka restoran di Jepang.

Setelah dibuka, sambutan masyarakat Beppu ternyata sangat baik. Menurut Hery, ada satu pasangan Jepang yang sering berkunjung ke warungnya sejak masa pacaran. Melihat aneka masakan dan nuansa Bali di warungnya, mereka berdua langsung jatuh cinta pada Bali. Keduanya kemudian memutuskan menikah, dan memilih Bali sebagai tempat bulan madunya. Kini, mereka masih rutin mengunjungi warung itu, sebagai kenangan akan masa-masa indah tentang Bali.

Menu yang disajikan di warung “hot mango” itu juga otentik Indonesia. Hery mendatangkan sendiri satu chef dari Indonesia untuk menjaga keaslian rasa. Saya memesan nasi goreng, mie goreng, sate ayam, lumpia, dan gado-gado. Tak lupa disajikan pula aneka kerupuk dan emping.

Wah, rasanya enak sekali.  Mantab dan sangat otentik Indonesia.

Nasi Goreng / photo junanto

 

Mie Goreng di Beppu / photo junanto

 

Sate Ayam di Beppu / junanto

Otentisitas rasa itu didukung oleh kemudahan mendapatkan bumbu masakan di Beppu. Banyak terdapat warung Asia yang di dalamnya menjual aneka bumbu Indonesia. Hmmm, siapa menyangka, di kota jauh yang terpencil di sebelah selatan Jepang, ada satu warung Indonesia yang dibuka.

Hery mengatakan bahwa sebagai bangsa Indonesia ia bangga bisa membawa nama Indonesia di luar negeri. Bukan hanya itu, dengan warungnya, banyak orang Jepang yang kemudian jatuh cinta pada Indonesia, lalu berkunjung ke Indonesia.

Makanan ternyata bukan perkara sepele. Ia bisa memberi makna lebih dari sekedar sebuah sajian. Diplomasi kuliner dari Mas Hery di Beppu, perlu kita acungi jempol.

Salam makanan Indonesia.

Bersama Mas Hery, pemilik Warung Indonesia di Beppu

Preman Blok M di Melbourne

(Old Posting) Tulisan ini saya re-post dari blog saya di tahun 2006. Sebagai file saya atas restoran Indonesia di luar negeri yang pernah saya coba.

Pak E di warungnya di Melbourne / photo junanto

Siapa bilang preman ga punya masa depan? Pak E alias Sisco yang bernama asli Siswanto Wiropuspito adalah preman insyaf yang membangun kembali masa depannya. Mantan Pengamen Jalanan dan Preman Blok M di tahun 1996 itu, kini sukses mengelola Restoran Blok M di Melbourne, Australia. Nama Blok M dipilih untuk mengenang masa lalunya yang kelam. Kalo pas lagi mampir di Melbourne, silakan sambangi warungnya yang terletak di Commercial Road, Prahran. Pak’E yang dulu bolak balik keluar penjara, pengedar narkoba, dan pencopet, menjalankan usaha restonya itu dengan bermodalkan semangat dan kerja keras. Selain memasak, ia juga kerap menghibur tamunya dengan menyanyikan lagu-lagu jalanan.

Saya mampir ke warungnya di Melbourne untuk merasakan cita rasa Indonesia di sana. Saat saya tiba di warungnya yang kecil, namun penuh dengan nuansa etnik Indonesia,  sederetan menu disajikan untuk dipilih. Satu hal menarik dari menu-menu di warung Blok M adalah nama-namanya yang unik. Lumayan juga buat menghibur diri serta mengobati kerinduan pada jajanan tanah air.

Nama-nama makanannya antara lain, Gule Tikus Blok M, Nasi Goreng Wong Edan, Gudeg Mbah Maridjan, Ikan Bakar SMS (Sarana Menuju Selingkuh), Lontong ATM (Anak Tampang Mesum), Soto Gempa Bumi, dan minuman spesial Wedang Jahe Bakar.

Resto milik Pak E ini keliatan lebih kumuh. Sebenarnya ia bermaksud memberikan suasana asli Blok M di situ. Namun karena kelihatan kumuh, petugas Higienitas dari Departemen Kesehatan Australia pernah memerintahkan restoran ini untuk ditutup karena tidak memenuhi prosedur higienitas mereka. Tak mau menyerah, Pak E mengundang mereka datang dan mencicipi tongseng kambing olahan Pak E. Bukannya malah ditutup, para petugas itu malah terpesona dengan rasanya yang begitu ’mak nyuus’.  Dan yang mengejutkan, petugas tersebut keesokan harinya mengajak keluarganya makan di situ. Bahkan, saat anaknya ulang tahun, acaranya dirayakan restoran milik Pak’E. Restoranpun batal ditutup hehehe.

Pak’E merasa bersyukur dengan kehidupannya sekarang. Selama sepekan resto ini menghasilkan lebih dari 7000 dollar Australia atau sekitar Rp49 juta. Resto ini juga menjadi langganan para pejabat, selebritis, dan tokoh-tokoh Indonesia apabila mereka sedang berkunjung ke Melbourne. Hal itu tampak dari foto-foto yang dipajang di seantero dinding restaurant. Jadi, benar kata orang bijak, jangan menyepelekan makanan. Selain bisa mengharumkan nama Indonesia di luar negeri, lewat makanan pula, pak’E membangun kembali masa depannya. Salam.