Makan Lobster, Harga Terjangkau

Whole Lobster Platter di Loobie Lobster / photo iwan

Lobster identik dengan makanan laut yang mewah atau mahal harganya. Umumnya lobster dijual di restoran kelas atas dan disajikan bagi kalangan tertentu saja. Padahal, menurut sejarahnya dulu, lobster itu makanan bagi kaum miskin loh. Di tahun 1800-an, para budak dan pelayan di Amerika hanya diberi makan lobster sehari-harinya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, lobster semakin populer dan permintaannya naik. Akhirnya, harga lobster meningkat dan menjadi ikon dari makanan kelas atas. Kini, lobster bukan lagi makanan orang miskin. Justru hanya masyarakat kelas atas yang bisa membeli atau makan lobster di restoran.

“Tapi siapa bilang lobster harus selalu mahal”, kata Chef Aafit saat bertemu saya di warung Lobsternya yang baru, Loobie Lobster, di kawasan Gunawarman, Jakarta Selatan. Kata Chef Aafit, ia membuka warung itu karena ingin menyajikan hidangan Lobster yang “affordable” atau harga terjangkau.

Dan malam itu, saya diajak mas Angga, seorang kawan yang saya kenal di Tokyo, untuk datang ke acara “launching” Warung Loobie Lobster. Warung itu dimiliki oleh Chef Aafit dan istrinya, Lucy Wiryono, yang juga terkenal sebagai pemilik resto steak “Holy Cow”.

Saat tiba di warungnya, suasana meriah langsung saya rasakan. Beberapa kawan dekat mas Aafit, dan juga pelanggan setia Holy Cow, sudah berkumpul untuk merasakan sajian dari warung baru itu.

“Hari ini saya akan menyiapkan Lobster, Whole Lobster Plate”, kata Chef Aafit. Hidangan ini adalah lobster yang di-grill model teppan hingga matang, lalu ditaburi bumbu minimalis, seperti garam dan lada. Lobster hadir didampingi oleh calamari dan nasi putih. Calamari, atau udang goreng tepung, digunakan sebagai appetizer.

Bersama Chef Aafit dan Mbak Lucy Wiryono, pemilik Loobie Lobster

Tapi yang unik juga dari warung ini adalah saus sambalnya.  Chef Aafit menyediakan dua jenis sambal, yaitu sambal “spicy garlic” dan “sambal matah”. Saya memilih sambal spicy garlic sebagai pendamping lobster.

Dan ternyata luar biasa. Rasa lobster-nya begitu lezat, kematangannya terasa pas, tidak terlalu lembek, tapi juga tidak terlalu keras. Kenyal, lembut, dan aroma lautan masih terasa. Pas menurut saya. Paduan spicy garlic menjadikan rasa lobster lebih kaya lagi karena bercampur dengan aroma bawang putih yang muncul subtil dari balik kepedasan sambalnya. Hmmm, lobster ini recommended dan layak coba.

Chef Aafit mengambil lobster dari perairan Kalimantan, dan memiliki supplier khusus yang memasoknya setiap hari. “Kesegaran adalah kunci dalam penyajian makanan sea food”, lanjutnya. Tak heran, setiap pagi ia mengecek sendiri kesegaran lobster yang disajikan. Jangan sampai ada pelanggan yang gatal-gatal usai makan lobster karena ketidaksegaran pilihan lobster yang disajikan.

Satu hal yang agak mengganggu saya adalah nasinya. Mungkin kalau disajikan bersama mashed potato atau kentang goreng lebih pas. “Tapi kita kan perut orang Indonesia, mas”, kata kawan saya. Iya betul juga, seperti di Jepang, semua sajian, bahkan steak sekalipun selalu hadir dengan nasi putih. Belum nendang kalau belum pakai nasi katanya hehehe….

Loobie Lobster hanya menyajikan menu lobster dan udang. Mereka memang ingin fokus pada dua hal tersebut saja. Dengan harga seporsi “whole lobster platter” sebesar Rp 95 ribu, makan lobster menjadi “affordable” bagi kalangan menengah di Jakarta.

Jadi, kalau tiba-tiba ingin makan lobster di Jakarta, silakan mampir ke Gunawarman No 32 di Jakarta Selatan.

Salam Lobster.

Pak Tua Soba dan Dedikasi Kehidupan

Pak tua Suzuki dan istrinya di warung soba milik mereka / photo junanto

Tak jauh dari tempat saya tinggal, ada satu warung Soba sederhana. Pemiliknya adalah Pak tua Suzuki. Usianya sekitar 70 tahun. Setiap hari saya melewati warungnya, baik saat berangkat ataupun pulang bekerja. Saat lewat di depan warung Soba itu, saya dapat menghirup aroma harum dari kuah soba buatan pak Suzuki. Selama tiga tahun tinggal di Tokyo, saya kerap mengunjungi warung itu untuk mencicipi Soba hangat ataupun Soba dinginnya.

Satu hal yang membuat saya suka dengan warung itu adalah kehangatan personal dari Pak Suzuki.  Usai menyajikan soba, ia biasanya duduk di salah satu kursi di pojok warungnya, sambil membaca koran. Sembari makan soba, saya kerap ngobrol-ngobrol dengannya. Kitapun jadi saling mengenal.

Pak Suzuki masih membuat sendiri sobanya setiap hari. Kalau pagi tiba, ia meracik tepung soba hingga menjadi adonan soba. Adonan itu ia iris-iris sehingga menjadi potongan mie soba.

Selama lebih dari 40 tahun lamanya, pak Suzuki membuat soba. Di warungnya, ia dibantu istri dan satu stafnya. Ia juga masih naik motor untuk mengantar soba ke pelanggan-pelanggannya. Ya, warung soba pak Suzuki juga memberikan layanan “delivery” untuk pelanggan di sekitar wilayahnya. Dengan motor tuanya, ia membawa soba ke rumah para pelanggannya.

Sesekali, saya bertemu Pak Suzuki sedang mengendarai motornya untuk mengantar soba.

“Konnichiwa!”, begitu ia selalu berteriak dengan semangat kalau berpapasan dengan saya di siang hari.

Cinta Suzuki-san dalam semangkuk soba / photo junanto

Melakukan pekerjaan dengan “passion” dan serius adalah ciri dari kebanyakan orang Jepang. Pak Suzuki mengatakan pada saya bahwa “bekerja itu mulia”. Apapun pekerjaan itu, harus kita lakukan dengan sepenuh hati.  Persis apa yang dikatakan Confusius, “Wherever you go, go with all your heart”.

Bagi pak Suzuki, bekerja bukanlah sekedar mencari untung, apalagi ingin menjadi kaya. Ia membuktikan bahwa membuat soba adalah dedikasinya pada kehidupan. Saat meracik soba, ia bagai seorang maestro. Ia bagai Shakespeare dengan Othello-nya, Nietzche dengan Uebermensch-nya, Da Vinci dengan Monalisa-nya, terlihat orkestratik, takzim, dan khusyuk.

Di Jepang, saya jarang sekali melihat restoran yang menyajikan aneka ragam makanan. Umumnya mereka fokus hanya pada satu menu, soba saja, udon saja, sushi saja, atau tempura saja.Hal itu membuktikan bahwa kesetiaan, dedikasi pada pekerjaan, menjadi jauh lebih penting dalam kehidupan mereka, ketimbang keuntungan semata.

Ada peribahasa Jepang yang mengatakan “Mochi wa Mochiya”. Pepatah itu secara harfiah berarti “Untuk mencari mochi terbaik, pergilah ke tukang mochi”. Esensinya adalah seseorang harus melakukan sesuatu secara serius hingga mencapai keahlian.

Kecintaan dan keseriusan pada pekerjaan itu, membuat saya jarang sekali mendengar orang Jepang yang mengeluh pada pekerjaannya. Meski ia “hanya” tukang parkir, supir bis kota, ataupun pemilik warung soba, semuanya bangga pada pekerjaannya. Bekerja itu mulia sehingga mereka melakukan dengan sepenuh hati, passionate, dan bangga.

Saat saya katakan padanya bahwa sebentar lagi saya akan kembali ke Indonesia, Pak Suzuki menyalami saya dengan erat. “Arigatou”, katanya dengan berbisik sambil merapatkan badannya ke saya.

Iiie, watashi, Arigatou” , jawab saya. “Justru sebaliknya, saya yang harusnya berterima kasih pada pak Suzuki”.

Ya, saya yang harus berterima kasih padanya. Setiap makan di warungnya, berbicara dengannya, saya belajar banyak tentang kehidupan. Tentang passion, tentang dedikasi, tentang kebahagiaan.

Tak jarang kita, bahkan saya sendiri, sering mengeluhkan pekerjaan sendiri. Yang masalah begini lah. Begitu lah. Kerap kali pula kita menyalahkan orang lain, ataupun menganggap pekerjaan atau posisi kita tidak penting, “Ah, saya kan cuma staf rendahan, cuma kepala bagian, cuma sopir, cuma tukang mie ayam, cuma karyawan biasa, cuma mahasiswa, dan cuma lainnya …. ”.

Keluhan dan kegalauan itu berujung pada hilangnya passion pada pekerjaan.  Setiap hari adalah keluhan demi keluhan.

Kitapun gagal berdamai dengan diri kita sendiri.

Akibatnya, pekerjaan jadi asal-asalan. Kita bekerja, hanya mencari nafkah. Menunggu gajian. Kita buat usaha, hanya mencari untung. Acap kali menghalalkan segala cara. Lupa pada esensi kemuliaan pekerjaan itu sendiri.

Dan di warung soba sederhana itu, pak tua Suzuki mengajari saya arti cinta pekerjaan dan dedikasi pada kehidupan.

Arigatou Suzuki-san!

Arigatou Suzuki-san !

Mencari Espresso Terbaik di Tokyo

An espresso afternoon with Raffaele

Di manakah kita bisa mencicipi espresso terbaik di kota Tokyo?

Pastinya, espresso yang dibuat oleh orang Italia dong”, demikian gurau Raffaele, kawan saya yang orang Italia asli, saat menjawab pertanyaan tadi. Iapun mengundang saya untuk mencicipi espresso terbaik itu di kantornya.

Raffaele adalah seorang ekonom Italia yang sudah lebih dari tujuh tahun tinggal di Tokyo. Di kalangan lingkar ekonom asing,  yang secara rutin bertemu untuk saling bertukar informasi, ia adalah yang paling lama tinggal di Tokyo.

Umumnya kami, menempati posting di Tokyo kurang lebih tiga tahun. Seorang kawan dari Perancis, dan Turki, baru saja kembali bulan lalu, dan digantikan dengan yang baru. Saya sendiri rencana kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Semua orang datang dan pergi, tapi Raffaele masih bertahan.

Sebelum kembali ke Indonesia, kamu harus mencicipi espresso terbaik di kantor saya”, ajak dia pekan lalu. “Ini espresso asli dan dibuat langsung oleh orang Italia (maksudnya sih dirinya sendiri)”, sambungnya.

Dan, bertemulah kita siang itu di kantornya. Raffaele mengajak saya ke coffee machine di pantry, menunjukkan cara membuat espresso, lalu kita mencicipi espresso di ruang kerjanya. Silvia, sekretaris di kantornya, yang juga orang Italia, membawakan kami sekaleng coklat. “Cocok nih, buat menemani espresso”, katanya.

Wow, sungguh sajian yang sempurna.

Raffaele meng-klaim bahwa espresso terbaik dunia ada di Italia. Hal itu karena mesin espresso pertama kali diciptakan oleh orang Italia. Adalah Angelo Moriondo dari Turin, yang pada tahun 1884 menciptakan mesin espresso pertama di dunia.  Mesin itu kemudian dikembangkan oleh beberapa orang Italia lainnya, hingga kemudian dipatenkan, serta mendunia.

Secara umum, espresso adalah menyiapkan konsentrat kopi dengan memberi tekanan air panas pada biji kopi. Dampak dari tekanan tersebut adalah konsentrat kopi yang kental, disertai dengan krema (foam). Strong rasanya.

Orang Italia, menurut Raffaele, punya budaya kopi (coffee culture) yang sangat kuat. Mereka bisa minum espresso tiga sampai empat kali sehari. Di kampung halamannya, minum kopi adalah bagian keseharian. Dengan harga sekitar satu dolar, orang Italia sudah bisa mendapatkan espresso secara cepat.

Saya baru tahu dari Raffaele bahwa di Italia tidak ada Starbucks Coffee. “Wah, gak bakal laku Starbucks di Italia”, katanya. Konsep minum kopi orang Italia berbeda dengan konsep Starbucks. Selain murah, orang Italia juga minum kopi sangat cepat. Sementara di Starbucks, selain harga lebih mahal, konsepnya berbeda dengan cara minum kopi Italia yang cepat.

Ironisnya, ide mendirikan Starbuck Coffee diperoleh oleh Howard Schultz (pendiri Starbucks) saat kunjungannya ke Milan, Italia, di tahun 1983. Ia melihat suasana di Piazza del Duomo dipenuhi oleh warung kopi yang berjejer dan masyarakat yang sangat passionate dengan kopi. Suasana kota yang “caffeinated” seperti itu membangkitkan inspirasinya. Iapun lalu mengembangkan Starbucks Coffee. Namun, hingga 30 tahun setelah itu, Starbucks belum mampu membuka cabang di Italia.

Fanatisme orang Italia pada kopi memang menarik. Dan siang itu, saya merasakan sendiri bagaimana suasana kantor Raffaele yang “caffeinated”. Mirip di kedai kopi yang cozy dan nyaman. Soal rasa? Ia tak bohong, itulah espresso terenak yang pernah saya cicipi. Mungkin juga kehangatan persahabatan dari Raffaele yang membuat secangkir espresso ini menjadi begitu lezat.

Sayangnya, Raffaele tidak membuka kedai kopi. Jadi, hanya undangan khusus  seperti saya yang bisa mencicipi espressonya hehehe ….

Salam espresso.

One Night in Beijing, Fall in Love with Dazhaxie

Dazhaxie experience with Michael in Beijing

Satu malam di Beijing ternyata bisa memberi kenangan yang berarti. Beberapa waktu lalu, saya sempat transit satu malam di Beijing. Dalam kesempatan yang singkat itu, saya bertemu dengan Michael, kawan saya yang tinggal di sana. Sambil bertemu, kita berbicara banyak hal, mulai dari politik hingga ekonomi Cina. Tapi yang tak terlupakan adalah karena ia mengajak saya mencicipi satu makanan khas di Cina, yang die die must try, khususnya kalau musim gugur tiba. Makanan itu adalah kepiting bulu air tawar, atau Da Zha Xie.

Dalam hidup ini, berbagai jenis makanan pernah saya cicipi. Sebagian masuk ke perut, dan terlupakan begitu saja rasanya. Tapi ada sebagian makanan, yang saya makan, dan setelahnya tak bisa dilupakan kenikmatannya. Nah, kepiting bulu Shanghai, atau Dazhaxie crab ini, masuk dalam golongan yang kedua. Makanan yang akan selalu mengenang dalam hidup saya.

Michael mengajak saya ke restoran “Shanghai Xiangmanlou” di salah satu sudut kota Beijing. Ia memesan dua ekor kepiting. Tak lama, pelayan datang membawa dua kepiting yang masih diikat dan memperlihatkannya pada Michael. Setelah mencermati kepiting itu satu per satu, Michael bilang, “Masih hidup, bagus!”. Ya, kepiting yang masih hidup akan lebih segar dan rasanya lebih lezat dibanding dengan kepiting yang sudah dibekukan.

Dazhaxie crabs adalah kepiting spesial yang diambil dari Danau Yangcheng, yang terletak di provinsi Jiangsu, tak jauh dari Shanghai. Danau Yangcheng itu terkenal akan kepiting bulunya. Dan saat paling tepat memakan kepiting Dazhaxie adalah pada musim gugur. Pada musim itulah mereka melakukan migrasi usai musim kawin. Namun karena populasi kepiting ini terbatas, harganya relatif mahal dan langka.

Michael memesan dua ekor kepiting jantan. Menurutnya bulan ini adalah musim terbaik mencicipi kepiting jantan. Kalau kelezatan kepiting betina terletak pada jumlah telur yang berwarna kuning/oranye di tengah cangkangnya, kelezatan kepiting jantan juga demikian, yaitu pada “crab cream” atau cairan kuning di tengah tubuh kepiting.

Saat kepiting dazaxhie datang, saya pikir sudah disajikan dengan terbelah, ataupun  dipecah-pecah cangkangnya. Rupanya belum. Kepiting datang dalam keadaan utuh, bulet-bulet. Waduh, bagaimana ini makannya?

The die die must try, Dazhaxie / photo junanto

Tenang”, kata Michael. “Kita belajar sajiannya dulu”. Kepiting, dalam kepercayaan Cina dianggap memiliki unsur “dingin” atau “Yin” sehingga tidak baik kalau dimakan begitu saja. Oleh karena itu, dingin itu harus diseimbangkan dengan “Yang”. Begitu menurut kepercayaan Cina, Yin dan Yang. Untuk itu, disediakan satu cawan saus yang merupakan campuran arak cina dan irisan jahe. Efek dingin Yin, diseimbangkan dengan efek hangat saus Yang. Oh begitu.

Lalu bagaimana cara makannya? Pertama adalah membelah bagian “bawah” kepiting yang terletak di sisi belakang. Lalu, kita dapat melepas cangkangnya. Di dalam cangkang, ada beberapa bagian yang harus dibuang dan tidak dimakan. Sisanya, kata Michael, dikumpulkan dengan sumpit, lalu dicelup ke saus. “Rasakan deh”.

Aduh, ya ampun. Beneran, ini kelembutan yang belum pernah saya rasakan dari kepiting lainnya di dunia. Ueeeenaaak!”.

Nah, sekarang kita tiba pada bagian terbaik Dazhaxie”, Michael  lalu membelah kepiting jadi dua bagian. Dan di dalamnya, terlihatlah “cream” kepiting yang berwarna kekuning2an. Cair, tidak beku, karena kepitingnya masih segar. Hmm, memang mirip krim.

Celup ke saus, dan rasakan”, pinta Michael.

Saya celup dan cicipi …. “Hmmmm, wadoooow, sodara-sodara sekalian. Hmmpph, bagian cream ini begitu lembut, gurih, lezat, creamy, asam, dingin, hangat, aneka kelezatan bercampur dalam satu sedotan. Maknyoooos. Enaaak!!”.

Tak diragukan lagi. Ini satu jenis kepiting yang die die must try kalau ke Cina.

Wah, ini enak sekali krimnya. Apa ini telur kepiting? Bentuknya seperti telur ya?” tanya saya ke Michael.

Ya ini kan kepiting jantan, bagaimana bisa kepiting jantan punya telur”, jawab Michael meluruskan logika saya.

Oh iya ya, kepiting jantan tidak punya telur. Lah, lalu ini …..”, saya belum selesai bertanya, dan Michael sudah menjawab,” Sperma. Yup, yang kamu makan barusan itu sperma kepiting”.

Woooow. Panteees, enak hehehe….

Kepiting Da Zha Xie adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Mencicipinya mungkin hanya sebentar. Dagingnya tidak banyak. Dan sajiannya juga sederhana. Tanpa macam-macam. Tapi pengalaman mencicipinya, sensasi rasanya di langit-langit mulut, akan tetap terkenang seumur hidup.

Di ujung jamuan, Michael berkata bahwa kalau bertemu dengan orang Cina, sekarang saya sudah bisa bilang. “Wo yijing chele Dazhaxie” atau “Saya sudah pernah mencicipi Dazhaxie”. Mereka umumnya akan kagum karena Dazhaxie adalah kepiting yang memiliki kelas tersendiri di Cina (asal gak malah bilang, trus gw harus bilang wow gitu… x_x).

Betul betul sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

How to eat Dazhaxie

One Day in Kimono, Feel Like A Samurai

Scrolling around Asakusa wearing kimono / photo junanto

It was in the middle of autum 2012. It will also be my last autumn in Japan. I will return to my country by the beginning of next year. Having heard that, Yukako-san, my Japanese friend, had an interesting idea. “Why don’t we do something fun together this autumn, before you leave Japan?”, asked Yukako-san.

She said again, “Let’s experience Japanese traditional kimono and enjoy strolling around Asakusa area!”. She also invited my wife to join the fun.

I have been many times scrolling around Asakusa area. But, I never wear kimono in that place. So, of course, it is an interesting idea! We had a deal !

Then we met at Asakusa train station. It was raining at that day, but we hope the rain will over soon as we wear the kimono. Yukako-san guided us to a small kimono rental shop near Senso-ji Temple. An old lady (Obaa-san), kindly welcomed us into her shop.

After taking my coat, Yukako-san and my wife went upstairs to choose and try the kimono. As for me, she asked me to choose the perfect kimono that I felt like. Well, there are not much choices of color for men’s kimono. They all come in basic color, black, dark, and grey. So I chose the light grey one.

Now, it’s time to wear it. It easier said than done, though. Obaa-san asked me to wear layer of layer of kimono. It was really difficult and tight. She asked me also to go to toilet first, since it will be very difficult to go there when I am in kimono !!!

After we are all dressed up, we were able to walk around  Asakusa. Yukako-san wore a red kimono, and my wife in a gold-yellow kimono. We went to the Senso-ji, street of Asakusa, around the temple, stopped there and took some pictures.

Look, we are in kimono !

Senso-ji Gate

Under the autumn leaves

We also had the fun time of having our pictures taken by foreign tourists in the streets of Asakusa. They thought I am the last samurai, since they saw me as a foreigner with kimono (LoL … I wish). Anyway, having our pictures taken by many people, we felt like celebrity.

When lunch time is coming, Yukako-san took us to an old tempura restaurant. She said that the restaurant is hundred years old restaurant. It used to be the restaurant for the samurai.  Hmm, entering the restaurant, we felt like samurai family in Edo Period.

The tempura came in a combo bowl. Very big, but absolutely delicious. Ittadakimasu!

Big Tempura Bowl / by junanto

Ittadakimasu !

After lunch, then it’s photo time again. Yukako-san took an O-mikuji at the temple. O-mikuji is random fortunes written on strips of paper at Shinto shrines and Buddhist temples in Japan. She randomly chose one strip of paper from a box, hoping for the resulting fortune to be good. “How is it?” I asked. “Aha, it was a good fortune!“, said Yukako-san.

Congratulations. Let’s hope a good future ahead for her.

A good fortune Omikuji. Congratulations, and Gambatte!

At the end of the day, renting a kimono and strolling in it was an incredible experience. It was also a great idea!

What better way to experience authentic Japanese culture and elegance? Wearing kimono, scrolling around Japanese old district, and also accompanied by a beautiful Japanese woman.

What more can I ask?

The Last Samurai ... LoL ....

Jangan Hina Genghis Khan di Mongolia (Shocking Part II)

Patung Genghis Khan setinggi 40 meter di Tsonjin Boldog, Mongolia / photo iwan

Satu hal yang perlu diingat kalau ke Mongolia. Jangan pernah menjelekkan nama Genghis Khan di sana. Orang Mongolia bisa sangat marah. Hal tersebut karena Genghis Khan, atau di Mongolia ditulis dengan lafal “Chinggis Khan”, adalah idola dan kebanggaan nasional bangsa mereka.

Saat saya pertama menginjakkan kaki di Ulaanbaatar, ibu kota Mongolia, nama Genghis Khan sudah terpampang besar. Ya, airport internasionalnya bernama Chinggis Khan Airport. Bukan hanya di airport, tapi juga di segenap lapis kehidupan orang Mongolia, nama Genghis Khan banyak digunakan.

Mata uang Mongolia Tugrug misalnya, memiliki gambar wajah Genghis Khan. Minuman vodka produksi Mongolia, yang menjadi kebanggaan mereka, mereknya “Chinggis Vodka”. Di berbagai sudut Ulaanbaatar, saya melihat banyak restoran, salon, toko, yang mengambil nama “Chinggis”, atau juga ditulis lengkap “Chinggis Khan”.

Pernah ada usulan membuat Undang-undang untuk mematenkan atau menarik lisensi bagi penggunaan nama Genghis Khan di Mongolia. Namun hingga kini, usulan itu tak pernah terealisasi.

Di Sukhbataar Square, atau di pintu masuk istana Presiden Mongolia, ada satu patung Genghis Khan besar yang sedang duduk. Posisi duduknya mirip seperti patung Abraham Lincoln di Washington, DC. Orang Mongolia percaya kalau arwah Genghis Khan masih ada dan melindungi bangsa Mongolia sebagaimana dulu ia menguasai dunia pada abad ke-13.

Batta, kawan saya yang orang Mongolia, dengan bangga menyebut dirinya “the grandson of Genghis Khan”. Dengan serius dia bilang, “Saya nih cucunya Genghis Khan loh”. Awalnya saya pikir dia betul-betul keturunan langsung Genghis Khan. Gak taunya, semua orang Mongolia yang saya jumpai mengaku juga sebagai cucu Genghis Khan. Sama aja dong, kayak kita semua mengaku cucu Adam hehe….

Patung Genghis Khan di Sukhbaatar Square / photo iwan

Tapi dari semua simbol atau patung Genghis Khan yang saya lihat di Mongolia, yang paling bikin saya shock adalah patung Genghis Khan raksasa yang terletak di Tsonjin Boldog, atau sekitar 54 km dari kota Ulaanbaatar. Dan, ke sanalah saya menuju pagi itu.

Di Tsonjin Boldog, patung Genghis Khan dibuat besar dan megah. Luar biasa megahnya karena tingginya mencapai 40 meter dan beratnya 250 ton, terbuat dari baja. Genghis Khan dibuat sedang duduk di atas kuda dengan posisi mengarah ke negeri Cina.

Untuk menuju ke patung itu, kita perlu berkendara melalui gurun, kalau musim dingin ditutupi salju, yang luas banget. Perjalanan menuju Tsonjin Boldog menempuh waktu hampir satu jam. Bukan masalah jarak saja yang membuat kunjungan ke sana menarik, tapi medan menuju patung itu masih alami, alias banyak jalan yang belum diaspal.Mungkin hal tersebut agar kita bisa merasakan suasana menjadi bangsa nomaden di masa lalu.

Sepanjang jalan kita juga dapat menemukan banyak sapi ternak, padang gurun bersalju, dan pemandangan pegunungan yang indah. Sesekali mobil kita harus berhenti, karena ada rombongan sapi dan kambing menyebrang.

Berpose di pelana kuda Genghis Khan bersama para cucunya

“Kenapa sih harus jauh seperti ini, untuk membuat patung?” tanya saya pada Saran, kawan Mongolia yang ikut pergi bersama. Jawab Saran, “Oh tempat ini dulu diyakini sebagai tempat pertama kali Genghis Khan memperoleh wangsit dan kekuatan sebelum kemudian pasukannya menguasai dunia”. Ya, di Tsonjin Boldon inilah, masyarakat Mongolia meyakini bahwa Genghis Khan dan pasukannya pernah mendirikan tenda dan membangun markas pasukan mereka di abad ke-13.

Di bawah patung setinggi 40 meter itu, ada sebuah bangunan dua lantai yang memuat museum tentang kehidupan di masa kejayaan Genghis Khan. Kita dapat melihat berbagai peninggalan Genghis Khan, baik senjata maupun perlengkapan lainnya. Selain itu, kisah sejarah bagaimana Genghis Khan menguasai dunia dengan pasukan Mongolnya juga digambarkan dengan menarik. Kita juga bisa naik ke patung itu hingga pelana kudanya dengan menggunakan lift.

“Genghis Khan adalah kebanggaan nasional bangsa kami”, ujar Saran. Banyak pihak mengatakan kalau dulu ia sangat bengis. Pasukannya terkenal kejam. Tapi, orang Mongolia ingin menunjukkan pada dunia, bahwa Genghis Khan adalah seorang pemimpin besar. Ia mampu menyatukan bangsa Mongol yang tersebar dalam suku-suku menjadi satu kekuatan besar di masa lalu.

Museum dan patung Genghis Khan ini adalah upaya dari bangsa Mongol untuk melakukan re-branding pada figur idola mereka kepada dunia internasional. Saya rasa semua pemimpin besar dunia adalah pribadi yang penuh kontroversial. Masing-masing negara tentu bangga pada pahlawannya. Demikian pula bangsa Mongolia.

Salam.

Salah Kamar di Mongolia

Blue Sky Hotel, salah satu hotel berkelas di Ulaanbaatar / photo junanto

Satu hal yang paling saya suka dari bepergian ke berbagai tempat adalah pertemuan dengan berbagai kawan baru. Di Ulaanbaatar, Mongolia, kemarin saya berkenalan dengan Rachel, seorang wanita muda Inggris yang tinggal di Hong Kong. Rachel bekerja sebagai pengacara dan kebetulan sedang memiliki urusan pekerjaan di Ulaanbaatar.

Tapi yang menarik adalah momen awal saat kita berkenalan. Pengalaman itu cukup lucu dan rasanya tidak akan kita lupakan. Awal cerita bermula saat saya baru mendarat di bandara Chinggis Khan, Ulaanbaatar, pukul 23.00 malam. Setelah melalui proses imigrasi dan menunggu bagasi, saya langsung menuju hotel. Di lobby hotel, saya check in sekitar pukul 00.30 dini hari.

Petugas resepsionis memberi saya kunci kamar nomor 1707. Kamar berada di lantai 17. Karena mengantuk, saya buru-buru membuka kamar 1707, dan masuk ke dalamnya. Tapi, ternyata di dalam sudah ada seorang wanita bule. Ia juga baru masuk kamar dan sedang membongkar kopernya. Saya kaget, dan wanita itupun tak kurang kagetnya.

Sambil menutupi kaget, ia berkata, “Wow, we have the same room”. Masih bengong, saya hanya bisa bilang, “Well, It seem it is, my key is for 1707”.

Wanita itu bilang lagi, “Yes, this is 1707, but my room is also 1707. Then one of us must not be in 1707”. Saya mengangguk dan membenarkan. Gak mungkin lah kita berada di kamar yang sama, wong gak pesan sharing room. Lagian masa sama bule gak kenal begini. Haduh, dalam kondisi capek dan mengantuk seperti ini, gak mungkin kan debat soal kamar.

Untungnya wanita itu sangat ramah. Ia memperkenalkan dirinya bernama Rachel, dan mengajak kita berdua sama-sama turun ke bawah untuk melapor. Saya sudah diingatkan pula oleh beberapa kawan kalau di Mongolia itu masalah pelayanan hotel atau restoran kerap belum optimal, kadang mengecewakan.

Di resepsionis, betul juga. Saya disalahkan oleh petugas. Katanya yang salah itu saya, karena kunci kamar itu bukan 1707, melainkan 1717. “Halah mbak, kalau kunci ini 1717, lalu kenapa bisa dipakai buka 1707?”, tanya saya. Rachel pun membela saya, kalau bukan kamarnya, kenapa bisa buka kamar dia. Akhirnya, resepsionis mengalah dan memberikan saya kamar baru. Urusan kamarpun beres, saya di kamar 1717 dan Rachel di  kamar 1707. Kita satu lantai di hotel itu.

Insiden salah kamar kemudian menjadikan kita berteman. Siapa sangka pula kalau kita sama-sama alumni Universitas Leeds di Inggris. Saya di jurusan ekonomi, Rachel di jurusan Hukum. Tahun kuliah kitapun bertaut tak lama (long long time ago). Kita sempat bersama basa basi tentang masa kuliah di Leeds dengan berbagai pernak perniknya, termasuk  masa kejayaan tim sepak bola Leeds United yang kini sudah terpental dari Liga Premier.

Beberapa kali pula kita bertemu di hotel, baik saat sarapan maupun saat menunggu lift. Kitapun berbasa basi dan ngobrol bareng tentang berbagai hal. Menariknya lagi, saat pulang dari Ulaanbaatar, kita naik satu pesawat yang sama menuju Beijing. Kita bertemu lagi secara tidak sengaja di airport Chinggis Khan.

Minum teh bersama Rachel, kawan baru dari insiden salah kamar.

Rachel mengajak saya menunggu sambil minum teh di salah satu kafe. Tipikal orang Inggris, sukanya minum teh, bukan kopi. Ia bercerita kalau ingin mampir dulu di Beijing, sebelum ke Hong Kong. Di Beijing, ibu mertuanya tinggal. Sementara saya  akan transit satu malam di Beijing, sebelum lanjut penerbangan ke Tokyo. Kitapun banyak berdiskusi selama perjalanan, dan berjanji untuk saling berhubungan di waktu-waktu ke depan.

Bertemu dengan banyak orang dan kawan baru adalah hal paling menarik dari sebuah perjalanan. Kita bisa bertemu dengan aneka ragam orang dari aneka ragam latar belakang ilmu dan suku bangsa. Dengan bertemu banyak orang, pikiran kita bertambah luas, ilmu meningkat, dan yang terpenting pertemanan atau jejaring bertambah. Namun, perkenalan yang diawali dengan salah kamar, baru pertama ini saya alami.

Teman-teman punya pengalaman unik saat pertama bertemu dengan seorang kawan?

Salam.

Shocking Mongolia (Part I)

Melewati gurun salju di Tsonjin Boldog, Mongolia. Udara mencapai minus 25 C / photo junanto

Mendengar nama Mongolia, bayangan saya adalah padang rumput yang dingin dan kisah tentang pasukan Jengis Khan. Tidak terbayang seperti apa negeri tersebut dalam kenyataannya. Oleh karena itu, saat memiliki kesempatan mengunjungi Ulaanbaatar, ibu kota Mongolia,  guna mengikuti satu sidang internasional, saya mencoba  mengoptimalisasi kunjungan dengan mencoba mencermati geliat kehidupan lokal. Dan ternyata, Mongolia memberikan banyak kejutan. Jadi, boleh lah kalau kunjungan ke Mongolia beberapa waktu lalu saya beri judul, “Shocking Mongolia”.

Karena banyak shock yang saya alami, tulisan saya bagi ke dalam dua bagian.  Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan tentang Mongolia yang bikin shock.

Shocking pertama. Suhu yang ekstrim di musim dingin. Saat musim dingin tiba, udara di Mongolia bukan main-main. Kalau tidak suka dingin, sebaiknya jangan pergi ke sana sekitar bulan November sampai dengan Februari. Suhu udara bisa mencapai minus 25 derajat Celsius. Di daerah pegunungan, katanya,  bisa mencapai minus 45 hingga 50 derajat Celcius. Tapi kalau suka tantangan, musim dingin di Mongolia adalah musim yang “greget” dan layak dicoba.

Saya tiba di Ulaanbaatar saat malam hari. Udara membekap dan sekujur tubuh terasa beku. Esoknya, saya jalan keluar ditemani rekan Mongolia. Tentu dengan pakaian lengkap, berlapis-lapis, topi, tutup kuping, dan tentu sarung tangan. Sambil menahan dingin saya mencoba menembus udara siang itu. Meski pakaian sudah berlapis-lapis, udara minus tak ada ampun. Secara pasti ia mulai menusuk lapisan demi lapisan pakaian di tubuh saya, terutama di kepala dan ujung-ujung kaki tangan.

Tapi, saya liat banyak orang Mongolia yang jalan dengan santai saja. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak pakai tutup kepala dan sarung tangan. Santai sekali keliatannya. Saya tanya pada teman Mongol,  “Kenapa mereka tidak pakai topi dan sarung tangan, kan dingin begini”.

Jawabnya, “Oooh, hari ini hangat soalnya pak” …

“Hah, kayak gini hangat”, saya tanya lagi, “Memang ini berapa derajat?”.

Dengan santai kawan saya menjawab, “Ini cuma minus 12 derajat Celcius pak”. ….

Sayapun terpana sambil menggigil gaya anak alay, “ Haaah .. Ciyuuusss? minus 12? Miaaaapaaa!! …. #$%&’%”

Oh ya, saking dinginnya udara di Mongolia ini, benda elektronik yang paling tidak laku di sana adalah kulkas. Ya iya laaah, ngapain juga pakai kulkas kalau semua barang sudah beku dengan sendirinya di luar hehehe….

Shocking kedua. Negeri tanpa Starbucks. Di tengah derasnya arus globalisasi saat ini, sulit membayangkan suatu negara tanpa Starbucks. Ya, di Ulaanbaatar saya tidak menemukan McDonalds, Starbucks, Pizza Hut, maupun KFC, yang umumnya menjadi simbol kapitalisme. Meski demikian, banyak terdapat merek-merek asing seperti Louis Vuitton dari Perancis, ataupun minuman ringan seperti Pepsi.

Iklan Pepsi di Ulaanbaatar, Mongolia / photo junanto

Ketiadaan makanan cepat saji internasional, dan masih jarangnya terlihat merek asing terlihat menjadikan suasana kota Ulaanbaatar seperti kota tua dan tidak bersolek. Banyak sekali bangunan bekas Uni Soviet yang tidak terurus dan terlihat kusam.  Namun hal itu menjadikan sebuah keunikan tersendiri dari kota Ulaanbaatar karena saya melihat sebuah kota yang masih terkesan “perawan” atau “raw” tanpa banyak cemaran kapitalisme.

Menurut kawan Mongolia, hanya masalah waktu saja berbagai franchise restaurant internasional seperti McD atau KFC akan masuk Mongolia. Saat ini Mongolia memang semakin membuka diri dengan dunia internasional, termasuk mengundang berbagai perusahaan asing masuk . Ia menyayangkan juga apabila nanti berbagai restoran itu masuk dan mengubah gaya hidup orang Mongolia. Saat ini, mereka sudah punya restoran pizza, hamburger, ataupun kopi, dengan merek dan kreativitas mereka sendiri. Saya sempat mampir mencicipi burger di restoran yang bernama Mr. Pizza. Rasanya tak kalah seru dibanding dengan burger McD.

Yah, mungkin tak lama lagi Mongolia akan memiliki berbagai restoran internasional. Tapi saya beruntung bisa melihat kondisi negeri itu seperti saat ini, tanpa kehadiran banyak simbol kapitalisme tadi.

Shocking ketiga. Kebebasan informasi dan internet. Saya berpikir akan sulit menemukan jaringan WiFi dan internet di Mongolia. Saya sudah “prepare for the worst” hanya bisa berhubungan dengan dunia luar melalui sms, atau email saja.

Namun sejak 20 tahun terakhir Mongolia menganut ekonomi pasar dan membuka diri pada investasi asing, termasuk membangun jaringan tekhnologi informasi. Oleh karenanya, saya justru menemukan kemudahan untuk mendapatkan koneksi internet di Ulaanbaatar.  Saat masuk hotel, dengan mudah saya menemukan free WiFi. Bukan hanya di hotel, di berbagai restoran dan mall, Ulaanbaatar menyediakan Free WiFi. Akses internetnya juga bagus dan relatif cepat.

Tapi yang menarik, kita bisa mengakses “segalanya” di sana. Mulai dari Facebook, twitter, Google, Gmail, dan berbagai social media, bebas diakses. Hal tersebut berbeda dengan Cina, yang notabene memiliki ratusan cabang McD dan Starbucks, tapi internet sangat dikontrol oleh pemerintahnya. Di Cina, jangan harap bisa membuka Facebook atau Twitter. Bahkan membuka gmail saja, prosesnya bisa berjam-jam, untuk mengatakan hampir tidak bisa. Tentu mereka punya kebijakan sendiri-sendiri dalam menentukan arus informasi. Tapi, perbedaan itu cukup menarik dicermati.

Saya bertanya pada Okkta, kawan wanita Mongolia yang masih kuliah di salah satu universitas di Ulaanbaatar. Mana yang lebih diinginkan, Starbucks atau Internet? Jawabnya, “Wow, jelas saja internet”. Kata Okkta lagi, “We have many coffee shop here in Ulaanbaatar. No need starbucks. But internet? I can’t live without”, ujarnya. Ya, mereka, para anak muda Mongolia, sangat menikmati kebebasan informasi dan ekspresi. Umumnya mereka memiliki facebook, twitter, blog, ataupun instagram.

Mongolia memang menarik dan membuat “Shocking”.

…. Bersambung …

Kehangatan Mongolia

Bersama Saran dan Okkta, di kota Ulaanbaatar dengan suhu minus 25 derajat Celsius

Ulaanbaatar, Mongolia, di musim dingin bukanlah tempat yang nyaman. Suhu udara bisa mencapai minus 25 derajat celcius bila malam hari. Saya tiba di kota itu pukul sebelas malam dengan menggunakan penerbangan Mongolia Airlines. Begitu keluar dari Chinggis Khan airport, beku menyergap. Kepala, telinga, serta ujung-ujung jari serasa tak bisa digerakkan.

Tiga hari di Ulaanbaatar memang membuat beku segalanya. Saya tidak berani untuk terlalu lama berada di luar.  Selain dingin yang teramat, angin kencang menambah tajam tusukan di tulang, yang mulai menua ini hehehe…

Tapi dingin yang esktrim di Ulaanbaatar bisa dikompensasi dengan kehangatan orang Mongolia. Rata-rata orang Mongolia, di luar dugaan saya, sangat ramah. Meski muka mereka keliatan tegang, kalau dimintai tolong, mereka sangat helpful.

Di Ulaanbaatar, saya berkenalan dengan dua orang kawan, namanya Saran dan Batta. Saran, wanita yang memiliki dua putri, pernah tinggal dan belajar bahasa Indonesia di UI Depok. Ia sangat fasih bahasa Indonesia. Sementara Batta, seorang pria muda yang bekerja di bank, pernah tinggal selama enam tahun di Singapura. Ia lancar berbahasa Inggris.

Jadilah selama tiga hari di Ulaanbaatar kita kerap ngobrol dan pergi bersama. Saran dan Batta menemani saya menembus dinginnya cuaca di kota itu. Kehangatan persahabatan mereka sungguh melelehkan dinginnya salju di Mongolia. Mereka mengenalkan saya pada berbagai tradisi dan budaya Mongolia, termasuk aneka makanannya. Saya diajak untuk hang out ke restoran Mongolia, bar lokal, serta mencicipi aneka hidangan yang ada di sana.

Dalam setiap kunjungan ke berbagai tempat, saya memang selalu menyempatkan diri untuk mencicipi aneka hidangan lokal. Saya percaya bahwa untuk mengenal karakter dan budaya suatu masyarakat, bisa dimulai dari makanannya. Dan membuka diri terhadap aneka makanan lokal, berarti juga membuka diri terhadap aneka perbedaan dan keunikan manusia. Dengan demikian, kita tidak merasa diri kita benar sendiri, atau setidaknya merasa makanan kita yang paling enak sendiri. Karena “enak”, sungguh sangat relatif dan tak bisa diperdebatkan.

“Kamu harus coba buuz dan Khuusuur”, demikian kata Saran. Apa itu? Tanya saya. Buuz dan Khuusuur adalah makanan kebanggaan orang Mongol. Kitapun mampir di satu restoran tak jauh dari Sukhbaatar Square, pusat kota Ulaanbaatar. Saran memesan kedua makanan tersebut, plus satu jenis makanan lagi, yang namanya “Gurvan Undor”.

Saran menjelaskan bahwa makanan Mongolia umumnya berbasis daging. Orang Mongol makan daging sapi, kambing, ayam, kuda, onta, yak, dan juga babi. Mereka memelihara hewan ternak itu sebagai makanan pokok sehari-hari.

Di tengah udara dingin yang ekstrim, makan daging memang sesuatu banget. Kondisi alam dan geografis Mongolia memang menjadikan daging sebuah pilihan tepat. Di Mongolia, sayur-sayuran tak mudah tumbuh. Selain itu, Mongolia juga tidak punya lautan, sehingga mereka tidak makan ikan. Kalaupun ada hanya dari beberapa sungai dan danau.

Buuz tiba di meja kami. Bentuknya seperti pangsit, atau xiaolongpao kalau di Cina. Bedanya, ukuran Buuz lebih besar, dan di dalamnya berisi daging kambing. Sementara Khuusuur adalah buuz yang digoreng. Bentuknya dibuat mirip pastel ukuran besar. Sayapun mencicipi keduanya. Luar biasa, kambing di Mongolia ini rasanya memang khas. Beda kalau menurut saya. Lebih terasa kambingnya, dan lebih lembut dagingnya. Hmmm, sungguh enak.

Saat Gurvan Undor tiba, saya terkesima. Ukurannya besar. Ini adalah iga sapi dengan kulit pangsit lebar yang disajikan bersama wortel, kentang, dan beberapa sayuran.  Memakannya? Gak perlu ragu-ragu, gulung baju dan cabik-cabik sendiri dagingnya dengan tangan. Waah, lezat. Rasanya lembut, simple, namun mengundang sensasi. Konon katanya, ini dulu adalah makanan kesukaan pasukan Jengis Khan di tenda-tenda pasukan Mongol. Mantab.

Buuz, Mongolian Dumpling / photo junanto

Khuusuur, pastel Mongolia / photo junanto

Mencabik iga sapi Gurvan Undor / photo junanto

Buuz, Khuusuur, dan Gurvan Undor, adalah makanan khas Mongolia yang umumnya dibuat saat perayaan hari tertentu. Dalam keseharian mereka memang  tidak selalu makan itu. Lalu, apa yang dimakan orang Mongol sehari-hari? Nah, malam harinya, Saran dan Batta mengajak saya mencicipi makanan keseharian orang Mongol di salah satu bar yang ramai dikunjungi orang asing.

Menurut Batta, sehari-harinya orang Mongol makan yang namanya Tsuivan. Hampir semua orang Mongol bisa membuat Tsuivan di rumahnya. Kalau orang Indonesia makan nasi dan lauk di rumah, maka orang Mongol makan Tsuivan. Sayapun jadi antusias menunggu seperti apa Tsuivan itu.

Saat datang, eeh rupanya tsuivan itu mie goreng. Yup, ini sih mie goreng kalau di Indonesia. Eh iya, kata Saran. Ini memang Mie Goreng Mongolia. Bedanya, tekstur mienya lebih kasar dan tidak panjang. Selain itu, mereka menggunakan daging kambing Mongolia yang lembut. Hmm, Tsuivan, atau mie goreng kambing. Sangat lezat.

Tsuivan, mie goreng Mongolia, dengan daging kambing / photo junanto

Untuk menambah hangat suasana, Batta mengajak istrinya bergabung bersama kami malam itu. Okka, nama sang istri yang masih muda dan cantik, adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Ulaanbaatar.

Sambil makan, kita berbincang banyak hal soal kehidupan di Mongolia. Saya melihat anak-anak muda di Mongolia memiliki kehidupan yang lebih bebas dalam mengekspresikan pendapatnya. Mongolia memang menganut sistem ekonomi pasar dan demokrasi, sehingga kebebasan berpendapat lebih terlihat di muka umum.

Tak terasa kita berbincang hingga larut malam. Tak terasa pula suhu minus 25 derajat celcius di luar restoran. Saat pulang, saya katakan pada mereka, “the coldness of Mongolian weather is nothing, compare to the warmness of you and Mongolian people”. Dan, pelukan perpisahan malam itu, menambah hangat malam di Ulaanbaatar.

The warmness of Mongolian friends at Ulaanbaatar

Romantisme Gunung Hakodate

Best night view you should try, mount Hakodate / photo junanto

Tokyo mungkin bukan kota yang romantis. Tapi saat tiba di kota Hakodate, saya terbekap dalam romantismenya. Hakodate membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan saat naik ke puncak gunung Hakodate,  saya merasakan, inilah tempat paling romantis di Jepang.

Hakodate adalah sebuah kota kecil yang terletak di pulau Hokkaido, sebelah utara Jepang. Kota ini adalah kota pelabuhan yang memiliki sejarah panjang dan penting bagi Jepang. Hakodate  memiliki pelabuhan pertama yang dibuka bagi perdagangan dengan pihak asing pada tahun 1894. Ekspedisi Komodor Perry pernah mendarat di kota ini pascarestorasi Meiji.

Sejarah kontak dengan pihak asing menjadikan kota ini berbeda dengan kota lain di Jepang. Pengaruh barat dan juga Rusia sangat kental di kota ini, sebagaimana terlihat dari bangunan-bangunannya.

Tapi yang wajib dicoba kalau mampir Hakodate adalah naik ke puncak gunungnya. Memangnya kenapa? Tanya saya pada Seki-san, kawan Jepang yang menemani saya di Hakodate. Katanya, itu adalah tempat paling romantis di Jepang.

Menurut Seki-san, pemandangan terbaik dari gunung Hakodate adalah di waktu malam.  Sambungnya, pemandanga dari gunung Hakodate adalah pemandangan malam terbaik nomor tiga di dunia, setelah Napoli dan Hong Kong. Di Jepang, pemandangannya merupakan salah satu yang terbaik, setelah Nagasaki dan Kobe. So, harus dicoba kan.

Saat mentari mulai tenggelam di bulan November, saya dan Seki-san berangkat ke sana. Suhu yang sudah mencapai nol derajat celcius tidak menghalangi kami mendaki gunung Hakodate. Kita menaiki cable car sampai ke puncak gunungnya, setinggi 334 meter.

Dan benar saja. Di puncak gunung Hakodate, keindahan terhampar di hadapan kita. Pemandangan malam, lampu kota, dari atas gunung ini sungguh indah. Kota Hakodate terletak di semenanjung Kameda, dan gunung Hakodate berada di ujung semenanjung itu. Dengan demikian kita dapat melihat kota ini diapit oleh dua bagian laut. Romantis banget beneran.

Di puncak gunung Hakodate

Saya melihat banyak pasangan muda yang sedang berasyik masyuk berduaan. Di sana juga ada restoran yang bisa dijadikan tempat minum atau makan sambil melihat pemandangan romantis.

Seki-san bercerita bahwa puncak gunung ini sangat berkesan dan penuh kenangan baginya. Mengapa?, tanya saya. Rupanya, ia melamar istrinya di gunung ini. Saat itu ia mengajak sang kekasih makan malam di puncak gunung Hakodate. Lalu, sambil memandang keindahan di bawah, ia pun melamar kekasihnya itu. Aaaah so sweet. Wanita mana yang mampu menolak tawaran kekasihnya di suasana seperti ini.

Jadi, kalau ingin mencari tempat romantis di Jepang, Hakodate bisa jadi pilihan. Ajak kekasih atau pasangan kita, dan utarakan lagi cinta di puncak gunung ini. Dijamin pasti klepek-klepek deh hehehe…..

Bersama kawan Seki-san di cable car menuju gunung Hakodate