Kudapan Belanda Wajib Coba

Stroopwafels yang Lekker / photo junanto

Stroopwafels segar yang Lekker / photo junanto

Tidak seperti Indonesia yang kaya akan berbagai jenis makanan, Belanda tidak memiliki banyak variasi makanan atau kudapan lokal. Tapi kalau mau merasakan bagaimana selera lokal di Belanda, perlu bagi kita untuk terjun ke pasar atau jalanan dan mencari makanan lokal.

Setelah ikan haring mentah yang saya cicipi kemarin, masih ada beberapa pilihan makanan lokal di Belanda yang menarik. Mungkin tidak terlalu istimewa karena sebagian besarnya sudah banyak terdapat, dan bisa dibuat di tanah air, seperti Bitterballen, Poffertjes, Kroket, ataupun Olliebollen. Tapi masih banyak lagi lainnya yang tentu berbeda rasanya dibandingkan di Indonesia.

Satu favorit saya adalah Stroopwafels. Makanan ini banyak bertebaran di mana-mana kalau kita ke Amsterdam. Prinsipnya, Stroopwafels ini adalah sirup wafel, yang terbuat dari butter dan diolesi sirup di tengahnya. Sejarahnya, makanan ini pertama dibuat di dareah Gouda, Belanda, pada abad ke-18. Hingga tahun 1870, stroopwafels ini hanya dibuat di Gouda, belum diekspor ke kota lain. Bahkan katanya, di tahun tersebut, ada sekitar 100 pedagang stroopwafels, hanya di kota Gouda.

Membeli Stroopwafels ini mudah karena sekarang sudah banyak dibuat kering dan dijual di supermarket. Tapi saya paling suka mencicipi stroopwafels yang segara, atau yang dibuat langsung di depan kita. Banyak pedagang Stroopwafels yang bisa dicoba. Saya mencicipi yang di dekat Rijkmuseum, sebelum Museum Van Gogh. Lalu ada lagi yang segar di daerah Albert Cuyp Market. Di sana, kita bisa melihat penjual wafel membuat adonan kuenya, lalu memasukkan ke mesin pressing. Setelah beberapa waktu, wafel matang. Dibagi dua dan diolesi sirup di tengahnya. Hmmm, lezaat.

Selain Stroopwafels, ada satu kudapan lokal yang menarik. Sebenarnya sih ga terlalu istimewa, tapi hampir semua orang menganggap ini adalah kudapan paling populer di Belanda. Namanya sih keren, Vlaamse Friet. Tapi sebenarnya ini hanyalah kentang goreng dengan diolesi aneka saus dan mayonnaise. Orang Belanda menyebut makanan ini dengan nama Patat. Awalnya, dulu makanan ini diciptakan di bagian utara Belgia, makanya dinamakan Vlaamse Friet. Kini, Patat menjadi makanan paling populer kalau kita ke Belanda.

Vlaamse Friet, satu kudapan lokal Amsterdam yang wajib coba / photo junanto

Vlaamse Friet, satu kudapan lokal Amsterdam yang wajib coba / photo junanto

Saya mencicipi Patat di warung Manneken Pis yang terletak di Damrak. Katanya, menurut klaim mereka, inilah number 1 Patat in Holland. Kayaknya sih bener begitu. Saat saya mau mencicipi, antriannya sungguh panjang mengular. Well, biasanya kalau yang antri ramai, makanannya populer.

Saya memesan satu Patat dengan saus mayonnaise dan sate (beneran loh ada saus sate bumbu kacang). Kentang gorengnya tebal dan empuk. Tapi yang membuat unik adalah taburan sausnya. Kita bisa memilih lebih dari sepuluh jenis saus, mulai dari yang klasik hingga yang pedas, ataupun saus sate. Selain saus, kentang juga ditaburi dengan irisan bawang bombay. Nah, kombinasi ini tadi yang membuat Patat menjadi khas, atau bukan sekedar kentang goreng biasa.

Salam

Mencicipi Ikan Haring Mentah di Amsterdam

Kedai Haring Favorit Saya, Stubbe's Haring / photo junanto

Kedai Haring Favorit Saya, Stubbe’s Haring / photo junanto

Setiap perjalanan adalah sebuah pengalaman, termasuk pengalaman mencicipi kuliner khas di daerah yang kita kunjungi. Perjalanan saya ke Amsterdam di pertengahan musim panas 2014 ini pun demikian. Seperti biasa, saya mencari makanan lokal yang unik dan belum pernah saya coba. Hal itu membawa saya pada satu kudapan lokal favorit, yang namanya “Hollandse Nieuwe Haring”.

Saat bertanya pada orang lokal, makanan ini adalah yang direkomendasikan atau wajib coba kalau ke Amsterdam. Bahkan di blog Top 10 Dutch Food that You Should Try, Nieuwe Haring termasuk di antaranya. Pada prinsipnya ini adalah ikan haring mentah. Yup, mentah. Ikan Haring dari Laut Utara ditangkap di penghujung musim semi, dibersihkan, dipotong kepalanya, lalu diolah dengan cara khusus (katanya direndam dalam cairan pankreas ikan itu sendiri). Setelah selesai, Ikan Haring mentah ini dimakan dengan kondimen irisan bawang bombay dan acar (pickles).

Hanya ikan yang ditangkap di bulan Mei hingga Juli yang bisa disebut sebagai Nieuwe Haring, karena itu adalah musim-musim penangkapan ikan haring. Di seputaran kota Amsterdam, banyak terdapat warung-warung yang menyediakan ikan haring ini. Kalau ada kedai bertuliskan “Vishhandel” ataupun yang memasang bendera Belanda, umumnya mereka menjual ikan haring.

Tapi kedai yang recommended menurut saya adalah kedai Stubbe’s Haring. Letak kedai ini tak jauh dari Amsterdam Central Station. Tepatnya di penghujung jalan Haarlemmerstraat, di daerah Joordan. Kedai ini terlihat mencolok jadi gampang ditemui kalau kita berjalan dari Central Station ke kanan.

Ikan Haring Mentah ini bisa dimakan langsung bulat-bulat, atau boleh juga dengan menggunakan roti. Kalau dibuat semacam sandwich, namanya “Broodje Haring” atau Sandwich Haring. Tapi kalau mau makan Niuewe Haring dengan cara lokal seperti para Amsterdammers, makanlah bulat-bulat. Caranya, pegang buntut ikan, angkat tinggi-tinggi, dongakkan kepala kita, buka mulut, dan masukkan ikan haring mentah perlahan-lahan.

Makan ikan mentah bagi saya sebenarnya adalah hal biasa. Saat tinggal di Jepang beberapa waktu lalu, saya paling suka makan ikan mentah atau sushi di pasar ikan Tsukiji. Namun ikan haring mentah ini kok keliatannya beda ya. Saat saya pesan, penjual haring menanyakan, apakah mau pakai roti atau dimakan langsung. Tentu saya memilih cara lokal dengan memakan langsung. Begini penampakan ikannya:

Seperti inilah Hollandse Nieuwe Haring / photo junanto

Seperti inilah Hollandse Nieuwe Haring / photo junanto

Hmmmm, aroma mentah ikannya masih tercium. Lalu licin atau lendir daging ikannya juga terasa. Ini jauh berbeda dengan sushi atau sashimi di Jepang. Ini betul-betul ikan mentah, yang diproses dengan cara Belanda. Awalnya saya ragu mencoba, kayaknya ini amis dan ga enak deh. Tapi tentu saya harus mencoba sebagai pengalaman, setidaknya saya sekali seumur hidup makanan ini perlu dicicipi.

Dan, saya pun melakukan aksi makan haring versi lokal, dengan mengangkat buntut ikan ke atas, dan memasukkan ke mulut saya perlahan demi perlahan.

Mencicipi Haring ala Orang Belanda

Mencicipi Haring ala Orang Belanda

Hmmmph, ternyata dugaan saya salah. Rasanya enak ! … Memang terasa mentah, tapi kelembutan daging haring, tekstur rasa dan kualitas ikannya, luar biasa. Saya sangat menikmati Holandse Nieuwe Haring ini.

Dan tentunya, ini bukan pengalaman sekali seumur hidup. Karena sore harinya, saya kembali ke Stubbe’s Haring untuk memesan lagi satu Ikan Haring Mentah… Hmmm, ketagihan ni yeeee ….

Salam Haring

Mafia Nasi Goreng

Nasi Goreng Preman /photo junanto

Nasi Goreng Preman /photo junanto

Ada Mafia di Bandung! …. Ini satu pengalaman menarik dalam kunjungan saya ke Bandung beberapa waktu. Setelah lebih dari enam tahun saya tidak ke Bandung, banyak hal berubah di kota itu, khususnya peta kulinernya. Adalah mbak Stefanie Kurniadi dan Mbak Sarita Sutedja, kawan saya di media sosial yang mengenalkan saya pada  kedai milik mereka yang wajib dicoba. Nama kedainya, Nasi Goreng Mafia. Wah, mendengar namanya, saya pikir ini Nasi Goreng punya Mafia gitu. Tapi ternyata pemiliknya justru anak-anak muda yang baik hati. “Mas Iwan musti mampir, dan coba NasGor Mafia ya”, tulis mbak Stefani kepada saya.

Sebagai orang Indonesia, saya selalu suka nasi goreng. Menurut saya, nasi goreng adalah “national food” yang terkenal di mancanegara sejak dulu. Pengalaman saya bepergian ke berbagai negara, kalau masuk rumah makan Indonesia, maka menu yang pasti ada dan dikenal, adalah Nasi Goreng. Berbeda dengan restoran Thailand yang sudah terstruktur dalam urutan menu, mulai dari appetizer hingga desert, masakan Indonesia di luar negeri belum memiliki standar seperti itu. Akibatnya, orang asing kerap bingung memilih berderet menu Indonesia yang ada. Kalau sudah begini, maka Nasi Goreng menjadi favorit dan andalan. A must try menu in Indonesia Restaurant.

Saat tinggal di Tokyo beberapa waktu lalu, semua restoran Indonesia di sana juga menyajikan Nasi Goreng sebagai menu andalan. Kawan saya, Masaki-san, pemilik restoran Cabe di wilayah Meguro, mengklaim kalau nasi goreng cabe adalah yang terenak se-Jepang. Hehehe tentu saja dia subyektif. Karena di Tokyo banyak Nasi Goreng yang lain, mulai dari Wayang Bali, Warung Surabaya, dll. Ya, meski kesannya sederhana, nasi goreng sungguh sangat subtil dalam rasa. Sedikit saja perbedaan dan inovasi dalam bumbu, rasanya akan sangat berbeda.

Nah di sinilah nama Nasi Goreng MAFIA menjadi relevan. Konon kata MAFIA, berasal dari akronim MAsakan Favorit IndonesiA. Ya, memang tak salah. Dari pengalaman saya tadi, Nasi Goreng adalah makanan favorit, bukan hanya orang Indonesia, tapi juga warga asing. Keberadaan Nasi Goreng Mafia di Bandung memang relatif baru, atau berdiri sejak November 2013. Tapi perkembangannya sangat pesat.

 

Bersama Mas Sobar yang menjelaskan tentang Nasi Goreng Mafia

Bersama Mas Sobar yang menjelaskan tentang Nasi Goreng Mafia

Menurut mas Sobar, yang saya temui di sana, saat ini Nasi Goreng Mafia sudah punya enam gerai di Bandung, satu di Jakarta, dan Pekanbaru. Ke depan tentu masih akan terus berkembang apabila melihat animo penggemarnya Saya sungguh tercengang melihat warung kecil di Jalan Dipati Ukur Bandung itu yang luar biasa ramainya. Sebagian besar yang datang umumnya adalah anak muda atau mahasiswa.

Sebelum sampai ke rasa, keunikan Nasi Goreng Mafia terletak bagaimana mereka melakukan diferensiasi pada brand-nya. Banyak Nasi Goreng, tapi yang ini beda. Di mana bedanya? Saat pertama kali masuk warung, kita sudah melihat suasana yang unik tak terlupakan. Dinding warung diisi oleh komik-komik para mafia dari berbagai negeri. Ada Godfather, Yakuza, dan Triad. Menu yang ditawarkan juga seru, ada nasi goreng godfather, triad, yakuza, preman, dan berandal. Hal yang menarik, sebagaimana branding dari berbagai masakan di Indonesia, adalah tingkat kepedasan. Pedas seolah menjadi ciri kesukaan orang Indonesia. Makan apapun, kalau belum pakai cabe, rasanya belum sempurna. Nah, tingkat kepedasan Mafia ini juga dibuat berlapis, mulai dari menenangkan, menggoda, menyesakkan, merisaukan, menyesal, hingga mematikan.

Saya memesan Nasi Goreng Preman yang rasanya unik. Rasa rempah dan bumbunya sungguh luar biasa generous. Tentu saja kepedasannya tak akan terlupakan. Ini betul-betul makanan yang menyenangkan dan mengenyangkan. Soal harga juga tak mahal karena dibuat bersahabat dengan anak muda dan mahasiswa, atau sekitar 13 ribu hingga 15 ribu per porsi.

Pengalaman saya mencicipi banyak nasi goreng di dunia, Nasi Goreng Mafia ini salah satu yang rasanya tak terlupakan. Ngangenin. Ya, Nasi Goreng Indonesia memang ngangenin, tak heran kalau Wieteke Van Dort secara khusus membuat lagu untuk mengenang dan mengobati kerinduannya pada Nasi Goreng, Geef Mij Mar Nasi Goreng.

Selamat buat mbak Stef dan Sarita. Sukses selalu. Dan buat teman yg mau coba, hati2 kalau pilih menu dengan level “Mematikan”. Jangan sampai “mati” di-dor Mafia. Salam

Nasi Goreng Mafia

Nasi Goreng Mafia

Jazz Gunung 2014 Kembali Hangatkan Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Bersama Bupati Banyuwangi (tengah) dan Pak Sigit Pramono (penggagas jazz gunung), Jazz Gunung 2014, Bromo

Jazz Gunung 2014 terlihat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain keunikan tema, yaitu Sedekah Bumi, pengunjung yang datang tahun ini sungguh membludak. Tema Sedekah Bumi, menurut Sigit Pramono, salah satu penggagas Jazz Gunung yang juga Ketua Perbanas, mengajak masyarakat untuk kembali ke alam. Kita sudah banyak mengambil dari alam, saatnya kita mengembalikan benih kebaikan pada alam.

Sigit mengajak kita semua untuk mencintai lingkungan, tidak merusak alam, dan jangan membuang sampah sembarangan. Sedekah Bumi juga bisa dilakukan dengan Bunyi. Di sinilah bunyi musik jazz yang menyatu dengan alam memberi makna pada keindahan dan kesejukan udara di pegunungan Bromo tadi malam.

Ya, di bawah udara sejuk pegunungan, secangkir kopi hangat, dan sederetan penyanyi terkenal, menyaksikan jazz gunung bagai ritual yang harus saya lakukan setiap tahun di Gunung Bromo.

Tahun 2014 ini adalah kali keenam event Jazz Gunung digelar di Bromo. Semakin tahun pengunjung yang datang semakin ramai, dan jazz gunung mulai terdengar hingga mancanegara. Semalam (21/6), pengunjung membludak hingga sekitar 1700 orang. Pergelaran yang diselenggarakan di Amphitheater Java Banana Bromo, Kabupaten Probolinggo, sejak tanggal 20 hingga 21 Juni 2014 tersebut, sungguh penuh sesak dengan penonton.

Hawa dingin pegunungan yang menusuk tidak menghalangi meriahnya para penonton dan pemusik untuk menghangatkan malam. Tahun ini, udara cerah hingga pertunjukkan usai. Berbeda dengan tahun lalu, yang sempat turun hujan sehingga pertunjukan sempat dihentikan sementara, semalam pertunjukan berjalan lancar di bawah gemerlap langit berbintang.

Pertunjukan Jazz Gunung bagi saya sungguh sangat menghibur dan menyenangkan. Pembawa acara adalah ruh dari hidupnya petunjukan malam itu. Butet Kartaredjasa, bersama dengan Alit dan Gundhi tampil luar biasa, lucu menghibur melontarkan ceplosan yang ringan tapi menyentil ke sana sini, mulai dari pemerintah, khususnya pembangunan infrastruktur akses Bromo, para pemusik, hingga suasana menjelang pilpres saat ini.

Beberapa artis yang tampil di Jazz Gunung 2014 selama dua hari kemarin juga bukan sembarangan. Di hari kedua, saya terkesan dengan penampilan dari Nita Aartsen Quatro dan Yeppy Romero, yang tampil sungguh ciamik. Kecepatan tangan Nita di atas piano membawakan musik klasik yang dikomposisi bernuansa latin mampu menghibur penonton. Tembang Turkish March klasik, lagi Chick Korea dibawakan dengan piawai. Yeppy Romero tampil membawakan gitar klasik ala penyanyi Spanyol. Dengan jubah merahnya, petikan gitarnya membawa penonton ke dalam suasana kota Madrid di tengah pertandingan para matador.

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Nina Aartsen Quatro / photo junanto

Djaduk Ferianto bersama Ring of Fire Project adalah highlight malam itu. Mereka tampil bersama Nicole Johänntge, seorang saxophonist dari Jerman. Nicole tampil sungguh luar biasa. Tiupan saxophone, mengiringi musik Djaduk, membius penonton. Lagu-lagu, seperti Ritme Khatulistiwa, dibawakan secara dinamis, saling bersahutan antara perkusi tradisional dengan tiupan saxophone Nicole.

Puncak acara malam terakhir Jazz Gunung 2014 adalah penampilan ESQI:EF – Syaharani and Queenfireworks. Di bawah udara yang semakin dingin menusuk, Syaharani membakar para penonton. Diawali lagu lembut lawas “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”, ia mulai menghentak dengan lagu-lagu berirama riang dari album-albumnya. Penonton ikut terbakar, menyanyi, bergoyang bersama. Meriah, sungguh meriah.

Saat lagu “Happy” dari Pharrel William dinyanyikan juga oleh Syaharani, penonton semakin bergairah. Mereka bersahut-sahutan dan saling menari ke kiri dan ke kanan.

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Nicole dengan Saxophonenya / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Syaharani dan Queenfireworks / photo Junanto

Jazz Gunung tahun 2014 ini terhitung sukses dan semakin menyematkan diri sebagai satu dari sekian pertunjukan musik di Indonesia yang punya kelas internasional. Bintang lain yang tampil tahun 2014 ini antara lain adalh The Overtunes, Monita Tahalea & The Nightingales, , Indro Hardjodikoro The Fingers, Bintang Indrianto Trio, Jazz Ngisoringin, serta Sanggar Genjah Arum Banyuwangi.

Satu lagi yang membuat pertunjukan kali ini berbeda adalah kehadiran pak Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, untuk menyaksikan Jazz Gunung kali ini. Bersama pak Sigit, saya sempat berbincang singkat, dan pak Bupati menyampaikan maksudnya untuk memboyong Jazz Gunung ke Banyuwangi. Ya, bulan November nanti, Banyuwangi akan menggelar juga pertunjukan jazz semacam ini, di pantai Banyuwangi.

Ini adalah sebuah berita bagus. Apabila beberapa daerah mampu menyelenggarakan event-event berkelas internasional, dan mendatangkan berbagai artis lokal maupun global, ekonomi kreatif Indonesia akan semakin tumbuh. Bukan hanya di pusat, tapi juga di daerah-daerah.

Jazz Gunung adalah sebuah penanda, semoga ia bisa menebarkan semangat kreativitas, dan kepedulian, ke seluruh daerah di Indonesia. Salam semangat.

 

Kopi Bondowoso Mendunia

Bersama Mat Husen, Petani Kopi Sukses di Ijen Raung

Bersama Mat Husen, Petani Kopi Sukses di Ijen Raung

“Kopi Bondowoso mengguncang dunia. Ini bukan khayalan pak, tapi kenyataan!”, demikian dikatakan oleh Mat Husein dan Pak Sukarjo kepada saya saat berkunjung ke perkebunan kopinya di lereng gunung Raung, Bondowoso, Jawa Timur. Mat Husein adalah satu dari sekitar 37 Kelompok Tani Kopi di Bondowoso yang merasakan perubahan nasib setelah mereka meningkatkan standar olahan kopinya.

Sekitar lima tahun lalu, Mat Husein dan kawan-kawannya hanyalah petani kopi miskin, yang produk olahan kopinya dihargai rendah oleh pasar. Padahal di lahan seluas 2400 hektar, mereka menanam kopi jenis Robusta dan Arabika unggulan. Proses tata niaga yang panjang, sistem ijon yang tidak menguntungkan, menjadikan para petani kopi harus rela apabila kopinya dihargai dengan sangat rendah oleh para tengkulak.

Adalah Pemerintah Kota Bondowoso, dengan menggandeng berbagai elemen, yang bertekad untuk menjadikan Kopi Bondowoso menembus pasar dunia, dan mengangkat nasib petani. Bekerjasama dengan Asosiasi Petani Kopi, Bank Indonesia Jember, Bank Jatim, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Masyarakat Indikasi Geografis, dan PT Indocom Citra Persada, Pemerintah Kota Bondowoso sejak tahun 2010 melakukan studi untuk memperbaiki proses pengolahan dan tata niaga kopi.

Selama empat tahun, para petani kopi di Gunung Raung dibina dan dilatih untuk mengolah kopi dengan standar internasional. Sebelumnya, pengolahan kopi dilakukan secara tradisional. Kopi dijemur di tanah atau aspal sehingga rasanya bercampur tanah. Pemilahan kopi matang dan mentah juga tidak dilakukan, sehingga kualitas biji kopi jadi rendah.

Ketujuh elemen tersebut kemudian bersinergi memperbaiki proses pengolahan, penyediaan infrastruktur seperti gudang dan pengairan, hingga tata niaga. Saya menyaksikan sendiri bagaimana kopi di Gunung Raung ini diolah secara teliti dan rapi. Kualitasnya pun kini sudah mendapat sertifikasi internasional. PT Indocom juga langsung membeli biji kopi dari petani untuk diekspor, sehingga memotong proses panjang rantai distribusi.

Bank Indonesia Jember membantu menyediakan pipanisasi sepanjang lima kilometer untuk mencuci dan membersihkan kopi. Sebelumnya, air yang digunakan harus berbagi dengan warga sehingga akibatnya kopi tidak tercuci bersih karena kekurangan air.

Hasilnya, kini para petani kopi Gunung Raung bisa mengekspor biji kopi sebanyak 300 ton setahun ke mancanegara (dari potensinya sebesar 6000 ton). Kopi, yang diberi label Ijen Raung Coffee itu, diekspor ke berbagai negara Eropa seperti Belanda, Italia, Swiss, juga ke Australia, Jepang, dan Amerika. Bahkan menurut Asisten Ekonomi Pemerintah Kota Bondowoso, gerai Starbucks di Amerika Serikat sudah menggunakan kopi Bondowoso untuk jenis Java Coffe-nya.

Petani Kopi di Ijen Raung melakukan proses pengolahan kopi/ photo junanto

Petani Kopi di Ijen Raung melakukan proses pengolahan kopi/ photo junanto

Menurut mas Joko dari Puslit Kopi dan Kakao, Java Coffee yang ada di mancanegara dapat dipastikan berasal dari Gunung Raung Bondowoso ini. Ia menceritakan ada seorang Belanda yang pernah mencicipi secangkir kopi di Italia. Saking terkesannya, ia kemudian mencari asal kopi yang nikmat itu. Ia melakukan perjalanan mencicipi kopi di berbagai wilayah nusantara. Dari Aceh hingga Toraja. Tapi baru ia temukan kopi yang sama dengan yang dicicipinya di Italia, saat sampai di Bondowoso. Ia kemudian menjadi pembeli tetap produk Kopi Ijen Raung Bondowoso.

Dari sisi petani kopi, perbaikan taraf hidup juga dirasakan langsung oleh para petani kopi di Bondowoso. Saya bertanya pada Pak Sukarjo, yang telah menjadi petani kopi sejak tahun 1986. Seperti Mat Husein, Pak Sukarjo kini bangga dengan pencapaian kopi Bondowoso. Sejak empat tahun terakhir ini, penghasilan dan taraf hidup mereka meningkat. Ekspor kopi ke mancanegara telah mengubah kehidupan di desa mereka.

Pengangguran juga berkurang karena industri pengolahan kopi melibatkan banyak tenaga kerja, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Pada gilirannya, kemiskinan juga berkurang signifikan di Bondowoso. Tak heran bila pada tahun 2014 ini, Bondowoso mendapat penghargaan dari Gubernur Jatim atas kebijakannya yang pro-poor karena mampu menurunkan tingkat kemiskinan.

Tapi pak Sukarjo tak puas dengan penghargaan. “Kalau soal penghargaan sih pak, sejak jaman Presiden Soeharto saya sering diberi penghargaan”, demikian ujarnya sambil menyebutkan sederet penghargaan karena dedikasinya sebagai petani kopi.

“Bukan penghargaan yang saya cari. Tapi saya ingin Kopi Bondowoso ini mengguncang dunia, menembus pasar dunia, dikenal banyak orang. Karena ini adalah biji kopi terbaik dunia !”, demikian ucapnya dengan nada bicara yang bergetar menahan haru.

Pak Karjo dan Mat Husein adalah contoh para pejuang ekonomi yang punya idealisme tinggi. Mereka bukan sekedar mengolah dan menjual kopi. Tapi punya cita-cita bagaimana agar kopi Indonesia bisa  terus mendunia, dan tentunya nasib petani kopi bisa meningkat lebih baik.

Kopi Ijen Raung menjadi contoh klaster kopi yang sukses di Indonesia. Pengelolaan yang dilakukan secara “keroyokan”, saling bersinergi antar berbagai elemen, bisa menjadi contoh bahwa penyelesaian masalah bangsa ini membutuhkan kerjasama, sinergi, dan saling menghargai. Semoga klaster ini bisa menginspirasi berbagai daerah dan wilayah lainnya untuk memperkuat komoditas-komoditas unggulannya, dan memperbaiki taraf hidup para petani.

Salam Kopi.

Bertemu Kawan Instagram di Amerika

Meet Cale, new friend from instagram, in Washington DC

Meet Cale, new friend from instagram, in Washington DC

Saya masih suka amazed dengan yg namanya social media. Beberapa kali saya merasakan bagaimana dari social media bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak kawan baru. Saya berkenalan dengan mbak Trinity Traveler melalui media twitter. Saat itu ia sedang di Tokyo, kita lalu berjumpa, bahkan Trinity sempat mampir satu malam di rumah kami. Setelah itu kita jadi berteman. Penerbitan tulisan saya di beberapa majalah, bahkan hingga penerbitan buku saya, tak lepas dari jasa Trinity. Awalnya, hanya social media.

Banyak lagi teman-teman yang saya kenal dari social media. Dari facebook saya banyak berkenalan dengan kawan, baik di Indonesia maupun di luar negri. Perkenalan itu menurut saya lebih banyak positif dan konstruktifnya. Kita menambah silaturahmi, memperpanjang jaringan pertemanan, hingga tentunya saling memberi manfaat dan ilmu pengetahuan. Di blog Kompasiana, saya merasakan persahabatan yang luar biasa. Awalnya kami hanya mengenal dari komentar ataupun tulisan di blog. Namun admin Kompasiana sangat aktif mengadakan kopi darat. Kita lalu jadi saling mengenal, dan terus berhubungan akrab hingga sekarang.

Menambah kawan adalah sebuah hal menyenangkan. Dan beberapa waktu lalu, saya merasakan lagi pengalaman yang tak terlupakan. Kali ini dari social media Instagram milik saya. Sejak “brand” Flying Traveler disematkan di instagram saya, para penggemar foto levitasi banyak yang menjadi kawan saya di instagram. Mereka berasal dari berbagai negara, mulai dari Amerika Latin, Eropa, Asia, bahkan sebagian besar dari Amerika Serikat.

Oleh karena itu, saat mampir ke Washington DC beberapa waktu lalu, saya memposting beberapa foto levitasi di sana. Caption yang saya buat adalah memberi salam pada kawan di AS, bahwa saya sedang mampir di sana.

Selang beberapa saat, saya menerima satu message dari seorang kawan instagram yang berasal dari Texas. Katanya, ia juga sedang berada di Washington DC. Ia sudah lama menjadi follower di instagram saya dan mengikuti perjalanan levitasi saya di berbagai tempat. Cale Yarborough, namanya, mengajak saya untuk bertemu muka. Pertama, ia ingin bertemu dan berfoto bersama. Kedua, ia ingin minta diajari caranya melakukan levitasi. Nah, ini yang menarik.

Banyak orang di Amerika masih melihat levitasi sebagai sebuah trik atau foto dengan menggunakan aplikasi. Ada banyak memang aplikasi yang membuat seolah seseorang terbang. Padahal, saya tidak pernah menggunakan semuanya itu. Levitasi saya adalah levitasi murni, yang terbang tanpa menggunakan alat.

Akhirnya, pagi hari itu, kami bertemu. Cale menjemput saya di lobby hotel. Saat bertemu, kita bersalaman dengan hangat. Cale orangnya ramah dan terbuka. Ia juga hangat tipikal Amerika, menceritakan tentang hidup dan keluarganya di Texas. Ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Usai bicara, kamipun berfoto bersama, dan tentu saja, levitasi bareng. Cale sangat cepat belajar, dan dalam satu dua kali take foto, ia sudah berhasil melakukan levitasi dengan sempurna.

Cale sangat senang mengetahui cara melakukan levitasi. Ternyata begitu sederhana dan mudah dilakukan. Tentunya tanpa menggunakan aplikasi apa-apa. Informasi ini kemudian disebut Cale di Instagramnya. Yang menarik, saat ada satu komen dari instagrammer mengenai foto levitasi saya, yang katanya menggunakan app (ia berkomentar, “This is app, levitagram), Cale malah berkomentar membela. Ia menulis “I was with him yesterday and saw it for myself. Definitely not an app!”. Hmm, menarik ya, mendapat pembelaan langsung dari kawan di Amerika. Terima kasih Cale.

Levitasi Bareng di Washington DC

Levitasi Bareng di Washington DC

Pengalaman bertemu Cale di Amerika adalah sebuah kejadian yang menarik dan tak terlupakan. Dari dua orang belum kenal (kecuali saling nge-like foto insta), yang terpisah ribuan kilometer, sekarang kita malah jadi temenan bener dan bisa bertatap muka. Kita saling bertukar cerita, kartu nama, dan informasi hangat lainnya. “If you come to Texas, let me know”, katanya.

Inti dari cerita saya adalah, inilah era netizen, era tanpa batas waktu dan tempat. Social Media memiliki banyak kelebihan dan keuntungan, tentu bila dimanfaatkan secara bijaksana. Di sana, kita bisa menambah kawan dan persahabatan. Seperti kata Nabi, silaturahmi menambah rejeki. Dan silaturahmi di era netizen ini, bergerak melampaui ruang dan waktu.

Cupcakes Kebahagiaan

Mencicipi DC Cupcakes bersama kawan Donny

Mencicipi DC Cupcakes bersama kawan Donny

Hari bergeser malam di kota Washington DC, saya dan kawan Dony Ardiansyah biasanya akan memilih cari makan malam yang praktis. Ya, kita hanya berada di Washington selama satu pekan untuk menghadiri sebuah kursus. Makan sekedarnya, asalkan bisa menjadi pengalaman, adalah tujuan persinggahan kami. Tak seperti kota New York yang hingar bingar, hingga disebut sebagai “City That Never Sleep”, Washington adalah kota yang tenang dan kalem, nyaris seperti kota mati kalau malam hari.

Begitu matahari tergelincir di musim semi, sekitar pukul 20.30 malam, jalanan sepanjang Dupont Circle hanya menyisakan keramaian pub, restoran, dan klab malam, yang masih jauh dibandingkan ramainya kota Jakarta di malam hari misalnya.

Di tengah kondisi tadi, kami punya satu tekad, yaitu mencari makanan yg berharga sebuah pengalaman. Tapi apa? Donny menyebut tentang terkenalnya Cupcakes di sini. Sayapun teringat sebuah reality show televisi yang lumayan tenar di Indonesia, DC Cupcakes judulnya. Reality show itu bercerita tentang sebuah toko cupcakes, atau kue mangkok, yang dikelola oleh dua saudara Sophie LaMontagne dan Katherine Kallinis. nama tokonya Georgetown Cupcakes, berlokasi di daerah Georgetown.

Mencapai wilayah Georgetown sangat mudah karena wilayah itu merupakan tempat wisata sehingga banyak dilalui oleh bis “circular loops”, dengan ongkos satu dollar. Georgetown dipenuhi oleh toko-toko, baik butik, restoran, gadget, yang terletak dalam berbagai bangunan kuno. Kita bisa merasakan suasana Washington tempo doeloe di sini, karena hampir seluruh bangunannya bergaya Victoria abad ke 18.

Georgetown Cupcakes terletak di satu sudut jalan. Menemukannya sangat mudah karena langsung terlihat penuh dan antrian yang panjang. Rupanya bukan hanya di Indonesia, melainkan di Amerika juga, Cupcakes sedang happening. Tak hanya Georgetown Cupcakes, di daerah situ ada beberapa warung cupcakes yang enak-enak. Satu yang pernah saya coba adalah Sprinkles Cupcake. Ini rasanya enak, karena cupcakesnya ditaburi begitu banyak topping tang sangat generous, seperti coklat ataupun coklat kelapa favorit saya.

Antrian di depan Georgetown Cupcakes / photo junanto

Antrian di depan Georgetown Cupcakes / photo junanto

Kembali ke Georgetown Cupcake, Saya dan Donny melihat antrian yang cukup panjang. Kami hitung, ada mungkin sekitar 50 meter. Sebagian besar yang mengantri adalah anak-anak muda perempuan, ataupun pasangan kekasih. Hmm, secara kita cowo2 gagah begini, rasanya imut amat ya kalau ikuta antri cupcakes berduaan (ehem hehehe). Tapi demi sebuah pengalaman, apa salahnya dicoba.

Dan, malam itu kitapun dengan manis mengantri di antara mereka. Ternyata tak salah, it was an experience worth to try. Kami memesan beberapa cupcakes favorit, seperti chocolate ganache, red velvet, dan lava fudge. Oh my God, saya harus mengakui, inilah cupcakes terenak sedunia. Lembut dan kaya rasa. Toppingnya menambah gelora kelembutan rotinya. Tak tertandingkan.

Malam itu, kita kembali ke hotel dengan senyum bahagia. Kita bisa mencicipi kenikmatan kecil dalam semangkuk cupcakes. Ya, kadang banyak hal-hal kecil di dunia ini yg menarik dan layak dicoba. Tak perlu besar, hanya satu cupcakes saja. Sebagai sebuah pengalaman. Sebagai kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Episode hari itu, saya menyebutnya, cupcakes kebahagiaan. Salam perjalanan.

Chocolate Ganache, satu yang wajib coba di sini / photo junanto

Chocolate Ganache, satu yang wajib coba di sini / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia, Washington DC

Steak Halal di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Steak Halal di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Buat banyak orang, terutama umat muslim, bepergian ke luar negeri kerap membawa masalah sendiri, terkait dengan makanan. Mulai dari kecocokan lidah, hingga kehalalan makanan yang tersedia, adalah kendala yang dihadapi.  Ujung-ujungnya, kalau tidak hanya makan sayur, ya memilih makan ikan saja, untuk amannya.

Namun kini sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir. Hampir di setiap negara maju yang non muslim, sudah banyak terdapat warung atau restoran yang menyediakan daging halal. Di Jepang saja, sudah mudah untuk menemukan restoran yang menyajikan daging halal. Demikian pula di Amerika Serikat. Bukan hanya restoran umum saja yang mulai menyediakan daging halal, bahkan di kantin Bank Dunia, Washington DC, misalnya, saya menemukan sajian menu halal untuk para pegawai maupun tamu Bank Dunia.

Bank Dunia memang mewakili kepentingan dari berbagai suku bangsa, agama, ras, dan tradisi. Pekan lalu, saya mengunjungi Bank Dunia dalam rangkaian seminar membahas Sektor Keuangan. Saat memasuki gedung kantor Bank Dunia, suasana internasional sudah sangat terasa. Di tempat itu, semua bangsa ada. Saya melihat orang Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia, berseliweran. Dalam satu lift misalnya, kerap terdengar orang berbicara dalam berbagai bahasa yang berbeda. Kadang rasanya seperti lost in translation.

Saat makan siang tiba, saya diajak kawan saya untuk mencicipi makan siang di kantin Bank Dunia, yang terletak di lantai B1 Gedung Utama. Pada jam makan siang, kantin itu penuh oleh pegawai Bank Dunia, dari segala level dan tingkatan. Kata teman saya, bukan hanya pegawai biasa, bahkan level Managing Director ataupun Presiden Bank Dunia, sering muncul di sini untuk makan bersama. Mereka sangat cair dan lepas dari protokoler yang ribet. Ibu Sri Mulyani, Managing Director Bank Dunia, asal Indonesia, juga katanya sering muncul di sini untuk makan siang berbaur dengan pegawai.

Sudut Halal Grill di Kantin Bank Dunia / photo junanto

Sudut Halal Grill di Kafetaria Bank Dunia / photo junanto

Kantin Bank Dunia ini luas sekali. Hampir memenuhi setengah dari lantai B1 tersebut. Sebelum memilih makanan, kita mengambil nampan, sendok garpu, atau pisau terlebih dahulu. Lalu kita bebas memilih aneka ragam makanan yang tersedia. Sangat menarik melihat kantin mereka. Bukan seperti kantin pegawai, tapi lebih mirip seperti foodcourt di mall.

Aneka ragam makanan dari berbagai negara disajikan. Ada juga festival makanan dari negara-negara tertentu yang digilir penyajiannya dalam beberapa waktu tertentu. Saat saya datang, sedang diadakan festival makanan Kuba. Berbagai sajian lokal Kuba ditampilkan. Bendera Kuba kecil-kecil juga dipasang di tempat penyajian makanan untuk menambah marak festival.

Namun yang menarik lagi, saya melihat satu counter makanan yang menyajikan aneka daging halal. Tertulis di atasnya tanda “Halal Grill”. Wah, menarik, karena kita tidak perlu repot mencari-cari makanan halal di luar. Di kantin itu, ada beberapa pilihan daging, mulai dari  kambing, ayam, hingga sapi. Dan pastinya, semua halal.

Saya memesan Daging NY Strip Steak. Petugas kantin lalu bertanya ingin disajikan apa, medium done atau well done. Saya memilih medium done, agar rasa dagingnya lebih juicy. Daging kemudian dipanggang, dan disajikan dengan salad dan sayuran. Kita bisa juga memilih kentang atau nasi sebagai pendamping. Soal rasa, tentu kualitasnya seperti restoran. Simple namun memiliki kelezatan tersendiri. Steak yang saya pesan rasanya lezat. Dagingnya lumayan lembut, dan bumbu salad serta sayurnya kaya.

Kantin Bank Dunia, atau mereka menyebutnya Cafeteria, adalah sebuah representasi keragaman yang indah. Dalam suasana dan lingkungan beragam, prasyarat yang diperlukan untuk menjaga keharmonisan dan kestabilan tatanan adalah “respect”, atau saling menghormati. Dan di Kantin Bank Dunia, nilai itu terlihat. Mewujud dalam aksi. Bukan sekedar jargon atau kata-kata di spanduk. Ya, keragaman itu indah, meski katkata itu kerap lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Salam Keragaman.

Flying Traveler in Washington DC

Mid May, it was a perfect day in Washington DC. I was strolling around The National Mall and have a good experience seeing all the monuments and historic buildings. It is always my desire to do levitation in such an interesting place. So, I did some levitation photos in Washington DC. I started to do levitation at the Washington Monument, Capitol Hill, and walk around to Library of Congress, and White House. My friend, Dony, took my levitation pictures. Please enjoy, here are some of my levitation pictures, during my short trip to DC. Thank you for stopping by.

PS. levitation pictures taken with no app, no photoshop, no trick. It is purely levitation skills.

Levitation at Washington Monument

Levitation at Washington Monument

Flying around the "No Fly Zone"

Flying around the “No Fly Zone”

Flying Traveler on a mission: Secret Service Levitation

Flying Traveler on a mission: Secret Service Levitation

The Library of Congress

The Library of Congress

The Capitol Hill Levitation

The Capitol Hill Levitation

 

 

 

 

Mencari Kesempurnaan Burger di Amerika

 

Shroom Burger yang mlekoh di Shake Shack Washington DC / photo junanto

Shroom Burger yang mlekoh di Shake Shack Washington DC / photo junanto

Berbeda dengan negara lain, Amerika Serikat nyaris tidak punya makanan lokal yang khas. Kalau ke negara Asia, atau beberapa negara Eropa, dengan mudah kita bisa menemukan makanan lokal. Tapi kalau ke Amerika dan mencari makanan lokal, ya ujung-ujungnya hanya ada satu jawaban, hamburger.

Tentu tidak heran, karena sejarah negeri tersebut adalah rangkaian dari beragam suku bangsa yang membangun sebuah negeri bernama Amerika Serikat. Jadi kalau mau mencari makanan dari beragam penjuru dunia, di Amerika lah tempatnya. Makanan Mexico-nya enak, Makanan Italia-nya enak, Makanan Afrika-nya enak, bahkan Makanan Jepang-nya enak.

Tapi tentu saya tidak ingin mencoba semua itu. Mencicipi masakan lokal di setiap kunjungan atau travel, biasanya menjadi kebiasaan saya untuk mengenal lebih dekat kultur ataupun sosiologi suatu bangsa. Ya, dari makanan kita bisa mengenal sejarah dan kebiasaan suatu bangsa. Untuk itu, dalam kunjungan ke Washington DC kemarin, saya mencari makanan Amerika, dan, apalagi kalau bukan burger hehe.

Saya berjalan bersama rekan Evie Silviani dan suaminya, Kang Odink, yang sedang tinggal dan bertugas di Washington DC. Mereka merekomendasikan restoran burger Shake Shack kalau mau mencicipi burger Amerika yang sedang “happening”. Shake Shack yang didirikan pada tahun 2001, kini tumbuh menjadi satu chain restoran yang sedang populer dan happening di seantero AS. Bahkan restoran ini sudah merambah dunia internasional dengan membuka cabang di berbagai negara, seperti Turki dan beberapa negara Timur Tengah. Tinggal menunggu waktu saja, resto ini buka cabang di Indonesia keliatannya hehehe.

Memasuki Shake Shack, saya mulai merasakan suasana yang sangat Amerika. For the love of Burger. Orang rela mengantri, panjang, demi sebuah kenikmatan sepotong daging dalam jepitan roti bun. Hampir semua yang mengantri saya perhatikan adalah anak muda, atau keluarga muda. Termasuk juga beberapa turis seperti saya.

Pilihan menu di Shake Shack sangat beragam. Evie menyarankan memesan Shroom Burger. Ini kombinasi menawan antara patty burger dan jamur portobello. Jamurnya dibuat burger dan digoreng garing. Kenikmatan di sini sangat unik, daging burger dimasak pas, hingga berwarna coklat kekuningan, mirip kertas sampul coklat yang basah. Kekeringan dagingnya merata luar dalam. Ditaburi sedikit garam sehingga rasanya gurih dan tentunya, crispy lezat.

Saya percaya bahwa burger yang baik adalah burger yang indah. Kalau kita lihat tampilan burger yang mengandung unsur artistik dan keindahan, saya yakin pasti rasanya juga lezat. Dan Shroom Burger mengandung dua unsur itu, indah dan sungguh lezat. Deep-fried jamur portobelo dimasak garing, mencuat di tengah roti burger yang sesak oleh daging, sayuran, tomat, dan lelehan keju yang sangat lezat. Panasnya lelehan keju terasa di tangan kita, hingga kita harus menunggunya beberapa saat sebelum mengunyah kelezatan burger itu.

Hmmmm, saya sudah banyak mencoba burger di penjuru dunia, tapi memang menurut saya Shake Shack burger ini punya keunikan dan kelezatan tersendiri yang tak akan terlupakan. Oh ya, satu lagi. Burger di Amerika ini porsinya ukuran Amerika alias gede banget. Ya, makanan di Amerika umumnya memang disajikan dalam porsi jumbo. Tak heran kalau lihat orang Amerika badannya besar-besar ya hehe. Kalau perut kamu ukuran standar Indonesia, awas bisa kekenyangan atau tidak habis dalam melahap burger versi Amerika ini.

Crab Cake Sandwich di Georgetown, Washington DC / photo junanto

Crab Cake Sandwich di Georgetown, Washington DC / photo junanto

Selain mencicipi burger Shake Shack, dalam satu kesempatan saya juga mencoba satu makanan khas wilayah Maryland, Washington, yang namanya Crab Cake. Ini adalah makanan yang kalau dirunut usianya sudah ratusan tahun lalu ada di Amerika. Dulu para nelayan menangkap kepiting, dan mengolah dagingnya menjadi satu makanan yang dinamakan crabcake. Prinsipnya crab cake ini seperti daging burger, namun isinya adalah daging kepiting. Hmmm, manteb kan.

Di Georgetown, Washington DC, saya mampir ke satu restoran kecil. Namanya Tackl. Di sana saya memesan Crab Cake Sandwich. Sebagai camilan, saya memesan semangkuk Neck Clam with butter sauce and lemon. Ini semacam kerang disiram kuah butter dan jeruk lemon.

Crab Cake Sandwichnya luar biasa enak. Serpihan daging kepiting terasa gurih, dipadu dengan roti burger, mustard, mayoinesse, daun selada, bawang, dan tomat. Sebuah perpaduan yang kaya dan menggugah selera. Porsinya yang besar tidak menjadi masalah kalau perut sedang lapar.

Neck Clam with Butter Sauce and Lemon / photo junanti

Neck Clam with Butter Sauce and Lemon / photo junanto

Neck Clam butternya juga segar. Gurihnya keju, asamnya lemon, berpadu dengan segarnya daging kerang, menjadikan hidangan tersebut kaya akan rasa lautan. Enak, lezat, segar, manteb.

Di Amerika, burger, crab cake, adalah makanan lokal yang layak dicoba. Meski makanan itu sudah go international, mulai dari Burger King hingga McDonalds, mencicipi burger di tanah kelahirannya adalah sebuah pengalaman tersendiri. Cicipi, rasakan, dan temukan sensasinya.

Salam Burger.