Realisme Kepala Ikan di Tabula Rasa

Emak dan Hand di Tabula Rasa

Emak dan Hans di Tabula Rasa

“Kurang kacau, cirik kambing. Talalu kacau, bapantingan”, itulah pedoman dalam memasak rendang.  Artinya, bila kita kurang lama mengaduk rendang di wajan, kuah rendang akan bergumpal-gumpal seperti tahi kambing. Sebaliknya, bila terlalu cepat mengaduk, kuah rendang akan mendidih “meledak-ledak”, sehingga bisa melukai tangan sampai melepuh. Bagi orang Minang, mengaduk rendang adalah sebuah perjalanan ”spiritual”, karena tak bisa dilakukan sembarangan. Memasak rendang harus menggunakan hati dan perasaan. Tanpa itu, rendang yang disajikan akan hampa tanpa rasa. Bahkan bisa seburuk tahi kambing.

Itulah inti pesan dari Emak (Dewi Irawan) kepada Hans (Jimmy Kobogau) dalam film yang berlatar belakang kuliner, Tabula Rasa. Hans, seorang pemuda dari Serui Papua, yang pergi ke Jakarta untuk menjadi pemain sepak bola, tertimpa nasib buruk. Kakinya patah dan ia ditelantarkan oleh klubnya. Jadilah Hans terdampar di Warung Padang “Takana Juo” milik Emak. Dari semula hanya diminta membantu cuci piring, menemani belanja,  Hans perlahan diajari ilmu memasak oleh Emak.

Dapur Emak lalu jadi pusat pergumulan intrik dan politik. Parmanto (Yayu Unru), sang juru masak, merasa egonya tertusuk saat melihat Hans semakin dekat dengan Emak, bahkan bisa tinggal bersama mereka. Singkatnya ia merasa terancam akan kehadiran Hans di warung mereka. Parmanto lalu ngambek, dan ujungnya pindah ke restoran besar yang menjadi pesaing Takana Juo. Hans lalu perlahan mengambil alih peranan Parmanto, menjadi juru masak di warung Emak.

Masalah tidak selesai hanya sampai di sana. Warung Takana Juo semakin hari semakin sepi pengunjung. Selain kalah bersaing dengan Restoran Padang yang baru buka, Takana Juo seolah tak memiliki daya tarik khas. Dalam kebingungan, jawaban muncul dari Hans. Itulah, Gulai Kepala Ikan. Masalahnya, Emak tidak mau memasak gulai kepala ikan setiap hari. Gulai kepala ikan bagi emak adalah sebuah ziarah, yang hanya dibuat pada saat tertentu, di samping ada kisah pedih di belakangnya.

Perjalanan film ini kemudian mengajak penonton pada sebuah alur yang mengarus pada upaya terwujudnya Gulai Kepala Ikan. Pada akhirnya, saat Emak mau membuat kepala ikan, adegan terindah film ini ditampilkan. Emak membuat kepala ikan dengan bumbu-bumbu terbaik pilihannya. Sebagaimana orang Minang yang tahu betul makanan yang baik. Bumbu adalah kuncinya.

Kepala ikan kakap yang dibumbui secara visual dicemplungkan ke dalam kuah santan, yang dimasak di atas kuali dan tungku dengan kayu bakar.  Semua diproses secara alami. Emak tidak mau menggunakan santan kalengan. Ia memeras kelapa sendiri. Tidak ada juga bumbu rendang atau gulai instan yang kini banyak dijual di supermarket. Semua bumbu digerus di atas ulekan. Otentik.

Emak memulai hari sejak jam empat atau lima pagi. Dalam sepi dan sunyi, ia ke pasar membeli bahan terbaik. Ia mempersiapkan segala bumbu masak, memilih kelapa terbaik, dan mencari kepala ikan yang masih segar.  Dalam khazanah persantanan makanan Minang, kelapa terbaik itu tidak muda tapi juga tidak tua. Harus “sedang”.  Kelapa juga harus “diperas” sekali saja untuk dijadikan santan. Tak boleh lebih dari sekali. Kelebihan jumlah perasan akan menyebabkan rasa santannya berubah.

Dalam Tabula Rasa, Hans dengan takzim melihat dan belajar keseluruhan proses pembuatan makanan, terutama kepala ikan ini. Ide cerita dan plot film ini sungguh indah, mengambil tema kuliner. Mungkin baru ini film Indonesia yang berani mengambil  latar belakang kuliner. Produser Sheila Timothy, saya perhatikan di berbagai media sosialnya kerap mengunggah referensi dan riset yang dilakukannya. Film ini memang bukan sekedar film yang dibuat sekenanya, namun menggunakan referensi riset yang dalam. Berbagai buku tentang kuliner, film-film referensi luar negeri yang bertema kuliner, hingga riset ke Serui dan Sumatera Barat. Dapur Emak juga dibuat dengan memperhatikan detil dapur tradisional Minang.

Secara umum, film ini layak ditonton. Saya memang agak berharap ada lebih banyak visualisasi adegan yang menonjolkan rasa makanan, aroma bumbu, pedasnya rendang, maupun proses membuat makanan. Karena untuk sebuah film kuliner, adegan-adegan yang mampu mendegut ludah menjadi hal-hal yang ditunggu penonton. Tapi terlepas dari itu, sisi emosional antara Emak dan Hans, sangat menyentuh. Keragaman nusantara juga tercermin di dapur Emak. Masakan Minang dengan juru masak Orang Papua, sudah memberi keunikan tersendiri. Saat emak mengucapkan “Alhamdulillah”, lalu diikuti oleh Hans dengan kata “Puji Tuhan”, adegan berlangsung secara ringan dan menyentuh. Ada keragaman dalam kedamaian di sana.

Produser Sheila Timothy dan sutradara Adriyanto Dewo, memasak film bagai Emak memasak Gulai Kepala Ikan Kakap. Seperti Shakespeare dengan Othello-nya, Hegel dengan Dialektika-nya, Nietzche dengan Uebermensch-nya, atau bahkan Di Vinci dengan Monalisa-nya. Dilakukan dengan takzim dan penuh permenungan. Sebuah karya memang harus dilakukan bukan sekedar memenuhi pasar atau nilai uang, namun lebih seperti sebuah bangunan idealisme dan edukasi untuk mencerahkan.

Tapi, apakah film-film yang sarat makna, lincah dengan dialog cerdas, bisa dinikmati pasar film Indonesia? Seharusnya bisa, dan sangat bisa. Kitalah yang harus memulai, dengan mendukung film Indonesia yang bagus. Ayo, terus ramaikan bioskop dan saksikan film Indonesia. Tabula Rasa adalah salah satunya. Film bagus, yang menurut saya, sayang kalau dilewatkan.

2 thoughts on “Realisme Kepala Ikan di Tabula Rasa

  1. Saya juga sudah menonton film ini, Pak :-) Tapi saya sedikit kecewa karena saya punya ekspetasi yang sama seperti Bapak, yaitu ada lebih banyak visualisasi adegan yang menonjolkan rasa makanan, aroma bumbu, pedasnya rendang, maupun proses membuat makanan dan membayangkan habis menonton film ini jadi terbayang nasi Padang dengan paru gorengnya yang merupakan masakan Padang kesukaan saya :D Semoga di masa yang akan datang, akan lebih banyak lagi film-film Indonesia yang lebih mengemukakan tentang masakan seperti Tabula Rasa ini :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 + = 11

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>