Ritual Siram Air di Jepang

Tradisi Uchimizu di Jepang

Saya berpikir bahwa lahir dan besar di Jakarta bisa membuat saya santai menghadapi musim panas di kota Tokyo. Tapi kenyataannya tidak demikian. Musim panas di Tokyo terasa lebih pengap dan sesak. Panas, tapi tidak ada angin sehingga kita terasa berada dalam ruang sauna raksasa. Suhu bisa mencapai 37 hingga 39 derajat Celcius di siang hari.

Tantangan semakin berat karena di musim panas ini saya dan umat Islam di Jepang sedang menjalankan ibadah puasa. Jadi kalau waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, berjalan di luar gedung adalah sebuah tantangan yang luar biasa.

Di sisi lain, Pemerintah Jepang telah mengeluarkan peringatan kepada seluruh masyarakat agar berhati-hati di musim panas ini. Kasus “heat stroke” atau serangan stroke akibat kepanasan banyak menimpa orang Jepang, khususnya orang tua dan anak-anak. Masyarakat dihimbau untuk berteduh di dalam ruangan dan tidak keluar bila panas menyengat.

Menyikapi musim panas itu, masyarakat Jepang punya ritual untuk meredakan udara yang panas. Salah satunya adalah dengan menyiram air ke jalanan, saat udara panas. Ritual itu dinamakan “Uchimizu”, yang berasal dari kata “Uchi” berarti melempar atau menyirami, dan “Mizu” yang berarti air.

Di wilayah saya berkantor, daerah Marunouchi Tokyo, pekan lalu dilaksanakan ritual uchimizu tersebut. Acara itu dinamakan “Tokyo Uchimizu Project 2012” yang disponsori oleh Menteri Lingkungan Hidup Jepang dan organisasi kemasyarakatan lain, serta perkantoran di wilayah Marunouchi.

Bersama Gadis-gadis Jepang Ber-yukata di Ritual Uchimizu

Baskom berisikan air untuk Uchimizu / photo junanto

Saya kebetulan ikut hadir di acara yang dilakukan di Jalan Gyoko, persis di depan Stasiun Kereta Tokyo. Jalan ini menghubungkan Stasiun Kereta Tokyo dengan Istana Imperial, tempat Kaisar Akihito dan Putri Michiko tinggal.

Saya bersama pengunjung, rata-rata wanita muda Jepang, mengenakan yukata atau baju tradisional mirip kimono yg dikenakan di musim panas. Kita yg hadir dibagikan baskom kayu dan gayung kecil, lalu bersama-sama menyiram air ke jalanan.

Hal yang bikin seru, ada juga yang menyiram air menggunakan sprinkler pemadam kebakaran (fire hydrant). Mungkin mereka berharap dengan disiramnya air dari fire hydrant tersebut, panas di kota Tokyo dapat cepat reda.

Acara dimulai, dan air disiram ke jalanan Gyoko. Semoga musim panas kali ini berlangsung baik-baik saja, dan kita semua dilindungi Yang Maha Kuasa, khususnya yang berpuasa.

Ritual Uchimizu yang Meriah

Bayi-pun ikut upacara siram air / photo junanto

Dan kodok pun ikut disiram di Uchimizu / photo junanto

そば打ち体験/ How to Make Soba 

そばのクラスです。

今日料理教室に参加しました。日本料理の教室です。初めてなので、面白かったです。初めてのクラスではそばを打ちました。

私はそばがだいすきです。暑いときにたべる冷たいそばはとてもいいです。でも、今までそばを食べたことはありましたが、打ったことはありませんでした。

最初は、そばうちは難しくないと思っていましたが、やってみると、とても難しかったです。とくに、そば粉をこねるのと、細く切るのが難しかったです。

そばこをこねる。

切ります。

そばです。

でも、難しいだけじゃありません。いろいろなことがおぼえられて、とても有意義な時間でした。もしかしたら、インドネシアに帰ったあとそば屋を開けるかもしれません。

終わりました。

いただきます!

English translation:
Today I joined a cooking class and learned how to make Japanese food.  I was so enthusiast. Today’s lesson was “How to Make Soba” (Japanese buckwheat noodles). I like Soba very much. However, up till now, I can only eat soba, not to make it. That’s why, I was so keen to  learn on how to make soba.  I thought it’s going to be an easy one, but it’s not. A bit complicated process. You have to mix the soba powder, cut thin slice of soba, and make the soup. Well, it was difficult for the first timer like me.
However, it is not only about difficulties. From the Soba Class, I learned many things. The experience is really worth it. Now I know how to make soba. Maybe, after I returned to Indonesia, someday, I will have a soba restaurant of my own. :D

Kuliner Peru yang Seru

Peruvian Night at Chef's Table, Azabu Juban

Pekan lalu, menjelang bulan puasa, saya dan rekan-rekan tim kuliner Tokyo mencicipi satu menu dahsyat yang unik. Sebagai variasi menu, Leila mengusulkan kita untuk mencoba menu yang lain dari biasanya. Mereka mengusulkan masakan Amerika Latin. Katanya ada beberapa restoran Peru di kota Tokyo yang lumayan populer. Kitapun semua setuju.

Leila dan Jane lalu browsing di internet dan menemukan satu restoran Peru di Azabu-juban. Nama restorannya Chef’s Table. Promonya, chef restoran ini mampu menyediakan masakan Peru dengan rasa otentik pegunungan Inca. Nah loh, kayak apa tuh rasanya. Penasaran. Pengen nyoba.

Dan sore itu, kitapun sepakat, untuk mengusung tema “Peruvian Night in Tokyo”. Saya, Jane, Leila, Norman, dan Abid, kebetulan sore itu luang waktunya. Biasanya tim kuliner ini lebih banyak lagi anggotanya, namun kadang kesibukan menghalangi kelengkapan tim.

Memasuki restoran yang berlokasi di lantai lima sebuah gedung, tak jauh dari stasiun kereta Azabu-Juban, kita langsung merasakan nuansa elegan dari sebuah ruang makan yang eksklusif. Ruangannya sempit, tapi sangat cozy. Furniture kayu dan kaca mendominasi ruangan. Begitu cozy hingga kita seperti bertamu ke ruang makan seseorang, alias sangat “homey”.

Restoran ini hanya menerima kita kalau sudah melakukan reservasi terlebih dahulu. Maklum ruangannya sangat sempit, hanya bisa memuat 12 orang. Jadi sang Chef melayani kita seperti tamu-nya sendiri. Sangat personal. Untuk menu juga demikian, bisa dirancang secara khusus. Mereka mengganti-ganti menu setiap pekan agar pengunjung merasakan variasi.

Kita disambut langsung oleh Takagi Keiji, sang Chef yang berperawakan besar. Saya selalu percaya ungkapan “Never Trust A Skinny Chef”. Jadi, saat melihat Chef Takagi yang berperawakan besar itu, I Really Trust Him 100%, kalau ia akan menyajikan makanan yang lezat.

Semula saya berpikir Takagi-san adalah orang Peru karena perawakannya yang besar itu. Tapi ternyata ia orang Jepang asli. Saya jarang melihat ada orang Jepang sebesar ini , selain para pemain sumo tentunya ya. Jadi pasti ia doyan makan, dan jago masak.

Takagi-san bercerita bahwa dulu ia bekerja di New Orleans, dan di sanalah ia belajar aneka masakan Amerika Latin.

Chef Takagi in action di dapurnya / photo junanto

Menu di Chef’s Table disajikan dalam bentuk set menu, terdiri dari sekitar enam urutan makanan yang mendegut lidah. Melihat nama dan definisinya saja sudah membuat liur kita menetes. Apalagi mencicipinya nih.

Chef Takagi malam itu membuka menu dengan dua sajian yang menggebrak. Pertama adalah starters, “Tropical Ceviche”. Menu ini penampilannya cantik. Ceviche adalah irisan ikan salmon, dibumbui dengan saus anggur, minyak zaitun, bawang merah, kacang, dan irisan alpukat. Makanan Amerika Latin memang kerap menggunakan alpukat sebagai bahan dasarnya.

Norman bercerita bahwa di Mexico semua makanan mengandung alpukat, tapi entah kenapa tidak ada jus alpukat. Rupanya di sana, alpukat termasuk ke keluarga sayur-sayuran dan bukan buah-buahan seperti di kita.

Tropical Ceviche / photo junanto

Menu starters lainnya adalah “Causa Rellena” atau Peruvian Potato Salad. Ini Salad khas Peru. Menu disajikan menarik, lapisan kentang puree klasik, diisi dengan tuna, kepiting, dan sayur-sayuran.

Kita mencicipi kedua hidangan ini. Satu suap. Semua terdiam. Betul terdiam. Enak. Enaaaak ….. Betul betul nendang rasanya, kata Jane.

Causa Rellena or Peruvian Potato Salad. Oishii !! / photo junanto

Campuran rasa kedua sajian itu begitu sempurna hingga aneka elemennya terasa subtil di mulut kita. Sungguh lezat. Kitapun larut dalam kenikmatan masing-masing.

Setelah itu, datang lagi menu pembuka lain (masih pembuka) yang berjudul “Empanadas”. Ini adalah kue pastry khas Amerika Latin yang berisi daging sapi cincang. Aduh, ini juga sangat mendegut ludah tiada henti. Mak nyus. Aneka campuran spice, herb, dan bumbu khas terasa di pastry maupun dagingnya.

Empanadas or Latin American Pies / photo junanto

Makanan pembuka lain (busyet ini menu pembuka kok banyak banget, berat-berat lagi), namanya “Piri-Piri Camarones”. Menu itu adalah oseng-oseng udang, dengan cabe kering, bawang putih, dan jamur. Diberi saus lemon dan irisan daun ketumbar. Luar biasa rasanya, aroma panas dari cabe kering dan ketumbarnya merasuk ke dalam udang yang lembut.

Piri Piri Camarones / photo junanto

Tibalah saatnya Main Course. Setelah perut 80 persen penuh tentunya hehe. Main course malam itu ada dua jenis, menu ikan dan daging sapi. Kita mencicipi dulu menu ikan. Namanya “Pescado Peruviano” atau Ikan dari Peru. Dahsyat sajian ikan ini. Irisan fillet sea bass yang ditaburi tepung jagung, disajikan dengan saus minyak zaitun dan lada. Aroma hangat lada sangat terasa, dan yang paling enak adalah terasanya butir-butir jagung dalam setiap gigitan. Menyatu dengan kelembutan ikannya. Hmmmppph, sungguh enak menu ini.

Pescoda Peruviano or Peruvian Fish / photo junanto

The beauty of Pescoda Peruviano / photo junanto

Waah, perut kita sudah 100 persen penuh, tapi sajian main course terakhir masih datang. “Peruvian Steak”. Ini adalah steak daging sapi dengan bumbu minimal, disajikan bersama kentang goreng yang disajikan unik, kentang dipotong berulir dan ditusuk sate, dan jagung rebus. Makanan ini sungguh dahsyat.

Peruvian Steak / photo junanto

The beauty of Peruvian Steak / photo junanto

Usai makanan ini, kita semua terdiam. Tak mampu lagi berkata-kata. Seolah tak percaya ada makanan Peru yang begitu seru di Tokyo. Umumnya makanan etnik atau asing di Jepang rasanya pas-pasan. Tapi yang ini, tak terbantahkan.

Di tengah kegalauan itu, datang lagi hidangan penutup. Oh no! kami tak kuat lagi. Tapi kata Takagi-san, menu itu ia sajikan special,  komplimen, karena tidak ada di menu. Kamipun tentu harus menerima kebaikan hatinya.

Dessertnya datang, dan sungguh sinful. Irisan brownies hangat dengan es krim dan buah-buahan segar. Wow, lezatnya. Sungguh terasa hingga bulir-bulir esnya. Walau perut sudah tak sanggup lagi, mulut kita terus mengunyah kenikmatan itu.

Brownies for Dessert / photo junanto

Usai makan, kita semua bertepuk tangan bersama, memberi applaus pada Chef Takagi atas sajiannya yang lezat dan tentu saja spesial.

Bagi saya, restoran ini bukan hanya menyajikan makanan yang lezat, tapi juga pelayanan istimewa dan personal dari sang Chef. Nah, kalau sesekali ingin coba makanan Seru di Tokyo. Datanglah ke Chef’s Table. Salam Peru Seru.

Buena Comida !

Buena Comida !

Menghirup Lavender Jepang

Bed of Lavender at Tomita Farm, Furano, Hokkaido / photo junanto

Lavender termasuk bunga favorit saya. Sayangnya, bunga itu hanya tumbuh di daerah tertentu saja. Biasanya lavender banyak tumbuh di perkebunan bunga wilayah selatan Eropa. Di Asia, jarang saya temukan perkebunan lavender.

Oleh karenanya, saat mendengar bahwa di Jepang ada perkebunan lavender, saya sangat tertarik untuk mengunjunginya. Seorang teman yang bekerja di Bank of Japan mengatakan bahwa di Hokkaido ada satu perkebunan lavender yang letaknya di kaki gunung. Tepatnya di kota Furano. Di sana kita bisa melihat satu bukit yang penuh dengan lavender. Katanya, “It is really a bed of lavender!”

Promosinya sangat menggoda. Dan apa yang dikatakannya sangat tepat. Saat saya tiba di kota Furano, hamparan bunga lavender tersebar di kaki-kaki gunung.

Saya pergi ke satu perkebunan yang besar dan terkenal, namanya Tomita Farm. Perkebunan itu didirikan oleh Tokuma Tomita pada tahun 1958, setelah mulai menggarap tanah dan menanam bibit lavender sejak 1903. Sejak itu, perkebunan ini tumbuh besar mencapai 230 hektar.

Pulau Hokkaido kemudian terkenal sebagai bagian penghasil lavender yang terkenal di Jepang. Banyak perkebunan lavender tumbuh dan berkembang di sana. Sayangnya di tahun 1970, Jepang menandatangani perdagangan bebas, dan produk lavender dari Perancis masuk ke pasar Jepang. Harga yang lebih murah dan kualitas yang lebih bagus dari lavender Perancis, memukul industri lavender  Jepang. Banyak perkebunan yang kemudian bangkrut atau gulung tikar.

Perkebunan Tomita termasuk yang kena dampaknya. Luas lahannya terus berkurang hingga tinggal 10 hektar saat ini. Namun, perkebunan Tomita masih bisa bertahan dan kini menjadi salah satu yang terbesar di Jepang.

Lavender di Tomita diolah menjadi aneka macam produk. Bunga lavender ini banyak manfaatnya, bukan hanya soal aromanya yang menenangkan, tapi juga bisa dipakai untuk mengurangi stress, sakit kepala, dan sakit lainnya. Bunga lavender juga bisa dibuat bumbu masak, dan bermanfaat untuk membantu masalah pencernaan.

Dark Purple Lavender / photo junanto

Di Tomita Farm, saya melihat mesin pengolahan bunga lavender untuk diambil minyaknya. Tahun 1990 lalu, untuk pertama kalinya Tomita mengeluarkan produk minyak wangi bermerek “Furano” dengan aroma lavender.

Menjelajahi Tomita Farm sangat menyenangkan, khususnya saat bunga lavender mekar di bulan Juli. Saya bisa menghirup harumnya aroma lavender, membeli aneka produk lavender, dan yang paling saya suka, mencicipi es krim lavender. Hmmm, kelembutan cream yang manis dan aroma lavendernya membuat  pikiran tenang, dan hati senang.

Di perkebunan ini ada enam bagian taman yang bisa kita lihat. Bukan hanya bunga lavender, namun aneka bunga juga terdapat di sini. Ladang Hanabito memuat bunga poppies, marigolds. Ladang Sakiwai memuat empat jenis spesies lavender yaitu, Okamurasaki, Yotei, Hanamoiwa, dan Ungu Gelap Noushihayazaki. Selain itu, ada ladang musim gugur, musim semi, tradisional lavender, dan ladang irodori yang berisikan aneka bunga warna warni.

Kalau sempat mampir Hokkaido di bulan Juli, saya sarankan mampir ke Taman Tomita Lavender, di kota Furano.

Hanabito Fields at Tomita / photo junanto

Lavender Soft Cream / photo junanto

Film Indonesia Guncang Negeri Sakura

Bersama Takeo Kodera, GM Kadokawa Pictures Japan

Tak banyak film nasional yang mampu menembus bioskop-bioskop manca negara.  Beberapa di antaranya mengikuti festival film internasional, namun mungkin tak semua dibeli oleh distributor film asing untuk diputar di negaranya. Oleh karena itu, kita patut bangga apabila ada film nasional yang bisa tayang di bioskop-bioskop negara lain.

Pekan lalu saya diundang oleh Jane dan Leila dari KBRI Tokyo untuk memenuhi undangan dari Kadokawa Pictures, salah satu produsen dan distributor film terbesar di Jepang. Kadokawa Pictures berdiri sejak tahun 1945 dan telah memproduksi berbagai film Jepang, serta mengimpor ribuan film asing untuk disaksikan oleh penonton di Jepang.

Kadokawa Pictures mengundang kami untuk menyaksikan screening atau pemutaran khusus film Indonesia “The Raid”. Rencananya film The Raid akan diputar di Jepang pada akhir Oktober 2012. Bukan hanya di Tokyo, namun juga di bioskop-bioskop kota besar lain seperti Osaka, Kyoto, dan Nagoya.

Saya bertemu dengan Takeo Kadera, General Manager Kadokawa Pictures, di Studio Kadokawa yang terletak di kawasan Chiyoda, Tokyo.  Ia mengatakan bahwa selama tiga bulan ke depan, studionya akan mengundang berbagai pihak, terutama media, pengamat dan kritikus film, untuk menyaksikan pemutaran khusus film The Raid ini.

The Raid adalah film Indonesia pertama yang dibeli oleh Kadokawa Pictures untuk diputar di Jepang. Saat saya tanya mengapa ia membeli film ini, menurutnya film ini sangat menjanjikan dan penuh dengan adegan aksi yang luar biasa. Takeo-san melihat trailer film ini di Festival Film Cannes dan langsung jatuh hati. Tak sampai 10 menit, ia membeli film tersebut.

Setelah menyaksikan The Raid, Takeo-san melihat juga beberapa film Indonesia lainnya. Ia terus terang kaget dan kagum dengan banyaknya film Indonesia yang bermutu dan memiliki standar internasional. Apabila pemutaran The Raid ini meraih sukses, ia berencana untuk membeli film-film Indonesia lainnya. Ia telah memiliki beberapa list film yang akan dibelinya kemudian.

Pemutaran screening The Raid di Studio Kadokawa hari itu juga dipadati pengunjung. Kebanyakan mereka adalah media dan kritikus film. Padatnya pengunjung itu menunjukkan tingginya animo masyarakat Jepang. Menurut Takeo-san, umumnya screening film hanya dihadiri segelintir undangan. Tapi untuk The Raid ini justru membludak.

Liputan media di Jepang juga cukup agresif. Di berbagai blog dan media sosial Jepang, pendapat bermunculan yang menimbulkan rasa penasaran. Salah seorang kawan saya yang orang Jepang mengatakan rasa penasarannya, dan ingin segera menyaksikan The Raid begitu tayang di bioskop kota Tokyo.

Secara film, yang mungkin sudah banyak dibahas, The Raid bercerita mengenai penyergapan tim khusus polisi di sarang penjahat kelas kakap. Film ini, menurut saya, penuh adegan brutal dan kekerasan yang vulgar. Namun, adegan aksi martial arts-nya sangat indah dan menarik untuk ditonton para pecinta film laga.

Poster The Raid, atau Ze Raido, dalam lafal Jepang

Saat saya tanya apakah film aksi seperti The Raid ini sesuai dengan budaya Jepang yang keliatan kalem, Takeo-san mengatakan bahwa di Jepang justru ada komunitas pecinta film-film aksi dan laga. Ia optimis film ini akan meledak dan menjadi buah bibir masyarakat Jepang.

Semoga apa yang diharapkan Takeo-san itu menjadi kenyataan.

Industri film atau musik saat ini bukan hanya perkara tontonan dan dapat dianggap sepele. Di dunia global, film adalah bagian dari kekuatan “soft power, culture, and diplomacy” suatu bangsa. Banyak negara maju yang mengembangkan kekuatan film dan musik sebagai pilar perekonomian mereka. Bukan hanya soal nilai materi, tapi juga penyebaran budaya dan kreativitas suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas filmnya. Jepang dan Korea Selatan saat ini juga aktif menyebarkan “soft power” sebagai kekuatan ekonomi mereka.

Terlepas dari berbagai kontroversi dan pendapat mengenai film The Raid, kehadirannya di Jepang perlu kita beri apresiasi. Film ini telah membawa nama Indonesia dan menjadikannya buah bibir di penjuru kota Tokyo.

Mudah-mudahan akan lebih banyak lagi film Indonesia yang bisa diputar di Jepang dan tentu, di mancanegara. Sukses bagi para sineas dan film Indonesia.

Salam film nasional !

Pak Tua Jiro dan Sushi Ter-enak Sedunia

Pak Tua Jiro (tengah) dalam Film Jiro Dream of Sushi / photo: Jiro Dream of Sushi

Buat teman-teman yang sempat mampir di Tokyo dan pernah saya ajak mencicipi sushi di pasar ikan Tsukiji, saya harus mohon maaf karena pernah meng-klaim sushi itu sebagai sushi ter-enak sedunia.  Rupanya betul apa kata pepatah, “di atas langit masih ada langit”, karena baru-baru ini saya menemukan lagi satu warung sushi legendaris, dan menurut saya masuk dalam kategori “die die must try” di Tokyo. Kalau yang kemarin itu ter-enak sedunia, mungkin sushi ini bisa di-klaim sebagai sushi ter-enak sejagat.

Sayangnya, tak mudah untuk bisa makan di situ. Selain soal harganya yang selangit, atau hampir 300 dolar AS untuk satu set sajian (sekitar 15 potong sushi), kita juga harus melakukan reservasi, minimal tiga bulan sebelumnya. Kalau langsung go-show, jangan harap bisa mendapat tempat duduk.

Warung itu bernama Sukiyabashi Jiro, yang dimiliki oleh seorang tua bernama Jiro Ono. Usianya 85 tahun. Warung, yang terletak di basement gedung daerah Ginza,  berukuran kecil dan hanya bisa memuat 10 orang saja. Meski kecil dan letaknya terpencil, warung itu sangat istimewa. Apa yang membuatnya istimewa?

Bukan semata soal rasa dari sushi, tapi juga soal kecintaan Jiro-san pada sushi. “Jiro terlahir untuk Sushi” dan “Sushi terlahir untuk Jiro”. Selama 75 tahun, Jiro-san mendedikasikan hidupnya untuk membuat Sushi. Ia adalah seorang Master Sushi Tingkat Dewa. Bukan hanya sekedar membuat sushi, tapi ia membuat sushi terenak sedunia.

Karena dedikasinya itu juga, pemerintah Jepang kemudian menobatkan pak Tua Jiro sebagai “National Treasure” Jepang untuk dunia sushi. Ia juga adalah satu-satunya chef di Jepang yang menerima tiga bintang dari Michelin Guide. Itu adalah penghargaan tertinggi di dunia kuliner yang diberikan oleh pihak Michelin Guide dari Perancis. Tak banyak chef yang mampu meraih penghargaan setinggi itu, apalagi untuk seorang chef asing.

Saya beruntung bisa bertemu dengan Yoshikazu-san, anak tertua dari Pak Tua Jiro, saat mengunjungi Sukiyabashi Jiro suatu hari. Wajah Yoshikazu mirip ayahnya, tegang, dingin, dan serius. Ia akan mewarisi warung Jiro, sepeninggal Jiro nanti. Yoshikazu-san bercerita bahwa selain warung kecil ini, adiknya mengelola satu warung lagi di daerah Roppongi. Katanya, antrian di Roppongi  tak sepanjang di Ginza. Kita bisa reservasi minimal satu bulan sebelumnya (lah itu sih lama juga menurut saya hehehe).

Kehebatan Pak Tua Jiro ini mengguncang dunia kuliner internasional. Tak kurang dari David Gelb, seorang sutradara film, membuat film dokumentasi tentang Jiro-san. Film, yang berjudul “Jiro Dreams of Sushi” dirilis tahun ini di Jepang. Selama satu tahun, David Gelb merekam kehidupan Jiro-san dari bangun tidur hingga tidur lagi. Film itu bercerita tentang dunia sushi Jiro-san, dan bagaimana ia mendedikasikan hidupnya pada sushi. Film ini juga membawa pesan tentang sebuah visi masa depan berdasarkan kecintaan dan keseriusan pada pekerjaan.

Jiro adalah seorang perfectionist, yang tak pernah puas. Ia pergi sendiri setiap pagi ke pasar ikan tsukiji untuk memilih ikan yang akan disajikan di warungnya.  Hanya ikan yang sempurna yang layak disajikan di warung sushinya. Meski usianya sudah 85 tahun, sudah terkenal, dan meraih banyak penghargaan, Jiro tak pernah puas dengan pencapaiannya. Di film itu, pak tua Jiro berkata bahwa ia tak mau berhenti memperbaiki diri. Setiap hari baginya adalah upaya memperbaiki diri. Ia merasa masih memiliki banyak kekurangan dan belum mencapai kesempurnaan. Hal itulah yang membuat  Jiro tak pernah berhenti dan tak pernah puas.

Tuna (Maguro) Sushi / photo Jiro Dream of Sushi

Sushi di warung Jiro disajikan bak sebuah “konser klasik”, penuh ritual dan penghayatan. Kita cukup datang dengan perut kosong, dan Jiro-san akan memilihkannya untuk kita. Jiro mencermati setiap pelanggannya, ia tahu secara detail sejarah dari semua sushi yang ia buat. Ia bahkan memijat tentakel gurita selama 45 menit, persis 45 menit dan bukan 30 menit, sebelum dibuat menjadi “tako-sushi” yang lembut. Itu dilakukan dari hari ke hari tanpa bosan.

Bagi saya, film dokumenter ini wajib ditonton, bukan hanya para penggemar sushi, tapi juga untuk kita semua (saya tidak tahu apakah film ini diputar atau dijual DVD-nya di Indonesia). Film ini mengajarkan kisah tentang kedisipilinan, proses ritual, dan obsesi pada pekerjaan, yang juga menjadi ciri orang Jepang.

Melihat bagaimana Jiro mendedikasikan diri pada pekerjaannya, kita bisa bercermin. Di tengah ketatnya persaingan warung sushi di Jepang, di tengah ambisi orang lain pada karir dan kesuksesan, Jiro seolah tak peduli. Baginya, ia hanya ingin melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya.

Kiranya filosofi Jiro ini menarik untuk kita renungkan bersama. Kadang kita, dan saya sendiri tentunya, kerap mengeluh soal pekerjaan, soal karir, dan banyak keluhan lainnya. Keluhan itu, menurut Jiro-san, hanya berakhir pada kegagalan dan pekerjaan yang setengah-setengah. Kita jadi kehilangan esensi “bersenang-senang” dalam pekerjaan.

Sayapun jadi teringat pesan dari Confusius, “Find a job you love, and you will never have to work a day in your life”. Jiro memilih hidupnya untuk sushi, dan itu ia lakukan dengan sepenuh hati. Bekerja, pada akhirnya menjadi bagian dari bersenang-senang dan merayakan kehidupan.

Semoga kita semua bisa belajar dari Pak Tua Jiro, bekerja dengan senang, penuh cinta, dan hanya “sedikit” mengeluh  … Sebagaimana pesan Jiro-san di ujung film, “You have to love your job. You must fall in love with your work”. Saya sih optimis, kalau semangat itu menyebar pada setiap insan di negeri ini, apapun yang terjadi pada bangsa, kita tetap bisa berdiri tegak dan bermanfaat.

Dan semoga semangat bekerja itu juga semakin meningkat di bulan puasa. Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir bathin. Selamat Merayakan Kehidupan!

 

 

Story of A Superhero Family

Once upon a time in a planet called “Odaiba”, lived a superhero family. Papa superhero used to fly everyday to save people and humanity. Anywhere, anything, he likes to help people in need.

One day, the children of superhero family asked their father to teach them how to fly.

Children: Papa…. papa ….teach us to fly!

Papa: Kids, just believe in yourself. You can fly.

Children: How to do it papa? it’s difficult.

Papa: Look at papa! Let’s fly together.

…and they fly together ….

Learning to Fly

“Yeeey, we can fly! …. we can fly!”, the children were very happy … They were flying around the planet by themselves.

“But, be careful girl. Don’t fly too fast …”

Don't fly too fast !

And the boy was floating around the statue of liberty … “Yes, I am flying…”

Near the statue of liberty

Then they asked their mother to fly together.

Children: Let’s go shopping Mom. Flying shopping!

Mom : Yes, let’s go. But be careful kids, don’t fly too fast… I might dropped my wallet  :)

Superhero Family flies to the shop

Meanwhile, Papa got a call from Chief of Police. There is a “Godzilla Attack” in the town. “They need my help”, said Papa. And Papa flew to the city.

Papa Superhero is Coming

Oooh No! A fierce and monster Godzilla!! …. Papa Superhero were very surprised when he saw the Scary Monster Godzilla.

Hey, Godzilla.. Get out of my town!”

Godzilla: “Roooaaaarrrr …. Rooooaaaarrrr …. (Sending atomic breath from his mouth)

Aaaargh, the Atomic Breath !!

Papa Superhero won’t give up and fight the Godzilla…. Boom..Booom…

Get Out Mr. Godzilla!!

And the Godzilla is defeated. Papa Superhero caught it’s tail and brought the monster to the Zoo :)

Let's go to the Zoo

The crowds cheers the superhero. Yeeey…we defeat the Godzilla!! Thank you Superhero.

Look! It's a bird! No, it's Papa Superhero!

End of story.

Thank you very much for stopping by.

 

Floating at Kawaguchi Lake

Last weekend, my best friend from Indonesia, Imam-san, came to Tokyo to visit me. We haven’t met each other for more than 5 years. So, I am really happy with his visit. To mark our reunion, we went together to Kawaguchi Lake for a weekend trip. Imam-san, My wife, and I went together to Kawaguchi. It’s about an hour drive from Tokyo.

Lake Kawaguchi is a beautiful lake near Mount Fuji, Japan. From this lake, we can see a serene and clear shape of mount Fuji (if the weather is good). Very beautiful.

Mount Fuji from Lake Kawaguchi

Imam and I then decided to do our levitation by the lake kawaguchi. It is a little difficult to do levitation together because you need to combine the same rhythm  and style :) … however, this is our double levitation.

Levitate Together by The Lake Kawaguchi

 

I did some other levitation by the lake. It seems like I am floating on the water. Yes, I am floating :)

Levitation by the Lake Kawaguchi

Floating by the Lake

Floating by The Lake

Floating at the Lake

We then decided to climb to mount Fuji. We stopped at 3rd Station to take some photographs. Here is my picture with Imam-san, but no levitation.

Best friend at the mountain

I tried to do some levitation at the mountain. Look, I am floating above the trees and fogs.

Floating above the trees

.... and the fogs

That was our experience to Lake Kawaguchi and Mount Fuji. Happy Levitating. Thank you for reading and stopping by.

 

 

 

Rasa Indonesia di Beppu

Lumpia dan Aneka Krupuk di Hot Mango / photo junanto

Setiap pergi ke luar negeri, saya selalu menyempatkan diri mencari restoran Indonesia. Banyak teman berkata, “Ngapain lu udah jauh-jauh ke luar negeri cari makanan Indonesia lagi”. Saya sependapat dengan perkataan teman tersebut. Kita memang perlu mencari makanan khas dari daerah yang kita kunjungi kalau ke luar negeri. Tapi alasan saya mencari warung Indonesia di luar negeri bukan soal makanan semata.

Saya kerap penasaran ingin mengetahui mengapa ada orang yang mau mendirikan restoran Indonesia di luar negeri. Berbeda dengan Thailand yang punya program “Thai Kitchen for the World”, di mana pemerintahnya mendukung 100 persen berdirinya restoran Thailand di seluruh dunia, urusan makanan di negeri kita masih dianggap sepele. Kalau ada orang yang ingin membuka restoran Indonesia di luar negeri, hampir dipastikan dilakukan atas keinginan dan usaha sendiri.

Oleh karena itu, saya selalu tertarik mendengar cerita mereka.

Perjalanan saya ke Beppu pekan lalu memberi satu lagi pengalaman tentang warung Indonesia di luar negeri, khususnya di Jepang. Beppu adalah kota kecil yang terletak sekitar 1000 km dari Tokyo. Di kota itu, jangankan pusat keramaian, bioskop saja tidak ada.

Saya sempat bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di sana. Mereka bilang kalau di kota itu memang tidak ada hiburan, sepi sesepi-sepinya. Alhasil kalau mau cari keramaian, mereka harus pergi dulu ke kota Oita, yang letaknya sekitar 30 km dari Beppu.

Tapi yang menarik, di kota kecil itu, ada satu warung Indonesia.

Suasana Bali di Warung Hot Mango / photo junanto

Saya menemukan warung itu secara kebetulan. Suatu malam, sepulang dari satu acara, saya berkeliling Beppu mencari makan malam. Mencari makan di tempat yang asing tentu agak sulit dan membutuhkan kecermatan khusus.

Tiba-tiba pandangan saya terpaku pada signboard yang bertuliskan “Pulau Bali”, dalam bahasa Jepang. Nama restorannya sendiri juga tidak otentik Indonesia, melainkan nama barat yaitu “Hot Mango”.

Sebelumnya saya tidak memiliki informasi tentang adanya warung Indonesia di sana, jadi saya tentu ragu. Karena ragu dan ingin memastikan, saya masuk ke dalam warung itu.

Di dalam warung, saya disambut oleh Mas Hery, demikian ia memperkenalkan diri. Rupanya ia adalah pemilik warung itu. Dan betul, warungnya 100 persen Indonesia. Mulai dari interior yang bernuansa Bali, seperti patung Bali, sarung, leak, hingga menu yang disajikan, semua Indonesia.

Hery mengatakan bahwa ia telah membuka restoran ini sejak tujuh tahun lalu. Awalnya, Hery lulus dari APU university jurusan pariwisata. Sejak lulus, ia didorong oleh keluarganya untuk membuka restoran Indonesia di kota Beppu. Animo yang tinggi dari masyarakat Beppu terhadap Indonesia menjadi satu alasan potensi dibukanya warung Indonesia.

Tapi membuka restoran Indonesia di Jepang bukan perkara mudah, apalagi dilakukan oleh orang Indonesia. Mungkin warung miliknya hanya satu-satunya resto Indonesia di Beppu, dan mungkin di Kyushu (pulau sebelah selatan Jepang).

Bermodal keberanian dan tekad, Hery dibantu oleh seorang temannya yang warga Jepang. Teman Hery tersebut sangat mencintai Indonesia, sehingga ia membantu segala hal terkait dengan administrasi dan perijinan membuka restoran di Jepang.

Setelah dibuka, sambutan masyarakat Beppu ternyata sangat baik. Menurut Hery, ada satu pasangan Jepang yang sering berkunjung ke warungnya sejak masa pacaran. Melihat aneka masakan dan nuansa Bali di warungnya, mereka berdua langsung jatuh cinta pada Bali. Keduanya kemudian memutuskan menikah, dan memilih Bali sebagai tempat bulan madunya. Kini, mereka masih rutin mengunjungi warung itu, sebagai kenangan akan masa-masa indah tentang Bali.

Menu yang disajikan di warung “hot mango” itu juga otentik Indonesia. Hery mendatangkan sendiri satu chef dari Indonesia untuk menjaga keaslian rasa. Saya memesan nasi goreng, mie goreng, sate ayam, lumpia, dan gado-gado. Tak lupa disajikan pula aneka kerupuk dan emping.

Wah, rasanya enak sekali.  Mantab dan sangat otentik Indonesia.

Nasi Goreng / photo junanto

 

Mie Goreng di Beppu / photo junanto

 

Sate Ayam di Beppu / junanto

Otentisitas rasa itu didukung oleh kemudahan mendapatkan bumbu masakan di Beppu. Banyak terdapat warung Asia yang di dalamnya menjual aneka bumbu Indonesia. Hmmm, siapa menyangka, di kota jauh yang terpencil di sebelah selatan Jepang, ada satu warung Indonesia yang dibuka.

Hery mengatakan bahwa sebagai bangsa Indonesia ia bangga bisa membawa nama Indonesia di luar negeri. Bukan hanya itu, dengan warungnya, banyak orang Jepang yang kemudian jatuh cinta pada Indonesia, lalu berkunjung ke Indonesia.

Makanan ternyata bukan perkara sepele. Ia bisa memberi makna lebih dari sekedar sebuah sajian. Diplomasi kuliner dari Mas Hery di Beppu, perlu kita acungi jempol.

Salam makanan Indonesia.

Bersama Mas Hery, pemilik Warung Indonesia di Beppu

Preman Blok M di Melbourne

(Old Posting) Tulisan ini saya re-post dari blog saya di tahun 2006. Sebagai file saya atas restoran Indonesia di luar negeri yang pernah saya coba.

Pak E di warungnya di Melbourne / photo junanto

Siapa bilang preman ga punya masa depan? Pak E alias Sisco yang bernama asli Siswanto Wiropuspito adalah preman insyaf yang membangun kembali masa depannya. Mantan Pengamen Jalanan dan Preman Blok M di tahun 1996 itu, kini sukses mengelola Restoran Blok M di Melbourne, Australia. Nama Blok M dipilih untuk mengenang masa lalunya yang kelam. Kalo pas lagi mampir di Melbourne, silakan sambangi warungnya yang terletak di Commercial Road, Prahran. Pak’E yang dulu bolak balik keluar penjara, pengedar narkoba, dan pencopet, menjalankan usaha restonya itu dengan bermodalkan semangat dan kerja keras. Selain memasak, ia juga kerap menghibur tamunya dengan menyanyikan lagu-lagu jalanan.

Saya mampir ke warungnya di Melbourne untuk merasakan cita rasa Indonesia di sana. Saat saya tiba di warungnya yang kecil, namun penuh dengan nuansa etnik Indonesia,  sederetan menu disajikan untuk dipilih. Satu hal menarik dari menu-menu di warung Blok M adalah nama-namanya yang unik. Lumayan juga buat menghibur diri serta mengobati kerinduan pada jajanan tanah air.

Nama-nama makanannya antara lain, Gule Tikus Blok M, Nasi Goreng Wong Edan, Gudeg Mbah Maridjan, Ikan Bakar SMS (Sarana Menuju Selingkuh), Lontong ATM (Anak Tampang Mesum), Soto Gempa Bumi, dan minuman spesial Wedang Jahe Bakar.

Resto milik Pak E ini keliatan lebih kumuh. Sebenarnya ia bermaksud memberikan suasana asli Blok M di situ. Namun karena kelihatan kumuh, petugas Higienitas dari Departemen Kesehatan Australia pernah memerintahkan restoran ini untuk ditutup karena tidak memenuhi prosedur higienitas mereka. Tak mau menyerah, Pak E mengundang mereka datang dan mencicipi tongseng kambing olahan Pak E. Bukannya malah ditutup, para petugas itu malah terpesona dengan rasanya yang begitu ’mak nyuus’.  Dan yang mengejutkan, petugas tersebut keesokan harinya mengajak keluarganya makan di situ. Bahkan, saat anaknya ulang tahun, acaranya dirayakan restoran milik Pak’E. Restoranpun batal ditutup hehehe.

Pak’E merasa bersyukur dengan kehidupannya sekarang. Selama sepekan resto ini menghasilkan lebih dari 7000 dollar Australia atau sekitar Rp49 juta. Resto ini juga menjadi langganan para pejabat, selebritis, dan tokoh-tokoh Indonesia apabila mereka sedang berkunjung ke Melbourne. Hal itu tampak dari foto-foto yang dipajang di seantero dinding restaurant. Jadi, benar kata orang bijak, jangan menyepelekan makanan. Selain bisa mengharumkan nama Indonesia di luar negeri, lewat makanan pula, pak’E membangun kembali masa depannya. Salam.