Floating Peacock Dancer

Indonesian School in Tokyo is celebrating its 50th anniversary today (23/6). One thing I love from the anniversary is the performance of Indonesian Traditional Dances, and one of my favorite dance is “Peacock Dance” or Tari Merak which originated comes from West Java.

The dance was performed by Ms Rina, Ms Nabila, and Ms Cindy, teacher and students of Indonesian School in Tokyo.

Here they are, the Peacock Dancers ….. as I shoot it.

The Peacock Dancer / photo Junanto

After the dance, Ms Rina and Ms Nabila were eager to do some levitation photography. A bird should fly isn’t it? So, they try to float in the air.

Here are their photos .. They really can fly :)

Flying Peacock

Oh My Peacock is Flying / photo junanto

Golden Peacock can Fly / photo Junanto

I hope you enjoyed the dance and the levitation. Thanks for stopping by.

 

Di Tokyo, Masih Adakah Cinta?

Gerbong Khusus Wanita di Tokyo / photo Junanto

Tokyo, dan mungkin juga kota lainnya di Jepang, bukanlah kota yang romantis. Selama tinggal di kota ini, saya hampir tidak pernah melihat suasana romantis di jalan-jalan. Jarang sekali saya melihat sepasang kekasih atau suami istri yang jalan bergandengan tangan, berpelukan, atau saling memandang mata dengan hangat. Kaum pria dan wanita di kota ini secara umum tampak dingin, bahkan cenderung tanpa ekspresi.

Seorang kawan wanita bercerita, bahwa di Tokyo ini, betapapun kita tampil menarik, tak ada lawan jenis yang melirik. Para pria disini bergeming, meski ada perempuan cantik di hadapan mereka. Para wanita demikian pula, tak ada reaksi saat melihat pria ganteng dan keren di depannya. Mungkin satu dua ada pengecualian, tapi secara umum itu jarang terjadi. Di jalan, kereta, bis kota, saya perhatikan semua orang duduk diam tanpa ekspresi, atau asyik dengan telpon, buku, atau kesibukan masing-masing.

Saat makan siang, saya kerap keluar kantor ke restoran-restoran yang ada di sekitar wilayah Marunouchi. Saya perhatikan, kaum lelaki bergerombol bersama lelaki, sementara yang perempuan bergerombol bersama perempuan. Doryou atau rekan kerja, terlihat saling bicara dan tertawa di berbagai warung udon, sushi, atau tempura. Tapi jarang sekali saya melihat pria dan wanita bersama-sama dalam satu kelompok, sebagaimana sering saya lihat di Jakarta, atau kota lain di dunia.

Hubungan pria dan wanita di Jepang memang unik dan penuh kisah. Tradisi masyarakat samurai atau bukeshakai telah membentuk cara pandang pria terhadap wanita, dan demikian pula sebaliknya. Ada ungkapan lama di Jepang yang kira-kira bunyinya “Daidokoro wa onna no seiiki” atau dapur adalah tempat bagi perempuan. Dengan demikian, tugas perempuan, sebagaimana di Jawa jaman dulu, adalah macak, masak, dan manak (berdandan, memasak, dan melahirkan) .

….. kisah lengkap cerita ini bisa dibaca juga di buku “Shocking Japan: Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan”

Hari Undokai dan Jiwa Japan Inc

Tim Merah (Akagumi) mengibarkan bendera di Undokai / junanto

Akhir pekan lalu, saya diminta anak saya untuk hadir ke sekolahnya, di SD Fudo Tokyo. Ia mengundang saya untuk menyaksikan acara “undokai”. Sebenarnya sudah sejak jauh hari dia wanti-wanti agar papanya tidak bertugas di hari libur. Dan syukurlah, hari itu jadwal saya pas kosong, sehingga bisa memenuhi janji menyaksikan acara “undokai”.

Undokai adalah Hari Olah Raga, atau Hari Atletik, yang diselenggarakan di SD atau SMP Jepang setiap tahunnya. Dalam undokai, seluruh anak, dari kelas 1 hingga 6 SD berpartisipasi meramaikan festival itu. Guru, murid, dan orang tua sangat serius menyelenggarakannya dan turut aktif di acara ini dari mulai hingga selesai.

Saya mulanya berpikir acara ini tak jauh beda dengan acara keriaan atau festival olah raga di negeri kita. Namun setibanya di sana, saya menyadari ada beberapa perbedaan mendasar dan menarik untuk dicermati. Di undokai itu, saya bukan sekedar melihat sebuah acara olah raga, melainkan sebuah tradisi yang mengakar panjang di satu bangsa.

Undokai diselenggakan pada seluruh sekolah di Jepang dengan model, aturan, bahkan teriakan yang hampir sama. Acara ini juga sangat formal dan diselenggarakan dengan persiapan yang sangat rapi dan teratur.

Pada pukul 8.30 pagi, seluruh siswa berkumpul di lapangan dan berpakaian seragam untuk mengikuti upacara. Anak-anak yang hadir dibagi ke dalam dua tim yang terlihat dari topi yang mereka kenakan. Ada yang menggunakan topi merah, dan ada yang topi putih. Warna itu menunjukkan kelompok tim mereka, ada tim merah (akagumi) dan tim putih (shirogumi).

Pidato pembukaan disampaikan oleh kepala sekolah dan perwakilan orang tua murid. Setelah itu diadakan pemanasan berupa senam, sebelum undokai akhirnya dimulai.

Pada prinsipnya, undokai adalah pertandingan atletik, yang didominasi oleh lomba lari, antara tim merah dan tim putih. Setiap kelas dibagi dalam beberapa batch untuk diadu masing-masing. Di sela-sela pertandingan, anak-anak menampilkan aneka pertunjukan, mulai dari tarian, marching band, hingga penampilan puncak anak kelas 6 SD berupa piramida manusia.

Piramida Manusia oleh kelas 6 SD / junanto

Dari undokai tersebut, saya melihat ada ciri-ciri menonjol yang terbentuk dari anak-anak Jepang. Dan ciri itu terbawa hingga dewasa, bahkan tercermin di perusahaan-perusahaan Jepang.

Ciri itu adalah kolektivisme atau orientasi pada kerja tim. Setiap anak di tim undokai tidak pernah menonjolkan diri sendiri. Kalau berhasil mereka selalu mengatakan itu berkat kerjasama tim. Sementara kalau gagal, mereka merasa kurang berbuat baik bagi tim.

Kalau ada satu anak kita puji, “Waah kamu hebat ya!”, mereka akan otomatis mengatakan “Iiiiiie (dengan intonasi panjang)”, yang artinya, bukaaan. “Ini semua terjadi berkat kerjasama tim”, begitu kata mereka menyambung. Tidak ada anak yang berusaha menonjol dalam undokai, dan para orang tua juga tidak ingin menonjolkan anaknya masing-masing. Tidak ada juga yang berkata, ” Siapa dulu dong bapaknyaa!”. Yang ada adalah semua lebur dalam kerjasama tim.

Saya melihat hal itu juga terbawa hingga dewasa. Orang Jepang dalam bekerja selalu kolektif dan mendahulukan tim. Ada pepatah Jepang yang mengatakan, “Burung Elang yang menunjukkan kukunya, akan dipukul”. Ini artinya bahwa kita dianjurkan untuk tidak menonjolkan diri.

Memang kalau direnungkan, saat ini tak banyak lagi nama entrepreneur Jepang yang menonjol, selain nama-nama lama seperti Honda atau Toyota. Berbeda dengan Amerika atau Eropa yang memiliki banyak nama menonjol, seperti Steve Job, atau Bill Gates misalnya. Padahal, produk Jepang ataupun aneka budaya Jepang mengepung kehidupan kita sehari-hari.

Selain soal kerjasama tim, ada satu hal menarik lagi yang saya catat saat undokai. Murid-murid yang lebih tua terus menerus meneriakan semangat pada yang muda. Mereka berteriak “Gambatte! Gambatte!” dan meminta adek-adeknya untuk memberikan yang terbaik bagi tim.

Selain filosofi kerja keras tanpa menyerah yang sudah menjadi ciri khas Jepang, di undokai ini saya melihat sistem senior-junior yang sangat kental di Jepang. Di perusahaan Jepang, mereka menyebutnya dengan sistem “sempai-kohai”.  Mereka yang senior harus membimbing yang junior, dan yang junior harus menghormati yang senior. Di Jepang, senioritas memang sangat penting.

Undokai ini juga dilakukan tanpa pandang bulu bagi semua anak di Jepang. Sejak kecil kelihatannya anak-anak tidak dimanja dengan berbagai fasilitas. Untuk persiapan undokai ini, anak-anak berlatih sekitar satu bulan sebelumnya. Mereka juga setiap hari berlatih fisik. Tak heran kalau orang Jepang fisiknya kuat-kuat (ingat tim bola Samurai Blue dan Nadeshiko).

Hari itu, undokai ditutup pada pukul 14.30 sore (tepat waktu sesuai jadwal yang dibagikan, sebagaimana kebiasaan orang Jepang). Tim merah keluar sebagai pemenang.

Setelah pembagian hadiah, Kepala Sekolah menyampaikan pesannya. Satu pesan penting yang disampaikan adalah, “Tidak ada keberhasilan yang instan, semua butuh ketekunan, kerja keras, dan kesabaran. Oleh karena itu, Jangan Pernah Menyerah, Gambatte Kudasai!”.

Di Undokai hari itu, saya melihat sebuah tradisi panjang yang tercetak dalam kehidupan bangsa. Hari itu, saya melihat jiwa Japan Inc. yang tertanam sejak dini, dalam semangat  kebersamaan dan nation building yang kuat. Tak heran kalau Jepang hingga saat ini masih menguasai tekhnologi dunia.

Salam.

Lomba lari di undokai / junanto

Levitation Photowalk around My Neighborhood

Inspired by Natsumi Hayashi in yowayowacamera.com, I held a levitation photowalk around my neighborhood in Meguro, Tokyo. I love doing levitation in my leisure time as it is a great way to express myself as a free person.

I stopped off Rhinshinomori Park  on my way to the nishikoyama market. The park was so quiet and peaceful. It is nice to levitate here.

Tap water levitating at rhinshinomori park

Reach for the tree levitation

At the park, I saw many old men doing exercise and some kind of Taichi. So, I think I will have some levitating exercise on the park bench.

After the Taichi

I finally arrived at Nishikoyama station. I took some levitation photographs in front of the station.

Nishikoyama Station, Tokyo

Flying Without Wing at Nishikoyama Station

On my way back home, I stopped by at a secondhand bookstore. It was a very nice small shop selling many interesting books. I bought some photography books at a very cheap price. Before that, I did a levitating pose while reading the book.

Levitating while reading

That was my levitating photowalk project around my neighborhood. Keep levitating, keep passionate, and free yourself.

Thank you for stopping by.

 

Why Do I Levitate?

Natsumi Hayashi / photo by Junanto

Yesterday (6/16), I met Natsumi Hayashi during her exhibition of “Natsumi Hayashi Today’s Levitation” at MEM Gallery in Ebisu, Tokyo. Hayashi-san, who lives in Tokyo, is very famous for her levitation project. She presents photographs of herself looking light as air, shot mostly around the city. The images have earned her a respectable following on her blog (http://yowayowacamera.com), as well as on Facebook and Twitter.

Is she jumping to get a perfect pose? No, Natsumi Hayashi is not jumping.

She’s levitating.

Hayashi-san looks as if she’s doing a slow, lyrical dance through the air.

Her style has inspired many people in the world to do the same things.

“Why do you levitate?” I asked. She said that she has fantasies of escaping from the confines of gravity. “I wanted to express myself as an honest person ‘whose feet are not firmly planted on the ground’ by shooting myself being free of the gravity of the Earth,”.

“When I am free of the gravity inside the picture, I feel free of any obligation to the society and live without being bound to many things.”

That was inspiring.

Here are some of my levitation project, inspired by Natsumi Hayashi.

Keep levitating.

Thank you for stopping by.

Levitation Project / yowayowacamera and junanto

Mengambang Bersama Natsumi Hayashi

Natsumi Hayashi Levitation Project / yowayowacamera.com

Natsumi Hayashi adalah sebuah fenomena. Ia dikenal sebagai “the floating girl from Tokyo” atau gadis Tokyo yang bisa mengambang. Foto-foto dirinya yang sedang mengambang dimuat di website yowayowacamera.com dan menyebar luas ke seluruh dunia. Gaya berfoto Natsumi Hayashi kemudian banyak ditiru dan menjadi trend serta inspirasi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Tentu saja Natsumi bukan seorang yang memiliki ilmu mengambang dalam arti sebenarnya. Ia hanya meloncat ke udara kemudian dipotret dalam satu pose natural tertentu. Tekhnik fotografi seperti itu dikenal dengan nama levitasi. Levitasi murni tekhnik fotografi yang tidak melakukan manipulasi foto atau trik pada komputer atau software lainnya.

Berbeda pula dengan “jump shot” di mana ekspresi wajah dan tubuh seseorang terlihat  melompat, dalam tekhnik levitasi ekspresi tersebut harus terlihat natural. Hal inilah yang menjadikan seseorang kemudian terkesan mengambang dalam foto.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang levitasi dan alasan Natsumi Hayashi melakukan hal tersebut, siang tadi (17/6) saya bertemu dengan Natsumi Hayashi di Tokyo. Kebetulan hari itu adalah hari pertama dibukanya Pameran Fotografi bertema “Natsumi Hayashi Today’s Levitation”. Pameran berlangsung di MEM Galery, Ebisu, Tokyo, dari tanggal 16 Juni hingga 16 Juli 2012.

Bersama Natsumi Hayashi di Tokyo

Dalam kesempatan tersebut, Natsumi Hayashi bercerita tentang berbagai hal di balik proyek levitasinya. Sebagaimana dikenal, Natsumi melakukan program satu hari satu levitasi (One Levitation A Day) yang dimuat dalam yowayowa diary. Aneka foto yang dikumpulkan tersebut, kemudian dibukukan dalam satu buku yang bertajuk Today’s Levitation yang sekaligus diluncurkan hari ini.

Dalam melakukan berbagai pose levitasi, Natsumi mengambil tema kehidupan sehari-hari, seperti di taman, jalanan, kantor, gedung, restoran, bahkan di kereta api. Secara tekhnis, banyak cerita lucu yang ia ceritakan saat melakukan berbagai pose levitasi.

Menurut Natsumi, guna mendapatkan satu gambar yang sempurna, ia kadang harus melompat hingga 200 sampai 300 kali. Dengan kamera Canon EOS 5D dan Mark 2, Natsumi pada awalnya melakukan pose levitasi seorang diri dengan menggunakan shutter otomatis. Ia menyetel shutter selama 10 detik, kemudian lari dan meloncat. Namun kini, ia memiliki seorang fotografer yang membantunya melakukan berbagai aksi.

Natsumi bercerita bahwa ia pernah dikira orang gila karena meloncat-loncat sendiri di depan sebuah toko. Sang pemilik toko bahkan hampir memanggil polisi, sebelum kemudian Natsumi menjelaskan maksudnya loncat-loncat.

Kejadian lucu juga terjadi saat ia mengambil pose mengambang di depat mesin tiket stasiun kereta. Karena ia berkali-kali melompat, seorang tua merasa kasihan kepadanya karena dikira ia tidak memiliki tiket. Si orang tua menawarkan tiket kereta pada Natsumi.

Tekhnik foto levitasi juga bukan tanpa bahaya. Karena ingin mendapatkan satu pose yang sempurna, Natsumi meloncat terlalu tinggi di Taiwan dan jatuh. Ia harus sampai masuk rumah sakit untuk dijahit bagian dagunya karena robek. Selain bahaya, loncat-loncat juga memiliki dampak tidak baik bagi tulang. Oleh karena itu, Natsumi Hayashi secara rutin berkonsultasi dengan ahli tulang dan chiropracticer sebelum melakukan loncatan-loncatan.

Mengenai alasan Nastumi Hayashi melakukan levitasi ini, ia mengatakan bahwa gravitasi adalah sesuatu yang mengikat kita. Di manapun kita berada selalu terikat oleh gravitasi. Dilihat secara filosofis, manusia juga terikat oleh berbagai masalah, seperti rasa percaya diri yang kurang, rasa minder, stress, dan berbagai penyakit hati lain yang mengikat.

Levitasi adalah sebuah simbol untuk mengajak kita keluar dari berbagai jeratan tersebut. Levitasi adalah anti-gravitasi. Kalau dulu orang Jepang punya pepatah yang mengajarkan kita untuk menjejakkan kaki di bumi, atau dengan kata lain menjadi realistis, kini Natsumi justru mengajak sebaliknya. Ia mengajak kita membebaskan diri dari jeratan atau “to break our boundaries”.

Dalam kesempatan berbicara dengan Natsumi, saya menyampaikan bahwa di Indonesia tekhnik levitasi memiliki banyak penggemar. Bahkan kini ada satu komunitas yang bernama Levitasi Hore yang didirikan karena terinspirasi oleh dirinya. Mendengar hal itu, Natsumi Hayashi menyatakan kegembiraannya dan menyampaikan salam kepada rekan-rekan di komunitas Levitasi Hore ataupun bagi para penggemar serta pelaku levitasi di tanah air.

Pesannya, tetaplah melakukan levitasi, jangan menyerah. Tetaplah mengambang dan bebaskan diri kita dari jerat-jerat negatif yang mengikat diri. Salam Levitasi

Orang Jepang Main Gamelan

Grup Langgamsari di Nippori Hall, Tokyo / photo Junanto

Di Jepang, seni karawitan adalah jenis hiburan berkelas tinggi. Masyarakat Jepang menikmati karawitan karena harmonisasinya yang universal dan suaranya yang lembut di telinga. Orang Jepang senang mendengarkannya karena mampu memberikan efek relaksasi dan menghilangkan stress.

Hal tersebut terungkap dalam bincang-bincang saya dengan Morishiga-san dari Grup Gamelan Lambangsari Jepang, usai pertunjukan mereka yang bertajuk “Gado-Gado Gamelan 2012”, siang tadi (3/6). Pertunjukan dilangsungkan di Nippori Sunny Hall, tak jauh dari stasiun JR Nippori, Tokyo.

Saya hadir diajak oleh sahabat saya Mas Kunta, orang Jogja pecinta musik karawitan, yang sedang menempuh studi di Tokyo. Hal yang menarik dari pertunjukan gamelan di Tokyo tadi siang adalah bahwa seluruh pemain gamelannya adalah orang Jepang asli, kecuali satu orang dari Indonesia.

Setibanya di Nippori Hall saya lebih terkejut lagi, karena aula yang berkapasitas sekitar 350 orang itu penuh sesak oleh pengunjung. Hampir semua yang hadir siang tadi adalah orang Jepang. Hanya beberapa orang Indonesia yang terlihat hadir di sana. Saya bertemu dengan mas Hardi, pejabat Pensosbud dari KBRI Tokyo, yang juga pecinta musik karawitan. Selain itu, saya bertemu sekitar delapan orang Indonesia lainnya.

Penampilan Grup Gamelan Lambangsari, yang telah berdiri sejak tahun 1985, sungguh luar biasa. Mereka memukau sejak awal penampilannya, baik dari sisi komposisi langgam, maupun cengkok pesindennya, yang terasa sangat sempurna. Junko Sahto, sang pesinden, adalah orang Jepang asli lulusan Tokyo National University of Fine Art jurusan Soprano Vocal. Ia membawakan langgam jawa dengan fasih dan indah.

Rata-rata pemain Grup Lambangsari adalah orang Jepang yang menempuh jurusan studi musik. Beberapa di antaranya lulusan Tokyo National University of Fine Art, dan banyak yang melanjutkan studi di STSI Surakarta. Tak heran penampilan mereka siang itu sempurna, dan terlihat bergaya “sekolahan”.

Langgamsari membawakan beberapa langgam tradisional, termasuk langgam dari Ki Dalang Nartosabdo. Selain membawakan gamelan Jawa, mereka juga menampilkan Ludruk Banyumasan yang diiringi oleh seni gamelan Banyumasan.

Ludruk Banyumasan oleh Langgamsari / photo Junanto

Ludruk dituturkan dalam bahasa Jepang, bercerita tentang sepasang suami istri yang ingin berlibur ke Banyumas. Dialog keduanya sangat kocak dan mengundang tawa para penonton.

Penampilan lain yang mengesankan adalah tarian “Janoko” yang juga dibawakan oleh seorang Jepang. Penari mampu membawakan lakon Arjuna tersebut dengan sempurna dan gerakan yang menawan.

Sebagai orang Indonesia, ada perasaan senang melihat seni tradisional bangsa kita dimainkan dengan sangat sempurna oleh bangsa lain. Tapi di sisi lain, saya juga merasa malu karena justru orang Jepang yang mempopulerkan seni gamelan ini di Jepang.

Di negeri sendiri, kadang anak-anak muda menganggap seni gamelan sebagai budaya kuno dan jadoel, alias “gak happening”. Animo anak-anak muda Indonesia pada seni karawitan dan tradisional Jawa juga terlihat  semakin surut.

Oleh karena itu, penampilan grup Langgamsari di Tokyo ini seolah menjadi sentilan bagi kita semua. Langgamsari, yang seluruh anggotanya berkebangsaan Jepang, justru aktif memperkenalkan musik gamelan pada masyarakat Jepang.

Selain di Tokyo, Langgamsari juga mengadakan tur gamelan ke berbagai kota di Jepang. Dalam berbagai penampilan, Morishiga-san secara menarik menyampaikan aneka cerita tentang gamelan dan musik yang dibawakan pada para penonton sehingga mereka mendapatkan informasi tentang gamelan.

Di Indonesia, grup musik Langgamsari telah berkolaborasi dengan banyak seniman seperti Didik Niniek Thowok dan Ki Purbo Asmoro. Dari berbagai kerjasama dan kegiatan tersebut, ketertarikan masyarakat Jepang pada musik gamelan terlihat semakin meningkat.

Di Nippori Hall Tokyo siang tadi, saya merasakan tingginya nuansa kecintaan orang Jepang pada kebudayaan Indonesia. Kalau orang Jepang saja begitu cinta pada Indonesia, sebagai orang Indonesia kita tentu harus lebih mencintai kebudayaan negeri sendiri.

Salam cinta budaya Indonesia.

Ekonomi Moral di Gerbang Stasiun

Mesin Tiket di depan Stasiun Meguro, Tokyo / photo Junanto

Jika kita ingin menggunakan kereta api di Tokyo, kita harus membeli karcis ataupun menggunakan kartu tiket prabayar. Sebelum masuk ke platform kereta, karcis kita masukkan, atau kartu kita tempelkan, di mesin tiket, lalu gerbang akan membuka secara otomatis. Ada beberapa jenis kartu prabayar untuk membeli tiket kereta di Jepang, seperti Suica dan Pasmo.

Biaya tiket sekali jalan untuk kereta subway di Tokyo, antara 130 hingga 190 Yen, atau sekitar Rp.13 ribu hingga Rp.19 ribu. Untuk anak-anak, ada kartu khusus, sehingga bisa mendapat diskon yang lumayan. Anak-anak umumnya hanya membayar tiket sebesar 80 hingga 100 Yen.

Di mesin tiket stasiun itu, kepercayaan menjadi unsur utama. Artinya, kalau mau nekat, bisa saja kita menerabas masuk, utamanya kalau jam sibuk. Wong pembatasnya pendek, dan orang ramai. Tapi kalau itu berisiko, kita bisa mengakali dengan banyak cara. Dan itulah kejadian yang baru saja saya saksikan sendiri beberapa hari lalu.

Saya melihat seorang ayah dan anak di depan mesin tiket pintu masuk stasiun (kewarganegaraan saya rahasiakan). Cara mereka masuk platform sangat menarik. Saat mendekati mesin tiket, keduanya berdiri rapat depan belakang. Lalu keduanya secara bersamaan menempelkan satu kartu suica di mesin tiket. Saat pintu terbuka, bersama-sama mereka masuk ke platform.

Praktis, hemat, dan tentu, cerdas. Dengan bermodal satu tiket, ayah dan anak itu bisa naik kereta. Lebih menarik lagi, kartu suica itu memiliki bunyi yang berbeda untuk kartu anak dan dewasa. Dan yang terdengar saat itu adalah bunyi kartu anak-anak. Artinya, semakin praktis, hemat, dan cerdas.

Kalau saya hitung-hitung secara umum, misalnya diambil jarak standar, orang dewasa harus membayar 190 Yen. Sementara anak kecil hanya membayar 90 Yen. Kalau kita bisa masuk dengan sistem seperti bapak tadi, artinya kita menghemat 290 Yen untuk sekali perjalanan. Lumayan kan.

Bisa jadi angka 290 Yen itu sekedar uang receh bagi sebagian orang, tapi bisa jadi itu jumlah yang besar, kalau kita berkali-kali menggunakan kereta. Sebagai orang ekonomi, saya memahami ilmu ekonomi. Dalam filosofi ekonomi, azas pertukaran menjadi penting. Saya mendapat apa, dengan biaya berapa. Ekonomi finansial menghitung sesuatu secara Nett.

Dengan hitungan ekonomi, naik kereta menggunakan cara bapak tadi, dapat menghemat 290 Yen sekali jalan. Kalau pulang pergi, bisa hemat 580 Yen, atau sekitar Rp.58 ribu. Berapa coba kalau dihitung sebulan, atau bahkan setahun?

Betapapun saya tidak tahu apakah ada isu sistemik mengenai kejadian itu. Dalam arti, apakah pihak JR, otoritas transportasi di Jepang, pernah menghitung jumlah kerugian-kerugian kecil ini. Saya lihat penjaga tiket hanya memandang kosong sambil geleng-geleng saat ayah dan anak itu masuk dengan cara “cerdas” tadi. Saya rasa juga, mungkin ada satu atau dua orang Jepang yang melakukan hal sama, atau bahkan menerabas pintu.

Masalah menjadi menarik kalau kita menyoroti kasus ini dari sisi etika dan moral. Bapak ekonomi, mulai Adam Smith, hingga JM Keynes tak pernah memisahkan ilmu ekonomi dari kajian etika dan moral, bahkan untuk sistem kapitalis sekalipun.

Etika adalah sebuah telaah kritis tentang ajaran moral. Bisa jadi etika satu bangsa berbeda dengan bangsa lain. Demikian pula dengan moral, atau ajaran yang mengakar dalam budaya masyarakat sehingga diterima di lingkungan sebagai sesuatu yang luhur pada dirinya.

Moral mengajarkan banyak hal, seperti jangan mengambil yang bukan hak-nya, jangan menipu, hingga memberikan tempat duduk pada orang tua. Etika membekali kita ilmu untuk menilai sikap-sikap itu. Dengan memahami etika, kita bisa memilih, apakah perlu menipu atau tidak. Setidaknya kita punya penjelasan mengapa saya memilih bersikap demikian.

Baik di Indonesia, Jepang, atau negara lainnya, mencuri bukan sebuah ajaran yang dianjurkan. Makan di warung tidak bayar, ataupun naik kendaraan umum tidak bayar, dan mengakali cara supaya tidak bayar, juga bukan sebuah ajaran moral yang bisa diajarkan ke anak-anak kita.

Meski dari hitungan ekonomi, menerabas mesin tiket dengan sistem “two-in-one” tadi dapat dijustifikasi, dari sisi etika dan moral perilaku itu menyimpan problema. Moral apa yang akan diajarkan oleh ayah itu ke anaknya dengan cara yang dilakukan tadi. Karena, si anak pasti bertanya. Mengapa begini pak?

Kita mungkin menjelaskan bahwa itu hanya hal sepele? yang penting kita hemat? Selama bisa diakali kenapa tidak? Atau sekedar bilang, sudahlah nak, ikut ayah saja.

Tapi dari titik itu, anak akan belajar tanpa kita sadari, bahwa kita mengakali sebuah sistem demi kepentingan diri sendiri. Contoh ini lebih membekas ketimbang seribu petuah sang ayah pada anak itu setiap hari. Dan seiring dengan bertambahnya usia anak, ia mungkin saja akan menerapkan cara untuk mengakali sistem demi kepentingan pribadi, dan mengerikannya kalau ia sudah mengakali sistem hukum dan moral.

Di pintu gerbang stasiun kereta kemarin, saya termenung. Dari segi ekonomi finansial, perilaku ayah anak tadi mungkin tidak akan merugikan JR, atau negeri Jepang, yang assetnya triliunan dolar. Di sisi lain, ayah tadi juga mungkin tidak akan  bertambah kaya, hanya dengan menghemat 290Yen sekali jalan.

Tapi dari segi ekonomi moral, yang berlangsung di hadapan saya itu bukanlah pertukaran berdasarkan azas kebaikan dan keadilan, melainkan sebuah kebangkrutan moral, sebuah pertukaran ekonomi yang syarat etisnya tidak terpenuhi.

Di pintu gerbang stasiun, saya terhenyak. Saya berjalan pulang, meninggalkan tragedi kecil moral, dan kebanggaan seorang ayah, yang bagi saya sudah runtuh.

Salam galau.

Kita dan Absurditas Jepang

Jalur bis tanpa pembatas, tapi tdk ada yang menerabas / photo Junanto

Mungkin kita, termasuk saya sendiri, dibesarkan dalam kultur dan habitus penuh syak wasangka. Kita kerap memandang negatif terhadap apapun. Sejak kita keluar rumah, insting “alert” kita sudah menyala. Mulai dari copet, pengendara motor yang liar, pencuri kaca spion, hingga pengemudi mobil yang saling menyerobot.

Anak-anak kita pun diajarkan budaya syak wasangka sejak kecil, kita pesankan pada mereka untuk selalu hati-hati kalau ada teman yang iseng, orang lain yang jahat, hingga berbagai penipuan, baik melalui telpon, bbm, atau sms.

Hal ini tentu tak sepenuhnya salah, karena kita dibesarkan dalam lingkungan yang penuh prasangka. Kultur syak wasangka ini tentu tak muncul dengan sendirinya. Tingginya kasus penipuan, kriminalitas, dan kebiasaan “ngakalin” di negeri kita, menjadikan habitus itu tanpa kita sadari merasuk dalam pribadi kita, termasuk saya.

Kita, seolah memiliki kacamata “syak wasangka” dalam melihat segala sesuatunya. Sebagaimana dikatakan filsuf Immanuel Kant, dalam konsep imperative categoris-nya, “Kalau kaca mata kita merah, maka dunia terlihat merah di mata kita”.

Dalam konteks yang lebih luas, kaca mata ini terbawa dalam tataran bermasyarakat, dunia kerja, bahkan berpolitik. Dalam dunia kerja, hubungan antar Departemen, Institusi, bahkan sesama lembaga negara kerap dipenuhi syak wasangka. Akibatnya, banyak ketentuan, MoU, kesepakatan dibuat, agar kita bisa mengikat satu sama lainnya, dan tidak saling “ngakalin”.

Hal ini berkebalikan dengan di Jepang, setidaknya dalam pengalaman saya selama beberapa tahun ini tinggal di sini. Masyarakat Jepang memiliki paradigma sebaliknya terhadap sesama, yaitu berbaik sangka.

Masyarakat Jepang memegang filosofi yang dinamakan “Giri”. Ini adalah ajaran yang mendarah daging dalam setiap individu di Jepang. Giri sulit diterjemahkan secara harfiah. Tapi secara umum, “giri” dapat dirasakan sebagai sebuah kewajiban sosial setiap orang pada orang lain ataupun masyarakat.

Orang Jepang merasa bahwa mereka terlahir memiliki “hutang”, baik ke keluarga, masyarakat, ataupun lingkungan. Akibatnya mereka selalu menjaga hubungan bermasyarakat itu, tanpa menciderai sesama. Dengan demikian terwujudlah sebuah tatanan masyarakat dan kehidupan bernegara yang saling berbaik sangka.

Akibat perbedaan kaca mata atau paradigma antara kita dan orang Jepang, banyak kejadian lucu yang sering saya amati dari pengalaman saya mendampingi rekan Indonesia yang melakukan kunjungan di Jepang.

Dengan paradigma yang berbeda tadi, banyak pertanyaan, yang bagi saya atau kita di Indonesia, terasa wajar, tapi menjadi “absurd” bagi orang Jepang. Absurditas itu menyulitkan orang Jepang dalam menjawab pertanyaan kita.

Berikut beberapa pertanyaan yang sering kita tanyakan dan sempat saya catat. Pertanyaan disampaikan oleh kita (beberapa oleh saya) dan jawaban merupakan reaksi pertama dari  orang-orang Jepang yang ditanya (beberapa orang dari berbagai institusi).

Pertanyaan- pertanyaan #absurd : Kehidupan Sehari-hari

[Di Jepang sulit cari tempat sampah, akibatnya kita sering kebingungan membuang sampah]

Tanya (kita): “Kalau orang-orang Jepang itu buang sampah sembarangan di jalan, bagaimana? Hukumannya tegas gak?”

Jawab (orang Jepang) : “Loh, kenapa harus buang sampah sembarangan?”

[Di antrian panjang, banyak orang Jepang santai mengantri, bahkan ada yang sambil baca]

Tanya: “Eeh itu kok orang antri sambil baca, nanti kalau diselak orang bagaimana?”

Jawab: “Loh kenapa harus nyelak?”

[Saat melihat anak-anak di Jepang tepat waktu ke sekolah]

Tanya: … “Kok anak-anak itu bisa ya pada tepat waktu, memang kalau terlambat, apa sih hukumannya?”

Jawab: “Loh kenapa harus terlambat?”

[Banyak tempat parkir di Jepang tidak dijaga orang – atau hanya dibatasi besi pendek otomatis] ..

Tanya : “Kalau kita tidak bayar, atau pembatas besinya dirusak orang bagaimana?”

Jawab : “Loh kenapa harus gak bayar dan merusak?”

[Vending machine di Jepang diletakkan di tempat sepi, bahkan gelap kalau malam]

Tanya: “Waah asyik tuh banyak minuman ga ada yg jaga. Kalau dicongkel orang gimana nanti?”

Jawab: “Loh, kenapa harus mencongkel vending machine?”

[Di kereta komuter, melihat barang-barang berharga nyaris tidak dijaga dalam tas yang terbuka, atau dompet bersembulan]

Tanya: “Eh itu dompet-dompet nanti gimana kalau ada copet, atau diambil sama sebelahnya?”

Jawab: “Loh, kenapa harus ambil dompet orang?”

 

Absurditas di bidang Korporasi, Lembaga, atau Politik

 Tanya: “Kalau pimpinan (presiden, menteri, gubernur) sudah mengeluarkan keputusan, lalu tidak dilaksanakan di level tekhnis, apa hukuman atau perangkat di Jepang, agar keputusan itu bisa jalan?”

Jawab: “Loh, kenapa bisa tidak dijalankan?”

 Tanya: “Apabila terjadi gempa besar, lalu petugas yang seharusnya berjaga malah pulang ke rumahnya (kan punya keluarga), bagaimana dong? Nanti kacau?

Jawab: “Loh, kenapa mereka pulang?”

Tanya: “Kalau mesin pengumuman saat gempa mati, atau tidak nyala, bagaimana penanganannya?”

Jawab: “Loh, kenapa gak nyala? Kami tes setiap waktu”

[Soal koordinasi lintas departemen, atau direktorat]

Tanya: “Bagaimana koordinasi antar lembaga di sini. Apakah MoU perlu dibuat agar koordinasi bisa berjalan baik?”

Jawab: “Loh kenapa harus pakai MoU?”

Tanya: “Apakah MoU di sini ditandatangani level menteri, agar bisa jalan koordinasinya di level tekhnis”

Jawab: “Loh tadi kan sudah dijawab, buat apa pakai MoU?”

Pertanyaan yang wajar bagi kita, terlihat menjadi absurd di mata orang Jepang. Hal tersebut karena adanya perbedaan kaca mata yang tumbuh dari habitus dan kultur berbeda di masing-masing negara.

Akibatnya, banyak rekan-rekan yang kecewa dengan kunjungannya ke Jepang karena merasa ketentuan di Jepang tidak lengkap. Bagi yang merasa lebih baik, akan mengatakan bahwa negeri kita jauh lebih baik dari Jepang, karena memiliki ketentuan dan peraturan yang lebih lengkap dan tekhnis dengan sarana hukumannya.

Sementara yang lain, ada yang merasa malu, karena ketentuan kita mungkin lebih banyak, tapi jarang yang jalan di lapangan. Tulisan “Dilarang Buang Sampah” beserta hukumannya misalnya, ada di mana-mana kalau di Indonesia. Tapi sampah juga ada di mana-mana. Kebalikan dengan di Jepang yang jarang sekali ada tulisan-tulisan itu, tapi tidak melihat sampah di jalanan.

Mungkin benar yang dikatakan para pemimpin jaman dahulu, bahwa semakin beradab suatu negara, semakin sedikit peraturannya. Dengan demikian, lengkapnya ketentuan ataupun canggihnya peraturan menjadi relatif dalam membangun tatanan.

Ada hal yang subtil, atau tak terlihat, dari suatu masyarakat, yang menopang terwujudnya tatanan. Tanpa memahami ruh atau filosofi itu, kitapun akan terjebak dalam absurditas-absurditas.

Semoga kita dapat belajar dan memperbaiki diri. Salam absurd.