Jerman Lebih Dari Sekedar Menang

Gotze usai membobol gawang Argentina / source FIFA.com

Gotze usai membobol gawang Argentina pada Final Piala Dunia 2014 / photo source FIFA.com

Don’t Cry for Me Argentina. Kiranya begitu suasana galau dan sedih bagi para pendukung kesebelasan Argentina. Hanya tujuh menit menjelang usainya babak perpanjangan waktu, Jerman melalui Mario Gotze, merobek gawang Sergio Romero. Kemenangan 1-0 bertahan, dan membawa Jerman menjadi Juara Dunia 2014.

Ein Traum wurde wahr, itulah yang dikatakan para pemain Jerman sebelum pertandingan melawan Argentina dimulai. Saatnya, mimpi akan jadi kenyataan. Begitu arti pepatah Jerman tersebut. Penyair besar Jerman, Goethe, mengatakan, “Lebih baik berlari daripada bermalas-malasan”.  Jerman membuktikan itu di berbagai hal, mereka berlari di segala bidang, mulai dari tekhnologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan dini hari tadi, sepak bola. Gotze, yang menjadi pemain pengganti meyakini syair Goethe. Ia berlari, berlari, dan berlari. Gotze, bagai Goethe, mampu membawakan syair indah bagi kemenangan Jerman.

Kita lihat pagi tadi, para pemain Argentina bagai tersedak. Tak mampu berkata-kata. Diam terpana. Gadis-gadis cantiknya menangis bagai tak percaya. Para lelakinya ling lung bagai hilang ingatan. Tangisan Argentina mengalir di stadion Maracana, Rio de Jainero, dinihari tadi. Sepak Bola memang bisa menyakitkan.

Usai sudah Piala Dunia 2014. Tiga puluh dua hari sudah kita terbuai dalam keriaan, tawa, canda, drama, tragedi, dan tangis, bersama seluruh warga dunia. Kini kita kembali ke dunia nyata. Namun, sebagaimana ibadah puasa bagi umat beragama, tiga puluh dua hari ibadah ritual nonton sepakbola (yang notabene juga sering bangun malam berbarengan sahur) juga harus punya makna.

Bahwa Final Piala Dunia hari ini bukanlah akhir. Pertandingan final ini justru dapat kita jadikan awal dari sebuah perbaikan kehidupan. Piala Dunia adalah hari-hari bangun malam untuk melakukan perenungan dan pelatihan diri. Jangan sampai semua itu menjadi sia-sia dan tak memiliki makna moral.

Bersama dengan rekan-rekan arek Suroboyo, di pelataran Cafe Heerlijk Gelato, yang bertempat di Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya dini hari tadi, saya bersama mas Aditya (pemilik cafe) menyaksikan nonton bareng Final Piala Dunia. Kita berbincang singkat, mencoba mencari benang merah, apa pelajaran dari kemenangan Jerman kali ini.

Dari omong-omong tadi, ditambah dengan perenungan di perjalanan pulang, plus beberapa referensi masa lalu saya, ada tiga pelajaran yang dapat kita renungkan dari Piala Dunia 2014, yang dapat kita renungkan bersama.

Nobar

Bersama mas Adit, mbak Linda, dan Lelaku Senja, usai Nobar di Heerlijk Gelato, Perpustakaan BI Surabaya

Pelajaran pertama, keberhasilan atau kesuksesan tidak pernah terjadi secara “instan” atau sekali jadi. Itu sudah hukum besi alam. Persiapan yang matang, ketekunan, kesabaran, adalah kunci. Jerman adalah negara yang persisten dalam hal ini. Mereka meraih juara dunia pada tahun 1954, 1974, dan 1990. Secara statistik, di tahun 1982 dan 1986, mereka hampir juara namun kalah di final oleh Italia dan Argentina. Di tahun 2002, mereka kembali masuk final, dan lagi-lagi kalah, saat itu oleh Brasil. Sejak itulah, mulai tahun 2002 itu, Jerman membangun kembali kekuatan sepak bolanya. Regenerasi dilakukan secara disiplin, untuk mencapai target juara di tahun 2014. Bayangkan, dilakukan jauh hari sebelum dini hari tadi.

Juara Dunia tahun 2014, bukan terjadi dalam semalam. Di balik kegembiraan Mueller dkk mengangkat Piala Dunia, di balik gempita kembang api, sorak sorai penonton, ada proses panjang yang bernama kerja keras, air mata, dan keringat. Sukses adalah sebuah proses panjang. Jerman melakukannya selama lebih dari sepuluh tahun. Kebiasaan merencanakan hal-hal berjangka panjang, adalah kunci kesuksesan.

Hal ini yang masih jauh dan belum kita miliki. Pola kerja kebanyakan dari kita, lebih banyak ad hoc, kerapkali mengerjakan pekerjaan hari ini saja. Mirip burung yang pergi pagi mencari makan, lalu pulang sore harinya. Undangan rapat mendadak, kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara sporadis, adalah contoh pekerjaan yang ad hoc. Tentu tak ada yang salah dengan kegiatan tersebut, karena kerap juga diperlukan. Tapi kalau semua pekerjaan adalah ad hoc, maka kita tidak punya prioritas atau pandangan jauh ke depan.

Contoh paling konkrit adalah tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Hari-hari ini kita sering sekali mendapat pertanyaan, atau kegalauan, dari berbagai kalangan, bagaimana persiapan kita menghadapi 2015. Nah, itu kan tinggal setahun lagi. Bukankah harusnya sudah kita siapkan dari 2003, saat kesepakatan ini dibuat. Mungkin karena kita dibesarkan dalam budaya SKS (Sistem Kebut Semalam), semua bisa beres dalam waktu singkat. Belajar dalam semalam toh bisa lulus juga. Lalu cerita legenda-legenda kita juga mengajarkan hal-hal instan tersebut. Membangun seribu candi dalam semalam, mendirikan gunung hanya dari lemparan biduk perahu, adalah legenda yang tertanam di pikiran kita. Bahwa pekerjaan besar seperti membangun candi, bisa kok dilakukan dalam semalam. Kita percaya pada hal-hal magi. Tapi pagi ini, Jerman mengajarkan kita, keberhasilan tak mungkin dilakukan dengan ketergagapan sesaat. Ia perlu kerja keras dan waktu panjang.

Indonesia adalah negara besar dengan segala potensi. Dengan kemampuan kita mengubah paradigma, berpikir panjang, dan mampu melihat masa depan dengan cermat, saya yakin, Indonesia bisa hebat dan bangkit ke depan.

Pelajaran kedua, tim terbaik belum tentu meraih juara. Kita melihat banyak contoh. Belanda misalnya, diperkuat oleh para pemain bagus di segala lini. Argentina juga memiliki kekuatan merata. Bahkan Amerika Serikat menurut saya merupakan tim bola masa depan yang punya gaya permainan bagus. Mereka adalah tim-tim baik, tapi tidak meraih juara. Bukan berarti usaha mereka sia-sia. Johan Cruyf dulu pernah berkata, ”Jangan sampai keinginan menjadi juara membuat orang lupa bermain indah”. Itulah semangat sport sejati, bola harus menghibur, bola harus indah, dan bola harus memukau. Jika ternyata hasilnya adalah kekalahan, kekalahan itu masih mengandung kemenangan.

Di bulan Ramadhan ini, kata-kata tausyiah dari Johan Cruyf itu perlu kita renungkan. Dalam kesalehan dan kehidupan beragama, kita kan diajarkan untuk tidak boleh hanya meraih hasil. Bagi Allah, hasil itu bukan yang utama. Tapi bagaimana cara kita meraihnya. Banyak yang bisa berhasil, jadi juara, tanpa memikirkan cara terindah dan terjujur dalam mendapatkannya. Tanpa cara yang tepat dan baik, hidup yang hanya memburu target hasil, bisa menjadi tidak bertanggungjawab dan amoral. Piala Dunia mengajarkan, tim terbaik belum tentu juara. Tapi keindahan permainan mereka akan mengenang sepanjang zaman. Demikian pula dalam hidup ini. Jangan pikirkan hasilnya. Mau naik gaji, naik pangkat, naik kelas, itu bukan tujuan. Yang terpenting, bekerjalah atau belajarlah dengan cantik, indah, dan memikat. Maka sejarah akan mencatat.

Pelajaran ketiga, asas sepak bola adalah kompetensi, bukan keunggulan yang lain. Bukan karena suku, agama, ras, apalagi kedekatan dengan pimpinan. Neymar, Boateng, Suarez, bukanlah bangsa Eropa. Tapi mereka memiliki kompetensi tinggi untuk bersaing dengan bangsa Eropa yang notabene adalah negara maju. Maksimalisasi kompetensi diri inilah yang perlu kita pakai dalam membangun bangsa dan bekerja. Untuk bersaing, gunakan kompetensi kita, dan karya ke depan, bukan bermodal masa lalu atau perkoncoan saja. Piala Dunia menjadi suatu pembuktian bahwa siapa saja bisa jadi bintang, asalkan kompeten.

Satu lagi catatan menarik saya dari Final tadi malam adalah kehadiran istri, keluarga, dan anak-anak para pemain sepak bola Jerman. Saat Jerman juara, anak-anak dan keluarga menghampiri ayah, atau pacar mendatangi kekasih mereka. Ini adalah sebuah revolusi yang dilakukan Jerman beberapa puluh tahun lalu. Sebelumnya, wanita dianggap pengganggu pekerjaan. Jerman dulu melarang pemainnya menemui keluarga saat konsinyering Piala Dunia. Wanita dan keluarga dianggap bisa merusak konsentrasi.

Adalah Franz Beckenbauer yang mencabut kebiasaan ini. Ia memberi kesempatan para pemain mengajak keluarga, istri ataupun pacar. Koran Jerman saat itu menulis, “Danke, Franz fur diese Liebesnacht”. Terima kasih Franz, atas malam-malam penuh cinta. Ya, bayangkan selama enam minggu para pemain tidak boleh bertemu kekasihnya. Puyeng kan.

Franz Beckenbauer berkata sambil bercanda, “Satu jam seks akan jauh lebih efektif dan membantu daripada lima jam latihan taktik dan teknik bola”. Ya, malam cinta adalah rahasia kemenangan Jerman.

Di sini kita bisa menarik lagi pelajaran, bekerja dan bekerja, tanpa cinta, adalah sebuah perjalanan yang kering. Pekerjaan menjadi tidak efektif dan kadang bisa kehilangan semangat. Jangan lupa kawan, bekerja penuh semangat, tapi tetaplah bercinta. Karena cinta membuat hidup lebih berwarna.

Itu catatan singkat saya pagi ini. Visi dan misi kita dalam hidup nampaknya harus banyak memuat unsur sepakbola ini. Kita sudah tanamkan keinginan buat bekerja dengan tekun, tidak ada kemenangan instan, kita memilih untuk bermain cantik dan indah, mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan manusia,  kita bersama-sama ingin membangun kompetensi diri. Dan terakhir, visi yang paling ultimate, jangan lupa bercinta.

Joachim Ringelnats pernah berkata, “Kegilaan pada bola adalah penyakit. Tapi saya bersyukur kepada Allah ada kegilaan itu”.

Selamat menjalankan sisa puasa kita. Semoga amal ibadah kita diterima dan hidup kita semakin diberkahi. Salam sepak bola.

(Catatan ini dibuat usai menyaksikan Final Piala Dunia 2014 antara Jerman melawan Argentina. Jerman menjadi Juara Dunia setelah menang dengan skor 1-0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


2 + 8 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>