Bertemu Kawan Instagram di Amerika

Meet Cale, new friend from instagram, in Washington DC

Meet Cale, new friend from instagram, in Washington DC

Saya masih suka amazed dengan yg namanya social media. Beberapa kali saya merasakan bagaimana dari social media bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak kawan baru. Saya berkenalan dengan mbak Trinity Traveler melalui media twitter. Saat itu ia sedang di Tokyo, kita lalu berjumpa, bahkan Trinity sempat mampir satu malam di rumah kami. Setelah itu kita jadi berteman. Penerbitan tulisan saya di beberapa majalah, bahkan hingga penerbitan buku saya, tak lepas dari jasa Trinity. Awalnya, hanya social media.

Banyak lagi teman-teman yang saya kenal dari social media. Dari facebook saya banyak berkenalan dengan kawan, baik di Indonesia maupun di luar negri. Perkenalan itu menurut saya lebih banyak positif dan konstruktifnya. Kita menambah silaturahmi, memperpanjang jaringan pertemanan, hingga tentunya saling memberi manfaat dan ilmu pengetahuan. Di blog Kompasiana, saya merasakan persahabatan yang luar biasa. Awalnya kami hanya mengenal dari komentar ataupun tulisan di blog. Namun admin Kompasiana sangat aktif mengadakan kopi darat. Kita lalu jadi saling mengenal, dan terus berhubungan akrab hingga sekarang.

Menambah kawan adalah sebuah hal menyenangkan. Dan beberapa waktu lalu, saya merasakan lagi pengalaman yang tak terlupakan. Kali ini dari social media Instagram milik saya. Sejak “brand” Flying Traveler disematkan di instagram saya, para penggemar foto levitasi banyak yang menjadi kawan saya di instagram. Mereka berasal dari berbagai negara, mulai dari Amerika Latin, Eropa, Asia, bahkan sebagian besar dari Amerika Serikat.

Oleh karena itu, saat mampir ke Washington DC beberapa waktu lalu, saya memposting beberapa foto levitasi di sana. Caption yang saya buat adalah memberi salam pada kawan di AS, bahwa saya sedang mampir di sana.

Selang beberapa saat, saya menerima satu message dari seorang kawan instagram yang berasal dari Texas. Katanya, ia juga sedang berada di Washington DC. Ia sudah lama menjadi follower di instagram saya dan mengikuti perjalanan levitasi saya di berbagai tempat. Cale Yarborough, namanya, mengajak saya untuk bertemu muka. Pertama, ia ingin bertemu dan berfoto bersama. Kedua, ia ingin minta diajari caranya melakukan levitasi. Nah, ini yang menarik.

Banyak orang di Amerika masih melihat levitasi sebagai sebuah trik atau foto dengan menggunakan aplikasi. Ada banyak memang aplikasi yang membuat seolah seseorang terbang. Padahal, saya tidak pernah menggunakan semuanya itu. Levitasi saya adalah levitasi murni, yang terbang tanpa menggunakan alat.

Akhirnya, pagi hari itu, kami bertemu. Cale menjemput saya di lobby hotel. Saat bertemu, kita bersalaman dengan hangat. Cale orangnya ramah dan terbuka. Ia juga hangat tipikal Amerika, menceritakan tentang hidup dan keluarganya di Texas. Ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Usai bicara, kamipun berfoto bersama, dan tentu saja, levitasi bareng. Cale sangat cepat belajar, dan dalam satu dua kali take foto, ia sudah berhasil melakukan levitasi dengan sempurna.

Cale sangat senang mengetahui cara melakukan levitasi. Ternyata begitu sederhana dan mudah dilakukan. Tentunya tanpa menggunakan aplikasi apa-apa. Informasi ini kemudian disebut Cale di Instagramnya. Yang menarik, saat ada satu komen dari instagrammer mengenai foto levitasi saya, yang katanya menggunakan app (ia berkomentar, “This is app, levitagram), Cale malah berkomentar membela. Ia menulis “I was with him yesterday and saw it for myself. Definitely not an app!”. Hmm, menarik ya, mendapat pembelaan langsung dari kawan di Amerika. Terima kasih Cale.

Levitasi Bareng di Washington DC

Levitasi Bareng di Washington DC

Pengalaman bertemu Cale di Amerika adalah sebuah kejadian yang menarik dan tak terlupakan. Dari dua orang belum kenal (kecuali saling nge-like foto insta), yang terpisah ribuan kilometer, sekarang kita malah jadi temenan bener dan bisa bertatap muka. Kita saling bertukar cerita, kartu nama, dan informasi hangat lainnya. “If you come to Texas, let me know”, katanya.

Inti dari cerita saya adalah, inilah era netizen, era tanpa batas waktu dan tempat. Social Media memiliki banyak kelebihan dan keuntungan, tentu bila dimanfaatkan secara bijaksana. Di sana, kita bisa menambah kawan dan persahabatan. Seperti kata Nabi, silaturahmi menambah rejeki. Dan silaturahmi di era netizen ini, bergerak melampaui ruang dan waktu.

Endah Kreco, dari Sawah ke Manca Negara

Bersama Endah Kreco di Warung Kebul Kebul miliknya

Bersama Endah Kreco di Warung Kebul Kebul miliknya

Menjelang hari Kartini, saya diundang oleh Mbak Endah, seorang kawan, untuk mampir ke warung terbarunya di daerah Kebraon, Surabaya. Ia ingin memperkenalkan menu terbaru warungnya, yaitu Kreco (sejenis keong sawah – kalau di Jabar namanya Tutut) dan Bothok Lele. Sebelumnya, Mbak Endah sudah terkenal dengan produk ikan wadher (ikan kecil di air tawar). Ia sudah memiliki tiga warung makan, dan mulai merintis franchise Kreco Bumbu Serapah Khas Jatim.

Tak sampai tujuh tahun lalu, Endah tak punya apa-apa. Ia bercerita sambil menerawang mengingat masa sulitnya dulu. Ia dan suaminya, tak punya pekerjaan. Rumah tak punya, uang tak punya. Tapi Endah punya kemampuan memasak yang diwarisi dari nenek dan tetangga-tetangganya waktu kecil di Gresik.

Ia lalu mengajak suaminya menangkap ikan wader (ikan air tawar kecil) di kali dan waduk-waduk sekitar Gresik. Satu per satu ikan itu dibersihkannya, lalu digoreng. Endah lalu menjajakan dari warung ke warung. Rasa wadher Mbak Endah ini memang khas. Crispy dan tepat bumbunya. Singkat kata, permintaan meningkat, bahkan ia memasok ke beberapa restoran besar di Surabaya.

Ingin maju dan berkembang, Endah pergi ke Dinas Perikanan Kota Surabaya, untuk mendapatkan advis tentang budi daya wader. Dinas Perikanan malah tertarik dengan usahanya. Endah kemudian dipinjami modal alat pendingin, diajari cara membesarkan usaha, memberi “brand”, mengajukan label halal dari MUI, hingga berhubungan dengan bank. Merek “Qalifish” dipilihnya sebagai brand. Sejak itu, usaha Endah tumbuh pesat. Ia meraih juara pertama tingkat kota Surabaya, dan juara tiga tingkat provinsi Jatim, untuk kategori inovasi Usaha Kecil Mikro Menengah.

Dalam dua bulan terakhir ini, Endah memperkenalkan produk barunya, yaitu Kreco, atau sejenis keong sawah. Saya mencicipi kreco buatan Mbak Endah. Katanya ini pakai bumbu serapah, atau bumbu dengan aneka rempah khas Jatim. Betul sekali, rasanya uenaak. Sama sekali tidak terasa bau sawah. Bersih, segar, dan tentu makanan ini kaya gizi. Penelitian mengatakan bahwa Kreco mengandung banyak protein. Kalau di Perancis, ini bisa masuk kategori l’escargot yang harganya bisa jutaan Rupiah itu.

Kreco, sejenis keong sawah yang menjadi kudapan favorit di Surabaya. Mirip Escargot kalau di Perancis

Kreco, sejenis keong sawah yang menjadi kudapan favorit di Surabaya. Mirip Escargot kalau di Perancis

Masakan Mbak Endah bahkan pernah menembus Istana Negara di Jakarta. Katanya, suatu waktu saat kunjungan Presiden RI ke Jatim, salah seorang Paspampres merasakan kenikmatan ikan wadhernya. Endah kemudian diundang ke salah satu acara di Istana untuk menyajikan ikan wadher bagi para tamu dan pejabat tinggi. Mbak Endah memperlihatkan pada saya beberapa souvenir yang diterimanya dari Istana Negara.

Bukan itu saja, beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi melalui Dinas Perikanan, mengajak Mbak Endah untuk promosi produknya hingga ke Osaka, Jepang. Mbak Endah tentu tidak mengira kalau usahanya bisa diajak promosi di pasar luar negeri.

Endah adalah salah satu contoh Pahlawan Perempuan. Selain mampu meningkatkan taraf hidup dirinya dan keluarga, Endah juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Ia mempekerjakan ibu-ibu untuk membantunya di bagian produksi, mulai dari membersihkan ikan wadher, kreco, hingga memasak. Pemberdayaan ekonomi bagi kaum perempuan adalah salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam membangun ketahanan ekonomi kerakyatan. Surabaya terkenal sebagai satu kota yang menetapkan Pemberdayaan Ekonomi Kaum Perempuan, sebagai salah satu pilar pertumbuhannya.

Ya, kalau dilihat dari struktur demografi ekonomi, kaum perempuan Indonesia memang masih terpinggirkan. Dari jumlah penduduk miskin absolut di Indonesia, apabila dibedakan menurut jenis kelaminnya, maka penduduk perempuan miskinlebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki.

Kalau kita merinci menurut rumah tangga, maka rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan jumlahnya masih tinggi dari tahun ke tahun. Kemiskinan di Indonesia sangat lekat dan dekat dengan perempuan. Dana bantuan yang diterima dari Pemerintah sebagian besar diterima oleh laki laki, karena definisi kepala keluarga di Indonesia masih menempatkan laki-laki sebagai subjeknya.

Dampak dari kemiskinan tersebut dapat ditebak, prioritas akses pada berbagai layanan akan diberikan lebih banyak pada laki-laki. Tidak mengherankan jika perempuan identik dengan kemiskinan. Di sektor pendidikan dapat kita lihat bahwa persentase rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan yang berpendidikan SD dan SLTP lebih tinggi jumlahnya dibandingkan rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki. Sebaliknya, persentase rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki dengan pendidikan sekolah menengah ke atas jumlahnya lebih tinggi.

Perbedaan sosial, ekonomi, dan politik kaum perempuan itulah yang coba didobrak oleh R.A Kartini lebih dari seratus tahun lampau. Melalui surat-surat dan ungkapan hati kepada Stella sahabatnya, Kartini menuliskan pandangannya tentang feminisme dan nasionalisme. Di dalamnya, mencakup bagaimana peranan kaum perempuan bisa terus ditingkatkan dalam membangun negeri.

Kini, lebih dari seratus tahun, kaum perempuan Indonesia sudah terus meningkat. Pak Hermawan Kartajaya bahkan mengatakan kalau masa depan Indonesia berada di segmen Y-W-N, atau Youth, Women, and Netizen. Itulah masa depan Indonesia. Berada di peranan kaum perempuannya.

Namun berbeda dengan di kota-kota besar, tantangan kaum perempuan di pedesaan masih besar. Endah Kreco hanya satu dari sekian kaum perempuan yang mampu keluar dari stigma “lemah” kaum perempuan.

Semoga peringatan Hari Kartini, tidak terjebak hanya pada perayaan memakai kebaya di kantor dan sekolah-sekolah. Foto bersama, upload di sosial media, tentu satu acara yang menarik dan tak ada salahnya. Tapi di balik seremoni “kebaya” itu, pe-er Kartini masih banyak. Kaum perempuan Indonesia masih perlu terus diberdayakan.

Salam.

Solusi Kemiskinan dari Laut a la Pak Nadjikh

Pengolahan ikan di PT Kelola Mina Laut / photo iwan

Pengolahan ikan di PT Kelola Mina Laut / photo iwan

Pekan lalu saya bertemu dengan Pak Mohammad Nadjikh, di kantornya yang berlokasi di Kawasan Industri Gresik, Jawa Timur. Pak Nadjikh adalah pemilik sekaligus CEO dari PT Kelola Mina Laut (KML), yang merupakan perusahaan Indonesia terbesar dalam pengolahan hasil laut dan perikanan secara terpadu. Usahanya meliputi unit pengolahan ikan, udang, rajungan, teri nasi, seafood olahan, surimi, hingga bakso ikan.  Dalam setahun, Group KML mampu menghasilkan produk olahan hasil laut 20 ribu ton yang diekspor ke seluruh dunia, dan mempekerjakan lebih dari 14 ribu karyawan.

Saat banyak partai politik hanya menjanjikan kemakmuran bagi petani dan nelayan, Pak Nadjikh dalam diamnya telah memberi bukti nyata. Secara perlahan tapi pasti, ia telah mengangkat kehidupan lebih dari 500 ribu nelayan pesisir pantura dan pulau Madura. Bukan hanya para nelayan, tapi juga keluarga dan anak-anak nelayan ikut meningkat kesejahteraannya melalui konsep bisnis yang dirancang oleh Pak Nadjikh.

Group KML memang memiliki visi bisnis yang basisnya ngopeni (mengayomi) rakyat kecil. Hal ini tidak terlepas dari masa lalu Pak Nadjikh yang merasakan sulitnya kehidupan nelayan. Terlahir dari keluarga pedagang ikan, Pak Nadjikh tahu betul kesulitan hidup petani dan nelayan. Oleh karenanya ia punya tekad untuk maju, menuntut ilmu, dan memberdayakan kaum nelayan. Lulus dari IPB jurusan Teknik Industri pada tahun 1984, ia bertekad memanfaatkan ilmunya di “jalan yang benar”. Pak Nadjikh lalu memulai usaha pengolahan dan penjualan teri nasi (chirimen) pada tahun 1994.

Memulai dari nol, jerih payahnya memberi hasil yang tidak main-main. Hanya dalam kurun 15 tahun, omset usaha Pak Nadjikh telah mencapai lima triliun rupiah. Siapa yang menyangka kalau usaha awal menjual teri nasi  dari perairan Madura, Pak  Nadjikh kini telah berhasil menjadi eksportir teri nasi terbesar di Indonesia. Bahkan melalui brand “Prima Star”, KML Group telah menjadi pemasok teri nasi terbesar di pasar Jepang.

Usaha Pak Nadjikh juga terus berkembang merambah pasar Amerika Serikat, Uni Eropa, dengan produk unggulan fillet ikan kakap merah, udang, rajungan kaleng. Dan kini KML Group telah mengekspor ke lebih dari 30 negara, termasuk Rusia, Kanada, Australia, Taiwan, Korea, Tiongkok, New Zealand, dan negara-negara Timur Tengah.

Namun hal yang mengagumkan saya bukan saja soal omset dan pasar Group KML, melainkan bagaimana Pak Nadjikh menempatkan usahanya berbasis pada pemberdayaan nelayan tradisional dan pesisir.

Di pesisir Madura, banyak terdapat kampung nelayan yang seluruh nelayan masih menggunakan kapal-kapal tradisional untuk mencari ikan. Kehidupan di sana juga memprihatinkan secara sosial. Tapi justru dari sanalah, rantai usaha pak Nadjikh bermula dan dibangun.

Di perkampungan nelayan itu, ia membangun unit-unit pabrik kecil (miniplant), yang membeli hasil laut dari nelayan. Di miniplant tersebut, hasil tangkapan nelayan dikumpulkan dan diproses. Titik awal pengendalian mutu juga dilakukan di miniplant tersebut. Hasilnya mencengangkan, karena justru miniplant itu menjadi motor perubahan di kampung-kampung nelayan pesisir Madura. Saat ini, Group KML telah membangun sekitar 30 miniplant di berbagai lokasi.

Pengolahan Udang di KML Gresik / photo by iwan

Pengolahan Udang di KML Gresik / photo by iwan

Menariknya lagi, hampir 90 persen pekerja di miniplant tersebut adalah perempuan. Pada umumnya perempuan yang bekerja di sana adalah ibu-ibu rumah tangga atau remaja putri yang tinggal di daerah sekitar kampung nelayan. Bisa dibayangkan, para pria melaut, kaum perempuannya mengolah hasil tangkapan di miniplant. Nah dampaknya luar biasa, meluaslah lapangan pekerjaan di desa, sehingga meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan keluarga. Dengan meningkatkan pendapatan, tingkat pendidikan anak-anak desa juga meningkat.

Dari miniplant di kampung-kampung nelayan tersebut, produk olahan disortir, dikirim ke pusat pengolahan agroindustri, lalu diekspor ke mancanegara. Siapa menyangka, rajungan dari pesisir Madura, bisa menempati rak-rak super market besar, seperti Wall Mart di AS, atau super market kelas atas di Rusia, Kanada, dan Jepang.

Pak Nadjikh juga merancang skim pembiayaan bagi para nelayan dengan sistem dana talangan melalui perbankan. Kita tahu bahwa perbankan menganggap sektor pertanian dan perikanan sebagai sektor yang memiliki bio-risk, atau risiko yang tinggi karena berbagai ketidakpastian akibat alam. Akibatnya, tak banyak perbankan yang mau terjun ke sektor ini. Nah, Pak Nadjikh merancang skim bersama perbankan sehingga nelayan-nelayan bisa memperoleh kredit, bahkan tanpa agunan, karena dijamin perusahaannya.

Konsep bisnis Pak Nadjikh untuk memberantas kemiskinan di kalangan nelayan secara singkat dibagi dalam empat besaran, yaitu: Diferesiansi Bisnis (ekspor teri nasi ke Jepang), Diferensiasi Produk Samping (Ekspor Daging Rajungan, Kulit, kepala Ikan pun diolah), Desentralisasi Proses Industri (Membangun Miniplant di daerah-daerah nelayan), dan Dekonsentrasi Usaha Penunjang (Melalui toko, warung, penjual baso keliling).

Indonesia adalah sebuah potensi besar dari sisi kekayaan laut. Lautan kita adalah “amazon of the seas”, memiliki aneka ragam kekayaan biota laut. Oleh karenanya agroindustry hasil laut adalah salah satu industri strategis. Agroindustri hasil laut menggunakan sumber daya lokal yang menjadi keunggulan komparatif Indonesia. Sumber daya itu juga mempunyai keterkaitan yang kuat (backward dan forward linkage) dengan budidaya perikanan dan aktivitas ekonomi lainnya.

Sumber daya kelautan adalah sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga keberlangsungannya dapat dipertahankan. Industri seperti ini prospeknya besar untuk dijadikan penggerak roda perekonomian daerah ke depan, sehingga dapat berperan penting dalam menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Bersama Pak Nadjikh (tengah) di depan frozen mart, usai mengunjungi pemrosesan hasil laut di pabriknya.

Bersama Pak Nadjikh (tengah) di depan frozen mart, usai mengunjungi pemrosesan hasil laut di pabriknya.

Langkah Pak Nadjikh adalah satu contoh membanggakan dari wirausahawan negeri ini yang sukses membantu kehidupan masyarakat. Sebagaimana pepatah, economy is for the people, not the people for the economy. Ini artinya, berbagai indikator makroekonomi yang bagus, akan percuma apabila tidak meningkatkan taraf hidup rakyat.

Untuk ukuran pengusaha sukses dan kaya raya, Pak Nadjikh adalah pribadi yang sederhana, bahkan sangat sangat sederhana. Jiwanya rendah hati dan tidak menampakkan kemewahan secara berlebihan untuk ukuran orang kaya. Kerendahan hati ini juga menjadi konci suksesnya dalam membangun usaha.

Sebagai penutup, saya menanyakan soal dunia politik. Umumnya pengusaha yang sudah sukses dan kaya, pasti tergoda untuk terjun ke dunia politik. Di sini jawabannya menarik, ia ingin memberi perhatian penuh pada perusahaan dan mengangkat taraf hidup masyarakat nelayan. Tidak tertarik dunia politik yang penuh racun, tipu daya, dan kejijikan. Ia tidak mau. Atau mungkin belum mau. Semoga bisa tetap konsisten dan terus demikian.

Salam.

Dari Jejak Nazi Jerman hingga Catatan Pramoedya

Bersama Pak Wie di depan Perpustakaan Medayu Agung

Bersama Pak Wie di depan Perpustakaan Medayu Agung

Kemarin saya bertemu dengan Pak Oei Hiem Hwie, yang akrab dipanggil pak Wie. Usianya 76 tahun. Kami bertemu di perpustakaan Medayu Agung, daerah Rungkut, Surabaya, yang didirikannya sejak tahun 2001. Perpustakaan itu memiliki koleksi buku-buku kuno yang sangat langka.  Sebagai pecinta sejarah dan kisah masa lalu, saat memasuki ruang perpustakaan tersebut, saya merasa berada dalam “hidden paradise” atau tempat tersembunyi yang sangat berharga. Sungguh, priceless!

Pak Wie bercerita banyak soal masa lalu dari koleksi buku ataupun koran yang dimilikinya. Perhatian pertama saya tertambat pada buku berbahasa Jerman yang memuat tentang foto-foto tentara Nazi. Menurut pak  Wie, di awal tahun 1940-an, dunia dikuasai oleh dua kekuatan, Jerman dan Jepang. Saat itu, Jerman ingin menguasai Eropa, dan Jepang ingin menguasai Asia. Di antara mereka terjalin kerjasama dan saling bertukar informasi serta kekuatan.  Tak heran, banyak tentara Nazi yang saat itu berada di Indonesia. Ditemukannya bangkai kapal selam Nazi tipe U-Boat Karimun Jawa pada tahun 2013 lalu, semakin menambah bukti adanya peran tentara Nazi di Indonesia.

Persinggungan dengan Nazi itu juga dapat dilihat dari koleksi koran-koran Jerman yang masih tersimpan rapi di Perpustakaan Medayu. Ada satu koran tertanggal 3 Agustus 1936 yang memuat berita saat Adolf Hitler, The Fuehrer, sedang membuka Olimpiade di Jerman. Berita di koran itu seperti menunjukkan sedang bangkitnya kekuatan Jerman di Eropa.

Hal yang lebih menarik adalah saat pak Wie menunjukkan koleksi buku “Mein Kampf” edisi asli dan bertanda tangan Adolf Hitler. Buku ini sudah sangat langka dan hanya ada beberapa eksemplar di dunia karena sebagian besar dimusnahkan saat Jerman kalah perang. Buku yang masih berbahasa Jerman tersebut tersimpan rapi bersama buku-buku literatur klasik lainnya, seperti Kapital karya Marx, Materialisme dan Empirokritisime karya Lenin, History of Java karya Raffles, dan cetakan asli buku-buku filsafat , mulai dari Immanuel Kant, Hegel, hingga Plato.

Buku Mein Kampf edisi langka

Buku Mein Kampf edisi langka

Koran terbitan Jerman tahun 1936

Koran terbitan Jerman tahun 1936

Bukan hanya literature Eropa, Pak Wi juga punya buku-buku terbitan pertengahan tahun 1800-an, komik Sam Kok terbitan tahun 1910, koleksi buku Oud Batavia, Oud Surabaia, Oud Malang, buku sejarah Raja Madura dalam Bahasa Perancis, kliping koran Star Weekly, majalah Sin Po edisi tahun 1926, majalah Tempo tahun 1971, dan masih banyak lagi.

Dengan koleksi yang begitu luar biasa, kita bisa menghabiskan waktu berhari-hari kalau ingin mereguk keseluruhan informasi dan pengetahuan yang ada.

Namun selain koleksi buku itu, yang lebih menyentuh perasaan adalah kisah hidup Pak Wie, yang ternyata penuh dengan pengalaman miris. Pak Wie ternyata adalah mantan tahanan politik di era Orde Baru. Sebelum tahun 1965, ia bekerja sebagai wartawan di Harian Trompet Masjarakat, yang saat itu dianggap pro Sukarno. Ia bahkan kerap bertemu dan pernah mewawancarai Sukarno saat itu.

Saat pecah tragedi 1965, pak Wie dikejar dan diciduk oleh aparat karena dianggap pro Sukarno. Ia diinterogasi dan disangka anggota PKI. Tapi ia tak pernah terbukti sama sekali sebagai anggota PKI, melainkan hanya dianggap pro-Sukarno dan aktivis organisasi massa Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Nah, keanggotaannya dalam Baperki dijadikan dalih untuk menahannya.

Tanpa pengadilan, Pak Wie ditahan di Batu selama 3 bulan, lalu pindah ke penjara Lowokwaru Malang, lalu pindah ke Kalisosok Surabaya selama 5 tahun. Dari Kalisosok, ia dipindahkan ke Pulau Buru selama 8 tahun. Total ia menghabiskan waktu selama 13 tahun di penjara.

Di Pulau Buru itulah ia berteman dekat dengan Pramoedya Ananta Toer. Bahkan Pak Wie menjadi salah satu sahabat dekat yang membantu pak Pram dalam menulis. Saat itu pak Pram belum diperbolehkan memakai mesin tik. Pak Wi yang mencarikan kertas dari merobek-robek kertas sak semen. Tulisan tangan Pram di sak semen itu, menjadi karya besarnya yang berjudul “Bumi Manusia”.

Di Perpustakaan Medayu Agung kita bisa melihat coretan asli Pramoedya di kertas semen, dan juga surat menyurat antara Pak Pram dan Pak Wie di penjara. Ada juga edisi asli “Buku Manusia” yang bertanda tangan Pramoedya. Sungguh sebuah koleksi yang luar biasa.

Catatan dan Tulisan Tangan Pramoedya di Pulau Buru

Catatan dan Tulisan Tangan Pramoedya di Pulau Buru

Pak Wie bersyukur bahwa seluruh koleksi bukunya tidak disita dan dimusnahkan aparat saat itu. Ia dan keluarganya menyembunyikan beberapa koleksi buku kuno di atap rumahnya di Malang. Sebagian besar koleksi sudah dibakar dan disita, tapi yang disembunyikan di atap itulah yang masih bisa kita lihat saat ini di perpustakaan Medayu Agung.

Ratusan koleksi itu baru berani ia turunkan pada tahun 1999, setelah Orde Baru jatuh. Sekitar tahun 2000, ada orang Australia yang mendengar bahwa Pak Wi memiliki koleksi buku langka. Orang itu datang menemui pak Wie dan menawarkan uang sejumlah 1 milyar rupiah untuk membawa seluruh koleksi buku tua yang dimiliki pak Wie tersebut. Siapa tak tergiur uang, apalagi dalam kondisi membutuhkan saat itu.

Tapi pak Wie menolak. Ia berpikir, kalau buku itu dibawa ke Australia, nanti akan digunakan sebagai cara untuk menjelek-jelekkan Indonesia. Ia tidak rela kalau Indonesia dijelek-jelekkan di dunia internasional.

Wah, luar biasa pak Wie. Ia, selama 13 tahun disiksa dan ditahan di penjara tanpa diadili. Lalu sekeluar dari penjara, ia juga diberi status Eks Tapol yang hampir hilang hak warganegaranya, tak bisa bekerja di mana-mana. Tapi saat ditawarkan uang besar, dengan risiko nama Indonesia dijelekkan di luar negeri, ia tak mau menerima. Kata pak Wie, ia masih cinta Indonesia. Ia juga tak menyimpan dendam pada rezim yang memenjarakannya dulu. Anggap saja dulu saya disekolahne, begitu katanya.

Buku-buku kuno dan langka milik pak Wie, tidak akan dijualnya. Buku-buku itu akan digunakan sebagai bahan pembelajaran generasi muda Indonesia.  Untuk itulah, dengan dukungan berbagai donator, Perpustakaan Medayu Agung itu didirikan. Jadi, kalau sempat mampir Surabaya, datang deh ke sini. Belajar dari sejarah negeri kita, yang dulu pernah penuh gejolak dan saling benci. Ke depan, kita harus lebih baik. Bersama membangun bangsa, bukan saling membenci. Ini kenapa dulu Presiden Sukarno berpesan, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Karena tanpa belajar dari sejarah, bangsa ini tidak akan maju.

Salam semangat.

Pak Wie menjelaskan koleksi Perpustakaan Medayu Agung

Pak Wie menjelaskan koleksi Perpustakaan Medayu Agung

Senyum Anti, Kini Tiada Lagi

Senyum Anti Kini Tiada Lagi

Senyum Anti Kini Tiada Lagi

Anti telah berpulang. Usianya hampir 95 tahun. Anti, panggilan sayang kami untuk nenek tercinta, meninggal dalam damai sore tadi (13/11). Kabar duka kepulangan Anti sore itu sungguh menyesakkan hati saya. Meski kematian adalah hal yang niscaya, tapi saat ia tiba, kita seolah tak kuasa menahan dukanya.

Bagi saya, Anti adalah sebuah “sanctuary”, tempat mencari berkah kehidupan. Kalau berkesempatan pulang ke Jakarta, saya selalu coba sempatkan mampir ke rumahnya. Dari mulutnya selalu melantun doa dan keberkahan. “Anti selalu doain Iwan, semua anak cucu, setiap habis sholat, biar rukun dan bahagia hidupnya”. Itu kata kunci doa Anti, agar hidup ini rukun dan bahagia.

Saat duduk di bangku SMP hingga SMA, saya tinggal di bawah asuhan Anti. Orang tua saya kebetulan ditugaskan di luar kota. Anti-lah yang membesarkan saya. Ia orang yang sangat detil dan teliti. Mulai dari mandi pagi, cara makan, sikat gigi, tidur, ia sangat detil. Anti-lah yang mengajarkan saya cara melipat selimut dan membersihkan tempat tidur. Ia memberi contoh membersihkan kasur dengan “tebah” atau sapu lidi. Biar bersih ga ada pasir, begitu katanya dulu. Ya. kebersihan dan kedisiplinan adalah hal yang perlu dipegang setiap manusia.

Di sisi kehidupan, Anti punya rahasia yang bisa menjadikan hidup bahagia. Ia punya senyum tulus yang berpendar dari hati terdalam. Banyak orang yang merasakan ketenangan dan kedamaian kalau berbicara dengan Anti. Senyum damainya menebar aura positif. Anti selalu tersenyum pada siapa saja. Ia jarang memasang wajah angker atau cemberut. Setiap orang yang bertemu, pasti menemui wajah yang tersenyum. Dari Anti saya belajar, kalau senyum yang tulus bisa memberi energi positif, baik bagi diri kita, atau orang lain.

Anti juga selalu mengingatkan saya tentang filosofi Jawa, “Banyu Mili”. Itu adalah filosofi yang artinya jangan pernah “ngoyo”. Maksud dari “Banyu Mili” adalah, kendati tidak besar, yang penting rezeki selalu mengalir. “Mili” berarti terus mengalir, walau tidak deras, seperti sungai kecil, yang meski sedikit, airnya tiada henti mengalir.

Anti selalu meyakini bahwa apa yang diberikan hidup, harus diterima. Tapi apa yang tidak diberikan hidup, jangan diminta. Mencari rejeki, tak perlu serakah dan ngoyo. Karena yang namanya dunia, tak akan pernah cukup. Anti mengajarkan saya untuk mampu berkata “cukup”. Tak perlu mencari aliran air yang besar. Seberapa yang didapatkan hari ini, disyukuri. Filsafat nenek ini, dengan kata lain adalah “Hidup, tanpa Memberontak Terhadap Hidup”.

Lihatlah hidup Anti. Ia selalu pasrah. Saat ada orang yang mencoba menjahatinya, ia tak pernah mendendam. Ia selalu memaafkan siapa saja. Kadang-kadang saya lihat ia misuh-misuh (mengumpat) pada seseorang, tapi sesudahnya, ia pasrahkan kembali pada Gusti Allah.  Ia memaafkan.

Banyu Mili menjadikan Anti menganut pola hidup sederhana. Makan secukupnya, berbelanja sesuai kebutuhan. Ia suka marah kalau anak cucunya membeli barang yang mahal, atau tidak diperlukan. “Buat apa beli sepatu, atau baju, yang harganya mahal. Buang-buang duit saja”.  Kadang-kadang anak cucunya tak pernah menyebutkan harga sebenarnya dari suatu barang yang diberikan pada Anti. Semata agar Anti tidak marah. Anti memang tak pernah menilai dunia dari daya beli. Baginya keutamaan adalah keluhuran, bukan harga dan uang.

Saat terakhir kami sekeluarga bertemu Anti

Saat terakhir kami sekeluarga bertemu Anti

Anti juga menjunjung tinggi kerukunan dalam keluarga. Kalau ada anak cucunya yang berselisih, ia sedih. Maklum, Anti memiliki 7 orang anak, 16 cucu, dan 22 cicit. Dengan berbagai mantu, cucu mantu, segala karakteristik. Sesekali di dalam keluarga terjadi ketidakcocokan. Kalau itu sempat terjadi, Anti sangat sedih. Ia sering berpesan pada saya, “Nek karo sedulur sing rukun”. Umumnya, anak cucu akan rukun kembali. Ya, kerukunan adalah hal paling penting dalam kehidupan bersama.

Dalam pertemuan beberapa minggu lalu, Anti menyampaikan keinginannya main ke Surabaya. Ia ingin jalan-jalan dan mencicipi makanan di Surabaya. Kita semua  hanya tersenyum, karena kondisi Anti dalam enam bulan terakhir ini turun drastis. Organ-organ tubuhnya menua dan berkurang fungsinya.

Dan sore tadi, Anti paripurna. Ia berpulang dengan damai. Bagi anak cucu yang ditinggalkan, kepergiannya adalah sebuah kehilangan. Sanctuary, tempat mencari berkah kehidupan itu, kini sudah tiada. Senyum manis dan tulus Anti, yang mencerminkan pancaran hatinya, kini tinggal kenangan.

Senyum Anti, kini tiada lagi. Saya tidak bisa lagi melihat Anti tersenyum. Senyum yang selalu saya rindukan bila tidak bertemu dengannya. Tapi saya yakin, di tempat barunya, Anti akan tetap tersenyum.

Selamat jalan Anti. Pergilah dalam damai ke tempat yang penuh kedamaian.

Anti (paling kiri), bersama almarhum Kakung, dan anak-anaknya, di rumah Bendungan Jago, tahun 1950-an / Dok. Keluarga

Anti (paling kiri), bersama almarhum Kakung, dan anak-anaknya, di rumah Bendungan Jago, tahun 1950-an / Dok. Keluarga

 

Bedah Buku Malam: Surabaya Punya Cerita

Mas Ipung (no 2 dari kiri), penulis buku Surabaya Punya Cerita, saat launching buku, bersama Kiki Aishwarya, Duta Museum Jatim 2012, dan Prof. Matsui dari Jepang.

Mas Ipung (no 2 dari kiri), penulis buku Surabaya Punya Cerita, saat launching buku, bersama Kiki Aishwarya, Duta Museum Jatim 2012, dan Prof. Matsui dari Jepang.

Tak banyak anak muda yang mau dan mampu menuliskan kisah tentang kotanya secara menarik dan konsisten. Akibatnya, modernitas memakan waktu dan akhirnya pelajaran dari masa lampau raib tergilas zaman. Kitapun menjadi bangsa yang buta sejarah. Hal itulah yang menjadi kegalauan dari Dhahana Adi, yang akrab juga dipanggil Ipunk, saat peluncuran buku karyanya, berjudul “Surabaya Punya Cerita”, tadi malam (2/11) di pelataran gedung Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya.

Kegalauan itulah yang membuat Ipunk mencatat berbagai cerita tentang kota Surabaya, lalu memuatnya dalam blog “Surabaya Punya Cerita” (SPC). Berbagai tanggapan positifpun diterimanya dari berbagai kalangan di Surabaya. Ipung kemudian mengumpulkan berbagai cerita dari blog SPC, dan atas dukungan kawan-kawannya, kumpulan cerita itu diterbitkan dalam bentuk buku melalui nulisbuku.com.

Bagi pecinta kisah-kisah sejarah tentang sebuah kota, membaca buku SPC ini sangat mengasyikkan. Saya sendiri, yang baru tinggal di Surabaya sangat merasakan, tak banyak buku yang menulis tentang kota ini. Kalaupun ada, hanya buku travel yang memuat informasi standar mengenai wisata di Surabaya, ke mana harus pergi, di mana lokasinya, makanan khas, standar seperti itu. Itupun jumlahnya tak banyak.

Satu buku menarik yang dapat dibaca tentang perjalanan kota Surabaya adalah “Hikayat Surabaya” dan “Monggo Diphun Badhog” karya Dukut Imam Widodo. Berbagai kisah sejarah tempo dulu dapat dibaca secara menarik di buku itu. Namun perspektif dari anak muda tentang Surabaya, tidak banyak. Oleh karenanya, kehadiran buku SPC ini mampu mengobati kerinduan khalayak muda, dan pembaca yang ingin mengetahui kisah-kisah di balik perjalanan kota Surabaya.

Menariknya, Ipung menulis buku ini bukan seperti buku sejarah, yang isinya hanyalah “jaartalen” atau deretan tanggal-tanggal kejadian. Tapi ia mengangkat sisi-sisi humanis, yang unik, tidak terbaca, dan dituturkan sebagai “petite histoire”, atau sejarah kecil, yang mampu membuat kita ternganga, kadang baru tersadar akan  kebenaran ceritanya yang bisa jadi berbeda dengan yang kita tahu selama ini.

Kisah soal maestro jazz Bubi Chen misalnya. Bubi Chen adalah pemusik Jazz Indonesia berkelas dunia yang berasal dari Surabaya. Hingga kini, meski sudah meninggal, Bubi Chen tetap menjadi legenda musik jazz. Ipung menceritakan perjalanan Bubi Chen di Surabaya. Tapi di ujungnya, artikel ini seakan mengingatkan bahwa Surabaya adalah juga kota yang melahirkan banyak seniman kelas dunia. Bukan hanya Bubi Chen, Ipung juga menulis tentang Srimulat dan pemusik Gombloh, yang berawal dan bangkit dari Surabaya. Lalu, bagaimana regenerasi seniman dilakukan di Surabaya? Ini adalah sentilan yang cukup tajam dari artikel-artikel di buku SPC.

Selain musik, buku SPC juga menulis berbagai “petite histoire” menarik.  Bagaimana sejarah awal berdirinya Bandara Udara Djuanda Surabaya? Bahwa ternyata Djuanda bukanlah orang asli atau pahlawan asal Surabaya. Lalu kenapa namanya diabadikan jadi nama bandara? .. Kemudian ada sejarah Pasar Turi, Jembatan Merah, dan kisah pahlawan Surabaya. Dalam konteks kekinian, buku SPC memuat aneka dialog dan diskusi dengan pelaku sejarah, hingga wirausaha Surabaya saat ini yang sukses.

Cover buku Surabaya Punya Cerita

Cover buku Surabaya Punya Cerita

Buku SPC ini semakin dibaca, semakin menimbulkan rasa ingin tahu.  Dalam pembukaan diskusi, penulis Sastra Jawa senior, Suparto Brata, yang usianya kini 81 tahun, mengatakan bahwa tulisan di buku SPC ini bercerita tentang Surabaya. Namun tentu tidak berhenti di sana, buku ini juga bercerita untuk Indonesia.

Akhayari Hananto, pengelola Good News From Indonesia, semalam juga mengatakan bahwa buku ini adalah sebuah berita baik bagi generasi muda Indonesia. Andai banyak anak muda di Indonesia yang punya motivasi, semangat, dan optimisme besar, lalu menuliskan buah pikirnya dalam bentuk buku, masa depan Indonesia akan semakin cerah.

Saya sendiri yakin, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang produktif dan bangsa yang rajin menulis. Pemikiran dan perbuatan, yang diimbangi dengan tulisan-tulisan, akan menjadi pelajaran bagi generasi-generasi penerus. Begitulah peradaban diturunkan dari masa ke masa.

Memberikan sedikit pengantar, sebelum diskusi buku dimulai.

Memberikan sedikit pengantar, sebelum diskusi buku dimulai.

Cinta Indonesia a la Wieteke van Dort

Bersama Tante Lien atau Wieteke van Dort di villa Kaliandra, Pasuruan.

Bersama Tante Lien atau Wieteke van Dort di villa Kaliandra, Pasuruan.

Siapa tak kenal lagu “Geef Mij Maar Nasi Goreng”? Lagu yang populer di Belanda dan Indonesia tersebut dinyanyikan oleh Wieteke van Dort. Ia adalah orang Belanda yang lahir pada tahun 1943 di Surabaya. Wieteke meninggalkan Indonesia ke Belanda, saat berusia 14 tahun. Kini, ia tinggal di Den Hag. Usianya 70 tahun.

Saya sendiri adalah penggemar Wieteke van Dort. Lagu-lagunya sangat unik karena menggambarkan kecintaan orang Belanda pada kehidupan di Indonesia. Kalau melihat lirik-lirik lagunya, selain berisi kecintaan, juga kerinduan pada kehidupan di Indonesia. Namun informasi mengenai Wieteke sangat minim di internet. Ia memang memiliki website, tapi sayangnya semua dalam bahasa Belanda, sehingga tak banyak yang bisa memahaminya.

Saat seorang kawan mengajak saya untuk menemui Wieteke van Dort beberapa hari lalu, saya langsung menyambut gembira. Mbak Maya, penggagas komunitas Plesiran Pecinan Surabaya, menghubungi saya dan memberitahu kalau Wieteke van Dort sedang berlibur di Jawa Timur. Dan yang menarik lagi, ia bersedia menerima kita untuk ngobrol-ngobrol.

Kamipun menuju villa Kaliandra, milik Yayasan Kaliandra Sejati, yang terletak di Desa Ledug, kaki Gunung Arjuna, Pasuruan. Di sana, Wieteke sedang menjalani liburan bersama suaminya, Theo Moody, dan dua orang kawannya, Reen dan Iest. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam, dari Surabaya ke villa Kaliandra.

Setiba di Kaliandra, kami diterima dengan hangat oleh tante Wieteke, suami, dan kawan-kawannya. Di usianya yang sudah 70 tahun, tante Wieteke masih tampil prima dan energik. Ekspresinya juga hangat dan penuh semangat. Dari semula ngobrol-ngobrol di beranda luar, ia malah  mengajak kita untuk sarapan pagi bersama di beranda dalam villa yang sangat indah itu. Suasana villa Kaliandra memang sungguh nyaman dan cocok untuk mereka yang ingin berlibur jauh dari keramaian kota. Theo Moody menyebut tempat itu sebagai “paradise”.

Sarapan bersama Tante Wieteke, suami, dan kawan-kawannya

Sarapan bersama Tante Wieteke, suami, dan kawan-kawannya

Indonesia is Paradise, kata Theo Moody, suami Tante Lien

Indonesia is Paradise, kata Theo Moody, suami Tante Lien

Rupanya ini adalah kali kedua mereka berlibur di sana.  Ya, meski tinggal di Belanda, kecintaan tante Wieteke pada Indonesia tidak pernah luntur. Setiap tahun, ia dan suaminya selalu berlibur ke Indonesia. Bisa dua hingga tiga kali dalam setahun. Ia selalu mampir Surabaya, sebagai kota masa kecilnya. Di Surabaya, Wieteke masih memiliki sahabat masa kecil yang kini sudah sama-sama berusia 70 tahun. Namanya Poplin dan Rosie. Mereka kadang bertemu, melakukan reuni, dan mengenang masa kecil mereka di Surabaya.

Bagaimana Surabaya sekarang menurut tante Wieteke? Sejak dulu, Surabaya sudah ramai, dan sekarang semakin ramai. Tapi ia kagum dengan kondisi Surabaya kini yang lebih tertata rapi. Ia bercerita tentang masa kecilnya di Surabaya. Keluarga Wieteke tinggal di Jalan Supratman No. 70. Rumah itu masih ada hingga kini namun sudah dimiliki orang lain. Ia kerap berhenti di depan rumahnya dulu untuk mengenang masa-masa kecilnya. Wieteke juga masih ingat kondisi di jalan Embong Sawo, Darmo, hingga pabrik karet milik ayah tirinya di Ngagel Jaya.

Sambil menerawang jauh, ia teringat peristiwa di tahun 1957. Saat itu, Presiden Sukarno menasionalisasi asset-aset milik asing yang ada di Indonesia. Dan otomatis, keluarga van Dort kehilangan seluruh hartanya. Mereka juga harus meninggalkan Indonesia, bersama dengan sekitar 300 ribu orang Belanda lainnya. Kembali ke Belanda pada masa itu bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka harus beradaptasi kembali dengan cuaca yang dingin, makanan yang “tidak enak”, hingga penerimaan yang kurang baik dari warga Belanda.

Wieteke muda kemudian menempuh pendidikan di Akademi Seni dan Drama. Dari situlah, ia kemudian berkecimpung di dunia seni dan pertunjukan. Di Belanda, Wieteke van Dort  lalu dikenal sebagai artis, komedian, penyanyi, dan pembawa acara di berbagai media, baik televisi maupun panggung-panggung.

Program televisinya, The Late Late Lien Show, mendapat penggemar yang banyak, umumnya para orang-orang tua di Belanda yang memiliki kenangan pada Indonesia. Di program itu, Wieteke menjadi host dengan berperan sebagai Tante Lien. Acara Lien Show mengangkat berbagai topik, dan sebagian besarnya adalah kenangan pada Indonesia, atau berbagai hal yang berkaitan dengan pengalaman di masa “Indische”.

Ia bercerita, kalau dalam penampilannya menyebutkan kata-kata Indonesia, seperti “bangkrut”, “makan”, atau kata lainnya, banyak yang ikut-ikutan mengulang kalimat itu sambil mengingat-ingat artinya. Mereka seolah dibawa pada masa kecilnya dulu.

Program Tante Lien sudah berakhir beberapa tahun lalu. Tapi di usianya kini, ia belum berhenti. Wieteke masih terus beraktivitas. Setiap hari, ia sibuk mengisi panggung sandiwara, cerita anak-anak, dan tentu tetap menyanyi di berbagai acara. Meski sudah tinggal di Belanda, kerinduan dan kecintaan Wieteke van Dort pada Indonesia tak pupus. Ia terus mencipta lagu-lagu yang berisi kerinduan pada Indonesia.  Lagu nasi goreng bercerita tentang kerinduan pada nasi goreng. Selain itu, ada lagi lagu “Terima Kasih voor jouw nasi”, yang bercerita tentang terima kasihnya pada nasi di Indonesia.

Selain menyanyi, Wieteke kini juga sedang dalam proses menulis buku. Ia menuliskan kisah-kisah masa kecilnya di Surabaya dalam beberapa seri buku. Saat ini bukunya masih berbahasa Belanda. Namun saya menyarankan juga untuk segera dapat diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, agar orang Indonesia dapat membaca rekaman Surabaya tempo doeloe dari kenangan seorang Belanda yang pernah tinggal di sana.

Kurangnya penghargaan pada seniman

Ada satu hal yang disesalkan oleh Wieteke van Dort tentang karya-karyanya di Indonesia. Hal itu menyangkut soal penghargaan pada seniman. Ia bercerita bahwa dulu pernah ada orang Indonesia yang menawarkan kontrak atas lagunya “Geef Mij Maar Nasi Goreng”. Lagu itu akan diputar di Indonesia dalam berbagai rekaman. Tapi, hingga saat ini, ia tak pernah menerima satu peserpun royalti atau penghargaan atas lagu itu. Padahal, lagu itu sering diputar di berbagai acara televisi berskala nasional, acara-acara resmi, bahkan di lomba-lomba reality show.

Wieteke mengatakan bahwa kalau ia membawakan lagu seperti Bengawan Solo, atau Jembatan Merah, ia selalu mengeluarkan uang untuk membeli royalti atas penggunaan lagu tersebut. Ia bahkan pernah memberikan kompensasi langsung ke Gesang, pengarang lagu Bengawan Solo, karena menyanyikan lagu tersebut di salah satu albumnya. Yaah, penghargaan pada seniman di Indonesia memang masih belum seperti di Belanda, demikian ujarnya.

Terlepas dari itu semua, Wieteke tetap cinta pada Indonesia. Keindahan alam Indonesia, keramahan orang-orangnya, kelezatan masakannya, hingga kenangan indah di masa kecilnya, menjadikan Indonesia sebagai tanah air keduanya. Sambil makan gado-gado, Wieteke mengatakan bahwa makanan Indonesia adalah satu hal yang selalu membuatnya rindu. Di Belanda ada banyak warung Indonesia, tapi tetap saja tidak selezat di Indonesia.

Pagi hari itu, petugas villa menawarkan nasi goreng pada tante Wieteke. Tapi ia menolak dengan alasan sudah kenyang. Sambil bergurau saya katakan, “Katanya tante kangen nasi goreng, sambil merefer lagu nasi goreng, kenapa sekarang tidak mau makan?” Ia menjawab sambil tertawa, “Hahaha.. saya sudah tua sekarang, harus kurangi makanan yang berat-berat di pagi hari”.

Tante Wieteke kemudian memberikan saya salah satu CD albumnya yang berjudul, “Land van de Zon”, atau Land of the Sun. Album itu berisi lagu-lagu yang mengacu pada keindahan negeri Indonesia. Ya, negeri kita memang indah, kaya, dan penuh potensi. Tak heran kalau banyak orang asing yang rindu pada keindahannya. Tentu amat disayangkan, kalau kita tidak mampu menjaganya.

Salam Nasi Goreng. Geef Mij Maar Nasi Goreng !

Land van de Zon, salah satu album dari Tante Lien

Land van de Zon, salah satu album dari Tante Lien

Gairah Jazz di Gunung Bromo

Sierra Soetedjo dan Idang Rasjidi tampil di Jazz Gunung 2013 / photo junanto

Sierra Soetedjo dan Idang Rasjidi tampil di Jazz Gunung 2013 / photo junanto

Musik Jazz, udara pegunungan, secangkir kopi, dan jagung bakar. Apalagi yang saya perlukan untuk menikmati indahnya kehidupan. Suasana itu saya dapatkan akhir pekan ini (21/6), di gunung Bromo, Jawa Timur. Saya sempat hadir ke panggung terbuka Java Banana Hotel di kawasan Taman Nasional Gunung Bromo, untuk menyaksikan pergelaran Jazz Gunung 2013.

Tahun 2013 ini adalah kali kelima event ini digelar di Bromo. Semakin tahun pengunjung yang datang semakin ramai, dan jazz gunung mulai terdengar hingga mancanegara. Hal itu terbukti dengan hadirnya beberapa penonton dari Brisbane, Australia, yang khusus datang untuk menyaksikan Jazz Gunung.

Musisi jazz yang tampil pada acara itu juga luar biasa. Kita disuguhkan nama-nama besar pemain jazz seperti Idang Rasjidi, Barry Likumahuwa, Yovie Widianto, hingga pendatang baru yang cemerlang, Sierra Soetedjo dan Bandanaira Duo.

Berbeda dengan kebiasaan menyelenggarakan festival jazz di dalam gedung atau kota besar, Jazz Gunung justru diselenggarakan di panggung terbuka dan menyatu dengan alam pegunungan. Saya sempat bertemu dengan Sigit Pramono, ketua Perbanas dan mantan Dirut BNI, yang juga menjadi penggagas Jazz Gunung. Ia mengatakan bahwa ide mengadakan jazz gunung adalah agar musik jazz dapat juga membawa kita menyatu dengan alam. Itulah kenapa tagline, “Indahnya Jazz, Merdunya Gunung” dipilih untuk event ini.

Panggung Jazz Gunung 2013

Panggung Jazz Gunung 2013 / photo junanto

Tentu saja risiko bermain di alam terbuka, apalagi di gunung, adalah apabila terjadi hujan. Dan hal itu sempat terjadi di awal pergelaran. Saat Sierra Soetedjo memulai lagu pertamanya, hujan pun turun. Sierra agak terlihat bingung, dan meski ia ingin melanjutkan lagunya dengan menggunakan payung, panitia menghentikan terlebih dahulu pertunjukan. Penontonpun terpaksa “bubar” sementara.

Namun hal itu tidak mengurangi semangat para pemain ataupun penonton. Selang beberapa jam kemudian, hujan berlalu dan malam cerah tiba. Kamipun kembali masuk ke area panggung terbuka. Musik jazz kembali berkumandang dan Sierra Soetedjo melanjutkan penampilannya.

Sierra sungguh mampu menghangatkan suasana pegunungan yang semakin malam semakin dingin. Ia menggoyang penonton dengan lagu-lagunya. Sierra lalu memanggil musisi jazz senior Indonesia, Idang Rasjidi, untuk mendampinginya menyanyi. Penampilan mereka sungguh luar biasa. Improvisasi Idang Rasjidi, dengan gaya bebop yang bersahut-sahutan dengan Sierra, sungguh menghibur penonton. Panggung terbuka Jazz Gunung bergelora bersama-sama.

Penampilan selanjutnya dari Balawan & Batuan Ethnic Fusion semakin menghangatkan suasana. Dengan “jari maut”-nya yang cepat, Balawan membius penonton. Ia juga mendatangkan kawannya dari San Fransisco yang membawakan aliran beatbox. Dipadu dengan iringan musik etnik, raungan gitar Balawan, gaya beatbox terasa makin luar biasa dan menghibur.

Balawan & Batuan Ethnic Fusion di Jazz Gunung 2013

Balawan & Batuan Ethnic Fusion di Jazz Gunung 2013

Bandanaira Duo dan Yovie Widianto Fusion menutup acara malam pertama. Di hari kedua, Barry Likumahuwa, Djaduk Ferianto, Kulkul Bank, Rieke Roslan & Band, tampil menghibur penonton. Butet Kartaradjesa, serta MC muda kocak, Alit dan Gundi, juga mampu membawakan acara dengan suasana penuh canda dan tertawa.

Ya, jazz adalah simbol dari keragaman. Butet Kartaradjesa saat membawakan acara mengingatkan, bahwa musik jazz tidak memandang latar belakang kita. Ia boleh Muslim, baik sunni atau syiah, Kristen, Hindu, Buddha. Tapi malam itu, semua dipersatukan oleh musik jazz dan larut dengan keindahan alam sebagai karya agung Yang Maha Kuasa.

Bagi saya, penampilan Jazz Gunung 2013 sungguh sangat menghibur dan membawa banyak makna. Sebagaimana sebuah pepatah lama, “Jazz adalah sebuah musik yang optimal terbuka diciptakan untuk pikiran terbuka”. Semoga dengan diselenggarakannya jazz gunung, selain mampu membuat kita semakin mencintai alam, juga menjadikan pikiran kita semakin terbuka.

Bahan Fashion Terbuat Dari Sampah

Bersama Rancangan Billy Wong, yang bahannya dibuat dari sampah / taken with samsung nx300

Bersama Rancangan Billy Wong, yang bahannya dibuat dari sampah / taken with samsung nx300

Mendengar busana karya desainer haute couture, kita pasti terbayang akan bahan baku dan harga yang mahal. Tapi tidak demikian bagi Billy Wong,  salah satu desainer muda Indonesia yang kreatif dan terkenal di manca negara. Billy justru mengangkat sampah sebagai inspirasi bagi tema fashionnya.

Hah, bagaimana bisa? Tanya saya pada Billy Wong, saat bertemu dengannya di Surabaya hari ini (17/5). Billy berada di Surabaya untuk meramaikan acara “Jatim Kreatif”, yang merupakan ajang pameran perbankan dan usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) se-Jawa Timur. Acara akan diselenggarakan pekan depan, dari tanggal 22 hingga 26 Mei 2013, bertempat di Grand City Surabaya.

Saat acara konferensi pers mengenai acara dimaksud, Billy Wong ikut hadir untuk menampilkan rancangan desainnya, yang diberi judul “Senandung Dari Madura”. Dua model yang cantik, siang tadi tampil di hadapan beberapa pemimpin perbankan, serta wartawan media massa Jawa Timur.

Billy Wong Menjelaskan Karyanya / photo junanto, taken with samsung nx300

Billy Wong Menjelaskan Karyanya / photo junanto, taken with samsung nx300

Billy mengatakan bahwa UMKM itu memiliki potensi untuk maju dan go international. Seluruh rancangan desainnya justru diperoleh dari kehidupan rakyat kecil. Inspirasi gaun “Senandung dari Madura” misalnya, ia dapatkan saat melihat kain dari sepasang kakek nenek di Madura. Bahan baju ia padukan dari kain murah dan karung goni. Lalu ia juga menggunakan cabe merah dari Jawa Timur sebagai aksesoris. Sementara untuk bulu mata merah, dibuatnya dari sisa sapu ijuk.

Menurut Billy, ia belajar desain secara otodidak. Awalnya, ia berguru pada seorang desainer di Paris. Guru itu mengajaknya berjalan di kota dan berhenti di tempat sampah. Ia lalu berkata pada Billy, “Coba kau buat rancangan dari sampah-sampah itu!”.

Awalnya Billy terperanjat. Tapi dari situ ia belajar, bahwa bahan yang kita pikir adalah sampah, justru bisa memiliki nilai jual tinggi.

Tak heran lalu banyak orang yang menjulukinya “Desainer Sampah”.

Meski dicap sampah, karya desainnya mampu membawa Billy Wong ke manca negara. Ia telah melakukan fashion show di Eropa, Amerika, hingga Amerika Latin. Respon positif diperolehnya dari berbagai pengunjung.

Saat Jakarta Fashion Week 2012 lalu, Billy Wong merancang desain pakaian bertema Diva, yang terinspirasi dari jerit tangis dan penderitaan korban lumpur Lapindo. Kepedulian pada kerakyatan, UMKM, dan masyarakat terpinggirkan itu memang menjadi ciri dari desain Billy Wong.

Selanjutnya, Billy Wong akan menggelar Fashion Show yang menampilkan seluruh karya “sampah”-nya itu, pada hari Selasa, tanggal 22 Mei 2013, bertempat di Grand City Surabaya.  Acara Billy Wong adalah bagian dari Bazaar UMKM dan perbankan Jawa Timur, yang mengambil tema “Jatim Kreatif”.

UMKM memiliki potensi besar dalam mendukung perekonomian Indonesia. Selain upaya mendorong mereka pada akses keuangan, membangkitkan kreatifitas juga menjadi konci. Di sinilah peran serta semua pihak.

Tanpa adanya sinergi dari sisi keuangan dan kreatifitas, serta dukungan infrastruktur lainnya, UMKM hanya sebatas potensi belaka. Setidaknya, itulah yang dikatakan Billy Wong, dengan kreatifitasnya yang mengangkat UMKM bisa berkiprah di dunia internasional.

Salam

Bersama Billy Wong / taken with samsung nx300

Bersama Billy Wong / taken with samsung nx300

Hidup Tanpa Rencana a la Bob Sadino

Bersama Oom Bob di Penyimpanan Keju Kem Chick

Dalam memulai usaha, buku-buku teks dan manajemen umumnya mengajarkan kita untuk menetapkan tujuan terlebih dahulu. Setelah ditetapkan, kita lalu menyusun rencana untuk mencapai tujuan tersebut.

Tapi, menurut Bob Sadino, yang juga akrab dipanggil Om Bob, hal itu omong kosong belaka. Itu hanya teori anak sekolah. “Hiduplah Tanpa Rencana”, begitu pesannya pada saya beberapa waktu lalu.

Hal itu tentu mengagetkan saya, yang sejak kecil diajarkan untuk membuat rencana dan tujuan, terutama dalam pekerjaan dan usaha. Bagaimana mungkin usaha tanpa tujuan. Tapi itulah yang disampaikan oleh Om Bob.

Sebuah kehormatan bagi saya saat diundang oleh Om Bob untuk makan siang di kafenya, yang terletak di dalam Super Market KembChick, Kemang, Jakarta Selatan. Sebelumnya, saya dan Om Bob pernah bertemu di Tokyo dalam acara Seminar Wirausaha yang diadakan di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Di Kem Chick Jakarta, kita bertemu lagi untuk berbincang-bincang mengenai kewirausahaan di Indonesia, termasuk membahas sisi-sisi sosial, kultur, dan budaya pada umumnya. Selain saya dan Om Bob, juga hadir pak Marlock, sahabat Om Bob.

Melihat kemegahan Kemchick, dengan Apartemen Mansion mewah yang dibangun di atasnya, tentu wajar bila saya bertanya apakah saat dulu Om Bob memulai usaha pernah menetapkan tujuan akhir sehingga usahanya akan besar seperti saat ini. Jawabnya, tidak pernah terpikirkan. Ia bekerja tanpa tujuan dan rencana.

“Bagaimana mungkin punya tujuan”, ujar Om Bob. “Saya memulai usaha hanya dari berjualan telor dari rumah ke rumah. Boro-boro berpikir punya warung, apalagi supermarket”, sambungnya.

“Lalu, bagaimana bisa besar seperti ini?”, tanya saya kemudian. Jawabnya, “40 tahun!” … Inilah makna dari sebuah proses.

Ya, Om Bob mengajarkan saya akan pentingnya sebuah proses. Pentingnya perjalanan, ketekunan, akumulasi pengalaman, dan kesabaran. Hal itu yang saat ini masih kurang dimiliki oleh para wirausahawan muda. Umumnya mereka mudah menyerah, ingin hasil instan, dan cengeng meminta aneka fasilitas.

Makan siang bersama Oom dan Tante Bob Sadino di Kem Chick

Menyinggung ke sektor pertanian dan peternakan, sisi usaha di mana Om Bob berkecimpung, ia berpesan pada saya. “Kalau ada petani yang ribut mengatakan bahwa ia perlu kredit agar usaha pertaniannya jalan, itu berarti dia bukan petani. Kamu harus hati-hati, karena bisa jadi mereka hanya mengatasnamakan petani !”.

Paradigma yang selama ini selalu ditanamkan pada kita, bahwa “Modal” itu adalah “Uang”. Jadi, kalau mau memulai usaha, kita harus punya uang. Padahal, itu paradigma yang salah. Modal itu bukan Uang. Bagi Om Bob, uang itu nomor seratus. Ketekunan, kesabaran, dan kemampuan membaca peluang, jauh lebih penting dari uang. “Coba tanyakan pada pengusaha-pengusaha sukses yang memulai dari bawah, umumnya mereka akan mengatakan hal yang sama, bahwa uang atau kredit bank, itu nomor sekian”, lanjut Om Bob.

Apa yang dikatakan oleh Om Bob siang itu sungguh menarik untuk direnungkan.  Kata-katanya tentu bukan asal ngomong, karena ia telah membuktikannya sendiri. Ia mengajarkan kita makna sebuah perjalanan, kesabaran, dan ketekunan. Hal inilah yang menurut saya sangat penting saat ini, terutama bagi para wirausahawan muda yang cenderung ingin sukses dalam waktu singkat.

Usai makan siang, saya diajak tur singkat oleh Om Bob untuk melihat suasana Super Market Kem Chick. Sambil melihat, Om Bob menjelaskan cerita dan aneka hal terkait dengan barang-barang yang disajikan di sana. Ia juga secara ramah menegur karyawannya (ia tidak pernah menyebut mereka karyawan, tapi anak-anaknya), serta pelanggan yang datang. Suasana kekeluargaan memang mewarnai KemChick.

Sambil berjalan, saya bertanya lagi, “Mengapa aura KemChick berbeda dibanding super market yang lain?” Jawab Om Bob, “Itulah aura dari sebuah perjalanan panjang, yang belum berakhir, dan akan terus bergulir ke depan”.

Di usianya yang 82 tahun, semangat seperti itu sungguh luar biasa. Semoga semangat itu bisa tumbuh juga di diri kita semua, khususnya generasi muda Indonesia. Salam.