Menggapai Nirwana Bola

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Kiper AS, Tim Howard, tertunduk lesu, sementara Lukaku, penyerang tim Belgia melewatinya / source soccerly.com. USA TODAY Sports.

Saat Lukaku dimasukkan ke lapangan oleh Pelatih Belgia, Marc Wilmots, dinihari tadi (2/7), getar kecemasan langsung dirasakan oleh para pemain kesebelasan Amerika Serikat (AS). Lukaku, akhirnya jadi Lukamu, jadi Luka bagi kesebelasan AS. Ya, Romelu Lukaku, pemain muda berbakat yang dikontrak Chelsea dan pernah bermain di Anderlecht, adalah “senjata pamungkas” yang dikeluarkan di masa perpanjangan waktu. Setelah 90 menit bermain ketat dan imbang, masa perpanjangan waktu adalah masa penentuan. Dalam kisah pewayangan, senjata pamungkas dikeluarkan pada jeda waktu itu. Dan Lukaku, adalah senjata Wilmots. Ia keluar, bermain, dan menusuk tanpa ampun.

Sepuluh menit pertama perpanjangan waktu, Belgia menghunjam pertahanan AS dengan daya gempur dan semangat baru. Tim Howard, kiper AS, yang tampil heroik menyelamatkan gawang AS dari gempuran Belgia selama 90 menit (sampai di twitter ada hashtag #HowardForPresident), akhirnya menyerah. Lukaku dan De Bryon menusuk patah dan menghabisi perjuangan Howard. AS harus menyerah dengan skor 2 – 1. Meski Green mampu memberi satu gol bagi AS, dan 10 menit terakhir milik AS, perjuangan itu tak cukup.

Duel Belgia – AS dinihari tadi menutup partai 16 besar Piala Dunia 2014. Menariknya, sebagian besar pertandingan di 16 besar ini diakhiri dengan perpanjangan waktu. Bahkan adu penalti.  Brazil vs Chile, Costa Rica vs Yunani, Jerman vs Aljazair, dan Argentina vs Swiss, berakhir dengan skor 0-0, sebelum dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Belanda bahkan menang di ujung waktu, dua gol disarangkan di menit 88 dan 91. Hampir saja berakhir seri 1 -1.

Inilah catatan menarik dari Piala Dunia 2014. Pertandingan berlangsung semakin menawan dan tidak mudah. Semua kesebelasan menyadari bahwa barangsiapa bisa mengalahkan lawan, maka ia sampai di ujung batas dunia bola. Para filsuf menyebutnya “Nirwana Bola”. Itulah titik Ma’rifat perjalanan sebuah Tim. Di Nirwana, tiada lagi bola, yang ada hanyalah PIALA. Atau balasan surgawi berupa regukan kenikmatan tiada bertepi.

Menyambut babak perempat final yang akan dimulai esok, kiranya kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari pertandingan di babak penyisihan dan 16 besar.

Pelajaran Pertamathere is no easy way to win. Tidak ada kemenangan yang mudah. Hal itu terlihat dari sebagian besar pertandingan di babak 16 besar “dipaksa” harus selesai dengan perpanjangan waktu dan adu penalti. Ini berarti bahwa mencapai kemenangan tidak seperti membalik telapak tangan, bahkan saat menghadapi lawan yang kita anggap lebih lemah. Kita belajar dari 16 besar ini bahwa tidak bisa memandang remeh lawan. Bahkan tidak boleh terlalu percaya diri.

Siapa sangka kalau Argentina harus bermain ekstra keras menghadapi Swiss (yang notabene kelasnya masih di bawah Argentina), atau Brazil yang harus susah payah adu penalti menghadapi Chile. Jadi, kita juga tak bisa memandang remeh terhadap permasalahan yang ada. Terhadap pekerjaan kita. Terhadap tugas sehari-hari. Karena sifat menganggap remeh dapat membuat kita alpa dan meleset pada kegagalan. Kemenangan selalu membutuhkan kerja keras dan kehati-hatian.

Pelajaran Kedua, patience is virtue. Kemenangan hanya bisa diperoleh bagi mereka yang sabar. Kesabaran adalah keutamaan. Selama 90 menit kesebelasan Belgia menggedor gawang Tim Howard. Selama itu juga pertahanan AS bergerak disiplin melalui zona marking. Tapi lewat masa 90 menit, Belgia terlihat lebih sabar. AS lengah. Dan kemenangan milik sang penyabar. Pelajaran kehidupan ini perlu kita renungkan, karena tak sedikit dari kita yang kerap tak sabar, baik perkara sekolah, pekerjaan, karir, pangkat, atau gaji. Ketidaksabaran umumnya berujung pada keluhan demi keluhan, hingga akhirnya kegagalan. Kita harus ingat pepatah, semua indah pada waktunya.

Pelajaran Ketiga, perlunya belajar dan belajar. Kesebelasan yang lolos ke 8 besar, bukan kesebelasan kemarin sore. Permainan AS sangat cantik, Swiss juga, tapi untuk mengatasi Belgia dan Argentina, mereka masih perlu baca banyak buku lagi. Mereka harus mengakui, mengalahkan kesebelasan Juara Dunia, hanya sebuah utopia. Atau seperti yang dikatakan Jacques Derrida, tokoh posmodernis Prancis, yang mengatakan itu adalah suatu l’im-possible (sebuah ketidak-mungkinan). Tapi ketidakmungkinan bisa jadi kemungkinan dengan belajar. Costa Rica telah membuktikan itu, terus menerus belajar membuat mereka bisa menembus delapan besar.

Dan terakhir, di bulan Ramadhan ini, saya teringat tulisan D.A Rindes dalam bukunya “Nine Saints of Java” yang mengibaratkan buah kelapa sebagai metafora atas hakikat dan syariat. Ibadah sebagai nyiur dan shariat hanya kulitnya. ”Kulitnya itu ibarat shariat. Tempurungnya itu ibarat Tarikat, Isinya itu ibarat HakikatMinyaknya itu ibarat ma’rifat”. Kita sering melihat kesuksesan orang itu dari luarnya saja. Padahal apa yang tampak, masih menyimpan cerita panjang sebuah perjuangan. Yang kelihatan hanya kulit, bahwa ia sukses. Di baliknya, ada kerja keras dan ketekunan.

Kesebelasan Juara, seperti Brazil, Jerman, atau Argentina, itu dapat diibaratkan kita lihat seperti shariat, kulit semata. Besar, hebat, dan juara. Tapi kita kerap lupa, bahwa di balik kebesaran mereka itu, ada tarikat, ada hakikat, dan ada ma’rifat. Di balik kesebelasan Brazil, ada kerja keras, ada konsistensi, ada disiplin, ada integritas.

Saat teman sebayanya tidur, Neymar (pemain Brazil) bangun jam 4 pagi untuk menendang-nendang bola. Saat teman sebayanya bermalas2an di siang hari, Neymar melatih fisiknya berlari di pantai  yang terik. Keajegan dalam berlatih adalah kunci sukses Neymar. Untuk itu, ia rela kehilangan kesenangan-kesenangan di masa mudanya. Ia rela membangun habitus yang mau menunda kesenangan (deffered gratification).

Sebagai bangsa Indonesia, ketiga hal tadi bisa jadi pelajaran kita. Kita perlu kerja lebih keras. Perlu lebih serius, ajeg, dan perlu menunda kesenangan-kesenangan sesaat, untuk masa depan yang lebih baik. Menghadapi pemilu pilpres nanti, nilai-nilai ini juga bisa dijadikan pedoman. Membangun bangsa Indonesia bukan perkara satu dua malam. Ia membutuhkan konsistensi, ketekunan, dan tidak mudah menyerah. Di sinilah harapan kita pada Presiden baru nanti, siapapun yang terpilih, untuk dapat menjaga ketekunan dan kesabaran bangsa dalam membangun dirinya. Dan membangun sebuah habitus, hanya akan bisa sukses lewat sebuah laku, bukan dengan kata-kata semata.

Mari kita belajar dari Piala Dunia 2014. Mari kita sambut dimulainya babak delapan besar. Selamat Menyaksikan. Selamat menjagokan kesebelasan anda. Dan semoga Indonesia dapat memilih Presiden yang tepat dan mampu membawa bangsa ini lebih baik lagi.

(tulisan ini dibuat usai menyaksikan pertandingan terakhir dari partai 16 besar di Piala Dunia 2014, Brazil, antara Kesebelasan Amerika Serikat melawan kesebelasan Belgia (2/7)

Mafia Nasi Goreng

Nasi Goreng Preman /photo junanto

Nasi Goreng Preman /photo junanto

Ada Mafia di Bandung! …. Ini satu pengalaman menarik dalam kunjungan saya ke Bandung beberapa waktu. Setelah lebih dari enam tahun saya tidak ke Bandung, banyak hal berubah di kota itu, khususnya peta kulinernya. Adalah mbak Stefanie Kurniadi dan Mbak Sarita Sutedja, kawan saya di media sosial yang mengenalkan saya pada  kedai milik mereka yang wajib dicoba. Nama kedainya, Nasi Goreng Mafia. Wah, mendengar namanya, saya pikir ini Nasi Goreng punya Mafia gitu. Tapi ternyata pemiliknya justru anak-anak muda yang baik hati. “Mas Iwan musti mampir, dan coba NasGor Mafia ya”, tulis mbak Stefani kepada saya.

Sebagai orang Indonesia, saya selalu suka nasi goreng. Menurut saya, nasi goreng adalah “national food” yang terkenal di mancanegara sejak dulu. Pengalaman saya bepergian ke berbagai negara, kalau masuk rumah makan Indonesia, maka menu yang pasti ada dan dikenal, adalah Nasi Goreng. Berbeda dengan restoran Thailand yang sudah terstruktur dalam urutan menu, mulai dari appetizer hingga desert, masakan Indonesia di luar negeri belum memiliki standar seperti itu. Akibatnya, orang asing kerap bingung memilih berderet menu Indonesia yang ada. Kalau sudah begini, maka Nasi Goreng menjadi favorit dan andalan. A must try menu in Indonesia Restaurant.

Saat tinggal di Tokyo beberapa waktu lalu, semua restoran Indonesia di sana juga menyajikan Nasi Goreng sebagai menu andalan. Kawan saya, Masaki-san, pemilik restoran Cabe di wilayah Meguro, mengklaim kalau nasi goreng cabe adalah yang terenak se-Jepang. Hehehe tentu saja dia subyektif. Karena di Tokyo banyak Nasi Goreng yang lain, mulai dari Wayang Bali, Warung Surabaya, dll. Ya, meski kesannya sederhana, nasi goreng sungguh sangat subtil dalam rasa. Sedikit saja perbedaan dan inovasi dalam bumbu, rasanya akan sangat berbeda.

Nah di sinilah nama Nasi Goreng MAFIA menjadi relevan. Konon kata MAFIA, berasal dari akronim MAsakan Favorit IndonesiA. Ya, memang tak salah. Dari pengalaman saya tadi, Nasi Goreng adalah makanan favorit, bukan hanya orang Indonesia, tapi juga warga asing. Keberadaan Nasi Goreng Mafia di Bandung memang relatif baru, atau berdiri sejak November 2013. Tapi perkembangannya sangat pesat.

 

Bersama Mas Sobar yang menjelaskan tentang Nasi Goreng Mafia

Bersama Mas Sobar yang menjelaskan tentang Nasi Goreng Mafia

Menurut mas Sobar, yang saya temui di sana, saat ini Nasi Goreng Mafia sudah punya enam gerai di Bandung, satu di Jakarta, dan Pekanbaru. Ke depan tentu masih akan terus berkembang apabila melihat animo penggemarnya Saya sungguh tercengang melihat warung kecil di Jalan Dipati Ukur Bandung itu yang luar biasa ramainya. Sebagian besar yang datang umumnya adalah anak muda atau mahasiswa.

Sebelum sampai ke rasa, keunikan Nasi Goreng Mafia terletak bagaimana mereka melakukan diferensiasi pada brand-nya. Banyak Nasi Goreng, tapi yang ini beda. Di mana bedanya? Saat pertama kali masuk warung, kita sudah melihat suasana yang unik tak terlupakan. Dinding warung diisi oleh komik-komik para mafia dari berbagai negeri. Ada Godfather, Yakuza, dan Triad. Menu yang ditawarkan juga seru, ada nasi goreng godfather, triad, yakuza, preman, dan berandal. Hal yang menarik, sebagaimana branding dari berbagai masakan di Indonesia, adalah tingkat kepedasan. Pedas seolah menjadi ciri kesukaan orang Indonesia. Makan apapun, kalau belum pakai cabe, rasanya belum sempurna. Nah, tingkat kepedasan Mafia ini juga dibuat berlapis, mulai dari menenangkan, menggoda, menyesakkan, merisaukan, menyesal, hingga mematikan.

Saya memesan Nasi Goreng Preman yang rasanya unik. Rasa rempah dan bumbunya sungguh luar biasa generous. Tentu saja kepedasannya tak akan terlupakan. Ini betul-betul makanan yang menyenangkan dan mengenyangkan. Soal harga juga tak mahal karena dibuat bersahabat dengan anak muda dan mahasiswa, atau sekitar 13 ribu hingga 15 ribu per porsi.

Pengalaman saya mencicipi banyak nasi goreng di dunia, Nasi Goreng Mafia ini salah satu yang rasanya tak terlupakan. Ngangenin. Ya, Nasi Goreng Indonesia memang ngangenin, tak heran kalau Wieteke Van Dort secara khusus membuat lagu untuk mengenang dan mengobati kerinduannya pada Nasi Goreng, Geef Mij Mar Nasi Goreng.

Selamat buat mbak Stef dan Sarita. Sukses selalu. Dan buat teman yg mau coba, hati2 kalau pilih menu dengan level “Mematikan”. Jangan sampai “mati” di-dor Mafia. Salam

Nasi Goreng Mafia

Nasi Goreng Mafia

Kopi Bondowoso Mendunia

Bersama Mat Husen, Petani Kopi Sukses di Ijen Raung

Bersama Mat Husen, Petani Kopi Sukses di Ijen Raung

“Kopi Bondowoso mengguncang dunia. Ini bukan khayalan pak, tapi kenyataan!”, demikian dikatakan oleh Mat Husein dan Pak Sukarjo kepada saya saat berkunjung ke perkebunan kopinya di lereng gunung Raung, Bondowoso, Jawa Timur. Mat Husein adalah satu dari sekitar 37 Kelompok Tani Kopi di Bondowoso yang merasakan perubahan nasib setelah mereka meningkatkan standar olahan kopinya.

Sekitar lima tahun lalu, Mat Husein dan kawan-kawannya hanyalah petani kopi miskin, yang produk olahan kopinya dihargai rendah oleh pasar. Padahal di lahan seluas 2400 hektar, mereka menanam kopi jenis Robusta dan Arabika unggulan. Proses tata niaga yang panjang, sistem ijon yang tidak menguntungkan, menjadikan para petani kopi harus rela apabila kopinya dihargai dengan sangat rendah oleh para tengkulak.

Adalah Pemerintah Kota Bondowoso, dengan menggandeng berbagai elemen, yang bertekad untuk menjadikan Kopi Bondowoso menembus pasar dunia, dan mengangkat nasib petani. Bekerjasama dengan Asosiasi Petani Kopi, Bank Indonesia Jember, Bank Jatim, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Masyarakat Indikasi Geografis, dan PT Indocom Citra Persada, Pemerintah Kota Bondowoso sejak tahun 2010 melakukan studi untuk memperbaiki proses pengolahan dan tata niaga kopi.

Selama empat tahun, para petani kopi di Gunung Raung dibina dan dilatih untuk mengolah kopi dengan standar internasional. Sebelumnya, pengolahan kopi dilakukan secara tradisional. Kopi dijemur di tanah atau aspal sehingga rasanya bercampur tanah. Pemilahan kopi matang dan mentah juga tidak dilakukan, sehingga kualitas biji kopi jadi rendah.

Ketujuh elemen tersebut kemudian bersinergi memperbaiki proses pengolahan, penyediaan infrastruktur seperti gudang dan pengairan, hingga tata niaga. Saya menyaksikan sendiri bagaimana kopi di Gunung Raung ini diolah secara teliti dan rapi. Kualitasnya pun kini sudah mendapat sertifikasi internasional. PT Indocom juga langsung membeli biji kopi dari petani untuk diekspor, sehingga memotong proses panjang rantai distribusi.

Bank Indonesia Jember membantu menyediakan pipanisasi sepanjang lima kilometer untuk mencuci dan membersihkan kopi. Sebelumnya, air yang digunakan harus berbagi dengan warga sehingga akibatnya kopi tidak tercuci bersih karena kekurangan air.

Hasilnya, kini para petani kopi Gunung Raung bisa mengekspor biji kopi sebanyak 300 ton setahun ke mancanegara (dari potensinya sebesar 6000 ton). Kopi, yang diberi label Ijen Raung Coffee itu, diekspor ke berbagai negara Eropa seperti Belanda, Italia, Swiss, juga ke Australia, Jepang, dan Amerika. Bahkan menurut Asisten Ekonomi Pemerintah Kota Bondowoso, gerai Starbucks di Amerika Serikat sudah menggunakan kopi Bondowoso untuk jenis Java Coffe-nya.

Petani Kopi di Ijen Raung melakukan proses pengolahan kopi/ photo junanto

Petani Kopi di Ijen Raung melakukan proses pengolahan kopi/ photo junanto

Menurut mas Joko dari Puslit Kopi dan Kakao, Java Coffee yang ada di mancanegara dapat dipastikan berasal dari Gunung Raung Bondowoso ini. Ia menceritakan ada seorang Belanda yang pernah mencicipi secangkir kopi di Italia. Saking terkesannya, ia kemudian mencari asal kopi yang nikmat itu. Ia melakukan perjalanan mencicipi kopi di berbagai wilayah nusantara. Dari Aceh hingga Toraja. Tapi baru ia temukan kopi yang sama dengan yang dicicipinya di Italia, saat sampai di Bondowoso. Ia kemudian menjadi pembeli tetap produk Kopi Ijen Raung Bondowoso.

Dari sisi petani kopi, perbaikan taraf hidup juga dirasakan langsung oleh para petani kopi di Bondowoso. Saya bertanya pada Pak Sukarjo, yang telah menjadi petani kopi sejak tahun 1986. Seperti Mat Husein, Pak Sukarjo kini bangga dengan pencapaian kopi Bondowoso. Sejak empat tahun terakhir ini, penghasilan dan taraf hidup mereka meningkat. Ekspor kopi ke mancanegara telah mengubah kehidupan di desa mereka.

Pengangguran juga berkurang karena industri pengolahan kopi melibatkan banyak tenaga kerja, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Pada gilirannya, kemiskinan juga berkurang signifikan di Bondowoso. Tak heran bila pada tahun 2014 ini, Bondowoso mendapat penghargaan dari Gubernur Jatim atas kebijakannya yang pro-poor karena mampu menurunkan tingkat kemiskinan.

Tapi pak Sukarjo tak puas dengan penghargaan. “Kalau soal penghargaan sih pak, sejak jaman Presiden Soeharto saya sering diberi penghargaan”, demikian ujarnya sambil menyebutkan sederet penghargaan karena dedikasinya sebagai petani kopi.

“Bukan penghargaan yang saya cari. Tapi saya ingin Kopi Bondowoso ini mengguncang dunia, menembus pasar dunia, dikenal banyak orang. Karena ini adalah biji kopi terbaik dunia !”, demikian ucapnya dengan nada bicara yang bergetar menahan haru.

Pak Karjo dan Mat Husein adalah contoh para pejuang ekonomi yang punya idealisme tinggi. Mereka bukan sekedar mengolah dan menjual kopi. Tapi punya cita-cita bagaimana agar kopi Indonesia bisa  terus mendunia, dan tentunya nasib petani kopi bisa meningkat lebih baik.

Kopi Ijen Raung menjadi contoh klaster kopi yang sukses di Indonesia. Pengelolaan yang dilakukan secara “keroyokan”, saling bersinergi antar berbagai elemen, bisa menjadi contoh bahwa penyelesaian masalah bangsa ini membutuhkan kerjasama, sinergi, dan saling menghargai. Semoga klaster ini bisa menginspirasi berbagai daerah dan wilayah lainnya untuk memperkuat komoditas-komoditas unggulannya, dan memperbaiki taraf hidup para petani.

Salam Kopi.

Bertemu Kawan Instagram di Amerika

Meet Cale, new friend from instagram, in Washington DC

Meet Cale, new friend from instagram, in Washington DC

Saya masih suka amazed dengan yg namanya social media. Beberapa kali saya merasakan bagaimana dari social media bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak kawan baru. Saya berkenalan dengan mbak Trinity Traveler melalui media twitter. Saat itu ia sedang di Tokyo, kita lalu berjumpa, bahkan Trinity sempat mampir satu malam di rumah kami. Setelah itu kita jadi berteman. Penerbitan tulisan saya di beberapa majalah, bahkan hingga penerbitan buku saya, tak lepas dari jasa Trinity. Awalnya, hanya social media.

Banyak lagi teman-teman yang saya kenal dari social media. Dari facebook saya banyak berkenalan dengan kawan, baik di Indonesia maupun di luar negri. Perkenalan itu menurut saya lebih banyak positif dan konstruktifnya. Kita menambah silaturahmi, memperpanjang jaringan pertemanan, hingga tentunya saling memberi manfaat dan ilmu pengetahuan. Di blog Kompasiana, saya merasakan persahabatan yang luar biasa. Awalnya kami hanya mengenal dari komentar ataupun tulisan di blog. Namun admin Kompasiana sangat aktif mengadakan kopi darat. Kita lalu jadi saling mengenal, dan terus berhubungan akrab hingga sekarang.

Menambah kawan adalah sebuah hal menyenangkan. Dan beberapa waktu lalu, saya merasakan lagi pengalaman yang tak terlupakan. Kali ini dari social media Instagram milik saya. Sejak “brand” Flying Traveler disematkan di instagram saya, para penggemar foto levitasi banyak yang menjadi kawan saya di instagram. Mereka berasal dari berbagai negara, mulai dari Amerika Latin, Eropa, Asia, bahkan sebagian besar dari Amerika Serikat.

Oleh karena itu, saat mampir ke Washington DC beberapa waktu lalu, saya memposting beberapa foto levitasi di sana. Caption yang saya buat adalah memberi salam pada kawan di AS, bahwa saya sedang mampir di sana.

Selang beberapa saat, saya menerima satu message dari seorang kawan instagram yang berasal dari Texas. Katanya, ia juga sedang berada di Washington DC. Ia sudah lama menjadi follower di instagram saya dan mengikuti perjalanan levitasi saya di berbagai tempat. Cale Yarborough, namanya, mengajak saya untuk bertemu muka. Pertama, ia ingin bertemu dan berfoto bersama. Kedua, ia ingin minta diajari caranya melakukan levitasi. Nah, ini yang menarik.

Banyak orang di Amerika masih melihat levitasi sebagai sebuah trik atau foto dengan menggunakan aplikasi. Ada banyak memang aplikasi yang membuat seolah seseorang terbang. Padahal, saya tidak pernah menggunakan semuanya itu. Levitasi saya adalah levitasi murni, yang terbang tanpa menggunakan alat.

Akhirnya, pagi hari itu, kami bertemu. Cale menjemput saya di lobby hotel. Saat bertemu, kita bersalaman dengan hangat. Cale orangnya ramah dan terbuka. Ia juga hangat tipikal Amerika, menceritakan tentang hidup dan keluarganya di Texas. Ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Usai bicara, kamipun berfoto bersama, dan tentu saja, levitasi bareng. Cale sangat cepat belajar, dan dalam satu dua kali take foto, ia sudah berhasil melakukan levitasi dengan sempurna.

Cale sangat senang mengetahui cara melakukan levitasi. Ternyata begitu sederhana dan mudah dilakukan. Tentunya tanpa menggunakan aplikasi apa-apa. Informasi ini kemudian disebut Cale di Instagramnya. Yang menarik, saat ada satu komen dari instagrammer mengenai foto levitasi saya, yang katanya menggunakan app (ia berkomentar, “This is app, levitagram), Cale malah berkomentar membela. Ia menulis “I was with him yesterday and saw it for myself. Definitely not an app!”. Hmm, menarik ya, mendapat pembelaan langsung dari kawan di Amerika. Terima kasih Cale.

Levitasi Bareng di Washington DC

Levitasi Bareng di Washington DC

Pengalaman bertemu Cale di Amerika adalah sebuah kejadian yang menarik dan tak terlupakan. Dari dua orang belum kenal (kecuali saling nge-like foto insta), yang terpisah ribuan kilometer, sekarang kita malah jadi temenan bener dan bisa bertatap muka. Kita saling bertukar cerita, kartu nama, dan informasi hangat lainnya. “If you come to Texas, let me know”, katanya.

Inti dari cerita saya adalah, inilah era netizen, era tanpa batas waktu dan tempat. Social Media memiliki banyak kelebihan dan keuntungan, tentu bila dimanfaatkan secara bijaksana. Di sana, kita bisa menambah kawan dan persahabatan. Seperti kata Nabi, silaturahmi menambah rejeki. Dan silaturahmi di era netizen ini, bergerak melampaui ruang dan waktu.

Endah Kreco, dari Sawah ke Manca Negara

Bersama Endah Kreco di Warung Kebul Kebul miliknya

Bersama Endah Kreco di Warung Kebul Kebul miliknya

Menjelang hari Kartini, saya diundang oleh Mbak Endah, seorang kawan, untuk mampir ke warung terbarunya di daerah Kebraon, Surabaya. Ia ingin memperkenalkan menu terbaru warungnya, yaitu Kreco (sejenis keong sawah – kalau di Jabar namanya Tutut) dan Bothok Lele. Sebelumnya, Mbak Endah sudah terkenal dengan produk ikan wadher (ikan kecil di air tawar). Ia sudah memiliki tiga warung makan, dan mulai merintis franchise Kreco Bumbu Serapah Khas Jatim.

Tak sampai tujuh tahun lalu, Endah tak punya apa-apa. Ia bercerita sambil menerawang mengingat masa sulitnya dulu. Ia dan suaminya, tak punya pekerjaan. Rumah tak punya, uang tak punya. Tapi Endah punya kemampuan memasak yang diwarisi dari nenek dan tetangga-tetangganya waktu kecil di Gresik.

Ia lalu mengajak suaminya menangkap ikan wader (ikan air tawar kecil) di kali dan waduk-waduk sekitar Gresik. Satu per satu ikan itu dibersihkannya, lalu digoreng. Endah lalu menjajakan dari warung ke warung. Rasa wadher Mbak Endah ini memang khas. Crispy dan tepat bumbunya. Singkat kata, permintaan meningkat, bahkan ia memasok ke beberapa restoran besar di Surabaya.

Ingin maju dan berkembang, Endah pergi ke Dinas Perikanan Kota Surabaya, untuk mendapatkan advis tentang budi daya wader. Dinas Perikanan malah tertarik dengan usahanya. Endah kemudian dipinjami modal alat pendingin, diajari cara membesarkan usaha, memberi “brand”, mengajukan label halal dari MUI, hingga berhubungan dengan bank. Merek “Qalifish” dipilihnya sebagai brand. Sejak itu, usaha Endah tumbuh pesat. Ia meraih juara pertama tingkat kota Surabaya, dan juara tiga tingkat provinsi Jatim, untuk kategori inovasi Usaha Kecil Mikro Menengah.

Dalam dua bulan terakhir ini, Endah memperkenalkan produk barunya, yaitu Kreco, atau sejenis keong sawah. Saya mencicipi kreco buatan Mbak Endah. Katanya ini pakai bumbu serapah, atau bumbu dengan aneka rempah khas Jatim. Betul sekali, rasanya uenaak. Sama sekali tidak terasa bau sawah. Bersih, segar, dan tentu makanan ini kaya gizi. Penelitian mengatakan bahwa Kreco mengandung banyak protein. Kalau di Perancis, ini bisa masuk kategori l’escargot yang harganya bisa jutaan Rupiah itu.

Kreco, sejenis keong sawah yang menjadi kudapan favorit di Surabaya. Mirip Escargot kalau di Perancis

Kreco, sejenis keong sawah yang menjadi kudapan favorit di Surabaya. Mirip Escargot kalau di Perancis

Masakan Mbak Endah bahkan pernah menembus Istana Negara di Jakarta. Katanya, suatu waktu saat kunjungan Presiden RI ke Jatim, salah seorang Paspampres merasakan kenikmatan ikan wadhernya. Endah kemudian diundang ke salah satu acara di Istana untuk menyajikan ikan wadher bagi para tamu dan pejabat tinggi. Mbak Endah memperlihatkan pada saya beberapa souvenir yang diterimanya dari Istana Negara.

Bukan itu saja, beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi melalui Dinas Perikanan, mengajak Mbak Endah untuk promosi produknya hingga ke Osaka, Jepang. Mbak Endah tentu tidak mengira kalau usahanya bisa diajak promosi di pasar luar negeri.

Endah adalah salah satu contoh Pahlawan Perempuan. Selain mampu meningkatkan taraf hidup dirinya dan keluarga, Endah juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Ia mempekerjakan ibu-ibu untuk membantunya di bagian produksi, mulai dari membersihkan ikan wadher, kreco, hingga memasak. Pemberdayaan ekonomi bagi kaum perempuan adalah salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam membangun ketahanan ekonomi kerakyatan. Surabaya terkenal sebagai satu kota yang menetapkan Pemberdayaan Ekonomi Kaum Perempuan, sebagai salah satu pilar pertumbuhannya.

Ya, kalau dilihat dari struktur demografi ekonomi, kaum perempuan Indonesia memang masih terpinggirkan. Dari jumlah penduduk miskin absolut di Indonesia, apabila dibedakan menurut jenis kelaminnya, maka penduduk perempuan miskinlebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki.

Kalau kita merinci menurut rumah tangga, maka rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan jumlahnya masih tinggi dari tahun ke tahun. Kemiskinan di Indonesia sangat lekat dan dekat dengan perempuan. Dana bantuan yang diterima dari Pemerintah sebagian besar diterima oleh laki laki, karena definisi kepala keluarga di Indonesia masih menempatkan laki-laki sebagai subjeknya.

Dampak dari kemiskinan tersebut dapat ditebak, prioritas akses pada berbagai layanan akan diberikan lebih banyak pada laki-laki. Tidak mengherankan jika perempuan identik dengan kemiskinan. Di sektor pendidikan dapat kita lihat bahwa persentase rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan yang berpendidikan SD dan SLTP lebih tinggi jumlahnya dibandingkan rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki. Sebaliknya, persentase rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki dengan pendidikan sekolah menengah ke atas jumlahnya lebih tinggi.

Perbedaan sosial, ekonomi, dan politik kaum perempuan itulah yang coba didobrak oleh R.A Kartini lebih dari seratus tahun lampau. Melalui surat-surat dan ungkapan hati kepada Stella sahabatnya, Kartini menuliskan pandangannya tentang feminisme dan nasionalisme. Di dalamnya, mencakup bagaimana peranan kaum perempuan bisa terus ditingkatkan dalam membangun negeri.

Kini, lebih dari seratus tahun, kaum perempuan Indonesia sudah terus meningkat. Pak Hermawan Kartajaya bahkan mengatakan kalau masa depan Indonesia berada di segmen Y-W-N, atau Youth, Women, and Netizen. Itulah masa depan Indonesia. Berada di peranan kaum perempuannya.

Namun berbeda dengan di kota-kota besar, tantangan kaum perempuan di pedesaan masih besar. Endah Kreco hanya satu dari sekian kaum perempuan yang mampu keluar dari stigma “lemah” kaum perempuan.

Semoga peringatan Hari Kartini, tidak terjebak hanya pada perayaan memakai kebaya di kantor dan sekolah-sekolah. Foto bersama, upload di sosial media, tentu satu acara yang menarik dan tak ada salahnya. Tapi di balik seremoni “kebaya” itu, pe-er Kartini masih banyak. Kaum perempuan Indonesia masih perlu terus diberdayakan.

Salam.

Solusi Kemiskinan dari Laut a la Pak Nadjikh

Pengolahan ikan di PT Kelola Mina Laut / photo iwan

Pengolahan ikan di PT Kelola Mina Laut / photo iwan

Pekan lalu saya bertemu dengan Pak Mohammad Nadjikh, di kantornya yang berlokasi di Kawasan Industri Gresik, Jawa Timur. Pak Nadjikh adalah pemilik sekaligus CEO dari PT Kelola Mina Laut (KML), yang merupakan perusahaan Indonesia terbesar dalam pengolahan hasil laut dan perikanan secara terpadu. Usahanya meliputi unit pengolahan ikan, udang, rajungan, teri nasi, seafood olahan, surimi, hingga bakso ikan.  Dalam setahun, Group KML mampu menghasilkan produk olahan hasil laut 20 ribu ton yang diekspor ke seluruh dunia, dan mempekerjakan lebih dari 14 ribu karyawan.

Saat banyak partai politik hanya menjanjikan kemakmuran bagi petani dan nelayan, Pak Nadjikh dalam diamnya telah memberi bukti nyata. Secara perlahan tapi pasti, ia telah mengangkat kehidupan lebih dari 500 ribu nelayan pesisir pantura dan pulau Madura. Bukan hanya para nelayan, tapi juga keluarga dan anak-anak nelayan ikut meningkat kesejahteraannya melalui konsep bisnis yang dirancang oleh Pak Nadjikh.

Group KML memang memiliki visi bisnis yang basisnya ngopeni (mengayomi) rakyat kecil. Hal ini tidak terlepas dari masa lalu Pak Nadjikh yang merasakan sulitnya kehidupan nelayan. Terlahir dari keluarga pedagang ikan, Pak Nadjikh tahu betul kesulitan hidup petani dan nelayan. Oleh karenanya ia punya tekad untuk maju, menuntut ilmu, dan memberdayakan kaum nelayan. Lulus dari IPB jurusan Teknik Industri pada tahun 1984, ia bertekad memanfaatkan ilmunya di “jalan yang benar”. Pak Nadjikh lalu memulai usaha pengolahan dan penjualan teri nasi (chirimen) pada tahun 1994.

Memulai dari nol, jerih payahnya memberi hasil yang tidak main-main. Hanya dalam kurun 15 tahun, omset usaha Pak Nadjikh telah mencapai lima triliun rupiah. Siapa yang menyangka kalau usaha awal menjual teri nasi  dari perairan Madura, Pak  Nadjikh kini telah berhasil menjadi eksportir teri nasi terbesar di Indonesia. Bahkan melalui brand “Prima Star”, KML Group telah menjadi pemasok teri nasi terbesar di pasar Jepang.

Usaha Pak Nadjikh juga terus berkembang merambah pasar Amerika Serikat, Uni Eropa, dengan produk unggulan fillet ikan kakap merah, udang, rajungan kaleng. Dan kini KML Group telah mengekspor ke lebih dari 30 negara, termasuk Rusia, Kanada, Australia, Taiwan, Korea, Tiongkok, New Zealand, dan negara-negara Timur Tengah.

Namun hal yang mengagumkan saya bukan saja soal omset dan pasar Group KML, melainkan bagaimana Pak Nadjikh menempatkan usahanya berbasis pada pemberdayaan nelayan tradisional dan pesisir.

Di pesisir Madura, banyak terdapat kampung nelayan yang seluruh nelayan masih menggunakan kapal-kapal tradisional untuk mencari ikan. Kehidupan di sana juga memprihatinkan secara sosial. Tapi justru dari sanalah, rantai usaha pak Nadjikh bermula dan dibangun.

Di perkampungan nelayan itu, ia membangun unit-unit pabrik kecil (miniplant), yang membeli hasil laut dari nelayan. Di miniplant tersebut, hasil tangkapan nelayan dikumpulkan dan diproses. Titik awal pengendalian mutu juga dilakukan di miniplant tersebut. Hasilnya mencengangkan, karena justru miniplant itu menjadi motor perubahan di kampung-kampung nelayan pesisir Madura. Saat ini, Group KML telah membangun sekitar 30 miniplant di berbagai lokasi.

Pengolahan Udang di KML Gresik / photo by iwan

Pengolahan Udang di KML Gresik / photo by iwan

Menariknya lagi, hampir 90 persen pekerja di miniplant tersebut adalah perempuan. Pada umumnya perempuan yang bekerja di sana adalah ibu-ibu rumah tangga atau remaja putri yang tinggal di daerah sekitar kampung nelayan. Bisa dibayangkan, para pria melaut, kaum perempuannya mengolah hasil tangkapan di miniplant. Nah dampaknya luar biasa, meluaslah lapangan pekerjaan di desa, sehingga meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan keluarga. Dengan meningkatkan pendapatan, tingkat pendidikan anak-anak desa juga meningkat.

Dari miniplant di kampung-kampung nelayan tersebut, produk olahan disortir, dikirim ke pusat pengolahan agroindustri, lalu diekspor ke mancanegara. Siapa menyangka, rajungan dari pesisir Madura, bisa menempati rak-rak super market besar, seperti Wall Mart di AS, atau super market kelas atas di Rusia, Kanada, dan Jepang.

Pak Nadjikh juga merancang skim pembiayaan bagi para nelayan dengan sistem dana talangan melalui perbankan. Kita tahu bahwa perbankan menganggap sektor pertanian dan perikanan sebagai sektor yang memiliki bio-risk, atau risiko yang tinggi karena berbagai ketidakpastian akibat alam. Akibatnya, tak banyak perbankan yang mau terjun ke sektor ini. Nah, Pak Nadjikh merancang skim bersama perbankan sehingga nelayan-nelayan bisa memperoleh kredit, bahkan tanpa agunan, karena dijamin perusahaannya.

Konsep bisnis Pak Nadjikh untuk memberantas kemiskinan di kalangan nelayan secara singkat dibagi dalam empat besaran, yaitu: Diferesiansi Bisnis (ekspor teri nasi ke Jepang), Diferensiasi Produk Samping (Ekspor Daging Rajungan, Kulit, kepala Ikan pun diolah), Desentralisasi Proses Industri (Membangun Miniplant di daerah-daerah nelayan), dan Dekonsentrasi Usaha Penunjang (Melalui toko, warung, penjual baso keliling).

Indonesia adalah sebuah potensi besar dari sisi kekayaan laut. Lautan kita adalah “amazon of the seas”, memiliki aneka ragam kekayaan biota laut. Oleh karenanya agroindustry hasil laut adalah salah satu industri strategis. Agroindustri hasil laut menggunakan sumber daya lokal yang menjadi keunggulan komparatif Indonesia. Sumber daya itu juga mempunyai keterkaitan yang kuat (backward dan forward linkage) dengan budidaya perikanan dan aktivitas ekonomi lainnya.

Sumber daya kelautan adalah sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga keberlangsungannya dapat dipertahankan. Industri seperti ini prospeknya besar untuk dijadikan penggerak roda perekonomian daerah ke depan, sehingga dapat berperan penting dalam menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Bersama Pak Nadjikh (tengah) di depan frozen mart, usai mengunjungi pemrosesan hasil laut di pabriknya.

Bersama Pak Nadjikh (tengah) di depan frozen mart, usai mengunjungi pemrosesan hasil laut di pabriknya.

Langkah Pak Nadjikh adalah satu contoh membanggakan dari wirausahawan negeri ini yang sukses membantu kehidupan masyarakat. Sebagaimana pepatah, economy is for the people, not the people for the economy. Ini artinya, berbagai indikator makroekonomi yang bagus, akan percuma apabila tidak meningkatkan taraf hidup rakyat.

Untuk ukuran pengusaha sukses dan kaya raya, Pak Nadjikh adalah pribadi yang sederhana, bahkan sangat sangat sederhana. Jiwanya rendah hati dan tidak menampakkan kemewahan secara berlebihan untuk ukuran orang kaya. Kerendahan hati ini juga menjadi konci suksesnya dalam membangun usaha.

Sebagai penutup, saya menanyakan soal dunia politik. Umumnya pengusaha yang sudah sukses dan kaya, pasti tergoda untuk terjun ke dunia politik. Di sini jawabannya menarik, ia ingin memberi perhatian penuh pada perusahaan dan mengangkat taraf hidup masyarakat nelayan. Tidak tertarik dunia politik yang penuh racun, tipu daya, dan kejijikan. Ia tidak mau. Atau mungkin belum mau. Semoga bisa tetap konsisten dan terus demikian.

Salam.

Dari Jejak Nazi Jerman hingga Catatan Pramoedya

Bersama Pak Wie di depan Perpustakaan Medayu Agung

Bersama Pak Wie di depan Perpustakaan Medayu Agung

Kemarin saya bertemu dengan Pak Oei Hiem Hwie, yang akrab dipanggil pak Wie. Usianya 76 tahun. Kami bertemu di perpustakaan Medayu Agung, daerah Rungkut, Surabaya, yang didirikannya sejak tahun 2001. Perpustakaan itu memiliki koleksi buku-buku kuno yang sangat langka.  Sebagai pecinta sejarah dan kisah masa lalu, saat memasuki ruang perpustakaan tersebut, saya merasa berada dalam “hidden paradise” atau tempat tersembunyi yang sangat berharga. Sungguh, priceless!

Pak Wie bercerita banyak soal masa lalu dari koleksi buku ataupun koran yang dimilikinya. Perhatian pertama saya tertambat pada buku berbahasa Jerman yang memuat tentang foto-foto tentara Nazi. Menurut pak  Wie, di awal tahun 1940-an, dunia dikuasai oleh dua kekuatan, Jerman dan Jepang. Saat itu, Jerman ingin menguasai Eropa, dan Jepang ingin menguasai Asia. Di antara mereka terjalin kerjasama dan saling bertukar informasi serta kekuatan.  Tak heran, banyak tentara Nazi yang saat itu berada di Indonesia. Ditemukannya bangkai kapal selam Nazi tipe U-Boat Karimun Jawa pada tahun 2013 lalu, semakin menambah bukti adanya peran tentara Nazi di Indonesia.

Persinggungan dengan Nazi itu juga dapat dilihat dari koleksi koran-koran Jerman yang masih tersimpan rapi di Perpustakaan Medayu. Ada satu koran tertanggal 3 Agustus 1936 yang memuat berita saat Adolf Hitler, The Fuehrer, sedang membuka Olimpiade di Jerman. Berita di koran itu seperti menunjukkan sedang bangkitnya kekuatan Jerman di Eropa.

Hal yang lebih menarik adalah saat pak Wie menunjukkan koleksi buku “Mein Kampf” edisi asli dan bertanda tangan Adolf Hitler. Buku ini sudah sangat langka dan hanya ada beberapa eksemplar di dunia karena sebagian besar dimusnahkan saat Jerman kalah perang. Buku yang masih berbahasa Jerman tersebut tersimpan rapi bersama buku-buku literatur klasik lainnya, seperti Kapital karya Marx, Materialisme dan Empirokritisime karya Lenin, History of Java karya Raffles, dan cetakan asli buku-buku filsafat , mulai dari Immanuel Kant, Hegel, hingga Plato.

Buku Mein Kampf edisi langka

Buku Mein Kampf edisi langka

Koran terbitan Jerman tahun 1936

Koran terbitan Jerman tahun 1936

Bukan hanya literature Eropa, Pak Wi juga punya buku-buku terbitan pertengahan tahun 1800-an, komik Sam Kok terbitan tahun 1910, koleksi buku Oud Batavia, Oud Surabaia, Oud Malang, buku sejarah Raja Madura dalam Bahasa Perancis, kliping koran Star Weekly, majalah Sin Po edisi tahun 1926, majalah Tempo tahun 1971, dan masih banyak lagi.

Dengan koleksi yang begitu luar biasa, kita bisa menghabiskan waktu berhari-hari kalau ingin mereguk keseluruhan informasi dan pengetahuan yang ada.

Namun selain koleksi buku itu, yang lebih menyentuh perasaan adalah kisah hidup Pak Wie, yang ternyata penuh dengan pengalaman miris. Pak Wie ternyata adalah mantan tahanan politik di era Orde Baru. Sebelum tahun 1965, ia bekerja sebagai wartawan di Harian Trompet Masjarakat, yang saat itu dianggap pro Sukarno. Ia bahkan kerap bertemu dan pernah mewawancarai Sukarno saat itu.

Saat pecah tragedi 1965, pak Wie dikejar dan diciduk oleh aparat karena dianggap pro Sukarno. Ia diinterogasi dan disangka anggota PKI. Tapi ia tak pernah terbukti sama sekali sebagai anggota PKI, melainkan hanya dianggap pro-Sukarno dan aktivis organisasi massa Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Nah, keanggotaannya dalam Baperki dijadikan dalih untuk menahannya.

Tanpa pengadilan, Pak Wie ditahan di Batu selama 3 bulan, lalu pindah ke penjara Lowokwaru Malang, lalu pindah ke Kalisosok Surabaya selama 5 tahun. Dari Kalisosok, ia dipindahkan ke Pulau Buru selama 8 tahun. Total ia menghabiskan waktu selama 13 tahun di penjara.

Di Pulau Buru itulah ia berteman dekat dengan Pramoedya Ananta Toer. Bahkan Pak Wie menjadi salah satu sahabat dekat yang membantu pak Pram dalam menulis. Saat itu pak Pram belum diperbolehkan memakai mesin tik. Pak Wi yang mencarikan kertas dari merobek-robek kertas sak semen. Tulisan tangan Pram di sak semen itu, menjadi karya besarnya yang berjudul “Bumi Manusia”.

Di Perpustakaan Medayu Agung kita bisa melihat coretan asli Pramoedya di kertas semen, dan juga surat menyurat antara Pak Pram dan Pak Wie di penjara. Ada juga edisi asli “Buku Manusia” yang bertanda tangan Pramoedya. Sungguh sebuah koleksi yang luar biasa.

Catatan dan Tulisan Tangan Pramoedya di Pulau Buru

Catatan dan Tulisan Tangan Pramoedya di Pulau Buru

Pak Wie bersyukur bahwa seluruh koleksi bukunya tidak disita dan dimusnahkan aparat saat itu. Ia dan keluarganya menyembunyikan beberapa koleksi buku kuno di atap rumahnya di Malang. Sebagian besar koleksi sudah dibakar dan disita, tapi yang disembunyikan di atap itulah yang masih bisa kita lihat saat ini di perpustakaan Medayu Agung.

Ratusan koleksi itu baru berani ia turunkan pada tahun 1999, setelah Orde Baru jatuh. Sekitar tahun 2000, ada orang Australia yang mendengar bahwa Pak Wi memiliki koleksi buku langka. Orang itu datang menemui pak Wie dan menawarkan uang sejumlah 1 milyar rupiah untuk membawa seluruh koleksi buku tua yang dimiliki pak Wie tersebut. Siapa tak tergiur uang, apalagi dalam kondisi membutuhkan saat itu.

Tapi pak Wie menolak. Ia berpikir, kalau buku itu dibawa ke Australia, nanti akan digunakan sebagai cara untuk menjelek-jelekkan Indonesia. Ia tidak rela kalau Indonesia dijelek-jelekkan di dunia internasional.

Wah, luar biasa pak Wie. Ia, selama 13 tahun disiksa dan ditahan di penjara tanpa diadili. Lalu sekeluar dari penjara, ia juga diberi status Eks Tapol yang hampir hilang hak warganegaranya, tak bisa bekerja di mana-mana. Tapi saat ditawarkan uang besar, dengan risiko nama Indonesia dijelekkan di luar negeri, ia tak mau menerima. Kata pak Wie, ia masih cinta Indonesia. Ia juga tak menyimpan dendam pada rezim yang memenjarakannya dulu. Anggap saja dulu saya disekolahne, begitu katanya.

Buku-buku kuno dan langka milik pak Wie, tidak akan dijualnya. Buku-buku itu akan digunakan sebagai bahan pembelajaran generasi muda Indonesia.  Untuk itulah, dengan dukungan berbagai donator, Perpustakaan Medayu Agung itu didirikan. Jadi, kalau sempat mampir Surabaya, datang deh ke sini. Belajar dari sejarah negeri kita, yang dulu pernah penuh gejolak dan saling benci. Ke depan, kita harus lebih baik. Bersama membangun bangsa, bukan saling membenci. Ini kenapa dulu Presiden Sukarno berpesan, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Karena tanpa belajar dari sejarah, bangsa ini tidak akan maju.

Salam semangat.

Pak Wie menjelaskan koleksi Perpustakaan Medayu Agung

Pak Wie menjelaskan koleksi Perpustakaan Medayu Agung

Senyum Anti, Kini Tiada Lagi

Senyum Anti Kini Tiada Lagi

Senyum Anti Kini Tiada Lagi

Anti telah berpulang. Usianya hampir 95 tahun. Anti, panggilan sayang kami untuk nenek tercinta, meninggal dalam damai sore tadi (13/11). Kabar duka kepulangan Anti sore itu sungguh menyesakkan hati saya. Meski kematian adalah hal yang niscaya, tapi saat ia tiba, kita seolah tak kuasa menahan dukanya.

Bagi saya, Anti adalah sebuah “sanctuary”, tempat mencari berkah kehidupan. Kalau berkesempatan pulang ke Jakarta, saya selalu coba sempatkan mampir ke rumahnya. Dari mulutnya selalu melantun doa dan keberkahan. “Anti selalu doain Iwan, semua anak cucu, setiap habis sholat, biar rukun dan bahagia hidupnya”. Itu kata kunci doa Anti, agar hidup ini rukun dan bahagia.

Saat duduk di bangku SMP hingga SMA, saya tinggal di bawah asuhan Anti. Orang tua saya kebetulan ditugaskan di luar kota. Anti-lah yang membesarkan saya. Ia orang yang sangat detil dan teliti. Mulai dari mandi pagi, cara makan, sikat gigi, tidur, ia sangat detil. Anti-lah yang mengajarkan saya cara melipat selimut dan membersihkan tempat tidur. Ia memberi contoh membersihkan kasur dengan “tebah” atau sapu lidi. Biar bersih ga ada pasir, begitu katanya dulu. Ya. kebersihan dan kedisiplinan adalah hal yang perlu dipegang setiap manusia.

Di sisi kehidupan, Anti punya rahasia yang bisa menjadikan hidup bahagia. Ia punya senyum tulus yang berpendar dari hati terdalam. Banyak orang yang merasakan ketenangan dan kedamaian kalau berbicara dengan Anti. Senyum damainya menebar aura positif. Anti selalu tersenyum pada siapa saja. Ia jarang memasang wajah angker atau cemberut. Setiap orang yang bertemu, pasti menemui wajah yang tersenyum. Dari Anti saya belajar, kalau senyum yang tulus bisa memberi energi positif, baik bagi diri kita, atau orang lain.

Anti juga selalu mengingatkan saya tentang filosofi Jawa, “Banyu Mili”. Itu adalah filosofi yang artinya jangan pernah “ngoyo”. Maksud dari “Banyu Mili” adalah, kendati tidak besar, yang penting rezeki selalu mengalir. “Mili” berarti terus mengalir, walau tidak deras, seperti sungai kecil, yang meski sedikit, airnya tiada henti mengalir.

Anti selalu meyakini bahwa apa yang diberikan hidup, harus diterima. Tapi apa yang tidak diberikan hidup, jangan diminta. Mencari rejeki, tak perlu serakah dan ngoyo. Karena yang namanya dunia, tak akan pernah cukup. Anti mengajarkan saya untuk mampu berkata “cukup”. Tak perlu mencari aliran air yang besar. Seberapa yang didapatkan hari ini, disyukuri. Filsafat nenek ini, dengan kata lain adalah “Hidup, tanpa Memberontak Terhadap Hidup”.

Lihatlah hidup Anti. Ia selalu pasrah. Saat ada orang yang mencoba menjahatinya, ia tak pernah mendendam. Ia selalu memaafkan siapa saja. Kadang-kadang saya lihat ia misuh-misuh (mengumpat) pada seseorang, tapi sesudahnya, ia pasrahkan kembali pada Gusti Allah.  Ia memaafkan.

Banyu Mili menjadikan Anti menganut pola hidup sederhana. Makan secukupnya, berbelanja sesuai kebutuhan. Ia suka marah kalau anak cucunya membeli barang yang mahal, atau tidak diperlukan. “Buat apa beli sepatu, atau baju, yang harganya mahal. Buang-buang duit saja”.  Kadang-kadang anak cucunya tak pernah menyebutkan harga sebenarnya dari suatu barang yang diberikan pada Anti. Semata agar Anti tidak marah. Anti memang tak pernah menilai dunia dari daya beli. Baginya keutamaan adalah keluhuran, bukan harga dan uang.

Saat terakhir kami sekeluarga bertemu Anti

Saat terakhir kami sekeluarga bertemu Anti

Anti juga menjunjung tinggi kerukunan dalam keluarga. Kalau ada anak cucunya yang berselisih, ia sedih. Maklum, Anti memiliki 7 orang anak, 16 cucu, dan 22 cicit. Dengan berbagai mantu, cucu mantu, segala karakteristik. Sesekali di dalam keluarga terjadi ketidakcocokan. Kalau itu sempat terjadi, Anti sangat sedih. Ia sering berpesan pada saya, “Nek karo sedulur sing rukun”. Umumnya, anak cucu akan rukun kembali. Ya, kerukunan adalah hal paling penting dalam kehidupan bersama.

Dalam pertemuan beberapa minggu lalu, Anti menyampaikan keinginannya main ke Surabaya. Ia ingin jalan-jalan dan mencicipi makanan di Surabaya. Kita semua  hanya tersenyum, karena kondisi Anti dalam enam bulan terakhir ini turun drastis. Organ-organ tubuhnya menua dan berkurang fungsinya.

Dan sore tadi, Anti paripurna. Ia berpulang dengan damai. Bagi anak cucu yang ditinggalkan, kepergiannya adalah sebuah kehilangan. Sanctuary, tempat mencari berkah kehidupan itu, kini sudah tiada. Senyum manis dan tulus Anti, yang mencerminkan pancaran hatinya, kini tinggal kenangan.

Senyum Anti, kini tiada lagi. Saya tidak bisa lagi melihat Anti tersenyum. Senyum yang selalu saya rindukan bila tidak bertemu dengannya. Tapi saya yakin, di tempat barunya, Anti akan tetap tersenyum.

Selamat jalan Anti. Pergilah dalam damai ke tempat yang penuh kedamaian.

Anti (paling kiri), bersama almarhum Kakung, dan anak-anaknya, di rumah Bendungan Jago, tahun 1950-an / Dok. Keluarga

Anti (paling kiri), bersama almarhum Kakung, dan anak-anaknya, di rumah Bendungan Jago, tahun 1950-an / Dok. Keluarga

 

Bedah Buku Malam: Surabaya Punya Cerita

Mas Ipung (no 2 dari kiri), penulis buku Surabaya Punya Cerita, saat launching buku, bersama Kiki Aishwarya, Duta Museum Jatim 2012, dan Prof. Matsui dari Jepang.

Mas Ipung (no 2 dari kiri), penulis buku Surabaya Punya Cerita, saat launching buku, bersama Kiki Aishwarya, Duta Museum Jatim 2012, dan Prof. Matsui dari Jepang.

Tak banyak anak muda yang mau dan mampu menuliskan kisah tentang kotanya secara menarik dan konsisten. Akibatnya, modernitas memakan waktu dan akhirnya pelajaran dari masa lampau raib tergilas zaman. Kitapun menjadi bangsa yang buta sejarah. Hal itulah yang menjadi kegalauan dari Dhahana Adi, yang akrab juga dipanggil Ipunk, saat peluncuran buku karyanya, berjudul “Surabaya Punya Cerita”, tadi malam (2/11) di pelataran gedung Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya.

Kegalauan itulah yang membuat Ipunk mencatat berbagai cerita tentang kota Surabaya, lalu memuatnya dalam blog “Surabaya Punya Cerita” (SPC). Berbagai tanggapan positifpun diterimanya dari berbagai kalangan di Surabaya. Ipung kemudian mengumpulkan berbagai cerita dari blog SPC, dan atas dukungan kawan-kawannya, kumpulan cerita itu diterbitkan dalam bentuk buku melalui nulisbuku.com.

Bagi pecinta kisah-kisah sejarah tentang sebuah kota, membaca buku SPC ini sangat mengasyikkan. Saya sendiri, yang baru tinggal di Surabaya sangat merasakan, tak banyak buku yang menulis tentang kota ini. Kalaupun ada, hanya buku travel yang memuat informasi standar mengenai wisata di Surabaya, ke mana harus pergi, di mana lokasinya, makanan khas, standar seperti itu. Itupun jumlahnya tak banyak.

Satu buku menarik yang dapat dibaca tentang perjalanan kota Surabaya adalah “Hikayat Surabaya” dan “Monggo Diphun Badhog” karya Dukut Imam Widodo. Berbagai kisah sejarah tempo dulu dapat dibaca secara menarik di buku itu. Namun perspektif dari anak muda tentang Surabaya, tidak banyak. Oleh karenanya, kehadiran buku SPC ini mampu mengobati kerinduan khalayak muda, dan pembaca yang ingin mengetahui kisah-kisah di balik perjalanan kota Surabaya.

Menariknya, Ipung menulis buku ini bukan seperti buku sejarah, yang isinya hanyalah “jaartalen” atau deretan tanggal-tanggal kejadian. Tapi ia mengangkat sisi-sisi humanis, yang unik, tidak terbaca, dan dituturkan sebagai “petite histoire”, atau sejarah kecil, yang mampu membuat kita ternganga, kadang baru tersadar akan  kebenaran ceritanya yang bisa jadi berbeda dengan yang kita tahu selama ini.

Kisah soal maestro jazz Bubi Chen misalnya. Bubi Chen adalah pemusik Jazz Indonesia berkelas dunia yang berasal dari Surabaya. Hingga kini, meski sudah meninggal, Bubi Chen tetap menjadi legenda musik jazz. Ipung menceritakan perjalanan Bubi Chen di Surabaya. Tapi di ujungnya, artikel ini seakan mengingatkan bahwa Surabaya adalah juga kota yang melahirkan banyak seniman kelas dunia. Bukan hanya Bubi Chen, Ipung juga menulis tentang Srimulat dan pemusik Gombloh, yang berawal dan bangkit dari Surabaya. Lalu, bagaimana regenerasi seniman dilakukan di Surabaya? Ini adalah sentilan yang cukup tajam dari artikel-artikel di buku SPC.

Selain musik, buku SPC juga menulis berbagai “petite histoire” menarik.  Bagaimana sejarah awal berdirinya Bandara Udara Djuanda Surabaya? Bahwa ternyata Djuanda bukanlah orang asli atau pahlawan asal Surabaya. Lalu kenapa namanya diabadikan jadi nama bandara? .. Kemudian ada sejarah Pasar Turi, Jembatan Merah, dan kisah pahlawan Surabaya. Dalam konteks kekinian, buku SPC memuat aneka dialog dan diskusi dengan pelaku sejarah, hingga wirausaha Surabaya saat ini yang sukses.

Cover buku Surabaya Punya Cerita

Cover buku Surabaya Punya Cerita

Buku SPC ini semakin dibaca, semakin menimbulkan rasa ingin tahu.  Dalam pembukaan diskusi, penulis Sastra Jawa senior, Suparto Brata, yang usianya kini 81 tahun, mengatakan bahwa tulisan di buku SPC ini bercerita tentang Surabaya. Namun tentu tidak berhenti di sana, buku ini juga bercerita untuk Indonesia.

Akhayari Hananto, pengelola Good News From Indonesia, semalam juga mengatakan bahwa buku ini adalah sebuah berita baik bagi generasi muda Indonesia. Andai banyak anak muda di Indonesia yang punya motivasi, semangat, dan optimisme besar, lalu menuliskan buah pikirnya dalam bentuk buku, masa depan Indonesia akan semakin cerah.

Saya sendiri yakin, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang produktif dan bangsa yang rajin menulis. Pemikiran dan perbuatan, yang diimbangi dengan tulisan-tulisan, akan menjadi pelajaran bagi generasi-generasi penerus. Begitulah peradaban diturunkan dari masa ke masa.

Memberikan sedikit pengantar, sebelum diskusi buku dimulai.

Memberikan sedikit pengantar, sebelum diskusi buku dimulai.

Cinta Indonesia a la Wieteke van Dort

Bersama Tante Lien atau Wieteke van Dort di villa Kaliandra, Pasuruan.

Bersama Tante Lien atau Wieteke van Dort di villa Kaliandra, Pasuruan.

Siapa tak kenal lagu “Geef Mij Maar Nasi Goreng”? Lagu yang populer di Belanda dan Indonesia tersebut dinyanyikan oleh Wieteke van Dort. Ia adalah orang Belanda yang lahir pada tahun 1943 di Surabaya. Wieteke meninggalkan Indonesia ke Belanda, saat berusia 14 tahun. Kini, ia tinggal di Den Hag. Usianya 70 tahun.

Saya sendiri adalah penggemar Wieteke van Dort. Lagu-lagunya sangat unik karena menggambarkan kecintaan orang Belanda pada kehidupan di Indonesia. Kalau melihat lirik-lirik lagunya, selain berisi kecintaan, juga kerinduan pada kehidupan di Indonesia. Namun informasi mengenai Wieteke sangat minim di internet. Ia memang memiliki website, tapi sayangnya semua dalam bahasa Belanda, sehingga tak banyak yang bisa memahaminya.

Saat seorang kawan mengajak saya untuk menemui Wieteke van Dort beberapa hari lalu, saya langsung menyambut gembira. Mbak Maya, penggagas komunitas Plesiran Pecinan Surabaya, menghubungi saya dan memberitahu kalau Wieteke van Dort sedang berlibur di Jawa Timur. Dan yang menarik lagi, ia bersedia menerima kita untuk ngobrol-ngobrol.

Kamipun menuju villa Kaliandra, milik Yayasan Kaliandra Sejati, yang terletak di Desa Ledug, kaki Gunung Arjuna, Pasuruan. Di sana, Wieteke sedang menjalani liburan bersama suaminya, Theo Moody, dan dua orang kawannya, Reen dan Iest. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam, dari Surabaya ke villa Kaliandra.

Setiba di Kaliandra, kami diterima dengan hangat oleh tante Wieteke, suami, dan kawan-kawannya. Di usianya yang sudah 70 tahun, tante Wieteke masih tampil prima dan energik. Ekspresinya juga hangat dan penuh semangat. Dari semula ngobrol-ngobrol di beranda luar, ia malah  mengajak kita untuk sarapan pagi bersama di beranda dalam villa yang sangat indah itu. Suasana villa Kaliandra memang sungguh nyaman dan cocok untuk mereka yang ingin berlibur jauh dari keramaian kota. Theo Moody menyebut tempat itu sebagai “paradise”.

Sarapan bersama Tante Wieteke, suami, dan kawan-kawannya

Sarapan bersama Tante Wieteke, suami, dan kawan-kawannya

Indonesia is Paradise, kata Theo Moody, suami Tante Lien

Indonesia is Paradise, kata Theo Moody, suami Tante Lien

Rupanya ini adalah kali kedua mereka berlibur di sana.  Ya, meski tinggal di Belanda, kecintaan tante Wieteke pada Indonesia tidak pernah luntur. Setiap tahun, ia dan suaminya selalu berlibur ke Indonesia. Bisa dua hingga tiga kali dalam setahun. Ia selalu mampir Surabaya, sebagai kota masa kecilnya. Di Surabaya, Wieteke masih memiliki sahabat masa kecil yang kini sudah sama-sama berusia 70 tahun. Namanya Poplin dan Rosie. Mereka kadang bertemu, melakukan reuni, dan mengenang masa kecil mereka di Surabaya.

Bagaimana Surabaya sekarang menurut tante Wieteke? Sejak dulu, Surabaya sudah ramai, dan sekarang semakin ramai. Tapi ia kagum dengan kondisi Surabaya kini yang lebih tertata rapi. Ia bercerita tentang masa kecilnya di Surabaya. Keluarga Wieteke tinggal di Jalan Supratman No. 70. Rumah itu masih ada hingga kini namun sudah dimiliki orang lain. Ia kerap berhenti di depan rumahnya dulu untuk mengenang masa-masa kecilnya. Wieteke juga masih ingat kondisi di jalan Embong Sawo, Darmo, hingga pabrik karet milik ayah tirinya di Ngagel Jaya.

Sambil menerawang jauh, ia teringat peristiwa di tahun 1957. Saat itu, Presiden Sukarno menasionalisasi asset-aset milik asing yang ada di Indonesia. Dan otomatis, keluarga van Dort kehilangan seluruh hartanya. Mereka juga harus meninggalkan Indonesia, bersama dengan sekitar 300 ribu orang Belanda lainnya. Kembali ke Belanda pada masa itu bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka harus beradaptasi kembali dengan cuaca yang dingin, makanan yang “tidak enak”, hingga penerimaan yang kurang baik dari warga Belanda.

Wieteke muda kemudian menempuh pendidikan di Akademi Seni dan Drama. Dari situlah, ia kemudian berkecimpung di dunia seni dan pertunjukan. Di Belanda, Wieteke van Dort  lalu dikenal sebagai artis, komedian, penyanyi, dan pembawa acara di berbagai media, baik televisi maupun panggung-panggung.

Program televisinya, The Late Late Lien Show, mendapat penggemar yang banyak, umumnya para orang-orang tua di Belanda yang memiliki kenangan pada Indonesia. Di program itu, Wieteke menjadi host dengan berperan sebagai Tante Lien. Acara Lien Show mengangkat berbagai topik, dan sebagian besarnya adalah kenangan pada Indonesia, atau berbagai hal yang berkaitan dengan pengalaman di masa “Indische”.

Ia bercerita, kalau dalam penampilannya menyebutkan kata-kata Indonesia, seperti “bangkrut”, “makan”, atau kata lainnya, banyak yang ikut-ikutan mengulang kalimat itu sambil mengingat-ingat artinya. Mereka seolah dibawa pada masa kecilnya dulu.

Program Tante Lien sudah berakhir beberapa tahun lalu. Tapi di usianya kini, ia belum berhenti. Wieteke masih terus beraktivitas. Setiap hari, ia sibuk mengisi panggung sandiwara, cerita anak-anak, dan tentu tetap menyanyi di berbagai acara. Meski sudah tinggal di Belanda, kerinduan dan kecintaan Wieteke van Dort pada Indonesia tak pupus. Ia terus mencipta lagu-lagu yang berisi kerinduan pada Indonesia.  Lagu nasi goreng bercerita tentang kerinduan pada nasi goreng. Selain itu, ada lagi lagu “Terima Kasih voor jouw nasi”, yang bercerita tentang terima kasihnya pada nasi di Indonesia.

Selain menyanyi, Wieteke kini juga sedang dalam proses menulis buku. Ia menuliskan kisah-kisah masa kecilnya di Surabaya dalam beberapa seri buku. Saat ini bukunya masih berbahasa Belanda. Namun saya menyarankan juga untuk segera dapat diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, agar orang Indonesia dapat membaca rekaman Surabaya tempo doeloe dari kenangan seorang Belanda yang pernah tinggal di sana.

Kurangnya penghargaan pada seniman

Ada satu hal yang disesalkan oleh Wieteke van Dort tentang karya-karyanya di Indonesia. Hal itu menyangkut soal penghargaan pada seniman. Ia bercerita bahwa dulu pernah ada orang Indonesia yang menawarkan kontrak atas lagunya “Geef Mij Maar Nasi Goreng”. Lagu itu akan diputar di Indonesia dalam berbagai rekaman. Tapi, hingga saat ini, ia tak pernah menerima satu peserpun royalti atau penghargaan atas lagu itu. Padahal, lagu itu sering diputar di berbagai acara televisi berskala nasional, acara-acara resmi, bahkan di lomba-lomba reality show.

Wieteke mengatakan bahwa kalau ia membawakan lagu seperti Bengawan Solo, atau Jembatan Merah, ia selalu mengeluarkan uang untuk membeli royalti atas penggunaan lagu tersebut. Ia bahkan pernah memberikan kompensasi langsung ke Gesang, pengarang lagu Bengawan Solo, karena menyanyikan lagu tersebut di salah satu albumnya. Yaah, penghargaan pada seniman di Indonesia memang masih belum seperti di Belanda, demikian ujarnya.

Terlepas dari itu semua, Wieteke tetap cinta pada Indonesia. Keindahan alam Indonesia, keramahan orang-orangnya, kelezatan masakannya, hingga kenangan indah di masa kecilnya, menjadikan Indonesia sebagai tanah air keduanya. Sambil makan gado-gado, Wieteke mengatakan bahwa makanan Indonesia adalah satu hal yang selalu membuatnya rindu. Di Belanda ada banyak warung Indonesia, tapi tetap saja tidak selezat di Indonesia.

Pagi hari itu, petugas villa menawarkan nasi goreng pada tante Wieteke. Tapi ia menolak dengan alasan sudah kenyang. Sambil bergurau saya katakan, “Katanya tante kangen nasi goreng, sambil merefer lagu nasi goreng, kenapa sekarang tidak mau makan?” Ia menjawab sambil tertawa, “Hahaha.. saya sudah tua sekarang, harus kurangi makanan yang berat-berat di pagi hari”.

Tante Wieteke kemudian memberikan saya salah satu CD albumnya yang berjudul, “Land van de Zon”, atau Land of the Sun. Album itu berisi lagu-lagu yang mengacu pada keindahan negeri Indonesia. Ya, negeri kita memang indah, kaya, dan penuh potensi. Tak heran kalau banyak orang asing yang rindu pada keindahannya. Tentu amat disayangkan, kalau kita tidak mampu menjaganya.

Salam Nasi Goreng. Geef Mij Maar Nasi Goreng !

Land van de Zon, salah satu album dari Tante Lien

Land van de Zon, salah satu album dari Tante Lien